BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu yang mana nantinya digunakan untuk

Teks penuh

(1)

7 BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

Pada kajian pustaka ini berisikan tentang penelitian-penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu yang mana nantinya digunakan untuk bahan rujukan dan pertimbangan atas penelitian yang akan dilakukan. Penelitian-penelitian terdahulu tersebut yang pada dasarnya memiliki keterkaitan atau kesamaan topik yang mampu mendukung keberlangsungan penelitian yang akan dilakukan. Sudah banyak penelitian terkait indeks pembangunan manusia (IPM) yang dilakukan oleh para peneliti terdahulu, akan tetapi dari sekian banyak penelitan terkait Indeks pembangunan manusia (IPM), peneliti memilih 5 penelitian yang dianggap memiliki keterkaitan yang dekat dengan penelitian yang penulis buat, antara lain sebagai berikut:

Tabel 2.1

Rekapitulasi Hasil Penelitian Indeks Pembangunan Manusia

No Nama dan Judul Penelitian

Variabel Penelitian Metode Penelitian Hasil penelitian

1. (Novita Dewi, 2017) Pengaruh Kemiskinan Dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Indeks Pembangunan Variabel dependen :

Indeks pembangunan manusia Variabel Independen : 1. Kemiskinan 2. Pertumbuhan Ekonomi Analisis regresi menggunakan data panel 1. Kemiskinan berpengaruh signifikan terhadap IPM di Provinsi Riau.

2. Pertumbuhan ekonomi tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap

(2)

8 Manusia di

Provinsi Riau

perubahan tingkat IPM di Provinsi Riau. 2. (Hubban Arif, 2013) Analisis Indeks Pembangunan Manusia di Sumatera Barat Tahun 1997-2011. Variabel dependen :

Indeks pembangunan manusia Variabel Independen :

1. Pengeluaran Pemerintah Bidang Pendidikan

2. Pengeluaran Pemerintah Bidang Kesehatan

3. Jumlah Penduduk Miskin

Analisis regresi menggunakan data panel 1. Pengeluaran pemerintah bidang pendidikan berpengaruh signifikan terhadap IPM di Provinsi Sumatera Barat

2. Pengeluaran pemerintah bidang kesehatan berpengaruh tidak signifikan terhadap IPM di Provinsi

Sumatera

3. Jumlah Penduduk Miskin berpengaruh tidak signifikan terhadap IPM di Provinsi Sumatera Barat 3. (Rizki Nurfadhli, 2017) Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia di Pulau Sumatera Periode Tahun 2010-2015 Variabel dependen :

Indeks pembangunan manusia Variabel Independen : 1. Pengeluaran Pemerintah Bidang Kesehatan 2. Pengeluaran Pemerintah Bidang Pendidikan 3. Pengangguran Terbuka 4. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 5. Tingkat Kemiskinan Analisis regresi menggunakan data panel 1. Pengeluaran Pemerintah melalu APBD di bidang kesehatan berpengaruh signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Pulau Sumatera 2. Pengeluaran Pemerintah melalui APBD di bidang pendidikan tidak berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Pulau Sumatera

(3)

9 3. PDRB berpengaruh signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Pulau Sumatera 4. Tingkat pengangguran terbuka tidak berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Pulau Sumatera 5. Tingkat kemiskinan tidak berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Pulau Sumatera 4. (Mirza, 2012) Pengaruh kemiskinan,pertum buhan ekonomi dan belanja modal terhadap indeks pembangunan manusia di Jawa Tengah tahun 2006-2009 Variabel dependen :

Indeks pembangunan manusia Variabel Independen : 1. Kemiskinan 2. Pertumbuhan ekonomi 3. Belanja modal Analisis regresi menggunakan data panel . 1. Hasil kemiskinan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap IPM 2. Pertumbuhan ekonomi dan belanja modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap IPM

5. (Charis Christiani, Pratiwi Tedjo, dan Bambang Martono, 2013) Analisis dampak kepadatan penduduk terhadap kualitas hidup masyarakat Provinsi Jawa Tengah Variabel dependen : Kualitas hidup masyarakat Variabel Independen : 1. Kepadatan penduduk Analisis metode kuantitatif dengan tipe penelitian deskriptif dan sumber data penelitiannya adalah primer dan sekunder

1. Dampak dari tingginya angka kepadatan

penduduk yaitu penurunan kualitas penduduk

(4)

10

Dewi (2017), dalam jurnalnya yang berjudul “Pengaruh Kemiskinan Dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Riau“ (Novita Dewi, 2017), melakukan analisis pengaruh kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Riau. Penelitian tersebut menggunakan data sekunder yang kemudian diolah dengan menggunakan metode regresi linier berganda. Dari hasil penelitan tersebut menunjukan bahwa kemiskinan berpengaruh signifikan dan pertumbuhan ekonomi tidak signifikan terhadap IPM di Provinsi Riau.

Arif (2013), dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Indeks Pembangunan Manusia di Sumatera Barat Tahun 1997-2011”. Dalam penelitan ini Provinsi Sumatera Barat menjadi objek penelitian terkait pengaruh pengeluaran pemerintah bidang pendidikan berpengaruh signifikan. Namun pada pengeluaran pemerintah bidang kesehatan dan jumlah penduduk miskin tidak signifikan.

Nurfadhli (2017), dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia di Pulau Sumatera Periode Tahun 2010-2015” yang mana dalam penelitian ini Pulau Sumatera dengan variable pengeluaran pemerintah bidang kesehatan, pendidikan, pengangguran terbuka, PDRB dan tingkat kemiskinan. Ditemukan variabel pengeluaran pemerintah bidang kesehatan dan PDRB yang mempengaruhi IPM, sedangkan variabel pengeluaran pemerintah bidang pendidikan, tingkat pengangguran terbuka dan tingkat kemiskinan tidak berpengaruh terhadap IPM di Pulau Sumatera.

(5)

11

Mirza (2012), dalam jurnalnya yang berjudul “Pengaruh Kemiskinan, Pertumbuhan Ekonomi dan Belanja Modal Terhadap Indeks Pembangunan Manusia Di Jawa Tengah Tahun 2006-2009” yang mana hasil penelitiannya menunjukan perkembangan IPM di Jawa Tengah mengalami peningkatan dengan kategori menengah hingga mampu mencapai target yang telah di tetapkan oleh pemerintah. Dari hasil regresi panel didapatkan hasil kemiskinan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap IPM, pertumbuhan ekonomi dan belanja modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap IPM. Dalam penelitian ini pemerintah disarankan apabila dalam merencanakan kebijakan tidak hanya melihat dari peningkatan pertumbuhan ekonomi saja namun juga target peningkatan pembangunan manusia karena pertumbuhan ekonomi sendiri belum mampu untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia khususnya di wilayah Jawa Tengah.

Christiani dkk. (2013), dalam jurnalnya yang berjudul “Analisis Dampak Kepadatan Penduduk Terhadap Kualitas Hidup Masyarakat Provinsi Jawa Tengah” yang mana dalam penelitiannya menggunakan metode kuantitatif dengan tipe penelitian deskriptif sumber data dalam penelitiannya adalah primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik kepustakaan dan dokumentasi sedangkan analisa data dilakukan dengan analisa kuantitatif dan kualitatif.

Peneliti menjelaskan bahwa daerah yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi biasanya terjadi di daerah perkotaan yang mana banyak perantau datang untuk mencari lapangan pekerjaan. Dampak dari tingginya angka kepadatan penduduk

(6)

12

itu sendiri yaitu penurunan kualitas penduduk ( pendidikan, kesehatan, pendapatan dan pekerjaan). Dengan masuknya para perantau yang mayoritas berpendidikan rendah di kota-kota besar khususnya akan mengisi lapangan pekerjaan di sektor informal (buruh kasar) yang memiliki upah dibawah standar. Dengan pendapatan yang rendah para perantau tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidupnya yang meliputi sandang, pangan dan papan sehingga menyulitkan mereka untuk hidup sejahtera. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu :

1. Kebijakan kependudukan dan keluarga berencana di wilayah Jawa Tengah cukup memadai.

2. Kualitas hidup masyarakat di provinsi Jawa Tengah di bidang pendidikan masih rendah.

3. Kepadatan penduduk provinsi Jawa Tengah sebesar 995 jiwa/Km² dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0,37%.

4. Kebijakan pemerintah provinsi Jawa Tengah di bidang pendidikan dibidang pendidikan adalah melaksanakan program belajar 9 tahun, BOS, pemberian beasiswa keluarga kurang mampu serta penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, kesastraan dan vokasi ; dibidang kesehatan dilakukan dengan program jamkesmas, jamkesda, peningkatan gizi, akses air bersih dan sanitasi bagi keluarga miskin serta peningkatan sarana dan prasarana kesehatan ; bidang pendapatan dilakukan dengan pengembangan usaha ekonomi produktif, pendampingan

(7)

13

UMKM dan memberikan kemudahan akses permodalan bagi industri kecil atau mikro ; bidang pekerjaan dilakukan dengan pengembangan kewirausahaan dan pengadaan pendidikan serta latihan bagi tenaga kerja dalam dan luar negeri ; sedangkan untuk mengatasi masalah kemiskinan dilakukan dengan inpres desa tertinggal, meningkatkan ketersediaan sarana dan pra sarana sosial ekonomi seperti bedah rumah.

5. Kebijakan untuk mengatasi laju pertumbuhan penduduk dilakukan dengan menyukseskan program KB dan untuk mengatasi masalah kepadatan penduduk dilakukan dengan program transmigrasi.

Berdasarkan penelitian diatas menunjukkan bahwa peneliti mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia di Sumatera Barat. Terdapat perbedaan variabel bebas dan metode penelitiannya. Hal demikian dapat dijadikan referensi agar dapat menyusun skripsi yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia di 5 Kota Besar Provinsi Sumatera Barat Tahun 2011–2017”.

(8)

14 2.2 Landasan Teori

2.2.1 Indeks pembangunan manusia (IPM)

Indeks pembangunan manusia adalah pengukuran perbandingan dari angka harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup layak. IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah Negara tergolong maju, berkembang atau terbelakang dan juga untuk mengukur dari kebijakan ekonomi terhadap kualitas hidup (id.wikipedia.org). pada tahun 1990 United Nation Development Programme (UNDP) untuk pertama kalinya memperkenalkan konsep Human Development Index (HDI) atau Indeks pembangunan manusia, dimana konsep ini menggabungkan antara indeks harapan hidup, indeks pendidikan dan indeks daya beli. Ukuran indeks manusia yang tercakup dalam tiga bidang yaitu indeks kesehatan, indeks ekonomi dan indeks pendidikan.

Sudah seharusnya permasalahan mengenai capaian pembangunan manusia menjadi perhatian pemerintah. Berbagai ukuran pembangunan manusia sudah banyak dibuat akan tetapi tidak semuanya dapat digunakan sebagai ukuran standar atau sebagai alat perbandingan antar wilayah atau antar negara. Atas permasalahan ini, maka Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan suatu ukuran standar pembangunan manusia yaitu IPM atau Human Development Index (HDI). Indeks ini dikembangkan pada tahun 1990 oleh pemenang nobel India Amartya Sen dan Mahbub Ul Haq seorang ekonom dari pakistan yang dibantu oleh Gustav Ranis. IPM sendiri lebih fokus pada hal-hal yang lebih sensitif dan berguna daripada hanya sekedar pendapatan per kapita

(9)

15

untuk melihat kemajuan pembangunan yang selama ini digunakan. IPM dapat mengetahui kondisi pembangunan di daerah dengan alasan

1. IPM menjadi indikator dalam mengukur keberhasilan pembangunan kualitas manusia.

2. IPM menjelaskan tentang bagaimana manusia mempunyai kesempatan untuk mengakses hasil dari proses pembangunan, sebagai bagian dari haknya seperti dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan.

3. IPM menjadi salah satu alat ukur kinerja di suatu daerah, khususnya dalam hal evaluasi terhadap pembangunan kualitas hidup masyarakat/penduduk.

4. Walaupun IPM menjadi indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam pembangunan kualitas hidup manusia, akan tetapi IPM belum tentu mencerminkan kondisi sesungguhnya, namun untuk saat ini merupakan satu-satunya indikator yang dapat digunakan untuk mengukur pembangunan kualitas hidup manusia.

United Nations Development Programme (UNDP) mendiskripsikan pembangunan manusia sebagai sebuah proses memperluas pilihan masyarakat. Dari sekian banyak pilihan, yang paling penting adalah berusia panjang yang sehat, mendapat pendidikan yang cukup, serta menikmati standar kehidupan yang layak. Menurut UNDP tahun 2010 Indeks pembangunan manusia di Indonesia berada di peringkat 108 dari 177 negara. Kejadian ini lebih buruk dari sebelumnya pada tahun

(10)

16

2007 dimana Indonesia menempati peringkat 107. Peringkat tersebut menempatkan Indonesia berada dibawah negara Singapura peringkat (27) Brunei peringkat (37) Malaysia peringkat (57), Thailand peringkat (92), Filipina peringkat (97).

2.2.2 Komponen-komponen Indeks pembangunan manusia (IPM)

(UNESCO, 2007) United Nations Development Programme (UNDP) dalam publikasinya melaporkan bahwa pembangunan sumber daya manusia dalam ukuran kuantitatif yang disebut Human Development Indeks (HDI). Meskipun HDI merupakan alat ukur pembangunan manusia yang dirumuskan secara konstan, diakui tidak akan pernah menangkap gambaran pembangunan SDM secara sempurna. Dimana indikator yang dipilih sebagai alat tolak ukur dimensi HDI adalah sebagai berikut:

 Longevity, diukur dengan variabel harapan hidup saat lahir atau life expectancy of birth dan angka kematian bayi per seribu penduduk atau infant mortality rate.

 Educational Achievement, diukur dengan dua indikator, yaitu melek huruf penduduk usia 15 tahun ke atas (adult literacy rate) dan tahun rata-rata bersekolah bagi penduduk 25 ke atas (the mean years of schooling).

 Access to resource, diukur secara makro melalui PDB rill perkapita dengan terminologi purchasing power parity dalam dolar AS serta dilengkapi dengan tingkatan partisipasi angkatan kerja (TPAK).

Indeks pembangunan manusia menjadi faktor penting dalam ukuran kesuksesan sebuah pembangunan daerah. IPM juga menjelaskan tentang cara manusia memilih

(11)

17

peluang untuk mengakses hasil dari proses pembangunan suatu wilayah, sebagai tanda bagian dari hak yang harus di terima seperti memperoleh pendapatan sesuai standard, pendidikan yang layak, fasilitas kesehatan yang memadai serta pemerataan kesejahteraan. Berdasarkan kajian mengenasi indeks pembangunan manusia, menurut UNDP HDI dapat digolongkan menjadi 3 tingkatan , yaitu :

 Tingkat rendah, jika nilai IPM <50

 Tingkat menengah, jika nilai IPM 50<80

 Tingkat tinggi, jika nilai IPM >80 (BPS-Bappenas-UNDP,2001).

2.2.3 Kegunaan IPM

IPM digunakan sebagai alat ukur apakah sebuah negara termasuk dalam kategori negara maju, berkembang atau terbelakang. Rumus perhitungan IPM secara sederhana adalah sebagai berikut :

IPM = 1/3 (A+B+C)

Dimana :

A = Indeks Harapan Hidup

B = Indeks Pendidikan

(12)

18 2.2.4 Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan ekonomi, dalam hal ini khususnya pembangunan sumber daya manusia. Dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dengan adanya pendidikan maka peningkatan kualitas sumber daya manusia mampu dicapai. Salah satu penilaian terhadap tingkat kemajuan suatu negara adalah pendidikan. Suatu negara dikatakan maju apabila masyarakatnya banyak yang berpendidikan tinggi. Begitu juga sebaliknya, apabila suatu negara tingkat pendidikan masyarakatnya banyak yang rendah maka negara tersebut dapat dikategorikan negara terbelakang. Maka dapat disimpulkan bahwa jika suatu negara memiliki pendidikan yang baik maka negara tersebut akan mengalami kemajuan.

Pendidikan merupakan sektor yang fundamental karena dapat menciptakan dampak yang positif dalam pembangunan walaupun dampaknya akan terasa beberapa tahun kemudian. Pendidikan juga memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan suatu Negara terhadap perkembangan kehidupan sosial ekonomi melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, kecakapan, sikap dan produktivitas, sehingga harapanya pendidikan mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.

2.2.5 Kependudukan

Menurut UU No.23 Tahun 2006, kependudukan adalah hal yang berkaitan dengan jumlah, pertumbuhan, persebaran, mobilitas, penyebaran, kualitas, kondisi kesejahteraan, yang menyangkut politik, ekonomi, sosial, budaya, agama serta

(13)

19

lingkungan. Kependudukan adalah hal yang ihwal yang berkaitan dengan jumlah, struktur, umur, jenis kelamin, agama, kelahiran, perkawinan, kehamilan, kematian, persebaran, mobilitas dan kualitas serta ketahanannya yang menyangkut ekonomi, sosial dan budaya.

Kependudukan adalah salah satu dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi pembangunan ekonomi suatu negara. Sedikit atau banyaknya penduduk dalam suatu negara bisa menjadi kerugian maupun keuntungan bagi negara tersebut, akan menjadi keuntungan apabila jumlah penduduk seimbang dengan sumber daya yang lain serta mempunyai kualitas hidup yang baik, sebaliknya menjadi kerugian apabila laju pertumbuhan penduduk tidak terkendali sehingga melebihi kapasitas wilayah negara tersebut (Charis Christiani,Pratiwi Tedjo,Bambang Martono, 2013).

2.2.6 Pertumbuhan Ekonomi

Todaro (2000), mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana kapasitas produksi dari suatu perekonomian meningkat sepanjang waktu untuk menghasilkan tingkat pendapatan yang semakin besar. Budiono (1994), pertumbuhan ekonomi adalah sebuah proses pertumbuhan output perkapita jangka panjang yang terjadi apabila ada peningkatan output yang bersumber dari proses intern perekonomian itu sendiri dan sifatnya sementara.

Sadono Sukirno (1985), pertumbuhan ekonomi adalah perubahan tingkat kegiatan ekonomi yang berlaku dari tahun ke tahun. Untuk mengetahui pertumbuhan

(14)

20

ekonomi, maka harus dilakukan perbandingan pendapatan nasional negara dari tahun ke tahun, yang kita kenal dengan laju pertumbuhan ekonomi.

2.2.7 Belanja Pemerintah

Belanja Pemerintah adalah semua pengeluaran kas pemerintah dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan, yang mengurangi kekayaan pemerintah daerah yang tersusun dengan pendekatan prestasi kerja yang berorientasi pada pencapaian hasil, dan hasil yang yang direncanakan melalui program dan kegiatan. Penggunaan anggaran Pemerintah yang berorientasi pada kinerja memberikan implikasi dalam melakukan efisiensi dalam belanja pemerintah. Strategi yang ditempuh pemerintah Kota Kediri di bidang keuangan daerah selain mengoptimalkan penggalian sumber-sumber penerimaan dan ekstensifikasi sumber-sumber penerimaan baru bagi peningkatan Pendapatan Asli Daerah selain mengoptimalkan penggalian sumber-sumber penerimaan dan ekstensifikasi sumber penerimaan baru bagi peningkatan Pendapatan Asli Daerah juga meningkatkan pengawasan terhadap proyek-proyek pembangunan dalam rangka efisiesi dan efektifitas pembangunan disertai dengan restrukturisasi dan reorganisasi kelembagaan untuk mendorong kinerja aparatur pembangunan (BPS:2012)

(15)

21 2.3 Kerangka Pemikiran

Berdasarkan landasan teori faktor-faktor yang mempengaruhi Indeks pembangunan manusia (IPM), maka kerangka pemikiran dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut :

2.2.1

2.3.1 Hubungan Pendidikan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Pendidikan merupakan salah satu komponen dari Indeks pembangunan manusia (IPM). Suatu wilayah bisa dikategorikan maju dalam pertumbuhan ekonominya apabila dilihat dari segi pendidikannya baik atau dengan kata lain tingginya angka partisipasi sekolah, terpenuhinya sarana dan prasarana pendidikan dan didukung oleh tenaga pengajar yang mumpuni. Dengan pendidikan yang baik maka kualitas sumber daya manusianya akan meningkat. Hal tersebut yang menjadikan pendidikan sebagai salah satu indikator penting dalam upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Angka Partisipasi Sekolah

Jumlah Penduduk (Kepadatan Penduduk) Laju Pertumbuhan Ekonomi Belanja Pemerintah (Jumlah Penduduk Miskin) Indeks pembangunan manusia (IPM)

(16)

22

Pendidikan merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur kesejahteraan manusia. Jika seseorang tingkat pendidikanya rendah, maka akan menyebabkan rendahnya produktivitas. Hal tersebut akan mempengaruhi kehidupannya, karena dengan rendahnya produktivitas maka upah yang didapatkan juga akan rendah sehingga tidak mampu dalam memenuhi kebutuhan pokoknya.

2.3.2 Hubungan Kependudukan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi menyebabkan ledakan penduduk, hal ini berimbas terhadap kualitas hidup dan tingkat kesejahteraan penduduk dalam suatu wilayah tertentu. Faktanya, kepadatan penduduk yang sangat mempengaruhi kualitas hidup masyarakat, banyak masalah yang timbul dikarenakan kepadatan penduduk yang tinggi di suatu wilayah yang mana menimbulkan persoalan seperti kemiskinan, kekumuhan, persaingan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan semakin sempit dan tingkat kriminalitas meningkat. Adanya permasalahan-permasalahan tersebut akan berdampak terhadap penurunan kualitas hidup masyarakat. Dapat diambil kesimpulan bahwa hubungan kepadatan penduduk dengan indeks pembangunan manusia yaitu negatif, katika angka kepadatan penduduk menurun maka nilai indeks pembangunan manusia akan meningkat, begitu juga sebaliknya ketika angka kepadatan penduduk meningkat maka nilai indeks pembangunan manusia akan menurun. (Charis Christiani,Pratiwi Tedjo,Bambang Martono, 2013).

(17)

23

2.3.3 Hubungan Pertumbuhan Ekonomi dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Pertumbuhan ekonomi meningkatkan persediaan sumberdaya yang dibutuhkan pembangunan manusia. Peningkatan sumberdaya bersama dengan alokasi sumberdaya yang tepat serta distribusi peluang yang semakin luas, khususnya kesempatan kerja akan mendorong pembangunan manusia lebih baik. Hal ini berlaku juga sebaliknya, pembangunan manusia mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi. Tingkat pembangunan manusia yang tinggi sangat menentukan kemampuan penduduk dalam menyerap dan mengelola sumber-sumber pertumbuhan ekonomi, baik kaitannya dengan teknologi maupun terhadap kelembagaan sebagai sarana penting untuk mencapai pertumbuhan ekonomi (Ramirez, et.al, 1998; Brata, 2004 dalam Matahariku1, 2009).

2.3.4 Hubungan Belanja Pemerintah dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Menurut Teory keynes belanja pemerintah mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Semakin meningkatnya belanja pemerintah semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Penelitian yang dilakukan Daniel J dan Michell,Ph.D meneliti tentang peran belanja pemerintah yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Menurut Daniel J dan Michell,Ph.D belanja pemerintah berperan penting dalam menunjang pertumbuhan ekonomi Belanja Pemerintah adalah semua pengeluaran kas pemerintah dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan, yang

(18)

24

mengurangi kekayaan pemerintah daerah yang tersusun dengan pendekatan prestasi kerja yang berorientasi pada pencapaian hasil, dan hasil yang yang direncanakan melalui program dan kegiatan

2.4 Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah dugaan semantara oleh suatu permasalahan dan perlu diuji kebenarannya. Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

1. Diduga angka partisipasi sekolah memiliki pengaruh positif terhadap Indeks pembangunan manusia di 5 kota besar Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2011-2017.

2. Diduga jumlah penduduk memiliki pengaruh negatif terhadap Indeks pembangunan manusia di 5 kota besar Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2011-2017.

3. Diduga laju pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh positif terhadap Indeks pembangunan manusia di 5 kota besar Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2011-2017.

4. Diduga belanja pemerintah memiliki pengaruh positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia di 5 kota besar Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2011-2017.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :