Modul 7
BENTUK, STRUKTUR DAN POLA RUANG KOTA
PL 3111 Perencanaan Kota
Dr. Ir. Iwan Kustiwan, MTProdi PWK-SAPPK SAPPK ITB
Bentuk, Struktur,
dan Pola Ruang Kota
1. Bentuk dan Tata Ruang kota/Perkotaan
2. Unsur Pembentuk Ruang Kota
3. Citra Kota: Persepsi terhadap Ruang Kota 4. Struktur Ruang: Pusat
kegiatan dan Jaringan Prasarana
5. Pola Ruang Kota: Kawasan
fungsional Kota
Sumber: Marshall, 2005
1. Kenampakan fisik kota/kawasan perkotaan ditinjau dari aspek
morfologinya
2. Konfigurasi spasial dari elemen tetap di dalam suatu wilayah perkotaan/
metropolitan, yang meliputi pola spasial guna lahan dan
kepadatannya serta rancangan spasial infrastruktur transportasi dan
komunikasi. (Anderson et al. 1996).
3. Pola dan persebaran permukiman penduduk dalam kawasan perkotaan.
Variabel kuncinya adalah kepadatan, bentuk, dan tingkat persebaran atau pemusatan dan kualitas infrastruktur transportasi. (Barton et al., 2000).
Bentuk kota (urban form)
Aspek Bentuk Perkotaan
(Skala Kawasan Perumahan)
1. Jarak perumahan dari pusat kota
2. Ukuran permukiman
3. Percampuran penggunaan lahan
4. Penyediaan fasilitas lokal 5. Kepadatan pembangunan 6. Kedekatan terhadap jaringan
transportasi
7. Ketersediaan sarana parkir di perumahan
8. Tipe jaringan jalan 9. Tipe neighbourhood.
(Stead dan Marshal, 2001)
Tata Ruang Kota
• Kota sebagai suatu sistem spasial/ tata ruang merupakan wujud struktural dan pola ruang, baik direncanakan maupun tidak, yang mencirikan kawasan dengan kegiatan utama bukan-pertanian.
• Wujud struktural dan pola ruang kota adalah susunan unsur-unsur
pembentuk kawasan perkotaan secara hirarkis dan struktural
berhubungan satu dengan lainnya membentuk tata ruang kota.
• Tata ruang mencakup:
struktur ruang dan pola ruang
(UU 26/2007)
Struktur Ruang Kota
Susunan pusat-pusat permukiman/pelayanan dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara
hirarkis memiliki hubungan fungsional.
Pola Ruang:
Distribusi peruntukan ruang yang meliputi peruntukan kawasan lindung dan
peruntukan kawasan budidaya
• Doxiadis:
5 Unsur Permukiman
• Patrick Geddes:
Place, Work, Folk
• Kus Hadinoto:
Wisma, Marga, Suka, Penyempurna
• Kevin Lynch:
Persepsi tentang Kota
Unsur Pembentuk Ruang Kota
REGION
Unsur pembentuk ruang kota (1):
menurut Doxiadis:
Permukiman ( human settlements ) merupakan totalitas lingkungan yang terbentuk oleh 5 unsur:
1. Alam (Nature)
2. Individu manusia (Antropos)
3. Masyarakat (Society)
4. Ruang kehidupan (Shells)
5. Jaringan (Network)
8
Alam Manusia
Masyarakat
Ruang/
Hunian
Jaringan
Permukiman (Human Settlements)
Unsur Pembentuk Permukiman
(Human Settlement)
Penduduk
Tempat Kegiatan
Kota
Keterkaitan organik antar aspek sosial, fisik,
dan ekonomi
Unsur pembentuk ruang kota (2) :
Patrick Geddes
Karakteristik permukiman/kota memiliki unsur:
• PLACE: Tempat tinggal
• WORK: Tempat kerja
• FOLK : Tempat bermasyarakat
Permukiman Kota mempunyai 5 unsur pokok:
1. Wisma: tempat tinggal (perumahan)
2. Karya: tempat bekerja (kegiatan usaha)
3. Marga: jaringan pergerakan, jalan
4. Suka: tempat rekreasi, fasos 5. Penyempurna: utilitas
Unsur pembentuk ruang kota (3):
Kus Hadinoto (1970-an)
Persepsi terhadap Ruang Kota
• Bagaimana orientasi orang di dalam kota?
• Bagaimana ’peta’ yang tergambar dalam pikiran orang mengenai kotanya?
• Bagaimanakah asosiasi atau preferensi yang dihubungkan dengan kota atau bagian kota?
Kevin Lynch :
The image of the city (1960).
• Sifat suatu objek fisik yang menyebabkan kemungkinan besar membuat citra
(image) yang kuat pada setiap orang
Unsur pembentuk ruang kota (4) :
Kevin Lynch
5 Unsur Citra Kota
1. Path 2. Edge 3. District 4. Node
5. Landmark
Path Jalur, sering atau potensial dilalui oleh pengamat, misalnya: jalan, lintasan
angkutan umum, kanal, rel kereta api.
Manusia mengamati ruang kota ketika bergerak dalam “path”.
EdgeBatas antara dua kawasan yang memisahkan kesinambungan, elemen linier yang tidak
dianggap/ digunakan sebagai “path” oleh pengamat.
Misalnya: pantai, lintasan rel kereta api, dinding, sungai
15
District
Bagian kota berukuran sedang sampai dengan besar,
tersusun sampai dua dimensi yang dapat dimasuki pengamat
(secara mental), dan dapat dikenali dari karakter umumnya.
16
Node/core.
Titik/lokasi yang strategis yang dapat dimasuki pengamat.
Dapat berupa konsentrasi penggunaan/ciri fisik yang penting.
Misalnya: persimpangan, tempat perhentian, ruang terbuka,
penggantian moda angkutan, dan lain-lain.
17
Landmark.
Titik acuan bersifat
eksternal yang tidak dapat dimasuki pengamat,
biasanya berupa struktur fisik yang menonjol.
Apabila dilihat dari jauh, dari
berbagai sudut pandang dan
jarak, di atas elemen lainnya,
dijadikan acuan.
18
path edge
landmark
node district
Kombinasi dan Interaksi
5 unsur Citra Kota
10 Kategori Ciri-ciri
Lingkungan Fisik Kota
1. Kontras dengan lingkungan sekitar
2. Bentuk
3. Kontinuitas 4. Dominasi
5. Daya menyatukan 6. Diferensiasi arah
7. Jangkauan pandangan 8. Kesadaran bergerak 9. Urutan waktu
10. Nama-nama (unsur non fisik).
Struktur Ruang Kota
• Kota sebagai suatu sistem spasial/tata ruang merupakan wujud struktural dan pola ruang, baik direncanakan maupun tidak, yang mencirikan kawasan dengan kegiatan utama bukan-pertanian.
• Struktur ruang kota adalah salah satu unsur dari tata ruang kota, yang
menunjukkan adanya:
• Hierarki pusat pelayanan kegiatan perkotaan, seperti pusat kota, pusat bagian wilayah kota, dan pusat
lingkungan;
• Ditunjang dengan sistem jaringan
prasarana jalan seperti jalan arteri, jalan kolektor, dan jalan lokal.
Struktur Ruang Kota:
Pusat Kegiatan/Pelayanan Kota
• Pusat kota: bagian wilayah kota yang merupakan tempat terkonsentrasinya berbagai aktivitas (sosial, ekonomi, dan budaya) yang melayani penduduk kota (skala lokal) serta penduduk dari
wilayah yang lebih luas (skala regional).
• Kawasan pusat kota biasanya dicirikan dengan adanya unsur-unsur kegiatan:
• Perdagangan/bisnis (CBD-Central Business
District)• Pusat pemerintahan (Civic Center), dan
simpul jaringan transportasi.
Kawasan Pusat Kota
• Dalam Teori Konsentrik, pusat kota merupakan kawasan yang memiliki
aksesibilitas, land rent -nya tinggi, dan intensitas penggunaan lahan tinggi.
• Hanya kegiatan komersial (perdagangan dan jasa) yang sesuai untuk berlokasi di pusat kota, di samping pemerintahan (karena alasan sentralitas pelayanan).
• Karakteristik kawasan pusat kota:
• Area pemusatan kegiatan fungsional (terutama perdagangan, pemerintahan),
• Intensitas penggunaan lahan tinggi (nilai lahan tinggi),
• Kepadatan penduduk tinggi
• Jumlah fasilitas perkotaan lengkap
• Aksesibilitas tinggi.
23
Kawasan Pusat Kota (Hipotetis)
CBD Core
Bagian CBD yang
pemanfaatannya sangat Intensif, kepadatan tinggi, keterkaitan, internal kuat, lalulintas pedestrian padat
CBD Frame
Bagian CBD yang intensitas
pemanfaatannya lebih rendah:
area parkir, perdagangan dan jasa spesifik, perumahan
Pusat Bagian Wilayah Kota dan Pusat Lingkungan
• Pusat pelayanan kegiatan kota yang hierarkinya lebih rendah dari pusat kota adalah pusat bagian wilayah kota dan pusat lingkungan.
• Wilayah kota dalam pengembangannya seringkali dibagi dalam beberapa bagian wilayah kota (BWK) yang didasarkan pada fungsi kegiatannya dalam lingkup kota.
• Tiap BWK ini mempunyai pusat pelayanan kegiatan (pusat sekunder) yang jenis dan skala pelayanannya disesuaikan dengan penduduk pendukungnya.
• Adanya pusat BWK ini pada dasarnya dapat
mengurangi ketergantungan pada pusat kota secara berlebihan karena di dalam pusat BWK tersedia
fasiltas pelayanan perkotaan sehingga tidak semua kebutuhan harus dipenuhi di pusat kota.
• Pusat lingkungan yang melayani kebutuhan pelayanan fasilitas perkotaan dengan skala lingkungan (neighbourhood).
Struktur Ruang Kota: Jaringan Prasarana
• Selain pusat-pusat pelayanan kegiatan perkotaan, unsur
pembentuk struktur ruang kota adalah sistem jaringan prasarana.
• Prasarana perkotaan: kelengkapan dasar fisik yang memungkinkan
kawasan permukiman perkotaan dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
• Jenis prasarana: Transportasi, Air bersih, Air limbah, Drainase,
Persampahan, Listrik, dan
Telekomunikasi.
• Dalam perencanaan tata ruang kota,
pengembangan jaringan jalan tidak dapat dilepaskan dari pola ruang yang ada atau ingin diwujudkan.
• Jaringan jalan dapat menjadi faktor yang mendorong perkembangan kegiatan, dan sebaliknya pengembangan suatu kegiatan memerlukan dukungan prasarana jalan.
• Pengembangan jaringan jalan:
• Perlu kesinambungan antara sistem lokal/lingkungan dengan sistem wilayah yang lebih luas;
• Hubungan struktural yang menerus dan compatible antara sistem lingkungan dengan lingkungan lain;
Struktur Ruang Kota: Jaringan Prasarana (2)
Pola Ruang Kota (1)
• Pola ruang/penggunaan lahan kota didominasi oleh jenis penggunaan: perumahan,
perdagangan, jasa dan industri.
• Pola ruang/penggunaan lahan perkotaan mempunyai karakteristik:
– Intensitas penggunaan yang lebih intensif, dengan besarnya jumlah orang yang
terlibat dan besarnya nilai investasi.
– Apabila perkembangan ke arah horizontal sudah terbatas maka perkembangan
penggunaan lahan ke arah vertikal.
– Adanya keterkaitan antar unit-unit penggunaan lahan yang sangat erat.
– Ukuran unit-unit penggunaan didominasi luasan yang relatif kecil dibandingkan dengan penggunaan lahan perdesaan.
Pola Ruang Kota (2)
– Intensitas penggunaan lahan yang tinggi ditunjukkan dengan adanya penggunaan ruang di atasnya, yaitu dengan bangunan ke arah vertikal atau bertingkat.
– Untuk lahan dengan bangunan tinggi (multi-storey building) jenis penggunaan lahannya menjadi lebih kompleks, sering merupakan campuran (mixed used) , misalnya perdagangan, jasa, dan hunian (apartemen).
– Selain jenis penggunaan lahannya
kompleks, kegiatan yang berlangsung di atasnya juga bisa lebih kompleks ,
meliputi pemanfaatan untuk kantor, toko,
pelayanan jasa pribadi (dokter, konsultan),
hotel, apartemen, tempat hiburan, dsb.
Jenis Pola Ruang Kota
1. Kawasan Perumahan 2. Kawasan Industri
3. Kawasan Perdagangan dan Jasa (Komersial)
4. Kawasan Pemerintahan dan Fasilitas Pelayanan
5. Kawasan Ruang Terbuka
Hijau, Pertanian/Non-
Perkotaan
Kawasan Perumahan
Perumahan Formal (Teratur/Terencana)
• Perumahan yang dibangun pada masa kolonial Belanda; Perumahan yang dibangun setelah masa kemerdekaan (untuk PNS, swasta besar)
• Perumahan sederhana oleh Perum Perumnas;
Perumahan yang dibangun oleh pengembang swasta
• Perumahan Susun (Rusun sederhana, Rusun menengah, Rusun mewah)
Perumahan Informal (Tidak Teratur)
• Polanya tidak teratur; Prasarana dan sarana tidak memadai
• Kampung kota; Perumahan liar (squater);
Perumahan kumuh (slum)
• Kawasan perdagangan dan jasa (komersial) merupakan kawasan fungsional perkotaan yang dominan pada suatu kota meskipun luasannya relatif kecil.
• Ditinjau dari distribusi lokasinya, struktur kegiatan perdagangan dapat berupa
centers, ribbons
, atauspecialized areas.
• Ditinjau dari skala pelayanannya, hierarki pusat perdagangan (
shopping center
) terdiri dariConvenience store
,Neighborhood center
,Community center
,Regional center,
danSuperregional center.
• Faktor dinamis yang mempengaruhi pola lokasi perdagangan di dalam kota antara lain:
• Peningkatan mobilitas: penggunaan kendaraan bermotor;
• Peningkatan daya beli dan cita rasa;
• Pokasi perumahan baru;
• Perubahan dalam kebijakan zoning; dan
• Perubahan dalam
merchandising.
Kawasan Perdagangan dan Jasa
Kawasan Perkantoran
Mewadahi kegiatan sektor Jasa
• Transportasi, telekomunikasi, utilitas
• Perdagangan besar
• Finansial, asuransi, real estate
• Jasa pribadi; Jasa profesional
• Administrasi publik
Faktor dalam penentuan lokasi
• Komunikasi; Aksesibilitas
• Prestisius; Lingkungan
• Tenaga kerja; Daya tarik tapak
Kawasan Industri
• Kawasan industri dalam pengertian luas adalah tempat pemusatan
kelompok perusahaan industri dalam suatu areal tersendiri.
• Secara rinci kawasan ini dapat dikelompokkan:
• Kawasan Industri ber-manajemen terdiri dari Kawasan industri (industrial estate), Kawasan Berikat (Export Processing
Zone), Kompleks Industri, Sarana Usaha Industri Kecil (SUIK), Permukiman
Industri Kecil (PIK), dan Lingkungan Industri Kecil (LIK).
• Kawasan Industri non-manajemen terdiri dari Lahan peruntukan industri, Kantong industri, dan Sentra industri kecil.