DEPARTEMEN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO

Teks penuh

(1)

SURVEI PEMANFAATAN IKAN PARI DI PULAU KEMUJAN TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA

PRAKTIK KERJA LAPANGAN

Oleh:

NADYA OKTAVIA

NIM. 26020116130174

DEPARTEMEN ILMU KELAUTAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2018

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Survei Pemanfaatan Ikan Pari di Pulau Kemujan Taman Nasional Karimunjawa

Nama Mahasiswa : Nadya Oktavia

NIM : 26020116130174

Departemen/Program Studi : Ilmu Kelautan

Fakultas : Perikanan dan Ilmu Kelautan

Praktik Kerja Lapangan ini telah diujikan pada tanggal, 7 Desember 2018

Mengesahkan, Koordinator PKL,

Endang Sri Susilo S, S.T., M.Sc.

NIP. 19700425 199403 2 003

Pembimbing,

Ir. Suryono, M.Sc.

NIP. 19601115 198803 1 002

Mengetahui,

Ketua Program Studi Ilmu Kelautan

Dr. Agus Trianto, ST, M.Sc.

NIP. 19690323 199512 1 001

(3)

RINGKASAN

Ikan pari merupakan komponen penting dalam hasil perikanan laut. Praktik Kerja Lapangan ini yang berjudul “Survey Pemanfaatan Ikan Pari di Pulau Kemujan Taman Nasional Karimunjawa” bertujuan untuk mengetahui pola pemanfaatan ikan pari di Pulau Kemujan Taman Nasional Karimunjawa.

Penelitian ini menyajikan data-data yang berkaitan dengan pemanfaatan ikan pari, guna memberikan informasi mengenai Balai Taman Nasional Karimunjawa sebagai balai yang mengelola kawasan TN Karimunjawa. Kegiatan survei dilakukan pada tanggal 5-15 Juli 2018 di Pulau Kemujan Karimunjawa. Kegiatan ini dilakukan untuk mencari data pemanfaatan ikan pari di Pulau Kemujan Karimunjawa. Metode yang digunakan adalah metode wawancara dengan mendatangi setiap rumah ke rumah dan memberikan pertanyaan yang mengacu pada kuesioner yang sudah ada.

Data jumlah responden ada 55 orang yang bermata pencaharian sebagai nelayan dan berbagai kriteria umur. Hasil survey pada setiap responden pola pemanfaatan ikan pari di Pulau Kemujan Karimunjawa. Data hasil yang diperoleh tentang pemanfaatan ikan pari yaitu sebanyak 91% hasil tangkapan pari dijual dan sebanyak 9% hasil tangkapan pari tidak dijual. Pari yang ditangkap kemudian biasanya dijual kepada pengepul. Harga untuk penjualan pari pun sangat beragam.

Para responden berpendapat tentang harga jual ikan pari berdasarkan pengalaman mereka masing-masing. Sebanyak 30% responden mengatakan harga pari berada pada range harga 0-5000 rupiah/kg. Lalu sebanyak 66% responden pada range harga 6000-10000 rupiah/kg, 2% responden pada range harga 11000-15000 rupiah/kg dan 2% responden pula pada range harga 16000-20000 rupiah/kg.

Harga-harga tersebut adalah harga yang berlaku dipasaran dan harga yang ditawarkan pengepul ikan kepada nelayan nelayan yang menjual ikan pari. Harga yang ditawarkan tidak terlalu tinggi dikarenakan ikan pari yang biasanya tidak sengaja tertangkap berukuran kecil dan kurangnya minat dipasaran juga menjadi penyebab lain rendahnya harga pari tersebut. Kemudian untuk ikan pari yang tidak dijual, biasanya dikonsumsi oleh nelayan tersebut.

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Praktek Kerja Lapangan beserta laporannya di Balai Taman Nasional Karimunjawa dengan lancar tanpa adanya kendala yang berarti. Laporan ini tersusun berdasakan hasil Praktek Kerja Lapangan di Balai Taman Nasional Karimunjawa pada tanggal 5-15 Juli 2018.

Penulis menyadari bahwa lancarnya Praktek Kerja Lapangan dan penulisan laporan tak lepas dari dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang dalam pelaksanaan kegiatan banyak membantu penulis. Penulis menyadari bahwa lapoaran Praktik Kerja Lapangan ini belumlah sempurna. Oleh karenanya, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik demi perbaikan dan penambah wawasan untuk dimasa yang akan datang.

Semarang, 9 September 2018

Nadya Oktavia

(5)

DAFTAR ISI

Halaman Judul

Lembar Pengesahan...i

Ringkasan...ii

Kata Pengantar...iii

Daftar Isi...iv

Daftar Tabel...vi

Daftar Gambar...vii

Daftar Lampiran...viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang...1

1.2.Tujuan...2

1.3. Manfaat...2

1.4. Waktu dan Lokasi PKL...2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ikan Pari...3

2.1.1. Morfologi Pari...4

2.1.2. Habitat dan Makanan Pari...5

2.1.3. Reproduksi Pari...6

2.2. Pemanfaatan Ikan Pari...6

2.3. Balai Taman Nasional Karimunjawa...7

BAB III MATERI DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat...9

3.2. Materi...9

(6)

3.3. Metode...9

3.3.1. Teknik Pengambilan Data...9

3.3.1.1. Data Primer...9

3.3.1.2. Observasi...10

3.3.1.3. Wawancara...10

BAB IV HASIL DAN PEMBHASAN 4.1. Hasil...11

4.2. Pembahasan...14

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan...17

5.2. Saran...17

DAFTAR PUSTAKA...18

LAMPIRAN...19

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Jenis Flora di Kawasan TN Karimunjawa...7 Tabel 2. Jenis Fauna di Kawasan TN Karimunjawa...8

(8)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Ikan Pari...4

Gambar 2. Presentase Keberadaan Pari di Perairan Karimunjawa...11

Gambar 3. Presentase Pari Sebagai Target Penangkapan...12

Gambar 4. Presentase Alat Tangkap Pari...12

Gambar 5. Presentase Penjualan Pari...13

Gambar 6. Presentase Harga Jual Pari...13

Gambar 7. Presentase Jenis Pari yang Ditemukan...14

Gambar 8. Survey dengan Nelayan...21

Gambar 9. Survey Nelayan di Dermaga Pantai Hadirin...21

Gambar 10. Wawancara Salah Satu Nelayan di Pulau Kemujan...21

Gambar 11. Proses Pelepasan Penyu...22

Gambar 12. Survey Nelayan di Dusun Batulawang...22

Gambar 13. Survey Nelayan di Desa Mrican...23

Gambar 14. Ikan Pari yang Dijual di Pengepul Ikan...23

(9)

LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner Survei Ikan Pari...20

Lampiran 2. Dokumentasi...21

Lampiran 3. Surat Keterangan Melaksanakan PKL...23

Lampiran 4. Log Book...24

Lampiran 5. Lembar Konsultasi...25

Lampiran 6. Riwayat Hidup………..26

(10)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ikan Pari merupakan kelompok ikan bertulang rawan kelas Chondrichthyes.

Ikan ini merupakan komoditas hasil perairan dengan jumlahnya cukup banyak di Indonesia. Meski begitu ikan Pari merupakan salah satu jenis ikan yang termasuk dalam kelompok ikan yang bernilai ekonomis rendah (Sitohang, 2010). Ikan pari seringkali bukan merupakan ikan tangkapan utama. Menurut Rahardjo (2007), larangan pengoperasian trawl di Indonesia menyebabkan nelayan menggunakan jaring arad untuk menangkap udang di dasar perairan dan seringkali menangkap ikan pari sebagai hasil sampingan. Pemanfaatan ikan Pari belum dilakukan secara maksimal, sehingga nilai tambahnya masih memungkinkan untuk ditingkatkan lagi. Pemanfaatan daging ikan pari umumnya terbatas pada produk ikan Pari asap.

Dengan adanya survey tentang pemanfaatan ikan Pari di Pulau Kemujan Karimunjawa, diharapkan dapat lebih mengetahui pemanfaatan ikan pari, khususnya di daerah tersebut.

Pulau Kemujan adalah pulau yang berada di Kepulauan Karimunjawa, Jepara.

Pulau Kemujan merupakan pulau terbesar kedua setelah pulau Karimunjawa.

Meskipun besar pulau ini tidak memiliki dataran tinggi hanya bukit-bukit kecil saja, tetapi tanah di pulau ini seperti tanah pegunungan, berwarna merah dan subur. Pulau Kemujan terletak di sebelah pulau Karimunjawa dan termasuk dalam kawasan Taman Nasional. Pulau Kemujan dan Pulau Karimunjawa dipisahkan dengan laut dangkal, tetapi kita dapat melewati jembatan untuk menyebrang antar pulau tersebut. Pulau Kemujan memiliki satu desa saja yaitu desa Kemujan. Di Pulau Kemujan terdapat beberapa suku yaitu Jawa, Madura dan Bugis. Mayoritas penduduk pria di Pulau Kemujan bermata pencaharian sebagai nelayan dan pengepul ikan sedangkan wanita hanya sebagai ibu rumah tangga. Pendidikan di desa Kemujan tergolong rendah, sekolah yang ada di Kemujan hanya sampai setara SMP, sehingga untuk melanjutkan sekolah yang lebih lanjut harus di daerah luar Karimunjawa. Pulau Kemujan adalah Pulau yang memiliki keindahan alam, sumber daya laut melimpah, tentram dengan masyarakat yang ramah dan jauh dari nuansa perkotaan.

(11)

1.2. Tujuan

Mengetahui pola pemanfaatan ikan pari di Pulau Kemujan kawasan Taman Nasional Karimunjawa.

