• Tidak ada hasil yang ditemukan

FILSAFAT ILMU P K L H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "FILSAFAT ILMU P K L H"

Copied!
309
0
0

Teks penuh

(1)

FILSAFAT

ILMU P K L H

Disusun Oleh :

Dr. Ir. H. Darwis, M.Sc.

Prof. Dr. H. Hammado Tantu, M.Pd.

Bumi telah merintih di cabik manusia... Bumi mengiba perlindungan... Kalau bukan sekarang, kapan lagi...? Kalau bukan manusia, siapa lagi...?

(2)

FILSAFAT ILMU PKLH

Penulis : Dr. Ir. H. Darwis, M.Sc.

Prof. Dr. H. Hammado Tantu, M.Pd.

Penerbit : Alauddin University Press

ISBN :978-602-328-219-7

Hak cipta dilindungi undang-undang.

Dilarang memperbanyak buku ini sebagian atau seluruhnya, dalam bentuk dan dengan cara apapun juga, baik secara mekanis maupun elektronis, termasuk fotocopy, scan, rekaman, dan lain-lain tanpa izin tertulis dari penulis.

Cetakan Pertama, Desember 2016

Sanksi pelanggaran pasal 44, Undang-undang No. 7 Tahun 1987 tentang Perubahan atas Undang-undag No.6 Tahun 1982 tentang hak cipta.

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah).

(3)

PRAKATA

“Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Q.S. Ar Rum, 41)

Terusiknya eksistensi bumi bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, keberadaannya berhubungan erat dengan masalah kependudukan dalam konteks penduduk dan pembangunan. Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH), merupakan program pendidikan yang ditujukan untuk mengubah sikap dan perilaku manusia agar bereproduksi secara rasional, memelihara lingkungan hidup, dan bertanggung jawab terhadap kualitas kehidupan sekarang dan masa mendatang melalui proses pendidikan. PKLH mempunyai misi dalam upaya pendewasaan seseorang, yang dalam hal ini adalah peserta didik agar berperilaku yang rasional dan bertanggung jawab tentang masalah kependudukan dan lingkungan hidup. Cara pandang dan perilaku manusia terhadap lingkungan hidup, sangat menentukan eksistensi dan kesinambungan alam dan lingkungan di bumi ini. Menurut Chiras dua macam perlakuan terhadap alam yang berkembang dalam kultur manusia, yakni : (1) budaya menundukkan alam (frontier), yang menempatkan dirinya bukan sebagai sub-ordinat dari alam sekitarnya sehingga mereka memandang alam sebagai sumber yang dipersiapkan untuk dimanfaatkan dan bebas

(4)

dieksploitasi oleh manusia; (2) budaya menyatu dengan alam (eco

friendly), yang memandang bahwa semua interaksi antara manusia dengan alam sekitar akan menimbulkan “pengaruh timbal balik” antara manusia dan alam sekitarnya, sehingga manusia tidak dapat lepas sebagai salah satu sub-ordinat dari alam sekitarnya, dan melihat bahwa kerusakan pada alam dan lingkungan merupakan kerusakan yang juga menimpa dirinya sendiri.

Cara pandang yang kedua di atas merupakan budaya yang banyak tumbuh dan berkembang dari insan-insan yang menganut agama secara istiqomah. Seperti halnya dengan umat Islam yang memahami ajarannya yang mana dalam Al’Quran Surah

Asy-Syuura-30, telah ditegaskan bahwa “Dan musibah apa saja yang

menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian

sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari

kesalahan-kesalahanmu)”. Kultur frontier sebenarnya telah banyak memberikan pembuktian sebagai penyebab utama terjadinya bencana terhadap berbagai umat-umat terdahulu, seperti kaum Ad, kaum Tzamud, kaum Fir’aun, dan lain sebagainya. Ambisi dan mental frontier pada umat terdahulu dapat disimak dari Firman Allah Swt dalam Al’Qur’an Surah Asy-syuura-26, bahwa “Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main? Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dalamnya)?”. Jadi dalam kehidupan kaum-kaum terdahulu yang telah menerima kutukan dariNya, memang tumbuh subur mental dan kultur frontier atau ambisi untuk menundukkan alam, persis seperti yang telah, sedang, dan akan terus berlangsung dalam kehidupan manusia akhir zaman sekarang ini. Manusia yang mendiami bumi saat sekarang ini, juga telah dan mungkin terbanyak membuat kerusakan terhadap lingkungan sepanjang sejarah keberadaan planit bumi ini. Sehingga hampir dapat dipastikan bahwa bencana yang akan ditimpakan

(5)

kepada manusia akhir zaman ini, akan jauh lebih besar dan lebih berat dibandingkan dengan bencana yang pernah ditimpakan kepada umat-umat sebelumnya. Sebagaimana peringatan Allah Swt dengan firman-Nya pada surah Ar-Rum ayat 41 sampai ayat 42, bahwa “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar. Katakanlah (Muhammad), bepergianlah kamu di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang orang dahulu, kebanyakan dari mereka adalah orang orang yang mempersekutukan Allah”.

Buku ini memaparkan berbagai materi yang dimaksudkan untuk memberi gambaran tentang posisi ilmu PKLH dalam peta perkembangan ilmu pengetahuan. Untuk itu maka penulis memulai pembahasan dalam buku ini dari uraian mengenai dasar-dasar filsafat ilmu yaitu tentang bagaimana mencari ilmu pengetahuan (Bab-1); eksistensi dan esensi PKLH (Bab-2); PKLH sebagai sebuah ilmu pengetahuan 3); dinamika dan nilai falsafah PKLH (Bab-4); konsep dasar PKLH (Bab-5); dan peranan PKLH dalam pembangunan berkelanjutan (Bab-6). Konsep materi buku ini ditulis sejak tahun 2012, namun baru dapat diterbitkan pada akhir tahun 2016, setelah penulis kedua telah berpulang ke haribaan Allah Swt yaitu pada tahun 2015.

Banyak hal yang terungkap dalam buku ini, yang menurut penulis perlu menjadi bahan renungan baik bagi kalangan pengajar PKLH sendiri maupun kalangan pengambil keputusan serta masyarakat luas (umum). Salah satu diantaranya adalah pemikiran yang mencoba menjastifikasi bahwa sudah waktunya untuk menyelenggarakan pendidikan formal jurusan PKLH untuk jenjang Diploma dan Strata-1 pada tingkat perguruan tinggi. Hal ini

(6)

ilmu yang sangat dibutuhkan pada “zaman akhir” ini akan lebih konkrit. Dengan demikian berbagai kajian praktis yang dibutuhkan dalam setiap kegiatan manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan dan masalah kependudukan, dapat dikerjakan oleh pemikir, designer dan planer yang betul-betul independen. Tidak sama halnya yang terjadi dewasa ini, yang mana berbagai kajian lingkungan dan kependudukan dilakukan secara pragmatis oleh kalangan-kalangan tertentu, hanya sekedar menjastifikasi dan melegalisasi rencana proyek berdasarkan kepentingan pribadi dan golongan mereka, sekalipun impact dari proyek tersebut sangat fatal terhadap manusia dan lingkungan. Itulah bentuk moral frontier yang masih sangat terlindungi eksistensinya di negara-negara terkebelakang hingga saat ini, terutama negara-negara yang terkebelakang “government morality”-nya seperti Indonesia. Menurut penulis program penyelamatan bumi dan lingkungan hidup hanya dapat tercipta jika dan hanya jika semua pemerintahan oleh manusia yang ada di bumi ini memiliki moral lingkungan

(eco-morality). Rakyat (people) akan mudah untuk berpartisipasi jika

diajak pemerintah yang mampu memberi keteladanan dalam kesehariannya.

