Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Pranikah
Pre-marital screening atau cek kesehatan pranikah ternyata belum cukup membudaya di kalangan masyarakat Indonesia.
Umumnya pemeriksaan ini belum dianggap sebagai hal penting yang perlu dilakukan setiap pasangan sebelum menikah. Padahal, jika setiap pasangan mau menyadari, pemeriksaan ini sesungguhnya dapat menghindarkan dari berbagai risiko penyakit jangka panjang, bagi mereka maupun keturunannya. Lantas, seberapa pentingkah pemeriksaan pranikah ?
Muhammad Ardian C. L., dr., S p . O G , M . K e s . ( F o t o : istimewa)
Dokter ahli kandungan Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS UNAIR), Muhammad Ardian C. L., dr., Sp.OG, M.Kes., berbagi informasi seputar pentingnya para calon pasutri melalui tahap pemeriksaan kesehatan pranikah.
Ardian menjelaskan, pemeriksaan kesehatan pranikah yang dilakukan meliputi pemeriksaan riwayat penyakit terdahulu, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan riwayat penyakit terdahulu memberikan gambaran risiko penyakit yang dimiliki. Kemudian melalui pemeriksaan fisik bisa diketahui adanya gangguan maupun kelainan. Dengan pemeriksaan laboratorium, penyakit-penyakit yang belum diketahui sebelumnya bisa dideteksi. Semua ini dilakukan semata-mata untuk mengetahui risiko penyakit dan melakukan penanganan sedini dan semaksimal mungkin.
Menurut Ardian, pemeriksaan kesehatan pranikah sangat penting dilakukan untuk mengetahui risiko pada diri masing-masing pasangan, juga risiko untuk generasi keturunan mereka. Banyak
hal yang bisa diantisipasi dengan adanya pemeriksaan kesehatan pranikah, antara lain risiko penularan penyakit, risiko invertilitas, kematian ibu dan bayi, serta lahirnya bayi cacat.
Skrining bisa mengantisipasi penularan penyakit infeksi, seperti TBC, HIV, toxoplasma dan hepatitis. Jika diketahui salah satu dari pasangan calon pengantin menderita penyakit infeksi, HIV misalnya, maka ada dua pilihan, ketika nanti melakukan hubungan seksual suami menggunakan kondom, dan atau jika memutuskan untuk memiliki keturunan, maka istri harus rutin mengonsumsi obat anti-HIV.
Demikian juga dengan penyakit infeksi toxoplasma yang menyebabkan keguguran dan bayi cacat. Hal ini bisa dihindari dengan dengan melakukan pengobatan sebelum istri hamil. “Jadi KB dulu, kalau sudah sembuh baru bisa hamil untuk mengurangi risiko bayi cacat,” ungkap Ardian.
Sementara itu, cukup sulit mengantisipasi penularan hepatitis B antar pasangan. Namun, dengan skrining antispasi penularan hepatitis dari ibu ke anak bisa dilakukan. Setelah persalinan, bayi diberikan vaksin hepatitis sehingga tidak tertular hepatitis yang diderita ibunya.
Risiko penyakit hormonal juga bisa diantisipasi dengan skrining. Penyakit hormonal seperti diabetes melitus, memberikan risiko keguguran pada ibu hamil dan berisiko bayi l a h i r c a c a t . D e n g a n s k r i n i n g p r a n i k a h , i s t r i b i s a mengantisipasi hal tersebut dengan menjaga pola hidup untuk mengendalikan kadar gula darahnya.
Begitu pula dengan penyakit kongenital, kelainan jantung misalnya. Meskipun penyakit ini tidak menular, tetapi pada istri yang hamil berisiko kematian jika kerusakan jantung yang dialaminya tergolong berat. “Jika membahayakan ibu, sebaiknya kehamilan tidak diteruskan. Sebab saat hamil, kerja jantung menjadi lebih berat,” papar pemilik rumah bersalin Graha
Amani, Sidoarjo ini.
Rhesus, juga patut menjadi perhatian pasangan yang akan menikah. Pasangan beda rhesus memiliki kemungkinan menghasilkan janin yang beda rhesus. Apabila hal ini terjadi, tubuh ibu akan menganggap janin yang beda rhesus ini sebagai benda asing. Akibatnya, bisa keguguran atau bayi lahir dengan anemia, hati bengkak, sakit kuning, hingga gagal jantung.
Namun, menurut Ardian, risiko beda rhesus ini kecil untuk pernikahan sesama ras Asia, sesama orang Indonesia misalnya, yang rata-rata memiliki rhesus positif.
Risiko lain yang bisa diantisipasi adalah invertilitas (ketidaksuburan). Melalui skrining, calon pasangan suami-istri bisa mengetahui kondisi sistem reproduksinya. Misalkan pada wanita dengan obesitas, risiko invertilitasnya tinggi, maka ia harus menurunkan berat badannya mendekati ideal jika ingin sukses hamil. Begitu pula jika terjadi gangguan pada sistem reproduksinya, bisa dilakukan pengobatan lebih dulu.
Kesehatan reproduksi pria juga bisa diketahui melalui skrining. Apabila ditemukan gangguan, maka faktor-faktor risiko harus dihindari, misalnya merokok, terpapar radiasi dan terkena panas berlebihan yang bisa merusak sel sperma. Jika ada kelainan pada alat reproduksi, bisa dilakukan operasi dan pengobatan. “Hal ini bisa meminimalisir kasus invertilitas yang sering membuat pasangan gelisah karena lama tidak mendapatkan keturunan,” ungkap dokter yang sering membantu pasangan suami istri untuk mendapatkan keturunan ini. (ind)
Cinta Surabaya, Alumnus
Sosiologi Ini Buat Buku Tentang Kota Pahlawan
Dhahana Adi Pungkas alias Ipung, alumnus Sosiologi FISIP Unair, memiliki kecintaan yang luar biasa pada Surabaya. Maka itu, pada 2013 lalu, dia menerbitkan buku berjudul Surabaya Punya Cerita Volume 1. Tak sampai di situ, pada November lalu, lelaki yang betah melek ini meluncurkan “penurus” buku tersebut. Judulnya, Surabaya Punya Cerita Volume 21/2.
Mungkin akan ada pertanyaan, mengapa volume 21/2 ? Padahal, buku sebelumnya, volume 1. Ternyata, ini hanya upaya Ipung membuat pembeda dengan buku-buku yang lain. Jadi, setelah volume 1, tidak harus volume 2, kan? Ipung ingin membuat sekuel yang segar dan lain dari yang lain.
Dhahana Adi Pungkas. (Foto: tribunnews.com)
“Sejarah dan cerita tentang kota harus dikemas dengan baik.
Tujuannya, jangan sampai orang menjadi jenuh dan malas untuk memahami topik ini,” papar Ipung.
Dua buku Ipung itu bercerita tentang seluk-beluk Surabaya.
Dari A sampai Z. Dia berharap, beberapa waktu ke depan, dapat membuat lanjutan dari buku terakhir. Dalam buku Surabaya Punya Cerita Volume 21/2 , terdapat mini biografi Iqbal Rais. Salah seorang sineas muda asal Surabaya yang telah meninggal dunia.
Iqbal, kata Ipung, merupakan sosok yang turut menginspirasi kawan-kawan di UKM Sinematografi Unair saat ini.
Hijaukan Kampus dengan Berkebun, Siapa Takut?
Ada satu komunitas berbasis lingkungan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga. Namanya, FEB Berkebun.
Sekelompok mahasiswa FEB yang bergerak untuk mengubah wajah kampus yang kurang hijau menjadi lebih asri dengan tanaman- tanaman.
Siapa yang tak suka dengan pemandangan hijau yang dapat menyegarkan mata dan pikiran di tengah kampus yang terletak di kota? Semua orang, apalagi warga kampus pasti membutuhkan ruang terbuka yang didominasi tanaman hijau untuk melepas penat setelah berpikir keras. Fakultas Ekonomi dan Bisnis punya satu komunitas menarik yang bergerak di bidang lingkungan. Komunitas itu bernama FEB Berkebun.
Awalnya, FEB Berkebun dibentuk oleh Dr. Muryani MEMD yang merupakan salah satu staf pengajar FEB yang aktif di bidang lingkungan. Sejak berdirinya FEB Berkebun, komunitas ini memiliki 28 mahasiswa aktif FEB dengan visi yang sama untuk menjadikan FEB sebagai salah satu ecocampus di Surabaya.
FEB terletak di tengah kota dan merupakan salah satu contoh urban campus. Kampus dengan lahan yang sempit, terletak di tengah kota dan dikelilingi hiruk-pikuknya, membutuhkan udara bersih untuk mendukung proses pembelajaran. FEB Berkebun ingin mengubah hal tersebut dengan berbagai kegiatan yang telah diselenggarakan.
Agenda FEB Berkebun
Kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh FEB Berkebun adalah memantau tanaman pemberian dari Dirmawa UNAIR yang ditanam di taman dekanat, Griya Krida Mahasiswa, dan taman belakang FEB.
Berbagai agenda telah dirancang oleh para pengurus. FEB
Berkebun mempunyai agenda besar untuk menata ulang empat taman yang ada di FEB. Agenda besar pertama adalah menata taman GKM agar mahasiswa bisa menghabiskan waktunya lebih lama dan nyaman. Agenda kedua FEB Berkebun adalah mengolah limbah air wudhu dari Masjid Nuruzzaman agar dapat dipergunakan untuk menyiram tanaman yang ada di FEB.
“Untuk mewujudkan rencana ini, tim FEB Berkebun telah melakukan studi banding ke wisata Jambangan untuk mengetahui pemrosesan pengolahan limbah dan sampah serta pengelolaan lingkungan hijaunya,” kata Muryani.
Penanaman bibit tanaman produktif di taman dekanat FEB, Dr Muryani memberikan komando kepada Tim FEB Berkebun. (Foto: Unair News)
Setiap hari Jumat FEB Berkebun bersama dengan BEM dan BSO di FEB melaksanakan gerakan FEB Bersih dengan membersihkan lingkungan kampus khususnya Griya Krida Mahasiswa yang menjadi tempat kumpul mahasiswa FEB.
Farikha Hanum Noveria, Ketua FEB Berkebun, berharap semua mahasiswa FEB dapat berkoordinasi demi menjaga kebersihan lingkungan kampus. Ia juga mengharapkan agar mahasiswa FEB bergabung dengan FEB Berkebun untuk menciptakan lingkungan yang bersih, asri dan lebih nyaman.
Setiap minggunya, FEB Berkebun tak hanya menanam dan memantau tanaman, tetapi juga berdiskusi mengenai program-program mereka.
“Hal itu dilakukan agar wawasan tim FEB Berkebun tentang lingkungan juga meningkat,” kata Farikha.
Kegiatan yang FEB Berkebun memperoleh sambutan hangat dari Kepala Sarana dan Prasarana FEB, Ngarbani. Menurutnya, kegiatan itu membantu menghijaukan lingkungan kampus yang dihuni sepertiga jumlah mahasiswa UNAIR.
“Saya berharap ke depannya, FEB Berkebun akan merencanakan pengolahan limbah kering dan basah FEB sehingga visi untuk menjadi ecocampus terwujud,” tutur Ngarbani.
Berbagai kegiatan yang sedang dilaksanakan dan direncanakan FEB Berkebun bertujuan untuk meningkatkan peran mahasiswa dalam menjaga kehijauan dan keasrian, serta memperluas pengetahuan tentang penghijauan.
Let’s save our environment! (din/dss)
Senjakala Suratkabar dan
Kebangkitan Jurnalisme
Digital
Rasanya tidak berlebihan kalau saya mengatakan hampir semua jurnalis di Indonesia beberapa hari terakhir ini pasti mengikuti dengan penuh perhatian perdebatan di media sosial soal media cetak versus media digital. Perdebatan ini dimulai ketika wartawan senior Harian Kompas, Bre Redana menulis catatan berjudul “Inikah Senjakala Kami…” di Kompas edisi 28 Desember 2015.
Artikel Bre langsung jadi viral di media digital, disebarkan di semua whatsapp group jurnalisme dan jadi perbincangan hangat. Selang sehari, muncul banyak artikel tanggapan, dan yang paling sering dikutip adalah tulisan Bayu Galih, wartawan Viva.co.id, yang berjudul“Kami tak pernah cengeng dan bilang ini senjakala kami.” Ulasan lebih lengkap soal polemik ini dirangkum dengan baik di artikel ini.
Perdebatan soal masa depan jurnalisme dan media ini jelas amat menarik dan penting. Terlebih momentumnya memang tepat.
Sepanjang 2015, sejumlah koran cetak memutuskan tutup dan beralih ke digital. Dua yang paling besar adalah koran Sinar Harapan dan Jakarta Globe. Media tempat saya bekerja, Tempo, menutup Koran Tempo edisi minggu dan kini edisi PDF koran ini lebih tebal dibandingkan edisi cetaknya.
Dengan semua perkembangan itu, bentuk digital media massa dan jurnalisme macam apa yang bakal dilahirkan di era digital ini kian urgen untuk dibahas dan diperdebatkan.
Kalau mau jujur, kekhawatiran Bre Redana sebenarnya dirasakan banyak orang di dunia jurnalisme Indonesia. Media online yang kita kenal di Indonesia, yang disebut-sebut sebagai model media baru yang akan menggantikan era cetak (baik koran dan majalah) memang menawarkan genre jurnalisme yang amat berbeda dibandingkan yang kerap kita baca di suratkabar dan majalah.
Media online mendewakan kecepatan menyampaikan informasi,
jualan utamanya adalahbreaking news, reporting the news as it happens. Bersaing dengan televisi, media online berusaha terdepan dalam menyajikan informasi terkini tentang apapun yang terjadi di sekeliling kita. Selain breaking news, yang juga ditonjolkan sebagai nilai lebih produk media online adalah berita-berita ringan tentang hal-hal renyah yang terjadi di sekeliling kita: crispy news. Kategori berita ini menjual tokoh, selebriti, peristiwa unik yang membelalakkan mata, menggelitik rasa ingin tahu kita.
Jika Gubernur Jakarta Ahok berkeliling ke kampung-kampung kumuh dan menawarkan program relokasi ke rumah susun ke warga miskin di sana, maka tak hanya substansi peristiwa itu yang bisa diberitakan, tapi juga pernak-pernik lain yang terjadi dalam peristiwa itu. Sambutan warga yang pro dan kontra, suasana pertemuan ketika Ahok blusukan ke kampung kumuh, ucapan-ucapan Ahok yang kontroversial, semua bisa jadi berita.
Ketika Maia, Mulan dan Ahmad Dhani, berseteru di youtube, difasilitasi program talkshow Deddy Corbuzier, ini makanan empuk untuk media online. Because names make news, more so in online media. Juga ketika konon ada ada pasangan gay menikah di Bali, semua media online memberitakan, meski semua media itu tak pernah mewawancarai langsung pasangan gay yang diberitakan. Media online hanya menulis berdasarkan sumber tangan kedua dan ketiga, bukan sumber pertama yang terlibat langsung dalam peristiwa yang diberitakan. Selama ada sumber y a n g b e r s e d i a d i k u t i p , m a k a s e b u a h i n f o r m a s i b i s a dipublikasikan sebagai berita.
Dengan kondisi macam itu, tak heran kalau banyak wartawan –tak hanya Bre Redana– merasa galau. Kalau masa depan jurnalisme adalah apa yang disajikan di media-media online saat ini, maka di manakah kedalaman, konteks dan cerita di balik berita, bisa ditemukan? Kalau semua media cetak tutup, gulung tikar, dan yang bertahan hanya media yang memberitakan peristiwa dengan secepat-cepatnya, mengandalkan sumber seadanya tanpa proses verifikasi yang memadai, maka di mana
publik bisa memahami tren, kecenderungan, fenomena, pola, dan analisa? Di mana mereka bisa mencari semua informasi yang hanya bisa diliput jika wartawan mengendapkan semua peristiwa yang tengah berputar, berhenti sejenak, mengambil jarak, dan mencoba memahami konteks besar dari dinamika yang terjadi dari jam ke jam, menit ke menit, detik ke detik?
Sayangnya Bre berhenti pada kecemasan itu. Dia tidak menawarkan jalan keluar atau cara pandang lain. Di situlah kelemahan artikel Bre. Karena itu, saya mencoba menawarkan jawaban ini: mari tidak mendasarkan analisa kita pada kondisi media online saat ini. Cobalah melihat potensi yang ada di media digital dan bayangkan bagaimana jurnalisme bisa jauh lebih dahsyat jika dikembangkan dengan memanfaatkan semua potensi era digital.
Media digital menawarkan banyak sekali kelebihan untuk jurnalisme, dibandingkan media cetak. Pertama, dengan media digital, kita bisa melaporkan peristiwa dengan lebih komprehensif pada pembaca/audiens. Sebuah berita di era digital tak hanya terdiri dari teks dan foto, tapi juga tautan ke semua peristiwa sebelumnya yang mengawali momen termutakhir yang kita beritakan. Dengan satu klik, pembaca bisa dibawa ke harta karun informasi digital yang bisa menjelaskan sejarah, kronologi dan konteks dari peristiwa yang tengah diberitakan.
Kedua, berita digital juga berpotensi lebih otentik, karena bisa menampilkan realitas secara lebih utuh. Bisa ada video di halaman yang sama dengan teks dan foto, sesuatu yang jelas menambah kredibilitas dan akurasi dari informasi yang dimuat di sana. Ketika seorang anggota DPR dituduh mencaci maki seseorang misalnya, media digital bisa menampilkan video atau audio ketika sang politikus beraksi. Politikus itu tak bisa berkilah kalau omongannya diplintir, atau wartawan memfitnah dirinya, kalau rekaman audio atau video ketika dia mencacimaki lawan politiknya bisa ditampilkan bersama berita. Lihat saja kasus #papamintasaham. Peristiwa itu akan jauh berkurang daya ledaknya, jika tak ada rekaman audio yang beredar luas di
media sosial.
Kelebihan ketiga media digital yang belum banyak digali adalah kemampuannya menampilkan big data atau data besar. Semua angka-angka hasil survei kesehatan, survei demografi, sensus, angka-angka hasil pemantauan bertahun-tahun, kini sudah banyak tersedia sebagai data digital terbuka (open data) dan dengan mudah dapat diakses di internet. Ada portal data.go.id yang menampilkan seabreg data pemerintah dari hampir semua kementerian. Di Jakarta, sudah ada portal serupa. Jika dulu suratkabar atau majalah hanya bisa memuat satu dua paragraf temuan berbagai survei itu dan melengkapinya dengan wawancara dengan pakar untuk menafsirkan data, kini data mentah itu bisa ditampilkan dengan utuh di laman media digital, dengan visualisasi yang menarik dan mengundang rasa ingin tahu pembaca.
Jurnalisme data akan menjadi tulang punggung utama jurnalisme di era digital, karena teknik ini memungkinkan publik mengakses data mentah dengan utuh, tanpa perantara dari pakar, pemerintah atau pengamat. Untuk itu, jurnalis harus belajar dan berusaha keras mencari semua data-data yang relevan buat publik, membersihkannya dan menganalisanya, untuk kemudian ditampilkan dengan visualisasi yang mudah dipahami audiens.
Itu penting agar data tak berhenti sebatas angka, namun bisa jadi pengetahuan yang berguna. Lebih banyak soal jurnalisme data, bisa dibaca di sini.
Masih ada lagi kelebihan keempat media digital yang tak ada di media cetak:kemampuannya untuk terhubung langsung dengan pembaca. Relasi atau engagementantara media, jurnalis dan pembaca kini memasuki era baru. Pembaca kini adalah bagian dari redaksi, bagian dari newsroom di era digital. Mereka bisa memberikan tips, bocoran, saran, komentar, secara real time, pada redaksi. Aturan baku di media sosial adalah: selalu ada yang lebih tahu dari Anda di luar sana.
Pola diseminasi informasi di era digital kini multi arah, tak
lagi hanya searah dari ruang redaksi yang “maha tahu” ke lautan pembaca yang perlu “diberi tahu”. Media massa kini adalah bagian dari percakapan publik, dimana produksi informasi tak lagi dimonopoli jurnalis. Apa artinya? Ini kesempatan besar untuk jurnalisme menjadi lebih relevan.
Bukankah jurnalisme pada dasarnya adalah upaya untuk menyediakan informasi yang penting dan berguna buat publik sehingga publik bisa mengatur dirinya sendiri dengan lebih baik?
Jika khalayak ramai bisa langsung berkomunikasi dengan media dan menyampaikan apa saja yang mereka anggap penting, bukankah itu akan membuat redaksi dan jurnalis bisa bekerja lebih baik?
Jika dulu sama sekali tidak ada percakapan antara wartawan dan pembaca, kini publik dan media bisa bersama-sama merumuskan agenda pemberitaan, memfokuskan perhatian pada lembaga-lembaga yang memang perlu disorot karena dampaknya yang besar untuk kehidupan orang banyak.
***
APAKAH dengan demikian masa depan jurnalisme di era digital akan pasti lebih baik dibandingkan sekarang? Sayangnya belum tentu juga. Pertanyaan terbesar dari perkembangan media digital adalah soal model bisnisnya. Model bisnis media cetak amat jelas: redaksi membuat berita, bagian sirkulasi menjual koran sebanyak-banyaknya, dan tiras besar itu pada akhirnya membuat perusahaan lain tertarik memasang iklan di koran itu.
Semakin besar oplah media cetak itu, semakin mahal harga iklannya. Media cetak tradisional hidup dari dua sumber pendapatan itu: penjualan produknya (entah itu eceran atau berlangganan) dan pendapatan dari iklan. Kini perkembangan era digital menghancurkan model bisnis itu. Perusahaan pemasang iklan kini sadar bahwa selama ini mereka membeli ruang promosi di media cetak dengan harga yang luar biasa mahal, tanpa jaminan seratus persen bahwa iklan itu akan mencapai orang- orang yang ingin mereka pengaruhi.
Siapa yang bisa menjamin bahwa iklan mobil separuh halaman di sebuah koran akan dibaca oleh orang dengan penghasilan yang cukup untuk membeli mobil merk itu. Siapa pula yang bisa menjamin bahwa jika iklan itu dibaca orang yang memang punya uang untuk membelinya, orang itu akan mencoba mencari informasi tambahan soal produk itu, dan mencoba menjajaki apa produk itu benar-benar cocok untuk kebutuhan dan gaya hidupnya? Dulu tidak ada yang bisa menjamin. Tapi sekarang media digital bisa memberikan jaminan itu, dengan harga jauh lebih murah. Perusahaan pemasang iklan bahkan tak perlu media/publishers untuk mencapai konsumennya. Pengiklan bisa mencapai mereka lewat media sosial seperti Google dan F a c e b o o k . D i s i n i l a h , a w a l m u l a p e r s e t e r u a n antarapublishers (media online) versus platform media sosial.
Selain iklan, oplah media cetak juga menurun drastis karena berita bisa diperoleh dengan mudah dan gratis di internet.
Untuk apa berlangganan koran, kalau semua peristiwa penting di negeri ini sudah bisa dibaca di internet hanya 10-15 menit setelah kejadian? Itu bukan melulu kesalahan media online.
Berita cepat itu tak hanya diproduksi redaksi media online, tapi juga oleh publik sendiri yang memproduksi informasi di media sosial. Pembunuhan Bin Laden, peristiwa 9/11, bom Mariott di Jakarta, semua dipublikasikan pertama kali di media sosial. Bukan di media massa, baik online maupun konvensional.
Inilah yang disebut sebagai digital disruption, gangguan atas model bisnis media yang mengancam eksistensi mereka.
Menghadapi krisis ini, semua perusahaan media tentu putar otak dan akhirnya muncul beberapa solusi. Pertama, mencoba memindahkan model bisnis lama ke model bisnis media digital.
Mereka mencoba memindahkan pembaca cetak mereka, dari berlangganan koran menjadi berlangganan produk digital. Ada yang berhasil, banyak yang tidak. Yang berhasil, seperti New York Times, tidak melulu menawarkan produk cetak yang dikemas seolah digital dengan format elektronik seperti portable document format(PDF), tapi memaksimalkan semua fitur digital
di produk mereka (multimedia, engagement, big data etc). Ini bukan soal sederhana sebab transisi dari media cetak ke media digital membutuhkan paradigm shift yang amat mendasar di ruang redaksi.
Dalam sistem kerja digital, redaksi tidak bisa lagi bekerja berdasarkan deadline percetakan, tapi harus bekerja berdasarkan reasonable amount of time yang dibutuhkan untuk merampungkan sebuah artikel. Redaksi tak bisa lagi bekerja berdasarkan pembagian kerja yang baku: wartawan, fotografer, videografer, informasi dan dokumentasi, riset, dan lain-lain, melainkan menjadi sebuah tim digital yang bahu membahu dengan kompetensi masing-masing. Semua harus memahami semua, meski spesialisasi tetap dibutuhkan. Media cetak yang berhasil memindahkan pembacanya ke produk digital pasti menekankan pada keunggulan dan kekayaan konten digital mereka. Konten digital itu harus layak untuk dibeli,worth the money. Kalau tidak, buat apa orang mengeluarkan uang untuk berlangganan? Kalau sekadar berita dengan teks dan foto, banyak media online menawarkan konten serupa dengan gratis.
Kedua, ada juga media yang mencoba memindahkan pengiklan lama mereka ke produk digital. Sayangnya, harga iklan untuk media online masih amat murah, jauh lebih murah dibandingkan beriklan di media cetak. Umumnya, nilai iklan di media online bergantung pada jumlah pembaca media itu, alias traffic. Skema yang paling sering dipakai oleh pengiklan adalah dengan memanfaatkan ads networks, seperti Google Adsense. Cara bekerjanya simpel: semakin banyak halaman yang dibuka oleh pembaca, semakin banyak uang yang diterima oleh publishers.
Dengan rumus semacam itu, dimulailah perlombaan media online untuk membujuk orang membuka halaman demi halaman mereka.
Walhasil, judul menggoda, menipu dan memanipulasi (click bait), makin marak. Topik seperti seks dan kriminalitas makin dieksploitasi. Berita yang hanya menulis peristiwa semata tanpa banyak pendalaman, makin banyak. Semua untuk menjaring pembaca agar duit iklan makin deras mengucur. Tapi cara ini
juga tak mudah. Yang sukses seperti Dailymail dan Buzzfeed memang punya tim khusus untuk memproduksi konten yang viral.
Sebab membuat konten yang populer bukan soal gampang. Buzzfeed misalnya, punya dua tim berbeda: redaksi dan konten. Yang diminta untuk memproduksi konten yang menarik traffic adalah tim kedua. Sementara tim pertama tidak dibebani dengan tugas berat mendongkrak traffic, melainkan fokus memproduksi investigasi yang mendalam.
Ketiga, ada media seperti Huffington Post, yang menekankan pada user generated content. Redaksinya tidak perlu banyak orang karena sebagian besar berita mereka diproduksi oleh warga dengan cuma-cuma. Huffington mendapatkan traffic dan pendapatan iklan, sementara kotributornya mendapat platform untuk mempublikasikan sudut pandang dan opininya. Model serupa adalah media-media yang mengandalkan algoritma untuk mengagregasi konten dan menjualnya pada pembaca. Intinya sama:
mereka menekan biaya dengan tidak melakukan produksi jurnalisme yang biayanya besar, dan mencoba mengoptimalkan k e u n t u n g a n d e n g a n m e n j u a l k o n t e n m i l i k penulis/kontributor/publishers lain.
Alternatif keempat adalah mencari sumber pemasukan lain yang tidak bergantung dari pasar, entah itu pasar pembaca atau pasar iklan. Semakin banyak jurnalis dan pengelola media yang merasa bahwa jurnalisme itu seharusnya memang bukan komoditas yang bisa diperjualbelikan. Jurnalisme adalah kebutuhan publik dan alat penting untuk menjamin demokrasi tetap sehat. Untuk itu, dia butuh subsidi. Media seperti ProPublica dan The Guardian adalah media era digital yang jelas-jelas mendeklarasikan diri sebagai non profit: lembaga yang tidak mencari keuntungan. Mereka disupport oleh lembaga donor atau d a n a a b a d i ( t r u s t f u n d ) y a n g c u k u p u n t u k m e n j a m i n keberlangsungan kerja-kerja jurnalisme mereka.
Di luar empat alternatif utama model bisnis itu, ada banyak model lain di luar sana. Ada media yang mencoba hidup dari kegiatan off line semacam seminar dan konferensi. Para
pembacanya diajak menjadi peserta seminar bergengsi dengan membayar tiket, dan pengiklan diminta menjadi sponsor. Apa yang dipertontonkan? Jurnalisme! Para wartawan mewawancarai sumber mereka di atas panggung, ditonton oleh ratusan orang secara live. Model bisnis ini juga lumayan berhasil untuk media digital seperti Quartz . Ada juga media yang mengandalkan koperasi para pembaca sebagai basis pemasukannya.
Jadi mereka meminta donasi tetap para pembaca untuk menjamin keberlangsungan mereka. Ini berhasil di Die Tageszeitung yang didukung koperasi beranggotakan 12 ribu pembacanya. Sebagian besar media digital mengkombinasikan semua model bisnis ini.
Apapun pilihan model bisnis media, satu hal yang jelas: model bisnis media itu akan mendikte jurnalisme macam apa yang mereka hasilkan. Kalau media digital mencari uang hanya dengan mengandalkan iklan ads network yang rumusnya: “makin banyak pembaca maka makin banyak iklan yang masuk”, maka senjakala jurnalisme memang sudah tiba. Tapi jika banyak orang yang sadar bahwa masa depan jurnalisme harus kita selamatkan bersama, apapun risikonya dan berapa pun biayanya, maka belum saatnya untuk berkabung. Justru sekarang kita harus songsong dan siapkan bersama era kebangkitan jurnalisme digital! (*) Catatan: Artikel ini kali pertama diunggah di sini.