1.3.Manfaat

1. Dapat mengetahui pola pemanfaatan Ikan Pari di Pulau Kemujan Karimunjawa.

2. Dapat mengetahui dan mengenal lebih jauh tentang Pulau Kemujan Karimunjawa.

3. Dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat Pulau Kemujan.

1.4. Waktu dan Lokasi PKL

Kegiatan Survei Pemanfaatan Ikan Pari di Pulau Kemujan Karimunjawa Taman Nasional Karimunjawa dilaksanakan pada tanggal 5- 18 Juli 2018 di Pulau Kemujan Karimunjawa.

(12)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ikan Pari

Ikan pari merupakan salah satu jenis ikan yang termasuk sub kelas Elasmobranchii. Ikan ini dikenal sebagai sekelompok ikan bertulang rawan yang mempunyai ekor seperti cambuk. Ikan pari adalah sejenis ikan yang terdapat di seluruh dunia. Ikan pari masih satu famili dengan ikan jerung, tetapi tidak seperti ikan jerung, yang merupakan pemangsa yang mengerikan dengan rahang yang kuat, ikan pari jarang sekali menyerang manusia dan mulutnya yang kecil bukanlah ancaman yang membahayakan. Pada pangkal ekor ikan pari terdapat taji sekitar 8-inch yang diselubungi dengan bahan yang membentuk sisik ikan hiu, yang dikenali sebagai dermis dentikle (dermal denticles). Bagian ini akan menjadi keras dan tegang apabila ikan pari merasa terancam, membentuk seperti pisau bergerigi dan memiliki bisa yang mengancam pemangsa (Sitohang, 2010).

Ikan pari memiliki celah insang yang terletak di sisi ventral kepala. Sirip dada ikan ini melebar menyerupai sayap, dengan sisi bagian depan bergabung dengan kepala. Bagian tubuh sangat pipih sehingga memungkinkan untuk hidup di dasar laut. Bentuk ekor seperti cambuk pada beberapa spesies dengan sebuah atau lebih duri tajam di bagian ventral dan dorsal. Terdapat kira-kira 200 spesies ikan pari, yang berada air tawar dan air laut. Ikan pari (famili Dasyatidae) mempunyai variasi habitat yang sangat luas dengan pola sebaran yang unik. Daerah sebaran ikan pari adalah perairan pantai dan kadang masuk ke daerah pasang surut. Ikan pari biasa ditemukan di perairan laut tropis. Di perairan tropis Asia Tenggara (Thailand, Indonesia, Papua Nugini) dan Amerika Selatan (Sungai Amazon), sejumlah spesies ikan pari bermigrasi dari perairan laut ke perairan tawar (Sitohang, 2010).

Menurut Sitohang (2010), ikan pari mempunyai peran ekologis yang sangat penting di perairan laut, terutama sebagai predator bentos, namun beberapa aspek biologi (misalnya: reproduksi, diet dan fisiologi) ikan pari belum dikaji secara menyeluruh. Di perairan Indonesia, ikan pari tertangkap hampir sepanjang tahun.

Di Indonesia dikenal beberapa jenis ikan pari, diantaranya adalah Ordo Pristiformes (Pari Gergaji), Ordo Myliobatiformes (Pari Burung), Ordo Rhinobatiformes (Pari Kekeh) dan Ordo Squatiniformes (Pari Junjunan).

(13)

2.1.1. Morfologi Pari

Ikan Pari masuk ke dalam Kela Elasmobranchii dan dikenal sebagai Ikan Batoid, yaitu kelompok ikan bertulang rawan yang dilengkapi ekor panjang seperti cemeti atau cambuk, namun bukan berbentuk sirip. Biasanya pada pangkal ekor Pari terdapat satu sampai lima duri yang mempunyai jaringan kelenjar racun di sebelah bawahnya. Pada beberapa jenis Pari, duri tajam tersebut terdapat di bagian ventral dan dorsal. Keberadaan duri tajam itulah yang membuat Pari disebut sebagai Ikan Sting Rays atau Ikan Duri Penyengat. Pari tidak segan-segan untuk melukai lawannya atau melumpuhkan mangsanya dalam keadaaan terancam, bahkan apabila tidak segera ditangani dikhawatirkan dapat menyebabkan kematian (Kinakesti dan Wahyudewantoro, 2017).

Secara umum Pari mempunyai bentuk tubuh sangat pipih, gepeng melebar (depressed) sehingga menyerupai piringan cakram yang lebarnya ditambah sirip dada yang lebar seperti sayap yang bergabung dengan bagian depan kepala (Gambar 1). Apabila dilihat dari bagian atas (anterior) dan bawah (posterior), tubuh Pari tampak oval atau membundar (Last & Stevens 2009). Lebar atau luasan piringan cakram tersebut dapat mencapai 1,2 kali dari panjangnya dan umumnya diduga dapat untuk melihat pola pertumbuhan serta ukuran pada saat ikan matang gonad (Kinakesti dan Wahyudewantoro, 2017).

Gambar 1. Ikan Pari; A. Sirip dada yang menyatu dengan bagian depan kepala, B. Mata, C.Lubang bernafas, D. Batang ekor, E. Duri penyengat (Kinakesti dan Wahyudewantoro, 2017).

(14)

Mata Ikan Pari cenderung menonjol dan terletak di bagian samping kepala pada bagian belakang mata terdapat lubang yang berfungsi untuk bernafas . Udara hasil pernafasan dibuang melalui celah insang (gill opening atau gill slits) yang berjumlah lima sampai enam pasang, dan terdapat di sisi kepala bagian ventral atau bawah. Bentuk mulutnya terminal, dengan posisi di bagian bawah tubuh.

Sirip punggung hampir dikatakan tidak ada atau tidak jelas terlihat (Kinakesti dan Wahyudewantoro, 2017).

2.1.2. Habitat dan Makanan Pari

Suku Dasyatidae mempunyai lingkup sebaran habitat yang cukup luas yaitu di Samudera Atlantik, India dan Pasifik. Di habitat aslinya, Pari termasuk ikan yang cinta damai, tidak suka diusik keberadaaannya. Ikan tersebut seringkali dijumpai berenang bebas di di perairan dengan dasar berlumpur, berpasir, karang sampai berbatu. Beberapa jenis Pari juga dapat ditemukan di perairan pantai sampai tawar, seperti Pari sungai Himantura signifer yang hanya dijumpai di perairan tawar dan sesekali masuk ke perairan payau. Beberapa jenis Dasyatis di Amerika Utara bagian Tenggara dilaporkan memasuki perairan tawar, namun tidak sampai dibagian hulu (Rahardjo, 2007).

Pari sering terlihat dalam kelompok kecil maupun sendiri (soliter) dan seringkali terlihat berenang di permukaan air, maupun bagian tengah kolom perairan, bahkan bentuk tubuhnya yang pipih memungkinkan Pari untuk dapat berenang di dasar suatu perairan. Dalam hal mencari makan, Pari bersifat predator yang memangsa jenis-jenis ikan berukuran kecil, kepiting, kerang dan beberapa invertebrata. Keagresifan Pari dalam mencari mangsa, membuat Pari didaulat sebagai salah satu predator teratas untuk jenis-jenis ikan pelagis. Perilaku unik lainnya yaitu Pari seringkali terlihat menggali pasir untuk mendapatkan makanannya, gigi-giginya yang kecil pipih juga berguna untuk merusak cangkang kerang dan kepiting Pada Pari jenis Pteroplatytrygon violacea yang tertangkap di Laut Adriatik Utara setelah dibedah isi perutnya banyak terdapat Ikan Teri, Sotong, Ikan Cepola macrophthalma, hal ini menunjukkan pula bahwa ukuran mangsa tidak lebih besar dari mulutnya (Rahardjo, 2007).

(15)

2.1.3. Reproduksi Pari

Ikan Pari bersifat dioecious, yaitu alat kelamin jantan dan betina dapat dibedakan dengan jelas. Pari jantan mempunyai sepasang alat kelamin terletak di pangkal ekor yang dinamakan clasper, yang bila telah berukuran panjang melebihi dari sirip perut maka Pari tersebut dapat dikatakan telah dewasa.

Sedangkan untuk betina tidak mempunyai clasper namun alat atau lubang kelaminnya dapat terlihat (Kinakesti dan Wahyudewantoro, 2017).

Ikan Pari umumnya memijah satu kali dalam satu musim pemijahan (total spawner). Setiap akan mendekati musim pemijahan dapat ditandai dengan terjadinya peningkatan persentase dari tingkat kematangan gonad. Secara umum Pari yang telah matang gonad mendominasi sampai lebih dari 50% hasil tangkapan, yaitu mulai bulan April, Juni, Juli, Agustus, September, dan Oktober ( Fekunditas yang dihasilkan Pari sangat rendah misalnya untuk Dasyatis kuhlii berkisar 4 sampai 9 butir, Dasyatis centroura 1 sampai 13 butir. Untuk ikan vivipar dan ovovivipar umumnya mempunyai fekunditas kecil, namun anakannya diduga lebih dapat beradaptasi untuk melangsungkan kehidupannya, dibandingkan ikan ovipar. Saaat memijah, ikan ovipar lebih banyak mengeluarkan energi dibandingkan vivipar dan ovovivipar. Faktor lingkungan seperti habitat, jumlah makanan yang tersedia, dan keberadaan pemangsanya juga turut berperan pada proses reproduksi ikan, selain umur dan ukuran tubuhnya (Kinakesti dan Wahyudewantoro, 2017).

2.2. Pemanfaatan Ikan Pari

Pari telah lama menjadi salah satu sumberdaya ikan yang bernilai ekonomis tinggi dan mempunyai peranan ekologis cukup besar di perairan Indonesia.

Bahkan selain sebagai sumber pendapatan nelayan lokal, beberapa jenis Pari seperti Pari Manta masuk sebagai komoditas ekspor. Badan yang membidangi pangan dan pertanian di PBB yaitu FAO menyatakan bahwa sekitar 60% dari 731.000 ton tangkapan kelompok Pari disumbang oleh negara di benua Asia, dan Indonesia diyakini turut memberikan kontribusi yang besar. Besarnya tangkapan Pari dikarenakan hampir seluruh bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan dan mempunyai harga tinggi dalam pemasarannya. Selain dagingnya yang telah dimanfaatkan sebagai dendeng, bahan kerupuk, ternyata bagian sirip dan insang

(16)

Pari juga sangat menarik minat pasar lokal maupun ekspor (Kinakesti dan Wahyudewantoro, 2017).

Menurut Kinakesti dan Wahyudewantoro (2017), jaringan tulang rawan Pari Totol Neotrygon kuhlii dan Pari Sungai Himantura signifer mengandung molekul Glikosaminoglikan, yang telah dimanfaatkan dalam terapi osteoarthritis atau untuk kesehatan persendian. Jadi dilihat dari besarnya fungsi atau kegunaan dari Pari, tidak salah bahwa penangkapan terhadap ikan ini cukup besar. Oleh karena itu kelestarian dari kelompok Pari ini harus terus dijaga, agar dapat dinikmati oleh generasi selanjutnya.

2.3. Balai Taman Nasional Karimunjawa

Kawasan Taman Nasional Karimunjawa mempunyai lima tipe ekosistem yaitu ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah, hutan pantai, hutan bakau, ekosistem padang lamun, dan ekosistem terumbu karang. Ekosistem tersebut merupakan habitat bagi berbagai tumbuhan dan satwa liar baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi Undang-Undang. Upaya identifikasi dan invetarisasi flora dan fauna telah dilakukan baik oleh Balai Taman Nasional Karimunjawa maupun oleh instansi terkait. Sampai dengan tahun 2017, terdapat 102 jenis vegetasi di kawasan hutan hujan tropis dataran rendah (Anonimous, 2017).

Tabel 1. Jenis Flora di Kawasan TN Karimunjawa

No Ekosistem Flora Jenis

1 Hutan hujan tropis Vegetasi 102

dataran rendah Jamur 32

Lumut 9

Tanaman hias 31

Tanamana obat 27

2 Hutan mangrove Mangrove sejati 25

Mangrove ikutan 17

3 Vegetasi pantai - 36

4 Padang lamun - 9

5 Terumbu karang Makroalga 32

(17)

Tabel 2. Jenis Fauna di Kawasan TN Karimunjawa No Fauna Jenis

1 Mamalia 7

2 Aves 140

3 Reptilia 23

4 Kupu-Kupu 72

5 Capung 29

6 Belalang 10

7 Pisces 412

8 Anthozoa 18 famili / 76 genus 9 Anthozoa (skeleractinian) 182 10 Anthozoa (non skeleractinian) 23

11 Plathyhelmintes 2

12 Annelida 2

13 Gastropoda 47

14 Bivalvia 8

15 Cephalopoda 8

16 Arthropoda 5

17 Echinodermata 31

18 Porifera 35

19 Hewan makrobentos 45

Upaya konservasi jenis dilakukan untuk terus menjamin kelestarian tumbuhan dan satwa yang ada di kawasan Taman Nasional Karimunjawa. Upaya pengelolaan tersebut dituangkan dalam berbagai kegiatan pembinaan populasi dan pembinaan habitat. Pembinaan populasi diprioritaskan pada jenis-jenis yang diindikasikan telah mengalami penurunan populasi terlebih jenis yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Pembinaan habitat dilakukan dengan tujuan utama untuk memulihkan habitat tumbuhan dan satwa sehingga habitat tesebut akan mampu mendukung keberlangsungan hidup tumbuhan dan satwa (Anonimous, 2017).

(18)

III. MATERI DAN METODE

3.1. Waktu Dan Tempat

Survei pemanfaatan ikan pari dilaksanakan pada tanggal 5-15 Juli 2018 yang dilakukan selama kurang lebih dua minggu. Tempat pelaksanaan survei dilakukan di Pulau Kemujan Karimunjawa yang merupakan kawasan masyarakat nelayan.

3.2. Materi

Materi utama yang digunakan dalam kegiatan Survei Pemanfaatan Ikan Pari di Taman Nasional Karimunjawa tahun 2018 adalah ikan pari yang ada di kawasan TN Karimunjawa dan responden yaitu masyarakat di Desa Kemujan.

Dalam pelaksanaannya, alat utama yang digunakan adalah kuesioner (ada pada lampiran), perangkat komputer, sumber pustaka, dan alat-alat tulis.

3.3. Metode

Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode survei. Adapun pengambilan data dilakukan secara acak terhadap responden yang merupakan nelayan dan warga sekitar yang beraktivitas di dalam kawasan Taman Nasional Karimunjawa. responden.

3.3.1. Teknik Pengambilan Data

Pengambilan data pada Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini dilakukan dengan pengambilan data primer yang didapatkan dengan cara mencatat hasil observasi dan wawancara.

3.3.1.1. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh dari sumbernya secara langsung, baik dengan melakukan observasi, wawancara maupun partisipasi aktif.

Data primer adalah data asli yang dikumpulkan oleh periset untuk menjawab masalah risetnya secara khusus. Data ini tidak tersedia karena memang belum ada riset sejenis yang pernah dilakukan atau hasil riset yang sejenis sudah terlalu kedaluwarsa. Jadi, periset perlu melakukan pengumpulan atau pengadaan data sendiri karena tidak bisa mengandalkan data dari sumber lain.

(19)

3.3.1.2. Observasi

Secara umum, observasi merupakan cara atau metode menghimpun keterangan atau data yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan. Dengan kata lain, observasi dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kelakuan observe yang sebenarnya. Observasi sangat diperlukan jika observer belum memiliki banyak keterangan tentang masalah yang diselidikinya.

Sehingga observer dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang masalahnya serta petunjuk-petunjuk cara memecahkannya.

3.3.1.3. Wawancara

Informasi dapat diperoleh dari pihak-pihak terkait, tidaklah cukup dengan melakukan observasi. Karena untuk memperoleh informasi juga dapat dilakukan dengan wawancara langsung kepada pihak-pihak terkait. Wawancara adalah suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data, di mana peneliti mendapatkan keterangan atau informasi secara lisan dari seseorang sasaran penelitian (responden), atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (face to face). Jadi data tersebut diperoleh langsung dari responden melalui suatu pertemuan atau percakapan. Pertanyaan wawancara dibacakan dari kuesioner tentang pemanfaatan Ikan Pari. Kuesioner dilampirkan pada halaman lampiran laporan ini.

(20)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

4.1.1. Presentase Keberadaan Pari di Perairan Karimunjawa

Daerah perairan yang sering dijumpai Ikan Pari yaitu Pulau Kemujan dan Pulau Karimunjawa, tak jarang Ikan Hiu juga dijumpai oleh nelayan di Pulau Nyamuk, Pulau Sintok, Pulau Mejangan, Perairan Tengah dan Pulau Bengkoang.

Bahkan dari hasil survei, sebagian kecil juga pernah menjumpai di daerah luar kawasan Karimunjawa. Berikut grafik presentase keberadaan Pari di Perairan Karimunjawa.

Gambar 2. Presentase Keberadaan Pari di Perairan Karimunjawa 4.1.2. Persentase Pari Sebagai Target Penangkapan

Berdasarkan hasil wawancara 55 nelayan yang telah di survei, 95%

nelayan menyatakan bahwa mereka tidak sengaja apabila menangkap Ikan Pari, sedangkan sisanya yaitu 5% nelayan menyatakan sengaja menjadikan Ikan Pari sebagai target penangkapan. Berikut diagram presentasenya pada Gambar 2.

(21)

Gambar 2. Presentase Pari Sebagai Target Penangkapan 4.1.3. Presentase Alat Tangkap Pari

Hasil survei menyatakan sebagian besar nelayan di Desa Kemujan menggunakan alat tangkap berupa jaring dan pancing untuk mencari ikan, sebagian kecil menggunakan alat tangkap lain seperti tombak dan apolo. Berikut, grafik presentasenya.

Gambar 3. Presentase Alat Tangkap Pari

(22)

4.1.4. Presentase Penjualan Pari

Berdasarkan hasil kuesioner yang telah diolah, sebanyak 91% nelayan yang sengaja maupun tidak sengaja menangkap Ikan Pari tetap akan menjualnya namun tidak mengkonsumsi, dan sisanya sebanyak 9% nelayan tidak menjual dan Ikan Pari. Berikut grafik presentase terhadap penjualan Ikan Pari.

Gambar 4. Presentase Penjualan Pari 4.1.5. Presentase Harga Jual Pari

Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan, terdapat range harga jual Ikan Pari/kg. Berikut merupakan grafik presentase range harga jual Ikan Pari/kg.

Gambar 5. Presentase Harga Jual Pari

(23)

4.1.6. Presentase Jenis Pari Yang Ditemukan

Berdasarkan data kuesioner, jenis Ikan Pari yang paling sering dijumpai yaitu Myliobatiformes. Berikut grafik presentasenya.

Gambar 8. Presentase Jenis Pari Yang Ditemukan 4.2. Pembahasan

Berdasarkan hasil yang didapatkan, diketahui bahwa seluruh responden yang berjumlah 55 orang pernah menjumpai ikan pari. Ikan pari bisa dijumpai kapan saja karena populasi ikan pari masih cukup banyak sehingga dapat sering dijumpai. Kebanyakan responden mengatakan bahwa ikan pari dapat dengan mudah dijumpai di pinggir pantai, meski begitu ukuran ikan pari yang ditemukan di pinggir pantai tidak terlalu besar. Ikan pari biasa hidup di pasir atau di dasar perairan. Menurut hasil wawancara yang didapatkan, sebanyak 62% dari jumlah seluruh responden mengatakan pernah menjumpai ikan pari di sekitar Perairan Kemujan. Selanjutnya, sebanyak 21% responden mengatakan pernah menjumpai ikan pari di Perairan Karimunjawa. Sebanyak 2% menjumpai di Perairan Mejangan Besar, Sebanyak 3% menjumpai di Perairan Bengkoang, Sebanyak 5%

di Perairan Sintok, Sebanyak 2% di Perairan Tengah, 2% menjumpai di Perairan Nyamuk dan sebanyak 3% menjupai pari di luar Kawasan Taman Nasional Karimunjawa. Sebenarnya ikan pari dapat dijumpai dimana saja dan kapan saja karena ikan pari tidak terpengaruh musim.

(24)

Untuk menjadikan ikan pari sebagai target tangkapan bukanlah pilihan sebagian besar para nelayan di Pulau Kemujan. Dari hasil wawancara yang didapatkan tentang menjadikan pari sebagai target penangkapan, sebagian besar responden memilih untuk tidak menjadikan ikan pari sebagai target penangkapan mereka ketika sedang melaut. Sebanyak 95% responden dari total 55 responden, tidak menjadikan ikan pari sebagai target utama penangkapan ikan. Dan hanya sebesar 5% dari total 55 responden yang memang menjadikan ikan pari sebagai target penangkapan. Sebagian besar responden tidak menjadikan ikan pari sebagai target penangkapan dikarenakan harga ikan pari yang sangat rendah, sehingga mereka lebih memilih jenis ikan lain sebagai target utama mereka ketika melaut.

Sedangkan responden yang memilih untuk menjadikan ikan pari sebagai target penangkapan dikarenakan mereka memang menyukai ikan pari untuk dikonsumsi sendiri.

Alat yang digunakan untuk menangkap ikan pari pun beragam. Dilihat dari grafik alat tangkap pari, 57% responden menggunakan jaring, 29% menggunakan pancing, 0% untuk alat tangkap bubu dan sebanyak 14% menggunakan alat tangkap lainnya. Alat tangkap lainnya yang dimaksud kebanyakan adalah tombak.

Biasanya yang memakai alat tangkap lainnya atau semacam tombak ini adalah responden yang memilih untuk menjadikan ikan pari sebagai target penangkapan.

Sedangkan alat tangkap jaring dan pancing biasanya ikan pari tidak sengaja masuk kedalam jaring nelayan tersebut ataupun tidak sengaja terpancing alat pancing nelayan yang sedang digunakan untuk menangkap ikan lain. Ikan Pari yang tidak sengaja masuk jaring atau terpancing nelayan biasanya akan dijual maupun dikonsumsi tergantung ukuran ikan pari tersebut. Dari grafik diatas, sebanyak 91% responden memilih untuk menjual ikan pari yang tidak sengaja ditangkap. Dan sebanyak 9% memilih untuk tidak menjualnya dan dimanfaatkan sendiri. Pendapat beberapa nelayan yang mengonsumsi ikan pari, mengatakan rasa ikan pari cukup enak untuk dikonsumsi. Biasanya penduduk Pulau Kemujan memasak ikan pari sesuai keinginan mereka sebelum mengonsumsinya. Ada yang digoreng, dimasak mangut, dibakar dan sebagainya.

Harga untuk penjualan pari pun sangat beragam. Para responden berpendapat tentang harga jual ikan pari berdasarkan pengalaman mereka masing-masing.

(25)

Dilihat dari grafik harga jual ikan pari diatas, dapat diketahui sebanyak 30%

responden mengatakan harga pari berada pada range harga 0-5000 rupiah/kg. Lalu sebanyak 66% responden pada range harga 6000-10000 rupiah/kg, 2% responden pada range harga 11000-15000 rupiah/kg dan 2% responden pula pada range harga 16000-20000 rupiah/kg. Harga-harga tersebut adalah harga yang berlaku dipasaran dan harga yang ditawarkan pengepul ikan kepada nelayan nelayan yang menjual ikan pari. Harga yang ditawarkan tidak terlalu tinggi dikarenakan ikan pari yang biasanya tidak sengaja tertangkap berukuran kecil dan kurangnya minat dipasaran juga menjadi penyebab lain rendahnya harga pari tersebut.

Jenis-jenis ikan pari yang paling banyak di perairan Karimunjawa ada 4 jenis, antara lain yaitu Myliobatiformes, Rhinobatiformes, Pristiformes dan Squatiniformes. Paling banyak dijumpai yaitu jenis Myliobatiformes sebanyak 39%, Sebanyak 37% yaitu jenis Rhinobatiformes, 6% jenis Pristiformes dan 18%

adalah jenis Squitiniformes. Myliobatiformes di Pulau Kemujan biasa disebut sebagai Pari Manuk (Pari Burung), jenis Rhinobatiformes biasa disebut Pari Keke, Jenis Squatiniformes disebut dengan Pari jujunan dan Jenis Pristiformes disebut Pari Gergaji.

(26)

V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil data yang didapatkan, Ikan Pari di Pulau Kemujan seringkali tidak sengaja tertangkap oleh nelayan dan kemudian sebagian besar ikan pari tangkapan tersebut dijual kepada pengepul, tetapi adapula yang memilih untuk dikonsumsi sendiri. Karena rasa Ikan Pari yang cukup enak, penduduk Pulau Kemujan mengolahnya menjadi masakan untuk kemudian dimakan.

5.2. Saran

1. Sebaiknya pemanfaatan pari lebih ditingkatkan.

2. Harga jual ikan pari lebih bisa dinaikkan.

(27)

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2017. Balai Taman Nasional Karimunjawa.

Kinakesti, Sylvy Meyta dan G. Wahyudewantoro. 2017. Kajian Jenis Ikan Pari (Dasyatidae) di Indonesia. Fauna Indonesia, 16 (2) : 17-25.

Rahardjo, Priyanto. 2007. Pemanfaatan dan Pengelolaan Perikanan Cucut dan Pari (Elasmobranchii) di Laut Jawa. Institut Pertanian Bogor.

Sitohang, Risma Oktaviani. 2010. Pengaruh Jenis dan Kadar Tepung Terhadap Kualitas Fish Flakes Ikan Pari (Dasyatis sp.). Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

(28)

LAMPIRAN

(29)
(30)

DOKUMENTASI

Gambar 8. Survei dengan nelayan (Ketua RT Dusun Kemujan)

Gambar 9. Survei nelayan di Dermaga Pantai Hadirin

Gambar 10. Ketika wawancara salah satu nelayan di Pulau

Kemujan

(31)

Gambar 11. Proses pelepasan penyu bersama 2 Mahasiswa UIN Malang

Gambar 12. Survei nelayan di Dusun Batulawang

Gambar 13. Survei nelayan di Desa Mrican, Pulau Kemujan

Gambar 14. Ikan Pari yang dijual di Pengepul Ikan

(32)
(33)
(34)

RIWAYAT HIDUP

(35)

Nadya Oktavia, dilahirkan di Kota Semarang tepatnya di Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara pada hari minggu tanggal 18 oktober 1998. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Muslikhin dan Dian Novita. Penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar di SD Negeri Bandarharjo 02 di Kecamatan Semarang Utara pada tahun pada tahun 2010. Pada tahun itu juga peneliti melanjutkan Pendidikan di SMP Negeri 37 Semarang dan tamat pada tahun 2013. Kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 15 Semarang pada tahun 2013 dan seslesai pada tahun 2016. Pada tahun 2016 hingga sekarang, penulis melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri, tepatnya di Universitas Diponegoro, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan pada Program Studi Ilmu Kelautan.

Figur

Gambar 1. Ikan Pari; A. Sirip dada  yang menyatu dengan bagian depan kepala,  B.  Mata,  C.Lubang  bernafas,  D

Gambar 1.

Ikan Pari; A. Sirip dada yang menyatu dengan bagian depan kepala, B. Mata, C.Lubang bernafas, D p.13
Gambar 2. Presentase Keberadaan Pari di Perairan Karimunjawa  4.1.2. Persentase Pari Sebagai Target Penangkapan

Gambar 2.

Presentase Keberadaan Pari di Perairan Karimunjawa 4.1.2. Persentase Pari Sebagai Target Penangkapan p.20
Gambar 2. Presentase Pari Sebagai Target Penangkapan  4.1.3. Presentase Alat Tangkap Pari

Gambar 2.

Presentase Pari Sebagai Target Penangkapan 4.1.3. Presentase Alat Tangkap Pari p.21
Gambar 3. Presentase Alat Tangkap Pari

Gambar 3.

Presentase Alat Tangkap Pari p.21
Gambar 5. Presentase Harga Jual Pari

Gambar 5.

Presentase Harga Jual Pari p.22
Gambar 4. Presentase Penjualan Pari  4.1.5. Presentase Harga Jual Pari

Gambar 4.

Presentase Penjualan Pari 4.1.5. Presentase Harga Jual Pari p.22
Gambar 8. Presentase Jenis Pari Yang Ditemukan  4.2. Pembahasan

Gambar 8.

Presentase Jenis Pari Yang Ditemukan 4.2. Pembahasan p.23
Gambar  8.  Survei  dengan  nelayan  (Ketua  RT  Dusun  Kemujan)

Gambar 8.

Survei dengan nelayan (Ketua RT Dusun Kemujan) p.30
Gambar 11. Proses pelepasan penyu bersama 2 Mahasiswa UIN Malang

Gambar 11.

Proses pelepasan penyu bersama 2 Mahasiswa UIN Malang p.31

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :