PENILAIAN KINERJA KEPALA SEKOLAH, GURU, DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

246  18  Download (0)

Teks penuh

(1)
(2)

MODUL

PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN

PENGAWAS SEKOLAH

KELOMPOK KOMPETENSI H

PENILAIAN KINERJA KEPALA SEKOLAH,

GURU, DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

Pengarah

Sumarna Surapranata, Ph.D. Penanggung Jawab

Dra. Garti Sri Utami, M.Ed Penyusun

Dr. Yun Yun Yunadi Lc., MA;  081807351894; yunadi_11@yahoo.com Indrijati Soerjasih S.Sos.,M.Si;  081333141518; sindrijati@gmail.com Dra. Suminarsih M.Si.;  08122922062; suminarsih09@yahoo.co.id Isnawati Abas M.Pd., MA.  081297457272; isnaabas@yahoo.co.uk Penelaah

Prof. Dr. Arismunandar, M.Pd.;  0811464813; arismunandar@unm.ac.id Dr. Edi Rahmat Widodo.; 081315493001; edirawdd@gmail.com

Drs. Muhammad Takdir, MM.;  08129555218; takdirnur18@gmail.com Diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Copyright © 2017

Edisi ke-1: Juli 2017

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang menyalin sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan individu maupun komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

JENJANG SEKOLAH MENENGAH ATAS

(3)
(4)
(5)
(6)

DAFTAR ISI

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR TABEL...viii

DAFTAR LAMPIRAN ... x

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL PENILAIAN KINERJA KEPALA SEKOLAH, GURU, DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ... xi

PETA KEDUDUKAN MODUL ... xiv

BAGIAN I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang... 1

B. Target kompetensi ... 6

C. Tujuan Pembelajaran ... 6

D. Peta Kompetensi. ... 7

E. Ruang Lingkup dan Pengorganisasian Pembelajaran ... 7

F. Aspek Penilaian ... 9

BAGIAN II KEGIATAN PEMBELAJARAN... 12

TAHAP IN SERVICE LEARNING 1 (In-1) (28 JP) ... 12

Pengantar ... 12

Kegiatan Pembelajaran 1: Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (8 JP)... 12

A. Tujuan Pembelajaran ... 12

B. Indikator Pencapaian Tujuan ... 12

C. Uraian Materi ... 13

D. Aktivitas Pembelajaran ... 29

E. Latihan/Kasus/Tugas ... 37

F. Rangkuman ... 39

G. Umpan Balik ... 40

H. Refleksi dan Tindak Lanjut ... 41

I. Kunci Jawaban ... 42

Kegiatan Pembelajaran 2: Penilaian Kinerja Guru (7 JP) ... 43

A. Tujuan Pembelajaran ... 43

B. Indikator Pencapaian Tujuan ... 43

C. Uraian Materi ... 43

D. Aktivitas Pembelajaran ... 64

(7)

F. Rangkuman ... 77

G. Umpan Balik ... 79

H. Refleksi dan Tindaklanjut... 79

I. Kunci Jawaban ... 80

Kegiatan Pembelajaran 3: Penilaian Kinerja Guru dengan Tugas Tambahan selain Kepala Sekolah (8 Jp)... 81

A. Tujuan Pembelajaran ... 81

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 81

C. Uraian Materi ... 82

D. Aktivitas Pembelajaran ... 100

E. Latihan/Kasus/Tugas ... 110

F. Rangkuman ... 112

G. Umpan Balik ... 113

H. Refleksi dan Tindak lanjut ... 113

I. Kunci Jawaban ... 114

Kegiatan Pembelajaran 4: Penilaian Kinerja tenaga Kependidikan (5 JP) ... 115

A. Tujuan Pembelajaran ... 115

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 115

C. Uraian Materi ... 116

D. Aktivitas Pembelajaran ... 134

E. Latihan/Kasus/Tugas ... 137

F. Rangkuman ... 139

G. Umpan Balik ... 140

H. Refleksi dan TIndak Lanjut ... 141

I. Kunci Jawaban ... 142

Rencana Tindak Lanjut ... 143

TAHAP ON THE JOB LEARNING (ON) (20 JP) ... 144

Pengantar ... 144

Kegiatan Pembelajaran 1: Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (5 JP)... 144

A. Tujuan Pembelajaran ... 144

B. Indikator Pencapaian Tujuan ... 144

C. Aktivitas Pembelajaran ... 145

Kegiatan Pembelajaran 2: Penilaian Kinerja Guru (5 JP) ... 149

A. Tujuan Pembelajaran ... 149

B. Indikator Pencapaian Tujuan ... 149

(8)

Kegiatan Pembelajaran 3: Penilaian Kinerja Guru dengan Tugas

Tambahan selain kepala sekolah (5 Jp) ... 155

A. Tujuan Pembelajaran ... 155

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 155

C. Aktivitas Pembelajaran ... 155

Kegiatan Pembelajaran 4: Penilaian Kinerja tenaga Kependidikan (5 JP) ... 157

A. Tujuan Pembelajaran ... 157

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 157

C. Aktivitas Pembelajaran ... 157

Menyusun Laporan Hasil On The Job Learning... 158

Menyusun Bahan Presentasi ... 159

Refleksi ... 159

TAHAP IN SERVICE LEARNING-2 (In-2) (10 JP) ... 160

Pengantar ... 160

Kegiatan 1 : Penilaian ... 160

Kegiatan 2 : Penguatan ... 161

Kegiatan 3 : Membuat Rencana Tindak Lanjut In-2 ... 161

BAGIAN III. EVALUASI ... 162

BAB IV PENUTUP ... 174

DAFTAR ISTILAH ... 175

DAFTAR PUSTAKA ... 176

LAMPIRAN ... 177

SUPLEMEN ... 190

Suplemen 1: Supervisi Pengawas Dalam Pelaksanaan PPK ... 190

Suplemen 2: Pengantar Pendidikan Inklusif dan Perlindungan Kesejahteraan Anak ... 200

Suplemen 3: Panduan Penilaian Hasil Belajar Untuk Pengawas Sekolah dan Kepala Sekolah ... 214

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Peta Kedudukan Modul ... xiv

Gambar 2. Peta Kompetensi Modul Penilaian Kinerja Kepala Sekolah, Guru dan Tenaga Kependidikan ... 7

Gambar 3. Mekanisme Penilaian Kinerja Kepala Sekolah ...19

Gambar 4. Bagan Proses PK Guru ...61

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kegiatan Pembelajaran dan Alokasi Waktu ... 8

Tabel 2. Strategi Pembelajaran ... 9

Tabel 3. Aspek Kompetensi, Jumlah Kriteria dan Indikator Kinerja Kepala Sekolah ...14

Tabel 4. Kriteria Kinerja Setiap Aspek Kompetensi Kepala Sekolah ...14

Tabel 5. Kategori Nilai Kinerja Kepala Sekolah ...22

Tabel 6. Kebutuhan Angka Kredit Setiap Golongan ...23

Tabel 7. Formulir Sasaran Kerja Pegawai ...28

Tabel 8. Aspek Kompetensi Guru Kelas/Guru Mata Pelajaran...48

Tabel 9. Kompetensi Penilaian Kinerja Guru Kelas/Guru Mata Pelajaran ...49

Tabel 10. Aspek Kompetensi Penilaian Kinerja Guru Bimbingan Konseling Konselor ...50

Tabel 11. Aspek Kompetensi Penilaian Kinerja Guru Bimbingan dan Konseling/ Konselor ...50

Tabel 12. Contoh pemberian skor dan perhitungan nilai kompetensi tertentu pada proses PK Guru Kelas/Mata Pelajaran ...55

Tabel 13. Konversi Skor Ke Nilai Kompetensi ...56

Tabel 14. Nilai maksimal PK Guru Kelas/mapel dan Guru BK ...57

Tabel 15. Konversi Nilai Kinerja Hasil Penilaian Kinerja Guru ke persentase Angka Kredit ..57

Tabel 16. Jumlah kebutuhan Angka Kredit Kumulatif, AKPKB dan AKP ...59

Tabel 17. Tugas Tambahan Yang Mengurangi Jam Mengajar Tatap Muka ...82

Tabel 18. Jumlah Kriteria Per Dimensi Kompetensi bagi Penilaian Kinerja Guru dengan Tugas Tambahan selain kepala sekolah sebagai Wakil Kepala Sekolah...83

Tabel 19. Kriteria Kompetensi Penilaian Kinerja Wakil Kepala Sekolah ...84

Tabel 20. Kriteria Kompetensi Tambahan sesuai Bidang Tugas Wakil Kepala Sekolah ...85

Tabel 21. Jumlah Kriteria Per Dimensi Kompetensi bagi Penilaian Kinerja Guru denganTugas Tambahan sebagai Kepala Perpustakaan ...86

Tabel 22. Kriteria per Dimensi Kompetensi pada Penilaian Kinerja Guru dengan Tugas Tambahan selain kepala sekolah sebagai Kepala Perpustakaan ...86

Tabel 23. Jumlah Kriteria Per Dimensi Kompetensi bagi Penilaian Kinerja Guru denganTugas tambahan sebagai kepala laboratorium/ bengkel/ sejenisnya ...89

Tabel 24. Rincian Kriteria Penilaian per Dimensi Kompetensi Kepala Laboratorium dan Kepala Bengkel dan sejenisnya ...89

Tabel 25. Jumlah Kriteria Per Dimensi Kompetensi bagi Penilaian Kinerja Guru denganTugas Tambahan sebagai Ketua Program Keahlian ...91

Tabel 26. Kriteria per Dimensi Kompetensi Kepala Program Keahlian ...91

Tabel 27. Nilai Maksimal Penilaian Kinerja Tugas Tambahan ...97

(11)

Tabel 29. Jumlah Aspek/Kompetensi dan sub Kompetensi Pelaksana Urusan ... 121

Tabel 30. Jumlah Aspek Kompetensi dan Sub Kompetensi Kepala Perpustakaan ... 122

Tabel 31. Jumlah Aspek Kompetensi bagi Tenaga Perpustakaan ... 123

Tabel 32. Jumlah Aspek Kompetensi dan Sub Kompetensi Kepala Laboratorium Sekolah/Madrasah ... 123

Tabel 33. Jumlah Aspek Kompetensi dan Sub Kompetensi Teknisi Laboratorium Sekolah/Madrasah ... 124

Tabel 34. Jumlah Aspek Kompetensi dan Sub Kompetensi Laboran Sekolah/Madrasah ... 124

Tabel 35. Standar Kompetensi Tenaga Laboratorium ... 124

Tabel 36. Indikator Standar Kompetensi Teknisi Laboratorium Sekolah ... 124

Tabel 37. Indikator Standar Kompetensi Teknisi Laboratorium Bahasa ... 125

Tabel 38. Indikator Standar Kompetensi Teknisi Laboratorium Komputer... 125

Tabel 39. Formulir Sasaran Kerja Pegawai ... 125

Tabel 40. Formulir Penilaian Sasaran Kerja Pegawai ... 126

Tabel 41. Nilai dan Kategori Capaian SKP ... 130

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kunci Jawaban Evaluasi ... 177 Lampiran 2. Penyusunan Sasaran kerja pegawai dan Penilaian Prestasi Kerja ... 178

(13)

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

PENILAIAN KINERJA KEPALA SEKOLAH, GURU, DAN

TENAGA KEPENDIDIKAN

1. Modul Penilaian Kinerja Kepala Sekolah, Guru, dan Tenaga Kependidikan ini berisi tentang tugas pengawasan sekolah dalam merencanakan, melaksanakan, mengolah hasil, dan menyusun tindak lanjut penilaian kinerja kepala sekolah, guru, Guru dengan Tugas Tambahan selain kepala sekolah lainnya, dan tenaga kependidikan. Tenaga kependidikan yang dimaksud dalam uraian modul ini adalah staf sekolah..

2. Modul ini terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu: (1) Pendahuluan, (2) Kegiatan Pembelajaran yang terdiri dari In Service Learning-1 (In-1), On The Job Learning (On), In Service Learning-1 (In-2) , dan (3) Evaluasi

3. Modul ini dilaksanakan melalui tiga tahap pembelajaran yaitu In-1, On, dan In-2. Pada tahap In-1, Saudara akan dipandu oleh fasilitator untuk mempelajari modul ini secara umum dan menyiapkan dasar pengetahuan serta pengalaman Saudara sebagai bahan menyusun rencana tindak lanjut untuk On. Pada tahap On, Saudara melaksanakan rencana tindak lanjut yang dibuat pada saat In-1, yakni melaksanakan keseluruhan tahapan pelaksanaan penilaian kinerja kepala sekolah, guru, Guru dengan Tugas Tambahan selain kepala sekolah dan tenaga kependidikan di sekolah binaan. Pada tahap In-2, Saudara bersama pengawas sekolah lain melaporkan tagihan On dan mempresentasikan berbagai keberhasilan dan kendala, serta solusi yang Saudara lakukan selama On.

4. Sebelum mempelajari modul ini, Saudara harus memiliki dan memahami dokumen-dokumen sebagai berikut:

a. Penilaian Kinerja Kepala Sekolah:

1) Permendiknas Nomor. 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah

2) Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya

b. Penilaian Kinerja Guru dan Penilaian Kinerja Guru dengan Tugas Tambahan

1) PermenegPAN RB Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya

2) Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

(14)

c. Penilaian Kinerja Tenaga Kependidikan Lainnya

1) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah.

2) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah.

3) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Laboratorium Sekolah/Madrasah

d. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah;

e. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah/Madrasah.

f. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah

g. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini.

h. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 157 Tahun 2014 Tentang Kurikulum Pendidikan Khusus.

5. Modul ini berkaitan dengan modul G Penilaian dan Pemantauan Pembelajaran.

6. Waktu yang dipergunakan untuk mempelajari modul ini diperkirakan 56 Jam Pembelajaran (JP), yang terdiri atas 28 JP untuk In-1, 20 JP untuk On, 8 JP untuk In-2. Satu JP setara dengan 45 menit. Perkiraan waktu ini sangat fleksibel sehingga bisa disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan. Penyelenggara pembelajaran bisa menyesuaikan waktu dengan model pembelajaran di Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS), Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Provinsi, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan bidang Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LPPPTK KPTK), atau model pembelajaran lain dengan pemanfaatan teknologi lain.

7. Pada kegiatan pembelajaran, Saudara sebaiknya mulai dengan membaca petunjuk dan pengantar modul ini, menyiapkan dokumen yang diperlukan, mengikuti tahap demi tahap kegiatan pembelajaran secara sistematis dan mengerjakan kegiatan pembelajaran pada Lembar Kerja (LK). Selama kegiatan pembelajaran akan dilakukan penilaian berbasis kelas oleh fasilitator. Setiap menyelesaikan kegiatan pembelajaran di masing-masing

(15)

modul. Saudara akan mengerjakan latihan soal dan penugasan lainnya. Untuk melengkapi pemahaman, Saudara dapat membaca sumber-sumber lain yang relevan. 8. Setelah mempelajari modul ini, Saudara dapat mengimplementasikan hasil belajar

tersebut di sekolah binaan.

9. Pada pelaksanaan setiap kegiatan pada modul ini, Saudara harus mengintegrasikankan nilai-nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), yang terdiri atas: 1) religius, 2) nasionalis, 3) mandiri, 4) gotong royong, dan 5) integritas, serta mempertimbangkan aspek inklusi sosial tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, status sosial ekonomi, penyandang HIV/AIDS dan yang berkebutuhan khusus. Inklusi sosial ini juga diberlakukan bagi pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik.

(16)

PETA KEDUDUKAN MODUL

Gambar 1. Peta Kedudukan Modul

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

MODUL I

Penelitian Bidang Pengawasan

MODUL H Penilaian Kinerja Kepala Sekolah, Guru, dan

Tenaga Kependidikan.

MODUL G

Penilaian dan Pemantauan Pembelajaran

MODUL F Pemantauan Pelaksanaan

Pemenuhan SNP

MODUL D

Laporan Hasil Pengawasan

MODUL C

Program Pengawasan Supervisi Manajerial

MODUL B

Konsep Supervisi Manajerial EVALUASI PENDIDIKAN MODUL J Penyusunan Pedoman Pengawasan

SUPERVISI

MANAJERIAL

SUPERVISI AKADEMIK MODUL A Supervisi Akademik MODUL E

Pelaksanaan Supervisi Manajerial D I M E N S I K O M P E T E N S I

Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Pengawas Sekolah terdiri dari 10 modul yakni modul A sampai modul J. Saat ini Saudara sedang membahas dan mempelajari modul H, Penilaian Kinerja Kepala Sekolah, Guru, dan Tenaga Kependidikan

(17)

BAGIAN I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengawas sekolah memiliki tugas dan fungsi melakukan penilaian kinerja kepala sekolah dan guru. Hasil penilaian kinerja digunakan sebagai bahan pembimbingan dan pelatihan profesional kepala sekolah dan guru. Sekaligus sebagai alat ukur keberhasilan pembimbingan atau pemantauan yang telah dilaksanakan oleh pengawas sekolah. Penilaian kinerja dilaksanakan sesuai dengan instrumen penilaian kinerja kepala sekolah dan guru sesuai peraturan yang berlaku dan dilaksanakan secara periodik.

Modul ini berfungsi untuk memfasilitasi pengawas sekolah dalam meningkatkan kemampuan melaksanakan penilaian kinerja kepala sekolah, guru, guru yang diberi tugas tambahan lainya, dan tenaga kependidikan. Selain itu, modul ini mengintegrasikan nilai-nilai utama penguatan pendidikan karakter yang harus dipahami dan dibiasakan oleh pengawas sekolah dalam melaksanakan tugas pengawasan. Sehingga dalam Pelaksanaan penilaian kinerja, pengawas sekolah mengamati implementasi nilai-nilai utama penguatan pendidikan karakter yang dilakukan oleh kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan. Adapun kelima nilai-nilai utama penguatan pendidikan karakter itu adalah religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.

Nilai karakter religius yang mencerminkan tingkat keimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku untuk melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Nilai karakter religius ini meliputi tiga dimensi relasi sekaligus, yaitu hubungan individu dengan Tuhan, individu dengan sesama, dan individu dengan alam semesta (lingkungan). Nilai karakter religius ini ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan. Sub-nilai religius: cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama lintas agama, antibuli dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, melindungi yang kecil dan tersisih.

Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Sub-nilai nasionalis antara lain apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela

(18)

berkorban, unggul dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama.

Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita. Sub-nilai kemandirian antara lain etos kerja (kerja keras), tangguh tahan banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerjasama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, bersahabat dengan orang lain dan memberi bantuan pada mereka yang miskin, tersingkir dan membutuhkan pertolongan. Sub-nilai gotong royong antara lain menghargai, kerjasama, inklusif, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong menolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti kekerasan, sikap kerelaan.

Nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral (integritas moral). Karakter integritas meliputi sikap tanggungjawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran. Sub-nilai integritas antara lain kejujuran,cinta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggungjawab, keteladanan, menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas).

Implementasi nilai-nilai PPK dan juga Pendidikan Inklusi dan Perlindungan Kesejahteran Anak (PIPKA) pada modul ini diharapkan dapat mencegah tumbuhnya paham radikalisme, terorisme, vandalisme, penyalahgunaan obat terlarang, dan perilaku hidup bebas sehingga dapat merajut kehidupan damai dan sejahtera dalam bingkai NKRI. Urgensi pokok permasalahan ini dapat dijelaskan pada bagian berikut ini.

Sebagai bangsa yang besar NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) merupakan suatu Negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau dan diapit oleh dua samudra dan dua benua, didiami oleh ratusan juta penduduk, memiliki iklim tropis, memiliki keanekaragaman budaya dan adat istiadat agama dan keyakinan yang berlainan satu sama lain bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Keseluruhannya tercemin dalam satu ikatan kesatuan lambang negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Pada dasarnya keberagaman masyarakat Indonesia menjadi modal dasar dalam pembangunan bangsa.

(19)

Oleh karena itu, sangat diperlukan rasa persatuan dan kesatuan yang tertanam disetiap warga negara Indonesia. Pembentukan sikap nasionalis terhadap bangsa yang besar perlu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai generasi penerus bangsa Indonesia.

Namun demikian, dalam kenyataanya masih ada konflik yang terjadi dengan mengatasnamakan suku, agama, ras atau antargolongan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa sikap nasionalis bangsa yang ada seharusnya bisa menjadi modal bagi bangsa ini untuk menjadi bangsa yang kuat. Untuk mendukungnya, diperlukan rasa persatuan yang kokoh dan kuat. Persatuan bangsa merupakan syarat yang mutlak bagi kejayaan Indonesia. Jika masyarakatnya tidak bersatu dan selalu memprioritaskan kepentingannya sendiri, maka cita-cita Indonesia yang terdapat dalam sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Bangsa akan hanya menjadi mimpi yang tak akan pernah terwujud. Sehingga semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu, hanya sebatas slogan. Komitmen seluruh unsur negara menentukan sikap yang persisten untuk kesatuan bangsa perlu ditindaklanjuti di berbagai tingkat masyarakat. Keberagaman dalam berbagai aspek (adat, budaya, agama, bahasa) merupakan kondisi yang dapat membentuk masyarakat Indonesia yang memiliki toleransi dan rasa saling menghargai untuk menjaga perbedaan tersebut. Untuk itu perlu nilai komitmen persatuan bangsa Indonesia dalam keberagaman nasional.

Kata kata bijak mengatakan: "Bila anda ingin memperbaiki dunia, mulailah terlebih dulu dengan diri sendiri." Walaupun terkesan kuno, tetapi tetap berlaku untuk kita simak dan diterapkan dalam perjalanan hidup. Kita semuanya berharap Indonesia bisa berubah menjadi lebih baik dalam segala hal. Menjadi lebih baik dalam pendidikan anak bangsa, kesehatan masyarakat, perekonomian, sandang pangan, keamanan, kesejahteraan, dan seterusnya. Salah satunya adalah agar tercipta keharmonisan, kedamaian dan ketenangan dalam hidup keberagaman antar berbagai suku bangsa yang ada ditanah air kita tercinta.

Perbuatan-perbuatan negatif yang dapat merusak keutuhan suatu bangsa perlu dihindari sedini mungkin, seperti radikalisme, vandalisme dan penyalahgunaan obat terlarang narkoba serta kehidupan bebas melalui penguatan nilai-nilai luhur Pancasila. Untuk mencegah lahirnya paham radikalisme maka perlunya penguatan pada cara pandang pendidikan agama dan budi pekerti yang berlaku di Indonesia yang lebih berorientasi pada hukum yang kaku dan eksklusif tetapi lebih pada cinta yang moderat dan inklusif. Oleh karena itu, pembelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti dan Pendidikan Pancasila harus dilakukan secara berkesinambungan untuk menangkis masuk dan berkembangnya paham radikalisme di Indonesia terutama pada generasi muda.

(20)

Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, pergaulan bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS. Generasi muda saat ini harus diselamatkan dari era globalisasi ini karena banyak kebudayaan-kebudayaan yang asing yang masuk dan tidak semua sama dengan kebudayaan luhur bangsa Indonesia, seperti kebudayaan hubungan bebas. Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para generasi mudah dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya.

Penyalahgunaan obat terlarang selalu menjerat generasi muda ke dalam jeratan narkoba, zat dan obat-obatan terlarang. Para pengedar dan pembuat barang-barang terlarang tersebut akan melakukan berbagai promosi bujuk rayu menjebak kepada orang-orang yang lemah iman dan tidak memiliki akal sehat untuk menjadi budak obat terlarang. Oleh karena itu, generasi muda perlu dibekali pengetahuan tentang obat-obat terlarang dan segala akibatnya. Pergaulan yang salah dapat menyebabkan generasi muda terperosok ke dalam jurang kesesatan. Penguatan nilai religius melalui penguatan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui kesadaran bahwa penggunaan narkoba itu dosa karena hanya menyakiti dan merusak tubuh dan pikiran manusia. Penggunaan narkoba juga menjauhkan kita dari agama yang kita anut.

Pembentukan karakter generasi penerus bangsa perlu ditanamkan sejak mulai dini melalui perbuatan-perbuatan kebajikan sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa yang ada dalam nilai-nilai Pancasila. Melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) diharapkan generasi penerus bangsa yang besar ini dapat merajut kedamaian dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia dan terlepas dari sisi negatif dampak globalisme yang dapat merusak peradaban bangsa dan negara melalui perbuatan-perbuatan radikalisme bangsa, vandalisme, penyalahgunaan obat-obatan terlarang serta kehidupan bebas di abad super modern ini.

Khusus implementasi PPK diharapkan berupa kegiatan sekolah yang dapat menjadi

branding nilai-nilai utama penguatan pendidikan karakter. Branding ini merupakan

sebuah proses memperkenalkan ‘brand’ sampai bagaimana lingkungan memberikan penilaian pada ‘brand’ tersebut. Branding menunjukkan kekuatan dan keunggulan sekolah berdasarkan potensi lingkungan, peluang yang ada, dukungan staf, orang tua,

(21)

dan masyarakat. Sekolah yang berkualitas memiliki identitas berupa branding sebagai keunikan sekolah yang terefleksikan dalam budaya sekolah.

Pada Permendiknas Nomor 35 tahun 2010 butir 9 menyatakan bahwa, Penilaian Kinerja Guru adalah penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karir, kepangkatan, dan jabatannya. Pelaksanaan tugas utama guru tidak dapat dipisahkan dari kemampuan seorang guru dalam penguasaan pengetahuan, penerapan, keterampilan, dan penilaian hasil belajar sebagai kompetensi yang dibutuhkan.

Guru yang dimaksud dalam Permendiknas Nomor 35 tahun 2010 juga termasuk guru yang memiliki tugas tambahan sebagai kepala sekolah, kepala perpustakaan, kepala laboratorium, ketua program keahlian/bengkel/ sejenisnya. Penilaian kinerja dimaksudkan untuk menilai unjuk kerja kompetensi kepala sekolah, guru, dan guru yang diberi tugas tambahan lainnya dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsinya sehari-hari.

Penilaian kinerja merupakan sistem formal yang digunakan untuk menilai kinerja secara periodik, dan hasilnya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam rangka pengembangan, pemberian penghargaan (reward), perencanaan, pemberian kompensasi dan motivasi. Bagi kepala sekolah, merupakan acuan bagi pengambil kebijakan atau pemangku kepentingan untuk menetapkan pengembangan karir, periodesasi dan pengembangan keprofesian berkelanjutan. Sedangkan bagi guru, dapat bermanfaat untuk menentukan berbagai kebijakan yang terkait dengan peningkatan mutu dan kinerja guru sebagai ujung tombak pelaksanaan proses pendidikan, menetapkan pengembangan karir dan promosi guru, serta untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan guru dalam rangka memperbaiki kualitas kinerjanya.

Penilaian kinerja kepala sekolah dilakukan oleh pengawas sekolah berdasarkan penugasan dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi, sedangkan penilaian kinerja tahunan guru, guru dengan tugas tambahan selain kepala sekolah dilakukan oleh kepala sekolah dibantu guru senior yang ditugasi. Penilaian kinerja kepala tata usaha dilakukan oleh Kasubag Umum dinas yang mengurus pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi, sedangkan tenaga kependidikan lainnya dinilai oleh kepala tata usaha.

Kegiatan pada modul ini dilaksanakan dengan sistem in service learning-1 (In-1), On The

Job Learning (On), dan In Service Learning-2 (In-2). Pada Kegiatan In-1, Saudara

melakukan kegiatan pembelajaran melalui belajar bersama dengan sesama pengawas sekolah dan dipandu oleh narasumber dan fasilitator dengan tatap muka. Pada Kegiatan

(22)

On, Saudara melaksanakan seluruh tahapan kegiatan penilaian kinerja kepala sekolah

(sebagai kepala sekolah dan sebagai guru), memverifikasi/memvalidasi penilaian kinerja guru, guru dengan tugas tambahan selain kepala sekolah, termasuk dan tenaga kependidikan di sekolah binaan. Pada Kegiatan In-2, Saudara melaporkan dan mempresentasikan hasil pelaksanaan On.

B. Target kompetensi

1. Menilai kinerja kepala sekolah, kinerja guru, dan staf sekolah (tenaga kependidikan) lainnya dalam melaksanakan tugas pokok dan tanggung jawabnya untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran.

2. Mengolah dan menganalisis data hasil penilaian kinerja kepala sekolah, kinerja guru, dan staf sekolah(tenaga kependidikan) .

C. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Pengawas Sekolah yang mengintegrasikan penguatan pendidikan karakter ini, Saudara diharapkan mampu:

1. Menentukan aspek-aspek penilaian kinerja kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan.

2. Mengidentifikasi kata kunci kriteria/indikator penilaian kinerja kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan.

3. Menilai kinerja kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugas pokok dan tanggung jawabnya.

4. Memvalidasi data hasil penilaian kinerja kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan.

5. Menganalisis data hasil penilaian kinerja kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan.

6. Menyusun program tindaklanjut dalam rangka perbaikan kinerja kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan.

Kemampuan enam tujuan pembelajaran di atas terbangun bersama tumbuhnya lima nilai utama penguatan pendidikan karakter.

(23)

D. Peta Kompetensi.

Gambar 2. Peta Kompetensi Modul Penilaian Kinerja Kepala Sekolah, Guru dan Tenaga

Kependidikan

E. Ruang Lingkup dan Pengorganisasian Pembelajaran

1. Ruang Lingkup

Ruang lingkup Modul ini terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut penilaian kinerja pendidik dan tenaga kependidikan. Adapun rinciannya sebagai berikut: Penilaian Kinerja Kepala sekolah; Penilaian Kinerja Guru; Penilaian Kinerja Guru dengan Tugas Tambahan (Wakil Kepala Sekolah, Kepala Perpustakaan, kepala Laboratorium, Ketua Program Keahlian/Bengkel/sejenisnya), dan Penilaian Kinerja Tenaga Kependidikan lainnya (Tenaga Administrasi Sekolah, Tenaga Perpustakaan, dan Tenaga Laboratorium). Meskipun berdasarkan kenyataan dilapangan, sebagian besar di sekolah dasar hanya ada guru kelas, guru dengan tugas tambahan sebagai kepala sekolah, guru PJOK dan guru agama, namun seorang pengawas sekolah dasar perlu melengkapi pengetahuannya tentang penilaian kinerja guru mapel, guru dengan tugas tambahan selain kepala sekolah, dan penilaian kinerja Tenaga Administrasi Sekolah (TAS).

(24)

Kegiatan pembelajaran atau aktivitas pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan berbagai strategi antara lain curah pendapat, belajar mandiri, diskusi, studi kasus, dan simulasi. Lima nilai utama penguatan pendidikan karakter terintegrasi dalam kegiatan tersebut. Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan latihan menjawab soal.

Saudara akan mengidentifikasi indikator-indikator penilaian kinerja yang terintegrasi dengan nilai utama karakter sebagai dasar dalam menyusun rencana penilaian kinerja kepala sekolah, guru, Guru dengan Tugas Tambahan selain kepala sekolah, dan tenaga kependidikan, kemudian melaksanakan penilaian kinerja.

2. Pengorganisasian Pembelajaran

a. Kegiatan Pembelajaran dan Alokasi Waktu

Melalui modul ini, Saudara akan melakukan kegiatan, baik secara individu maupun secara kelompok. Kegiatan yang Saudara lakukan terdiri atas penilaian kinerja kepala sekolah, guru, Guru dengan Tugas Tambahan selain kepala sekolah, dan tenaga kependidikan.

Kegiatan In-1, On dan In-2 pada modul ini akan Saudara lakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Pada tahap In-1, Saudara akan melakukan curah pendapat konsep penilaian kinerja, identifikasi indikator penilaian kinerja, simulasi penilaian kinerja, pengolahan hasil penilaian kinerja, dan penyusunan tindak lanjut dalam bentuk sasaran kinerja pegawai.

Pada tahap On, Saudara akan melakukan sosialisasi instrumen penilaian kinerja, melaksanakan penilaian kinerja, mengolah hasil penilaian kinerja, dan menyusun laporan hasil penilaian kinerja, serta mendokumentasikan bukti pelaksanaan kegiatan.

Pada tahap In-2, Saudara mengumpulkan dokumen portofolio dalam bentuk laporan hasil On serta melakukan presentasi dan diskusi. Selanjutnya, Saudara menyusun rencana tindak lanjut pasca In-2 dan melaksanakan penilaian diri. Modul ini terdiri dari 4 kegiatan pembelajaran dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 1. Kegiatan Pembelajaran dan Alokasi Waktu

No Kegiatan Pembelajaran In-1 On In-2

1 Penilaian Kinerja Kepala Sekolah 8 JP 5 JP

8 JP

2 Penilaian Kinerja Guru 7 JP 5 JP

3 Penilaian Kinerja Guru dengan Tugas

(25)

No Kegiatan Pembelajaran In-1 On In-2

4 Penilaian Tenaga Kependiidkan 5 JP 5 JP

5 Rencana Tindak Lanjut 1JP

Total 28 JP 20 JP 8 JP

Jumlah Total 56 JP

Keterangan: I JP = 45 menit b. Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran yang digunakan dalam modul ini dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 2. Strategi Pembelajaran

No Strategi Pembelajaran In-1 On In-2

1 Curah pendapat √ 2 Diskusi √ √ 3 Belajar Mandiri √ √ 4 Presentasi √ 5 Studi kasus √ 6 Simulasi √ 7 Unjuk kerja/praktik √

Strategi pembelajaran di atas dilakukan dengan mengitegrasikan implementasi lima nilai utama penguatan pendidikan karakter, misalnya pada saat diskusi, dikembangkan lingkungan atau suasana belajar yang aman, penuh kreatifitas dan persahabatan melalui pembiasaan sikap menghargai dan menerima perbedaan serta berani menerima kritik dan saran. Pada saat belajar mandiri antara lain dilatihkan sikap kemandirian sehingga memunculkan keberanian mengambil keputusan secara jernih dan benar, mengenal kemampuan diri dan membangun kepercayaan diri.

F. Aspek Penilaian

Aspek penilaian dalam program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan dengan moda Tatap Muka In-1, On, In-2 adalah sebagai berikut:

1. Penilaian Sikap (disingkat NS)

Penilaian aspek sikap dimaksudkan untuk mengetahui sikap peserta pada unsur kerjasama, disiplin, tanggungjawab, dan keaktifan. Sikap-sikap tersebut dapat

(26)

diamati pada saat menerima materi, melaksanakan tugas individu dan kelompok, mengemukakan pendapat dan bertanya jawab, serta saat berinteraksi dengan narasumber dan peserta lainnya.

Penilaian sikap dilakukan sejak awal sampai akhir kegiatan baik In-1 maupun In-2 secara terus menerus yang dilakukan oleh narasumber untuk setiap materi. Namun, penetapan nilai akhir aspek sikap dilakukan pada terakhir. Penilaian aspek sikap sebagaimana unsur yang ditetapkan diatas merupakan kesimpulan narasumber terhadap sikap peserta. Hasil penilaian sikap dituangkan dalam format Lembar Penilaian Sikap diserahkan kepada kepada operator SIM.

2. Penilaian Keterampilan (disingkat NK)

Penilaian keterampilan bertujuan untuk mengetahui apakah telah terjadi perubahan keterampilan peserta setelah melalui proses pembelajaran In-1, On dan In-2. Penilaian keterampilan menggunakan pendekatan penilaian autentik mencakup tes dan non tes berupa penyelesain tugas pengisiaan LK, portofolio dan laporan ON dan presentasi hasil On. Penilaian aspek keterampilan dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung, namun juga melalui kumpulan portofolio hasil penugasan individu dan/atau kelompok. Komponen penilaian terhadap aspek keterampilan khususnya portofolio hasil On yakni Kelengkapan (semua tagihan terpenuhi), Keaslian (dibuat sendiri, tidak ada indikasi meniru milik/dikerjakan orang lain), Kualitas (kebenaran isi sesuai kriteria/rubrik). Hasil penilaian aspek keterampilan dituangkan dalam format Lembar Penilaian Keterampilan pada In-1 dan In-2 diserahkan kepada operator SIM.

3. Penilaian Aspek Pengetahuan (di singkat NP)

Penilaian aspek pengetahuan disebut dengan Tes Akhir dilakukan oleh peserta di akhir kegiatan pelatihan program PKB moda Tatap Muka untuk kegiatan 1, On, In-2. Peserta tes akhir adalah peserta yang telah mengikuti pelatihan PKB secara tuntas untuk seluruh kegiatan pembelajaran dan dinyatakan layak berdasarkan kriteria yang ditetapkan. Pelaksanaan tes akhir dilakukan secara Daring di TUK yang telah ditentukan. Nilai tes akhir akan menjadi nilai UKPS tahun 2017 dan digunakan sebagai salah satu komponen nilai akhir peserta.

Selanjutnya, Nilai Akhir (NA) peserta pelatihan PKB moda tatap muka In-1, On, In-2 diperoleh dengan formula sebagai berikut:

(27)

4. Kriteria Kelulusan Peserta

Peserta akan mendapatkan sertifikat dari Nilai Akhir (NA) dengan predikat minimal “Cukup”.

Skor Keterangan Predikat

95 – 100 Sangat Baik A

85 - 94 Baik B

70 - 84 Cukup C

51 – 69 Kurang D

≤ 50 Sangat Kurang E

Sertifikat dan Surat Keterangan bagi Peserta Pelatihan Program PKB PS

Peserta program PKB PS yang memperoleh Nilai Akhir ≥ 70 diberikan Sertifikat. Sedangkan peserta yang memiliki Nilai Akhir < 70 hanya menerima surat keterangan keikutsertaan dalam pelatihan.

(28)

BAGIAN II

KEGIATAN PEMBELAJARAN

TAHAP IN SERVICE LEARNING 1 (In-1)

(28 JP)

Pengantar

Pada tahap In-1, Saudara belajar bersama pengawas sekolah lain untuk memahami konsep penilaian kinerja, memahami aspek dan kriteria penilaian dalam instrumen, mengumpulkan fakta melalui pengamatan dan pemantauan, membandingkan fakta dengan indikator, menghitung skor indikator dan nilai kompetensi, menyusun laporan hasil penilaian kinerja, serta menentukan aspek-aspek yang perlu ditindaklanjuti dalam rangka peningkatan kinerja kepala sekolah, guru, guru dengan tugas tambahan selain kepala sekolah dan tenaga kependidikan. Kegiatan-kegiatan tersebut dicapai melalui strategi curah pendapat, diskusi, belajar mandiri, studi kasus, dan simulasi. Saudara dapat melakukannya secara berkelompok, namun Jika tidak memungkinkan karena jumlah peserta terbatas, silakan mengerjakan kegiatan tersebut secara individual. Pada akhir In-1 saudara akan membuat rencana tindak lanjut untuk On the Job Learning di sekolah binaan.

Kegiatan Pembelajaran 1: Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (8 JP)

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi kegiatan pembelajaran ini, diharapkan saudara mampu memahami aspek-aspek penilaian kinerja kepala sekolah (PKKS), menggunakan instrumen PKKS, menganalisis data hasil penilaian, serta menentukan aspek-aspek yang perlu tindak lanjut dalam rangka peningkatan kinerja kepala sekolah dengan mengintegrasikan lima nilai utama penguatan pendidikan karakter yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.

B. Indikator Pencapaian Tujuan

Setelah mempelajari modul ini, Saudara diharapkan mampu: 1. Menentukan aspek-aspek penilaian kinerja kepala sekolah 2. Memilih perangkat penilaian kinerja kepala sekolah

3. Menilai kinerja kepala sekolah

(29)

5. Menganalisis hasil penilaian kinerja kepala sekolah untuk perencanakan program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan kepala sekolah

6. Menyusun program tindak lanjut dalam bentuk sasaran kerja pegawai

Kemampuan Saudara mencapai tujuan di atas terbangun bersama tumbuhnya lima nilai utama penguatan pendidikan karakter bagi pengawas sekolah.

C. Uraian Materi

1. Perencanaan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah

a. Pengertian

Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) merupakan serangkaian proses pengumpulan fakta, pengolahan, analisis, dan interpretasi data sebagai unjuk kerja kompetensi kepala Sekolah. Petunjuk pelaksanaannya diatur di dalam Peraturan Menteri Pendidik Nasional nomor 35 tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Penilaian kinerja kepala sekolah termasuk guru yang diberi tugas tambahan guru diatur didalamnya. Secara teknis, pelaksanaan penilaian kinerja kepala sekolah merupakan tanggung jawab pengawas sekolah. Hasil penilaian kinerja kepala sekolah selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan kepala sekolah serta pertimbangan angka kredit kepala sekolah. b. Tujuan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah

Penilaian kinerja kepala sekolah dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut: 1) Memperoleh informasi kinerja kepala sekolah/madrasah berdasarkan hasil

evaluasi pada guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah. Hasil akhir penilaian kinerja tersebut dapat digunakan oleh kepala sekolah/madrasah sebagai dasar perhitungan perolehan angka kredit untuk pengusulan kenaikan pangkat dan jabatannya;

2) memperoleh informasi kinerja kepala sekolah/madrasah berdasarkan hasil evaluasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan diri kepala sekolah/madrasah dalam melaksanakan tugasnya;

3) mendapatkan data kinerja kepala sekolah/madrasah secara kolektif dalam siklus tahunan sehingga dapat diperoleh gambaran umum kinerja kepala sekolah/madrasah pada tingkat kabupaten kota/provinsi sebagai dasar untuk menentukan mutu kinerja kepala sekolah/madrasah secara nasional;

(30)

4) menghimpun data kinerja sebagai dasar untuk menentukan kebutuhan program pembinaan kompetensi mewujudkan kepala sekolah/madrasah yang profesional dalam rangka meningkatkan penjaminan mutu pendidikan nasional.

c. Unsur penilaian kinerja kepala sekolah

Berdasarkan Pedoman Penilaian Kinerja Kepala Sekolah, penilaian kepala sekolah meliputi: input, proses, dan output. Input terkait dengan kemampuan atau kompetensi yang dimiliki dalam melakukan pekerjaannya. Proses terkait dengan prosedur pelaksanaan tugas dan tanggungjawab kepala sekolah. Output terkait dengan hasil kerja yang dicapai dari pelaksanaan tugas pokok, fungsi dan tanggungjawab.

d. Aspek kompetensi yang dinilai dalam penilaian Kinerja Kepala Sekolah Berdasarkan karakteristiknya, kompetensi kepala sekolah pada Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007, dikelompokkan ke dalam enam aspek/kompetensi penilaian seperti yang tercantum dalam tabel 3 di bawah.

Tabel 3. Aspek Kompetensi, Jumlah Kriteria dan Indikator Kinerja Kepala Sekolah

No Aspek/Kompetensi Kriteria Kinerja Indikator Kinerja

1 Kepribadian dan Sosial 7 29

2 Kepemimpinan Pembelajaran 10 41

3 Pengembangan Sekolah 7 28

4 Manajemen Sumber Daya 8 32

5 Kewirausahaan 5 20

6 Supervisi Pembelajaran 3 12

JUMLAH 40 162

Kriteria kinerja setiap aspek kompetensi kinerja kepala sekolah tersebut, secara rinci dapat dilihat pada tabel 4 berikut.

Tabel 4. Kriteria Kinerja Setiap Aspek Kompetensi Kepala Sekolah

No Aspek

Kompetensi Kriteria Kinerja

1 Kepribadian dan Sosial

1 Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di sekolah/madrasah 2 Melaksanakan tupoksi sebagai kepala sekolah

dengan penuh kejujuran, ketulusan, komitmen, dan integritas

3 Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai kepala

sekolah/madrasah

4 Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dan tantangan sebagai kepala sekolah/madrasah

(31)

No Aspek

Kompetensi Kriteria Kinerja

5 Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

6 Tanggap dan peduli terhadap kepentingan orang atau kelompok lain.

7 Mengembangkan dan mengelola hubungan sekolah/ madrasah dengan pihak lain di luar sekolah dalam rangka mendapatkan dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan

sekolah/madrasah. 2 Kepemimpinan

Pembelajaran

1 Bertindak sesuai dengan visi dan misi sekolah/madrasah.

2 Merumuskan tujuan yang menantang diri sendiri dan orang lain untuk mencapai standar yang tinggi.

3 Mengembangkan sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajar (learning organization). 4 Menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah

yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran. 5 Memegang teguh tujuan sekolah dengan menjadi

contoh dan bertindak sebagai pemimpin pembelajaran.

6 Melaksanakan kepemimpinan yang inspiratif. 7 Membangun rasa saling percaya dan

memfasilitasi kerjasama dalam rangka untuk menciptakan kolaborasi yang kuat diantara warga sekolah/madrasah.

8 Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/ madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif.

9 Mengembangan kurikulum dan kegiatan

pembelajaran sesuai dengan visi, misi, dan tujuan sekolah

10 Mengelola peserta didik dalam rangka pengembangan kapasitasnya secara optimal. 3 Pengembanga

n Sekolah

1 Menyusun rencana pengembangan

sekolah/madrasah jangka panjang, menengah, dan pendek dalam rangka mencapai visi, misi, dan tujuan sekolah/ madrasah.

2 Mengembangkan struktur organisasi

sekolah/madrasah yang efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan.

3 Melaksanakan pengembangan sekolah/madrasah sesuai dengan rencana jangka panjang,

menengah, dan jangka pendek sekolah menuju tercapainya visi, misi, dan tujuan sekolah. 4 Mewujudkan peningkatan kinerja sekolah yang

signifikan sesuai dengan visi, misi, tujuan sekolah dan standard nasional pendidikan.

5 Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat.

6 Merencanakan dan menindaklanjuti hasil monitoring, evaluasi, dan pelaporan.

7 Melaksanakan penelitian tindakan sekolah dalam rangka meningkatkan kinerja sekolah/madrasah.

(32)

No Aspek

Kompetensi Kriteria Kinerja

4 Manajemen Sumberdaya

1 Mengelola dan mendayagunakan pendidik dan tenaga kependidikan secara optimal

2 Mengelola dan mendayagunakan sarana dan prasarana sekolah/madrasah secara optimal demi kepentingan pembelajaran.

3 Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai prinsip efisiensi, transparansi dan akuntabilitas. 4 Mengelola lingkungan sekolah yang menjamin

keamanan, keselamatan dan kesehatan 5 Mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah

dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/madrasah

6 Mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan.

7 Mengelola layanan-layanan khusus

sekolah/madrasah yang mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah.

8 Memanfaatkaan teknologi secara efektif dalam kegiatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah

5 Kewirausaha an

1 Menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi pengembangan sekolah/ madrasah.

2 Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin pembelajaran.

3 Memotivasi warga sekolah untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya masing-masing.

4 Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah.

5 Menerapkan nilai dan prinsip-prinsip kewirausahaan dalam mengembangkan sekolah/madrasah.

6 Supervisi Pembelajaran

1 Menyusun program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru

2 Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat.

3 Menilai dan menindaklanjuti kegiatan supervisi akademik dalam rangka peningkatan

profesionalisme guru.

Pengawas sekolah perlu memiliki dukungan bukti fisik sesuai dengan kriteria penilaian kinerja kepala sekolah. Bukti fisik tersebut harus dapat menggambarkan kinerja kepala sekolah dalam melaksanakan pengelolaan sekolah dengan mengintegrasikan nilai utama penguatan pendidikan karakter. Penguatan Pendidikan karakter tersebut diharapkan menjadi branding sekolah sebagai keunikan sekolah yang tergambar melalui budaya sekolah.

(33)

e. Perangkat Penilaian Kinerja Kepala Sekolah Instrumen penilaian kepala sekolah terdiri atas:

1) Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru (Buku 2);

Buku 2 Menjelaskan tentang tentang tata cara penilaian dan norma-norma yang harus ditaati oleh penilai, guru yang dinilai, serta unsur lain yang terlibat dalam proses penilaian..

2) Instrumen Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (IPKKS), terdiri atas;

a) Petunjuk Penilaian; bagian petunjuk penilaian berisi penjelasan tentang cara menilai, teknik pengumpulan data, pemberian skor, penilai dan persyaratannya, pelaksanaan penilaian dan hasil penilaian. dari pelaksanaan penilaian. Petunjuk pengisian ini harus dipahami oleh para penilai kinerja guru dengan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah.

b) Format Identitas Diri; format ini harus diisi tentang identitas diri guru yang dinilai sesuai dengan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. Selain itu, format ini juga perlu diisi dengan identitas penilai. Guru yang dinilai dan penilai harus menanda-tangani format identitas diri ini.

c) Format Penilaian Komponen Kinerja; format ini terdiri dari beberapa tabel menurut banyaknya komponen kinerja yang akan dinilai sesuai dengan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah yang ditugaskan kepada guru. Setiap tabel berisi penjelasan tentang kriteria/indikator penilaian untuk masing-masing komponen kompetensi, catatan bukti-bukti yang teridentifikasi selama penilaian, skor yang diberikan, perhitungan jumlah skor, skor rata-rata untuk setiap komponen kinerja, serta diskripsi penilaian kinerja yang dilakukan oleh penilai. Format ini diisi oleh penilai di sekolah sesuai dengan hasil pengamatan, wawancara, dan/atau studi dokumen yang dilakukan oleh penilai selama proses penilaian kinerja.

d) Format Rekapitulasi Penilaian Kinerja; Perolehan skor rata-rata untuk setiap kompetensi kemudian direkap oleh penilai pada format rekapitulasi penilaian kinerja. Skor rata-rata masing-masing kompetensi dicantumkan dan dijumlahkan dalam format tersebut untuk selanjutnya dikonversikan ke skala nilai 0 – 100 sesuai dengan Permenneg PAN & RB No. 16 Tahun 2009. Jika kedua penilai dan guru yang dinilai telah

(34)

mencapai kesepakatan terhadap hasil penilaian, maka penilai dan guru yang dinilai harus menandatangani format rekapitulasi penilaian kinerja tersebut.

e) Laporan Kendali PKG merupakan rekapitulasi dari hasil penilaian kinerja untuk semua (guru pembelajaran, guru bimbingan dan konseling/konselor, maupun guru yang diberi tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah). Pada format ini dicantumkan hasil PK GURU formatif, sasaran nilai PK GURU yang akan dicapai setelah guru mengikuti proses PKB, dan hasil PK GURU sumatif untuk beberapa tahun ke depan. Dengan demikian, kinerja guru akan dapat dipantau dan dapat diarahkan dalam upaya peningkatan kinerja guru yang bersangkutan agar mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas kepada peserta didik. Format laporan kendali PK Guru yang telah lengkap harus disampaikan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/kota/provinsi.

2. Pelaksanaan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah

Ketika melaksanakan tugas sebagai penilai kinerja kepala sekolah binaannya pengawas sekolah perlu mempertimbangkan kode etik pengawas sekolah untuk memastikan bahwa proses penilaian berlangsung dengan objektif dan disertai dengan komimen dan inyegritas yang tinggi. Kode etik pengawas antara lain: berlandaskan iman dan taqwa, serta mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki disiplin yang tinggi dalam melaksanakan tugas sebagai pengawas sekolah, sigap dan terampil untuk menanggapi dan membantu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi aparat binaannya.

a. Prinsip-Prinsip Penilaian Kinerja Kepala Sekolah

Penilaian kinerja kepala sekolah dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip, yaitu sahih, objektif, adil, terpadu, terbuka, menyeluruh dan berkesinambungan, sistematis, beracuan kriteria, dan akuntabel. Penilaian kinerja kepala sekolah dilakukan setiap tahun oleh pengawas sekolah.

Penilaian kinerja kepala sekolah merupakan penilaian berbasis bukti dan menggunakan pendekatan penilaian 360 derajat, yaitu proses penilaian dengan menggali informasi dan data dari berbagai pihak yang memiliki kaitan dengan pelaksanaan tugas dan tanggungjawab kepala sekolah. Bukti‐bukti dapat berupa, hasil wawancara, dokumen (foto, sertifikat/surat keterangan, surat tugas, grafik,

(35)

gambar, laporan kegiatan, data angka, surat keputusan, hasil publikasi ilmiah dan karya inovatif), kondisi lingkungan fisik sekolah, perilaku dan budaya dan lain‐lain yang dapat diidentifikasi oleh penilai melalui pengamatan maupun pemantauan. b. Langkah-langkah Pelaksanaan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah.

Penilaian pertama terhadap kinerja kepala sekolah dilaksanakan setelah kepala sekolah bertugas selama 1 (satu) tahun pada sekolah tertentu. Secara umum tahapan penilaian kepala sekolah dapat digambarkan pada skema dibawah ini:

Gambar 3. Mekanisme Penilaian Kinerja Kepala Sekolah

Langkah-langkah penilaian kinerja kepala sekolah meliputi persiapan, pelaksanaan penilaian, dan penentuan nilai akhir sebagai berikut:

1) Kegiatan dalam persiapan, meliputi menyampaikan pemberitahuan kepada kepala sekolah, mengumpulkan dan mempelajari laporan kinerja kepala sekolah, serta mengamati kelengkapan dan keabsahan dokumen bukti fisik pendukungnya.

2) Kegiatan dalam pelaksanaan, dilakukan dalam rapat penilaian yang dihadiri oleh kepala sekolah yang dinilai bersama semua penilai yang dilaksanakan di sekolah di mana kepala sekolah yang dinilai bertugas. Rapat penilaian diawali dengan pemaparan laporan kinerja oleh kepala sekolah yang dinilai dan difokuskan pada komponen-komponen penilaian dan bukti-bukti yang relevan. Penilai dapat melakukan konfirmasi dan meminta penjelasan atas laporan kinerja tertulis maupun lisan yang disampaikan oleh kepada kepala sekolah yang dinilai. Penilai juga perlu melakukan pengamatan dan

(36)

pencatatan bukti-bukti lain yang ada di lingkungan sekolah yang belum atau tidak dapat disertakan dalam laporan tertulis. Bukti-bukti ini dapat diidentifikasi melalui pengamatan terhadap kondisi fisik yang ada di lingkungan sekolah atau meminta informasi dari orang-orang yang relevan yang ada di lingkungan sekolah seperti guru, karyawan sekolah, komite sekolah atau peserta didik. Penilai kemudian melakukan penilaian terhadap setiap komponen penilaian berdasarkan paparan laporan kinerja dan hasil pengamatan kelengkapan dan keabsahan bukti-bukti yang dikumpulkan oleh kepala sekolah/madrasah yang dinilai dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a) Penilai mengkonfirmasi keabsahan bukti-bukti yang dikumpulkan oleh kepala sekolah/madrasah yang dinilai,

b) Penilai mencatat semua bukti fisik maupun nonfisik ke dalam format penilaian yang relevan, dan

c) Penilai mencermati semua bukti yang tercatat dan mencocokkannya dengan indikator dari komponen yang dinilai.

3) Pada langkah akhir, penilai menetapkan nilai kinerja dengan cara merekap semua nilai komponen ke dalam format penilaian yang ditetapkan dan menuangkannya dalam instrumen penilaian.

3. Pemberian Nilai

Adapun tahapan-tahapan dalam penilaian kinerja kepala sekolah meliputi: a. Penilaian

Penilaian. Penilaian dilakukan terhadap semua komponen penilaian berdasarkan paparan laporan kinerja, hasil pengamatan kelengkapan dan keabsahan bukti-bukti yang dikumpulkan oleh kepala sekolah/madrasah yang dinilai. Skor diberikan pada rentang 1 sampai dengan 4 dengan ketentuan sebagai berikut: 1) skor 4 diberikan apabila kepala sekolah mampu menunjukkan bukti-bukti

yang lengkap dan sangat meyakinkan bahwa kepala sekolah yang bersangkutan berkinerja sesuai dengan setiap kriteria komponen yang dinilai. 2) skor 3 diberikan apabila kepala sekolah mampu menunjukkan bukti-bukti yang lengkap dan cukup meyakinkan bahwa kepala sekolah yang bersangkutan berkinerja sesuai dengan setiap kriteria komponen yang dinilai.

(37)

3) skor 2 diberikan apabila kepala sekolah menunjukkan bukti-bukti yang kurang lengkap dan cukup meyakinkan bahwa yang bersangkutan berkinerja sesuai dengan setiap kriteria komponen yang dinilai.

4) skor 1 diberikan apabila ditemukan bukti yang sangat terbatas dan kurang meyakinkan atau tidak ditemukan bukti bahwa kepala sekolah yang bersangkutan berkinerja sesuai dengan setiap kriteria komponen yang dinilai. :Bukti-bukti yang dimaksud dapat berupa:

1) bukti yang teramati (tangible evidences) seperti:  dokumen-dokumen tertulis.

 kondisi sarana/prasarana (hardware dan/atau software) dan lingkungan sekolah.

 foto, gambar, slide, video.  produk-produk peserta didik.

2) bukti yang tak teramati (intangible evidences) seperti:  sikap dan perilaku kepala sekolah.

 budaya dan iklim sekolah. .

b. Pernyataan keberatan terhadap nilai hasil penilaian

Jika terjadi keberatan terhadap hasil PKKS, maka Kepala Sekolah yang dinilai dapat mengajukan keberatan atas hasil penilaian tersebut. Pengawas sekolah wajib menghargai keberatan yang diajukan oleh Kepala Sekolah yang dinilai. Penilai membahas keberatan yang diajukan oleh kepala sekolah mengkaji secara mendalam alasan dan bukti-bukti. Penilai dapat mengubah hasil penilaian apabila dipandang bahwa alasan dan bukti-bukti yang menyertai keberatan tersebut dapat diterima. Apabila tidak dicapai kesepakatan antara penilai dan kepala sekolah/madrasah yang dinilai terhadap hasil penilaian, hasil penilaian akhir ditetapkan berdasarkan hasil penilaian penilai disertai catatan ketidaksetujuan kepala sekolah yang bersangkutan

c. Konversi nilai hasil penilaian kinerja ke angka kredit

Instrumen terdiri dari atas 6 (enam) aspek penilaian dengan menggunakan skala penilaian 1 sampai dengan 4 dengan rentang skor antara 6 sampai dengan 24. Skor konversi nilai sesuai dengan Permenegpan No. 16 Tahun 2009 menggunakan rumus sebagai berikut:

100 24

NIPKKS

(38)

Keterangan:

NKKS = Nilai Kinerja Kepala Sekolah

NIPKKS = Jumlah Nilai Instrumen Penilaian Kinerja Kepala Sekolah

Kategori hasil penilaian: dinyatakan dalam rentang nilai 1 sampai denan 100 dan dibedakan menjadi lima kategori dengan Nilai Persentasi Kinerja (NPK) seperti yang terlihat pada tabel 5 berikut ini.

Tabel 5. Kategori Nilai Kinerja Kepala Sekolah

Nilai Kinerja Kategori Nilai Persentase Kinerja (NPK)

91,0 – 100 Amat Baik 125%

76,0 – 90,9 Baik 100%

61,0 – 75,9 Cukup 75%

51,0 – 60,9 Sedang 50%

Kurang dari 51 Kurang 25%

(sumber: Pedoman PKKS)

4. Menvalidasi Penilaian Kinerja Kepala Sekolah

Data hasil penilaian kinerja kepala sekolah perlu divalidasi untuk memastikan bahwa penilaian kinerja dilaksanakan sesuai dengan mekanisme dan prinsip-prinsip yang telah ditentukan. Validasi dapat dilakukan oleh pengawas dalam tugas dan tanggungjawab kepengawasannya, diutamakan validasi terhadap pelaksanaan penilaian kinerja kepala sekolah yang dilakukan oleh penilai lain. Selain itu, validasi juga dapat dilakukan oleh pihak eksternal seperti Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi dan Kementerian Pendidikan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi.

Proses validasi pelaksanaan penilaian kinerja kepala sekolah diawali dengan memeriksa kelengkapan format dan/atau instrumen penilaian kinerja yang ada dalam laporan penilaian kinerja. Setelah itu, petugas validasi perlu memeriksa apakah semua kriteria telah diberi skor dan memastikan bahwa nilai setiap kompetensi dihitung berdasarkan skor semua kriterianya. Verifikasi pemberian skor selanjutnya dilakukan dengan memeriksa kesesuaian skor yang diberikan dengan bukti fisik yang tersedia.

Hasil validasi kemudian disampaikan kepada kepala sekolah untuk melakukan tindak lanjut berupa penentuan rencana perbaikan kualitas pelaksanaan dan pelaporan penilaian kinerja kepala.

(39)

5. Pengolahan Hasil Penilaian Kinerja Kepala Sekolah

Hasil penilaian kinerja kepala sekolah tersebut selanjutnya digunakan untuk menghitung angka kredit yang diperoleh dalam satu tahun pada unsur pembelajaran dan perencanan program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).

a. Konversi nilai hasil penilaian kinerja ke angka kredit

Perolehan angka kredit unsur pembelajaran/bimbingan guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah ditentukan berdasarkan hasil penilaian yang bersangkutan sebagai guru dengan menggunakan Instrumen Penilaian Kinerja Guru dan sebagai kepala sekolah dengan menggunakan Instrumen Penilaian Kinerja Kepala Sekolah dengan pembobotan 25% dari penilaian kinerja guru dan 75% dari penilaian kinerja kepala sekolah.

Penghitungan perolehan angka kredit dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 4 NPK X AKP) AKPKB 0,75(AKK ) NPK X ) JWM JM AKP)X( AKPKB (0,25X(AKK AK ks g       Keterangan:

AK = Perolehan angka kredit per tahun

AKK = Angka kredit kumulatif minimal yang dipersyaratkan

AKPKB = Angka kredit unsur pengembangan profesional berkelanjutan AKP = Angka kredit unsur penunjang

JM = Jumlah jam mengajar per minggu

JWM = Jumlah jam wajib mengajar perminggu (6 jam untuk kepala sekolah) NPKg = Nilai persentase kinerja sebagai guru

NPKks = Nilai persentase kinerja sebagai kepala sekolah

NPKKS = Nilai perolehan hasil kinerja sebagai kepala sekolah

Tabel 6. Kebutuhan Angka Kredit Setiap Golongan

JABATAN PANGKAT/GOL AK AKK AKP

/B/TT AKPKB AKP

Guru Pertama

Penata Muda, III/a 100

50 42 3 + 0 5

Penata Muda Tingkat,

III/b 150

50 38 3 + 4 5

Guru Muda

Penata, III/c 200

100 81 3 + 6 10

Penata Tingkat I, III/d 300

100 78 4 + 8 10

Guru Madya

Pembina, IV/a 400

150 119 4 + 12 15 Pembina Tingkat I, IV/b 550

(40)

JABATAN PANGKAT/GOL AK AKK AKP

/B/TT AKPKB AKP

Pembina Utama Muda,

IV/c 700

150 116 5 + 14 15

Guru Utama

Pembina Utama Madya,

IV/d 850

200 155 5 + 20 20 Pembina Utama, IV/e 1050

(Sumber Permendiknas no. 16 tahun 2010) Keterangan:

AK = Angka Kredit

AKK = Angka Kredit Kumulatif

AKP/B/TT= Angka Kredit Pembelajaran/Bimbingan/Tugas Tambahan AKPKB= Angka Kredit Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan AKP = Angka Kredit Penunjang

Contoh :

Ibu Lelawati Pridi, M.Pd. adalah guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah pada SMA Kejora dengan jabatan Guru Madya golongan IV/a, mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia 6 jam per minggu. Pada akhir tahun dinilai kinerjanya oleh pengawas pembina dengan nilai kinerja sebagai guru yang diperolehnya sebesar 86,1 dan sebagai kepala sekolah sebesar 92,0. Angka kredit yang diperoleh Ibu Lalawati Pridi, M.Pd, dihitung dengan cara seperti berikut: . Data penilain kinerja Ibu Lelawati Pridi, M.Pd adalah sebagai berikut: a. Dilihat dari perolehan kinerjanya sebagai guru, Ibu Lelawati Pridi, M.Pd.

memperoleh kategori “baik” dengan nilai NPK sebesar 100%

b. Dilihat dari perolehan kinerjanya sebagai kepala sekolah, Ibu Lelawati Pridi, M.Pd. memperoleh kategori “amat baik’ dengan nilai NPK sebesar 125%

Dengan demikian angka kredit yang diperolehnya untuk satu tahun berjalan adalah: {0,25x (150-(4+12)-15) 6/6 x 100%} + {0.75 x (150-(4+12)-15) X125%} AK = --- 4 29,75 + 111,56 AK = --- = 35, 33 4

Pengawas sekolah memanfaatkan hasil penilaian kinerja kepala sekolah sebagai: (a) dasar pertimbangan bagi penyusunan kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Kepala Sekolah yang akan dituangkan dalam program kerja sekolah dan program binaan, (b) bukti pertanggungjawaban pengawas sekolah atas pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya sebagai pengawas profesional.

(41)

b. Analisis Hasil PK Kepala Sekolah untuk Perencanaan PKB

Hasil PK kepala sekolah menjadi dasar bagi perencanaan PKB bagi kepala sekolah selain hasil isian format Evaluasi Diri di awal tahun. Kompetensi yang memperoleh nilai di bawah standar tersebut menjadi pertimbangan utama untuk perencanaan kegiatan PKB bagi kepala sekolah selama satu tahun berjalan. Analisis dilakukan dengan mencermati nilai kompetensi yang berada di bawah standar yakni yang nilainya 1 atau 2. Pengawas dan kepala sekolah perlu mempertimbangkan indikator/kriteria mana dari kompetesi tersebut yang lebih dominan mempengaruhi rendahnya perolehan nilai kompetensi. Dengan demikian, kemampuan yang diukur melalui indikator/kriteria tersebut dapat diprioritaskan untuk ditingkatkan melalui kegiatan PKB.

c. Tahap pelaporan

Setelah melaksanakan kegiatan penilaian kinerja kepala sekolah, pengawas sekolah menyusun laporan hasil penilaian kinerja yang memuat proses dan hasil penilaian yang telah dilakukan. Laporan hasil penilaian kinerja harus memuat penjelasan tentang identitas penilai dan yang dinilai, tahapan penilaian kinerja, hasil penilaian dan persetujuan hasil penilaian serta tindak lanjutnya baik dalam bentuk saran maupun rekomendasi. Laporan penilaian kinerja selain digunakan sebagai pertimbangan penyusunan program PKB ditingkat sekolah juga disampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi sebagai masukan untuk merencanakan program PKB tingkat Kabupaten/Kota/Provinsi bagi guru dan guru dengan tugas tambahan.

Laporan pelaksanaan penilaian kinerja kepala sekolah juga digunakan sebagai salah satu berkas Daftar Usul Pengajuan Angka Kredit (DUPAK). Dokumen laporan penilaian kinerja Kepala Sekokah terdiri atas dua bagian utama, yakni 1) Laporan Penilaian Kinerja Guru dengan Tugas Tambahan sebagai kepala Sekolah, dan 2) Laporan Penilaian Guru.

Urutan berkas Laporan Penilaian Kinerja Kepala sekolah dalah sebagai berikut. 1) Laporan Penilaian Kinerja Guru dengan Tugas Tambahan sebagai Kepala

Sekolah:

a) Format Identitas Diri Kepala Sekolah (Lampiran 3A bagian B) b) Format Perhitungan Angka Kredit Tugas Tambahan

c) Format Rekapitulasi Hasil Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (Lampiran 3A bagian C)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...