ABSTRACT
The problem in today’s society is that a large number of people do not consider history as an important lesson to note, when in fact, history is very important because by studying history people would be able to know and learn from many events that happened in the past. This research aims to find out (1) the existence of Glagah Wangi Museum for community, (2) the history of Demak Kingdom, and (3) artefacts of Demak Kingdom that are stored in Glagah Wangi Museum. This is qualitative research with data collected through observations, interviews, listening, note-taking, documentation, and literature studies. The results of this study show that the existence of Glagah Wangi Museum has an important role for the community because it can introduce history and culture during the Kingdom of Demak. The leaderships of Demak Kingdom were Sultan Fatah, Pati Unus, and Sultan Trenggono. Relics of Demak Kingdom that are stored in Glagah Wangi Museum amount to around 200 artifacts, including water filters, Arya Penangsang plates, puppets, reranting, guly-guly, jars, door leaf hinges, mini ashtrays, bowls, saka umpak, seating stones, yoni, swords, kris, and so on.
There are many benefits obtained from the existence of Glagah Wangi Museum, which can be used as a place of recreation, information source, and educational tourism for public to broaden their knowledge.
Keywords: artifacts, Demak Kingdom, Glagah Wangi Museum, history, society
ABSTRAK
Masalah yang terjadi saat ini adalah banyaknya anggapan masyarakat bahwa ilmu sejarah dianggap tidak penting. Pada kenyataannya, ilmu sejarah sangat penting karena dengan belajar sejarah dapat mengetahui kejadian yang terjadi pada masa lampau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) keberadaan Museum Glagah Wangi bagi masyarakat, (2) sejarah Kerajaan Demak, dan (3) peninggalan Kerajaan Demak yang tersimpan di Museum Glagah Wangi. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode teknik pengambilan data berupa observasi, wawancara, simak, catat, dokumentasi, dan studi literatur. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan Museum Glagah Wangi memiliki peran penting bagi masyarakat karena dapat mengenalkan sejarah dan kebudayaan pada masa Kerajaan Demak. Susunan pimpinan Kerajaan Demak adalah Sultan Fatah, Pati Unus, dan Sultan Trenggono. Adapun peninggalan-peninggalan Kerajaan Demak yang tersimpan di Museum Glagah Wangi berjumlah sekitar 200 artefak, di antaranya adalah filter air, piring arya penangsang, wayang, pendaringan, guly-guly, guci, umpak engsel daun pintu, asbak mini, mangkok, umpak saka, batu tempat duduk, yoni, pedang, keris, dan lain sebagainya.
Banyak manfaat yang diperoleh dari adanya Museum Glagah Wangi Demak, yaitu dapat dijadikan sebagai tempat rekreasi, sumber informasi, dan wisata edukasi bagi masyarakat untuk menambah pengetahuan secara luas.
Kata kunci: artefak, Kerajaan Demak, Museum Glagah Wangi, sejarah, masyarakat
Naskah diterima:
2 September 2021;
direvisi akhir:
29 Desember 2021;
disetujui:
29 Desember 2021
Volume 16 Nomor 2/2021
JURNAL
KEBUDAYAAN PEMANFAATAN MUSEUM GLAGAH WANGI DEMAK SEBAGAI WADAH PENINGGALAN KERAJAAN
DEMAK
UTILIZATION OF MUSEUM GLAGAH WANGI DEMAK AS A SHELTER OF RELICS OF DEMAK KINGDOM
Faridhatun Nikmah
Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Ulama Raudlatul Muallimin Wedung Demak
DOI : 10.24832/jk.v16i2.525
PENDAHULUAN
K
ebanyakan masyarakat beranggapan bahwa belajar sejarah adalah hal yang paling membosankan, sesuatu yang kuno, klasik, dan ketinggalan zaman. Bahkan ada yang beranggapan tidak ada gunanya belajar sejarah.Padahal pada kenyataannya sejarah adalah hal yang penting untuk dipelajari. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Hasan (2019: 65) bahwa sejarah merupakan peristiwa masa lampau yang dipelajari berdasarkan sumber informasi yang tidak diciptakan oleh sejarawan tetapi diciptakan oleh orang lain, terdokumentasi, dan tersedia bagi sejarawan untuk dikaji dan direkonstruksi sebagai narasi sejarah. Pendapat tersebut kemudian diperkuat oleh Wakim (2020:
1) yang berpendapat bahwa sejarah adalah guru kehidupan. Selain itu, Soekarno juga mengemukakan bahwa never leave history, yang artinya bahwa jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (dalam Wakim, 2020: 1). Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat ditarik benang merah bahwa keberadaan sejarah sangat penting karena dengan belajar sejarah dapat mengetahui informasi dan kejadian yang terjadi pada masa lampau dalam perjalanan kehidupan manusia.
Banyak manfaat yang diperoleh dari belajar sejarah. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Maharjono (2019: 58) bahwa manfaat belajar sejarah, yang pertama adalah dapat membangun kesadaran tentang pentingnya waktu dan tempat yang terjadi yang merupakan proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan.
Kedua, melatih daya kritis untuk memahami fakta sejarah secara benar didasarkan pada pendekatan ilmiah dan metodologi keilmuan. Ketiga, menumbuhkan apresiasi dan penghargaan terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di masa lampau. Keempat, menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang. Kelima, menumbuhkan kesadaran dalam diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang
kehidupan, baik nasional maupun internasional.
Sejarah dijadikan sebagai bukti otentik yang terjadi pada zaman dahulu. Sebagaimana pandangan yang dikemukakan oleh Bapak Sejarawan Indonesia, Kartodirdjo (dalam Heryati, 2017: 10) yang mengatakan bahwa sejarah memiliki dua aspek penting. Pertama, sejarah dalam arti subjektif sebagai konstruksi atau bangunan yang disusun oleh sejarawan sebagai suatu uraian atau cerita. Kedua, sejarah dalam arti objektif yang merujuk kepada kejadian atau peristiwa sebagai proses dalam aktualisasinya dalam bingkai data sejarah dan alurnya dominan dipengaruhi oleh ketersediaan sumber-sumber sejarah dan hasil akhirnya adalah kesimpulan atau informasi yang seutuhnya. Dalam penelitian ini penulis fokus membahas mengenai sejarah Kerajaan Demak dan berbagai peninggalannya yang tersimpan di Museum Glagah Wangi, Demak.
Ketika berbicara mengenai Kerajaan Demak, maka tidak terlepas dari proses Islamisasi di Pulau Jawa karena Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama yang didirikan sebagai bentuk integrasi Islam kepada lembaga politik (Maryam, 2016: 64). Selain itu, Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa yang pada saat itu dipimpin oleh para Wali Songo. Sebagaimana dikemukakan oleh Anita (2014: 248) bahwa Wali Songo merupakan penyebar agama Islam di tanah Jawa sehingga menempati posisi penting dalam masyarakat Muslim di tanah Jawa, terutama di daerah tempat makam-makamnya.
Dalam menyebarkan dakwah para Wali Songo melakukan pendekatan yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan media wayang dan gamelan, ada juga yang menggunakan pendekatan melalui pembangunan infrastruktur, ataupun lainnya.
Hal tersebut bertujuan untuk menyebarkan agama Islam secara luas sehingga banyak masyarakat yang memeluk agama Islam. Adanya semangat para wali dalam menyebarkan agama Islam menjadikan antusias para masyarakat untuk masuk agama Islam, khususnya di daerah Demak.
