HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN EMOSI DENGAN AGGRESSIVE DRIVING PADA PENGEMUDI BUS

12 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN EMOSI DENGAN AGGRESSIVE DRIVING PADA PENGEMUDI BUS

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata 1 pada Fakultas Psikologi

Oleh:

RISKA MUSTIKAWATI F 100 130 025

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2017

(2)

i

HALAMAN PERSETUJUAN

HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN EMOSI DENGAN AGGRESSIVE DRIVING PADA PENGEMUDI BUS

PUBLIKASI ILMIAH

oleh:

RISKA MUSTIKAWATI F 100 130 025

Telah diperiksa dan disetujui untuk diuji oleh:

Dosen Pembimbing

Dr. Nanik Prihartanti, M.Si., Psi. NIK. 540

(3)

ii

HALAMAN PENGESAHAN

HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN EMOSI DENGAN AGGRESSIVE DRIVING PADA PENGEMUDI BUS

OLEH

RISKA MUSTIKAWATI F.100 130 025

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Fakultas Psikologi

Universitas Muhammadiyah Surakarta Pada hari Sabtu, 19 Agustus 2017 dan dinyatakan telah mememenuhi syarat

Dewan Penguji:

1. Dr. Nanik Prihartanti, M.Si, Psi. (____________________) (Ketua dewan penguji)

2. Santi Sulandari, S.Psi., M.Ger (____________________) (Anggota I dewan penguji)

3. Susatyo Yuwono, S.Psi., M.Si (____________________) (Anggota II dewan penguji)

Dekan,

Dr. Moordiningsih, Msi, Psikolog NIK/NIDN. 876/0615127401

(4)

iii

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam naskah publikasi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya, tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila kelak terbukti ada ketidakbenaran dalam pernyataan saya di atas, maka akan saya pertanggungjawabkan sepenuhnya.

Surakarta, 10 Agustus 2017

Penulis

RISKA MUSTIKAWATI F 100 130 025

(5)

1

HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN EMOSI DENGAN AGGRESSIVE DRIVING PADA PENGEMUDI BUS

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada hubungan antara kematangan emosi dengan aggressive driving pada pengemudi bus. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan negatif antara kematangan emosi dengan aggressive driving pada pengemudi bus. Subjek dalam penelitian ini adalah pengemudi bus yang berjumlah 80 subjek, yang diambil dari populasi berjumlah 500 pengemudi bus yang diperoleh berdasarkan jumlah bus pada masing-masing PO yakni pada bus eka, mira dan sugeng rahayu. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling aksidental. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala dengan menyebar kuesioner. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala aggressive driving dan skala kematangan emosi. Teknik analisis data menggunakan formula korelasi Product Moment Pearson dengan menggunakan SPSS versi 16.00. Koefisien korelasi ( r ) yang diperoleh sebesar -0,518 dengan taraf signifikansi 0,000 (p < 0,05). Hasil analisis dari penelitian ini menyatakan bahwa hipotesis diterima, yaitu ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara kematangan emosi dengan aggressive driving pada pengemudi bus. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa sumbangan efektif kematangan emosi terhadap aggressive driving sebesar 26,8%. Maka terdapat 73,2% dipengaruhi oleh faktor lain diluar faktor kematangan emosi yang mempengaruhi aggressive driving pengemudi bus.

Kata Kunci: Aggressive Driving, Kematangan Emosi, Pengemudi Bus

ABSTRACT

The purpose of this study to determine whether there is a relationship between emotional maturity with aggressive driving on bus driver. The hypothesis is a negative correlation between emotional maturity with aggressive driving on bus driver. The subject of this research were 80 subject as bus driver taken from population of 500 bus driver based on amount of buses in each PO which is Eka, Mira and Sugeng Rahayu bus. Technic sampling in this study using acsidental sampling technic. Data collection method in this study using scale with spreading the questionnaire. Measure tool in this study using emotional maturity scale and aggressive driving scale. Data were analyzed using Pearson product moment

(6)

2

correlation by SPSS 16.0. Correlation correlate (r) is -0,518 with sig. 0,000 (p<0,05). The result of the analysis of this research explain that hypothesis accepted so there is a negative relationship which is so significant between emotional maturity with aggressive driving. This result shows effective contribution of emotional maturity to aggressive driving is 26,8%. It means there are 73,2% of other variables besides emotional maturity that can influence aggressive driving of bus driver

Keyword: Aggressive driving, bus driver, emotional maturity

1. PENDAHULUAN

Kecelakaan lalu lintas pada zaman sekarang ini merupakan masalah yang umum terjadi dalam penyelenggaraan sistem transportasi di banyak negara. Salah satunya yaitu pada negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia, kecelakaan lalu lintas ini cenderung mengalami peningkatan, awal Januari 2009 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, diberlakukan. Kecelakaan yang sering terjadi saat ini harus mendapat perhatian secara sungguh-sungguh dalam suatu organisasi industri atau perusahaan. Kecelakaan akan mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi perusahaan, penumpang, pekerja maupun pengguna jalan lainnya. Kecelakaan Bus sering terjadi di Indonesia, Penyebab Kecelakaan biasanya karena faktor human error, yang tercermin dalam perilaku berbahaya dalam mengemudikan bus. Kesalahan dan pelanggaran dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan pada pengemudi itu sendiri dan akan merugikan orang-orang yang ada disekitarnya (Hastuti dkk, 2013).

Menurut Utari (2016) perilaku aggressive driving tidak selamanya berujung selamat, hal ini dapat dilihat dari banyaknya kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh perilaku aggressive driving. Perilaku mengemudi yang agresif adalah kestabilan emosi yang masih rendah, hal ini biasanya efek dari usia dan jenis kelamin yang masih kurang bisa dikontrol (Anitei, chraif, Burtaverde, & Mihaila, 2014).

(7)

3

Menurut Tasca (2000) aggressive driving yaitu apabila pengemudi dengan sengaja, ingin meningkatkan resiko tabrakan dan dimotivasi oleh ketidaksabaran, kekesalan, permusuhan, dan suatu cara yang dilakukan untuk menghemat waktu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tasca (2000) bahwa aggressive driving cenderung meningkatkan risiko tabrakan. Selain itu dapat pula diakatakan bahwa aggressive driving merupakan perilaku yang beresiko.

Menurut Chamberlain (1960), kematangan emosi adalah seseorang yang bisa mengendalikan emosionalnya, bisa menahan diri, bisa mengkontrol dan bisa mengendalikan hidupnya dengan baik. Kematangan emosi dapat dipahami dalam hal kemampuan kontrol diri yang pada gilirannya adalah hasil berpikir dan belajar (Pastey & Aminbhavi, 2006).

Chaplin (2005) mendefinisikan kematangan emosi adalah suatu keadaan atau kondisi dalam perkembangan emosional seseorang, yang sering kali terdapat pada remaja-remaja, yang mana remaja tersebut secara emosional belum matang sehingga menimbulkan sikap agresif dan berpengaruh dalam aktivitas keseharian, termasuk ketika mengemudi yang mengakibatkan timbulnya perilaku ugal-ugalan. Menurut Chaplin, kematangaan emosi adalah suatu keadaan atau kondisi mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosional dan pribadi yang bersangkutan terdapat keterlibatan kontrol emosional (Guswani & Kawuryan, 2011).

Menurut Walter D. Smitson, kematangan emosi adalah sebuah proses kepribadian yang akan terus berusaha untuk menyeimabangkan kesehatan emosional dan jiwa, yang keduanya sebagai kekuatan dalam hidup (Manoj & Mishra, 2016).

Berdasarkan fenomena sehari-hari dapat dilihat bahwa banyak pengendara yang melanggar tanda-tanda lalu lintas. Tingkah laku melanggar tanda-tanda lalu lintas ini merupakan salah satu contoh dari tingkah laku mengendara agresif yang dapat membahayakan pengguna jalan lainnya. Mengingat semakin sempitnya ruang gerak, tingginya jumlah penduduk, dan banyaknya

(8)

4

kendaraan yang tidak sebanding dengan jumlah jalan yang disediakan, mengakibatkan kemacetan lalu lintas. Yang kemudian muncullah kemacetan di berbagai tempat yang memberikan tekanaan tersendiri bagi pengemudi. Ketika macet pengemudi harus lebih berkonsentrasi karena jarak antar kendaraan sangat sempit. Tingkah laku agresif yang secara nyata dapat dilihat oleh pengemudi bus adalah melanggar tanda-tanda lalu lintas. Pengemudi bus sering kali menaikkan dan menurunkan penumpang disembarangan tempat tanpa memperhatikan tempat pemberhentian (halte) yang sudah disediakan. Selain itu, pengemudi bus juga sering melanggar lampu merah. Tingkah laku tersebut dapat membahayakan pengendara lain dan penumpang yang ada di dalamnya (Ayuningtyas dkk, 2007).

Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perilaku mengemudi agresif ini dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal ini berasal dari dalam diri individu itu sendiri salah satunya kematangan emosi, yang kurang baik. Apabila seseorang telah matang secara emosi maka akan dapat mengontrol emosinya dan dapat mengelolanya dengan baik. Sedangkan faktor eksternal yaitu reaksi yang telah diluapkan individu berupa luapan rasa kecewa, marah, jengkel dan kegembiraan yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Hasil penelitian ini juga mendukung pendapat Walgito (2004) yang mengatakan bahwa seseorang yang telah matang secara emosi maka akan menerima keadaan diri sendiri maupun orang lain apa adanya, dapat mengontrol emosi dan bertanggung jawab (Rahayu, 2008).

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan tersebut maka muncul rumusan masalah yang akan diajukan yakni apakah ada hubungan antara kematangan emosi dengan aggressive driving pada pengemudi bus?. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kematangan emosi dengan aggressive driving pada pengemudi bus.

2. METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kematangan emosi dan variabel

(9)

5

tergantungnya adalah aggressive driving. Populasi dalam penelitian ini adalah pengemudi bus (sopir bus) mira.eka, sugeng rahayu antar kota yang berjumlah 500 pengemudi bus yang diperoleh berdasarkan jumlah bus pada masing-masing PO.. Pada penelitian ini, sampel yang digunakan sebanyak 80 orang pengemudi bus. Menurut Arikunto (2006), yaitu apabila populasi berjumlah besar diatas 100, maka sampel yang diambil 10-25 %. Dalam penelitian ini akan menggunakan cara pengambilan sampel dengan teknik sampling aksidental. Alat ukur yang digunakan adalah skala aggressive driving dan skala kematangan emosi. Penelitian ini menggunakan analisis statistik teknik korelasi product moment dengan SPSS 16.0 untuk menguji hipotesis.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis data penelitian menggunakan teknik uji korelasi parametrik dengan program SPSS for windows versi 16.0. Menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara kematangan emosi dengan aggressive driving dengan pengemudi bus. Artinya semakin tinggi tingkat kematangan emosi maka akan semakin rendah tingkat Aggressive Driving. Begitu juga sebaliknya semakin rendah tingkat kematangan emosi maka akan semakin tinggi tingkat Aggressive Driving. Hal tersebut dapat dilihat pada koefisien korelasi ( r ) antara aggressive driving dengan kematangan emosi yaitu – 0,518 pada taraf signifikan 0,000 dengan probabilitas (p < 0,05), yang mana hal tersebut dapat diartikan bahwa antara kematangan emosi dengan aggressive driving berkorelasi negatif. Hal tersebut berarti semakin tinggi tingkat kematangan emosi maka semakin rendah tingkat aggressive driving, begitu juga sebaliknya semakin rendah tingkat kematangan emosi maka akan semakin tinggi pula tingkat aggressive driving pada pengemudi bus.

Dilihat dari nilai Rerata Empirik pada variabel Kematangan Emosi sebesar 75,65. Hal ini membuktikan bahwa subjek yang memiliki tingkat Kematangan Emosi Tinggi yaitu sebanyak 45 dari 80 subjek, dan 32 dari 80 subjek memiliki tingkat kematangan emosi sangat tinggi, sedangkan 3 dari 80 subjek lainnya memiliki kematangan emosi sedang. Kematangan emosi dapat

(10)

6

dipahami dalam hal kemampuan kontrol diri yang pada gilirannya adalah hasil berpikir dan belajar. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Allport ( Schultz, 2003) yang mengatakan bahwa seseorang yang matang secara emosi akan cenderung berperilaku menyimpang lebih kecil, salah satunya adalah aggressive driving. Artinya, semakin tinggi kematangan emosi semakin rendah aggressive driving. Sebaliknya, semakin rendah kematangan emosi maka akan semakin tinggi aggressive driving. Ketika emosi seseorang matang dan dapat mengontrol dirinya maka perilakunya juga akan sesuai dengan norma dan aturan yang ada sehingga tingkat aggressive driving bisa ditekan. Hal ini sependapat dengan Hurlock (2002) bahwa individu yang matang secara emosi akan memiliki kontrol diri yang baik, mampu menunjukkan ekspresi emosinya dengan tepat dan sesuai dengan keadaan yang sedang dihadapi, sehingga individu tersebut mampu beradaptasi dengan baik dan memberikan reaksi yang tepat dan sesuai dengan keadaan yang sedang dialami.

Sumbangan efektif dari variabel kematangan emosi dengan variabel aggressive driving ini dapat dilihat dari koefisien determinasi yang diperoleh dari hasil kuadrat koefisien korelasi (r2) sebesar 26,8 %. Maka terdapat 73,2 % yang dipengaruhi oleh faktor lain di luar faktor kematangan emosi yang mempengaruhi aggressive driving pengemudi bus. Faktor yang mempengaruhi aggressive driving menurut Tasca (2000) adalah usia dan jenis kelamin, anonimitas, faktor sosial, kepribadian, gaya hidup, keterampilan mengemudi,dan faktor lingkungan.

Berdasarkan dari hasil penelitian dan uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis diterima, sehingga dapat dinyatakan ada hubungan negatif antara kematangan emosi dengan aggressive driving.

4. PENUTUP

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa, ada hubungan negatif antara kematangan emosi dengan aggressive driving pada pengemudi bus. Artinya, semakin tinggi kematangan

(11)

7

emosi semakin rendah aggressive driving. Sebaliknya, semakin rendah kematangan emosi maka akan semakin tinggi aggressive driving. Sumbangan efektif yang diberikan kematangan emosi sebesar 26, 8 %. terhadap aggressive driving, maka terdapat 73,2 % yang dipengaruhi oleh faktor lain, di luar faktor kematangan emosi yang mempengaaruhi aggressive driving.

Hasil dari penelitian, pembahasan, dan kesimpulan yang telah diperoleh, maka peneliti memberikan sumbangan saran yang diharapkan dapat bermanfaat, yaitu diharapkan bagi pengemudi bus kedepannya akan tetap berhati-hati dalam kondisi apapun pada saat mengemudi dan patuhi peraturan dalam berlalu lintas. Utamakan keamanan dan keselamatan penumpang dan diri sendiri. Pengemudi bus supaya menurunkan tingkat aggressive driving dan meningkatkan kematangan emosinya. Seseorang dikatakan matang dan dapat mengontrol dirinya sendiri . maka ia akan berperilaku, bersikap, dan bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku, sehingga tingkat aggressive drivingnya lebih rendah dan kematangan emosinya akan meningkat. Bagi perusahaan diharapkan bekerjasama dengan pihak kepolisian atau pihak yang bertanggung jawab dengan peraturan berlalu lintas, supaya memberikan penyuluhan atau pembinaan mengenai pentingnya menjaga keselamatan dan keamanan berkendara. Selain itu juga membentuk sikap profesional dan kecintaan terhadap profesi. Yang mana untuk menurunkan tingkat aggressive driving dan meningkatkan kematangan emosi pengemudi bus. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan supaya memperhatikan kekurangan-kekurangan dalam penelitian ini seperti aspek-aspek dan faktor-faktor dari kematangan emosi dan aggressive driving, supaya peneliti selanjutnya lebih bisa mengembangkan dan memperluasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Aiken, L. R. (1985). Three Coefficients For Analyzing The Reliability And Validity Of Ratings. Educational And Psychological Measurement , hal. 133.

(12)

8

Anitei, M., Chraif, M., Burtaverde, V., & Mihaila, T. (2014). The Big Five Personality Factors In The Prediction Of Aggressive Driving Behavior Among Romanian Youngsters. International Journal Of Traffic And Transportation Psychology , Volume 2.

Ayuningtyas, D. S., & Santoso, G. A. (2007). Hubungan Antara Intensi Untuk Mematuhi Rambu-Rambu Lalu Lintas Dengan Perilaku Melanggar Lalu Lintas Pada Sopir Bus Di Jakarta. Jps Vol.13 No.01 , 1-12.

Chaplin, J. P. 2011. Kamus lengkap psikologi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Guswani, A. M., & Kawuryan, F. (2011). Perilaku Agresi Pada Mahasiswa Ditinjau Dari Kematangan Emosi. Jurnal Psikologi Pitutur, Volume I, No 2.

Hastuti, Ayu Happy; Nuzulia, Siti ; Fadhallah, R.A. (2013). Hubungan Antara Self Regulated Behavior Dengan Unsafe Behavior Pada Sopir Bus Di Kota Semarang. Journal Of Social And Industrial Psychology / Volume Issn 2252-6838 , 20-21.

J. P. (2016). Penelitian Kuantitatif Untuk Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar M.P.M, F. J., & K., D. V. (2016). Investigation On Emotional Maturity And

Cultural Intelligence Among Adolescence Of Kerala. Journal of Research & IOSR Journal of Research & Method in Education (IOSR) , e-ISSN : 2320-7388, p-ISSN : 2320-737 X Volume.6.

Pastey, G. S., & Aminbhavi, V. A. (2006). Impact Of Emotional Maturity On Stress And Self Cofidence Of Adolescents. Journal Of The Indian Academy Of Applied Psychology, , Vol. 32, No.1, 66-70.

Tasca, Leo. 2000. A review of the literature on aggressive driving research. Road User safety Branch Canada. Diambil dari http://www.aggressive drivers.com/papers/tasca.pdf

Utari. (2016). Hubungan Aggressive Driving Dan Kematangan Emosi Dengan Disiplin Berlalu Lintas Pada Remaja Pengendara Sepeda Motor Di Samarinda. Ejournal Psikologi, Issn 2477-2674, Ejournal.Psikologi.Fisip-Unmul.Org , 4 (3): 352-360.

Widowati, P. C. (2009). Hubungan Antara Kematangan Emosi Dengan Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja Akhir. Skripsi , 61-63.

Figur

Memperbarui...

Referensi

  1. /www.aggressive
Related subjects :