Disamping penyelenggaraan jurusan PKLH secara monolitik di perguruan tinggi, pendekatan melalui cara integratif pada semua jenjang pendidikan formal mulai dari SD, SLTP, SLTA sampai tingkat perguruan tinggi (semua program studi) perlu dilakukan. Hal ini penting karena materi PKLH seharusnya diketahui semua orang yang akan berinteraksi dengan alam lingkungan hidup. Begitu mendesaknya penyelamatan manusia dan lingkungannya, dan begitu pentingnya peranan PKLH di dalam upaya penyelamatan tersebut, maka pada saatnya nanti (waktu yang tidak terlalu lama) pelaksanaan PKLH harus secara monolitik. Pembelajaran PKLH adalah pembentukan sikap, kepribadian, perilaku, dan partisipasi

(7)

nyata dari setiap manusia di dalam usaha dan upaya perlindungan/penyelamatan lingkungan hidup. Dengan kata lain mental PKLH harus menjadi muatan budi pekerti pada setiap individu anak didik, karena untuk memperlambat kehancuran bumi (kiamat) harus diupayakan oleh semua umat manusia yang ada. Bumi ini tidak akan selamat hanya karena keberadaan 10 orang pendekar lingkungan, di tengah serbuan 10 milyar manusia yang setiap hari, bahkan setiap detik merusak bumi ini. Sama halnya yang menimpa umat Nabi Huud, yang disebut kaum Ad. Di antara kaum Ad pasti ada yang mencintai Allah dan menghormati ciptaannya (lingkungan), minimal adalah Nabi Huud dan pengikutnya. Namun karena lebih banyak yang dzalim maka semua terkena bencana termasuk pengikut Nabi Huud. Demikian pula yang terjadi terhadap kaum Tzamud, yang telah diutuskan oleh Allah seorang Nabi Shaleh, namun karena mereka tetap ingkar maka semuanya terkena bencana.

Tiada rasa kesyukuran yang lebih besar penulis akan lirihkan bilamana buku ini dapat memberi manfaat kepada pembacanya, terutama ketika buku ini dapat menggugah rasa dan sanubari pembaca sehingga mampu menumbuhkan kesadaran, sikap, perilaku, dan partisipasinya dalam menyelamatkan dan menjaga kesinambungan lingkungan hidup secara bersama-sama.

Akhirnya izinkan penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada berbagai pihak yang telah banyak memberikan masukan, dorongan, dan bantuan kepada penulis sehingga tulisan ini dapat disaji seperti apa yang ada di tangan pembaca sekarang. Penulis amat sangat menyadari bahwa tulisan ini jauh dari kesempurnaan. Sehingga masukan, saran, bahkan kritik sekalipun akan disambut hangat dengan tangan terbuka, sembari menghaturkan beribu terima kasih kepada semua pihak yang

(8)

berkenan memberikan masukan, saran ataupun kritik atas semua aspek yang ada di dalam buku ini.

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tentram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya

mengingkari nikmat-nikmat Allah , karena itu Allah menimpakan

kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat”. (QS.An Nahl, 112)

Makassar, Desember 2016 Penulis,

Dr. Ir. H. Darwis, M.Sc.

(9)

DAFTAR ISI

Prakata ... iii

Daftar Isi ... ix

I. DASAR-DASAR FILSAFAT ILMU ... 1

1.1. Pengertian ... 2

1.2. Filsafat Ontologi ... 22

1.3. Filsafat Epistemologi ... 29

1.4. Filsafat Aksiologi ... 38

1.5. Cara Mencari Ilmu... 46

II. EKSISTENSI DAN ESENSI PKLH ... 58

2.1. Sejarah Lahirnya PKLH ... 59

2.2. Visi dan Misi PKLH ... 62

2.3. Karakter Ilmu PKLH ... 69

2.4. Eksistensi PKLH ... 77

2.5. Makna, Esensi dan Urgensi PKLH ... 81

III. PKLH SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN ... 103

3.1. Prolog – Epilog ... 104

3.2. Ontologi PKLH ... 111

3.3. Epistemologi PKLH ... 120

3.4. Aksiologi PKLH ... 132

3.5. PKLH Sebagai llmu Pengetahuan ... 139

IV. DINAMIKA DAN NILAI FALSAFAH PKLH... 142

4.1. Dinamika Ilmu PKLH ... 143

(10)

4.3. Makna Ruang dan Waktu dalam ilmu PKLH ... 154

A. Pengertian Ruang dalam Ilmu Pengetahuan 157

B. Pengertian Waktu dalam Ilmu Pengetahuan .... 159

C. Ruang dan Waktu dalam Ilmu Pengetahuan .... 162

D. Manfaat Konstitusional ... 164 V. KONSEP DASAR PKLH ... 168 5.1. Karakter Ilmu PKLH ... 169 A. PKLH Inter-disipliner ... 169 B. PKLH Multi-disipliner ... 171 C. PKLH Trans-disipliner ... 173

5.2. Visi dan Misi Ilmu PKLH ... 177

5.3. Tujuan dan Manfaat Ilmu PKLH... 180

VI. PERAN PKLH DALAM PEMBANGUNAN ... 190

6.1. Konsep Pembangunan Berkelanjutan ... 191

6.2. Pengendalian Kependudukan ... 214

6.3. Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup 228

6.4. Pengelolaan Manusia Sebagai Sumberdaya Utama 261 DAFTAR PUSTAKA ... .. 284

INDEX ... 290

GLOSERIUM ... 293

(11)

BAB – I

DASAR-DASAR

FILSAFAT ILMU

(12)

1.1 Pengertian – pengertian A. Pengertian Filsafat

Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : ”philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “phioslophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab.

Para ahli filsafat memberi batasan yang berbeda-beda mengenai filsafat, namun batasan yang berbeda itu tidak mendasar. Selanjutnya batasan filsafat dapat ditinjau dari dua segi yaitu secara etimologi dan secara terminologi.

Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari bahasa Yunani yaitu philosophia , yang mana philien berarti cinta dan sophia berarti kearifan atau kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami falsafah sebagai pencari kebijaksanaan dan pecinta kearifan dalam arti hakikat, disebut “failasuf” yang disingkat menjadi “filsuf”.

Dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti 'alam pikiran' atau 'alam berpikir'. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah semboyan mengatakan bahwa "setiap manusia adalah filsuf". Ungkapan ini ada benarnya dalam arti praktis, sebab semua manusia berpikir. Akan tetapi secara hakikat ungkapan tersebut tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf. Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan

(13)

sungguh-sungguh dan mendalam. Tegasnya: Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain: Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.

Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Seorang Plato mengatakan bahwa : Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli. Sedangkan muridnya Aristoteles berpendapat kalau filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Al Farabi berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu (pengetahuan) tentang alam maujud, yaitu bagaimana hakikat yang sebenarnya. Berikut ini disajikan beberapa pengertian Filsafat menurut beberapa para ahli :

1) Plato (428 -348 SM) : Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).

2) Aristoteles (384 - 322 SM) : Filsafat adalah ilmua pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda). 3) Cicero (106 – 43 SM ) : Filsafat adalah sebagai “ibu dari semua

seni (the mother of all the arts)“ termasuk di dalamnya seni kehidupan (arch vitae). Beliau juga mendefinisikan filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang mahaagung dan usaha-usaha untuk mencapainya.

(14)

4) Imanuel Kant ( 1724 – 1804 ) : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang di dalamnya tercakup empat persoalan.

a) Apakah yang dapat dikerjakan ?(jawabannya metafisika) b) Apakah yang seharusnya dikerjakan (jawabannya Etika ) c) Sampai dimanakah harapan manusia ?(jawabannya

Agama)

d) Apakah yang dinamakan manusia ? (jawabannya Antropologi)

5) Paul Nartorp (1854–1924) : Filsafat sebagai Grunwissenschat (ilmu dasar hendak menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama, yang memikul sekaliannya.

6) Al Farabi (Wafat, 950 M) : Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) tentang alam maujud, bagaimana hakikat yang sebenarnya. 7) Johann Gotlich Fickte (1762-1814) : Filsafat sebagai

Wissenschaftslehre (ilmu dari ilmu-ilmu , yakni ilmu umum,

yang jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari seluruh kenyataan.

8) Notonegoro: Filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah , yang disebut hakekat.

9) Driyarkara : Filsafat sebagai perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebabnya ada dan berbuat, perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai “mengapa yang penghabisan “.

10) Sidi Gazalba: Berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran , tentang segala sesuatu yang di masalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal.

(15)

11) Harold H. Titus (1979) : (1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepecayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi; (2) Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh suatu pandangan keseluruhan; (3) Filsafat adalah analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan pengertian (konsep); (4) Filsafat adalah kumpulan masalah yang mendapat perhatian manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh para ahli filsafat.

12) Hasbullah Bakry: Ilmu Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ke-Tuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia itu sebenarnya setelah mencapai pengetahuan itu.

13) Prof. Mr.Mumahamd Yamin: Filsafat ialah pemusatan pikiran, sehingga manusia menemui kepribadiannya seraya di dalam kepribadiannya itu dialaminya kesungguhan.

14) Prof. Dr. Ismaun, M.Pd. : Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh, yakni secara kritis sistematis, fundamentalis, universal, integral dan radikal untuk mencapai dan menemukan kebenaran yang hakiki (pengetahuan, dan kearifan atau kebenaran yang sejati).

15) Bertland Russel: Filsafat adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah antara teologi dan sains. Sebagaimana teologi, filsafat berisikan pemikiran-pemikiran mengenai masalah yang pengetahuan definitif tentangnya sampai sebegitu jauh tidak bisa dipastikan, namun seperti sains filsafat juga lebih menarik perhatian akal manusia dari pada otoritas tradisi maupun otoritas wahyu.

(16)

Dari semua pengertian filsafat secara terminologis di atas, dapat ditegaskan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam dan sungguh-sungguh, serta radikal sehingga mencapai hakikat segala situasi tersebut.

Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa filsafat adalah suatu ilmu, meskipun bukan ilmu pengetahuan biasa, yang berusaha menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran, sehingga bolehlah filsafat disebut sebagai suatu usaha untuk berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Hal yang membawa usahanya itu kepada suatu kesimpulan universal dari kenyataan partikular atau khusus, dari hal yang tersederhana sampai yang terkompleks. Dengan kata lain bahwa secara umum filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.

Filsafat adalah Ilmu tentang hakikat, atau pengetahuan tentang esensi suatu objek kajian/tinjauan ilmiah. Di sinilah dapat dipahami perbedaan mendasar antara filsafat dan ilmu (spesial) atau sains. Ilmu membatasi wilayahnya sejauh alam yang dapat dialami, dapat diindera, atau alam empiris. Ilmu menghadapi permasalahannya dengan pertanyaan “bagaimana” dan “apa sebabnya”. Filsafat mencakup pertanyaan-pertanyaan mengenai makna, kebenaran, dan hubungan logis di antara ide-ide dasar (keyakinan, asumsi dan konsep) yang tidak dapat dipecahkan dengan ilmu empiris. Hal ini dinyatakan dalam The Grolier Int. Dict.

(17)

dengan definisi Philosophy : Inquiry into the nature of things based

on logical reasoning rather than empirical methods.

Filsafat meninjau dengan pertanyaan “apa itu”, “dari mana” dan “ke mana”. Dalam hal ini orang tidak mencari pengetahuan sebab dan akibat dari suatu masalah, seperti yang diselidiki ilmu, melainkan orang mencari tahu tentang apa yang sebenarnya pada barang atau masalah itu, dari mana terjadinya dan ke mana tujuannya.

Maka, jika para filsuf ditanyai, “Mengapa A percaya akan Allah”, mereka tidak akan menjawab, “Karena A telah dikondisikan oleh pendidikan di sekolahnya untuk percaya kepada Allah,” atau “Karena A kebetulan sedang gelisah, dan ide tentang suatu figur pelindung (Allah) membuatnya tenteram.” Dalam hal ini, para filsuf tidak berurusan dengan sebab-sebab, melainkan dengan dasar-dasar yang mendukung atau menyangkal pendapat tentang keberadaan Allah.

Tugas filsafat menurut Socrates (470-399 S.M.) bukan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam kehidupan, melainkan mempersoalkan jawaban yang diberikan. Kattsoff (1963) di dalam bukunya Elements of Philosophy memberikan pengertian tentang “filsafat” sebagai berikut :

* Filsafat adalah berpikir secara kritis.

* Filsafat adalah berpikir dalam bentuk sistematis. * Filsafat harus menghasilkan sesuatu yang runtut. * Filsafat adalah berpikir secara rasional.

* Filsafat harus bersifat komprehensif.

Ada empat persoalan yang yang hakiki ingin dipecahkan oleh filsafat, yakni :

(18)

1. Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Ontologi (Metafisika).

2. Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi.

3. Apakah yang harus saya laksanakan dan apa nilai kefaedahannya? Permasalahan ini dikaji oleh Aksiologi 4. Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi

Filsafat.

Beberapa aliran atau ragam ajaran filsafat yang telah mengisi dan tersimpan dalam khasanah perkembangan ilmu pengetahuan, antara lain :

1. Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme humanistis.

2. Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif. 3. Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani

dan dunia materi murupakan hakitat yang asli dan abadi. 4. Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang

tidak bersikap mutlak (absolut) tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan minusia.

Manfaat filsafat dalam kehidupan adalah : 1. Sebagai dasar dalam bertindak.

2. Sebagai dasar dalam mengambil keputusan. 3. Untuk mengurangi salah paham dan konflik.

4. Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.

(19)

Tugas filsafat adalah melaksanakan pemikiran rasional analisis dan teoritis (bahkan spekulatif) secara mendalam dan mendasar melalui proses pemikiran yang sistematis, logis, dan radikal (sampai keakar-akarnya), tentang problema hidup dan kehidupan manusia. Produk pemikiran filsafat merupakan pandangan dasar yang berintikan kepada “trichotomi” (tiga kekuatan rohani pokok), yang berkembang dalam pusat kemanusiaan (antropology centra) yang meliputi:

1) Individualisme 2) Sosialitas 3) Moralitas

Ketiga kemampuan pokok manusia tersebut berkembang dalam pola hubungan tiga arah yang dinamakan “trilogi hubungan” yaitu:

1) Hubungan dengan Tuhan, karena manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya.

2) Hubungan dengan masyarakat karena manusia sebagai masyarakat.

3) Hubungan dengan alam sekitar karena manusia makhluk Allah yang harus mengelola, mengatur, memanfaatkan kekayaan alam sekitar yang terdapat di atas, di bawah dan di dalam perut bumi ini.

B. Pengertian Ilmu atau Ilmu Pengetahuan

Istilah ilmu yang biasa juga dirangkai menjadi istilah ilmu pengetahuan, diartikan oleh beberapa ahli dalam berbagai terminologi berikut ini :

1. Mohammad Hatta; Ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan

(20)

kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut hubungannya dari dalam.

2. Harsojo, Antropolog Universitas Pajajaran; mendefinisikan ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu yang pada prinsipnya dapat diamati panca indera manusia.

3. Ralp Ross dan Ernest Van Den Haag; Ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik, dan keempatnya serentak. 4. Karl Pearson ; Ilmu adalah lukisan atau keterangan yang

komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah sederhana.

5. Ashely Montagu, Antropolog Rutgers University; Ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji.

6. Afanasyef, pemikir Marxist Rusia; Ilmu adalah pengetahuan manusia tentang alam, masyarakat, dan pikiran. Ia mencerminkan alam dan konsep-konsep, kategori dan hukum-hukum, yang ketetapannya dan kebenarannya diuji dengan pengalaman praktis.

7. Communality, The Liang Gie (1991); Ilmu adalah sekumpulan proposisi sistematis yang terkandung dalam pernyataan-pernyataan yang benar dengan ciri pokok yang bersifat general, rational, objektif, mampu diuji kebenarannya (verifikasi objektif), dan mampu menjadi milik umum.

8. J. Haberer (1972); Ilmu adalah suatu hasil aktivitas manusia yang merupakan kumpulan teori, metode dan praktek dan menjadi pranata dalam masyarakat.

(21)

9. J.D. Bernal (1977); Ilmu adalah suatu pranata atau metode yang membentuk keyakinan mengenai alam semesta dan manusia.

10. E. Cantote (1977); Ilmu adalah suatu hasil aktivitas manusia yang mempunyai makna dan metode.

11. Cambridge-Dictionary (1995); Ilmu Pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang benar, mempunyai objek dan tujuan tertentu dengan sistem, met ode untuk berkembang serta berlaku universal yang dapat diuji kebenarannya.

Secara garis besarnya perbedaan antara ilmu (ilmu pengetahuan) dengan filsafat dapat dilihat obyek kajian antara keduanya. Ada dua perbedaan pokok dari sudut pandang obyek kajian antara ilmu pengetahuan dengan filsafat, yakni :

1. Perbedaan dilihat dari obyek material

Filsafat itu bersifat universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada [realita]. Sedangkan obyek material ilmu (pengetahuan ilmiah) itu bersifat khusus dan empiris. Artinya, ilmu hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secara kaku dan terkotak-kotak, sedangkan kajian filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin tertentu.

2. Perbedaan dilihat dari obyek formal

Filsafat itu bersifat non fragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar. Sedangkan ilmu bersifat fragmentaris, spesifik, dan intensif. Di samping itu, obyek formal itu bersifat teknik, yang berarti bahwa cara ide-ide manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita. Perbedaan ilmu pengetahuan dengan filsafat dari berbagai sudut pandang dapat dijabarkan lebih jauh sebagai berikut :

(22)

a) Filsafat dilaksanakan dalam suasana pengetahuan yang menonjolkan daya spekulasi, kritis, dan pengawasan, sedangkan ilmu haruslah diadakan riset lewat pendekatan trial and error. Oleh karena itu, nilai ilmu terletak pada kegunaan pragmatis, sedangkan kegunaan filsafat timbul dari nilainnya.

b) Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman realitas sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskursif, yaitu menguraikan secara logis, yang dimulai dari tidak tahu menjadi tahu.

c) Filsafat memberikan penjelasan yang terakhir, yang mutlak, dan mendalam sampai mendasar (primary cause) sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, yang lebih dekat, yang sekunder (secondary cause).

d) Filsafat = berpikir kritis atau selalu mempertanyakan segala hal tanpa ada eksperimen. Sedangkan ilmu pengetahuan = selalu dengan eksperimen untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya.

C. Pengertian Filsafat Ilmu

Perkembangan, pertumbuhan, dan penguatan ilmu telah menimbulkan persoalan-persoalan yang berada di luar minat, kesempatan, atau jangkauan dari para ilmuwan sendiri untuk menyelesaikannya. Namun, ada sebagian cedekiawan dengan pemikiran yang reflektif telah berusaha menemukan penyelesaian untuk masalah tersebut, yang mana para cendekiawan ini disebut sebagai filsuf (philosophers). Hasil pemikiran para filsuf mengenai ilmu secara filosofis merupakan “filsafat ilmu” atau philosophy of

(23)

science. Berbagai definisi philosophy of science dari para filsuf dapat

dikutip sebagai berikut:

1. Robert Ackermann

Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah sebuah tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap pendapat-pendapat lampau yang telah dibuktikan atau dalam kerangka ukuran-ukuran yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu demikian jelas bukan suatu cabang ilmu yang bebas dari praktek ilmiah senyatanya.

2. Lewis White Beck

Filsafat ilmu mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagi suatu keseluruhan.

3. Cornelius Benjamin

Cabang pengetahuan filsafat yang merupakan telaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan pra-anggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang-cabang pengetahuan intelektual.

4. Michael V.Berry

Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah, dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.

5. May Brodbeck

Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan, dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.

(24)

6. Peter Caws

Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal: di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, yang menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di pihak lain, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketidak-tepatan dan kesalahan.

7. Alfred Cyril Ewing

Istilah filsafat ilmu biasanya diterapkan pada cabang logika yang membahas dalam suatu cara yang dikhususkan metode-metode dari ilmu-ilmu yang berlainan.

8. Antony Flew

Ilmu empiris yang teratur menyajikan hasil yang paling mengesankan dari rasionalitas manusia dan merupakan salah satu dari calon yang diakui terbaik untuk pengetahuan. Filsafat ilmu berusaha menunjukkan dimana letak rasionalitas itu; apa yang khusus mengenai penjelasan-penjelasannya dan kontruksi-kontruksi teorinya; apa yang memisahkannya dari perkiraan dan ilmu-semu serta membuat ramalan-ramalannya dan berbagai teknologi berharga untuk dipercaya; yang terpenting apakah teori-teorinya dapat diterima sebagai mengungkapkan kebenaran tentang suatu realitas objektif yang tersembunyi

(25)

9. A. R. Lacey

Terutama studi tentang bagaimana ilmu bekerja atau seharusnya bekerja. Studi tentang bagaimana ini melakukan biasanya diterima sebagai suatu petunjuk yang layak tentang bagaimana ini seharusnya. Studi ini sering disebut metodologi, suatu istilah yang dapat juga bersifat relatif, misalnya metodologi sejarah.

10. John Macmurray

Dalam filsafat ilmu, fokus kajiannya akan meliputi berbagai pemeriksaan kritis terhadap pandangan-pandangan umum, prasangka-prasangka alamiah yang terkandung dalam asumsi-asumsi ilmu atau yang berasal dari keasyikan dengan ilmu; tetapi yang bukan sendirinya merupakan hasil-hasil penyelidikan dengan metode-metode yang ilmu memakainya. Ketika saya mendefinisikan filsafat ilmu sebagai penilaian filsuf tentang ilmu itu sendiri, hal inilah yang terdapat dalam pikiran saya.

11. D. W. Theobald

Ilmu dalam garis besarnya bersangkutan dengan apa yang dapat dianggap sebagai fakta tentang dunia yang kita diami. Filsafat ilmu di pihak lain dalam garis besarnya pula bersangkutan dengan sifat dasar fakta ilmiah, atau dinyatakannya secara lain, bersangkutan dengan fakta-fakta mengenai fakta-fakta tentang dunia.

12. Stephen R. Toulmin

Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah-prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbincangan, metode-metode penggantian dan perhitungan,

(26)

praanggapan-praanggapan metafisis, dan seterusnya. Dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesahihannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika.

Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut “landasan ilmu”, maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Landasan (foundation) dari ilmu itu mencakup, antara lain :

a) konsep-konsep pangkal; b) anggapan-anggapan dasar; c) asas-asas permulaan; d) struktur-struktur teoritis;

e) ukuran-ukuran kebenaran ilmiah.

Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dengan ilmu pengetahuan. Istilah yang terdapat dalam kepustakaan asing untuk menyebut bidang pengetahuan ini ialah:

a) philosophy of science (filsafat ilmu) b) theory of science (teori ilmu) c) metascience (adil-ilmu) d) methodology (metodologi)

e) science of science (ilmu tentang ilmu)

Filsuf Rudolf Carnap memakai istilah science of science dan memberikan definisi sebagai “analisis dan pelukisan tentang ilmu dari berbagai sudut tinjauan, termasuk logika, metodologi, sosiologi, dan sejarah ilmu”.

(27)

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik, potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan.

Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Secara umum pengertian filsafat pendidikan bisa diartikan salah satu cabang filsafat yang ruang lingkupnya terfokus dalam bidang pendidikan. Berikut ini, beberapa pengertian filsafat pendidikan menurut para ahli:

1) Muhammad Labib al-Najihi: Filsafat pendidikan adalah suatu aktivitas yang teratur yang menjadikan filsafat itu sebagai jalan mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan.

2) Kilpatrik dalam Buku Philosophy of Education menyebutkan "Berfilsafat dan mendidik adalah dua fase dalam satu usaha. Berfilsafat adalah memikirkan dan mempertimbangkan nilai-nilai dan cita-cita yang lebih baik, sedangkan mendidik ialah usaha merealisasi nilai-nilai dan cita-cita itu di dalam kehidupan dan dalam kepribadian manusia. Mendidik ialah mewujudkan nilai-nilai yang disumbangkan filsafat, dimulai dengan generasi muda, untuk membimbing rakyat membina nilai-nilai di dalam kepribadian mereka, dan melembagakannya dalam kehidupan mereka.

3) John Dewey dalam bukunya Democracy and Education, memandang pendidikan sebagai suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut

(28)

menuju kearah tabi’at manusia, maka filsafat juga dapat diartikan sebagai teori umum pendidikan.

4) Van Cleve Morris menyatakan : Secara ringkas kita mengatakan bahwa pendidikan adalah studi filosofis, karena ia pada dasarnya, bukan alat social semata untuk mengalihkan cara hidup secara menyeluruh kepada setiap generasi, akan tetapi ia juga menjadi agen (lembaga) yang melayani hati nurani masyarakat dalam perjuangan mencapai hari depan lebih baik. (dalam buku Filsafat Pendidikan Islam, Prof H.M. Arifin, M.Ed).

Aliran filsafat pendidikan yang berkembang saat ini sangat dipengaruhi oleh pandangan dan teori-teori yang dikemukakan oleh para filsuf-filsuf dunia. Aliran-aliran dalam filsafat pendidikan yang berkembang saat ini antara lain:

1) Filsafat Pendidikan Idealisme; memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Menurut aliran idealisme, bahwa nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui atau menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan perasaan senang tak senang mengenai nilai tersebut. Selain itu aliran idealisme beranggapan pula bahwa pengetahuan timbul karena adanya hubungan antara dunia kecil dengan dunia besar.

(29)

Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali.

2) Filsafat Pendidikan Realisme; merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Aliran realisme menganggap bahwa pengetahuan terbentuk berkat bersatunya stimulus dan tanggapan tententu menjadi satu kesatuan. Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.

3) Filsafat Pendidikan Materialisme; berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach.

4) Filsafat Pendidikan Pragmatisme; dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos. 5) Filsafat Pendidikan Eksistensialisme; memfokuskan pada

pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankan pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam

(30)

Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich.

6) Filsafat Pendidikan Progresivisme; bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memokuskan pada guru atau bidang muatan. Aliran progresivisme berpendapat bahwa tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal, menyala, tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kebudayaan. Belajar berfungsi untuk mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Dalam tataran proses pembelajaran, maka kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff.

7) Filsafat Pendidikan Esensialisme; adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda. Aliran esensialisme berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada celah yang mengatur dunia beserta isinya dengan

(31)

tiada cela pula. Esensialisme didukung oleh idealisme modern yang mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berada. Esensialisme juga didukung oleh idealisme subjektif yang berpendapat bahwa alam semesta itu pada hakikatnya adalah jiwa/spirit dan segala sesuatu yang ada ini nyata ada dalam arti spiritual. Realisme berpendapat bahwa kualitas nilai tergantung pada apa dan bagaimana keadaannya, apabila dihayati oleh subjek tertentu, dan selanjutnya tergantung pula pada subjek tersebut. Teori esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu pada nilai-nilai yang telah teruji ketangguhan, dan kekuatannya sepanjang masa. Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.

8) Filsafat Pendidikan Perenialisme; Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Aliran perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum

(32)

dihadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme berpandangan hahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler.

9) Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme; merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.

