Alhamdulillah, puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT

11  Download (0)

Full text

(1)
(2)

"NASIONAlNYA" PENDIDIKAN KITA

TEROPONG PENDIDIKAN, Antologi Artikel 2008-2009

Diterbitkan oleh : Pusat Informasi dan Humas Kementerian Pendidikan Nasional Edisl keempat, Tahun 2010 ISBN: 978-602-8087-04-9 PELINDUNG: Mohammad Nuh Penasehat: Dodi Nandika Pengarah: Sukemi Penanggung Jawab: M. Muhadjir Editor: Ahmed Kurnia Ahmad Buchori ilia Kartila Emrus Sihombing Subijanto Purnomo Setiady Akbar Prih Suharto Yusmawardi Setiono Tata letak sampul & desaln : Sulistiyarini Vina Adriani Sekretariat: Dian Srinursih Sigid Nurkusumo Yuswan Rosepi Zainuddin TIni Setiawati Vina Adriani Anang Kusuma Genta Corri Pratiwi

T'

;":;t" ,

"

"{{: ;"~, ~!:"\~:~' /~: :'~ 1(!a!~f?;~;r):1Q~3~~:~,k:;

-Sombulon Menleri

Pendidikon Nosionol

A

lhamdulillah, puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan karunia-Nya kepada kita, sehingga kita bisa men­ jalankan aktivitas sehari-hari dengan lancar dan sukses.

Saya menyambut baik penerbitan kumpulan artikel pendidikan dan kumpulan dari tajuk rencana atau editorial yang dikemas dalam dua buku ma­ sing-masing "Nasionalnya Pendidikan Kita" dan "Pendidikan Perspektif Media" yang diterbitkan oleh Pusat Informasi dan Humas (PIH) Kementerian Pendidikan Nasional.

Dua buku ini menjadi satu kesatuan utuh berkait dengan pandangan dan pendapat masyarakat ten tang dunia pendidikan dalam berbagai aspek. Buku pertama "Nasionalnya Pendidikan Kita" berisi kumpulan tulisan opini dari be­ berapa penulis yang telah dimuat di beberapa media cetak dalam kurun waktu 2008-2009. Sedang buku kedua "Pendidikan Perspektif Media" berisi kumpulan tajuk rencana atau editorial dari beberapa media yang berkait dengan sikap media terhadap persoalan-persoalan pendidikan dalam kurun waktu sarna.

Berbagai pendapat dalam buku ini -baik melalui tulisan artikel maupun pendapat media dalam tajuk rencana atau editorial- adalah sebuah cerminan dari begitu tingginya kepedulian masyarakat (public awareness) terhadap pen­

(3)

Karena itu saya bukan hanya selalu menyambut baik

terhadap berbagai tulisan yang mencoba mengkirtisi dan

memberikan masukan-masukan tentang berbagai macam kebijakan Kemdiknas, tapi lebih dari itu, saya selalu menyempatkan diri untuk membaca sekaligus mempelajarinya.

Sebagai kumpulan dari tulisan opini dan tajuk rencana atau editorial di media massa, maka sudah sepantasnyalah jika didalam membacanya harus dirujuk kembali pada konteks dimana gagasan dan tulisan itu dimunculkan. Ini penting agar aktualitas didalam memahami isi buku ini sesuai dengan massanya. ltu sebabnya di tiap akhir tulisan agar tidak kehilangan aktualitas disebutkan identitas penulis dan medianya serta waktu pemuatannya.

Melalui dua buku ini saya

lebih memahami dan mengerti

pendidikan secara objektif, karena oleh mereka-mereka yang memiliki

berharap, masyarakat akan tentang kebijakan-kebijakan sumber dari buku ini ditulis kompetensi di bidangnya. Kepada para penulis dan media yang telah mengizinkan tulisannya untuk dibukukan saya menyampaikan ucapan terima kasih. Semoga buku ini bisa memberikan manfaat bagi banyak pihak, dan semoga pula apa yang kit a lakukan dalam penerbitan buku ini dicatat sebagai bagian dari amal kebajikan kita. Amien.

Jakarta, Mei 2010 Menteri Pendidikan Nasional,

MOHAMMAD NUH

,

f '~il I~i !

-Pengontor Editor

M

embangun karakter bangsa hanya bisa dilakukan melalui pendidikan.

Dalam buku ini dibahas secara kritis, antara lain, pendidikan karakter, mutu, ujian nasional, bahasa dan sastra, guru, serta wawasan pendidikan lainnya. Pendidikan karakter menguraikan indikasi orang yang memiliki integritas bangsa. Perwujudannya dikaji melalui pendidikan anti korupsi yang diimplementasikan dengan pendidikan kejujuran, misalnya, peran guru me­ numbuhkan sikap disiplin melalui senyumnya.

Guru bermutu niscaya juga akan membentuk bangsa bermutu melalui se­ mangat emas mendidiknya. Hasilnya, dapat memerangi kebodohan dan mampu memberi nilai yang berwawasan global, serta mencegah "braindrain" yang men­ jadi ancaman masa depan bangsa. Upaya ini dapat dicapai, salah satunya adalah melalui pembenahan kesejahteraan guru.

Hal itu sejalan dengan gagasan peningkatan mutu seperti yang diuraikan Paulo Freire ten tang cara mencapai mutu pendidikan dengan menjaga aset in­ telektual bangsa dan memperhatikan jalan baru mencapai pendidikan bermutu. Hasilnya, tercermin dari penilaian internasional tentang mutu pendidikan di Tanah Air kita. Mutu itu dapat dicapai dengan menyediakan sekolah yang baik bagi anak bangsa dan memaksimalkan peran otak kanan melalui pembelajaran puisi, semua guru sudah berpendidikan S-l, cerdas, integritas, memiliki kepe­

(4)

mimpinan, dan mengikuti proses pelatihan serta lulus sertifikasi.

Untuk mendukung pendidikan S-l dan sertifikasi guru, perlu memperbanyak universitas riset dan meningkatkan mutu dosen guna mencetak guru yang ber­ mutu, baik PNS maupun non-PNS, agar mereka lebih profesional.

Terkait dengan ujian nasional (UN), diuraikan juga pemikiran tentang pelak­ sanaan dan aspek-aspek UN agar hasilnya maksimal. Selain itu, disajikan juga dimensi kritis untuk mengatasi berbagai kecurangan yang selalu ada pada setiap pelaksanaan UN.

Tentang .anggaran pendidikan, yang ditetapkan sebesar 20%, tetapi masih mengalami banyak timtangan dalam pelaksanaannya, kritik lebih ditujukan ke­ pada bagaimana mewujudkan kesempatan memperoleh pendidikan yang ter­ jangkau bagi seluruh anak bangsa. Konsep pendidikan teljangkau juga menjadi tantangan bagi sekolah swasta karena operasional sekolah ini tergantung pada donasi masyarakat. Keberhasilan program ini harus didukung oleh peraturan pemerintah daerah yang berpihak kepada peningkatan mutu pendidikan, sebagai perwujudan otonomi daerah.

Sementara kurikulum pada prinsipnya bukan merupakan pedoman mutlak, tetapi normatif untuk satu jenjang pendidikan tertentu. Dengan demikian, suatu kurikulum dapat dirancang sesuai dengan kekayaan alam dan budaya bangsa Indonesia.

Uraian dalam teropong ini melihat bahwa kurikulum kita belum sepenuhnya mengarah pada kehidupan praktis. Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pen­ didikan (KTSP) juga masih mengalami banyak tantangan. Di sisi lain, kita diha­ dapkan pada tantangan sekolah bertaraf intemasional, utamanya bagaimana mengubah pola mengajar yang bertaraf intemasional.

Fenomena penggunaan bahasa asing sebagai suatu prestise bagi kalangan ilmuwan dan pejabat masih sering ditemui. Kosakata bahasa Indonesia seakan kalah populer dengan bahasa asing, sehingga para pakar tertantang untuk me­ motivasi masyarakat agar tetap mengutamakan bahasa Indonesia.

Bagi dunia pendidikan tinggi yang sudah mencapai kelas dunia seyogianya mampu mengkaji dan mengantisipasi fenomena alam di Tanah Air. Harapan ini diutarakan karena tingginya intensitas dinamika gejala alamo Para pakar di perguruan tinggi dikritisi karena belum maksimal memberikan kontribusi.

