• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

. Banyak faktor yang dijadikan tolak ukur keberhasilan pendidikan, salah satunya melihat keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar dalam mencapai tujuannya, baik tujuan institusional, tujuan kulikuler, maupun tujuan instruksional dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam khususnya, pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah.

Proses belajar mengajar merupakan hal yang paling utama dari proses pendidikan secara keseluruhan, proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan yang bernilain edukatif karena nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan peserta didik. Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam hal ini, guru sebagai peran utama dalam proses belajar mengajar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sitematis dengan memanfaatkan segala sesuatunya guna kepentingan pencapaian tujuan dalam pengajaranya. Moch Uzer usman (1995:4) menyatakan bahwa:

Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.

Tujuan tertentu dari pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah menengah pertama dalam kurikulum SMP bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, serta pengalaman peserta didik tentang agama islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

(2)

Pembelajaran adalah proses transformasi ilmu pengetahuan, dalam prosesnya terjadi interaksi yang intensif dengan melibatkan seluruh aspek-aspek fisik maupun psikis guru, siswa, dan lingkungannya. Keterlibatan aspek-aspek tersebut memudahkan siswa dalam memperoleh ilmu dan pengetahuan serta memudahkan guru dalam mentransfernya. Pembelajaran tidak hanya mentransformasikan ilmu pengetahuan, melainkan dapat merubah status siswa dari lack of knowledge to knowledge, dan keberhasilan proses pembelajaran ditunjukan dengan terjadinya perubahan sikap dan peerilaku serta peningkatan status pengetahuan dari tidak tahu menjadi tahu (Endang Purwanti, 2002:4)

Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam dibarengi dengan tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud persatuan bangsa (Abdul Majid dan Dian Andayani, 2004:130)

Berdasarakan uraian diatas proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama islam melalui bimbingan, pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. Jadi pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah diharapkan membentuk kesalehan pribadi dan sekaligus kesalehan sosial dan mampu mewujudkan ukhuwah islamiyah dalam arti luas.

Manusia, dimana pun dia berada, tidak dapat dipisahkan dari lingkungan, budaya, dan masyarakatnya. Karena pada hakikatnya setiap manusia diciptakan berbeda pemikiran, persepsi, dan visi menjadi sebuah kemakluman. Kemampuan menerima dan menghargai perbedaan harus dikembangkan sejak dini. Dengan kata lain, seorang anak harus belajar menerima dan menghadapi perbedaan pada kehidupan sosial. Modal anak untuk mengatasi perbedaan ini adalah social life skill (Sarlito Wirawan Sarwono,2013:1).

Salah satu bagian terpenting dalam sosial life skill menurut Goleman (2007) adalah empati. Empati merupakan inti emosi moral yang membantu anak

(3)

memahami perasaan orang lain. Empati membuatnya menjadi peka terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain, mendorongnya menolong orang yang kesusahan atau kesakitan, serta menuntutnya memperlakukan orang dengan kasih sayang. Empati yang kuat mendorong anak bertindak benar karena ia bisa melihat kesusahan orang lain sehingga mencegahnya melakukan tindkan yang dapat melukai orang lain. Kemampuan berempati merupakan kemampuan untuk paham, tenggang rasa dan memberikan perhatian kepada orang lain.

Kemampuan berempati menurut Wuryanano (2007:72) merupakan kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain. Semakin dalam rasa empati seseorang, semakin tinggi rasa hormat dan sopan santunnya kepada sesama. Biasanya orang yang memiliki sikap empati ini sangat peduli dan rela bertindak untuk memberikan bantuannya kepada siapa saja yang memang benar- benar harus dibantu.

Empati sangat diperlukan dalam membangun hubungan yang baik dalam masyarakt maupun antar teman sebaya siswa. Sikap empati dapat mengajarkan bagaimana cara memahami lingkungan, teman sebaya siswa. Menurut Allport, dia menyatakan bahwa empati adalah “the imaginative transposing of oneself into thinking, feeling, and acting of another.” Yaitu empati sebagai perubahan imajinasi seseorang ke dalam pikiran, perasaan, dan perilaku orang lain. Dia percaya bahwa empati berada di antara kesimpulan (infence) pada satu sisi, dan intuisi pada sisi lain. Sedangkan Carl Rogers empati adalah melihat kerangka berpikir internal orang lain secara akurat. Kedua, dalam memahami orang lain tersebut seolah-olah masuk dalam diri orang lain sehingga merasakan dan mengalami sebagaimana yang dirasakan dan dialami orang lain, tetapi tanpa kehilangan identitas dirinya sendiri (Taufik, 2012:39-40).

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa empati merupakan suatu aktivitas untuk memahami apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan orang lain, serta apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh yang bersangkutan terhadap kondisi yang sedang dialami orang lain, tanpa yang bersangkutan kehilangan kontrol.

Sikap empati memberikan kontribusi terhadap perkembangan moral dan karakter

(4)

siswa. Merasakan empati berarti beraksi terhadap perasaan orang lain dengan respon emosional yang mirip dengan perasaan orag lain tersebut.

Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan dan hasil wawancara bersama guru PAI di SMPN 4 Kuningan dalam proses pembelajarannya cukup baik, seperti biasa guru memberikan materi atau pelajaran sesuai dengan RPP yang sudah di buat. Adapun Kegiatan belajar atau proses pembelajaran tidak hanya di ruangan kelas saja, tetapi sering kali di luar kelas disesuaikan dengan materi pengajarannya. Kemudian untuk penyampaian materinya yang akan disampaikan kepada siswa-siswi sudah menggunakan metode-metode yang menarik banyak perhatian siswa-siswi, namun dalam hal ini media yang dipergunakan guru untuk mengoptimalkan metode-metode pembelajaran sangat kurang. karena sarana terbatas.

Proses dalam pembelajaran dikelas, seperti biasa guru menyampaikan atau memberikan pelajaran siswa-siswi memperhatikan materi dengan baik, bertanya ketika ada sesuatu yang tidak dimengerti dalam materi yang disampaikan guru, dan mengerjakan tugas dengan baik sesuai apa yang diperintahkan guru. meskipun ada saja sebagian anak yang memang tidak memperhatikan atau menghiraukannya pelajaran atau materi yang disampaikan guru dan tidak mengerjakan tugas sesuai apa yang diperintahkan guru.

Setelah peneliti melakukan pengamatan lebih mendalam di SMPN 4 Kuningan, ketika pembelajaran selesai dilakukan kondisi siswa-siswi dilingkungan sekolah ada sebagian siswa yang masih memiliki perilaku yang tidak baik. Misalnya siswa kurang memahami dan peka terhadap perasaan orang lain, seperti bullying. Tindakan bullying di lingkungan sekolah menjadi bukti bahwa tingkat agresifitas siswa semakin meningkat dan rasa empati terhadap sesama semakin memudar. Dalam faktanya perilaku bullying di Indonesia sendiri, berdasarka hasil penelitian Sejiwa tahun 2008 terhadap sekitar 1.200 orang pelajar di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya menunjukan angka kejadian bullying di SMA sebesar 67,9% dan SMP sebesar 66,1%.

Hasil wawancara dengan guru BK dan salah seorang siswi pada hari Kamis, 8 September 2016 ada masalah lain yang ditemukan di lingkungan sekolah.

(5)

Menurut guru BK perilaku empati masih kurang dimiliki oleh siswa-siswi disini, ditunjukan dengan kurangnya memahami perasaan orang lain, kurangnya sopan santun siswa dan sering adanya perselisihan antara siswa karena saling mengejek, serta siswa bergaul dengan berkelompok seperti perbedaan dari segi harta, sikap dan tingkah laku. dampaknya adanya siswa yang tidak percaya diri (minder) dalam bergaul karena teman-temannya hanya merespon dengan sepadannya, yang melatarbelakangi siswa tersebut berprilaku memilih bergaul dengan berkelompok mereka mengatakan bahwa karena memilih milih teman berdasarkan kemauan dan kehendak mereka sendiri, mereka beranggapan “ketika orang itu baik, bagus akhlaknya kita deketin, tapi kalau orangnya sombong, angkuh, acuh tak acuh, egois kita hindari” tetapi ada yang beranggapan juga “ketika seseorang itu dikatakan baik atau buruk harusnya tetap ditemani”.

Jadi dapat disimpulkan bahwa ketika siswa sudah belajar Pendidikan Agama Islam, siswa tersebut dapat memahami serta menerapkan perilaku-perilaku yang sudah diajarkan dan diketahuinya, maka siswa tersebut itu akan berperilaku secara tepat dan menerapkan dalam kehiduapn sehari-hari. Maka dari itu sangat penting pembinaan dalam menciptakan akhlak sosial siswa terutama perilaku empatinya.

Karena perilaku empati dapat membentuk hubungan sosial yang baik terutama dalam hal menghargai, menyayangi dan menghormati orang lain

B. Wilayah Penelitian

Wilayah penelitian dalam penelitian ini adalah proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).

C. Identifikasi Masalah

Berdasarkan variabel yang dijadikan tema dalam penelitian, maka dapat di identifikasi pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1) Bagaimana pembelajaran (proses belajar mengajar) Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Kuningan?

2) Apakah pembelajaran Pendidikan Agama Islam berdampak positif terhadap perilaku empati siswa di SMP Negeri 4 Kuningan?

(6)

3) Bagaimana perilaku empati siswa di SMP Negeri 4 Kuningan Kecamatan Kuningan Kabupaten Kuningan?

4) Faktor apa yang paling dominan berpengaruh dalam perilaku empati pada pembelajaran (proses belajar mengajar) Pendidikan Agama Islam?

5) Bagaimana pengaruh antara pembelajaran (proses belajar mengajar) Pendidikan Agama Islam terhadap perilaku empati siswa di SMP Negeri 4 Kuningan Kecamatan Kuningan Kabupaten Kuningan?

D. Pembatasan Masalah

Untuk memberikan kejelasan makna serta menghindari meluasnya pembahasan, maka peneliti membatasi masalah pada nomor 1, 3 dan 5.

E. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:

a. Bagaimana pembelajaran (proses belajar mengajar) Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Kuningan?

b. Bagaimana Perilaku Empati siswa kelas VIII di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Kuningan?

c. Bagaimana pengaruh pembelajaran (proses belajar mengajar) Pendidikan Agama Islam (PAI) terhadap perilaku empati siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Kuningan?

F. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

1. Memperoleh data tentang pembelajaran (proses belajar mengajar) Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Kuningan.

2. Memperoleh data tentang perilaku empati siswa kelas VIII di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Kuningan.

(7)

3. Memperoleh data tentang pengaruh pembelajaran (proses belajar mengajar) Pendidikan Agama Islam (PAI) terhadap perilaku empati siswa.

G. Manfaat/Kegunaan Penelitian

Dalam penelitian yang dilakukan penulis, diharapkan adanya beberapa manfaat antara lain :

1. Manfaat bagi siswa

a. Memperbaiki Perilaku Empati siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Kuningan.

b. Siswa lebih memahami tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

c. Siswa dapat mengamalkan perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

2. Manfaat bagi peneliti

a. Untuk mengetahui pengaruh (proses belajar mengajar) Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) terhadap perilaku empati siswa.

b. Untuk menambah dan memperluas wawasan tentang masalah pendidikan Agama Islam.

c. Melatih berfikir atas dasar penyesuaian teori dan praktek.

H. Kerangka Pemikiran

Dalam kamus besar bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2003:849) makna dari kata pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.

Menurut Moh user Usman (2001:5) belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu dan individu dengan lingkungannya, perubahan yang berarti bahwa seseorang setelah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya,

(8)

maupun aspek sikapnya. Belajar pada dasarnya merupakan suatu proses kegiatan untuk mewujudkan perubahan pada keseluruhan aspek pribadi manusia. Belajar bukan meruapakan konsekuensi otomatis dari penyampaian informasi kedalam kepada seorang peserta didik, namun membtuhkan keterlibatan mental dan tindakan peserta didik itu sendiri. Belajar dikatakan berhasil apabila siswa dalam melakukan kegiatan berlangsung secara intensif dan optimal sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang bersifat tetap. Hal ini selaras dengan pendapat Donald (Hamalik, 2003:48) bahwa pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang bertujuan menghasilkan tingkah laku manusia.

Tujuan proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang diinginkan pada diri siswa. Tujuan pengajaran inilah yang merupakan hasil belajar bagi siswa setelah melakukan proses belajar di bawah bimbingan guru dalam kondisi yang kondusif, maka jelas bahwa tujuan proses belajar mengajar adalah ingin mendpatkan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman, sikap mental nilai-nilai berkenaan dengan itu pula pencapaian tujuan proses belajar mengajar berarti akan menghasilkan suatu ilmu pengetahuan konsep atau sikap kelakuan, ketampilan atau penampilan.

