KARYA TULIS ILMIAH VARIABILITAS PARAMETER HEMODINAMIK INTRADIALISIS PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK DENGAN HEMODIALISIS BERKELANJUTAN

72 

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS ILMIAH

VARIABILITAS PARAMETER HEMODINAMIK INTRADIALISIS PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK DENGAN

HEMODIALISIS BERKELANJUTAN

Penulis

Maulana Muhtadin Suryansyah NIM. 011511133006

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

(2)

KARYA TULIS ILMIAH

VARIABILITAS PARAMETER HEMODINAMIK INTRADIALISIS PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK DENGAN

HEMODIALISIS BERKELANJUTAN

Penulis

Maulana Muhtadin Suryansyah NIM. 011511133006

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

(3)

ii

KARYA TULIS ILMIAH

VARIABILITAS PARAMETER HEMODINAMIK INTRADIALISIS PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK DENGAN HEMODIALISIS

BERKELANJUTAN

Karya Tulis Ilmiah

Untuk memenuhi persyaratan Modul Penelitian Program Studi S1 Pendidikan Dokter Fakultas kedokteran Universitas Airlangga

Penulis

Maulana Muhtadin Suryansyah NIM. 011511133006

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

(4)
(5)

iv

PENETAPAN PANITIA PENGUJI

Karya Tulis Ilmiah ini diuji dan dinilai oleh Panitia Penguji Program Studi S1 Pendidikan Dokter Universitas Airlangga

Pada tanggal 31 Oktober 2018

Panitia Penguji

Ketua : Dr. Lilik Herawati, dr., M. Kes

Pembimbing I : Prof. Mochammad Thaha, dr., Ph.D., Sp.PD, K-GH, FINASIM, FACP, FASN

(6)
(7)
(8)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji Syukur kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya karya tulis ilmiah yang berjudul “VARIABILITAS PARAMETER HEMODINAMIK INTRADIALISIS PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK DENGAN HEMODIALISIS BERKELANJUTAN” ini dapat terselesaikan dengan baik. Karya tulis ini disusun untuk memenuhi tugas Modul Penelitian serta sebagai syarat kelulusan sarjana untuk mahasiswa semester 7 program studi S1 Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu sehingga karya tulis ini dapat terselesaikan:

1. Prof. Mochammad Thaha, dr., Ph.D., Sp.PD,K-GH, FINASIM, FACP, FASN selaku dosen pembimbing 1 yang telah membimbing dan berbagai ilmu selama proses pengerjaan Karya Tulis ini dari awal hingga akhir.

2. Budiono, dr., M.Kes selaku dosen pembimbing II yang telah meluangkan waktunya dan berbagi ilmu dalam proses pengerjaan Karya Tulis Ilmiah ini. 3. Dr. Lilik Herawati, dr., M. Kes selaku dosen penguji skripsi yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing.

4. Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U(K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

5. Dr. Pudji Lestari, dr., M.Kes selaku PJMK Modul Penelitian.

6. Seluruh tim penelitian : Maulana A. Empitu, dr., MSc, Ika Nindya K, dr., MSc, Cahyo W. Nugroho, dr, SpPD, Muhammad Yusuf, dr, SpJP, PhD, Prof. Dr. Haerani Rasyid, dr, SpPD-KGH, Muhammad Amin, S.Si, MSi, Nurina Hasanatuludhhiyah, dr, Msi, Eka Arum Putri, dr., Berliana Hamidah, dr., Mas Faris, Zaky El-Hakim, Rieza R. Alda serta pihak-pihak yang sudah membantu keberhasilan penelitian tetapi tidak dapat saya sebutkan satu-persatu.

7. Keluarga saya : orang tua saya, Totok Suryanto dan Siti Miftahur Rohmah, serta kakak saya Ulya Fitriani Rohmah atas dukungan dan doanya yang tiada henti menyemangati selama pengerjaan tugas akhir ini.

8. Anggota Ndalem Musgrab : Kamil B. Suraji, Andri Subiantoro, dr., M Arif Hakim Jamhari, dr., Firman Al Faruq, Haviv Muris Saputra, Akhmad Imam Fanani, Chandra Himawan, Faldha R Ramadhan, Ahmad Maulana I Abbas, Musa, M. Wijdan R., Abdurrosyid, Ahmad Fahrur Rozi, Pandit Bagus, Wachid, Indra yang tengah memberikan semangat di tengah kesibukan masing-masing.

9. Kakak-kakak, teman-teman, dan adik-adik sejawat di Fakultas Kedokteran yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu.

(9)

viii

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam Karya Tulis Ilmiah ini. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca. Penulis juga memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam Karya Tulis Ilmiah ini. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca.

Surabaya, 22 Oktober 2018

(10)

RINGKASAN

Variabilitas Parameter Hemodinamik Intradialisis Pasien Penyakit Ginjal Kronik dengan Hemodialisis Berkelanjutan

Maulana Muhtadin Suryansyah

Berbagai studi melaporkan adanya kaitan antara tekanan darah dengan tingkat morbiditas dan mortalitas pada pasien hemodialisis. Dimana didapati jumlah mortalitas yang lebih tinggi pada pasien yang memiliki tekanan darah lebih rendah maupun lebih tinggi dibanding tekanan darah normal pada pasien hemodialisis. Sehingga menjadi perlu untuk dilakukan analisis mengenai variabilitas tekanan darah dan parameter kardiovaskular lainnya pada pasien hemodialisis berkelanjutan.

Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang (cross-sectional). Sampel peneltian adalah pasien Penyakit Ginjal Kronik Stadium 5 yang menjalani terapi hemodialisis berkelanjutan. Data yang diambil dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu data yang meliputi jenis kelamin, usia, tinggi badan, berat badan, BMI (Body Mass Index), riwayat lama hemodialisis, riwayat penyakit terdahulu, riwayat kebiasaan untuk menunjukkan karakteristik sampel dan data mengenai tekanan darah sistol, tekanan darah diastol, Mean Arterial Pressure, dan nadi yang selanjutnya diolah dengan menggunakan T-Test berpasangan dan uji Wilcoxon sesuai jenis datanya untuk dianalisis signifikansi perubahannya.

(11)

x

dengan uji tertentu namun dihitung jumlah persentasenya untuk menunjukkan besaran dan karakteristik dari populasi sampel.

Pada analisis tekanan darah sistol selama hemodialisis didapatkan hasil tidak berbeda secara bermakna antara rerata tekanan darah sistol tiap satu jam dimulai dari jam pertama hingga jam kelima selama hemodialisis dan tekanan darah sistol satu jam setelah hemodialisis. Didapatkan kecenderungan meningkat pada rata-rata tekanan darah sistol selama hemodialisis.

Pada analisis tekanan darah diastol selama hemodialisis didapatkan hasil tidak berbeda secara bermakna antara rerata tekanan darah diastol tiap satu jam dimulai dari jam pertama hingga jam kelima selama hemodialisis dan tekanan darah sistol satu jam setelah hemodialisis. Didapatkan kecenderungan meningkat pada rata-rata tekanan darah diastol selama hemodialisis.

Pada analisis nilai MAP selama hemodialisis didapatkan hasil tidak berbeda secara bermakna antara rerata tekanan darah diastol tiap satu jam dimulai dari jam pertama hingga jam kelima selama hemodialisis dan nilai MAP satu jam setelah hemodialisis. Didapatkan kecenderungan meningkat pada rata-rata nilai MAP selama hemodialisis.

(12)

ABSTRACT

Intradialysis Hemodynamic Parameters Variability of Chronic Kidney Disease Patients with Sustainable Hemodialysis

Maulana Muhtadin Suryansyah

Introduction : Various of studies report that was a link between changes in blood pressure during hemodialysis and the level of patient’s morbidity and mortality. Where found a higher amount of mortality is found in groups of patients who have lower blood pressure or who also have higher blood pressure than blood pressure in normal patients. This makes it important to know the variability of blood pressure during hemodialysis and the significance of changes.

Objective : This study aims to determine blood pressure variability, namely systolic blood pressure and diastolic blood pressure, and other blood pressure parameters, namely Mean Arterial Pressure (MAP) and number of pulses, during hemodialysis and determine the significance of changes in every hour of measurement.

Method : The design of this study used a cross-sectional method with a total sample of 15 patients who met the inclusion criteria and did not have exclusion criteria. The data obtained were processed using paired T-Test and Wilcoxon test. Result : There was no significant difference in systolic blood pressure between hourly systolic blood pressure and a tendency to increase the mean systolic blood pressure during hemodialysis. In diastolic blood pressure, there was a difference between the mean Diastol 3 in Diastol 4, p = 0.007 (<0.05), while in other meanings there were no significant differences. In the mean of diastolic blood pressure, there was a tendency to increase. In the MAP value, there is no significant difference between the average MAP per hour. While for the statistical gain it tends to increase every hour. In the average number of pulses every hour there is no significant difference in the mean time for the meanings obtained tend to increase.

(13)

xii DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM ... i

LEMBAR PERSYARATAN ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iv

PERNYATAAN ORISINALITAS ... v

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vi

UCAPAN TERIMA KASIH ... vii

RINGKASAN ... ix

1.3 Tujuan Penelitian ... 3

1.3.1 Tujuan Umum ... 4

1.3.2 Tujuan Khusus ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.4.1 Manfaat bagi Subjek Penelitian ... 4

1.4.2 Manfaat bagi Ilmu Pengetahuan... 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Penyakit Ginjal Kronik ... 5

2.1.1 Definisi Penyakit Ginjal Kronik... 6

2.1.2 Klasifikasi Penyakit Ginjal Kronik ... 5

2.1.3 Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronik... 7

(14)

2.3 Tekanan Darah ... 8

2.3.1 Tekanan Darah pada Pasien PGK ... 9

2.4 Mean Arterial Pressure (MAP) ... 11

2.5 Nadi ... 12

2.6 Hemodialisis ... 12

2.6.1 Proses Hemodialisis ... 13

BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL ... 14

3.1 Kerangka Konsep Penelitian ... 14

3.2 Penjelasan Kerangka Konseptual ... 15

BAB 4 METODE PENELITIAN... 17

4.1 Rancangan Penelitian ... 17

4.2 Populasi, Sampel, Teknik Pengambilan Sampel ... 17

4.2.1 Populasi ... 17

4.2.2 Sampel ... 17

4.2.3 Teknik Pengambilan Sampel... 17

4.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 18

4.3.1 Identifikasi Variabel Penelitian ... 18

4.3.2 Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 18

4.4 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 19

4.4.1 Lokasi Penelitian ... 19

4.4.2 Waktu Penelitian ... 19

4.5 Kriteria Subjek ... 19

4.5.1 Kriteria Inklusi ... 19

4.5.2 Kriteria Eksklusi... 20

4.6 Pengolahan Data... 20

4.7 Kerangka Operasional ... 21

BAB 5 HASIL DAN ANALISIS ... 22

5.1 Karakteristik Populasi Penelitian ... 22

5.1.1 Distribusi Usia Pasien Hemodialisis ... 22

5.1.2 Distribusi Jenis Kelamin Pasien Hemodialisis ... 23

(15)

xiv

5.1.4 Riwayat Lama Pasein Menjalani Hemodialisis... 24

5.1.5 Riwayat Kebiasaan ... 25

5.1.6 Riwayat Penyakit Pasien ... 26

5.2 Karakteristik Parameter Hemodinamik Selama Hemodialisis ... 27

5.2.1 Tekanan Darah Sistol ... 27

5.2.2 Tekanan Darah Diastol ... 30

5.2.3 MAP (Mean Arterial Pressure) ... 32

5.2.4 Nadi ... 35

BAB 6 PEMBAHASAN ... 39

6.1 Karakteristik Populasi Sampel ... 39

6.1.1 Distribusi Kelompok Umur Pasien Hemodialisis ... 39

6.1.2 Distribusi Jenis Kelamin Pasien Hemodialisis ... 39

6.2 Variabilitas Rerata Parameter Tekanan Darah Selama Hemodialisis ... 40

6.2.1 Tekanan Darah Sistol Selama Hemodialisis ... 40

6.2.2 Tekanan Darah Diastol Selama Hemodialisis ... 41

6.2.3 Mean Arterial Pressure (MAP) Selama Hemodialisis ... 43

6.2.4 Nadi Selama Hemodialisis ... 44

BAB 7 PENUTUP ... 46

7.1 Kesimpulan ... 46

7.2 Saran ... 47

DAFTAR PUSTAKA ... 48

(16)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Klasifikasi PGK dari KDIGO 2012 ... 7

Gambar 2.2 Keterkaitan Tekanan Darah Sistol dengan Penyebab Kematian pada Penyakit Ginjal Kronik ... 10

Gambar 2.3 Keterkaitan Tekanan Darah Diastolik dengan Penyebab Kematian pada Penyakit Ginjal Kronik ... 10

Gambar 2.4 Proses Hemodialisis ... 13

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Penelitian ... 14

Gambar 4.1 Kerangka Operasional ... 21

Gambar 5.1 Distribusi Jenis Kelamin Pasien Hemodialisis ... 23

Gambar 5.2 Riwayat Lama Pasien Menjalani Hemodialisis ... 25

Gambar 5.3 Lama Kebiasan Merokok Pasien Hemodialisis ... 26

Gambar 5.4 Riwayat Penyakit Hemodialisis ... 27

Gambar 5.5 Rerata Tekanan Darah Sistol Selama Hemodialisis ... 30

Gambar 5.6 Rerata Tekanan Darah Diastol Selama Hemodialisis ... 32

Gambar 5.7 Rerata MAP Selama Hemodialisis ... 34

Gambar 5.8 Rerata Nadi Selama Hemodialisis ... 37

(17)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Klasifikasi Stadium PGK Berdasarkan LFG ... 6

Tabel 4.1 Tabel Definisi Operasional Penelitian ... 18

Tabel 5.1 Pembagian Pasien Hemodialisis Berdasar Kelompok Usia ... 22

Tabel 5.2 Distribusi BMI Pasien Hemodialisis ... 24

Tabel 5.3 Perubahan Rerata Tekanan Darah Sistol Selama Hemodialisis ... 28

Tabel 5.4 Rerata Tekanan Darah Sistol Selama Hemodialisis ...29

Tabel 5.5 Perubahan Rerata Tekanan Darah Diastol Selama Hemodialisis ... 28

Tabel 5.6 Rerata Tekanan Darah Diastol Selama Hemodialisis ... 28

Tabel 5.7 Perubahan Rerata MAP Selama Hemodialisis ... 33

Tabel 5.8 Rerata MAP Selama Hemodialisis ... 34

Tabel 5.9 Perubahan Rerata Nadi Selama Hemodialisis ... 36

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

(19)

xviii

DAFTAR SINGKATAN

PGK : Penyakit Ginjal Kronik BMI : Body Mass Index

(20)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) didefinisikan sebagai kelainan

struktur atau fungsi ginjal yang terjadi selama 3 bulan atau lebih disertai

adanya implikasi pada kesehatan (KDIGO, 2013). Salah satu masalah utama

yang menjadi perhatian kesehatan global dengan prevalensinya yang

mencapai 11-13% pada populasi umum (Hill et al., 2016). PGK juga

diketahui sebagai penyakit dengan jumlah dan tingkat kejadian yang tinggi.

Hasil studi di Amerika menunjukan bahwa PGK terjadi pada 6-10%

populasi dewasa dan menyebabkan tingkat kematian sebesar 20-50% (Jha

et al., 2013). Prevalensi PGK di Indonesia sendiri mengalami peningkatan

dari 10,2% pada tahun 2002 menjadi 23.4% pada tahun 2006 (Prodjosudjadi

& Suhardjono, 2009).

Hemodialisis merupakan salah satu jenis terapi yang bisa diberikan

pada pasien PGK tahap akhir disamping dapat juga dilakukan terapi

peritoneal dialisis dan cangkok ginjal. Apabila ginjal tidak dapat bekerja

dengan efektif untuk menyaring darah hal ini akan berakibat pada

meningkatnya kadar produk metabolisme yang bersifat toksik dan

meningkatnya cairan dalam tubuh. Pada kondisi ini hemodialisis berperan

dalam menggantikan sebagian peran dari ginjal yaitu dengan membuang

(21)

Pada beberapa studi dilaporkan adanya kaitan bentuk kurva “U”

antara tekanan darah sistol dengan tingkat risiko mortalias pada pasien yang

menjalani hemodialisis, dimana ditemukan adanya tingkat mortalitas yang

lebih tinggi dikaitkan dengan tekanan darah yang lebih rendah (bahkan

dalam kisaran nilai normal) juga pada tekanan darah yang sangat tinggi.

(Bansal et al., 2015).

Tekanan darah sendiri adalah gaya yang diberikan oleh darah

terhadap dinding pembuluh darah ketika jantung memompa darah keluar

dari ventrikel. Secara umum tekanan darah dibagi menjadi tekanan darah

sistol yaitu tekanan darah maksimum ketika ventrikel jantung berkontraksi

untuk memompa darah ke pembuluh darah dan tekanan darah diastol yaitu

tekanan darah minimum yang dapat didengar sebelum kontraksi berikutnya

yaitu ketika otot jantung berelaksasi dan jantung terisi ulang (Brzenzinski,

1990).

Disamping adanya kaitan antara tekanan darah dengan tingkat risiko

mortalitas pada pasien hemodialisis dilaporkan juga adanya kaitan antara

peningkatan maupun penurunan yang signifikan pada frekuensi nadi selama

proses hemodialisis dikaitkan dengan angka mortalitas yang lebih tinggi

dibandingkan dengan pada kelompok yang memiliki penurunan frekuensi

nadi dengan penurunan yang tidak signifikan selama proses hemodialisis

(Lertdumrongluk et al. 2015).

Parameter hemodinamik merupakan parameter yang

(22)

darah, sel darah, dan komponen yang ada di dalamnya) beserta organ yang

terlibat dalam pengaturan cairan tersebut (seperti jantung dan pembuluh

darah) (Dorland, 2002). Terdapat banyak parameter hemodinamik seperti

CO/ cardiac output (L/mnt), SaO2 (%), SpO2 (%), SvO2(%), Hb (g/L) namun pada penelitian ini dilakukan pengamatan pada tekanan darah sistol,

tekanan darah diastol, MAP, dan frekuensi nadi.

Pada penelitian ini dilakukan analisis parameter hemodinamik

intradialisis pasien PGK stadium 5 setiap jamnya yaitu antara lain tekanan

darah sistol, tekanan darah diastol, nilai Mean Arterial Pressure (MAP), dan frekuensi nadi per menit serta dilakukan juga pengamatan karakteristik

populasi yaitu berupa data umur, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan,

Body Mass Index (BMI), riwayat lama menjalani hemodialisis, riwayat penyakit, dan riwayat kebiasaan.

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan data

karakteristik populasi dan variabilitas parameter hemodinamik selama

proses hemodialisis pasien PGK stadium 5 yang menjalani hemodialisis

berkelanjutan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana karakteristik pasien PGK stadium 5 yang menjalani

hemodialisis berkelanjutan ?

2. Bagaimana variabilitas parameter hemodinamik intradialisis pasien PGK

stadium 5 yang menjalani hemodialisis berkelanjutan ?

(23)

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengamati

variabilitas parameter hemodinamik pasien PGK stadium 5 yang menjalani

hemodialisis berkelanjutan.

1.3.1 Tujuan Khusus

1. Mengetahui data karakteristik pasien PGK stadium 5 yang menjalani

hemodialisis berkelanjutan.

2. Mengetahui variabilitas parameter hemodinamik intadialisis yaitu

tekanan darah sistol, tekanan darah diastol, Mean Arterial Pressure (MAP), dan frekuensi nadi pada pasien PGK stadium 5 yang menjalani hemodialisis

berkelanjutan.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat bagi Subjek Penelitian (Pasien)

Pasien dapat memperoleh informasi mengenai variabilitas

parameter hemodinamik intradialisis sehingga pasien dapat mengetahui

waktu yang tepat untuk mengkonsumsi obat yang berkaitan dengan tekanan

darah dan proses hemodialisis.

1.4.2 Manfaat bagi Ilmu Pengetahuan

Dapat menambahkan informasi mengenai adanya perubahan atau

variabilitas pada parameter hemodinamik selama proses intradialisis dan

(24)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penyakit Ginjal Kronis (PGK)

2.1.1 Definisi Penyakit Ginjal Kronis

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) didefinisikan sebagai kelaianan

struktur ataupun fungsi dari ginjal yang terjadi selama 3 bulan atau lebih,

dengan disertai adanya implikasi terhadap kesehatan. PGK ditandai oleh

beberapa kondisi, diantaranya seperti albuminuria, kelainan sedimen,

elektrolit dan kelainan lainnya akibat dari gangguan tubular, kelainan

histologi, kelainan struktur yang terdeteksi dengan proses imaging, riwayat transplantasi ginjal, Laju filtrasi Glomerulus (LFG) < 60 ml/menit/1,73 m2. (KDIGO, 2013). Dalam kondisi ini ginjal kehilangan kemampuannya untuk

membuang limbah dan cairan berlebih di dalam aliran darah (Berns, 2017).

2.1.2 Klasifikasi Penyakit Ginjal Kronis

Klasifikasi PGK dapat dilakukan berdasarkan beberapa kategori

yaitu kategori penyebab, kategori (Glomerulus Filtration Rate) GFR atau Laju Filtrasi Glomerulus (LFG), dan kategori albuminuria (KDIGO, 2013).

Dari beberapa klasifikasi tersebut, KDIGO memberi ketetapan beberapa

stadium untuk masing-masing kategori, dari normal, sedang, parah, hingga

gagal ginjal terminal.

Berdasarkan tingkat GFR KDIGO menyatakan bahwa stadium dari

(25)

stadium 5. Dimana semakin besar stadiumnya maka semakin besar pula

kerusakan ginjal yang terjadi sehingga LFG akan semakin menurun.

Stadium 1 yaitu apabila tingkat LFG pasien > 90 mL/mnt/1.73 m2. Stadium

2 jika LFG 60-89 mL/mnt/1.73 m2. Stadium 3 apabila LFG 30-59

mL/mnt/1.73 m2. Stadium 4 apabila LFG 15-29 mL/mnt/1.73 m2 dan

dikatakan sudah memasuki stadium 5 apabila tingkat LFG pasien <15

mL/mnt/1.73 m2 (National Kidney Foundation, 2002).

Tabel 2.1 Klasifikasi stadium PGK berdasarkan LFG

Stadium PGK LFG (mL/mnt/1.73 m2)

Stadium 1 > 90

Stadium 2 60-89

Stadium 3 30-59

Stadium 4 15-29

Stadium 5 <15

LFG: Laju Filtrasi Glomerulus, PGK: Penyakit Ginjal Kronis

Disamping pembagian stadium PGK yang berdasarkan pada LFG

saja, pada tahun 2012 KDIGO mengeluarkan panduan klasifikasi PGK baru.

Dimana pembagian pada panduan yang baru ini selain didasarkan pada

tingkat LFG juga menggunakan parameter kisaran kadar albumin pasien

yang dibuat dengan menggunakan tabel. Gambar 2.1 menunjukkan

klasifikasi PGK berdasarkan kadar albumin, yang dibagi menjadi 3

kelompok, yaitu A1 = kadar albumin yang normal atau sedikit meningkat

(< 30 mg/g), A2 = kadar albumin meningkat pada taraf sedang (30-300

mg/g), A3 = kadar albumin meningkat secara drastis (> 300 mg/g).

(26)

kelompok, yaitu, G1 = angka GFR/LFG normal atau tinggi (≥ 90), G2 =

angka GFR/LFG sedikit berkurang (60-89), G3a = angka GFR/LFG

berkurang pada taraf cukup tinggi hingga sedang (45-59), G3b = angka

GFR/LFG berkurang pada taraf sedang hingga parah (30-44), G4 = angka

GFR/LFG menurun sangat drastis (15-29), G5 = terjadi gagal ginjal di mana

nilai GFR/LFG sudah sangat rendah (< 15) (KDIGO, 2013).

Gambar 2.1 Klasifikasi PGK dari KDIGO 2012

2.1.3 Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronis

Penyakit ginjal kronis (PGK) memiliki beberapa faktor risiko. Di

antaranya terdapat faktor risiko yang dapat dicegah dan tidak. Faktor risiko

yang tidak dapat dicegah antara lain adalah usia yang semakin menua,

riwayat penyakit ginjal keluarga, kurangnya massa ginjal saat anak-anak,

(27)

risiko yang dapat dicegah adalah hipertensi, diabetes, penyakit autoimun,

infeksi sistemik, infeksi saluran kemih, batu saluran kemih, obstruksi

saluran kemih bawah, dan toksisitas obat-obatan (Putri & Thaha 2014).

2.2 Parameter Hemodinamik

Parameter hemodinamik adalah parameter yang menunjukkan aliran

darah di tubuh. Parameter hemodinamik dapat dibagi menjadi parameter

primer dan parameter derivative. Parameter hemodinamik primer

diantaranya seperti HR/ heart rate (kali/menit), MAP/ mean arterial pressure

(mmHg), CVP/ central venous pressure atau RAP/ right atrial pressure

(mmHg), LAP/ left atrial pressure atau PAOP/ pulmonary artery pressure

(mmHg), PAP/ mean pulmonary artery pressure (mmHg), CO/ cardiac

output (L/mnt), SaO2 (%), SpO2 (%), SvO2(%), Hb (g/L). Sementara

parameter hemodinamik derivatif diantaranya seperti stroke volume =

CO/HR x 1000 (mL/mnt), total peripheral resistance (MAP/CO)x80

(dyne.s/cm5), dan systemic vascular resistance = (MAP-RAP)/COx80

(dyne.s/cm5) (Sivarajan & Bohn 2011).

2.3 Tekanan Darah

Tekanan darah adalah gaya yang diberikan oleh darah terhadap

dinding pembuluh darah ketika jantung memompa. Secara umum tekanan

darah dibagi menjadi tekanan darah sistol dan tekanan darah diastolik.

Tekanan darah sistol merupakan tekanan darah maksimum ketika ventrikel

jantung berkontraksi untuk memompa darah ke pembuluh darah. Tekanan

(28)

sebelum kontraksi berikutnya yaitu ketika otot jantung berelaksasi dan

jantung terisi ulang. Tekanan darah diukur menggunakan satuan milimeter

air raksa/ milimeter Hydrargirum (mmHg) dan biasanya ditulis dengan cara

tekanan sistol/ tekanan diastol. Seperti: 120/80 mmHg. 120 berarti tekanan

darah sistol sebesar 120 mmHg dan 80 berarti tekanan darah diastol sebesar

80 mmHg (Brzezinski, 1990).

2.3.1 Tekanan Darah pada Pasien PGK

Studi obervasional melaporkan adanya kaitan antara parameter

tekanan darah yaitu tekanan darah sistol dan (TDS) tekanan darah diastolik

(TDD) dengan kondisi ginjal pasien serta penyebab-penyebab kematian.

Sebagian besar dari penelitian tersebut melaporkan bahwa TDS dan TDD

yang lebih tinggi berkaitan dengan meningkatnya risiko kematian. Sedang

beberapa penelitian lainnya juga melaporkan hal ini berkaitan dengan

kecepatan progesititas penyakit ginjal (Peralta et al. 2012., Anderson et al.

2015). Sebaliknya, beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa TDS dan

TDD yang rendah juga terkait dengan angka mortalitas yang lebih tinggi

(29)

Gambar 2.2 Keterkaitan antara tekanan darah sistol dengan penyebab-penyebab

kematian pada penyakit ginjal kronis (Navaneethan et al. 2017)

(30)

Gambar 2.3 Keterkaitan antara tekanan darah diastolik dengan penyebab kematian

pada penyakit ginjal kronis (Navaneethan et al. 2017)

Beberapa penelitian melaporkan bahwa terdapat kaitan antara

tekanan darah dengan tingkat risiko morbiditas dan mortalitas pada pasien

hemodialisis. Disebutkan bahwa berdapat suatu hubungan paradoks dari

hasil pengamatan mengenai tekanan darah yang disebut dengan

epidemiologi terbalik (reverse epidemiology) atau paradoks faktor risiko (rik factor paradox). Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa tekanan darah yang tinggi atau hipertensi maupun tekanan darah yang rendah akan

berkaitan kuat dengan hasil kondisi yang buruk pasien End-Stage Renal Disease (ESDR) yang menjalani dialisis (Kalantar-Zadeh et al. 2003).

2.4 Mean Arterial Pressure (MAP)

Mean Arterial Pressure (MAP) didefinisikan sebagai rata-rata tekanan darah arteri seseorang dalam satu siklus jantung (Brzezinski, 1990). Nilai

MAP dapat diperoleh dengan menghitung tekanan darah sistol dan tekanan darah

diastol pasien yaitu dengan menggunakan rumus :

Keterangan

MAP : Mean Arterial Pressure

(31)

SBP : Systolic Blood Presure/Tekanan Darah Sistol

2.5 Nadi

Nadi atau yang dikenal dengan dengan denyut nadi didefinisikan

sebagai denyutan pada pembuluh nadi atau arteri radialis yang berirama dan

dapat diraba dengan jari tangan. Nadi dapat diraba dengan menggunakan

jari tangan dan dihitung jumlahnya dalam setiap satu menit (Dorland, 2002).

2.6 Hemodialisis

Hemodialisis (HD) adalah suatu prosedur yang dilakukan untuk menggantikan sebagian peran penting ginjal saat gagal ginjal terjadi, hemodialisis sangat dibutuhkan oleh pasien gagal ginjal kronis stadium 5. Saat ginjal sudah tidak bisa bekerja secara efektif dan normal, produk limbah dan cairan berlebih akan memenuhi darah, HD akan menggantikan tugas ginjal untuk membuang atau mengeluarkan produk limbah dan juga cairan berlebih dalam darah (Berns, 2017).

Hemodialisis dapat memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien PGK, terlebih bagi pasien yang sudah mencapai stadium 5. Hemodialisis menimbulkan efek penurunan cairan intra-dialisis dan pergeseran volume, penurunan pembuangan volume intra-dialisis, serta mengurangi efek racun dan stres oksidatif. Meningkatkan frekuensi HD dapat mengurangi akumulasi racun atau cairan yang tidak diperlukan dalam tubuh, sehingga diharapkan dapat mengurangi risiko komplikasi penyakit kardiovaskular (Shafiee et al. 2017).

(32)

2.6.1 Proses Hemodialisis

Sebelum dilakukan hemodialisis terlebih dahulu dilakukan tes

fungsi ginjal antara lain untuk melihat kadar serum kreatinin dan

menghitung estimasi tingkat filtrasi glomerulus estimated glomerular

filtration rate (eGFR). Semakin tinggi kadar kreatinin menunjukkan

semakin rendahnya fungsi ginjal. Proses hemodialisis dilakukan apabila

fungsi ginjal kurang dari 15% dari fungsi normal. Proses hemodialisis

berlangsung seperti pompa yang menghisap darah pasien menuju tabung

melalui jarum. Darah melalui membran dialiser di dalam tabung. Dalam

dialiser ini darah akan disaring melalui serat-serat tipis. Setelah darah

melalui dialiser dan disaring, dengan tabung yang berbeda, darah kemudian

akan dibawa kembali ke tubuh melalui jarum kedua (Berns, 2017).

(33)

14

BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL

3.1 Kerangka Konsep Penelitian

(34)

3.2 Penjelasan Kerangka Konseptual

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan kelainan pada struktur

atau fungsi ginjal. Terjadinya PGK dapat dipicu oleh berbagai macam

penyebab diantaranya seperti riwayat penyakit yang telah diderita oleh

pasien terlebih dahulu misalnya penyakit diabetes mellitus tipe 1 & 2,

hipertensi, adanya infeksi, batu ginjal dan penyebab lainnya yang dapat

berakibat pada penurunan fungsi ginjal hingga akhirnya menyebabkan

terjadinya terjadinya PGK (Sarnak & Jaber 2000, Rule et al. 2009,

VanDeVoorde & Mitsnefes 2011, Nasri & Rafieian-Kopaei 2015).

PGK dapat diklasifikasi menjadi beberapa kategori yaitu kategori

penyebab, kategori (Glomerulus Filtration Rate) GFR atau Laju Filtrasi Glomerulus (LFG), dan kategori albuminuria (KDIGO, 2017). Pada gambar

di atas digunakan pembagian PGK berdasarkan LFG yang dikelompokkan

menjadi 6 kelompok yaitu: 1, 2, 3a, 3b, 4, 5. Kelompok 1 yaitu dengan LFG

: ≥ mL/mnt. Kelompok 2 yaitu LFG : 89-60 ≥ mL/mnt. Kelompok 3a dengan

LFG : 59-45 mL/mnt. Kelompok 3b dengan LFG : 44-30 mL/mnt.

Kelompok 4 dengan LFG : 29-15 mL/mnt. Kelompok 5 dengan LFG kurang

dari 15 mL/mnt (www.kidney.org, 2017).

Pada pasien PGK stadium 5 terjadi kegagalan fungsi ginjal sehingga

terapi yang diberikan adalah penggantian fungsi dari ginjal. Pilihan terapi

yang dapat diberikan adalah dialisis atau dengan transplantasi ginjal.

Apabila tidak memungkinkan dilakukan transplantasi ginjal maka dapat

dilakukan dialisis sebagai terapi pilihannya. Hal ini dilakukan untuk

(35)

dialisis yang digunakan yaitu hemodialisis dan peritoneal dialisis. Pada

penelitian ini pasien yang terlibat menggunakan pilihan terapi hemodialisis

yang ada di rumah sakit sebagai terapinya.

Beberapa penelitian melaporkan bahwa terdapat kaitan antara

tekanan darah dengan tingkat risiko mortalitas pada pasien hemodialisis.

Hal ini didasarkan pada jumlah mortalitas yang lebih tinggi pada pasien

yang memiliki tekanan darah lebih rendah maupun lebih tinggi dibanding

pada pasien hemodialisis dengan tekanan darah yang normal (Bansal et al., 2015).

Beberapa faktor yang mempengaruhi adanya perubahan atau

variabilitas pada tekanan darah pasien PGK ialah stres oksidatif, disfungsi

dinding endotel, peningkatan retensi ion natrium, aktivasi saraf simpatetik,

aktivasi sistem Renin-Angiotensin, aktivasi endotelin, kekakuan dinding

arteri, dan terjadinya inflamasi (Velasquez et al. 2016).

Dalam sebuah penelitian mengenai hipotensi intradialisis dilakukan

pengamatan pada beberapa parameter untuk mengetahui proses penurunan

tekanan darah. Parameter hemodinamik yang digunakan adalah tekanan

darah sistol, tekanan darah diastol, nilai MAP, dan jumlah denyut nadi

(Kuipers et al. 2016). Pada penelitian ini parameter yang diamati antara lain

adalah tekanan darah sistol, tekanan darah diastol, nilai MAP, denyut nadi

per menit yang diamati setiap satu jam selama dilakukannya proses

hemodialisis dan satu jam setelah dilakukannya hemodialisis. Data yang

(36)

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian jenis analitik

obervasional potong lintang (cross sectional study). Pengamatan dilakukan dalam satu waktu tertentu dan data dikumpulkan pada saat yang bersamaan.

4.2 Populasi, Sampel, Teknik Pengambilan Sampel 4.2.1 Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien yang berkunjung

atau dirawat di Poli Penyakit Dalam dan Rawat Inap Rumah Sakit

Universitas Airlangga, Rumah Sakit Premier Surabaya,dan Rumah Sakit

Royal Surabaya pada bulan Juni hingga bulan Agustus tahun 2017 dan

didiagnosis PGK.

4.2.2 Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah pasien PGK ≥ 21 tahun, sedang

menjalani proses hemodialisis, serta bersedia untuk diperiksa dan menjadi

responden dengan mengisi kuisioner yang diberikan.

4.2.3 Teknik Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik total

sampling, yaitu semua pasien yang berkunjung ke di Poli Penyakit Dalam

dan Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Airlangga, Rumah Sakit Premier

(37)

Agustus tahun 2017 yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak mempunyai

kriteria eksklusi. Parameter yang diamati yaitu tekanan darah sistol, tekanan

darah diastol, dan frekuensi nadi diukur setiap jam selama proses

hemodialisis dan satu jam setelah proses hemodialisis oleh satu orang yang

sama.

4.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel Penelitian

4.3.1 Indentifikasi Variabel Penelitian

A. Variabel Bebas

Variabel bebas pada penelitian ini adalah waktu pengamatan pada

parameter yang diamati yaitu setiap satu jam.

B. Variabel Terikat

Variabel terikat pada penelitian ini adalah tekanan darah sistol,

tekanan darah diastol, MAP, dan frekuensi nadi intradialisis pasien.

4.3.2 Definisi Operasional Variabel Penelitian

Definisi operasional variabel penelitian dijelaskan pada tabel berikut:

Tabel 4.1 Tabel Definisi Operasional Penelitian.

(38)

kontraksi

4.4 Lokasi dan Waktu Penelitian

4.4.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Universitas Airlangga,

Rumah Sakit Premier Surabaya, dan Rumah Sakit Royal Surabaya

4.4.2 Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2017 hingga bulan Agustus 2017.

4.5 Kriteria Subjek 4.5.1 Kriteria Inklusi

1. Subjek dewasa, yaitu berusia ≥ 21 tahun.

(39)

3. Subjek hemodialisis terkategori sebagai pasien PGK yang telah menjalani

hemodialisis ≥ 3 bulan serta stabil:

 Menjalani hemodialisis ≥ 2 kali/minggu

 Hb ≥ 10 g/dL

4.5.2 Kriteria Eksklusi

1. Terdapat tanda-tanda klinis infeksi.

2. Terdapat tanda-tanda dehidrasi.

3. Terdapat tanda-tanda klinis kelebihan cairan yang menyebabkan edema.

4.6 Pengolahan Data

Data yang didapatkan kemudian diolah menggunakan aplikasi analisis

statistik, yaitu SPSS (Statistical Package for the Social Sciences). Data yang didapat diuji terlebih dahulu distribusinya kemudian dilanjutkan

(40)

4.7 Kerangka Operasional

(41)

22

BAB 5

HASIL DAN ANALISIS

Sampel pada pada penelitian ini adalah pasien PGK di Poli Penyakit Dalam

dan Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Airlangga, Rumah Sakit Premier

Surabaya,dan Rumah Sakit Royal Surabaya pada bulan Juni hingga bulan Agustus

tahun 2017 dengan didiagnosis PGK, sedang menjalani proses hemodialisis, serta

memenuhi kriteria inkluasi dan tidak memiliki kriteria eksklusi.

5.1 Karakteristik Populasi Penelitian

5.1.1 Distribusi Usia Pasien Hemodialisis

Pada populasi sampel penelitian distribusi umur pasien

dikelompokkan menjadi beberapa bagian. Didapatkan pasien pada

kelompok usia 0-40 tahun sebanyak 1 orang dengan persentase sebesar

6.7%. Demikian juga dengan pasien pada kelompok usia 41-50 tahun yaitu

sebanyak 1 orang dengan persentasae 6.7%. Pada kelompok usia 51-60

tahun didapatkan 5 pasien dengan persentase yang cukup besar yaitu 33.3%.

Sedangkan pada kelompok usia 61-70 tahun merupakan kelompok usia

yang memiliki jumlah terbanyak yaitu 7 orang dengan persentase 46.6 %.

Pada kelompok usia diatas 70 tahun terdapat satu pasien yaitu dengan

persentase sebesar 6.7%.

Tabel 5.1 Pembagian Pasien Hemodialisis Berdasarkan Kelompok Usia.

(42)

2 41-50 1 6.7%

3 51-60 5 33.3%

4 61-70 7 46.6%

5 >70 1 6.7%

Jumlah 15 100%

5.1.2 Distribusi Jenis Kelamin Pasien Hemodialisis

Dari sampel penelitian didapatkan distribusi jenis kelamin pasien

yang menjalani hemodialisis tidak berbeda jauh antara laki-laki dan

perempuan. Didapatkan distribusi jenis kelamin pada populasi penelitian

dengan jumlah pasien laki-laki sebanyak 7 orang dan persentase sebesar

46.7%. Sedangkan pasien perempuan memiliki jumlah yang lebih banyak

yaitu 8 orang dengan persentase 53.3%.

Gambar 5.1 Distribusi Jenis Kelamin Pasien Hemodialisis 46.70%

53.30%

(43)

5.1.3 Distribusi BMI (Body Mass Index) Pasien Hemodialisis

Dari hasil perhitungan dari tinggi badan dan berat badan pasien

didapatkan nilai BMI pasien yang selanjutnya dikelompokkan berdasarkan

kelompok nilai BMI dan interpretasinya. Jumlah BMI yang berhasil

dikumpulkan sebanyak 14 buah dikarenakan terdapat satu pasien yang tidak

diukur tinggi bandannya sehingga tidak terdapat data mengenai tinggi badan

pasien tersebut. Tidak didapatkan pasien pada kelompok underweight. Pada

kelompok BMI normal didapatkan 6 orang pasien yaitu dengan presentase

sebesar 42.7%. Pada kelompok BMI overweight juga didapatkan sebanyak

6 orang pasien dengan presentase 42.7%. Kelompok BMI obesity

didapatkan sebanyak 2 orang dengan persentase 14.6%.

Tabel 5.2 Distribusi BMI Pasien Hemodialisis

No Kelompok BMI Jumlah (orang) Persentase (%)

1 Underweight (<18.5) 0 0%

2 Normal (18.5-24.9) 6 42.7%

3 Overweight (25-29.9) 6 42.7%

4 Obesity (≥30) 2 14.6%

Jumlah 14 100%

5.1.4 Riwayat Lama Pasien Menjalani Hemodialisis

Lama waktu pasien menjalani terapi hemodialisis cukup bervariasi

pada setiap pasien. Lama pasien yang menjalani hemodialisis adalah 4 bulan

(44)

yang paling lama adalah 72 bulan. Didapatkan rata-rata lama pasien

menjalani terapi hemodialisis adalah selama 22 bulan.

Gambar 5.2 Riwayat Lama Pasien Menjalani Hemodialisis.

5.1.5 Riwayat Kebiasaan

Dari sampel 15 pasien yang digunakan didapatkan 3 orang pasien

memiliki kebiasaan merokok dengan durasi yang berbeda. Seorang pasien

dengan lama kebiasan merokok selama 20 tahun, yang lainnya selama 25

tahun, sedangkan yang lainnya lagi selama memiliki riwayat merokok

(45)

Gambar 5.3 Lama Kebiaasaan Merokok Pasien Hemodialisis.

5.1.6 Riwayat Penyakit Pasien

Dari anamnesis yang dilakukan didapatkan informasi mengenai

riwayat penyakit yang dimiliki pasien diantaraya diabetes mellitus,

hipertensi, gagal jantung, penyakit jantung koroner. Jumlah pasien yang

memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus yaitu sebanyak 7 orang. Jumlah

pasien yang memiliki riwayat penyakit hipertensi sebanyak 13 orang.

Jumlah pasien yang memiliki riwayat penyakit gagal jantung sebanyak 8

orang. Jumlah pasien yang memiliki riwayat penyakit jantung koroner

(46)

Gambar 5.4 Riwayat Penyakit Pasien Hemodialsis

5.2 Variabilitas Parameter Hemodinamik Selama Hemodialisis

Dilakukan pengamatan dan analisis pada beberapa parameter

hemodinamik selama terapi hemodialisis diantaranya adalah tekanan darah

sistol, tekanan darah diastol, MAP (Mean Arterial Pressure), dan nadi.

5.2.1 Tekanan Darah Sistol

Dilakukan pengamatan pada perubahan parameter tekanan darah

sistol tiap interval satu jam dan satu jam setelah dilakukan hemodialisis.

Sistol 1 menunjukkan tekanan darah sistol pada saat jam pertama, Sistol 2

menunjukkan tekanan darah sistol pada saat jam kedua, demikian

seterusnya sampai Sistol 5 sementara Sistol Post HD menunjukkan tekanan

darah sistol satu jam setelah hemodialisis. Setelah didapatkan data tekanan

darah sistol setiap interval satu jamnya selanjutnya dilakukan pengujian

data tekanan darah sistol dengan menggunakan uji T-Test berpasangan

0 2 4 6 8 10 12 14

(47)

karena distribusi datanya yang normal untuk mengetahui apakah terdapat

perubahan yang signifikan dari tekanan darah sistol setiap jamnya.

Didapatkan hasil sebagaimana dijelaskan berikut. Antara Sistol 1 dan Sistol

2 didapatkan hasil tidak berbeda dengan harga p=0.355(>0.05) dan

rerata±SD sebesar 4. Antara Sistol 2 dan Sistol 3 didapatkan hasil tidak

berbeda dengan p=0.722(>0.05) dan rerata±SD -1.786 dikarenakan rerata

Sistol 2 lebih besar dibandingkan Sistol 3. Antara Sistol 3 dan Sistol 4

didapatkan p=0.132(>0.05) sehingga tidak berbeda dengan rerata±SD

10.583. Antara Sistol 4 dan Sistol 5 didapatkan hasil tidak berbeda dengan

p=1 dan rerata 0 karena nilai rerata antara Sistol 4 dan Sistol 5 didapatkan

bernilai sama. Antara Sistol 5 dan Sistol Post HD didapatkan hasil tidak

berbeda dengan p=0.782 dan rerata ±SD 4.167. Selanjutnya dibandingkan

antara Sistol 1 dengan Sistol Post HD untuk membandingkan apakah

terdapat perbedaaan yang signifikan antara tekanan darah pada jam pertama

dengan tekanan darah satu jam setelah dilakukan hemodialisis. Didapatkan

hasil tidak berbeda secara bermakna antara Sistol 1 dengan Sistol Post HD

yaitu dengan nilai p=0.199 dan rerata±SD=8.4.

Tabel 5.3 Perubahan Rerata Tekanan Darah Sistol Selama Hemodialisis

(48)

Pada rerata tekanan darah sistol selama proses hemodialisis didapatkan hasil

sebagai berikut: pada pengamatan ke-1 rerata sistol sebesar 155.6 mmHg,

pada pengamatan ke-2 rerata sistol 159.6 mmHg, pada pengamatan rerata

ke-3 didapatkan hasil 159.14 mmHg, pada pengamatan ke-4 reratanya

sebesar 161.33 mmHg, pada pengamatan ke-5 didapatkan rerata 161.33

mmHg, pada pengamatan 1 jam Post HD didapatkan rerata 164 mmHg.

Apabila diamati rerata tekanan darah sistol cenderung meningkat dari

pengamatan pertama hingga Post HD.

Tabel 5.4 Rerata Tekanan Darah Sistol Selama Hemodialisis

Pengamatan ke- Rerata Sistol (mmHg)

1 155.6

2 159.6

3 159.14

4 161.33

5 161.33

(49)

Gambar 5.5 Rerata Tekanan Darah Sistol Selama Hemodialisis

5.2.2 Tekanan Darah Diastol

Dilakukan pengamatan pada perubahan parameter tekanan darah

diastol tiap interval satu jam dan satu jam setelah dilakukan hemodialisis.

Diastol 1 menunjukkan tekanan darah diastol pada saat jam pertama, Diastol

2 menunjukkan tekanan darah diastol pada saat jam kedua, demikian

seterusnya sampai Diastol 5 sementara Diastol Post HD menunjukkan

tekanan darah diastol satu jam setelah hemodialisis. Selanjutnya dilakukan

pengujian data tekanan darah diastol dengan menggunakan uji T-Test

berpasangan karena distribusi datanya yang normal untuk mengetahui

apakah terdapat perubahan yang signifikan dari tekanan darah sistol setiap

jamnya. Didapatkan hasil sebagai berikut. Antara Diastol 1 dan Diastol 2

tidak berbeda dengan nilai p=0.408(>0.05) dan rerata±SD 2.133. Antara

Diastol 2 dan Diastol 3 didapatkan hasil tidak berbeda dengan harga

Sistol 1 Sistol 2 Sistol 3 Sistol 4 Sistol 5 Post HD

Rerata Sistol

(50)

dibandingkan Diastol 3. Antara Diastol 3 dan Diastol 4 didapatkan hasil

terdapat perberbedaan dengan nilai p=0.007(<0.05) dan rerata±SD 10.167.

Antara Diastol 4 dan Diastol 5 didapatkan hasil tidak berbeda dengan nilai

p=0.732(>0.05) dan rerata±SD -2.833 dikarenakan nilai Diastol 4 lebih

besar dbandingkan Diastol 5. Antara Diastol 5 dan Diastol Post HD

didapatkan hasil tidak berbeda dengan nilai p=0.68(>0.05) dan

rerata±SD=4.333. Selanjutnya dibandingkan antara Diastol 1 dengan

Diastol Post HD didapatkan hasil tidak berbeda secara bermakna degan nilai

p=0.182(>0.05) dan rerata±SD=4.467.

Tabel 5.5 Perubahan Rerata Tekanan Darah Diastol Selama Hemodialisis

Tekanan Diastolik Rerata ± SD Harga P

Diastol 1-2 2.133 0.408

Diastol 2-3 -3.214 0.254

Diastol 3-4 10.167 0.007

Diastol 4-5 -2.833 0.732

Diastol 5-Post HD 4.333 0.68

Diastol 1-Post HD 4.467 0.182

Pada rerata tekanan darah diastol selama proses hemodialisis

didapatkan hasil sebagai berikut: pada pengamatan ke-1 rerata diastol

sebesar 82.2 mmHg, pada pengamatan ke-2 rerata sistol 84.3 mmHg, pada

pengamatan rerata ke-3 didapatkan hasil 81.429 mmHg, pada pengamatan

ke-4 reratanya sebesar 87.917 mmHg, pada pengamatan ke-5 didapatkan

rerata 79.167 mmHg, pada pengamatan 1 jam Post HD didapatkan rerata

(51)

Tabel 5.6 Rerata Tekanan Darah Diastol Setiap Jam Selama Hemodialisis

Pengamatan ke- Rerata Diastol (mmHg)

1 82.2

Gambar 5.6 Rerata Tekanan Darah Diastol Selama Hemodialisis

5.2.3 Mean Arterial Pressure (MAP)

Dilakukan pengamatan pada perubahan parameter MAP tiap

interval satu jam selama hemodialisis dan satu jam setelah dilakukan

hemodialisis. Nilai MAP didapatkan dari nilai sistol dan nilai diastol tiap

jamnya. MAP 1 menunjukkan nilai MAP pada saat jam pertama, MAP 2

menunjukkan MAP pada saat jam kedua, demikian seterusnya sampai MAP

5 sementara MAP Post HD menunjukkan MAP satu jam setelah dilakukan

hemodialisis. Selanjutnya dilakukan pengujian data MAP dengan

74

Diastol 1 Diastol 2 Diastol 3 Diastol 4 Diastol 5 Diastol Post HD

Rerata Diastol

(52)

menggunakan uji T-Test berpasangan karena distribusi datanya yang

normal untuk mengetahui apakah terdapat perubahan yang signifikan dari

MAP setiap jamnya. Didapatkan hasil sebagai berikut. Antara MAP 1 dan

MAP 2 didapatkan hasil tidak berbeda dengan p=0.316(>0.05) dan

rerata±SD 2.76. Antara MAP 2 dan MAP 3 didapatkan hasil tidak berbeda

dengan nilai p=0.405(>0.05) dan rerata±SD -2.74 dikarenakan nilai MAP 2

lebih besar dibandingkan nilai MAP3. Antara MAP 3 dan MAP 4

didapatkan hasil tidak berbeda dengan nilai p=0.16(>0.05) dan nilai

rerata±SD=10.31. Antara MAP 4 dan MAP 5 didapatkan hasil tidak berbeda

dengan nilai p= 0.853(>0.05) dan rerata±SD -1.89 dikarenakan nilai MAP

4 lebih besar dibandingkan MAP 5. Antara MAP 5 dan MAP Post HD

didapatkan hasil tidak berbeda dengan nilai p=0.705(>0.05) dan

rerata±SD=4.28. Antara MAP 1 dan MAP Post HD didapatkan hasil tidak

berbeda dengan nilai p=0.151(>0.05) dan nilai rerata±SD=5.78.

Tabel 5.7 Perubahan Rerata MAP Selama Hemodialisis

MAP Rerata ± SD Harga P

MAP 1-2 2.76 0.316

MAP 2-3 -2.74 0.405

MAP 3-4 10.31 0.16

MAP 4-5 -1.89 0.853

MAP 5-Post HD 4.28 0.705

MAP 1-Post HD 5.78 0.151

Pada rerata MAP selama proses hemodialisis didapatkan hasil

(53)

pada pengamatan ke-2 rerata MAP sebesar 109.42 mmHg, pada

pengamatan rerata ke-3 didapatkan hasil 107.33 mmHg, pada pengamatan

ke-4 reratanya sebesar 113.47 mmHg, pada pengamatan ke-5 didapatkan

rerata MAP sebesar 104.89 mmHg, pada pengamatan 1 jam Post HD

didapatkan rerata MAP sebesar 112.44 mmHg.

Tabel 5.8 Rerata MAP Selama Hemodialisis

Pengamatan ke- Rerata MAP (mmHg)

1 106.67

Gambar 5.7 Rerata MAP Selama Hemodialisis

(54)

5.2.4 Nadi

Dilakukan pengamatan pada perubahan parameter hemodinamik

tiap interval satu jam dan satu jam setelah dilakukan hemodialisis. Nadi 1

menunjukkan tekanan darah diastol pada saat jam pertama, Nadi 2

menunjukkan tekanan darah diastol pada saat jam kedua, demikian

seterusnya sampai Nadi 5 sementara Nadi Post HD menunjukkan frekuensi

nadi satu jam setelah hemodialisis. Pada uji normalitas data nadi didapatkan

terdapat dua kelompok data yang tidak berdistribusi normal yaitu data Nadi

4 dan Nadi Post HD sehingga dilakukan dua tes berbeda untuk mengetahui

adakah perbedaan yang bermakna antara data Nadi tiap interval satu

jamnya. Data Nadi 1, Nadi 2, dan Nadi 3 diuji dengan uji T-Test

berpasangan. Didapatkan hasil sebagai berikut. Antara Nadi 1 dan Nadi 2

didapatkan hasil tidak berbeda secara bermakna dengan nilai p=0.55(>0.05)

dan rerata±SD=0.8. Antara Nadi 2 dan Nadi 3 didapatkan hasil tidak

berbeda secara bermakna dengan nilai p=0.42(>0.05) dan rerata±SD=2.29.

Sementara untuk data yang diuji pasangannya dengan Nadi 4 dan Nadi Post

HD yaitu data Nadi 3, Nadi 5, Nadi 1 dilakukan uji dengan tes Wilcoxon

karena kedua data tersebut menunjukkan hasil yang tidak berdistribusi

normal yaitu dengan nilai p=0.16 dan p=0.002 secara berurutan (untuk uji

normalitas seharusnya p>0.05). Antara Nadi 3 dan Nadi 4 didapatkan hasil

tidak berbeda secara bermakna dengan nilai p=0.54(>0.05) dan

rerata±SD=6.7. Antara Nadi 4 dan Nadi 5 didapatkan hasil tidak berbeda

secara bermakna dengan nilai p=0.416(>0.05) dan rerata±SD=3.5. Antara

(55)

dengan nilai p=0.598(>0.05) dan rerata±SD=4.33. Selanjutnya

dibandingkan antara Nadi 1 dan Nadi Post HD untuk mengamati apakah

terdapat perbedaan yang bermakna antara nadi pada jam pertama dengan

nadi pada satu jam setelah dilakukan hemodialisis. Didapatkan hasil tidak

berbeda secara bermakna antara Nadi 1 dan Nadi Post HD dengan nilai

p=0.310 dan rerata±SD=6.67.

Tabel 5.8 Perubahan Rerata Nadi Selama Hemodialisis

Nadi Rerata ± SD Harga p

Nadi 1-2 0.8 0.55

Nadi 2-3 2.286 0.42

Nadi 3-4 6.7 0.54

Nadi 4-5 3.5 0.416

Nadi 5-Post HD 4.33 0.598

Nadi 1-Post HD 6.67 0.310

Pada rerata nadi selama proses hemodialisis didapatkan hasil

sebagai berikut: pada pengamatan ke-1 rerata diastol sebesar 70 kali/menit,

pada pengamatan ke-2 rerata sistol 70.8 kali/menit terjadi peningkatan dari

sebelumnya, pada pengamatan rerata ke-3 didapatkan hasil 73.571

kali/menit yaitu meningkat dari pengamatan sebelumnya, pada pengamatan

ke-4 didapatkan rerata sebesar 75.455 kali/menit yaitu meningkat dibanding

pengamatan sebelumnya, pada pengamatan ke-5 didapatkan rerata 77.167

kali/menit yaitu meningkat dibanding pegamatan sebelumnya, pada

pengamatan 1 jam Post HD didapatkan rerata frekuensi nadi sebesar 73,533

(56)

hemodialisis. Apabila diamati secara keseluruhan terjadi peningkatan pada

frekuensi nadi pada jam pertama hingga jam kelima kemudian terjadi

penurunan frekuensi pada saat satu jam Post HD.

Tabel 5. Rerata Nadi Setiap Jam Selama Hemodialisis

Pengamatan ke- Rerata Nadi (kali/menit)

1 70

2 70.8

3 73.571

4 75.455

5 77.167

Post HD 73.533

Gambar 5.8 Rerata Nadi Selama Hemodialisis

66 68 70 72 74 76 78

Nadi 1 Nadi 2 Nadi 3 Nadi 4 Nadi 5 Nadi Post HD

Rerata Nadi

(57)

5.2.5 Rerata Sistol, Diastol, dan MAP Selama Proses Hemodialisis

Rerata antara sistol, diastol, dan MAP digabungkan dalam tabel 5. .

Rerata tekanan darah sistol didapatkan cenderung meningkat yaitu pada

pengamtan ke 1-2, ke 2-3, ke 3-4, ke 5-Post HD terjadi peningkatan rerata.

Rerata tekanan darah diastol terlihat naik turun namun lebih banyak terjadi

peningkatan yaitu pada pengamatan ke 1-2, ke 3-4, ke 5-Post HD sedangkan

pada pengamatan ke 2-3, ke 4-5 terjadi penurunan rerata. Rerata nilai MAP

didapatkan naik turun namun didapatkan lebih banyak terjadi peningkatan

yaitu pada pengamatan ke 1-2, ke 3-4, ke 5-Post HD sedangkan pada

pengamatan ke 2-3, dan ke 4-5 terjadi penurunan.

Gambar 5.9 Rerata Sistol, Diastol, dan MAP Selama Proses Hemodialisis

0 20 40 60 80 100 120 140 160 180

1 2 3 4 5 Post HD

(58)

BAB 6 PEMBAHASAN

6.1 Karakteristik Populasi Sampel

6.1.1 Distribusi Kelompok Umur Pasien Hemodialisis

Berdasarkan tabel 5.1 pada bab 5 didapatkan mengenai informasi

mengenai distribusi kelompok umur pasien yang menjalani hemodialisis.

Peneliti mengelompokkan umur anak menjadi 4 kelompok umur yaitu < 40

(6.7%), 41-50 (6.7%), 51-60 (33.3%), 61-70 (46.6%), dan > 70 (6.7%)

untuk memudahkan dalam analisis data. Berdasarkan data yang diperoleh

dari penelitian ini didapatkan bahwa terdapat peningkatan jumlah pasien

yang menjalani hemodialisis seiring dengan peningkatan usia pasien. Hasil

yang serupa juga ditemukan pada penelitian yang lain yaitu dari 183 pasien

laki-laki yang menjalani hemodialisis didapati bahwa persentase jumlah

pasien yang menjalani hemodialisis cenderung meningkat seiring dengan

meningkatnya kelompok umur namun tidak diberikan keterangan secara

jelas alsan mengenai terjadinya peningkatan presentasi ini.(Gerasimoula et

al. 2015)

6.1.2 Distribusi Jenis Kelamin Pasien yang Menjalani Hemodialisis

Berdasarkan gambar 5.1 didapatkan informasi mengenai distribusi

jenis kelamin pada pasien hemodialisis. Didapatkan bahwa jumlah pasien

dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan memiliki jumlah yang sama

yaitu 11 orang. Sehingga didapati bahwa tidak terdapat perbedaan jumlah

(59)

6.2 Variabilitas Parameter Hemodinamik Selama Hemodialisis

6.2.1 Tekanan Darah Sistol Selama Hemodialisis

Hasil pengujian dengan T-Test antara Sistol 1-Sistol 2, Sistol

2-Sistol 3, 2-Sistol 3-2-Sistol 4, 2-Sistol 4-2-Sistol 5, 2-Sistol 5-2-Sistol Post HD, 2-Sistol

1-Sistol Post HD didapatkan tidak berbeda secara bermakna. Dimana secara

statistik antara Sistol 1 dan Sistol 2 mengalami peningkatan. Antara rerata

Sistol 2 dan Sistol 3 terjadi penurunan. Antara rerata Sistol 3 dan Sistol 4

mengalami peningkatan. Antara rerata Sistol 4 dan Sistol 5 tidak terdapat

perbedaan rerata secara statistik. Antara rerata Sistol 5 dan Sistol Post HD

terjadi peningkatan. Antara rerata Sistol 1 dan Sistol Post HD terdapat

peningkatan. Secara keseluruhan tidak terdapat kenaikan atau penurunan

yang terus-menerus antara satu rerata sistol ke rerata sistol berikutnya

namun terdapat kecenderung untuk terjadi peningkatan rerata sistol setiap

jamnya apabila melihat Sistol 1 ke Sistol 2, Sistol 3 ke Sistol 4, Sistol 5 ke

Sistol Post HD, dan Sistol 1 ke Sistol Post HD yang menunjukkan terjadinya

peningkatan rerata.

Pada pengamatan rerata parameter hemodinamik tekanan darah

sistol selama proses hemodialisis tidak didapatkan adanya perbedaan yang

signifikan antar rerata tiap jamnya, namun didapatkan kecenderungan untuk

meningkat apabila diamati dari jam pertama hingga 1 jam post HD. Adanya

kecenderungan terjadi peningkatan tekanan darah selama proses

hemodialisis dapat disebabkan oleh adanya beberapa faktor yang mendasari

(60)

Renin-Angiotensin-Aldosteron, disfungsi sel endotel, faktor dialisis

(asupan natrium, kalsium, hipokalemia), faktor medis (obat penstimulasi

eritropoetin, penghentian obat antihipertensi, dan kekakuan vaskular (Inrig

2010). Dalam literatur lain juga menyebutkan beberapa mekanisme yang

berperan pada proses peningkatan tekanan darah pada dialisis yaitu adanya

volume ekstraselular yang berlebih, vasokontriksi pembuluh darah, dan

diasilat ion natrium (Van Buren & Inrig 2016).

Hasil yang lain didapatkan pada studi yang dilakukan oleh Kuipers

dkk. yang menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan untuk terjadinya

penurunan secara terus-menerus pada tekanan darah sistol selama

dilakukannya hemodialisis pada pasien (Kuipers et al. 2016).

6.2.2 Tekanan Darah Diastol Selama Hemodialisis

Pengujian dengan T-Test antara Diastol 1-Diastol 2, Diastol

2-Diastol 3, 2-Diastol 3-2-Diastol 4, 2-Diastol 4- 2-Diastol 5, 2-Diastol 5-2-Diastol Post

HD, Diastol 1-Diastol Post HD didapatkan hasil tidak berbeda secara

bermakna. Pada uji berpasangan antara rerata Diastol 1 dan Diastol 2 terjadi

peningkatan. Antara rerata Diastol 2 dan Diastol 3 terjadi penurunan. Antara

rerata Diastol 3 dan Diastol 4 terjadi peningkatan. Antara Diastol 4 dan

Diastol 5 terdapat penurunan rerata. Antara rerata Diastol 5 dan Diastol Post

HD terjadi peningkatan. Antara Diastol 1 dan Diastol Post HD terdapat

peningkatan. Apabila diamati secara keseluruhan tidak terdapat penurunan

atau peningkatan yang terjadi secara terus-menerus antara satu rerata diastol

(61)

peningkatan tekanan darah diastol apabila melihat rerata tekanan darah

Diastol 1 ke Diastol 2, Diastol 3 ke Diastol 4, Diastol 5 ke Diastol Post HD,

Diastol 1 ke Diastol Post HD yang menunjukkan terjadinya peningkatan

rerata dimana Diastol 2 ke Diastol 3 dan Diastol 4 ke Diastol 5 menunjukkan

terjadinya penurunan rerata.

Pada pengamatan rerata tekanan darah sistol selama proses

hemodialisis didapatkan adanya perbedaan yang signifikan yaitu pada

diastol ke-3 dan ke-4 dimana terjadi peningkatan tekanan darah sedangkan

pada rerata yang lain tidak ditemukan adanya perbedaan yang bermakna.

Juga didapatkan adanya kecenderungan terjadinya peningkatan tekanan

darah apabila diamati dari tekanan darah diastol pertama hingga tekanan

darah diastol 1 jam post HD.

Pada proses hemodialisis adanya kecenderungan terjadi peningkatan

tekanan darah dapat disebabkan oleh adanya beberapa hal yang mendasari

yaitu : volume overload, aktivitas simpatik yang berlebihan, aktivasi sistem

Renin-Angiotensin-Aldosteron, disfungsi sel endotel, faktor dialisis

(asupan natrium, kalsium, hipokalemia), faktor medis (obat penstimulasi

eritropoetin, penghentian obat antihipertensi, dan kekakuan vaskular (Inrig

2010).

Sedang pada studi lain juga ada yang mendapatkan kecenderungan

terjadi penurunan secara bertahap tekanan darah diastol selama proses

hemodialisis (Kuipers et al. 2016). Pada studi mengenai penurunan tekanan

(62)

penyebab adalah menurunnya cardiac preload, penurunan cardiac output, plasma refill yang tidak adekuat, penurunan resistensi periferal (Reeves &

McCausland 2018).

6.2.3 Mean Arterial Pressure (MAP) Selama Hemodialisis

Pengujian dengan T-Test pada rerata MAP antara MAP 1-MAP 2,

MAP 2-MAP 3, MAP 3-MAP 4, MAP 4-MAP 5, MAP 5-MAP Post HD

didapatkan hasil yang tidak berbeda secara bermakna. Melalui uji

berpasangan didapatkan hasil antara rerata MAP 1 dan MAP 2 terjadi

peningkatan. Antara rerata MAP 2 dan MAP 3 terjadi penurunan. Antara

MAP 3 dan MAP 4 terjadi peningkatan. Antara MAP 4 dan MAP 5 terjadi

penurunan. Antara MAP 5 dan MAP Post HD terjadi peningkatan. Antara

MAP 1 dan MAP Post HD terjadi peningkatan. Secara keseluruhan tidak

ditemukan terjadinya penurunan atau peningkatan yang terus menerus pada

rerata MAP ke rerata MAP berikutnya. Akan tetapi didapatkan

kecenderungan terjadi peningkatan rerata nilai MAP apabila melihat pada

rerata MAP 1 ke MAP 2, MAP 3 ke MAP 4, MAP 5 ke MAP Post HD, dan

MAP 1 ke MAP Post HD yang menunjukkan terjadinya peningkatan rerata

sedangkan rerata MAP 3 ke MAP 4 dan MAP 4 ke MAP 5 menunjukkan

terjadinya penurunan rerata.

Mengingat MAP merupakan hasil perhitungan dari tekanan darah

sistol dan diastol (Brzezinski, 1990)., beberapa faktor yang mempengaruhi

terjadinya peningkatan tekanan darah juga dapat mempengaruhi nilai MAP

(63)

Renin-Angiotensin-Aldosteron, disfungsi sel endotel, faktor dialisis

(asupan natrium, kalsium, hipokalemia), faktor medis (obat penstimulasi

eritropoetin, penghentian obat antihipertensi, dan kekakuan vaskular (Inrig

2010).

Pada studi yang lain juga didapatkan adanya kecenderungan terjadi

penurunan nilai MAP selama proses hemodialisis yang terjadi secara

bertahap (Kuipers et al. 2016). Pada kasus penurunan nilai MAP beberapa

faktor yang diduga berperan dalam terjadinya penurunan tekanan darah

selama proses hemodialisis juga berperan yaitu : menurunnya cardiac preload, penurunan cardiac output, plasma refill yang tidak adekuat, dan terjadinya penurunan resistensi periferal (Reeves & McCausland 2018).

6.2.4 Nadi Selama Hemodialisis

Pada data denyut nadi per menit dilakukan dua jenis tes karena hasil

dari uji normalitas didapatkan berbeda yaitu dengan uji T-Test berpasangan

untuk distribusi data yang normal dan uji Wilcoxon untuk jenis data dengan

distribusi tidak normal pada hasil yang didapatkan Rerata antara Nadi 1 dan

Nadi 2 didapatkan peningkatan. Antara rerata Nadi 2 dan Nadi 3 terdapat

peningkatan. Antara Nadi 3 dan Nadi 4 terjadi peningkatan. Antara Nadi 4

dan Nadi 5 terjadi peningkatan. Kemudian dilanjutkan dengan

membandingkan rerata Nadi 1 dan Nadi Post HD didapatkan hasil rerata

meningkat. Secara keseluruhan didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa

(64)

Pada pengamatan frekuensi denyut nadi tidak didapatkan adanya

perbedaaan yang signifikan antar frekuensi tiap jamnya. Namun didapatkan

kecenderungan adanya peningkatan rerata tiap jamnya dari saat pengamatan

jam pertama hingga 1 jam post HD.

Hasil serupa didapatkan dengan hasil dari studi lainnya yang

menunjukkan bahwa terjadi peningkatan secara bertahap pada frekuensi

denyut nadi per menit selama proses hemodialsis (Kuipers et al. 2016).

Meningkatnya frekuensi nadi selama proses hemodialisis pada pasien dapat

disebabkan oleh menurunnya kontrol otonom perifer, menurunnya cardiac

baroreflex, dan aktivitas simpatik pada tekanan darah dan detak jantung

yang rendah (Titapiccolo et al. 2012). Peningkatan maupun penurunan yang

signifikan pada frekuensi nadi selama proses hemodialisis dikaitkan dengan

angka mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan pada kelompok

yang memiliki penurunan frekuensi nadi secara tidak signifikan selama

proses hemodialisis (Lertdumrongluk et al. 2015).

Sedang pada studi lainnya didapatkan hasil yang sebaliknya yaitu

adanya penurunan frekuensi denyut nadi selama proses hemodialisis.

Adanya penurunan frekuensi nadi selama proses hemodialisis ini dikaitkan

dengan peningkatan kekakuan dinding arteri yang terjadi selama sesi

(65)

46

BAB 7 PENUTUP

7.1 Kesimpulan

 Karakteristik populasi pasien PGK stadium 5 yang menjalani hemodialisis

berkelanjutan didapatkan persentase terbesar didapatkan pada kelompok

61-70 tahun, serta didapatkan adanya kecenderungan terjadi peningkatan

persentase jumlah pasien dengan peningkatan usia. Antara jenis kelamin

laki-laki dan perempuan tidak didapatkan perbedaan yang signifikan.

 Variabilitas parameter hemodinamik selama proses hemodialisis

didapatkan hasil sebagai berikut : pada tekanan darah sistol tidak terdapat

perbedaan yang signifikan antar rerata setiap satu jamnya dan didapatkan

kecenderungan untuk meningkat selama proses hemodialisis, pada tekanan

darah diastol antara diastol ke-3 dan 4 didapatkan adanya perbedaan yang

signifikan serta didapatkan kecenderungan untuk meningkat selama proses

hemodialisis, pada MAP tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar

rerata setiap satu jamnya serta didapatkan kecenderungan untuk meningkat

selama proses hemodialisis, pada frekuensi nadi tidak terdapat perbedaan

yang signifikan antar rerata setiap satu jamnya serta didapatkan

(66)

7.2 Saran

 Terkait didapatkannya hasil terjadi peningkatan pada parameter tekanan

darah sistol, tekanan darah diastol, dan nilai MAP dengan beberapa faktor

yang dapat menyebabkannya (yaitu volume overload, aktivitas simpatik

yang berlebihan, aktivasi sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron, disfungsi

sel endotel, faktor dialisis (asupan natrium, kalsium, hipokalemia), faktor

medis (obat penstimulasi eritropoetin, penghentian obat antihipertensi, dan

kekakuan vaskular) disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut pada

faktor-faktor tersebut guna mengetahui penyebab pasti terjadinya

peningkatan parameter-parameter hemodinamik yang diamati selama

proses hemodialisis.

Figur

Tabel 2.1 Klasifikasi stadium PGK berdasarkan LFG
Tabel 2 1 Klasifikasi stadium PGK berdasarkan LFG . View in document p.25
Gambar 2.1 Klasifikasi PGK dari KDIGO 2012
Gambar 2 1 Klasifikasi PGK dari KDIGO 2012 . View in document p.26
Gambar 2.2 Keterkaitan antara tekanan darah sistol dengan penyebab-penyebab
Gambar 2 2 Keterkaitan antara tekanan darah sistol dengan penyebab penyebab . View in document p.29
Gambar 2.4 Proses hemodialisis (NIDDK, 2017)
Gambar 2 4 Proses hemodialisis NIDDK 2017 . View in document p.32
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Penelitian
Gambar 3 1 Kerangka Konseptual Penelitian . View in document p.33
Tabel 4.1 Tabel Definisi Operasional Penelitian.
Tabel 4 1 Tabel Definisi Operasional Penelitian . View in document p.37
Gambar 4.1 Kerangka Operasional
Gambar 4 1 Kerangka Operasional. View in document p.40
Gambar 5.1 Distribusi Jenis Kelamin Pasien Hemodialisis
Gambar 5 1 Distribusi Jenis Kelamin Pasien Hemodialisis . View in document p.42
Tabel 5.2 Distribusi BMI Pasien Hemodialisis
Tabel 5 2 Distribusi BMI Pasien Hemodialisis . View in document p.43
Gambar 5.2 Riwayat Lama Pasien Menjalani Hemodialisis.
Gambar 5 2 Riwayat Lama Pasien Menjalani Hemodialisis . View in document p.44
Gambar 5.3 Lama Kebiaasaan Merokok Pasien Hemodialisis.
Gambar 5 3 Lama Kebiaasaan Merokok Pasien Hemodialisis . View in document p.45
Gambar 5.4 Riwayat Penyakit Pasien Hemodialsis
Gambar 5 4 Riwayat Penyakit Pasien Hemodialsis . View in document p.46
Tabel 5.3 Perubahan Rerata Tekanan Darah Sistol Selama Hemodialisis
Tabel 5 3 Perubahan Rerata Tekanan Darah Sistol Selama Hemodialisis . View in document p.47
Tabel 5.4 Rerata Tekanan Darah Sistol Selama Hemodialisis
Tabel 5 4 Rerata Tekanan Darah Sistol Selama Hemodialisis . View in document p.48
Gambar 5.5 Rerata Tekanan Darah Sistol Selama Hemodialisis
Gambar 5 5 Rerata Tekanan Darah Sistol Selama Hemodialisis . View in document p.49
Tabel 5.5 Perubahan Rerata Tekanan Darah Diastol Selama Hemodialisis
Tabel 5 5 Perubahan Rerata Tekanan Darah Diastol Selama Hemodialisis . View in document p.50
Gambar 5.6 Rerata Tekanan Darah Diastol Selama Hemodialisis
Gambar 5 6 Rerata Tekanan Darah Diastol Selama Hemodialisis . View in document p.51
Tabel 5.6 Rerata Tekanan Darah Diastol Setiap Jam Selama Hemodialisis
Tabel 5 6 Rerata Tekanan Darah Diastol Setiap Jam Selama Hemodialisis . View in document p.51
Tabel 5.7 Perubahan Rerata MAP Selama Hemodialisis
Tabel 5 7 Perubahan Rerata MAP Selama Hemodialisis . View in document p.52
Gambar 5.7 Rerata MAP Selama Hemodialisis
Gambar 5 7 Rerata MAP Selama Hemodialisis . View in document p.53
Tabel 5.8 Perubahan Rerata Nadi Selama Hemodialisis
Tabel 5 8 Perubahan Rerata Nadi Selama Hemodialisis . View in document p.55
Tabel 5. Rerata Nadi Setiap Jam Selama Hemodialisis
Tabel 5 Rerata Nadi Setiap Jam Selama Hemodialisis . View in document p.56
Gambar 5.8 Rerata Nadi Selama Hemodialisis
Gambar 5 8 Rerata Nadi Selama Hemodialisis . View in document p.56
Gambar 5.9 Rerata Sistol, Diastol, dan MAP Selama Proses Hemodialisis
Gambar 5 9 Rerata Sistol Diastol dan MAP Selama Proses Hemodialisis . View in document p.57

Referensi

Memperbarui...