BAB I PENDAHULUAN. yang tidak hanya berupa arca atau prasasti, tetapi juga dapat berasal dari naskahnaskah

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Berbagai ilmu pengetahuan yang ada pada jaman sekarang dapat dikatakan merupakan buah pikir dari warisan leluhur. Warisan leluhur dapat berupa artefak yang tidak hanya berupa arca atau prasasti, tetapi juga dapat berasal dari naskah-naskah tradisional. Naskah dapat dilihat sebagai hasil budaya yang berupa hasil cipta, rasa, dan karsa. Naskah berisi tulisan tangan yang menyimpan cipta dan rasa hasil budaya masa lampau yang berupa benda konkrit dapat dilihat dan dipegang (Baried, 1994:55). Kandungan yang termuat dalam naskah dan bersifat abstrak dinamakan teks. Kandungan teks yang tersimpan dalam naskah warisan leluhur menyimpan berbagai informasi dan sumber pengetahuan, seperti sejarah, hukum, bahasa, sastra, filsafat, moral, obat-obatan, tidak sedikit pula mengenai agama (Baried, 1994:10).

Kandungan teks yang memuat ajaran moral di dalamnya terdapat pula mengenai piwulang ‘pelajaran atau nasihat’. Ajaran moral mengenai piwulang dapat ditemukan pada salah satu naskah yakni Srat Piwulang para Putra-Putri. Naskah ini merupakan salah satu koleksi naskah perpustakaan Pura Pakualaman Yogyakarta dengan nomor kode koleksi 2715/PP/73. Berdasarkan katalog perpustakaan Pura Pakualaman, di dalam naskah tersebut terdapat tiga teks, yang pertama berisi hal syahadat dan agama Islam dalam bentuk prosa. Bagian kedua berisi Piwulang Estri yang merupakan penulisan ulang piwulang estri dalam bentuk

(2)

macapat. Namun pada bagian ini terdapat interpolasi dan pergantian nama untuk pemberi dan penerima piwulang, yaitu dalam Piwulang Estri sebelumnya disebutkan pemberi ajaran adalah Paku Alam I kepada Pangeran Arya Suryaningrat, sedangkan pada teks ini dikatakan pemberi ajaran adalah Paku Alam V kepada putri sulungnya, yaitu Kanjeng Bendara Raden Dyan Ayu Tumenggung Patih Jayeng Arja (Raden Ajeng Saparinah). Pada bagian ketiga bercerita tentang keluhuran dewi Sri, kisah mengenai Nabi Muhammad SAW, dan tentang ajaran Paku Alam V kepada anak cucunya mengenai sikap ideal seorang perempuan serta cara berpikir dan bertindak dalam kehidupan untuk menjadi manusia utama terdapat pada teks ketiga (Saktimulya,2005:95).

Naskah Piwulang Putra-Putri (yang selanjutnya disingkat menjadi PPP) memuat satu prosa dan 64 pupuh. Pada penelitian ini dikhususkan pada teks ke tiga pupuh IV-X. Bagian ke tiga tersebut berisi salah satunya tentang istri triman. Istri

triman merupakan istilah untuk istri dalam pernikahan yang diberikan sebagai

hadiah kepada seseorang. Selain itu, diceritakan pula ajaran sikap seorang istri kepada suami, begitu pula sebaliknya yaitu sikap suami kepada istri. Ajaran tersebut diberikan oleh Muhkamad kepada Dunya ketika dalam perjalanan menuju dunia yang memuat tentang bagaimana proses seorang wanita menuju ke jenjang pernikahan dan sikap seorang istri yang baik kepada suami, begitu pula timbal balik bagi suami kepada istrinya.

(3)

1.2 Rumusan Masalah

Berbagai masalah dalam penelitian terhadap naskah dapat dirumuskan sebagai berikut.

1. Teks PPP disajikan dalam bentuk aksara dan bahasa Jawa sehingga tidak semua orang dapat memahami isi teks. Oleh sebab itu perlu diadakan suntingan teks dan terjemahan guna mengetahui isi teks.

2. Teks memuat ajaran khas kepada perempuan.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin diraih oleh peneliti terbagi ke dalam dua tujuan, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

1.3.1 Tujuan umum

Untuk mendokumentasikan nilai-nilai tradisi leluhur khususnya yang terkandung di dalam teks PPP sehingga dapat diketahui dan dipahami oleh masyarakat.

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini yakni yang pertama untuk menyajikan suntingan teks dan terjemahan teks PPP. Kedua yakni mengungkap isi ajaran yang terkandung di dalam teks PPP.

(4)

1.4 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini terbatas pada suntingan teks dan terjemahan. Adapun obyek yang dikaji dalam penelitian ini adalah naskah PPP yang tersimpan di perpustakaan Pura Pakualaman dengan nomor kode koleksi 2715/PP/73 (Pi.23), bagian teks ke tiga yang memuat cerita tentang Dunya, Rajeki, dan Muhkamad yakni pada pupuh IV-X.