Salah satu peninggalan dari Kerajaan Demak adalah Masjid Agung Demak yang dijadikan
sebagai pusat syiar agama Islam. Kerajaan Demak berdiri pada abad ke-15. Berdirinya Kerajaan Demak merupakan kerajaan baru, yang melepaskan diri dari Kerajaan Majapahit.
Kerajaan ini juga merupakan kesultanan Islam pertama di Pulau Jawa setelah Kerajaan Kediri menyerang dan menghancurkan ibu kota Kerajaan Majapahit di Trowulan pada tahun 1474.
Kesultanan Demak didirikan oleh Raden Fatah pada tahun 1478 yang merupakan putra dari Prabu Brawijaya dengan Putri Campa. Kerajaan ini juga merupakan kerajaan pertama yang dijadikan sebagai pusat penyebaran agama Islam (Sujarwo, 2017: 17). Masa pemerintahan Kerajaan Demak dimulai dari Raden Fatah, Pati Unus, sampai dengan Sultan Trenggono. Banyak peninggalan Kerajaan Demak yang sekarang tersimpan di Museum Glagah Wangi yang terletak di Jalan Sultan Fatah No. 53, Demak.
Penelitian ini perlu untuk dilakukan karena banyak masyarakat yang kurang tahu mengenai sejarah Kerajaan Demak. Padahal Kerajaan Demak dijadikan sebagai pusat perdagangan Islam terbesar di tanah Jawa. Dengan demikian, masyarakat perlu tahu dan paham mengenai sejarah dan peninggalan Kerajaan Demak.
Masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana keberadaan Museum Glagah Wangi bagi masyarakat? (2) Bagaimana sejarah Kerajaan Demak? (3) Apa saja bentuk peninggalan Kerajaan Demak yang tersimpan di Museum Glagah Wangi? Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan fungsi Museum Glagah Wangi Demak, sejarah Kerajaan Demak dan bentuk peninggalan Kerajaan Demak yang tersimpan di Museum Glagah Wangi Demak.
Penelitian yang relevan dengan kajian ini dilakukan oleh Rokhim, Banowati, dan Setyowati yang menunjukkan bahwa memanfaatkan situs dalam pembelajaran sejarah dapat memberikan pengaruh positif terhadap siswa. Selain itu, siswa juga mampu mengimplemetasikan nilai- nilai yang terdapat pada materi sejarah Masjid Agung Demak (Rokhim dkk, 2017). Persamaan dari penelitian ini dengan penulis adalah objek tempat museum yang berada di Kota Demak.
Perbedaannya adalah penelitian ini lebih kepada pemanfaatan situs di Masjid Agung Demak sebagai sumber belajar bagi siswa SMA sedangkan penelitian penulis lebih kepada peninggalan Kerajaan Demak yang disimpan di Museum Glagah Wangi.
Penelitian yang relevan lainnya juga dilakukan oleh Sholeh (2017) yang merupakan seorang sejarawan di Universitas PGRI Palembang Hasil penelitian ini meunjukkan bahwa Prasasti Talang Tuo merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang menjelaskan mengenai perkembangan agama Budha terhadap ketaatan Raja Dapurita Hiyang Sri Jayanasa dalam menjalankan ajaran Budha sekaligus sebagai simbol wakil dewa di dunia. Analisis isi Prasasti Talang Tuo dapat dijadikan sebagai materi ajar sesuai silabus Sejarah Indonesia SMA, tepatnya pada Kompetensi Dasar (KD) 3.5 dan 3.6, yaitu perkembangan kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di Indonesia pada submateri tentang perkembangan Kerajaan Sriwijaya (Sholeh, 2017). Persamaan dalam penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah sama-sama meneliti mengenai peninggalan kerajaan di Indonesia. Perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah dalam penelitian objek kajian penelitiannya di Kerajaan Sriwijaya Palembang, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh penulis di Kerajaan Demak. Perbedaan kedua, dalam penelitian ini direlevansikan dengan pembelajaran sejarah, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh penulis lebih fokus terhadap keberadaan Museum Glagah Wangi bagi masyarakat, sejarah Kerajaan Demak, dan peninggalan-peninggalan Kerajaan Demak yang tersimpan di Museum Glagah Wangi Demak.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif.
Menurut J. L. Meleong (2013) bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang lebih menekankan makna. Penelitian ini lebih difokuskan kepada peninggalan-peninggalan Kerajaan Demak. Objek tempat yang digunakan dalam penelitian ini di Museum Glagah Wangi Demak yang terletak di Jalan Sultan Fatah Nomor
53, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah.
Museum Glagah Wangi merupakan museum umum yang mengoleksi benda cagar budaya yang merupakan artefak-artefak bersejarah peninggalan Kerajaan Demak.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua, yaitu sumber data primer dan data sekunder. Sumber data primer berupa wawancara yang dilakukan dengan dua narasumber yang mengetahui dan paham mengenai peninggalan-peninggalan Kerajaan Demak, sehingga memperoleh gambaran yang akurat. Narasumber yang diwawancarai adalah Plt. Kepala Museum Glagah Wangi dan pengelola museum Adapun sumber data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini berupa pamflet Museum Glagah Wangi, arsip, jurnal, buku, skripsi, tesis, majalah, artikel, dan lain sebagainya yang menunjang permasalahan penelitian guna mendapatkan hasil yang maksimal dan berkualitas.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, simak, catat, dokumentasi, dan studi literatur.
Teknik observasi yang dilakukan dengan datang ke Museum Glagah Wangi. Teknik wawancara yang dilakukan dengan mewawancarai pihak yang mengetahui dan paham mengenai peninggalan-peninggalan Kerajaan Demak sehingga memperoleh data yang akurat.
Teknik simak dengan menyimak wawancara yang dilakukan kemudian mencatat di kertas.
Teknik dokumentasi yang dilakukan dengan mendokumentasikan benda-benda peninggalan Kerajaan Demak yang tersimpan di Museum Glagah Wangi. Teknik studi literatur yang digunakan dengan mencari teori yang relevan dengan penelitian ini sehingga diperoleh hasil yang baik.
Teknik analisis data dilakukan secara interaktif dengan mereduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan (Sugiyono, 2018: 338).
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan mengumpulkan semua data yang diperoleh. Kemudian data dikelompokkan sesuai dengan jenisnya. Selanjutnya, data dianalisis dengan menggunakan literatur atau sumber informasi yang mendukung dengan
penelitian. Terakhir, penarikan kesimpulan guna memperoleh hasil yang baik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Keberadaan Museum Glagah Wangi bagi Masyarakat
Keberadaan Museum Glagah Wangi memiliki peran penting bagi masyarakat untuk mengenalkan kepada masyarakat tentang sejarah dan kebudayaan pada masa Kerajaan Demak. Fungsi dari museum, pertama adalah untuk dijadikan sebagai tempat rekreasi karena dengan adanya museum dapat melihat benda-benda yang mengandung nilai estetika, keindahan, keanehan, dan keantikan. Kedua, untuk dijadikan sebagai tempat ilmu pengetahuan karena di balik benda-benda koleksi yang ada di Museum Glagah Wangi mengandung banyak ilmu dan pengetahuan yang mengajak para masyarakat untuk mengungkapkan tabir rahasia yang ada di dalamnya sehingga mengakibatkan para cendekiawan tertarik untuk menyelidiki lebih dalam mengenai benda tersebut agar dapat menambah pengetahuan yang lebih luas.