Sebagai sebuah disiplin ilmu, filsafat tentu juga akan mengalami dinamika dan perkembangan sesuai dengan dinamika dan perkembangan ilmu-ilmu yang lain, yang biasanya mengalami percabangan (pluralitas). Filsafat sebagi suatu disiplin ilmu telah melahirkan tiga cabang kajian. Ketiga cabang kajian itu ialah teori hakikat (ontologi), teori pengetahuan (epistemologi), dan teori nilai (aksiologi).

1.2 Filsafat Ontologi

Dari sudut pandang ilmu semantik atau etimologi, istilah “ontologi” berasal dari kata Yunani onto yang berarti “yang ada secara nyata”, “kenyataan yang sesungguhnya”. Sedangkan istilah “logi” berasal dari kata Yunani “logos” yang berarti “studi tentang” atau “uraian tentang”.

(33)

Sedangkan dari sudut pandang terminologi ontologi adalah ilmu yang membahas sesuatu yang telah ada, baik secara jasmani maupun secara rohani. Dalam aspek ontologi diperlukan landasan-landasan dari sebuah pernyataan-pernyataan dalam sebuah ilmu. Landasan-landasan itu biasanya disebut dengan istilah metafisika. Secara etimologi metafisika bermakna sesuatu yang ada pada sesudah fisika. Oleh karena itu maka Delfgaauw membedakan antara ontologi dan metafisika melihat dari objeknya. Objek yang bisa ditangkap dengan panca indra termasuk masalah ontologi, sedangkan objek yang tidak dapat ditangkap denga panca indra termasuk bidang metasifika. Memang pada mulanya ontologi dan metafisika adalah satu, yaitu dibahas dalam kajian metafisika. Kemudian pada abad ke-17 para filsuf membedakan antara metafisika dan ontologi pada pemilahan kajian atau objek yang ditelaah.

Selain metafisika juga terdapat sebuah asumsi dalam aspek ontologi ini. Asumsi ini berguna ketika akan mengatasi suatu permasalahan ilmiah. Dalam asumsi juga terdapat beberapa paham yang berfungsi untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tertentu, yaitu: (1) determinisme (suatu paham pengetahuan yang sama dengan empiris), (2) probabilistik (paham ini tidak sama dengan determinisme, karena paham ini ditentukan oleh sebuah kejadian terlebih dahulu), (3) fatalisme (sebuah paham yang berfungsi sebagai paham penengah antara determinisme dan pilihan bebas), dan (4) paham pilihan bebas. Setiap ilmuan memiliki asumsi sendiri-sendiri untuk menanggapi sebuah ilmu dan mereka mempunyai batasan-batasan sendiri untuk menyikapinya. Apabila dalam mengatasi suatu permasalahan ilmiah, dipakai suatu paham yang salah dan berasumsi yang salah, maka akan diperoleh kesimpulan yang berantakan.

(34)

Ontologi merupakan cabang utama dari ilmu filsafat, yang mengkaji mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dengan lainnya. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia, termasuk keberadaan, kebendaan, sifat, ruang, waktu, hubungan sebab akibat, dan kemungkinan.

Pengertian ontologi dari sudut pandang terminologi, dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya adalah :

1. Aristoteles; mengatakan The ontology is first philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda.

2. Noeng Muhajir; dalam bukunya Filsafat Ilmu mengatakan ontology membahas tentang yang ada yang universal dan tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu.

3. Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.

4. Jujun S. Suriasumatri (1985) ; dalam bukunya Pengantar ilmu dalam Perspektif, mengatakan bahwa ontologi membahas apa yang ingin diketahui, seberapa jauh keingintahuan itu, atau dengan perkataan lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. Telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :

1) apakah obyek ilmu yang akan ditelaah,

2) bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut, dan 3) bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya

tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan.

5. A. Dardiri ; dalam bukunya Humaniora, Filsafat dan Logika mengatakan ontologi adalah menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda dimana entitas dari kategori-kategori yang logis yang

(35)

berlainan (objek-objek fisis, hal universal, abstraksi) dapat dikatakan ada.

6. Sidi Gazalba; dalam bukunya Sistematika Filsafat mengatakan, ontologi mempersoalkan sifat dan keadaan terakhir dari kenyataan.

7. Amsal Bakhtiar; dalam bukunya Filsafat Agama I mengatakan, ontologi adalah teori/ilmu tetang wujud, tentang hakikat yang ada.

8. Menurut Soetriono & Hanafie (2007); Ontologi yaitu merupakan azas dalam menerapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi obyek penelaahan (obyek ontologis atau obyek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realita (metafisika) dari obyek ontologi atau obyek formal tersebut, dan dapat merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan.

9. Menurut Pandangan The Liang Gie; Ontologi adalah bagian dari filsafat dasar yang mengungkap makna dari sebuah eksistensi yang pembahasannya meliputi persoalan-persoalan :

1) Apakah artinya ada, hal ada ?

2) Apakah golongan-golongan dari hal yang ada ? 3) Apakah sifat dasar kenyataan dan hal ada ?

4) Apakah cara-cara yang berbeda dalam mana entitas dari kategori-kategori logis yang berlainan (misalnya objek-objek fisis, pengertian universal, abstraksi dan bilangan) dapat dikatakan ada ?

10. Menurut Ensiklopedi Britannica; yang juga diangkat dari konsepsi Aristoteles, Ontologi yaitu teori atau studi tentang being (ujud), seperti karakteristik dasar dari seluruh realitas.

(36)

untuk menentukan sifat nyata yang asli (real nature) dari suatu benda untuk menentukan arti, struktur dan prinsip benda tersebut. (Filosofi ini didefinisikan oleh Aristoteles abad ke-4 SM).

Jadi secara sederhana menurut penulis bahwa, ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.

Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Dari pendekatan ontologi dalam filsafat mencullah beberapa paham (Ali Mudhofir, 1997), antara lain :

(1) Paham monoisme yang terpecah menjadi idealisme atau

spiritualisme;

(2) Paham dualisme, dan

(3) Pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik.

Ada beberapa pertanyaan mendasar yang berputar sekitar persoalan-persoalan ontologis di antaranya adalah :

 Apa yang dimaksud dengan ada, keberadaan atau eksistensi itu ?

 Bagaimanakah penggolongan dari ada, keberadaan, atau eksistensi ?

Apa sifat dasar (nature) kenyataan atau keberadaan ? Selanjutnya bagaimana dengan ontologi ilmu atau pengetahuan ilmiah. Oleh Ali Mudhofir (1997) dijelaskan bahwa Ontologi Ilmu adalah mengkaji apa hakikat ilmu atau pengetahuan

(37)

ilmiah yang seringkali secara populer banyak orang menyebutnya dengan ilmu pengetahuan, apa hakikat kebenaran rasional atau kebenaran deduktif dan kenyataan empiris yang tidak terlepas dari persepsi ilmu tentang apa dan bagaimana (yang) “ada” itu (being Sein, het zijn).

