TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI

308 

Teks penuh

(1)

i

TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU

TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA

BERBASIS METODE MONTESSORI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Disusun Oleh:

Tarsisius Ferry Koko Gustomo 101134147

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

i

TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU

TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA

BERBASIS METODE MONTESSORI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Disusun Oleh:

Tarsisius Ferry Koko Gustomo 101134147

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini peneliti persembahkan kepada:

1. Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan segala berkat dan pertolongan selama proses penyusunan skripsi.

2. Ayahku THC. Kamido dan Ibuku M. Purwantini yang selalu memotivasi dan mendoakan yang terbaik untukku.

3. Kakak-ku Dian, Nanang dan Ardi yang menjadi penyemangat hidup.

4. Ibu Catur Rismiati dan Ibu Andri Anugrahana yang menjadi motivator dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Teman-teman kelompok studi skripsi yaitu Bayu, Okta, Afi, Maya, Melisa, Tina, dan Wina yang selalu ada saat suka dan duka serta selalu memberi motivasi kepada peneliti.

6. Teman-teman terdekatku “Bayu, Cahyo, Marsel, Candra, Okta, Yuni, Terry, Resti, Dwi, Tina, Agnes, Nurul, dan Anik”.

7. Teman-teman kelas B yang menjadi sahabat dan memberi dukungan selama 8 semester belajar bersama.

(6)

v MOTTO

“Jangan kamu kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri.

Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari”

(Matius 6 : 34)

“Sebuah langkah pertama menuju

keberhasilan adalah dimulai dari dalam

pikiran”

(7)
(8)
(9)

viii ABSTRAK

TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU

TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI

Tarsisius Ferry Koko Gustomo Universitas Sanata Dharma

2014

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masalah manajemen pendidikan di Indonesia mengenai sarana dan prasarana berupa alat peraga. Alat peraga Montessori merupakan alat peraga yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Alat peraga Montessori yang berkualitas dapat menimbulkan kepuasan siswa dan guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan siswa dan guru terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan metode sensus. Subjek penelitian sebanyak 61 siswa dan 2 guru kelas I SD Kanisius Sengkan Yogyakarta tahun pelajaran 2013/2014. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner kinerja dan kuesioner kepentingan. Analisis data menggunakan Penilaian Acuan Norma (PAN) tipe II dan Importance and Performance Analysis (IPA).

Hasil analisis data PAN tipe II menunjukkan bahwa: 1) tingkat kepuasan siswa adalah cukup (rata-rata total skor 127,03); 2) tingkat kepuasan guru adalah cukup (rata-rata total skor 175,5). Hasil analisis data IPA menunjukkan bahwa: 1) atribut-atribut yang menimbulkan kepuasan siswa adalah memudahkan mengerti matematika, warna menarik, bermacam warna, ukuran kecil ke besar dan panjang ke pendek ,menemukan jawaban benar, memiliki kunci jawaban, dipaku, tidak melukai, mengerjakan soal tanpa bantuan, bentuk menarik, digunakan berulang kali dan tidak mudah rusak; 2 ) atribut-atribut yang menimbulkan kepuasan guru adalah memudahkan dalam memahami konsep matematika, bentuk menarik, ukuran proporsional, bermacam warna, menemukan jawaban benar, memiliki kunci jawaban, sesuai materi, bahan kuat,digunakan berulang kali, kuat ketika jarang digunakan, dipaku, tidak melukai, memudahkan mengerjakan untuk soal, warna menarik, permukaan halus, direkatkan dan dicat. Alat peraga matematika berbasis metode Montessori yang dikembangkan sudah layak untuk digunakan sebagai sumber belajar.

(10)

ix

ABSTRACT

THE LEVEL OF STUDENTS AND TEACHERS SATISFACTION TOWARD THE USE OF MATHEMATICS TEACHING AID BASED ON

MONTESSORI METHODS

Tarsisius Ferry Koko Gustomo Sanata Dharma University

2014

The research was based on the management problem of education in Indonesia regarding the facilities and infrastructure especially in the use of teaching aid. Montessori teaching aid was that can be used in the learning process. Montessori teaching aid which has good quality are able to lead the satisfaction of students and teachers. This research aims to know the level of satisfaction of students and teachers about the use of mathematics teaching aid based on Montessori methods. Type of this research was quantitative descriptive method of census. The subject of research as much as 61 students and 2 teachers of I grade of “Sengkan Kanisius” Elementary School, Yogyakarta for academic year 2013/2014. Engineering data collection using the questionnaire performance and questionnaire interest. For the Data analysis using criterian reference “Penilaian Acuan Norma (PAN) type II” and Importance and Performance Analysis (IPA).

The results of data analysis of PAN type II: 1) showed that levels of student satisfaction is enough (average total score 127,03); 2) level of satisfaction of teachers is enough (average total score 175,5). Data analysis results showed that the IPA: 1) attributes raises student satisfaction is comprehend math, attractive colors, variety of colors, sizes small to large and long to short, find the answers right, have answer keys, nailed, not hurting, working on a problem without help, interesting shapes, used repeatedly and are not easily damaged; 2) attributes-the attributes that give rise to the satisfaction of the teachers is the ease in understanding math concepts, proportional size, shape, various colors, find the answers right, have answer keys, according to the material, the material is strong, powerful, used repeatedly when it is rarely used, nailed, not injure, make it easy to work the problem, attractive colors, smooth surfaces, glued together and painted. Props for mathematics-based methods of Montessori developed already deserves to be used as a learning resource.

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan berkat dan rahmatnya kepada peneliti sehingga dapat menyelesaiakan skripsi dengan judul: “Tingkat Kepuasan Siswa dan Guru Terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori” ini dengan baik. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Peneliti menyadari bahwa penulisan skripsi tidak akan terwujud tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu peneliti mengucapkan terima kasih kepada:

1. Rohandi, Ph.D., selaku dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

2. Gregorius Ari Nugrahanta, SJ., SS., BST., MA., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma.

3. Catur Rismiati, S.Pd., M.A.,Ed. D., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma dan dosen pembimbing I yang memberikan waktu, dukungan, semangat, serta sumbangan pemikiran dalam penyelesaian skripsi ini.

4. Andri Anugrahana, S.Pd., M.Pd., selaku dosen pembimbing II, yang telah memberikan saran, masukan, ide dan kritik serta bimbingan dalam penyelesaian skripsi ini.

5. M. Sri Wartini selaku kepala sekolah SD Kanisius Sengkan Yogyakarta yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian.

6. Tuti, S.Pd dan Natal, S.Pd selaku wali kelas I SD Kanisius Sengkan Yogyakarta yang telah memberikan waktu dan bantuan.

(12)
(13)

xii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

3. Alat Peraga Papan Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Dua Angka ... 21

5. Tingkat Kepuasan ... 27

B. Hasil Penelitian yang Relevan ... 42

C. Kerangka Berpikir ... 49

(14)

xiii BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian ... 53

B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 54

C. Populasi dan Sampel ... 54

D. Variabel Penelitian ... 55

E. Teknik Pengumpulan Data ... 55

F. Instrumen Pengumpulan Data ... 60

G. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 62

H. Prosedur Analisis Data ... 107

I. Teknik Analisis Data ... 109

J. Jadwal Penelitian ... 116

BAB IV DESKRIPSI, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Penelitian ... 118

B. Hasil Penelitian ... 120

C. Pembahasan ... 190

BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 203

B. Keterbatasan Penelitian ... 206

C. Saran ... 207

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penggabungan Indikator Tingkat Kepuasan ... 40 Tabel 2.2 Indikator Tingkat Kepuasan terhadap Penggunaan Alat Peraga

Matematika Berbasis Metode Montessori ... 42 Tabel 3.1 Alternatif Jawaban Skala Likert pada Kuesioner Kinerja untuk

Siswa ... 57 Tabel 3.2 Alternatif Jawaban Skala Likert pada Kuesioner Kepentingan untuk

Siswa ... 58 Tabel 3.3 Alternatif Jawaban Skala Likert pada Kuesioner Kinerja untuk Guru . 59 Tabel 3.4 Alternatif Jawaban Skala Likert pada Kuesioner Kepentingan

untuk Guru... 59 Tabel 3.5 Kisi-kisi Kuesioner Kinerja dan Kepentingan Siswa dan Guru untuk

Expert Judgement ... 60 Tabel 3.6 Penjabaran Indikator Kuesioner Kinerja dan Kepentingan Siswa dan

Guru untuk Expert Judgement... 61 Tabel 3.7 Rangkuman Skor Expert Judgement Kuesioner Kinerja dan

Kepentingan untuk Siswa dan Guru ... 64 Tabel 3.8 Rangkuman Komentar Expert Judgement Kuesioner Kinerja dan

Kepentingan untuk Siswa dan Guru ... 66 Tabel 3.9 Perbandingan Kuesioner Kinerja dan Kepentingan untuk Siswa dan

Guru Sebelum dan Sesudah Expert Judgement... 69 Tabel 3.10 Rangkuman Hasil Face Validity Kuesioner Kinerja dan Kepentingan

untuk Siswa ... 72 Tabel 3.11 Perbandingan Kuesioner Kinerja dan Kepentingan untuk Siswa

Sebelum dan Sesudah Face Validity Siswa... 75 Tabel 3.12 Rangkuman Hasil Face Validity Kuesioner Kinerja dan Kepentingan

untuk Guru... 77 Tabel 3.13 Perbandingan Kuesioner Kinerja dan Kepentingan untuk Guru

Sebelum dan Sesudah Face Validity Guru ... 80 Tabel 3.14 Kuesioner Penelitian Kinerja dan Kepentingan Guru ... 82 Tabel 3.15 Perbandingan Validitas Kuesioner Kinerja dan Kepentingan untuk

Siswa ... 95 Tabel 3.16 Klasifikasi Tingkat Reliabilitas Instrumen ... 98 Tabel 3.17 Perbandingan Reliabilitas Total Kuesioner Kinerja dan Kepentingan

untuk Siswa ... 103 Tabel 3.18 Rangkuman Hasil Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Siswa ... 104 Tabel 3.19 Kuesioner Penelitian Kinerja dan Kepentingan Siswa ... 106 Tabel 3.20 Klasifikasi Tingkat Kepuasan Siswa dan Guru berdasarkan PAN

(16)

xv

Tabel 4.2 Klasifikasi Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat

Peraga Matematika berbasis Metode Montessori... 121

Tabel 4.3 Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika berbasis Metode Montessori ... 122

Tabel 4.4 Penilaian Siswa terhadap Kinerja Indikator Auto-education ... 123

Tabel 4.5 Penilaian Siswa terhadap Kepentingan Indikator Auto-education ... 125

Tabel 4.6 Penilaian Siswa terhadap Kinerja Indikator Menarik ... 126

Tabel 4.7 Penilaian Siswa terhadap Kepentingan Indikator Menarik ... 126

Tabel 4.8 Penilaian Siswa terhadap Kinerja Indikator Bergradasi ... 127

Tabel 4.9 Penilaian Siswa terhadap Kepentingan Indikator Bergradasi ... 128

Tabel 4.10 Penilaian Siswa terhadap Kinerja Indikator Auto-correction ... 129

Tabel 4.11 Penilaian Siswa terhadap Kepentingan Indikator Auto-correction ... 130

Tabel 4.12 Penilaian Siswa terhadap Kinerja Indikator Kontekstual ... 130

Tabel 4.13 Penilaian Siswa terhadap Kepentingan Indikator Kontekstual ... 131

Tabel 4.14 Penilaian Siswa terhadap Kinerja Indikator Life... 131

Tabel 4.15 Penilaian Siswa terhadap Kepentingan Indikator Life ... 132

Tabel 4.16 Penilaian Siswa terhadap Kinerja Indikator Workmanship... 133

Tabel 4.17 Penilaian Siswa terhadap Kepentingan Indikator Workmanship ... 133

Tabel 4.18 Perhitungan Rata-rata Penilaian Pelaksanaan Kinerja dan Kepentingan pada Indikator Tingkat Kepuasan Siswa ... 134

Tabel 4.19 Persebaran Pernyataan Kuesioner Siswa pada Diagram Kartesius untuk Setiap Indikator Tingkat Kepuasan ... 144

Tabel 4.20 Persebaran Pernyataan Kuesioner Tingkat Kepuasan Siswa pada Diagram Kartesius untuk Keseluruhan Indikator Tingkat Kepuasan ... 147

Tabel 4.21 Konsistensi Persebaran Pernyataan dalam Kuadran pada Kuesioner Tingkat Kepuasan Siswa ... 150

Tabel 4.22 Klasifikasi Tingkat Kepuasan Guru berdasarkan PAN Tipe II... 156

Tabel 4.23 Klasifikasi Tingkat Kepuasan Guru Terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 157

Tabel 4.24 Tingkat Kepuasan Guru terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika berbasis Metode Montessori ... 158

Tabel 4.25 Penilaian Guru terhadap Kinerja Indikator Auto-education ... 159

Tabel 4.26 Penilaian Guru terhadap Kepentingan Indikator Auto-education ... 159

Tabel 4.27 Penilaian Guru terhadap Kinerja Indikator Menarik... 160

Tabel 4.28 Penilaian Guru terhadap Kepentingan Indikator Menarik ... 161

Tabel 4.29 Penilaian Guru terhadap Kinerja Indikator Bergradasi ... 161

Tabel 4.30 Penilaian Guru terhadap Kepentingan Indikator Bergradasi ... 162

Tabel 4.31 Penilaian Guru terhadap Kinerja Indikator Auto-correction... 163

Tabel 4.32 Penilaian Guru terhadap Kepentingan Indikator Auto-correction ... 163

Tabel 4.33 Penilaian Guru terhadap Kinerja Indikator Kontekstual ... 164

Tabel 4.34 Penilaian Guru terhadap Kepentingan Indikator Kontekstual ... 165

Tabel 4.35 Penilaian Guru terhadap Kinerja Indikator Life ... 165

(17)

xvi

Tabel 4.37 Penilaian Guru terhadap Kinerja Indikator Workmanship ... 167 Tabel 4.38 Penilaian Guru terhadap Kepentingan Indikator Workmanship ... 167 Tabel 4.39 Perhitungan Rata-rata Penilaian Pelaksanaan Kinerja dan

Kepentingan pada Indikator Tingkat Kepuasan Guru ... 168 Tabel 4.40 Persebaran Pernyataan Kuesioner Guru pada Diagram Kartesius

untuk Setiap Indikator Tingkat Kepuasan ... 178 Tabel 4.41 Persebaran Pernyataan Kuesioner Tingkat Kepuasan Guru pada

Diagram Kartesius untuk Keseluruhan Indikator Tingkat Kepuasan ... 182 Tabel 4.42 Konsistensi Persebaran Pernyataan dalam Kuadran pada Kuesioner

(18)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Alat Peraga Papan Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Dua

Angka secara Keseluruhan ... 24

Gambar 2.2 Papan Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Dua Angka Berbasis Metode Montessori ... 25

Gambar 4.1 Diagram Kartesius Indikator Auto-education Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 137

Gambar 4.2 Diagram Kartesius Indikator Menarik Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 138

Gambar 4.3 Diagram Kartesius Indikator Bergradasi Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 139

Gambar 4.4 Diagram Kartesius Indikator Auto-correction Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 140

Gambar 4.5 Diagram Kartesius Indikator Kontekstual Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 141

Gambar 4.6 Diagram Kartesius Indikator Life Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 142

Gambar 4.7 Diagram Kartesius Indikator Workmanship Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 143

Gambar 4.8 Diagram Kartesius Keseluruhan Indikator Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 146

Gambar 4.9 Diagram Kartesius Indikator Auto-education Tingkat Kepuasan Guru terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ... 171

(19)

xviii

Gambar 4.11 Diagram Kartesius Indikator Bergradasi Tingkat Kepuasan Guru terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode

Montessori ... 173 Gambar 4.12 Diagram Kartesius Indikator Auto-correction Tingkat Kepuasan

Guru terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis

Metode Montessori ... 174 Gambar 4.13 Diagram Kartesius Indikator Kontekstual Tingkat Kepuasan Guru

terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode

Montessori ... 175 Gambar 4.14 Diagram Kartesius Indikator Life Tingkat Kepuasan Guru

terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode

Montessori ... 176 Gambar 4.15 Diagram Kartesius Indikator Workmanship Tingkat Kepuasan

Guru terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis

Metode Montessori ... 177 Gambar 4.16 Diagram Kartesius Keseluruhan Indikator Tingkat Kepuasan

Guru terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis

(20)

xix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Keterangan Melakukan Uji Validitas dan Reliabilitas ... 213

Lampiran 2 Surat Ijin Penelitian ... 214

Lampiran 3 Surat Keterangan Selesai Melakukan Penelitian ... 215

Lampiran 4 Hasil Expert Judgement ... 216

Lampiran 5 Hasil Face Validity Kuesioner untuk Siswa ... 222

Lampiran 6 Hasil Face Validity Kuesioner untuk Guru ... 226

Lampiran 7 Contoh Jawaban Responden (Siswa) pada Uji Coba Kuesioner Kinerja ... 231

Lampiran 8 Contoh Jawaban Responden (Siswa) pada Uji Coba Kuesioner Kepentingan ... 236

Lampiran 9 Data Mentah Hasil Uji Coba Kuesioner Kinerja ... 240

Lampiran 10 Data Mentah Hasil Uji Coba Kuesioner Kepentingan ... 243

Lampiran 11 Output Validitas Uji Coba Kuesioner Kinerja ... 246

Lampiran 12 Output Validitas Uji Coba Kuesioner Kepentingan ... 253

Lampiran 13 Output Reliabilitas Uji Coba Kuesioner Kinerja ... 260

Lampiran 14 Output Reliabilitas Total Kuesioner Kepentingan... 264

Lampiran 15 Contoh Jawaban Responden (Siswa) pada Kuesioner Kinerja ... 268

Lampiran 16 Contoh Jawaban Responden (Siswa) pada Kuesioner Kepentingan ... 272

Lampiran 17 Contoh Jawaban Responden (Guru) pada Kuesioner Kinerja ... 276

Lampiran 18 Contoh Jawaban Responden (Guru) pada Kuesioner Kepentingan ... 279

Lampiran 19 Data Mentah Hasil Penelitian Kuesioner Kinerja untuk Siswa ... 282

Lampiran 20 Data Mentah Hasil Penelitian Kuesioner Kepentingan untuk Siswa... 284

Lampiran 21 Data Mentah Hasil Penelitian Kuesioner Kinerja untuk Guru ... 286

Lampiran 22 Data Mentah Hasil Penelitian Kuesioner Kepentingan untuk Guru ... 287

(21)

1 BAB I PENDAHULUAN

Bab I menguraikan beberapa hal, yaitu latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional.

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan berperan penting bagi setiap insan manusia untuk membuka wawasan tentang peranan berbagai ilmu pengetahuan dapat memberikan ide dasar dan inspirasi yang lengkap tentang ilmu pengetahuan (Tantang, 2012: 55). Pengetahuan yang diperoleh dapat menumbuhkan suatu kesadaran berpikir terhadap realitas kehidupan dimana seseorang tersebut berada. Proses pendidikan dapat terjadi di dalam keluarga, lingkungan masyarakat dan sekolah.

Pendidikan di lingkungan sekolah bersifat formal. Pendidikan bersifat formal memiliki rancangan pendidikan yang tersusun sistematis, jelas dan rinci (Sukmadinata, 2010: 1). Sekolah memberikan pendidikan yang memungkinkan anak belajar secara terarah pada pembentukan karakternya. Pelaksanaan pembelajaran di sekolah berintikan pada interaksi antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Guru, siswa dan tujuan pendidikan merupakan komponen utama dalam pendidikan (Sukmadinata, 2010: 191).

(22)

menjelaskan tujuan pendidikan sekolah dasar adalah proses pengembangan kemampuan yang paling mendasar bagi setiap siswa. Siswa dilibatkan untuk aktif dalam suasana pembelajaran yang kondusif sehingga perkembangan diri anak dapat berjalan secara optimal.

Badan Nasional Standar Pendidikan menjelaskan bahwa salah satu dari delapan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar adalah matematika (BNSP, 2007: 5). Susanto (2013: 183-184) mengatakan matematika merupakan ide-ide yang abstrak berisi simbol-simbol, maka konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu sebelum memanipulasi simbol-simbol. Anak usia sekolah dasar pada umumnya mengalami kesulitan dalam memahami matematika yang bersifat abstrak.

Keabstrakan matematika membuat siswa takut mengikuti pelajaran matematika. Siswa menjadi lebih bersikap negatif dengan pelajaran matematika sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai. Susanto (2013: 221) mengatakan siswa yang bersikap negatif yaitu “jarang menyelesaikan tugas matematika, dan merasa cemas dalam mengikuti matematika”. Kecemasan siswa mengikuti proses belajar matematika dapat menjadikan prestasi belajar siswa menjadi rendah.

Hayat dan Yusuf (2010: 280) mengatakan bahwa mengembangkan sikap positif terhadap matematika merupakan tujuan yang penting di banyak negara. Kualitas pendidikan matematika di Indonesia saat ini masih terbilang sangat rendah. Hal ini dibuktikan oleh hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) dan hasil survei TIMSS (Trends in

(23)

Penelitian PISA merupakan penilaian tingkat dunia untuk menguji akademis anak-anak sekolah dengan tujuan membandingkan prestasi belajar anak diseluruh dunia. Data PISA menunjukkan bahwa kemampuan matematika siswa Indonesia menduduki peringkat terbawah dari 65 negara dengan skor 371 (Organisation for Economic Cooperation and Development, 2010). Hasil survei TIMSS tahun 2011

menunjukkan pencapaian rata-rata prestasi matematika siswa Indonesia adalah 386 yang berarti berada pada level rendah (Rosnawati, 2013). Hayat dan Yusuf (2010: 201) mengatakan salah satu manfaat mengikuti PISA adalah memahami kekuatan dan kekurangan sistem pendidikan masing-masing negara peserta.

Sistem pendididikan Indonesia terbukti memiliki kualitas pendidikan yang masih rendah berdasarkan PISA dan TIMSS. Salah satu penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia yaitu menyangkut manajemen pendidikan. Konstribusi manajemen pendidikan terhadap keberhasilan dan kegagalan belajar siswa adalah 32% (Rohiat, 2008: 15).

Manajemen pendidikan merupakan segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Mulyasa, 2007: 20). Pengelolaan pendidikan yang ditetapkan Indonesia adalah tujuh komponen manajemen yang harus dipenuhi. Tujuh komponen dalam manajemen pendidikan yang harus dipenuhi adalah yaitu kurikulum, tenaga kependidikan, kesiswaan, keuangan, sarana dan prasarana, hubungan sekolah dengan masyarakat dan layanan khusus (Mulyasa, 2007: 39-52).

(24)

pendidikan belum mendapatkan perhatian, sehingga seluruh komponen belum berfungsi dengan baik. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas komponen manajemen pendidikan adalah kurangnya sarana dan fasilitas belajar yang tersedia di sekolah (Sukmadinata, 2010: 203).

Sarana pendidikan merupakan salah satu komponen manajemen pendidikan yang berkaitan dengan peralatan dan perlengkapan secara langsung yang dipergunakan untuk menunjang proses pendidikan (Wibowo, 2013: 105-106). Sarana dan prasarana di sekolah yaitu gedung, ruang kelas, meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran (Mulyasa, 2007: 49). Alat-alat-alat yang digunakan sebagai sarana penunjang proses pendidikan adalah alat peraga.

Alat peraga adalah bagian dari media pembelajaran yang diartikan semua benda sebagai perantara dalam proses pembelajaran (Sitanggang & Widyaiswara, 2013: 4). Alat peraga membantu kegiatan belajar mengajar berjalan lebih efektif dan efisien. Proses belajar mengajar dengan menggunakan alat peraga dapat meningkatkan daya imajinasi seseorang untuk memahami materi pelajaran yang bersifat abstrak.

(25)

Alat peraga Montessori bukanlah alat peraga yang baru dalam pendidikan di Indonesia. Sekolah Montessori yang pertama kali berdiri di Indonesia adalah Jakarta Montessori School pada tahun 1986. Sekolah Montessori berkembang di beberapa daerah seperti di Bali, Bandung, Batam dan di Yogyakarta sendiri. Sekolah Montessori menggunakan alat peraga Montessori karena memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan alat peraga lain. Alat peraga Montessori belum diproduksi di Indonesia. Sekolah-sekolah di Indonesia mulai mencoba menggunakan alat peraga Montessori seiring dengan banyaknya penelitian yang membuktikan keberhasilan menggunakan alat peraga tersebut.

Alat peraga yang digunakan Maria Montessori pada saat pendampingan pendidikan di Casa dei Bambini menggunakan alat peraga yang seadanya. Maria Montessori menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar dan mengembangkan menjadi alat peraga. Penelitian ini menggunakan alat peraga Montessori yang telah dimodifikasi. Hasil modifikasi alat peraga Montessori menambahkan satu karakteristik alat peraga yaitu kontekstual. Konteks lingkungan digunakan sebagai sumber belajar bagi siswa dan guru. Kualitas dari alat peraga yang baik membantu proses pembelajaran dan memperbaiki kualitas pendidikan.

(26)

membantu tercapainya tujuan pembelajaran. Keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan untuk terus berusaha mencapai tujuan serupa (Danim & Khairil, 2010: 50).

Kepuasan yang diterima oleh siswa dan guru merupakan hal yang menyenangkan dan ingin diperoleh kembali lain waktu. Kepuasan siswa dan guru dapat diketahui dengan melakukan pengukuran tingkat kepuasan. Pengukuran tingkat kepuasan dapat memberikan gambaran mengenai kualitas alat peraga Montessori. Hasil pengukuran tingkat kepuasan dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki alat peraga Montessori. Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pengukuran tingkat kepuasan siswa dan guru terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Peneliti mengambil judul yaitu “Tingkat Kepuasan Siswa dan Guru Terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori”.

B. Identifikasi Masalah

(27)

C. Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada tingkat kepuasan siswa dan guru kelas I SD Kanisius Sengkan Yogyakarta tahun pelajaran 2013/2014 terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Alat peraga matematika berbasis metode Montessori yang digunakan adalah alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. Mata pelajaran yang diajarkan adalah mata pelajaran matematika kelas I dengan standar kompetensi 4 “melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam

pemecahan masalah” dan kompetensi dasar 4.4 “melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua”. Penelitian ini menggunakan dua kuesioner yaitu kuesioner kinerja dan kuesioner kepentingan yang tersusun dari tujuh indikator tingkat kepuasan terhadap penggunaan alat peraga Montessori. Tujuh indikator tingkat kepuasan tersebut meliputi auto-education, menarik, bergradasi, auto-correction, life, dan workmanship.

D. Rumusan Masalah

Peneliti merumuskan masalah berdasarkan latar belakang penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana tingkat kepuasan siswa terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori?

(28)

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk:

1. Mengetahui tingkat kepuasan siswa terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori.

2. Mengetahui tingkat kepuasan guru terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori.

F. Manfaat Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian maka manfaat penelitian ini adalah:

1. Bagi siswa

Siswa dapat berlatih mengutarakan pendapatnya mengenai alat peraga matematika berbasis metode Montessori yang digunakan dalam pembelajaran.

2. Bagi guru

(29)

3. Bagi sekolah

Sekolah dapat mengetahui tingkat kepuasan siswa dan guru terhadap alat peraga matematika berbasis metode Montessori yang digunakan dalam pembelajaran untuk mempertimbangkan strategi belajar mengajar.

4. Bagi peneliti

Peneliti dapat belajar menganalisis tingkat kepuasan siswa dan guru terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Peneliti dapat mengetahui atribut-atribut yang ada pada alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka yang mempengaruhi kepuasan siswa dan guru.

G. Definisi Operasional

Sebagai upaya menghindari kesalahan penafsiran pada penelitian ini, peneliti menggunakan batasan pengertian yaitu:

1. Tingkat kepuasan adalah tingkat perasaan siswa dan guru setelah mengetahui kinerja alat peraga sesuai atau melebihi harapannya.

2. Kepentingan adalah harapan siswa dan guru terhadap alat peraga matematika berbasis metode Montessori.

3. Kinerja adalah perasaan siswa dan guru terhadap apa yang diterimanya setelah menggunakan alat peraga matematika berbasis Montessori.

(30)

matematika berbasis metode Montessori berdasarkan nilai rata-rata kelompok.

5. Importance and Performane Analysis (IPA) adalah teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui pernyataan-pernyataan yang menunjukkan kepuasan dan ketidakpuasan siswa dan guru terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori.

6. Alat peraga adalah alat bantu yang mengandung konsep yang ingin dipelajari guna memudahkan mempelajari konsep tersebut.

7. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak yang berhubungan dengan penalaran dan bilangan.

8. Pembelajaran matematika adalah serangkaian kegiatan belajar mengajar matematika di sekolah yang menyajikan konsep matematika dan berusaha menemukan bagaimana cara mengaplikasikannya dalam dunia nyata.

9. Alat peraga matematika adalah alat peraga yang membantu mengembangkan konsep matematika yang abstrak menjadi konkret.

10. Metode Montessori adalah metode yang dikembangkan Maria Montessori dengan memberikan kebebasan kepada siswa untuk memenuhi kebutuhan batiniah sehingga menjadi pribadi yang mandiri dan disiplin.

(31)

12. Alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka adalah alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran matematika untuk memahami materi penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka.

13. Siswa adalah anak kelas I SD Kanisius Sengkan Yogyakarta yang belajar dengan menggunakan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka .

(32)

12 BAB II KAJIAN TEORI

Bab II membahas tentang kajian pustaka, penetiian yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian.

A. Kajian Pustaka

Kajian teori membahas tentang Montessori, alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka, matematika, alat peraga, dan tingkat kepuasan.

1. Montessori

Sub bab ini membahas mengenai riwayat Montessori, metode Montessori, dan karakteristik alat peraga Montessori.

a. Riwayat Montessori

(33)

normal (Crain, 2007: 97). Pengalaman tersebut membangkitkan Montessori menjalani hidup untuk mempelajari ilmu pendidikan.

Pada tahun 1907, Montessori mendirikan sebuah sekolah di Roma yang

diberi nama “Casa dei Bambini” artinya Rumah Anak (Montessori, Metode

Montessori, terjemahan Ahmad Lintang, 2013: 22). Montessori memulai

ekperimennya selama 2 tahun di Casa dei Bambini yang diterapkan untuk anak usia 3 sampai 6 tahun. Casa dei Bambini didirikan untuk memberikan pengasuhan bagi anak yang orang tuanya bekerja dan tidak dapat mengasuh anak-anaknya (Magini, 2013: 47).

Casa dei Bambini memiliki seorang direktris, dokter dan pengasuh

(Montessori, Metode Montessori, terjemahan Ahmad Lintang, 2013: 163). Direktris adalah seorang guru yang bertugas mendidik anak-anak di Casa dei Bambini. Anak-anak yang dulu sangat liar dan pemberontak ternyata memiliki ketertarikan yang sangat besar pada alat peraga Montessori (Magini, 2013: 48). Anak-anak secara sepontan ingin bermain dengan alat peraga Montessori. Alat peraga membuat anak-anak menjadi lebih komunikatif, dapat bersosialisasi, dan terlihat lebih bahagia.

Montessori (2002: 108) menjelaskan bahwa ciri-ciri pembelajaran di Casa dei Bambini adalah singkat, sederhana dan objektif. Singkat berarti pelajaran yang

(34)

Objektif berarti guru tidak boleh menarik perhatian anak kepada dirinya melainkan hanya kepada objek yang ingin terangkan.

Tahun 1913 ide-ide Montessori mulai berkembangan dan mengubah arah pendidikan di seluruh dunia sehingga menjadi salah satu wanita terkenal. Lima tahun berikutnya dia mulai dilupakan karena ide-idenya terlalu ekstrem bagi arus utama paham pendidikan. Tahun 1960-an, karya Montessori di bidang pendidikan sekali lagi menarik perhatian para psikolog, pendidik dan masyarakat umum (Lillard dalam Crain, 2007: 99). Montessori meninggal di Belanda tahun 1952 pada umur 81 tahun.

b. Metode Montessori

Metode pembelajaran Montessori adalah metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Maria Montessori. Crain (2007: 99) menyatakan bahwa metode Montessori mengajarkan anak untuk belajar dengan cara mereka sendiri berdasarkan dorongan dari kedewasaan diri mereka. Metode Montessori merupakan sebuah pemikiran mengoptimalkan panca indera anak.

(35)

“Seorang anak menjadi bebas kecuali telah mandiri” (Montessori, Metode Montessori, terjemahan Ahmad Lintang, 2013: 181). Seorang anak diberikan

kebebasan melakukan aktivitas sesuai dengan kebutuhan batiniah sehingga menjadi pribadi yang mandiri dan disiplin. Kedisiplinan muncul melalui kemerdekaan atau kebebasan, jika disiplin dilandaskan pada kemerdekaan atau kebebasan maka disiplin harus bersifat aktif. Anak yang disiplin dapat menguasai diri dan mampu mengatur perilakunya ketika diperlukan untuk mengikuti sejumlah peraturan dalam kehidupan (Montessori, Metode Montessori, terjemahan Ahmad Lintang, 2013: 173).

Seorang guru memberikan kebebasan kepada anak untuk melakukan kegiatan sesuai dengan minatnya tetapi walaupun demikian guru tetap memperhatikan kondisi belajar anak tersebut. Lingkungan yang dirancang dengan minat siswa mampu memberikan kepuasan batin bagi anak. Anak memandang lingkungan sebagai tempat yang nyaman bagi mereka. Lingkungan yang rapi mampu menunjukkan perubahan sikap dalam diri seorang anak.

c. Karakteristik Alat Peraga Montessori

(36)

Alat peraga Montessori memiliki rangsangan dengan gradasi yang rasional (Montessori, 2002: 175). Magini (2013: 49) mengutarakan seorang gadis kecil yang berusia tiga tahun mengambil balok silinder dan mencoba memasangkannya secara bergradasi dan membongkar pasangan balok silinder sebanyak empat puluh dua kali. Alat peraga balok silinder memiliki ukuran yang berbeda-beda. Anak akan belajar memasangkan balok silinder kedalam lubang-lubang kayu sampai memperoleh bentuk yang pas.

Auto-corretion merupakan alat peraga yang mempunyai pengendali

kesalahan. Anak mampu mengetahui kesalahannya sendiri tanpa diberitahukan orang lain. Hal yang sama dengan alat peraga balok silinder, siswa akan menggunakan alat tersebut sampai memperoleh bentuk dan ukuran yang pas. Siswa akan melakukan secara berulang-ulang sampai dia berhasil. Selain alat peraga, lingkungan setempat dalam pembelajaran Montessori dipersiapkan dengan memiliki pengendali kesalahan misalnya kursi, dan meja yang digunakan oleh anak-anak (Montessori, 2002: 83).

Karakteristik alat peraga Montessori yang terakhir adalah auto-education. Alat peraga yang diciptakan memungkinkan anak belajar mandiri dan berkembang dalam kegiatan pembelajaran tanpa campur tangan orang dewasa (Montessori, 2002: 172). Guru sebagai pengamat, memperhatikan belajar anak-anak dan memperkirakan kebutuhan khusus dengan melihat kondisi kesiapan siswa (Crain, 2007: 100).

(37)

Teaching & Learning, terjemahan Ibnu, 2010: 83) menyebutkan “konteks” berasal

dari kata kerja latin contexere yang berarti “keseluruhan situasi, latar belakang,

atau lingkungan” yang berhubungan dengan diri dan terjalin bersama. Pada

awalnya, alat peraga Montessori disesuaikan dengan lingkungan di Roma, Italia. Karakteristik kontekstual ditambahkan dalam penelitian ini bahwa alat peraga diciptakan dengan menyesuaikan bahan-bahan di lingkungan sekitar. Konteks lingkungan dapat digunakan sebagai sumber belajar dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar. Bahan dasar dari pembuatan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka adalah kayu yang banyak ditemukan di lingkungan sekitar. Peneliti menyimpulkan bahwa karakteristik alat peraga Montessori hasil modifikasi memiliki karakteristik yaitu auto-education, menarik, bergradasi, auto-correction dan kontekstual.

2. Matematika

Sub bab matematika membahas mengenai pengertian matematika, pembelajaran matematika di sekolah dasar, dan manfaat alat peraga matematika. a. Pengertian Matematika

Kata matematika berasal dari bahasa latin, “manthanein” atau “mathema

yang berarti belajar atau hal yang dipelajari sedangkan dalam bahasa Belanda,

matematika disebut “wiskunde” artinya ilmu pasti yang berkaitan dengan

(38)

berhubungan dengan bilangan. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik.

Hudojo (1980: 11) menjelaskan bahwa hakekat matematika berkaitan dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang diatur menurut urutan yang logis dan berkenaan dengan konsep-konsep abstrak. Suatu simbol-simbol diperlukan untuk menyertai himpunan benda-benda atau hal-hal. Simbol-simbol tersebut bermanfaat untuk mengkomunikasikan ide-ide secara efektif dan efesien. Susanto (2013: 183) menjelaskan bahwa matematika merupakan ide-ide yang abstrak berisi simbol-simbol, maka konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu sebelum memanipulasi simbol-simbol.

Matematika dianggap relatif tidak mudah untuk dipahami oleh siswa sekolah dasar pada umumnya (Susanto, 2013: 184). Pembelajaran perlu menggunakan pendekatan yang logis agar siswa dapat berpikir secara konkret. Pendekatan yang logis dapat membuat siswa untuk mengetahui unsur-unsur yang dipergunakan sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

(39)

b. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

Soejdjadi (2000: 11) menjelaskan matematika di sekolah dasar tidaklah sepenuhnya sama dengan matematika sebagai ilmu. Dikatakan tidak sepenuhnya sama karena memiliki perbedaan antara lain dalam hal penyajiannya, pola pikirnya, keterbatasan semestanya dan tingkat keabstrakanya. Sifat keabstrak objek matematika tetap ada pada matematika di sekolah. Hal ini merupakan salah satu penyebab sulitnya seorang guru mengajarkan matematika di sekolah (Soejdjadi, 2000: 41).

Departemen pendidikan Nasional (dalam Susanto, 2013: 190) menjelaskan tujuan pembelajaran matematika adalah memahami konsep matematika, menggunakan penalaran pada pola dan sifat, menyusun bukti, memecahkan masalah yang memiliki kemampuan memahami masalah, mengkomunikasikan gagasan dengan simbol dan memiliki sikap menghargai penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) menjelaskan tujuan khusus diberikan matematika di sekolah dasar. GBPP menjelaskan tujuan khusus yaitu menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung, menumbuhkan kemampuan siswa yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan matematika, mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar lebih lanjut di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin (dalam Soejdjadi, 2000: 11).

(40)

memahami bahwa kemampuan setiap siswa berbeda-beda serta tidak semua menyukai mata pelajaran matematika (Heruman, 2008: 2). Guru dapat merencanakan proses pembelajaran matematika yang sedemikian baik sehingga siswa mempunyai perhatian terhadap pelajaran matematika yang akan dipelajari.

Kegiatan belajar matematika harus melibatkan aktivitas siswa secara optimal dengan membangun konsep matematika yang sudah ada dalam benak siswa sehingga konsep-konsep yang terkait mudah dipahami oleh siswa. Hudojo (2001: 199) mengatakan “tugas guru adalah mengarahkan siswa agar dapat

berhasil atau paling tidak, merasa mengantisipasi sukses”. Arti mengantisipasi

sukses adalah syarat cukup agar siswa menyukai matematika dengan menyajikan pembelajaran yang relevan bagi siswa. Peneliti dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah serangkaian kegiatan belajar mengajar matematika di sekolah yang menyajikan konsep atau prinsip matematika dan berusaha menemukan bagaimana cara mengaplikasikannya dalam dunia nyata. c. Manfaat Alat Peraga Matematika

(41)

lebih pandai. Keenam, efisiensi waktu dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Ketujuh, menunjang kegiatan matematika di luar sekolah.

Sitanggang & Widyaiswara (2013: 4) menyebutkan bahwa manfaat alat peraga matematika, antara lain (1) memberikan motivasi, (2) memperkenalkan, memperbaiki, mengembangkan pengertian konsep matematika, (3) mempermudah abstraksi, yaitu memudahkan memahami konsep matematika yang abstrak, (4) memberikan variasi dalam pembelajaran, sehingga siswa tidak bosan dengan teori yang dipelajari, (5) waktu pembelajaran lebih efisien karena siswa lebih mudah mengerti, dan (6) mengembangkan suatu topik pelajaran. Hasan (2011: 108) menjelaskan bahwa “alat peraga digunakan sebagai perantara antara hal yang konkret yang dipahami siswa dengan konsep matematika yang abstrak”.

Penggunaan alat peraga dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran matematika dengan konsep yang abstrak atau berupa simbol-simbol matematika. Siswa dengan melihat, memegang dan memanipulasi suatu obyek atau alat peraga, dapat mengalami pengalaman-pengalaman nyata dalam kehidupan tentang arti dari suatu konsep (Suharjana, 2009: 3). Peneliti dapat menyimpulkan bahwa manfaat menggunakan alat peraga matematika untuk kegiatan belajar matematika adalah memudahkan dalam memahami konsep matematika yang abstrak dan membangkitkan motivasi siswa dan guru.

3. Alat Peraga

(42)

a. Pengertian Alat Peraga

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa “alat adalah benda yang dipakai untuk mengerjakan sesuatu”, sedangkan “peraga adalah orang yang

suka memperagakan diri atau media pengajaran untuk meragakan sajian

pelajaran” (Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 36). Sudjana (2000: 10)

mengatakan bahwa alat peraga adalah alat bantu yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar agar lebih efektif. Arsyad (dalam Widiyatmoko, 2012 : 53) mengatakan alat peraga pembelajaran menjadi saran komunikasi dan interaksi antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran.

Estiningsih (dalam Suharjana, 2009: 3) menyebutkan alat peraga merupakan media pembelajaran yang mengandung atau membawakan ciri-ciri dari konsep yang dipelajari. Sitanggang & Widyaiswara (2013: 4) menjelaskan bahwa alat peraga adalah bagian dari media pembelajaran yang diartikan semua benda sebagai perantara dalam proses pembelajaran. Ruseffendi (1979: 2) menjelaskan alat peraga merupakan benda riil yang dapat dipindah-pindahkan.

(43)

b. Manfaat Alat Peraga

Suharjana (2009: 3) mengatakan bahwa penggunaan alat peraga dapat membantu menanamkan dan mengembangkan konsep yang abstrak menjadi konkret. Sudjana (dalam Hartati, 2010: 130) menjelaskan pengggunaan alat peraga sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif. Alat peraga menjadi bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar, tujuan dan isi pelajaran, untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu peserta didik dalam menangkap pengertian yang diberikan guru, serta diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar. Kegiatan pembelajaran yang bervariasi membuat siswa senang dan termotivasi untuk belajar di kelas.

Alat peraga berfungsi untuk menerangkan dan memperagakan suatu materi dalam mata pelajaran pada suatu proses belajar mengajar (Sudono, 2010). Alat peraga yang berfungsi memperagakan materi pelajaran dapat membantu siswa dan guru memahami isi materi pelajaran. Peneliti dapat menyimpulkan berdasarkan pendapat para ahli bahwa manfaat alat peraga adalah sebagai alat bantu yang membantu dalam memahami isi materi pelajaran, membangkitkan motivasi belajar siswa, dan sebagai variasi dalam kegiatan pembelajaran.

(44)

bilangan yaitu hijau untuk satuan, biru untuk puluhan, dan merah untuk ratusan (Album Matematika Montessori: Anak Usia 6-9 tahun, 2011).

Bahan dasar dari pembuatan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka berasal dari kayu yang telah dibentuk sedemikian rupa. Alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka digunakan untuk membantu siswa memahami materi penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka di kelas I semester 2. Materi penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka terdapat pada standar kompetensi 4 yaitu “melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam

pemecahan masalah” dan kompetensi dasar 4.4 “melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. Bagian-bagian alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka dapat dilihat pada gambar 2.1 halaman 24 sampai gambar 2.4 halaman 27.

(45)

Gambar 2.1 memperlihatkan keseluruhan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. Alat papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka terdiri 5 bagian. Bagian-bagian dari alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka yaitu a) Papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka, c) manik-manik bilangan, c) kotak untuk menyimpan manik-manik bilangan, d) kartu alat peraga yang terdiri dari kartu soal/ kunci jawaban, kartu operasi hitung, dan kartu indikator, serta e) kotak untuk menempatkan kartu alat peraga.

Gambar 2.2 Papan Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Dua Angka

(46)

Papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka cat dengan warna cokelat, dipaku, dan untuk merekatkan papan putih menggunakan lem. Angka yang terdapat pada Papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka menggunakan stiker. Stiker berwarna biru menjelaskan bilangan satuan, stiker berwarna merah menjelaskan puluhan dan stiker berwarna orange menjelaskan satuan.

Gambar 2.3 Kotak Penyimpanan dan Manik-manik Bilangan

(47)

Gambar 2.4 Kotak Tempat Meletakkan Kartu Alat Peraga

Gambar 2.4 merupakan kotak untuk meletakkan kartu alat peraga yang terdiri dari kartu indikator, kartu soal/ kunci jawaban dan kartu operasi hitung. Kotak kartu alat peraga terbuat dari kayu yang dicat berwarna cokelat. Kartu indikator terbuat dari kertas yang digunakan untuk memberikan sekat pada setiap indikator yang berbeda. Setiap indikator memiliki beberapa kartu soal atau kunci jawaban. Kartu soal menjadi satu bagian dengan kunci jawaban. Kunci jawaban digunakan untuk mengecek jawaban siswa ketika menggunakan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka tanpa bantuan guru. Kartu operasi hitung terdiri dari penjumlahan dan pengurangan sesuai indikator. Kartu operasi hitung digunakan siswa maupun guru ketika mengerjakan soal.

5. Tingkat Kepuasan

(48)

pengukuran tingkat kepuasan, karakteristik produk yang mempengaruhi tingkat kepuasan, dan indikator tingkat kepuasan terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori “Alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka”.

a. Pengertian Tingkat Kepuasan

Tjiptono (2011: 292) menjelaskan bahwa “kepuasan atau satisfaction

berasal dari bahasa latin “satis” yang artinya cukup baik atau memadai dan

facio” berarti melakukan atau membuat. Secara sederhana kepuasan dapat

diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu atau membuat sesuatu memadai. Sunyoto (2012: 223) mengatakan kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja yang dirasakan dibandingkan dengan harapan. Tingkat kepuasan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan.

Kotler (2013: 150) “satisfaction is a person's feelings of pleasure or

disappointment that result from comparing a product's perceived performance (or

(49)

Gambar 2.5 Pengaruh Harapan Terhadap Kepuasan

Gambar 2.5 menunjukkan tentang pengaruh harapan terhadap kepuasan. Semakin dekat harapan dengan kondisi ideal maka semakin besar kemungkinan tercapainya kepuasan. Seseorang yang puas dapat berada dimana saja dalam spectrum, yang menentukan posisinya adalah posisi hasil yang diperoleh maupun

kinerja yang dilakukan. Siswa dan guru akan merasa puas ketika kinerja alat peraga sesuai atau melebihi dengan harapan mereka. Kinerja yang dirasakan adalah perasaan siswa dan guru terhadap apa yang diterimanya setelah menggunakan alat peraga (Tjiptono, 2004: 147). Peneliti menyimpulkan bahwa tingkat kepuasan merupakan tingkat perasaan siswa dan guru setelah mengetahui kinerja alat peraga sesuai atau melebihi harapan.

b. Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kepuasan

Ratnasari dan Aksa (2011: 117-118) faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan pengguna adalah kualitas produk, kualitas pelayanan, emosional, harga dan biaya. Jika diimplementasikan pada tingkat kepuasan siswa dan guru di dunia pendidikan, kualitas produk berkaitan dengan alat peraga sebagai sarana

Minimal yang didapat Yang selayaknya

Ideal

(50)

pembelajaran. Alat peraga merupakan alat bantu yang memudahkan siswa maupun guru untuk memahami materi pelajaran. Siswa dan guru akan merasa puas apabila alat peraga yang mereka gunakan berkualitas, yaitu sesuai dengan apa yang diharapkan dan dikinerja alat peraga baik.

Kualitas pelayanan berkaitan dengan pelayanan yang diterima siswa dan guru. Siswa dan guru merasa puas jika mendapatkan pelayanan yang baik atau sesuai dengan harapannya. Emosional yang berarti merasa bangga atau senang terhadap alat peraga karena memiliki nilai sosial yang membuat siswa dan guru merasa puas. Siswa dan guru akan merasa puas jika memperoleh alat peraga dengan harga murah. Siswa dan guru akan merasa puas jika tidak mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan perbaikan alat peraga setelah mendapatkan atau membeli alat peraga tersebut.

(51)

akan mengakibatkan ketidakpuasan puas seseorang. Faktor yang keempat adalah emotional factor. Siswa akan merasa puas karena adanya emosi atau rasa senang yang diberikan oleh sebuah alat peraga. Faktor yang kelima adalah biaya dan kemudahan. Siswa dan guru akan semakin puas apabila relatif mudah, nyaman dan efisien dalam mendapatkan prouk alat peraga.

c. Manfaat Tingkat Kepuasan

Ratnasari dan Aksa (2011: 119) menyatakan bahwa jika pengguna puas, maka menunjukkan besarnya kemungkinan untuk kembali menggunakan produk yang sama. Pengguna cenderung memberikan referensi yang baik terhadap produk atau jasa kepada orang lain. Jika diimplementasi ke dunia pendidikan, siswa dan guru merasa puas dengan alat peraga yang digunakan dan kemungkinan besar siswa dan guru sebagai pengguna akan kembali menggunakan alat peraga yang sama.

(52)

Tjiptono (dalam Sunyoto, 2012: 224-225) mengatakan bahwa terciptanya kepuasan dapat memberikan manfaat bagi seseorang. Tiga manfaat kepuasan menurut Tjiptono yaitu (a) hubungan antara perusahaan dan pengguna menjadi harmonis, (b) memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang dan terciptanya loyalitas pengguna, (c) membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut yang menguntungkan perusahaan. Manfaat kepuasan pengguna pada suatu perusahaan adalah terjadinya hubungan harmonis antara pengguna dengan perusahaan.

Peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa alat peraga akan berpengaruh pada pola perilaku siswa dan guru selanjutnya. Siswa dan guru yang merasa puas terhadap suatu alat peraga akan menggunakan kembali alat peraga tersebut. Siswa dan guru yang merasa puas akan memberikan informasi positif tentang alat peraga tersebut kepada orang lain. Siswa dan guru yang tidak puas akan mengembalikan alat peraga tersebut dan memberikan informasi negatif tentang produk tersebut pada orang-orang disekitarnya.

d. Pengukuran Tingkat Kepuasan

(53)

Gost shopping adalah cara untuk mengetahui gambaran kepuasan pengguna

barang atau jasa dengan meminta bantuan kepada beberapa orang (gost shopper). Gost shopper berperan sebagai konsumen suatu produsen dan pesaingnya. Gost

shopper akan mendapatkan informasi mengenai kekuatan, kelemahan, dan

cara-cara mengatasi keluhan pengguna barang dan jasa suatu produsen dan pesaingnya berdasarkan pengalamannya saat menggunakan barang dan jasa tersebut (dalam Tjiptono 2004: 149).

Lost customer analysis dilakukan dengan cara menganalisa penyebab

pengguna berhenti menggunakan produk atau jasa. Cara tersebut akan membuat penyedia produk atau jasa mengetahui alasan dari ketidakpuasan pengguna. Penyedia produk akan memperbaiki produk tersebut setelah mengetahui penyebab pengguna berhenti menggunakannya (dalam Tjiptono 2004: 150).

Survei kepuasan pengguna dapat dilakukan dengan empat cara directly reported satisfaction, derived dissatisfaction, problem analysis dan importance

and performance analysis. Directly reported ssatisfaction yaitu pengukuran yang

dilakukan menggunakan pertanyaan-pertanyaan spesifik yang menanyakan langsung tingkat kepuasan yang dirasakan. Derived dissatisfaction menyangkut dua hal yaitu besar harapan terhadap atribut dan kinerja yang dirasakan. Problem analysis yaitu meminta untuk menuliskan masalah yang berkaitan dengan produk

(54)

Metode pengukuran yang disampaikan Kotler, maka peneliti melakukan pengukuran tingkat kepuasan siswa dan guru terhadap penggunaan alat peraga Matematika berbasis metode Montessori menggunakan Importance and Performance Analysis (IPA). Metode penelitian yang digunakan adalah metode sensus. Metode sensus menggunakan data dari seluruh populasi (Purwanto, 2010: 221).

e. Importance and Performance Analysis (IPA)

Chan (2005: 21) menjelaskan bahwa dokumen asli dalam literatur Importance and Performance Analysis (IPA) diprakarsai oleh Martilla dan James

pada 1977 dan pertama kali diterapkan pada kepuasan pelanggan dalam industri otomotif. Importance and Performance Analysis (IPA) semakin berkembang di dunia. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hawes & Prough dan Dolinsky & Cuputo pada bidang kesehatan. Pada bidang pariwisata oleh Bush & Ortinau, Duke & Persia dan Uysal, Howard & Jamrozy. Tahun 1998 berkembang pada bidang pendidikan dengan peneltian yang dilakukan Alberty & Mihalik mengenai adult evaluation dan Ross mengenai evaluasi pada fakultas (Chan, 2005: 25).

Importance and Performance Analysis (IPA) merupakan salah satu teknik

untuk menganalisis hubungan antara kinerja dan kepentingan yang diukur (Simpeh, 2013: 5). Chan (2005: 22) menyatakan bahwa “consumer satisfaction is a function of both expectations related to certain important atribut and

(55)

Feng (2005) menambahkan bahwa kepentingan adalah gambaran tingkatan kepedulian pelanggan terhadap produk atau jasa dan kinerja adalah menggambarkan spesifikasi tingkat kepuasan pelanggan terhadap produk atau jasa. Analisis menggunakan IPA penting dilakukan karena dapat membantu mengidentifikasi atribut yang paling penting bagi pelanggan dan memiliki pengaruh paling tinggi terhadap kepuasan mereka, serta mereka yang memiliki kinerja rendah dan perlu perbaikan (Matzler dalam Simpeh, 2013: 5).

Chan (2005: 22-23) menjelaskan bahwa IPA adalah metode evaluasi yang biasanya dilakukan dalam empat tahap. Tahap pertama melakukan pengumpulan atribut untuk item yang sedang dievaluasi. Tahap kedua melakukan pengembangan untuk mengukur atribut. Instrumen yang digunakan merupakan gabungan dari setiap item pada daftar atribut dengan dua skala Likert yang berbeda. Skala Likert pertama digunakan untuk memperoleh respon mengenai pentingnya suatu produk atau jasa. Skala Likert kedua digunakan untuk memperoleh respon mengenai kinerja suatu produk atau jasa. Tahap ketiga adalah perhitungan data yang diperoleh. Data yang diperoleh berupa nilai rata-rata. Nilai rata-rata tersebut dipasangkan untuk setiap atribut, yang diukur pada skala kepentingan dan skala kinerja. Tahap akhir adalah plotting hasil pada diagram kartesius untuk membantu dalam pengambilan keputusan.

f. Manfaat Pengukuran Tingkat Kepuasan

(56)

akan kembali menggunakan produk tersebut apabila pengguna merasa puas terhadap pelayanan yang diterimanya. Pengguna cenderung akan memberikan persepsi yang baik atas produk tersebut kepada orang lain.

Supranto (2006) menjelaskan bahwa terdapat tiga manfaat pengukuran kepuasan. Pertama, untuk mengetahui bekerjanya suatu produk yang berguna untuk menentukan perubahan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja produk tersebut. Kedua, untuk mengetahui perubahan yang harus dilakukan agar dapat memperbaiki kekurangan. Ketiga, untuk memastikan bahwa perubahan yang dilakukan mengarah kepada perbaikan.

Pengukuran tingkat kepuasan siswa dan guru dapat memberikan gambaran mengenai kualitas alat peraga untuk proses belajar mengajar di sekolah. Kualitas proses belajar mengajar di sekolah ditentukan oleh kualitas guru, ketersediaan sarana dan prasarana sekolah, suasana belajar, kurikulum yang dilaksanakan dan pengelolaan sekolah (Sopiatin, 2010: 5). Salah satu contoh ketersediaan sarana dan prasarana sekolah adalah penggunaan alat peraga pembelajaran. Kepuasan siswa terhadap proses belajar mengajar di sekolah dapat meningkatkan kualitas belajar siswa. Kesimpulan yang dapat diperoleh bahwa manfaat pengukuran kepuasan adalah untuk mengetahui kinerja alat peraga, melakukan perbaikan alat peraga, memastikan perubahan mengarah pada perbaikan kinerja alat peraga. g. Karakteristk Produk yang Mempengaruhi Tingkat Kepuasan

(57)

daya beli pasar (Tjiptono, 1997: 95). Jika diimplementasikan ke dalam konteks pendidikan maka produk berupa alat peraga yang digunakan siswa dan guru. Alat peraga dapat membantu siswa dan guru memahami materi pelajaran dari konkret ke abstrak.

Garvin (dalam Laksana, 2008: 89-90) menjelaskan karakteristik kualitas produk. Kualitas produk merupakan keistimewaan produk yang dapat memenuhi keinginan pelanggan sehingga dapat memberikan kepuasan. Garvin (dalam Laksana, 2008: 89-90) menjelaskan bahwa suatu produk dikatakan berkualitas apabila memenuhi delapan karakteristik kualitas produk, yaitu performansi (performance), keistimewaan tambahan (feature), kehandalan (reliability), daya

tahan (durability), konformansi (conformance), kemampuan pelayanan (service ability), kualitas yang dirasakan (perceived quality) dan estetika (aesthetics).

(58)

spesifikasi yang ditetapkan berdasarkan keinginan seseorang. Keenam, stetika (aesthetics) adalah daya tarik produk terhadap panca indera yang berkaitan dengan perasaan pribadi seperti selera dan keelokan. Ketujuh, kemampuan pelayanan (servis ability) merupakan karakteristik yang berkaitan dengan dengan kecepatan dan kemudahan serta akurasi perbaikan. Kedelapan, kualitas yang dirasakan (perceiced quality) bersifat subjektif yang berkaitan reputasi seseorang yang menggunakan produk tersebut.

Garvin, Juran dan Gryna (dalam Sethi, 2000) menjelaskan beberapa karakteristik kualitas produk baru yaitu estetika (aesthetics), performansi (performance), keawetan (life), dan kualitas pengerjaan (workmanship). Sethi (2000) menambahkan bahwa satu karakteristik kualitas produk baru yaitu keamanan (safety). Peneliti menyimpulkan dari pendapat Garvin dan Sethi bahwa karakteristik produk yang mempengaruhi kepuasan adalah performansi (performance), keistimewaan tambahan (feature), kehandalan (reliability), daya

tahan (durability), konformansi (conformance), kemampuan pelayanan (service ability), kualitas yang dirasakan (perceived quality), estetika (aesthetics), keawetan (life), kualitas pengerjaan (workmanship) dan keamanan (safety).

h. Indikator Tingkat Kepuasan terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori

(59)

indikator ini melalui penggabungan karakteristik kualitas produk menurut Garvin dan Sethi dengan karakteristik alat peraga Montessori.

Karakteristik alat peraga Montessori yaitu auto-education, menarik, bergradasi, auto-correction (Montessori, 2002: 19). Peneliti menambahkan kontekstual sebagai karakteristik alat peraga Montessori. Indikator auto-education pada alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka memungkinkan siswa untuk belajar mengembangkan diri secara mandiri dan mengurangi bantuan dari guru maupun orang yang lebih dewasa (Montessori, 2002: 18). Indikator menarik menunjukkan bahwa alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka dibuat dengan bentuk, ukuran, dan warna yang menarik. Indikator bergradasi menunjukkan bahwa alat peraga Montessori memiliki gradasi untuk melatih siswa membedakan warna, bentuk, dan ukuran.

(60)

Tabel 2.1

Auto-education1 Performansi (performance) 1 Estetika (aesthetics) 2

Menarik 2 Keistimewaan tambahan

(feature) 3

Performansi (performance) 1

Bergradasi 3 Kehandalan (realibility) 1 Keawetan (life) 6

Auto-corretion4 Daya tahan

(durability) 6

Kualitas pengerjaan

(workmanship) 7

Kontekstual 5 Konformasi (conformance)* Keamanan (safety) 7

Estetika (aesthetics) 2

Kemampuan pelayanan

(service ability)7

Kualitas yang dirasakan

(perceiced quality) 7

Tabel 2.1 memperlihatkan ketiga karakteristik yang digunakan untuk menyusun indikator tingkat kepuasan siswa maupun guru terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Tabel 2.1 menunjukkan 5 karakteristik alat peraga Montessori, 9 karakteristik produk lama dan 5 karakteristik produk baru. Karakteristik produk lama untuk indikator konformasi (conformance) yang diberi tanda * tidak dipergunakan dalam penyusunan

indikator tingkat kepuasan, dikarenakan dalam alat peraga tidak memiliki ada standar yang ditetapkan.

(61)

indikator tersebut yaitu auto-education, menarik, bergradasi, auto- correction, kontekstual, life dan workmanship.

Kode nomor 1 adalah indikator auto-education, performance dan realibility. Indikator performance, realibility memiliki arti sama dengan indikator auto-education yaitu membantu proses pemahaman materi matematika serta

kemungkinan kecil mengalami kegagalan menjalankan fungsinya. Kode nomor 2 adalah indikator menarik dan estetika (aesthetics). Persamaan indikator estetika dengan indikator menarik yaitu berkaitan dengan daya tarik alat peraga terhadap panca indera. Kode nomor 3 adalah indikator bergradasi dan keistimewaan tambahan. Gradasi dalam alat peraga Montessori menjadi keistimewaan dari alat peraga tersebut. Kode nomor 4 adalah indikator auto-correction. Indikator auto-correction berdiri sebagai indikator yang tidak memiliki gabungan dari karakteristik produk lama dan karakteristik produk baru. Indikator auto-correction memiliki arti setiap alat peraga Montessori mempunyai pengendali kesalahan.

Kode nomor 5 adalah indikator kontekstual. Kontekstual dalam karakteristik alat peraga Montessori berarti alat peraga dibuat menggunakan bahan yang ada dilingkungan sekitar. Indikator kontekstual berdiri sendiri tanpa gabungan dari karakteristik produk lama dan karakteristik produk baru.

(62)

ability), kualitas yang dirasakan (perceiced quality), kualitas pengerjaan (workmanship) dan keamanan (safety). Kode nomor 7 memiliki kesamaan arti alat

peraga dapat digunakan dengan mudah dan aman. Indikator kode nomor 7 tidak dimiliki oleh karakteristik alat peraga Montessori sehingga menjadi sebagai indikator baru dalam indikator tingkat kepuasan.

Tabel 2.2

Indikator Tingkat Kepuasan Terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori

No. Indikator Tingkat Kepuasan Alat Peraga Montessori

1. Auto education

2. Menarik

3. Bergradasi

4. Auto corretion

5. Kontekstual

6. Life

7. Workmanship

Tabel 2.2 merupakan tujuh indikator tingkat kepuasan terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori yaitu auto-education, menarik, bergradasi, auto- correction, kontekstual, life dan workmanship.

B. Penelitian yang Relevan

Contoh penelitian yang relevan untuk penelitian tingkat kepuasan alat peraga matematika berbasis metode Montessori, sebagai berikut:

Figur

Tabel 4.37  Penilaian Guru terhadap Kinerja Indikator Workmanship ...................   167
Tabel 4 37 Penilaian Guru terhadap Kinerja Indikator Workmanship 167 . View in document p.17
Gambar 4.11   Diagram Kartesius Indikator Bergradasi Tingkat Kepuasan Guru
Gambar 4 11 Diagram Kartesius Indikator Bergradasi Tingkat Kepuasan Guru . View in document p.19
Gambar 2.1 Alat Peraga Papan Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Dua
Gambar 2 1 Alat Peraga Papan Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Dua . View in document p.44
Gambar 2.2 Papan Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Dua Angka
Gambar 2 2 Papan Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Dua Angka . View in document p.45
Gambar 2.3 Kotak Penyimpanan dan Manik-manik Bilangan
Gambar 2 3 Kotak Penyimpanan dan Manik manik Bilangan . View in document p.46
Gambar 2.4 merupakan kotak untuk meletakkan kartu alat peraga yang
Gambar 2 4 merupakan kotak untuk meletakkan kartu alat peraga yang . View in document p.47
Gambar 2.5 menunjukkan tentang pengaruh harapan terhadap kepuasan.
Gambar 2 5 menunjukkan tentang pengaruh harapan terhadap kepuasan . View in document p.49
Tabel 2.1 memperlihatkan ketiga karakteristik yang digunakan untuk
Tabel 2 1 memperlihatkan ketiga karakteristik yang digunakan untuk . View in document p.60
Tabel 2.2 Indikator Tingkat Kepuasan Terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika
Tabel 2 2 Indikator Tingkat Kepuasan Terhadap Penggunaan Alat Peraga Matematika . View in document p.62
Tabel 3.8
Tabel 3 8 . View in document p.86
Tabel 3.9
Tabel 3 9 . View in document p.89
Tabel 3.9 memperlihatkan perbandingan kuesioner kinerja dan kepentingan
Tabel 3 9 memperlihatkan perbandingan kuesioner kinerja dan kepentingan . View in document p.90
Tabel 3.10
Tabel 3 10 . View in document p.92
Tabel 3.10 memperlihatkan perbandingan kuesioner kinerja dan kuesioner
Tabel 3 10 memperlihatkan perbandingan kuesioner kinerja dan kuesioner . View in document p.96
Tabel 3.12
Tabel 3 12 . View in document p.97
Tabel 3.13 memperlihatkan perbandingan kuesioner kinerja dan kuesioner
Tabel 3 13 memperlihatkan perbandingan kuesioner kinerja dan kuesioner . View in document p.101
Tabel 3.14
Tabel 3 14 . View in document p.102
Tabel 3.14 merupakan sejumlah pernyataan yang digunakan untuk
Tabel 3 14 merupakan sejumlah pernyataan yang digunakan untuk . View in document p.103
Tabel 3.17 menunjukkan koefesien reliabilitas total pada kuesioner kinerja
Tabel 3 17 menunjukkan koefesien reliabilitas total pada kuesioner kinerja . View in document p.123
Tabel 3.18
Tabel 3 18 . View in document p.124
Tabel 3.18 menunjukkan rangkuman hasil uji validitas dan reliabilitas.
Tabel 3 18 menunjukkan rangkuman hasil uji validitas dan reliabilitas . View in document p.125
Tabel 3.19
Tabel 3 19 . View in document p.126
Gambar 3.1 Diagram Kartesius
Gambar 3 1 Diagram Kartesius . View in document p.134
Tabel 3.21
Tabel 3 21 . View in document p.136
Tabel 4.1
Tabel 4 1 . View in document p.141
Tabel 4.2
Tabel 4 2 . View in document p.142
Tabel 4.3
Tabel 4 3 . View in document p.143
Tabel 4.3 memperlihatkan tingkat kepuasan siswa terhadap penggunaan alat
Tabel 4 3 memperlihatkan tingkat kepuasan siswa terhadap penggunaan alat . View in document p.144
tabel 4.4 halaman 125 sampai 4.17 halaman 133.
tabel 4.4 halaman 125 sampai 4.17 halaman 133. . View in document p.145
Tabel 4.5 menunjukkan penilaian siswa terhadap kepentingan indikator
Tabel 4 5 menunjukkan penilaian siswa terhadap kepentingan indikator . View in document p.146

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (308 Halaman)