IMPLEMENTASI PROGRAM PENGUATAN KELUARGA OLEH YAYASAN SOS CHILDREN’S VILLAGE DI DESA SIDOMULYO
KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sosial
Universitas Sumatera Utara
Oleh:
ESTER SILVIANA DACHI 140902090
DEPARTEMEN KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
IMPLEMENTASI PROGRAM PENGUATAN KELUARGA OLEH YAYASAN SOS CHILDREN’S VILLAGE DI DESA SIDOMULYO
KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN
SKRIPSI
Diajukan Sebagia Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dalam Program Studi Kesejahteraan Sosial
Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Oleh
ESTER SILVIANA DACHI 140902090
DEPARTEMEN KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
Judul Skripsi : IMPLEMENTASI PROGRAM PENGUATAN KELUARGA OLEH YAYASAN SOS CHILDREN’S VILLAGE MEDAN DI DESA SIDOMULYO
KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN Nama Mahasiswa : Ester Silviana Dachi
Nim : 140902090
Departemen/Prodi : Kesejahteraan Sosial
Menyetujui, DOSEN PEMBIMBING
Fajar Utama Ritonga, S.Sos, M.Kesos NIP. 198606022017041001
KETUA DEPARTEMEN
Agus Suriadi, S.Sos., M.Si.
NIP. 196708081994031004
WAKIL DEKAN I FISIP USU
Husni Thamrin, S.Sos., MSP.
NIP. 197203082005011001
Telah diuji pada
Tanggal: September 2018
PANITIA PENGUJI SKRIPSI Ketua :
Anggota : 1.
2.
PERNYATAAN
JUDUL SKRIPSI
IMPLEMENTASI PROGRAM PENGUATAN KELUARGA OLEH YAYASAN SOS CHILDREN’S VILLAGE
DI DESA SIDOMULYO KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN
Dengan ini penulis menyatakan bahwa skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial pada Program studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian skripsi ini bukan hasil karya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Medan, Agustus 2018 Penulis
Ester Silviana Dachi Materai
6000
IMPLEMENTASI PROGRAM PENGUATAN KELUARGA OLEH YAYASAN SOS CHILDREN’S VILLAGE DI DESA SIDOMULYO
KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN ABSTRAK
Peran dan fungsi keluarga dalam perkembangan seorang anak sangat dibutuhkan baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka waktu panjang.
Dimana pada dewasa ini, keluarga-keluarga banyak mengalami masalah bahkan krisis yang lebih berdampak pada perkembangan seorang anak sehingga keluarga memerlukan dukungan social dari lingkungan sekitarnya. Penguatan keluarga berfungsi untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia sehingga dapat berfungsi dengan baik.
Yayasan SOS Children‟s Village Medan hadir untuk memberi dukungan kepada keluarga-keluarga yang kurang berutung secara finansial dengan cara pemberdayaan keluarga. Setiap keluarga yang menjadi anggota progam yang dilaksanakan oleh Yayasan SOS disebut warga binaan. Warga binaan diberi Skill/keterampilan yang nantinya dapat digunakan sebagai cara untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Desa Sidomulyo merupakan salah satu desa binaan Yayasan SOS Children‟s Village Medan dengan 21 kepala keluarga yang diberdayakan.
Masalah yang dihadapi oleh Desa Sidomulyo yakni pendidikan rendah, tingkat kesehatan yang kurang dan pemahaman terhadap hak-hak anak yang masih kurang. Keluarga-keluarga yang masih kurang berutung secara finansial diberdayakan dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan dalam Program Penguatan Keluarga dengan 3 Program utama yakni Program Pendidikan, Program Kesehatandan Program Peningkatan Ekonomi. Dimana setiap kegitan yang dilaksanakan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia.
Kata Kunci: Implementasi Program, Yayasan SOS Children’s Village Medan, Program Penguatan Keluarga
IMPLEMENTATION OF FAMILY STRENGTHENING PROGRAM BY SOS CHILDREN'S VILLAGE IN THE SIDOMULYO VILLAGE,
MEDAN TUNTUNGAN DISTRICT ABSTRACT
The role and function of the family in the development of a child is needed both in the short term and in the long term. Where at present, many families experience problems and even crises that have more impact on the development of a child so that the family needs social support from the surrounding environment.
Family strengthening functions to improve the quality of human resources so that they can function properly.
The SOS Children‟s Village Medan Foundation is here to provide support to families who are less financially empowered by means of family empowerment. Every family who is a member of the program carried out by the SOS Foundation is called a foster citizen. Assistance residents are given skills / skills that can later be used as a way to improve family welfare.
Sidomulyo Village is one of the assisted villages of the SOS Children‟s Village Medan Foundation with 21 empowered households. Problems faced by Sidomulyo Village are low education, lack of health and lack of understanding of children's rights. Families who are still poorly empowered are financially empowered by following activities in the Family Strengthening Program with 3 main Programs namely Education Program, Health Program and Economic Improvement Program. Where every activity carried out affects the quality of human resources.
Keywords: Program Implementation, SOS Children’s Village Medan Foundation, Family Strengthening Program
KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkat kasih karunia-NYA dan pengetahuan yang diberikan, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Implementasi Program Penguatan Keluarga Oleh Yayasan SOS Children‟s Village Medan di Desa Sidomulyo Kecamatan Medan Tuntungan. Skripsi ini merupakan salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana sosial bagi mahasiswa program S1 Departemen Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Selama melakukan penelitian dan penulisan skripsi ini, Penulis memperoleh bantuan moril dan materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapak terima kasih yang tulus kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sumatera Utara.
3. Bapak Agus Suriadi, S.Sos, M.Si, selaku Ketua Departemen Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Fajar Ritonga, S.Sos, M.Kesos, selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan, memberi masukan bahkan kritikan dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Bapak Husni Thamrin, S.Sos., MSP, selaku Dosen Penguji dalam Seminar Proposal, Seminar Hasil bahkan dalam Sidang Meja Hijau atas kritik dan saran yang diberikan.
6. Kepada seluruh dosen-dosen dan staff administratif Departemen Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara terutama Kak Debby dan Kak Bety, yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan bantuan selama menjalankan perkuliahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
7. Kepada Kak Enjel, Bang Jali di Yayasan SOS Children’s Village Medan dan semua responden dalam penelitian yang dilakukan di Desa Sidomulyo Kecamatan Medan Tuntungan yang bersedia membantu dan memberikan informasi kepada peneliti.
8. Kepada kedua orang tua yaitu Marthin Luther Dachi dan Yuliana Hondro yang telah memberi dukungan materil maupun moril, motivasi dan semangat serta doa-doa yang menjadi kekuatan penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
Semoga Tuhan selalu Memberkati dan Menyertai.
9. Kepada saudara-saudaraku Kak Ellen Mariana Dachi, Bang Simon Petrus Dachi dan adik Andreas Dwi Putra Dachi. Terima Kasih untuk setiap semangat yang kalian berikan. Semoga kita dapat berhasil di jalan kita masing-masing.
10. Kepada Monika Natalia Hondro dkk, terima kasih untuk bantuan yang telah diberikan dalam proses penelitian. Penulis mendoakan agar Monika dkk diperlancar dalam perkuliahan dan sukses untuk kedepannya.
11. Kepada Ivan Putra Khirzun Zega, terima kasih untuk semangat dan doa yang diberikan selama proses penyelesaian skripsi dan yakinlah segala sesuatu indah pada waktunya.
12. Kepada Tim Hore-Hore (Yuliani Manurung, Feni Yolla, Agnes Pasaribu, Lasmi Sihombing, Stevanya Butar-Butar dan Desika Sembirng). Terima kasih untuk pertemanan yang telah kalian berikan. Semoga kita bisa sukses sama- sama.
13. Kepada teman-temanku Saut Sitinjak, Bosky Lubis, Niko Purba, Luis Hutagaol, Mario Sitorus, Hotman Sitorus. Terima kasih untuk warna-warna yang telah kalian berikan.
14. Kepada teman-teman seperjuangan di Ilmu Kesejahteraan Sosial terkhusus 2014. Terima kasih untuk setiap cerita dan dukungan dalam proses pengerjaan skripsi ini. Semoga ilmu pengetahuan yang kita dapatkan selama perkuliahan ini dapat berguna bagi masyarakat dan Negara ini.
15. Terima kasih untuk seluruh pihak yang tidak tertulis dan telah membantu penulis di setiap penyusunan skripsi.
Dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih dan berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. God Bless.
Medan, September 2018 Penulis
Ester Silviana Dachi
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL PENELITIAN/SAMPUL... i
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... ii
LEMBAR PENETAPAN PANITIA SKRIPSI ... iii
LEMBAR PERNYATAAN ... iv
ABSTRAK ... v
ABSTRACK... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 10
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10
1.3.1. Tujuan Penelitian ... 10
1.3.2. Manfaat Penelitian ... 10
1.4. Sistematika Penulisan ... 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13
2.1. Implementasi ... 13
2.1.1. Implementasi Program ... 13
2.2 Keluarga ... 15
2.2.1 Pengertian Keluarga ... 15
2.2.2 Peranan Keluarga ... 19
2.2.3 Fungsi Keluarga ... 20
2.2.4 Kesejahteraan Keluarga ... 22
2.2.5 Keluarga dan Masyarakat ... 25
2.3 Program PenguatanKeluarga ... 26
2.3.1 Tujuan Program Penguatan Keluarga ... 29
2.3.2 Prinsip-Prinsip Program Penguatan Keluarga ... 29
2.3.3 Visi dan Misi Program Penguatan Keluarga... 31
2.3.4 Strategi Program Penguatan Keluarga ... 31
2.4 Penelitian Yang Relevan ... 32
2.5 Kerangka Pemikiran... 35
2.6 Defenisi Konsep ... 38
2.7 Defenisi Operasional ... 39
BAB III METODE PENELITIAN ... 40
3.1. Jenis Penelitian... 40
3.2. Lokasi Penelitian ... 41
3.3. Populasi Penelitian ... 41
3.3.1. Populasi ... 41
3.3.2. Sampel ... 41
3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 42
BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN ... 45
4.1. Letak Geografis Lokasi Penelitian ... 45
4.2. Sejarah Perkembangan Lokasi Penelitian ... 45
4.3. Profil Lokasi Penelitian... 46
4.3.1. Data Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin ... 47
4.3.2 Data Penduduk Berdasarkan Agama ... 47
4.3.3 Data Penduduk Berdasarkan Etnis ... 48
4.3.4 Data Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian ... 49
4.4. Visi, Misi danTujuan Lokasi Penelitian... 49
4.4.1 Visi Lokasi Penelitian ... 49
4.4.2 Misi Lokasi Penelitian ... 49
4.4.3 Tujuan Lokasi Penelitian ... 51
4.5 Struktur Organisasi atau Lembaga Lokasi Penelitian ... 52
4.6 Kondisi Umum Tentang Klien ... 55
4.7 Kondisi Umum Tentang Petugas ... 56
4.8 Keadaan Sasaran dan Prasarana Lokasi Penelitian ... 56
BAB V HASIL PENELITIAN ... 58
5.1. Deskripsi Data Hasil Penelitian ... 58
5.1.1 Karakteristik Responden ... 59
5.1.1.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 59
5.1.1.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Agama ... 60
5.1.1.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 60
5.1.1.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Suku Bangsa ... 61
5.1.1.5 Karakteristik Respoden Berdasarkan Pendidikan Terakhir ... 62
5.1.1.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan . 64 5.1.1.7 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga ... 65
5.1.1.8 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Anak Yang Bersekolah ... 66
5.1.1.9 Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Tinggal ... 67
5.1.1.10 Karakteristik Resonden Berdasarkan Penghasilan Sebelum Mengikuti Program Penguatan Keluarga ... 68
5.1.1.11 Karakterisitik Responden Berdasarkan Pemenuhan Kebutuhan Keluarga ... 69
5.1.1.12 Karakterisitik Responden Berdasarkan Kegunaan Pendapatan ... 70
5.1.2 Implementasi Program Penguatan Keluarga Oleh Yayasan SOS Children‟s Village Medan Di Desa Sidomulyo Kecamatan Medan Tuntungan ... 70
5.1.2.1 Program Penguatan Keluarga ... 71
5.1.2.2 Yayasan SOS Children‟s Village Medan ... 98
5.1.2.3 Warga Binaan Desa Sidomulyo ... 102
5.2 Pembahasan Hasil Penelitian ... 103
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 108 6.1. Kesimpulan ... 108 6.2. Saran ... 109 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
NO Judul Hal
4.1 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin 46 4.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama 47
4.3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Etnis 48
4.4 Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian 49
5.1 Usia Responden 59
5.2 Agama Responden 60
5.3 Suku Responden 61
5.4 Pendidikan Terakhir Responden 62
5.5 Pekerjaan Responden 63
5.6 Jumlah Anggota Keluarga 64
5.7 Jumlah Anak yang Bersekolah 65
5.8 Lama tinggal 66
5.9 Penghasilan Responden 66
5.10 Pemenuhan Kebutuhan 67
5.11 Kegunaan Pendapatan 68
5.12 Informasi Tentang Program Penguatan Keluarga 69
5.13 Tujuan Program Penguatan Keluarga 70
5.14 Dampak Program Terhadap Keluarga 71
5.15 Kesesuaian Program dengan Kebutuhan Responden 72 5.16 Kesesuai Program Dengan Rancangan Kegiatan 73
5.17 Kecurangan Dalam Program 74
5.19 Penanggulangan Kemiskinan 76
5.20 Kegiatan Dalam Program Pendidikan 77
5.21 Kegiatan Yang Sesuai Dengan Kebutuhan Anak 78 5.22 Kegitan Paling Sesuai Dengan Kebutuhan Anak 79
5.23 Bantuan Yang Diterima 80
5.24 Frekuensi Mendapatkan Bantuan 81
5.25 Peningkatan Prestasi Anak Setelah Mendapatkan Bantuan 82
5.26 Kegiatan Dalam Program Kesehatan 83
5.27 Kesesuaian Kegiatan Dengan Kebutuhan Anak 84 5.28 Kegiatan Paling Sesuai Dengan Kebutuhan Anak 85
5.29 Jenis Bantuan Yang Diberikan 86
5.30 Frekuensi Mendapatkan Bantuan 87
5.31 Kegiatan Dalam Program Peningkatan Ekonomi 88 5.32 Kesesuaian Antara Kegiatan Dengan Kebutuhan 89
5.33 Kegiatan Paling Sesuai 90
5.34 Manfaat Mengikuti Program Penguatan Keluarga 91 5.35 Frekuensi Bantuan Yang Diberikan 92 5.36 Perubahan Pendatan Setelah Mengikuti Program 93
5.37 Peningkatan Kemampuan Berusaha 94
5.38 Peningkatan Pengembangan Usaha 95
5.39 Staf Yang Membantu Dan Mengarahkan Warga Binaan 96 5.40 Wadah Informasi Warga Binaan Tentang Program
Penguatan Keluarga 97
5.41 Frekuensi Pertemuan Warga Binaan dan Staf
Yayasan SOS Medan 98
5.42 Pelayanan Yang Diberikan Staf Yayasan SOS Medan 99 5.43 Keahlian Staf Yayasan SOSDalam Menyelesaikan
Permasalahan di Lapangan 100
5.44 Sikap Staf Yayasan SOS Di Lapangan 101
5.45 Peningkatan Kesejahteraan Keluarga Setelah Mengikuti
Program Penguatan Keluarga 102
5.46 Keterlibatan Warga Binaan Dalam Pelaksanaan
Program Penguatan Keluarga 103
5.47 Kesesuaian Program Penguatan Keluarga Dengan
Target Yang Telah Ditentukan 104
DAFTAR GAMBAR
NO Judul Hal
2.1 Bagan Alur Pikir 37
4.5 Struktur Yayasan SOS Childreen‟s Village Medan 52
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam perkembangan seorang anak, fungsi dan peran keluarga sangat diperlukan bukan hanya dalam jangka waktu yang singkat tapi dalam jangka waktu panjang sangatlah penting.Pembangunan keluarga sebagai upaya menguatan keluarga yang implikasinya berbentuk program pemberdayaan yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga khususnya di Indonesia mengingat bahwa jumlah keluarga miskin setiap tahun terus bertambah (Hotlimar, 2009).
Pentingnya penguatan keluarga, secara teoritis merupakan institusi utama pembangunan sumber daya manusia karena keluargalah aktivitas utama kehidupan seorang individu berlangsung sehingga keberfungsian, ketahanan, kesejahteraan keluarga akan menentukan kualitas individu. Penguatan keluarga berkaitan dengan keberfungsian keluarga dalam pembangunan kualitas sumber daya anak seperti hasil penelitian Sunarti (2008) yang menunjukkan bahwa penguatan keluarga mempengaruhi pengasuhan anak dan akibatnya mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.Penguatan ketahanan keluarga semakin penting dewasa ini dimana keluarga menghadapi berbagai perubahan, tantangan dan krisis.Pada kondisi tersebut keluarga membutuhkan dukungan sosial dari lingkungan di sekitarnya (Safutry, 2013).
Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34 yang berbunyi: “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara”, maka salah satu upaya untuk
menekan angka kemiskinan adalah dengan mendirikan panti sosial. Panti sosial atau yayasan sosial ini dikelola oleh pemerintah melalui Dinas Sosial dan Lembaga Non-Pemerintah atau yang biasa disebut juga Non Government Organization (NGO). Berdasarkan target pertama dalam Millennium Development Goals (MDGs), Indonesia terbebas dari kemiskinan pada tahun 2015, namun hal tersebut masih jauh dari harapan. Dari hal tersebut, maka bukan hanya pemerintah saja yang berperan menekan angka kemiskinan, namun masyarakat dan pemerintah harus bekerja sama agar tidak terjadi gejolak sosial yang semakin parah (Hudaya, 2009).
Dampak yang terjadi pada anak justru lebih berbahaya daripada orangtua, karena akan berdampak buruk bagi anak dalam jangka panjang. Hak mereka untuk memperoleh pendidikan, perlindungan dan kebutuhan mereka masa kecil yang bahagia, berkualitas dan yang layak didapatkan oleh anak-anak menjadi terhempas sehingga menyebabkan anak tersebut menjadi terlantar karena kondisi ekonomi keluarga. Berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kesejahteraaan Kementrian Sosial, jumlah anak terlantar di seluruh Indonesia tahun 2006 sebanyak 232.894 anak, tahun 2010 sebanyak 159.230 anak, tahun 2011 turun menjadi 67.607 anak, pada tahun 2015 sebanyak 33.400 anak dan pada tahun 2017 sebanyak 16.290 anak yang tersebar di 21 provinsi. Khususnya Sumatera Utara tercatat tingkat anak terlantar mencapai sekitar 146.130 jiwa yang tersebar di beberapa kabupaten/kota.Alasan utama adalah putus sekolah, akibatnya mereka harus mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan (Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial, 2017).
Salah satu organisasi masyarakat independen Non-Pemerintah di Sumatera Utara khususnya di Medan yaitu Yayasan SOSChildren’s Villages yang sudah berdiri pada tahun 2007 ini menerapkan pelayanan berbasis keluarga salah satunya yaitu Program Penguatan Keluarga (Family Strengthening Programme).
Program Penguatan Keluarga mempunyai misi yaitu membantu membangun keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi dan sosial untuk dapat mandiri dalam lingkungan masyarakat sehingga diharapkan setelah mandiri para orang tua dari keluarga tersebut dapat memelihara dan menjaga anak-anak mereka.
Dalam pelaksanaan Program Penguatan Keluarga, Yayasan SOS memberdayakan keluarga dan masyarakat untuk melindungi dan merawat anak mereka dengan menggunakan langkah-langkah perencanaan pembangunan keluarga.Program ini dirancang sesuai dengan kebutuhan dan prioritas anak-anak beresiko kehilangan perawatan keluarga mereka.Hal ini melibatkan penilaian secara mendalam tentang situasi kelompok sasaran dalam masyarakat.Meskipun dalam penerapan program di lapangan banyak menyimpang seperti bantuan yang tidak tepat sasaran dan tidak merata.Namun para fasilitar berusaha bekerja semaksimal mungkin supaya program di masyarakat berjalan dengan baik dan penerapannya merata di masyarakat.
Fokus utama Program Penguatan Keluarga adalah peningkatan kesejahteraan keluarga, karena kesejahteraan anak tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan keluarga dan perkembangan anak secara optimal tercapai dalam keluarga yang sejahtera.Program Penguatan Keluarga ini dilakukan dengan pendampingan anak dan keluarga yang merupakan bagian dari pemberdayaan masyarakat dengan melakukan upaya fasilitasi yang bersifat noninstruktif guna
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah, merencanakan dan mencari pemecahan dengan memanfaatkan potensi setempat dan fasilitas yang ada (Draf terjemahan family strengthening programmesmanual working paper, 2007).
Pemberdayaan masyarakat melalui program punguatan keluarga oleh Yayasan SOSChildren’s Villages dilakukan dalam lingkup keruangan berbasis desa, dimana pembangunan dilaksanakan pada lingkup desa atau antar desa, namun pengambilan keputusan terhadap prioritas kegiatan akan terdanai ditentukan oleh masyarakat pada rapat bulanan di tingkat kecamatan bersama kader dan pendamping. Pemilihan desa yang akan menjadi desa binaan untuk menjalankan program penguatan keluarga dilakukan dengan melihat kondisi keluarga yang miskin di desa tersebut. Keluarga yang menjadi anggota program penguatan keluarga ini disebut warga binaan. Sampai saat ini ada 7 desa yang menjadi desa binaan Yayasan SOS yaitu Desa Namo Gajah, Desa Ladang Bambu, Desa Sidomulyo, Desa Tanjung Anom, Desa Amplas, Tembung, Desa Kwala Bekala.
Salah satu desa yang menjadi desa binaan dari Program Penguatan Keluarga adalah Desa Sidomulyo Kecamatan Medan Tuntungan. Desa Sidomulyo merupakan salah satu desa yang rawan pangan yang memiliki 4 lingkungan dengan total keluarga yang diberdayakan sebanyak 21 KK di seluruh lingkungan yang mengalami permasalahan pendidikan rendah, tingkat kesehatan kurang dan kurangnya pemahaman tentang hak-hak anak, untuk itu Yayasan SOSChildren’s Village Medan melakukan pemberdayaan keluarga miskin di desa ini. Karena jika keadaan seperti ini dibiarkan anak-anak menjadi kehilangan hak-haknya dan anak
tersebut menjadi terlantar. Pelaksanaan Program Penguatan Keluarga diharapkan menjadi salah satu program pembangunan partisipasif yang dapat berkontribusi bagi pemulihan kondisi dan peningkatan kemandirian masyarakat di Desa Sidumulyo, dimana program ini telah disetujui tim manajemen senior dari Yayasan SOS Children’s Village yang berpusat di Lembang.
Jenis kegiatan yang dilaksanan dalam Program Penguatan Keluarga berupa kegiatan pengembangan ekonomi, kegiatan kesehatan, kegiatan pendidikan.Tiga bentuk kegiatan ini merupakan tiga serangkai yang mempengaruhi kualitas sumber daya manusia.Sedangkan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas merupakan modal utama atau investasi dalam pembangunan nasional.Kegiatan ini di dampingi oleh kader (stake holder) di desa binaan dan staf Yayasan SOSChildren’s Villages Medan.
Selain itu, penyelenggaraan kegiatan Program Penguatan Keluarga menerepakan pendekatan pemberdayan masyarakat dengan cara melibatkan masyarakat dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam proses pelaksanaannya. Adanya keterlibatan masyarakat dalam program ini bertujuan agar masyarakat tidak bergantung dengan bantuan yang diberikan oleh Yayasan SOSChildren’s Villages Medan. Program ini dilaksanakan dengan pihak-pihak yang mendukung & mau terlibat dalam kegiatan untuk memastikan bahwa mereka secara efektif „berakar‟ dalam masyarakat dan secara bersama-sama „dimiliki‟
oleh organisasi mitra dan Yayasan SOS.
Pelayanan program dilaksanakan dalam kemitraan dengan organisasi masyarakat atau kelompok mandiri lainnya, dimana mitra pelaksana program tidak langsung terkait dalam menanganidan mengelola sumber daya keuangan
dengan efesiensi dan akuntabilitas. Akan tetapi mengambil pendekatan langkah- demi-langkah dalam hal membangunnya masyarakat kearah semakin lebih baik.Seiring waktu, Yayasan SOS Children’s VillageMedan mendukung mitra pelaksana program bergerak dalam bidang swasembada, sehingga dapat menyediakan sumber daya yang diperlukan masyarakat. Dalam melakukan hal ini, Yayasan SOS membantu & mendukung masyarakat dengan beberapa kegiatan yang digunakan untuk membantu dirinya sendiri dan menghindari ketergantungan masyarakat akan program yang dilaksanakan oleh Yayasan SOSChildren’s Village Medan.Program Penguatan Keluarga diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup keluarga dan masyarakat, membangun kesadaran masyarakat akan hak-hak anak, membangun keluarga dan menjadikan masyarakat mandiri. Sehubungan dengan hal itu maka untuk dapat mengetahui proses pemberdayan keluarga dalam pengelolaan program dan penerapannyadi Desa Sidomulyo perlu dilakukan kajian lebih lanjut.
Kemiskinan seyogyanya digambarkan dengan kondisi seseorang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan.Kurangnya pendapatan mengakibatkan seseorang memilikii kualitas hidup yang rendah.Hal ini disebabkan orang miskin tidak memiliki biaya untuk mengakses berbagai layanan untuk meningkatkan pendidikan yang layak, mendapatkan pekerjaan yang memadai, mengakses kesehatan yang terjamin dan kemiskinan menjadi alasan rendahnya indeks pembangunan manusia di Indonesia. Kemiskinan merupakan tema sentral dari perjuangan bangsa, sebagai aspirasi dasar dan perjuangan akan kemerdekaan bangsa serta motivasi fundamental dari cita-cita untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur (Supriatna, 2000:70).
Masalah kemiskinan di Indonesia sangat membelenggu sebagian besar masyarakat dari periode ke periode menjadi “Pekerjaan Rumah” bagi pembuat keputusan penyelenggara negara.Berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan namun masih jauh dari keberhasilan karena banyak penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan program yang dijalankan.
Kegagalan program yang dijalankan pemerintah disebabkan karena proses perencanaan dan pengambilan keputusan dalam program pembangunan sering kali dilakukan dari atas ke bawah (top-down). Masyarakat seringkali diikutkan tanpa diberikan pilihan dan kesempatan untuk memberi masukan.Sehingga untuk mencapai efisiensi dalam pembangunan dari bagi dan untuk masyarakat sangat sulit.Program penanggulangan kemiskinan harusnya berupa program yang membuat masyarakat menjadi produktif bukan hanya sekedar memberi bantuan yang membuat masyarakat terus bergantung kepada pemerintah. Banyak kajian tentang kemiskinan dari berbagai sudut pandang akan tetapi pembahasan ini seolah-olah menegaskan bahwa kemiskinan bagian dari kodrat Tuhan yang tidak dapat diselesaikan (Hotlimar, 2009).
Masalah kemiskinan yang ada di Indonesia merupakan masalah sosial yang senantiasa relevan untuk dikaji terus menerus.Ini bukan saja karena masalah kemiskinan telah ada sejak lama dan masih hadir di tengah-tengah kita saat ini, tetapi karena kini gejalanya semakin meningkat sejalan dengan krisis multimensional yang masih diharapi bangsa Indonesia. Hal ini juga dikarenakan Indonesia merupakan salah satu Negara yang sedang berkembang dengan jumlah penduduk yang terus meningkat setiap tahun, sehingga tingkat kesejahteraan rakyatnya jauh di bawah tingkat kesejahteraan Negara-negara maju (Raissa, 2011).
Di Indonesia, masalah kemiskinan masih menjadi persoalan dengan prioritas utama dalam penanggulangannya. Hal ini dapat dilihat dari potret kehidupan masyarakat Indonesia yang telah dicatat BPS berikut ini, pada bulan September 2016 sejumlah 27,67 juta orang (10,70%), sedangkan pada bulan Maret 2017 jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran perkapita perbulan di bawah garis kemiskinan) mencapai 27,77 juta orang (10,64% dari jumlah total penduduk). Angka bertambah menjadi 6,90 ribu. Meskipun secara persentase angka kemiskinan mengalami penurunan, namun secara jumlah angka tersebut mengalami kenaikan.
Secara khusus di Sumatera Utara, BPS mencatat bahwa jumlah penduduk miskin pada bulan Maret 1.453,87 ribu orang atau 10,22% dari populasi, pada bulan September 2017 1.326,57 ribu orang atau 9,28% dari populasi atau turun 0, 94% dari jumlah penduduk Sumatera Utara sebanyak 14,1 juta jiwa. Persentase penduduk miskin di perkotaan pada bulan Maret 2017 sebesar 9,80%, turun pada bulan September 2017 sebesar 8,96%. Begitu juga dalam persentase penduduk miskin pedesaan pada bulan Maret 2017 sebesar 10,66% turun pada bulan September 2017 sebesar 9,62%. Ada beberapa faktor yang memengaruhi turunnya tingkat kemiskinan di Sumater Utara pada periode Maret-September 2017 yakni Inflasi terkendali yaitu 2,15%, harga eceran komoditas relatif stabil, tingkat penggangguran terbuka menurun dari 6,41% menjadi 5,60% (periode Februari- Agustus 2017), pertumbuhan ekonomi relatif besar dari 4,50% menjadi 5,21 selama periode triwulan I-III (Badan Pusat Statistik, 2017).
Berdasarkan statistik, angka kemiskinan di Sumatera Utara mengalami penurunan, namun dalam kenyataannya masih banyak masyarakat yang melarat
Kemiskinan yang terjadi tidak hanya memberi dampak negatif kepada orang dewasa termasuk juga anak-anak, hal ini terjadi karena lemahnya fungsi keluarga baik dari segi ekonomi, sosial dan standar hidup tertentu seperti kecukupan pangan, keterlibatan akan masyarakat, kesehatan, penghargaan dari masyarakat dan pendidikan yang memadai.
Masalah terbesar yang tengah dihadapi oleh dunia adalah kemiskinan.Kemiskinan lahir bersama dengan keterbatasan manusia dalam mencukupi kebutuhannya yang sering dikaitkan dengan kerentanan, ketidakmampuan dan keterisolasian.Kemiskinan telah ada sejak perdaban manusia dimulai.Pada setiap belahan dunia dapat dipastikan adanya golongan konglomerat dan golongan melarat.Dimana golongan yang konglomerat selalu bisa memenuhi kebutuhanya sedangkan golongan melarat hidup dalam keterbatasan materi yang membuatnya semakin terpuruk (Sarman,2000:2).
Berdasarkan data Bank Dunia menerangkan dalam Laporan Poverty and Shared Prosperity tahun 2017 menyatakan bahwa 10,7% dari jumlah populasi global berada dalam jurang kemiskinan. Tercatat 767 juta orang hidup di bawah garis internasional kemiskinan. Dimana mereka mencukupi kebutuhannya dengan US$ 1,19 per hari atau sekitar Rp 25.000 per harinya. Jumlah orang miskin paling banyak berada di wilayah Sub-sahara Afrika dimana mencapai 388,7 juta orang.
Sedangkan yang kedua ada di Asia bagian selatan dimana mencapai 256,2 juta orang. Asia bagian timur dan pasifik menjadi peringkat ketiga dimana mencapai 71 juta orang disusul Amerika latin dan Karibia yang tercatat sebanyak 33,6 juta orang. Adapun Eropa dan Asia tengah yang paling rendah yakni 10,8 juta orang.
Sangat disayangkan bahwa 44% dari total orang miskin adalah anak-anak
berumur 14 tahun ke bawah. Dimana 80% tinggal di daerah kumuh dan 39% tidak mendapatkan pendidikan formal (World Bank, 2017).
Berdasarkan latar belakang permasalahan, maka peneliti tertatik untuk meneliti pelaksanaan Program Penguatan Keluarga (FSP) yang hasilnya akan dituangkan dalam penelitian yang berjudul “ Implementasi Program Penguatan Keluarga Oleh Yayasan SOS Children’s Villages Medan di Desa Sidomulyo Kecamatan Medan Tuntungan”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka masalah dalam penelitian dirumuskan sebagai berikut: “BagaimanaImplementasi Program Penguatan Keluarga Oleh YayasanSOSChildren’s Villages Medan di Desa Sidomulyo Kecamatan Medan Tuntungan”?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan dan penerapan kegiatan Program Penguatan Keluarga oleh Yayasan SOS Children’s Villages Medan di Desa Sidomulyo Kecamatan Medan Tuntungan.
