SILABUS MPP …..
Silabus dan penilaian
Pengertian dan kegunaan penelitian pendidikan
Jenis penelitian menurut:
Kegunaannya Tujuannya
Dimensi Waktu
Penelitian Positivistik:
Deskriptif Survey
Lanjutan Silabus MPP ….
Penemuan topik atau permasalahan
penelitian
Perumusan masalah: latar belakang,
identifikasi, rumusan masalah, tujuan dan
manfaat penelitian.
Penyusunan kajian teori dan hipotesis
Populasi dan sampel
Lanjutan Silabus MPP …
Variabel penelitian
Teknik pengumpulan data
Analisis data
Penyusunan proposal penelitian
Interpretasi hasil analisis dan pembahasan
Penyusunan laporan hasil penelitian
REFERENSI :
Sugiyono (1992). Metode Penelitian Administrasi. Bandung:
Alpabeta.
Suharsimi Arikunto (…). Manajemen Penelitian. Jakarta: Bumi
Aksara.
PENILAIAN :
Kehadiran kuliah minimal 75% (syarat mengikuti ujian
semester).
Mid Semester: 15 % Ujian Semester : 25 % Tugas Individual:
SEKILAS TTG.
PENELITIAN
PENDIDIKAN
Oleh:
Amat Jaedun
Tujuan dan Manfaat Penelitian Pendidikan
Penelitian adalah cara/metode
pemecahan masalah melalui metode
ilmiah.
Penelitian berasal dari kata research
(re-search) pencarian yang diulang-ulang.
Bertujuan untuk:
Pengembangan ilmu kependidikan
Masalah adalah ….?
Gap antara kenyataan (realitas)
dengan seharusnya (harapan) atau
kesenjangan das solen dan das sain.
Gap antara kondisi saat ini (potret)
Borg & Gall (1999), menyebutkan ada dua faktor yang membuat hasil riset pendidikan tidak berpengaruh thd perbaikan praktik kependidikan.
Banyak faktor yg mempengaruhi praktik
kependidikan. Sebagai misal, banyak kebijakan perbaikan pendidikan yg merupakan adopsi/
adaptasi dari model yang berhasil diterapkan di negara lain, atau karena keputusan politik semata. Tergantung pada jenis risetnya riset terapan
Menurut tujuannya, riset diklasifikasikan
menjadi
2, yaitu:
1. riset dasar atau riset murni (
pure
research)
; dan
2. riset terapan (
applied research
), yang
dibagi menjadi:
a. riset evaluasi (
evaluation research
);
b. riset pengembangan (
research and
development
atau R & D); dan
c. riset aksi (penelitian tindakan).
Menurut tujuannya, riset diklasifikasikan
menjadi
2, yaitu:
1. riset dasar atau riset murni (
pure
research)
; dan
2. riset terapan (
applied research
), yang
dibagi menjadi:
a.
riset evaluasi (
evaluation research
);
b.
riset pengembangan (
research and
development
atau R & D); dan
Pada penelitian dasar, dikenal dua kelompok
paradigma yg dominan, yaitu:
(1) paradigma positivistik (metode kuantitatif);
dan
(2) paradigma fenomenologis/interpretif (metode
kualitatif).
Pada penelitian dasar, dikenal dua kelompok
paradigma yg dominan, yaitu:
(1) paradigma positivistik (metode kuantitatif);
dan
(2) paradigma fenomenologis/interpretif (metode
kualitatif).
Don Adam (1988), mempertentangkan kedua paradigma di atas ke dalam dua kutub yang saling berlawanan,
yaitu:
positivistik, menekankan rasionalitas dan obyektivitas,
sedangkan
fenomenologi/interpretif, menggunakan model
interaktif dan subyektif.
Don Adam (1988), mempertentangkan kedua paradigma di atas ke dalam dua kutub yang saling berlawanan,
yaitu:
positivistik, menekankan rasionalitas dan obyektivitas,
sedangkan
Karakteristik Positivistik :
1.
Fenomena-fenomena sosial/pendidikan
diamati secara parsial, yaitu dengan cara
mereduksi sejumlah variabel yang dianggap
kurang penting dalam menjelaskan
fenomena-fenomena yang dimaksud;
2.
Berpandangan bahwa fenomena-fenomena
kehidupan manusia di lingkungan sosialnya
bersifat mekanistik dan berlaku universal;
3.
Proses riset menggunakan logika berpikir
Lanjutan
Karakteristik …..
4. menekankan pada uji hipotesis dan mengejar generalisasi (validitas internal dan eksternal); 5. fenomena-fenomena yang diamati sifatnya
teratur/tidak random, sehingga dapat diprediksikan;
6. menganut kebenaran tunggal (nomotetis), yang akan berlaku di manapun tanpa terikat dengan konteks eko-kulturnya.
7. memisahkan teori dan praktik.
8. Paradigma ini telah mewarnai berbagai kebijakan peningkatan mutu pendidikan kita selama ini
(rational planning).
4. menekankan pada uji hipotesis dan mengejar generalisasi (validitas internal dan eksternal); 5. fenomena-fenomena yang diamati sifatnya
teratur/tidak random, sehingga dapat diprediksikan;
6. menganut kebenaran tunggal (nomotetis), yang akan berlaku di manapun tanpa terikat dengan konteks eko-kulturnya.
7. memisahkan teori dan praktik.
8. Paradigma ini telah mewarnai berbagai kebijakan peningkatan mutu pendidikan kita selama ini
Lanjutan Karakteristik
Positivistik ….
Paling tua, dan paling banyak pengikutnya.
Diadopsi dari ilmu-ilmu keras (IPA) yg
diterapkan dlm penel. Sosial dan Pendidikan.
Metode: eksperimen, quasi eksperimen,
survey, ex post facto.
Ada generalisasi dari temuan penel. yg
dilakukan pada sampel sampel hrs
representatif thd populasi (random).
Skopa persamalahan yg diteliti luas (makin
luas makin baik).
Ada pengendalian thd variabel-variabel yg
Paradigma Fenomenologis
(interpretif)
Asumsi kebenaran tidak tunggal (dialektis)
tergantung pada konteks dan kultur
masyarakat.
Tujuan utama memperoleh pemahanan
terhadap makna (
meaning
), karena fenomena
(perilaku) yang sama dapat mempunyai makna
yang berbeda pada konteks kultural yang
berbeda.
Mendasarkan gambaran apa adanya menurut
interpretasi subyek.
Asumsi kebenaran tidak tunggal (dialektis)
tergantung pada konteks dan kultur
masyarakat.
Tujuan utama memperoleh pemahanan
terhadap makna (
meaning
), karena fenomena
(perilaku) yang sama dapat mempunyai makna
yang berbeda pada konteks kultural yang
berbeda.
Lanjutan Fenomenologis ….
Datang belakangan, shg banyak
ditentang penganut positivistik.
Tidak ada generalisasi hasil temuan.
Pengamatannya dilakukan pada skopa
yang sempit tetapi mendalam.
Peneliti ikut larut dlm kancah penelitian
(proses entry), observasi partisipan dan
merasakan apa yg dirasakan subyek.
Settingnya harus dijaga tetap
RISET TERAPAN :
RISET TERAPAN :
Bertujuan untuk menguji dan menerapkan
teori untuk pemecahan masalah yang riil,
mengembang-kan dan menghasilkan produk,
dan memperoleh informasi untuk dasar dalam
pembuatan keputusan.
Perbedaan Orientasi ……
Basic research
menekankan standar keilmuanyang tinggi dan berusaha memperoleh hasil yang valid menurut ukuran metode ilmiah, sedangkan
Penelitian terapan menekankan pada
Metode Penelitian Tindakan
Mendasarkan pd paradigma teori kritis, datang paling
belakangan.
Hubungan antara teori dan praktik (penelitian jenis
lain jarang diaplikasikan utk perbaikan).
Adanya hubungan antara peneliti dgn klp sasaran
subyek sebaiknya diberitahu dan diajak bekerjasama utk mencapai tujuan bersama.
Orientasi penelitian bukan utk mencari ”kebenaran”
tetapi utk memecahkan permasalahan riil yg dihadapi baik oleh peneliti maupun subyek yg diteliti melalui langkah-langkah penerapan tindakan.
Bersifat kooperatif, antara yg memberikan tindakan
dan pihak yang dikenai tindakan (Dokter dalam
Penelitian Tindakan
Lanjutan….
Dilaksanakan pada lokasi terjadinya
permasalah-an tersebut (tidak
diuji-cobakan pada subjek yang lain atau di
tempat lain).
Bersifat partisipatif, karena memerlukan
partisipasi dari pihak yang dikenai
tindakan.
Dilakukan pada
setting
yang natural, tidak
ada perubahan atau pengaturan apapun,
kecuali tindakan yang akan diterapkan.
Tidak ada upaya pengendalian terhadap
faktor (variabel) pengganggu atau yang
berpengaruh thd. hasil.
Tidak ada upaya generalisasi dari hsl