• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi Senyawa Alkaloid Pada Tanaman Pandan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Identifikasi Senyawa Alkaloid Pada Tanaman Pandan"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

ALKALOID PADA SIMPLISIA ALKALOID PADA SIMPLISIA

DAUN PANDAN WANGI DAUN PANDAN WANGI

Untuk memenuhi sebagian tugas Untuk memenuhi sebagian tugas

Mata Kuliah Pr. Fitokimia Mata Kuliah Pr. Fitokimia

HERLISIA IH

HERLISIA IHIKA MAIKA MARAMBA HRAMBA HAWU AWU NIM AKNIM AKA 17008A 17008 KIKI

KIKI MIRZA MIRZA AMALIA AMALIA NIM NIM AKA AKA 1701117011 MUHAMMAD

MUHAMMAD MAULANA MAULANA ILHAM ILHAM NIM NIM AKA AKA 1701417014 RYAN PANDU

RYAN PANDU

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN

PUTRA INDONESIA MALANG PUTRA INDONESIA MALANG

OKTOBER 2018 OKTOBER 2018

(2)

IDENTIFIKASI SENYAWA ALKALOID PADA TANAMAN PANDAN A. Dasar Teori

Alkaloid adalah sebuah golongan senyawa basa bernitrogen yang kebanyakan heterosiklik dan terdapat di tumbuhan (tetapi ini tidak mengecualikan senyawa yang  berasal dari hewan). Asam amino, peptida, protein, nukleotid, asam nukleik, gula amino dan antibiotik biasanya tidak digolongkan sebagai alkaloid. Dan dengan prinsip yang sama, senyawa netral yang secara biogenetik berhubungan dengan alkaloid termasuk digolongan ini (Hersipa,2011). Istilah “alkaloid” (mirip alkali, karena dianggap bersifat  basa) pertama kali dipakai oleh Carl Friedrich Wilhelm Meissner (1819), seorang apoteker dari Halle (Jerman) untuk menyebut berbagai senyawa yang diperoleh dari ekstraksi tumbuhan yang bersifat basa (pada waktu itu sudah dikenal, misalnya morfina, striknina, sertasolanina). Fungsi alkaloid ini bermacam-macam diantaranya:

1. Sebagai racun untuk melindungi tanaman dari serangga dan binatang,

2. Sebagai hasil akhir dari reaksi detoksifikasi yang merupakan hasil metabolit akhir dari komponen yang membahayakan bagi tanaman,

3. Sebagai faktor pertumbuhan tanaman dan cadangan makanan.

Sifat-sifat Fisika :

Umumnya mempunyai 1 atom N meskipun ada beberapa yang memiliki lebih dari 1 atom N seperti pada Ergoramin yang meiliki 5 atom N. Atom N ini dapat  berupa amin primer, sekunder maupun tersier yang semuanya bersifat basa (tingkat

kebasaanya tergantung dari struktur molekul dan gugus fungsionalnya). Kebanyakan alkaloid yang telah diisolasi berupa padatan kristal tidak larut dengan titik lebur yang tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Sedikit alkaloid yang berbentuk amorf dan beberapa seperti nikotin dan koniin berupa cairan.

Kebanyakan alkaloid tidak berwarna, tetapi beberapa senyawa yang kompleks spesies aromatik bewarna (Contoh beberin berwarna kuning dan betanin berwarna merah). Pada umumnya, basa bebas alkoloid hanya larut dalam pelarut organik, meskipun beberapa pseudoalkalod dan protoalkaloid larut dalam air. Garam alkoloid dan alkoloid quartener sangat larut dalam air. (Hersipa,2011).

Sifat-Sifat Kimia :

Kebanyakan alkaloid bersifat basa. Sifat tersebut tergantung pada adanya  pasangan elektron pada nitrogen. Jika gugus fungsional yang berdekatan dengan nitrogen. Jika gugus fungsional yang berdekatan dengan nitrogen bersifat melepaskan elektron, sebagai contoh : gugus alkil, maka ketersediaan elektron pada nitrogen naik dan senyawa lebih bersifat basa. Hingga trietilamin lebih basa daripada dietilamin dan senyawa dietilamin lebih basa daripada etilamin. Sebaliknya, bila gugus fungsional yang berdekatan bersifat menarik elektron (contoh : gugus karbonil), maka

(3)

OCH3 NH2 H3CO H3CO HN OH CH3 CH3

ketersediaan pasangan elektron berkurang dan pengaruh yang ditimbulkan alkaloid dapat bersifat netral atau bahkan sedikit asam. Contoh : senyawa yang mengandung gugus amida. Kebiasaan alkaloid menyebabkan senywa tersebut sangat mudah mengalami dekomposisi, terutama oleh panas dan sinar dengan adanya oksigen. Hasil dari reaksi ini sering berupa N-oksida. Dekomposisi alkaloid selama atau setelah isolasi dapat menimbulkan berbagai persoalan jika penyimpanan berlangsung dalam waktu yang lama. Pembentukan garam dengan senyawa organik (tartarat,sitrat) atau anorganik (asam hidroklorida atau sulfat) sering mencegah dekomposisi. Itulah sebabnya dalam perdagangan alkaloid lazim berada dalam bentuk garamnya (Hersipa,2011).

Klasifikasi :

Sifat klasifikasi menurut Hegnauer, alkaloid dikelompokkan sebagai : a. Alkaloid sesunggahnya (true alkoloid)

Alkaloid sesungguhnya adalah racun, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas fisiologi yang luas, hampir tanpa terkecuali bersifat basa, lazim mengandung Nitrogen dalam cincin heterosiklik.

Beberapa senyawa alkaloid yang tidak bersifat basa, tidak mempunyai cincin heterosiklik dan termasuk alkaloid kuartener yang lebih cenderung bersifat asam, contoh kolkhisina dan asam aristolosit. (Sabirin Matsjeh, 2002).

 

Struktur kolkhisina Struktur aristolosit

 b. Protoalkaloid

Protoalkaloid merupakan amin yang relatif sederhana dimana nitrogen dan asam amino tidak terdapat dalam dalam cincin heterosiklik. Contoh : meskalin, ephedrin dan N,N-dimetiltriptamin.

Struktur meskalin Struktur efedrin

c. Pseudoalkoloid

Pseudoalkaloid biasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloid yang terpenting yaitu alkaloid Steroidal (contoh: konessin dan purin(kaffein)) (Hersipa,2011).

O OCH3 NH H3CO CH3 NO2 O O OCH3 COOH

(4)

Strukturkafein

Berdasarkan jenis cicin heterosiklik nitrogen  yang merupakan bagian dari struktur molekul. Berdasarkan hal tersebut, alkaloid dibedakan atas beberapa jenis seperti :

1. Golongan Piridina: piperine, coniine, trigonelline, arecoline, arecaidine, guvacin e, cytisine, lobeline, nikotina, anabasine, sparteine, pelletierine.

Gambar. Struktur Piridina / C5H5N

2. Golongan Pyrrolidine: hygrine, cuscohygrine, nikotina

Gambar. Struktur  Pyrrolidine / C4H9N

3. Golongan Isokuinolina:  alkaloid- alkaloid opium(papaverine, narcotine, narceine), sanguinarine, hydrastine, berberine, emetine, berbamine, oxyacanthine.

Gambar. Struktur Isokuinolina

4. Golongan Kuinolina: kuinina, kuinidina, dihidrokuinina, dihidrokuinidina, strychnine, brucine, veratrine, cevadine.

Gambar. Struktur  Kuinolina

5. Golongan Indola:

 Tryptamines: serotonin, DMT, 5-MeO-DMT, bufotenine, psilocybin  Ergolines (alkaloid-alkaloid dari ergot ): ergine, ergotamine, lysergic acid  Beta-carboline: harmine, harmaline, tetrahydroharmine

OCH3

NH2 H3CO

(5)

 Yohimbans: reserpine, yohimbine

 Alkaloid Vinca: vinblastine, vincristine

 Alkaloid Kratom ( Mitragyna speciosa): mitragynine, 7-hydroxymitragynine  Alkaloid Tabernanthe iboga: ibogaine, voacangine, coronaridine

 Alkaloid Strychnos nux-vomica: strychnine, brucine

Gambar. Struktur Indol

Berdasarkan asal-usul biogenetic, hal ini alkaloida dapat dibedakan atas tiga  jenis utama yaitu :

 Alkaloida alisiklik yang berasal dari asam-asam amino ornitin dan lisin.

 Alkaloida aromatik jenis fenilalanin yang berasal dari fenilalanin, tirosin dan

3,4 –  dihidrofenilalanin.

 Alkaloida aromatik jenis indol yang berasal dari triptopan.

B. Kajian Tanaman

Pandan Wangi ( Pandanus amaryllifolius Roxb.) menurut Van Steenis (2008) adalah sebagai berikut: Regnum : Plantae Divisio : Spermatophyta Classis : Monocotyledonae Ordo : Pandanales Familia : Pandanaceae Genus : Pandanus

Species : Pandanus amaryllifolius, Roxb.

Salah satu tanaman yang banyak terdapat di pulau jawa dan belum banyak dimanfaatkan sebagai obat herbal antidiabetes adalah pandan wangi (Prameswari dan Simon, 2014). Pandan wangi ( Pandanus amaryllifolius Roxb.) termasuk genus Pandanus dari suku Pandanaceae, tersebar di daerah tropika, di tepi-tepi pantai dan sungai sungai (Sukandar, et . al ., 2010). Pandan wangi dapat dimanfaatkan sebagai  pewangi dan pewarna alami yaitu pemberi warna hijau pada makanan dan minuman. Pandan wangi selain memiliki aroma yang baik, juga mengandung senyawa alkaloid, saponin, flavonoid, tannin, polifenol dan lain-lain (Anjani et al., 2014).

Alkaloid pada serangga bertindak sebagai racun perut serta dapat bekerja sebagai  penghambat enzim asetilkolinestearase sehingga mengganggu sistem kerja saraf

(6)

 pusat, dan dapat mendegradasi membra sel telur untuk masuk ke dalam sel dan merusak sel telur (Cania, 2013). Pembuatan serbuk simplisia dibentuk menjadi serbuk agar proses pembasahan dapat merata dan difusi zat aktif meningkat (Depkes RI,2000). Pelarut digunakan untuk memisahkan zat aktif. Farmakope menyatakan etanol merupakan pelarut yang baik digunakan secara universal. Pelarut yang dipilih secara selektif tergandung pada zat aktif yang diharapkan (Depkes RI,2000).

Daun pandan wangi mengandung alkaloid seperti norpandamarilacton A-B,  pandamarilactam-3x, 13y, pandamarilactone-1, pandamarilactonine-A,-B, -C,  pandamarine, pandamine (Lopez dan Notato,2005).

C. Uji identifikasi

1. Prosedur MMI V 1989 (166) I. Reaksi Pengendapan

Larutan percobaan untuk pengendapan alkaloida dibagi dalam 4 golongan sebagai berikut:

a. Golongan I : Larutan percobaan dengan alkaloida membentuk garam yang tidak larut: Asam silikowolframat LP, asam fosfomolibdat LP dan asam fosfowolframat LP.

 b. Golongan II : Larutan percobaan yang dengan alkaloida membentuk senyawa kompleks bebas, kemudian membentuk endapan: Bouchardat LP dan Wagner LP.

c. Golongan III : Larutan percobaan yang dengan alkaloida membentuksenyawa asdisi yang tidak larut: Mayer LP, Drafendorff LP dan Marme LP.

d. Golongan IV : Larutan percobaan yang dengan alkaloida membentuk ikatan asam organik dengan alkaloida: Hager LP.

Cara Percobaan.

Timbang 500 mg serbuk simplisa, tambahkan 1 mL asam klorida 2N dan 9 mL air, panaskan diatas tangas air selama 2 menit, dinginkan dan saring. Pindahkan masing-masing 3 tetes filtrat pada dua kaca arloji. Tambahkan 2 tetes Mayer LP pada kaca arloji pertama dan 2 tetes Bouchardat LP pada kaca arloji kedua. Jika pada kedua percobaan tidak terjadi endapan, maka serbuk tidak mengandung alkaloida.

Jika dengan Mayer LP terbentuk endapan menggumpal berwarna putih atau kuning yang larut dalam metanol P dan dengan Bouchardat LP terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam, maka ada kemungkinan terdapat alkaloida.

Lanjutkan percobaan dengan mengocok sisa filtrat dengan 3 mL amonia pekat P dan 10 mL campuran 3 bagian volume eter P dan 1 bagian volume kloroform P. Ambil fase organik, tambahkan natrium sulfat anhidrat P, saring. Uapkan filtrat di atas tangas air, larutkan sisa dalam sedikit asam klorida 2N. Lakukan percobaan dengan keempat golongan larutan percobaan, serbuk mengandung alkaloid jika sekurang-kurangnya terbentuk endapan dengan menggunakan dua golongan larutan percobaan yang digunakan.

(7)

II. Reaksi Warna Cara percobaan

Lakukan penyarian dengan campuran eter-kloroform seperti pada cara

 Reaksi Pengendapan. Pindahkan beberapa mL filtrat pada cawan porselin, uapkan. Pada sisa tambahkan 1 sampai 3 tetes larutan percobaan seperti yang tertera pada masing-masing monografi. Larutan percobaan. Asam sulfat P, asam nitrat P, Frohde LP dan Erdmann LP.

2. Prosedurdari “Buku Ajar Fitokimia, Airlangga University Press, 2008”

Uji skrining fitokimia senyawa golongan alkaloid dilakukan dengan menggunakan metode Culvenor dan Fitzgerald.

Bahan tanaman segar sebanyak 5-10 gram diekstraksi dengan khloroform  beramonia lalu disaring. Selanjutnya ke dalam filtrat ditambahkan 0,5-1 mL asam

sulfat 2 N dan dikocok sampai terbentuk dua lapisan. Lapisan asam (atas) dipipet dan dimasukkan ke dalam tiga buah tabung reaksi. Ke dalam tabung reaksi yang pertama ditambahkan dua tetes pereaksi Mayer. Ke dalam tabung reaksi kedua ditambahkan dua tetes pereaksi Dragendorf dan ke dalam tabung reaksi yang ketiga ditambahkan dua tetes Wagner. Adanya senyawa alkaloid ditandai dengan terbentuknya endapan  putih pada tabung reaksi yang pertama dan timbulnya endapan berwarna coklat

kemerahan pada tabung reaksi kedua dan ketiga.  Pembuatan larutan kloroform beramonia:

Sebanyak 1 mL ammonia pekat 28% ditambahkan ke dalam 250 mL kloroform. Kemudian dikeringkan dengan penambahan 2,5 gram Natrium sulfat anhidrat dan disaring.

 Pembuatan Pereaksi Meyer

Senyawa HgCl2 sebanyak 1,5 gram dilarutkan dengan 60 mL akuades. Di tempat lain dilarutkan KI sebanyak 5 gram dalam 10 mL akuades. Kedua larutan yang telah dibuat tersebut kemudian dicampur dan diencerkan dengan akuades sampai volume 100 mL. Pereaksi Meyer yang diperoleh selanjutnya disimpan dalam botol gelap. Adanya senyawa alkaloid ditandai dengan terbentuknya endapan putih.

 Pembuatan Pereaksi Dragendorf:

Bismut subnitrat sebanyak 1 gram dilarutkan dalam campuran 10 mL asam asetat glasial dan 40 mL akuades. Di tempat lain 8 gram KI dilarutkan dalam 20 mL akuades. Kedua larutan yang telah dibuat dicampur kemudian diencerkan dengan akuades sampai volumenya 100 mL. Pereaksi Dragendorf ini harus disimpan dalam botol yang berwarna gelap dan hanya dapat digunakan selama periode beberapa minggu setelah dibuat. Adanya senyawa alkaloid ditandai dengan terbentuknya endapan kuning jingga atau oranye.

 Pembuatan Pereaksi Wagner:

Senyawa KI sebanyak 2 gram dan iodine sebanyak 1,3 gram dilarutkan dengan akuades sampai volumenya 100 mL kemudian disaring. Pereaksi Wagner ini juga harus disimpan dalam botol gelap. Adanya senyawa

(8)

alkaloid ditandai dengan terbentuknya endapan coklat muda sampai kuning.

3. Prosedur dari “Membuat Reagen Kimia(2005)”

 Pembuatan Pereaksi Hager

Senyawa asam pikrat ditimbang sebanyak 2,5 gram dan dilarutkan dalam aquadest sebanyak 250 mL. Adanya senyawa alkaloid ditandai dengan terbentuknya endapan.

 Pembuatan Pereaksi Frohde

Senyawa asam molibdat atau Natrium molibdat ditimbang sebanyak 5 gram dilarutkan dalam H2SO4  pekat sebanyak 50 mL. Adanya senyawa

alkaloid ditandai dengan terbentuknya warna kuning kehijauan.

 Pembuatan Pereaksi Marquist

Alirkan secara perlahan formaldehid atau formalin sebanyak 10 mL kedalam asam sulfat pekat sebanyak 50 mL. Adanya senyawa alkaloid ditandai dengan terbentuknya warna jingga.

 Pereaksi dengan Asam Kuat

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi H2SO4(p)  dan HNO3(p)  yang

menghasilkan warna kuning atau merah menunjukkan reaksi positif adanya senyawa alkaloid.

 Pembuatan Pereaksi Bouchardat

Dilarutkan sedikit demi sedikit sebanyak 4g KI ke dalam aquadest hingga larut kemudian ke dalam larutan dilarutkan sedikit demi sedikit 2g I2

hingga larut. Dicelupkan volume larutan hingga 100 mL. Adanya senyawa alkaloid ditandai dengan terbentuknya endapan coklat merah, lalu ditambahkan alkohol endapannya larut.

D. Hasil Pengamatan

1. Ekstraksi simplisia daun pandan 500 mg dengan 1 mL HCL 2N + 9 mL Aquadest, Larutan berwarna kuning kecoklatan (Blanko).

 No Perlakuan Pengujian Hasil Keterangan

1

Ekstrak + Bismut subnitrat + asam asetat glasial + aquadest + KI + aquadest

Reaksi

(9)

2. Ekstrak + HgCl2 + KI + Aquadest

Reaksi

Mayer kuning kecoklatan (blanko)

3 Ekstrak + KI + I2 Reaksi Wagner

↓ Coklat muda → ↓ Coklat Tua

4 Ekstrak + Asam pikrat + Aquadest

Reaksi

Hager Kuning keruh

5 Ekstrak + Natrium Molibdat + H2SO4(p

Reaksi Frohde

Larutan terpisah dua lapisan  bawah berwarna putih bening

lapisan atas kuning terlihat hijau samar-samar → Jingga

6 Ekstrak + Formalin + H2SO4(p)

Reaksi Marquist

Terpisah 3 lapisan Putih  bening cincin kuning putih

(10)

2. Ekstraksi simplisia daun pandan wangi ditambahkan dengan 1 mL Ammonia  pekat 25%, Kloroform dan ditambahkan H2SO4(p).

E. Pembahasan

1. Uji Dragendorff

Hasil positif alkaloid pada uji Dragendorff juga ditandai dengan terbentuknya endapan coklat muda dan kuning. Tetapi, hasil dari praktikum saya membentuk endapan berwarna oranye. Endapan tersebut adalah kalium-alkaloid. Pada pembuatan  pereaksi Dragendorff, bismut nitrat dilarutkan dalam HCl agar tidak terjadi reaksi

hidrolisis karena garam-garam bismut mudah terhidrolisis membuat ion bismutil (BiO+), Bi3+ + H2O → BiO+ + 3H+.

Agar ion Bi3+ tetap berada dalam larutan, maka larutan itu tambah asam sehingga kestimbangan agar bergesr ke arah kiri. Selanjutnya ino Bi3+  dari bismut nitrat 7 Ekstrak + KI + I2 Reaksi

Bauchardat ↓ Coklat Kemerahan

8 Ekstrak + H2SO4 + HNO3(p)

Reaksi

Asam Kuat Larutan Oranye

 No Nama Uji Hasil Keterangan

1. Uji Wagner ↓ coklat (+) Alkaloid

2. Uji Mayer

Kuning Kecoklatan

(blanko)

(+) Alkaloid 3. Uji Dragendorff ↓ Orange (+) Alkaloid

(11)

 bereaksi dengan kalium iodida membentuk endapan hitam. Bismut (III) Iodida yang kemudian melarut dalam kalium tetraiodobismutat (Shevla,1990). Pada uji Alkaloid dengan pereaksi Dragendorff, nitrogen digunakan untuk membentuk ikatan kovalen

koordinat dengan K +  yang merupakan ion logam. Jadi daun pandan positif

mengandung alkaloid.

Reaksi pada uji Dragendorff :

Bi(NO3)3 + 3KI → BiI3(coklat) + 3KNO3

BiI3+ KI → K[BiI4] (Kalium tetraiodobismutat)

2. Uji Wagner

Hasil positif alkaloid pada uji wagner ditandai dengan terbentuknya endapan coklat muda sampai kuning. Tetapi, hasil dari praktikum saya membentuk endapan  berwarna coklat muda yang lama-kelamaan menjadi endapan coklat tua. Diperkirakan endapan tersebut kalium-alkaloid. Pada pembuatan pereaksi wagner., iodin bereaksi dengan I-  dan kalium iodida menghasilkan ion I3-  yang bewarna coklat. Pada uji wagner, ion logam K +  akan membentuk ikatan kovalen koordinat dengan nitrogen  pada alkaloid membentuk kompleks kalium alkaloid yang mengendap. Jadi daun  pandan positif mengandung alkaloid.

Reaksi pada uji Wagner : I2 + I-→ I3- (coklat)

3. Uji Mayer

Hasil positif dari alkaloid pada uji mayer ditandai dengan terbentuknya endapan  putih. Tetapi pada praktikum saya tidak membentuk endapan putih atau awan-awan  putih atau kekeruhan. Seharusnya membentuk endapan putih karena alkaloid mengandung atom nitrogen yang mempunyai pasangan elektron bebas sehingga dapat digunakan untuk membentuk ikatan kovalen koordinat dengan ion logam (McMurry,2004). Pada uji alkaloid dengan pereaksi Mayer, diperkirakan nitrogen  pada alkaloid akan bereaksi dengan ion logam K + dari kalium tetraiodomerkurat (II)

membentuk kompleks kalium-alkaloid yang mengendap. Perkiraan reaksi yang terjado pada uji mayer ditunjukkan pada : Jadi daun pandan negatif mengandung alkaloid.

(12)

4. Uji Hager

Ekstrak ditambahkan pereaksi Hager menghasilkan endapan. Pereaksi Hager dibuat dengan asam pikrat yang dilarutkan dalam aquades. Pada praktikum yang dilakukan menghasilkan warna kuning keruh. Reaksi : C6H5OH + HNO3 →

C6H5CH(NO2)3 (asam pikrat) + H2O.

5. Uji Bauchardat

Ekstrak ditambahkan pereaksi Bauchardat KI ke dalam aquadest hingga larut kemudian ke dalam larutan dilarutkan sedikit demi sedikit I2 hingga larut. Dicelupkan

volume larutan hingga 100 mL. Hasil positif uji alkaloid pada saat praktikum dengan Bauchardat menghasilkan endapan berwarna coklat kemerahan.

6. Uji Marquis

Ekstrak ditambahkan dengan pereaksi marquis yaitu 3 tetes H2SO4  pekat dan 2

tetes formaldehid menghasilkan warna jingga. Menurut teori bahwa jika suatu larutan yang mengandung alkaloid ditetesi dengan larutan marquis maka akan terjadi  perubahan warna jingga, coklat, merah, ungu dan hijau. Pada praktikum yang

dilakukan menghasilkan warna kuning. 7. Uji Frohde

Ekstrak ditambahkan pereaksi frohde menghasilkan warna kuning kehijauan ketika ditetesi, tetapi jika dibiarkan lama kelamaan berubah menjadi hijau pekat. Pada  praktikum yang dilakukan menghasilkan warna kuning tetapi ada hijau samar lama

kelamaan menjadi jingga.

8. Uji H2SO4 pekat + HNO3 pekat

Hasil positif uji alkaloid dengan H2SO4(p)  dan HNO3(p)  ditandai dengan warna

merah sampai kuning. Pada praktikum yang dilakukan menghasilkan warna jingga yang lama kelamaan menjadi oranye.

Dalam praktikum ini menggunakan dua proses ekstraksi yang pertama menggunakan HCl 2N dan aquadest (MMI V,1989) , dan yang kedua menggunakan dengan 1 mL Ammonia pekat 25%, Kloroform dan ditambahkan H2SO4(p)(Buku Ajar

(13)

Fitokimia, Airlangga University Press, 2008). Dalam kedua proses tersebut dilakukan  pada daun pandan wangi menunjukkan positif adanya alkaloid.

F. Kesimpulan :

Pada praktikum ini menunjukkan bahwa daun pandan wangi ( Pandanus

amaryllifolius Roxb.) ini mengandung alkaloid. Dengan berbagai macam proses  pengujian sebagian besar menunjukkan bahwa positif mengandung alkaloid.

G. Daftar pustaka :

1. MMI Jilid IV tahun 1980

2. Buku Ajar Fitokimia, 2008. Airlangga University Press

3. http://jurnal.unpad.ac.id/farmaka/article/dowloand/13239/pdf  4. Biofarmasi 3 (1) 26-31, Februari 2005, ISSN : 1693-2242

Skrinning fitokimia dan analisa kromatografi lapis tipis kompones kimia buah

labu siam (Sechium edule Jacq.Swart 2) dalam ekstrak etanol.

5. Pengaruh suhu dan waktu penyimpanan terhadap stabilitas kadar tripolidin HCl dan Pseudoephedrin HCl dalam sediaan sirup obat flu.

Referensi

Dokumen terkait

Telah dilakukan isolasi dan identifikasi senyawa alkaloid dari actinomycetes ANLd-2b-3 yang hidup di lumpur hutan bakau.. Senyawa isolat, A8, dimurnikan dengan metoda kromatografi

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Isolasi dan Identifikasi Senyawa Alkaloid dalam Ekstrak Daun Sirsak Hutan (Annona glabra) adalah benar karya saya dengan

Dalam penelitian ini isolasi senyawa alkaloid dari jamur tiram putih dilakukan dengan metode seperti yang disampaikan Robinson dalam bukunya “The Organic Constituens of Higher

Hasil pengujian isolat berdasarkan spektrum menunjukkan penyerapan pita pada panjang gelombang maksimum untuk alkaloid sehingga dapat digambarkan bahwa daun, batang

Senyawa alkaloid yang terdapat dalam isolat daun pepaya ( Carica papaya L.) kutivar lokal A maupun kultivar lokal B merupakan senyawa karpain dengan memiliki

Maka ketiga tabung reaksi tersebut membuktikan bahwa sampel temulawak positif mengandung alkaloid yang ditandai dengan adanya larutan yang berwarna jingga pada pereaksi

Siebers Wolff dkk (1993) telah melakukan biotransformasi senyawa alkaloid kinkona (kuinin, kuinidin, sinkonidin dan sinkonin) dengan menggunakan 146 jenis

Salah satu penelitian melaporkan dalam ekstrak meta- nol, etanol, dan etil asetat dari daun Johar terkandung senyawa metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, saponin, tannin