TOKO ILMU
Laman ini buat lo semua yang pengen mengetahui berbagai informasi/ilmu yang selalu
berkembang pada saat ini , jika laman ini membantu anda cukup anda kabarkan ke teman anda saja agar teman anda juga terbantu dengan informasi yang ada di laman ini :)terimakasih telah megunjungi toko ilmu semoga kembali lagi yaaa ke toko kami :D
Wednesday, 3 September 2014
CONTOH PROPOSAL USULAN PENELITIAN FAKULTAS PERTANIAN
USULAN PENELITIAN
APLIKASI BEBERAPA DOSIS KOMPOS LEGUMINOSA DENGAN
PENGGUNAAN BIO-AKTIVATOR Trichoderma sp. TERHADAP
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN CABAI (Capsicum annuum
L)
Oleh :
REFLI JUNAIDI
NIM : 1006121470
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2014
APLIKASI BEBERAPA DOSIS KOMPOS LEGUMINOSA DENGAN
PENGGUNAAN BIO-AKTIVATOR Trichoderma sp. TERHADAP
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN CABAI (Capsicum annuum
L)
Oleh :
REFLI JUNAIDI
NIM : 1006121470
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk melaksanakan penelitian
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesehatan dan keselamatan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan usulan penelitian dengan judul
“Aplikasi Beberapa Dosis Kompos Leguminosa dengan Penggunaan Bio-Aktivator
Trichoderma sp. Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Cabai (Capsicum Annuum L)”.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Fifi Puspita, MP sebagai dosen
Tidak lupa pula buat seluruh rekan-rekan yang telah banyak membantu penulis di dalam penyelesaian usulan penelitian ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu. Tidak ada yang pantas diberikan, selain balasan dari Tuhan Yang Maha Esa untuk kemajuan kita semua dalam menghadapi masa depan nanti.
Akhirnya penulis sangat mengharapkan agar usulan penelitian ini bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi acuan dalam pelaksanaan penelitian.
Pekanbaru, Januari 2014
Refli Junaidi
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR... iii
DAFTAR ISI... iv
DAFTAR LAMPIRAN... v
I... PENDAHULUAN... 1
... 1.1. Latar Belakang... 1
... 1.2. Tujuan Penelitian... 3
II... TINJAUAN PUSTAKA... 4
... 2.1. Tanaman Cabai... ... 4
... 2.2. Syarat Tumbuh... 6
... 2.3. Trichoderma sp... 7
... 2.4. Kompos Leguminosa... 8
III.... BAHAN DAN METODE... 11
... 3.1. Tempat dan Waktu... 11
... 3.2. Bahan dan Alat... 11
... 3.3. Rancangan Penelitian... 11
... 3.4. Pelaksanaan Penelitian... 12
... 3.5. Pengamatan... 16
DAFTAR PUSTAKA... 19
LAMPIRAN... 22
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. .. Jadwal rencana kegiatan penelitian... 22
2.... Deskripsi tanaman cabai varietas SSP IPB... ... 23
3.... Denah penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL)... 24
4.... Perhitungan perlakuan dosis kompos leguminosa... 25
5.... Cara pembuatan kompos leguminosa... 26
BAB.I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Cabai (Capsicum annuum L) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia dan dibutuhkan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, sehingga volume peredarannya di pasaran sangat besar. Secara umum cabai memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin, diantaranya Kalori, Protein, Lemak, Kabohidrat, Kalsium, Vitamin A, B1 dan Vitamin C (Rukmana, 1995).
provinsi-provinsi yang ada di Indonesia pada umumnya seperti Sumatera Barat yang mencapai 65.108 ton dengan luas areal panen 8.196 hektar dengan produktivitas rata-rata 7,94 ton/hektar, sedangkan Sumatera Utara 245.773 ton dengan luas areal panen 22.129 hektar dan produktivitas rata-rata 11,11 ton/hektar.
Rendahnya produktivitas cabai di Riau salah satunya disebabkan petani cabai yang belum menggunakan benih cabai varietas unggul, padahal dengan penggunaan varietas unggul tanaman cabai produksinya bisa mencapai 15-20 ton/ha (Suseno, 2002). Varietas cabai SSP IPB yang digunakan dalam penelitian ini merupakan salah satu varietas cabai yang dikeluarkan oleh Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB yang memiliki rasa pedas (kandungan kapsaicin 967 ppm) dengan panjang buah 12-15 cm, bobot per buah 8-10 gram, produktivitas 700-800 gram/tanaman dan umur panen 72-78 hari setelah tanam, dimana untuk umur panen varietas ini lebih cepat dibandingkan dengan varietas cabai pada umumnya.
Selain itu, rendahnya produktivitas cabai di Riau juga disebabkan penggunaan pupuk anorganik ( Urea, TSP, KCL ) secara terus menerus yang tidak di imbangi dengan pupuk organik, sehingga dapat merusak tanah (Suseno, 2002). Pupuk anorganik sangat sedikit ataupun hampir tidak mengandung unsur hara mikro, oleh sebab itu perlu di imbangi dengan penggunaan pupuk organik atau kompos yang banyak mengandung hara mikro terutama kompos yang berasal dari daun-daunan seperti kompos leguminosa (Pracaya, 2001)
Kompos leguminosa ialah kompos yang paling praktis yang dapat digunakan oleh petani cabai, karna bahan dasar kompos ini mudah didapatkan serta tidak banyak mengeluarkan biaya, sehingga kompos leguminosa dapat menjadi salah satu sumber hara organik alternatif yang dapat digunakan oleh petani cabai secara langsung (Krishnawati, 2003).
Pemberian kompos leguminosa ini tidak hanya memperkaya unsur hara bagi tanaman, namun juga berperan dalam memperbaiki struktur tanah, tata udara dan air dalam tanah, mengikat unsur hara dan memberikan makanan bagi jasad renik yang ada dalam tanah, sehingga meningkatkan peran mikrobia dalam menjaga kesuburan tanah. Selain itu, pembuatan kompos leguminosa ini juga relatif mudah. Keunggulan lainnya adalah mudah terurai di dalam tanah sehingga mempercepat penyiapan unsur hara bagi tanaman. Oleh sebab itu penggunaan kompos leguminosa diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman cabai (Kartini, 2007).
Berdasarkan uraian dapat di identifikasi beberapa permasalahan rendahnya produktivitas cabai di Riau, disebabkan karena petani cabai yang belum menggunakan benih cabai varietas unggul, penggunaan pupuk anorganik ( Urea, TSP, KCL ) secara terus menerus yang tidak di imbangi dengan pupuk organik, sehingga di asumsikan penggunaan kompos leguminosa yang memanfaatkan bioaktivator Trichoderma sp. dengan penggunaan varietas cabai SSP IPB, menjadi salah satu alternatif dalam mengatasi permasalahan rendahnya produktivitas cabai di Riau.
Berdasarkan dari penjelasan dan uraian di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Aplikasi Beberapa Dosis Kompos Leguminosa dengan Penggunaan
Bio-Aktivator Trichoderma sp. Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Cabai
(Capsicum Annuum L)”.
1.2. Tujuan Penelitian
leguminosa yang terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman cabai (Capsicum Annuum L).
1.3. Hipotesis
Pemberian kompos leguminosa dengan dosis 150 gram/tanaman atau setara dengan 30 ton/ha merupakan pemberian dosis terbaik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai (Capsicum Annuum L).
BAB.II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tanaman Cabai
Tanaman cabai merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan (solanaceae) yang
memiliki nama ilmiah Capsicum sp. Cabai berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negara-negara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia, mereka memanfaatkan tanaman berbuah pedas tersebut sebagai bumbu penyedap masakan (Prajnanta, 1999).
Dari masa ke masa, tanaman cabai mengalami perkembangan. Perkembangan ini bisa dikatakan sejalan dengan perkembangan penduduk, kemajuan teknologi dan kemampuan berevolusi dan beradaptasi dari tanaman itu sendiri. Perkembangan penduduk antara lain menyebabkan peningkatan permintaan akan cabai. Kemajuan teknologi yang ditopang oleh kemajuan berevolusi dan beradaptasi, antara lain berhasil memurnikan varietas cabai yang ada (Pracaya, 2001).
Di Indonesia sendiri, penanaman cabai bermacam-macam tergantung daerahnya. Cabai
Kingdom : Plantae, Divisi : Magnolioyt, Kelas : Magnoliopsida, Sub kelas : Asteridae,
Ordo : Solanales, Famili : Solanaceae, Genus : Capsicum.
Tanaman cabai mempunyai akar tunggang yang terdiri atas akar utama dan akar lateral,
akar lateral mengeluarkan serabut, mampu menembus kedalaman tanah sampai 50 cm dan melebar sampai 45 cm (Prihmantoro, 2001). Tanaman cabai merupakan tanaman perdu dengan batang berkayu, batang akan tumbuh sampai ketinggian 120 cm, kemudian membentuk banyak percabangan, dengan lebar tajuk tanam sampai 90 cm (Suseno, 2002).
Batang tanaman cabai berwarna hijau, hijau tua, atau hijau muda. Pada batang-batang yang telah tua (biasanya batang paling bawah), akan muncul warna coklat seperti kayu, ini merupakan kayu semu, yang diperoleh dari pengerasan jaringan parenkim (Prajnanta, 1999).
Daun tanaman cabai bervariasi menurut spesies dan varietasnya. Ada daun yang berbentuk oval dan ada juga yang berbentuk lonjong. Warna permukaan daun bagian atas biasanya hijau muda, hijau, hijau tua, bahkan hijau kebiruan (Prihmantoro, 2001).
Permukaan daun pada bagian bawah umumnya berwarna hijau muda, hijau pucat atau hijau. Permukaan daun cabai ada yang halus dan ada pula yang berkerut-kerut. Ukuran panjang daun cabai antara 3-11 cm, dengan lebar antara 1-5 cm berbentuk lonjong (Pracaya, 2001).
Bunga tanaman cabai merupakan bunga sempurna, artinya dalam satu tanaman terdapat bunga jantan dan bunga betina. Pemasakan bunga jantan dan bunga betina dalam waktu yang sama (atau hampir sama), sehingga tanaman dapat melakukan penyerbukan sendiri. Namun untuk mendapatkan hasil buah yang lebih baik, penyerbukan silang lebih diutamakan. Karena itu, tanaman cabai yang ditanam dalam jumlah yang banyak, hasilnya lebih baik dibandingkan tanaman cabai yang ditanam sendirian (Prajnanta, 1999).
Buah cabai merupakan bagian tanaman cabai yang paling banyak dikenal dan memiliki banyak variasi. Menurut Sutedjo (2002) varietas dengan tipe elongate memiliki rasa yang sangat pedas, serta memiliki ukuran buah ± 12x0,8 cm, dan memiliki berat 5-6 gram.
2.2. Syarat Tumbuh
Cabai dapat tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 200 m dpl. Tetapi bila udara sangat dingin sampai embun membeku (frost) mungkin tanaman akan mati (Prihmantoro, 2001). Penanaman cabai pada waktu musim kemarau dapat tumbuh dengan baik, asal mendapat penyiraman yang cukup, temperatur yang baik untuk cabai adalah sekitar 200-250C. Bila
temperatur sampai 350C maka pertumbuhan kurang baik, sebaliknya bila temperatur di bawah
100C, pertumbuhan kurang baik bahkan dapat mematikan (Suseno, 2002).
banyak yang rontok (Suseno, 2002). Tanah yang asam kurang baik untuk pertumbuhan cabai, maka perlu ditaburi kapur dan pupuk organik, tanah yang baik bila mempunyai (pH) sekitar 6,5 (Wirakusumah, 1999).
2.3. Trichoderma sp.
Trichoderma sp. merupakan dekomposer yang mengandung enzim selulase, enzim (β-Glukanase), proteinase dan enzim kitinase yang dapat bekerja secara sinergis sehingga mempercepat dalam proses pelapukan bahan organik. Jamur Trichoderma sp. dapat mengurangi bahan organik seperti karbohidrat terutama selulosa ( Dinas Tanaman Pangan Provinsi Riau, 2003).
Trichoderma sp. merupakan salah satu jamur antagonis terhadap patogen tular tanah dan merupakan salah satu jamur tanah yang termasuk Divisi: Eumycota, Sub divisi:
Deuteromycotina, Kelas: Ascomycetes, Sub kelas: Hypocreacea, Ordo: Moniliales, Genus:
Trichoderma dan Spesies: Harzianum (Agrios, 1997). Trichoderma sp. secara alami merupakan parasit yang menyerang banyak jamur patogen tanaman dan merupakan jamur yang terlibat dalam kompetisi alami sesama jamur. Benang-benang hifa dari jamur patogenik akan terpotong-potong karna terlilit oleh hifa Trichoderma sp. (Novizan 2002). Menurut Rifai (1969) hifa
Trichoderma sp. bercabang membentuk koloni yang berbentuk atau seperti kapas dan berhubungan dengan pertumbuhan dan struktur konidiofornya, sebagian koloni membentuk zona mirip dengan cincin yang khas dan jelas.
Trichoderma sp. dapat hidup pada kisaran suhu yang cukup luas yaitu pada suhu 15°C-37°C (Hardar, Harman dan Taylor, 1984). Pertumbuhan optimum dari T.harzanium dan T.koningi
Selain itu jamur Trichoderma sp. mempunyai keunggulan diantaranya mudah dalam aplikasi, harga terjangkau, tidak menghasilkan racun (toksin), ramah lingkungan, tidak mengganggu organisme lain terutama yang berada di dalam tanah, serta tidak meninggalkan residu pada tanaman maupun di tanah (Mardiansyah dan Widyastuti, 2007).
Trichoderma sp. ini dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kompos, karna jamur ini dapat mempercepat proses dekomposisi bahan-bahan organik yang akan digunakan sebagai pembuatan kompos juga menjadikan kompos yang kaya unsur hara baik makro maupun mikro (Yulensri, Lucida dan Henny, 2007).
Hasil penelitian Puspita, Elfina dan Imelda (2007) menunjukan bahwa perlakuan Tricho-kompos pada dosis 30 gram/polybag bibit kelapa sawit dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman kelapa sawit dan mengendalikan penyakit G.Boninense. Menurut Puspita dkk (2009) menyatakan bahwa aplikasi Trichoderma sp. pada dosis 50 gram/polybag ukuran 5 kg dapat menghambat intensitas serangan G.Boninense sebesar 77,19 % dan dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit.
2.4. Kompos Leguminosa
Kompos leguminosa ialah kompos yang paling praktis yang dapat digunakan oleh petani cabai karna tanaman leguminosa mudah didapatkan serta tidak banyak mengeluarkan biaya sehingga kompos leguminosa dapat menjadi salah satu sumber hara organik alternatif yang dapat digunakan oleh petani cabai secara langsung (Krishnawati, 2003).
enzim kitinase yang dapat bekerja secara sinergis sehingga mempercepat dalam proses pelapukan bahan organik atau pengomposan (Dinas Tanaman Pangan Provinsi Riau, 2003).
Pemberian kompos leguminosa ini tidak hanya memperkaya unsur hara bagi tanaman, namun juga berperan dalam memperbaiki struktur tanah, tata udara dan air dalam tanah, mengikat unsur hara dan memberikan makanan bagi jasad renik yang ada dalam tanah sehingga meningkatkan peran mikrobia dalam menjaga kesuburan tanah. Selain itu, pembuatan kompos leguminosa ini juga relatif mudah (Kartini, 2007).