1.3.2 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi dalam rangka:
1. Secara akademis, penelitian ini di harapkan bermanfaat bagi Universitas, khususnya Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial sebagai bahan referensi dan perluasan pengetahuan serta wawasan dalam wacana pendidikan yang
dilaksanakan oleh organisasi Non-Pemerintah yakni Yayasan SOS Children’s Villages Medan.
2. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi Yayasan SOS Children’s Villages yang merupakan salah satu lembaga Non- Pemerintah yang bergerak di bidang sosial untuk semakin meningkatkan kapasitasnya dalam membantu dan memberdayakan masyarakat miskin serta meningkatkan sumber daya manusia dengan memberikan skill atau keahlian dan keterampilan kepada masyarakat.
1.4 Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan memahami dan mengetahui isi yang terkandung dalam skripsi ini, maka diperlukan sistematika. Sistematika penulisan ini secara garis besarnya dikelompokkan dalam enam bab dengan urutan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah 1. Rumusan Masalah
2. Tujuan dan Manfaat Penelitian 3. Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Landasan Teori
2. Penelitian Yang Relevan 3. Pengajuan Hipotesis 4. Kerangka Pemikiran 5. Defenisi Konsep 6. Defenisi Operasional
BAB III METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian
2. Lokasi Penelitian 3. Populasi dan Sampel 4. Teknik Pengumpulan Data 5. Teknik Analisis Data
BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN A. Temuan Umum
1. Letak Geografis Lokasi Penelitian 2. Sejarah Perkembangan Lokasi Penelitian 3. Profil Lokasi Penelitian
4. Visi, Misi dan Tujuan Lokasi Penelitian 5. Struktur Organisasi/Lembaga Lokasi Penlitian 6. Kondisi Umum Tentang Klien
7. Kondisi Umum Tentang Petugas
8. Keadaan Sasaran dan Prasarana Lokasi Penelitian BAB V HASIL PENELITIAN
1. Deskripsi Data Hasil Penelitian 2. Pengujian Hipotesis
3. Pembahasan Hasil Penelitian 4. Keterbatasan Penelitian
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan
2. Saran
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Implementasi
2.1.1 Implementasi Program
Implementasi adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci. Kamus besar bahasa Indonesia menyatakan implementasi adalah pelaksanaan, penerapan. Pengertian implementasi menurut beberapa sumber juga menyatakan hal yang sama. Nurul Usmin menjelaskan bahwa implementasi bermuara pada sebuah aktivitas, aksi, tindakan atau adanya mekanisme suatu sistem, yang bukan sekedar aktivitas tetapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan.
Implementasi menurut Guntur Setiawan adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana dan birokrasi yang efektif.
Sementara menurut Susilo, implementasi merupakan suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak baik berupa pengetahuan, keterampilan maupun nilai dan sikap. Secara lebih lengkap, implementasi menurut Joko Widodo merupakan suatu proses yang melibatkan sejumlah sumber yang termasuk manusia, dana dan kemampuan organisasi yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta (individu maupun kelompok). Proses tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh pembuat kebijakan.
Keefektifan implementasi program dapat dilihat dari berbagai perspektif atau pendekatan, salah satunya ialah model implementasi David C. Korten.
Program
Sasaran Organisasi
Pelaksana
Menurutnya ada 3 elemen yang disebut dengan model kesesuaian melalui pendekatan proses pembelajaran yakni program itu sendiri, pelaksanaan program dan kelompok sasaran program.
Korten menyatakan bahwa suatu program akan berhasil dilaksanakan jika terdapat kesesuian 3 unsur implementasi program. Pertama, kesesuain antara program dan apa yang dibutuhkan kelompok sasaran. Kedua, kesesuaian antara program dengan organisasi pelaksanaan yaitu kesesuaian antara tugas yang disyaratkan oleh program dengan kemampuan organisasi pelaksana. Ketiga, kesesuai antara kelompok sasaran dengan organisasi pelaksanaan untuk dapat memperoleh hasil program dengan apa yang dapat dilakukan oleh kelompok sasaran program.
Model Kesesuaian Teori David C. Korten
Berdasarkan pola yang dikembangkan Korten, dapat dipahami bahwa kinerja program tidak akan berhasil sesuai dengan apa yang diharapkan apabila tidak terdapat kesesuaian atara tiga unsur implementasi program. Hal ini disebabkan apabila hasil program tidak sesuai dengan kebutuhan kelompok sasaran, maka jelas hasil tidak dapat dimanfaatkan atau memberdayakan.Jika organisasi pelaksana program tidak memenuhi kemampuan melaksanakan tugas yang disyaratkan oleh program, maka organisasinya tidak dapat menyampaikan
hasil program dengan tepat.Atau jika syarat yang ditetapkan organisasi pelaksana program tidak dapat dipenuhi oleh kelompok sasaran, maka kelompok sasaran tidak mendapatkan hasil program.Oleh karena itu, kesesuaian antara 3 unsur implementasi program mutlak diperlukan agar program berjalan sesuai dengan rencana yang telah dibuat.
Kegagalan dan keberhasilan implementasi dapat dilihat dati kemampuan secara nyata.Dalam mengoperasikan implementasi program-program agar tercapai sesuai dengan tujuan serta terpenuhinya misi program diperlukan kemampuan yang tinggi pada organisasi-organisasi pelaksanaanya.Organisasi ini bisa dimulai dari organisasi tingkat atas sampai yang berada di level bawah, baik negeri maupun swasta.Baik tidaknya suatu program yang telah ditetapkan merupakan masalah yang sungguh-sungguh kompleks bagi setiap organisasi termasuk pemerintah.Hal ini menjadi masalah karena biasanya terdapat kesenjangan waktu antara penetapan program dan pelaksanaanya. Dalam kaitan ini, Jones mengatakan bahwa implementasi adalah suatu proses interaktif antara suatu perangkap tujuan dan tindakan atau bersifat interaktif dengan kegiatan-kegiatan kebijakan yang mendahuluinya. Dengan kata lain, pelaksanaan merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk mengoperasikan sebuah program dengan pilar- pilar organisasi, interpretasi dan penerapan.
2.2 Keluarga
2.2.1 Pengertian Keluarga
Keluarga sebagai suatu satuan sosial terkecil yang dimiliki manusia sebagai makluk sosial, yang ditandai dengan adanya kerja sama ekonomi. Bentuk keluarga
terdiri dari seorang suami, seorang istri dan anak-anak yang biasanya tinggal dalam satu rumah yang sama. Ini disebut dengan keluarga inti.Secara resmi biasanya terbentuk oleh adanya hubungan perkawinan.Disebut primary group, yang melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadian.Keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki, esensial, enak dan berkehendak bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk memuliakan masing-masing anggotanya.Dalam keadaan tertentu defenisi keluarga tidak berlaku sebab ada keluarga inti yang anggotanya tidak lengkap.
Keluarga menjadi semacam model untuk mengidentifikasikan sebagai keluarga yang broken home, moderate atau keluarga sukses. Pecahnya suatu unit keluarga dapat disebabkan oleh beberapa hal: (1) ketidaksahan (merupakan unit keluarga yang tidak lengkap), (2) pembatalan, perpisahan, perceraian, dan kematian sehingga terhenti atas kewajiban perannya, (3) keluarga selaput kosong (tinggal dalam satu rumah tetapi tidak saling sapa, gagal dalam saling memberi dukungan emosional), (4) ketiadaan seorang dari pasangan karena hal yang tidak diinginkan, (5) kegagalan peran penting yang tak diinginkan, misalnya karena sakit (Rahaju, 2016: 70).
Keluarga adalah kelompok primer yang paling penting dalam masyarakat.Secara historis keluarga terbentuk paling tidak dari satuan yang merupakan organisasi terbatas dan mempunyai ukuran yang minimum, terutama pihak-pihak yang pada awalnya mengadakan suatu ikatan. Dengan kata lain, keluarga tetap merupakan bagian dari masyarakat total yang lahir dan berada didalamnya, yang secara berangsur-angsur akan melepaskan ciri-ciri tersebut
karena tumbuhnya mereka kearah kedewasaan. Keluarga sebagai organisasi, mempunyai perbedaan dari organisasi-organisasi lainnya, yang diakibatkan dalam sebuah proses (Martono, 2016:23).
Para ahli filsafat telah melihat bahwa masyarakat adalah struktur yang terdiri dari keluarga. Karya etika dan moral yang tertua menerangkan bahwa masyarakat akan kehilangan kekuatannya jika anggotanya gagal dalam melaksanakan tanggungjawab keluarganya. Keluarga dan masyarakat dapat dikatakan berkaitan erat.Dimana keluarga berfungsi sebagai sarana pemecahan masalah sosial yang sudah kronis.
Keluarga adalah satu-satunya lembaga sosial disamping agama yang secara resmi telah berkembang di semua lapisan masyarakat.Keikutsertaan dalam aktivitas keluarga memiliki sisi yang menarik, yaitu bahwa meskipun tidak didukung oleh hukuman resmi yang biasanya mendukung banyak kewajiban lainnya, tetapi setiap orang mengambil bagiannya. Misalnya, anggota keluarga wajib ikut serta dalam kegiatan yang ekonomi atau harus produktif, namun jika tidak keluarga tidak akan menjadi sejahtera di semua bidang. Pada hakikatnya, keluarga merupakan hubungan seketurunan maupun tambahan (adopsi) yang diatur melalui kehidupan perkawinan searah dengan keturunannya yang merupakan suatu kelompok yang terbentuk dari suatu hubungan seks yang tetap, untuk menyelenggarakan hal-hal yang berhubungan dengan orang tua dan memeliharaan anak (Puspitawati, 2012:34).
Menurut Mac Iver Page, ciri-ciri keluarga:
1. Keluarga merupakan hubungan perkawinan.
2. Berbentuk perkawinan atau susunan kelembagaan yang berkenaan dengan hubungan perkawinan yang sengaja dibentuk dan dipelihara.
3. Suatu sistem tata norma termasuk perhitungan garis keturunan.
4. Ketentuan-ketentuan ekonomi yang dibentuk oleh anggota-anggota kelompok yang mempunyai ketentuan khusus terhadap kebutuhan- kebutuhan ekonomi yang berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan anak.
5. Merupakan tempat tinggal bersama atau rumah tangga yang walau bagaimanapun tidak mungkin menjadi terpisah terhadap kelompok keluarga (Su‟adah,2005:23).
Setiap keluarga merasakan dua dorongan yang sangat kuat yaitu cinta kepada orang tua yang telah membesarkannya dan kasih sayang untuk kakak, adik serta berani berkorban untuk kakek, nenek, paman, bibi dan orang-orang dalam hidupnya.Namun Emosi dan dorongan perasaan untuk selalu bersama orang-orang yang dicintai diimbangi dengan keinginan untuk sendiri, bebas berpetualang dan mencari jati diri yang dapat menentukan masa depan kearah yang semakin dewasa berguna di masyarakat.
Konsep mengenai keluarga ini begitu luas. Defenisi keluarga menurut Chilman (dalam Su‟adah, 2005:26) adalah ekspresi seksual atau hubungan antara anak dan orang tua, sebagai patokan dimana orang hidup bersama dengan komitmen dan di dalam hubungan yang intim serta anggota-anggotanya memandang identitas mereka sebagai bagian penting yang mengikat kepada grup
tersebut dan memiliki ciri tersendiri. Defenisi tersebut dianggap lebih tepat dipakai saat ini daripada defenisi pengamat sosial terdahulu.
Defenisi keluarga menurut Iver dan Page:
1. Keluarga merupakan kelompok sosial yang terkecil yang umumnya terdiri dari ayah, ibu, dan anak.
2. Hubungan sosial diantara anggota keluarga relatif tetap dan didasarkan atas ikatan darah, perkawinan atau adopsi.
3. Hubungan antar anggota keluarga dijiwai oleh suasana kasih sayang dan rasa tanggung jawab.
4. Fungsi keluarga adalah merawat, memelihara dan melindungi anak dalam rangka sosialisasi agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial.
Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1992 pengertian keluarga adalah unit terkecil masyarakat yang terdiri dari suami istri atau suami istri dan anaknya atau ayah dengan anaknya atau ibu dengan anaknya. Menurut Goldenberg pengertian keluarga tidak hanya sebagai sekumpulan individu yang bertempat tinggal dalam satu ruang fisik dan psikis yang sama saja, tetapi merupakan sistem sosial alamiah yang memiliki kekayaan bersama, mamatuhi peraturan, peranan, struktur kekuasaan, bentuk komunikasi, tatacara negosiasi serta tatacara penyelesaian masalah bersama yang memungkinkan berbagai tugas dapat dilaksanakan secara efektif.
2.2.2 Peranan Keluarga
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi
tertentu.Peranan individu dalam keluarga didasarkan oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.
Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut:
1. Peran Ayah: ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya dan anggota masyarakat dari lingkungannya.
2. Peran Ibu: sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peran untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak- anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarga.
3. Peran Anak: anak-anak melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan spiritual (Puspitawati, 2012:47).
2.2.3 Fungsi Keluarga
Keluarga merupakan agen penting dalam masyarakat untuk mengembangkan setiap individu, khususnya anak-anak.Bagi anak-anak, keluarga adalah suatu fakta penting yang berguna untuk membentuk kepribadiannya.Keluarga dapat memberikan identitas dalam kelompok, membawa persetujuan dari teman-temannya dan mengajarkan untuk mengetahui perasaan saling memberi dan menerima.Keluarga mengajarkan kebiasaan kepada anak untuk terampil menjalin komunikasi dengan lingkungannya, dimana hal tersebut sangat penting bagi masa depannya.
Menurut BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) fungsi keluarga dibagi menjadi 8.Fungsi keluarga yang dikemukankan oleh BKKBN tersebut senada dengan fungsi keluarga menurut Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1994. Fungsi-fungsi tersebut adalah:
1. Fungsi keagamaan yaitu dengan memperkenalkan dan mengajarkan anak serta anggota keluarga kehidupan beragama dan tugas kepala keluarga yakni menanamkan bahwa ada kekuatan lain yang mengatur kehidupan di dunia ini dan ada kehidupan setelah di dunia ini.
2. Fungsi sosial budaya yaitu dilakukan dengan memberi sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.
3. Fungsi cinta kasih yaitu memberi perhatian dalam bentuk kasih sayang, serta rasa aman kepada sesama anggota keluarga.
4. Fungsi melindungi bertujuan untuk melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik, sehingga anggota keluarga merasa aman dan terlindungi.
5. Fungsi reproduksi yaitu bertujuan untuk meneruskan keturunan, memelihara dan membesarkan anak serta merawat anggota keluarga.
6. Fungsi sosialisasi dan pendidikan dilakukan dengan cara mendidik anak sesuai dengan tingkat perkembangannya. Sosialisasi dalam keluarga juga dilakukan untuk mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
7. Fungsi ekonomi dilakukan dengan cara mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa mendatang.
8. Fungsi pembinaan dilakukan dengan cara menjaga kelestarian lingkungan hidup, menciptakan lingkungan hidup yang bersih, sehat, aman dan indah.
2.2.4 Kesejahteraan Keluarga
Undang-undang No. 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera memberikan batasan mengenai keluarga sejahtera, yaitu keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan sah, mampu memenuhi kebutuhan material dan spiritual yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antara anggota, anggota keluarga dengan masyarakat dan lingkungan. Taraf kesejahteraan sosial dapat dilihat dari ukuran-ukuran berikut ini:
1. Economical well-being yaitu kesejahteraan ekonomi. Indikator yang digunakan adalah pendapatan yaitu pendapatan per bulan, nilai aset.
2. Social well-being yaitu kesejahteraan sosial. Indikator yang digunakan yaitu prestasi pendidikan (SD, SMP, SMA, PT, Pendidikan non formal paket A, B, C, melek aksara atau buta aksara), jenis pekerjaan (professional atau buruh pekerja, memiliki pekerjaan tetap atau pengangguran).
3. Physical well-being yaitu kesejahteraan fisik. Indikator yang digunakan adalah status gizi, status kesehatan (Puspitawati,2012:7).
Untuk menentukan suatu keluarga digolongkan sejahtera material didasarkan atas pendapatan yang dibandingkan dengan garis kemiskinan. Garis kemiskinan selalu diartikan sebagai tingkat pendapatan yang layak untuk memenuhi kebutuhan dasar minimum. Suatu keluarga yang memiliki pendapatan di bawah garis kemiskinan, tentunya tidak dapat memenuhi semua kebutuhan
material sehingga digolongkan pada keluarga miskin.BPS menghitung angka kemiskinan lewat konsumsi penduduk atas kebutuhan dasar.
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasioanal (BKKBN) membuat suatu kriteria kesejahteraan sosial keluarga yang didasarkan atas:
a. Kebutuhan dasar (basic needs) yang terdiri dari kebutuhan pangan, sandang, papan dan kesehatan.
b. Kebutuhan sosial psikologis (social psychological needs) yang terdiri dari pendidikan, rekreasi, transportasi, interaksi sosial, internal dan eksternal.
c. Kebutuhan pengembangan (developmental needs) yang terdiri dari tabungan, pendidikan khusus dan akses terhadap informasi.
Sedangkan klasifikasi kesejahteraan keluarga menurut BKKBN (2011), yaitu:
A. Keluarga Pra Sejahtera (Pra-KS) sering dikelompokkan sebagai “Sangat Miskin”, adalah keluarga yang belum dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator yang meliputi:
1. Indikator ekonomi:
a. Makan dua kali atau lebih dalam sehari.
b. Memiliki pakaian yang berbeda untuk aktivitas (misalnya untuk di rumah, bekerja/ sekolah dan berpergian).
c. Bagian terluas lantai rumah bukan dari tanah.
2. Indikator non-ekonomi:
a. Melaksanakan ibadah.
b. Bila anak sakit dibawa ke sarana kesehatan.
B. Keluarga Sejahtera I (KS-I) sering dikelompokkan sebagai “Miskin”, adalah keluarga yang karena alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator meliputi:
1. Indikator ekonomi:
a. Paling sedikit sekali seminggu keluarga makan daging atau ikan atau telur.
b. Setahun terakhir seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru.
c. Luas lantai rumah paling kurang 8 m untuk tiap penghuni.
2. Indikator non-ekonomi:
a. Ibadah teratur.
b. Sehat tiga bulan terakhir.
c. Mempunyai penghasilan tetap.
d. Usia 10-60 tahun dapat baca tulis huruf latin.
e. Usia 6-15 tahun bersekolah.
f. Mengikuti program keluarga berencana (KB).
C. Keluarga Sejahtera II (KS-II) adalah keluarga yang karena alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator yang meliputi:
1. Memiliki tabungan keluarga.
2. Makan bersama sambil komunikasi.
3. Mengikuti kegitan dalam masyarakat.
4. Rekreasi bersama (6 bulan sekali).
5. Meningkatkan pengetahuan agama.
6. Memperoleh informasi atau berita dari surat kabar, TV, radio dan majalah.
7. Menggunakan sarana transportasi.
D. Keluarga Sejahtera III (KS-III) adalah keluarga yang sudah dapat memenuhi beberapa indikator yang meliputi:
1. Memiliki tabungan keluarga.
2. Makan bersama sambil komunikasi.
3. Mengikuti kegiatan dalam masyarakat.
4. Rekreasi bersama (6 bulan sekali).
5. Meningkatkan pengetahuan agama.
6. Memperoleh informasi atau berita dari surat kabar, TV, radio dan majalah.
7. Menggunakan sarana transportasi .
Belum dapat memenuhi beberapa indikator meliputi:
1. Aktif memberikan sumbangan material secara teratur.
2. Aktif sebagai pengurus organisasi kemasyarakatan.
E. Keluarga Sejahtera III Plus (KS-III Plus) adalah keluarga yang sudah dapat memenuhi beberapa indikator meliputi:
1. Aktif memberikan sumbangan material secara teratur.
2. Aktif sebagai pengurus organisasi kemasyarakatan.
2.2.5 Keluarga dan Masyarakat
Salah satu defenisi keluarga pada awalnya adalah a union of families, yang berarti masyarakat merupakan gabungan atau kumpulan dari keluarga- keluarga.Awalnya dari masyarakat pun dapat dikatakan berasal dari hubungan
antar individu, kemudian kelompok yang lebih membesar lagi menjadi satu kelompok besar orang-orang yang disebut dengan masyarakat.Jadi dapat dikatakan bahwa keluarga adalah inti dari masyarakat, dimana setiap keluarga adalah sentral dari seluruh masyarakat.Karena keluarga ini pada hakekatnya mempunyai hubungan yang menjurus ke segala arah dalam masyarakat yang disebut tetangga untuk yang terdekat, kemudian kampung, daerah, Negara dan dunia.
Sebagai sentral sekaligus anggota masyarakat, keluarga mempunyai inte- relasi dengan masyarakat di luarnya.Hubungan baik antar keluarga merupakan hubungan yang baik pula bagi masyarakat dan setiap anggota keluarga merupakan cerminan keluarga di dalam lingkungan sosialnya.Dalam kehidupan sosial, keluarga tidak terlepas dari kondisi-kondisi yang ada dalam masyarakat, baik nilai dan norma yang berlaku. Pada dasarnya nilai dan norma dalam masyarakat akan berpengaruh terhadap tindakan-tindakan yang dijalankan oleh keluarga. Nilai dan norma tersebut bersifat mengikat, sehingga keluarga harus dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku tersebut (Su‟adah,2005:110-111).
2.4 Program Penguatan Keluarga
Keluarga adalah jantung dari masyarakat dan tempat perlindungan bagi setiap anggota keluarga, khususnya anak.Program penguatan keluarga merupakan salah satu program pelayanan yang bertujuan untuk mencegah anak-anak dari kehilangan perawatan keluarga mereka.Melalui program ini, masyarakat diberikan bantuan khusunya bagi keluarga-keluarga yang kurang beruntung termasuk dalam kategori miskin.
Program ini dilakukan dengan memberdayakan keluarga, untuk memperkuat kapasitas mereka dalam melindungi dan memelihara anak mereka, memperkuat jaringan pengaman untuk anak-anak yang rentan dan keluarga mereka dalam masyarakat bagi anak-anak yang telah kehilangan perawatan keluarga biologis mereka, menyediakan perawatan atau pola pengasuhan anak berbasis kelurga. Ada 4 prinsip pengasuhan yang dijalankan, yakni adanya ibu, keluarga yang terdiri dari kakak, adik, rumah dan desa.Melalui hal tersebut, anak-anak diharapkan dapat tumbuh dalam lingkungan keluarga yang nyaman dan dengan dukungan sarana dan prasarana memadai.Layanan program ditujukan untuk keluarga dengan anak- anak di bawah usia 18 tahun, yang jatuh dalam kelompok sasaran. Layanan ditujukan bagi seluruh anggota keluarga, termasuk semua anak-anak dan pengasuhnya dalam sebuah keluarga.Anak-anak yang beresiko kehilangan perawatan keluarga biologis mereka juga termasuk dalam kelompok sasaran program penguatan keluarga ini.
Adapun pelayanan yang diberikan dalam program ini adalah:
1. Kegiatan Pendidikan.
Kegiatan dalam program pendidikan yaitu memberikan dukungan agar anak dapat mengikuti pendidikan formal dasar dalam bentuk bantuan pembayaran SPP bulanan, melengkapi perlengkapan sekolah, seperti seragam sekolah dan buku tulis, pembayaran buku paket dan pembentukan kelompok belajar bersama di balai anak atau Children Centerdalam bentuk kegiatan keterampilan membuat prakarya (membuat gelang, mainan kunci, bingkai foto), latihan pramuka, les bahasa inggris, les komputer, les matematika, belajar bersama dan membuat PR.
2. Kegiatan Penguatan Ekonomi Keluarga.
Berpikir bahwa banyak orang tua tidak mampu membiayai kebutuhan dasar anak-anak mereka dikarenakan kemampuan finansial yang terbatas, maka program-program yang diharapkan nantinya akan memberikan kontribusi kepada kemandirian keluarga-keluarga tersebut secara finansial.
Adapun program-program tersebut adalah:
a. Mengadakan pelatihan-pelatihan penunjang.
Pelatihan-pelatihan penunjang ini diberikan untuk membantu anggota binaan mengembangkan ekonomi keluarga dengan membentuk bidang usaha sesuai dengan pelatihan-pelatihan yang telah diberikan seperti membuat cincin dari kawat, pelatihan salan kecantikan, jualan rujak, jualan makanan keliling, pelatihan ternak ayam, ternak burung puyuh, ternak lele, ternak kelinci, usaha pembuatan payet jilbab, jualan ikan keliling.
b. Pemberian koperasi simpan pinjam.
Koperasi simpan pinjam diberikan di setiap desa binaan untuk memberikan kesempatan kepada anggota-anggotanya memperoleh pinjaman dengan mudah dan bunga yang ringan. Tujuan koperasi simpan pinjam:
1. Membantu keperluan kredit para angggota yang sangat membutuhkan dengan syarat-syarat ringan.
2. Mendidik para anggota agar giat menyimpan secara teratur sehingga dapat membentuk modal sendiri.
3. Mendidik anggota untuk hidup hemat dengan menyisihkan sebagian dari pendapatan mereka.
4. Menambah pengetahuan rentang perkoperasian.
Koperasi simpan pinjam bergerak dalam bidang lapangan usaha pembentukan modal para anggota secara teratur dan terus-menerus untuk kemudian dipinjamkan kepada anggota dengan cara mudah, cepat, dan tepat untuk tujuan produktif dan kesejahteraan.
3. Kegiatan Kesehatan.
Melihat kurang pedulinya orang tua akan kesehatan terhadap anak-anak, diri sendiri dan lingkungan maka melalui program ini diberikan penyuluhan secara aktif dengan melibatkan dinas terkait di daerah seperti puskesmas atau posyandu. Para orang tua diberikan dorongan dan motivasi agar menghadiri program posyandu sehingga masyarakat sadar akan pentingnya menjaga kesehatan. Dalam kegiatan ini anak-anak mendapatkan makanan tambahan berupa bubur dan susu, selain itu warga binaan juga mendapat layanan periksa kesehatan secara gratis.
2.4.1 Tujuan Program Penguatan Keluarga
Tujuan dari Program Penguatan Keluarga yakni membantu anak-anak yang beresiko kehilangan perawatan supaya dapat tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh perhatian, menyentuh dan ikut terlibat dalam kapasitas keluarga dan masyarakat dengan caramemberdayakan secara efektif supaya dapat memelihara dan melindungi anak mereka, bekerja sama dengan pemerintah daerah dan penyedia layanan lainnya dalam pelaksanaan Program Penguatan Keluarga.
2.4.2 Prinsip-prinsip Program Penguatan Keluarga Prinsip-prinsip Program Penguatan Keluarga, yaitu:
1. Tempat terbaik anak untuk tumbuh adalah keluarga biologis.
Keluarga adalah inti dari masyarakat dan lingkungan alam untuk perkembangan yang sehat dan kesejahteraan anak-anak.Anak-anak memiliki hak untuk tumbuh dalam keluarga biologis mereka, mereka dapat menikmati lingkungan yang penuh perhatian dengan cinta, hormat dan keamanan.
2. Pengasuh/ orang tua bertanggung jawab atas perkembangan anak.
Pemberi perawatan adalah orang yang memenuhi peran orang tua dalam kehidupan anak, dengan tanggung jawab utama menciptakan lingkungan keluarga peduli yang dibutuhkan dalam perkembangan anak yang sehat.
Peran ini sesuai dengan komposisi keluarga dalam adat istiadat dan budaya setempat.
3. Masyarakat adalah sumber dukungan bagi anak dan keluarga.
Anak dan keluarga adalah bagian dari masyarakat yang lebih luas di mana mereka hidup.Masyarakat memiliki tanggung jawab untuk melindungi hak- hak anak dan dapat memobilisasi sumber daya yang ada untuk mengatasi masalah anak yangberesiko kehilangan perlindungan keluarga.Masyarakat yang peduli dan kuat secara efektif dapat mendukung anak dan keluarga serta memberikan kontribusi untuk perkembangan anak.
4. Tujuan dari pengembangan adalah realisasi hak asasi manusia.
Anak dan pengasuh mereka berhak atas semua hak sebagaimana dinyatakan dalam Perjanjian Hak Asasi Manusia Internasional, terutama konverensi
PBB tentang Hak-hak Anak dan konverensi PBB tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan. Pemerintah dan pihak lain yang terkait mempunyai kewajiban untuk mengakui, menghormati, melindungi, mempromosikan dan memenuhi hak-hak ini.
2.4.3 Visi dan Misi Program Penguatan Keluarga
Visi Program Penguatan Keluarga yaitu memperkuat keluarga dan masyarakat dimana anak yang beresiko diterlantarkan dan tidak terlindungi keberadaanya serta anak-anak yang beresiko kehilangan pengasuhan keluarga dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang menyayangi mereka.
Misi Program Penguatan Keluarga adalah membantu membangun keluarga kurang beruntung yang mempunyai keterbatasan atau kekurangan secara ekonomi dan sosial untuk dapat mandiri dalam lingkungan masyarakat sehingga diharapkan setelah mandiri secara sosial dan ekonomi, para orang tua dari keluarga tersebut agar dapat memelihara dan menjaga anak-anak mereka.
2.4.4 Strategi Program Penguatan Keluarga Strategi Program Penguatan Keluarga, yaitu:
1. Memastikan setiap anak mendapatkan akses pelayanan-pelayanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan.
2. Setiap keluarga dibangun kemampuannya agar dapat menjaga dan memelihara anak-anak mereka.
3. Memberikan bantuan bagi anak-anak dan keluarganya (Draft terjemahan Family Strengthening Programmes Manual Working Paper, 2007).
2.4.5 Sumber Dana Yayasan SOS Children’s Village Medan
Menjalankan seluruh program pelayanan kepada masyarakat Yayasan SOS Medan tidak mungkin tanpa dukungan dana, untuk itu Yayasan SOS Medan aktif dalam menggalang donasi baik dari dalam maupun dari luar negeri, ataupun masyarakat perorangan yang sukarela member dana bagi SOS. Adapun beberapa donator Yayasan SOS Children‟s Village Medan:
1. NUMICO
2. Sari Husada (Indonesia) 3. Heymans
4. Dagblad Norden
Setiap orang juga dapat berpartisipasi dan membantu SOS Children‟s Village dalam usahanya mengatasi masalah anak-anak terlantar, dengan menjadi Sahabat SOS Children‟s Village. Partisipasi ini bersifat sukarela dalam bentuk maupun bidang yang beraneka ragam, seperti:
a) Sumbangan sukarela secara berkala maupun insidential baik berupa dana maupun barang.
b) Menjadi orang tua asuh yang secara berkala membantu seorang anak asuh atau lebih yang disebut sponsor.
c) Mengadakan kunjungan secara periodik atau menghibur anak-anak SOS Medan dan mengadakan kegiatan lainnya sebagai rasa ikut memiliki SOS.
d) Membantu anak remaja SOS untuk mendapatkan pendidikan keahlian dan keterampilan serta membantu menyalurkan mereka ke tempat- tempat kerja yang sesuai dengan keahlian dan keterampilannya.
2.5 Penelitian yang Relevan
1. Penelitian yang dilakukan oleh Pera Susilabeka pada tahun 2015 yang berjudul “Pengaruh Program Penguatan Keluarga Terhadap Kesejahteraan Sosial Warga Binaan Yayasan SOSDesa Taruna Medan di Desa Tanjung Amon Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang”. Penelitian menggunakan penelitian deskriptif, analisis data dengan pendekatan kuantitatif dan jumlah sampel sebanyak 21 keluarga diperoleh bahwa anggota binaan merasakan manfaat & membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka saat ini dan saat mendatang dan meningkatkan kesejahteraan sosial warga binaan.
a. Segi ekonomi: sebanyak 13 orang atau 59,1 % mengatakan bahwa dengan adanya koperasi berpengaruh terhadap sikap hidup hemat mereka.
b. Segi pendidikan: sebanyak 22 orang atau 100 % mengatakan bantuan sekolah sangat lancar.
c. Segi kesehatan: sebanyak 15 orang atau 68,2 % mengatakan banhwa penyuluhan kesehatan sangat berpengaruh terhadap sikap hidup sehat anggota keluarga.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Windy Safutry pada tahun 2013 yang berjudul
“Efektifitas Pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Penguatan Keluarga Oleh Yayasan SOS Children’s Villages Medan di Lingkungan III Kelurahan Namo Gajah Kecamatan Medan Tuntungan”.
Penelitian menggunakan penelitian deskriptif, analisis data dengan