• Tidak ada hasil yang ditemukan

Riset Akhir Program Sebuah Studi Self as

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Riset Akhir Program Sebuah Studi Self as"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

Penyunting: Dr. Irwan M. Hidayana // Reviewer: Dr. Sari Monik Agustin

Disusun oleh: Sari Damar Ratri, Djamilah, Anggoro Yudo Mahendro, Ni Nyoman Sri Natih S

Sebuah Studi Self-assessment bagi Gugus

Kerja Seperlima Dalam Implementasi Kegiatan

Penguatan Akses Pendidikan Kesehatan

Reproduksi dan Seksual bagi Remaja

(2)

Riset Akhir Program

SEBUAH STUDI SELF-ASSESSMENT BAGI GUGUS KERJA

SEPERLIMA DALAM IMPLEMENTASI KEGIATAN PENGUATAN

AKSES PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI DAN

SEKSUAL BAGI REMAJA

PUSAT KAJIAN GENDER DAN SEKSUALITAS FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

(3)

Sebuah Studi

Self-assessment

bagi Gugus

Kerja Seperlima Dalam Implementasi Kegiatan

Penguatan Akses Pendidikan Kesehatan

Reproduksi dan Seksual bagi Remaja

Penyunting: Dr. Irwan M. Hidayana

Reviewer: Dr. Sari Monik Agustin

Disusun oleh:

Sari Damar Ratri Djamilah

Anggoro Yudo Mahendro Ni Nyoman Sri Natih S

(4)
(5)
(6)

l Pe ny u s u n : Sari Damar Ratri, Djamilah, Anggoro Yudo Mahendro, Ni Nyoman Sri Natih S l Pe ny u nt i n g : Dr. Irwan M. Hidayana

l Rev i ewe r : Dr. Sari Monik Agustin l Fot o g r a p h e r : TIM

l D e s a i n : Ahmad Zulfikar Fauzi ([email protected])

Sebuah Studi Self-assessment bagi Gugus

Kerja Seperlima Dalam Implementasi Kegiatan

Penguatan Akses Pendidikan Kesehatan

(7)

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

CHAPTER I

4

TEMUAN

LAPANGAN

LESSON

LEARNED

CHAPTER II

CHAPTER II

16

I.1 Latar belakang, 5

I.2 Permasalahan dan Tujuan Penelitian, 6

(8)

PENGANTAR

L

aporan ini merupakan hasil Riset Akhir Program: Sebuah Studi

Self-assessment bagi Gugus Kerja Seperlima dalam Implementasi Kegiatan Penguatan PKRS bagi Remaja yang dilakukan oleh Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI yang menjadi bagian dari gugus tugas yang dinamakan Seputar Permasalahan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas Remaja (Seperlima). Riset ini dilakukan pada periode Desember 2014 hingga Maret 2015 oleh tim peneliti dari Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI yang dilakukan di empat wilayah, yakni DKI Jakarta, Bandung, Kulon Progo dan Jombang.

Bentuk penelitian ini merupakan self-assessment dengan

menggunakan metode kualitatif. Oleh sebab itu, dalam riset ini, releksi kritis merupakan sumber data yang signiikan. Konsep self-assessment

(9)

Atas nama Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI kami mengucapkan banyak terima kasih kepada lembaga lain yang tergabung dalam Seperlima yang sudah membantu jalannya kegiatan riset akhir program ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada youth forum,

forum guru, Pemda dan stakeholders, CSO di wilayah riset akhir program ini, yang telah berpartisipasi dalam wawancara dan diskusi-diskusi kelompok serta menerima kehadiran kami selama riset berlangsung. Semoga apa yang kami lakukan bermanfaat untuk kegiatan multi-partnership yang berkelanjutan ke depannya.

Salam hangat,

Tim Peneliti Pusat Kajian Gender dan Seksualitas

(10)

PENDAHULUAN

S

elf-assessment ini adalah riset akhir yang dilakukan sebagai studi evaluasi atas kinerja Gugus Tugas SEPERLIMA (Seputar Permasalahan Kesehatan Reproduksi dan Seksual) selama 2012-2014, yang bersifat multi-partnership antara Pusat Kajian Gender dan

Seksualitas FISIP UI, Pamlet (mulai tahun 2013 menggantikan Yayasan

Jurnal Perempuan), PKBI, Rahima, dan HIVOS, dalam menjalankan Program Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksual bagi Remaja.

Gugus tugas Seperlima memfokuskan kegiatan pada upaya advokasi untuk mendorong akses remaja terhadap Pendidikan Kesehatan

Reproduksi dan Seksual (selanjutnya disebut PKRS) yang komprehensif di Indonesia. Saat ini Seperlima tengah mengajukan judicial review

atas Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 sebagai sebuah

(11)

nasional membutuhkan gugus kerja yang sifatnya beragam keterlibatan (selanjutnya akan disebut sebagai multi-partnership program) yang secara strategis menjanjikan keberhasilan program. Hal tersebut dikarenakan sebuah multi-partnership program memiliki sisi positif dalam hal sinergitas kerja dan koordinasi yang efektif, sehingga model kerja sama seperti ini relevan dalam konteks perubahan.

I.1 Latar belakang

(12)

Riset self-assessment inimengupayakan penelusuran atas kerja sama

multi-partnership gugus kerja Seperlima dalam implementasi kegiatan “Penguatan Akses Remaja terhadap Kesehatan Reproduksi dan Seksual.” Harapannya akan tergambar capaian-capaian kegiatan yang dapat digunakan sebagai rujukan program serupa bersifat multi-partnership di masa yang akan datang.

I.2 Permasalahan dan Tujuan Penelitian

Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan dalam program “Penguatan Akses Remaja terhadap Kesehatan Reproduksi dan Seksual” menunjukkan adanya beragam isu yang dapat dikembangkan menjadi sebuah pembelajaran dalam program kegiatan serupa. Dari segi konten kegiatan, hasil studi baseline hingga endline menunjukkan bahwa proses pengayaan pengetahuan KRS nampak masih belum menunjukkan perubahan yang sifatnya seragam di tiap wilayah. Dengan demikian, perlu ditelaah lebih dalam mengenai keunggulan dan kelemahan di masing-masing wilayah terkait konteks implementasi penguatan akses remaja terhadap PKRS ini. Belum adanya payung hukum tegas terkait penyelenggaraan PKRS disinyalir menjadi penyebab keragu-raguan dalam menyampaikan materi PKRS. Dari sisi tersebut, assessment jejaring lokal dan nasional terhadap isu PKRS menjadi penting untuk dikembangkan terkait penguatan dan pengerahan masa peduli PKRS di Indonesia.

Dari segi perpanjangan jaringan dan inisiatif lokal, self-assessment

ini diharapkan mampu merekam kekurangan-kekurangan dalam kegiatan Seperlima yang belum sempat tersentuh. Singkatnya kegiatan

(13)
(14)

lembaga yang memiliki beragam visi dan misi yang berbeda-beda. Sejak tahun 1990, laporan studi yang dilakukan oleh World Bank menyatakan bahwa “…the aid community began a candid self-assessment”

(World Bank 2003: xvii). Hal ini menunjukkan bahwa self-assessment

yang dilakukan oleh para praktisi pembangunan bukanlah hal yang

baru. Salah satu dampak signiikan dari kesadaran untuk melakukan

self-assessment adalah keinginan untuk memahami secara menyeluruh respon terhadap program-program pembangunan. Salah satunya, World Bank di tahun 1998 akhirnya memutuskan untuk menerapkan sebuah konsep baru yang disebut kemitraan (partnership)(Ibid). Dengan lahirnya konsep ini, program-program kegiatan World Bank mengubah konsepsi “bantuan” menjadi “mitra kerja.” Dengan anggapan antara donor penerima dan negara pengimplementasi memiliki status yang setara.

Dalam kegiatan Penguatan Akses Remaja terhadap Kesehatan Reproduksi dan Seksual di Indonesia, Hivos pada praktiknya telah mengupayakan satu alur administrasi dan ruang eksplorasi yang setara bagi keempat institusi lainnya di Seperlima. Bahwa upaya advokasi kegiatan diupayakan tidak hanya menjadi bagian akhir tujuan yang dimiliki Hivos, melainkan dimiliki bersama oleh keempat lembaga lainnya secara khusus dan masyarakat Indonesia secara umum. Upaya pengaturan kegiatan yang bersifat multi-partnership programs seperti kegiatan Seperlima ini tidaklah mudah (Lawrence dan Sete 2010: 4). Terdapat perbedaan visi dan latar belakang lembaga yang beragam dalam sebuah

multi-partnerships programs yang menentukan hasil akhir kegiatan. Pusat Kajian Gender dan Seksualitas berinisiatif melakukan sebuah riset penuntasan program (exit-program research) yang merupakan program terakhir dari keterlibatan Puska Gender dan Seksualitas FISIP UI di dalam program kegiatan Seperlima. Sebagai kegiatan akhir, Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI melakukan penelitian yang sifatnya self-assessment atau biasa dikenal dengan “evaluasi dan estimasi diri.” Konsep

(15)

kerja Seperlima, yang pemetaan peran, tantangan, capaian, dan evaluasi khususnya tidak lagi dilihat dari masing-masing lembaga melainkan Seperlima secara utuh. Berdasarkan permasalahan di atas, tujuan dari riset self-assessment ini antara lain:

1. Memetakan capaian gugus kerja Seperlima sebagai bentuk program multi-partnerships.

2. Menggambarkan capaian kegiatan Seperlima (outcome)

melalui releksi kritis dalam mengusung isu PKRS.

3. Mengidentiikasi faktor-faktor internal di dalam tubuh gugus

kerja Seperlima (antar lima lembaga) dan eksternal di luar tubuh Seperlima (di luar lima lembaga) baik yang mendukung maupun yang menghambat gugus kerja.

4. Menggali proses pembelajaran multi-partnerships program di Indonesia.

5. Mengidentiikasi rekomendasi yang bersumber dari Seperlima

(16)

I.3 Operasionalisasi Konsep

Model multi-partnershipprogram yang baik harus mampu mencakup empat kemampuan yang diantaranya: partnership (kemitraan), capacity

(kapasitas atau kemampuan), komunikasi, dan manajemen (Lawrence dan Sette 2010: 6). Sebuah studi yang dilakukan oleh National Cancer Institute (NCI) dalam rangka membangun the Cancer Information Services, menemukan bahwa model partnership program memberi keuntungan tersendiri dalam implementasi kegiatan yang bersifat intervensi. Salah satu yang mereka temukan yakni, partnership program membuka kesempatan untuk mengaplikasikan data ilmiah yang didapatkan melalui riset ke dalam praktik-praktik kegiatan guna menghilangkan kesenjangan kesehatan (La

Porta dkk. 2007: 35). Berdasarkan hal tersebut, kegiatan Seperlima yang

selama ini dilakukan, telah menunjukkan adanya implementasi kegiatan melalui model partnership program yang serupa. Hasil-hasil penelitian yang selama ini dilakukan oleh Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI merupakan salah satu contoh upaya menyediakan dasar pemikiran ilmiah pada program Seperlima, guna mempersempit kesenjangan di dalam implementasi program.

Kapasitas dari setiap partner untuk mengimplementasikan dan

mengatur aktiitas di sebuah multi-partnership program merupakan kunci

keberhasilan dari program tersebut. Perlu diingat ketika mengidentiikasi

kapasitas dari sebuah program, tidak hanya berbicara mengenai kapasitas dari partner yang mengintroduksi kegiatan, tetapi juga kapasitas dari

stakeholders dan lembaga-lembaga di tingkat lokal (Lawrence dan Sette 2010: 7-8). Pada studi baseline sudah dilihat peran Pemda dan

stakeholders dalam PKRS di sekolah. Akan tetapi yang perlu dilihat bagaimana kapasitas dari masing-masing lembaga (partner) dalam menguatkan peran Pemda dan stakeholders lokal tersebut. Kapasitas dari isu yang diangkat pun menjadi penting untuk diperhatikan, hal ini berguna untuk mengukur capaian hasil program.

(17)

sebuah program multi-partnership (Lawrence dan Sette 2010: 8). Ketika antar lembaga (partner) sudah tercipta model komunikasi yang tepat, maka yang perlu dilihat seperti apakah model komunikasi yang terjalin di tingkat lokal? Komunikasi yang baik harus diperhitungkan terkait waktu, relevansi dan komprehensinya (Ibid.) Bentuk komunikasi yang ada pada

multi-partnership program dapat diperhatikan melalui korespondensi email dan telepon, face-to-face meeting, serta proses pelaporan kegiatan.

Sesungguhnya model assessment yang memfokuskan pada isu manajemen telah lebih dahulu dilakukan oleh Hivos sebagai lembaga donor melalui mid-term review, dengan melibatkan reviewer luar. Oleh

karenanya studi ini lebih memfokuskan pada isu releksi-evaluatif

(18)

I.4 Metode Penelitian

Bentuk penelitian ini merupakan self-assessment denganmenggunakan pendekatan kualitatif. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan penelitian

yang bertujuan memberikan evaluasi berupa releksi kritis atas kinerja

gugus tugas SEPERLIMA. Teknik pengumpulan datanya menggunakan

desk review atas hasil laporan penelitian sebelumnya di level nasional dan lokal, wawancara mendalam dengan para informan terkait, serta Focus Group Discussion (FGD). Penelitian ini dilakukan di empat wilayah yakni, DKI Jakarta, Bandung, Kulon Progo dan Jombang.

DKI Jakarta mewakili wilayah intervensi Pamlet dan PKBI. Di Jakarta,

self-assessment ini akan lebih memfokuskan pada indikator capaian

nasional PKBI dan capaian program Pamlet di tingkat lokal dan nasional.

Bandung dan Kulon Progo mewakili wilayah dampingan PKBI dan terakhir Jombang mewakili wilayah dampingan Rahima.

Dengan menggunakan konsep self-assessment (ada pula yang menyebutnya sebagai peer-assist) penelitian ini menggali peranan, rentang penjangkauan dan konteks PKRS di dalam dampingan Seperlima, kelebihan dan kekurangan baik dari segi isu kegiatan, administrasi dan kelembagaan di level lokal. Oleh karena program Penguatan Akses Remaja terhadap Kesehatan Reproduksi dan Seksual merupakan multi-partnershipprogram, self-assessment yang dilakukan pada studi ini tidak hanya melihat kondisi di lapangan melalui garis bilateral satu lembaga di wilayah dampingan saja. Akan tetapi, melihat peranan Seperlima (sebagai

multi-partnership) di dalam wilayah tersebut. Pada masing-masing kota wilayah dampingan dilakukan:

I.

Desk review

atas laporan antar lembaga mengenai

kegiatan PKRS Seperlima

Desk review di level nasional dan lokal. Peneliti mengumpulkan bahan-bahan studi literatur terhadap notulensi hasil rapat dan hasil laporan kegiatan. Termasuk di dalamnya melakukan diskusi terkait hasil-hasil laporan

(19)

II. Wawancara mendalam

Wawancara mendalam dilakukan terhadap satu program director

(pendamping) PKBI wilayah atau satu mitra Rahima, program director

Pamlet, anggota legislatif, wawancara mendalam kepada dua kepala

sekolah dampingan, beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau organisasi masyarakat yang memiliki program PKRS, lembaga anggota aliansi atau koalisi PKRS, kantor KB dan Pemberdayaan Perempuan, tokoh agama dan tokoh adat. Total informan untuk wawancara mendalam adalah 15 informan.

III.

Focus

Group Discussion

(FGD)

(20)
(21)

I.5 Batasan Studi

Studi ini memiliki keterbatasan penelitian yang membuatnya jauh dari hasil sempurna. Dari segi metode penelitian, disebutkan dalam proposal penelitian, bahwa studi literatur merupakan poin penting dalam penelitian ini. Akan tetapi dengan keterbatasan waktu, lembaga-lembaga yang tergabung di dalam Seperlima belum memberikan hasil laporan kegiatan yang pernah dilakukan terkait kegiatan penguatan akses remaja terhadap PKRS. Hal ini

membuat peneliti kesulitan menganalisis dan menggali temuan yang sifatnya kritis dan ekploratif. Meski demikian, keterbatasan ini memberi catatan tersendiri dari proses evaluasi kegiatan. Tim peneliti sadar, penelitian kritis-evaluatif dalam kegiatan

(22)

TEMUAN LAPANGAN

G

ugus kerja Seperlima dapat dilihat tidak hanya sebagai satuan pelbagai lembaga yang mengusung kerja advokasi semata, namun lebih luas Seperlima hadir sebagai sebuah diskursus fenomena mengenai akses PKRS di sekolah umum dan pesantren. Penting untuk dipetakan sejauh mana capaian Seperlima, baik sebagai lembaga multi-partnership maupun sebagai wacana advokasi itu sendiri. Temuan penelitian ini dianalisis melalui 2 kategori, yaitu:

1. Analisis Lembaga

2. Analisis Strategi Advokasi

II.1.i Analisis Lembaga : Capaian SEPERLIMA sebagai Gugus Tugas

(23)

sejak November 2011 hingga Desember 2014, dengan tujuan untuk menerapkan dan memantapkan PKRS di sekolah-sekolah (Marcoes dan Fuadah 2014). Selama tiga tahun berjalannya kegiatan, Seperlima sebagai sebuah lembaga telah menunjukkan adanya capaian-capaian kegiatan pengusung penguatan akses PKRS bagi remaja.

Untuk memperkuat implementasi dan advokasi PKRS, Hivos sebagai pemrakarsa kegiatan juga melibatkan organisasi-organisasi lain yang memiliki kesamaan pandangan untuk bergabung dalam tim itu. “Dalam pemilihan lembaga kita punya need assessment dan rasanya tidak

salah. Walau YJP keluar ngga masalah karena yang kita tuju kan youth -nya yang akhir-nya bubar membentuk Pamlet. Lalu Rahima karena kita butuh pesantren, melihat Indonesia mayoritas Islam” kata program oficer

(24)

lalu, Hivos sebagai pemrakarsa kegiatan memiliki kriteria pemilihan lembaga sesuai dengan kebutuhan kegiatan. Dengan demikian Seperlima

sebagai kesatuan gugus tugas memiliki kapasitas dan keahlian spesiik

yang beragam sehingga diharapkan mampu mengatasi masalah yang beragam dalam implementasi kegiatan.

Meski demikian, kecenderungan yang terjadi pada program kegiatan yang menerapkan model multi-partnerships tidaklah mudah (Lawrence dan Sete 2010: 4). Terdapat perbedaan visi dan latar belakang lembaga yang beragam dalam sebuah multi-partnerships program yang menentukan hasil akhir kegiatan. “Kalau tidak salah yang buat proposal itu Pak Mukhotib dari PKBI, goalnya advokasi di tingkat nasional bukan daerah. Rahima fokus ke Kemenag, PKBI fokus ke Kemendiknas. Sayangnya kita enggak taustep-step kebijakannya seperti apa,” tegas

Founder and General Coordinator Pamlet. Dengan demikian, motor

pergerakan kegiatan di dalam Seperlima sejatinya ialah PKBI dan Rahima

dalam implementasi program. Sementara Pamlet dan Pusat Kajian

Gender dan Seksualitas FISIP UI mendukung advokasi dengan publikasi dan penelitian. Peran Hivos kemudian diharapkan mampu melakukan koordinasi, memonitoring kegiatan, mengorganisir pertemuan rutin, dan melakukan support administrasi serta inansial bagi keempat lembaga

lainnya (Marcoes dan Fuadah 2014). Peranan Hivos sangat signiikan

dalam mendorong pencapaian yang terjadi di dalam Seperlima. Meski

fungsi identiikasi kebutuhan penguatan kapasitas dan melakukan training

terhadap kelemahan lembaga masih menjadi catatan penting yang belum dilakukan oleh Hivos.

(25)

data analisis akademis yang belum dimanfaatkan secara maksimal oleh lembaga lain sebagai leading sector advokasi. “…sebagai Puska kita belum mendapatkan informasi yang memadai. Harapannya kan penelitian kita

dipakai, selama ini baru Pamlet yang menggunakan data kita,” kata I.H.

Dengan demikian, tujuan dari dibentuknya kerja sama multi-program dalam sebuah kegiatan advokasi dan implementasi program masih belum tercapai dengan baik. Terutama dalam hal membuka kesempatan untuk mengaplikasikan data ilmiah yang di dapatkan melalui riset ke dalam

praktik-praktik kegiatan (La Porta dkk. 2007: 35).

Tanggung jawab Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI sebagai penyedia data ilmiah masih dianggap kurang praktis dengan adanya laporan kegiatan yang tebal. Meski demikian kelemahan ini telah berhasil disinambungkan melalui pertemuan rutin sebelum dan setelah penelitian, sebagai salah satu cara koordinasi dan komunikasi. Dalam praktiknya, Rahima memilih melakukan baseline research yang dianggap lebih aplikatif dan sesuai dengan karakteristik kerja di lokasi mereka. Belum dimanfaatkannya hasil kajian Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI menunjukkan masih lemahnya kepaduan di antara Seperlima, I.H. mengatakan, “…masing-masing lembaga punya karakter sendiri, dan saat midterm itu sudah disebutkan oleh Lies Marcoes bahwa dalam waktu satu setengah tahun Seperlima belum menjadi jaringan yang solid, karena masing-masing masih menjalankan programnya sendiri-sendiri.” Berdasarkan uraian di atas, Secara umum, capaian Seperlima dalam analisis lembaga menunjukkan antara lain;

1. Pentingnya dilakukan pemetaan kekuatan dan kelemahan lembaga untuk meningkatkan kapasitas dan pemberian training untuk mengisi kelemahan lembaga

2. Pentingnya optimalisasi implementasi sesuai dengan yang disepakati dalam pembagian fungsi dan tugas pada tahap perencanaan kegiatan

3. Pentingnya mengkaji laporan penelitian sebelumnya agar terjadi

(26)

II.1.ii Analisis Strategi Advokasi : Capaian SEPERLIMA dalam Strategi Advokasi

PKBI sebagai motor utama pelaksanaan PKRS di dalam Seperlima membuat indikator keberhasilan advokasi PKRS ialah tercantumnya

PKRS dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Tim peneliti Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI terlebih dahulu menyiapkan gambaran di pelbagai lokasi riset, bahwa implementasi PKRS di sekolah yang dipetakan terbukti melalui metode penyampaian yang sangat beragam. Keragaman pilihan metode kemudian menjadi sebuah diskusi yang cukup panjang yang dilakukan oleh Seperlima, yang dalam proses ini akhirnya memengaruhi pula tujuan di dalam judicial review.

(27)

karena terlalu sempit.” Meski demikian, Seperlima juga mencoba mempertimbangkan kelemahan dari pemberian materi PKRS di sekolah dengan sistem terintegrasi di pelbagai mata pelajaran, “Dengan pengajaran itu kan masing-masing guru punya persepsi berbeda, belum lagi masalah kesinambungan antar pelajaran, belum tentu semuanya

terkoordinir dengan baik,” menurut M, penanggung jawab Seperlima dari PKBI.

Implementasi PKRS yang sejak awal ingin diseragamkan memang masih mendapat kendala. Di internal Seperlima, Rahima, pengimplementasian PKRS di lingkungan pesantren pun memiliki kendala yang berbeda dengan sekolah umum. “Dalam ilmu pesantren PKRS bisa masuk dalam kajian iqh, iqh toharoh (bersuci), iqh munakahat (perkawinan). Saat ini Rahima sudah memiliki modul yang disesuaikan dengan komunitas kepesantrenan yang akan digunakan oleh guru dan

peer educator. Modul tersebut dibuat oleh para guru di Jombang dan Kediri,” kata A.E, Direktur Rahima.

Beragamnya pendapat dan juga fakta yang ditemukan dalam penelitian terkait dengan implementasi PKRS di lapangan memang menjadi kendala tersendiri ketika mencoba memutuskan arah advokasi yang akan diambil oleh Seperlima. Hal ini seperti yang diakui oleh I.H., Ketua Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI, “Puska mengamini JR karena Puska tidak punya pengalaman tentang JR. Dan awalnya PKBI menganggap bahwa mengganti ayat itu selesai dan mudah dilakukan. Ternyata kan faktanya tidak seperti itu.” Meski demikian, dalam proses diskusi dan koordinasi lebih lanjut yang dilakukan oleh internal Seperlima, akhirnya pilihan melakukan Judicial Review melalui revisi pasal 37 UU

Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Seperlima berhasil mencapai kesepakatan

utuh. Hal ini merupakan sebuah capaian tersendiri dari Seperlima melalui koordinasi dan manajemen.

(28)

Review muncul sebagai tantangan yang perlu dievaluasi bersama. Meski ada perbedaan substansial mengenai perlu atau tidaknya Judicial Review

dalam mendorong PKRS masuk dalam kurikulum muncul di dalam program multi-partnerships Seperlima, dijadwalkan akhir Desember tahun 2014 pendaftaran Judicial Review tetap akan dilakukan. Dalam proses ini, Seperlima dibantu oleh tim kuasa hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta yang seharusnya sudah dibentuk sejak awal, sebagai tim hukum advokasi pada Judicial Review.

Saat ini, Seperlima sudah muncul sebagai jaringan pengusung Judicial Review bagi PKRS remaja di level nasional. Meski demikian kritik diri terhadap keputusan melakukan Judicial Review pun tetap dilakukan guna mengevaluasi dan mengambil manfaat bagi kegiatan serupa di masa mendatang. “Proses JR memang berjalan tetapi konsentrasi terpecah. Advokasi di MK belum optimal, kita masih fokus digerakannya. Tetapi pas mau ke atas belum siap,” kata V.H. Penanggung jawab program Seperlima dari Hivos. Hivos sebagai inisiator dan penyandang dana gugus kerja Seperlima, menekankan bahwa memang advokasi yang dituju secara nasional ialah masuknya PKRS dalam UU Sisdiknas. Di sisi lain, I.W. Direktur PKBI mengatakan, “Isu advokasi itu baru masuk di tahun ketiga, sebenarnya rumusannya adalah memasukkan PKRS dalam kurikulum. Nah jalur untuk menuju itu bukan hanya melalui Judicial Review, namun bisa juga memanfaatkan peraturan yang lainnya.” I.W. mengatakan salah satu peraturan yang sebetulnya bisa dimanfaatkan oleh Seperlima melalui diterbitkannya Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2014 tentang Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual terhadap Anak (GN-AKSA). Perbedaan pendapat terkait strategi advokasi, hingga akhirnya memilih jalan Judicial Review.

Momentum Judicial Review UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem

(29)

pada penunjukkan Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode pemerintahan Jokowi-Kalla. Anies Baswedan

memutuskan untuk memberhentikan Kurikulum 2013 yang baru

saja berjalan dan dalam konteks advokasi, perubahan ini dinilai akan memengaruhi strategi advokasi. Untuk itu Seperlima memilih menunda pendaftaran Judicial Review ke Mahkamah Konstitusi hingga kepastian mengenai kurikulum nasional terpecahkan.

Berdasarkan saran yang diberikan oleh Puskurbuk, yang perlu diperhatikan dalam melakukan strategi implemetasi PKRS adalah

“identiikasi kurikulum semua mata pelajaran yang terkait dengan

PKRS, kemudian kita juga harus lihat panduan dari ITGSE, yang

memang menjadi rujukan internasional. Comprehensive Sex Education

(CSE) itu sudah ada di sana panduannya. Kita pilah-pilah apa saja tema-temanya, lalu dikaitkan dengan kurikulum kita. Dengan adanya

(30)

tidak sepakat menggunakan jalur Judicial Review untuk memasukan PKRS ke dalam UU Sisdiknas, namun Ibu Noor menegaskan bahwa agar bahan-bahan pengajaran itu pun harus mendapatkan legitimasi dari Kemendiknas agar para guru sebagai pelaksana mau untuk mempelajari dan mengajarkan PKRS di sekolah-sekolah. Lebih jauh Ibu Noor memaparkan, “Jangan bicara tentang mata pelajaran, kalau bisa buat bahan kajian atau kontennya saja, sehingga bisa lebih luwes

untuk diadaptasi ke pelbagai mata pelajaran. Kalau dibuat lagi mata pelajaran rasanya sudah tidak memungkinkan, akan membebankan anak-anak.” Saran yang diberikan Ibu Noor sebagai perwakilan Puskurbuk merupakan masukan yang juga harus dipertimbangkan dalam strategi advokasi penguatan akses PKRS. Saran tersebut bisa dimanfaatkan sebagai langkah strategi dalam menguatkan koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah nasional.

Perlu diingat bahwa tugas advokasi dan implementasi merupakan dua tugas berat yang nyatanya dilakukan oleh Seperlima. Dalam praktiknya, ketika implementasi dan advokasi dijalankan oleh sebuah lembaga, ternyata memang tidak mudah dan menemukan pelbagai tantangan serta hambatan dari masing-masing tugas tersebut. Akan tetapi yang perlu diperhitungkan yakni, kemampuan Seperlima dalam mengusung isu sensitif sebagai mainstreaming advokasi. “Seperlima sudah bisa menggaungkan isu seksualitas,” kata V.H. Di kalangan NGO yang membahas isu sejenis, Seperlima juga sudah cukup dikenal, “Eksistensi Seperlima di WPF sudah sering disebut-sebut, dan mau diajak kerja sama

untuk isu KRS,” kata A dari Pamlet. Hal ini merupakan keberhasilan

(31)

II.1.iii Studi Kasus di Tingkat Lokal

Catatan mengenai strategi advokasi di level nasional memang memiliki dinamika yang cukup kompleks. Berikut ini akan disajikan beberapa contoh studi kasus yang ditemukan di level lokal terkait strategi

(32)

a. Kulon Progo: Penguatan di Level Kebijakan

Kemajuan Program Penguatan Akses Remaja terhadap Kesehatan Reproduksi dan Seksual di Kabupaten Kulon Progo, apabila dilihat dari capaian program, yaitu (1) perluasan inisiatif lokal untuk PKRS

di sekolah; (2) pemberdayaan remaja sebagai advokat PKRS; (3)

partisipasi jaringan remaja nasional dan CSO dalam pelbagai pengetahuan dan advokasi serta keberlanjutan program. PKBI Kabupaten Kulon Progo sebagai salah satu pelaksana program, sudah lebih dahulu memulai dengan adanya adanya Forum Tim Aktivasi Kespro dengan keluarnya Surat Keputusan Bupati Kulon

Progo No.326 Tahun 2010 sebagai awal proses panjang dari sebuah

kebijakan PKRS di sekolah. Pada prosesnya berhasil menginisiasi forum LSM Kulon Progo untuk menjadi mitra sekaligus memonitor pelaksanaan kebijakan PKRS di Kabupaten Kulon Progo.

PKBI Kabupaten Kulon Progo berhasil mendorong

diimplementasikannya PKRS dalam kurikulum mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) yang diujicobakan secara serentak pada tanggal 1 Oktober 2014 di Kabupaten Kulon Progo. Peraturan Bupati Kulon Progo terkait penerapan PKRS di dalam kurikulum tergolong matang dan visioner. Hal ini terlihat dari kesiapan beliau dalam mempersiapkan pelbagai aspek terkait, mulai dari stakeholders, rencana mengajukan PKRS ke dalam Perda hingga monitoring dan evaluasi yang anggaran pembuatannya sudah disiapkan. Penerapan PKRS ini diujicobakan selama satu tahun dan akan dievaluasi. Di pihak lain, badan legislatif yang diwakili oleh Ketua DPRD Kulon Progo menyambut baik dukungan dari bupati dan mengatakan bersedia untuk memfasilitasi apabila ingin mengutarakan aspirasi.

(33)
(34)
(35)

tentang pentingnya PKRS. Kelompok remaja juga aktif sebagai pendidik sebaya dalam menyebarkan info PKRS di sekolah. Program PKRS di Kabupaten Kulon Progo bersinergi dengan program Pemerintah Daerah sehingga mendapatkan dukungan dari APBD. Program juga merangkul DPRD, organisasi sosial masyarakat serta forum guru dan siswa serta media massa. Pengemasan isu di Kulon Progo dilakukan dengan pendekatan persuasif dan terus menerus ke pelbagai pihak dengan

mempergunakan jaringan yang ada. Peningkatan kesadaran dan pemahaman sebagai proses advokasi dilakukan media sosial (facebook, twitter), seminar, konseling, penyuluhan, pelatihan dan metode atau cara penyampaian materi PKRS yang disesuaikan dengan tingkatan umur, budaya masyarakat lokal setempat, serta diusahakan menarik.

b. Bandung: Pengayaan Pengetahuan dan Pengorganisasian Remaja Hasil capaian kegiatan di Kota Bandung pada riset akhir program menunjukkan perkembangan yang cukup baik meski mengambil strategi advokasi yang berbeda dari Kabupaten Kulon Progo. Strategi advokasi yang dilakukan di Kota Bandung ditunjukkan dengan adanya inisiatif di sekolah-sekolah dampingan PKBI Jawa Barat yang telah mengimplementasikan PKRS. Di Kota Bandung, Mitra Citra Remaja (selanjutnya disebut MCR) PKBI membentuk sebuah teater remaja sebagai wadah advokasi remaja yang bersifat kontemporer yang memadukan antara kesenian dengan advokasi. Kehadiran teater Balukarna sebagai media kampanye KRS merupakan sebuah inisiatif advokasi melalui cara berbeda

yang juga cukup signiikan.

(36)

Biologi, Sosiologi, Penjaskesor, Pendidikan Agama, Reproduksi (pada sekolah kejuruan), Pendidikan Lingkungan Hidup dan memanfaatkan waktu konseling di Bimbingan Konseling. Melalui bentuk

implementasi di atas, tampak dalam penelitian yang dilakukan bahwa terjadi pengayaan pengetahuan di tingkat siswa dan guru terkait PKRS di Kota Bandung. Pengayaan pengetahuan pada isu KRS

merupakan salah satu bentuk capaian yang sangat signiikan sebagai

tolok ukur strategi advokasi yang telah dijalankan di tingkat lokal. Pengayaan pengetahuan tidaklah mungkin tercapai tanpa adanya advokasi dan koordinasi antara pihak-pihak lokal di Kota Bandung.

(37)

mampu menyediakan informasi KRS dengan lebih komprehensif. Berdasarkan pengakuan para siswa, mereka sudah memahami mengenai pengertian kesehatan reproduksi, terutama ketika para siswa mampu menjelaskan pengertian kesehatan reproduksi dengan mengaitkan antara pengertian kesehatan tubuh dan dampak

psikologis secara umum dengan organ reproduksi.

Selain itu, para siswa juga mampu menjelaskan pengertian kesehatan seksual, berdasarkan jawaban yang mereka berikan. Setelah digali lebih jauh mengenai kesehatan seksual, para siswa mampu menjelaskan bahwa kesehatan seksual tidak hanya terbatas pada aktivitas melakukan hubungan seksual semata. Lebih jauh mereka menjelaskan bahwa di dalam kesehatan seksual, terdapat

pula informasi mengenai pubertas bagi remaja, perubahan isik dan

(38)

para siswa pun telah mampu menjelaskan 3 cara aktivitas seksual,

anal, oral dan vaginal, mereka pun menekankan pentingnya bagi remaja untuk mengetahui informasi tersebut sehingga mereka mampu menghindari aktivitas seksual yang mereka rasa belum saatnya mereka alami.

Materi lainnya yang telah dipahami dengan cukup baik oleh para siswa-siswi dampingan PKBI antara lain materi mengenai HIV dan AIDS, Kehamilan Tidak Diinginkan, Kekerasan dalam Relasi antar Remaja (termasuk di dalamnya bullying dan pacaran tidak sehat). Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi PKRS melalui insersi di Kota Bandung sudah cukup

baik dan menunjukkan perubahan yang cukup signiikan. Hal ini

menunjukkan bahwa isu PKRS dapat disisipkan ke dalam mata pelajaran yang telah ada. Secara kapasitas, metode insersi pun

sesungguhnya memiliki dampak yang cukup signiikan ketika

digunakan untuk menyampaikan materi PKRS, dengan demikian proses advokasi di tingkat lokal pun menjadi lebih mudah dan menjanjikan keberhasilan yang lebih optimal sebagai ukuran capaian kegiatan.

MCR Kota Bandung sendiri dinilai sebagai bentuk

(39)
(40)

melalui inovasi terbaru MCR saat ini memiliki wadah kreativitas yang mulai diperhitungkan tidak hanya oleh remaja namun juga oleh SKPD di Kota Bandung melalui Teater Balukarna.

Teater Balukarna, kegiatan kesenian yang berupaya melakukan kampanye seputar persoalan kehidupan remaja dengan gaya yang segar, unik, dan meninggalkan pakem-pakem penyuluhan gaya konvensional selama ini. Isu yang dibawa merupakan isu sehari-hari remaja digabungkan dengan gaya tradisional klasik yang membuat tidak hanya remaja yang tertarik, namun juga membuat Balukarna ramai diperbincangkan di jajaran SKPD dan juga guru serta orang tua. Meski pernah membawakan isu KRS, hingga saat ini Teater Balukarna tetap dianggap sebagai wadah penyuluhan dan juga pelestarian budaya. Umumnya kedua unsur ini bisa dimanfaatkan sebagai media kampanye PKRS. Replikasi kegiatan serupa seperti Teater Balukarna memiliki potensi untuk bisa dicontoh di wilayah-wilayah lain. Di tahun 2014 yang lalu, Teater Balukarna mendapatkan dukungan dana dari Dinas Olahraga dan Pemuda untuk melakukan pementasan di Kota Bandung.

c. Jombang: PKRS dari Remaja untuk Remaja

Rahima melakukan pendampingan pesantren di Kabupaten Jombang dengan tiga capaian program yang diusung bersama oleh Seperlima. Tiga elemen utama yang perlu diperhatikan untuk keberlanjutan program, yakni: cepat tanggap terhadap kebutuhan siswa, meningkatkan koordinasi dan kerjasama, serta memperbaiki materi-materi yang diberikan kepada siswa. Menurut guru, kesiapan yang ditunjukkan guru bukan setelah mendapatkan pelatihan PKRS saja, faktor pendampingan dan materi juga menjadi hal yang paling penting dalam melanjutkan kegiatan program PKRS di sekolah.

(41)

PKRS ini belum kelihatan. Muatan lokal sebagai mata pelajaran dan materi PKRS yang diinsersi dalam beberapa mata pelajaran lain belum terlihat keberhasilannya. Pak Nas (Al-Ghozaliyah) mengatakan, “Sementara kita belum bisa (mengevaluasi), saya

anggap sudah cukup. Yang bisa digunakan di sini, kita bisa gunakan

dan cocok. Setelah kita sampaikan, kita lihat gimana respon anak-anak. Kita ajarkan PKRS, ternyata besoknya anak-anak hamil semua, berarti sampean ngasinya salah.” Insersi juga dianggap sebagai kelemahan dari implementasi penyampaian materi PKRS itu sendiri. Materi PKRS pun belum bisa dipastikan jangkauan dampaknya sampai mana untuk mengubah paradigma masyarakat akan PKRS dalam konteks lokal Jombang.

(42)
(43)

menambah guru PKRS karena kualitas SDM profesional yang

belum memenuhi target sekolah dan belum tersertiikasinya

tenaga pendidik. Isu PKRS cukup sensitif di Jombang, Forum Guru menyatakan bahwa setiap orang yang tidak paham secara utuh tentang PKRS, pasti mempunyai pemikiran dan asosiasi yang lain. Namun di sekolah, yakni MA Al Ghozaliyah, siswa menanggapi positif PKRS dengan membentuk forum diskusi. Fakta ini adalah bukti bahwa pelan-pelan isu PKRS akan bisa diterima jika dilakukan pendekatan yang tepat sehingga sasaran mengetahui alurnya.

Forum guru dan Kepala Sekolah Al Ghozaliyah menyatakan bahwa materi PKRS dari Rahima sudah tidak dianggap tabu lagi. Guru sebagai fasilitator juga dimudahkan karena materi dapat dengan lugas disampaikan dan akan diterima dengan antusias oleh siswa. Hal ini disampaikan oleh Pak Nas, ketika membaca modul PKRS yang diberikan oleh Rahima,

“Ngaji juga ada,

iqh

ngajinya lebih

gamblang

.

Kalo

kita lebih disamarkan. Kitab kuning lebih

gamblang

. Bertabrakan dengan etika pondok.

Modulnya pasti sudah dievaluasi sebelum

diajarkan di pondok. Saya bilang, modul ke

kami itu tidak mengandung racun sehingga

bisa dikonsumsi anak-anak. Tidak hanya PKRS

saja, apa pun,

klo

ilmu bagus diajarkan,

anak-anak pasti bisa” (Nasrulah, 9 Desember 2014).

(44)

membentuk forum diskusi siswa Al Ghozaliyah. Forum yang diinisiasi

oleh siswa ini membangun inisiatif dan kreatiitas siswa serta

kebersamaan di antara mereka. Manfaat forum diskusi ini, selain untuk peserta forum diskusi, juga untuk siswa secara keseluruhan yang belum berminat memahami PKRS.

Forum diskusi inilah yang dapat dikatakan sebagai tindakan konkrit sasaran program, yakni “dari Remaja untuk Remaja.” Dalam forum diskusi, siswa memilih sendiri materi yang ingin mereka dapatkan dari guru, mereka akan melakukan diskusi, dan hasil diskusinya divisualisasi menjadi poster yang ditempel di mading sekolah. Poster ini pun menjadi media kampanye pergerakan remaja untuk mendapatkan akses pendidikan PKRS sehingga nantinya youth forum bisa aktif dengan pelbagai kegiatan kampanye dan diskusi.

Adanya forum diskusi ini juga menggerakkan Kepala Sekolah Al Ghozaliyah untuk melakukan evaluasi dan monitoring agar dapat

terindentiikasi dampak dari forum diskusi maupun insersi materi

PKRS di pondok pesantren. Tim akan mengevaluasi tanggapan siswa terhadap materi PKRS yang mereka terima dan perubahan perilaku siswa. Perubahan tanggapan dan pergerakan positif untuk implementasi materi PKRS kepada siswa di MA Al Ghozaliyah adalah peluang Rahima untuk melakukan program keberlanjutan yang juga sangat diharapkan oleh forum siswa, guru, maupun kepala sekolah, khususnya di MA Al Ghozaliyah.

(45)

Selain itu, slogan “dari Remaja untuk Remaja” juga semakin konkrit dan bersinergi dengan usaha Forum CSO yang ada di Kota Jombang untuk melakukan pendekatan kepada remaja. FGD Forum CSO menyatakan bahwa setiap komuniti remaja di Jombang memiliki karakter masing-masing, namun strategi yang dapat dilakukan yakni dengan memerankan remaja sebagai volunteer

untuk menjangkau teman sebayanya. Langkah ini akan lebih mudah dilakukan karena remaja akan lebih menerima teman sebayanya dan lebih terbuka.

II.2 Tantangan Seperlima

Hasil penelitian dan self-assessment ini memunculkan pemetaan terhadap tantangan SEPERLIMA sebagai sebuah lembaga multi-partnership. Tantangan-tantangan tersebut, antara lain:

a. Mekanisme kerja antar organisasi di dalam gugus tugas

b. Kesinambungan program penguatan akses PKRS melalui pendidikan c. Peluang untuk bersinergi dengan elemen-elemen lain yang memiliki

fokus dan kesamaan visi dalam membahas isu yang sama

II.2.i Gugus Kerja yang Solid

Marcoes dan Fuadah (2014) menjelaskan dalam satu setengah tahun pembuatan joint guideline yang tidak berjalan menjadi salah satu aspek yang menyebabkan kinerja gugus tugas Seperlima terhambat.

Joint guideline merupakan aturan main yang mengikat kelima anggota Seperlima dalam melaksanakan program penguatan PKRS. Dengan demikian, tentunya hubungan kerja antar kelima organisasi di Seperlima tidak dalam bentuk yang ideal.

Dalam upaya mengusung isu PKRS dalam implementasi dan juga advokasi, Seperlima perlu memperbaiki pola komunikasi dan koordinasi dengan sesegera mungkin membuat joint guideline. “Harusnya dari awal tahun juga sudah ada mekanisme koordinasi. Joint guideline harus udah

(46)

bekerja sendiri,” tegas A dari Pamlet. Selain masalah koordinasi

antar lembaga di dalam Seperlima, dalam konteks PKBI dan Rahima juga memerlukan perbaikan koordinasi dengan perwakilan atau internal mereka sendiri.

Menjadi gugus kerja yang solid tentunya menjadi satu tantangan tersendiri bagi Seperlima. Sinergi antar organisasi di dalam Seperlima akan menguatkan capaian implementasi PKRS di Indonesia serta akan menjadi contoh yang baik dalam mengelola gerakan advokasi yang profesional, kolaboratif, dan massif.

II.2.ii Kesinambungan Program Seperlima

Sebagai program yang didanai oleh Hivos, Seperlima memiliki tantangan dalam masalah kemandirian untuk melanjutkan programnya. Walaupun memiliki banyak kendala komunikasi dan koordinasi, Seperlima selama tiga tahun ini sudah berhasil menorehkan prestasi-prestasi penting di tingkat lokal dan nasional. Dengan demikian, sangat disayangkan kalau Seperlima tidak lagi dilanjutkan.

Hivos sendiri, sudah memiliki perencanaan untuk melanjutkan program ini. “Seperlima harus dilanjutkan akan ada proposal lagi tetapi masih menunggu dari hasil advokasi,” jelas V.H. penanggung jawab program Seperlima Hivos. Selain itu, Hivos juga mencoba mengadopsi mekanisme kerja gugus kerja, seperti dalam Seperlima di beberapa proyek yang akan dibuat. Gugus kerja dinilai

memberikan semangat sinergi antar elemen pengusung yang memiliki satu visi, sehingga menjadi tantangan besar bagi Seperlima yang sudah dijadikan contoh baik untuk tetap berlanjut.

(47)
(48)

kerja keras untuk memperbaiki internal terutama terkait SDM, sistem komunikasi, serta menjalin kerja sama dengan pelbagai elemen yang memiliki visi yang sama. Kedepan, Seperlima harus menjadi motor utama dalam gerakan PKRS dengan skema perjuangan yang lebih luas dan luwes.

II.2.iii Mencari Titik Temu antar lembaga pengusung PKRS

Seperlima adalah gugus kerja yang ingin memperjuangkan PKRS untuk bisa diimplementasikan di sekolah. Dalam konteks itu, sudah semestinya Seperlima juga mulai merangkul elemen-elemen lain yang memiliki fokus yang sama. “Ada ASV, Aliansi Satu Visi belum bisa gabung. ASV di bawah WPF untuk bisa mulai bersinergi. Ini penting karena kalau di kementrian sebenernya banyak ajuan tapi dibuat dari aktor yang beda, ini kan jadi

ngga bagus. Kalau pengusungnya aja belum padu,” kata V.H. Dengan berpadunya ASV dan Seperlima tentunya akan lebih menguatkan gaung PKRS dalam ranah advokasi, khususnya mendukung implementasi PKRS di sekolah-sekolah.

Aliansi Satu Visi (selanjutnya disebut ASV) yang didirikan akhir tahun 2010 juga merupakan jejaring masyarakat sipil yang memperjuangkan isu kesehatan reproduksi. PKBI dan Rahima sebagai motor penggerak implementasi PKRS di dalam Seperlima pun juga tergabung di dalam ASV. Tentunya dengan membangun kemitraan dengan semakin banyak pihak yang khususnya di ASV yang memang memiliki kesamaan pemikiran dan sikap akan menambah kekuatan dalam perjuangan implementasi PKRS di sekolah.

(49)

secara intensif dibangun komunikasi dan koordinasi. Hal ini penting untuk membangun sinergi antara Seperlima dengan BKKBN. Saat ini BKKBN dengan PIK-nya selain dibuat di pelbagai lokasi di Indonesia, juga dibuat pada level kampus, dengan adanya PIK Mahasiswa. Dengan demikian, pengusung isu PKRS semakin banyak dan dengan latar belakang pendidikan yang memadai.

Selain itu, pihak Kemendiknas sendiri melalui Puskurbuk saat ini juga sedang mengembangkan modul PKRS untuk diterapkan di sekolah. “Kami baru saja menyusun modul Kespro, mengintegrasikan Kespro ke dalam kurikulum kita. Dana dari UNESCO, kerja sama dengan PKBI dan Kemenkes, sudah dalam proses pencetakan,” kata Ibu Noor dari Puskurbuk. Sedianya, modul tersebut akan disosialisasikan dengan

menggundang guru-guru dari 34 provinsi di Indonesia. Modul tersebut

ditujukan bagi guru di tingkat SMP dan SMA, ke depan juga akan dibuat modul pegangan untuk siswanya. Dengan demikian, sesungguhnya implementasi PKRS di sekolah akan lebih massif dengan adanya dukungan nyata dari Kemendikbud sekaligus Kemenkes.

Kemenkes juga i sudah sejak lama memiliki layanan konseling di Puskesmas dengan nama PKPR. PKPR sudah lama dibuat, namun memang dirasa belum optimal. Namun, dengan adanya personil, penganggaran, dan fasilitas yang ada tentunya sangat strategis jika PKPR pun dilibatkan dalam proses penguatan akses PKRS kepada remaja. Selain itu, di beberapa kampus juga terdapat pusat kajian Kespro, seperti yang ada di UI, UNPAD, dan lainnya.

(50)

LESSON LEARNED

Peran perencanaan tidak berhenti sampai dengan memasukkan strategi ke dalam dokumen perencanaan. Assessment yang dilakukan oleh Hivos berhasil memetakan isu dan lembaga yang akan terlibat dalam sebuah gugus kerja yang dinamakan Seperlima dengan pertimbangan kemampuan dan keahlian lembaga masing-masing sehingga kemudian tergabunglah

Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI, Pamlet, Rahima dan PKBI.

Pada perjalanannya, gugus kerja berhasil melakukan perencanaan, implementasi dan proses advokasi sekaligus selama durasi program tiga tahun, yakni dari tahun 2012-2015, walaupun tidak mudah tetapi semua tercapai dengan mengacu pada Result Based Management yang telah disusun bersama pada saat awal program. Selain di tingkat nasional, gugus kerja juga berhasil melakukan di tingkat lokal.

(51)

pendidikan jasmani dan olahraga (Penjaskesor) dalam UU No. 20 Tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ke Mahkamah Konstitusi pada

tanggal 12 Februari 2015 melalui PKBI sebagai leading advokasi dengan dibantu oleh anggota Seperlima lainnya. Selain catatan keberhasilan di tingkat lokal dengan berhasilnya PKRS diimplementasikan di tingkat kabupaten dan pesantren.

