BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sehingga menimbulkan permasalahan lingkungan yaitu meningkatnya polusi

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PENELITIAN

4.1.1 Gambaran Lokasi Penelitian

Kota Gorontalo merupakan Ibukota Provinsi Gorontalo yang perkembangan populasi kendaraan bermotornya yang sangat tinggi, hal ini terjadi dikarenakan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi yang semakin meningkat sehingga menimbulkan permasalahan lingkungan yaitu meningkatnya polusi udara. Total kendaraan bermotor yang beroperasi di Kota Gorontalo hingga September 2012 tercatat sebanya 76.321 unit kendaraan.

Penelitian dilakukan pada tukang bentor di tiga ruas jalan, yaitu di jalan John Ario Katili Kelurahan Pulubala Kecamatan Kota Utara Kota Gorontalo, jalan Jendral Sudirman Kelurahan Limba B Kota Gorontalo, dan jalan Nani Wartabone Kelurahan Limba U1 Kota Selatan Kota Gorontalo. Dipilihnya ketiga ruas jalan tersebut karena merupakan ruas jalan yang menjadi penelitian mutu udara ambien yang dilakukan oleh Balihristi Provinsi Gorontalo.

Jalan John Ario Katili : di depan Kampus III UNG

Jalan Jendral Sudirman : di depan Supermarket Amanda Jaya Jalan Nani Wartabone : di depan Rumah Makan Cafe Sera 4.1.2 Karakteristik Responden (Tukang Bentor Kota Gorontalo)

Bentor adalah kendaraan khas masyarakat Gorontalo. Ide kendaraan ini adalah becak yang diberi sepeda motor di bagian belakangnya. Walaupun secara hukum pihak berwajib Dinas Lalu Lintas Jalan Raya (DLLAJR) Provinsi

(2)

Gorontalo tidak memberikan izin beroperasinya kendaraan ini, namun jumlah kendaraan ini dari hari ke hari makin bertambah.

Bentor menjadi kendaraan unggulan untuk kawasan pusat Kota Gorontalo dan sekitarnya. Masyarakat sudah terbiasa dan merasa nyaman menggunakan bentor sebagai alat transportasi.

Tukang bentor adalah orang yang pekerjaannya menyetir bentor. Kini pekerjaan menjadi tukang bentor diminati oleh sebagian orang karena dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Tarif kendaraan ini yang tidak menentu dan bisa mendulang rezeki bagi tukang bentor dapat menjadi salah satu alasan semakin bertambahnya masyarakat yang berprofesi sebagai tukang bentor.

Pada umumnya tukang bentor berjenis kelamin laki-laki. Namun ada juga yang berjenis kelamin peremuan walaupun hanya sebagian kecil.

4.1.3 Hasil Analisis Univariat

Subjek dalam penelitian ini adalah tukang bentor yang pada saat penelitian berada pada lokasi penelitian. Jumlah sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 30 orang tukang bentor.

a. Karakteristik responden

Dalam penelitian ini semua responden adalah laki-laki dengan usia antara 20-40 tahun. Analisis ini dilakukan terhadap karakteristik responden yang meliputi, umur, masa kerja, dan jumlah jam kerja kerja.

(3)

1) Umur

Distribusi responden berdasarkan umur dapat di lihat pada tabel berikut: Tabel 4.1

Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur Tukang Bentor Kota Gorontalo

Tahun 2012 Kelompok Umur (Tahun) Jumlah N % 20-24 18 60 25-29 7 23.3 30-34 1 3.3 35-39 3 10 40 1 3.3 Jumlah 30 100

Sumber : Data Primer

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa responden terbanyak berumur antara 20-24 tahun yaitu 18 responden (60 %), kemudian 7 responden (23.3%) berumur antara 25-29 tahun. Untuk umur 35-39 tahun sebanyak 3 responden ( 10%), dan 1 (3.3%) untuk responden dengan umur antara 30-34 dan 40 tahun.

2) Masa Kerja

Tabel 4.2

Distribusi Responden Berdasarkan Masa Kerja Tukang Bentor Kota Gorontalo

Tahun 2012 Masa Kerja (Tahun) Jumlah N % ≤ 2 23 76.7 > 2 7 23.3 Jumlah 30 100

Sumber : Data Primer

Berdasarkan Tabel 4.2 diketahui bahwa paling banyak responden memiliki masa kerja baru (≤ 2 tahun) yaitu 23 responden ( 76.7%), sedangkan

(4)

yang paling sedikit adalah responden dengan masa kerja lama (>2 tahun) yaitu 7 responden (23.3%).

3) Jumlah Jam Kerja

Tabel 4.3

Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Jam Kerja Tukang Bentor Kota Gorontalo

Tahun 2012 Jumlah Jam Kerja

Per hari Jumlah N % ≤8 27 90 >8 3 10 Jumlah 30 100

Sumber : Data Primer

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa paling banyak responden bekerja ≤8 jam/hari yaitu 27 responden (90%), sedangkan yang bekerja > 8 jam/hari sebanyak 3 responden (10%).

b. Kadar Timbal (Pb)

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap spesimen rambut responden dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.4

Distribusi responden Berdasarkan Hasil Uji Kadar Timbal (Pb) Tukang Bentor Kota Gorontalo

Tahun 2012 Kadar Timbal (Pb) (µg/g) Jumlah N % ≤ 12 26 86.7 > 12 4 13.3 Jumlah 30 100

Sumber : Data Primer

Pada Tabel 4.4 diketahui bahwa menurut hasil pemeriksaan kadar Timbal (Pb) pada spesimen rambut sebanyak 26 (86.7%) responden masih dibawah

(5)

batasan normal atau batasan toleransi. Dan 4 (13.3%) responden kadar Timbal (Pb) pada spesimen rambut sudah melebihi batasan normal atau batasan toleransi.

Berdasarkan lokasi responden dapat diketahui pada tabel berikut. Tabel 4.5

Distribusi Responden Berdasarkan Lokasi Penelitian Tukang Bentor Kota Gorontalo Tahun 2012

Nama Jalan

Kadar Timbal (Pb) di Atas Batasan Toleransi

Kadar Timbal (Pb) dalam Batasan Toleransi

Jumlah

N % N % N %

John Ario Katili 1 10 9 90 10 33.3

Jend. Sudirman 1 10 9 90 10 33.3

Nani Wartabone 2 20 8 80 10 33.3

Sumber : Data Primer

Dari Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa disetiap lokasi terdapat 10 responden hingga total responden adalah 30 responden. Untuk jalan Nani Wartabone terdapat 2 (20%) responden dengan kadar timbal diatas batasan toleransi dan 1 (10%) responden untuk jalan John Ario Katili dan Jend. Sudirman. 4.2 PEMBAHASAN

Penelitian ini menggunakan tukang bentor yang berjenis kelamin laki-laki sebagai responden. Yaitu sebanyak 30 responden. Sebanyak 10 responden di jalan John Ario Katili, 10 responden di jalan Jendral Sudirman dan 10 responden lainnya di jalan Nani Wartabone. Dari 30 responden ini diambil spesimen rambut untuk kemudian diperiksa di laboratorium untuk di ketahui kadar Timbal (Pb) yang terdapat didalamnya. Uji terhadap kadar Timbal (Pb) pada rambut tukang

(6)

bentor Kota Gorontalo dilakukan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Makassar.

Berdasakan data deskriptif menunjukan bahwa kadar Timbal (Pb) pada rambut tukang bentor sebagian besar (86.7%) masih di bawah batasan toleransi dan (13.3%) sudah melebihi batasan normal atau batasan toleransi. Berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa kadar batasan toleransi atau batasan normal Timbal (Pb) dalam rambut yaitu ≤ 12µg/g. Hasil penelitian Nur Haeni dengan judul Survai Timbal pada rambut dan dampaknya terhadap kesehatan PKL dan warga Malioboro Kota Yogyakarta Tahun 2006 menunjukan bahwa 82.76% responden PKL dan 64.52% responden warga dalam rambutnya mengandung Timbal >0 µg/g. Secara umum dapat dijelaskan bahwa terdapat hubungan yang cukup signifikan antara kadar Timbal (Pb) dalam rambut dengan tingkat potensi Timbal di lingkungan populasi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa 60% responden berada dalam kelompok umur 20-24 tahun. Paling banyak responden memiliki masa kerja baru yaitu 76.7 %. Dan untuk jumlah jam kerja responden yaitu sebanyak 90% responden bekerja ≤8 jam per hari.

