BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. Penelitian yang dilakukan oleh Selimi (2016) yang berjudul The

Teks penuh

(1)

12 BAB II

TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan oleh Selimi (2016) yang berjudul “The Impact of Foreign Direct Investment on the Export Performance: Empirical Evidence for Western Balkan Countries”. Penelitian ini

memiliki tujuan utama untuk menganalisis secara empiris hubungan kinerja antara investasi asing dengan ekspor selama periode 1996 – 2013 di Negara Balkan Barat. Dilakukan pengujian menggunakan regresi data panel metode Least Square Dummy (LSDV) menunjukkan bahwa investasi asing langsung berpengaruh secara positif terhadap kinerja ekspor di Negara Balkan Barat.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Jenkins (2006) yang berjudul “Globalization, FDI and Employment in Vietnam”. Dalam penelitian tersebut penulis menjelaskan tentang cepatnya pertumbuhan arus FDI di Vietnam selama sekitar periode 1990-an dengan porsi signifikan afilasi asing terhadap output industri dan ekspor di awal abad 21. Menunjukkan bahwa FDI pada sektor jasa berpengaruh positif terhadap kesempatan kerja dan perusahaan asing lebih mengandalkan impor di sektor manufaktur terbukti dengan nilai saham yang terbilang tinggi.

(2)

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Oberhofer & Pfaffermayr (2007) yang berjudul “FDI versus Exports Substitutes or Complements? A Three Nation Model and Empirical Evidence”. Dalam penelitian penulis

terhadap beberapa negara di Eropa menunjukkan bahwa aliran keluar FDI dan ekspor bisa dipengaruhi oleh variabel yang sama seperti modal, buruh, skill dan aktivitas penelitian dan pengembangan (R&D). Dengan menggunakan bentuk endogenous, penelitian tersebut mengestimasi sistem persamaan serentak dengan menggunakan data dari Amadeus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pelengkap yang signifikan antara FDI dan ekspor.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Shopia & Sulasmiyati (2018) yang berjudul “Pengaruh Foreign Direct Investment, Ekspor, dan Utang Luar Negeri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi ASEAN (Studi Pada Produk Domestik Bruto Indonesia, Malaysia, Dan Thailand Periode Tahun 2007 – 2016)”. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil analisis data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang terdiri dari foreign direct investment, ekspor, utang luar negeri: secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, Malaysia dan Thailand. Secara parsial FDI berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, Malaysia dan Thailand. Ekspor berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, Malaysia dan Thailand. Utang luar

(3)

negeri berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Malaysia, sedangkan utang luar negeri berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Thailand.

Kemudian yang terakhir penelitian yang dilakukan oleh Ilhamdi (2018) yang berjudul “Pengaruh Foreign Direct Investment dan AFTA Terhadap Kesempatan Kerja Sektoral di ASEAN 5”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak Penanaman Modal Asing (FDI) dan ASEAN Free Trade Agreement (AFTA) tentang ketenagakerjaan sectoral di ASEAN 5. Menggunakan regresi data panel dengan model Fixed Effect dengan mengambil data dari 5 Negara ASEAN yakni Malaysia, Filipina, Thailand, Indonesia dan Vietnam dengan periode pengamatan selama 9 tahun dari 2006-2014. Hasil dari penelitian ini adalah FDI dan AFTA berpengaruh positif terhadap kesempatan kerja di sektor jasa. Namun tidak memiliki dampak signifikan pada sektor pertanian, pertambangan, manufaktur, dan konstruksi di Negara ASEAN 5.

Penelitian ini hampir memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jenkins (2006) yang berjudul “Globalization, FDI and Employment in Vietnam”, dan penelitian yang dilakukan oleh Ilhamdi

(2018) yang berjudul “Pengaruh Foreign Direct Investment dan AFTA Terhadap Kesempatan Kerja Sektoral di ASEAN 5”. Namun pada penelitian ini penulis menambahkan variabel dependent yakni penyerapan tenaga kerja dan menggunakan variabel independent FDI, ekspor dan

(4)

impor serta menggunakan regresi linier berganda data panel. Dimana objek yang akan diteliti adalah 5 negara di ASEAN yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Thailand selama periode 2008-2018. Dengan meneliti penyerapan kerja secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan meneliti pertumbuhan penyerapan tenaga kerja di negara ASEAN tersebut. Alat analisis yang dipergunakan ialah Eviews. Peneliti berharap adanya dampak positif antara FDI, ekspor dan impor terhadap penyerapan tenaga kerja di ASEAN 5.

B. Landasan Teori

1. Teori Tenaga Kerja

Menurut Simanjuntak (2001), seseorang yang berada pada usia produktif kerja biasa disebut dengan man power (tenaga kerja). Tenaga kerja memegang peranan penting dalam perekonomian dalam proses produksi. Posisi tenaga kerja adalah sebagai pelaku ekonomi. Tenaga kerja terbilang sebagai pelaku ekonomi bukan pasif layaknya mesin, bahan baku, tanah dan modal. International Labour Organization (ILO) memperkenalkan pendekan angkatan kerja yaitu menjadi dua kategori:

a. Tenaga Kerja

Penduduk dalam suatu negara yang berusia produktif antara 15-64 tahun sedang bekerja maupun akan bekerja (mencari pekerjaan) dan memiliki potensi menghasilkan produk barang ataupun jasa.

(5)

b. Bukan Tenaga Kerja

Berusia 15 tahun ke bawah dan diatas 64 tahun, menurut Undang-Undang Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2003. Penduduk yang tergolong dalam kategori ini adalah anak-anak, orang tua lanjut usia, penduduk yang pernah bekerja namun sudah masa usia pensiun.

Sendjun H. Manulang (2010), tenaga kerja adalah penduduk yang dianggap dapat melakukan sebuah pekerjaan yang menghasilkan output produksi seperi barang atau jasa yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan kebutuhannya sendiri diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 dalam Pasal 1 ayat 2 mengenai Tenaga Kerja.

Sebuah perusahaan dapat memperoleh keuntungan serta seorang penduduk yang mendapatkan upah atas apa yang telah ditawarkan untuk dikerjakan dengan kemampuan yang dimilikinya digunakan untuk memproduksi beberapa barang atau jasa adalah bentuk definisi tenaga kerja. Dengan penjelasan beberapa pengertian mengenai tenaga kerja dapat ditarik kesimpulan bahwa tenaga kerja merupakan setiap individu atau penduduk yang berusia produktif termasuk angkatan kerja minimal 15 tahun dan maksimal 64 tahun dan dinilai memiliki kemampuan melakukan sebuah produksi (barang dan jasa) untuk menghidupinya dalam kebutuhan finansial maupun kebutuhan pribadi. Tenaga kerja dapat di klasifikasikan

(6)

menjadi dua bagian yaitu angakatan kerja dan bukan angkatan kerja. Untuk penjabaran dua klasifikasi tersebut sebagai berikut:

1) Angkatan Kerja

Menurut Feriyanto & Sriyana (2016), Angkatan kerja adalah individu atau penduduk dengan usia untuk bekerja yang sedang berkerja sementara tidak bekerja serta penduduk usia kerja yang sedang mencari sebuah pekerjaan. Jumlah tenaga kerja dalam definisi angkatan kerja adalah terdapat pada periode tertentu di sebuah perekonomian suatu negara. Penduduk yang bekerja dan pengangguran termasuk dalam angkatan kerja. Namun, pengangguran yang dimaksud dalam hali ini adalah konsep pengangguran terbuka dimana seseorang yang sedang dalam proses untuk mencari sebuah pekerjaan ataupun yang masih bersiap dalam hal mencari pekerjaan dan individu yang sebenarnya mudah memperoleh pekerjaan namun belum memulai pekerjaan tersebut.

Penduduk yang bekerja diartikan dengan penduduk atau individu yang berproses dalam suatu kegiatan ekonomi, kegiatan ekonomi tersebut dimaksud dengan pendapatan atau upah sebagai imbalan karena telah melakukan sebuah pekerjaan selama kurang lebih seminggu dengan paling sedikit satu jam tidak ada jeda.

(7)

Munculnya lapangan kerja baru dapat menjadi bukti adanya peningkatan produksi negara, apabila di Indonesia dapat dilihat dalam TPAK (Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja).

2) Bukan Angkatan Kerja

Definisi dari bukan angkatan kerja yang disebut dengan potential labour force adalah tenaga kerja yang sedang berada pada

usia produktif untuk bekerja namun tidak sedang mencari pekerjaan ataupun bekerja, seperti individu yang sedang melakukan kegiatan pendidikan atau biasa disebut bersekolah, seseorang yang lebih memilih mengurus rumah tangga berada di rumah setiap hari dan seseorang yang memang sedang tidak mencari dan melakukan sebuah pekerjaan. Namun, meskipun mereka dalam kategori tidak bekerja bisa saja dalam beberapa waktu kedepan mempunyai minat atau akan mencari dan menawarkan keterampilannya untuk memperoleh suatu pekerjaan dan bekerja demi mendapat upah untuk memenuhi kebutuhan.

c. Permintaan Tenaga Kerja

Adanya sebuah permintaan dari konsumen terhadap produsen untuk memproduksi barang dan jasa adalah hal yang mempengaruhi timbulnya permintaan tenaga kerja. Permintaan tenaga kerja tergantung dari jumlah permintaan konsumen terhadap barang dan

(8)

jasa yang diproduksi sebuah perusahaan. Semakin tinggi permintaan barang dan jasa untuk dikonsumsi maka akan semakin meningkat permintaan perusahaan terhadap tenaga kerja, karena tenaga kerja membantu berjalannya proses produksi sebuah perusahaan. Permintaan terhadap tenaga kerja secara garis besar dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti :

1) Perubahan Permintaan Hasil Produksi

Penambahan kapasitas hasil produksi sebuah perusahaan dapat berdampak pada penambahan jumlah tenaga kerja, hal tersebut terjadi karena adanya peningkatan permintaan produksi barang atau jasa oleh konsumen.

2) Tingkat Upah

Tingkat upah yang berfluktuasi rendah ke tinggi akan berpengaruh pada proses produksi sebuah perusahaan dan akan menimbulkan terjadinya scale effect dan substitution effect (capital intensive). Scale effect terjadi akibat kenaikan upah

membuat biaya produksi meningkat dan perusahaan akan ikut menaikkan harga produksi, sehingga konsumen akan mengurangi konsumsi. Dalam jangka pendek hal tersebut dapat diatasi dengan pengurangan jumlah produksi, pengurangan jumlah produksi berdampak pada pengurangan tenaga kerja suatu perusahaan. Jika kenaikan upah terjadi dalam jangka

(9)

panjang maka besar kemungkinan akan terjadi efek substitusi tenaga kerja (substitution effect). Langkah yang diambil oleh produsen adalah menggantikan pekerjaan yang awalnya dikerjakan oleh manusia digantikan dengan penggunaan mesin. Hal tersebut dilakukan dengan asumsi harga barang-barang modal tetap.

d. Teori Klasik

Teori klasik dipelopori oleh tokoh bernama Adam Smith. Alokasi sumber daya manusia dinilai efektif sebagai batu loncatan untuk pertumbuhan ekonomi dipercayai dalam teori klasik. Dalam pandangan mazhab klasik, corak kegiatan ekonomi dibagi menjadi 2 kategori yaitu corak perekonomian bersifat subsisten dan corak perekonomian yang bersifat modern. Perekonomian yang termasuk kedalam kategori bersifat subsisten dapat dilihat di dalamnya mencakup adanya dua pelaku ekonomi yaitu keterlibatan produsen dan rumah tangga. Produsen memperoleh pendapatan dari pengeluaran rumah tangga, sebaliknya pengeluaran produsen merupakan pendapatan dari rumah tangga, hal tersebut karena rumah tangga dinilai memperoleh tempat untuk berkontribusi pada produsen dengan bentuk tenaga kerja dan produsen memiliki kontribusi bagi rumah tangga dalam bentuk pengadaan atau penyediaan barang. Pada corak perekonomian modern menjelaskan

(10)

bahwa sisa dari pendapatan yang dihasilkan oleh rumah tangga yang dialokasikan untuk ditabung digunakan untuk investasi dengan jumlah yang sama sehingga S (Saving) = I (Invest ). Dari sisi penawaran dapat ditarik garis bahwa pendapat yang dihasilkan rumah tangga dipergunakan untuk konsumsi dan tabungan ( Y = C+S ) dan dari sisi permintaan pendapatan produsen dipergunakan untuk konsumsi atau pengeluaran dan Investasi ( Y = C+I ).

e. Teori Keynes

John Maynard Keynes berasumsi jika realita pasar tenaga kerja tidak berjalan secara optimal sesuai dengan pandangan klasik. Adanya kemungkinan turunnya tingkat upah dinilai kecil karena saat pendapatan masyarakat turun hal tersebut akan berdampak pada daya beli masyarakat. Dengan demikian dapat berdampak juga pada konsumsi yang berkuran serta turunnya harga komoditi.

Menurut teori Keynes tingginya kesadaran pekerja yang bersertifikat dan kuatnya persatuan pekerja tersebut membuat perusahaan tidak mudah untuk menurunkan tingkat upah yang berlaku. Apabila tingkat upah turun maka pendapatan juga akan mengalami hal yang sama serta diiringi daya beli yang kurang, hal tersebut dapat berimbas pada kapasitas produksi yang tidak terserap dan merugikan produsen atau perusahaan sehingga munculah pengangguran karena dampak PHK perusahaan. Dalam praktiknya

(11)

kegiatan perekonomian suatu negara didasarkan pada tingkat pemintaan efektif yakni permintaan disertai dengan kemampuan membayar barang ataupun jasa. Permintaan agregat mencakup tiga sektor yakni pengeluaran rumah tangga dan pengeluaran swasta (C) serta pengeluaran pemerintah (G), dalam perekonomian terbuka ditambahkannya ekspor dan impor (X-M).

2. Teori Foreign Direct Investment

Sarwedi (2002), Foreign Direct Investment (FDI) adalah suatu bentuk upaya perluasan usaha yang dilakukan oleh perusahaan dari suatu negara dengan melakukan perluasan lokasi sampai dengan negara lain dengan adanya arus modal internasional. Bukan hanya terjadi pemberlakuan kontrol namun juga adanya pemindahan sumber daya terhadap perusahaan yang berada di luar negeri tersebut.

Dengan adanya FDI membuat bukti bahwa telah menjadi semakin

mendunia perekonomian di berbagai negara di dunia. FDI juga diartikan sebuah proses upaya untuk melakukan investasi ke luar negri dengan cara dimana adanya pembagunan anak perusahaan dari sebuah perusahaan multinasional di negara lain, lokasi pendirian anak perusahaan tersebut biasanya berada dimana negara asal biasa melakukan perdagangan internasioal dengan negara tujuan dengan maksud mempermudah kegiatan ekspor-impor agar lebih efektif dan efisien.

(12)

Adapun beberapa tujuan perusahaan induk tersebut memilih membangun panak perusahaan di negara tujuan ekspor, yaitu (1) Mengatasi adanya hambatan yang sering kali terjadi di negara tujuan ekspor, biasanya hambatan tersebut berasal dari pemerintah negara tujuan ekspor, (2) Efisiensi atau penghematan budget untuk kegiatan transportasi perdagangan, (3) Adanya tujuan untuk menciptakan lapangan pekerjaan di negara tujuan dengan pekerja yang berasal dari penduduk local.

Menurut Sadono (2004), FDI memiliki macam-macam bentuk

seperti perusahaan hasil patungan dengan perusahaan lain atau joint venture, mendirikan perusahaan dimana perusahaan tersebut mengelola

kegiatan yang sama dengan kegiatan perusahaan induk di negara asalnya dan juga melalui adanya lisensi dimana perusahaan multinasional memberi hak unruk perusahaan yang berada di dalam negeri agar dapat memproduksi barang yang kualitas terbilang sama dengan barang hasil produksi perusahaan di luar negeri.

Kelangsungan pembangunan suatu negara dinilai lebih efektif disokong oleh FDI daripada modal portofolio. Karena FDI yang terjadi di suatu negara akan diiringi dengan adanya management skill, transfer of technology, usaha profitable, know-how dan resiko kecil. Transfer of

technology diartikan dengan perolehan dari mekanisme produksi,

(13)

produk yang lebih bernilai, output yang dihasilkan mengalami peningkatan kualitas yang akan berdampak pada menguatnya produktivitas dalam negeri.

Penanaman modal dalam kurun waktu jangka panjang biasanya yang dipilih oleh perusahaan multinasional, dengan cara penanaman modal jangka panjang, perusahaan Home Country (negara asal) dapat mengawasi jalannya kinerja anak perusahaan di Host Country (negara tujuan dimana investasi akan disuntikkan). Penanaman modal dalam FDI dapat dilakukan dengan cara menyeluruh atau hanya dengan membeli perusahaan di negara tujuan investasi yang sudah ada di luar negeri, memberi modal untuk pembangunan perusahaan Host Country yang terbilang masih baru atau dapat dilakukan dengan cara pembelian saham minimal 10%. Cakupan FDI biasanya meliputi pembangunan pabrik oleh perusahan yang akan berinvestasi dengan disertai pembelian perlatan dan tanah.

a. Teori Klasik dan Neo klasik

Penanaman modal asing dinilai dapat memberi keuntungan secara menyeluruh pada keuntungan ekonomi negara dalam penerimaan modal. Hal tersebut dapat didukung oleh beberapa faktor mengenai pandangan teori klasik dan neo klasik, sebagai berikut:

(14)

1) Adanya modal asing yang berada di negara pemilik modal, modal tersebut terjamin dapat dialokasikan untuk kepentingan pembangunan dan masyarakat. Modal asing tersebut masuk dalam kategori keuntungan yang tidak dibawa kembali ke negara asal. Dengan demikian menambah pendapatan pemerintah dalam peningkatan pajak dan pembayaran negara lainnya.

2) Masuknya modal asing dinilai dapat menciptakan sebuah lapangan pekerjaan baru. Kesempatan kerja kurang mungkin di dapat jika tidak ada penanaman modal asing.

3) Teknologi ikut merasakan dampaknya, karena dengan adanya penanaman modal asing teknologi dapat menyebar ke negara penerima modal.

4) Keahlian para pekerja yang bekerja dalam perusahaan penanaman modal asing secara tidak langsung mendapatkan keahlian atau ilmu baru. Keahlian dalam bidang manajemen dari beberapa proyek besar perusahaan.

5) Infrastruktur semakin diperbaiki oleh pemerintah maupun perusahaan penanam modal asing. Fasilitas kesehatan, transportasi dan pendidikan yang awalnya diperuntukkan untuk pihak penanam modal asing dapat pula dirasakan oleh masyarakat.

(15)

Menurut Ilhamdi (2018), dalam buku Smith S. yang berjudul “Labor Economics 2nd Edition” tahun 2003 menyatakan bahwa penanaman modal asing (FDI) berpengaruh pada tingkat efisiensi produksi yang berdampak pada hubungan kesempatan kerja yang dapat berpengaruh positif maupun negatif. Apabila Foreign Direct Investment masuk pada sektor padat karya maka akan berpengaruh positif terhadap kesempatan kerja. Dan sebaliknya jika masuk pada sektor padat modal akan berpengaruh negatif pada kesempatan kerja.

3. Perdagangan Internasional

Menurut Kemendag (2015), sebuah perdaganagan yang dilakukan oleh individu atau seorang penduduk di suatu negara dengan penduduk di luar negeri berlandaskan kepercayaan, kesepakatan dan tujuan bisnis disebut dengan perdagangan internasional.

Dengan adanya perdagangan internasional kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta transportasi lebih mudah dirasakan secara merata oleh semua orang di berbagai negara. Perdagangan internasional juga membuka sarana pendorong kemajuan industri, pengembangan perusahaan multinasional serta globalisasi. Perdagangan internasional dinilai dapat menaikkan GDP suatu negara. Ada dua jenis kegiatan dalam perdagangan internasional yang sering dilakukan oleh masyarakat dunia dalam memperoleh keuntungan yang lebih tinggi dan

(16)

pemenuhan kebutuhan, yaitu (1) Ekspor adalah kegiatan memperjualkan beberapa jenis sumber daya yang menjadi keunggulan negara tersebut dengan guna mendapatkan keuntungan, (2) Impor adalah suatu kegiatan pemenuhan kebutuhan akibat kegagalan penyediaan sumber daya yang dibutuhkan yang dibeli dan dikirimkan dari luar negeri.

b. Ekspor

Menurut Sukirno (2011), ekspor adalah suatu kegiatan ekonomi yang dapat memperluas lapangan pekerjaan, pasar dan pendapatan devisa negara. Negara lain melakukan pembelian berupa produk hasil produksi perusahaan local yang dinilai memiliki keunggulan yang tidak diperolah di negara asal. Produk yang dihasilkan oleh perusahaan lokal harus dapat bersaing di pasaran internasional, bersaing dengan kualitas dan kuantitas.

Ekspor juga dapat diartikan dengan proses pengangkutan berbagai macam produk lokal (domestik) ke luar negeri dan mempunyai dua jenis yaitu ekspor secara langsung maupun tidak langsung. Ekspor yang dilakukan secara langsung adalah ekspor yang tidak memerlukan perantara dengan maksud perusahaan bersangkutan melakukan pengeksporan produk langsung dari hasil produksi sendiri. Sedangkan ekspor secara tidak langsung diperantarai oleh berbagai eksportir dalam negeri.

(17)

Molnar, M. and M. Lesher. (2009), mengatakan bahwa kegiatan produksi ekspor sektor padat karya seperti sektor manufaktur mengalami pertumbuhan yang lambat. Lambatnya pertumbuhan pada sektor-sektor padat karya telah mengakibatkan tingginya angka pengangguran.

Aswicahyono, Douglas and Manning. (2011), dengan pertumbuhan output yang cepat pada ekspor daripada pasar domestic. Ekspor manufaktur yang pada mulanya merupakan sektor padat karya lebih mengarah menjadi sektor padat modal dan mendorong para pekerja untuk dapat menumbuhkan lebih banyak keahlian demi menyokong nilai di pasar tenaga kerja. Hal ini terjadi pertama kali pada tahun 1960-an dan 1970-an di kawasan Negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia, dan pada tahun 1990-an di Cina dan Vietnam. Hubungan antara ekspor dengan ketersediaan lapangan pekerjaan dinilai relative tidak teratur dan adanya keterbatasan ruang untuk menyampaikan aspirasi para pekerja.

c. Impor

Susilo (2013), Impor adalah suatu kegiatan masuknya produk berupa barang ataupun jasa dari luar negeri ke dalam negeri, sehingga impor merupakan keterlibatan antara dua negara. Keterlibatan tersebut dalam impor merupakan kepentingan anatara penjual (eksportir) dan pembeli (importir). Disimpulkan dari

(18)

penjabaran tersebut impor terjadi karena adanya perbedaan mata uang, peraturan perdagangan serta kegagalna pemenuhan kebutuhan sendiri dan faktor selera masyarakat.

Aswicahyono, Douglas and Manning. (2011), berpendapat bahwa melihat dari pengalaman dibeberapa negara di kawasan Asia Timur, Impor lebih didominasi dengan Impor bahan baku, barang modal serta teknologi memicu adanya tranformasi kualifikasi pada pasar tenaga kerja.

d. Manfaat Adanya Perdagangan Internasional

Terdapat beberapa mafaat bagi negara yang melakukan perdagangan antar negara yakni dengan kondisi geografi, iklim dan tingkat IPTEK yang berbeda suatu negara dapat mencukupi kebutuhan yang tidak dapat di produksi sendiri di dalam negeri. Kemudian dapat memperoleh keuntugan dengan mengoptimalkan efisiensi penggunaan faktor produksi, dimana apabila suatu negara dapat memproduksi sebuah barang yang sama jenis namun negara lain dapat memproduksi barang tersebut lebih efisien sehingga terjadinya proses impor barang karena dianggap lebih menguntungkan. Pemanfaatan adanya perdagngan internasional dapat juga dilakukan dengan penggunaan faktor produksi secara maksimal kemudian apabila ada sisa kelebihan barang dapat dijual

(19)

ke luar negeri. Dan yang terakhir kemungkinan besar untuk mendapat ilmu dan teknologi dalam produksi barang yang lebih modern.

Adam Smith mempopulerkan suatu negara perlu memiliki keunggulan mutlak dari negara lain dalam meproduksi barang dan jasa dimana negara lain tidak memproduksinya. Kemudian David Ricardo mengemukakan teori keunggulan komparatif dimana perdagangan internasional terjadi jika keunggulan komparatif antar negara terdapat perbedaan, David Ricardo berpendapat jika suatu negara dapat lebih efisien dalam memproduksi barang dan jasa sehingga output yang dihasilkan lebih banyak dan relatif murah daripada negara lain maka keunggulan komparatif akan tercapai.

Selanjutnya Hecksher-Ohlin (H-O) pola pikir anatara Eli Heckser dan Bertil Ohlin, teori mereka didasarkan pada teori keunggulan komparatif oleh David Ricardo dengan memprediksi pola produksi serta perdagangan menurut jumlah faktor di suatu negara. Pada teori tersebut suatu negara akan melakukan ekspor hasil produksi dengan penggunaan faktor dengan harga murah serta berlimpah dan mengimpor faktor produk yang dinilai langka.

C. Kerangka Pemikiran

(20)

Hubungan antara Foreign Direct Investment (FDI) dengan penyerapan tenaga kerja berhubungan positif, karena dengan adanya segala macam jenis investasi memungkinkan suatu masyarakat dapat terus menerus meningkatkan kegiatan ekonomi dan dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja, terlebih lagi dapat meningkatkan pendapatan nasional suatu negara dan taraf kemakmurannya. Hal ini sangat wajar karena nilai investasi memegang peranan yang sangat penting dalam rangka menunjang dan mempercepat pertumbuhan lapangan kerja yang mempunyai daya serap yang tinggi terhadap tenaga kerja sehingga dapat membantu pemerintah dalam mengatasi masalah ketenagakerjaan. Aliran investasi yang masuk sebagian besar mempengaruhi terjadinya kenaikan penyerapan tenaga kerja.

Y = C + I + G + (X – M)

2. Hubungan Tenaga Kerja dan Perdagangan Internasional

Aliran investasi dari luar negeri secara langsung yang biasa disebut dengan FDI dapat membangkitkan kinerja ekspor. Unggulnya kinerja ekspor dapat membantu memberikan daya Tarik tersendiri bagi pihak investor asing, dikarenakan terlihat peluang untuk tempat investor asing menanamkan modal pada sektor di dalam keunggulan kinerja ekspor. Perdagangan bebas dapat memberikan sejumlah manfaat, seperti terpenuhinya (1) bahan baku, penolong, dan barang modal. (2)

(21)

peningkatan investasi yang akan mempengauhi struktur industri. (3) mendorong adanya peningkatan kapasitas (capacity building) untuk meningkatkan daya saing industri domestik, dan meningkatkan daya beli masyarakat.

Y = C + I + G + (X – M)

3. Hubungan Foreign Direct Investment dan Perdagangan Internasional Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja

Penyerapan Tenaga Kerja adalah suatu hal yang penting dalam mengurai tingkat pengangguran yang cukup tinggi khusunya di negara ekonomi yang sedang berkembang. Apabila terdapat keseimbangan antara arus investasi asing dengan pertumbuhan jumlah penduduk di suatu negara tidak menutup kemungkinan terjadinya full employment.

Dengan arus investasi asing yang meningkat maka akan berpengaruh pada permintaan produksi, produksi dalam negeri ataupun hasil produksi yang nantinya akan diekspor ke luar negeri. Permintaan produksi yang naik berdampak pada kenaikan permintaan tenaga kerja. Dapat dilihat pada publikasi worldbank tingkat pertumbuhan tenaga kerja di negara ASEAN dati tahun ke tahunnya selalu meningkat begitu pula dengan tingkat investasi asing, ekspor serat impor. Hal tersebut dapat diibaratkan adanya peningakatan pada investasi asing, ekspor dan impor akan berimbas pada penyerapan tenaga kerja di negara ASEAN.

(22)

4. Kerangka Pikir

Beberapa faktor seperti Foreign Direct Investment dan Perdagangan Internasional (ekspor dan impor) menurut beberapa penjabaran teori diatas dinilai dapat berpengaruh terhadap Penyerapan Tenaga Kerja. Faktor-faktor tersebut menghasilkan output yang sama yakni produksi barang dan juga jasa. Nilai investasi yang tinggi dapat menaikkan jumlah produksi yang dihasilkan oleh produsen, dengan permintaan produksi yang meningkat maka akan berpengaruh terhadap naiknya tingkat permintaan pada tenaga kerja.

Nilai ekspor dapat memberi pendapatan devisa negara dan pembuka peluang adanya lapangan pekerjaan, dengan nilai ekspor yang tinggi produksi akan meningkat begitu pula permintaan tenaga kerja serta membantu mendorong laju tumbuh perekonomian negara. Dengan impor yang masuk ke suatu negara maka akan dapat membantu untuk mendatangkan teknologi yang lebih modern dan maju serta mendatangkan bahan baku yang tidak ada di dalam negeri untuk memajukan kualitas produksi.

Ketiga faktor tersebut juga harus diimbangi dengan kualitas tenaga kerja yang mencukupi untuk bersaing. Dari teori diatas terlihat adanya hubungan positif antara foreign direct investment, ekspor dan impor

(23)

terhadap penyerapan tenaga kerja. Maka dapat diperoleh gambaran kerangka pikir seperti pada gambar 2.1

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

Penelitian Komponen

Hipotesis

Diduga adanya perngaruh signifikan pada

foreign direct investment, ekspor dan

impor terhadap penyerapan tenaga kerja di 5 Negara ASEAN periode 2008-2018

Hasil Penelitian Pembenaran hipotesis Pembenaran teori Alat Analisis Eviews 9 regresi data panel H0: adanya pengaruh antara foreign direct investment terhadap penyerapan tenaga kerja

H1: adanya pengaruh antara ekspor terhadap penyerapan tenaga kerja

H2: adanya pengaruh antara impor terhadap penyerapan tenaga kerja

H3: adanya pengaruh antara foreign direct investment, ekspor dan

impor terhadap penyerapan tenaga kerja

Teori Teori Klasik Adam

Smith, Teori Keynes,

(24)

C. Perumusan Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap suatu permasalahan yang menjadi objek dari penelitian, dimana kebenaran mengenai hipotesis tersebut kebenarannya masih perlu untuk dibuktikan atau diuji secara empiris. Berdasarkan permasalahan diatas dapat ditarik hipotesis penelitian yakni diduga terdapat pengaruh yang signifikan terhadap foreign direct investment, ekspor dan impor terhadap penyerapan tenaga kerja di 5 Negara ASEAN periode 2008-2018.

Figur

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

Gambar 2.1

Kerangka Pikir p.23

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :