Seni Budaya Seni Rupa SMP KK F Prof

124  11 

Teks penuh

(1)

U PEMBELAJ

AR

MA

TA PELAJ

ARAN SENI R

UP

A SMP

KEL

OMPOK K

OMPETENSI F

Mata Pelajaran Seni Budaya/Seni Rupa

Sekolah Menengah Pertama (SMP)

GURU PEMBELAJAR

MODUL PELATIHAN GURU

KELOMPOK KOMPETENSI F

Profesional :

Ilustrasi dan Seni Grafis

Pedagogik :

Pengembangan Potensi Peserta Didik

(2)

ILUSTRASI

SENI GRAFIS

Zulfi Hendri, M.Sn.

KOMPETENSI PROFESIONAL

KELOMPOK KOMPETENSI F

MATA PELAJARAN SENI RUPA

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

(3)
(4)

Penulis : Zulfi Hendri, M.Sn.

Editor Substansi : Drs. IGN Swastapa, M.Ds. Editor Bahasa : Evilina Isnain, S.Pd., MA.

Copyright 2016

Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan

Pendidik dan Tenaga Kependidikan Seni dan Budaya,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan

c

ILUSTRASI

SENI GRAFIS

KOMPETENSI PROFESIONAL

KELOMPOK KOMPETENSI F

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)

Halaman

HALAMAN FRANCHISE ………... ii

SAMBUTAN DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ………. iii

KATA PENGANTAR ……….. v

DAFTAR ISI ………. vii

DAFTAR GAMBAR ……… ix

PENDAHULUAN ………. 1

A. Latar Belakang ………. 1

B. Tujuan ……… 1

C. Petunjuk Penggunaan Modul ………... 2

D. Ruang Lingkup ………. 2

E. Saran Cara Penggunaan Modul ……… 2

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1. ILUSTRASI ………... 3

A. Tujuan ……… 3

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ………. 3

C. Uraian Materi ... 3

D. Aktivitas Pembelajaran ……… 29

E. Latihan/Kasus/Tugas ………... 30

F Rangkuman ………... 30

G. Umpan Balik ……….. 31

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2. SENI GRAFIS ……….. 33

A. Tujuan ……… 33

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ………. 33

C. Uraian Materi ... 43

(11)

PENUTUP ……… 47

SOAL ……… 49

DAFTAR PUSTAKA ………... 53

LAMPIRAN

1. Kunci Jawaban Latihan/Kasus/Tugas Kegiatan Pembelajaran 1:

Ilustrasi ……… 59

2. Kunci Jawaban Latihan/Kasus/Tugas Kegiatan Pembelajaran 2:

Seni Grafis ……….. 60

(12)

Halaman

Gambar 1 Model DSP Gerlacy dan Ely 23

Gambar 2 Sistem Perencanaan Pembelajaran 23

Gambar 3 Komposi manusia dalam segala usia 39

Gambar 4 Perbandingan anatomi tubuh manusia 40

Gambar 5 Kelompok binatang Hewan Vertebrata 41

Gambar 6 Itik pulang petang 41

Gambar 7 Ikan lumba-lumba mengudara 42

Gambar 8 Burung terbang di siang hari 42

Gambar 9 Pohon pisang antara batang dan daun 43

Gambar 10 Candi Borobudur dari satu sisi 44

Gambar 11 Ilustrasi realis yg indah karya Michael J Woods 48

Gambar 12 Lukisan Realis karya S Sudjojono 48

Gambar 13 Ilustrasi Dekoratif kuda berlari 49

Gambar 14 Ilustrasi Karikatur 50

Gambar 15 Kartun Binatang 51

Gambar 16 Ilustrasi komik dengan judul Transportasi” 51

Gambar 17 Ilustrasi untuk sampul buku 52

Gambar 18 Bentuk ilustrasi pada buku pelajaran 53

Gambar 19 Ilustrasi Vignette 53

Gambar 20 Bentuk ilustrasi untuk penjelas cerpen 54

(13)
(14)

A. Latar Belakang

Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanahkan agar pemerintah mengembangkan sistem pendidikan guru. Oleh karena itu, program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) bagi guru baik secara mandiri maupun kelompok wajib dilakukan. Semua itu, demi peningkatan mutu pendidikan dan profesionalismen pendidik dan tenaga kependidikan.

Khusus untuk PKB dalam bentuk diklat dilakukan oleh lembaga pelatihan sesuai dengan jenis kegiatan dan kebutuhan guru. Penyelenggaraan diklat PKB dilaksanakan oleh PPPPTK dan LPPPTK KPTK atau penyedia layanan diklat lainnya. Pelaksanaan diklat tersebut memerlukan modul sebagai salah satu sumber belajar bagi peserta diklat.

Modul ini merupakan bahan ajar yang digunakan untuk Pelatihan Guru mata pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa) Sekolah Menengah Pertama (SMP). Modul ini berisi materi tentang Seni Ilustrasi dan Seni Grafis. Unsur pengetahuan yang terkait yakni: (1) pengertian, (2) sejarah, (3) jenis-jenis, dan (4) teknik.

B. Tujuan

Tujuan akhir setelah mempelajari modul ini diharapkan guru dapat memahami, baik secara teoretis maupun praktik dalam mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran seni budaya. Selain itu, diharapkan guru dapat memecahkan masalah melalui berbagai model, metode, dan strategi pembelajaran yang relevan dengan permasalahan.

(15)

C. Petunjuk Penggunaan Modul

Seni Rupa memiliki berbagai pengetahuan tentang seni menggolah elemen visual. Dalam rumpun pengetahuan tersebut, seni rupa dibagi dalam rumpun seni murni, seni patung, dan seni grafis. Ilustrasi adalah bagian dari unsur-unsur objek seni rupa yang dapat berdiri sendiri dan dapat juga digabung dengan unsur lainnya seperti grafis.

D. Ruang Lingkup

Tujuan akhir setelah mempelajari modul ini diharapkan guru dapat memahami, baik secara teoretis maupun praktik dalam mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran seni budaya. Selain itu, diharapkan guru dapat memecahkan masalah melalui berbagai model, metode, dan strategi pembelajaran yang relevan dengan permasalahan.

E. Saran Cara Penggunaan Modul

Modul ini dapat dipelajari secara mandiri maupun melalui pengarahan dan bimbingan dari instruktur. Secara madiri guru harus memahami konsep dan teori subsatansi yang dipaparkan, kemudian diimplentasikan melalui praktik.

(16)

ILUSTRASI

A. Tujuan

Pembelajaran ilustrasi ini bertujuan untuk memberikan wawasan baik secara teoretis maupun praktis dalam mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran ilustrasi secara tepat. Selain itu, melalui materi ini dapat meningkatkan kompetensi guru seni budaya khususnya seni rupa.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator pencapaian kompetensi yang ditargetkan pada kegiatan pembelajaran ini adalah

1. menguasai konsep gambar ilustrasi;

2. menguasai beragam keteknikan dan bahan dalam menggambar ilustrasi; dan

3. menguasai cara membuat beragam gambar ilustrasi manual sesuai dengan fungsinya.

C. Uraian Materi

1. Pengertian dan Sejarah Singkat Ilustrasi

Secara etimologis, ilustrasi menurut Webstion New Compact Format

Dictionary (1985), dirujuk dari bahasa Inggris yakni illustration dengan

bentuk kata kerja to illustrate. Sedangkan dari bahasa latin yaitu illustrare

yang berarti pelengkap sesuatu untuk memperjelas dengan menunjukkan contoh-contoh, khususnya melalui bentuk-bentuk, diagram, dan gambar-gambar. Hal yang sama juga dapat diambil dan diterjemahkan dari bahasa Belanda (illustratie) yang berarti menerangkan atau memperjelas. Tidak jauh berbeda dengan pengertian tersebut, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999:372), ilustrasi mengandung pengertian: (1) gambar untuk memperjelas isi buku, karangan; (2) gambar, desain atau

(17)

diagram untuk menghias (misalnya halaman sampul); dan (3) keterangan (penjelas) tambahan berupa contoh, bandingan dan sebagainya.

Untuk memperjelas paparan ketiga di atas, Mayer (dalam Muharrar, 2003:2) mendefinisikan ilustrasi yaitu gambar yang secara khusus dibuat untuk menyertai teks pada buku atau iklan untuk memperdalam keterangan dari teks tersebut. Dalam perkembangannya, ilustrasi tidak lagi hanya terbatas sebagai gambar yang mengiringi teks tetapi berkembang ke arah yang lebih luas. Ilustrasi kemudian didefinisikan sebagai gambar atau alat bantu lain yang membuat sesuatu baik buku maupun ceramah yang dipaparkan seara lisan agar menjadi lebih jelas, lebih bermanfaat atau menarik (Muharrar, 2003:2). Disisi lain, ilustrasi bukan sebagai pelengkap atau penjelas dari sebuah teks, tetapi ilustrasi adalah bentuk visualisasi dari suatu tulisan dengan dalam bentuk gambar, lukisan, dan atau hasil fotografi yang lebih menekankan hubungan subjek dengan tulisan. Selain itu juga berasal dari bahasa inggris (illustration), yang artinya karya gambar, foto atau lukisan. Tujuan ilustrasi adalah untuk menerangkan atau menghiasi suatu cerita, tulisan, puisi, atau informasi tertulis lainnya. Diharapkan dengan bantuan visual, tulisan tersebut lebih mudah dicerna.