1.5 Tinjauan Pustaka

Penelitian terhadap teks PPP beserta teks di dalamnya sepengetahuan peneliti belum pernah dilakukan, namun bukan berarti sama sekali belum pernah dibicarakan. Deskripsi kodikologi pernah dilakukan oleh Saktimulya terhadap naskah PPP di Perpustakaan Pura Pakualaman.

Penelitian mengenai ajaran peran seorang istri dan etika ketika menjadi seorang istri pernah dilakukan oleh Fatimah Eny Astuti (2001) dalam skripsinya yang berjudul “Wulang Wanita dalam Sĕrat Wiwaha Aji Resi Pranakenya; Suntingan Teks dan Pemaknaan)” (2001) yang menempatkan wanita sebagai titik utama kajian. Dalam penelitian tersebut dipaparkan mengenai seorang istri yang harus melaksanakan catur warna yaitu bersikap setia, patuh pada suami, tidak berzina, dan selalu mantap lahir batin dalam menjalani rumah tangga. Dalam penelitian tersebut terdapat pula ajaran wanita yang digambarkan dalam kisah pewayangan untuk bersikap setia terhadap suaminya (Astuti, 2001). Penelitian tersebut hanya

(5)

menitikberatkan pada tokoh wanita dan ajaran di dalam kisah pewayangan, tidak dicantumkan sikap seorang suami terhadap istri.

1.6 Landasan Teori

Filologi secara etimologis berasal dari kata Yunani philologia yang merupakan gabungan kata philos yang bermakna ‘teman’ dan logos yang berarti ‘pembicaraan’ atau ‘teman’. Dalam bahasa Yunani philologia berarti senang berbicara dan berkembang menjadi ‘senang belajar’, ‘senang pada ilmu’, ‘senang pada tulisan yang bernilai tinggi’ (Baried, 1994: 2). Sesuai dengan tugas filolog yang secara harafiah tersebut disebut dengan pencinta kata-kata (Robson, 1994:12). Secara garis besarnya, tugas seorang filolog adalah menyajikan teks dan menafsirkannya sehingga dapat dibaca dan dimengerti isi yang terkandung di dalam teks tersebut.

Filologi dapat dikatakan sebagai suatu ilmu yang mendasarkan cara kerja pada bahan tertulis yang bertujuan untuk mengungkap isi yang terkandung dalam bahan tertulis tersebut. Obyek kajian filologi berupa naskah dan teks. Naskah merupakan wujud konkrit dapat berupa buku ataupun bahan tulisan lainnya yang bisa dipegang dan dilihat. Sedangkan teks adalah kandungan atau isi yang terdapat di dalam naskah yang bersifat abstrak (Baried, 1994: 57).

Kajian penelitian ini menggunakan teori filologi yakni dengan menyajikan suntingan teks dengan edisi perbaikan bacaan. Menurut Wiryamartana (1990:32), suntingan teks edisi perbaikan bacaan yaitu

(6)

terbitan dengan menghilangkan sedapat mungkin hambatan pada suatu teks atau dengan kata lain merekonstruksi bagian teks yang susah untuk dipahami. Oleh sebab itu, dalam edisi perbaikan bacaan terdapat campur tangan peneliti sehingga teks tersebut dapat dipahami. Di dalam menyunting teks diperlukan aparat kritik yang bertujuan untuk memberikan koreksi ke dalam teks tanpa mengubah makna teks tersebut (Robson, 1994:25).

Pada dasarnya teks bukan hanya sampai pada kritik teks, namun sebagai peneliti filologi juga harus membuat teks dapat terbaca dan dimengerti oleh masyarakat pembaca. Untuk membuat pembaca dapat membaca dan memahami maka ada dua hal yang harus dilakukan oleh seorang filolog yaitu menyajikan dan menafsirkan teks (Robson, 1994: 12). Tafsiran atau terjemahan dapat membantu masyarakat pembaca yang belum mengenal dan mengetahui bahasa sumber tetapi tertarik dengan sifat dan isi karya tersebut dengan membaca terjemahannya (Robson, 1994:25). Sehingga dalam penelitian ini setelah teks disunting maka tahapan selanjutnya adalah penerjemahan.

Penerjemahan adalah pemindahan teks dari bahasa sumber ke bahasa sasaran yang setara yang bertujuan agar makna dari bahasa sumber dapat sampai tepat ke bahasa sasaran. Jenis terjemahan yang biasa dipakai yaitu word-for-word translation (terjemahan kata demi kata), literal

translation (terjemahan harafiah), dan free translation (terjemahan bebas)

(Crystal, 1997:346 via Rokhman, 2008:10). Word-for-word translation adalah terjemahan teks dari suatu bahasa ke bahasa yang lain dengan

(7)

mencari pasangan gramatikalnya seperti kata demi kata. Literal translation (terjemahan harafiah) yaitu penerjemahan yang hanya melihat arti dari kata, frasa, klausa, atau kalimat yang diterjemahkan. Sedangkan Free translation (terjemahan bebas) adalah penerjemahan makna yang dinyatakan oleh bahasa sumber ke bahasa sasaran, dan ditekankan pada penangkapan makna secara tepat.

Dalam kajian ini peneliti menggunakan ketiga jenis terjemahan yaitu terjemahan kata demi kata, terjemahan harafiah, dan terjemahan bebas dalam satu penyajian. Digunakan terjemahan kata demi kata agar makna yang dimaksud dari bahasa sumber tidak terlalu menyimpang jauh ketika sudah menjadi bahasa sasaran. Akan tetapi untuk mengatasi tidak adanya kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk suatu kata bahasa Jawa maka terjemahan harafiah dan terjemahan bebas juga digunakan oleh peneliti. Karena tidak selalu mungkin menerjemahkan suatu kata bahasa Jawa secara konsisten dengan kata yang sama dan tepat dalam bahasa Indonesia, sehingga dengan demikian maksud dari bahasa sumber dapat tersampaikan dalam bahasa sasaran (Wiryamartana,1990:34).

1.7 Metode Penelitian

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan, dsb) (KBI, 1976: 649). Metode penelitian yang digunakan yaitu mengacu pada teori Reynold & Wilson (1978 : 186-187). Langkah

(8)

kerja yang terdapat di dalamnya yaitu dua tahapan kritik teks yaitu recensio1 dan examination2 (Reynold & Wlson, 1978 : 186-187). Tahapan recensio

hanya sampai pada inventarisasi naskah dan pendeskripsiannya. Pada tahap inventarisasi dilakukan studi katalog untuk pelacakan naskah. Dengan melakukan inventarisasi naskah, peneliti mengetahui teks Piwulang

Putra-Putri yang termuat dalam Katalog Naskah-Naskah Perpustakaan Pura

Pakualaman dengan nomor kode koleksi 2715/PP/73, yang kemudian dipilihlah pupuh IV-X.

Setelah penentuan naskah dilakukan pengolahan data yang meliputi kajian filologis perihal pernaskahan dan teks. Tahap yang dilakukan yaitu deskripsi naskah PPP dan deskripsi teks pada pupuh IV-X.

Setelah tahap penentuan naskah, selanjutnya yaitu alih aksara atau transliterasi. Transliterasi merupakan penggantian jenis aksara, dari aksara satu ke aksara lain (Baried, 1985: 65). Di dalam teks kuna rata-rata masih menggunakan aksara daerah yang kurang diketahui oleh masyarakat saat ini. Oleh sebab itu dengan dilakukannya transliterasi maka mempermudah dalam penelitian.

Tahap berikutnya yakni examinacio (menyunting teks). Terdapat dua jenis cara penyuntingan menurut tujuannya, yaitu edisi diplomatis dan kritis (Robson, 1994:22). Edisi diplomatis yaitu usaha menyunting dan

1 Recentio adalah penentuan naskah yang dipandang asli dengan membanding-bandingkan naskah

yang termasuk satu stema ( Tim Penyusun, 1977:62).

2 Examinacio adalah penelitian naskah setelah dilakukan recentio, selection, dan eliminasi, dengan

mengutamakan kepada silapan (penyimpangan dari naskah yang disalin) untuk menentukan naskah yang dipandang paling tinggi kadar keasliannya (Tim Penyusun, 1977:24).

(9)

menerbitkan teks tanpa adanya perubahan. Sedangkan edisi kritis adalah penyuntingan dengan memperbaiki kesalahan pada teks dan membakukan bacaan. Dalam tahap ini metode yang digunakan yaitu suntingan edisi kritis atau perbaikan bacaan. Hal ini disebabkan edisi kritis lebih membantu dan mudah dipahami oleh pembaca. Pembaca dibantu dalam hal tekstual dan mengenai interpretasi mengenai isinya (Robson, 1994:25).

Setelah teks dianggap bersih dari kesalahan, maka langkah selanjutnya adalah menerjemahkan. Teks yang telah disunting dengan menggunakan edisi perbaikan bacaan, kemudian diterjemahkan. Pada penelitian ini, teks PPP yang telah dialihaksarakan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

1.8 Sistematika Penyajian

Penulisan penelitian mengenai PPP terdiri atas lima bab.

1. Bab I. Pendahuluan. Pada bab ini diuraikan latar belakang, rumusan

masalah, tujuan penelitian,manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penyajian.

2. Bab II. Deskripsi naskah PPP dengan nomor kode koleksi 2715/PP73

yang meliputi deskripsi fisik naskah dan deskripsi teks yang berisi tentang gambaran isi teks pada pupuh IV-X.

(10)

3. Bab III. Suntingan teks dan terjemahan yang berisi pengantar

suntingan, suntingan teks, pengantar terjemahan, terjemahan teks, pengantar catatan terjemahan, dan catatan terjemahan pupuh IV-X.

4. Bab IV. Isi teks PPP.

5. Bab V. Penutup yang berisi kesimpulan dari penelitian dan saran.

Kesimpulan berisi jawaban dari rumusan masalah sedangkan saran berisi saran untuk penelitian selanjutnya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :