Sumber data utama yang digunakan untuk membangun data dasar (data base) pada model CGE INDOTDL adalah Tabel I-O Indonesia tahun 2008. Model CGE INDOTDL merupakan model CGE yang analisisnya masih bersifat statis komparatif, sehingga faktor produksi hanya terdiri dari tenaga kerja dan modal. Disagregasi hanya dilakukan pada kelompok rumahtangga menurut daya terpasang listriknya. Penelitian ini tidak melakukan disagregasi tenaga kerja menurut tingkat pendidikan dan modal menurut kepemilikan tanah. Model CGE INDOTDL dengan rumahtangga yang didisagregasi memerlukan data Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) tahun 2008 atau Social Accounting Matrix (SAM) untuk melengkapi data yang tidak tercakup pada Tabel I-O.
Data Susenas tahun 2008 digunakan untuk memisahkan rumahtangga menjadi dua berdasarkan daya terpasang listriknya. Data Tabel I-O UKM tahun 2003 digunakan untuk mendisagregasi sektor listrik menjadi dua menurut daya terpasangnya berdasarkan share konsumsi listrik di tiap skala usahanya. Bab ini menjelaskan langkah-langkah dalam membangun data dasar model CGE INDOTDL dengan menggunakan data yang relevan.
4.1 Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008
Tabel I-O yang digunakan dalam penelitian ini adalah Tabel I-O Indonesia tahun 2008 atas dasar harga produsen yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik. Tabel I-O Indonesia tahun 2008 terdiri dari dua sub-grup tabel, yaitu tabel dasar dan tabel analisis. Tabel dasar terdiri dari tabel transaksi total atas dasar harga konsumen, tabel transaksi total atas dasar harga produsen, tabel transaksi domestik atas dasar harga konsumen, tabel transaksi domestik atas dasar harga produsen dan tabel transaksi impor atas dasar harga produsen. Tabel I-O Indonesia tahun 2008 terdiri dari 66 klasifikasi sektor. Tabel analisis dalam penelitian ini diperoleh dari tabel dasar setelah dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Tabel ini meliputi tabel koefisien input, matriks kebalikan total atas dasar harga produsen dan matriks kebalikan domestik atas dasar harga produsen.
4.2 Tabel Input-Output Usaha Kecil dan Menengah Indonesia (Tabel I-O UKM ) Tahun 2003
Penelitian ini selain menggunakan Tabel I-O Indonesia tahun 2008, juga menggunakan Tabel I-O UKM Indonesia tahun 2003. Tabel I-O UKM terdiri dari 233 klasifikasi sektor ekonomi dan diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik. Tabel I-O UKM dapat untuk melihat keterkaitan antarsektor ekonomi khususnya UKM dalam perekonomian Indonesia, dapat digunakan untuk penghitungan produktivitas tenaga kerja UKM serta dapat digunakan untuk analisis Tabel I-O UKMK untuk berbagai kebutuhan. Pada penelitian ini Tabel I-O UKM digunakan untuk mendisagregasi sektor listrik menurut daya terpasangnya menggunakan pendekatan share konsumsi listrik pada tiap skala ekonominya.
Klasifikasi Tabel I-O UKM dibuat berdasarkan omzet yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi. Dimana definisi Usaha Kecil adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200 juta dan penjualan tahunan paling banyak Rp. 1 miliar. Usaha Menengah adalah usaha yang memiliki penjualan tahunan di atas Rp. 1 miliar hingga Rp. 50 miliar. Usaha Besar adalah usaha yang memiliki penjualan tahunan di atas Rp. 50 miliar. 233 sektor pada klasifikasi Tabel I-O UKM sektor terdiri dari 72 sektor Usaha Kecil (UK), 72 sektor Usaha Menengah (UM) dan 85 sektor Usaha Besar (UB).
4.3 Struktur Input-Output
Struktur lengkap Tabel I-O dapat dilihat pada Gambar 8 (Bab 3). Matriks yang terdapat pada Tabel I-O terdiri dari matriks penyerapan input (absorption
matrix) di tiap industri, matriks produk bersama dan matriks pajak. Kolom dari
matriks penyerapan menunjukkan lima pelaku ekonomi yaitu produsen domestik, investor, rumahtangga, ekspor dan pemerintah. Semua data yang tertera pada Tabel I-O dihitung dalam satuan rupiah.
Baris pada Gambar 8 (pada Bab 3) menunjukkan asal dari pembelian komoditas yang dilakukan oleh pelaku ekonomi pada setiap kolom yang meliputi aliran bahan baku, tenaga kerja, modal, tanah, pajak tak langsung dan biaya lainnya. Aliran bahan baku dasar pada kolom pertama dan kedua menunjukkan aliran komoditas impor dan domestik yang digunakan oleh industri sebagai input
atau pembentukan modal. Kolom pertama dan baris pertama adalah nilai dari bahan baku (input antara) dari komoditas (c) dan sumber (s) yang digunakan oleh setiap industri (i) pada proses produksinya. Selanjutnya aliran komoditas ke kolom ketiga menunjukkan komoditas yang dikonsumsi oleh rumahtangga. Aliran komoditas ke kolom keempat dan kelima menunjukkan nilai komoditas yang diekspor dan dikonsumsi pemerintah. Disini dapat dilihat bahwa hubungan antar komoditas pada Tabel I-O menunjukkan hubungan sektoral antar industri dan hubungan agregat dari pelaku-pelaku ekonomi dalam ekonomi makro.
Alur tenaga kerja dari baris ketiga adalah upah dan gaji yang diterima oleh pekerja sebagai balas jasa faktor tenaga kerja yang digunakan oleh industri. Balas jasa faktor modal dimatrikskan pada baris keempat. Baris keempat ini menunjukkan besarnya biaya sewa modal yang digunakan oleh industri dalam proses produksi. Pajak produksi (pajak tak langsung) dimatrikskan pada baris kelima menunjukkan pajak yang dibayar oleh konsumen melalui produsen sebagai pajak tak langsung dikurangi dengan subsidi yang diterima. Matriks bea impor mencatat pembayaran bea impor atas tiap komoditas yang diimpor oleh setiap industri. Penelitian ini mengasumsikan bahwa sebuah industri hanya dapat memproduksi sebuah komoditas.
4.4 Agregasi dan Disagregasi Sektor
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka sektor yang tercakup dalam penelitian ini terdiri dari 21 sektor. Bila sektor-sektor tersebut dikategorikan ke dalam sembilan sektor seperti pada PDB menurut lapangan usaha, maka disagregasi ke-21 sektor dalam penelitian dapat dikelompokkan sebagai berikut: sektor pertanian (1 sektor), sektor pertambangan dan penggalian (1 sektor), sektor industri pengolahan (didisagregasi menjadi 11 sektor), sektor listrik, gas dan air bersih (didisagregasi menjadi 3 sektor), sektor bangunan (didisagregasi 1 sektor), sektor perdagangan, hotel dan restoran (1 sektor), sektor pengangkutan dan komunikasi (1 sektor), sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan (1 sektor) dan sektor jasa (1 sektor). Disagregasi sektor menurut PDB lapangan usaha ke dalam sektor penelitian ditunjukkan pada Tabel 6.
Tabel 6 Klasifikasi sektor dalam penelitian menurut lapangan usaha
Sektor PDB menurut
Lapangan Usaha Sektor Penelitian (21 sektor) Notasi
1. Pertanian 1 Pertanian Pertanian
2. Pertambangan &
Penggalian 1 Pertambangan dan penggalian Tambangali
3. Industri 1 Makanan, minuman dan tembakau IndMakmin
2 Tekstil, pakaian, kulit dan pemintalan IndTekstPak 3 Bambu, kayu, rotan & barang dr kayu IndBambuKy 4 kertas, barang dari kertas dan karton IndKertas
5 Kimia,Pupuk,dan hasil kilang IndKimia
6 Barang karet, plastik & mineral bukan logam IndKrtPlstk
7 Semen IndSemen
8 Logam dasar besi dan baja & bukan besi IndLgmDsr
9 Barang dari logam IndBrgLgm
10 Mesin, alat-alat, perlengkapan listrik dan alat
pengangkutan dan perbaikannya IndMesin
11 Industri lainnya, Indlainnya
4. Listrik, Gas dan Air 1 Listrik berdaya 900 VA ke bawah Listrik900
Bersih 2 Listrik berdaya 1300 VA ke atas Listrik1300
2 Gas dan Air bersih Gasair
5. Bangunan 1 Bangunan Bangunan
6. Perdagangan, Hotel 1 Perdagangan dan Hotel dan restoran PerdagHR dan Restoran
7. Pengangkutan dan 1 Pengangkutan dan Komunikasi Angkom
Komunikasi
8. Keuangan dan Jasa 1 Keuangan dan jasa perusahaan KeuJspersh Perusahaan
9. Jasa 1 Jasa JasaLain
Sumber: BPS, 2010 (diolah)
Untuk memadukan hasil agregasi dan disagregasi sektor ekonomi yang digunakan dalam penelitian dengan Tabel I-O 2008 dan SNSE 2008, maka dilakukan mapping (pemetaan) antara sektor ekonomi yang terdapat dalam penelitian (21 sektor) dan sektor ekonomi yang terdapat pada Tabel I-O 2008 (66 sektor) dan tabel SNSE 2008. Proses mapping antara sektor pada Tabel I-O dan sektor PDB dalam penelitian ini seperti pada Tabel 7.
Kenaikan TDL per 1 juli 2010 hanya dibebankan pada pelanggan listrik yang berdaya 1300 VA ke atas, sehingga pelanggan listrik 450-900 VA merasa lega karena tidak mengalami kenaikan TDL. Untuk melihat dampak kebijakan kenaikan TDL yang sesuai dengan kejadian sebenarnya, maka dilakukan disagregasi sektor listrik menggunakan Tabel I-O UKM. Proses disagregasi dan agregasi sektor pada penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sektor sektor yang rentan terkena dampak kenaikan TDL terutama sektor industri yang mengkonsumsi listrik dalam jumlah besar.
Tabel 7 Mapping sektor penelitian (21 sektor) dengan Tabel I-O (66 sektor)
No. Klasifikasi sektor No. Klasifikasi sektor
1 Padi 1 Pertanian
2 Tanaman kacang-kacangan 1 Pertanian
3 Jagung 1 Pertanian
4 Tanaman umbi-umbian 1 Pertanian
5 Sayur-sayuran dan buah-buahan 1 Pertanian 6 Tanaman bahan makanan lainnya 1 Pertanian
7 Karet 1 Pertanian
8 Tebu 1 Pertanian
9 Kelapa 1 Pertanian
10 Kelapa sawit 1 Pertanian
11 Tembakau 1 Pertanian
12 Kopi 1 Pertanian
13 Teh 1 Pertanian
14 Cengkeh 1 Pertanian
15 Hasil tanaman serat 1 Pertanian
16 Tanaman perkebunan lainnya 1 Pertanian
17 Tanaman lainnya 1 Pertanian
18 Peternakan 1 Pertanian
19 Pemotongan hewan 3 Industri makanan minuman & tembakau
20 Unggas dan hasil-hasilnya 1 Pertanian
21 Kayu 1 Pertanian
22 Hasil hutan lainnya 1 Pertanian
23 Perikanan 1 Pertanian
24 Penambangan batubara dan bijih logam 2 Pertambangan dan Penggalian 25 Penambangan minyak, gas & panas bumi 2 Pertambangan dan Penggalian 26 Penambangan dan penggalian lainnya 2 Pertambangan dan Penggalian 27 Industri pengolahan & pengawetan makanan 3 Industri makanan minuman & tembakau
28 Industri minyak dan lemak 3 Industri makanan minuman & tembakau
29 Industri penggilingan padi 3 Industri makanan minuman & tembakau
30 Industri tepung, segala jenis 3 Industri makanan minuman & tembakau
31 Industri gula 3 Industri makanan minuman & tembakau
32 Industri makanan lainnya 3 Industri makanan minuman & tembakau
33 Industri minuman 3 Industri makanan minuman & tembakau
34 Industri rokok 3 Industri makanan minuman & tembakau
35 Industri pemintalan 4 Industri tekstil, pakaian, kulit & pemintalan
36 Industri tekstil, pakaian dan kulit 4 Industri tekstil, pakaian, kulit & pemintalan
Tabel 7 Lanjutan
No. Klasifikasi sektor No. Klasifikasi sektor
37 Industri bambu, kayu dan rotan 5 Industri bambu, kayu dan rotan
38 Industri kertas, barang dari kertas & karton 6 Industri kertas, barang dari kertas dan karton 39 Industri pupuk dan pestisida 7 Industri kimia pupuk pestisida dan Pengilangan
minyak bumi
40 Industri kimia 7 Industri kimia pupuk pestisida dan Pengilangan minyak bumi 41 Pengilangan minyak bumi 7 Industri kimia pupuk pestisida dan Pengilangan minyak bumi 42 Industri barang karet dan plastik 8 Industri barang karet plastik dan mineral bukan
logam
43 Industri barang-barang dari mineral bukan logam 8 Industri barang karet plastik dan mineral bukan logam
44 Industri semen 9 Industri semen
45 Industri logam dasar besi dan baja 10 Industri logam dasar 46 Industri logam dasar bukan besi 10 Industri logam dasar
47 Industri barang dari logam 11 Industri barang dari logam
48 Industri mesin, alat-alat dan perlengkapan
listrik 12
Industri mesin, perlengkapan listrik dan alat angkut
49 Industri alat pengangkutan dan perbaikannya 12 Industri mesin, perlengkapan listrik dan alat angkut 50 Industri barang lain yang belum digolongkan dimanapun 13 Industri barang lain yang belum digolongkan dimanapun 51 Listrik gaskota dan air bersih 14 -16 Listrik dan gasair
52 Bangunan 17 Bangunan
53 Perdagangan 18 Perdagangan hotel dan Restoran
54 Restoran dan hotel 18 Perdagangan hotel dan Restoran
55 Angkutan kereta api 19 Angkutan dan komunikasi
56 Angkutan darat 19 Angkutan dan komunikasi
57 Angkutan air 19 Angkutan dan komunikasi
58 Angkutan udara 19 Angkutan dan komunikasi
59 Jasa penunjang angkutan 19 Angkutan dan komunikasi
60 Komunikasi 19 Angkutan dan komunikasi
61 Lembaga keuangan 20 Lembaga keuangan, real estate & jasa perusahaan
62 Real estat dan jasa perusahaan 20 Lembaga keuangan, real estate & jasa perusahaan
63 Pemerintahan umum dan pertahanan 21 Jasa lainnya
64 Jasa sosial kemasyarakatan 21 Jasa lainnya
65 Jasa lainnya 21 Jasa lainnya
66 Kegiatan yang tak jelas batasannya 21 Jasa lainnya
Agregasi sektor dalam Tabel I-O tahun 2008 Agregasi sektor dalam Penelitian
Sumber: BPS, 2010 (diolah)
4.5 Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE)
SNSE menyediakan informasi mengenai keadaan sosial ekonomi makro Indonesia, tidak hanya meliputi informasi Tabel I-O tapi juga mengenai distribusi pendapatan untuk semua faktor produksi, pendapatan rumahtangga, dan pola dari pengeluaran rumahtangga. Dibanding dengan Tabel I-O, SNSE tidak hanya mengidentifikasi struktur produksi tetapi juga bermanfaat dalam menjelaskan distribusi pendapatan, tenaga kerja dan akumulasi modal.
Tabel 8 Pengelompokan sektoral dari Tabel Input-Output dan Sistem Neraca Sosial Ekonomi.
No. Klasifikasi sektor No. Klasifikasi sektor
1 Pertanian 1-5 Pertanian
2 Pertambangan dan penggalian 6-7 Pertambangan dan penggalian 3 Industri makanan, minuman dan
tembakau
8 Industri Makanan, Minuman & Tembakau 4 Industri tekstil, pakaian dan kulit dan
pemintalan
9 Industri TPT 5 Industri Bambu, Kayu, rotan & Barang
dr Kayu
10 Industri Kayu & Barang dr Kayu 6 Industri kertas, barang dari kertas dan
karton
11 Industri Kertas , Percetakan, Angkutan, Barang Logam & Lainnya
7 Industri Kimia, Pupuk,dan hasil kilang 12 Industri Kimia,Pupuk,Hasil Tanah Liat,Semen
8 Industri barang karet , plastik & mineral bukan logam
12 Industri Kimia,Pupuk,Hasil Tanah Liat,Semen
9 Industri semen 12 Industri Kimia, Pupuk ,Hasil Tanah Liat, Semen
10 Industri logam dasar besi dan baja & bukan besi
11 Industri Kertas , Percetakan, Angkutan, Barang Logam &Lainnya
11 Industri barang dari logam 11 Industri Kertas , Percetakan, Angkutan, Barang Logam &Lainnya
12 Industri mesin, alat-alat, perlengkapan listrik dan alat pengangkutan dan perbaikannya
11 Industri Kertas , Percetakan, Angkutan, Barang Logam &Lainnya
13 Industri lainnya 11 Industri Kertas , Percetakan, Angkutan, Barang Logam &Lainnya
14 Listrik berdaya 900 VA kebawah 13 Listrik,Gas & Air Minum 15 Listrik berdaya 1300 VA kebawah 13 Listrik,Gas & Air Minum 16 Gas kota & air 13 Listrik,Gas & Air Minum
17 Bangunan 14 Konstruksi
18 Perdagangan, hotel dan restoran, 15-17 Perdagangan, hotel dan restoran, 19 Pengangkutan dan komunikasi 18-19 Angkutan darat, udara, Air, dan
Komunikasi 20 Lembaga keuangan, real estat dan jasa
perusahaan
21-22 Bank & Asuransi, Real Estate & Jasa Perusahaan
21 Jasa lainnya 23-24 Jasa lainnya
Agregasi sektor dalam Penelitian Sektor dalam SNSE
Sumber: BPS, 2010 (diolah).
SNSE banyak digunakan sebagai data dasar dalam penerapan model keseimbangan umum di Indonesia. SNSE Indonesia dikeluarkan dalam 3 kelompok sektoral yaitu versi 105 X 105, versi 37 x 37 dan versi 13 X 13. Pengelompokan sektor pada SNSE berbeda dengan pengelompokan pada Tabel I-O. Penelitian ini menggunakan SNSE sebagai data tambahan dalam Tabel I-O 2008, untuk menggabungkan data SNSE dan Tabel I-O dilakukan pengelompokan antara sektor keduanya (Oktaviani 2008). Pengelompokan sektor antara SNSE dan Tabel I-O disajikan pada Tabel 8.
4.6 Klasifikasi Input Primer
Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, karena model INDOTDL merupakan model CGE komparatif statis, maka pada penelitian ini input primer hanya terdiri dari tenaga kerja dan modal. Modal meliputi pembayaran atas lahan dan sewa barang modal yang digunakan dalam proses produksi oleh masing-masing sektor produksi. Pembayaran tenaga kerja meliputi upah dan gaji yang dibayar oleh setiap sektor perekonomian (industri). 4.7 Klasifikasi Pengguna (User)
Pengguna barang dan jasa dapat dibedakan menurut dua kelompok utama, yaitu pengguna antara (intermediate product) dan pengguna akhir (final
user). Pengguna antara adalah pembelian yang dilakukan oleh industri tertentu
terhadap output industri-industri lainnya dengan tujuan bukan untuk konsumsi, investasi, ekspor, dan inventori. Pembelian barang/jasa oleh pengguna antara tersebut untuk mendukung proses produksi dan bersifat habis pakai dalam satu periode akuntansi. Pengguna antara pada penelitian ini meliputi 21 sektor ekonomi, yaitu (1) Pertanian, (2) Pertambangan dan penggalian (3) Industri makanan, minuman dan tembakau (4) Industri tekstil, pakaian dan kulit dan pemintalan, (5) Industri Bambu, kayu, rotan & barang dr kayu (6) Industri kertas, barang dari kertas dan karton, (7) Industri Kimia,Pupuk,dan hasil kilang, (8) Industri barang karet, plastik & mineral bukan logam, (9) Industri semen, (10) Industri logam dasar besi dan baja & bukan besi, (11) Industri barang dari logam, (12) Industri mesin, alat-alat, perlengkapan listrik dan alat pengangkutan dan perbaikannya, (13) Industri lainnya, (14) Listrik berdaya 900 VA ke bawah, (15) Listrik berdaya 1300 VA ke atas, (16) Gas kota & air, (17) Bangunan, (18) Perdagangan, hotel dan restoran, (19) Pengangkutan dan komunikasi, (20) Lembaga keuangan, real estat dan jasa perusahaan dan (21) Jasa lain.
Pengguna akhir terdiri dari 5 kelompok, yaitu: (1) investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB), (2) konsumsi rumahtangga bawah, (3) konsumsi rumahtangga atas (4) konsumsi pemerintah dan (5) ekspor. Pembelian barang dan jasa oleh pengguna akhir ini ditujukan untuk konsumsi rumahtangga, konsumsi pemerintah, investasi dan ekspor. Tiga bagian pertama
merupakan pengguna akhir dari dalam negeri (domestik) dan satu bagian lainnya merupakan pengguna akhir luar negeri (ekspor). Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa tujuan pembelian barang dan jasa oleh pengguna akhir adalah dalam rangka menambah aset karena umur penggunaannya lebih dari satu periode akuntansi. Rumahtangga dikelompokan menjadi 2 sehingga total pengguna pada penelitian ini sebanyak 26 pengguna, yang merupakan penjumlahan dari pengguna antara dan pengguna akhir. Sementara jumlah pengguna domestik adalah sebanyak 25 pengguna, yaitu total pengguna dikurangi dengan pengguna luar negeri (ekspor).
4.8 Klasifikasi Rumahtangga
Pada penelitian ini pengguna akhir untuk konsumsi rumahtangga dibagi menjadi 2 kelompok yaitu rumahtangga bawah (HouseHB) dan rumah rumahtangga atas (HouseHA). Pembagian 2 kelompok rumahtangga ini mengacu pada kebijakan kenaikan TDL yang hanya berlaku untuk pelanggan listrik yang berdaya 1300 VA ke atas saja sedangkan pelanggan listrik 900 VA ke bawah masih disubsidi. Kelompok rumahtangga atas terdiri dari semua rumahtangga yang daya tersambung listrik 450-900 VA, sedangkan kelompok rumahtangga atas adalah semua rumah yang berdaya listrik 1300 VA ke atas.
Untuk mengetahui rumahtangga menurut daya terpasang listriknya dibutuhkan data Susenas tahun 2008 baik KOR maupun Modul. Proporsi rumahtangga diperoleh sebagai indikator untuk membagi rumahtangga menjadi dua kelompok berdasarkan daya terpasangnya listriknya. Pembagian proporsi rumahtangga tersebut digunakan mengalokasikan rumahtangga menjadi 2 kelompok yaitu dengan melakukan agregasi dan disagregasi pada delapan kelompok rumahtangga dalam SNSE tahun 2008.
4.9 Klasifikasi Sumber
Output yang berwujud barang dan jasa pada suatu wilayah (perekonomian), sesungguhnya bersumber dari produksi dalam negeri wilayah itu sendiri dan berasal dari produksi luar negeri. Berdasarkan kondisi ini maka sumber komoditas dibedakan menjadi dua sumber, yaitu domestik dan impor. Nilai komoditas yang
diimpor menurut industri dapat diperoleh dari Tabel I-O transaksi impor, sedangkan nilai komoditas domestik menurut industri diperoleh dari Tabel I-O transaksi domestik. BPS mempublikasikan Tabel I-O Indonesia tahun 2008 menurut transaksi total dan transaksi domestik, maka untuk memperoleh nilai transaksi impor dilakukan dengan cara mengurangkan Tabel I-O transaksi total dengan Tabel I-O transaksi domestik. Semua jenis transaksi dalam Tabel I-O tersebut dihitung menurut harga produsen.
4.10 Elastisitas dan Parameter Lain
Data-data lain yang dibutuhkan untuk membangun model CGE INDOTDL selain yang telah disebutkan di atas, dibutuhkan juga data-data parameter behavioral lainnya. Parameter elastisitas yang digunakan dalam model CGE INDOTDL antara lain elastisitas Armington, elastisitas substitusi input primer dan elastisitas permintaan ekspor.
4.10.1 Elastisitas Armington
Armington mengemukakan teori mengenai permintaan barang dalam aktivitas perdagangan internasional. Dalam teori yang dikembangkannya, Armington memperkenalkan asumsi bahwa produk yang diperdagangkan secara internasional berbeda berdasarkan lokasi produksinya. Armington juga mengasumsikan bahwa dalam suatu negara, setiap industri hanya menghasilkan satu produk dan bahwa produk ini berbeda dari produk industri yang sama dari negara lain. Dari sudut pandang konsumen, produk suatu industri yang berasal dari berbagai negara merupakan sekelompok barang yang dapat saling bersubstitusi. Tingkat substitusi di antara barang yang dihasilkan oleh industri domestik dan industri di negara lain besifat tidak sempurna (imperfect of substitution). Derajat substitusi di antara kedua barang tersebut selanjutnya dikenal secara luas sebagai elastisitas substitusi Armington atau elastisitas Armington.
Asumsi Armington terhadap produk yang terdiferensiasi secara nasional telah diadopsi secara luas dalam model CGE untuk mendefinisikan permintaan barang-barang domestik dan barang-barang impor. Nilai elastisitas
Armington untuk tiap komoditas dalam penelitian ini, mengikuti model yang dikembangkan oleh Oktaviani (2000). Nilai elastisitas Armington diestimasi dengan menggunakan data time series yang tersedia. Elastisitas Armington diestimasi dengan data volume dan harga barang impor serta data produksi dan harga barang domestik. Nilai parameter elastisitas tersebut disajikan pada 9.
Tabel 9 Parameter elastisitas yang digunakan dalam model
Armington Substitusi Input Primer
Permintaan Ekspor 1 Pertanian 2,81 0,50 4,33 2 Pertambangan dan penggalian 1,70 0,50 3,13 3 Industri makanan, minuman dan tembakau 1,97 0,50 4,71 4 Industri tekstil, pakaian dan kulit dan pemintalan 4,10 0,50 7,30 5 Industri Bambu, Kayu, rotan & Barang dari Kayu 3,20 0,50 6,00 6 Industri kertas, barang dari kertas dan karton 3,00 0,50 5,50 7 Industri Kimia, Pupuk,dan hasil kilang 3,00 0,50 5,70 8 Industri barang karet , plastik & mineral bukan logam 3,00 0,50 7,40 9 Industri semen 3,00 0,50 1,60 10 Industri logam dasar besi dan baja & bukan besi 4,20 0,50 7,40 11 Industri barang dari logam 4,20 0,50 7,20 12 Industri mesin, alat-alat, perlengkapan listrik dan alat pengangkutan dan perbaikannya 4,30 0,50 7,90 13 Industri lainnya 4,40 0,50 7,40 14 Listrik berdaya 900 VA kebawah 6,00 0,50 5,70 15 Listrik berdaya 1300 VA kebawah 6,00 0,50 5,70 16 Gas kota & air 6,00 0,50 5,70 17 Bangunan 3,00 0,50 2,50 18 Perdagangan, hotel dan restoran, 2,00 0,50 2,50 19 Pengangkutan dan komunikasi 1,90 0,40 3,80 20 Lembaga keuangan, real estat dan jasa perusahaan 1,90 0,40 3,80 21 Jasa lain 1,90 0,40 3,80
Elastisitas Sektor penelitian
No
Sumber: Oktaviani, 2000 (dimodifikasi) 4.10.2 Elastisitas Substitusi Input Primer
Elastisitas substitusi input primer menunjukkan bagaimana respon dari setiap input pada setiap sektor akibat perubahan harga input. Pada fungsi
produksi CES, faktor primer disubstitusi sesamanya dengan elastisitas substitusi yang konstan. Nilai yang sama juga diberlakukan untuk semua faktor yang saling berpasangan. Biasanya nilai yang digunakan untuk elastisitas ini adalah 0,5. Kisaran nilai 0,5 tersebut telah digunakan dalam model ORANI, ORANI-F dan ORANI-G pada perekonomian Australia [Horridge et al (1993) dan Horridge
et al (1997) dalam Delis (2008)]. Penentuan nilai elastisitas substitusi input
primer dalam penelitian ini mengikuti model yang dikembangkan oleh Oktaviani (2000). Nilai elastisitas substitusi input primer masing-masing sektor/komoditas disajikan pada Tabel 9.
4.10.3 Elastisitas Permintaan Ekspor
Elastisitas permintaan ekspor menunjukkan respons permintaan komoditas ekspor terhadap perubahan harganya di pasar internasional. Pada perekonomian internasional, Indonesia diasumsikan sebagai negara kecil, sehingga ekspor Indonesia tidak akan memengaruhi harga dunia. Nilai elastisitas permintaan ekspor dalam penelitian ini mengikuti model yang dikembangkan oleh Oktaviani (2000), yang diestimasi dengan menggunakan data volume dan nilai ekspor. Elastisitas permintaan ekspor masing-masing sektor/komoditas disajikan pada Tabel 9.
4.11 Membuat File Header Array
File header array merupakan file yang memuat matriks-matriks data dasar dan set dari setiap komoditas, industri, pengguna, sumber komoditas beserta faktor produksi (input) yang digunakan. Pada umumnya dimensi matriks-matriks yang terdapat pada data dasar berukuran dua dimensi, tetapi beberapa matriks memiliki ukuran tiga dimensi. File ‘har’ telah dibuat sedemikian hingga memungkinkan untuk membuat data dasar yang memiliki dimensi matriks lebih dari dua. Setelah semua data dasar yang dibutuhkan tersedia, maka prosedur yang dilakukan untuk membuat file header array adalah sebagai berikut:
1. Melakukan entry data terhadap data pada Tabel I-O Indonesia tahun 2008 ke dalam software excel 2007. Tabel I-O yang digunakan adalah Tabel I-O transaksi total dan Tabel I-O transaksi domestik atas dasar
harga produsen. Tabel I-O transaksi impor atas dasar harga produsen diperoleh dengan cara mengurangkan Tabel I-O transaksi total atas dasar harga produsen dengan Tabel I-O transaksi domestik atas dasar harga produsen.
2. Melakukan disagregasi 66 sektor menjadi 69 sektor yang diolah dari tabel Tabel I-O Indonesia tahun 2008, kemudian dilakukan agregasi menjadi 21 sektor penelitian (Tabel 7). Proses agregasi dapat dilakukan dengan menggunakan software excel 2007, Gempack maupun program “GRIMP”.
3. Melakukan penyesuaian kolom dan baris pada Tabel I-O sesuai
kebutuhan data dasar pada model CGE INDOTDL, dengan cara sebagai berikut:
a.Menghapus baris jumlah input antara dan nilai tambah kotor yang terdapat pada Tabel I-O, baik pada Tabel I-O transaksi total, domestik maupun impor. Dihapuskannya baris ini adalah untuk menghilangkan masalah perhitungan ganda pada nilai input.
b. Menghapus nilai total permintaan antara, total permintaan akhir, total permintaan, total impor, margin perdagangan besar, margin perdagangan kecil, biaya transportasi dan margin perdagangan total dan biaya transportasi total pada kolom yang terdapat pada Tabel I-O (tabel total, domestik dan impor). Dihapuskannya nilai yang terdapat pada matriks permintaan adalah untuk menghilangkan masalah perhitungan ganda, sedangkan dihapuskannya nilai matriks margin dikarenakan nilai-nilai yang terdapat pada matriks tersebut bernilai nol.
c. Menambahkan baris pajak impor (tarif impor) pada baris terakhir pada
data dasar.
4. Menggunakan program Modhar, semua data di atas dikonversi ke dalam file har. File har tersebut merupakan matriks-matriks dasar pada model CGE INDOTDL. Selain data di atas, file lain yang dibutuhkan untuk membuat file har adalah sebagai berikut:
a. File Modraw.inp sebagai input statemen ketika melakukan running program Modhar. File ini terdiri dari file header array yang akan dibuat dan semua file .csv di atas.
b. File Dgscale.inp sebagai input statemen untuk membagi nilai-nilai yang terdapat pada data input statemen dengan angka 1000. File ini digunakan sebagai input statemen pada program DAGG.
c. Rawdata.bat sebagai file bat untuk melakukan running program Modhar dan program DAGG dalam “batch” mode. File ini merupakan statemen untuk melakukan running program Modhar dan DAGG. 4.12 Software GEMPACK
Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa analisis pada penelitian ini menggunakan metode CGE INDOTDL yang dijalankan oleh
Software Gempack (General Equilibrium Modelling PACKage), selanjutnya
disebut sebagai Gempack. Gempack dapat menyelesaikan masalah ekonomi secara luas dan mempunyai kapasitas yang baik dalam memecahkan model
intertemporal. Gempack berguna untuk membangun data dasar,
memodifikasi/membangun persamaan-persamaan dan melakukan simulasi kebijakan yang diinginkan. Secara garis besar Gempack terdiri dari:
1. File Tablo yang memuat persamaan-persamaan ekonomi yang ditulis dalam bentuk linear dan dibagi menjadi blok-blok persamaan, misalnya blok produksi, faktor produksi, investasi dan lain-lain. File ini bukan merupakan bahasa program, sehingga dapat dibaca bagi yang tidak mengerti bahasa program.
2. File STI yang berisi perintah untuk mengubah bahasa tablo menjadi bahasa
program.
3. File HAR yang berisi matrik-matrik data yang sesuai dengan sistem persamaan yang dibangun dalam model CGE. Data yang digunakan bersumber dari Tabel I-O dan parameter-parameter lainnya yang dibutuhkan dalam model.
4. File CMF yang memuat file data yang dibutuhkan, file output yang akan dihasilkan, pilihan variabel eksogen (closure) dan variabel endogen, metode
simulasi, pilihan dan besarnya shock perubahan kebijakan yang dianalisis.
5. GEMSIM yang digunakan untuk untuk melakukan running file CMF dan
menghasilkan solusi dari simulasi.
6. Berbagai fasilitas lainnya yang digunakan untuk membangun dan
memodifikasi data dasar.
4.13 Prosedur Kerja GEMPACK
Gempack terdiri dari beberapa file, yaitu file tablo, file har dan file cmf.
File-file tersebut dibuat secara terpisah yang kemudian dikombinasikan oleh
Gempack menjadi satu kesatuan. Untuk mempermudah pengertian file tablo dan file har diberi nama menjadi file INDOTDL. INDOTDL adalah aplikasi model
CGE dengan menggunakan Gempack yang diadopsi dari model INDOMINI yang rumahtangganya didisagregasi mengikuti persamaan model CGE wayang. Nama-nama file tersebut diubah menjadi: INDOTDL.tab, INDOTDL.sti, INDOTDL.har, dan INDOTDL.cmf.
Sumber : Horridge dan Powel, 2001
Gambar 13 Prosedur melakukan running file tablo dan file STI. INDOTDL.tab Tablo Program INDOTDL.for INDOTDL.sti FORTRAN Compiler IndoTDL .exe INDOTDL.a INDOTDL.a Keterangan: Text File Binary File Program
Gambar 13 mendeskripsikan prosedur Gempack dalam melakukan proses spesifikasi terhadap file-file di atas guna menemukan “solution file” pada suatu simulasi kebijakan. Dengan menggunakan Tablo program, kedua jenis teks file (INDOTDL.tab dan INDOTDL.sti) diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan auxiliary file yaitu file INDOTDL.for yang kemudian dikonversi ke dalam Fortran. Selanjutnya Fortran akan mengkompilasi file INDOTDL.for ke dalam eksekusi program yaitu INDOTDL.exe. Tablo program juga memproduksi dua jenis auxiliary files, yaitu INDOTDL.axs and INDOTDL.axt.
Sumber : Horridge dan Powel, 2001
Gambar 14 Prosedur memperoleh file solusi pada Gempack.
Gambar 14 mendeskripsikan prosedur program INDOTDL.exe dalam memproduksi sebuah solusi akhir. Pada tahap ini dibutuhkan dua auxiliary
files lainnya, yaitu INDOTDL.axs dan INDOTDL.axt. File-file lain yang
dibutuhkan adalah INDOTDL.har dan INDOTDL.cmf. Dengan menggunakan file-file tersebut program INDOTDL.exe akan menghasilkan:
IndoTDL.axs Auxiliary file IndoTDL.axs Auxiliary file IndoTDL.ax s Pre-simulation (base) data Summary of (base) data SL4 solution file of simulation results Post -Simulation Update data Summary of Update data IndoTDL. exe CMF File RunGem Closure Shock Solution Method
1. Sebuah file solusi (SL4) yang memuat dampak yang ditimbulkan oleh perubahan peubah eksogen (policy shock) terhadap variabel-variabel endogen. Besaran efek tersebut dihitung dalam satuan persentase.
2. Sebuah file update data dasar, file ini memiliki format yang sama dengan
INDOTDL.har tetapi memuat data-data setelah dilakukan simulasi (post-shock equilibrium).
3. Dua file summary (summary files) merupakan ringkasan nilai-nilai total (misalnya nilai PDB total dari sisi pengeluaran dan penerimaan) sebelum dan setelah dilakukan simulasi kebijakan.
4.14 Membuat File Tablo
File Tablo memuat persamaan-persamaan beserta set, subset, peubah,
koefisien dan parameter-parameter yang digunakan dalam model CGE INDOTDL. Mengingat jumlah persamaan yang terdapat dalam file tablo sangat banyak maka pada penelitian ini, file Tablo disajikan pada Lampiran 1.