DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
---
RISALAH
RAPAT PLENO KE-5 PANSUS TATIB MASA SIDANG I TAHUN SIDANG 2016-2017
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
I. KETERANGAN
1. Hari : Kamis
2. Tanggal : 6 Oktober 2016
3. Waktu : 11.35 WIB – 12.30 WIB
4. Tempat : R. Rapat
5. Pimpinan Rapat : 1. Dr. H. Ajiep Padindang, S.E., M.M. (Ketua Pansus Tatib) 2. Drs. H. Akhmad Muqowam (Wakil Ketua Pansus Tatib) 3. Fahira Idris, S.E., M.H. (Wakil Ketua Pansus Tatib) 6. Acara : Pembahasan Materi Tata Tertib DPD RI
7. Hadir : Orang
II. JALANNYA RAPAT:
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Bapak Ibu sekalian yang saya hormati mohon maaf atas keterlambatan rapat ini dan dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim rapat pleno Pansus saya buka.
KETOK 1X Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang salam sejahtera untuk kita sekalian.
Ibu Anna ini seperti mengkapling tempat duduk di situ. Oh begitu, di sini juga AC-nya juga tidak ada Bu ini.
Pertama-tama saya atas nama Pimpinan Pansus saya sampaikan mohon maaf karena dari jadwal yang kita sepakati yang lalu-lalu untuk rapat pada hari Kamis itu siang tetapi situasi yang memungkinkan, tidak memungkinkan dilaksanakan rapat siang nanti berhubung karena ada Panmus dan sebagian diantara kita di sini adalah Anggota Panmus. Oleh karena itu saya meminta persetujuan Ibu Fahira dengan Pak Muqowam kemarin meminta untuk kita laksanakan rapat dimajukan jamnya jadi jam 10. Kemudian setelah jam 10 kami mengecek kemungkinan anggota untuk hadir termasuk diri saya sendiri dengan Ibu Fahira, Bang Ken, Pak Gafar itu empat orang ternyata Anggota BAP yang juga rapat jam 10 yang duluan mengeluarkan undangan rapat dan memang pada wilayahnya pada agendanya dia, pada harinya. Oleh karena itu kami menunda ke jam 11 dan alhamdulilah meskipun masih terlambat tapi kita sudah mulai sekarang. Agenda kita hari ini adalah sesungguhnya kita sebut pembahasan materi tatib tapi agenda intinya adalah laporan hasil FGD yang dilaksanakan di masing-masing wilayah supaya nanti hasil FGD tersebut dikompilasi oleh staf ahli, oleh Tim Ahli Pansus untuk menjadi satu kesimpulan satu laporan yang berharap, kita berharap memperkaya buat kita semua, memperkaya pansus.
Yang kedua, sebelum saya mempersiapkan masing-masing koordinator tim mau menyampaikan informasi laporan, yang kedua adalah saya ingin menyampaikan pada kesempatan ini tapi sekaligus mengecek bagaimana kesiapan kita insya Allah mulai besok hari Jumat tanggal 7 Oktober sesuai dengan agenda kita itu bisa melaksanakan rapat pagi jam 09.30, kita sudah mau masuk pada pembahasan materi dan kalau pembahasan materi kemudian sudah bisa kita sepakat pada bagian-bagian yang prinsip kita sudah bisa masuk ke menyepakati. Namun demikian, saya ingin minta Pak Wahid Sekretariat Pansus dalam undangan disebutkan nanti pembahasan dan penetapan, pembahasan dan penetapan supaya teman-teman Anggota Pansus itu mengetahui bahwa bukan hanya lagi sekedar pembahasan atau ini, ada bagian-bagian kita sudah mengambil keputusan bersama supaya dalam rapat-rapat berikutnya tidak terulang lagi apa yang sudah kita sepakati sebelumnya dan jangan ada yang merasa tidak tahu bahwa akan dilakukan pengambilan keputusan. Sesungguhnya apapun namanya kalau sudah pembahasan itu inklusif dalamnya sebenarnya keputusan-keputusan, tetapi saya ingin supaya pansus ini bisa kita berbeda ke dalam tetapi kalau keluarnya tolong tidak lagi berbeda, itu intinya itu sehingga semuanya merasa pada saat pengambil keputusan, pada saat pembahasan sampai pengambil keputusan kita terlibat bersama, yang tidak terlibat bersama itu menjadi konsekuensi individu bersangkutan. Catatan
saya Ibu Fahira Anggota Pansus yang sudah 3 kali rapat ini tidak pernah hadir dan tidak ada informasi yang terutama yang kedua dan hari ini belum saya terima informasi dari staf adalah Pak Aji Mirza dari utusan bukan Kaltimnya utusan alat kelengkapan PURT ya? Itu Aji Mirza. Saya tidak tahu lagi siapa tapi yang paling saya ingat ini Pak Aji Mirza. Maksud saya itu begitu. Saya kira informasi kedua ini bagi kita hadir menjadi pemahaman bersama, Bang Ken kan ada besok hari Jumat, belum tahu, tapi tidak kembali ke Bengkulu kampanye kan? Tidak, karena ini saja kan sudah cukup kita, sudah cukup kuorum, sudah 8. Jadi saya kira itu informasi saya.
Saya ingin mulai dengan laporan hasil FGD secara singkat masing-masing. Saya koordinator wilayah timur di Umi, Ibu Fahira koordinator di wilayah tengah yaitu di Malang dengan udara yang sejuk mungkin di sana pikiran lebih tenang, Pak Bapak Ahmad Kanedi, Pak Bang Ken di wilayah barat, di sana udaranya panas tapi koordinatornya Pak Muqowam, mungkin udaranya di sana agak panas itu ya, agak panas. Sempat menerima saya dengar duplikat sang saka merah putih tapi itu tidak penting duplikatnya, yang mau dicari siapa yang menjahit pertama bendera itu, cucunya mungkin yang menarik itu, kalau benderanya itu. Ibu Fahira mulai ya, kita mulai.
PEMBICARA: FAHIRA IDRIS, S.E., M.H. (DKI JAKARTA) Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Pak Ketua.
Rombongan kami yang ke Malang saya kemudian Guston, Pak Lalu, Pak Djasermen, Pak Adrianus Garu dan Ibu Eni Sumarni. Kesimpulan dari kunjungan kita adalah masa jabatan Pimpinan DPD adalah bukan hak melainkan tugas. Pasal 260 Undang-Undang MD3 tidak mengatur atau menentukan masa jabatan Pimpinan DPD. Pasal 260 Ayat 7 Undang-Undang MD3 memandatkan pengaturan lebih lanjut dalam Peraturan Tatib DPD RI. Keduanya mempunyai arti bahwa dalam Undang-Undang MD3 hanya memerintahkan untuk mengatur itu dalam Peraturan Tata Tertib DPD RI dan itu termasuk pengaturan bersifat legal policy kebijakan hukum yang harus dituangkan DPD untuk menentukan berapa masa jabatan Pimpinan DPD. Sepanjang pengaturan masa jabatan Pimpinan DPD selama 2,5 tahun itu ditetapkan dalam produk hukum DPD RI maka pengaturan itu tetap sah.
Yang kedua, pengaturan masa jabatan Pimpinan di lembaga negara yang lainnya adalah A. Pengaturan masa jabatan dalam Undang-Undang Dasar 1945 presiden 5 tahun kemudian dalam Undang-Undang MK 2,5 tahun, MA 5 tahun. Yang C. Pengaturan masa jabatan dengan peraturan lembaga masing-masing adalah MPR 5 tahun, DPR 5 tahun sebagai perbandingan ya, DPD 2,5 tahun, KY 2,5 tahun. Pengaturan masa jabatan dalam konvensi BPK 5 tahun. Dalam Pasal 262 sampai 274 Undang-Undang MD3 tidak mengatur atau menentukan masa jabatan pimpinan alat kelengkapan DPD RI. Beberapa pasal Undang-Undang MD3 menandatkan untuk diatur lebih lanjut dalam aturan Tatib DPD dengan batasan maksimal 5 tahun.
Yang keempat, bila masa jabatan Pimpinan 2,5 tahun maka siapa yang melaporkan setengah tahun sisanya? Berarti yang dilaporkan adalah 1 tahun dan masih tersisa setengah tahun lagi dan itu harus ada yang melaporkan. Solusi yang ditawarkan adalah dibuat jenis laporan yang lain yang tidak tahunan dengan nama laporan kinerja akhir masa jabatan sehingga yang setengah tahun menjadi ikut mulai dari pertama kali menjabat sampai habisnya masa jabatan yang 2,5 tahun.
Yang kelima, terakhir, prinsip dasar Pimpinan DPD yang mempunyai tugas sebagai speaker of parliament dan keputusan selalu diambil selalu bersama-sama maka Laporan Kinerja Pimpinan Alat Kelengkapan termasuk Pimpinan DPD tidak dapat dinilai dengan
afirmasi penilaian atau penolakan dari anggota. Hal ini karena keputusan itu diambil secara bersama-sama dalam paripurna. Demikian Pak Ketua laporan dari Malang.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Baik terima kasih Ibu Fahira. Dari Tim Malang ada yang mau ditambahkan laporan itu? Cukup sementara? Baik, saya persilahkan Pak Muqowam.
PEMBICARA : Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (JATENG) Terima kasih.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulilah kita hari Sabtu yang lalu Saya, Pak Kanedi, Pak Gafar kemudian satu lagi adalah Pak Aji ke UNIP dan yang ditunggu sebetulnya pindah tempat tidak ngomong-ngomong sama orang Bengkulu tapi namanya disebut-sebut dia adalah Ibu Eni Sumarni, ditunggu. Tidak tahu narasumber itu kok kemudian mana Ibu Eninya katanya. Jadi GR itu orang Jawa bilang Ganteng Rakopan, lho Bu. Jadi ada 3 narasumber Prof. Juanda, kemudan Dokter Amanji kemudian Pak Dr. Andi Lafiza. Kami berempat menyampaikan pendapat, menyampaikan pengantarnya juga, saya kemudian Pak Kanedi, kemudian Pak Aji, kemudian juga Pak Mirza eh Pak Gafar. Narasumber Pak Juanda, kemudian Pak Andi Lafiza 3 orang. Tiga orang ini mempunyai pendapat yang berbeda sampai tujuh kemarin itu. Jadi para ahli hukum ketemu kemudian mereka tidak bisa satu fokus termasuk adalah para yang hadir ada Prof. Herlambang, kemudian ada Pak Dr. Johari kemudian Hendra Suwarsanaidi, ada Dr. Emilia Contesa yang bukan Anggota DPD tapi adalah orang Bengkulu Namanya Emilia Contesa.
Kesimpulannya Pak, pertama bahwa kalangan akademisi mendukung muatan DPD melalui amandemen. Kemudian kedua, penguatan DPD adalah fungsi legislasi untuk perjuangan kewenangan daerah. Kemudian yang ketiga adalah mengenai pemikiran agar pemilihan Pimpinan DPD hendaknya tidak melalui voting tetapi musyawarah dari seluruh Anggota DPD. Saya kira ini sebuah refleksi dari keinginan kita untuk menpancasilakan Indonesia.
Kemudian pengaturan masa jabatan alat kelengkapan DPD menjadi kewenangan DPD apa 2,5 atau 5 tahun. Muncul usulan agar masa jabatan Pimpinan DPD masukan ke dalam Undang-Undang Dasar. Jadi di dalam hanya saya kira Undang-Undang Dasar hanya presiden yang lain hanya Undang-Undang MK, KY dan sebagainya.
Kemudian keenam, berkembangnya pemikiran dalam forum bahwa Tatib 2016 langsung berlaku setelah ditetapkan. Namun masa jabatan 5 tahun DPD yang diangkat berdasarkan Tatib 2014 maka ketentuan tersebut belum dapat diterapkan karena yang menjadi ukuran adalah Tatib 2014. Kalau toh masa jabatan sudah ditetapkan maka masa jabatan diberikan kompensasi. Terkait kompensasi muncul pendapat yang berbeda dan tidak setuju dengan gagasan ini karena kompensasi ada di daerah private perdata sementara ini DPD berada di ranah publik, ini tidak ada ujungnya lagi ini.
Kemudian yang saran dari yang berkembang adalah hendaknya DPD meningkatkan program sosialisasi tentang amandeman, lalu yang kedua menanggap pendapat dan harapan dari forum terkait dengan masalah masa jabatan Pimpinan DPD. Perlu ditingkatkan musyawarah dikalangan Anggota dalam rangka ikhtiar menjadi kedekatan dan mendapatkan titik temu yang memenuhi kepentingan berbagai pihak dan untuk perbaikan dan kemajuan lembaga.
Jadi Bapak Ibu sekalian, diantara mereka juga tidak satu pemikiran. Ada yang mengatakan bahwa 5 tahun dari 1 Oktober, ada 5 tahun mulai tanggal ditetapkan April kemarin, ada yang tatib itu berlaku adalah mulai tanggal nanti kalau tanggal 2,5 tahun itu adalah Maret-April sehingga menurut saya itu hanya pengkayaan keilmuan saja dan karena itu menurut saya Ibu Bapak sekalian, yang paling penting adalah merupakan kita menyimpulkan secara politis menjadi kewenangan kita. Jadi saya kira kurang lebihnya sama bahwa merekapun tidak bisa memberikan satu pendapat yang sifatnya final. Saya kira begitu Ketua.
