commit to user
28 BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Sampel dan Variabel
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh transaksi pihak berelasi terhadap nilai perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI (Bursa Efek Indonesia) dalam kurun waktu 2013- 2017. Data penelitian diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahaan dengan mengunduh di laman www.idx.co.id. Berdasarkan kriteria purposive sampling yang telah
ditetapkan, diperoleh sampel 360 data observasi yang terdiri dari 72 perusahaan dengan data lengkap dari tahun 2013- 2017.
Tabel 4.1
Hasil Pengambilan Sampel
No. Kriteria Sampel Jumlah
1.
2.
3.
4.
Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2013-2017.
Perusahaan yang terdaftar di BEI yang laporan keuangannya tidak lengkap dan tidak dapat diperoleh selama tahun 2013-2017.
Perusahaan yang terdaftar di BEI yang tidak mengungkapkan transaksi dengan pihak berelasi selama periode 2013-2017.
Perusahaan yang terdaftar di BEI dengan data tidak lengkap mengenai pengukuran variabel yang diteliti pada tahun 2013-2017.
765
(35)
(365)
(5)
Jumlah data observasi 360
commit to user 4.2 Hasil Uji Statistik Deskriptif
Statistika deskriptif pada penelitian ini bertujuan memberi deskripsi informasi yang dipilih dengan karakteristik variabel-variabel dalam penelitian. Nilai RPTL dan ukuran perusahaan (penjualan) menggunakan nilai asli untuk menghasilkan hasil tabel yang bermakna. Statistika deskriptif dalam penelitian ini diantaranya ialah, jumlah sampel, nilai rata-rata (mean), maksimum, minimum, dan standar deviasi.
Tabel 4.2
Hasil Uji Statistik Deskriptif
PBV RPTL SIZE LEV PRO
Mean Maksimum Minimum Std. Dev.
3.2031 66.400 0.0800 7.617
0.1199 1.1536 0.0003 0.1872
12043819 206057000
12043819 2702559
0.5076 2.7669 0.0066 0.3725
0.0897 1.3660 -1.757 0.2234
Observations 360 360 360 360 360
Sumber: Data diolah, 2019
Keterangan: PBV = variabel dependen, Price to Book Value; RPTL = variabel independen, Related Party Transaction Liabilities; LN_SIZE = variabel kontrol, ukuran perusahaan yang diukur dengan menggunakan proporsi Logaritma natural total penjualan; LEV = variabel kontrol, leverage dihitung dengan membandingkan total utang terhadap total aset; PRO = variabel kontrol, profitabilitas diukur dengan menggunakan proporsi Return on Equity (ROE).
commit to user
Berdasarkan hasil uji statistika deskriptif yang telah disajikan pada tabel 4.2 perusahaan manufaktur yang digunakan sebagai sampel pada penelitian ini sebanyak 360.
Variabel nilai perusahaan (PBV) menunjukkan nilai rata-rata sebesar 3,203. Hal ini menunjukkan bahwa para investor menilai tinggi rata-rata perusahaan manufaktur di Indonesia, dimana harga saham perusahaan dinilai 3 kali lebih tinggi dari nilai bukunya. Variabel nilai perusahaan memiliki nilai maksimal sebesar 66,40, nilai minimal sebesar 0,08 dan memiliki standar deviasi sebesar 7,617.
Variabel transaksi pihak berelasi (RPTL) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,12. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan manufaktur yang menjadi sampel dalam melakuan transaksi neraca, liabilitas khususnya akun utang sebesar 12% dilakukan dengan pihak berelasi. Variabel transaksi pihak berelasi memiliki nilai maksimum sebesar 1,1536 dan nilai minimal sebesar - 0,0003 dan memiliki standar deviasi sebesar 0,1872.
Variabel ukuran perusahaan (SIZE) memiliki nilai rata-rata sebesar 12.043.819. Nilai maksimal sebesar 206.057.000 serta nilai minimal sebesar 12.043.819 dan memiliki standar deviasi dari sebesar 2.702.559.
Variabel leverage (LEV) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,5076. Hal ini menunjukkan bahwa hampir setengah dari jumlah perusahaan manufaktur di Indonesia menerapkan kebijakan yang seimbang antara struktur hutang yang dibiayai sendiri dengan dibiayai asing. Variabel Leverage memiliki nilai
commit to user
maksimal sebesar 2,7669, nilai minimal sebesar 0,0066 dan standar deviasi sebesar 0,3725.
Variabel profitabilitas yang diproksikan dengan ROE (PRO) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,0897. Hal ini menunjukkan bahwa semakin rendah nilai ROE maka semakin rendah juga kinerja perusahaan dan profitabilitasnya sehingga mengindikasikan bahwa perusahaan manufaktur di Indonesia hanya membagikan sedikit atau bahkan tidak akan membagikan dividen kepada pemegang saham minoritas. Variabel profitabilitas memiliki nilai maksimal sebesar 1,3660 dan nilai minimal sebesar -1,757 serta standar deviasi sebesar 0,2234.
4.3 Pemilihan Model Estimasi Nilai Perusahaan 4.3.1 Uji Chow
Uji Chow atau uji F Restricted dilakukan untuk menentukan model Common Effect atau model Fixed Effect yang akan digunakan dalam
penelitian. Apabila nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05(<0,05) maka model yang dipilih adalah model Fixed Effect. Namun, apabila nilai probabilitas lebih besar dari 0,05 (>0,05) maka model yang dipilih adalah model Common Effect.
Tabel 4.3 Hasil Uji Chow
Effect Test Statistic d.f Prob.
Cross-section F
Cross-section Chi-square
6.603829 350.971472
(71,284) 71
0.0000 0.0000 Sumber: Data diolah, 2019
commit to user
Berdasar tabel 4.3, hasil uji chow menunjukkan bahwa model Fixed Effect dianggap lebih cocok digunakan sebagai model regresi dibandingkan
dengan model Common Effect dalam penelitian ini, karena nilai probabilitas yang diperoleh sebesar 0,0000 atau lebih kecil dari 0,050 dan dapat dikatakan signifikan.
4.3.2 Uji Hausman
Uji Hausman dilakukan untuk menentukan model regresi yang lebih baik antara menggunakan Fixed Effect atau Random Effect. Penentuan model didasarkan pada nilai probabilitas. Apabila nilai probabilitas lebih kecil dari nilai 0,05 (<0,05) maka model Fixed Effect yang dipilih. Namun, apabila nilai probabilitas lebih besar daripada 0,05 (>0,05) maka akan dipilih model Random Effect (Gujarati & Porter, 2009).
Tabel 4.4 Hasil Uji Hausman
Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. d.f Prob.
Cross-section random 103.495922 4 0.0000
Sumber: Data diolah, 2019
Hasil Uji Hausman berdasar tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa nilai probabilitas yang dihasilkan ialah sebesar 0,0000. Nilai ini lebih kecil dari 0,050 (<0,050), maka model regresi yang cocok digunakan dalam penelitian ini adalah model Fixed Effect. Menurut Winarno (2007), metode Fixed Effect merupakan model estimasi dengan metode Ordinary Least Square (OLS)
commit to user
yang memiliki sifat ideal sesuai teorama Gauss- Markov. Oleh karena itu, masalah asumsi klasik dalam penelitian ini telah teratasi.
4.4 Pengujian Hipotesis
Tabel 4.5
Hasil Pengujian Regresi
Variable Coefficient Std Error t-Statistic Prob.
LN_RPTL LN_SIZE LEV PRO C
-1,1388 0.3928 -0.9735 -1.5292 -11.155
0.3192 0.8301 1.5717 1.8629 23.971
-3.5678 0.4732 -0.6194 -0.8208 -0.4653
0.0004 0.6364 0.5361 0.4124 0.6420
R-squared
Adjusted R-squared Sum squared resid Log likelihood F-statistic
Prob (F-statistic)
0.7589 0.6952 5022.4 -985.2 11.919 0.0000
Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter Durbin-Watson stat
3.2031 7.6174 5.8956 6.7160 6.2218 1.7039 Sumber: Data diolah, 2019
Hasil pengujian regresi menunjukkan nilai adjusted R-square sebesar 0,6952 atau 69,52%, maka dapat disimpulkan bahwa variabel independen transaksi pihak berelasi yang diukur dengan Ln RPTL mampu menjelaskan variabel dependen yaitu nilai perusahaan sebesar 69,52% dan sisanya sebesar 30,48% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam model penelitian.
Nilai F hitung sebesar 11,919 dengan tingkat signifikansi 0,0000 (<0,05).
Hasil tersebut menunjukkan bahwa model regresi yang diterapkan pada penelitian dianggap sudah layak untuk digunakan untuk memprediksi variabel
commit to user
dependen, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel transaksi pihak berelasi berpengaruh signifikan terhadap variabel nilai perusahaan.