Berdasarkan terjemahan dan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa ilustrasi dapat berupa gambar maupun percontohan yang dapat berfungsi sebagai penjelas dan perwakilan dari sebuah teks maupun cerita untuk kepentingan berbagai sudut pandang penerimaan manusia yang memiliki latarbelakang majemuk. Karena bentuk dan fungsinya sebagai penjelas dan perwakilan maka dikemaslah sedemikian rupa agar tampak lebih menarik dan bersahabat.

(18)

seiring dengan populernya surat kabar, majalah dan buku bergambar yang memungkinkan adanya eksperimen dari seniman masa itu. Di Eropa, seniman pada masa keemasan dipengaruhi oleh kelompok Pre-Raphaelite dan gerakan-gerakan yang berorientasi kepada desain seperti Arts and Crafts Movement, Art Nouveau, dan Les Nabis. Contohnya Walter Crane, Edmund Dulac, Aubrey Beardsley, Arthur Rackham dan

Kay Nielsen. Sedangkan menurut Kurt Weitsman dalam The History of

Illustrated Book dijelaskan asal muasal seni ilustrasi lahir didorong oleh

kebutuhan akan penjelasan yang bersifat visual daripada dekoratif (Muharrar, 2003:56).

Di Indonesia Ilustrasi dapat ditelusuri melalui artifak-artifak visual naratif yang ada. Merunut khasanah, visual naratif di Indonesia tidak kalah panjang dengan visual naratif di belahan dunia lainnya. Catatan-catatan visual di garca-garca goa Leang-leang daerah Sulawesi dan goa Pawon di Jawa Barat menjadi penandanya. Selain itu, ilustrasi juga sudah muncul melalui media surat kabar ataupun majalah. Hanya saja istilah ’Ilustrasi’ bukan berasal dari kamus bahasa Indonesia, namun secara subtantif artifak-artifak visual tersebut memiliki kesamaan secara fungsional untuk menjelaskan atau menerangkan sesuatu tanpa teks maupun secara lisan. Disinilah dapat diyakini bahwa ada korelasi yang jelas antara gambar dan teks. Gambar berfungsi memperjelas teks sedangkan ilustrasi sebagai interpretasi visual terhadap teks, walaupun ada beberapa artifak rubrikasi yang dijumpai tidak memiliki hubungan langsung antara teks dan ilustrasi, korelasi gambar-gambar terasa jauh atau bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan rubrik yang diwakilinya. Sebagai contoh teks bertuliskan ”Panjebar Semangat” sedangkan wakil visual yang hadir adalah gambar pegunungan dengan sawah dan petani, atau stilasi Kala menyerupai ukiran pintu gerbang. Penggunaan ilustrasi sebagai wakil-wakil visual tersebut dapat kita baca

lebih simbolis. Gambar landscape gunung beserta sawah dan petani

(19)

Wujud lain dari pada lahirnya ilustrasi di Indonesia adalah terdapat gambar-gambar yang menyertai teks di dalam media massa seperti surat kabar dan majalah. Pada surat kabar, biasanya ilustrasi muncul mengiringi teks cerpen dan tajuk utama atau editorial. Sebagian besar ilustrasi yang yang tampak waktu itu bersifat Naratif. Dalam hal ini seorang Ilustrator memposisikan dirinya sebagai interpreter visual. Modusnya mencoba menterjemahkan teks dengan mencari moment yang paling menarik dan mewakili dari naskah tersebut, kemudian mencari wakil visualnya yang paling jelas dalam menyampaikan pesan.

Di tahun 1956 ditemukan artifak ilustrasi bernada penuh dengan gradasi yang halus. Kecenderungan tersebut dihadirkan melalui pendekatan hitam putih dengan media cat air. Gaya gambar yang muncul lebih realis mendekati hasil foto. Di akhir 60-an muncul kecenderungan baru dalam mengolah huruf sebagai bagian dari gambar yang dapat juga disebut

tipografi. Tipografi sebagai gambar (type as image) adalah sebuah

kesadaran baru dari para ilustrator waktu itu.

Pada saat ini peranan ilustrasi sangat bermanfaat bagi perkembangan periklanaan khususnya pada media cetak dan televisi. Ilustrasi menjadi berkembang dan menjadi sebuah fenomena yang mewarnai dunia periklanan bersamaan dengan elemen-elemen lain seperti tipografi, layout, dan advertising.

2. Fungsi Ilustrasi

(20)

Menurut Kusmiati (dalam Muharrar, 2003), fungsi ilustrasi adalah:

a. menggambarkan suatu produk atau suatu ilusi yang belum pernah ada;

b. menggambarkan kejadian atau peristiwa yang agak mustahil, misalnya gambar sebuah pohon yang memakai sepatu;

c. mencoba menggambar ide abstrak, misalnya depresi;

d. memperjelas komentar, biasanya komentar editorial, dapat berbentuk kartun atau karikatur;

e. memperjelas suatu artikel dengan gambar;

f. menggambar sesuatu secara rinci, misalnya ilustrasi untuk ilmu tumbuhan yang mengurai bagian-bagian dari tumbuh-tumbuhan; dan

g. membuat corak tertentu pada suatu tulisan yang menggambarkan masa atau zaman pada saat tulisan ini dibuat, misalnya masa “Victorian” digambarkan dengan bentuk yang lembut dan garis beroramen.

Fungsi lain ilustrasi sebagaimana yang tertulis dalam wikipedia.org/wiki/ Ilustrasi antara lain:

a. memberikan bayangan setiap karakter di dalam cerita;

b. memberikan bayangan bentuk alat-alat yang digunakan di dalam tulisan ilmiah;

c. memberikan bayangan langkah kerja; d. mengkomunikasikan cerita;

e. menghubungkan tulisan dengan kreativitas dan individualitas manusia;

f. memberikan humor-humor tertentu untuk mengurangi rasa bosan; dan

g. dapat menerangkan konsep yang disampaikan.

Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa ilustrasi dapat berfungsi sebagai sarana penarik perhatian dan perangsang minat para

pembaca atau audience untuk memahami isi keseluruhan dari media

(21)

secara grafis dari suatu tulisan sebagai penguat pesan atau informasi. Maka dari itu, kesuksesan dari seorang ilustrator dapat dilihat dari kemampuannya di dalam membuat gambar untuk memperjelas dari suatu subyek tulisan yang dapat dengan mudah untuk dipahami oleh para

audience.

Ilustrasi dengan berbagai kekuatan seninya juga dapat difungsikan media proses belajar mengajar. Pernyataan ini didasarkan pada hasil penelitian Seth Spaulding (Sudjana, 2001:12) yang mengatakan sebagai berikut: a. ilustrasi gambar merupakan perangkat pelajaran yang sangat menarik

minat belajar siswa;

b. ilustrasi gambar membantu siswa membaca dalam penafsiran dan mengingat isi materi teks yang menyertainya;

c. pada umumnya anak-anak lebih menyukai setengah atau sehalaman penuh bergambar disertai beberapa petunjuk yang jelas;

d. ilustrasi gambar harus dikaitkan dengan kehidupan yang nyata, agar minat para siswa menjadi efektif; dan

e. ilustrasi gambar hendaknya ditata sedemikian rupa.

3. Unsur-unsur Ilustrasi

(22)

a. Objek Gambar 1) Gambar Manusia

Gambar 3. Komposi manusia dalam segala usia. Sumber: Dok. Zulfi Hendri

Gambar manusia sering sekali digunakan sebagai objek ilustrasi, karena sering menjadi tema atau cerita dalam kehidupan. Walaupun demikian, bukan berarti mengambar objek manusia sebagai subjek ilustrasi sangatlah mudah. Membetuk gambar manusia untuk ilustrasi kita harus memahami terlebih dahulu anatomi (bentuk tubuh) dan proporsi (perbandingan) manusia dengan baik. Anatomi adalah kedudukan struktur tulang dan otot yang menentukan besar kecil, cekung cembung tubuh manusia. Proporsi adalah perbandingan bagian perbagian dengan keseluruhan objek. Hal ini untuk mengetahui berapa perbandingan ukuran kepala dengan tubuh, berapa panjang lengan atas dibandingkan lengan bawah, berapa ukuran lebar bahu dibandingkan tinggi badang dan sebagainya. Begitu juga pemahaman bagaimana bentuk jari, tangan, hidung, mata, kaki dan anggota tubuh yang lainnya. Secara umum proporsi tubuh manusia adalah yang sering dipedomani adalah:

a) Tinggi manusia dewasa (Indonesia) = 7 x tinggi kepalanya

(23)

c) Tinggi anak-anak usia 5 tahun = 5 x tinggi kepalanya

d) Tinggi balita usia 1 tahun = 4 x tinggi kepalanya

e) Bahu pria lebih lebar dari pada bahu perempuan f) Panjang telapak tangan sama dengan lebar wajah g) Panjang telapak kaki sama dengan tinggi wajah h) Letak mata setengah tinggi wajah

i) Lebar mata seperlima lebar wajah

j) Letak bibir ditengah-tengah antara cuping hidung dan dagu

Sebagai contoh dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 4. Perbandingan anatomi tubuh manusia.