Kompos leguminosa mengandung nitrogen lebih tinggi dibandingkan dengan kompos non leguminosa karna tanaman leguminosa mempunyai bintil akar, dimana di dalam bintil akar ini hidup bakteri yang mampu menambat N2 dari udara. Karenanya bintil akar pada tanaman leguminosa dapat dipandang sebagai sumber hara nitrogen alami (Krishnawati, 2003).
BAB. III BAHAN DAN METODE
3.1. Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di rumah kassa Fakultas Pertanian Universitas Riau, Kampus Bina Widya km 12,5 Kelurahan Simpang Baru, Kecamatan Tampan, Pekanbaru. Waktu pelaksanaan penelitian ini berlangsung selama 4 bulan, dimulai dari bulan Januari sampai bulan April 2014.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan antara lain Trichoderma sp, tanah topsoil inceptisol, bibit cabai
Varietas SSP IPB, polybag berukuran 50 cm x 40 cm dan polybag berukuran 10 cm x 6 cm, kompos leguminosa, pestisida nabati, pupuk kandang sapi, pupuk Urea, pupuk SP36, pupuk TSP, pupuk KCL dan pupuk Dolomit.
Alat yang digunakan adalah mesin pencincang atau pencacah leguminosa, cangkul, garu, parang, timbangan, timbangan digital, timbangan analitik, ayakan, ember plastik, gembor,
seedbed, meteran dan alat tulis.
3.3. Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dengan 3 ulangan, pada setiap satuan percobaan terdiri dari 2 tanaman dan semua tanaman dijadikan sampel, sehingga diperoleh jumlah keseluruhan 30 satuan percobaan.
Sebagai perlakuan yang diberikan adalah kompos leguminosa (K) yang terdiri dari 5 perlakuan :
K1 = Pemberian tricho-kompos leguminosa dengan dosis 20 ton/ha setara dengan 100 gram/10 kg tanah (1 polybag).
K2 = Pemberian tricho-kompos leguminosa dengan dosis 30 ton/ha setara dengan 150 gram/10 kg tanah (1 polybag).
K3 = Pemberian tricho-kompos leguminosa dengan dosis 40 ton/ha setara dengan 200 gram/10 kg tanah (1 polybag).
K4 = Pemberian tricho-kompos leguminosa dengan dosis 50 ton/ha setara dengan 250 gram/10 kg tanah (1 polybag).
Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan analisis ragam dengan model linear sebagai berikut :
Yij = µ + ƫi + ɛij
Keterangan :
Yij = Hasil pengamatan perlakuan ke -i pada ulangan ke -j
µ = Pengaruh nilai tengah
ƫi = Pengaruh tricho-kompos leguminosa pada perlakuan ke -i
ɛij = Pengaruh galat percobaan pada perlakuan ke -i pada ulangan ke –j
3.4. Pelaksanaan Penelitian
3.4.1. Persemaiaan dan Pemeliharaan Bibit
Media persemaian merupakan campuran dari pupuk kandang sapi dan tanah topsoil
inceptisol yang telah diayak dengan perbandingan 1 : 1. Benih yang telah disediakan direndam terlebih dahulu dalam air hangat dengan suhu 500C selama 10 menit guna untuk melihat biji yang
bernas serta memecah dormansi benih, setelah itu lakukan seleksi benih, benih yang terapung tidak digunakan dan benih yang tenggelam ditiriskan untuk disemai kedalam media persemaian yang terbuat dari polybag kecil berukuran 10 cm x 6 cm, penyemaian dilakukan dengan menanam satu benih pada satu polybag. Bibit yang telah ditanam selanjutnya dilakukan pemeliharaan dengan melakukan penyiraman pada pagi dan sore hari secara rutin. Pemindahan bibit ke polybag berukuran 50 cm x 40 cm dilakukan setelah bibit tanaman cabai berumur 38 hari setelah semai dan ditandai dengan jumlah daun dewasa sebanyak 4-6 lembar.
3.4.2. Persiapan Tempat Penelitian
Persiapan tempat penelitian dilakukan setelah penyemaian benih, tempat penelitian ini menggunakan Rumah Kassa Fakultas Pertanian Universitas Riau, sebelum digunakan terlebih dahulu rumah kassa dibersihkan.
3.4.3. Persiapan Medium Tanam
Medium yang digunakan adalah tanah inceptisol yang diambil dari tanah kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau pada kedalaman 20 cm dari permukaan tanah, tanah yang diambil dimasukan kedalam polybag berukuran 50 cm x 40 cm, setelah itu polybag disusun di rumah kassa sesuai rancangan penelitian.
3.4.4. Pemberian Perlakuan
dengan mencampur ke lubang tanam pada medium tanam dalam polybag pada aplikasi pertama, untuk aplikasi selanjutnya diberikan dengan membuat lubang disekitar tanaman.
3.4.5. Penanaman
Penanaman dilakukan pada sore hari agar bibit tidak mengalami stres akibat suhu yang tinggi. Setiap satu lubang tanam pada polybag ditanami satu bibit cabai. Penanaman dilakukan dengan melepaskan medium dalam polybag pembibitan, bibit beserta tanah dalam polybag dimasukan kedalam lubang tanam diameter 6 cm dengan kedalaman 10 cm pada polybag berukuran 50 cm x 40 cm. Setelah dilakukan penanaman, selanjutnya dilakukan penyiraman dengan dosis penyiraman yang sama per polybag nya.
3.4.6. Pemeliharaan
3.4.6.1. Penyiraman
Tanaman cabai membutuhkan pengairan yang cukup terutama pada saat fase
pertumbuhan vegetatif dan pembesaran buah, oleh sebab itu dilakukan penyiraman secara rutin pada pagi dan sore hari dengan dosis penyiraman yang sama per polybag nya.
3.4.6.2. Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada tanaman cabai apabila ada bibit yang mengalami pertumbuhan abnormal, layu dan terserang hama atau penyakit. Kegiatan ini dilakukan dengan cara mengganti tanaman tersebut dengan tanaman yang berumur sama serta memiliki perlakuan yang sama yang telah dipersiapkan sebelumnya. Waktu penyulaman adalah minggu pertama setelah pindah tanam dan dilakukan pada sore hari agar bibit tidak mengalami stres akibat suhu yang tinggi.
3.4.6.3. Pemupukan
Pada percobaan ini pupuk anorganik diberikan 14 hari setelah tanam yaitu sebanyak 50% dari rekomendasi yang dianjurkan, dimana pupuk Urea diberikan 2 gram/tanaman, SP36 5 gram/tanaman dan KCL 5 gram/tanaman (Pracaya, 2001).
Pelaksanaan penyiangan disesuaikan dengan kondisi pertumbuhan gulma yang ada disekitar medium dalam Polybag. Penyiangan dilakukan dengan cara manual dengan mencabut gulma yang tumbuh di dalam polybag, dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak perakaran tanaman cabai.
3.4.6.5. Perempelan
Perempelan merupakan kegiatan pemeliharaan dengan membuang beberapa bagian tanaman muda. Apabila tidak dilakukan perempelan, tanaman akan mempunyai bentuk yang kurang baik dan mengurangi kemampuan produksi tanaman. Perempelan dilakukan terhadap tunas samping yang muncul sebelum pembungaan agar tanaman tumbuh besar terlebih dahulu. Perempelan dilakukan pada daun-daun tua, bunga pertama dan seluruh tunas yang keluar dari ketiak daun di bawah percabangan pertama. Perempelan dilakukan pada pagi hari karena tunas tersebut masih mudah dipotong.
3.4.6.6. Pemasangan turus
Pemasangan turus dilakukan setelah tanaman cabai berumur 30 hari setelah tanam, dengan jarak kira-kira 10 cm dari batang tanaman. Tanaman cabai memerlukan turus supaya tidak rebah karena tiupan angin.
3.4.6.7. Pengendalian Hama
Pengendalian hama dilakukan pada pagi hari dengan cara penyemprotan Insektisida
nabati berbahan dasar daun tanaman nimba, dilakukan antara pukul 0700–1000.
3.4.7. Panen
tidak lunak. Pemanenan dilakukan dengan cara mendorong tangkai buah keatas atau kearah berlawanan dari tangkai buah. Pemanenan dilakukan 3 hari sekali sampai 6 kali panen.
3.5. Pengamatan
Pengamatan dilakukan menggunakan standar Descriptors for Capsicum (IPGRI, 1995), parameter yang diamati sebagai berikut :
3.5.1. Umur berbunga (HSS)
Umur berbunga diamati dengan cara menghitung jumlah hari yang di butuhkan tanaman untuk berbunga, mulai dari persemaian hingga muncul nya bunga pertama. Tanaman cabai dikatakan sudah mencapai umur berbunga bila 50% dari seluruh sampel telah berbunga.
3.5.2. Umur panen (HSS)
Pengamatan umur panen dilakukan dengan menghitung jumlah hari dari persemaian hingga mencapai panen pertama. Tanaman cabai dikatakan sudah mencapai umur panen bila 50% dari seluruh sampel telah memiliki buah masak pada percabangan pertama.
3.5.3. Tinggi tanaman (cm)
Pengamatan tinggi tanaman dilakukan dengan mengukur dari pangkal batang sampai titik tumbuh tertinggi tanaman. Pengamatan tinggi tanaman dilakukan setelah panen kedua.
3.5.4. Tinggi dikotomus (cm)
Dikotomus adalah percabangan pertama yang muncul dari batang utama. Pengamatan tinggi dikotomus diukur dari pangkal batang sampai cabang dikotomus. Pengamatan tinggi dikotomus dilakukan satu kali setelah panen kedua.
Pengamatan diameter batang dilakukan dengan menggunakan jangka sorong. Diameter batang diukur pada batang utama 5 cm diatas permukaan tanah. Pengamatan diameter batang dilakukan setelah panen kedua.
3.5.6. Lebar tajuk (cm)
Pengamatan lebar tajuk dilakukan dengan cara mengukur dari satu titik ke titik yang lain pada bagian tajuk terlebar dengan menggunakan meteran. Pengamatan lebar tajuk dilakukan setelah panen kedua.
3.5.7. Bobot per buah (g)
Pengamatan bobot per buah dilakukan dengan cara menimbang bobot semua buah dan dibagi dengan jumlah buah dari tanaman sampel mulai dari panen pertama sampai panen terakhir.
3.5.8. Panjang buah (cm)
Pengamatan panjang buah dilakukan dengan cara mengukur dari pangkal buah sampai pada ujung buah pada 10 buah dari tanaman sampel yang diambil secara acak dari panen pertama sampai panen terakhir lalu dihitung rata-ratanya. Pengamatan panjang buah dilakukan setelah panen kedua.
3.5.9. Diameter buah (mm)
pertama sampai panen terakhir lalu dihitung rata-ratanya. Pengamatan diameter buah dilakukan setelah panen kedua.
3.5.10. Bobot buah per tanaman (g)
Pengamatan bobot buah pertanaman dilakukan dengan menimbang buah dari panen pertama hingga panen terakhir. Nilai bobot buah per tanaman didapatkan dengan menjumlahkan bobot buah tiap panen dibagi dengan jumlah tanaman sampel.
DAFTAR PUSTAKA
Agrios, G.N. 1997. Ilmu Penyakit Tumbuhan (Terjemahan). Gadjah Mada Universitas Press. Yogyakarta.
Badan Pusat Statistik. 2012. Data Produksi Cabai Nasional. Jakarta
Damayanti, 1993. Manfaat dan Analisis Hara Pupuk Organik. Purwakarta Jakarta.
Dinas Tanaman Pangan Provinsi Riau. 2003. Sekilas Tentang Pengembangan Pupuk Hijau dengan
Peggunaan Trichoderma sp. dalam Meningkatkan Produktivitas Tanaman Pangan.
Pekanbaru.
Hardar, Y.G.E. Harman and A.G. Taylor. 1984. Evaluation Of Trichoderma Koningi and Trichoderma Harzianum From New York Soil Biological.
IPGRI. 1995. Descriptors for Capsicum (Capsicum spp.). International Plant Genetic Resources Institute 1995. Italia. 51 hal.
Krishnawati, D. 2003. Leguminosa Untuk Kesuburan Tanaman. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Kartini, N.L 2007. Pengaruh Pemberian Pupuk Kompos Terhadap Pertumbuhan Vegetative Tanaman
Cabai Rawit. Skripsi. Fakultas pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.
Mardhiansyah, M dan S.M. Widyastuti. 2007. Potensi Trichoderma Spp. Pada Pengomposan Sampah Organik Sebagai Media Tumbuh dalam Mendukung Daya Hidup Semai Tusam (Pinus Merkusii
Jung. Et de Vries). Sagu 1 (6):29-23.
Mulat, T. 2003. Membuat dan Memanfaatkan Kompos Pupuk Organik Berkualitas. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Masnur, 2001. Kompos sebagai sumber hara tanaman . Instalasi Pendidikan dan Pengkajian Teknologi Pertanian ( IPPTP ). Mataram.
Nick, 2010. Pupuk Kompos Mencegah Pencemaran. www. pupukkompos mencegahpencemaran.or.id/komposleguminosa.htm. Diakses pada tanggal 7 Desember 2013. Novizan. 2002. Petunjuk Penggunaan Pupuk yang Efektif. Agro Media Pustaka. Jakarta
Prajnanta, F. 1999. Agribisnis Cabai Merah. Penebar Swadaya. Jakarta.
Prajnanta, F, 1999. Budidaya Cabai Rawit Hibrida. Panah Merah. Purwakarta. Jawa Barat. Pracaya H, 2001. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Kanisius. Yogyakarta.
Prihmantoro, H. 2001. Hidroponik Tanaman Semusim untuk Bisnis dan Hoby. Penebar Swadaya. Jakarta.
Puspita, F.,Elfina Y. dan Imelda, R. 2007. Aplikasi Dregs dan Trichoderma Sp Terhadap Perkembangan Penyakit Kelapa Sawit dan Pada Medium Gambut di Pembibitan Utama.
Laporan Penelitian (Tidak dipublikan)
Puspita, F.,Elfina Y. dan Imelda, R. 2007. Aplikasi Dregs dan Trichoderma Psiodokoningi. Untuk
mengendalikan Ganoderma Boninense Penyebab Penyakit Busuk Pangkal Batang Pada
Kelapa Sawit di Pembibitan Awal. Artikel Ilmiah sudah di Seminarkan ditingkat Nasional,
Yogyakarta, 2008.
Rifai. M.A. 1969. A Revision Of The Ganus Trichoderma. Mycological Paper, No.16. Common Wealth Mycological Institute Kew, Surrew, England.56 Hal.
Rukmana, R. 1995. Budidaya Cabai Merah Hibrida. Penebar Swadaya. Jakarta. Suseno, S. 2002. Cabai dan tingkat Produktivitas nya, Trubus No.319 Th XXVII. Jakarta.
Sutedjo, M,M. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rina Cipta. Jakarta.
Steel, R.G.D., dan Torrie,J.H. 1994. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan Biometik. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Tarmuzi, 1998. Tata Cara Pengolahan Lahan, Penyiapan Bibit, dan Pemanenan Cabai Hibrida. Penebar Swadaya. Jakarta
Wudianto, 2003. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Penebar Swadaya. Jakarta.
Wirakusumah, 1999. Teknik Budidaya Tanaman Cabai Beserta Pemeliharaanya. Penebar Swadaya. Jakarta.
Yulensri, lucida dan henny. 2007. Kesuburan Tanah. Tim Penulis BKPM Budidaya Tanaman Pangan. Politeknik Pertanian Payakumbuh. Payakumbuh.
Lampiran 1. Jadwal Rencana Kegiatan Penelitian
Kegiatan
Bulan
Januari Februari Maret April
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Persemaiaan dan
Pemeliharaan Bibit √ √ √ √ Persiapan Tempat
Penelitian √
Persiapan Medium
Tanam √
Perlakuan Penanaman ke
polybag √
Penyisipan √
Pemasangan turus √
Pemupukan anorganik setengah dosis anjuran
√
Penyiraman √ √ √ √ √ √ v √ √ √ √ √ √ v √ √
Penyiangan gulma √ √ √
Pengendalian hama √
Panen √ √ √
Pengamatan
tanaman √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Lampiran 2. Deskripsi Tanaman Cabai Varietas SSP IPB (Terdaftar No. 65/PVHP/2012)
Lampiran 3. Denah Penelitian Rancangan Acak Lengkap ( RAL )
K4bIII
K4aIII
K3bI
K3aI
60 cm
K3bIII
K3aIII
K1aI
K0bIII
K1bI
K0aIII
50 cm K0bII
K0aII
K4aI
K3bII
K4bI
K3aII
60 cm Keterangan :
I, II, III : Ulangan Jarak polybag di dalam unit percobaan : 50 cm Jarak antar unit percobaan : 60 cm
Lampiran 4. Perhitungan Beberapa Dosis Kompos Leguminosa pada Unit Percobaan
1. Pupuk Leguminosa per hektar = 20 ton/ha
Berat tanah per hektar = 2x106 kg (2.000.000 kg)
Berat tanah per polybag =10 kg
Berat tanah per hektar = 2x106 kg (2.000.000 kg)
Berat tanah per polybag =10 kg
Berat tanah per hektar = 2x106 kg (2.000.000 kg)
Berat tanah per polybag =10 kg
Berat tanah per hektar = 2x106 kg (2.000.000 kg)
Bahan yang digunakan adalah leguminosa sebanyak 40 kg ( netto), pupuk kandang sebanyak 16% dari 40 kg (6,4 kg), pupuk Urea sebanyak 1% dari 40 kg (0,4 kg), pupuk TSP sebanyak 1% dari 40 kg (0,4 kg), pupuk Dolomit sebanyak 1% dari 40 kg (0,4 kg), Trichoderma sp. sebanyak 5% dari 40 kg (2 kg) dan 3 liter air.
Sedangkan alat yang digunakan adalah mesin pencincang leguminosa, ember, timbangan, garu, parang, gerobak sorong, terpal plastik ukuran 10x5, meter dan cangkul.
Cara pembuatan :
a) Sediakan leguminosa dengan mengambil dilapangan menggunakan parang dan diangkut
menggunakan gerobak sorong, selanjutnya dibawa ketempat mesin pencincangan.
b) Lakukan pencincangan leguminosa dengan menggunakan mesin pencincang atau pencacah
leguminosa hingga empat kali pencincangan sampai leguminosa menjadi halus.
c) Setelah dicincang, selanjutnya dilakukan pemilahan leguminosa dengan kotoran-kotoran yang
menempel pada legum.
d) Setelah dipilah, selanjutnya legum dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 6,4 kg dan letakan
campuran tersebut di atas terpal plastik yang telah disediakan, susun campuran tersebut berbentuk persegi sebanyak empat lapis.
e) Lapisan pertama disusun sebanyak 10 kg leguminosa dan taburkan secara merata di atas
permukaan leguminosa 1 kg trichoderma sp. dan 0,1 kg Urea, 0,1 kg TSP, 0,1 kg dolomit, begitu selanjut nya sampai lapisan keempat hingga ketebalan lapisan mencapai 30 cm.
f) Setelah sampai pada lapisan keempat, taburi dengan bahan organik tipis di atas nya.
g) Tutup lapisan tersebut dengan terpal plastik hingga rapat.
h) Lakukan pengamatan seminggu sekali dengan mengaduk kompos setiap minggu nya.
i) Pada minggu keempat kompos telah terdekomposisi secara sempurna sehingga sudah bisa untuk
digunakan.
Lampiran 6. Cara pembuatan pestisida nabati berbahan dasar daun tanaman nimba
Bahan dan Alat yang digunakan :
b) Setelah ditumbuk dan diaduk selanjutnya diencerkan dengan 1 liter air aquades,
c) Endapkan larutan selama 12 jam dan lakukan penyaringan,
e) Aplikasi mulai terlihat atau bekerja setelah 2 – 3 hari setelah aplikasi.
Posted by Refli Junaidi at 02:04
Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook Share to Pinterest
7 comments:
1.
Yusrizal yos 26 February 2015 at 20:09
terima kasih,,, sangat bermanfaat untu contoh proposal,,,, Reply
2.
Ayu Rosmiati 6 September 2015 at 00:07
terimaksih sangat membantu Reply
3.
Majid Win 20 September 2015 at 20:39
Terimakasih.. Reply
Majid Win 20 September 2015 at 20:41
Terimakasih.. Reply
5.
INDAH KURNIASIH WAHYU SARI 26 September 2015 at 07:05
trims bget ...udah membantuq dalam bikin usulan penelitian... Reply
6.
jo Sumarno 9 June 2016 at 05:40
Bang refli bisa minta file dokumen aslinya bang . Saya butuh bgt bang . Bisa tolongin bang .
Reply
7.
John Darwin 4 January 2017 at 05:39
terimakasih ya sudah sangat membantu skripsinya, salam sukses
Reply
Load more...
Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)
Google+ Badge
Blog Archive
▼ 2014 (51)
How to Make Money Online?
Ajaib, Riau memiliki Tempat Wisata Dadakan seperti...
Contoh Surat Melamar Pekerjan / Kerja
Contoh Curiculum Vitae / Biodata Diri
PERSYARATAN UNTUK MELAKUKAN SEMINAR / TUGAS AKHIR ...
JENIS JENIS RANCANGAN PERCOBAAN
RANCANGAN PERCOBAAN
Foto pengamatan - pengamatan yang di lakukan pada ...
VARIASI TANAMAN PERTANIAN
JENIS-JENIS PEMULIAAN PADA TANAMAN
VARIABILITAS GENETIK
HERITABILITAS
Ramalan berdasarkan golongan Darah
MASA ORIENTASI SISWA SEKOLAH (MOSS) DI INDONESIA D...
LAPORAN AKHIR DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN PEM...
JENIS JENIS TANAH
Curah Hujan di Indonesia
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM AGROKLIMATOLOGI
PESTISIDA NABATI
METODE PENGUKURAN CURAH HUJAN
CONTOH PROPOSAL USULAN PENELITIAN FAKULTAS PERTANI...
HUBUNGAN EROSI TANAH DENGAN FAKTOR PEMBENTUK NYA S...
LAPORAN PRAKTIKUM ( Entomopatogen ) PENGENDALIAN H...
LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELO...
LAPORAN AKHIR TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN SEREALEA ...
Tugas Mata Kuliah Lanskap tentang Evaluasi Taman-T...
LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR ARSITEKTUR LANSKAP
CONTOH SOAL UJIAN MID SEMESTER LANSKAP/PERTAMANAN
TUGAS MAKALAH KESUBURAN TANAH DAN PEMUPUKAN “NITRO...
Contoh soal Ujian Praktikum Bioteknologi / Kisi Ki...
LAPORAN PKP (Praktek Kerja Profesi)
BUDIDAYA TANAMAN JAGUNG
Budidaya kacang panjang dan Buncis
Contoh Cover Skripsi
Contoh Surat Izin Kuliah
PENGELOLAAN PENYAKIT PADA TANAMAN
TEKNIK PERSILANGAN PADA TANAMAN CABAI ( Capsicum A...
PENETAPAN KADAR AIR TANAH
Tanah Inseptisol
Penetapan pH tanah
o ► August (1)
About Me
Refli Junaidi
View my complete profile
Popular Posts
CONTOH PROPOSAL USULAN PENELITIAN FAKULTAS PERTANIAN
TEKNIK PERSILANGAN PADA TANAMAN CABAI ( Capsicum Annum L. )
SECARA UMUM DAPAT DI JELASKAN BEBERAPA CARA YANG PERLU DI PERSIAPKAN DALAM MELAKUKAN TEKNIK PERSILANGAN PADA TANAMAN CABAI ( Capsicum...
Kepik Hijau (Nezara viridula)
Kepik Hijau (Nezara viridula) Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap kepik hijau (Nezara viridula) diperoleh morfologi memiliki s...
RANCANGAN PERCOBAAN
RANCANGAN PERCOBAAN Fakultas Pertanian Universitas Riau A. Pendahuluan Lebih kurang delapan puluh tahun yang lalu, seorang prof...
MAKALAH TEKNOLOGI BUDIDAYA ANEKA TANAMAN PANGAN ( Jagung Manis ( Zea mays saccharata L )
MAKALAH TEKNOLOGI BUDIDAYA ANEKA TANAMAN PANGAN ( Jagung Manis ( Zea mays saccharata L ) Di susun oleh : REFLI JUNAIDI Kelas Agrotek... MAKALAH TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN SEREALIA “budidaya tanaman
sorgum pada lahan salin”
MAKALAH TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN SEREALIA “budidaya tanaman sorgum pada lahan salin” Di susun oleh : REFLI JUNAIDI (1006121470) ...
HUBUNGAN EROSI TANAH DENGAN FAKTOR PEMBENTUK NYA SESUAI DATA PENELITIAN
HERITABILITAS
Heritabilitas atau daya waris adalah besaran bagi pengaruh keragaman genetik terhadap keragaman fenotipik dalam suatu populasi b...
LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN
HABITAT (Parasitoid) “kemampuan parasitisme terhadap hama penggulung daun pisang Erionotathrax Linnaeus (LEPIDOPTERA:HESPERIDAE)”
LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN
HABITAT (Parasitoid) “kemampuan parasitisme terhadap hama penggulung daun pisang Er...
LAPORAN PKP (Praktek Kerja Profesi)
LAPORAN PKP OKULASI DURIAN VARIETAS UNGGUL DENGAN DURIAN VARIETAS LOKAL DI BPPM ( BALAI PELATIHAN DAN PE NGEMBANGAN MASYARAKA T ) PT.A...