Terima kasih.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Silakan tambahkan Bapak.
Baik, terima kasih. Masih ada dari tim tambahan di sana? Cukup. Ibu Eni tidak ada yang mau ditambahkan? Tidak ada. Terima kasih banyak itu. Pak Aji Mirza sudah ada ya, Ke Bengkulu kemarin kan? Iya baik.
Terima kasih Pak Muqowam, Pak Kanedi atas informasinya. Saya dari wilayah timur ini laporannya. Wilayah timur dihadiri oleh tim 5. Saya, Pak Stefi, Ibu Anna, Pak Benny dan Pak Sofwat. Sekalipun Pak Sofwat kemudian karena ada sesuatu yang sangat mendesak dan akibatnya penyesuaian jadwal maka beliau malamnya pulang ke Kalimantan Tengah atau pulang ke Jakarta Pak Sofwat? Antara Jakarta dengan Kalimantan Tengah. Tapi bukan Bapak yang menikah? Pengennya. Ibu Eni, ada kata pengennya, sudah berambut putih masih juga.
Pemateri di sana yang menarik di Umi begini, rektor langsung buka, kemudian direktur pasca peserta seluruh pejabat pascanya hadir terutama di fakultas hukumnya dan narasumbernya adalah ahli tata negara yang sudah juga sering rupanya menjadi narasumber di PPUU DPD yaitu Prof. Muin Fahmal. Kesimpulannya panjang tetapi yang saya sampaikan poin-poinnya adalah rupanya kita punya narasumber di sana sangat cermat sekali, dia mencermati berbagai dari awal sampai akhir setiap bab, pasal sehingga laporan kami ini banyak sekali catatan-catatan dan secara tertulis makalahnya terutama Pak Prof. Sampra itu mungkin saya mau sarankan khusus makalahnya Pak Sampra ini dibagikan nanti pada anggota, Anggota Pansus maksud saya karena banyak hal yang dia cermati dari bab, pasal dia tunjukkan kelemahan-kelemahan tatib ini.
Beberapa kesimpulan, pertama adalah tentang kedudukan ketua dalam konteks lembaga DPD bukanlah kepala. Fungsi ketua memegang keseluruhan proses yang terjadi di DPD. Oleh karena itu pengaturan masa jabatan tidak diatur dalam Undang-Undang MD3 dapat ditentukan sendiri oleh DPD, baik itu 5 tahun, 2,5 tahun ataupun 1 tahun. Nah ini yang saya sebut sebagai wacana baru, wacana baru dalam artian diskusi di situ. Kenapa hanya berfikir 5 dan 2,5 kenapa tidak berfikir 1 tahun, dan dianut beberapa lembaga parlemen di dunia lain, tiap tahun supaya tidak seakan-akan bahwa itu adalah kekuasaan itu pimpinan yang ada tetapi di adalah speaker. Belum apa-apa ini saya ngobrol-ngobrol Pak Muqowam, langsung Pak Muqowam bilang bagaimana susahnya mengatur masa jabatan kalau begitu ya. Saya bilang, tidak, ini pendapat pakar tata negara bahwa tidak ada masalah antara 5, 2,5, 1 tahun tergantung kesepakatan karena tatib ini adalah kesepakatan.
Berikutnya yang menarik adalah untuk mengatur masa jabatan memang harus diatur peraturan peralihan mulai masa jabatan sampai berakhirnya masa jabatan tersebut. Ini tentu berlaku bagi pimpinan dan pimpinan alat kelengkapan. Itu jadi memang diatur peralihan mereka menemukan tidak jelas di sana, tidak konkrit karena itu memang harus diatur mulai dan berakhirnya. Di sana memang Pak Muqowam dan Ibu Fahira serta hadirin kita sekalian
nanti mungkin Bu Anna kalau sempat mencatat atau Pak Stefi tidak sempat tergali pastinya kalau 2,5 tahun mulai dari mana atau pertahun mulai dari mana, tapi yang pasti sekali lagi di simpulkan bahwa baik 5 tahun, 2,5 tahun, ataupun 1 tahun bahkan Pak Fahmal mengatakan kenapa tidak berani DPD membuat sesuatu hal yang baru dan tidak ada melanggarnya bahkan itu memang cenderung harusnya karena ini kan ketua bukan kepala ya, ketua. Jadi itu bisa sebagai suatu warna baru lembaga demokrasi lembaga politik parlemen di Indonesia, begitu. Itu kesimpulan ketiga dan banyak pasal-pasal bahkan sampai memperhatikan sistematika urutan pengaturan yang disebutkan ada yang tidak konsisten misalnya saja di Pimpinan DPD. Pembentukan tidak terurut tentang pembentukan tata cara pemberhentian, pengisian, wewenang, tugas dan laporan kinerja. Di sana juga muncul persoalan tentang laporan kinerja yang di dalam tatib kita berujung kepada pertanggungjawaban, tapi itu dalam diskusi bahwa idealnya laporan kinerja itu bahan pertimbangan bukan langsung bahan pengambilan keputusan. Tatib kita kan laporan kinerja itu berujung kepada pertanggungjawaban. Dalam pandangan administrasi negara, laporan kinerja itu adalah laporan untuk bahan evaluasi, bahan pertimbangan pengambilan kebijakan tapi di tatib kita di semua baik di alat kelengkapan maupun di Pimpinan DPD adalah berujung kepada pengambilan keputusan. Jika ditolak maka dilakukan pergantian, kan begitu di Tatib Nomor 1 Tahun 2016 dan memang kemudian kalau 2,5 maka setengah dari itu karena ini laporan kinerjanya tahunan maka akan terjadi setengah dipertanggungjawabkan oleh yang lama, setengah dipertanggungjawabkan oleh yang baru betapa repotnya evaluasinya, menilainya di situ.
Terakhir yang saya catat di sini, yang dihimpun adalah wilayah rinci, tentang pengaturan rehabilitasi tapi saya kira ini banyak sekali sebenarnya banyak masukan. Itu inti-intinya. Ada satu definisi yang disarankan, tapi ini penting, jangan menggunakan kata “merupakan”, begitu di Tatib kita. Dia bilang kalau “merupakan” dalam definisi hukum tata negara itu seperti kita melemahkan posisi DPD. Jadi ketika mendefinisikan DPD adalah, jangan pakai DPD “merupakan”, di tatib ini “merupakan”. Jadi “merupakan” itu seakan-akan memperandaikan, padahal DPD ini adalah. Jadi titip baik-baik dari Pak Muin Fahmal tolong pertimbangkan itu jangan pakai kata “merupakan”, “merupakan” itu seakan-akan, padahal jadi anda melemahkan sendiri, tapi posisi anda di tatib, itu satu. Bahkan catatan Pak Muin Fahmal bahwa pertimbangan yang dikeluarkan DPD itu wajib bagi DPR dan pemerintah, presiden mengikuti. Kalau tidak diikuti atau dijadikan sumber kebijakan maka melanggar DPR dan presiden. Jadi meskipun kata “pertimbangan” kata “dapat:, dan kata “ikut” sedikit kata itu tapi sangat luar biasa maknanya pada kewenangan DPD. Itu sempat saya sudah dihimpun tapi mungkin Pak Stefi, Bu Anna kalau mau ada yang ditambahkan saya persilakan.
