11 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Konflik Batin
Setiap kehidupan manusia pasti tidak terlepas dengan adanya konflik atau permasalahan, sebuah permasalahan merupakan akibat dari adanya komunikasi antar manusia yang kurang baik, salah perhitungan, dan bisa juga akibat salah pengertian.
Pada dasarnya konflik sulit dihindari, karena sebagai insan sosial kita senantiasa berhubungan dengan orang lain baik keluarga maupun masyarakat sekitar hal tersebut pastinya mempunyai peluang terjadinya kesalah pahaman satu sama lain. Menurut Freud (Bartens, 2006:12) mengemukakan bahwa hidup psikis manusia merupakan sebuah hasil dari suatu konflik antara daya-daya tertentu, dalam kehidupan nyata, konflik dapat muncul karena adanya sebuah penghianatan, kepentingan, perbedaan, balas dendam, dan perbedaan karakter. Konflik bisa terjadi antara satu orang dengan beberapa orang lainnya, melalui sebuah konflik setiap orang bisa menyelesaikan sebuah permasalahan.
Konflik batin merupakan bagian paling penting pada sebuah cerita yang dibuat oleh pengarang. Setiap pengarang membuat konflik berdasarkan jalannya cerita, (Stanton, 2007:31) menjelaskan terdapat dua bagian yang dapat membangun sebuah alur cerita diantaranya konflik dan klimaks. Berdasarkan pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam setiap karya fiksi mempunyai beberapa konflik internal yang hadir melalui keinginan seseorang yang mempunyai beberapa karakter berbeda dengan lingkungan yang berbeda juga dan memiliki cerita dari puncak
permasalahan. Dalam cerita tersebut kita bisa mengetahui bagaimana konflik pada cerita yang terjadi, hingga puncak permasalahan pada konflik, dengan demikian dalam sebuah cerita sangatlah penting untuk menghadirkan konflik berdasarkan dari cerita dalam kehidupan nyata. Pada hal ini tentunya dalam sebuah konflik terdapat alur cerita, dalam sebuah cerita tidak mungkin menjadi sesuatu yang bagus karena tidak ada proses klimaks dalam cerita tersebut.
. Pada dasarnya manusia yang hidup di bumi ini memiliki latar belakang yang berbeda-beda, kondisi jiwa seseorang juga mengalami ketidaksesuaian pada kondisi kehidupan. Menurut Tarigan, (1984: 128), menjelaskan sebuah konflik merupakan bagian yang paling tinggi dalam serangkaian puncak dalam cerita dan tempat kekuatan-kekuatan cerita terletak dalam sebuah konflik. Berdasarkan pandangan di atas dalam suatu kehidupan seseorang pasti tidak akan terlepas pada sebuah konflik.
Beberapa konflik dapat dipicu melalui beberapa konflik batin yaitu tingkah laku seseorang, sikap dan perbuatan yang sesuai dengan permasalahan dalam kehidupan nyata. Seringkali kita temui pada seseorang yang tertekan karena konflik batin tetapi ketahanan seseorang untuk mengekspresikan sikap dan raut wajah mengambarkan bahwa tidak sedang terjadi konflik atau pandai menyembunyikan permasalahan. Hal ini dikarenakan seseorang tersebut tidak ingin membagi kesedihannya pada orang lain, dan tidak ingin orang lain merasakan permasalahan yang sedang dialami olehnya.
Terjadinya konflik batin yang dibuat oleh pengarang pada sebuah cerita sangatlah berbeda-beda. Konflik terjadi pada dua tokoh atau lebih, biasanya konflik dibuat berdasarkan cerita pokok permasalahan yang terjadi dalam cerita. Terjadinya
konflik dipicu oleh beberapa orang yang terjadi pertentangan atau perlawanan pada cerita dengan lawan atau tokoh yang lainnya. Pada novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru sebab terjadinya konflik pertama pada tokoh utama
dengan beberapa warga desa di Banyuwangi yang menyebabkan bapaknya meninggal, dituduh sebagai dukun santet dan konflik kedua yaitu konflik tokoh utama dengan pacarnya yang menghianatinya.
Bentuk konflik batin dalam novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru adalah konflik a) Id merupakan lapisan psikis yang paling mendasar di mana Eros dan Thanos berkuasa, Id selalu berada dalam pendiriannya Id tidak terpengaruh oleh pihak Ego. Id selalu mencari kesenangan dan menghindari ketidaknyamanan.
pertentangan antara pilihan yang tidak sesuai dengan kenyataan atau harapan, b) ego, merupakan pengendali antara kesenangan dari sebuah kenyataan pada sebuah keinginan, ego mempunyai sifat sadar dan prasadar. Ego dapat mengontrol apa yang mau masuk ke sadaran dan apa yang akan di kerjakan, c) Superego merupakan bagian dari moralitas dalam kepribadian seseorang, superego dapat mengenali baik dan buruknya sesuatu. Supergo dibentuk melalui internalisasi dimana superego berperan dimana larangan-larangan atau sebuah perintah yang berasa dari luar dapat diolah sehingga dapat menentukan sesuatu yang dianggapnya benar.
Sebuah konflik selalu melibatkan beberapa tokoh utama dalam karya sastra yaitu protagonis berhadapan dengan antagonis dan biasanya tritagonis terlibat di dalam cerita. Pangkal dasar dalam sebuah cerita dalam konflik yaitu protagonis dan antagonis. Sebuah cerita dalam sebuah novel pasti tidak terlepas dengan adanya permasalahan. Dalam sebuah karya sastra beberapa konflik mempuyai peranan yang
sangat penting tidak hanya untuk bahan cerita, tetapi dapat menarik pembaca untuk lebih menyukai cerita tersebut. Tanpa adanya konflik dalam sebuah cerita tidak bisa mendukung jalannya cerita menjadi lebih nyata dan kuat akan permasalahan yang terjadi dalam cerita.
2.2 Psikologi Kepribadian
Psikologi kepribadian merupakan sebuah ilmu yang membahas tentang kejiwaan pada seseorang. (Minderop, 2016:8), menjelaskan bahwa psikologi kepribadian merupakan psikologi yang mempelajari kepribadian manusia dengan objek penelitian dan faktor yang mempengaruhi tingkah laku manusia. Berdasarkan pandangan diatas manusia memiliki pola pikir yang berbeda-beda yang dapat mempengaruhi segala perilaku yang menyimpang pada perilaku manusia. Setiap masing-masing individu pasti mempunyai karakteristik pola, perilaku terhadap suatu kejiwaan, kepribadian sendiri terbentuk sejak lahirnya seseorang. Fungsi dari psikologi kepribadian adalah menguraikan tingkah laku pada manusia, atau kejadian yang dialami individu secara sistematis, pada kepribadian sendiri di dukung oleh kualitas nalar dari id, ego dan superego. Dari karakteristik di atas merupakan teori kepribadian dari Sigmund Freud.
Pada psikologi kepribadian dapat memahami kepribadian seseorang yang seutuhnya. (Alwisol, 2018:1), psikologi kepribadian dapat melahirkan konsep tentang kepribadian pada seseorang yang mengacu pada tingkah laku seseorang, pola tingkah laku seseorang, model tingkah laku dan perkembangan pada tingkah laku seseorang.
Melalui psikologi kepribadian seseorang dapat di bedakan atau dapat di pahami
berdasarkan tingkah laku seseorang. Tingkah laku seseorang dapat menunjukkan sikap dan perasaan seseorang.
2.3 Teori Kepribadian Psikoanalisis Sigmund Freud
Psikoanalisis merupakan suatu jenis dari pembagian dari psikologi.
Psikoanalisis pertama kali dilahirkan oleh Sigmund Freud pada tahun 1896.
Psikoanalisis diartikan sebuah ilmu yang banyak membahas mengenai kejiwaan pada seseorang. Konflik kejiwaan terdapat pada diri manusia, dimana kedua hal tersebut dapat berasal pada ketidaksadarannya. (Bertens, 2005:3), menjelaskan psikoanalisis dapat dikatakan sebuah pandangan baru mengenai kehidupan pada manusia dimana ketidaksadaran pada manusia dapat memainkan peranan yang sangat sentral.
Kehidupan manusia tidak terlepas dengan adanya konflik yang dapat memicu alam bawah sadar manusia pusat dari kepribadian seseorang dapat dilihat dalam jiwa pada seseorang tersebut. Pada kejiwaan seseorang dapat diukur dengan tingkah laku dan pola berfikir seseorang dalam menghadapi permasalahan yang menganggu kepribadian orang tersebut.
Terdapat satu satu gejala yang bisa dikaji dengan menggunakan psikoanalisis yaitu neurosis obsessional, neuroris yang mempunyai sifat bersifat. Neuroris Obsesif merupakan suatu gejala dimana seorang individu menunjukkan beberapa gejala dengan gejala lainya yaitu menunjukkan gejala tersebut dengan cara, melindungi dirinya dari hasrat tidak sadar, berkompromi, dan sekaligus diam-diam mengekspersikannya (Eagleton, 2007: 229). Cara berfikir seseorang pasti berbeda-
beda cara seseorang untuk melindungi dirinya dari sebuah konflik dan cara penyelesaian terhadap suatu masalah tentunya sangat bervariasi.
2.4 Bentuk Konflik Batin Kepribadian
Struktur kepribadian Sigmund Freud terdiri dari tiga sistem yang mendukung teori kepribadian yaitu id, ego dan superego. Pada struktur tersebut dapat dialami oleh setiap manusia terutama pada kepribadian manusia. Ketiga struktur tersebut dapat bekerja dan saling berketerkaitkan satu dengan yang lain. Melalui struktur kepribadian, kepribadian seseorang dapat diukur dengan menggunakan id, ego dan superego.
Id merupakan alam bawah sadar manusia, tidak ada kontak dengan realitas, cara kerja id yaitu selalu berhubungan dengan kehidupan yang berbau kesenangan yaitu selalu mencari sebuah kenikmatan dan selalu menghindari ketidaknyamanan. Id merupakan energi psikis yang paling mendasar dan merupakan kawasan di mana Eros dan Thanos berkuasa dimana Eros berperan sebagai pembawa peran nilai-nilai baik dalam sebuah kehidupan dan Thanos berperan sebagai penghancur nilai-nilai dalam kehidupan (Bertens, 2006:32). Setiap kehidupan manusia tidak terlepas dengan adanya konflik dimana konflik tersebut selalu mempengaruhi fikiran manusia untuk menimbulkan suatu masalah, sifat id yang dimiliki manusia haruslah terpenuhi.
Id bekerja melalui proses primer id dapat dikendalikan apabila prinsip dinamika mental yang paling dasar dapat menolongnya Menurut Freud (dalam Minderop, 2016: 21) mengemukakan bahwa id merupakan energi psikis dan naluri yang menekan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Id merupakan
bawaan sejak lahir yang terbentuk dari aturan-aturan tertentu yang melibatkan sifat- sifat negative.. (Antony, 1991: 70), menjelaskan id juga mengabaikan kategori ruang dan waktu dan menganggap hal-hal yang bertentangan, sepeti gelap, terang, tinggi, rendah sebagai identik. Pada hal-hal tersebut id berada dalam ketidaksadaran yang dialami oleh manusia untuk dapat memuaskan dirinya atau batinnya untuk mendapatkan sesuatu yang di inginkannya.
Sifat yang dimiliki oleh tokoh utama dalam novel Perempuan Bersampur Merah yaitu sifat bawaan sejak lahir, adapun contoh sifat bawaan sejak lahir yang
dimiliki oleh tokoh utama yaitu “Aku tak peduli akan rencana masa depan Ahmad.
Aku masih ingin tahu tentang Pak Sotar. Rasa penasaranku terhadap mereka bagai dahaga yang harus segera dituntaskan dengan air segar (Andaru, 2019: 42)”. Sari ingin mencari tahu tentang Pak Sotar yang sudah ikut mengarak dan membunuh Bapaknya, dari hal itulah Sari perperilaku sewenang-wenang pada Ahmad dia selalu mementingkan diri sendiri dibandingkan mementingkan orang lain. Sifat Sari merupakan bagian dari ketidaksadarannya yaitu bagian dari Id. (Karlina dkk, 2019:
401) Id yaitu memiliki dorongan-dorongan yang lebih tinggi yaitu berupa nafsu, nafsu yang dimiliki seseorang sangat sangat mempengaruhi kepribadian seseorang, yang dapat memunculkan beberapa konflik sehingga dapat memepengaruhi kondisi psikisnya.
Ego merupakan pengendali pada batasan antara kesenangan dari sebuah kenyataan pada keinginan dari orang pribadi yang bisa dipuaskan tanpa harus melibatkan beberapa kesulitan ataupun penderitaan. Ego terbentuk dengan diferensiasi dari Id karena kontaknya dalam dunia luar, khususnya pada orang sekitar
(Bertens, 2006:33). Ego dikuasai oleh pemikiran sadar dan prasadar dimana setiap manusia mempunyai pola fikir yang bereda-beda antara mencari kesenangan dan menghindari ketidaknikmatan. Menurut Freud (dalam Minderop, 2016: 22) menyatakan bahwa ego terperangkap diantara dua elemen yaitu id dan superego kedua elemen tersebut saling bertentangan satu sama lain yaitu antara patuh pada prinsip realitas dan memenuhi kesenangan yang terbatas oleh sebuah realitas. Dalam sebuah kehidupan seseorang yang mempunyai perwatakan tenang adalah ego.
Ego memiliki sifat pengaruh yang sangat besar dapat dikatakan sebagai seorang pemimpin utama dalam kepribadian seseorang. Ego dapat dikatakan sebagai penentu dari baik buruknya sesuatu dalam keberlangsungan kehidupan seseorang.
Cara kerja ego menggunakan proses sekunder yang mempertimbangkan akal sehat dan kekuatan dari rangsangan terhadap desakan ataupun paksaan dari dalam fikiran manusia. Fungsi dari ego dapat membelah diri, antara mencari kepuasan dan ketidakpuasan.
Sifat ego yang dimiliki oleh tokoh utama pada novel Perempuan Bersampur Merah yaitu penentu baik buruknya sesuatu, adapun contoh sifat ego yang dimiliki
oleh tokoh utama Sari yaitu “Mungkin kuliah di tempat yang sama dengannya terdengar menyenangkan. Tapi, bila aku berhasil mendapatkan beasiswa dan kuliah di sana, bagaimana dengan Ibu di sini? Lebih dari itu, yang tinggal di kepalaku adalah bagaimana bila aku tetap tidak melanjutkan kuliah? (Andaru, 2019: 162). Dari kutipan pada novel tersebut dapat disimpulkan bahwa Sari merasa bimbang bahwa ia ingin meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi bersama Rama kekasihnya dan meraih sebuah cita-cita bersamanya kelak. Akan tetapi semua tidak bisa terwujud ia
binggung dan khawatir kepada Ibunya ia tidak mau kehilangan Ibunya sendirian di kampung seperti Sari kehilangan Ayah yang di cintainya.
Superego merupakan bagian moralitas dalam kepribadian seseorang, superego dapat mengenali nilai dan buruknya sesuatu. Superego terbentuk melalui Internalisasi dimana selalu menanamkan nilai-nilai kebaikan pada manusia (Bertens, 2006:33). Larangan-larangan atau perintah yang berasal dari luar dapat diolah dan dipilih untuk dapat melakukan sesuatu yang dianggap benar. Menurut Freud (dalam Minderop, 2016:21) menyatakan bahwa superego terletak dibagian sadar dan sebagian lagi tak sadar pada manusia bisa diartikan bahwa superego bisa dikatakan sebagai perwujudan internal dari nilai dan cita tradisional pada manusia. (Semiun 2006: 66), menjelaskan superego yaitu bagaimana cara memutuskan sesuatu yang benar ataupun salah yang bertindak sesuai dengan norma, dalam kehidupan nyata seseorang bisa memutuskan kehendaknya dari sebuah permasalahan. Superego dapat menggambarkan nilai dan amanat yang baik untuk masyarakat dan dirinya. Superego sendiri terbentuk karena sebuah permasalahan atau kejadian yang berisikan sebuah perintah dan pantangan untuk melakukan sesuatu.
Sifat superego yang dimiliki oleh tokoh utama pada novel Perempuan Bersampur Merah yaitu memutuskan kehendak dari sebuah permasalahan, adapun
contoh sifat superego yang dimiliki oleh tokoh utama Sari yaitu “Selagi aku berjalan menuju kantor pos, pikiran tentang Ibu terus berdatangan. Sampai tepat di depan bangunan berwarna jingga itu, langkahku terhenti. Beberapa detik setelahnya, aku berbalik badan. Sepertinya, lebih baik berkas-berkas ini tak pernah kukirim kemana- mana (Andaru, 2019: 165)”. Pada kutipan di atas menunjukkan bahwa Sari
memutuskan segala sesuatu yang ia anggap benar yaitu Sari lebih memilih Ibunya dibandingkan ia meninggalkan kampungnya untuk kuliah dan ia tidak jadi mengirimkan berkas untuk dapat kuliah.
2.5 Faktor Penyebab Konflik Batin
Tingkah laku manusia menurut Freud terjadi pada konflik batin seseorang, konflik tersebut meliputi ketiga sistem kepribadian id, ego dan superego. Dalam sebuah konflik juga terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya konflik dalam sebuah peristiwa atau kejadian yang dialami oleh tokoh. Menurut Freud (dalam Minderop, 2016:20) faktor yang mempengaruhi kepribadian seseorang meliputi faktor historis (masa lampau) dan faktor kontemporer, yaitu faktor dari lingkungan sekitar pada faktor tersebut merupakan faktor bawaan dari seseorang ataupun dari orang lain. Setiap manusia pasti memiliki permasalahan dalam kehidupan yang baik, permasalahan dari masa lampau maupun masa yang akan datang dapat mempengaruhi kondisi jiwa dan mental seseorang.
Faktor historis merupakan faktor dari masa lampau yaitu faktor bawaan dari masa lampau ke masa yang akan datang. Setiap manusia pasti memiliki cerita dari masa lampau yang menganggu psikis dan kepribadian pada seseorang. (Anam, 2016:17), menjelaskan faktor historis merupakan faktor yang paling penting dalam suatu kehidupan dalam arti faktor tersebut terkait ruang dan waktu dan terpengaruh oleh pemikiran kehidupan yang mengelilingi dalam penggalan waktu tertentu. Cerita pada masa lampau yang tidak bisa dilupakan. Pada sebuah cerita masa lampau dapat
mempengaruhi kejiwaan seseorang, untuk tidak bisa melupakan permasalahan yang menimpa dirinya pada masa lampau ke masa yang akan datang.
Faktor historis bisa terjadi pada setiap manusia yang mengalami gangguan psikis dari gangguan psikis tersebut dapat menimbulkan beberapa konflik. Konflik tersebut bisa terjadi pada diri sendiri maupun pada orang lain. Melalui konflik dapat menimbulkan berbagai permasalahan, permasalahan tersebut bisa terjadi pada masa sekarang atau masa dahulu. Dari permasalahan tersebut akan menjadi sebuah cerita yang tidak baik, apalagi permasalahan tersebut terjadi pada masa dahulu dimana kejadian tersebut berpengaruh pada masa yang akan datang yaitu sekarang.
Faktor kontemporer merupakan faktor lingkungan disekitar masayarakat yang dapat membentuk kepribadian individu, dalam faktor kontemporer tempat tinggal seseorang juga mempengaruhi kondisi kejiwaan pada seseorang lingkungan sekitar, khususnya pada masyarakat sekitar yang dapat merubah kejiwaan atau kondisi psikis pada manusia. (Cahyono, 2018:19), menjelaskan faktor lingkungan pada tingkah laku manusia bisa menyebabkan terjadinya konflik yang dimulai dari kurangnya berinteraksi dengan manusia sekitar dengan kelompok-kelompok kecil. Pada hal ini dapat memicu terjadinya sebuah konflik dalam lingkungan sekitar. Sebagai manusia tentunya kita harus saling menghargai satu sama lain agar tidak ada kesenjangan sosial yang menimbulkan beberapa konflik dalam lingkungan sekitar.
Faktor kontemporer sangat mempengeruhi kondisi psikis pada manusia.
Dimana faktor tersebut terdapat pada lingkungan masyarakat atau lingkungan sekitar tempat tinggal yang dapat mempengaruhi terjadinya sebuah konflik. Melalui beberapa konflik dapat menimbulkan gangguan psikis pada setiap manusia yang
mengalami konflik. Terlebih lingkungan tersebut kurang baik untuk ditinggali dan terdapat masyarakat yang tidak baik menjadi salah satu pemicu terjadinya konflik.
Setiap orang pasti memiliki pola perilaku dan kondisi mental yang berbeda-beda kondisi mental manusia dapat terganggu melalui konflik dalam lingkungan sekitar.