Untuk mengatasi teljadinya migrasi dosen yang diakibatkan, antara lain, oleh kesenjangan dosen antar perguruan tinggi, pemerintah perlu menata dan me­ meratakan kualitas, kesejahteraan, dan hasil karya mereka.

Pembahasan tentang wawasan pendidikan yang merupakan bagian akhir dari buku Teropong ini, menguraikan ide-ide pemikiran tentang pendidikan di Tanah Air, agar kembali ke tujuan semula sesuai dengan ajaran Ki Hajar De­ wan tara, yaitu pendidikan futuristik.

Diskusi terus teljadi dalam melihat nasionalnya pendidikan Indonesia dengan semua tantangan dan perkembangan menuju masyarakat madani.

Jakarta, April 2010

(5)

F,

;.j'~

..••:..

,;

'"

~!

.~. Pengantar Mendiknas. Pengantar Editor ... . Daftar lsi ... . KARAKTER 1. Pendidikan Karakter ... . 2. Pendidikan Antikorupsi 3. Memulai Pendidikan Kejujuran

4. Peran Guru dalam Menumbuhkan Sikap Disiplin ... 5. Senyum Sang Guru ... .

6. Kualitas Bangsa Ditentukan Kualitas Guru 7. Menjadi Pendidik Bersemangat Emas 8. Pendidik, Bukan Pemburu

9. Pendidikan untuk Menanggulangi Kemiskinan 10. Pendidikan Nilai Berwawasan Global

11. Ambil Kepahlawananku, Benahi Kesejahteraanku 12. "Braindrain" Ancam Masa Depan Bangsa

-Dollor

lsi

iii v ix

3

7 11

15

19

25

29

33

37 43 47

51

(6)

MUTU

13. Menjaga Aset Intelektual Bangsa ... . 57

14. Menggagas Peningkatan Mutu Pendidikan 61 15. "Conscientizaeao" Paulo Freire dan Mutu Pendidikan Kita 65 16. Mutu dan Rambu-rambu Sekolah Bertaraf Internasional 73 17. Jalan Baru Menuju Pendidikan Bermutu ... . ... 77

18. HasH Penilaian Internasional dan Mutu Pendidikan 81 19. Subjektivitas dalam Sertifikasi Dosen 85 20. Sertifikasi Kapasitas Leadership Guru ... .. 89

21. High Hopes Means Smart Students ... 95

22. Membangun Universitas Riset ... . ... 99

23. Memilih Sekolah yang Baik untuk Anak Kita ... 103

24. Syarat Masuk Perguruan Tinggi Negeri ... .. ... 107

25. Memaksimalkan Peran Otak Kanan Melalui Puisi 111 26. Susahnya Jadi Guru Kreatif 115 27. S-1 yang Meneerdaskan Bagi Guru ... 121

28. Eligibilitas Guru Non-PNS Demi Profesionalitas 127 29. Meretas Posisi Guru Agama di Era Otonomi Daerah 131 UJIAN NASIONAL 30. Ujian Nasional dan Kelulusan Siswa 139 31. Dimensi Kritis Ujian Nasional. 143 32. Meneari Akar Keeurangan UN ... 149

ANGGARAN 33. Bukan Sekolah Gratis, Tapi Kesempatan yang Mudah ... 155

34. Pendidikan Gratis dan Nasib Sekolah Swasta 159 35. Sekolah Gratis Wajib Dikawal Perda 163 KURIKULUM 36. Extensive Reading in National Curriculum? ... 169

37. KTSP Kurikulum yang "Gue Banget" ... 173

38. Quo Vadis Sekolah Berstandar Internasional? ... 177

BAHASA DAN SASTRA 39. Menjunjung Tinggi Bahasa Indonesia .183 40. Sastra dan Batas-batas Bahasa ... 187

GURU 41. Profesionalisme Guru 193 42. Guru, Sertifikasi, dan Mutu Pendidikan ... 197

43. Meningkatkan Kualitas Guru dalam Proses Belajar Mengajar ... 201

44. Komunitas Profesional Guru dan Kualitas Sekolah ... 205

45. Menanti Guru yang Profesional dan Sejahtera ... 209

46. Jangan Asal Menjadi Guru ... 213

..

47. Lemahnya Tradisi Peneliti Guru ... 217

fl.·, , PENDIDIKAN TINGGI 48. Universitas Kelas Dunia - Sebuah Mangkuk Kudus Baru 223 49. Tantangan dan Tren Pendidikan Tinggi ... . .. ... 235

50. Serbuk Serumpun di Perguruan Tinggi 239 51. Membangun KKN Tematik Posdaya 243 52. Mengompetitifkan Program Doktor dalam Negeri ... .. 247

53. Paradoks Pendidikan Teknik ... 251

54. Pencitraan Perguruan Tinggi Melalui Media Massa 255 WAWASAN 55. Hardiknas dan Isu-Isu Kebijakan Pendidikan ... 261

56. "Nasionalnya" Pendidikan Kita 267 57. Pendidikan Nasional Indonesia 271 58. Reformasi Pendidikan Menuju Masyarakat Madani 275 59. Demokrasi Pendidikan dan Pendidikan Demokratis 281 60. Memerdekakan Politik Pendidikan ... 285

6l. Memuliakan Diri, Berguru pada "Sales" 289 62. Tantangan Pendidikan Islam 291 63. PSB, Kegundahan Orang Tua ... .. 297

64. Books, Not Instruction, Key to Creating Writers ... 301 65. Makna Membangkitkan Minat Baca 305

(7)

11 faktor­ dari itu, Iil dapat

IJ

unfuk

!ntingan tents). \ sudah llSusnya lta dan seluruh

PISA.

iuruhan

5ii&wa di a-siswa <!giatan k-anak IEmden pendi­ u.De­ ,dapat llebih

lMSS

ialam rnba­ ngan gram :lSitas me­ l de­ nuju ~OO9

Subjeklivifos dolom

Serlifikosi Dosen

I

stilah pedagogik secara etimologi berasal dan kata Yunani paidagogeo. Se­

cara harfiah diartikan membimbing anak. Dalam perkembangannya, pe­ dagogik berkaitan dengan strategi mengajar. Ada kalangan berpendapat pedagogik diperlukan untuk pendidikan dasar dan menengah karena proses pembelajarannya membutuhkan metodologi yang terstruktur dan baku.

Lain halnya dengan pendidikan tinggi yang mahasiswanya berumur di atas

17 tahun. Metode pembelajaran orang dewasa (andragogik), yang bermuara pada penumbuh-kembangan kemampuan bernalar, kreatif, kritis, dan indepen­ den, kiranya lebih cocok. Bahkan, di Jerman mahasiswa pascasarjana tidak lagi diistilahi student, melainkan mitarbeiter, yakni orang yang ikut bekerja di universitas untuk bersama-sama menggali kekayaan, kedalaman, dan keunikan khazanah i1mu.

Pada 2008 ini Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mencanangkan akan menyertifikasi 12 ribu dosen yang akan dimulai pada Agustus. Sertifikasi ini sebagai pewujudnyataan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal45, bahwa dosen wajib memiliki kualifikasi akademik, kom­ petensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohan!.

Sertifikasi yang berujung pada penganugerahan sertifikat ini bertujuan menilai profesionalisme dosen. Dosen yang kompeten melaksanakan tugasnya adalah

(8)

dosen yang memiliki kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial yang diperlukan dalam praktik pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pemerintah menyediakan berbagai tunjangan serta maslahat sebagai penghargaan atas profesionalisme dosen.

Salah satu kriteria yang diacu dalam sertifikasi adalah penguasaan pedagogik. Penguasaan pedagogik secara teoritik kiranya akan menjadi titik lemah dari hampir semua dosen karena memang proses rekrutmen dosen tak mencan­ tumkan adanya kriteria penguasaan pedagogik, kecuali mungkin untuk dosen di universitas yang dulunya IKIP atau di Fakultas Pendidikan dan Keguruan.

Untuk menjadi dosen di sebagian besar perguruan tinggi semata-mata hanya dinilai dari kemampuan akademik yang diejawantahkan melalui indeks prestasi. S~telah itu, maka jadilah si calon dosen tersebut mengajar, membimbing, me­ neliti, dan melakukan pengabdian pada masyarakat.

Selama berkarya sebagai dosen, barangkali pernah ikut pelatihan yang terkait dengan pedagogik, seperti Akta V, pekerti (Pelatihan Keterampilan Teknologi Instruksional) dan AA (Applied Approach). Tapi, hanya segelintir dosen yang ikut program tersebut. Di sinilah akan terjadi penilaian semu karena menyertifikasi aplikasi metodologi pengajaran yang sebelumnya tak pernah secara formal di­ pelajari. Kalau dosen berkemampuan pedagogik baik, itu karena talenta dan intuisi sebagai pendidik.

Adapun kompetensi pedagogik yang harus dikuasai meliputi kemampuan . merancang pembelajaran, kemampuan melaksanakan proses pembelajaran, kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran, kemampuan memanfaatkan hasH penelitian untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sekiranya dosen yang akan disertifikasi diharuskan mengikuti pelatihan pedagogik dulu, mungkin kendala ini akan tereduksi.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 42 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Dosen disebutkan bahwa dosen yang akan disertifikasi minimal ber­ kualifikasi magister, pengalaman kerja sebagai pendidik pada perguruan tinggi sekurang-kurangnya dua tahun, dan memiliki jabatan akademik minimal asisten ahli. Di antara 56.176 dosen di 82 perguruan tinggi negeri WIN), 13,6 persen bergelar doktor, 48,9 persen bergelar magister, 37 persen sarjana, dan 0,37 persen diploma.

Secara keseJuruhan terdapat 156.474 dosen yang tersebar di

2.869

PTN

dan perguruan tinggi swasta. Profesor sesuai dengan kemumpunan ilmunya tak perlu disertifikasi \agi karena sudah dianggap kompeten sehingga 2.500

profesor mE program se Januari 20C Bagi dos disertifikasi ( ahli, lektor, c terpaksa gigi Bagi doS4 ister dan dol memiliki ked penonton. In Unsur yaJ berupa bukti sesuai Surat persepsional c sejawat, dan

c

sosial, dan ke Penilaian J tribusi yang b dharma Pergu berkas dokum Untukpenil Hal yang rawa tolok ukur pen sangat rendah/ kadang, 4 baTh Penilaian PE sejawat, atasar orang-orang ya hasiswa bisa bi pengajaran di I fasilitas di karol terse but pernah yang disertifika! akan memaink.! Sumber biasi

(9)

nal profesor mendapat kehormatan pertama menikmati keistimewaan dari adanya

Ida program sertifikasi ini dengan tambahan satu bulan gaji setiap bulan mulai 1at Januari 2008.

Bagi dosen yang bergelar magister dan doktor harus sabar, tunggu giliran

;k. disertifikasi dan urutan siapa yang didahulukan juga belum diatur, apakah asisten

:arl ahli, lektor, atau lektor kepala. Sebaliknya, dosen yang hanya bergelar sarjana

terpaksa gigit jari karena tak terpilih dalam program sertifikasi dosen ini. ;en Bagi dosen junior, ini akan jadi pemantik untuk studi lanjut ke jenjang mag­

ister dan doktor. Bagi dosen senior yang sudah mengabdi bertahun-tahunan

lYa memiliki kedalaman dan juga berwawasan keilmuan cukup luas, hanya menjadi

lSi. penonton. Ini tentu akan menyentuh rasa keadilan.

le- Unsur yang dinilai dalam sertifikasi mencakup penilaian empirikal, yakni berupa bukti yang terkait dengan kualifikasi akademik dan angka kredit dosen ait sesuai Surat Keputusan Menkowasbangpan No.

38 Tahun

1999.

Penilaian

>gi persepsional adalah penilaian yang dilakukan oleh diri sendiri, mahasiswa, teman

ng sejawat, dan atasan, terhadap empat kompetensi dosen (pedagogik, profesional, asi sosial, dan kepribadian) .

:li- Penilaian personal adalah pernyataan dari dosen tentang prestasi dan kon­ an tribusi yang telah diberikannya dalam pelaksanaan dan pengembangan Tri­

dharma Perguruan Tinggi. Ketiga komponen penilaian ini disatukan dalam suatu

!in berkas dokumen yang disebut portofolio dosen.

ill, Untuk penilaian empirik tak perlu dikhawatirkan karena ada bukti otentiknya.

Hal yang rawan subjektivitas adalah penilaian persepsional dan personal yang tolok ukur penilaiannya berbasis semantic differential, yaitu 1 sangat tidak baikl in sangat rendah/tidak pernah, 2 tidak baik/rendah/jarang), 3 biasalcukup/kadang­

kadang, 4 baik/tinggi/sering, dan 5 sangat baik/sangat tinggi/selalu.

Penilaian persepsional dan personal yang dilakukan oleh mahasiswa, teman

!t'- sejawat, atasan, dan diri sendiri adalah semacam pengawasan melekat dari gi orang-orang yang terkait langsung di sekitar dosen terse but. Penilaian oleh ma­

!n hasiswa bisa bias jika mahasiswa tersebut, misalnya, membandingkan fasilitas !n pengajaran di kampusnya yang dipakai oleh dosen yang disertifikasi dengan

fasilitas di kampus lain yang lebih baik. Juga bisa bias seandainya mahasiswa tersebut pernah mengambil mata kuliah sebelumnya yang diampu oleh dosen

N yang disertifikasi dan mendapat nilai jelek sehingga barangkali mahasiswa itu

ra akan memainkan subjektivitasnya dalam memberikan skor.

o

Sumber bias dari penilaian atasan berupa subjektivitas dapat dikesampingkan,

(10)

sesuai dengan tugas atasan yang rnernbina dan rnengayorni anak buahnya. Bias lainnya bisa rnuncul dari penilaian ternan sejawat yang rnungkin senang rnelihat orang susah dan sebaliknya, atau konflik personallainnya.

Penilaian dari lima orang rnahasiswa dan tiga ternan sejawat yang diraha­ siakan ini akan dirata-rata. Tetapi, jika ada pencilan penilaian yang sangat ber­ beda dari yang lain, apakah perlu dielirninir atau tetap dirata-rata? Lernbar deskripsi diri juga disinyalir bisa rnenjadi bias karena bisa saja rnencanturnkan sesuatu yang tidak dilakukan. Di dalarn sertifikasi ini aspek kejujuran yang rnenjadi ukuran integritas seorang dosen juga secara tak langsung diujikan pada pengisian lernbar deskripsi ini.

Pada UU No.

14

Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasa152, dinyatakan ada tunjangan selain gaji pokok dan tunjangan yang rnelekat pada gaji, yaitu tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan kehorrnatan, tunjangan khusus, dan tunjangan lain-lain. Tunjangan tersebut tidak curna-curna, tapi dibe­ rikan berbasis kinerja profesionalisrne yang salah satunya rnelalui unjuk kerja pada sertifikasi ini. Bagi perguruan tinggi badan hukurn rnilik negara, tunjangan lain-lain tersebut seyogyanya akan lebih bervariasi lagi.

Upaya pernerintah untuk rnernbenahi kualitas pendidikan rnelalui sertifikasi dosen, akreditasi program studi oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN), dan sebagainya periu diapresiasi dan disokong oleh se§enap sivitas akadernika. Perbaikan kesejahteraan dosen berbasis kinerja ini diperkirakan akan lebih baik hasilnya daripada hanya rneningkatkan gaji dosen tanpa ada tuntutan konkret peningkatan kornpetensi dan profesionalisrne yang barorneternya bisa diukur.

Perbaikan kesejahteraan ini diharapkan dapat rnenguniversitaskan kernbali dosen-dosen yang selarna ini berkiprah di luar, bukan di jalur akadernik, agar kern bali ke core competence-nya sebagai dosen yang profesional, rnurnpuni di bidangnya, dan berbudi luhur. {]

Hefni Effendi, Republika, 17 Juli 2008

D

jalur D

strate

guru· tugas penyt dense dan 11

Be

dalarr penge Ada

t

tui1as, ningkc: tersehl

(11)

Pusat Informasl dan Humas

-

K

ememerlan

Pendldlkan Naslo

Gedung C .. Lt. 4. II. lendt:'"", ~,udlrman. laka,t

Telepon/fax: (011} 570 I 088, Webslte~ http://www.kemdlknas.go.ld

Figure

Updating...

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in