PERAN MADRASAH DINIYAH USWATUN KHASANAH DALAM UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK DI DUSUN CABEAN KULON KECAMATAN TENGARAN KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2017 SKRIPSI DisusunGunaMemperolehGelar SarjanaPendidikan(S.Pd )

169 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PERAN MADRASAH DINIYAH USWATUN KHASANAH

DALAM UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK

DI DUSUN CABEAN KULON KECAMATAN TENGARAN

KABUPATEN SEMARANG

TAHUN 2017

SKRIPSI

DisusunGunaMemperolehGelar

SarjanaPendidikan(S.Pd )

Oleh:

UMI INAYAH

11113054

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

(2)
(3)

PERAN MADRASAH DINIYAH USWATUN KHASANAH

DALAM UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK

DI DUSUN CABEAN KULON KECAMATAN TENGARAN

KABUPATEN SEMARANG

TAHUN 2017

SKRIPSI

DisusunGunaMemperolehGelar

SarjanaPendidikan (S.Pd.)

Oleh:

UMI INAYAH

11113054

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

(4)
(5)
(6)
(7)

MOTTO

ٌةَفِئاَط ْمُهْ نِم ٍةَقْرِف ِّلُك ْنِم َرَفَ ن لاْوَلَ ف ًةَّفاَك اوُرِفْنَ يِل َنوُنِمْؤُمْلا َناَك اَمَو

َنوُرَذَْيَ ْمُهَّلَعَل ْمِهْيَلِإ اوُعَجَر اَذِإ ْمُهَمْوَ ق اوُرِذْنُ يِلَو ِنيِّدلا ِفِ اوُهَّقَفَ تَيِل

(8)

PERSEMBAHAN

Alhamdulillahirobbil‟alamin dengan rahmat dan hidayah Allah Subhanahu Wa Ta‟ala skripsi ini telah selesai. Skripsi ini penulis persembahkan kepada: 1. Ibu Suyati dan Bapak Tuhri yang telah mendidik dari kecil, senantiasa

memberikan nasihat dan yang tak pernah lelah mendo‟akan tanpa henti untuk menjadi pribadi yang bermanfaat untuk sesama.

2. Kakak-kakakku dan adik-adikku yang senantiasa memberikan semangat untuk terus menjadi pribadi yang tangguh.

3. Seluruh sahabatku yang selalu membersamai dalam setiap langkah beserta teman-teman PAI angkatan 2013 terima kasih untuk semangat dan motivasi yang diberikan.

4. Keluarga PAI B, Keluarga besar LDK Fathir ar-Rasyid, Keluarga PPL SMK Islam Sudirman Tingkir, Keluarga KKN Posko 70 dan keluarga besar Dusun Nanggulan yang telah memberikan pengalaman hidup yang luar biasa.

(9)

KATA PENGANTAR

Assalamu‟alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Alhamdulillahirobil‟alamin puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta‟ala berkat taufiq, rahmat dan inayah serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar. Shalawat dan salam selalu tercurah pada junjungan Nabi Agung Muhammad

Shalallahu „Alaihi Wasallam yang telah membimbing manusia dari zaman kegelapan hingga zaman terang benderang serta yang dinantikan syafaatnya di hari kiamat kelak.

Dengan penuh rasa syukur penulis panjatkan, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “PERAN MADRASAH DINIYAH

USWATUN KHASANAH DALAM UPAYA MENINGKATKAN

KUALITAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK DI DUSUN

CABEAN KULON KECAMATAN TENGARAN KABUPATEN

SEMARANG TAHUN 2017”. Skripsi ini disusun guna memenuhi syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Progam Studi Pendidikan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN).

Dalam menyusun skripsi ini penulis telah menerima bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M, Pd., selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.

(10)
(11)

ABSTRAK

Inayah, Umi. 2017. Peran Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pendidikan Agama Islam Pada Anak Di Dusun Cabean Kulon Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang Tahun 2017. Skripsi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Jurusan Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Achmad Maimun, M. Ag.

Kata Kunci: Peran Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah

Pertanyaan utama yang ingin dijawab melalui penelitian ini yaitu (1) bagaimana peran Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah dalam upaya meningkatkan kualitas Pendidikan Agama Islam pada anak di Dusun Cabean Kulon? (2) apa saja faktor yang menghambat dan mendukung dalam upaya meningkatkan kualitas Pendidikan Agama Islam pada anak di Dusun Cabean Kulon?. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif kuaitatif. Metode yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan teknik analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa peran Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam pada anak di Dusun Cabean Kulon, di antaranya. (1)Melahirkan generasi yang berakhlak mulia. (2) Menambah wawasan pengetahuan agama Islam. (3) Mengikis kemerosotan akhlak akibat pengaruh perkembangan teknologi. (4) Madrasah Diniyah sebagai pengayaan mata pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah. (5) Memperbaiki BTQ (Baca Tulis Qur‟an) anak. (6) Membantu dalam menjaga tradisi keagamaan di tengah masyarakat.

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kondisi Madrasah Diniyah

Tabel 3.2 Struktur Kepengurusan Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah Tabel 3.3 Data Ustadz/Ustadzah

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Daftar Riwayat Hidup

2. Daftar Satuan Kredit Kegiatan (SKK) 3. Lembar Konsultasi Skripsi

4. Surat Permohonan Izin Melakukan Penelitian 5. Kode Penelitian

(14)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ……….……….………...…. i

HALAMAN BERLOGO ………..………... ii

HALAMAN JUDUL ……….………...…………...…….. iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………….…….…...……. iv

HALAMAN PENGESAHAN ……….……….……...……. v

DEKLARASI ……….………... vi

MOTTO ………..………...……. vii

PERSEMBAHAN ………...………..……. viii

KATA PENGANTAR ………...………..…….. ix

ABSTRAK ………..………..……. xi

DAFTAR TABEL ………..……. xii

DAFTAR LAMPIRAN ………..………...…… xiii

DAFTAR ISI ………..………...…… xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ……… 1

B. Rumusan Masalah ………. 5

C. Tujuan Penelitian ………... 6

D. Manfaat Penelitian ……… 6

E. Penegasan Istilah ………... 7

F. Metodologi Penelitian ………... 8

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian ……….. 8

(15)

3. Lokasi Penelitian ………. 9

4. Sumber Data ……… 10

5. Teknik Pengumpulan Data ……….. 10

6. Analisis Data ………... 11

7. Pengecekkan Keabsahan Data ……… 12

8. Tahap-Tahap Penelitian ………... 12

9. Sistematika Penulisan ……….. 14

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Madrasah Diniyah ……… 15

1. Pengertian Madrasah Diniyah ………. 15

2. Peranan Madrasah Diniyah ………. 17

3. Bentuk-Bentuk Madrasah Diniyah ………. 24

4. Jenjang Pendidikan Madrasah Diniyah ……….. 29

5. Tujuan Madrasah Diniyah ………... 30

6. Potensi Madrasah Diniyah ……….. 32

7. Aspek-Aspek Madrasah Diniyah ……… 34

8. Dampak Kebijakan Full Day School ……….. 45

B. Pendidikan Agama Islam ……….. 49

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam ……….. 49

2. Fungsi Pendidikan Agama Islam ……… 52

3. Tujuan Pendidikan Agama Islam ……… 54

(16)

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

A. Paparan Data ………... 60

1. Gambaran Lokasi Penelitian ………. 60

a. Sejarah Berdirinya Madrasah Diniyah ……… 60

b. Kondisi Masyarakat ………. 63

c. Letak Geografis ……… 66

d. Kondisi Masyarakat ………. 67

e. Struktur Kepengurusan ……… 68

f. Keadaan Ustadz/Ustadzah ………... 69

g. Keadaan Santriwan/Santriwati ………. 70

h. Sarana dan Prasarana ………... 75

i. Proses Belajar Mengajar ………... 78

B. Temuan Penelitian ……… 79

1. Peran Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pendidikan Agama Islam ...……… 79

a. Perbedaan Anak Yang Mengikuti Madrasah Diniyah Dengan Yang Tidak Mengikuti ………...………. 83

b. Perkembangan Anak Sebelum Dan Sesudah Mengikuti Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah ………..……….. 84

c. Materi, Metode, Strategi, Kegiatan Penunjang Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pendidikan Agama Islam Pada Anak ………...….. 89

(17)

b) Metode dan Strategi Pembelajaran ……...………….. 90 c) Kegiatan Penunjang ………...………. 92 d) Sarana Prasarana Pembelajaran ………..……… 93 2. Faktor Pendukung Dan Faktor Penghambat Madrasah Diniyah

Uswatun Khasanah Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas

Pendidikan Agama Islam Pada Anak ...……….…..………... 94 BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Peran Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pendidikan Agama Islam Pada Anak Di

Dusun Cabean Kulon ………….………..……… 99 B. Faktor Pendukung Dan Faktor Penghambat Madrasah Diniyah

Uswatun Khasanah Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas

Pendidikan Agama Islam Pada Anak Di Dusun Cabean ...……... 111 1. Faktor Pendukung …...………..………….. 111 2. Faktor Penghambat …..………..…………. 114 BAB V PENUTUP

A. Penutup ………...………...………… 120 B. Saran …………...………...………… 122 DAFTAR PUSTAKA

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Modernisasi dalam segala bidang yang ditandai dengan perkembangan teknologi yang canggih, semakin menantang peranan keberadaan pendidikan agama sebagai penyelamat akhlak generasi penerus dari dampak negatif proses tersebut. Pendidikan ini mencakup tentang pendidikan iman dan taqwa serta akhlak mulia.Iman dan taqwa ditanamkan dalam bentuk pengetahuan, sedangkan akhlak mulia ditanamkan melalui pembiasaan.Setiap pribadi diharapkan memiliki sikap dan kualitas pribadi yang shaleh/sholihah, serta berakhlak mulia, hal tersebut tentunya terkait dengan sejauh mana upaya pendidikan yang dilakukan.Perlu adanya pembiasaan dan keteladanan sejak kanak-kanak untuk memperdalam pengetahuan agamanya.

(19)

اًفاَعِض ًةَّيِّرُذ ْمِهِفْلَخ ْنِم اوُكَرَ ت ْوَل َنيِذَّلا َشْخَيْلَو

اًديِدَس لاْوَ ق اوُلوُقَ يْلَو َهَّللا اوُقَّ تَيْلَ ف ْمِهْيَلَع اوُفاَخ

“…….. hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Departemen Agama RI, 2009:78).

Pedidikan adalah proses panjang pembetukan kepribadian anak. Dengan pendidikan yang baik anak akan tumbuh menjadi generasi penerus yang berkualitas dari segi moral, intelektual, dan spiritual (Mustaqim, 2005:15). Baik jalur formal maupun nonformal sama-sama memiliki fungsi sebagai lembaga yang dapat membantu mencegah terjadinya kemerosotan agama dan menumbuh kembangkan generasi Qur‟ani.

Dusun Cabean Kulon mayoritas masyarakatnya adalah muslim, dengan latar belakang kehidupan yang religious dalam kesehariannya. Hal tersebut dapat terlihat dari kegiatan keagamaan yang ada mulai dari anak-anak sampai orang tua. Akan tetapi, kondisi lingkungan sekitar yang religious tidak menjadi jaminan bagi para orang tua untuk lepas tangan begitu saja dalam keberlangsungan pendidikan anak-anak mereka, khususnya akan pendidikan agama. Pengaruh perkembangan teknologi serta pengaruh teman pergaulan di luar tentunya menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para orang tua, mengingat mereka tidak bisa mengawasi selama 24 jam penuh karena kesibukan para orang tua dalam bekerja.

(20)

jauh dari harapan, oleh karena itu para orang tua berusaha melakukan berbagai cara untuk menambah pendidikan agama bagi anak-anaknya. Salah satunya dengan memasukan anak-anak mereka pada lembaga pendidikan keagamaan yang ada dimasyarakat seperti TPQ (Taman Pendidikan Qur‟ an) dan

Madrasah Diniyah.

TPQ (Taman Pendidikan Qur‟an) lebih dulu dikenal di Dusun Cabean Kulon daripada Madrasah. TPQ (Taman Pendidikan Qur‟an) diikuti oleh anak -anak mulai dari usia TK, SD, dan beberapa -anak SMP, yang semuanya berbaur menjadi satu dalam pembelajarannya. Namun seiring berjalannya waktu beberapa anak usia SD dan SMP mulai tidak nyaman dan merasa malu, ketika mengaji harus berbaur menjadi satu dengan anak-anak yang usianya berada dibawah mereka. Disatu sisi mereka malu dengan usianya, akan tetapi disisi yang lain masih ada semangat yang tinggi untuk mengaji dan menuntut ilmu agama.

(21)

Sarana prasarana dan staf pengajar yang terbatas, serta waktu mengajar yang sangat minim dengan jumlah santri yang cukup banyak, membuat para pendidik/pengelola Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah yang sekaligus merangkap menjadi penanggungjawab TPQ (Taman Pendidikan Qur‟an)

Uswatun Khasanah harus memutar otak supaya tetap bisa memberikan ilmu kepada para santri secara maksimal pada kedua lembaga tersebut, demi terwujudnya pendidikan agama maupun pendidikan karakter yang berkualitas pada diri anak.

Lembaga pendidikan Islam yang dikenal dengan nama Madrasah ini telah lama diselenggarakan di Indonesia. Adanya rencana sekolah lima hari atau disebut Full Day Schoolyang dicanangkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pendidikan baru-baru ini telah mendapat reaksi dari berbagai pihak. Salah satu hal yang menjadi kekhawatiran beberapa pihak atas rencana Full Day School adalah akan mematikan keberadaan Madrasah Diniyah sebagai lembaga pendidikan agama yang telah lama dikenal masyarakat. Perlu adanya peninjauan lebih dalam sebelum hal tersebut diputuskan, mengingat peran Madrasah Diniyah tidak hanya mendidik anak agar pandai tentang agama Islam saja, akan tetapi terlebih lagi adalah pengalaman agama itu sendiri dalam perilaku kehidupan sehari-hari.

(22)

pendidikan agama bagi anak-anak dari sekolah umum dan pembentukan moral serta budi pekerti luhur bagi generasi muda pada umumnya.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis berkeinginan untuk meneliti permasalahan dengan judul “Peran Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pendidikan Agama Islam Pada Anak di Dusun Cabean Kulon Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang Tahun 2017”.

B.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana peran Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah dalam upaya meningkatkan kualitas Pendidikan Agama Islam pada anak di Dusun Cabean Kulon Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang?

(23)

C.Tujuan Penulisan

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui peran Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah dalam upaya meningkatkan kualitas Pendidikan Agama Islam pada anak di Dusun Cabean Kulon Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang Tahun 2017. 2. Untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat yang dihadapi

Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah dalam upaya meningkatkan kualitas Pendidikan Agama Islam pada anak di Dusun Cabean Kulon Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang Tahun 2017.

D.Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas dan diharapkan dapat memberi manfaat secara praktis maupun teoritis, antara lain:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan khazanah keilmuwan dalamupaya peningkatan kualitas Pendidikan Islam, khususnya tentang Pendidikan Agama Islam di Madrasah Diniyah.

2. Manfaat Praktis

(24)

E.Penegasan Istilah

1. Madrasah Diniyah

Madrasah dalam bahasa Arab berarti tempat untuk belajar. Padanan Madrasah dalam bahasa Indonesia adalah sekolah dengan konotasi yang khusus yaitu sekolah-sekolah agama Islam. Dalam arti tempat belajar, madrasah memang berasal dari dunia Islam, sebagai tempat mengajarkan dan mempelajari ajaran-ajaran agama Islam, ilmu pengetahuan dan keahlian lainnya yang berkembang pada zamannya (Departemen Agama RI, 1986:67).

Madrasah Diniyah adalah suatu bentuk madrasah yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama (diniyah).Madrasah ini dimaksudkan sebagai lembaga pendidikan agama yang disediakan bagi siswa yang belajar disekolah umum (Nasir, 2005:95).

2. Pendidikan Agama Islam

Menurut Zakiyah Daradjat yang dikutip Majid (2005:130) pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh.Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.

(25)

bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

F.Metodologi Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (Field Research), yaitu bahwa penelitian ini berangkat ke lapangan untuk mengadakan pengamatan tentang sesuatu fenomena dalam suatu keadaan alamiah (Moleong, 2008:26). Dalam hal ini peneliti terjun ke lapangan penelitian yaitu Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah Dusun Cabean Kulon, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang untuk mengamati fenomena yang berhubungan dengan santri, pengelola atau pengajar Madrasah Diniyah.

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistic, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2008:6).

(26)

lingkungan Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah Dusun Cabean Kulon, Desa Karang Duren yang dijadikan subjek penelitian.

2. Kehadiran Peneliti

Dalam pelaksanaan penelitian, peneliti berlaku sebagai instrumen utama tanpa mewakilkan kehadirannya pada orang lain. Kehadiran peneliti bertujuan untuk melakukan pengamatan dan wawancara mendalam guna mendapatkan data akurat dari informan yang diperlukan peneliti untuk melengkapi data penelitian.

3. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian berada di Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah Dusun Cabean Kulon RT.29/RW.06, Desa Karang Duren, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.

4. Sumber Data

Ada dua sumber data yang digunakan peneliti, yaitu: a. Data Primer

Data primer adalah data dalam bentuk verbal atau kata-kata yang diucapkan secara lisan, gerak-gerik atau perilaku yang dilakukan oleh subjek yang dapat dipercaya (Arikunto, 2013:22).Sumber data langsung yang peneliti dapatkan berasal dari ustad/ustadzah, tokoh agama/tokoh masyarakat, santri, dan wali santri Madrasah Diniyah.

b. Data Sekunder

(27)

foto-foto, film, rekaman video, dan benda-benda yang dapat memperkaya data primer (Arikunto, 2013:22).

Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara.Adapun sumber data sekunder yang digunakan adalah foto keadaan Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah dan data-data lain ditempatpenelitian.

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti, yaitu: a. Observasi

Data observasi berupa deskripsi yang faktual, cermat dan terinci mengenai keadaan lapangan, kegiatan manusia dan situasi sosial, serta konteks dimana kegiatan-kegiatan itu terjadi (Nasution, 2003:59). Peneliti mengamati dan mencatat gejala yang tampak pada objek penelitian.

Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai data yang berhubungan dengan kondisi lingkungan, keadaan santri, ustad/ustadzah Madrasah Diniyah, proses pembelajaran di Madrasah Diniyah serta berbagai kegiatan di Madrasah Diniyah yang berkaitan dengan penelitian ini.

b. Wawancara

(28)

dalam hubungan tatap muka, sehingga dan mimik responden merupakan pola media yang melengkapi kata-kata secara verbal (Gulo, 2002:119). Kegiatan penelitian ini akan dilaksanakan dengan wawancara terbuka dan terstruktur karena informan atau narasumber mengetahui bahwa mereka sedang diwawancarai dan tahu pula tujuan dari wawancara. Selain itu pada saat wawancara, peneliti sudah menetapkan dan menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang tersusun secara sistematis.

Wawancara akan dilakukan kepada narasumber diantaranya adalah ustad/ustadzah, tokoh masyarakat/agama, santriwan/santriwati dan wali santri Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah. Peneliti menggunakan teknik ini untuk mencari data terkait peran madrasah diniyah,faktor pendukung dan penghambat.

c. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 2013:274). Peneliti mencari data mengenai hal-hal yang berkaitan dengan objek penelitian berupa foto terkait kegiatanpendidikan agama islam di Madrasah Diniyah.

6. Analisis Data

(29)

disarankan oleh data (Moleong, 2008:280).Pekerjaan analisis data dalam hal ini adalah mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberikan kode, dan mengkategorisasikannya.Pada tahapan ini, peneliti menganalisis data yang terkumpul yang terdiri dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi.

7. Pengecekan Keabsahan Data

Dalam pengecekan keabsahan data, peneliti menggunakan teknik triangulasi data yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain (Moleong, 2008:330). Pada teknik ini, ada dua jenis triangulasi:

a. Triangulasi metode yaitu dengan jalan membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.

b. Triangulasi sumber yaitu dengan cara membandingkan data hasil wawancara antar narasumber terkait dan membandingkan data hasil dokumentasi antar dokumen.

8. Tahap-Tahap Penelitian

Pelaksanaan penelitian terdiri dari empat tahap yaitu: tahap sebelum ke lapangan, tahap pekerjaan lapangan, tahap analisis data, dan tahap penulisan laporan yang ditempuh sebagai berikut:

a. Tahap Sebelum Kelapangan

(30)

b. Tahap Pekerjaan Lapangan

Tahap ini meliputi pengumpulan bahan-bahan yang berkaitan dengan peran Madrasah Diniyah dalam upaya meningkatkan kualitasPendidikan Agama Islam pada anak di Dusun Cabean Kulon.Data ini diperoleh dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi.

c. Tahap Analisis Data

Menurut Miles dan Huberman yang dikutip Sugiyono (2011:337) aktivitas dalam analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

1) Mereduksi atau merangkum data, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya serta membuang yang tidak perlu.

2) Penyajian data dalam uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, dan sejenisnya secara naratif.

3) Penarikan kesimpulan berupa penemuan baru yang belum pernah ada. d. Tahap Penulisan Laporan

(31)

9. Sistematika Penulisan

Dalam penelitian ini, penulis menyusun kedalam 5 (lima) bab dengan rincian sebagai berikut:

BAB I: PENDAHULUAN. Pada bab ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II: KAJIAN PUSTAKA. Pada bab ini membahas sesuai dengan teori yang mendukungnya, yaitu terkait Madrasah Diniyah dan Pendidikan Agama Islam.

BAB III: PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN. Berisi gambaran umum Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah yang meliputi identitas Madrasah Diniyah, sejarah Madrasah Diniyah, struktur kepengurusan, tenaga pendidik, daftar santri, kegiatan Madrasah Diniyah, proses pembelajaran Madrasah Diniyah, keadaan sarana dan prasarana, dan temuan hasil penelitian berupa peran Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah, serta serta faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi Madrasah Diniyah Uswatun Khasanah dalam upaya meningkatkan kualitas Pendidikan Agama Islam pada anak di Dusun Cabean Kulon.

(32)

BAB V: PENUTUP. Meliputi kesimpulan dan sarana. BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.Madrasah Diniyah

1. Pengertian

Madrasah tidak lain adalah kata Arab untuk sekolah, artinya tempat belajar. Istilah madrasah di tanah Arab ditujukan untuk semua sekolah secara umum, namun di Indonesia ditujukan untuk sekolah-sekolah Islam yang mata pelajaran dasarnya adalah mata pelajaran agama Islam (Nasir2005:90).

Menurut Muhaimin yang dikutip Yasin (2008:257) secara etimologi madrasah adalah tempat untuk mencerdaskan manusia (peserta didik), menghilangkan ketidaktahuan atau memberantas kebodohan mereka, serta melatih keterampilan mereka sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya. Dengan kata lain madrasah berfungsi sebagai wahana atau tempat untuk mengembangkan kepekaan intelektual dan informasi, memperbaharui pengetahuan, serta membentuk sikap dan keterampilan yang berkelanjutan agar tetap up to date dan tidak cepat usang.

(33)

Sedangkan pengertian Madrasah Diniyah ialah lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran secara klasikal dalam pengetahuan agama Islam kepada pelajar bersama-sama sedikitnya berjumlah 10 orang lebih, di antara anak-anak yang berusia 7 sampai dengan 18 (Departemen Agama RI, 2003:23).

Madrasah diniyah adalah sebagai suatu lembaga pendidikan keagamaan luar sekolah yang menyelenggarakan pendidikan agama Islam yang sudah mengenal sistem perjenjangan dalam proses belajar mengajarnya (Departemen Agama RI, 2001:7).

Madrasah Diniyah adalah suatu lembaga pendidikan keagamaan yang telah diakui keberadaannya oleh masyarakat maupun pemerintah. Madrasah Diniyah merupakan lembaga pendidikan turunan dari pesantren yang biasanya kegiatan pembelajaran dilakukan pada sore hari antara pukul 14.00-15.00 atau dalam bahasa orang awam disebut dengan istilah “sekolah sore” atau “sekolah arab”.

Sampai sekarang madrasah diniyah masih mempertahankan tradisi waktu yang digunakan untuk belajar yaitu sore dengan pertimbangan untuk memberikan tambahan wawasan keagamaan siswa yang sekolah pagi (SD/MI, MTs/SMP, MA/SMA) yang notabenya hanya mendapatkan pengetahuan agama hanya sedikit.

(34)

tidak terpenuhi di sekolah-sekolah umum. Dalam pembelajarannya anak tidak hanya diajarkan cara menulis dan membaca Al- qur‟an dengan baik dan benar sesuai ilmu tajwid, akan tetapi juga diajarkan tentang hafalan surat-surat pendek/do‟a sehari-hari, bahasa arab, ilmu fiqh, aqidah akhlak, dan lain-lain.

Dalam hal ini Arifin (2002:30) menyatakan bahwa madrasah sangat diperlukan keberadaannya sebagai tempat dimana murid-murid menerima ilmu pengetahuan agama secara teratur dan sistematis.

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa Madrasah Diniyah adalah salah satu lembaga pendidikan keagamaan pada jalur formal di pendidikan pesantren maupun jalur non formal yang mengunakan metode klasikal dalam pembelajarannya dengan seluruh mata pelajaran yang bermaterikan agama yang sedemikian padat dan lengkap sehingga memungkinkan para santri yang belajar didalamnya lebih baik penguasaanya terhadap ilmu-ilmu agama.

2. Peranan Madrasah Diniyah

(35)

Seiring dengan munculnya ide-ide pembaharuan pendidikan di Indonesia, Madrasah Diniyah ikut serta mengadakan pembaharuan dari dalam, antara lain memantapkan keberadaannya sebagai lembaga pendidikan agama yang mengajarkan pelajaran agama Islam sebanyak 18 jam per minggu, berbeda dengan sekolah umum yang hanya mengajarkan pelajaran agama Islam 2 jam per minggu. Beberapa organisasi penyelenggaraan Madrasah Diniyah banyak mengadakan modifikasi kurikulum yang dikeluarkan Departemen Agama namun tentu saja disesuaikan dengan kondisi lingkungan (Departemen Agama RI, 2001:15).

Sehubungan dengan perkembangan “pembaharuan” Madrasah itu,

untuk memudahkan pembinaan dan bimbingan, Departemen Agama menetapkan dua jenis Madrasah.Jenis pertama adalah Madrasah yang selain menetapkan mata pelajaran agama sebagai pelajaran pokok, memasukkan pula mata pelajaran umum dalam kurikulumnya.Jenis kedua, Madrasah yang semata-mata mempelajari agama (isi kurikulumnya semua agama). Jenis Madrasah kedua ini dikenal dengan Madrasah Diniyah (Departemen Agama RI,1999:145-146).

Besarnya perhatian masyarakat dan pemerintah daerah terhadap penyelenggaraan Madrasah Diniyah antara lain didasarkan alasan sebagai berikut:

(36)

dilakukan dalam kurikulum sekolah umum, penambahan pendidikan Agama Islam perlu dilakukan melalui Madrasah Diniyah disore hari. b. Keluhan dan kritikan yang sering dilontarkan oleh pihak orang tua siswa

terhadap Pendidikan Agama di Sekolah Umum, bahwa anak-anak mereka banyak yang tidak mampu membaca al-Qur‟an. Secara umum hasil pendidikan Agama di sekolah umum dinilai oleh masyarakat belum berhasil meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa bagi peserta didik. Dengan pendidikan agama di sekolah umum 2 jam seminggu bagi guru agama khususnya untuk mengantarkan anak didik agar bisa dan mampu membaca al-Qur‟an dengan lancar dan benar. Keprihatinan pihak orang tua dan tokoh-tokoh Islam terhadap ketidakmampuan anak-anak mereka di sekolah umum membaca al-Qur‟an makin bertambah, karena dewasa ini kegiatan pengajian al -Qur‟an secara “tradisional” di rumah-rumah berangsur hilang dan tergeser oleh “budaya baru” atau “gaya hidup baru” menonton acara TV.

Bagi orang tua dan tokoh-tokoh Islam untuk mengatasi hal tersebut tidak ada jalan lain yang lebih bisa diandalkan kecuali menggiatkan penyelenggaraan Madrasah Diniyah di sore hari.

(37)

yang diatur dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 3 tahun 1983, TPQ umumnya diselenggarakan di sore hari.

d. Bagi masyarakat Indonesia, Madrasah Diniyah sudah dianggap sebagai identitas umat Islam. Oleh karena itu keberadaan Madrasah Diniyah harus dipertahankan dalam masyarakat Indonesia (Departemen Agama RI,1999:148-149).

Kholiq (Jurnal At-Taqaddum, Vol. 5, November 2013:239-243), menyebutkan ada beberapa peran pendidikan Madrasah Diniyah, diantaranya:

a) Madrasah Diniyah sebagai warisan leluhur / pemelihara tradisi keagamaan

Madrasah Diniyah sebagai warisan leluhur, selama ini memiliki peran sebagai lembaga pendidikan berkarakter religious dan sangat berperan bagi pembentukan watak religious bangsa.Pendidikan Madrasah Diniyah merupakan bagian dari sistem pesantren yang wajib di pelihara dan dipertahankan karena lembaga ini telah terbukti mampu mencetak para kyai/ulama, Ustad/ustadzah dan sejenisnya.

b) Madrasah Diniyah sebagai penopang pendidikan keluarga

(38)

keagamaan dipandang sangat penting, bukan hanya karena besarnya pengaruh keluarga dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, akantetapi karena pada umumnya pendidikan moral dalam sistem pendidikan kita pada umumnya belum mendapatkan tempat dan proporsi yang sewajarnya.

Pendidikan formal di Indonesia masih lebih banyak mengambil bentuk pengisian otak anak didik dalam pengetahuan-pengetahuan yang diperlukan untuk masa depan, sehingga penanaman nilai-nilai moral belum menjadi skala priotitas. Oleh sebab itu, tugas ini lebih banyak dibebankan pada keluarga sebagai pendidikan pertama bagi anak.Namun persoalannya, tidak semua keluarga memahami arti penting pendidikan keluarga bagi pembentukan mental keagamaan anak.Tingkat pendidikan orang tua yang rendah (dipedesaan) dan kurangnya kesadaran orang tua tentang pendidikan keluarga, sehingga banyak keluarga yang tidak menjalankan sistem pendidikan ini secara maksimal.Tidak jarang kemudian anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak mencerminkan kepribadian religious dan bermoral. Kondisi yang demikian mendorong banyak para orang tua untuk menyerahkan pendidikan moral dan agama kepada Madrasah Diniyah, yang dipandang tepat karena disamping mendidik anak-anak dengan ajaran agama, Madrasah Diniyah juga memberikan kesibukkan pada anak untuk kegiatan positif dibndingkan jika anak-anak tidak sekolah Madrasah.

(39)

Madrasah Diniyah sebagai salah satu lembaga pendidikan baik formal maupun non formal, disamping memberikan pendidikan tentang dasar-dasar keagamaan dan moral, juga memberikan pendidikan sosial anak.Sebagai lembaga pendidikan sosial, Madrasah Diniyah mampu mengkondisikan lingkungan sosial dengan “basis” agama.Anak-anak bisa belajar agama sekaligus bisa belajar bersosial di lingkungan Madrasah.Bagaimanapun aktivitas belajar di Madrasah Diniyah merupakan aktivitas sosial yang positif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Posisi Madrasah Diniyah sebagai pendidikan sosial anak semakin dianggap penting, manakala di zaman sekarang mulai muncul adanya isu-isu tentang meningkatnya kenakalan anak akibat “pergaulan” yang tidak baik. Fakta menunjukkan bahwa kemajuan teknologi telah memberikan banyak kemudahan dalam akses informasi dan “pergaulan”, sehingga bisa terjerumus pada tindakan-tindakan seperti minum-minuman keras, pemakaian obat-obat terlarang, seks bebas dan sebagainya. Semua itu diakibatkan karena salah dalam pergaulan dan pengaruh modernisasi yang tidak dapat menggunakannya secara bijak. d) Madrasah Diniyah sebagai penunjang dalam pencapaian tujuan

pendidikan nasional

(40)

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.”

Dari rumusan di atas bahwa tujuan pendidikan nasional yang utama adalah membentuk manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kemudian berakhlak mulia baru terkait dengan aspek lainnya sperti sehat, berilmu, cakap dan sebagainya.persoalannya adalah sekalipun agama diberikan pada setiap jenjang pendidikan, namun secara proporsional jam pelajaran agama di sekolah hanya 2 jam setiap minggu, jauh dari memadai. Padahal pendidikan agama mempunyai muatan yang syarat akan nilai dalam pembentukan watak dan kepribadian. Tanggung jawab membentuk insan beriman bukan semata tanggung jawab pemerintah melalui sekolah.

Di samping pemerintah, keluarga dan masyarakat turut bertanggung jawab untuk mewujudkan cita-cita luhur di atas. Melihat realitas bahwa pendidikan agama di sekolah hanya 2 jam dalam satu minggu, tumpuan selanjutnya adalah keluarga dan masyarakat. Hal tersebut berarti bahwa pendidikan Madrasah Diniyah, kedudukannya menjadi sangat sebagai penting sebagai penunjang sistem pendidikan sekolah. Pentingnya tersebut terletak pada perannya dalam menutup “celah kelemahan” dalam sistem pendidikan agama di sekolah.

(41)

Madrasah Diniyah memiliki peran dalam penanaman nilai-nilai Islam lebih dini pada peserta didik, sehingga anak mampu membedakan perilaku baik dan buruk yang berkembang dimasyarakat.Membentuk kepribadian Islami dengan pondasi yang kuat melalui penanaman nilai-nilai keimanan dan memberikan wawasan islami, sehingga mereka mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah.

3. Bentuk-Bentuk Madrasah Diniyah

Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional, jalur pendidikan dibagi menjadi 2 yaitu pendidikan jalur sekolah dan luar sekolah. Madrasah diniyah dapat dikelompokan ke dalam dua jalur tersebut, karena memang di masyarakat berkembang dua bentuk madrasah diniyah, salah satunya memenuhi kriteria sebagai satuan pendidikan jalur sekolah, yaitu berjenjang dan berkesinambungan dan lainnya tidak memenuhi kriteria sebagai satuan pendidikan jalur sekolah, karena tidak berjenjang atau berjenjang tetapi tidak berkesinambungan.

Dalam Depag RI, Madrasah Diniyah dapat dikelompokan menjadi tiga tipe, yaitu:

a. Madrasah diniyah wajib, yaitu madrasah diniyah yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sekolah umum atau madrasah. Siswa sekolah umum atau madrasah yang bersangkutan wajib menjadi siswa madrasah diniyah . Kelulusan sekolah umum atau madrasah yang bersangkutan tergantung juga pada kelulusan madrasah diniyah. Madrasah diniyah ini disebut juga madrasah diniyah komplemen, karena sifatnya komplementatif terhadap sekolah umum atau madrasah.

(42)

peroleh disekolah umum atau madrasah. Berbeda dengan madrasah diniyah wajib, madrasah diniyah pelengkap ini tidak menjadi bagian dari sekolah umum atau madrasah, tetapi berdiri sendiri. Hanya siswanya berasal dari siswa sekolah umum atau madrasah. Madrasah diniyah ini disebut juga madrasah diniyah suplemen karena sifatnya suplementatif terhadap sekolah umum atau madrasah.

c. Madrasah diniyah murni yaitu madrasah diniyah yang siswanya hanya menempuh pendidikan di madrasah diniyah tersebut, tidak merangkap di sekolah umum atau madrasah. Madrasah diniyah independen, karena bebas dari siswa yang merangkap di sekolah umum atau madrasah (Depag RI, 2003:49-50).

Kategorisasi yang dikemukakan di atas tidak berlaku secara mutlak, karena kenyataannya, banyak Madrasah Diniyah yang siswanya campuran, sebagian berasal dari sekolah umum atau madrasah dan sebagian lainnya siswa murni yang tidak menempuh pendidikan baik di sekolah atau madrasah.

Sedangkan menurut Departemen Agama RI (2001:11-13), bentuk atau pola penyelenggaraan Madrasah Diniyah dibagi menjadi 5 pola, sebagai berikut:

a) Pola Suplement

Madrasah Diniyah pola suplement adalah madrasah Diniyah regular, yaitu Madin yang berfungsi membantu dan menyempurnakan pencapaian tema sentral pendidikan agama pada sekolah-sekolah umum terutama dalam hal praktek dan latihan ibadah serta membaca al-Qur‟an.

(43)

kepribadian muslim yang beriman, bertaqwa dan berakhlaqul karimah. Madrasah diniyah tipe suplement ini termasuk di dalamnya Madrasah Diniyah luar sekolah yang diselenggarakan 4 tahun untuk tingkat Awwaliyah, 2 tahun untuk tingkat Wustho, dan 2 tahun untuk tingkat „Ulya.

b) Pola Independen

Madrasah Diniyah pola independent adalah Madrasah Diniyahyang berdiri sendiri di luar struktur. Madrasah pola ini sebagai upaya untuk menambah dan meningkatkan pokok-pokok ajaran agama Islam, biasanya diselenggarakan dalam waktu yang terbatas seperti kursus agama, Islamic Study Club, dan pengajian Islam. Madrasah Diniyah pola ini merupakan Madrasah Diniyah jalur sekolah dengan jenjang pendidikan „Ula, Wustho, „Ulya.Pola independent yang artinya berdiri sendiri adalah bukan merupakan suplement (pelengkap), tidak pula berada di Pondok Pesantren dan tidak menyatu dengan sekolah jalur formal (SD/SLTP/SMU).

c) Pola Komplemen

Madrasah Diniyah pola komplemen adalah madrasah diniyah yang menyatu dengan sekolah regular, baik yang dikelola oleh Depdiknas (SD, SMP, SMA) maupun yang dikelola oleh Departemen Agama (MI, MTs, MA).

(44)

kurikulum Madrasah Diniyah di sekolah-sekolah tersebut, biasanya mengimplikasikan perubahan nama sekolah sehingga kita mengenal SD plus, SMP plus, dan seterusnya.

Pola Madrasah Diniyah Komplemen mengandung konsekuensi penambahan alokasi waktu tertentu. Sekolah yang menyatu dengan Madrasah Diniyah semacam ini biasanya mewajibkan siswanya mengikuti kegiatan di Madrasah Diniyah dan pulang lebih sore dari sekolah lain.

d) Pola Madrasah Diniyah Paket

Untuk pola Madrasah Diniyah Paket saat ini sedang banyak menjamur di kota-kota besar. Orang-orang perkotaan yang haus akan siraman rohani biasanya membentuk kelompok tersendiri dan biasanya mengundang penceramah atau Da‟i yang dianggap kompeten dalam

masalah-masalah keagamaan. Pengelolaan Madrasah Diniyah model independen biasanya tidak terikat jadwal atau tempat tertentu. Model pembelajarannya bisa juga berpindah-pindah , bergiliran tergantung pada situasi dan kondisi.

Madrasah diniyah model paket biasanya diselenggarakan untuk menghabiskan paket materi keagamaan.Madrasah Diniyah ini biasanya sistem pengajiannya (pembelajaran) tidak mengikuti sistem perjenjangan, sehingga tidak mengenal tingkatan „Ula, Wustho, „Ulya.

(45)

Madrasah Diniyah di Pondok Pesantren merupakan Madrasah Diniyahyang terpadu dan terletak di lingkungan Pondok Pesantren.Model ini paling banyak ditemui dan menjadi sarana utama kegiatan belajar mengajar keagamaan di Pondok Pesantren.Lembaga pendidikan agama menjadikan semakin lengkapnya sarana untuk meningkatkan dan memperluas wawasan keagamaan.

Pondok pesantren memiliki keunikan yang membedakannya dengan lembaga-lembaga pendidikan lain yang ada di Indonesia. Pondok Pesantren merupakan suatu komunitas tersendiri yang agak terpisah dari kehidupan sekitarnya, namun tidak berarti ia menjadi lingkungan yang eksklusif dan mengucil. Keberadaannya yang demikian itu justru menambah keunikan Pondok Pesantren, yaitu tetap diperhitungkan oleh masyarakat sekitar, terutama dikaitkan dengan charisma pengasuh Pondok Pesantren atau kyainya.Sehingga peranan sebagai lembaga pendidikan dan keagamaan berkembang meliputi aspek kultural dan sosial-ekonomi.

(46)

usaha pembinaan dan pembentukkan kepribadian muslim yang beriman, bertaqwa dan berakhlaqul karimah pada diri anak di masa mendatang. 4. Jenjang Pendidikan Madrasah Diniyah

Madrasah Diniyah adalah salah satu lembaga pendidikan keagamaan baik pada jalur sekolah (formal) maupun luar sekolah (non-formal) yang diharapkan mampu secara terus menerus memberikan pendidikan agama Islam pada anak didik yang belum terpenuhi secara maksimal pada jalur sekolah, melalui sistem klasikal dengan menerapkan jenjang pendidikan.

Pada tahun 1983 Menteri Agama mengeluarkan peraturan Nomor 3 tahun 1983 tentang kurikulum madrasah diniyah yang membagi Madrasah Diniyah menjadi tiga tingkatan yaitu Awaliyah, Wustha, dan „Ulya.

Dalam Departemen Agama RI, jenjang pendidikan Madrasah Diniyah, dinyatakan sebagai berikut:

a) Madrasah Diniyah Awaliyah („Ula)

Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) adalah satuan pendidikan keagamaan jalur luar sekolah yang menyelenggarakan pendidikan agama Islam tingkat dasar dengan masa belajar 4 tahun, dan jumlah jam belajar 18 jam pelajaran seminggu.

b) Madrasah Diniyah Wustho

(47)

pengembangan pengetahuan yang diperoleh pada Madrasah Diniyah Awaliyah, masa belajar 2 tahun dengan jumlah jam belajar 18 jam pelajaran seminggu.

c) Madrasah Diniyah „Ulya

Madrasah Diniyah „Ulya adalah satuan pendidikan keagamaan jalur luar sekolah yang menyelenggarakan pendidikan agama Islam tingkat menengah atas dengan melanjutkan dan mengembangkan pendidikan agama Islam yang diperoleh pada jenjang pendidikan Madrasah Diniyah Wustha, masa belajar 2 tahun dengan jumlah jam belajar 18 jam pelajaran seminggu Departemen Agama RI (2000:7-11).

Tujuan ketiga jenjang Madrasah Diniyah tersebut tidaklah berbeda. Yaitu untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar agama Islam yang diperoleh pada jenjang Madrasah Diniyah sebelumnya, untuk mengembangkan kehidupannya sebagai warga muslim yang beriman, bertaqwa, dan beramal shaleh serta berakhlak mulia, percaya kepada diri sendiri, membina warga belajar agar memiliki pengalaman, pengetahuan, keterampilan beribadah, dan sikap terpuji yang berguna bagi pengembangan pribadinya, membina warga belajar agar memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas hidupnya dalam masyarakat dan beriman kepada Allah guna mencapai kebahagian dunia dan akhirat kelak.

5. Tujuan Madrasah Diniyah

(48)

anak-anak Muslim yang buta dengan agamanya.Kemudian pada masa kemerdekaan dimaksudkan pula agar anak-anak Muslim memiliki pemahaman agama dan pengamalannya yang cukup bagi siswa yang belajar disekolah umum.Selain itu, ada pula Pendidikan Diniyah yang diselenggarakan di pesantren, juga dimaksudkan untuk mendalami ajaran agama Islam serta mengamalkannya secara konsisten (Indri, 2005:214).

Menurut Nizah (Jurnal PPI, No. 1, April 2016:198) Madrasah Diniyah memiliki beberapa tujuan diantaranya:

a. Melayani warga belajar dapat tumbuh dan berkembang sedini mungkin dan sepanjang hayatnya guna meningkatkan martabat dan mutu kehidupanya.

b. Membina warga belajar agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkan ketingkat dan/atau jenjang yang lebih tinggi.

c. Memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi dalam jalur pendidikan sekolah.

(49)

yang didirikan semata-mata didirikan untuk melayani masyarakat yang ingin memperdalam pengetahuan agama dan bahasa arab, bukan untuk menambah pendidikan agama yang sudah diperoleh di sekolah umum. Mereka benar-benar murni hanya menempuh pendidikan di madrasah diniyah. Madrasah diniyah model ini pada umumnya berada di dalam ataulingkungan pondok pesantren, walaupun ada juga yang berada di luar pondok pesantren(Depag RI, 2003:24).

Pendidikan Diniyah yang didirikan di luar pesantren biasanya siswanya berasal dari mereka yang berasal dari sekolah umum karena di sekolah umum mereka belajar agama sangat minim sehingga untuk meningkatkan pengetahuan agama serta pendidikan moral mereka belajar di Diniyah.Sementara itu, Diniyah yang di pesantren umumnya mereka belajar agama sembari belajar ilmu umum dan siswanya tinggal di pesantren.

6. Potensi dan Kelemahan Madrasah Diniyah

Setiap Madrasah Diniyah tentunya memiliki potensi dan kelemahan masing-masing.Potensi atau kelebihan Madrasah Diniyah tidaklah jauh berbeda dengan pondok pesantren, karena kedua lembaga pendidikan tersebut sama-sama lahir, tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, oleh masyarakat, dan dilatarbelakangi oleh kebutuhan masyarakat.

(50)

dipergunakan, tanpa terikat dengan model-model tertentu. Biasannya pola yang dipilih adalah pendekatan yang dianggap paling tepat untuk mencapai tujuan atau keinginan masyarakat dalam menambah ilmu pengetahuan agama dan bahasa arab. Pendekatan demikian dirasa sangat menguntungkan karena sesuai dan lebih dekat dengan budaya dan lingkungan masyarakat setempat(Departemen Agama RI, 2003: 24-25).

Potensi yang juga diharapkan dapat mendukung pengembangan madrasah diniyah di masa-masa mendatang adalah dengan semakin meningkatnya semangat keberagamaan masyarakat.Masyarakat sangatlah memiliki peran penting dalam mendukung keberadaan Madrasah Diniyah agar bisa tetap diakui keberadaannya sebagai lembaga pendidikan keagamaan di tengah-tengah masyarakat.

(51)

Dalam hal ini Departemen Agama RI (2003: 26-27) menyatakan bahwa banyak diniyah yang saat didirikan cukup bagus perkembangannya, akhirnya mati karena keterbatasan sumber daya pendidikan. Permalahan pokok lain, walaupun diniyah merupakan lembaga pendidikan yang secara historis merupakan bagian penting dalam usaha pencerdasan rakyat, dirasakan perhatian negara dan pemerintah masih rendah. Hal ini tentu kurang menguntungkan dalam pengembangan fungsinya sebagai bagian dari upaya pembentukan watak dan kepribadian bangsa.

7. Aspek-Aspek Madrasah Diniyah

Nizah (Jurnal PPI, No. 1, April 2016:192-199), menyebutkan ada beberapa aspek yang masih memperkokoh eksistensi madrasah diniyah adalah sebagai berikut:

a. Aspek kelembagaan

Madrasah diniyah memiliki variasi kelembagaan cukup banyak, ada yang diselenggarakan oleh pesantren, masyarakat (ta‟mir masjid),

perorangan atau yayasan dan organisasi (sosial-keagamaan).Dalam kategori sistem pendidikan nasional, Madrasah Diniyah ada yang termasuk dalam pendidikan jalur formal dan jalur nonformal.

Secara umum lembaga madrasah diniyah menghadapi problem, diantaranya:

(52)

milik pribadi, dan pesantren). Hal ini menimbulkan permasalahan terutama berkaitan dengan orientasi dan kepentingan.

2) Kuantitas madrasah diniyah yang tidak diimbangi dengan kualitas SDM (pengelola maupun pengajar).

3) Hambatan psikologis, karena merasa sebagai pemilik atau pendiri yang membina madrasah sejak awal, sebagai pengelola (tokoh agama, organisasi keagamaan, dan yayasan) tidak mudah menerima perubahan yang datang dari luar, termasuk dari pemerintah.

b. Aspek Manajemen

Pelaksanaan manajemen di Madrasah Diniyah secara umum belum dapat dikatakan maksimal.Ada beberapa kendala yang membuat manajemen di suatu madrasah tidak terkelola dengan baik.Ketidakjelasan dalam pemisahan kepemimpinan dengan tenaga pendidik, adanya tumpang tindih dalam menjalankan kewenangan, sehingga terkadang tugas kepala sekolah merangkap pengelola keuangan dan lain-lain.

Mekanisme perekrutan tenaga pendidik dan kependidikan yang tidak professional, sehingga pengelolaan lembaga dan pelaksanaan pembelajaran menjadi carut marut, hal ini tentunya berimbas pada kualitas pembelajaran di madrasah.

c. Tenaga Pengajar

Membincarakan persoalan insentif (bisyaroh) bagi guru madrasah diniyah sampai saat ini masih belum dapat dikatakan “layak”.Karena

(53)

tidak terlalu memikirkan gaji.Yang terpenting dari adanya guru di Madrasah Diniyah adalah kemauan untuk mengajar siswa sesuai dengan keilmuannya.Latar belakang pendidikan terkadang tidak menjadi prioritas.

Pekerjaan guru Madrasah Diniyah sering disebut pekerjaan sampingan atau dalam istilah jawa biasa disebut samben.Profesionalitas bagi guru Madrasah Diniyah bukan menjadi hal yang utama.Sehingga yang mengajar siswa di Madrasah Diniyah dapat dikatakan “siapa yang mau dan sempat”.

d. Keadaan Siswa

Maraknya sekolah dengan konsep “terpadu”, yang memadukan

kurikulum mata pelajaran agama dengan kurikulum mata pelajaran umum, dengan durasi waktu sampai jam 15.00, membuat keadaan siswa di Madrasah Diniyah semakin berkurang.

e. Pendanaan

Pendanaan di Madrasah Diniyah umumnya langsung dikelola oleh penyelenggara lembaga pendidikan.Dana tersebut setidaknya berasal dari dari uang sekolah (SPP), biaya pendaftaran/ujian, donasi dari dermawan atau masyarakat yang peduli dengan madrasah diniyah, serta zakat, infak/sadaqah.

(54)

pendanaan yang berkaitan dengan fasilitas dan sarana prasarana terkadang tidak terfikirkan karana minimnya dana.

f. Sarana dan Prasarana

Fasilitas di Madrasah Diniyah, pada umumnya tidak seideal keadaanya di sekolah (pagi).Keadaannya sederhana, yang terpenting adalah adanya tempat atau ruang belajar, papan tulis dan tempat duduk, sehingga pembelajaran tetap berjalan.

Departemen Agama RI (2001:57) dinyatakan bahwa sarana pendidikan hendaknya tersedia dan cukup memadai guna menunjang keberhasilan kegiatan pembelajaran. Sarana pendidikan ini meliputi: alat pengajaran, alat peraga pendidikan, media pengajaran dan kelengkapan Madrasah Diniyah lainnya seperti perpustakaan.

Prasarana pendidikan memegang peranan penting dalam penyeenggaraan pendidikan di Madrasah Diniyah yang secara tidak langsung juga mempengaruhi kegiatan pembelajaran. Prasarana pendidikan meliputi kelas, tanah dan bangunan lain seperti kantor, dan masjid sebagai sentral kegiatan Madrasah Diniyah. Agar proses pendidikan berlangsung dengan baik, maka prasarana pendidikan hendaknya memenuhi syarat (aman, nyaman, dan sehat).

g. Kegiatan Ekstrakurikuler

(55)

pengetahuan santri. Hal itu mengenai hubungan antara berbagai bidang pengembangan/mata pelajaran, menyalurkan bakat dan minat.Kegiatan ini dilaksanakan secara berkala dalam waktu-waktu tertentu (Departemen Agama RI, 2001:57).

Kegiatan ekstrakurikuler di Madrasah Diniyah ini dalam Departemen Agama RI (2001:57-59) hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:

(1) Materi kegiatan yang dapat memberi pengayaan bagi santri. (2) Sajauh mungkin tidak terlalu membebani santri.

(3) Memanfaatkan potensi dan lingkungan. (4) Memanfaatkan kegiatan keagamaan.

Kegiatan ekstrakurikuler ini diarahkan dalam rangka pengembangan seluruh potensi yang dimiliki santri, seperti:

1.Bidang keagamaan

Pada bidang ini diharapkan santri dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam kegiatan keagamaan seperti seni baca al-Qur‟an, kaligrafi, tahfidz, qiro‟ah, dan lain-lain.

2.Bidang kesenian

(56)

3.Bidang olahraga

Pada bidang ini diharapkan santri dapat memiliki keahlian dalam upaya memasyarakatkan olahraga, disamping untuk kesehatan jasmani secara langsung juga menyehatkan rohani dan keluasan pandangan.

h. Kegiatan Evaluasi Pembelajaran

Setiap pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah, maka harus dibarengi dengan adanya evaluasi belajar, sebagai tolok ukur keberhasilan siswa dalam belajar.Meskipun madrasah diniyah dikategorikan dalam pendidikan tradisional namun tetap saja diberlakukan evaluasi dengan istilah imtihan.

Evaluasi atau penilaian adalah suatu usaha untuk mengumpulkan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh, tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai oleh santri melalui kegiatan belajar mengajar yang ditetapkan sehingga dengan itu dapat dijadikan dasar untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya (Departemen Agama RI, 2001:62).

Penilaian hasil belajar di Madrasah Diniyah berfungsi antara lain: 1) Memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar memperbaiki

(57)

2) Menentukan hasil kemajuan belajar santri yag diperlukan untuk laporan kepada orang tua, penentuan kenaikan kelas atau penentuan lulus tidaknya santri.

3) Mengenal latar belakang psikologis, fisik, dan lingkungan santri terutama yang mengalami kesulitan belajar. Fungsi ini sebagai dasar untuk memecahkan masalah kesulitan belajar siswa serta dasar untuk melakukan bimbingan yang sebaik-baiknya.

4) Terbukanya kemungkinan untuk dapat diketahuinya relevansi antara program pendidikan yang telah dirumuskan dengan tujuan yang hendak dicapai.

5) Terbukanya kemungkinan untuk dapat dilakukannya usaha perbaikan, penyelesaian, penyesuaian dan penyempurnaan program pendidikan yang dipandang lebih berdaya guna dan berhasil guna, sehingga tujuan yang dicita-citakan akan dapat dicapai dengan hasil yang sebaik-baiknya(Departemen Agama RI, 2001:62-63).

Bentuk evaluasi hasil belajar di Madrasah Diniyah di Pondok Pesantren biasanya dilakukan melalui 3 tahap, yaitu ujian individual atau ujian lisan, tahap ujian tulis, dan ujian praktek.

i. Kurikulum Madrasah Diniyah

(58)

perjalanan sejarah madrasah diniyah mengalami dinamika, sehingga terjadi pasang surut dalam perkembangannya.

Menurut Nizah (Jurnal PPI, No. 1, April 2016:192-199), ada beberapa kelemahan dalam penerapan kurikulum yang masih diberlakukan di Madrasah Diniyah dan kurang sesuai, diantaranya: (1) Belum ada kurikulum tertulis, artinya tidak ada panduan dalam

penerapan kurikulum. Tujuan pembelajaran hanya memberi bekal kepada siswa dalam membaca al-Quran dan kitab kurning.

(2) Kurikulum hanya dipahami sebatas pada penggunaan buku ajar yang dijadikan acuan belajar tidak adanya Standar Kompetensi maupun Kompetensi Dasar. Tidak adanya target belajar tertentu dengan berpedoman pada RPP.

(3) Ketersediaan SDM yang kurang kompeten, sehingga pembelajaran bukan didasarkan pada kebutuhan siswa namun lebih didasarkan pada kewajiban. Artinya adanya anggapan guru ketika sudah mengajar maka akan gugur kewajibanya.

Sedangkan Kholiq (Jurnal at-Taqaddum, Vol. 5, Nopember 2013: 245-246) menjelaskan bahwa problem mendasar yang terkait dengan kurikulum Madrasah Diniyah adalah:

(59)

2. Kurikulum Madin pada umumnya disusun tergantung kecenderungan guru atau pendirinya. Kurikulum tidak disusun berdasarkan kebutuhan dan karakter anak, sehingga sering terjadi kesenjangan dalam kurikulum baik terjadi antar maple ataupun antara mata pelajaran dengan kondisi siswa yang sebenarnya.

3. Kurikulum Madin biasanya kurang bisa mengadaptasi perkembangan zaman, pada umumnya lebih mencerminkan menjaga tradisi daripada menyesuaikan perkembangan zaman.

Departemen Agama RI (2000:14-18), dalam melaksanakan Kurikulum Madrasah Diniyah, ada beberapa yang harus diperhatikan yang memungkinkan pendidikan di Madrasah Diniyah benar-benar efektif dan efisien. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

a) Fleksibilitas Program

Guru memperhatikan anak didik (kecerdasan, kemampuan, pengetahuan yang telah dikuasai), metode-metode mengajar yang akan digunakan harus sesuai dengan sifat bahan pengajaran dan kematangan anak didik. Bahan pengajaran juga harus disesuaikan dengan kemampuan anak didik. Hal demikian akan menimbulkan motif dan minat anak untuk belajar sehingga tidak membosankan. b) Berorientasi kepada tujuan

(60)

mempelajari suatu mata pelajaran (bidang study).Atas dasar pertimbangan di atas maka waktu yang tersedia di Madrasah Diniyah harus benar-benar dimanfaatkan bagi pengembangan kepribadian anak sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan Madrasah Diniyah.

c) Efektifitas dan Efisiensi

Tujuan utama menyelenggarakan Madrasah Diniyah adalah untuk melengkapi dan menambah perolehan pendidikan agama Islam yang didapat siswa di sekolah umum yang hanya 2 jam pelajaran perminggu. Karena banyaknya bahan pelajaran serta padatnya kegiatan yang menyita perhatian, energi dan waktu siswa, maka penyelenggaraan proses belajar mengajar di Madrasah Diniyah harus diupayakan efektif dan efisien.

Dalam menyusun jadwal pelajaran jangan terlalu kaku berpegang kepada alokasi waktu dalam susunan program. Misalnya bahan pengajaran yang dialokasikan sebanyak 18 jam pelajaran perminggu dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat dengan sistem paket atau pesantren kilat pada hari Ahad.

d) Kontinuitas

(61)

guru) diharapkan dapat memahami hubungan antara mata pelajaran yang diberikan pada setiap tingkat.

e) Pendidikan Seumur Hidup

Pendidikan itu untuk semua dan berlangsung seumur hidup.Ini berarti bahwa setiap manusia Indonesia diharapkan untuk selalu berkembang sepanjang hidupnya dan semua warga negara dapat belajar terus.Masa sekolah bukan satu-satunya masa bagi setiap orang harus belajar, melainkan sebagian dari waktu belajar yang berlangsung seumur hidup. Proses yang demikian dikehendaki pula oleh ajaran agama Islam dengan mewajibkan menuntut ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat, tanpa batas ruang dan waktu

Masyarakat Islam tentunya tidak ingin melihat keberadaan Madrasah Diniyah sebagai sebuah lembaga yang keberadaannya hanya sebagai pelengkap.Perlu pemikiran yang cukup brilian agar keberadaannya tetap menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat, sebagaimana awal kemunculannya di Indonesia, eksistensinya perlu dijaga dan dikembangkan.

Menurut Nizah (Jurnal PPI, No. 1, April 2016:192-199) ada beberapa langkah yang perlu dijadikan langkah taktis untuk mempertahankan eksistensi Madrasah Diniyah, diantaranya:

(62)

2. Perlu adanya distribusi buku-buku pelajaran standar Madrasah Diniyah untuk wilayah-wilayah yang tidak atau belum memiliki kurikulum standar.

3. Penyelenggaraan pengawasan, pembinaan, dan pendampingan bagi setiap Madrasah Diniyah di berbagai wilayah meliputi manajemen, pembelajaran dan lain-lain.

4. Membangun kerjasama dengan pemerintahan-pemerintahan lokal, terutama berkaitan dengan alokasi dana. Kerjasama dengan pemerintah lokal diharapkan dapat membantu, minimal dalam hal pendanaan dan pemenuhan sarana dan prasarana kegiatan pembelajaran.

8. Dampak Kebijakan Full Day School Terhadap Madrasah Diniyah

Belum, lama ini telah muncul isu ditengah masyarakat terkait dengan Full Day School yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 Pasal 2 tentang Hari Sekolah.Banyak pihak yang angkat bicara terkait kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy terkait Full Day School, yaitu kebijakan sekolah 8 jam sehari dengan 5 hari kerja dari

Senin sampai Jum‟at dengan alasan sebagai pendidikan karakter bagi anak.

(63)

dinilai akan berdampak terhadap keberadaan Madrasah Diniyah. Secara garis besar, rencana sekolah lima hari dari jadwal uji coba sekolah, para siswa harus masuk pukul 7.30 pagi dan keluar pukul 15.30 sore. Kalau masuk pukul 08.00 pagi, para siswa baru bisa pulang (keluar) pukul 16.00 sore. Berarti mereka tidak bisa mengikuti Madrasah Diniyah yang umumnya dimulai pukul 14.30 atau pukul 15.00 sore.

Di antara organisasi Islam dan tokoh-tokoh masyarakat yang memberikan reaksi atas rencana diberlakukan sekolah lima hari pada waktu itu (1994), adalah sebagai berikut:

a. DR. Quraish Shihab MA

(64)

program. Sebaiknya rencana itu dibatalkan saja atau paling tidak jangan dilaksanakan dalam waktu dekat ini karena masyarakat kita belum siap (Saridjo, 1994:139-140)

b. DRS. Lukman Harun, Tokoh Muhammadiyah

Rencana sekolah lima hari perlu dikaji ulang. Apa memang sudah siap rencana itu dilaksanakan di Indonesia. Dengan sekolah lima hari, berarti siswa mendapat dua hari libur. Bila ini terjadi, apa yang dilakukan untuk mengisi dua hari libur tersebut. Jangan-jangan karena tidak ada materi yang tepat untuk mengisi dua hari libur tersebut, kenakalan remaja justru akan meningkat.

(65)

c. KH. Nurudin Arrahman, SH, Sekretaris BASRA (Badan Silaturahmi Ulama Pesantren se Madura)

Pemerintah perlu berpikir panjang untuk memberlakukan sekolah lima hari untuk tingkat SD. Pendidikan agama yang diberikan kepada murid-murid SD sekarang ini belum memadai. Karena itu, sebenarnya yang menjadi kontributor terbesar penambahan kemampuan pendidikan agama pada anak-anak di banyak tempat adalah Madrasah Diniyah itu.Kita harus menyadari bahwa pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, selain dibutuhkan kemampuan intelektual, juga harus diimbangi penanaman nilai-nilai keagamaan. Pembangunan dengan hanya mementingkan pembentukan intelektual semata jelas akan menjomplangkan pembentukan manusia yang seutuhnya itu (Saridjo, 1999: 140-141).

(66)

dengan keluarga maupun masyarakat di lingkungan sekitar karena selama sehari penuh anak berada di sekolah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kebijakan Full Day School yang akan dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, perlu dilakukan adanya peninjauan ulang sehingga tidak ada pihak-pihak yang dirugikan dari hal ini. Keberadaan Madrasah Diniyah yang lahir dan tumbuh di masyarakat telah memperlihatkan peran penting dalam membantu pendidikan agama maupun karakter bagi anak-anak. Di sisi yang lain ketika hal tersebut diterapkan saat ini banyak pihak yang belum siap untuk menerima kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terkait Full Day School mengingat banyak hal yang masih harus dipertimbangkan.

B.Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian

Pendidikan Agama Islam merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata pendidikan, agama, dan Islam. Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata didik, dengan diberi awalan “pe”

dan akhiran “an”, yang berarti proses pengubahan sikap dalam

(67)

Menurut Hasan Langgulung yang dikutip oleh Nata (2010:28) pendidikan adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan untuk menciptakan pola-pola tingkah laku tertentu pada anak-anak atau orang yang sedang dididik.

Pendidikan adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dengan tujuan memelihara dan mengembangkan fitrah serta potensi (sumber daya) insani menuju terbentuknya manusia seutuhnya atau insan kamil, yang dilakukan secara bertahap serta berkesinambungan, seirama dengan perkembangan anak didik.

Agama adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2007: 12).

Dapat diketahui bahwa agama adalah suatu peraturan yang bersumber dari Allah yang berfungsi untuk mengatur kehidupan manusia, baik hubungan manusia dengan pencipta maupun manusia dengan sesamanya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat dengan mengharap keridhaan dari-Nya.

(68)

Menurut Ali (2008:49) Islam adalah kedamaian, keselamatan, kesejahteraan, penyerahan diri, ketaatan, dan kepatuhan. Islam mengajarkan kedamaian antar sesama individu yang akan mengantarkan manusia pada kesejahteraan dan keselamatan.

Pengertian Islam yang demikian sesuai dengan tujuan ajaran Islam yaitu untuk mendorong manusia patuh dan tunduk kepada Tuhan, sehingga terwujud keselamatan, kedamaian, aman, dan sentosa.Serta sejalan pula dengan ajaran Islam yaitu menciptakan kedamaian di muka bumi dengan mengajak manusia untuk patuh dan tunduk kepada Tuhan (Nata, 2010:32).

Dari penjabaran di atas Daradjat (2011:86) mengartikan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.

Figur

Table 3.2 Struktur Kepengurusan
Table 3 2 Struktur Kepengurusan . View in document p.85
Table 3.3
Table 3 3 . View in document p.86
Table 3.4
Table 3 4 . View in document p.88
Table 3.5
Table 3 5 . View in document p.90
Table 3.6
Table 3 6 . View in document p.92

Referensi

Memperbarui...