Konservatifisme dan Keperawanan dalam Film Remaja
Terlepas dari kelompok film remaja, secara umum banyak film Indonesia yang bahkan menggunakan kata perawan dalam judulnya, sejak Perawan di Sektor Selatan (1971) hingga Perawan Seberang (2013). Pada perkembangannya, muncul pula film dengan judul
Virgin, Virgin 2, dan Virgin 3, yang menunjukkan pengaruh globalisasi di Indonesia. Dalam film remaja di Indonesia, keperawanan muncul sebagai indikator dari ‘perempuan baik- baik’. Sebagai media dengan kekuatan audio-visual, maka dalam film muncul citraan perempuan perawan dalam berbagai versi.
Dalam definisi medis, sebenarnya ciri-ciri visual perempuan yang masih dan sudah tidak perawan tidak dapat dijelaskan secara kasat mata. Menurut Dr Andri Wanananda MS, pakar seksologi dari Universitas Tarumanegara dalam wawancaranya dengan detik.com, Rabu 19 September 2012, tidak ada perubahan fisik yang terjadi ketika perempuan kehilangan keperawanannya.
Keperawanan yang ditandai dengan utuhnya selaput dara (hymen) hanya bisa dipastikan dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, misalnya melihat apakah selaput daranya telah ditembus oleh penis atau tidak.
“Utuhnya selaput dara (hymen) harus diperiksa oleh dokter spesialis kebidanan atau bidan-ahli di klinik kebidanan melalui prosedur pemeriksaan intra-vaginal. Orang awam (layman) tidak mungkin mampu melaksanakannya. Jadi ciri-ciri fisik luar itu hanya mitos.”
Dalam Not for Sale, perawan muncul dalam visualisasi tokoh May, seorang pelajar SMA dari keluarga menengah ke bawah.
Meskipun tidak divisualisasikan kekurangan uang sampai harus menunggak uang sekolah, jatuh miskin atau berpakaian compang- camping misalnya, namun kesederhanaan May nampak kontras dengan teman-temannya yang nampak lebih glamor dan modern.
Karakter May dimainkan oleh perempuan dengan wajah berkarakter Melayu, dengan rambut lurus hitam dan panjang yang selalu diikat rapi dan menggunakan tas punggung, menekankan karakter gadis SMA baik-baik.
Rambut hitam dan panjang serta karakter wajah Melayu telah lama menjadi indikator kecantikan klasik dari perempuan Indonesia dalam media massa. Perawan versi May, adalah
perempuan yang pendiam dan lugu. Keluguan May muncul secara verbal pada saat May menawarkan minuman untuk Dessy usai menari di klub. May menawarkan segelas air mineral yang ditolak Dessy dengan kalimat “Gua nggak minum gituan!” yang dilanjutkan Dessy dengan mengambil segelas alkohol dan menyebut May dengan “Lo dari mana sih? Majalengka ya? Kamse deh.”
Kamse dalam istilah anak muda adalah akronim dari kampungan sekali, atau dengan kata lain udik sekali. Penyebutan kota Majalengka yang terletak di pinggiran Jawa Barat dimaknai sebagai tempat yang tidak modern. Hal ini dikarenakan pola pikir May yang masih mengkonsumsi air mineral dan bukannya alkohol dianggap kuno dan terbelakang. Pertanyaan ini dijawab May dengan “Gue dari Jakarta kok”. Pernyataan ini menegaskan posisi Jakarta sebagai lokasi yang kontras dengan Majalengka, sebagai kiblat gaya hidup modern.
Sedangkan dalam Virgin 2, keperawanan direpresentasikan dalam visual tokoh Tina, seorang siswi SMA yang diusir dari rumah karena dituduh menggoda pacar ibunya. Nayato menggambarkan karakter Tina hampir serupa dengan May. Sedikit perbedaan visual muncul, misalnya May berambut lurus, sedangkan Tina memiliki rambut ikal yang selalu diikat ke belakang. Meskipun sama-sama nampak tertutup dan berbicara dengan suara lirih, karakter Tina merepresentasikan ketidakberdayaan perempuan (perawan) dari sudut pandang yang lebih tragis. Sejak awal, tokoh Tina digambarkan sebagai sosok yang lemah, tidak berkuasa, dan kerap menjadi objek seksual pasif. Dari segi sifat, May lebih feminin dan dewasa sedangkan Tina lebih kekanak-kanakan.
Representasi keperawanan sebagai bagian dari budaya kuno di Indonesia tampak jelas pada kedua tokoh ini, karena Tina dan May sama-sama digambarkan ‘terpisah’ dari lingkungan sekitarnya dan tidak mempunyai cukup banyak teman. Keluguan kedua tokoh tersebut bahkan digambarkan secara gamblang melalui pemilihan warna, karena di awal cerita, May dan Tina
sama-sama menggunakan pakaian berwarna hijau, yang identik dengan alam dan fertilitas. Dengan demikian secara visual, May dan Tina adalah representasi keperawanan yang menurut perspektif konservatif adalah syarat ‘alamiah’ perempuan yang identik dengan fungsi reproduksi dan kesuburan. Warna pakaian ini, tidak dipakai lagi setelah mereka berkenalan dengan tokoh-tokoh lain yang sudah lebih dulu terjun dalam pergaulan bebas.
Tina bahkan diceritakan hanya memiliki satu orang teman dekat pada awalnya, yaitu Kenny, yang tuna wicara, dengan lokasi pertemuan di sebuah pemakaman (yang dituliskan Kenny dalam ajakan dengan “Kita ke tempat biasa, yuk?”). Keheningan komunikasi antara Tina dan Kenny menjadi kontras dengan keriuhan kehidupan modern yang disimbolkan dengan pergaulan bebas dan klub malam. Dalam film, kontrasnya dua dunia ini juga dimunculkan secara audio, dengan riuhnya music elektronik saat shot memunculkan visualisasi klub malam dan dengan heningnya suara saat shot memunculkan adegan Kenny dan Tina yang diam bersandar pada batuan makam atau duduk di atas pohon. Berita tentang meninggalnya Kenny karena menabrakkan diri ke mobil yang sedang berjalan diketahui Tina pada bagian klimaks cerita, ketika ia sedang mencari bantuan karena Nadya mengalami pendarahan, dan di saat yang bersamaan ditemukan kembali oleh Yama. Petaka yang bertumpuk-tumpuk ini menjadi ciri khas dalam film-film karya Nayato, yang mengenakan awful ending pada tokoh-tokoh utamanya. Meninggalnya Kenny secara tidak langsung menjadi simbol dari ‘peresmian’ Tina memasuki dunia pergaulan bebas dan tidak bisa lagi kembali ke dunia lamanya yang hening bersama Kenny.
Penekanan diskursi keperawanan sebagai ‘warisan’ budaya lama dijelaskan Nayato dalam tokoh Shasi di film Not for Sale.
Sebagai gadis SMA yang dikenal sebagai mucikari teman-temannya sendiri, Shasi menjadi anomali penggambaran perawan menurut ideologi Nayato. Diperankan oleh seorang artis berdarah keturunan Jerman yang sudah cukup dikenal di industri film
Indonesia (berbeda dengan May dan Tina yang diperankan perempuan Indonesia dan belum terkenal), Shasi berpenampilan cukup provokatif dengan seragam yang kancingnya terbuka hingga dada, dan konsumsi rokok yang terus menerus. Berbeda dengan May dan Tina yang sejak awal dikenalkan sebagai perawan yang lugu, Shasi justru baru dikenalkan sebagai perawan di akhir cerita, setelah May ‘menjual’ keperawanannya untuk menyelamatkan teman mereka. Penegasan ini diungkapkan secara verbal, “Kesucian gue hanya gue berikan kepada orang yang bener-bener gue cinta, bukan untuk dijual”. Ekspresi Shasi atas keperawanannya didukung pula dengan senyum penuh kebanggaan dalam adegan di tengah cerita, ketika Shasi berada di kamar mandi dan menyelipkan cermin ke antara kedua pahanya.
Sempat membuat penonton bertanya-tanya, adegan ini menjadi dapat dipahami setelah pernyataan Shasi atas keperawanannya.
Hal ini menjadi kontradiktif dengan visualisasi Shasi dan dengan profesinya sebagai mucikari, meskipun hal tersebut dikatakannya hanya untuk membantu teman-temannya yang membutuhkan uang.
Diskursi keperawanan sebagai identitas perempuan Indonesia yang diagungkan ditunjukkan dengan tingginya ‘harga’ yang rela dibayarkan oleh pria paruh baya. Dalam sebuah adegan, seorang pria klien Shasi mengatakan “kalau lo bisa dapetin perawan buat gue, gue bayar mahal. 30 juta!”. Mitos mengenai keperawanan yang merepresentasikan perempuan yang masih
‘suci’, agaknya menjadi nilai jual yang lebih. Kontras dengan kesucian tersebut, ketika akhirnya May ‘dibeli’ seharga 30 juta untuk menebus Andhara, kalimat pertama yang diucapkan May setelah tidak lagi perawan adalah “gue ngerasa kotor banget sekarang”.
Keluguan perawan dalam visualisasi May dan Tina didefinisikan p u l a s e b a g a i p e r e m p u a n y a n g t i d a k m e n g u a s a i c a r a bersosialisasi dengan laki-laki. Hal ini muncul secara verbal ketika May bersiap untuk kencan dengan laki-laki bernama Rangga. Dessy yang melihat May berdandan kemudian bertanya
“Nanti kalau Rangga minta cium, gimana?” Pertanyaan Dessy menunjukkan anggapan konservatisme keperawanan, termasuk ketidaktahuan mengenai kontak fisik dan tindak seksual dengan gender lain – yaitu laki-laki. Dalam Virgin 2, Tina digambarkan percaya begitu saja ketika Steffi, pertama kali mengenalkannya pada Yama dan berkata “Kayaknya Yama tertarik sama lo,” Tina tersipu malu, hingga ia percaya untuk meminum alkohol yang ditawarkan Yama lalu kehilangan kesadaran – dan keperawanannya. Senada dengan hal ini, Webster (2010:229) juga mengungkapkan bahwa dalam film remaja, diskursi dan narasi konservatif secara ambigu ditampilkan sebagai hal yang pada akhirnya terkalahkan dan tidak lagi relevan dengan remaja urban (…being negotiable, outmoded and no longer of relevance for particular urban youth).
Catatan: Artikel ini adalah bagian dari tesis penulis.
Enjoy, Belajar Sambil Nonton Ala Fisip Unair
Anda gemar menonton film? Jika iya, sejauh mana kemudian Anda mencoba mengkaji pesan yang terkandung dalam film yang sudah Anda tonton tersebut. Sejauh mana Anda memperhatikan penggunaan atribut, alur cerita, detail adegan bahkan hingga latar belakang sutradara pembuat film. Ataukah Anda hanya menjadikan film sebagai sarana hiburan semata? Semua selesai ketika durasi film sudah usai.
Jika Anda memang detail memperhatikan hal-hal di atas, boleh jadi Anda memiliki kesamaan minat dengan para mahasiswa Ilmu Komunikasi yang tergabung dalam klub Peeping Comm. Dalam klub tersebut, berbagai hal di atas dikaji secara mendalam. Setiap
film tidak sekadar menjadi hiburan semata. Setiap film justru bisa membuka cakrawala pengetahuan yang baru.
Peeping Comm merupakan sebuah klub kajian film di bawah naungan HIMA Ilmu Komunikasi (Himakom) FISIP UNAIR. Ketua Klub Peeping Comm, Dimas Febri Ananto, mengatakan bahwa klub ini untuk mewadahi mahasiswa Ilmu Komunikasi yang berminat dengan kajian terhadap film.
Tidak ada batasan genre dalam mengkaji film. Begitulah yang dilakukan oleh Peeping Comm. “Semua genre bisa ditonton untuk kemudian dikaji bersama,” tutur Dimas.
“Kami tidak membatasi genre film yang kami kaji, semua genre film bisa ditonton di klub ini. Mulai romance, action hingga dokumenter,” tambahnya lagi saat dihubungi Unair News beberapa waktu lalu. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa genre yang dipilih dalam pemutaran film terkadang ikut menyesuaikan dengan peringatan hari tertentu, misalnya pada saat peringatan G30S/PKI, film yang berhubungan dengan pergerakan komunis lah yang diputar.
Minat mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk turut berpartisipasi menonton film diakuinya memang cukup tinggi. Hal ini terlihat dari banyaknya mahasiswa yang hadir dalam setiap pemutaran film di Mini Theater FISIP UNAIR yang dipersiapkan oleh Peeping Comm. Namun terkait dengan keikutsertaan pada sesi diskusi setelah pemutaran film usai, pihaknya masih harus berjuang keras untuk bisa mengajak mereka yang telah menonton film untuk bisa ikut berpartisipasi. Ia berharap meskipun ada di antara para mahasiswa tersebut yang tidak tergabung dalam Peeping Comm, ke depan mereka juga bisa ikut dalam setiap diskusi yang diadakan oleh klub tersebut.
Pertemuan rutin klub biasanya diadakan setiap satu pekan sekali, namun pihaknya seringkali juga harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi misalnya kegiatan perkuliahan yang ada. Selama ini Peeping Comm juga menjalin kerjasama dengan
beberapa pihak untuk mengadakan pemutaran film. Terakhir Peeping Comm mengadakan kerjasama dengan Sinema Transit memutar film Perancis tahun 1950-an berjudul ‘400 Blows’, setelah sebelumnya menggelar roadshow film Finding Srimulat bersama dengan Surabaya Punya Cerita.
Ke depan ia berharap klub yang diketuainya ini akan mencoba lebih aktif bekerja sama dengan berbagai pihak untuk melakukan pemutaran film serta bisa ikut serta dalam festival film yang ada. Tahun ini pihaknya juga ingin merealisasikan agenda nonton bareng (nobar) bersama mahasiswa Ilmu Komunikasi lintas angkatan. Nah, jika Anda ingin mengetahui sisi lain dari sebuah film mungkin Anda bisa sekali-kali ikut dalam kegiatan Peeping Comm. Good Job, Peeping Comm. (yno/dss)
Mahasiswa FEB Punya Komunitas Penyuka Kultur Jepang
Japanese Enthusiast (JEt) berawal dari inisiatif beberapa orang mahasiswa di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR yang berkeinginan untuk berkumpul di antara sesama pecinta Jepang. Gayung bersambut ketika Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB membuka kesempatan bagi seluruh mahasiswa FEB untuk membentuk komunitas di internal FEB. Kesempatan tersebut kemudian tidak disia-siakan oleh JEt untuk menjaring lebih banyak mahasiswa FEB yang tertarik dengan berbagai hal berbau Jepang untuk bergabung bersama dalam JEt. Sampai saat ini, limapuluh orang sudah tercatat sebagai anggota JEt.
Trisna Setia Permana, ketua komunitas JEt, menyatakan bahwa beragamnya ketertarikan anggota akan berbagai hal tentang Jepang, membuat JEt akhirnya membentuk berbagai divisi.
Divisi-divisi itu antara lain adalah divisi budaya dan bahasa, seni, dan anime yang masing-masing memiliki fokus tersendiri.
Divisi budaya dan bahasa memiliki kegiatan seperti tutorial bahasa Jepang, pembahasan tentang kuliner-kuliner Jepang, origami, dan tradisi Jepang secara umum. Divisi seni lebih berfokus pada seni kontemporer Jepang seperti musik Jepang (J- Pop), drama Jepang dan cosplay. Sedangkan, divisi anime mewadahi mereka yang tertarik dengan seni menggambar anime yang pada awalnya adalah komunitas tersendiri sebelum akhirnya bergabung bersama di JEt.
Foto: UnairNews.com
“Dari kecil, banyak dari kita sudah akrab dengan kartun dan tontonan Jepang yang banyak tayang di televisi-televisi Indonesia. Dari situ paling tidak sudah mampu menjadi daya tarik awal bagi banyak anak Indonesia untuk berusaha belajar lebih tentang Jepang,” ungkap Trisna ketika ditanya perihal alasan ketertarikan banyak anak muda Indonesia tentang berbagai hal berbau Jepang.
Selain itu ia juga menambahkan, faktor masyarakat Jepang bisa jadi melatarbelakangi ketertarikan akan Jepang secara lebih luas. Ia mencontohkan, meskipun sumber daya alam Jepang begitu minim mereka mampu menyiasati hal tersebut dengan optimalisasi industri kreatif yang justru bisa memberikan nilai tambah bagi Jepang sendiri. Trisna juga menyebut adanya keinginan yang lebih untuk mengkaji budaya minta maaf, disiplin, dan sopan santun yang diterapkan secara luas oleh masyarakat Jepang.
Meski ketertarikan akan Jepang mendominasi komunitas yang dipimpinnya, Trisna mengungkapkan bahwa kecintaan para anggotanya terhadap Indonesia tidak akan pernah luntur.
Meskipun di awal pernah dicap tidak nasionalis, ia meyakini bahwa dengan bergabung dalam komunitas JEt justru para anggota dapat mempelajari faktor-faktor yang membuat Jepang bisa
menjadi maju sehingga dapat diterapkan di Indonesia.
Kedepan, ia berharap semakin banyak anggota aktif yang bergabung sehingga JEt tidak hanya besar dari segi kuantitas namun juga dari segi kreativitas. Ia mengatakan JEt ke depannya akan mencoba menelurkan kegiatan-kegiatan bermanfaat semacam pelatihan jiwa kewirausahaan bagi para anggota, misalnya dengan produksi kuliner Jepang ataupun pembuatan komik, sehingga komunitas yang ada benar-benar produktif, dan tidak sekadar berkumpul bersama tanpa tujuan yang jelas. (yda)
Alumni Unair Juara Karya Tulis Antikorupsi
Alumni Jurusan Komunikasi Universitas Airlangga Catur Ratna Wulandari berhasil meraih juara pertama dalam lomba karya tulis anti korupsi. Bersama rekannya, Tri Joko Heriadi, sesama wartawan Pikiran Rakyat, dia menulis artikel tentang Kantin Kejujuran berjudul “Apa Kabar Kantin Kejujuran: Jerih Payah Jujur Di Sekolah, Komitmen Jujur ala Komunitas, dan Rumus Sederhana Tentang Kejujuran”. Mereka menjadi yang terbaik di kategori Jurnalis.
Dalam kegiatan yang digelar oleh KPK dan Konsorsium Komunitas Festival Antikorupsi 2015 tersebut, berhasil menyabet peringkat kedua Aghnia Adzkia dari CNN Indonesia, Jakarta dengan tulisan berjudul “Aksi Perempuan Agen ‘007’ Cegah Korupsi”, dan Eva Fahas dari Harian Pikiran Rakyat Bandung, dengan judul “Belajar Nilai Integritas Mulai Dari Rumah”.
Sekelumit Tentang Oposisi Biner Rakyat dan Pemimpin
Peter Northouse mendefinisikan kepemimpinan sebagai sebuah proses yang melibatkan seseorang mempengaruhi orang lain untuk memahami dan menyetujui tentang apa yang dibutuhkan dan bagaimana cara untuk memenuhinya.
Yang jelas, melalui definisi ini, dapat dipilah beberapa konsep mengenai kepemimpinan, antara lain: kepemimpinan adalah sebuah proses, kepemimpinan membutuhkan satu individual pemimpin, kepemimpinan melibatkan sekelompok individual lain yang dipimpin, dan kepemimpinan melibatkan sebuah tujuan bersama yang akan dituju.
Dalam perspektif sosiologis dan antropologis, kepemimpinan dalam masyarakat dibentuk melalui mekanisme dan model primus inter pares. Maksudnya, seseorang dikatakan sebagai pemimpin yang ideal karena kompetensi, garis genealogi, kekayaan, kekuatan dan kesempurnaan lahiriah/batiniah maupun karena usia, pengalaman, pendidikan, status dan otoritas sosial yang dimilikinya.
Tidak hanya itu, pemimpin harus diakui oleh masyarakat pengusungnya sebagai pemimpin utama dan menjadi pelaksana kepemimpinan dan kehidupan masyarakatnya (Suwirta dan Hermawan, 2012). Melalui perspektif ini, kepemimpinan dan pemimpin adalah sesuatu yang dibentuk dan membentuk masyarakat. Seseorang menjadi pemimpin dan berada dalam kepemimpinan karena ia dilahirkan sebagai pemimpin, seperti pada pemerintahan monarki dan otoriter, atau menjadi pemimpin karena pengalaman, kemampuan, usaha, atau proses yang membuatnya menjadi seorang pemimpin.
Sebagai sebuah negara, konsepsi kepemimpinan politik di Indonesia mengalami beberapa era terkait dengan sistem kemasyarakatan. Secara garis besar, Subiakto dan Ida (2014) membagi era tersebut ke dalam sejumlah sistem kemasyarakatan yaitu euforia kemerdekaan, berdaulat, demokrasi terpimpin, orde baru, dan reformasi.
The Great Man Theory
Dalam perspektif historiografi konvensional dikenal istilah the great men theory, dimana peristiwa-peristiwa penting dan perubahan sosial itu dalam banyak hal digerakkan oleh “orang- orang besar” (Sjamsuddin, 2007; dan Suwirta, 2012). Perspektif ini dapat dilekatkan pada unsur kebangsawanan atau priyayi dan ketokohan yang sangat melekat pada karakter pemimpin Indonesia.
Sebaliknya, konsep rakyat kerap diidentikkan sebagai orang- orang dari golongan marjinal (jelata), yaitu mereka yang hidup terpinggirkan seperti petani, buruh, dan karyawan kecil. Hal ini senada dengan tuturan Iqra Anugrah (2013) dalam tulisannya di jurnal Indoprogress; Rakyat Jelata, Sejarah dan Perjuangan.
Dia menjelaskan bahwa kondisi oposisi biner antara pemimpin dan rakyat umum terjadi di Indonesia. Dia menuliskan,
“Sejarah dan politik bercerita tentang ‘orang-orang besar,’
yaitu para tokoh yang menggerakkan roda jaman dan perubahan, sedangkan rakyat jelata dan orang-orang biasa hanyalah catatan kaki, atau mungkin lebih parah lagi, referensi yang tak terpakai dalam proses penulisan sejarah,”
Oposisi biner antara pemimpin dan rakyat dalam hal ini dapat kita cermati secara jelas dari bagaimana sosok pemimpin di Indonesia sangat erat dengan unsur-unsur kerajaan, terutama dengan kekeratonan Jawa, atau dengan unsur-unsur keturunan tokoh-tokoh besar di Indonesia.
Pemimpin di Indonesia kerap menggunakan faktor keturunan dari tokoh-tokoh besar, atau setidaknya berusaha menunjukkan
kesamaan ide atau pemikiran dengan tokoh-tokoh tersebut sebagai sebuah penanda kesepahaman atau sekedar mengikuti popularitas tokoh tersebut di mata masyarakat. Contoh yang paling umum digunakan adalah penggunaan sosok Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia dalam kampanye-kampanye politik di Indonesia. Soekarno seringkali dijadikan sebagai panutan dan sosok ideal bagi pemimpin-pemimpin di Indonesia.
Agus Sudibyo (2001) dalam bukunya yang berjudul Politik Media dan Pertarungan Wacana mengatakan bahwa sosok Soekarno kerap digambarkan sebagai simbol nasionalisme, tokoh yang populer dan berkharisma bagi rakyat dan internasional, serta tokoh yang memiliki kontribusi dalam sejarah perjuangan bangsa.
Kualitas-kualitas yang melekat pada Soekarno tersebutlah yang seringkali dijadikan ajang “promosi” para pemimpin Indonesia., dan hal ini memberikan sebuah Gambaran bahwa pemimpin sering dicitrakan memiliki kualitas yaitu dikagumi, dicintai, dan berjasa bagi pihak lain, yang dalam hal ini adalah rakyat.
Marginalisasi Kelompok Bungkam
Rakyat atau kaum marjinal diidentifikasikan sebagai mereka yang berada pada posisi sebagai kelompok bungkam. Kelompok ini dikonsepkan oleh Edwin dan Shirley Ardener sebagai,
“Kelompok dengan kekuasaan yang lebih rendah seperti wanita, kaum miskin, dan orang kulit berwarna, yang harus belajar untuk bekerja dalam sistem komunikasi yang telah dikembangkan oleh kelompok dominan,”
Dengan konsepsi abstrak mengenai kelompok bungkam atau kelompok marjinal ini, maka ide atau konsep mengenai rakyat berkaitan dengan kedudukannya dibandingkan pemimpin menjadi jelas. Ia merupakan kelompok marjinal terpinggirkan yang mengikuti bagaimana sebuah sistem hierarki dan struktur sosial dibangun oleh kelompok dominan atau pemimpin.
Tidak hanya unsur kebangsawanan (elitisme) dan keterkaitan dengan seorang tokoh yang melekat pada figur sosok pemimpin,
dalam usaha untuk meraih kekuasaan seringkali sosok pemimpin direpresentasikan melalui tradisi dan kepercayaan (budaya).
Hal ini merupakan bagian dari perspektif historiografi tradisional dan secara lebih spesifik dikaitkan dengan unsur agama dan suku. Unsur agama yaitu Islam, dan suku Jawa tidak terbantahkan sangat dominan dimanfaatkan oleh pemimpin dan menjadi bagian dari corak kepemimpinan di Indonesia.
Oposisi biner yang dijelaskan di atas antara pemimpin dan rakyat merupakan sebuah bagian dari strukturisasi dalam masyarakat. Hal ini tercipta karena adanya wacana sosial (social discourse) tentang bagaimana sosok pemimpin itu dimaknai dalam sistem masyarakat. Pihak-pihak yang memiliki kepentingan dan kuasa, terutama atas media, mampu untuk membuat kode (code) yang melaluinya konsep pemimpin itu dikomunikasikan melalui pesan-pesan yang ada baik secara langsung (intended) maupun simbolik.
Sego Bungkus: Berbagi dengan Kesederhanaan
Kehidupan memang mengajarkan tentang banyak hal. Salah satunya adalah mengajarkan untuk berbagi kepada yang membutuhkan.
Model berbagi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Tak ubahnya sekedar memberi sebungkus nasi kepada yang membutuhkan, seperti yang dilakukan oleh Komunitas Sego Bungkus atau yang lebih akrab dikenal dengan SEBUNG.
Komunitas yang lahir pada 12 Desember 2012 ini mengawali kegiatan kemanusiaan dengan cara yang sederhana, yaitu memberi sebungkus nasi. Awalnya kegiatan berbagi sebungkus nasi ini mengandalkan dana dari donasi seadanya. Dari hasil donasi
tersebut langsung dibelikan nasi bungkus sesuai dengan donasi yang masuk. Namun seiring berjalannya waktu, saat donasi yang masuk terus mengalir baik dari kalangangan mahasiswa, dosen, pengusaha, PNS dan bahkan seorang pengantar surat juga ikut berdonasi, maka mulai ada sistem manajemen donasi agar nasi yang dibagikan lebih tepat guna.
Saat ini, SEBUNG diketuai oleh Febryan Kiswanto (FH/2011).
SEBUNG mengawali rutinitas mingguannya setiap Jumat malam.
“Kami memulai kegiatan setiap Jumat malam, pukul 20.00 WIB,”
ungkap mahasiswa yang sekarang menempuh semester 7.
Komunitas yang semula beranggotakan sekitar 30 anggota aktif dan beberapa anggota sukarela ini memiliki target area untuk pembagian sebungkus nasi. Target yang dituju mulai dari depan halaman Perpustakaan Pusat Kampus B menuju ke arah Jalan Kertajaya, terus menyusur ke arah Mulyosari, hingga sampai ke arah ITC, Kya-Kya, makam Sunan Ampel, Genteng Kali, Undaan, Pasar Besar, Alon-alon Contong dan diakhiri di Hotel Majapahit.
Saat bulan Ramadhan tiba kegiatan Sebung tidak berhenti.
Rutinitas kegiatan pekanan yang biasanya dimulai pukul 20.00 WIB, beralih menjadi pukul 24.00. Waktu kegiatan yang lebih malam ini menjadikan kegiatan yang semula memberi makan malam kepada yang membutuhkan beralih menjadi memberikan makan sahur atau yang lebih akrab dinamai dengan sahur on the road. Tidak hanya itu, kegiatan bagi-bagi takjil di jalanan juga dilakukan saat bulan puasa tiba. Menariknya lagi, yakni pemberian santunan kepada anak-anak yang berada di lokalisasi Dolly.
Inovasi SEBUNG
Komunitas ini terus berkiprah dan berinovasi dalam mengembangkan kegiatan kemanusiaan yang lebih kreatif dan pastinya tetap bermanfaat. Model kegiatan yang inovatif diharapkan agar tidak membosankan baik bagi komunitas maupun rekan-rekan yang dengan sukarela membantu proses berjalannya
kegiatan kemanusiaan ini. “Kami terus lakukan inovasi kegiatan agar tidak jenuh, namun tetap mengarah pada kegiatan kemanusiaan,” imbuh Febryan.
SEBUNG yang semula hanya membagikan nasi bungkus ke jalan- jalan diinovasi menjadi sedekah bungkusan dengan tetap menggunakan nama SEBUNG namun arah kegiatan ini lebih diperluas. Dengan berbagi sedekah bungkusan yang sasarannya juga lebih diperluas menjadikan SEBUNG lebih berarti dan bermanfaat bagi banyak orang. Sasaran kegiatan berbagi sedekah bungkusan ini mulai dari panti asuhan, panti jompo, panti grahita dan bahkan ke panti anak berkebutuhan khusus. Model kegiatan berbagi sedekah bungkusan ini bentuknya lebih bervariasi.
“Untuk sedekah bungkusan kami memberi donasi berupa sembako, buku-buku, baju bekas dan terkadang uang,” papar mahasiswa FH itu.
Sekarang, komunitas sejenis ini tidak hanya berada di Surabaya. Virus-virus kebaikan itu telah menyebar ke berbagai kota di Tanah Air, antara lain Makasar, Malang, Solo, Samarinda dan bahkan hingga ke Bengkulu. Kebaikan semacam inilah yang diharapkan terus tumbuh di kalangan manusia.
Dengan kebersamaan berbagi hidup akan terasa lebih berarti.
“Berbagai itu asyik jika dilakukan bersama-sama,” pungkasnya.
(nui)