PEMBICARA: MATHEUS STEFI PASIMANJEKU, S.H. (MALUT) Baik Pimpinan.
Terima kasih Pimpinan.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua.
Dari hasil FGD kita di Universitas Muhammadiyah Makassar memang banyak hal yang telah kita dapati, tetapi secara prinsip yaitu menyangkut dengan masa jabatan pimpinan itu kembali pada kita, itu yang perlu saya tekankan bahwa menurut pandangan pakar dalam FGD tersebut itu tidak menjadi persoalan, itu kembali kepada kita dan kita mengatur dalam aturan peralihannya. Walaupun dalam diskusi tersebut kita fokus pada tatib kita tetapi pada kesempatan itu banyak sekali masukan yang diberikan kepada kita menyangkut dengan penguatan lembaga, tetapi saya kira ini tidak perlu kita bahas terlalu jauh karena intinya yaitu
menyangkut dengan tatib sehingga hal-hal yang disampaikan oleh pakar pada saat itu seperti kata-kata yang tadi telah disampaikan oleh Pimpinan, itu mungkin bisa dapat kita ubah dalam tatib menyesuaikan dengan pandangan-pandangan yang telah diberikan oleh pakar-pakar yang kami lakukan FGD tersebut. Mungkin demikian Pimpinan.
Terima kasih.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Baik, Ibu Anna silakan.
PEMBICARA: ANNA LATUCONSINA (MALUKU) Terima kasih Pak Ketua.
Saya mungkin menambahkan saja. Mungkin sudah ada, tapi memang Pak Ketua hanya menjelaskan sedikit poin-poin yang ada yaitu tentang yang disampaikan oleh Prof. Muin bahwa aturan dibawah dibawahnya tidak bisa lebih keras atau lebih keras dibandingkan aturan diatasnya. Iya bertentangan pasti kalau bertentangan, tapi kerasnya juga. Jadi misalnya kalau di Undang-Undang MD3 ada misalnya mengatakan bahwa seseorang itu bisa direhabilitasi, di kita tidak ada, ini contoh. Jadi tidak ada. Jangan aturan di bawah itu lebih keras dibandingkan dengan aturan di atas.
Terima kasih Pak.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Baik, saya kira tim kami itulah dan masih banyak sekali sebenarnya kan sekali lagi Pak Prof. Sampra ini orangnya memang agak teknis. Kalau saya tidak salah, ya Pak Stefi, Ibu Anna ya dia perlihatkan dari pasal ke pasal yang memang kelemahan di tatib kita ini tapi kalau ini menjadi kerjaan Pansus saya tidak bayangkan berapa lama kita harus kerjakan, tapi banyak hal-hal memang misalnya tentang Badan Kehormatan juga diberikan catatan dan sebagainya. Saya kira itulah, tetapi ada satu kesimpulan saya mau dapatkan dulu Bapak Ibu sekalian, ini penting bagi Pansus untuk bahan kita bahwa kita melakukan FGD di Kampus Brawijaya di Malang, Universitas Bengkulu di Bengkulu, Universitas Muslimin di Makassar (UMI). Tema besarnya kita kan penguatan DPD dan semua di kampus ini apakah itu basa-basi, tapi tidak bisa basa-basi ini pendapat lembaga ya pakar ya, semua di kampus ini menyatakan mendukung penguatan DPD, mendukung penguatan DPD. Jadi ini dulu satu poin kita harus pegang bahwa dengan tema FGD Tatib kita akan kemas ini dalam bentuk penguatan DPD ternyata mereka menerima Pak Stefi, Bu Anna ya, tidak ada sedikitpun peserta di situ mengatakan, malah mengatakan, mana penguatan DPD ini? Karena kita melihat bagaimana lembaga parlemen legislatif DPR ini yang sudah tidak konsisten katanya memperjuangkan kepentingan rakyat. DPD dibutuhkan sebagai penyeimbang sebagaimana awal sejarahnya dibentuk, didirikan DPD sebagai penyeimbang dari DPR tapi ternyata tidak. Jadi malah kami disoroti itu karena dianggap belum berjuang untuk penguatan DPD terutama saya pribadi. Memang dulu ketika saya kampanye untuk jadi Anggota DPD itu adalah saya bilang, saya akan ke sana untuk berontak penguatan DPD dan karena itu pilih, kalau tidak pilih saya tidak bisa masuk ke sana. Pilih dulu, nah sekarang dia tagih, apa yang anda lakukan? Saya bilang tenang, ini sudah kita lakukan penguatan-penguatan melalui gerakan amademen yang sudah berproses tapi kemudian apakah nanti bisa lolos itu juga DPD itu hanya 130-an orang.
Baik, ini nanti dikompilasi oleh staf ahli poin-poin substansinya. Saya, kita buka kesempatan untuk memberikan tanggapan masih berkaitan masukan-masukan yang dulu baru kita masuk ke agenda lainnya. Silakan.
PEMBICARA: Dra. Ir. Hj. ENI SUMARNI, M.Kes. (JABAR) Terima kasih Pimpinan.
Mungkin ada satu hal dari Malang yang agak sedikit krusial juga. Ada pendapat dari pakar hukum tata negara itu yang pembicara yang pertama ini bahwa tatib dan kode etik DPD itu harusnya menyatu karena tatib itu tidak boleh membuat turunan aturan, itu yang kita masih terpisah antara kode etik tatib, dan kode etik beda. Intinya tatib tidak boleh membuat aturan turunan karena bukan undang-undang. Jadi ya sudah kalau tatib itu sudah tatib ya tatib saja. Kalau di situkan ada bahwa diatur dengan kode etik. Nah itu tidak boleh. Jadi harusnya tatib dan kode etik, begitu, itu harus menyatu, itu saran dari salah satu profesor. Jadi tatib dan kode etik. Intinya tatib tidak boleh membuat aturan turunan, katanya begitu. Ini yang harus kita pikirkan bersama.
Yang kedua mungkin kemarin juga dibahas terkait dengan masa jabatan pimpinan. Memang kalau membuat aturan baru di tatib ini itu bebas mau 5 tahun, mau 2,5 tahun bahkan mau tiap tahun, hanya kemarin terkait dengan SK Pimpinan itu katanya biasanya aturan itu tidak bisa berlaku surut. Nah ini kan betulkan Bu ya tidak berlaku surut. Nah ini yang harus dipikirkan di aturan peralihan dan ingat katanya aturan peralihan juga, bukan eh berkaitan hanya dengan peraturan tidak terkaitan dengan keputusan atau beschikking. Nah ini yang harus dipahami oleh kita semuanya mungkin dari tenaga ahli kita yang harus meramu masukan-masukan tersebut, dan beberapa hal lain juga yang penting di sini adalah di tatib kita itu adanya pemberhentian mengenai pelaporan. Jadi karena ini koletif kolegial baik pimpinan komite maupun pimpinan alat kelengkapan maupun pimpinan itu tidak bisa diberhentikan karena laporan pertanggungjawaban ditolak. Nah kalau tidak setuju ya jangan dipilih lagi, nanti kalau kurang bagus dalam laporan tahunannya jangan dipilih lagi. Nah itu saja. Jadi tidak ada pemberhentian pimpinan karena laporan pertanggungjawaban tahunannya ditolak karena ini koletif kolegial, berarti kita semua yang salah, ini yang perlu diperhatikan di tatib kita yang sangat jauh menyimpang dari norma-norma aturan hukum yang ada di kita. Itu saja Bapak Ketua mungkin yang perlu kita perhatikan.
Terima kasih.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Baik, terima kasih.
PEMBICARA: Drs. H. LALU SUHAIMY ISMY (NTB) Tambahan Ketua.
Tambahan dari Malang ini. Jadi untuk meluruskan lagi yang bengkok, jadi supaya lebih jelas. Jadi dalam ilmu perundang-undangan membentuk kode etik dengan dasar peraturan tata tertib itu tidak boleh. Jadi seharusnya pembentukan kode etik itu langsung harus didasarkan pada Pasal 301 Undang-Undang MD3 yang di situ sudah mengamanatkan, memberikan mandat peraturan tata tertib itu harus terpisah. Jadi penyusunan kode etik terpisah dari peraturan tata tertib. Berikutnya, masalah yang terkait dengan tidak berlaku surut itu, itu bagi legal policy tapi kalau masih sifatnya open, open legal policy itu kita sendiri yang menentukan di pansus ini. Terus kemudian yang saya ingat juga bahwa LPJ itu
ada saran kemarin seingat saya. Disarankan oleh sahabat-sahabat di Brawijaya kemarin kebetulan juga dosen-dosen saya dulu di sana. Jadi LPJ itu disarankan yang terkait dengan LPJ itu drop saja karena nanti akan berdampak pada aturan-aturan yang lain, atau bertabrakan. Demikian, terima kasih.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Baik terima kasih.
Jadi kita nanti ini mencatat ada yang sudah sifatnya umum ya hampir sama atau tak lebih sama antara temuan di Brawijaya, temuan di Lampung dan temuan di Makassar. Makassarpun menganggap LPJ ini tidak lazim menurut dia tatib ada laporan pertanggungjawaban begitu, tapi laporan kinerja itu harus, tapi laporan kinerja tidak berarti berujung kepada laporan pertanggungjawaban karena ini kolektif ya, semua kepemimpinan di sini kolektif kolegial kan begitu. Jadi ini yang dianggap Ibu Anna tadi istilahnya jangan buat aturan yang lebih radikal, lebih ini daripada aturan induknya. Undang-Undang MD3 mengamanatkan adanya laporan kinerja, tapi jangan buat aturan yang lebih radikal lebih, lebih ini daripada laporan induk nya Undang-undang MD3 mengamanatkan adanya laporan kinerja tapi jangan buat laporan kinerja berujung kepada laporan pertanggungjawaban yang kemudian bisa memberhentikan. Laporan keuangan....
Baik, ini Bang Ken tidak ada oleh-olehnya Bang Ken susah juga ini. Baik jadi catatan pertama tadi kesimpulan pertama tadi adalah bahwa penguatan DPD di dukung oleh perguruan tinggi oleh kampus, ya oleh kampus. Tolong ini Pak Wahid dibuat betul kesimpulan ini karena ini juga penguatan-penguatan yang kita mau dorong bagian dari pada dukungan-dukungan kita kepada gerakan besar DPD yaitu Amandemen. Yang kedua baik dari Makasar, Malang dan Bengkulu tentang masa jabatan pimpinan dan pimpinan alat kelengkapan itu otoritas di internal DPD menjabarkannya. Berarti tatib ini sebenarnya sudah pada posisi benar dalam pengertian tinggal penjabarannya begitu. Ketiga LKPJ ini yang perlu dipertimbangkan, dipertimbangkan nanti dalam perubahan. Saya termasuk setelah mengkaji pandangan pakar kinerja Pak Rangkuti, itu Pak Rangkuti kan waktu kita hadirkan juga berpandangan seperti itu. Itu sebabnya Undang-Undang Pemda sekarang sudah tidak ada kata laporan pertanggungjawaban kepala daerah. Bahkan di Makassar itu sering begini wah ini bisa terjadi tanda kutip sentimentil ini diantara begitu tidak disuka misalnya pimpinan alat kelengkapan galang dukungan untuk menolak LPJ-nya sehingga jatuhlah dia, lebih 50% tidak setuju sudah, begitu analoginya.
Saya kira tiga simpulan umum ini Bapak, Ibu sekalian tapi secara teknis tolong Pak Rofiq ya dimatriks garis-garis besar daripada hasil FGD kita. Saya kira cukup Bapak, Ibu? PEMBICARA: Drs. H. LALU SUHAIMY ISMY (NTB)
Terima kasih Pimpinan.
Bapak Ibu yang saya hormati, dari Malang saya kira sudah cukup jelas tadi Pak. Sama dengan dari daerah-daerah lain semuanya memberikan dukungan penguatan DPD itu intinya. Kemudian tadi Bu Eni dan teman-teman lain juga sudah menyampaikan. Saya hanya ingin saran saja Pak Ketua untuk percepatan pembahasan kita ke depan saya kira apa yang sudah kita simpulkan hari ini mungkin bisa secepatnya diberikan kepada kita sebelum kita rapat yang akan datang Pak. Jadi mungkin ada koreksi atau plus minus dari apa yang sudah kita bicarakan sekarang itu katakalah tanda petik tidak tuntas resumenya begitu. Sehingga kita bisa evaluasi sehingga percepatan kerja kita di pansus ini bisa lebih efektif itu yang pertama.
Yang kedua, hal-hal yang memang sudah dianggap bertentangan dengan atau istilahnya Bu Anna tadi lebih ekstrim dari aturan diatasnya langsung saja kita dianulir itu saja saran Pak.
Terima kasih.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Terima kasih Pak Lalu.
Meskipun saya sebut belum saatnya mengambil keputusan tetapi cenderung kita sepakat untuk LKPJ hampir kita sependapat semua bahwa jangan ada kata pertanggungjawaban tetapi laporan kinerja harus, wajib. Itu menjadi bahan evaluasi kinerja lembaga dan juga kinerja kepemimpinan sesungguhnya. Tapi bukan pertanggungjawaban bisa diberhentikan, tidak diberhentikan. Seluruh alat kelengkapan itu berujung pada laporan pertanggungjawaban bukan hanya Pimpinan DPD. Terutama alat kelengkapan ini, seluruh alat kelengkapan ya. Nanti sewaktu-waktu orang, orang ogah, orang ragu, orang khawatir menjadi pimpinan alat kelengkapan. Dia bilang anggota saya yang banyak begini-begini kemudian saya yang menjadi jelek karena tidak bagus didengar diberhentikan kan, jadi bisa dampaknya itu. Nanti sewaktu-waktu tidak ada yang mau jadi pimpinan alat kelengkapan apalagi kalau sudah akhir-akhir tahun masa periode itu sudah mau kampanye lagi Pak Kenedi, Ibu Eni mau jadi Anggota DPR berikutnya bukan lagi DPD. Ini satu dapil dengan Bang Kenedi.
Bagaimana Pak Muqowam? Sementara kita simpulkan bahwa laporan pertanggungjawaban kinerja itu kita nyatakan drop. Karena ini kan kesimpulannya nanti disisir dengan penyesuaian-penyesuaiannya Pak Muqowam kan. Kalau kita sepakat kita bisa sepakat sekarang Pak. Sepakat? Karena begitu kita sepakat saya mohon maaf..
PEMBICARA: Drs. H. LALU SUHAIMY ISMY (NTB)
Tapi sedikit mungkin Pak pimpinan, pada akhir masa jabatan itu wajib Pak. Laporan pertanggungjawaban, laporan kinerja dan laporan pertanggungjawaban walaupun pada akhir masa jabatan Pak.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Jadi prinsipnya laporan kinerja wajib. Laporan kinerja itu wajib tahunan atau wajib masa sidang dan laporan kinerja itu wajib untuk setiap akhir masa jabatan.
PEMBICARA: Drs. H. LALU SUHAIMY ISMY (NTB)
Pembahasan laporan pertanggungjawaban yang disampaikan oleh Sekjen ke melalui PURT itu jangan, itu tetap, itu tetap laporan tahunan.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Tidak, itu lain. Kalau itu laporan kinerja Sekjen kan kita tidak atur. Itu kan berkait administrasi keuangan, jadi itu lain kita tidak atur dan laporan kinerja sekjen itukan diaudit oleh BPK. Jadi sebenarnya PURT itu tidak juga bisa menolak laporan kinerja Sekjen pada
dasarnya prinsipnya. Karena yang pertama dia harus lihat adalah apa hasil pemeriksaan BPK. Kalau akhir tahunnya Sekjen kan. Jadi PURT itu harus mengevaluasi hasil pemeriksaan BPK terhadap sekretariat, jangan melihat WTP lantas menganggap semua baik-baik saja. Ya tapi saya ulangi dulu.
PEMBICARA: H. AHMAD KANEDI, S.H., M.H. (BENGKULU) (berbicara tanpa mic, red)
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Baik, itu nanti bisa kita akomodir di pimpinan. Tetapi secara umum dulu bahwa tidak ada laporan pertanggungjawaban alat kelengkapan, yang ada adalah laporan kinerja. Tidak, ini kan nanti mau staf ahli kita membahasakan dalam penyesuaian tatib. Laporan kinerja bukan merupakan laporan pertanggungjawaban yang berdampak kepada diterima atau tidaknya, yang berdampak kemudian pada ditolak dan tidaknya. Nah itu yang kita maksud. Jadi secara substansial seperti itu kesepahaman kita. Pak Kenedi silakan.
PEMBICARA: H. AHMAD KANEDI, S.H., M.H. (BENGKULU) (berbicara tanpa mic, red)
Jangan sampai itu tidak dibikin atau hanya syarat saja begitu.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Sebenarnya didalam tatib kita sudah ada. Setiap akhir masa jabatan itu setiap pimpinan alat kelengkapan membuat laporan kinerja dalam rapat.
PEMBICARA: H. AHMAD KANEDI, S.H., M.H. (BENGKULU) (berbicara tanpa mic, red)
Harus ada acaranya begitu mungkin dalam rapat sehingga ini sakral sifatnya waluapun tidak ada tanggungjawab serta konsekuensi apa kan. Tapi ini memang yang harus kita benar tidak hanya syarat saja begitu yang penting laporan atau laporan itu kulitnya saja isinya tidak ada.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Oke itu sudah masuk ke penjabarannya, substansinya dulu kita sekali lagi saya mau usahakan ya. Jadi kita sepakat tidak ada laporan pertanggungjawaban kinerja yang berujung kepada ditolak atau di terima, itu Pak ya? Baik, bismillah.
KETOK 3X
Tepuk tangan dulu Bang Ken, ini keputusan besar ini. Keputusan besar ini. Sebenarnya di sana masih ada nanti catatan kita. Masa di tatib kita dikatakan laporan kinerja itu dipimpin oleh.. kalau saya tidak salah di Pimpinan DPD itu, padahal ini kan laporan kinerja jadi
dipimpin oleh pimpinan alat kelengkapan yang bersangkutan, dia yang melaporkan itu kinerja lembaga itu. Masa pimpinan alat kelengkapan pergi memimpin. Itu kalau pimpinan kalau tidak salah ya saya belum buka. Laporan Pimpinan DPD itu dipimpin oleh Pimpinan BK bersama PPUU dan Komite I. Lho logikanya kok bisa dia yang pergi pimpin di sana. Yang dipimpin oleh pimpinan alat kelengkapan masing-masing itu nanti bagian dari penjabaran teknis yang dimaksud Pak Ahmad Kenedi. Yang terakhir itu harus tegas di tatib pedoman penyusunan laporan kinerja itu nanti disusun tersendiri karena harus ada standar penilaian, ada pola-pola penilaian kinerja, begitu ya. Hari ini sudah sangat besar kerja kita pukul 12.40.
PEMBICARA: Dra. Ir. Hj. ENI SUMARNI, M . Kes. (JAWA BARAT) (berbicara tanpa mic, red)
Pak boleh nambah hal-hal lain yang di luar itu penting juga buat diramu atau lain? PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Nanti dulu Bu saya mau coba dulu begini.
PEMBICARA: Dra. Ir. Hj. ENI SUMARNI, M . Kes. (JAWA BARAT) (berbicara tanpa mic, red)
Ini ada yang prinsip juga pada teman-teman mumpung ingat.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Ini masalahnya kalau Bu Eni yang minta kan saya.. Nah itu, saya terus terang Pak, tolong Pak Muqowam tegur karena kalau ibu-ibu yang meminta saya agak susah menghindar. Jadi Bapak yang ingatkan itu tapi sebenar Bu Eni tambahnya. Saya sampaikan dulu begini, kita lanjutkan besok sudah mulai rapat substansinya, setengah sepuluh. Pukul 09.30 dan undangan yang dikeluarkan sekretariat tolong menyebutkan pembahasan dan penetapan biar teman-teman kita tidak ada yang komplain, oh saya tidak ikut terlibat dalam pengambilan keputusan itu. Jadi kalau tidak hadir itu konsekuensi individu. Kita sepaham itu ya Pak ya? Tidak usah kita putuskan tapi itu sudah sepaham catatan untuk sekretariat. Baik Ibu Eni silakan.
PEMBICARA: Dra. Ir. Hj. ENI SUMARNI, M . Kes. (JAWA BARAT) Terima kasih Pak Ketua.
Pimpinan dan rekan-rekan yang saya banggakan, Ini mumpung masih ingat karena mungkin besok juga kita penetapan-penetapan. Banyak sekali rekan-rekan dari provinsi yang sudah datang baik secara formal maupun secara bertemu dimana saja tentang untuk menjaga marwah kelembagaan dimana tingkat kehadiran anggota ini sudah sangat jauh dari harapan.. Nah di situ diminta ada aturan untuk kita sendiri dimana yang kurang dari 60% teman-teman kemarin bilang 60% itu jangan mengambil lebih dari 2 alat kelengkapan karena ada yang kehadiran hanya 40% tapi ambilnya 3 alat kelengkapan bahkan 4 alat kelengkapan sehingga teman-teman yang lain itu kehilangan informasi. Nah mohon diatur di tatib bahwa untuk di tatib ini diatur bahwa kehadiran kurang dari 60% maka maksimum ambil alat kelengkapan
hanya 2 alat kelengkapan. Apabila dalam hal 60% tidak ada yang tercapai diantara anggota maka yang berhak mengambil diatas 2 alat kelengkapan adalah yang kehadirannya paling banyak diantara anggota di provinsi tersebut. Ini pesan dari teman-teman yang minta diatur di tatib mengingat kinerjanya semakin merosot sedangkan lembaga DPD RI katanya.... tidak bisa lepas dari kinerja anggota di persidangan hadir di rapat-rapat memberikan masukan
Terima kasih, itu dari rekan-rekan, Bapak. Terima kasih.
PEMBICARA: H. AHMAD KANEDI, S.H., M.H. (BENGKULU) Tidak, mungkin tambahan sedikit saja.
PEMBICARA: ANNA LATUCONSINA (MALUKU) Ya Pak Ketua, terima kasih.
Saya hanya ingin menanyakan…. (mic rusak, suara tidak terdengar, red) PEMBICARA: Drs. H. MOHAMMAD SOFWAT HADI, S.H. (KALSEL)
(berbicara tanpa mic, red)
Pak Ketua, sesuai jadwal kan kita rapat setiap hari Kamis..
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Kamis dan Jumat pagi. Kesepakatan kita Kamis siang dan Jumat pagi. PEMBICARA:
(berbicara tanpa mic, red)
Saya minta hari Kamis yang akan datanglah kayak sidangnya Jesica begitu seminggu sekali.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Jadi kesepakatan kita pas rapat itu kamis siang, jumat pagi. Ini kamis siang kami majukan karena ada Panmus sebentar yang diantara kami berempat berlima saya tidak tahu yang Anggota Panmus. Jadi memang kesepakatannya Pak kamis siang jumat pagi, tidak malam jumat, tidak ada malam jumat.
Ini yang diangkat temanya oleh Bu Eni maupun ditanggapi Pak.. Nanti kita diskusikan ya mana wilayah tatib mana wilayah kode etik karena pada akhirnya kan di sana pakai etikanya bersangkutan, menyangkut etik atau menyangkut tata. Nantilah kita diskusikan itu. Kita lihat dulu di tatib apa sudah diatur atau belum. Iya kita kan harus bedakan mana wilayah...
PEMBICARA: ADRIANUS GARU, S.E., M.Si. (NTT)
Begini Pak Ketua, saya hanya kasihan. Kita ya bukan rajin juga saya, mungkin masih seperempat rajin. Gaji juga dengna yang tidak datang sama. Giliran kalau mau ngobrol ini kan memalukan gitu, bicara terus bicara tentang...
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, SE., MM (KETUA PANSUS TATIB)
Pak Andre, ini akan di luar.
PEMBICARA: ADRIANUS GARU, S.E., M.Si. (NTT) Bentar-bentar.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Sebentar, ini akan di luar yang saya mau bilang. Sewaktu-waktu di Rapat Panmus, Pak Muqowam dengan Pak Fatwa terjadi perdebatan agak di luar konteks Panmus, soal absensi dan tidak absensi.
PEMBICARA: Dra. Ir. Hj. ENI SUMARNI, M.Kes. (JABAR) Benar itu terjadi.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, SE., MM (KETUA PANSUS TATIB)
Jadi hubungannya dengan itu soal rajin tidak rajin. Bagaimana BK mengukur ketidakhadiran dan kerajinan seseorang dan karena kita pejabat politik publik apakah harus diukur dengan absen?
PEMBICARA: Dra. Ir. Hj. ENI SUMARNI, M.Kes. (JABAR) BK itu. Pak Fatwa tidak setuju itu.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Tidak setuju absen.
PEMBICARA: Dra. Ir. Hj. ENI SUMARNI, M.Kes. (JABAR) Tapi sekarang di tatib .... (kurang jelas, red)
PEMBICARA: AJI MUHAMMAD MIRZA WARDANA, S.T. (KALTIM)
Izin sebagai tambahan. Saya ceritakan sedikit karena saya juga .. (kurang jelas, red). Jadi orang tua kita memberi contoh... (kurang jelas, red). Ada di MPR yang namanya Almarhum Pak Taufik Kiemas, tidak pernah hadir sama sekali tapi jadi Ketua MPR. Dan itu
ada namanya Djan Faried, tidak pernah hadir di DPD tapi jadi menteri. Artinya karena kita .. (kurang jelas, red) mereka pernah berproses, kita sama-sama ikut pemilu, dipilih oleh rakyat. PEMBICARA: ADRIANUS GARU, S.E., M.Si. (NTT)
Oke-okelah. Kita diskusi di luar tapi maksud saya minimal.. Saya rasa ya, saya ngomong, ada yang menceritakan sudah tahu dia di DPD, mau menjelekan DPD lagi. Lha iya apa ini fungsi nggak ada kan. Ini kan cerita tapi kok masih mau terima gaji DPD. Saya kasih lihay yang di koran-koran, memalukan.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Kalau dia tiga bulan berturut-turut tidak hadir..
PEMBICARA: Dra. Ir. Hj. ENI SUMARNI, M.Kes. (JABAR) Bukan tiga bulan Pak.
PEMBICARA: Drs. H. LALU SUHAIMY ISMY (NTB)
Kalau menurut saya Pak, saya kira ini ada pendahuluan kitalah. Tetapi.. PEMBICARA: ADRIANUS GARU, S.E., M.Si. (NTT)
Diskusi saja Pak
PEMBICARA: Drs. H. LALU SUHAIMY ISMY (NTB)
Tetapi ada sesuatu yang sangat serius ke depan untuk kita atur. Saya setuju sekali dengan Pak Andri bahwa kita di BK juga sebenarnya sudah lama menyorot itu. Kalau sama csekali kemudian kita berminat keman-kemana tapi ya ini mungkin ada “pengecualian” gitu tetapi seperti Pak Andri tadi Pak, mohon maaf ini kita tidak menyinggung teman-teman karena kita juga ada di dalamnya tapi kalau sudah ada namanya informasi tentang kunker, apalagi SR ya itu wajib itu. Nah ini yang aneh, begitu. Ketika sehari-hari beliau..
PEMBICARA: Dra. Ir. Hj. ENI SUMARNI, M.Kes. (JABAR) Tidak pernah hadir.
PEMBICARA: Drs. H. LALU SUHAIMY ISMY (NTB)
Kemudian RDP, itu penting sekali untuk menyampaikan aspirasi daerah yang kita wakili kepada pihak yang berkompeten. Penting sekali kalau itu kemudian juga kita tidak hadir... (kurang jelas, red) di sini. Mungkin ada beda saya mohon maaf dengan DPR, dengan MPR, karena dia itu kan keterwakilan dengan partai Pak. Jadi kalau ada sudah keterwakilan partainya di situ boleh dikatakan dia sudah ada wakil, tapi kalau kita tidak hadir di RDP Pak dengan menteri yang sangat terkait dengan aspirasi daerah kita, siapa yang mewakili daerah itu? Tidak etis Pak, mohon diatur Pak Ketua.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Baik, saya kasih Pak. Saya rasa nanti kita ini, sekarang jam... PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (JATENG)
Sebentar Ketua. Yang menarik itu Pak Fatwa itu agak bingung. Begini, sebagai Ketua BK, dia harusnya menegakan itu semua. Saya katakan, Komite I itu mencapai kuorum susahnya minta ampun. Bagaimana ... (kurang jelas, red) maunya anggota? Pak Fatwa tidak setuju malah. Bagaimana coba?
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Apa instrumen ... (kurang jelas, red) anggota kalau bukan salah satunya absen? PEMBICARA: H. AHMAD KANEDI, S.H., M.H. (BENGKULU)
Pak Fatwa memanggil orang yang tidak pernah masuk, memeriksa mereka.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Mengadili salah seorang anggota karena tidak pernah masuk. PEMBICARA: H. AHMAD KANEDI, S.H., M.. (BENGKULU)
Membuat peringatan-peringatan.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Dua orang, salah seorangnya anggota saya.
PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (JATENG) Tapi tidak setuju dia.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Baik saya kira itu diskusi lepas. Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Bapak Ibu semua yang hadir di ruangan ini, mohon besok kita efektifkan waktu pukul 09.30 sampai jam 11.30, sebelum jumatan kita berakhir. Dan sampaikan sekretariat kepada teman-teman Anggota Pansus yang belum sempat hadir. Yang tidak hadir hari ini siapa ya?
PEMBICARA: Dra. Ir. Hj. ENI SUMARNI, M.Kes. (JABAR) Pak Benny katanya.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Pak Benny.
PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (JATENG) Pak Gafar.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Iya. Jadi Anggota Pansus saya baca saya ulang sekali lagi supaya kita saya mengingatkan. Saya, Pak Muqowam, Bu Fahira, Pak Gafar Usman tadi masih memimpin Rapat BAP ya, Pak Ahmad Kanedi, Pak Djasarmen Purba, Ibu Eni hadir, Pak Kyai. Pak Kyai ini kalau di Jawa itu harus lebih dari satu. Pak Lalu.
PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (JATENG) Pak Ketua, belum tahu namanya itu.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Belum.
PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (JATENG) Faktanya memang begitu.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Pak Andre, Pak Sofwat, kemudian Pak Aji Mirza, Pak Benny Rhamdani, Ibu Anna, Pak Stefi. Jadi yang tidak hadir sekarang hanya Pak Gafar Usman, kemudian Pak Djasarman, kemudian Pak Benny.
PEMBICARA: Drs. H. MOHAMMAD SOFWAT HADI, S.H. (KALSEL)
Masih hangat BAP. Pak, itu juga di tatib harus dipikirkan karena seolah-olah kalau sudah membuat surat mohon izin tidak hadir jangan hadir, itu yang kacau. Masa ada orang.. Buat apa buat surat izin mohon izin tidak hadir tapi dianggap hadir, kan tidak logis.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Iya, saya pernah dengar itu. Padahal yang namanya izin, tidak hadir. PEMBICARA: Dra. Ir. Hj. ENI SUMARNI, M.Kes. (JABAR)
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Jadi sebenarnya tidak ada, kata izin itu hanya menyampaikan saja tapi kalau sudah izin, izin sakit lebih-lebih itu.
PEMBICARA: ADRIANUS GARU, S.E., M.Si. (NTT)
Tidak, begini, kita toleransi. Begini, sebentar-sebentar. Kita toleransi misalnya kayak Pak Gafar dia memang masih pimpin BAP atau ada teman sosialisasi di MPR, ataupun ada kegiatan lain yang berkaitan dengan lembaga tapi kalau yang tidak bertugas tidak ada toleransi.
PEMBICARA: Drs. H. MOHAMMAD SOFWAT HADI, S.H. (KALSEL) Kalau sakit lampirkan izin dari dokter.
PEMBICARA: Dra. Ir. Hj. ENI SUMARNI, M.Kes. (JABAR) Begitu Pak harusnya.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB)
Baik, terima kasih Bapak Ibu semua. Dengan ucapan mohon maaf kalau ada yang kurang rapat kita hari ini ada dua kesimpulan yang sangat luar biasa terutama ... 55.32 (kurang jelas, red) DPD. Yang kedua sudah mulai memasuki wilayah substansi sekalipun belum ada bab dan pasal tapi tolong staf ahli sudah mulai merumuskan berdasarkan pasal-pasal yang mengatur tentang laporan pertanggungjawaban tadi.
Dengan mengucapkan alhamdulillahirabilalamin rapat ini saya nyatakan ditutup. KETOK 3X
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.