Dari data diatas dapat menunjukan bahwa terdapat pengaruh antara umur dan kadar Timbal (Pb) pada rambut tukang bentor. Semakin meningkat umur seseorang maka semakin tinggi kadar Timbal (Pb) yang terdapat dalam rambutnya. Hal yang sama juga ditemukan oleh Strumylaite (2004) yang menemukan hubungan yang positif antara kadar Timbal (Pb) dalam rambut dengan umur. Lama bekerja mencerminkan waktu kontak antara tukang bentor

(7)

dengan lingkungan yang disinyalir mengandung Timbal (Pb). Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa ada pengaruh antara masa kerja dengan kadar Timbal (Pb) dalam rambut tukang bentor. Hal ini sangat mungkin mengingat waktu kontak sangat menentukan kandungan Timbal (Pb) dalam tubuh tukang bentor. Semakin lama bekerja pada tempat yang terpapar Timbal (Pb), maka potensi kadar Timbal (Pb) dalam rambut juga semakin besar. Pernyataan ini didukung dengan penelitian terdahulu. Pada penelitian Nurjazuli (2003) pada operator SPBU di Samarinda yang membuktikan bahwa masa kerja merupakan faktor yang dominan terhadap tingginya kadar Timbal dalam rambut.

Hasil dari penelitian ini dapat menggambarkan bahwa jumlah jam kerja tukang bentor dapat mempengaruhi kadar Timbal (Pb) yang ada dalam rambut tukang bentor. Kontak permanent dengan lingkungan yang potensial terpolusi Timbal (Pb) memberikan kemungkinan yang sangat besar untuk mengabsorbsi Timbal kedalam tubuh Tukang bentor. Pada penelitian Ferri Anggarwati (2007) juga menunjukan hal yang sama.

Berdasarkan data deskriptif didapatkan 4 responden memiliki kadar Timbal di atas batasan normal. Yaitu responden di jalan Nani Wartabone sebanyak 2 responden dan masing-masing 1 responden untuk jalan John Ario Katili dan jalan jend. Sudirman. Responden pertama dengan umur 36 tahun, masa kerja 7 tahun, jumlah jam kerja 1-9 jam per hari dan memiliki kadar Timbal (Pb) 13µg/g dengan lokasi penelitian jalan Nani Wartabone. Responden kedua dengan umur 38 tahun, masa kerja 12 tahun dengan jumlah jam kerja 1-8 jam per hari dan memiliki kadar Timbal (Pb) 18 µg/g yaitu pada jalan Jend. Sudirman. Responden ketiga dengan

(8)

umur 40 tahun, masa kerja 5 tahun dengan jumlah jam kerja 1-12 jam per hari dan memiliki kadar Timbal (Pb) 19 µg/g dengan lokasi penelitian pada jalan Nani Wartabone. Responden ke empat yaitu pada jalan John Ario Katili dengan umur 26 tahun, masa kerja 6 tahun dengan jumlah jam kerja 1-9 jam per hari dan memiliki kadar Timbal (Pb) 15 µg/g. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa umur, masa kerja, dan jumlah jam kerja dapat mempengaruhi kadar Timbal (Pb) pada rambut tukang bentor.

Kadar timbal dalam tubuh seseorang bisa dipengaruhi oleh rokok. Namun kebiasaan merokok tidak dijadikan indikator dalam penelitian ini. Kebiasaan merokok menpunyai hubungan kuat dengan peningkatan kadar Timbal (Pb) dalam tubuh. (Effendi 1980) menjelaskan bahwa kebiasaan merokok juga membantu absorbsi Timbal (Pb) melalui saluran pernapasan. Substansi-substansi dalam rokok menyebabkan kelainan pada saluran pernapasan dan terjadi iritasi pada saluran pernapasan. Hal ini karena asap rokok bersifat iritan dan bisa menyebabkan kakunya silia/rambut getar pada saluran pernapasan sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Namun dalam penelitian Suhendro (2007) di Surabaya yang mengambil responden pengemudi Bus Kota di Kota Surabaya menyatakan bahwa tidak ada perbedaan (homogen) pada karakteristik kebiasaan merokok responden. Hal yang sama dijelaskan pula dalam penelitian Sri Suciani (2007) yang menjadikan polisi lalu lintas di jalan raya Kota Semarang sebagai respondennya dan menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok dan kadar timbal.

Figur

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa responden terbanyak berumur antara 20-24  tahun  yaitu 18 responden (60 %), kemudian 7 responden (23.3%) berumur antara  25-29 tahun

Tabel 4.1

menunjukkan bahwa responden terbanyak berumur antara 20-24 tahun yaitu 18 responden (60 %), kemudian 7 responden (23.3%) berumur antara 25-29 tahun p.3

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di