Dalam proses belajar mengajar terdapat beberapa komponen atau aspek diantaranya adanya guru, peserta didik, materi pelajaran dan tujuan pelajaran, dalam hal ini materi pun sangat dibutuhkan, materi dalam pendidikan agama islam di SMP salah satunya perilaku empati dengan tema berempati itu mudah menghormati itu indah, dengan tujuan pembelajaran peserta didik mampu menunjukan contoh perilaku empati terhadap sesama, mampu menampilkan perilaku empati terhadap sesama. Melalui Pendidikan Agama Islam, diharapkan siswa lebih memahami nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama Islam sendiri, dimana agama Islam mengajarkan kepada umat muslim agar dapat hidup seimbang antara kebutuhan dunia dan kebutuhan akhiratnya. Karena membentuk perilaku siswa saja belum cukup dalam membina siswa, maka dari itu diperlukan perilaku yang dapat menciptakan hubungan baik dengan sesama manusia, karena manusia sendiri merupakan makhluk social, dimana jiwanya pun harus selaras dengan perbuatannya dalam hidup bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

(9)

Hakekat manusia pada umumnya adalah sebagai makhluk individu dan makhluk social. Makhluk social di artikan sebagai hidup bermasyarakat atau berdampingan dengan manusia lainnya dalam sebuah lingkungan masyarakat atau yang sering disebut dengan bersosialisasi. Seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan terutama lingkungan sosialnya, bahkan seseorang tidak dapat berkembang baik tanpa hidup di dalam lingkungan social. pribadi yang mampu mengatur diri dalam hubungannya terhadap orang lain menurut Nina (2012:206) memiliki ciri-ciri kepribadian pokok yaitu: mau berkarya dan menyumbang serta mau memberi dan menerima, memandang baik diri sendiri dan orang lain, signifikan dan berharga bagi orang lain, memenuhi kebutuhan sendiri tanpa harus mengganggu atau mengorbankan orang lain.

Daniel Goleman (2007:48) menyatakan bahwa “keberhasilan hidup seseorang, dalam hal ini keberhasilan berperilaku sosial yang positif bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual semata akan tetapi banyak dipegaruhi oleh kecerdasan emosional”. Senada dengan Karen Arnold memperlihatkan banyak bukti bahwa “orang yang secara emosional cakap mengetahui serta menangani perasaan mereka sendiri dengan baik dan mampu membaca serta menghadapi perasaan orang lain dengan efektif memiliki keuntungan dalam bidang kehidupan”

Dengan demikian jelas bahwa perilaku sosial memiliki pengaruh yang besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang selain adanya kecerdasasan intelektual. Perilaku sosial merupakan salah satu aspek non kognitif yang seringkali dilupakan peranannya. Indikasi perilaku sosial yang baik adalah seperti sopan santun, saling tolong-menolong, memberi sedekah, suka bekerjasama, menghormati orang tua, melestarikan lingkungan, tidak memaksakan kehendak kepada orang lain akan memperoleh penyesuaian yang baik dimasyarakat dan bisa diterima masyarakat serta terciptanya keharmonisan hubungan antar sesama.

Sebaliknya, orang yang cerdas secara intelektual akan tetapi tidak tahu bagaimana bergaul, egois, ingin menang sendiri, tidak menghargai oranglain, tidak akan diterima baik oleh masyarakat dalam pergaulannya.

Dan ketika seseorang dikatakan baik dalam hubungan socialnya, karena adanya perilaku yang mencerminkan seseorang itu dapat memahami,

(10)

menghormati dan menyayangi orang lain. Contohnya perilaku yang berada dalam lingkungan masyarakat (social) ialah empati. Sikap empati merupakan salah satu perilaku sosial yang pelaksanaannya mulai mengalami degradasi dikalangan pelajar. Kebanyakan siswa kurang peduli terhadap kondisi ataupun perasaan temannya bahkan istilah empati hanya menjadi sekedar tindakan tanpa adanya panggilan jiwa yang tulus dari dalam diri. Perilaku empati perlu dimiliki oleh setiap individu, karena empati sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari agar kita bisa mengerti dan memahami keadaan orang lain.

Carl Rogers (dalam Taufik, 2012:40) menyebutkan bahwa “sikap empati adalah suatu proses di mana seseorang berpikir mengenai kondisi orang lain yang seakan akan dia berada pada posisi orang lain itu sehingga bisa merasakan dan mengalami sebagaimana yang dirasakan dan dialami orang lain itu, tetapi tanpa kehilangan identitas dirinya sendiri”. Sikap empati membuat seseorang menjadi tahu bagaimana kondisi psikologis orang lain, sehingga seseorang dapat memahami apa yang sedang dipikirkan dan dirasakannya. Pemahaman ini akan menjadi tali perekat dalam hubungan sosial, dan meningkatkan kualitas hubungan.

Menurut Eisenberg (dalam Taufik,2012:43) dalam proses individu berempati melibatkan aspek afektif dan kognitif. Aspek afekif merupakan kecenderungan seseorang untuk mengalami perasaan emosional orang lain yaitu ikut merasakan ketika orang lain merasa sedih, menangis, terluka, menderita bahkan disakiti sedangkan aspek kognitif dalam empati difokuskan pada proses intelektual untuk memahami perspektif orang lain dengan tepat dan menerima pandangan mereka, misalnya membayangkan perasaan oranglain ketika marah, kecewa, senang, memahami keadaan orang lain dari cara berbicara, dari raut wajah dan cara pandang dalam berpendapat.

Berdasarkan pemaparan di atas, bahwa dalam pembelajaran (proses belajar mengajar) Pendidikan Agama Islam dapat memberikan pengaruh terhadap perilaku empati siswa, sehingga penting bagi seorang guru untuk bisa berorientasi pada aspek pengamalan ajaran agama yaitu mampu menerapkan atau membina dan membimbing dalam perilaku empati siswa.

(11)

Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen adalah pembelajaran (proses belajar mengajar) pendidikan Agama Islam sebagai variabel X dan variabel dependennya adalah perilaku empati sebagai variabel Y. Penelitian ini ingin membuktikan ada tidaknya pengaruh yang signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen yaitu pembelajaran pendidikan Agama Islam pengaruhnya terhadap perilaku empati siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Kuningan Kecamatan Kuningan Kabupaten Kuningan. Dengan demikian, berdasarkan penjelasan diatas, kerangka dapat diskemakan sebagai berikut:

Skema 1

Pembelajaran (Proses Belajar Mengajar) Pendidikan Agama Islam Pengaruhnya terhadap Perilaku Empati

Proses Belajar mengajar

1. Guru 2. Siswa

3. Tujuan pembelajaran 4. Materi

5. Metode 6. Media 7. Evaluasi

Perilaku Empati

1. Memahami kehilangan yang dirasakan orang lain

2. Mengenali kekecewaan orang lain 3. Memahami perbedaan perasaan

orang lain

4. Menerima sikap orang lain 5. Menyelami perasaan orang lain 6. Merasa sedih terhadap orang lain 7. Prihatin terhadap kondisi yang tidak

menyenangkan pada orang lain 8. Merasa gusar akibat ketidakadilan

yang dirasakan orang lain

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil pengamatan proses belajar mengajar di kelas X SMA Al- Islam 1 Surakarta dan SMA Muhammadiyah 1 Surakarta yang dilakukan tanggal 24 September 2015,

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka permasalahan yang diangkat adalah : Adakah hubungan antara prestasi belajar pendidikan agama Islam terhadap akhlak

Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, mampu membaca Al-Qur’an dengan pengucapan yang fasih merupakan modal yang sangat penting sebagai pintu gerbang

Diharapkan dengan penerapan video sebagai media pembelajaran jarak jauh pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), siswa memiliki hasil prestasi belajar yang baik

Minat belajar peserta didik dalam proses belajar mengajar adalah suatu perasaan atau rasa ketertarikan pada mata pelajaran atau proses belajar mengajar yang memunculkan

Oleh karena itu, untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan perubahan pola pikir yang digunakan sebagai landasan pelaksanaan kurikulum masa lalu, proses belajar

Agar siswa dapat memahami pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan baik meskipun dilakukan melalui pembelajaran daring, maka diperlukannya suatu aktivitas belajar, dan pada

Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar Aqidah Akhlak adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head