Beberapa catatan keberhasilan di atas tidak terlepas dari tantangan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Oleh sebab itu, ada beberapa catatan penting dalam proses advokasi melalui gerakan yang dilakukan oleh Seperlima adalah sebagai berikut:

(52)
(53)

b. Perencanaan dan persiapan pelaksanaan program perlu waktu lebih panjang karena diperlukan penyesuaian antar lembaga untuk memahami satu sama lain sebagai suatu jaringan. Sebelumnya lembaga berjalan dengan program masing-masing, ketika disatukan sebagai suatu gugus kerja,

capacity building sebagai suatu tim (antar dan internal lembaga) diperlukan untuk mempermudah proses perencananan, pelaksanaan dan advokasi program. c. Diperlukan komitmen lembaga dalam perencanaan dan

pelaksanaan untuk sama-sama terbuka melakukan releksi

sehingga satu sama lain dapat saling melengkapi. Hal ini dapat mengantisipasi kekurangan masing-masing lembaga ketika proses pelaksanaan dan advokasi program berjalan. d. Dalam konteks Judicial Review, diperlukan tim hukum yang

dibentuk sejak awal untuk membantu dan mengawasi jalannya proses advokasi kebijakan.

e. Selain di tingkat nasional, diperlukan penguatan advokasi di tingkat lokal dengan melakukan pendekatan yang lebih aktif dengan merangkul seluruh elemen masyarakat sehingga proses advokasi berjalan juga di tingkat lokal.

f. Sebagai suatu gerakan bersama, diperlukan lebih pemahaman terhadap tugas dan peran masing-masing sehingga ketika proses berjalan tidak ada saling tunggu dan akhirnya menghambat proses berjalannya pelaksanaan program. g. Sebagai suatu gerakan advokasi, Seperlima tidak akan

(54)

lainnya di luar program sehingga sebagai suatu gerakan menjadi gerakan yang secara otomatis berjalan walaupun tidak ada dukungan dana dari pihak lain. Hal yang paling memungkinkan adalah bersinergi dengan pemerintah dengan memasukkan ke level kebijakan sehingga ada kepastian hukum dan anggaran untuk program ini dapat berjalan seterusnya.

h. Seperlima sudah melakukan program selama tiga tahun yang pencapaiannya dapat menjadi pembelajaran bagi yang lainnya. Hal tersebut perlu lebih diinformasikan ke masyarakat lebih luas karena proses pembelajaran yang dilakukan sudah diimplementasikan dan terdapat proses monitoringnya, sehingga terukur.

(55)

DAFTAR REFERENSI

Laporan Baseline Study,

2012 “Peluang dan Tantangan Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksual di Sekolah: Study Baseline terhadap Inisiatif Lokal, Pengorganisasian Remaja, dan Jaringan Advokasi.” Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI dan Hivos.

Laporan Midline Study,

2013 “Peluang dan Tantangan Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Sekual di Sekolah: Terhadap Inisiatif Lokal, Pengorganisasian Remaja, dan Jaringan Advokasi.” Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI dan Hivos.

Laporan Studi Kualitatif,

2014 “Qualitative Assessment untuk Advokasi Kebijakan Pendidikan

Kesehatan Reproduksi dan Seksual di Sekolah: DKI Jakarta, Yogyakarta

(Kab. Kulon Progo) dan Kabupaten Lamongan.” Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI dan Hivos.

La Porta, Madeline., Heather Hagood, Julie Kornfeld, and Katherine Treiman.

(56)

Lawrence, Thor and Cristina Sette.

2010 “Managing Complex Multi-partner Projects: Report of a

Peer-assist Process: Meeting Report Series No. 02” Institutional Learning & Change (ILAC).

Malena, Carmen.

2004 “Strategic Partnership: Challenges and Best Practices in the Management and Governance of Multi-Stakeholder Partnerships Involving UN and Civil Society Actors.” Paper Presentation in Multi-stakeholder Workshop on Partnership and UN- Ciivil Society Relations.

Marcoes, Lies dan Anis F. Fuadah

2014 “The Middle Way at mid-term: Advocacy for strengthening youth

access to Sexual and Reproductive health and rights (SRHR) through

Education”. Report.

Policy Paper,

2013 “Strengthening Youth Access to Sexual and Reproductive Health

and Right.” Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI dan Hivos.

The International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank

2003 “Toward Country-led Development: A Multi-partner Evaluation of

the Comprehensive Development Framework.” The World Bank.

The World Bank,

(57)
(58)

Laporan ini berisi tentang hasil penelitian Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI terkait tiga tahun kerjasama bersama Pamflet (menggantikan Yayasan Jurnal Perempuan), PKBI, Rahima, dan HIVOS, yang dikenal sebagai Gugus Tugas SEPERLIMA (Seputar Permasalahan Kesehatan Reproduksi dan Seksual). Studi

self-assessment ini menekankan pada pendekatan refleksi kritis dan evaluatif dari setiap lembaga di dalam Seperlima dalam menjalankan Program Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksual bagi Remaja yang telah berjalan selama 3 tahun, sejak November 2011. Dengan menggunakan teknik desk review, wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD), lokasi penelitian ini dilakukan di 4 wilayah, DKI Jakarta, Bandung, Kulon Progo dan Jombang.

Hasil penelitian ini dianalisa melalui dua kategori, analisa lembaga dan analisa strategi advokasi. Di dalam analisa lembaga, penelitian ini melihat keragaman kapasitas dan kemampuan masing-masing lembaga di dalam Gugus Tugas Seperlima dalam menjalankan perannya. Potret sebuah kerjasama yang berdinamika dengan segala keunggulan dan tantangannya dapat dilihat pada bagian ini. Sedangkan dalam analisa strategi advokasi, gambaran kompleksitas strategi advokasi yang muncul di tingkat lokal merupakan temuan yang sangat penting. Studi evaluasi ini tidak hanya dilakukan untuk kepentingan program semata, diharapkan penelitian ini dapat memberi masukan bagi pengembangan program-program yang bersifat multi-partnership dan sebagai wadah pembelajaran bagi sebuah intervensi program yang melibatkan lembaga penelitian akademis.

Sebuah Studi Self-assessment bagi Gugus

Kerja Seperlima Dalam Implementasi Kegiatan

Penguatan Akses Pendidikan Kesehatan

Referensi

Dokumen terkait

Pemirsa merupakan aktor human yang memiliki kemampuan untuk memanfaatkan alat disekelilingnya (teknologi, gadget, komputer, internet, webiste, aplikasi, formuliar aduan) untuk

“ Financial statement are principal means through which a company communicates its financial information to those outside it”. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa

Beberapa Ketentuan dalam Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 12 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Usaha (Lembaran Daerah Provinsi Daerah

Proses penyusunan laporan transaksi obat yang dilakukan oleh pemesanan produk obat dan peralatan pertanian pada Asosiaasi Pedagang Sepatu dan Tas ini diawali

Dalam hal pemerintah bermaksud mengubah cara pembayaran pensiun dari pay as you go menjadi fully funded, maka nilai tunai pensiun pegawai negeri yang sudah pensiun maupun yang

Kelima kandidat Gubernur Sumatera Selatan yang disebutkan di atas merupakan wajah-wajah lama yang memiliki kaitan sejarah dengan rezim Orde Baru; (b) birokrasi

Jika anda tertarik untuk membudidayakan tanaman buah berwarna merah ini, anda tidak perlu khawatir karena pada kesempatan kali ini JualBenihMurah.com akan memberikan ulasan

Hari dilaksanakan : Selasa, 11 April 2017 Tempat : Balai Keurukon.. Fakultas