Ontologi ilmu menurut Mudhofir (1997), membatasi diri pada ruang kajian keilmuwan yang bisa dipikirkan manusia secara rasional dan yang bisa diamati melalui panca indera manusia. Wilayah ontologi ilmu terbatas pada jangkauan pengetahuan ilmiah manusia. Sementara kajian objek penelaah yang berada dalam batas prapengalaman (seperti penciptaan manusia) dan pasca pengalaman (seperti surga dan neraka) menjadi ontologi dari pengetahuan lainnya di luar ilmu. Ilmu adalah bagian kecil dari serangkaian pengetahuan yang dapat ditemukan dan di pelajari serta dibutuhkan dalam mengatasi berbagai dilema dunia dan isinya.

Dengan kata lain ilmu yang banyak orang mengatakan dengan sebutan pengetahuan ilmiah, hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan, dengan melakukan berbagai penafsiran tentang hakikat realitas dari objek ontologi. Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang (Ali Mudhofir, 1997), yakni :

1) Aspek kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?, dan

2) Aspek kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.

(38)

Beberapa aliran dalam bidang ontologi (Ali Mudhofir, 1997), yakni ; realisme, naturalisme, empirisme.

Naturalisme di dalam seni rupa adalah usaha menampilkan objek realistis dengan penekanan seting alam? Istilah- istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah: yang ada (being), kenyataan/realitas (reality), eksistensi (existence), esensi (essence), substansi (substance), perubahan (change), tunggal (one) dan jamak (many).

Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, telaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh Aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya dipahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental.

Ada beberapa manfaat ontologi yang merupakan salah satu kajian filsafat ilmu, di antaranya sebagai berikut:

1. Membantu untuk mengembangkan dan mengkritisi berbagai bangunan sistem pemikiran yang ada.

2. Membantu memecahkan masalah pola relasi antar berbagai eksisten dan eksistensi.

3. Bisa mengeksplorasi secara mendalam dan jauh pada berbagai ranah keilmuan maupun masalah, baik itu sains hingga etika.

Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang

(39)

merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka, sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri.

1.3 Filsafat Epistemologi

Epistemologi berasal dari kata Yunani episteme, yang berarti “pengetahuan”, “pengetahuan yang benar”, “pengetahuan ilmiah”, dan logos = teori. Aspek estimologi merupakan aspek yang membahas tentang pengetahuan filsafat. Aspek ini membahas bagaimana cara mencari pengetahuan dan seperti apa pengetahuan tersebut.

Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan syahnya (validitas) pengetahuan. Dalam metafisika, pertanyaan pokoknya adalah “apakah ada itu?” sedangkan dalam epistemologi pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui?” (Nadiroh, 2011).

Pengetahuan adalah jarum sejarah yang selalu berkembang mengikuti perkembangan zaman. Semakin banyak ilmu yang dipahami, maka semakin banyak pula khasanah yang dimiliki. Pengetahuan inilah yang menjadi batasan-batasan manusia di dalam menelaah suatu ilmu. Hal ini yang mengakibatkan ilmu zaman dahulu dan zaman sekarang berbeda. Misalnya, ditinjau dari segi ilmu teknologi. Teknologi zaman dahulu dan zaman sekarang sangat berbeda jauh. Ilmu untuk menyikapi fenomena seperti itu juga akan ikut berkembang dan semakin bertambah. Dalam aspek epistemologi ini terdapat beberapa logika, yaitu: analogi, silogisme, premis major, dan premis minor.

(40)

1) Analogi, analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain.

2) Silogisme, silogisme adalah penarikan kesimpulan konklusi secara deduktif tidak langsung, yang konklusinya ditarik dari premis yang disediakan sekaligus.

3) Premis Major, premis mayor bersifat umum yang berisi tentang pengetahuan, kebenaran, dan kepastian.

4) Premis Minor, premis minor bersifat spesifik yang berisi sebuah struktur berpikir dan dalil-dalilnya.

Contohnya : Premis major : “semua makhluk hidup akan mati”.

Premis minor : “manusia adalah makhluk hidup”.

Konklusi : “semua manusia akan mati”. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode dan batasan pengetahuan manusia (a branch of

philosophy that investigates the origin, nature, methods and limits of human knowledge). Oleh karena itu Epistemologi juga disebut

teori pengetahuan (theory of knowledge), (Jujun S. Suriasumantri, 2000).

Epistemologi juga sering diistilahkan filsafat pengetahuan (phylosophy of knowlwdge). Filsafat pengetahuan adalah cabang filsafat yang mempersoalkan masalah hakikat pengetahuan. Maksud dari filsafat pengetahuan adalah ilmu pengetahuan kefilsafatan yang secara khusus hendak memperoleh pengetahuan tentang hakikat pengetahuan. Epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan keshahihan pengetahuan. Jadi objek material epistemology adalah

(41)

pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu. Jadi sistematika penulisan epistemologi adalah arti pengetahuan, terjadinya pengetahuan, jenis-jenis pengetahuan dan asal-usul pengetahuan.

Ada beberapa persoalan di dalam kajian epistemologi terhadap setiap ilmu pengetahuan antara lain (Nadiroh, 2011) :

a. Apakah pengetahuan itu ?

b. Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu ? c. Darimana pengetahuan itu dapat diperoleh ?

d. Bagaimanakah validitas pengetahuan itu dapat dinilai ? e. Apa perbedaan antara pengetahuan a priori (pengetahuan

pra-pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) ?

f. Apa perbedaan di antara: kepercayaan, pengetahuan, pendapat, fakta, kenyataan, kesalahan, bayangan, gagasan, kebenaran, kebolehjadian, kepastian ?

Dalam tulisan ini epistemologi dibatasi pada aspek epistemologi ilmu yang sering disebut dengan metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah.

Menurut Senn, “metode” merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Metodologi ini secara filsafat termasuk dalam apa yang dinamakan epistemologi. Epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan : apakah

(42)

sumber pengetahuan ? apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan ? apakah manusia dimungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan? sampai tahap mana pengetahuan yang mungin untuk ditangkap manusia ? (Jujun, S. Suriasumantri, 2000).

Sebagaimana halnya berpikir yang selalu dilakukan manusia sebagai suatu kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan, maka metode ilmiah merupakan ekspresi cara bekerja pikiran. Dengan cara bekerja ini maka pengetahuan yang dihasilkan diharapkan mempunyai karakteristik–karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnya merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Dalam hal ini maka metode ilmiah mencoba membangun tubuh pengetahuannya (Jujun, S. Suriasumantri, 2000).

Proses kegiatan ilmiah, menurut Ritchie Calder, dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Tentu saja hal ini akan membawa kepada pertanyaan lain : mengapa manusia mulai mengamati sesuatu ? Perhatian tersebut dinamakan John Dewey sebagai suatu masalah atau kesukaran yang dirasakan bila manusia menemukan sesuatu di dalam pengalamannya yang menimbulkan pertanyaan. Dan pertanyaan ini timbul disebabkan oleh adanya kontak manusia dengan dunia empiris yang menimbulkan berbagai ragam permasalahan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa “ada masalah” baru ada proses kegiatan berpikir, dan berpikir baru dimulai, dan karena masalah ini berasal dari dunia empiris, maka proses berpikir tersebut diarahkan pada pengamatan objek empiris (Nadiroh, 2011).

Ilmu yang mulai berkembang pada tahap ontologis, manusia berpendapat bahwa terdapat hukum-hukum tertentu, yang terlepas dari kekuasaan dunia mistis, yang menguasai gejala-gejala

(43)

empiris. Dalam tahap ontologis ini maka manusia mulai mengambil jarak dari objek di sekitarnya, tidak seperti apa yang terjadi dalam dunia mistis, dimana semua objek berada dalam kesemestaan yang bersifat difusi dan tidak jelas batas-batasnya.

Langkah dalam epistemologi ilmu antara lain berpikir deduktif dan induktif. Berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Secara sistematik dan kumulatif pengetahuan ilmiah disusun setahap demi setahap dengan menyusun argumentasi mengenai sesuatu yang baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada. Secara konsisten dan koheren maka ilmu mencoba memberikan penjelasan yang rasional kepada objek yang berada dalam fokus penelaahan.

Proses kegiatan ilmiah, menurut Ritchie Calder, dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Tentu saja hal ini membawa kita kepada pertanyaan lain : mengapa manusia mulai mengamati sesuatu ? Perhatian tersebut dinamakan John Dewey sebagai suatu masalah atau kesukaran yang dirasakan bila kita menemukan sesuatu dalam pengalaman kita yang menimbulkan pertanyaan. Dan pertanyaan ini timbul disebabkan oleh adanya kontak manusia dengan dunia empiris yang menimbulkan berbagai ragam permasalahan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa “ ada masalah” baru ada proses kegiatan berpikir dan berpikir baru dimulai, dan karena masalah ini berasal dari dunia empiris, maka proses berpikir tersebut diarahkan pada pengamatan objek empiris (Nadiroh, 2011).

Menurut Einstein bahwa, ”Ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta, apa pun juga teori yang menjembatani antara keduanya”. Teori yang dimaksudkan disini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut. Teori

(44)

rasional digabungkan dengan pengalaman empiris. Artinya, teori

ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian

dengan objek yang dijelaskannya. Suatu penjelasan, biar bagaimanapun meyakinkannya, tetap harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar.

Disinilah pendekatan rasional digabungkan dengan pendekatan empiris sebagai langkah-langkah yang sempurna yang dapat mengkonstruksi pengetahuan ilmiah. Langlah-langkah inilah yang ditelaah dalam epistemologi ilmu yang juga disebut metode ilmiah. Secara rasional maka ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan antara pengetahuan ynag sesuai dengan fakta atau tidak.

Secara sederhana maka hal ini berarti bahwa semua teori ilmiah harus memenuhi dua syarat utama (Nadiroh, 2011), yakni : 1. Harus konsisten dengan teori-teori sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya kontradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan; dan

2. Harus cocok dengan fakta-fakta empiris sebab teori yang bagaimanapun konsistennya sekiranya tidak didukung oleh pengujian empiris tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah.

Jadi logika ilmiah merupakan gabungan antara logika deduktif dan logika induktif dimana rasionalisme dan empirisme hidup berdampingan. Oleh sebab itu, maka sebelum teruji kebenarannya secara empiris semua penjelasan rasional yang diajukan statusnya hanyalah bersifat sementara. Penjelasan sementara ini biasanya disebut hipotesis. Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah yang sedang dihadapi. Dalam melakukan penelitian untuk mendapatkan jawaban yang benar

(45)

maka seorang ilmuwan seakan-akan melakukan suatu “interograsi terhadap alam”.

Hipotesis dalam hubungan ini berfungsi sebagai penunjuk jalan yang memungkinkan untuk mendapatkan jawaban, karena alam itu sendiri membisu dan tidak responsif terhadap pertanyaan-pertanyaan. Harus kita sadari bahwa hipotesis itu sendiri merupakan penjelasan yang bersifat sementara yang membantu dalam melakukan penyelidikan. Sering ditemui kesalahpahaman dimana analisis ilmiah berhenti pada hipotesis tersebut tanpa upaya selanjutnya untuk melakukan verifikasi apakah hipotesis ini benar atau tidak. Kecenderugan ini terdapat pada ilmuwan yang sangat dipengaruhi oleh paham rasionalisme dan melupakan bahwa metode ilmiah merupakan gabungan dari rasionalisme dan empirisme.

Alur berpikir yang tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam beberapa langkah yang mencerminkan tahap-tahap dalam kegiatan ilmiah. Kerangka berpikir ilmiah yang berintikan proses logico-hypothetico-verification ini pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut :

a. Perumusan masalah yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya; b. Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis

yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling berkaitan dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan;

(46)

c. Perumusan hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak.

d. Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Sekiranya dalam proses pengujian terdapat fakta yang cukup yang mendukung hipotesis maka hipotesis itu diterima. Sebaliknya sekiranya dalam proses pengujian tidak terdapat fakta yang cukup mendukung hipoteis maka hipotesis itu ditolak (Jujun, S. Suriasumantri, 2000).

Keseluruhan langkah ini harus ditempuh agar suatu penelaahan dapat disebut ilmiah. Meskipun langkah-langkah ini secara konseptual tersususun dalam urutan yang teratur, dimana langkah yang satu merupakan landasan bagi langkah yang berikutnya, namun dalam praktiknya sering terjadi lompatan-lompatan. Hubungan antara langkah yang satu dengan langkah yang lainnya tidak terikat secara statis melainkan bersifat dinamis dengan proses pengkajian ilmiah yang tidak semata mengandalkan penalaran melainkan juga imajinasi dan kreativitas. Sering terjadi bahwa langkah yang satu bukan saja merupakan landasan bagi langkah yang berikutnya namun sekaligus juga merupakan landasan-landasan koreksi bagi langkah yang lain. Dengan jalan ini diharapkan diprosesnya pengetahuan yang bersifat konsisten dengan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya serta teruji kebenarannya secara empiris.

Referensi

Dokumen terkait

Apakah kemampuan manusia terbatas dalam mengetahui fakta pengalaman indera, atau manusia dapat mengetahui yang lebih jauh dari pada apa yang diungkapkan indera.. Istilah untuk

Ketentuan Umum Mengenai Penyidikan dan Penyidik

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI... 87 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN

Kebijakan program Urusan Pilihan Pariwisata diarahkan pada terwujudnya Semarang sebagai kota wisata melalui pengembangan dan pemanfaatan potensi potensi wisata

Pasal 14 Ayat (3): “Dalam menentukan tindak pidana yang dituduhkan padanya, setiap orang berhak atas jaminan-jaminan minimal berikut ini, dalam persamaan yang penuh: (i)

Individu in casu adalah orang-perorangan atau manusia yang dalam studi hukum HAM internasional (international human rights law) telah dikokohkan statusnya sebagai

Beliau berkata, ASEP yang diadakan setiap tahun sejak 2012 melibatkan negara-negara Asia dijadikan platform untuk mahasiswa berinteraksi dan menimba pengalaman dalam aspek pengurusan