Ketiga, dijadikan sebagai sumber informasi untuk memberikan sumber informasi yang terjadi pada zaman dahulu. Keempat untuk dijadikan sebagai tempat edukasi bagi masyarakat untuk menambah pengetahuan secara luas.
Dalam hal ini keberadaan Museum Glagah Wangi dijadikan sebagai tempat wisata edukasi bagi masyarakat, khususnya siswa PAUD, SD, SMP, dan SMA untuk mengenalkan peninggalan- peninggalan Kerajaan Demak agar dapat mengetahui dan menghormati warisan leluhur dan dapat menambah ilmu pengetahuan yang lebih luas.1
2. Sejarah Kerajaan Demak
Menurut Putri dan Hudaidah (2021: 189) Kerajaan Demak adalah kesultanan Islam pertama di pulau Jawa. Sebelum berdirinya Kesultanan Demak, beberapa pelabuhan Islam telah berkembang di Jawa, seperti Jepara,
1 Wawancara dengan Suhadi, Plt. Kepala Museum GlagahWangi, 16 Oktober 2021).
Tuban, dan Gresik. Demak adalah wilayah yang diberikan Brawijaya V kepada putranya, Raden Fatah. Banyaknya sungai dan pantai di kawasan Demak berkembang karena mendapat dukungan dari Syah Bandar dari Tuban, Gresik, Ampelde, serta para pedagang Islam yang memiliki kekayaan sumber daya alam. Pada tahun 1476- 1478 Demak dijadikan sebagai daerah yang ramai pusat ilmu pengetahuan dan penyebaran agama Islam.
Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Fatah pada tahun 1478 . Raden Fatah merupakan putra dari Prabu Brawijaya V dan Putri Cempa. Menurut Putri dan Hudaidah (2021: 191), jika dirunut Raden Fatah merupakan anak ke-13 dari 100 putra Raja Brawijaya V. Dalam hal ini Purwadi mengemukakan bahwa sejak kecil Raden Fatah sudah memiliki pengalaman dalam mobilitas yang tinggi dan termasuk sebagai pangeran yang memiliki kategori kosmopolit (Purwadi, 2005). Selanjutnya Nurhajarini mengemukakan bahwa pemerintahan Kerajaan Demak ditandai dengan pembangunan Masjid Agung Demak dan perluasan wilayah (Nurhajarini, 1999).
Berikutnya, Yogyanto (2017: 25) yang mengemukakan bahwa terdapat tiga raja yang memimpin Kerajaan Demak, yakni Raden Fatah, Pati Unus, dan Sultan Trenggono. Berikut ini akan dijelaskan mengenai raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Demak.
a. Raden Fatah (1478-1518)
Masa pemerintahan pertama kali Kerajaan Demak dipimpin oleh Raden Fatah. Raden Fatah mendapat gelar sebagai Sultan Syeh Alam Kubro dari Sunan Ampel. Kemudian dilengkapi oleh Sunan Bonang dengan gelar Sultan Fatah Syeh Alam Akbar Panembahan Jimbun Abdul Rahman Sayidin Panatagama Khallifatullah di Bintoro Demak. Mengingat masih ada gelar panembahan, maka gelarnya menjadi Sultan Fatah Syeh Alam Akbar Panembahan Jimbun Abdul Rahman Sayyidin Panatagama Sirullah Khalifatullah Amiril Mukminin Hajjudin Khamid Khan Abdul Suryo Alam di Bintoro Demak (Kasri dan Semedi, 2008: 67).
Semasa mudanya Raden Fatah memperoleh
pendidikan dengan latar belakang bangsawan dan politik. Kemudian, Raden Fatah memilih untuk kembali ke Majapahit bersama adiknya bernama Raden Kusen dan memutuskan untuk tinggal dan belajar di Ampel guna mendalami ilmu agama Islam dengan Sunan Giri, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. Setelah dianggap lulus, Raden Fatah dipercaya untuk menyebarkan agama Islam di Bintoro Demak.
Keberadaan Raden Fatah terhadap Kerajaan Demak memiliki peranan yang sangat penting dalam memperluas dan memperkuat kedudukan Kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam (Ngatino, 2018: 28). Semasa pemerintahan Raden Fatah Kerajaan Demak berkembang sangat pesat karena dijadikan sebagai tempat penyebaran agama Islam (Yogyanto, 2017: 12).. Selain menjadi penguasa, Raden Fatah juga sebagai penyiar agama Islam. Kejayaan Kerajaan Demak pada masa Raden Fatah ditunjukkan dengan adanya bukti-bukti keberhasilannya, antara lain memperluas dan mempertahankan kerajaan dari musuh-musuhnya, mengadakan perlawan terhadap Portugis pada tahun 1511 yang telah menduduki Malaka dan ingin mengganggu Demak, dakwah Islam, dan pengembangannya, menerapkan hukum Islam dalam berbagai aspek kehidupan (Yogyanto, 2017: 18). Selain itu, ia juga berhasil membangun istana dan mendirikan masjid yang sampai sekarang terkenal dengan nama Masjid Agung Demak.
Agustyaningrum dkk., juga mengemukakan bahwa banyak hasil pencapaian yang diperoleh semasa kepemimpinan Raden Fatah. Pertama, berhasil dalam menyebarluaskan dakwah.
Kedua, mampu menerapkan hukum Islam dari berbagai aspek kehidupan. Ketiga, mengadakan perlawanan terhadap Portugis yang telah menduduki Malaka (Agustyaningrum, dkk.
2016). Sebagaimana yang dikemukakan oleh Kasri dan Semedi (2008: 95) yang berpendapat bahwa sesuai dengan isi buku Babad Demak dan Tanah Jawi II, sesudah kegagalan menyerang Malaka pada tahun 1513 M, Kadipaten Majapahit berani unjuk gigi menentang Demak bahkan sering berupaya untuk menguasai kekuasaan Demak dengan memengaruhi Adipati lainnya untuk melepaskan diri dari kekuasaan Demak.
Hal tersebut mengakibatkan Demak tidak tinggal
diam dan mulai mengarahkan serangannya ke Majapahit yang pada saat itu berbentuk Kadipaten. Sultan Fatah yang kemudian dibantu oleh Sunan Kudus memimpin serangan melalui darat lewat Madiun, sedangkan Adipati Unus mendapatkan tugas melawan serangan dari laut lewat Sedayu. Peperangan berlangsung selama lima tahun (1513 s.d. 1518) di bawah pimpinan Sultan Fatah.
Sultan Fatah wafat pada tahun 1518 M atau 1440 S, dalam usia 70 tahun.2 Ia dimakamkan di sebelah utara Masjid Agung Demak. Setelah Sultan Fatah wafat kepemimpinan Kerajaan Demak beralih kepada Pati Unus.
b. Pati Unus (1518-1521)
Pati Unus atau Adipati Unus merupakan raja kedua dari Kerajaan Demak. Ia merupakan anak sulung dari Raden Fatah. Sebagaimana dikemukakan oleh Putri dan Hudaidah (2021:
190), Pati Unus dikenal dengan julukan Pangeran Sabrang Lor. Hal tersebut dikarenakan keberaniannya untuk melawan Portugis di Malaka. Kata sabrang lor berasal dari kata sabrang yang diartikan menyebrang, dan lor yang berarti utara. Adipati Unus juga merupakan seorang yang bijaksana dan mempunyai cita-cita yang tinggi, yaitu ingin mengembalikan Kerajaan Majapahit melalui Demak. Visi besarnya adalah ingin menjadikan Demak sebagai kasultanan maritim yang besar (Kasri dan Semedi, 2008: 98).
Adipati Unus menyadari bahwa Malaka telah dikuasai oleh Portugis dan berpikir jika tidak bersiap terlebih dahulu, maka tidak mustahil jika Demak akan diserang oleh Portugis yang dibantu Prabu Udhara. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa raja yang beragama Hindu di tanah Jawa tidak keberatan mengadakan hubungan dengan Portugis di Malaka, asalkan dapat mendesak kekuasaan Kasultanan Demak, kalau perlu bisa menundukkanya. Prabu Udhara telah mengirim
2 Hal ini dapat diketahui dari hasil seminar pada tanggal 29 Mei 2004 dalam rangka mencari hari wafatnya Sul- tan Fatah setelah dimusyawarahkan dan didiskusikan secara cermat dengan para ahli sejarah dan falak serta para ulama yang mampu dan menguasai ilmu dengan wawasan luas, maka ditetapkan wafatnya Sultan Fatah pada hari Senin Legi malam Selasa Pahing 13 Djumadil Akhir 924 H/ 1518 M.
utusan dengan Portugis dan saling mengirimkan hadiah.
Kemudian, pada tahun 1519 Adipati Unus mengadakan penyerangan secara besar-besaran ke Kerajaan Majapahit hingga terbunuhnya Prabu Udhara dan berhasil menaklukkan Majapahit untuk kedua kalinya dan sekaligus yang terakhir karena setelah itu Kerajaan Majapahit sudah tidak muncul kembali. Sebagai bukti runtuhnya Kerajaan Majapahit, Pati Unus memindahkan pusaka Majapahit ke Demak.
Pada tahun 1520 Adipati Unus memindahkan delapan tiang pendapa Kerajaan Majapahit ke tiang serambi Masjid Agung Demak sebagai bentuk prasasti pindahnya Kerajaan Majapahit ke Bintoro Demak. Pada tahun 1521 Kerajaan Samodra Pasai jatuh di tangan Portugis. Pada tahun yang sama Adipati Unus wafat dan dimakamkan di kompleks Masjid Agung Demak, bersebelahan dengan makam ayahnya, Sultan Fatah.
Pada saat penyerangan Portugis di Malaka, Pati Unus mengerahkan armada yang dipusatkan di Jepara. Dalam penyerangan tersebut, Pati Unus dibantu oleh Palembang. Namun, serangan tersebut tidak berhasil menyingkirkan Portugis yang menguasai Malaka. Kegagalan tersebut justru malah disambut gembira oleh sebagian pihak di Jawa, khususnya pihak yang memiliki relasi cukup baik dengan Portugis. Hal tersebut dikarenakan adanya relasi perdagangan dengan Portugis dibandingkan dengan Kerajaan Demak.
Pati Unus juga melancarkan ekspansi ke beberapa daerah di pantai utara Jawa untuk menghentikan perluasan pengaruh Portugis di tanah Jawa. Dengan demikian, ia adalah figur yang berjasa dalam membangun kekuatan militer laut Kerajaan Demak dengan mendirikan pelabuhan militer di Teluk Wetan Jepara.
Pada tahun 1521 Pati Unus meninggal karena sakit bengkak paru-paru. Sebelum meninggal, ia meminta adik kandungnya, Raden Trenggono untuk meneruskan kepemimpinannya sebagai raja di Kerajaan Demak.
c. Sultan Trenggono (1521-1543)
Setelah Patah Unus wafat, Kerajaan Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono yang merupakan adik dari Pati Unus. Semasa kepemimpinannya Sultan Trenggono melancarkan serangkaian aksi militer untuk menguasai beberapa pelabuhan di bagian utara Jawa dan hampir semua wilayah bekas kekuasaan Majapahit di pedalaman Jawa bagian timur (Putri dan Hudaidah, 2021: 191).
Pada tahun 1513, di bawah kepemimpinan De Alvin, Portugis memimpin armada dengan empat kapal untuk mencapai Sunda Kelapa guna mencari rempah-rempah. Sunda Kelapa dijadikan sebagai pelabuhan utama di Nusantara.
Pada tanggal 21 Agustus 1522 ditandatangani perjanjian antara Portugis dengan Kerajaan Sunda, yang menetapkan bahwa raja akan menyediakan tanah di muara Sungai Ciliwung sebagai tempat berlabuhnya kapal Portugis dan menyetujui pendirian pos perdagangan dan benteng di Sunda Kelapa. Kesepakatan antara Kerajaan Pajajaran dan Portugis menimbulkan ketidakpuasan dari penguasa Kesultanan Demak.
Masyarakat beranggapan bahwa masuknya Portugis ke Jawa akan menghancurkan perdagangan dan transportasi pulau tersebut.
Oleh karena itu, perjanjian ini mendorong Demak untuk memperluas kekuasaan dan menaklukan Kerajaan Pajajaran. Demak akhirnya membuat strategi untuk melumpuhkan kekuasaan Kerajaan Pajajaran (Tudjung dan Hidayat, 2017).
Hingga akhirnya Sultan Trenggono memberangkatkan Fatahillah dan banyak pasukan Kesultanan Demak untuk menyerang dan menguasai Banten. Setelah berhasil menguasai kota pelabuhan Banten, Demak kemudian menguasai Sunda Kelapa, yang merupakan pelabuhan utama yang penting dan makmur milik Kerajaan Pajajaran. Setelah Kerajaan Demak berhasil menguasai Sunda Kelapa, pada tahun 1527 Alfonso de Albuquerque di bawah pimpinan Francisco de Sa mengirimkan enam kapal perang ke Sunda Kelapa. Armada tersebut diperkirakan membawa 600 tentara bersenjata. Armada Portugis saat itu dikirim untuk mempersiapkan benteng di Sunda Kelapa, namun ternyata telah dikuasai Kerajaan. Untuk mempertahankan Sunda Kelapa, di tahun yang
sama Sultan Trenggono mengirimkan 20 kapal perang dan 1.500 tentara ke Sunda Kelapa.
Setelah pertempuran sengit, pada tanggal 22 Juni 1527, armada pertempuran yang dipimpin oleh Fatahillah berhasil menaklukkan tentara Portugis. Setelah kemenangan ini, Fatahillah ditunjuk menjadi penguasa Sunda Kelapa.
Setelah itu Fatahillah mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Sejak saat itu, Kerajaan Demak memperluas penaklukan ke Wirasari pada 1528, Gegelang atau Madiun pada 1529, Mendangkung pada 1530, Surabaya pada 1531, Pasuruan pada 1535, dan Lamongan, Blitar, Wirasaba pada 1541 sampai 1542. Gunung Penanggungan merupakan benteng para petinggi religius Hindu Jawa yang ditundukkan pada tahun 1543. Selanjutnya, Mamenan atau Kediri ditaklukkan pada 1549, serta Sengguru atau Malang pada 1545. Blambangan berhasil ditaklukkan Demak pada 1546, sedangkan Panarukan gagal ditaklukkan, karena Sultan Trenggono gugur dalam pertempuran (Tundjung dan Hidayat, 2018).
Pada saat dipimpin oleh Sultan Trenggono Kerajaan Demak mencapai masa kejayaan. Sultan Trenggono juga berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga Jawa Tengah, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Timur. Namun, saat Raden Trenggono ingin memperluas kekuasaan di Jawa Timur, ia wafat hingga pada akhirnya Kerajaan Demak mengalami kekosongan kepemimpinan.
Setelah Sultan Trenggana meninggal Kerajaan Demak pun mengalami kekosongan kekuasaan.
Akhirnya terjadi persaingan politik antara keluarga dari Pangeran Sekar Seda Lepen dengan keluarga Sultan Trenggana. Di tengah perpecahan tersebut, tampillah Joko Tingkir sebagai seorang Adipati Pajang bawahan dari Kerajaan Demak.
3. Peninggalan Kerajaan Demak di Museum Glagah Wangi
Artefak peninggalan Kerajaan Demak yang tersimpan di Museum Glagah Wangi berjumlah sekitar 200 koleksi.3 Berikut ini deskripsi
3 Wawancara dengan Ahmad Widodo, Plt. Kepala Mu- seum Glagah Wangi, 15 Oktober 2021.
beberapa dari artefak peninggalan Kerajaan Demak yang tersimpan di Museum Glagah Wangi.
1) Filter Air dari Batu
Filter air yang terbuat dari batu merupakan upaya nenek moyang orang Demak untuk membuat teknologi alat penjernih air sehingga menghasilkan air yang steril dan sehat. Filter air ini terbuat dari batu andesit. Filter air terbagi menjadi dua bagian. Pertama, yaitu filter air berbentuk kerucut bulat berfungsi sebagai penyaring air yang dianggap kurang steril atau keruh. Cara pemakaiannya filter di isi air ditempatkan menggantung di atas tempayang atau ngaron. Kedua, ngaron yang diletakkan mengadah ke atas dengan posisi di bawah filter yang sudah diisi air dan dinding luar filter akan mengembun serta terjadi tetesan air yang jatuh tertampung dalam ngaron atau tempayang.
Filter air tersebut bertujuan untuk memperoleh air bersih dan sehat karena mengingat keadaan air di daerah Demak mengandung beberapa unsur, di antaranya adalah bahan material yang membuat air menjadi keruh.4 Untuk itu, upaya nenek moyang orang Demak membuat teknologi alat penjernihan air yang steril dan sehat agar masyarakat Demak meminum air bersih dan sehat (UPTD Museum, 2021).
Gambar 1. Filter Air (Sumber: Foto pribadi)
2) Piring Arya Penangsang
Museum Glagah Wangi Demak menyimpan serpihan piring milik Arya Penangsang.
Serpihan piring yang digunakan untuk tempat
4 Wawancara dengan Suhadi, Staf Pelaksana Museum Glagah Wangi, 16 Oktober 2021.
menghidangkan buah tersebut pernah dipukul oleh Arya Penangsang saat marah menerima surat tantangan dari Sultan Hadi Widjoyo (Joko Tingkir). Lewat utusannya yang telah memotong telinga juru perawat kuda Gagak Rimang (nama kuda kesayangan Pangeran Arya Penangsang).
Diceritakan bahwa serpihan piring Arya Penangsang dijadikan sebagai masa perebutan Kerajaan Demak pada abad XVI. Kemudian terjadi peperangan antara Joko Tingkir dengan Arya Penangsang. Peperangan tersebut mengakibatkan Arya Penangsang gugur di medan perang. Akhirnya Joko Tingkir memindahkan Kerajaan Demak ke Pajang.5
Diceritakan bahwa serpihan piring Arya Penangsang merupakan sejarah nyata dari runtuhnya Kerajaan Demak. Piring Arya Penangsang dijadikan sebagai ikon daya tarik para pengunjung Museum Glagah Wangi.6 Hal tersebut bertujuan untuk melihat serpihan piring Arya Penangsang sebagai bukti dari runtuhnya Kerajaan Demak pada saat terjadinya perebutan kedudukan yang dikarenakan kekosongan kepemimpinan setelah meninggalnya Sultan Trenggono. yang gugur dalam peperangan di Jawa Timur. Hingga pada akhirnya Kerajaan Demak dialihkan ke Pajang (UPTD Museum, 2021).
Gambar 2. Piring Arya Penangsang (Sumber:
Foto pribadi)
5 Wawancara dengan Suhadi (Staf Pelaksana Museum Glagah Wangi) 16 Oktober 2021.
6 Wawancara dengan Ahmad Widodo (Plt. Kepala Mu- seum Glagah Wangi), 15 Oktober 2021
3) Wayang Bhetoro Guru Berkepala Tiga
Bhetara Guru berasal dari bahasa Sanskerta Bhattara yang berarti tuan terhormat dan guru yang berarti pengajar. Menurut mitologi Jawa Bathara Guru merupakan dewa yang merajai ketiga dunia, yakni Mayapada (dunia para dewa atau surga), Madyapada (dunia manusia atau bumi), dan Arcapada (dunia bawah atau neraka).
Tokoh yang pertama kali membuat Bhetara Guru adalah Kanjeng Sunan Kalijaga Kadilangu.
Namun karyanya tersebut menuai kecaman dari Sunan Bonang, yang merupakan guru dari Sunan Kalijaga, bahwa membuat wayang hendaknya tidak menyerupai manusia. Maka Sunan Kalijaga membuat wayang kembali sesuai dengan saran dari Sunan Bonang. Akhirnya, wayang Bhetara Guru yang disebut sebagai Guru berkepala tiga tidak pernah digunakan (UPTD Museum, 2021).
4) Wayang Djanoko
Bentuk wayang kulit Djanoko merupakan koleksi peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga yang tersimpan di salah satu keluarga ahli waris di Kadilangu Demak adalah sesuai dengan gambar asli Prabu Janaka. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Pratama (2020: 1) bahwa sifat dari Prabu Janaka adalah adil dan bijaksana. Sifat tersebut mengakibatkan para rakyatnya senang padanya. Konon katanya wayang Djanoko terbuat dari kulit manusia. Serta mitos yang berkembang di lingkungan Kadilangu, bahwa barang siapa seorang dalang yang pernah memegang bahkan memainkan wayang tersebut maka akan mendapatkan ketenangan dan laris tanggapannya (UPTD Museum, 2021).
Gambar 3. Wayang Djanoko (Sumber: Foto pribadi)
5) Sketel
Sketel merupakan tempat air yang digunakan untuk minum oleh para pembesar Keraton Kerajaan Demak. Sketel ini terbuat perunggu yang berfungsi untuk menetralisasikan air. Sketel ini juga dipercaya sebagai penolak balak.7 Balak diartikan sebagai malapetaka, kemalangan, ataupun cobaan, sikap terhadapnya adalah menolak atau tolak sehingga muncul sebutan tolak balak. Tolak balak adalah upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk mencegah, menghindari malapetaka (Cahyono, 2020:1).
Pada masyarakat Nusantara, khususnya Jawa, tolak balak merupakan ritual keagamaan yang diselenggarakan dengan menggunakan doa mantra, sesaji, pengorbanan, atau benda-benda yang dianggap sebagai simbol magis. Dalam hal ini magis yang digunakan sebagai penolak atau pelindung (UPTD Museum, 2021).
Gambar 5. Sketel (Sumber: Foto pribadi)
6) Periyok atau Pendaringan
Pendaringan adalah pasu atau gentong yang digunakan untuk menyimpan beras. Perabot rumah tangga untuk menanak nasi atau tempat menyimpan beras di era kerajaan Hindu dan Islam.
7 Wawancara dengan Ahmad Widodo (Plt. Kepala Mu- seum Glagah Wangi), 10 Januari 2021.
Gambar 6. Pendaringan/periyok (Sumber: Foto pribadi)
7) Guci Obat
Guci obat ini berwarna orange kecoklatan yang berbentuk seperti gentong kecil. Guci obat tersebut dibuat pada tahun 1898 oleh bangsa Belanda. Pada masa Kerajaan Demak, guci tersebut digunakan sebagai tempat penyimpanan obat-obatan.
Gambar 7. Guci Obat (Sumber: Foto pribadi)
8) Guci Guly Pendek
Guci Guly Pendek memiliki bagian atas berwarna coklat dan bagian bawah berwarna putih. Pada masa Kerajaan Demak, guci ini dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan obat atau zat kimia.
Gambar 8. Guci Guly Pendek (Sumber: Foto pribadi)
9) Guly-Guly
Guly-Guly berbentuk seperti botol yang berwarna coklat muda. Guly-Guly ini berasal dari Belanda yang dibawa langsung oleh Belanda masuk ke Nusantara. Guly-Guly digunakan sebagai tempat untuk minum para serdadu VOC pada tahun 1602-1798.
Gambar 9.Guly-guly (Sumber: Foto pribadi)
10) Guci Dinasti Ming
Guci Dinasti Ming ini berwarna hitam keabu- abuan, terbuat dari bahan keramik yang teramat sederhana. Guci tersebut digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan pangan, khususnya beras atau gandum. Guci ini ditemukan di Desa Kalisari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.
Gambar 10.Guci Dinasti Ming (Sumber: Foto pribadi)
11) Umpak Engsel Daun Pintu
Umpang Engsel Daun Pintu ini berwarna putih dan memiliki dua lubang yang berfungsi sebagai pengganti engsel pintu. Cara menggunakannya dengan cara daun pintu diberi kusen panjang.
Hal tersebut bertujuan untuk penyangga daun pintu dan kusen yang kemudian diletakkan pada salah satu lubang yang berfungsi sebagai engsel.
Dan lubang yang kedua ditancapkan kayu saka yang tak bergerak.
Gambar 11. Umpak Engsel Daun Pintu (Sumber:
Foto pribadi)
12) Asbak Mini
Asbak Mini dijadikan sebagai tempat pembuangan abu rokok dan puntung rokok.
Asbak Mini ini terbuat dari bahan keramik yang terdiri dari tiga jenis masing-masing berukuran 5 cm. Asbak ini dibuat pada tahun 1817.
Gambar 12. Asbak Mini (Sumber: Foto pribadi)
13) Mangkok
Mangkok adalah alat yang berbentuk setengah lingkaran yang digunakan untuk meletakkan makanan berkuah agar tidak tumpah. Mangkok ini bermotif bunga mawar buatan Eropa yang dibawa masuk ke tanah air lewat tangan orang- orang Belanda.
Gambar 13. Mangkok (Sumber: Foto pribadi)
14) Umpak Saka
Umpak Saka terbuat dari batu karang gunung yang berwarna putih yang ditemukan di Desa Geneng Kecamatan Mijen. Menurut sejarah, umpak saka Kerajaan Demak (Keraton Demak pada saat itu) hancur akibat pertempuran antara Arya Penangsang (penguasa Kadipaten Jipang Panolan) dan Pangeran Hadi Wijoyo penguasa Kadipaten Pajang. Pada umpak tersebut terdapat tapak kaki yang membuktikan bahwa Keraton Demak memang sengaja dihancurkan.
Gambar 14. Umpak Saka (Sumber: Foto pribadi)
15) Batu Tempat Duduk
Batu Tempat Duduk ini terbuat dari batu andesit yang keras, dan ditemukan di Desa Wonosalam.
Batu tersebut diperkirakan akan dibuat suatu pola barang, misal patung arya atau yoni, atau meja sebagai sarana tempat duduk semedi atau mediasi.
Gambar 15. Tempat Duduk (Sumber: Foto pribadi)
16) Yoni
Yoni terbuat dari batu andesit dan digunakan sebagai sarana untuk memuja Dewa Siwa dan Dewi Prawati. Batu Yoni ditemukan di Kadilangu, Demak. Menurut cerita ahli waris Sunan Kalijaga, Yoni tersebut telah dialihfungsikan. Dahulu, Yoni dijadikan sebagai sarana untuk pemujaan pada dewa, namun sekarang dialihkan sebagai sarana alat pembuat jamu (UPTD Museum, 2021).
Gambar 16. Yoni (Sumber: Foto pribadi)
17) Arca Mahadewa Wisnu
Dewa Wisnu adalah salah satu dari tiga mahadewa yang dipuja oleh umat Hindu. Arca yang terbuat dari batu andesit ini ditemukan di Desa Kalisari, Kecamatan Sayung (UPTD Museum, 2021).
Gambar 17. Arca Mahadewa Wisnu (Sumber:
Foto pribadi)
18) Potongan Arca Dewi Larsati
Potongan arca ini terbuat dari batu andesit yang sengaja dihancurkan oleh pemiliknya tatkala Demak mengalami perubahan pertumbuhan agama Islam, sehingga agama nenek moyang yang lama ditinggalkan. Ini menyebabkan tidak terurusnya perlengkapan ibadahnya (UPTD Museum, 2021).
Gambar 18. Potongan Arca Dewi Larsati (Sumber: Foto pribadi)
19) Duplikat Rebab Gading Kyai Gareng Rebab Gading Kyai Gareng adalah peninggalan Pangeran Wijil. Duplikat Rebab Gading Kyai Gareng terbuat dari gading dan bathok kelapa bolu, yaitu batok kelapa yang hanya bermata satu. Rebab ini tersimpan di dalam Notobratan Kadilangu. Ada mitos yang berkembang bahwa rebab ini bisa berbunyi sendiri dan orang yang tidak sengaja mendengar bunyinya diyakini akan hidup bahagia dan mendapatkan ketenangan lahir dan batin (UPTD Museum, 2021).
Gambar 19. Duplikat Rebab Gading Kyai Gareng (Sumber: Foto pribadi)
20) Lumpang Kayu
Lumpang Kayu adalah alat yang digunakan untuk menumbuk padi. Lumpang ini biasanya berpasangan dengan alu. Cara menggunakannya dengan meletakkan padi di dalam lumpang kemudian ditumbuk menggunakan alu. Lumpang ini merupakan hibah dari Desa Weding, Kecamatan Bonang Kabupaten Demak (UPTD Museum, 2021).
Gambar 20. Lumpang Kayu (Sumber: Foto pribadi)
21) Jati Lorot
Jati Lorot adalah kayu jati yang tidak terpakai untuk soko guru pada masa pembangunan Masjid Agung Demak. Sebelumnya, kayu itu tidak terpakai karena kriterianya tidak sesuai dengan yang dikehendaki para Wali Songo, yaitu tua, panjang, dan lurus. Karena tidak terpakai, kayu ini dihanyutkan ke sungai agar terbawa arus menuju laut lepas. Namun, ternyata kayu jati ini tetap berada di sungai itu. Jati Lorot ditemukan secara terpisah. Satu bagian ditemukan di bawah jembatan Desa Botorejo dan yang lain ditemukan di samping kantor Kelurahan Bintoro.
Gambar 21. Jati Lorot (Sumber: Foto pribadi)
22) Guci Campa
Guci Campa berasal dari negeri Campa yang terlihat dari bentuk dan bahannya yang berasal dari keramik. Guci Campa dijadikan sebagai tempat air minum raja di kala mengadakan pemburuan binatang di hutan (UPTD Museum, 2021).
Gambar 22. Guci Cempa (Sumber: Foto pribadi)
23) Piring Buah
Piring buah terbuat dari keramik kaca yang berasal dari Eropa. Piring ini sebagai tempat hidangan buah untuk Sultan Demak (UPTD Museum, 2021).
Gambar 23. Piring Buah (Sumber: Foto pribadi)
24) Ceting
Ceting adalah tempat nasi yang biasanya dipakai oleh Adipati Demak. Ceting ini terbuat dari bahan timah putih bermotif ukiran bunga (UPTD Museum, 2021).
Gambar 24. Ceting (Sumber: Foto pribadi)
25) Baki
Baki ini berbentuk bulat dengan motif ukiran dan terbuat dari kuningan bercampur tembaga. Baki ini digunakan sebagai tempat untuk memasak (UPTD Museum, 2021).
Gambar 25. Baki (Sumber: Foto pribadi)
26) Sirab
Sirab adalah genting atap Masjid Agung Demak yang dibuat dari bahan kayu jati. Sirab ini dibuat pada saat pendirian Masjid Agung Demak pada tahun 1388 s.d. 1466 (UPTD Museum, 2021).
Gambar 26. Sirab (Sumber: Foto pribadi)
27) Gerabah Bekal Kubur
Gerabah Bekal Kubur adalah salah satu adat kebiasaan masyarakat pra-Islam yang masih memadukan kepercayaan lama yang belum ditinggalkan sepenuhnya. Gerabah ini ditemukan pada salah satu kubur di komplek Makam Sentono Ratu Kauman, Demak (UPTD Museum, 2021).
Gambar 27. Gerabah bekal kubur (Sumber: Foto pribadi)
28) Keris atau Tosan Aji
Keris atau Tosan Aji adalah hasil maha karya leluhur bangsa kita yang masih dilestarikan di kalangan masyarakat Jawa Tengah (UPTD Museum, 2021). Di Museum Glagah Wangi terdapat beberapa koleksi tosan aji, antara lain:
Keris Dapur Simpaner, Keris Dapur Jaran Goyang, Tumbak Doro Dasi, Tumbak Dup Cempoko, dan Trisula
Gambar 28. Keris atau tosan aji (Sumber: Foto pribadi)
29) Daun Pintu Berukir Demak
Daun Pintu Berukir Demak adalah daun pintu kupu tarung bermotif ukiran Pesisiran atau ukiran Demakan, yang dibuat pada abad XV pada masa Kesultanan Demak. Ukiran ini memberikan imajinasi adanya beberapa corak batik di daerah pesisiran Demak (UPTD Museum, 2021).
Gambar 29. Daun pintu berukir Demak (Sumber:
Foto pribadi)
30) Guci Pendaringan
Guci Pendaringan adalah tempat penyimpan beras. Guci ini terbuat dari keramik buatan Dinasti Ming, diperoleh dari masyarakat Kadilangu, Demak (UPTD Museum, 2021).
Gambar 30. Guci pendaringan (Sumber: Foto pribadi)
31) Panginangan
Panginangan merupakan tempat racikan atau bahan nginang. Nginang adalah salah satu kebiasaan masyarakat di masa lalu yang bahkan sampai saat ini masih ada yang melakukan. Pada zaman dulu sebelum masyarakat mengenal rokok, telah dilakukan praktek nginang atau makan sirih sebagai kebiasaan untuk pergaulan dan acara-acara adat di masa itu (UPTD Museum, 2021).
Gambar 31. Penginangan (Sumber: Foto pribadi)
32) Fosil Flora dan Fauna Laut
Fosil-fosil flora dan fauna laut ditemukan di Bukit Kendeng Desa Wonosekar, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak. Beberapa fosil tersebut adalah fosil tulang ikan, fosil siput laut, fosil bunga kerang, dan kerang laut.
Gambar 32. Fosil flora dan fauna (Sumber: Foto pribadi)
33) Teko dan Cangkir
Gerabah berupa teko dan cangkir ini berasal dari Eropa, yang dibawa pada masa penjajahan Belanda. Benda ini pernah digunakan di salah satu mushola atau langgar tertua di Kampung Tanubayan, Kelurahan Demak.
Gambar 33. Teko dan cangkir (Sumber: Foto pribadi)
34) Guci Han
Guci Dinasti Han ditemukan oleh petani Desa Brambang, Kecamatan Karangawen pada tanggal 9 Agustus 2015 pada malam nyaber mimpi pada perintah menggali sumur di ladang (UPTD Museum, 2021).
Gambar 34. Guci han (Sumber: Foto pribadi)
35) Keping Cina Bermacam Dinasti
Keping Cina ditemukan bersamaan dengan Guci Han. Jumlah Keping Cina yang ditemukan mencapai 2.050 buah, yang berasal dari beberapa dinasti di Cina.
Gambar 35. Keping Cina dari beberapa dinasti (Sumber: Foto pribadi)
36) Pedang Tikam Cina
Pedang Tikam Cina ini ditemukan berada di dalam Guci Han. Kondisinya pada saat ditemukan sudah tidak utuh lagi dengan kerusakan mencapai 70%.
Pedang ini berasal dari Cina (UPTD Museum, 2021).
Gambar 36. Pedang Tikam Cina (Sumber: Foto pribadi)
37) Mata Tombak Gliring Lanang
Mata Tombak Gliring Lanang dibuat oleh seorang empu di wilayah Tuban pada masa Kerajaan Demak. Adapun ukuran dari Mata Tombak Gliring Lanang adalah panjang mata 28 cm, panjang purusan 17 cm, panjang mata dan purusan 45 cm, lebar bagian atas 5 cm, lebar bagian tengah 4 cm, dan lebar bagian bawah 6 cm.
Gambar 37. Mata tombak gliring lanang (Sumber: Foto pribadi)
38) Keris
Sunan Kalijaga memerintahkan Ki Empu Supo membuat keris sebagai mahar pernikahan Ki Empu Supo dengan RA. Rosowulan, adik dari Sunan Kalijaga. Keris tersebut diberi nama Kiyai Slamet dan menjadi salah satu pusaka andalan Sultan Hadiwijaya (Sultan Pajang). Namun, di waktu yang berbeda nama tersebut diganti menjadi Kiyai Sengkelat (UPTD Museum, 2021).
Gambar 38. Keris (Sumber: Foto pribadi)
39) Wedung
Wedung adalah senjata yang digunakan untuk menebas. Senjata ini merupakan senjata tradisional Kerajaan Wedung (nama kerajaan sebelum digantikan oleh Kesultanan Demak).
Kerajaan Wedung sudah terkenal sejak era Kerajaan Singasari hingga Majapahit. Pada masa pemerintahan Sultan Trenggono, Kerajaan Demak, senjata Wedung ini dipakai pada saat peresmian Masjid Agung Demak. Saat itulah
Wedung ditetapkan sebagai salah satu pusaka Kesultanan Demak. Senjata itu pada saat ini masih dipakai oleh para pangeran di Jawa saat dinobatkan menjadi raja atau sultan (UPTD Museum, 2021).
Gambar 39. Wedung (Sumber: Foto pribadi)
SIMPULAN DAN USULAN 1. Simpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa keberadaan Museum Glagah Wangi memiliki peran penting dalam masyarakat untuk mengenalkan nilai-nilai sejarah dan budaya pada masa Kerajaan Demak.
Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa. Masa pemerintahan Kerajaan Demak dimulai dari Raden Patah yang dimulai pada tahun 1478-1518. Kedua, Kerajaan Demak dipimpin oleh Pati Unus pada tahun 1518-1521.
Ketiga, Kerajaan Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono pada tahun 1521-1543.
Banyak peninggalan Kerajaan Demak yang tersimpan di Museum Glagah Wangi di antaranya adalah filter air, piring aryo penangsang, wayang bhetoro guru berkepala tiga, wayang djanoko, sketel, pendaringan, guci obat, guci guly pendek, guly-guly, guci dinasti ming, umpak engsel daun pintu, asbak mini, mangkok, umpak saka, batu tempat duduk, yoni, arca maha dewa wisnu, potongan arca Dewi Lestari, duplikat rebab Gading Kyai Gareng, lumpang kayu, jati lorot, guci campa, piring buah, ceting, baki, sirab, gerabah bekal kubur, tosan aji, daun pintu berukir demak, guci pendaringan, panginangan, fosil flora dan fauna laut, teko dan cangkir, guci han, keeping
cina, pedang tikam cina, mata tomabk gliring lanang, keris, wedung, dan lain sebagainya.
2. Usulan
Peninggalan Kerajaan Demak yang tersimpan di Museum Glagah Wangi dapat dijadikan sebagai wadah peninggalan. Selain itu, dapat juga dijadikan sebagai tempat rekreasi dan edukasi bagi masyarakat khususnya siswa-siswa untuk mengenalkan sejarah dan budaya Kerajaan Demak melalui peninggalan-peninggalan Kerajaan Demak sebagai warisan budaya yang harus dijaga dan dirawat.
Penelitian ini dapat menambah khazanah keilmuan khususnya dalam bidang ilmu sejarah dan dapat dijadikan sebagai bahan acuan atau referensi bagi penelitian serupa. Peneliti berharap akan ada penelitian yang mendalam mengenai asal-usul dari peninggalan-peninggalan Kerajaan Demak agar dapat menambah wawasan bagi masyarakat.
PUSTAKA ACUAN
Agustyaningrum, Hana., Purwadi, dan E.
Suryanto. (2016). Analisis Struktural dan Nilai Pendidikan Karakter Novel Pukat Karya Tere Liye serta Relevansinya terhadap Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 4 (1).
Anita, D. E. (2014). Walisongo: Mengislamkan Tanah Jawa Suatu Kajian Pustaka. Jurnal Wahana Akademika, 1 (2), 243–266.
Cahyono, M. D. (2020). Tolak Bala, Ikhtiar Religio-Magis Menghadapi Bala-Bancana.
Nusadaily.Com. Retrieved from https://
nusadaily.com/opinion/tolak-bala-ikhtiar- religio-magis-menghadapi-bala-bancana-1.
html/2
Hasan, S. H. (2019). Pendidikan Sejarah untuk Kehidupan Abad ke 21. Jurnal Pendidik dan Peneliti, II (2), 61–83.
Heryati. (2017). Pengantar Ilmu Sejarah.
Universitas Muhammadiyah Palembang.
Palembang: Universitas Muhammadiyah Palembang.
Kasri, M. K., dan P. Semedi. (2008). Sejarah Demak Matahari Terbit di Glagahwangi.
Demak: Pemerintah Kabupaten Demak Kantor Pariwisata dan Kebudayaan.
Maharjono. (2019). Manfaat Pembelajaran Sejarah Menggunakan Google Classroom pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Karya Ilmiah Guru, 5 (1), 56–64.
Maryam. (2016). Transformasi Islam Kultural ke Struktural (Studi Atas Kerajaan Demak).
Jurnal Tsaqofah & Tarikh V, 1(1), 63–77.
Meleong, J. L. (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ngatino, A. (2018). Peranan Raden Fatah dalam Mengembangkan Kerajaan Demak pada Tahun 1478-1518. Jurnal Kalpataru, 4(1), 17–28.
Nurhajarini, D. R. (1999). Sejarah Kerajaan Tradisional Surakarta. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Pratama, A. (2020). Prabu Janaka: Sifat, Kisah Cerita dan Sejarah. Jagad.Id. Retrieved from https://jagad.id/wayang-prabu-janaka/
Purwadi. (2005). Babad Demak: Sejarah Perkembangan Islam di Tanah Jawa.
Yogyakarta: Tunas Harapan.
Putri, Z., dan Hudaidah. (2021). Sejarah Kesultanan Demak: Dari Raden Fatah Sampai Arya Penangsang. Tamaddun:
Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, 9(1), 185–197.
Rokhim, M. A., Banowati, E., dan Setyowati, D.
L. (2017). Pemanfaatan Situs Masjid Agung Demak sebagai Sumber Belajar Sejarah bagi Siswa SMA di Kabupaten Demak. Journal of Educational Social Studies, 6(3), 111–119.
Sholeh, K. (2017). Prasasti Talang Tuo Peninggalan Kerajaan Sriwijaya sebagai Materi Ajar Sejarah Indonesia di Sekolah Menengah Atas. Jurnal Historia, 5(2), 173–192.
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Pendidikan:
Pendekatan Kualitatif, Pendekatan
Kuantitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Sujarwo, A. (2017). Perancangan Motion Comic Tentang Kerajaan Demak sebagai Titik Awal Pengembangan Kerajaan Mataram Islam. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Tudjung dan A. Hidayat. (2017). Politik Dinasti Dalam Perspektif Ekonomi dari Kerajaan Demak. Jurnal Pendidikan Sejarah, 1(3).
UPTD Museum. (2021). Ayo ke Museum Glagah Wangi Kabupaten Demak!. Leaflet.
Demak: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Demak.
Wakim, M. (2020). Tiada Masa Depan Tanpa Hari Kemarin: Pentingnya Belajar Sejarah untuk Memahami Masa Kini. Kebudayaan.
Kemdikbud.Go.Id. Retrieved from https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/
bpnbmaluku/tiada-masa-depan-tanpa- hari-kemarin-pentingnya-belajar-sejarah- untuk-memahami-masa-kini/
Yogyanto, R. N. (2017). Peran Raden Fatah dalam Mengembangkan Agama Islam di Demak Tahun 1478-1518. Yogyakarta: Universitas PGRI Yogyakarta.
Narasumber:
• Ahmad Widodo (Plt. Kepala Museum Glagah Wangi, Demak)
• Muhammad Suhadi (Staf pelaksana Museum Glagah Wangi, Demak)