• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pra Rencana Pabrik Metana (Ch4) Dari Kotoran Sapi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pra Rencana Pabrik Metana (Ch4) Dari Kotoran Sapi"

Copied!
531
0
0

Teks penuh

(1)

PRA RENCANA PABRIK

METANA (CH4) DARI KOTORAN SAPI KAPASITAS 16.662 TON / TAHUN

SKRIPSI

Disusun Oleh:

MATIAS PONE

: 0305010010

PETRUS PULANG

: 0305010012

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI

MALANG

(2)

LEMBAR PERSETUJUAN

PRA RENCANA PABRIK

METANA (CH4) DARI KOTORAN SAPI KAPASITAS 16.642 TON / TAHUN

SKRIPSI Disusun Oleh:

Matias Pone : 0305010010 Petrus Pulang : 0305010012 Program Studi : Teknik Kimia

Fakultas : Teknik

Menyetujui,

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Ir. Achamad Chumaidi, MT Ir. Taufik Iskandar NIP : 131803725 NIY : 014024247

Mengetahui,

Dekan Fakultas Teknik Ketua Program Studi Teknik Kimia

Nawir Rasidi, ST. MT S. P. Abrina Anggraini, ST. MT

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Nama mahasiswa : Matias Pone (0305010010)

: Petrus Pulang (0305010012)

Program studi : Teknik Kimia Fakultas : Teknik

Judul skripsi : Pra Rencana Pabrik Metana (CH4) dari Kotoran Sapi dengan kapasitas 16.662 Ton / Tahun

Dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi jenjang strata satu (S - 1) Pada:

Hari : Sabtu

Tanggal : 11 Oktober 2008

Nilai :

Tim penguji:

1. Ir. Achamad Chumaidi, MT ... 2. Ir. Taufik Iskandar ... 3. Susy Yuniningsih. ST. MT ...

(4)

LEMBAR PERNYATAAN

Kami yang bertandatangan di bawah ini:

Nama mahasiswa : Matias Pone (0305010010)

: Petrus Pulang (0305010012)

Program Studi : Teknik Kimia Fakultas : Teknik

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul :Pra Rencana Pabrik Metana (CH4) dari Kotoran Sapi dengan kapasitas 16.662 Ton / Tahun, adalah hasil karya kami sendiri, bukan merupakan duplikasi serta tidak mengutip atau menyadur sebagian atau seluruhnya dari hasil karya orang lain, kecuali yang tidak disebutkan dari sumber aslinya.

Malang, November 2008 Yang menyatakan,

Matias Pone Petrus Pulang

0305010010 0305010012

Mengetahui,

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Ir. Achmad Chumaidi, MT Ir. Taufik Iskandar NIP : 131803725 NIY : 014024247

(5)

RIWAYAT HIDUP

Matias Pone.

Dilahirkan di : Kolikapa – Nagekeo, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 6 Mey 1982 dari pasangan Bapak Lukas Nuwa dengan Mama Lusia Sena. Penulis merupakan anak ke – 8 dari sembilan bersaudara.

Lulus pendidikan tingkat dasar pada SDK Watuapi, Wolowae – Nagekeo tahun 1995, pendidikan tingkat menengah pada SMP Negeri I Wolowae tahun 1999 dan SMUK Frateran Ndao Ende tahun 2002. Pada tahun akademik 2003/2004, penulis melanjutkan studi pada Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang Fakultas Teknik Program Studi Teknik Kimia.

Petrus Pulang

Dilahirkan di : Tokojaeng Lembata, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 29 Maret 1981 dari pasangan Bapak Gabriel Hering dengan Mama Katarina Kaleka Penulis merupakan anak ke – 4 dari enam bersaudara.

Lulus pendidikan tingkat dasar pada SDK Biarwala Kedang Lembata tahun 1993, pendidikan tingkat menengah pada SMPK St. Pius X Lewoleba tahun 1996 dan SMUK Seminari San Dominggo Hokeng tahun 2000.. Tahun 2000-2003 melanjutkan pendikan sebagai calon Imam SVD pada Novisiat Sang Sabda Kuwu Ruteng. Pada tahun akademik 2003/2004, penulis melanjutkan studi pada Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang Fakultas Teknik Program Studi Teknik Kimia.

(6)

ABSTRAKSI

PRA RENCANA PABRIK METANA (CH4) DARI KOTORAN SAPI DENGAN KAPASITAS 16.662 TON/ TAHUN

Metana adalah senyawa Hidrokarbon dengan rumus molekul CH4. Metana merupakan bahan kimia yang di gunakan sebagai biogas dan juga dapat digunakan sebagai bahan bakar listrik. Sebagai bahan baku pembuatan gas metana adalah kotoran sapi dan bahan pembantu air dan kapur. Proses pembuatan biogas merupakan proses fermentasi anaerobik yaitu proses dekomposisi bahan-bahan organik secara biologis dengan bantuan mikroorganisme yang menghasilkan biogas dan kompos pada lingkungan tanpa adanya oksigen. Secara umum kandungan karbon di dalam sampah dapat dikonversi menjadi biogas (campuran metana dan CO2), sedangkan kandungan nutriennya akan dikonversi menjadi kompos. Pada proses pembuatan gas metana akan mereaksikan bahan organik dan air dengan konversi 70% sehingga memperoleh kemurnian 99%.

Pra rencana pabrik Metana ini diharapkan mampu berproduksi dengan : Kapasitas produksi 16.662 ton/tahun,Waktu operasi 300 hari/tahun, 24 jam/hari Lokasi pabrik akan dibangun di Kecamatan Mbay Kabupaten Nagekeo Provinsi Nusa Tenggara Timur .Bentuk perusahaan Perseroan Terbatas (PT), Struktur Organisasi Garis dan Staft

Ditinjau dari perhitungan analisa ekonomi terhadap pabrik Metana, maka diperoleh data sebagai berikut :Total Capital Invesment (TCI) :Rp 176.674.606.135 Return Of Invesment (ROIBT) : 38,87 % Return Of Invesment (ROIAT) : 31,51 % Play Out Time (POT) : 3,5 tahun Break Even Point (BEP): 32,15 % Internal Rate Of Return (IRR) : 17,29 %.

Maka dapat disimpulkan bahwa Pra Rencana Pabrik Metana dari kotoran sapi dengan Kapasitas 16.662 ton/tahun adalah layak didirikan.

(7)

KATA PENGANTAR

Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bersuka cita karena Allah Juru Selamatku, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang besar kepadaku dan nama-Nya adalah Kudus. Atas berkat dan uluran tangan kasih-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir (PRP) yang berjudul “Pra Rencana Pabrik Metana Dari Kotoran Sapi dengan Kapasitas 16.662 Ton / Tahun”.

Penulisan tugas akhir ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Ir. Wani Hadi Utomo, M.Sc, selaku Rektor Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang yang telah memberi peluang bagi kami untuk belajar di kampus UNITRI.

2. Nawir Rasidi, ST. MT selaku Dekan Fakultas Teknik yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan dan dukungan dalam penyelesaikan tugas akhir ini.

3. SP. Abrina Anggraini, ST. MT selaku Ketua Program Studi Teknik Kimia yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan dan dukungan dalam penyelesaikan tugas akhir ini.

4. Ir. Achmad Chumaidi, MT selaku dosen pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan dan dukungan dalam penyelesaikan tugas akhir ini.

5. Ir. Taufik Iskandar selaku dosen pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan dan dukungan dalam penyelesaian tugas akhir ini.

6. Susy Yuniningsih. ST. MT. selaku dosen penguji atas bimbingan dan masukkan yang diberikan kepada penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

7. Orang tua dan seluruh keluarga besar yang selalu mendo’akan, memberikan dukungan dan semangat pada penulis mulai awal perkuliahan hingga mengerjakan tugas akhir ini.

8. Rekan-rekan teknik kimia terutama angkatan 2003 dan semua pihak yang telah banyak membantu hingga terselesainya tugas akhir ini.

Tugas akhir ini tentunya masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi penyempurnaan tugas akhir ini. Akhirnya, penulis berharap agar tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Malang, Novenber 2008

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

LEMBAR PERSETUJUAN

LEMBAR BERITA ACARA UJIAN TUGAS AKHIR LEMBAR PERNYATAAN

RIWAYAT HIDUP

LEMBAR PERSEMBAHAN

ABSTRAKSI ... i

KATA PENGANTAR... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR GRAFIK ... vi

BAB I. PENDAHULUAN ... I-1

BAB II. SELEKSI DAN URAIAN PROSES ... II-1

BAB III. NERACA MASSA ... III-1

BAB IV. NERACA PANAS ... IV-1

BAB V. SPESIFIKASI PERALATAN ... V-1

BAB VI. PERANCANGAN ALAT UTAMA FERMENTOR ... VI-1

BAB VI. PERANCANGAN ALAT UTAMA ABSORBER ... VI-1

(9)

BAB VIII. UTILITAS ... ...VIII-1

BAB IX. LOKASI DAN TATA LETAK ... IX-1

BAB X. ORGANISASI PERUSAHAAN ... X-1

BAB XI. ANALISA EKONOMI ... XI-1

BAB XII. KESIMPULAN ... XII-1

DAFTAR PUSTAKA

APPENDIX :

APPENDIX A. PERHITUNGAN NERACA MASSA ... APP A-1

APPENDIX B. PERHITUNGAN NERACA PANAS ... APP B-1

APPENDIX C. PERHITUNGAN PERALATAN ... APP C-1

APPENDIX D. PERHITUNGAN UTILITAS ... APP D-1

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. Komposisi gas bio...I-6

Tabel 1.2. Data Jumlah Sapi di Pulau Flores Propinsi NTT ...I-8

Tabel 2.1 Perbandingan sistem batch dan sistem kontinyu ...II-5

Tabel 3.1 Neraca Massa pada Tangki Pengencer Kapur ...III-2

Tabel 3.2 Neraca Massa pada Tangki Pencampur Feed ...III-2

Tabel 3.3. Neraca Massa pada Tangki Pemanas...III-4

Tabel 3.4 Neraca Massa pada Tangki Buffer...III-4

Tabel 3.5 Neraca Massa pada Fermentor...III-6

Tabel 3.6 Neraca Massa pada Absorber ...III-8

Tabel 3.7 Neraca Massa pada Menara Regenerasi ...III-9

Tabel 3.8 Neraca Massa pada Kompresor ...III-10

Tabel 3.9 Neraca Massa pada Screw Press ...III-11

Tabel 4.1. Neraca Panas pada Tangki Pemanas...IV-1

Tabel 4.2. Neraca Panas pada Fermentor...IV-2

Tabel 4.3. Neraca Panas pada Cooler ...IV-3

Tabel 7.1. Instrumentasi pada tiap peralatan...VII-5

Tabel 7.2. Alat keselamatan kerja...VII-14

Tabel 9.1. Keterangan Gambar ...IX-13

Tabel 10.1. Jadwal Kerja Karyawan ...X-12

Tabel 10.2. Perincian Jumlah Tenaga Kerja ...X-14

(11)

Tabel A.1. Neraca Massa pada Tangki Pengencer Kapur...APP A-1

Tabel A.2. Neraca Massa pada Tangki Pencampur Feed ...APP A-3

Tabel A.3. Neraca Massa pada Tangki Pemanas ...APP A-5

Tabel A.4. Neraca Massa pada Tangki Buffer...APP A-6

Tabel A.5. Neraca Massa pada Fermentor...APP A-8

Tabel A.6. Neraca Massa pada Absorber...APP A-13

Tabel A.7. Neraca Massa pada Menara Regenerasi...APP A-15

Tabel A.8. Neraca Massa pada Kompresor ...APP A-16

Tabel A.9. Neraca Massa pada Screw Press ...APP A-16

Tabel B.1. Neraca Panas pada Tangki Pemanas ...APP B-1

Tabel B.2. Neraca Panas pada Fermentor ...APP B-9

Tabel B.3. Neraca Panas pada Cooler...APP B-17

Tabel D.1. Kebutuhan Air Pendingin ...APP D-2

Tabel D.2. Kebutuhan Air Proses ...APP D-3

Tabel D.3 . Kebutuhan Air yang di Disuplay………...APP D-3

Tabel D.4. Pemakaian listrik pada peralatan proses produksi ...APP D-103

Tabel D.5. Pemakaian listrik pada daerah pengolahan air...APP D-103

Tabel D.6. Pemakaian listrik untuk penerangan ...APP D-105

Tabel E.1. Indeks Harga Alat Pada Tahun Sebelum Evaluasi ...APP E-2

Tabel E.2. Harga Peralatan Proses pada Tahun 2010 ...APP E-5

Tabel E.3. Harga Peralatan Utilitas pada Tahun 2010...APP E-6

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Diagram alir sistem batch ...II- 2

Gambar 2.2. Pembuatan Gas metana secara kontinue ...II- 4

Gambar 9.1. Peta Lokasi Pabrik Gas Metana ... ... IX-8

Gambar 9.2. Tata letak Pabrik Gas Metana ...IX-12

(13)

DAFTAR GRAFIK

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Saat ini Indonesia menerapkan kebijakan baru yang cukup meresahkan

masyarakat yaitu pengurangan subsidi bahan bakar minyak secara bertahap. Ini

menyebabkan harga BBM semakin hari akan semakin meninggi yang tidak diimbangi

dengan daya beli masyarakat. Padahal selama ini masyarakat telah sedemikian

tergantung terhadap bahan bakar fosil ini.

Energi alternative kurang begitu dilirik oleh pemerintah dan juga masyarakat.

Sehingga aplikasinya hanya bersifat proyek penelitian ataupun proyek kecil yang

bersifat lokal. Padahal energi alternative yang terbarukan sebenarnya sangatlah

mudah dikonstruksikan dan dipakai.

Sementara di Indonesia bergolak masalah bahan bakar fosil, maka masyarakat

di luar negeri telah membangun instalasi dalam skala besar untuk memproduksi

energi alternatif dari bahan terbarukan serta ramah lingkungan. Salah satunya adalah

biogas.

Bahan baku dari biogas ini sangat mudah dan bermacam-macam yaitu limbah industri

(padat dan cair) pertanian dan peternakan serta limbah domestik/sampah kota.

Dinegara lain seperti India dan Cina biogas digunakan untuk bahan bakar memasak

(15)

dan penerangan /listrik. Sedangkan di Negara-negara Eropa dan Amerika biogas

digunakan sebagai bahan bakar (biofuel).

Kotoran sapi merupakan bahan baku utama dan terbaik serta memiliki hasil

biogas yang paling besar dibandingkan dengan bahan lain, selain itu waktu

inkubasinya juga lebih cepat

Pembuatan biogas ini umumnya merupakan program Zero Weste, yaitu

dengan mengolah limbah menjadi kompos dengan proses yang mudah serta

menghasilkan zat hara yang bernilai tinggi. Sehingga ini akan menjadi solusi dari

meningginya harga pupuk kimia. Karena di samping masalah harga, penggunaan

pupuk kimia serta kontiyu akan menyebabkan tanah akan menjadi keras dan

kehilangan unsure hara.

1.2. Manfaat Gas Metana

Dari hasil penelitian menunjukan bahwa biogas untuk 1 ekor sapi yang

dihasilkan adalah 1 m3/hari (maksimal) dan 1 m3/hari untuk 1,5 ekor sapi. Jika nilai

kalor 1 m3 biogas minimal adalah 4.700 kkl (efisiensi kompor 60), sedangkan nilai

kalor minyak tanah 9100 kkl (efisiensi kompor 50%), maka 1 m3 biogas akan setara

dengan 0,62 liter minyak tanah.

Peternak sapi perah yang memiliki 4 ekor peliharaan dan mendaptkan biogas

sebanyak 2,7-4 m3/hari yang artinya dapat menghemat 1,7 – 2,5 liter minyak/hari.

(16)

Jumlah yang lebih dari cukup untuk keperluan penyediaan energi rumah tangga

pedesaan. Jumlah ini juga setara dengan 9,5 – 14 kg kayu bakar /hari.

Dari analisa tersebut dapat diperkirakan berapa penghematan minyak tanah

secara makro jika pemanfaatan biogas ini dilakukan secara intensif dan terstruktur.

Begitu pula dengan penurunan perusakan lingkungan hidup akibat pengambilan kayu

bakar yang secara terus menerus. Selain itu adalah solusi dari penanggulangan

masalah limbah peternakan yang dikhawatirkan bisa mengganggu kesehatan manusia.

Secara spesifik dan lebih lanjut biogas dengan pengambilan metana murni

dapat dikonversi menjadi berbagai macam energi dan aplikasinya yaitu 1 m3 biogas

dapat digunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti:

1. Memasak untuk keperluan keluarga (5-6 orang) selam 3 jam.

2.

Menyalakan lampu listrik 80 watt selam 6 jam 3.

Menjalankan motor berkekuatan 1 hp selam 2 jam 4. Menggerakan truk berbobot 3 ton sejauh 2,8 km. 5.

Membangkitkan listrik sebesar 1,25 kw

1.3. Komposisi dan Sifat Bahan Baku dan Produk 1.3.1. Sifat Bahan Baku Utama

Bahan baku utama: Kotoran Sapi

Sifat Fisika:

- Bentuk; Padat (19,78% cair)

(17)

-Warna: Hijau

-Bau: Tajam dan menyengat

Sifat kimia:

- Larut dalam air

-pH asam

-Bersifat korosi

Unsur-unsur yang terdapat dalam kotoran sapi adalah :

Selulosa = 76,52% NH3 = 1,46% P (Phosfor) = 0,93% K (Kalium) = 0,68% Ca (Calsium) = 0,24% Mg = 0,18% H2S = 0,21% Air = 19,78%

1.3.2. Sifat-sifat bahan pembantu 1. Air (H2O)

Sifat fisika:

• Tidak berwarna • Tidak bau

• Pelarut yang baik

(18)

Sifat kimia: • Rumus kimia: H2O • Berat molekul: 18 • Titik beku: 00 C • Titik didih: 1000 C 2. Kapur (Ca(OH)2) Sifat fisika:

• Berwarna putih gading • Bentuk kristal hexagonal • Larut dalam air dan NH4Cl Sifat kimia:

• Berat molekul: 74,10 • Spesifik grafity: 2,2 • Titik lebur: 5800

C

• Panas pembentukan: -213,90 kkal/mol • Energi pembentukan: -213,90 kkal/mol

1.3.3. Produk utama: Methane (CH4)

Gas metana terdapat dalam biogas dengan komposisi sebagai berikut :

(19)

Table 1.1. Komposisi gas bio

Komponen Konsentrasi Metana (CH4)

Karbon diosida (CO2) Air (H2O) Hidrogen sulfida (H2S) Nitrogen (N2) Oksigen (O2) Hidrogen (H2) 50 -75% vol. 25 – 45% vol. 2 – 7% vol. (20 – 40o C ) 20 – 20.000 ppm <2% vol. <2% vol. <1% vol.

Sumber : Kaltschmitt dan Hartmann, 2001

Sifat fisika: • Bentuk = gas • Titik lebur = 182,60 C • Titik didih = 161,40 C • Tidak berbau • Tidak berwarna Sifat Kimia: • Berat molekul = 16,04

• Kelarutan dalam (100 bagian) air = 0,420 cc

• Larutan dalam (100 bagian) alkohol = 4720 cc

• Larutan dalam (100 bagian) ether = 10420 cc

• Spesifik geravity = 0,415+164 • Ekplosif pada komsentrasi 10-12%

(20)

1.3.4. Produk Samping 1. dry ice

Sifat kimia:

• Berwarna putih

• Berbentuk gumpalan es kering • Tidak mudah mencair

Sifat kimia

• Barat molekul: 44,004 • Solubility: 79ft3

/ft3 air

• Panas laten: 241 BTU 2. Kompos

Sifat fisik

• Bentuk: padat (5%air) • Warna: hijau

• Bau: tidak terlalu tajam Sifat kimia

• Larut dalam air • pH asam

• Bersifat korosi

(21)

1.3.5. Perhitungan kapasitas pabrik

Dalam mendirikan pabriik diperlukan suatu perkiraan kapasitas produksi agar

produk yang dihasilkan sesuai dengan permintaan dan bahan bakunya.

Berdasarkan tabel 1.2 maka pabrik layak didirikan di daerah Flores Tengah

tepatnya di kota Mbay Kabupaten Nagekeo, karena jumlah populasi sapi paling

banyak dan secara transportasinya menguntungkan karena tidak terlalu jauh antara

daerah yang satu dengan yang lainnya dan juga dekat dengan daerah pemasaran yaitu

pusat pemasaran wilayah Flores. Dengan populasi ternak rata-rata sebesar 57.118

ekor sehingga kebutuhan bahan baku bisa mencukupi. Kotoran yang dihasilkan

setiap sapi sekitar 8 – 15 kg /hari, diambil asumsi kotoran yang dihasilkan 10 kg/hari

dan populasi sapi yang dipakai 35.000 ekor sehingga persediaan bahan baku

(kapasitas bahan baku) per hari kotoran sapi adalah 350.000 kg/hari.

Tabel 1.2. Data Jumlah Sapi di Pulau Flores Propinsi NTT

Kabupaten Total %

Tahun Flotim Sikka Ende Ngada Manggarai

2003 1499 4621 6393 32869 10031 55413 2004 1528 4711 6517 33505 10225 56486 1.94 2005 1555 4795 6647 34263 10447 57707 2.16 2006 1586 4889 6781 34953 10658 58867 2.01 Jumlah 228473 6.11 Rerata 57118 2.04 Sumber : BPS Propinsi NTT

Untuk menentukan kapasitas bahan baku pabrik digunakan rumus :

F = P (1 + i)n

(22)

Dimana :

F = Nilai tahun mendatang

P = Nilai tahun sebelumnya

i = Nilai persentase kenaikan

n = Selisih tahun (2010-2006)

Asumsi :

Kenaikan populasi ternak sapi tiap tahun 2,04%

Maka :

F = 58.867 (1 + 0,0204)4

= 58.867 (1,0204)4

= 58.867 x 1.084131

= 63.820

Untuk menetukan kapasitas pabrik per tahun diasumsi 55% dari populasi

ternak sapi. Sehingga pabrik diperkirakan berdiri di kota Mbay Kabupaten Ngada,

dengan basis bahan baku per tahun 105.000 ton/tahun. Dengan dasar perhitungan

bahan baku per hari yaitu 350.000 kg/hari = 350 ton/hari.

Proses produksi dalam 1 tahun = 300 hari

Basis bahan baku dalam 1 tahun = 350 ton/hari x 300 hari/tahun

= 105.000 ton/tahun

Jadi pabrik tersebut merupakan pabrik biogas (metana) dengan skala

menengah yang belum pernah ada di Indonesia, sedangkan pabrik biogas yang ada

(23)

adalah pabrik biogas untuk energi listrik di daerah Jawa Barat, dan beberapa dengan

skala rumah tangga yang tersebar di daerah pedesaan di pulau Jawa.

(24)

BAB II

SELEKSI DAN URAIAN PROSES

2.1. Pengertian Seleksi Dan Uraian Proses

Seleksi dan uraian proses merupakan suatu bagian dalam perencanaan

pendirian pabrik dimana pada bagian tersebut akan dipilih atau diseleksi dalam

beberapa alternatif proses yang memungkinkan. Pemilihan proses akan

disesuaikan tentang bagaimana memilih proses dengan memperhatikan parameter

segi teknis dan segi ekonomis. Segi teknis meliputi proses dan kondisi operasi,

sedangkan segi ekonomis meliputi biaya operasi. Proses yang dipilih akan

disesuaikan pada uraian proses secara detail.

2.2. Tujuan Seleksi dan Uraian Proses

Tujuan seleksi dan uraian proses untuk mendapatkan proses yang terbaik

diantara beberapa alternatif proses yang memungkinkan dari segi teknis maupun

segi ekonomis.

2.3. Macam-macam Proses

Proses pembuatan gas metana dari kotoran sapi dilakukan dengan proses

fermentasi anaerobik (tidak kontak dengan udara luar) di dalam reaktor yang

sekaligus sebagai fermentor dan disebut dengan digester.

Macam-macam prosesnya antara lain :

2.3.1. Sistem batch

Batch adalah jenis digester yang pengisian bahan organik (campuran

kotoran ternak dan air) dilakukan sekali sampai penuh, kemudian ditunggu sampai

biogas dihasilkan. Setelah biogas tidak berproduksi lagi atau produksinya sangat

(25)

rendah, isian digesternya dibongkar, lalu diisi kembali dengan kotoran sapi yang

baru. Sistem pengumpanan dilakukan ke dalam digester, kalau menggunakan

starter maka ditambahkan secara bersamaan. Setelah itu ditunggu sampai masa

inkubasi berakhir 3-4 minggu dan gas hasil (biogas) diperoleh pada lubang output

secara kontinyu. Setelah selesai maka bahan dikeluarkan secara bersamaan pula.

Jumlah gas yang diperoleh setiap hari akan meningkat hingga pencapaian

maksimum dan kemudian menurun. Untuk mengatasi ketidakstabilan peroleh gas

maka sistem ini membutuhkan digester yang cukup besar dan dalam jumlah

banyak secara paralel untuk waktu star yang berbeda.

Untuk mengatasi temperatur digester dan mengencerkan limbah padat,

sebagian liquid dimasukkan ke digester dari atas dipompa melewati heat

exchanger dan direycle ke atas digester.

fweFFFFF Feed Metana Slury Adsorber Fermentor

Gambar 2.1. Diagram alir sistem batch.

2.3.2. Sistem kontinyu

Kontinyu adalah jenis digester yang pengisian bahan organiknya dilakukan

setiap hari dalam jumlah tertentu, setelah biogas mulai berproduksi. Pada

pengisian awal digester diisi penuh, lalu ditunggu sampai biogas berproduksi.

(26)

Setelah berproduksi pengisian bahan organik secara kontinyu setiap hari dengan

jumlah tertentu.

Setiap pengisian bahan organik yang baru akan selalu diikuti pengeluaran

bahan sisa (sludge). Karena itu, jenis digester ini akan didesain dengan membuat

lubang pemasukkan dan lubang pengeluaran. Sludge adalah cairan lumpur yang

keluar dari digester yang telah mengalami fermentasi. Sludge bisa dipisahkan

menjadi bagian padatan dan cairan yang semuanya dapat dimanfaatkan langsung

sebagai pupuk tanaman, yaitu pupuk organik padat dan pupuk organik cair.

Digester jenis kontinyu mempunyai dua model yatiu model tetap (fixed)

dan model terapung (floating). Perbedaan model ini adalah pengumpul biogas

yang dihasilkan. Pada model floating, pengumpul gasnya terapung diatas sumur

pencerna sehingga kapasitasnya akan naik turun sesuai dengan produksi gas yang

dihasilkan dan pemanfaatan gas untuk memasak.

(27)

Bahan baku (kotoran Sapi)

Pemberian bahan baku dilakukan secara terus Pemberian bahan baku dilakukan secara terus menerus dalam jumlah tertentu.

menerus dalam jumlah tertentu. Tahap Prereatement Tahap Prereatement Tangki pencampur air Fermentasi • Tahap hidrolisa • Tahap pengasaman • Tahap pembentukan metana Pemberian starter Tahap Reaksi Tahap Reaksi Pendinginan (30 0C) Tahap Pemurnian Tahap Pemurnian Kompresi (10 bar) Penyerapan gas H2S dan CO2 Gas impuritis

Tahap Penanganan Produk Tahap Penanganan Produk

Metana 99% Kompresi 3 bar Tahap Penanganan Tahap Penanganan Produk Samping Produk Samping Pengemasan Kompresi (46 bar) Dry ice Regerasi Produk bawah

Gambar 2.2. Pembuatan Gas metana secara kontinue Gambar 2.2. Pembuatan Gas metana secara kontinue

(28)

2.4. Pemilihan proses

Perolehan gas dengan jumlah dan kualitas maksinum dapat dilakukan

dengan pemilihan proses yang tepat, dan didukung dengan pertimbangan dari

aspek teknis, biologis dan ekonomi serta lingkungan. Perbandingan dapat dilhat

pada tabel berikut ini :

Tabel 2.1. Perbandingan sistem batc dan sistem kontinyu

Parameter Sistem batch Sistem kontinyu

Teknis • Kurang fleksibel

• Tidak membutuhkan teknologi tinggi.

• Sulit dilkontrol, resiko

ledakan selama pengosongan.

• Membutuhkan pretreatment yang rumit.

• Desain fleksibel

• Membutuhkan teknologi yang tinggi

• Mudah dikontrol selam operasi

• Tidak membutuhkan pretreatment yang rumit

Biologis • Organic Loading Rate kecil • Yield biogas kecil

• Waktu fermentasi lambat

• Organic Loading Rate tinggi • Yield biogas tinggi

• Waktu fermentasi cepat Ekonomi

dan

lingkungan

• Biaya infestasi kecil

• Dibutuhkan lahan yang luas • Biaya pengendalian slury

besar • POT lambat • ROI rendah

• Biaya investasi besar

• Tidak membutuhkan lahan luas

• Biaya pengendalian slury kecil

• POT cepat • ROI tinggi

(29)

Dilihat dari parameter yang ada maka dapat diputuskan bahwa proses yang

digunakan dalam perencanaan pabrik biogas ini adalah proses secara

kontinyu-dengan dasar pertimbngan sebagai berikut :

• Aspek teknis yang fleksibel dan mudah dikontrol • Tidak membutuhkan pretreatment yang rumit

• Produk yang dihasilkan lebih banyak dan berkualitas • Dari segi ekonomi lebih menguntungkan

• Pada tahap uraian proses ada yang dilakukan secara kontinyu dan juga secara batch.

2.5. Uraian Proses

Proses pembuatan biogas merupakan proses fermentasi anaerobik yaitu

proses dekomposisi bahan-bahan organik secara biologis dengan bantuan

mikroorganisme yang menghasilkan biogas dan kompos pad lingkungan tanpa

adanya oksigen. Secara umum kandungan karbon di dalam sampah dapat

dikonversi menjadi biogas (campuran metana dan CO2), sedangkan kandungan

nutriennya akan dikonversi menjadi kompos.

Proses pembuatan gas metana secara garis besar dibagi ke dalam

tahap-tahap berikut ini :

1. Tahap pretreatment

2. Tahap reaksi

3. Tahap pemurnian produk

4. Tahap penamganan produk utama

5. Tahap penanganan hasil samping

(30)

2.5.1. Tahap pretreatment

Pada tahap persiapan bahan baku dilakukan proses secara kontinyu. Pada

tahap ini faktor yang perlu diperhatikan untuk mempermudah proses reaksi serta

mampu menghasilkan produk dengan kuantitas dan kualitas yang tinggi adalah :

1. Pemilihan jenis bahan baku dan kualitasnya

Bahan baku dalam bentuk selulosa mudah dicerna oleh bakteri anaerobik.

Tetapi bila banyak mengandung lignin maka pencernaa menjadi sukar.

2. Faktor keasaman (pH)

pH optimum bakteri anaerobik bekerja yaitu antara 6,8 – 8. Pada kondisi

ini akan mencapai hasil laju produksi maksimum.

3. Pengenceran bahan baku isian

Jenis kotoran pengencer isian dengan air dilakukan berbeda-beda agar

diperoleh isian dengan kandungan bahan kering yang optimum. Adapun

isian yang paling baik untuk menghasilkan gas metana mengandung 7 – 9

% bahan kering.

4. Faktor temperatur

Perkembangbiakan bakteri dipengaruhi oleh temperatur. Temperatur kerja

yang optimum untuk menghasilkan metana adalah 300C.

5. Faktor pengadukan

Pengadukan dilakukan agar hambatan terhadap laju gas metana yang

dihasilkan dapat dikurangi. Adapun hambatan yang sering terjadi biasanya

bahan baku yang membentuk kerak pada permukaan cairan.

(31)

Bahan baku berupa kotoran sapi dengan pH 4-5 dan suhu 300 C ditampung

dalam Storage kotoran sapi (F-113) kemudian diangkut dengan bucket elevator

(J-117) menuju bin kotoran (F-114) ke dalam tangki pencampur/mixing tank

(M-110) beroperasi 15-50 rpm, kemudian disertai dengan penambahan air dengan

perbandingan 2 : 1 ( 2 kg air : 1 kg kotoran sapi ). Bubuk kapur dari bin kapur

(F-112) dialirkan ke tangki pengencer (M-111) untuk diencerkan dengan air hingga

konsentrasi 10 %, kemudian hasilnya dialirkan ke mixing tank. Hasil campuran

dari mixing tank dipompa ke tangki pemanas (R-121) sampai suhu sekitar 50 0C

dan pH 7-8. setelah itu bahan siap dipompa ke tahap berikutnya.

2.5.2. Tahap reaksi

Pada tahap ini proses yang digunakan secara batch dimana setelah bahan

memenuhi syarat pH 7-8 dan temperatur 50 0C serta tekanan 1 bar, maka dapat

langsung dipompakan ke tangki buffer (F-123) untuk pengkondisian kapasitas

untuk mensuplai kebutuhan feed pada digester/fermentor (R-120). Bahan

dimasukkan dalam fermentor dengan tujuan untuk didegradasi / diuraikan oleh

bakteri fermentatif untuk menghasilkan biogas dengan retention time pada

digester adalah 2 hari. Dari biogas yang dihasilkan maka lebih dari 60 % berupa

gas metana. Proses dalam tahap ini dijaga pada pH 7-8 dan suhu 50 0C.

Mikrobia merupakan salah satu faktor kunci yang ikut menentukan berhasil

tidaknya suatu proses penanganan limbah cair organik secara biologi. Keadaan

sangat penting diperlukan untuk berbagai tahapan dalam perombakan bahan

organik.

(32)

Machaim (1992) menyatakan bahwa efektifitas biodegradasi limbah organik

menjadi metana membutuhkan aktifitas metabolik yang terkoordinasi dari

populasi mikroba yang berbeda-beda. Populasi mikroba dalam jumlah dan kondisi

fisiologi yang siap diinokulasikan pada media fermentasi disebut sebagai starter.

Sejumlah besar bakteri anaerobik yang terlibat dalam proses hidrolisis dan

fermentasi senyawa organik antara lain adalah Bacteroides, Bifidobacterium,

Clostridium, Lactobacillus, dan Streptococcus. Bakteri asidogenik (pembentukan

asam) seperti Clostridium, bakteri asetogenik (bakteri yang memproduksi asetat

dan H2) seperti Syntrobacter wolinii dan Syntrohomonas wolfei (Said, 2006).

Berikut dalah mekanisme reaksi perombakan bahan organik (selulosa) :

1. Tahap Hidrolisa

Pada tahapan hidrolisa, mikroba hidrolitik mendegradsi senyawa organik

kompleks yang berupa polimer menjadi monomernya yang berupa senyawa tak

terlarut dengan berat molekul yang lebih ringan. Proses hidrolisis membutuhkan

mediasi exo-enzim yang dieksresi oleh bakteri fermentatif. Pada tahap hidrolisis,

bahan-bahan biomasa yang mengandung selulosa, hemiselulosa diuraikan

Hidrolisis molekul komplek dikatalisasi oleh enzim ekstra seluler seperti sellulase,

protease dan lipase (Said, 2006).

Reaksi yang terjadi :

C6H10O5 + H2O C6H12O6

Selulosa glukosa

C6H12O6 + H2O 2CH3CH2OH + 2CO2

Glukosa etanol

(33)

2. Tahap Asetogenesis

Monomer-monomer hasil hidrolisis dikonversi menjadi asam asetat.

CH3CH2OH + 2CO2 CH3COOH + 2H2

Etanol asam asetat

3. Tahap Pembentukan Metana (Metanogenesis)

Pada tahap ini, terbentuk metana dan karbondioksida. Metana dihasilkan dari

asam asetat.

CH3COOH CH4 + CO2

Asam asetat metana

2.5.3. Tahap pemurnian

Pada tahap ini produk berupa biogas dilewatkan cooler (E-131) untuk

menurunkan suhu dari 50 0C hingga 30 0C, kemudian dialirkan ke kompresor

(G-132) untuk menaikkan tekanan dari 1 bar hingga 10 bar. Setelah itu langsung

dialirakan ke absorber (D-130) untuk penyerapan gas H2S dan CO2 dengan

menggunakan air pada suhu yang sama yaitu 30 0C, gas CH4 yang tidak larut

dalam air dapat langsung diperoleh sebagai produk utama dengan kemurnian 99%,

dan ditangkap oleh gas holder (F-134).

2.5.4. Tahap penanganan produk

Gas metana pada suhu 30 0C dan tekanan 10 bar yang sudah dimurnikan

hingga 99% ditangkap oleh gas holder (134), kemudian dicairkan dengan

penaikkan tekanan pada kompresor (G-139) sampai tekanan 46 bar. Setelah itu

metana siap dikemas dan dipasarkan.

(34)

2.5.5. Tahap penanganan produk samping

Gas impurities yang telah terlarut dalam air, dilewatkan ekspander (G-135)

untuk menurunkan tekanan dari 10 bar hingga 1 bar pada suhu 30 0C, agar

solubilitynya turun hingga mendekati nol, sehingga gas impurities tersebut

terpisah dari air. Pemisahan gas impurities terjadi dalam kolom menara regenerasi

(F-136), dimana air akan menjadi produk bawah dan direcycle menuju kolom

water scrubber sedangkan gas impurities menjadi produk atas dan diolah lebih

lanjut.

Gas impurities yang telah dipisahkan dengan air dikompresi dengan

kompresor multistage (G-138), proses yang terjadi pertama tekanan mencapai titik

kritis CO2 sehingga gas H2S terpisah dan menguap ke atas dan masuk flare.

Setelah dikompresi, lebih lanjut CO2 menjadi snow (dry ice) dan siap dikemas.

Sludge hasil samping dari proses fermentasi dilewatkan pada screw press (H-140)

untuk memisahkan menjadi padatan dan cairan. Hasil padatan akan diaerasi dalam

bak terbuka menjadi kompos (F-142), sedangkan cairnya akan menjadi pupuk cair

dan masuk ke bak penampung slury cair (F-141).

(35)

BAB III NERACA MASSA

Keperluan bahan dalam satu (1) hari adalah sebanyak 300 ton/hari atau 300.000

kg/hari.

Basis bahan baku per tahun = 105.000 ton

= 105.000.000 kg.

Basis bahan baku per jam =105.000.000

tahun kg x 21 hari jam x 300 tahun hari

Basis Bahan baku per jam = 16.666,7 kg/jam

Kapasitas pabrik = 2644,8 kg/jam

= 2644,8 kg/jam x 21 kg/hari x 300 kg/ tahun

= 16.662.240 kg/tahun

= 16.662,240 ton/tahun

Dalam satu tahun = 300 hari kerja

1 hari = 21 jam

Satuan = kg/jam

(36)

1. Tangki Pengencer Kapur (M-111)

Fungsi : untuk mengencerkan konsentrasi bubuk kapur 93% menjadi susu kapur

10 %.

H2O

CaO 93% Ca(OH)2 10 %

Bahan Masuk (Kg/jam) Bahan Keluar (Kg/jam) CaO = 4,3899 kg H2O untuk reaksi = 1,3104 kg Ca(OH)2 = 5,4 kg H2O = 54 kg Inert = 0,02073 kg Losess = 0,01 Jumlah = 5,7003 kg Air pengencer = 54 kg Jumlah = 59,7003 kg Jumlah = 59,7003 kg

2. Tangki Pencampur Feed (M-110)

Fungsi : untuk mencampurkan kotoran sapi serta air pengencer.

(37)

H2O

Kotoran Sapi Kotoran sapi + Ca(OH)2 Mixing tank

Bahan Masuk Bahan Keluar

Kotoran sapi Selulosa= 76,52% x 16.666,7 = 12.753,36 kg NH3 = 1,46 % x 16.666,7 = 243,33 kg P = 0,93% x 16.666,7 = 155 kg K = 0,68% x 16.666,7 = 113,334 kg Ca = 0,24% x16.666,7 = 40 kg Mg = 0,18% x16.666,7 =30 kg H2S = 0,21% x16.666,7 =35 kg Air = 19,78% x16.666,7 =3296,67 kg Selulosa = 12753,36 kg NH4OH = 500,85 kg P = 155 kg K = 113,334 kg Ca = 40 kg Mg =30 kg H2S =35 kg Ca(OH)2= 0,54 kg Air = 19711,16 kg Inert = 0,02 kg Losses =0,01 Total = 16.666,7 kg Air Pengencer = 16.666,7 kg ` Total = 33333.34 kg Total = 33333.34 kg III- 3

(38)

3. Tangki Pemanas (R-121)

Fungsi: untuk memanaskan feed sebelum dicampur dengan susu kapur.

Feed masuk Feed Keluar T = 500 C

Bahan Masuk Bahan Keluar

Selulosa = 12753,4 kg NH4OH = 500,85 kg P = 155 kg K = 113,334 kg Ca = 40 kg Mg =30 kg H2S =35 kg Ca(OH)2= 0,54 kg Air = 19711,16 kg Selulosa = 12753,4 kg NH4OH = 500,85 kg P = 155 kg K = 113,334 kg Ca = 40 kg Mg =30 kg H2S =35 kg Ca(OH)2= 0,54 kg Air = 19711,16 kg Inert = 0,01 Losess = 0,02 Total = 33333.34 kg Total = 33333.34 kg 4. Tangki Buffer (F-123)

Fungsi : untuk menstabilkan pH

(39)

Ca(OH)2 10 %

Feed Masuk Feed Keluar

Bahan Masuk Bahan Keluar

Selulosa = 12753,4 kg NH4OH = 500,85 kg P = 155 kg K = 113,334 kg Ca = 40 kg Mg =30 kg H2S =35 kg Ca(OH)2= 0,54 kg Air = 19711,16 kg Total = 33333.34 kg Kapur : Ca(OH)2 = 5,4 kg H2O = 54 kg Inert = 0,03073 kg Selulosa = 12753,4 kg NH4OH = 500,85 kg P = 155 kg K = 113,334 kg Ca = 40 kg Mg =30 kg H2S =35 kg Ca(OH)2= 5,4 kg Air = 19.765.16 kg Inert = 0,02073 kg Losess = 0,01 Total = 33392,77 kg Total = 33392,77 kg III- 5

(40)

5. Fermentor (R-120)

Fungsi : untuk tempat perombakan senyawa organik menjadi biogas.

Gas

Dari tangki

Slurry 70%

(41)

Bahan Masuk Bahan Keluar Dari Tangki Buffer

Selulosa = 12.753,36 kg NH4OH = 500,85 kg P = 155 kg K = 113,334 kg Ca = 40 kg Mg = 30 kg H2S = 35 kg Ca(OH)2 = 5,4 kg H2O = 19.765,16 kg Insert = 0,03 kg Dari Tangky Starter

Selulosa = 769.5939 NH4OH = 14.6838 P = 9.3534 K = 6.8390 Ca = 2.4137 Mg = 1.8103 H2S = 2.1120 Air = 198.9356 Produk atas CH4 = 2644,8 kg CO2 = 7273,2 kg H2S = 35 kg H2O = 665,64 kg Total = 10.618,64kg Produk bawah : Selulosa = 3604.954 kg NH4OH = 515.5338 P = 155 kg K = 113,334 kg Ca = 40 kg Mg = 30 kg Ca(OH)2= 5,4 kg H2O = 19298,46 kg Inert = 0,02 kg Losess = 0,01 Total = 34.398,5129 Total = 34.398,5129 III- 7

(42)

6. Absorber (D-130)

Fungsi : untuk mengurangi kadar CO2 dan H2S dalam campuran biogas

CH490% Air Biogas air = CO2 + H2S Masuk Keluar Biogas CH4 = 2644,8 kg CO2 = 7273,2 kg H2S = 35 kg H2O = 665,64 kg Total = 10.618,64 kg Air proses = 2.438,06 kg Produk atas CH4 = 2644,8 kg CO2 = 25,9757 kg Total = 2670,7757 kg Produk bawah: H2S = 35 kg CO2 = 7247,2243 kg H2O = 3103,7 kg Total = 10.385,9243 kg Inert = 0,02 Losess = 0,01 Total = 13.056,7 kg Total = 13.056,7 kg III- 8

(43)

7. Menara Regenerasi (F-137)

Fungsi : untuk memisahkan kembali gas H2S dan CO2 dari air, karena air tidak

layak dibuang. CO2, H2S CO2, H2S,H2O H2O Masuk Keluar H2S = 35 kg CO2 = 7247,2243 kg H2O = 3103,7 kg Produk Atas CO2 = 7247,2243 kg H2S = 35 kg Total = 7282,2243 kg Produk bawah H2O = 3103,7 kg Inert = 0,02 kg Losess = 0,01 Total = 10.385,9243 kg Total = 10.385,9243 kg III- 9

(44)

8. Kompresor (G-140)

Fungsi : untuk membuat dri ice (CO2 padat) dan sekaligus menguapkan gas H2S

karena gas tersebut tidak bisa memampat dan menuju gas holder.

Masuk Keluar H2S = 35 kg

CO2 = 7247,2243 kg

H2S (produk atas) = 35 kg

Dri ice (produk bawah) = 7247,2243 kg

Inert = 0,02

Losess = 0,01

Total = 7282,2243 kg Total = 7282,2243 kg

9. Screw Press (F- 150)

Fungsi : Untuk memisahkan slurry padat dan cair.

Slury padat Cair Slury masuk : Selulosa = 3604.954 kg NH4OH = 515.5338 P = 155 kg Slury padat Selulosa = 3244,4586 kg NH4OH = 510,378 P = 153,45 kg III- 10

(45)

K = 113,334 kg Ca = 40 kg Mg = 30 kg Ca(OH)2 = 5,4 kg H2O = 19298,46 kg K = 112,2007 kg Ca = 39,6 kg Mg = 29,7 kg Ca(OH)2 = 5,346 kg Inert = 0,0248 kg H2O = 3859,692 kg Total = 7954.9041 kg Slury Cair Selulosa = 36,04954 kg NH4OH = 4,9584 kg P = 1,5345 kg K = 1,1220 kg Ca = 0,396 kg Mg = 0,297 kg Ca(OH)2 = 0,054 kg Inert = 0,00025 kg H2O = 15.438,768 kg Total = 15483,1797 kg Inert = 0,02 kg Losess = 0,01 kg Total = 23.438,0838 kg Total = 23.438,0838 kg III- 11

(46)
(47)

BAB IV NERACA PANAS

Di pabrik biogas ini tidak semua alat mengalami interaksi panas, maka perhitungan neraca panas hanya dikerjakan pada peralatan yang mengalami interaksi panas.

Kebutuhan bahan baku :

Waktu operasi : 300 hari /tahun

: 21 jam/ hari. Satuan : ∆H : kkal/jam : Cp : kkal/kg. 0C : m : kg/jam : t : 0C Suhu referensi : 25 0C = 298,1 K 1. TANGKI PEMANAS (R-121) 300C 500C ∆H1 ∆H2 ∆Hk Q 1200C 1200C

Neraca panas total :

Panas masuk = panas keluar

∆H1 + Q = ∆H2 + ∆Hk + Qloss Dimana :

(48)

∆H1 = panas yang terkandung pada bahan masuk Q = panas yang terkandung pada steam

∆H2 = panas yang terkandung pada bahan keluar ∆Hk = panas yang terkandung dalam kondensat keluar Qloss = panas yang hilang

Tabel 4.1. Neraca panas pada Tangki pemanasan

Komponen Panas masuk

(kkal/ jam)

Panas keluar (kkal / jam) Panas bahan masuk (∆H1)

Steam (Q) Kondensat (∆Hk)

Panas bahan keluar (∆H2) Panas hilang (Qloss)

155.600,0311 808.752,3550 80967,9331 835.166,8337 48217,6193 Total 964.352,3861 964.352,3861 2. FERMENTOR (120) ∆H1 ∆H2 ∆H3 Q HR 500C pendingin

Neraca panas total :

Panas masuk = panas keluar

∆H1 + HR = ∆H2 + ∆H3 + Q + Qloss Dimana :

(49)

∆H1 = panas dalam bahan masuk HR = panas reaksi

∆H2 = panas dalam biogas keluar ∆H3 = panas dalam slurry

Q = panas dari air pendingin Qloss = panas yang hilang

Tabel 4.2. Neraca panas pada Fermentor

Komponen Panas masuk (kkal/ jam) Panas keluar (kkal/ jam) Panas masuk (∆H1) Panas keluar (∆H2) Panas dalam slurry (∆H3) Panas reaksi (HR)

Panas air pendingin (Q) Panas hilang (Qloss)

835.166,8337 405151,838 80.408,2191 683.831,4 355.724,373 21.500,7498 Total 1240318,243 1240318,243 3. COOLER I (E-131) 500C 300C ∆H1 ∆H2 Q IV- 3

(50)

Neraca panas total :

Panas masuk = panas keluar ∆H1 = ∆H2 + Q + Qloss Dimana :

∆H1 = panas pada bahan masuk ∆H2 = panas bahan keluar

Q = panas yang diserap oleh air pendingin Qloss = panas yang hilang

Tebel 4.3. Neraca panas pada Cooler I

Komponen Panas masuk (kkal/jam) Panas keluar (kkal/jam) Panas masuk (∆H1)

Panas keluar (∆H2) Panas air pendingin (Q) Q loss 80.408,2191 23384,8999 53.002,9082 4.020,4109 Total 80.408,2191 80.408,2191 IV- 4

(51)
(52)

BAB V

SPESIFIKASI PERALATAN

1. STORAGE KOTORAN SAPI (F-113)

Fungsi : Menyimpan feed kotoran sapi sebelum dialirkan ke tangki

pencampur.

Type : Tangki silinder dengan bagian bawah flat dan tutup atas

berbentuk standard dished.

Dimensi : di = 239.375 in Do = 240 in ts = 5/16 in tha = 5/16 in Ls = 373,65 in ha = 40,45 in Tinggi strage = 414,10 in

Bahan konstruksi : Stainless steel SA 240 Grade M Type 316

Jumlah : 3 buah

2. BUCKET ELEVATOR (J-117)

Fungsi : Mengangkut kotoran ke bin sebelum masuk tangki pencampur

Type : Centrifugal discharge

Kapasitas = 20 ton/jam

Kecepatan = 490,30 ft/menit

(53)

Daya motor = 2,5 HP

Jumlah = 1 buah

3. BIN KOTORAN SAPI (F-115)

Fungsi : Menampung kotoran sapi sebelum masuk tangki pencampur

Type : Tangki silinder dengan tutup bawah berbentuk conis dengan

sudut 60o. Dimensi : di = 89.625 in = 7,47 ft Do = 90 thb = 3/16 ts = 3/16

Tinggi tutup bawah = 6,47 ft = 77,64 in

Tinggi bin = 16,66 ft = 199,92 in.

Bahan konstruksi : Stainless steel SA 240 Grade M Type 316

Jumlah : 1 buah

4. BIN CaO (F-112)

Fungsi : Menampung batu kapur sebelum masuk tangki pengencer.

Type : Tangki silinder dengan tutup bawah berbentuk conis dengan

sudut 60o. Dimensi : di = 37,625 in = 3,14 ft Do = 38 thb = 3/16 V- 2

(54)

ts = 3/16

Tinggi tutup bawah = 2,64 ft = 31,70 in

Tinggi bin = 6,86 ft = 82,32 in.

Bahan konstruksi : Stainless steel SA 240 Grade M Type 316

Jumlah : 1 buah

5. TANGKI PENGENCER (M-111)

Fungsi : Untuk mereaksikan antara CaO dan H2O yang akan membentuk

Ca(OH)2.

Type : Berbentuk bejana tegak dengan bagian badan berbentuk shell,

tutup atas berbentuk standard dished dan tutup bawah berbentuk

conical. Dimensi : di = 59,625 in = 4,97 ft Do = 60 thb = 3/16 tha = 3/16 ts = 3/16

Tinggi tutup bawah = 4,30 ft = 51,65 in

Tinggi tutup atas = 0,8397 ft = 10,0766 in

Tinggi tangki = 10,2297 ft = 122,7564 in.

Jenis pengaduk : Axial turbine with 6 blades at 45o angle

Dimensi pengaduk :

Di = 19,875 in = 1,656 ft = 0,505 m

(55)

Zi = 17,888 in = 1,49 ft = 0,45 m

L = 6,625 in

W = 3,379 in = 0,28 ft

Bahan konstruksi : Stainless steel SA 240 Grade M Type 316

Daya : 7 Hp

Jumlah : 1 buah

6. POMPA (L-114)

Fungsi : Untuk memindahkan larutan dari tangki pengencer ke mixer.

Type : Pompa sentrifugal

Bahan : Stainless steel

Dimensi pompa : OD = 0,540 in = 0,045 ft ID = 0,364 in = 0,030 ft A = 0,00072 ft2 Daya pompa = 1,0 Hp Jumlah = 1 buah 7. TANGKI PENCAMPUR (M-110)

Fungsi : Untuk mencampur bahan baku dengan air dan Ca(OH)2

Type : Bejana tegak dengan bagian badan berbentuk shell, tutup atas

berbentuk standard dished dan tutup bawah berbentuk conical.

Dimensi :

di = 119,625 in = 9,97 ft

Do = 120

(56)

thb = 3/16

tha = 4/16

ts = 3/16

Tinggi tutup bawah = 8,64 ft = 103,62 in

Tinggi Tangki = 23,47 ft = 281,70 in.

Jenis pengaduk : axial turbine with 6 blades at 45o angle

Dimensi pengaduk :

Di = 39,875 in = 3,32 ft = 1,91 m

Zi = 35,89 in = 2,99 ft = 0,91 m

L = 39,875 in = 3,32 ft

W = 6,78 in = 0,56 ft

Bahan konstruksi : Stainless steel SA 240 Grade M Type 316

Daya : 1,0 Hp

Jumlah : 1 buah

8. POMPA (L-116)

Fungsi : Untuk memompa larutan dari tangki pencampur ke tangki

pemanas.

Type : Pompa sentrifugal

Bahan : Stainless steel

Dimensi pompa :

OD = 4,500 in = 0,375 ft

ID = 4,026 in = 0,3355 ft

A = 0,08840 ft2

(57)

Daya pompa = 12,5 Hp

Jumlah = 1 buah

9. TANGKI PEMANAS (R-121)

Fungsi : Untuk memanaskan slury hingga suhu 50 oC sebelum masuk

fermentor.

Jenis : Silinder tegak, tutup atas berbentuk standard dished, tutup bawah

berbentuk conical dan dilengkapi pengaduk.

Dimensi tangki : do = 114 in di = 113,75 in = 9,479 ft ts = 3/16 in tha = 6/16 in thb = 6/16 in Tinggi tangki = 222,687 in = 18,557 ft

Bahan : Stainless steel SA 240 Grade M Type 316

Jumlah : 1 buah

Jenis pengaduk : Axial turbine with 6 blades at 45 oC angle

Dimensi pengaduk : Di = 2,9597 ft = 35,51625 in = 0,902 m L = 0,7399 ft = 8,8791 in W = 0,7399 ft = 8,8791 in Daya pompa : 20 Hp Jumlah : 1 buah V- 6

(58)

Bahan : Carbon steel SA 240 Grade M Type 316 Dimensi coil : Di = 1,610 in Do = 1,90 in a’ = 2,04 in a“ = 0,498 ft Lc = 18,0062 ft

Jumlah lilitan = 64 lilitan

10. POMPA (L-122)

Fungsi : Untuk mengalirkan larutan dari tangki pemanas ke tangki buffer.

Type : Centrifugal pump

Bahan : Stainless steel

Dimensi pompa : OD = 4,500 in = 0,375 ft ID = 4,026 in = 0,3355 ft A = 0,08840 ft2 Daya pompa = 1,0 Hp Jumlah = 1 buah 11. TANGKI BUFFER (F-123)

Fungsi : Untuk menampung slury dari tangki pemanas sebelum masuk

fermentor.

Daya motor : 20 Hp

Dimensi tangki :

(59)

V total = 2496,176 ft3 do = 186,44 in = 15,54 ft di = 191,75 in = 15,98 ft ts = 4/16 in tha = 6/16 in thb = 6/16 in Ls = 23,969 ft = 287,625 in Tinggi tangki = 352,437 in = 29,370 ft

Bahan : Stainless steel SA 240 Grade M Type 316

Jumlah : 1 buah

Jenis pengaduk : Axial turbine with 6 blades at 45 oC angle

Dimensi pengaduk : Da = 2,9597 ft = 35,51625 in = 0,902 m L = 0,7399 ft = 8,8791 in W = 0,7399 ft = 8,8791 in N = 90 rpm = 1,5 rps 12. POMPA (L-124)

Fungsi : Untuk mengalirkan larutan dari tangki buffer ke fermentor.

Type : Centifugal pump

Jumlah :1 buah

Bahan : Stainless steel

Dimensi pompa :

OD = 4,500 in = 0,375 ft

(60)

ID = 4,026 in = 0,3355 ft

A = 0,08840 ft2

Daya pompa = 1,0 Hp

Jumlah = 1 buah

13. FERMENTOR (R-120)

(Perancangan alat utama oleh : MATHIAS PHONE. 0305010010)

14. POMPA (L-125)

Fungsi : Memindahkan larutan dari fermentor 1 ke fermentor berikutnya.

Type : Centrifugal pump

Bahan : Stainless steel

Dimensi pompa : OD = 4,500 in = 0,375 ft ID = 4,026 in = 0,3355 ft A = 0,08840 ft2 Daya pompa = 12,5 Hp Jumlah = 24 buah 15. COOLER (E-131)

Fungsi : Mendinginkan biogas dari suhu 50 oC menjadi 30 oC.

Type : Shell and tube

Bahan : Carbon Steel

Dimensi : Bagian shell : - IDs = 21 ¼I

- n = 4

- B = 12

(61)

- de = 0,99 in = 0,0825 ft - L = 12 ft Bagian tube : - OD = ¾ - ID = 0,620” - a’ = 0,302 - a” = 0,1963 ft2/ft - L = 16 ft - n = 4 - pitch = 1 16. KOMPRESOR (G-132)

Fungsi : Menaikkan tekanan aliran dari 1 atm menjadi 10 bar.

Type : Axial kompresor

Daya kompresor = 7,5 Hp

Jumlah = 1 buah

17. ABSORBER (D-130)

(Perancangan alat utama oleh : PETRUS PULANG. 0305010012)

18. GAS HOLDER METANA (F-133)

Fungsi : Untuk menampung metana dari water scrubber.

V total = 11798,3126 cuft ts = 6/16 do = 20 ft di = 19,9375 ft Ls = 32,408 ft = 388,9 in V- 10

(62)

tha = thb = ¼ in

Jumlah = 1 buah

19. KOMPRESOR (G-134)

Fungsi : Menaikkan tekanan aliran dari 10 bar menjadi 46 bar.

Type : Axial kompresor

Daya kompresor = 15 Hp

Jumlah = 1 buah

20. EKSPANDER (G-135)

Fungsi : Menurunkan tekanan gas dari 10 bar menjadi 1 bar.

Type : Multi stage reciprocating expander.

Bahan konstruksi : Commercial steel

Massa laju alir : 22896,8087 lb/ jam

Daya : 0,5 Hp

Jumlah : 1 buah

21. POMPA (L-136)

Fungsi : Memindahkan slury dari ekspander ke menara regenerasi.

Type : Pompa sentrifugal

Bahan : Stainless steel

Dimensi pompa : OD = 3,500 in = 0,2917 ft ID = 3,068 in = 0,2557 ft A = 0,05130 ft2 Daya pompa = 4,0 Hp V- 11

(63)

Jumlah = 1 buah

22. MENARA REGENERASI (F-137)

Fungsi : Sebagai tempat pemisah antara air dengan gas impurities.

Type : Silinder vertikal, tutup atas dan bawah berbentuk standard dished.

Dimensi tangki : do = 126 in di = 10,47 ft = 125,625 in ts = 3/16 in tha = 3/16 in thb = 3/16 in

Tinggi tangki total = 18,99 ft = 227,88 in

Jumlah : 1 buah

23. POMPA (L-138)

Fungsi : Memindahkan air dari menara regenerasi ke scrubber.

Type : Pompa sentrifugal

Bahan : Stainless steel

Dimensi pompa : OD = 1,660 in = 0,138 ft ID = 1,380 in = 0,115 ft A = 0,01040 ft2 Daya pompa = 1,5 Hp Jumlah = 1 buah V- 12

(64)

24. KOMPRESOR (G-139)

Fungsi : Menaikkan tekanan aliran dari 1 bar menjadi 20 bar.

Type : Axial kompresor

Massa laju alir = 7282,2243 kg/jam = 16054,391 lb/jam

Daya kompresor = 2,5 Hp

Jumlah = 1 buah

25. EKSPANDER (G-140)

Fungsi : Menurunkan tekanan gas dari 10 bar menjadi 1 bar.

Type : Multi stage reciprocating expander.

Bahan konstruksi : Commercial steel

Massa laju alir : 22896,8087 lb/ jam

Daya : 0,5 Hp

Jumlah : 1 buah

26. AKUMULATOR (G-141)

Fungsi : Untuk menampung kondensat dari kolom distilasi I selama 10

menit.

Type : Silinder vertikal, tutup atas dan bawah berbentuk standard dished.

Dimensi tangki : do = 66 in di = 65,75 in = 5,48 ft ts = 2/16 in tha = 2/16 in thb = 2/16 in V- 13

(65)

Tinggi tangki total = 8,23 ft = 98,77 in

Jumlah : 1 buah

27. SCREW PRESS (F-140)

Fungsi : Meemeras dan memisahkan slury padat dan cair.

Power : 0,5 Hp

Waktu : 24 jam

Tekanan : 7,298 psi

Jumlah : 1 buah

28. BAK PENAMPUNG SLURY CAIR (F-141)

Fungsi : Menampung slury cair dan sekaligus sebagai bak pengendap.

Type : Bak segi empat dari bahan batu bata dilapisi beton setebal 5 cm.

Bahan : Beton

Ukuran :

Panjang : 25,9 m

Lebar : 22 m

Tinggi : 3 m

Jumlah : 2 buah (1 cadangan ).

29. BAK PENAMPUNG SLURY PADAT (F-142)

Fungsi : Menampung slury padat dan sekaligus sebagai bak aerasi terbuka

O2.

Type : Bak segi empat dari bahan batu bata dilapisi beton setebal 5 cm.

Bahan : Beton.

Ukuran :

(66)

Panjang : 26 m

Lebar : 25,54 m

Tinggi : 1,5 m

Jumlah : 4 buah

(67)

BAB VI

PERANCANGAN ALAT UTAMA

Nama : Absorber

Fungsi : Menerap gas impurities dengan menggunakan air Tipe : Packed kolom

Prinsip Kerja :

Absorber berupa bejana tegak, yang berdiri pada skirt dan pondasi beton. Dalam operasi normal, feed gas yan masuk dari bawah melalui nozzle pemasukan gas bergerak ke atas melalui kolom isian, sedangkan air yang digunakan untuk mengikat gas impurities dialirkan secara berlainan arah dari nozzle pemasukan feed liquid. Akibat kontak tersebut, gas yang tidak dinginkan dapat terserap oleh air dan mengalir melalui bottom, sedangkan produk gas yang diinginkan dengan kemurnian tinggi keluar melalui top dari kolom.

Data : Dari neraca massa Appendik A 1. Temperatur : 300C = 3030 K

2. Tekanan : 1 atm. Tahap Perancangan

A. Perancangan Kolom absorber - Ukuran diameter - Pressure drop - Liquid hold up

- Menentukan dimensi shell

(68)

- Menentukan dimensi isian

- Menentukan dimensi support plate B. Perencanaan nozzle untuk masuk

- Pemasukan gas - pemasukan liquid - Pengeluaran gas - Pengeluaran liquid C. Perencanaan mekanis

D. Perencanaan skirt dan pondasi Perhitungan

6.1. Perencanaan kolom absorber Gas masuk absorber

Komponen Kg/jam lb/jam Lbmol/jam

CH4 2644,8 5381,2550 364,4534

CO2 7273,2 16.035,9514 364,4534

H2S 35 77,1680 1,4290

H2O 665,64 1467,6031 81,5335

Jumlah 10.618,64 23411,9775 811,8694

Liquid masuk absorber

Komponen Kg/jam lb/jam Lbmol/jam

Air proses 2438,4347 5375,4347 298,6353

Jumlah 2438,4347 5375,4347 298,6353

(69)

Gas keluar absorber

Komponen Kg/jam lb/jam Lbmol/jam

CH4 2644,8 5381,2550 364,4534

CO2 25,9757 57,2712 1.3016

Jumlah 2670,7757 5888,5263 365,7551

Liquid keluar absorber

Komponen Kg/jam lb/jam Lbmol/jam

CO2 7247,2243 15.978,6801 363,1518

H2S 35 77,1680 1,4290

H2O 3103,7 6851,8570 380,6587

Jumlah 10.389,9243 22907,7051 745,2396

Kecepatan gas masuk (G) = 10.618,64 kg/jam

= 23410,07 lb/jam

= 6,50 lb/sec

Kecepatan liquid masuk (L) = 2348,4347 kg/jam

=5375,821 lb/jam = 1,49 lb/sec BM campuran gas = 35,36123 BM air = 18 ρ campuran gas = 0,9208 lb/ft3 ρ air = 62,4280 lb/ft3 VI- 3

(70)

μ campuran gas = 0,1635 cp μ air = 0,9 cp Penentuan diameter : Absis = L ρG 1/2 G ρL = 2 / 1 4280 , 62 9208 , 0 5 , 6 49 , 1 ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ = 0,058 Ordinat = G2 a Ø x μ0,2 ρG €3 ρL x gc dimana : Ø = 2 0,01702 ) ( ) ( ldo do dt l− − harus > 0,20 (Ludwig 147) = ) 2 , 32 )( 4280 , 62 ( 9208 , 0 ) 125 ( ) 9 , 0 ( ) 014 , 0 ( ) 3600 / 27 , 23410 ( 2 2 0,2 = 0,058 l : ring height

do : outside diameter of ring dt : inside diameter ring maka ditrial Ø = 0.30

a = packing factor

€3

Packing yang digunakan adalah Berl Sadless 1 inchi maka

a = 125 (Ludwig hal 155)

€3 Dimana :

a : area onterfesial efektif VI- 4

(71)

€ : Fractional voids

gc : konversi gravitasi = 32,2 ft/dtk2

Berdasarkan Ludwig fig 9-11B maka diketahui ordinat = 0,03 = G2 a x μ0,2 = Vg2 a ρG x x2 x μ0,2 ρG €3 ρL x gc €3 ρL x gc maka Vg2 = 2 2 9 , 0 9208 , 0 130 1 428 , 64 2 , 32 03 , 0 x x x x x = 0,64

Vg = 0,8 ft/sec (kecepatan flooding) Flow rate gas :

Qv = V x 1 jam Ρ 3600 detik = 9208 , 0 07 , 23410 x ik jam det 3600 1 = 7,062 ft3/detik Maka cross sectional area diperoleh :

A = 7,062 ft3/detik 0,4 ft/detik = 17,65 ft2 Diameter tower : Diameter tower : D = (4/3,14)x17,65 = 4,74 ft =56 in

Lokasi 0,05 dan 0.0546 pada fig 9-11D reading berada pada kondisi lower loading

region.

(72)

Diameter pada flooding sebesar 50% Kecepatan operasi = 0,5 x 0,8 = 0,4 ft/detik

- Persen flooding

Diameter pada flooding sebesar 50 % Kecepatan operasi = 0,5 x 0,8 = 0,4 ft/detik

Dari gambar 9-11A diperoleh flooding line for dumped packing = 0,064 Maka persen flooding :

% 97 % 100 064 , 0 058 , 0 = x Evaluasi :

Menurut Ludwig hal 155, koreksi persen floding dapat dicari melalui jenis packing yang digunakan yakni Berl Sadlles 1 inch;

sama) (terbukti % 97 % 100 158 125 8 , 1 2 2 = x

- Persen loading (average) Menentukan tinggi isian

Absis 0,058 untuk memberikan ordinat 0,064 pada line B Kecepatan masa gas = 23.410,27 lb/jam : 4,74 ft2

= 4938,8 lb/jam ft2

(gambar 9.30 ludwig) diperoleh harga Hog = 1,875

Kog untuk air = 6,33 Maka : Z =1,875 x 6,33

= 11,9 ft packing

(73)

- Pressure drop

Dari gambar 9-11A Ludwing diperole pressure drop (∆P) : 0,4 in water per feet (lower limit loading zone)

Pressure drop untuk water absorber = 0,4 – 0, 6 (memenuhi) ∆P bed = (0,4) x (15) = 6 in water/ft packing

Estimasi presure drop per support: 1 in Maka untuk 2 support + 1 support plate :

= 3 x 1 in = 3 in

Total estimasi pressure drop : ∆P : 6 in water/ft packing Internal : 3, 0 in water/ft packing Total : 9 in water/ft packing Liquid hold-up dalam tower htw = 0,004 L’ 0,6 dP htw = 0,004 1,49’ 0,6 0,68 = 0,485 ft3/ft3 water. Dimana : Htw = Water Hold up L’ = Liquid rate

Dp = Equivalent Spherical packing

Dp diperoleh dari tabel 9-7 untuk nominal size 1 in = 0,68

(74)

- Berat

Berat packing kerin dalam kolom = 45 lbs/ft3 x 15 x 0,785

= 529,875 lbs

Total berat pada bottom support plate jika operasi tidak flooded = 52,3 + 529,875

= 582,175 lbs

Keamanan pada saat flooding

Menurut tabel 9.6A hal 124 Luwig % free gas space = 69 % Volume liquid space = 15 x 0,785 x 0,69

= 8,12 ft3

Berat air dalam space = 8,12 x 62,428

= 506.,91

Maximum support load = 529,875 + 506.,91

= 1036,785 lbs

Specifik support load = 1,1 x 1036,785 lbs

= 1140,46 lbs

Dari fugure 9-2D Ludwig dan tabel 14-7b Perry, untuk tower silinder standard, dari data-data di atas diperoleh:

Dimensi shell

ID : 15 in

OD : 16,25 in

(75)

Tinggi shell : 15 feet = 180 in Tebal shell : 5/8 in

Tebal bottom :3/4 in

Dimensi isian

Jenis : keramik intalox saddle

Ukuran : 1 in

Dp : 0,68 in

Berat/ft3 : 42 lb/fit3

Dimensi Support plate

Diameter plate : 14 in Tinggi plate : 1 in

D lubang : 1 ¼ in

Jml lubang : 31

Berat : 19 lbs

Menentukan tingi tutup atas dan bawah berbentuk standartdishead (ha = hb dan thb=tha)

Tinggi tutup : 0,169 x ID

: 0,169 x 15 in = 2,535 in Tinggi kolom (L) = tinggi shell + 2 (ha)

= 180 in + 2 x (2,535 in ) =185,07 in = 15,4225 ft.

(76)

Menentukan tebal tutup atas (tha) Tha = 0,885 x pi x r + C F x E – 0,1pi = 16 1 763 , 130 1 , 0 85 , 0 15200 5 , 7 763 , 130 885 , 0 + − x x x x = 3/16 in Thb = tha = 3/16 in 6.4. Perhitungan Nozzle A. Perencanaan :

¾ Nozzle pada tutup bawah standard dishead • Nozzle untk pemasukan gas masuk • Nozzle untuk pengeluaran slurry ¾ Nozzle pada tutup bawah standard dishead

• Nozzle untuk pemasukan air

• Nozzle untuk pengeluaran gas produk

¾ Digunanakan flange standard tipe welding neck pada : • Nozzle untuk pemasukan gas masuk.

• Nozzle untuk pengeluaran slurry • Nozzle untuk pemasukan air

• Nozzle untuk pengeluaran gas produk.

(77)

B. Dasar Perhitungan

Nozzle pada tutup bawah standard dished A. Nozzle pemasukan gas.

Rate gas masuk = 2438,4347 kg/jam= 5375 lb/jam Densitas produk = 62,428 lb/ft3

Perhitungan

Rate volumerik (Q) = Rate produk keluar ρ produk

= 5375 lb/jam

62,428 Lb/ft3

= 405 ft3/jam

=0,012 ft3/dt

Dari Peter & Timmerhausse fig 14.2 hal 498, didapatkan Di optimum : Di opt = 3,9 (Q)0,45 (ρ)0,13

= 3,9 (0,112)0,45 (57,7015)0,13 = 3,9 x 0,373 x 1,69

= 2,45 in

= 0,204 ft

Dari Geankoplis, App. A.5 al 892, maka dipilih pipa 2 in IPS Sch. 40 dengan ukuran :

• ID = 2,06 in • OD = 2,375 in • A = 0,023 ft2

(78)

Dari Brownell & Young, table 12-3 di dapatkan : Ukuran pipa nomina (NPS) = 2 in Diameter flange (A) = 6 in Ketebalan flange minimum(T) = ¾ in Diameter luar bagian yang menonjol (R) = 3 5/8 in Diameter hub pada dasar (E) = 3 1/6 in Diameter hub pada titik pengelasan (K) = 2,38 in Panjang julakan hub (L) = 2 ½ in Diameter dalam flange (B) = 2,07 in

Jumlah lubang baut = 4 buah

Diameter baut = 5/8

B Nozzle pengeluaran slurry :

- Rate slurry =10.389,9243 kg/jam = 22.907,7051lb/jam - Densitas = 66,65731 lb/ft3

Perhitungan :

Rate volumerik (Q) = Rate produk keluar ρ produk =22.907,7051lb lb/jam

66,65731 Lb/ft3 = 343,663 ft3/jam = 0,095 ft3/dt

Dari Peter & Timmerhausse fig 14.2 al 498, di dapatkan Di optimum: Di opt = 3,9 (Q)0,45 (ρ)0,13

= 3,9 (0,095)0,45 (66,65731)0,13

(79)

= 3,9. 0,346. 1,72 = 2,32 in

= 0,193 ft

Dari Geankoplis, APP A.5 al 892, maka dipilih pipa 2 in IPS Sch.40 dengan ukuran:

ID = 2,067 in OD = 2, 375 in A = 0,023 ft2

Dari Brownell & Young tabel 12-3 di dapatkan : Ukuran pipa nomina (NPS) = 2 in Diameter flange (A) = 6 in Ketebalan flange minimum(T) = ¾ in Diameter luar bagian yang menonjol (R) = 3 5/8 in Diameter hub pada dasar (E) = 3 1/6 in Diameter hub pada titik pengelasan (K) = 2,38 in Panjang julakan hub (L) = 2 ½ in Diameter dalam flange (B) = 2,07 in

Jumlah lubang baut = 4 buah

Diameter baut = 5/8

C Nozzle pemasukan air

Rate bahan masuk = 2438,4347 kg/jam = 5375,4347 lb/jam Densitas = 62,428 lb/ft3

Perhitungan :

(80)

Rate volumerik (Q) = Rate air masuk ρ produk = 5375,4347 lb/jam 62,428 Lb/ft3 = 86,106 ft3/jam = 0,0239 ft3/dt

Dari Peter & Timmerhausse fig 14.2 al 498, di dapatkan Di optimum: Di opt = 3,9 (Q)0,45 (ρ)0,13

= 3,9 (0,0239)0,45 (62,428 )0,13 = 3,9.0,186.1,71

= 0,0816 in = 0,0068 ft

Dari Geankoplis, APP A.5 al 892, maka dipli pipa 1,25 in IPS Sch.40 dengan ukuran:

ID = 1,380 in OD = 1,660 in A = 0,0104 ft2

Dari Brownell & Young, table 12-3 di dapatkan : Ukuran pipa nomina (NPS) = 1,25 in Diameter flange (A) = 4 5/8 in Ketebalan flange minimum(T) =5/8 in Diameter luar bagian yang menonjol (R) = 2 ½ in Diameter hub pada dasar (E) = 2 5/16 in Diameter hub pada titik pengelasan (K) = 1,66 in

Gambar

Table 1.1. Komposisi gas bio
Tabel 1.2. Data Jumlah Sapi di Pulau Flores Propinsi NTT
Gambar 2.1. Diagram alir  sistem batch.
Gambar 2.2. Pembuatan Gas metana secara kontinue Gambar 2.2. Pembuatan Gas metana secara kontinue
+6

Referensi

Dokumen terkait

Penulisan laporan yang berjudul “ Kualitas Pelayanan Teller Bagi Kepuasan Nasabah Tabungan Pesirah Pada Bank Sumsel Babel Capem Sako Kenten Palembang ” ini merupakan salah

Selain perkembangan intelektual, masa awal anak-anak merupakan perkembangan tugas pokok dalam belajar berbahasa, yaitu menambah kosakata, menguasai pengucapan kata

Pada bulan Mei 2017 dari 82 kota yang dihitung angka inflasinya, 70 kota IHK mengalami inflasi dan 12 kota IHK lainnya mengalami deflasi, Inflasi terbesar

(2009) banyak sekali tujuan dari komunikasi, namun ada beberapa tujuan yang relevan dengan profesi dokter adalah: 1) Memfasilitasi terciptanya pencapaian

warga perbatasan. Karena tipologinya yang mendorong partisipasi warga masyarakat, maka skala terbatas merupakan hal penting yang harus dipertimbangkan. Karena adanya

Simulasi tersebut memperlihatkan bahwa algoritma yang dirancang untuk membangun pengendali cukup efektif menghasilkan kestabilan networked control systems dengan parameter

Keluarga merupakan suatu sistem, maka jika terdapat gangguan jiwa pada salah satu anggota keluarga maka dapat menyebabkan gangguan jiwa pada anggota keluarga

Yang harus diingat ialah bahwa present perfect tense ini tidak boleh dipakai bersama kata atau keterangan waktu yang menunjukkan saat masa lampau yang pasti?. Kalau ada kata