Sumber: https://www.google.co.id/search?q=ilustrasi+gambar+manusia

2) Gambar Binatang

(24)

sesuai dengan jenisnya. Untuk memudahkan dalam pengkategorisasian setidaknya terdapat 3 jenis binatang yaitu :

Gambar 5. Kelompok binatang Hewan Vertebrata Sumber: pustekkom kemendikbud

a) Binatang Darat

Gambar 6. Itik pulang petang

(25)

b) Binatang Air

Gambar 7. Ikan lumba-lumba mengudara

Binatang air adalah kelompok binatang yang hidup di air seperti buaya, ikan, penyu, dan lumba-lumba. Karena hidupnya di air, maka bentuk secara anatomi binatang ini tentunya berbeda dengan yang ada di darat. Perbedaan ini perlu disadari secara visual agar dalam pembuatan gambar dapat dikenali ciri-ciri dari binatang air tersebut.

c) Binatang Udara

Gambar 8. Burung terbang di siang hari

(26)

kehidupannya juga di darat seperti ayam dan itik. Karena binatang ini memiliki sayap maka kehidupanya bisa terbang kemana-mana seperti burung, kupu-kupu, dan kumbang.

3) Gambar Tumbuhan

Gambar 9. Pohon pisang antara batang dan daun

(27)

jenis lain, baik pada bentuk batang, daun, bunga maupun buahnya.

4) Gambar Alam Benda

Gambar 10. Candi Borobudur dari satu sisi Sumber: Dok. Zulfi Hendri

Benda-benda yang biasa digunakan sebagai obyek dalam menggambar illustrasi terbagi dalam dua bentuk dasar yaitu bentuk kubistis dan silindris. Objek ini dapat berupa batu, kayu, dan benda lainnya yang menjadi kebutuhan manusia dan yang digunakan sebagai objek itu sendiri ataupun benda bersejarah seperti candi Borobudur yang menjadi simbolisasi daerah dan benda bersejarah.

Sebagai unsur dari ilustrasi, selain apa yang sudah diuraikan di atas, menggambar objek ilustrasi ada hal-hal lain yang harus diperhatikan yaitu:

a) gambar sesuai dengan cerita atau tema pokok; b) menonjolkan obyek utama;

c) memiliki ciri-ciri tersendiri (karakter); d) menarik dan sederhana;

e) mudah dipahami (komunikatif);

(28)

Tujuan atau sifat pokok pembuatan gambar illustrasi adalah komunikatif, artinya dengan gambar illustrasi yang menjelaskan teks bacaan, maka pembaca akan lebih memahami isinya. Sifat ini berkaitan dengan penempatan gambar illustrasi pada buku-buku pelajaran, koran, komik dan sebagainya. Sedangkan tujuan sekunder gambar illustrasi adalah sebagai penghias tampilan seperti hiasan sampul, pengisi bidang-bidang yang masih kosong, penunjuk atau pengantar suatu artikel. Namun demikian dalam perkembangannya, gambar illustrasi sekarang dapat berdiri sendiri menjadi sebuah karya seni rupa 2 dimensi terlepas dari fungsinya sebagai sarana menjelaskan sebuah cerita.

b. Tema atau Cerita

Tema atau cerita merupakan sebuah istilah yang tentunya tidak asing lagi jika kita mendengarnya. Dulu kita sering kali ketika masih anak-anak, orang tua kita bercerita tentang sebuah kisah yang menarik sebagai pengantar tidur dan berharap kelak nanti ketika kita dewasa dapat mengambil hikmah dari nilai-nilai kebijaksanaan cerita tersebut.

Dalam The Concise Oxford Dictionary of Literary Term (1990: 211)

menjelaskan cerita adalah gabungan beberapa peristiwa yang membentuk suatu alur. Dalam artian gabungan dari beberapa peristiwa tersebut membentuk sebuah alur yang memiliki cerita dari awal sampai akhir yang saling memiliki keterkaitan. Seperti itu pula hal yang akan dikembangkan dalam tema dalam ilustrasi yang dikembangkan melalui gambar.

(29)

1) Jenis Cerita dunia lain atau bukan seperti yang dikenal sekarang ini, terjadi pada masa lampau. Mite, merupakan cerita prosa rakyat yang ditokohkan oleh para dewa atau makhluk setengah dewa. Mite Indonesia biasanya menceritakan terjadinya alam semesta (kosmologi), terjadinya susunan para dewa, dunia dewata dan

tokoh pembawa kebudayaan (kultur hero), terjadinya makanan

pokok pertama kali.

b) Legenda adalah prosa rakyat yang dianggap pernah terjadi tetapi tidak dianggap suci, ditokohi oleh manusia, seringkali dibantu oleh makhluk-makhluk gaib.

c) Dongeng adalah prosa rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan tidak terikat oleh waktu maupun tempat. Danandjaja (dalam Riyadi, 1994) juga menggolongkan cerita rakyat yang biasa disebut “cerita prosa rakyat” sebagaimana yang ada pada mite di atas.

2) Bentuk Tema atau Cerita.

(30)

c. Media

Media diartikan sebagai bahan atau peralatan yang dibutuhkan. Dalam menggambar illustrasi tidak dibutuhkan peralatan khusus. Berdasarkan medianya, peralatan menggambar illustrasi dibedakan menjadi dua yaitu media hitam putih dan media warna. Yang termasuk media hitam putih adalah warna yang diproduksi dari media tersebut yang menghasilkan warna hitam. Adapun media yang sering digunakan yakni pensil, pena, trek pen, spidol, kuas dan tinta bak. Sedangkan media pewarna antara lain :

1) pensil/spidol warna; 2) pastel dan crayon; 3) cat air (berbasis air);

Menurut sifatnya cat air terbagi menjadi 2 jenis, transparant water

colour dan nontransparant/opaque water colour. Transparant water colour adalah cat air yang mempunyai sifat transparan atau

tembus pandang. Warna-warnanya lebih cemerlang tetapi tidak

mengilat (dove). Warna putih adalah warna kertas yang dipakai

sebagai dasar nontransparant/opaque water colour merupakan cat

air yang mempunyai sifat tidak tembus pandang. Cat air ini

mempunyai daya penutup yang kuat atau opaque tetapi warnanya

tidak bisa cemerlang melainkan agak mengilat. Cat air jenis ini

juga sering disebut sebagai poster colour.

4) cat minyak (berbasis minyak).

4. Jenis Ilustrasi

Pada dasarnya ilustrasi dapat digolongkan dalam beberapa bagian antara lain (1) ilustrasi realis; (2) ilustrasi dekoratif; (3) ilustrasi karikatur; (4) kartun, dan komik.

(31)

iklan yang menggunakan jenis ilustrasi kartun dan karikatur. Berikut dua karya seni ilustrasi dr dua orang seniman yang berbeda.

Gambar 11. ilustrasi realis yg indah karya Michael J Woods

Gambar 12. Lukisan Realis karya S Sudjojono yang dapat digunakan sebagai ilustrasi cerita rakyat

(32)

dilebih-lebihkan. Ilustrasi ini tidak memiliki peran untuk memperkuat teks, tetapi lebih pada penambah keindahan dari sesuatu. Gambar dekoratif diwujudkan dengan cara menstilir atau mengubah bentuk-bentuk yang ada di alam tanpa meninggalkan ciri khasnya. Corak dekoratif adalah corak yang sering kita temukan terutama di dalam rumah. Contohnya: ornamen ukir (yang diterapkan pada peralatan rumah tangga seperti kursi, tempat tidur, lemari dan sebagainya), wayang kulit dan bentuk hasil karya kerajinan lainnya.

Gambar 13. Ilustrasi Dekoratif kuda berlari

c. Ilustrasi karikatur

Karikatur berasal dari bahasa Italia caricature yang berarti

(33)

sebagainya. Gambar ilustrasi yang bersifat karikatural dibedakan menjadi dua, yaitu gambar karikatur dan gambar kartun. Berikut contoh karyanya.

Gambar 14. Ilustrasi karikatur

(34)

Gambar 15. Kartun Binatang

e. Ilustrasi komik

Komik berasal dari kata comic yang berarti lucu atau jenaka. Pada

komik terdapat rangkaian gambar yang saling melengkapi dan mengandung suatu cerita. Dalam penyajiannnya, komik terdiri dari rangkaian gambar yang satu dan lainnya saling melengkapi dan

mengandung suatu cerita yang disebut comic strip. Deretan gambar

yang tersusun tersebut menceritakan suatu kisah yang diambul dari

peristiwa sehari-hari. Comic strip kemudian berkembang menjadi

suatu cerita komik yang dibuat dalam buku tersendiri. Bahasa atau tulisan dalam ilustrasi komik hanya sekedar pelengkap.

Gambar 16. Ilustrasi komik dengan judul“Transportasi”

(35)

f. Ilustrasi cover

Cover berarti kulit, terdapat pada sampul buku atau majalah dan lain-lain. Dalam pembuatan cover ilustrator hendaknya memperhatikan isi dan karakter dari. buku atau majalah agar penampilannya lebih menarik. Fungsi cover adalah untuk menggambarkan isi buku atau menambah daya tarik sebuah buku atau majalah. Pada dasamya pembuatan sebuah cover sama dengan pembuatan karya seni rupa yang lain yaitu mengutamakan unsur-unsur keindahan (estetika) dan seni (artistik) serta tidak meninggalkan fungsi utamanya sebagai sampul. Berikut satu contoh dari karya ilustrasi yang difungsikan untuk cover.

Gambar 17. Ilustrasi untuk sampul buku

g. llustrasi Pada Buku Pelajaran

(36)

Gambar 18. Bentuk ilustrasi pada buku pelajaran

h. Vignette (baca = vinyet)

Ilustrasi berupa garis-garis dan sebagaian diblok dengan tinta sering kita jumpai dalam majalah yang fungsinya adalah untuk menghias dan

mengisi ruang yang kosong. Bentuk vignet pada umumnya berupa

gambar dekoratif. Vignet dapat juga dikembangkan menjadi bentuk

seni dekoratif yang berdiri sendiri sebagai karya seni seperti contoh berikut ini:

(37)

i. Illustrasi Cerpen

Daya tarik sebuah cerpen sangat dipengaruhi oleh ilustrasi yang mengiringinya,' disamping untuk menambah daya tarik ilustrasi juga berfungsi untuk memberi penguatan pada tokoh yang digambarkan dalam naskah cerita. Semakin indah ilustrasi yang ditampilkan, akan membuat orang tambah penasaran untuk membacanya.

Gambar 20. Bentuk ilustrasi untuk penjelas cerpen Sumber: Dok. Zulfi Hendri

j. Ilustrasi Uang Kertas

Uang kertas yang kita gunakan sebagai alat tukar tidak dilengkapi dengan ilustrasi di dalamnya. Dengan teknik arsir dan dekorasi yang indah uang didisain menjadi karya seni dua dimensi yang sangat menarik untuk digunakan.

(38)

a. Ilustrasi buku (merujuk pada ilustrasi yang dibuat sebagai pendamping atau penjelas teks pada buku). Adapun beberapa jenisnya antara lain ilustrasi buku ilmiah (non-fiksi), ilustrasi buku kesusastraan, ilustrasi buku anak-anak, ilustrasi buku komik. b. Ilustrasi editorial merujuk pada ilustrasi yang dibuat untuk

menyajikan pandangan (opini) dimuat di surat kabar atau majalah, jenisnya antara lain ilustrasi kolom, komik strip, karikatur, kartun. c. Ilustrasi busana (merujuk pada ilustrasi yang dibuat untuk

memperkenalkan atau menjual produk busana yang sedang mode).

d. Ilustrasi televisi (Ilustrasi yang dibuat untuk kepentingan siaran televisi dapat berupa sket sederhana sampai ilustrasi yang mendetail dan berwarna-warni. Ilustrasi televisi didesain untuk siaran televisi).

e. Ilustrasi animasi (ilustrasi ini menampilkan unsur rupa atau gambar dan gerak. Penggabung antara ilustrasi dan film membawa pada penemuan ilustrasi animasi)

f. Seni Klip (Clip Art) merupakan ilustrasi yang dibuat untuk

mendukung suatu tulisan, tetapi tidak memiliki biaya untuk membelinya. Seni klip merupakan seni siap saji di mana dapat

ditempatkan pada lay out tanpa harus meminta izin atau

membayar royalti pada orang lain, seni ini dapat berbentuk cetakan atau digital. Ilustrasi cover, kalender, kartu ucapan, perangko, poster, dan lain sebagainya. (Ilustrasi ini dibuat untuk memenuhi maksud dan tujuan dari benda-benda di mana ia ditampilkan.

5. Teknik Ilustrasi

(39)

alat elektronik lain misalnya komputer; dan (3) ilustrasi dengan teknik gabungan gambar tangan dan teknik fotografi atau alat elektronik lainnya, sebagai hasil ekspresi dan kreasi dari ilustratornya.

Berdasarkan paparan di atas maka dapat diambil pemahaman bahwa banyak cara yang dipergunakan untuk menggambar ilustrasi, dan cara tersebut sangatlah berkaitan dengan kemampuan dan bakat seseorang yang diperoleh melalui latihan-latihan sehingga dapat diperoleh bentuk-bentuk penafsiran yang baik dari gagasan atau ide.

Teknik-teknik yang digunakan dalam menggambar ilustrasi sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan yang digunakan dalam berkarya seni rupa lainnya seperti gambar bentuk dan gambar model. Poerwodarminta (dalam Fatriani, 2006) mengatakan ada beberapa teknik yang dapat dicapai dalam membuat sebuah karya ilustrasi dengan teknik

drawing atau gambar tangan, antara lain sebagai berikut.

a. Line Drawing, yaitu gambar yang dibuat dengan menggunakan alat

pena dan tinta gambar. Gambar ini hanya berwarna hitam putih. Ilustrasi yang sering dikerjakan dengan teknik ini adalah kartun, karikatur, dan sejenisnya. Teknik ini juga sering disebut dengan nama teknik kering. Menggambar ilustrasi dengan teknik kering yaitu, tidak perlu menggunakan pengencer air atau minyak. Ilustrasi dibuat langsung pada bidang dua dimensi berupa kertas gambar kemudian dibuat sketsa untuk selanjutnya diberi aksen garis atau warna sesuai dengan media kering yang digunakan.

b. Wash Drawing yaitu teknik dalam menggambar yang menggunakan

media basah. Digambar dengan garis yang lembut dan sapuan kuas segara bersama-sama dengan keselarasan yang sempurna. Gambar dengan teknik ini dinuat dengan menggunakan kuas, hasilnya lebih

realistis, mirip foto hitam putih. Gambar dengan teknik ini dibedakan

menjadi dua macam yakni : (a) tight drawings, yaitu gambar ilustrasi

dengan teknik wash drawing yang lebih bersifat rinci dan realistis, (b)

loose drawing yaitu, ilustrasi dengan teknik wash drawing yang lebih

(40)

spontanitas). Nama lain dari teknik ini adalah teknik basah. Media yang digunakan untuk teknik basah antara lain seperti, cat air, cat minyak, tinta, atau media lain yang memerlukan air dan minyak sebagai pengencer.

c. Scratchboard, yaitu ilustrasi yang menggunakan kertas bertekstur

khusus sebagai medianya.

Keteknikan-keteknikan yang diuraikan di atas, diharapkan mampu menarik perhatian, merangsang minat untuk membaca kesan dan pesan yang disampaikan pada cerita atau berita dengan kata lain kehadirannya diharapkan mampu menerangkan persaingan dalam menarik perhatian pembaca di antara rentetan pesan lainnya. Ilustrasi yang dibuat oleh seorang illustrator dapat diuraikan sebagai berikut.

a. Ilustrasi garis, ilustrasi ini dapat ditandai dengan melihat adanya goresan-goresan berupa garis, semisal yang dibuat dengan menggunakan pena (garis lurus, lengkung, garis patah, garis getar dan sebagainya).

b. Ilustrasi geometris, yaitu ilustrasi yang mempergunakan pola-pola dan gambaran yang ada dalam geometri (ilmu ukur). Seperti lingkaran, segitiga, segi panjang, bujur sangkar dan lain sebagainya. Ilustrasi ini sering dipergunakan dalam poster-poster, iklan dan lain sebagainya. c. Ilustrasi bercak-bercak, ilustrasi ini lebih mudah ditandai dengan

melihat karakteristiknya yang kelihatan spontan pada waktu pembuatannya. Wujudnya berupa bercak-bercak seperti bekas lumpur di kubangan. Bekas sapuan kuas yang spontan dapat pula

dinamakan doodle. Ilustrasi ini dapat dipergunakan pada buku-buku

yang bersifat seni ataupun pada ilustrasi buku.

d. Ilustrasi dengan cukil kayu merupakan ilustrasi yang dibuat dari kayu yang dicukil-cukil (cukilan kayu). Dengan menggunakan bahan lem yang mempunyai sifat larut air. Gambar diproses sebagaimana halnya membatik. Gambar akan muncul seperti hasil cetakan dan cukil kayu, karenanya dinamakan cungkilan kayu tiruan (imitasi). Ilustrasi ini

banyak dipakai dalam buku-buku sastra atau novel, magic, dan

(41)

e. Ilustrasi kolase, ilustrasi ini dibuat dengan cara menempel-nempelkan kertas atau apa saja yang disobek, digunting atau diiris, untuk dibentuk supaya lebih menjiwai isi yang diilustrasikan.

Selain teknik di atas, banyak tentunya persoalan lain yang harus dipertimbangkan dalam memilih teknik untuk membuat ilustrasi. Salam (dalam Muharrar, 2003) mengemukakan bahwa seorang ilustrator harus mempersiapkan dirinya dengan baik, faktor-faktor yang perlu dimiliki adalah sebagai berikut.

a. Ilustrator harus memiliki pengetahuan akan unsur-unsur formal seni rupa seperti garis, bentuk, warna, tekstur, pencahayaan, komposisi, dan perspektif. Ia harus mempunyai pengalaman praktis dalam penyajian unsur-unsur tersebut.

b. Ilustrator harus paham penggunaan berbagai media atau alat ilustrasi seperti pensil, pena, kuas, pestel, tinta, cat air, cat minyak, akrilik dan alat lainnya. Karena ilustrasi memiliki hubungan dengan cetak-mencetak, maka ilustrator harus akrab dengan teknik tersebut.

c. Ilustrator harus memiliki pengetahuan mengenai teknik berkomunikasi yang dapat menunjang keterampilannya dalam mengkomunikasikan idenya.

6. Langkah Menggambar Ilustrasi a. Gagasan

Gagasan bersumber dari materi ataupun tema yang akan diilustrasikan. Gagasan melingkupi berbagai hal diantaranya siapa tokohnya, bagaimana suasananya, seperti apa corak gambar dan media yang akan gunakan.

b. Sketsa

(42)

Satukan semua unsur gambar yang direncanakan. Beri detail sehingga gambar lebih sempur dengan corak sesuai yang telah ditentukan. Setiap unsur harus bercorak sama agar tak terkesan kolase.

c. Pewarnaan

Setelah sketsa dianggap selesai, kita dapat mewarnai. Pewarnaan dalam menggambar ekspresi dapat dilaksanakan dengan dua corak, yaitu corak realis dan corak bukan realis (ekspresionisme, impresionisme, absreakisme, dan lain lain). Pewarnaan corak realis harus sesuai dengan keadaan nyata. Sedangkan pewarnaan corak non realis lebih bebas atau tidak terikat oleh bentuk maupun warna aslinya.

D. Aktifitas Pembelajaran

Pada Kurikulum 2013 dinyatakan bahwa untuk jenjang SMP dan SMA atau yang sederajat pelaksanaan proses pembelajaran menggunakan pendekatan

ilmiah (scientific approach). Proses pembelajaran pada pendekatan ini

menyentuh tiga ranah belajar, yaitu: sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan menyentuh transformasi substansi atau materi ajar agar peserta pelatihan “tahu apa, mengapa dan bagaimana”.

Hasil akhirnya adalah diharapkan para peserta pelatihan, mampu melakukan

peningkatan dan keseimbangan untuk menjadi guru yang baik (soft skills)

dan guru yang memiliki kecakapan serta pengetahuan yang utuh.

(43)

E. Latihan/Kasus/Tugas

1. Apa kelebihan dari pada kertas padalarang sehingga dipandang baik untuk menggambar ilustrasi dengan teknik basah....

a. mudah untuk ditimpa dengan warna terang b. memiliki permukaan yang halus

c. memiliki bahan yang tebal dan tidak mudah sobek d. mudah menghisap air dengan baik

2. Salah satu bahan yang digunakan untuk membuat ilustrasi adalah pulpen, kesan apa yang dapat ditimbulkan dengan bahan ini....

a. karakter garis yang dihasilkan halus b. memiliki warga hitam yang lebih pekat c. karakter tegas pada garis-garis

d. pengulangan garis yang tidak bertumpuk

3. Selain sulit untuk mendapatkannya, arang saat ini jarang digunakan untuk membuat ilustrasi karena....

a. memiliki tekstur yang kasar

b. memiliki ukuran yang terlalu besar c. terlalu mudah patah

d. tidak sesuai dengan jenis kertas

F. Rangkuman

Pada saat ini peranan ilustrasi sangat bermanfaat bagi perkembangan periklanaan khususnya pada media cetak dan televisi. Ilustrasi menjadi berkembang dan menjadi sebuah fenomena yang mewarnai dunia periklanan

bersamaan dengan elemen-elemen lain seperti tipografi, layout, dan

advertising.

Ilustrasi dapat berfungsi sebagai sarana penarik perhatian dan perangsang

minat para pembaca atau audience untuk memahami isi keseluruhan dari

(44)

dari itu, kesuksesan dari seorang ilustrator dapat dilihat dari kemampuannya di dalam membuat gambar untuk memperjelas dari suatu subyek tulisan yang

dapat dengan mudah untuk dipahami oleh para audience.

Unsur-unsur utama ilustrasi adalah berupa gambar yang dikemas sedemikian rupa untuk memperjelas pesan ataupun suatu cerita. Untuk mendapatkan visualisasi yang baik, maka sesungguhnya unsur dari pembentuk objek ilustrasi adalah unsur-unsur yang digunakan seni rupa pada umumnya yaitu garis, bidang, warna, dan tekstur. Walaupun demikian, ada unsur-unsur dari pada ilustrasi yang secara umum digunakan yakni andanya gambar/objek, tema/cerita, dan media.

Objek ilustrasi dapat berupa gambar manusia, gambar binatang, gambar tumbuh-tumbuhan, dan gambar alam benda. Begitu pula dengan tema atau cerita, tema yang diangkat dalam ilustrasi memiliki banyak jenis, sehingga tema dapat diseuaikan dengan kebutuhan. Sedangkan media adalah penggunahan bahan yang sekaligus diiringgi dengan teknik yang sesuai pula.

G. Umpan Balik

Bentuklah sebuah kelompok, masing-masing beranggotakan 3 orang. Kemudian tentukan jenis ilustrasi yang akan dibuat. Contohnya ilustrasi Cover Buku: dalam cover buku ada ilustrasi dan teks yang terdapat pada bagian muka dan belakang. Begilah tugas secara profesional untuk menyelesaikan cover buku tersebut. Misalnya Pak Joko, membuat Ilustrasi bagian depan, Bu Ani, membuat tipografi bentuk teksnya, sedangkan Pak Pur, membuat logo dan menata tata letak.

(45)
(46)

SENI GRAFIS

A. Tujuan

Pembelajaran ilustrasi ini bertujuan untuk memberikan wawasan baik secara teoretis maupun praktis dalam mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran ilustrasi secara tepat. Selain itu, melalui materi ini dapat meningkatkan kompetensi guru seni budaya khususnya seni rupa.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator pencapaian kompetensi yang ditargetkan pada kegiatan pembelajaran ini adalah

1. menguasai konsep seni grafis;

2. menguasai beragam keteknikan dan bahan dalam menghasilkan karya seni grafis; dan

3. menguasai cara membuat beragam seni grafis sesuai dengan fungsinya.

C. Uraian Materi

1. Pengertian dan Sejarah Seni Grafis

Seni grafis adalah salah satu dari tiga cabang seni rupa yang bersifat

pictorial atau seni ‘grafi’ (seni menulis) yang menggunakan metode cetak.

Terkait dengan proses cetak ini, sebagian dari seniman masih mencoba untuk memperdebatkan tentang kehadiran ekspresi dalam proses penggandaannya. Kegandaan karya seni selalu menimbulkan pertanyaan tentang: mana karya seni yang asli dan mana karya reproduksi. Karena penggunaan metode cetak memungkinkan pelipat gandaan karya seni yang dihasilkan. Untuk menjawab pertanyaan di atas, umumnya

mengandalkan dua konvensi yang berlaku di dalam seni grafis. Pertama,

grafissebagai seni membatasi diri pada metode cetak tradisional; dimana

berlaku pengerjaan dengan tangan dan setengah mekanis. Proses

cetak-masinal atau fotomekanis (misalnya cetak offset sekarang) tidak diakui

(47)

telah melahirkan karya grafis seni, melainkan dianggap sebagai usaha

reproduksi semata-mata. Kedua, adalah bahwa setiap karya harus

dihasilkan oleh seniman yang sama, penciptanya, dan atau bekerjasama dengan artisan pencetak dengan tanda tangan pada setiap lembar karya yang dihasilkannya. Di luar itu, setiap cetak ulang atau penambahan cetakan, dianggap tidak otentik. Hal ini kemudian diatur dengan beberapa

peraturan praktis, seperti penulisan nomor serta jumlah eksemplar pada

setiap karya. Hal di atas pernah digariskan oleh Comite Nasional de la

Geavure Perancis pada tahun 1964, tetapi sebuah konvensi tetap hanya

semacam kesepakatan yang tidak mempunyai sanksi. Sementara itu, seni

grafis sebagai sarana kreatifitas selalu berubah sesuai dengan selera seniman yang penuh percobaan ide-ide dan teknik-teknik baru. Sehingga saat ini sulit memberi jawaban atas duplikasi karya seni yang masuk kategori seni grafis.

Awal mulanya karya seni grafis “reproduksi” lahir dari kebutuhan untuk memperbanyak suatu karya tunggal seperti lukisan untuk kebutuhan

massa. Untuk mempertegas orisinalitas karya senimannya, yakni dengan

menggunakan pensil memberi catatan di bagian bawah di luar gambarnya, yaitu tanda tangan, tahun pembuatan, judul karya, dan tanda nomor urut

cetak serta jumlah edisinya. Sedangkan karya seni grafis bertitik tolak dari

kebutuhan seni si senimannya.

(48)

2. Jenis-Jenis Seni Grafis

Seni grafis dapat diklasifikasikan menjadi: cetak-tinggi (relief print),

cetak-dalam (intaglio), cetak-saring (serigraphy), dan cetak foto.

a. Cetak Tinggi (relief print)

Cetak tinggi atau relief print merupakan teknik cetak yang paling

sederhana dan relatif mudah dilakukan dibandingkan dengan teknik-teknik cetak yang lain, seperti cetak dalam atau cetak datar, karena tidak membutuhkan peralatan studio yang lengkap. Material atau bidang yang dicukil mudah didapatkan, misalnya papan kayu,

hardboard, karet vinyl, dan sejenisnya. Alat-alat dan tinta cetak juga

mudah didapatkan, studio untuk mengerjakan tidak memerlukan ruang yang luas. Produk cetaknya tidak kalah bernilai dengan produk cetak yang menggunakan media lain maupun produk seni lukis.

Permukaan timbul atau meninggi berfungsi sebagai penghantar tinta. Bagian yang dasar atau permukaan yang tidak timbul merupakan bagian yang tidak akan terkena tinta atau disebut bagian negatif, sedangkan bagian yang kena tinta disebut bagian positif. Untuk memperoleh acuan cetak yang timbul dapat dilakukan dengan cara menghilangkan bagian-bagian yang tidak diperlukan menghantarkan tinta, sehingga tinggal bagian-bagian yang memang berfungsi sebagai penghantar warna atau tinta. Salah satu sifat cetak tinggi adalah apabila acuan cetaknya diamati, maka permukaannya akan tampak sebagai permukaan yang berukir atau berelief.

Perbedaan dengan teknik cetak lainnya, cetak tinggi ini memiliki kesederhanaan dalam peralatan, tidak membutuhkan teknologi yang canggih. Seniman dapat lebih ekspresif dalam menghasilkan karya seni grafis, lagipula ada beberapa nilai estetika yang tidak dapat diperoleh dengan menggunakan teknologi yang canggih. Pada umumnya proses cetak diaplikasikan pada permukaan benda yang datar. Proses pembuatan cetak tinggi dilakukan secara manual, namun tidak menutup kemungkinan apabila sketsa gambar merupakan hasil

(49)

melakukan eksperimen visual sambil memanfaatkan tinta-tinta warna yang beraneka ragam dengan bentuk estetik sendiri. Teknik cetak tinggi pada dasarnya digunakan untuk mereproduksi sebuah gambar dengan citra yang sama dalam jumlah yang banyak.

b. Cetak Dalam

Cetak dalam atau intaglio print adalah ragam seni grafis yang proses

pembuatanya melalui tahapan pembuatan cetakan dari bahan plat alumunium yang ditoreh dengan alat tajam sehingga membentuk goresan yang dalam. Cetak dalam dapat juga dikatakan suatu proses cetak yang terbalik dari pada proses cetak tinggi, di mana yang akan pindah ke atas berada di bagian acuan cetaknya (tembaga).

Pencetakan dilakukan dengan mesin khusus, mesin etsa. Dari segi

prosesnya, intaglio ini dapat dibagi dua, yaitu yang menggunakan

asam: etsa (etching) dan aquatint, sedangkan yang tanpa asam: drypoint, engraving dan mezzotint. Masing-masing teknik cetak ini

kadangkala berdiri sendiri, karena setiap teknik tersebut memiliki ciri

ungkapan yang khas. Etsa dengan kelembutan dan keluwesan

garisnya, aquatint dengan keragaman nada warna dan teksturnya,

drypoint dengan kekasaran garisnya, engraving dengan katajaman

garisnya dan mezzotint dengan kepekatan nada warna. Karena potensi

artistic masing-masing itu maka seringkali suatu teknik, misalnya etsa,

dikombinasikan dengan aquatint atau drypoint, atau bahkan

memanfaatkan seluruh teknik-teknik tadi dalam satu karya, sehingga karya itu memiliki keragaman ungkapan rupa yang kaya.

c. Cetak Saring (serigraphy)

Cetak saring adalah ragam karya seni grafis yang proses pembuatanya

melalui tahapan pembuatan cetakan dari bahan screen atau kain yang

dilapisi bahan peka cahaya.

d. Cetak Foto

(50)

pencetakan gambar foto. Teknik cetakan afdruk untuk fotografi

3. Teknik Pembuatan Seni Grafis a. Teknik cetak tinggi

Teknik cetak tinggi adalah salah satu dari beberapa macam teknik print atau cetak yang memiliki acuan permukaan timbul atau meninggi. Bagian dari permukaan yang tinggi berfungsi sebagai penghantar tinta (baik monokrom atau polikrom). Sedang bagian yang dasar atau permukaan yang tidak timbul merupakan bagian yang tidak akan terkena tinta atau disebut bagian negatif,sedang bagian yang kena tinta disebut bagian positif. Untuk memperoleh wujud acuan yang timbul tersebut dapat dikerjakan dengan cara menghilangkan bagian-bagian yang tidak diperlukan menghantarkan tinta, sehingga tinggal bagian-bagian yang difungsikan sebagai penghantar warna atau tinta. Menoreh bagian-bagian yang tidak diperlukan bukan satu-satunya cara atau tekhnik untuk mewujudkan acuan cetak timbul, teknik lain dapat pula dapat pula diperoleh dengan menempelkan atau merekatkan bahan-bahan yang akan dipergunakan sebagai penghantar warna atau tinta cetak. Teknik ini merupakan teknik lain untuk mewujudkan acuan cetak timbul yang sederhana pula. Tapi perlu diwaspadai bahwa penggunaan metode tempel ini memiliki kelemahan pada bagian tempelnya/kolasenya jika pengelemannya dan bahan yang digunakan tidak baik. Salah satu sifat cetak timbul atau cetak tinggi adalah bila acuannya sendiri diamati baik-baik, maka permukaan acuan akan tampak sebagai permukaan yang berukir atau berelief. Karena itu cetak tinggi disebut pula sebagai cetak relief atau relief print.

(51)

menempel. Teknik tinggi ini juga berlaku dengan sebutan teknik

woodcut yang menggunakan bahan dasar sebuah papan kayu yang

diratakan permukaanya. Jenis kayu dan bentuk kayu yang digunakan tergantung selera penciptanya sendiri. Teknik cukil kayu merupakan teknik seni grafis yang paling awal, dan merupakan satu-satunya yang dipakai secara tradisional di Asia Timur. Di China teknik cukil telah digunakan untuk mencetak gambar dan tulisan sejak abad ke-5. sedangkan di Eropa teknik ini dikembangkan sekitar tahun 1400an. Di Jepang cukil kayu yang dikenal sebagai Ukiyo-e, pernah mengalami masa keemasan di masa periode Edo (1600-1868 Masehi). Cetakan-cetakan tersebut berupa fiksi yang banyak bersubyekkan dunia Geisha serta prostitusi yang marak di jaman feodal Jepang saat itu. Namun dengan adanya Restorasi Meiji, sebagai respon dari tekanan Komodor Perry bersama Delegasi Amerika dalam Perjanjian Tanagawa pada tahun 1854 untuk membuka pasar serta peradabannya maka berpindahlah tradisi seni Jepang ini ke dunia barat terutama ke Paris. Setelah kedatangan mereka, produk-produk seni budaya termasuk tradisi cukil kayu membanjiri dunia barat terutama Paris yang menjadi pusat kesenian saat itu. Para pelukis beraliran Impresionist maupun post-Impresionis beramai-ramai menggunakan teknik ataupun efek teknik Ukiyo-e dalam berkarya.

Selain apa yang telah di uraikan di atas, teknik cukil kayu ini juga akan menghasilkan gambar maupun tulisan melalui proses pencetakan

dengan menggunakan permukaan lembar kayu, linoleum, hardboard

atau karet vinyl yang dipahat atau dicukil sebagai acuan cetak atau plat.

Adapun urutan kerja atau proses kerja pembuatan karya grafis dengan teknik ini adalah sebagai berikut.

(52)

2) Memilah gambar mana yang akan dijadikan penghantar tinta dan yang bukan.

3) Memindahkan rencana atau desain tersebut ke permukaan bidang papan kayu yang akan dicukil atau ditoreh.

4) Menoreh atau mencukil bagian yang tidak digunakan untuk menghantarkan tinta (bagian negatif) dengan menggunakan pisau cukil( wood cut). Bagian yang bukan merupakan gambar atau tidak dicetak selanjutnya dicukil, sedangkan bagian gambar atau yang tidak dicukil akan tetap sejajar dengan permukaan plat. Kemudian plat tersebut dibubuhi cat atau pewarna, setelah itu plat dicetak ke kertas dengan cara digosok, dengan bantuan sendok atau alat press. Apabila ingin menggunakan kombinasi beberapa warna, maka kita harus menggunakan acuan cetak atau plat yang berbeda bagi setiap warna yang digunakan. Teknik mencukil ini hendaknya memperhatikan arah serat kayu, disamping itu kondisi alat cukilnya juga tajam.

5) Setelah pekerjaan menoreh atau mencukil selesai, maka acuan cetak telah terwujud, dengan demikian siap untuk dilumuri warna atau tinta cetak untuk direkamkan pada lembar kerja yang akan dijadikan karya.

(53)

Prinsip kerjanya adalah mendapatkan bagian positif (permukan yang timbul) dan negatif (permukaan yang cekung). Bagian negatif yang dihasilkan oleh cukilan tidak terkena warna, sebaliknya bagian positif yang tidak tercukil terkena warna. Bagian yang timbul akan diberi tinta

dengan menggunakan roller, kemudian dicetak ke permukaan bidang

cetak. Teknik cetak ini bertolak belakang dengan teknik cetak intaglio

dan etsa (etching) yang justru bagian yang tergores menampung tinta

yang kemudian dicetakkan pada kertas.

b. Teknik Cetak Dalam

Ada dua cara mencelahi pelat logam untuk membuat klise cetak dalam.

Yaitu pertama, dengan cara menoreh langsung dengan pusut ukir (burin) seperti pada proses torehan logam (metal engraving); atau

menggores dengan semacam jarum baja (tempo dulu intan sering

dipergunakan untuk mengganti jarum baja yang susah didapat) seperti

pada proses goresan kering (dry point). Kedua, memasukan tinta

khusus kedalam celah garis gambar. Tinta yang “mengotori” bagian

atas permukaan klise dibersihkan dengan tangan dan kertas

pembersih. Dengan memakai alat press,klise ini kemudian ditekankan

dengan kuat pada selembar kertas lembab. Karena tekanan yang kuat itu, serta daya serap kertas terhadap tinta, maka gambar pun berpindah dari atas pelat ke atas lembaran kertas. Tinta kemudian dituangkan pada goresan dalam tersebut dan diatasnya diletakan kertas yang suda dibasahi air. Tinta akan melekat pada kertas dan terbentuklah gambar sesuai dengan cetakan. Teknik cetak dalam dapat menggunakan bahan alumunium, kertas, dan tinta. Sedangkan alatnya paku atau besi

runcing. Ketiga, adalah melalui proses kimiawi, seperti pada etsa dan

aquatint.

c. Teknik Cetak Saring

Teknik yang digunakan untuk cetak saring adalah tehnik sablon. Cetak

sablon/serigraf pada dasarnya dalah teknik yang sederhana yaitu

(54)

untuk membuat pola sablon adalah dengan melobangi lembaran film

atau kertas yang tahan pada zat pewarna yang dipakai. Kemudian lembaran berlobang yang tahan pada zat pewarna yang dakan jadi hasilnya.

Teknik sablon sederhana seperti di atas, telah dikembangkan dengan

memakai saringan halus, yang memungkinkan hasil cetakan rata dan

bervariasi. Kain kasa untuk saringan, biasanya terbuat dari sutra

sintetis atau monyl yang diberi rangka kayu. Monyl dilabur dengan

agar-agar chroom gelatin yang peka cahaya. Kemudian sebuah

rencana gambar kertas transparan, dipindahan ke atas monyl dengan

melalui proses penyinaran. Bagian-bagian gelatin yang kena cahaya

mengeras sedangkan bagian-bagian gelap berupa gambar terbongkar

ketika monyl dicuci. Dengan demikian, kita mendapatkan saringan

sesuai dengan desain yang dipindahkan. Selanjutnya cat dituangkan di

atas screen dan dirakel sehingga membentuk gambar sesuai dengan

cetakanya. Teknik cetak saring menggunakan bahan afdruk seperti

cromatine, ulano, cat sablon, dan film. Sedangkan alatnya berupa:

Screen, rakel, dan meja sablon. Sablon banyak kita jumpai pada pembuatan gambar dan tulisan pada kaus dan spanduk yang saat ini sudah kurang diminati karena mampu diproduksi dengan mesin printer.

d. Teknik monotype

Monotype merupakan salah satu teknik dalam seni grafis, teknik ini

sangat fleksibel karena memungkinkan pendekatan dalam mengkreasikan gambar yang sangat bebas, oleh karena itu dianggap sebagai metode yang sangat fleksibel. Dalam berkarya seniman dapat memilih apakah akan menghasilkan objek gambar yang positif atau negatif, menggunakan tinta berbasis air atau minyak, atau kombinasi dengan bahan lainnya.

(55)

yang dapat digunakan. Proses menggambar secara langsung pada plat cetak membutuhkan keterampilan, keyakinan dan tingkat spontanitas yang baik.

Bahan dan alat untuk berkarya grafis teknik monotype adalah plat cetak

dan tinta. Plat cetak dapat digunakan jenis apa pun, dengan catatan tidak berpori. Lembaran logam seperti tembaga atau seng sangat baik digunakan, atau dapat pula digunakan bahan-bahan seperti plat alumunium, kardus yang dibalut pelapis, kaca (hanya jika digunakan untuk handprinting), stirofoam. Setelah plat cetak siap, lukislah secara langsung di atasnya menggunakan tinta cetak menggunakan kuas apa saja sesuai keinginan.

Metode lainnya untuk membentuk objek gambar melalui cara negatif dari gelap ke terang adalah dengan cara menyeka tinta pada plat cetak. Prosesnya diawali dengan melapisi tinta di plat cetak menggunakan rol, kemudian dilanjutkan dengan menghapus area tinta tersebut dengan

kain, kapas atau bahan cair untuk menciptakan kesan cahaya dan tone.

Selain teknik di atas, cetak monotype juga dapat ditempuh deng cara

yang ditemukan oleh Gauguin. Metode ini disebut “direct trace

drawing”, yang menghasilkan garis-garis monotype yang unik dan

lembut mirip dengan tone warna dan garis pada soft ground etching.

Untuk menghasilkan monotype dengan metode ini, pertama-tama

melapisi plat cetak dengan tinta, kemudian letakkan selembar kertas di atasnya dan mulailah menarik garis gambarnya langsung di bagian belakan kertas tersebut, garis-garis yang dihasilkan akan tertransfer ke balik kertas dan menghasilkan gambar yang terbalik. Garis yang digoreskan secara beruntun seperti mengarsir akan menghasilkan area yang gelap, sementara tekanan atau gosokan tangan akan menghasilkan nada warna yang lembut. Dengan variasi tekanan garis dan menggunakan panjang-pendek garis serta keras-lembutnya yang berbeda-beda akan dihasilkan efek yang beragam. Berikut beberapa

(56)

Gambar 21 A, B. Ilutrasi dengan teknik monotype

Sumber. Suyono.

D. Aktivitas Pembelajaran

Pada Kurikulum 2013 dinyatakan bahwa untuk jenjang SMP dan SMA atau yang sederajat pelaksanaan proses pembelajaran menggunakan pendekatan

ilmiah (scientific approach). Proses pembelajaran pada pendekatan ini

menyentuh tiga ranah belajar, yaitu: sikap, pengetahuan, dan keterampilan. A

(57)

Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan menyentuh transformasi substansi atau materi ajar agar peserta pelatihan “tahu apa, mengapa dan bagaimana”.

Hasil akhirnya adalah diharapkan para peserta pelatihan, mampu melakukan

peningkatan dan keseimbangan untuk menjadi guru yang baik (soft skills) dan

guru yang memiliki kecakapan serta pengetahuan yang utuh.

Pendekatan ilmiah dalam pelatihan meliputi: mengamati, menanya, menalar, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Pada pembelajaran seni, proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat non ilmiah.

E. TUGAS

Buatlah 1 buah desain kaos untuk cetak saring dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Desain bertemakan Budaya Setempat 2. Ukuran 25 cm x 30 cm (posisi bebeas)

3. Desain minimal 3 warna boleh menggunakan kountur (atau outline)

F. Rangkuman

Seni grafis dapat diklasifikasikan menjadi: cetak-tinggi (relief print),

cetak-dalam (intaglio), cetak saring (serigraphy), dan cetak foto. (1) Cetak tinggi,

adalah proses cetak pada permukaan benda yang datar. Proses pembuatan cetak tinggi dilakukan secara manual, namun tidak menutup kemungkinan

apabila sketsa gambar merupakan hasil print-out. Melalui teknik tinggi,

seniman dapat dengan leluasa melakukan eksperimen visual sambil memanfaatkan tinta-tinta warna yang beraneka ragam dengan bentuk estetik sendiri. Teknik cetak tinggi pada dasarnya digunakan untuk mereproduksi sebuah gambar dengan citra yang sama dalam jumlah yang banyak. (2) Cetak

saring, pencetakan dilakukan dengan mesin khusus, mesin etsa. Dari segi

prosesnya, intaglio ini dapat dibagi dua, yaitu yang menggunakan asam: etsa

(58)

mezzotint. Masing-masing teknik cetak ini kadangkala berdiri sendiri, karena

setiap teknik tersebut memiliki ciri ungkapan yang khas. (3) Cetak saring, adalah ragam karya seni grafis yang proses pembuatanya melalui tahapan

pembuatan cetakan dari bahan screen atau kain yang dilapisi bahan peka

cahaya. (4) Cetak foto atau fotografi adalah ragam seni grafis yang proses pembuatanya melalui pemotretan dengan kamera, pencucian film, dan pencetakan gambar foto. Teknik cetakan afdruk untuk fotografi menggunakan bahan film, kertas foto, dan bahan cuci film. untuk alatnya digunakan kamera.

G. Umpan Balik

1. Cara menggambar dengan menggoreskan bentuk-bentuk garis yang arahnya mengikuti volume objek, garis-garis tidak saling menumpuk, tetapi dibuat saling sejajar, dan pada bagian yang gelap dibuat lebih rapat, dapat dihasilkan dengan teknik….

A. teknik cukil B. teknit scraper

C. teknik arsir garis D. teknik half tone

2. Cara Teknik cukil menggambar dengan mewujudkan warna tunggal yang solid atau pekat seperti pada gambar berikut dapat juga disebut dengan teknik....

A. teknik out line

(59)

3. Pengetahuan pameran merupakan bagian penting dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian aktivitas seni rupa. Pengetahuan utama yang harus dimiliki dalam kegiatan pameran adalah….

(60)

Modul Diklat PKB bagi Guru Seni Budaya kompetensi Ilustrasi dan Seni Grafis ini disusun sebagai buku pegangan guru dan instruktur dalam pelaksanaan diklat PKB. Melalui modul ini selanjutnya semua pihak terkait dapat menemukan kemudahan pelatihan dan memilih materi-materi terkait sesuai dengan bidang dan kebutuhan pengembangan kualitas pembelajaran masing-masing guru.

Modul Pembelajaran Diklat PKB seni budaya ini berisikan materi-materi umum tentang sejarah, konsep, jenis-jenis, dan berbagai teknik memproduksi karya seni berupa Ilustrasi dan Seni Grafis. Melalui modul ini diharapkan dapat menjadi tambahan pengetahuan dan peningkatan hasil uji kompetensi guru sesuai harapan berbagai pihak. Terutama manual pembelajaran yang dapat mengarahkan dan membimbing peserta diklat dan para widyaiswara/fasilitator untuk menciptakan proses kolaborasi belajar dan berlatih dalam pelaksanaan diklat.

(61)
(62)

1. Cara menggambar dengan menggoreskan bentuk-bentuk garis yang arahnya mengikuti volume objek, garis-garis tidak saling menumpuk, tetapi dibuat saling sejajar, dan pada bagian yang gelap dibuat lebih rapat, dapat dihasilkan dengan teknik….

a. teknik cukil b. teknit scraper

c. teknik arsir garis d. teknik half tone

2. Cara menggambar dengan mewujudkan warna tunggal yang solid atau pekat seperti pada gambar berikut dapat juga disebut dengan teknik....

a. teknik out line

b. teknik blok c. teknik plakat d. teknik siluet

3. Apa kelebihan dari pada kertas Padalarang sehingga dipandang baik untuk menggambar ilustrasi dengan teknik basah....

a. mudah untuk ditipa dengan warna terang b. memiliki permukaan yang halus

c. memiliki bahan yang tebal dan tidak mudah sobek d. mudah menghisap air dengan baik

(63)

4. Salah satu bahan yang digunakan untuk membuat ilustrasi adalah pulpen, kesan apa yang dapat ditimbulkan dengan bahan ini....

a. karakter garis yang dihasilkan halus b. memiliki warga hitam yang lebih pekat c. karakter tegas pada garis-garis

d. pengulangan garis yang tidak bertumpuk

5. Selain sulit untuk mendapatkannya, arang saat ini jarang digunakan untuk membuat ilustrasi karena....

a. memiliki tekstur yang kasar b. memiliki ukuran yang terlalu besar c. terlalu mudah patah

d. tidak sesuai dengan jenis kertas

6. Pengetahuan pameran merupakan bagian penting dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian aktivitas seni rupa. Pengetahuan utama yang harus dimiliki dalam kegiatan pameran adalah….

a. penataan b. jenis karya c. manajemen d. kritik seni

7. Mempelajari pengelolaan pameran dan latihan penyelenggaraan pameran, secara tidak langsung guru memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk mempelajari….

(64)

8. Awalnya kurator adalah seseorang yang secara profesional bekerja di museum sebagai ahli birokrasi, penataan, pengatur dan pengelola pameran. Saat ini tugas curator adalah….

a. creator b. katalogus c. kurasi d. kolektor

9. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penataan karya seni sangatlah

komplek, walaupun demikian unsur utama adalah pleasuring, artinya….

a. penataan mengacu pada gaya lukisan b. penataan mengacu pada tema

c. penataan mengacu pada jenis karya d. penataan mengacu pada senioritas pelukis

10. Pembelajaran tentang pameran adalah termasuk bagian dari manejemen seni. Kegiatan apa yang tidak termasuk dari manajemen seni….

a. manajemen produksi

b. manajemen pemasaran

c. manajemen pameran

(65)
(66)

Abdul Majid. 2008. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Rosdakarya

AECT. 1986. Definisi Teknologi Pendidikan (Terjemahan Yusufhadi Miarso).

Jakarta: Rajawali Pers

Anderson, L.W. & Krathwohl, D.R. 2001. Es. Taxonomy for Learning, teaching

assessing: A revision of bloom’s taxonomy of education objectives. New

York: Longman.

Barrett, Maurice. 1982. Art Education, a strategy for course design. London:

Heinemann Educational Books.

Benny A. Pribadi. 2009. Modul Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Dian

Rakyat.

______. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning).

Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.

______. 2007. Materi Sosialisasi dan Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP) SMP. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan

Menengah, , Departemen Pendidikan Nasional.

Fatriani. 2006. Dongeng Rakyat Jawa dalam Karya Ilustrasi Sampul Buku Cerita

Anak-anak. Semarang: Unnes.

Fauzi, Eddy. dan Effendy, Widihardjo. 2008. Peta Konsep Pendidikan Seni Rupa,.

Jakarta: Pusbuk, Depdiknas.

(67)

Feldman, E.B. 1967. Art as Image an Ideas. Englewood-Cliffs, New Jersey:

Prentice-Hall, Inc.

Fraser, Lynch Diane. 1991. Discoverring and Developing Creativity. Pennington,

NJ: Princeton Book Company.

Goldberg,Merryl Ruth. 1997. Art and Learning: An Integrated Approach to

Teaching and Learning in Multicultural and Multilingual Settings. New York:

Longman.

Goleman, Daniel. 2000. Kecerdasan Emotional. Terjemahan T. Hermaya. Jakarta:

Gramedia

Joni, T. Raka. 1980. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: P3G.

Kadarsah Suryadi. 2000. Pedoman Penulisan dan Penilaian Bahan Belajar:

Pendekatan Sistem Pendukung Multi Kriteria. Jakarta: DepDikNas.

Kamaril, Cut. WS. 2007 Materi Pelatihan Pengenalan Pembelajaran Aktif di

Sekolah Dasar dan Menengah. Jakarta.

Muhibbin Syah. (2003). Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosda

Mulyasa, E. 2010. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Rosda

Munir. 2008. Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung:

Alfabeta.

Perceival, F. & Ellington, H. 1998. Teknologi Pendidikan (terjemahan). Jakarta:

Erlangga.

(68)

______. 2007. Permendiknas Nomor 41 tahun 2007: Standar Proses Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas, 2007.

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses

Pendidikan. Jakarta: Kencana, Prenada Media Group.

Seels, B. Barbara dan Rickey, Rita C. 2002. Teknologi Pembelajaran (Terjemahan

Dewi S. Prawiradilaga, dkk). Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.

Sukadi. 2006. Guru Powerful Guru Masa Depan. Bandung: Kolbu.

Suparno, Paul. 2005. Miskonsepsi dan Perubahan Konsep dalam Pendidikan

Fisika. Jakarta: Grasindo.

Suparman. A. 1997. Desain Instruksional. Jakarta: PAU-PPAI.

Suprayekti. 2002. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: FIP UNJ (tidak

diterbitkan).

______. 2007. Strategi Pembelajaran. Jakarta: FIP UNJ (tidak diterbitkan).

______. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen Peraturan Pemerintah tengtang Standar Pendidikan Nasional.

(69)
(70)

                                     

   

(71)
(72)

Lampiran 1.

(73)

Seni Grafis

1. B 2. A 3. A

(74)

Lampiran 3.

C. Kunci Jawaban Evaluasi

(75)
(76)

Figur

Gambar 3. Komposi manusia dalam segala usia.
Gambar 3 Komposi manusia dalam segala usia . View in document p.22
Gambar 4. Perbandingan anatomi tubuh manusia. Sumber: https://www.google.co.id/search?q=ilustrasi+gambar+manusia
Gambar 4 Perbandingan anatomi tubuh manusia Sumber https www google co id search q ilustrasi gambar manusia . View in document p.23
Gambar 6. Itik pulang petang
Gambar 6 Itik pulang petang . View in document p.24
Gambar 5. Kelompok binatang Hewan Vertebrata
Gambar 5 Kelompok binatang Hewan Vertebrata . View in document p.24
Gambar 8. Burung terbang di siang hari
Gambar 8 Burung terbang di siang hari . View in document p.25
Gambar 7. Ikan lumba-lumba mengudara
Gambar 7 Ikan lumba lumba mengudara . View in document p.25
Gambar 9. Pohon pisang antara batang dan daun
Gambar 9 Pohon pisang antara batang dan daun . View in document p.26
Gambar 10. Candi Borobudur dari satu sisi
Gambar 10 Candi Borobudur dari satu sisi . View in document p.27
Gambar 11. ilustrasi realis yg indah karya Michael J Woods
Gambar 11 ilustrasi realis yg indah karya Michael J Woods . View in document p.31
Gambar 12. Lukisan Realis karya S Sudjojono yang dapat digunakan sebagai ilustrasi cerita rakyat
Gambar 12 Lukisan Realis karya S Sudjojono yang dapat digunakan sebagai ilustrasi cerita rakyat . View in document p.31
Gambar 13. Ilustrasi Dekoratif kuda berlari
Gambar 13 Ilustrasi Dekoratif kuda berlari . View in document p.32
Gambar 14. Ilustrasi karikatur
Gambar 14 Ilustrasi karikatur . View in document p.33
Gambar 15. Kartun Binatang
Gambar 15 Kartun Binatang . View in document p.34
Gambar 16. Ilustrasi komik dengan judul “Transportasi” Sumber: (Kepustakaan Gramedia Populer, 2007), hal
Gambar 16 Ilustrasi komik dengan judul Transportasi Sumber Kepustakaan Gramedia Populer 2007 hal. View in document p.34
Gambar 17. Ilustrasi untuk sampul buku
Gambar 17 Ilustrasi untuk sampul buku . View in document p.35
gambar ilustrasi. Dalam pelajaran sejarah untuk menjelaskan bentuk
Dalam pelajaran sejarah untuk menjelaskan bentuk . View in document p.35
Gambar 18. Bentuk ilustrasi pada buku pelajaran
Gambar 18 Bentuk ilustrasi pada buku pelajaran . View in document p.36
gambar dekoratif. Vignet dapat juga dikembangkan menjadi bentuk
Vignet dapat juga dikembangkan menjadi bentuk . View in document p.36
Gambar 19. Ilustrasi Vignette
Gambar 19 Ilustrasi Vignette . View in document p.36
Gambar 20. Bentuk ilustrasi untuk penjelas cerpen Sumber: Dok. Zulfi Hendri
Gambar 20 Bentuk ilustrasi untuk penjelas cerpen Sumber Dok Zulfi Hendri . View in document p.37
Gambar 21 A, B. Ilutrasi dengan teknik monotype
Gambar 21 A B Ilutrasi dengan teknik monotype . View in document p.56

Referensi

Memperbarui...