4.4.1 Pembahasan Hasil dan Analisis
Hasil uji regresi yang telah dilakukan dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisis hipotesis yang telah diajukan apakah akan diterima atau ditolak. Rasio Price to Book Value (PBV) yang diperoleh dengan cara membagi harga penutupan saham terhadap nilai buku per lembar saham merupakan proksi dari variabel nilai perusahaan.
Variabel transaksi pihak berelasi diproksikan dengan Ln Related Party Transaction Liabilities (RPTL) yang diperoleh dari hasil pembagian antara
total transaksi liabilitas dengan pihak berelasi terhadap total liabilitas perusahaan. Seluruh hasil perhitungan tersebut diinput dalam tabel tabulasi dengan Ms. Excel dan kemudian diolah menggunakan program Eviews 9.
Hasil pengujian hipotesis terhadap variabel transaksi pihak berelasi melalui Ln RPTL dalam penelitian ini berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Pada tabel 4.5 variabel Ln RPTL menunjukkan nilai koefisien sebesar -1,138 dan nilai probabilitasnya 0,0004.
Nilai probabilitas tersebut kurang dari 0,05 (tingkat signifikansi 5%).
Hal ini berarti bahwa jika suatu perusahaan melakukan transaksi pihak berelasi khususnya transaksi liabilitas yang dilakukan dengan pihak berelasi, maka nilai PBV akan menurun. PBV yang rendah menunjukkan bahwa kinerja perusahaan dinilai rendah oleh para investor. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa investor bereaksi dengan adanya transaksi perusahaan
commit to user
yang dilakukan dengan pihak berelasi dan menilai rendah suatu perusahaan.
Berdasarkan hasil uji regresi tersebut maka dapat dikatakan bahwa hipotesis pada penelitian ini yaitu transaksi pihak berelasi berpengaruh secara negatif terhadap nilai perusahaan dapat diterima.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Kohlbeck dan Mayhew, (2010) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif antara perusahaan yang bertransaksi dengan pihak berelasi dan valuasinya. Dimana secara keseluruhan, bukti menunjukkan bahwa pasar di Amerika memberikan nilai yang lebih rendah kepada perusahaan yang terlibat dalam transaksi dengan pihak berelasi yang relatif sederhana termasuk utang dan piutang.
Penelitian Tambunan et al., (2017) meneliti pengaruh transaksi pihak berelasi terhadap nilai perusahaan di Indonesia tahun 2006-2013 juga menemukan bahwa transaksi pihak terkait atas pinjaman, piutang, dan ukuran perusahaan secara signifikan memiliki pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.
Perusahaan yang melakukan praktik transaksi liabilitas dengan pihak berelasi mempunyai tingkat penilain yang lebih rendah. Hasil ini dapat dijelaskan menggunakan saran Utama (2014) yang menyatakan karena lingkungan kelembagaan di Indonesia yang tidak kondusif cenderung mendorong perusahaan untuk terlibat dalam praktik transaksi dengan pihak berelasi untuk mencapai efisiensi.
Dengan kondisi demikian, biaya yang harus dikeluarkan perusahaan kepada pihak eksternal relatif tinggi untuk pihak ketiga maupun debitur dan
commit to user
kreditor. Hal ini mendorong perusahaan untuk melakukan pinjaman pada pihak berelasi. Praktik tersebut diikuti dengan pengungkapan kebijakan dan kewajaran transaksi dengan pihak berelasi pada laporan keuangan, dengan pengungkapan ini para investor mampu melihat bahwa transaksi dengan pihak berelasi yang dilakukan suatu perusahaan tidaklah efisien jika perusahaan gagal dalam mengungkapkan harga transaksi, sehingga menurunkan nilai perusahaan.
Selain kegagalan perusahaan dalam mengungkapkan kebijakan transaksi dengan pihak berelasi, juga terdapat pandangan bahwa transaksi pihak berelasi cenderung menimbulkan konflik bunga antara manajer atau dewan direksi dan pemegang saham yang juga akan berdampak negatif terhadap nilai perusahaan (Magdalena dan Dananjaya, 2015).
Hal ini tentu dapat terjadi di perusahaan manufaktur Indonesia, ditambah lagi dengan adanya kasus- kasus pengambilalihan aset perusahaan oleh pihak dalam melalui transaksi dengan pihak berelasi, dimana pinjaman yang diberikan pada pihak berelasi biasanya memiliki tingkat pengembalian yang negatif. Situasi tersebut meningkatkan kehawatiran para investor, sehingga mereka semakin berhati-hati dalam menentukan keputusan investasi pada perusahaan yang melakukan praktik transaksi dengan pihak berelasi, apakah wajar atau tidak.
Terlebih lagi dalam era globalisasi saat ini, dimana terdapat ruang yang luas bagi para investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan di berbagai negara. Untuk itu mereka kian cermat dalam melakukan penilaian
commit to user
perusahaan. Dengan langkah penilaian tersebut, investor berharap dapat mengambil keputusan investasi terbaik untuk menghasilkan keuntungan yang maksimal. Hal ini tentu mejadi pemicu perusahaan untuk lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi dengan pihak berelasi agar tercipta efisiensi dan meningkatkan nilai perusahaan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan yang melakukan praktik transaksi dengan pihak berelasi memiliki tingkat penialian yang lebih rendah dengan rasio PBV. Perusahaan dianggap menggunakan kebijakan transaksi pihak berelasi sebagai alat pengambilalihan aset perusahaan oleh pihak dalam perusahaan yang bersifat oportunistik. Adanya pengambilalihan tersebut akan berpengaruh pada laba perusahaan dan menurunkan besarnya dividen yang akan dibagikan pada pemegang saham, dalam hal ini jelas yang dirugikan adalah para pemegang saham minoritas.
Hal ini menunjukkan bahwa transaksi liabilitas pihak berelasi yang dilakukan perusahaan manufaktur di Indonesia tidak benar- benar dilakukan untuk alasan efisiensi. Dengan melakukan pijaman pada pihak berelasi, perusahaan akan mendapat keuntungan pada besarnya biaya transaksi yang lebih rendah dan menurunkan tingkat monitor dari pihak ketiga. Namun keuntungan tersebut malah dijadikan sebagai jembatan pihak dalam untuk tidak mengembalikan pinjaman ataupun menentukan tingkat bunga pengembalian sesuai ketentuan mereka demi keuntungan pribadi karena tidak ada yang mengawasi.
commit to user
Namun demikian, hasil ini berbanding lurus dengan penelitian David et al.,(2013) yang menunjukkan bahwa transaksi pihak berelasi mempunyai
pengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Dalam hal ini transaksi dengan pihak berelasi dinyatakan bermanfaat bagi nilai perusahaan, dimana perusahaan di Cina menopang pendapatan melalui penjualan pihak berelasi dengan pemegang saham pengendali mereka. Perusahaan-perusahaan ini menggunakan pendapatan dari penjualan pihak berelasi untuk membuat regulator yakin tentang target untuk mempertahankan status listing mereka.
Jadi dapat dikatakan bahwa pengaruh transaksi liabilitas pihak berelasi bisa berpengaruh negatif karena transaksi tersebut dianggap tidak wajar, dijadikan sebagai jembatan pengambilalihan aset perusahaan oleh pihak dalam dengan penentuan bunga pinjaman yang menguntungkan mereka.
Melalui penentuan bunga pinjaman yang tinggi, beban perusahaan akan semakin meningkat dan berakibat pada kecilnya laba yang diperoleh sehingga pada akhirnya dividen yang diberikan pada pemegang saham minoritas khususnya akan semakin kecil.
Pada tabel 4.5 dapat dilihat bahwa variabel kontrol yang digunakan yaitu ukuran perusahaan, leverage, dan profitabilitas. Nilai koefisien dari LN_SIZE bernilai positif sebesar 0,3928 dengan nilai probabilitas sebesar 0,6364. Nilai tersebut menunjukkan bahwa nilai probabilitas lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05 sehingga variabel kontrol ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan dengan pengukuran PBV.
commit to user
Koefisien dari variabel kontrol leverage adalah negatif dengan nilai 0,9735 dan nilai probabilitas sebesar 0,5361. Nilai probabilitas tersebut lebih besar dari tingkat signifikansi yaitu 0,05. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tidak ada pengaruh antara variabel leverage terhadap nilai perusahaan.
Koefisien dari variabel kontrol profitabilitas (ROE) adalah negatif dengan nilai 1,5292 dan nilai probabilitas sebesar 0,4124 yang lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05. Sehingga variabel profitabilitas juga tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan dengan mengunakan pengukuran PBV.