BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS. supaya siswa mau belajar. Sedangkan belajar adalah perubahan tingkah laku

Teks penuh

(1)

1

6 BAB II

KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Teori

2.1.1. Hakekat Pembelajaran

Pembelajaran atau mengajar adalah upaya guru untuk mengubah tingkah laku siswa. Hal ini disebabkan karena pembelajaran adalah upaya guru untuk supaya siswa mau belajar. Sedangkan belajar adalah perubahan tingkah laku siswa. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa mengajar bukan upaya guru untuk menyampaikan bahan, tetapi bagaimana siswa dapat mempelajari bahan sesuai dengan tujuan.

Belajar adalah perubahan yang konstan, berbekas, dan menjadi milik siswa, maka dalam belajar siswa mengalami proses dan meningkatkan kemampuan mentalnya. Dengan demikian maka mengajar haruslah mengatur lingkungan agar terjadi proses belajar mengajar dengan baik. Dari pengertian tersebut mengajar mempunyai dua arti, yaitu: Menyampaikan pengetahuan kepada siswa, dan membimbing siswa.

Mengajar yang berarti menanam pengetahuan, tujuannya adalah penguasaan pengetahuan anak. Anak dianggap pasif, dan gurulah yang memegang peranan utama. Kebanyakan ilmu pengetahuan diambil dari buku pelajaran yang tidak dihubungkan dengan realitas dalam kehidupan sehari-hari. Pengajaran serupa ini disebut intelektualitas, sebab menekankan pada segi pengetahuan. Hal di atas berbeda dengan pengertian belajar: “Suatu aktivitas mengatur dan mengorganisasi lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar”. Perbedaan itu ditunjukkan pada mengajar di sini

(2)

2

adalah usaha dari pihak guru untuk mengatur lingkungan, sehingga terbentuk suasana yang sebaik-baiknya bagi anak untuk belajar. Artinya yang belajar adalah anak itu sendiri dan berkat kegiatannya sendiri, sedangkan guru hanya dapat membimbing anak. Dalam membimbing tersebut guru tidak hanya menggunakan buku pelajaran semata, tetapi dimanfaatkannya segala faktor dalam lingkungan, termasuk dirinya, alat peraga, lingkungan, dan sumber-sumber lain. Uraian di atas memberikan batasan-batasan yang benar tentang mengajar, yaitu: Mengajar adalah membimbing aktivitas anak. Artinya yang belajar adalah anak sendiri, sedangkan tugas guru adalah mengatur lingkungan dan membimbing aktivitas anak. Jadi yang aktif adalah siswa, dan bukan sebaliknya.

Mengajar berarti membimbing pengalaman anak. Pengalaman adalah proses dan hasil interaksi anak dengan lingkungan. Jadi interaksi dengan lingkungan itulah yang dinamakan belajar. Dari pengalaman, anak memperoleh pengertian-pengertian, sikap, penghargaan, kebiasaan, kecakapan, dan lain sebagainya. Lingkungan jauh lebih luas dibandingkan dengan buku dan kata-kata guru. Seluruh lingkungan anak adalah sumber belajar, untuk itu pelajaran hendaknya dihubungkan dengan kehidupan anak dalam lingkungannya. Mengajar berarti membantu anak berkembang dan menyesuaikan diri kepada lingkungan. Artinya mengajar adalah mengantarkan anak agar bakatnya berkembang. Sedangkan membantu anak untuk supaya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dapat diupayakan dengan memberikan pelajaran yang berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini agar lebih sanggup mengatasi masalah-masalah dalam kehidupannya. Dengan upaya tersebut diharapkan anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, termasuk lingkungan sosialnya. Ia

(3)

3

harus belajar berpikir, merasa, dan berbuat sesuai dengan norma-norma lingkungan. Sedangkan tafsiran yang kurang tepat tentang mengajar antara lain: Mengajar adalah menyuruh anak untuk menghafal. Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan.

Seluruh rangkaian penjelasan tentang mengajar di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan mengajar di sini adalah juga termasuk di dalamnya mendidik. Jadi bukan saja mentransfer pengetahuan, tetapi juga membimbing ke arah norma yang benar. Atau dapat dikatakan bahwa mengajar atau pembelajaran adalah aktivitas mengatur lingkungan, sehingga terjadi proses belajar. Untuk itu dalam pembelajaran perlu adanya komponen-komponen pendukung dengan tujuan supaya proses pembelajaran berjalan dengan baik.

Witherington (1952) “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”. Crow (1958) “Belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”. Hilgard (1962) : “Belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”. Di Vesta dan Thompson (1970) : “Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”.

2.1.2Model Pembelajaran Dalam Senam Ketangkasan

Bila bola dilantai dengan dorongan pelan sudah dapat mengguling beberapa kali, karena bentuknya bulat. Maka untuk dapat mengguling dengan mudah, bentuk harus bulat, disini badan harus berbentuk seperti bola bulat. Untuk membentuk badan/tubuh menjadi bulat seperti bola, dibutuhkan beberapa macam

(4)

4

latihan yang biasanya latihan-latihan tersebut masuk dalam latihan pemanasan atau latihan pendahuluan. Langkah-langkahnya dapat mengikuti langkah berikut. Latihan pemanasan mengguling ke depan terus jongkok:

1. Sikap permulaan (SP): kangkang dua tangan rapat di samping badan.

 Gerakan (G): hitungan 1 - 2 putar kedua lengan ke depan 2 kali. Hitungan 3 - 4 bungkukan badan ke depan 2 kali, kedua telapak tangan menyentuh lantai, kepala tunduk melihat ke belakang lewat sela-sela kaki. Hitungan 5 - 6 putar kedua lengan ke belakang 2 kali. Hitungan 7 - 8 rebahkan badan ke belakang, perut membusur, kedua tangan ke atas belakang, pandangan ke arah tangan di ulang 2 kali.

 Tujuan (T): Mengulur otot punggung, tengkuk, memperluas sendi bahu, mengulur otot perut, leher depan.

2. SP : Kangkang kedua tangan rentang ke samping lurus.

 G : Hitungan 1 - 2 badan diputar ke kiri 2 kali, pandangan ke arah 3 - 4 badan diputar ke kanan 2 kali, pandangan ke arah tangan yang di belakang.

 T : Mengulur otot punggung samping, mengulur otot leher samping. 3. SP : Jongkok, kedua tangan memegang pergelangan kaki.

 G : Hitungan 1 - 3 luruskan otot, tangan tetap 2 - 4 kembali jongkok; 5 – 6 - 7 - 8 sama. Gerakan diulang 2 x 8

4. SP : Duduk, kedua tangan lurus ke atas.

 G : Hitungan 1-2 cium lutut. Hitungan 3-4 terlentang, angkat kedua kaki letakkan di atas kepala. Hitungan 5-6-7-8 sama. Gerakan diulang 2 x 8

(5)

5

5. SP : Jongkok, kedua tangan memeluk lutut, pandangan ke arah perut, tumit menempel pantat.

 G : Hitungan 1 gerakan ke belakang kembali ke depan. Hitungan 2 - 3 sama dengan hitungan 1. Hitungan 4 setelah digerakkan ke belakang kembali jongkok. Gerakan diulang 2 x 8.

6. SP : Merangkak

 G : Dengan perlahan-lahan kedua kaki maju dekat tapak tangan sampai dapat berdiri tegak. Gerakan perlahan-lahan kedua tangan ke belakang dekat kedua kaki sampai dapat berdiri tegak. Gerakan diulang 2 kali. Silakan Anda mencoba membuat sendiri latihan seperti tersebut di atas dan mempraktekkan secara kelompok bila muncul masalah silakan mendiskusikan dengan teman kelompok.

Teknik gerakan Latihan 1

1. SP : Jongkok di lantai/matras, kedua tangan memeluk lutut, dirapatkan sedekat dengan dada, lutut rapat, kaki rapat

G : Jatuhkan badan ke belakang sampai panggul dan kedua kaki terangkat/ lepas dari lantai atau matras, dengan sikap tangan tetap memeluk kedua lutut dan dagu menempel di dada/pandangan ke perut. Kemudian ayunkan kembali badan ke depan sampai duduk seperti sikap semula.

Latihan ini diulang hingga anak mengalami dan merasakan sikap membulatkan badan. Latihan ini dapat dipakai sebagai latihan senam dasar, sehingga akan mempermudah dalam melakukan latihan mengguling ke depan.

(6)

6

KU (Kesalahan Umum):

Pandangan tidak ke arah perut Ayunan ke depan kurang kuat Latihan 2

G : Latihan 1 diulangi hingga anak dapat kembali jongkok tanpa melepaskan kedua kaki dari pelukan tangan.

KU : tumit tidak rapat pantat Latihan 3

SP : Melakukan latihan 2, dengan sikap permulaan jongkok

G : Rebahkan badan ke belakang, ayun kembali ke depan sampai sikap jongkok. Kedua tangan tetap memegang kedua lutut.

Latihan 4

SP : Berdiri kangkang. Kedua telapak tangan menumpu di lantai/matras G : Tundukkan kepala, masukkan diantara dua tangan dan dua kaki sambil

menekuk, kepala bagian belakang (tekuk) diletakkan di atas matras, titik berat badan melewati sudut 90º, agar badan dapat condong ke depan. Badan dijatuhkan ke depan, pada saat mengguling; saat kedua kaki lepas dari matras, segera kedua kaki dirapatkan, mendarat dalam sikap duduk berlunjur cium lutut (sikap akhir).

KU : Kedua lutut bengkok Latihan 5

G : Mengulang latihan 4. Setelah kedua kaki dirapatkan segera dilipat dan dipegang kedua tangan sehingga sikap akhir jongkok kedua tangan memeluk lutut.

(7)

7

KU : Tumit kurang rapat pada pantat. Latihan 6a

G : Mengulang latihan 5, pada waktu mendarat kedua tangan lurus ke depan. Jongkok pandangan ke depan.

Latihan 6b

G : Mengulang latihan 6 tetapi setelah sikap jongkok segera dilanjutkan gerakan melompat ke atas. Kedua kaki, kedua tangan diangkat ke atas mendarat (sikap akhir) berdiri mengeper dahulu dan kedua tangan tetap di atas membentuk huruf V pandangan ke depan.

KU : Kaki kurang rapat, pandangan tunduk, kedua tangan siku bengkok.

Bila langkah-langkah tersebut di atas dilaksanakan dengan baik dan teliti, maka tanpa pertolongan, anak-anak sudah dapat melakukan sendiri dengan benar. Silakan Anda mempraktekkan dengan teman kelompok Anda.

Setelah latihan tersebut di atas sudah dikuasai maka latihan ditingkatkan lagi dengan sikap permulaan jongkok. Anda dapat membuat variasi latihan mengguling ke depan jongkok dengan:

1. Sikap akhir/mendarat salah satu kaki diluruskan ke depan telapak kaki menumpu lantai dengan meluruskan kaki yang bengkok. Sikap akhir berdiri rapatkan kaki belakang ke depan. Latihan ini diulang-ulang dengan kaki yang diluruskan bergantian. Latihan ini merupakan latihan dasar mengguling ke depan tungkai lurus.

2. Sikap akhir kedua telapak tangan menumpu di samping lutut, kedua siku lurus pantat diangkat, kepala agak tunduk. Supaya dapat mengangkat pantat,

(8)

8

pada saat mendarat seakan-akan cium lutut, kedua telapak tangan menumpu dengan siku ditekuk rendah, kemudian dengan gerakan menekan kedua siku diluruskan maka pantat akan terangkat.

KU : Tumpuan tangan tidak disamping lutut tetapi di samping pantat. Siku tidak ditekuk dahulu pada saat menumpu. Gerakan cium lutut kurang rendah. Silakan anda mempraktekkan dan membuat variasi yang lain.

Demikian latihan diulang dengan irama yang lebih cepat menuju kepada penguasaan gerak dan sikap (bulat badan) dari si anak. Sekalipun ulangan dilakukan dalam irama cepat, namun sikap bundarnya badan tetap menjadi perhatian utama pada sikap kepala yang ditekuk sedalam-dalamnya, sehingga tengkuk mendarat/menumpu di matras dan kedua lutut sedekat mungkin ke dada, yang membuat punggung setengah bundar.

Selanjutnya perlu diberikan cara menolong, walau sebenarnya langkah latihan-latihan bila dilakukan dengan benar tidak memerlukan lagi pertolongan. Pertolongan/bantuan pada dasarnya diberikan:

a. Pada beberapa kali pelaksanaan, di saat diperkenalkan bentuk latihan (mengguling/roll) ini.

b. Pada anak-anak yang perlu mendapatkan bantuan disebabkan beberapa kekurangan pada anak itu sendiri misalnya: takut/malu, otot leher yang kurang kuat, kurang koordinasi, gerak yang lamban, bentuk badan terlalu gemuk, dan sebagainya

 Bantuan pertama (1)

Dalam bentuk menggulingkan ini bantuan yang utama harus anda jalankan adalah menyelamatkan benturan belakang kepala (tengkuk) atau leher pada

(9)

9

dasar/alas yang terlalu keras dengan menempatkan tangan di belakang kepala atau leher dan agak mengangkatnya. Memberikan bantuan yang tersebut di atas haruslah dijalankan dengan tangkas dan tepat.

 Bantuan kedua (2)

Pegang belakang kepala anak (membantu menekukkan) dan menolak pada kedua lutut sehingga dapat mendarat jongkok.

 Bantuan ketiga (3)

Mendorong pada punggung si anak pada saat akan duduk/jongkok.  Bantuan keempat (4)

Mengangkat panggul dengan menempatkan tangan disisi kedua paha, pendorong berdiri di sisi anak, kedua tangan agak mengangkat panggul anak, agar tengkuk tidak terlalu tertekan pada matras dan membawanya panggul ke arah depan, pada saat yang sama anda memperingatkan agar anak tetap menekuk kepala sedalam-dalamnya. Panggul anak dapat dihantarkan kelantai atau dilepaskan. KU penolong kurang terampil, waktu menolong terlambat.

 Bantuan kelima (5)

Membantu menekukkan kepala dan menempatkan tengkuk dilantai diantara kedua tangan.

 Bantuan keenam (6)

Untuk mengatasi anak yang sukar mencondongkan/menjatuhkan badan ke depan dapat ditempuh jalan:

a. Anak bertumpu sepenuhnya pada kedua telapak tangan di lantai dan meluruskan benar kedua lutut, telapak kaki ditempatkan dekat dibelakang telapak tangan.

(10)

10

b. Meninggikan (± 5 cm) tempat berpijak dari dasar tempat tangan bertumpu dan diusahakan penempatan telapak tangan tidak jauh dari kaki. Selanjutnya, untuk mempermudah mengetahui pokok bahasan/sub pokok bahasan senam ketangkasan di Sekolah Menengah Pertama, berikut ini disampaikan pengajaran:

1. Berguling kedepan dengan gerakan berguling ke depan dari posisi awal/sikap permulaan: (a) Berdiri membungkuk, lutut lurus, (b) Duduk pada kedua tumit, (c) Duduk berlutut, (d) Jongkok kedua tumit diangkat, (e) Jongkok kedua kaki rapat, (f) Gulingkan badan kedepan, (g) Jongkok kedua kaki rapat, dan (h) Terus berdiri

2. Berguling kebelakang dengan gerakan berguling ke belalang dari posisi awal/sikap permulaan: (a) Jongkok kedua tangan memegang lutut, (b) bongkok badan dibulatkan, (c)Turunkan pantat pelan-pelan, (d) Kedua tangan cepat berada di samping telinga, (e) Gulingkan badan kebelakang, (f) Kedua tangan mengangkat badan, (g) Kedua kaki diayunkan kebelakang, (h) Terus mengguling kebelakang, (i) Jongkok kedua kaki rapat, (j) Terus berdiri.

Dalam mengajar senam, berikut adalah langkah-langkah yang perlu anda perhatikan sebagai seorang guru Pendidikan Jasmani di Sekolah.

1. Lakukan pemanasan sebagai langkah awal pelajaran. Setelah itu baru memulai dengan pelajaran inti.pilih latihan-latihan dari yang sederhana ataupun kegiatan-kegiatan yang telah dikuasai sebelumnya.

(11)

11

2. Terangkan setiap kegiatan yang belum diketahui secara singkat dan tepat. Kalau perlu dapat dengan demonstrasi atau contoh anak yang baik, contoh harus betul.

3. Berilah anak-anak waktu yang cukup untuk berlatih.

4. Latihan dimulai dari yang sederhana menuju yang lebih sukar, dari yang sudah diketahui ke latihan baru.

5. Perhatikan perbedaan-perbedaan perseorangan. Rencanakan latihan-latihan untuk anak-anak yang fisiknya kurang mampu. Berilah pertolongan semestinya terhadap anak-anak yang tidak dapat melakukan, mungkin mereka memiliki rasa takut, kurang percaya diri sendiri ataupun malu. Bagaimanapun juga setiap anak ingin mendapatkan keterampilan yang dapat dikuasai anak-anak lainnya. 6. Hentikan latihan-latihan sebelum anak-anak terlalu letih.

7. Timbulkan motivasi dalam latihan-latihan dan pelajaran-pelajaran, sehingga timbul kegembiraan.

2.1.3.Pengertian Metode Pembelajaran

Mengajar adalah salah satu tugas utama guru, yang disebut dengan fungsi instruksional. Dalam menggunakan fungsi instruksional itu, penggunaan dan penerapan metode pembelajaran merupakan salah satu faktor yang penting yang ikut adil dalam kegiatan belajar mengajar.

Metode (method), secara harfiah berarti cara. Selain itu metode atau metodik berasal dari bahasa Greeka, metha, (melalui atau melewati), dan hodos (jalan atau cara), jadi metode bisa berarti jalan atau cara yang harus di lalui untuk mencapai tujuan tertentu.

(12)

12

Secara umum atau luas metode atau metodik berarti ilmu tentang jalan yang dilalui untuk mengajar kepada anak didik supaya dapat tercapai tujuan belajar dan mengajar. Prof. Dr.Winarno Surachmad (1961), mengatakan bahwa metode mengajar adalah cara-cara pelaksanaan dari pada murid-murid di sekolah.

Pasaribu dan simanjutak (1982), mengatakan bahwa metode adalah cara sistematik yang digunakan untuk mencapai tujuan. Jadi metode pelajaran adalah suatu cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan.

Berkaitan dengan metode yang tepat, dalam hal ini Pasaribu dan Simanjutak, mengatakan bahwa dalam nenentukan metode mana yang akan diikuti oleh guru dalam penggunaan metode guru harus memperhatikan berbagai macam faktor, diantaranya yaitu:

1. Metode dan tujuan sekolah 2. Metode dan bahan pengajaran 3. Metode dan tangga-tangga belajar 4. Metode dan tingkat perkembangan 5. Metode dan keadaan perseorangan 6. Dasar tertinggi dari metode

Selain itu Prof Dr. Winarno S, mengatakan ada 5 macam yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar antara lain: tujuan berbagai jenis dan fungsinya, anak didik yang berbagai tingkat kematangannya, situasi yang berbagai macam keadaan, fasilitas yang berbagaikualitasnya, pribadi guru seta kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.

(13)

13

Menurut Nana Sudjana (2005: 76) metode pembelajaran adalah, “Metode pembelajaran ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran”.

Berdasarkan definisi/pengertian metode pembelajaran yang dikemukakan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu cara atau strategi yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa untuk mencapai tujuan. Benny A. Pribadi (2009: 11) menyatakan, “tujuan proses pembelajaran adalah agar siswa dapat mencapai kompetensi seperti yang diharapkan. Untuk mencapai tujuan proses pembelajaran perlu dirancang secara sistematik dan sistemik”. Banyak metode yang digunakan seorang guru dalam pembelajaran, antara lain dengan menggunakan metode pembelajaran inovatif dan konvensional.

Sedangkan M. Sobri Sutikno (2009: 88) menyatakan, “Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan”.

Berdasarkan bahasa, Metode adalah Cara, ceramah bermakna, eksperimen, demonstrasi, pemecahan masalah, diskusi dan discovery. dan Pembelajaran ada sebuah bahan kegiatan dalam menuntut ilmu pengetahuan. Jadi metode pembelajaran dapat didefinisikan atau diartikan sebagai Cara-cara yang digunakan oleh seorang pendidik/pengajar dalam penerapan sebuah materi belajar dalam membentuk sebuah karakter pada siswa.

Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata

(14)

14

dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, di antaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Pada dasarnya guru adalah seorang pendidik. Pendidik adalah orang dewasa dengan segala kemampuan yang dimilikinya untuk dapat mengubah psikis dan pola pikir anak didiknya dari tidak tahu menjadi tahu serta mendewasakan anak didiknya. Salah satu hal yang harus dilakukan oleh guru adalah dengan mengajar di kelas. Salah satu yang paling penting adalah performance guru di kelas. Bagaimana seorang guru dapat menguasai keadaan kelas sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan. Dengan demikian guru harus menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didiknya.Tiap-tiap kelas bisa kemungkinan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda dengan kelas lain. Untuk itu seorang guru harus mampu menerapkan berbagai metode pembelajaran.

2.1.4. Hakekat Evaluasi Belajar

Secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation, dalam bahasa Arab:al-Taqdir/Penilaian. Menurut istilah evaluasi berarti kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur tertentu guna memperoleh kesimpulan. Evaluasi pendidikan dan pengajaran adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data

(15)

15

kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu. Untuk memeperoleh informasi yang tepat dalam kegiatan evaluasi dilakukan melalui kegiatan pengukuran. Pengukuran merupakan suatu proses pemberian skor atau angka-angka terhadap suatu keadaan atau gejala berdasarkan atura-aturan tertentu. Dengan demikian terdapat kaitan yang erat antara pengukuran (measurment) dan evaluasi (evaluation) kegiatan pengukuran merupakan dasar dalam kegiatan evaluasi.

Antara evaluasi, pengukuran, dan penilaian terdapat hubungan yang erat yang tidak dapat dipisahkan. Norman E. Gronlund (1976: 6) melukiskan hubungan ketiganya sebagai berikut:

1. Evaluasi adalah deskripsi kuantitatif siswa (measurement, pengukuran) yang ditetapkan dengan penentuan nilai.

2. Evaluasi adalah deskripsi kualitatis siswa (judjement, pertimbangan, penilaian) yang ditetapkan dengan penentuan nilai.

Dengan demikian, evaluasi dapat ditentukan dengan melalui pengukuran dan bisa pula tanpa melalui pengukuran.

Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan.

Evaluasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses sistematik dalam menentukan tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa. Ada dua aspek

(16)

16

penting dari definisi diatas. Pertama, evaluasi menunjukan pada proses yang sistematik. Kedua, evaluasi mengasumsikan bahwa tujuan instruksional ditentukan terlebih dahulu sebelum proses belajar mengajar berlangsung.

Selain itu, evaluasi juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan.

Pembelajaran juga merupakan proses komunikatif-interaktif antara sumber belajar, guru, dan siswa yaitu saling bertukar informasi. “Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran” (Oemar Hamalik,1995: 57). Menurut Standar Proses pada Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007, tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajara yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Ini berarti kemampuan yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran mencakup kemampuan yang akan dicapai siswa selama proses belajar dan hasil akhir belajar pada suatu KD. Menurut Erman (2003:2) menyatakan bahwa evaluasi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai penentuan kesesuaian antara tampilan siswa dengan tujuan pembelajaran. Dalam hal ini yang dievaluasi adalah karakteristik siswa dengan menggunakan suatu tolak ukur tertentu. Karakteristik-karakteristik tersebut dalam ruang lingkup kegiatan belajar-mengajar adalah tampilan siswa dalam bidang kognitif (pengetahuan dan intelektual), afektif (sikap, minat, dan motivasi), dan psikomotor (ketrampilan, gerak, dan tindakan). Tampilan tersebut dapat dievaluasi secara lisan, tertulis,

(17)

17

mapupun perbuatan. Dengan demikian mengevaluasi di sini adalah menentukan apakah tampilan siswa telah sesuai dengan tujuan instruksional yang telah dirumuskan atau belum. Apabila lebih lanjut kita kaji pengertian evaluasi dalam pembelajaran, maka akan diperoleh pengertian yang tidak jauh berbeda dengan pengertian evaluasi secara umum. Pengertian evaluasi pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui kegiatan pengukuran dan penilaian pembelajaran. Pengukuran yang dimaksud di sini adalah proses membandingkan tingkat keberhasilan pembelajaran dengan ukuran keberhasilan pembelajaran yang telah ditentukan secara kuantitatif, sedangkan penilaian yang dimaksud di sini adalah proses pembuatan keputusan nilai keberhasilan pembelajaran secara kualitatif.

1.1.5. Hakekat Model Pembelajaran dan Pendekatan Pola Gerak Dominan Untuk mencapai tujuan pengajaran senam yang bersifat mendidik dan menyenangkan, perlu di kembangkan pendekatan pengajaran yang tepat. Sejauh ini, ada beberapa pendekatan yang di kenal dalam pengajaran dan pelatihan senam, diantaranya, misalnya, pendekatan melalui (1) pengelompokan keterampilan formal, (2) pendekatan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak, serta (3) pendekatan pola gerak dominan (PGD).

Yang dimaksud dengan pendekatan pola gerak dominan adalah pendekatan yang menekankan pembekalan pola gerak yang mendasari terkuasainya keterampilan senam, karena itu, perannya dianggap dominan. PGD inilah yang menjadi landasan bangunan untuk menguasai keterampilan ketrampilan yang lebih kompleks. Misalnya, pelaksanaan putaran dalam roll depan membutuhkan PGD yang sama dengan putaran untuk berhasil dalam

(18)

18

pelaksaan salto depan. Oleh karenanya, guru perlu memilih sejumlah kecil kunci-kunci keterampilan dasar yang melandasi keterampilan senam. Landasan itu diajarkan kepada anak, dan baru kemudian maju berangkat pada penguasaan keterampilan yang lebih kompleks.

1.1.6. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Hal ini disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku saat ini yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. KTSP merupakan salah satu bentuk realisasi kebijakan desentralisasi di bidang pendidikan agar kurikulum benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengembangan potensi peserta didik di sekolah yang bersangkutan di masa sekarang dan yang akan datang dengan mempertimbangkan kepentingan lokal, nasional dan tuntutan global dengan semangat manajemen berbasis sekolah (MBS). Dengan lahirnya KTSP, menunjukkan bahwa desentralisasi pendidikan bukan hanya ke daerah-daerah, melainkan ke sekolah-sekolah. Sekolah menjadi lebih otonom dalam melaksanakan tugas pokoknya untuk mencerdaskan peserta didiknya. Karena guru dan pihak sekolah diberi wewenang yang luas untuk

(19)

19

menyusun sendiri kurikulumnya dengan berpegangan pada standar isi dan standar kompetensi lulusan serta panduan-panduan yang telah disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP). Dengan demikian kurikulum di Indonesia menjadi sangat bervariasi dalam banyak hal, kecuali dalam standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang sudah ditetapkan secara nasional oleh Pusat.

Adapun standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) dalam KTSP Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan untuk SMP Negeri 5 Gorontalo dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

1. Mempraktikkan senam dasar dengan teknik dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya

1.1 Mempraktikkan senam dasar dengan bentuk latihan keseimbangan bertumpu pada kaki , serta nilai disiplin,

keberanian, dan tanggung jawab 1.2 Mempraktikkan senam dasar dengan

bentuk latihan keseimbangan bertumpu selain kaki serta nilai disiplin,

keberanian dan tanggung jawab 2. Mempraktikkan berbagai

teknik dasar permainan dan olahraga dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya

2.1 Mempraktikkan variasi dan kombinasi teknik dasar salah satu permainan dan olahraga beregu senam ketangkasan dengan koordinasi yang baik serta nilai kerjasama, toleransi, percaya diri, keberanian, menghargai lawan, bersedia berbagi tempat dan peralatan**)

2.2 Mempraktikkan variasi dan kombinasi teknik dasar salah satu permainan dan olahraga senam ketangkasan dengan

(20)

20

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

koordinasi yang baik serta nilai kerjasama, toleransi, percaya diri, keberanian, menghargai lawan, bersedia berbagi tempat dan peralatan**)

2.3 Mempraktikkan variasi dan kombinasi teknik dasar lanjutan senam dengan koordinasi yang baik serta nilai percaya diri, keberanian, menjaga keselamatan diri dan orang lain, bersedia berbagi tempat dan peralatan**)

2.4 Mempraktikkan variasi dan kombinasi teknik dasar salah satu permainan olahraga senam ketangkasan dengan koordinasi yang baik serta nilai keberanian, kejujuran, menghormati lawan dan percaya diri**)

3. Mempraktikkan latihan kebugaran dalam bentuk latihan sirkuit dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya

3.1 Mempraktikkan latihan kecepatan dan kelincahan anggota badan bagian atas serta nilai disiplin dan tanggung jawab 3.2 Mempraktikkan latihan kecepatan dan

kelincahan anggota badan bagian bawah serta nilai disiplin dan tanggung jawab 4. Mempraktikkan teknik dasar

senam lantai dan nilai-nilai yang terkandung di

dalamnya

4.1 Mempraktikkan rangkaian teknik dasar gerak meroda dan guling depan serta nilai disiplin, keberanian dan tanggung jawab

4.2 Mempraktikkan rangkaian teknik dasar guling depan dan guling lenting serta nilai disiplin, keberanian dan tanggung jawab.

(21)

21

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

5. Mempraktikkan senam irama dengan alat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya

5.1 Mempraktikkan variasi gerakan

mengayun ke berbagai arah serta nilai disiplin, toleransi dan keluwesan gerak 5.2 Mempraktikkan variasi gerakan

memutar ke berbagai arah serta nilai disiplin, toleransi dan keluwesan

Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Mata pelajaran Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan di SMP Negeri 5 Gorontalo bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

1. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih

2. Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik.

3. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar

4. Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan

5. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis

6. Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan

7. Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang

(22)

22

sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif

Adapun ruang lingkup mata pelajaran Pendiidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di SMP Negeri 5 Gorontalo yang disesuaikan dengan KTSP khususnya untuk aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan tanpa alat, ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta aktivitas lainnya

1.2. Kerangka Berfikir

Upaya meningkatkan prestasi olahraga Senam khususnya dalam pembelajaran senam ketangkasan, di mana pembelajaran olahraga dan latihan pada umumnya melibatkan berbagai metode pembelajaran. Kemampuan seorang siswa tergantung dari beberapa faktor seperti:disiplin, kemampuan mental,dan kemampuan fisik dan pola gerak dominan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran yang baik akan mendukung kemampuan khususnya dalam melakukan senam ketangkasan.

Dengan demikian, penulis berasumsi pembelajaran mempunyai hubungan yang signifikan dengan pembelajaran pola gerak dominan dalam melakukan senam ketangkasan sehingga mencapai hasil yang maksimal.

1.3. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikirdi atas, maka dapat di rumuskan hipotesis sebagai berikut: “Terdapat Pengaruh Model Pembelajaran Pola Gerak Dominan Terhadap hasil Belajar Senam Ketangkasan pada siswa kelas VII SMP N 5 Gorontalo”.

Figur

Tabel  1.  Standar  Kompetensi  (SK)  dan  Kompetensi  Dasar  (KD)  Mata                           Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Tabel 1.

Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan p.19
Related subjects :