• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan kepada siswa agar menjadi manusia yang berkualitas dan mampu secara proaktif menjawab tantangan zaman. Pentingnya pengembangan kurikulum yang berkelanjutan demi untuk mengkuti perkembangan zaman. Pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang dinamis dan berkesinambungan (Coskun & Alkan, 2010,p.389). Kurikulum di Indonesia bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan berperadaban dunia.

Secara filosofi pengembangan kurikulum bermaksud untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, memiliki sikap sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik (experimentalism and social reconstructivism). Filosofi ini bermaksud untuk mengembangkan potensi peserta didik sehingga memiliki kemampuan berpikir reflektif dalam menyelesaikan masalah sosial dan membangun kehidupan masyarakat demokratis yang lebih baik.

Muara dalam pendidikan oleh keluarga maupun satuan pendidikan tidak hanya mencetak anak-anak yang pitar, cerdas dalam pemahaman pengetahuan, namun secara luas diharapkan memiliki kemampuan di bidang sosial, moral, agama, dan memiliki kecerdasan emosional. Secara fisik/ jasmani, rohani, mental, dan spiritual dapat terpenuhi, semuanya dapat berkembang secara simbang, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang kedewasaannya dengan baik.

Seluruh potensi anak yang berkembang dengan baik akan membantu anak dalam menghadapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks.

(2)

commit to user

Dalam mengahadapi era globalisasi, maka anak harus memiliki keterampilan abad 21 yang meliputi kompetensi inti, keterampilan belajar, dan inovasi. Keterampilan inti anak sekolah dasar adalah 3R (write, reading, and aritmetic), sedangkan keterampilan belajar dan inovasi meliputi critical thinking, problem solving, communications, creativity, and innovation (Kivunja,C. 2014,p.

85). Untuk menghadapi tantangan abad 21 tersebut, generasi bangsa harus dipersiapkan sejak usia sekolah dasar, bahkan pada usia dini. Pemerintah sudah memberikan layanan pendidikan yang terbaik mulai usia dini sampai pendidikan perguruan tinggi. Potensi anak sejak usia dini sampai usia Sekolah Dasar merupakan masa perkembangan intelektual yang sangat bagus. Oleh karena itu pada masa inilah potensi anak harus benar-benar mendapatkan perhatian melalui pendidikan yang terbaik.

Sebagai upaya untuk mengikuti era informasi, digitalisasi, dan era globalisasi, maka guru harus dapat mengubah beberapa pola pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran yang aktif dan kreatif. Pembelajaran dengan paradigma kognitivisme dan konstruktivisme individu (The Cognitivist and Individual constructivist Paradigm) dan konstruktivisme sosial (Social Constructivist Paradigm). Menurut Piaget seperti yang dikutip (Kivunja,C. 2014, p.84,) bahwa apapun yang masuk ke dalam pikiran siswa harus dibangun melalui penemuan pengetahuan aktif. Oleh karena itu paradigma Piaget memberikan landasan tentang “pembelajaran aktif” sebagai cara terbaik untuk memfasilitasi pembelajaran.

Pentingnya pemenuhan tuntutan pengetahuan dan pedagogi antara lain Neurologi dan Psikologi. Siswa harus dipersiapkan menghadapi tantangan negatif dari kerasnya kehidupan. Banyaknya perkelaian pelajar, ketidakjujuran dalam UN, narkoba, korupsi, nepotisme, plagiatisme, dan kecurangan-kecurangan yang marak terjadi di berbagai aspek kehidupan. Hal-hal semacam inilah yang harus segera mendapatkan penanganan darurat, salah satunya adalah melalui pendidikan. Harapannya dengan pembelajaran yang berkualitas dan pendidikan karakter dapat mempersiapkan generasi muda menjadi lebih baik, cerdas, memiliki moralitas yang tinggi, dan keterampilan yang bagus.

(3)

commit to user

Pengalaman belajar yang dilakukan secara langsung oleh siswa menjadi hasil belajar bagi dirinya, sedangkan hasil belajar seluruh siswa menjadi hasil kurikulum. Penerapan pola pembelajaran konstruktif dengan melibatkan siswa secara aktif diharapkan mampu untuk mempersiapkan generasi muda yang lebih kuat. Secara umum perubahan paradigma baru dalam pembelajaran menuntut para pendidik untuk melakukan perubahan pola pikir dan kebiasaan dalam pembelajaran. Pembelajaran yang semula banyak berpusat pada guru dan guru sebagai sumber utama dalam pembelajaran, berikutnya harus berubah ke arah penghargaan terhadap kompetensi siswa. Pembelajaran lebih dipusatkan kepada siswa, banyak melakukan, mengamati, dan menemukan konsep sendiri.

Pembelajaran terjadi interaksi dengan lingkungan sekitar, berbasis jejaring, memperkuat nilai religi, sosial, kooperatif, dan mengajak anak untuk berfikir kritis. Pembelajaran berpusat pada siswa juga untuk menghargai kebutuhan siswa yaitu pengenalan dunia yang lebih luas daripada pengalaman yang hanya didapatkan dari pembelajaran yang berpusat pada guru (Palmer, 2009,p.175).

Strategi heuristik menghendaki siswa untuk terlibat aktif dalam proses pengolahan informasi belajar. Strategi ini lebih berpusat pada siswa (student centered) dan bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual, berfikir kritis, dan memecahkan masalah dunia nyata (Majid, 2013,p.71). Peran guru adalah menciptakan suasana berfikir sehingga siswa berani bereksplorasi dalam penemuan dan pemecahan masalah. Sisi lain guru harus mampu menjadi motivator dan fasilitator bagi siswa, sehingga potensi siswa berkembang menjadi pemecah masalah yang bagus. Guru hendaknya mampu melibatkan para siswa dalam tugas-tugas yang sarat muatan kognitif, sosial, mengajari siswa dalam menyerap dan menguasai informasi dari kegiatan pembelajaran (Joyce & Weil, 2009,p.7).

Standar kompetensi lulusan yang diharapkan bagi siswa Sekolah Dasar yang masih menerapkan kurikulum 2006 antara lain adalah siswa dapat menunjukkan kemampuan berfikir logis, kritis, dan kreatif dengan bimbingan guru serta mampu untuk memecahkan masalah-masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, mengenali gejala alam, gejala sosial di lingkungan sekitar

(4)

commit to user

siswa (Permendiknas No.23, 2006). Tujuan lain yang diharapkan dari kurikulum 2013 adalah untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia (Permendikbud No.57, 2014).

Upaya untuk mencapai standar kelulusan dan tujuan dari penerapan kurikulum 2013, maka dibutuhkan peran utama guru dalam mempersiapkan siswa menjadi anak-anak cerdas dan mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk refleksi dari pembelajaran yang diterimanya di sekolah. Perubahan pola pembelajaran harus banyak melibatkan peran aktif siswa dan guru melalui berbagai model dan pendekatan ke arah saintifik. Melalui pendekatan saintifik, diharapkan ada peningkatan dan keseimbangan antara soft skills dan hard skills. Aspek tersebut meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Menurut Bruner dan Marzano dalam buku materi pelatihan guru dalam kurikulum 2013, menyatakan bahwa keseimbangan antara tiga ranah kompetensi tersebut di atas, pada jenjang Sekolah Dasar banyak diutamakan pada ranah attitude atau lebih dominan dikenalkan, diajarkan, dan/atau dicontohkan pada anak, kemudian diikuti ranah skill, dan ranah knowledge (Kemendikbud, 2014,p.8). Pada kurikulum 2006, ranah kognitif masih mendapatkan porsi yang paling besar dibandingkan dengan ranah keterampilan dan sikap. Pembelajaran yang menekankan kemampuan kognitif pada tataran hafalan dan pemahaman mengakibatkan anak-anak kurang terbiasa untuk berfikir kritis dan kreatif. Inilah salah satu permasalahan pendidikan di tanah air ini.

Setiap pereode empat tahunan pemerintah selalu melakukan evaluasi- evaluasi tentang kemajuan pendidikan di Indonesia. Permasalahan pendidikan dijadikan satu agenda penting untuk mendapatkan perhatian lebih baik lagi.

Seperti dijelaskan dalam Renstra kementrian pendidikan dan kebudayaan tahun 2015-2019, permasalahan pemerintah dalam bidang pendidikan antara lain peningkatan kualitas pembelajaran yang belum maksimal. Tiga faktor yang menyebabkan lemahnya kualitas pembelajaran adalah: a) rendahnya jaminan

(5)

commit to user

kualitas pelayanan pendidikan; b) lemahnya pelaksanaan kurikulum; dan c) lemahnya sistem penilaian pendidikan (Kemendikbud, 2015, p. 20).

Di dalam renstra dipaparkan bahwa prestasi pendidikan Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Capaian mutu pendidikan Indonesia yang masih jauh di bawah capaian negara maju atau bahkan di bawah negara-negara tetangga Indonesia menjadi catatan dalam pembenahan mutu pendidikan di Indonesia. Nilai PISA Matematika tahun 2012 menunjukan rata-rata capaian kompetensi siswa Indonesia berada pada level 1.

Kondisi ini mendudukkan Indonesia di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, atau bahkan Vietnam (Kemendikbud, 2015,p.18).

Dalam tes-tes penjaringan siswa berprestasi menekankan pada cara berfikir penalaran, berfikir kreatif, dan problem solving. Begitu juga pada ujian akhir Sekolah Dasar banyak soal dengan kategori pemecahan masalah yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Banyak dijumpai siswa hasil tes jatuh pada soal uraian berupa pemecahan masalah. Hal ini disebabkan proses pembelajaran tidak banyak dilatihkan pada keterampilan berfikir kritis, kreatif, dan memecahkan masalah. Hasil supervisi yang dilakukan terhadap beberapa guru di kecamatan Serengan, khususnya pembelajaran sains disajikan hanya sampai tataran tingkat menghafal dan tidak banyak upaya-upaya guru untuk belajar penalaran dan pemecahan masalah. Pembelajaran yang berlangsung di kelas-kelas Sekolah Dasar sebagian besar hanya sampai pada tataran kognitif tahap 2 yaitu tahap pemahaman.

Satu yang memprihatinkan juga bahwa hasil analisis soal tes akhir semester 1 kelas V tahun pelajaran 2015/2016 pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagian besar masih pada tataran hafalan dan pemahaman. Jumlah soal tes yang dianalisa sebanyak 40 item, terdiri dari 8 soal tataran ingatan (C1), 29 soal tataran pemahaman (C2), dan 3 soal tataran penerapan (C3). Analisa soal tes menunjukkan 20% mengukur kemampuan ingatan atau materi hafalan, 72,5% untuk mengukur tingkat pemahaman siswa, dan 7,5% untuk mengukur kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuannya.

Sangat memrihatinkan, pengujian hasil belajar satu semester sebagian besar hanya

(6)

commit to user

menguji sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi ajar, namun bukan menguji sejauh mana kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan yang telah diterima selama satu semester.

Hasil Ujian Sekolah bidang studi IPA untuk siswa kelas VI, masih jauh dari harapan. Nilai KKM nasional yang diharapkan adalah 75, sedangkan rata-rata hasil Ujian Sekolah (US) dari siswa kelas VI tahun pelajaran 2015/2016 di Kecamatan Serengan hanya mencapai 60,85. Jumlah sekolah satu kecamatan ada 29 sekolah, rata-rata hasil US IPA yang kurang dari 60,00 sebanyak 12 sekolah atau sekitar 41% sekolah yang nilai rata-rata US IPA masih sangat rendah. Suatu hasil yang memerlukan perhatian semua unsur pendidikan, khususnya bagi para pendidik agar meningkatkan proses pembelajaran yang lebih bermutu dan berpusat pada kepentingan siswa.

Dari hasil analisis soal aplikasi, sebatas menyebutkan dan menjelaskan tetapi tidak ditemukan soal-soal pemecahan masalah yang berhubungan dengan kehidupan nyata. Soal pemecahan masalah seharusnya pada tingkat analisis, evaluasi, dan berkreasi. Siswa Sekolah Dasar kelas V seharusnya sudah dilatihkan melakukan penelitian-penelitian sederhana, mengumpulkan data dan informasi, berdiskusi, menganalisis, dan membuat suatu simpulan. Kemampuan inilah yang diharapkan dapat melatih siswa terampil dalam memecahkan masalah-masalah sederhana yang ada di lingkungan siswa. Hal ini juga membantu siswa lebih siap untuk memasuki pendidikan pada jenjang berikutnya.

Hasil tes semester dan hasil Ujian Sekolah di akhir kelas VI, menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan belajar sebagian besar hanya mengukur kemampuan kognitif pada tataran pemahaman terhadap materi pelajaran. Ini artinya selama proses belajar mengajar, siswa hanya dituntut untuk memahami materi pelajaran dan sedikit untuk mengaplikasikan dalam kehidupan nyata. Mata pelajaran IPA semestinya dilakukan dengan banyak melakukan percobaan/

eksperimen, penelitian sederhana, pemecahan masalah, dan bentuk lain yang melibatkan siswa untuk belajar bersama alam sekitar.

Penelitian awal juga ditujukan kepada guru melalui angket dan wawancara. Pada bulan Juli 2015, sejumlah 50 guru dari beberapa sekolah di kota

(7)

commit to user

Surakarta, diberikan angket mengenai pelaksanaan Problem-Based Learning (PBL) di sekolah. Hasil angket menunjukkan sebagai berikut: 1) sebesar 54,4%

pemahaman guru terhadap model-model pembelajaran termasuk model PBL; 2) sebesar 51,2% pemahaman guru terhadap model PBL; 3) sebesar 33,2% guru sudah mengimplementasikan PBL di kelas; 4) sebesar 59,2% guru yang sudah melibatkan siswa untuk berfikir kritis dalam penemuan konsep maupun pemecahan masalah; 4) 36,8% pemahaman guru terhadap pembelajaran dengan langkah-langkah secara ilmiah. Hasil yang perlu mendapatkan perhatian dan tindakan perbaikan, karena rata-rata hasil angket hanya mencapai 46,96% dengan kategori cukup. Diakui oleh sebagian guru bahwa pembelajaran yang diberikan hanya sebatas pada ranah kognitif tataran sedang, artinya tidak sampai pada tahap evaluasi, analisis dan sintesis.

Hasil wawancara dengan beberapa guru, masih banyak guru yang belum memahami bagaimana bentuk pembelajaran saintifik dengan model PBL, PjBL, inquiry, dan discovery yang harus diterapkan di tingkat Sekolah Dasar. Media pembelajaran dan lingkungan sekitar sebagai sarana pembelajaran juga masih kurang dimanfaatkan oleh guru. Alasan klasik yang mereka sampaikan bahwa hal semacam itu dirasa banyak memakan waktu untuk membuat persiapan, maupun pelaksanaanya. Guru merasa keberatan harus menyiapkan alat peraga atau alat praktikum sendiri sehingga menyita banyak waktu. Hal ini disebabkan di Sekolah Dasar tidak tersedia tenaga laboratorium maupun tenaga khusus yang membantu guru menyiapkan sarana/alat pembelajaran. Banyak sekolah yang memiliki alat peraga IPA, namun masih dibiarkan tertutup rapat dalam kardus di gudang/ ruang laboratorium sekolah. Begitu juga pemahaman tentang penilaian, para guru belum paham bagaimana bentuk penilaian otentik dalam penerapan PBL.

Hasil angket terhadap sejumlah guru selanjutnya disinkronkan dengan hasil angket siswa. Data dari siswa berupa hasil wawancara dan pemberian angket kepada 80 siswa Sekolah Dasar sampel di kecamatan Serengan, Surakarta. Hasil angket siswa menunjukkan hal yang hampir sama, bahwa anak-anak tidak dibiasakan mendapatkan pembelajaran yang berbasis saintifik/ilmiah baik berupa Projek-Based Learning (PjBL), Problem-Based Learning (PBL), discovery,

(8)

commit to user

inquiry, maupun dalam bentuk penelitian-penelitian sederhana. Sebanyak 52 % siswa pernah diberikan pelajaran dengan model saintifik. Hasil wawancara singkat dengan siswa, menunjukkan sebenarnya mereka sangat tertarik dengan pembelajaran yang melibatkan mereka untuk aktif melakukan dan menemukan konsep sendiri melalui pengamatan, projek, penelitian sederhana, maupun pembelajaran secara berkelompok, namun hal itu jarang diterapkan dalam pembelajaran di kelas.

Salah satu bukti kalau siswa SD masih rendah dalam memecahkan masalah adalah dari hasil tes pada penelitian awal. Hasil tes untuk mengukur kemampuan kognitif tahap hafalan terbukti lebih baik dibandingkan untuk mengukur kemampuan pemahaman dan analisis. Berikut hasil tes jawab singkat untuk menguji kemampuan kognitif tingkat rendah dibandingkan dengan hasil tes untuk memecahkan masalah pada mapel IPA kelas V. Jumlah siswa sebagai sampel responden yang diberikan tes adalah 80 siswa. Soal yang disajikan dalam bentuk pilihan ganda, isian singkat, dan soal essay. Soal pemecahan masalah dengan bobot paling tinggi. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan adalah 75. Hasil tes dari tiga bentuk tersebut menghasilkan nilai rata-rata yang belum memuaskan. Hasil tes pilihan ganda, jumlah siswa yang dapat tuntas mencapai KKM sebanyak 48 siswa atau 60%. Siswa yang dapat tuntas dalam mengerjakan soal isian sebanyak 41 atau 51,25%, sedangkan siswa yang tuntas dalam mengerjakan soal essay berbentuk pemecahan masalah sebanyak 27 siswa atau 33,75%. Hasil analisa dari beberapa bentuk tes pilihan ganda, isian singkat dengan kategori rendah dan sedang, serta soal essay berupa tes pemecahan masalah, ternyata hasil dari tes essay jauh lebih rendah dibanding bentuk tes pilihan ganda dan isian taraf C1 dan C2.

Ada beberapa aspek yang mempengaruhi rendahnya hasil tes pemecahan masalah. Hasil wawancara dari 20 siswa yang mengikuti tes hampir 40% kurang memahami permasalahannya dan langkah-langkah untuk memecahkannya.

Sisanya menyatakan kalau mereka kesulitan untuk menyusun kalimat secara panjang lebar untuk dapat menjawab pertanyaan uraian. Hasil pengamatan dan hasil tes siswa yang menjawab dengan uraian dengan baik hanya 23,75%, sisanya

(9)

commit to user

menjawab secara singkat, tidak tepat, sehingga soal tidak dapat diselesaikan dengan baik. Salah satu penyebabnya adalah mereka terbiasa menjawab soal-soal atau pertanyaan yang sifatnya jawab singkat, sehingga mereka kurang terbiasa untuk berfikir lebih kritis dan kreatif untuk mengembangkan bahasa tulis secara jelas dan rinci.

Hasil wawancara dengan guru menyatakan bahwa bentuk pertanyaan jawab singkat akan memudahkan guru dalam mengoreksi dan memberikan penilaian. Penyusunan tes uraian dianggap oleh guru sangat mudah, namun jenis tes uraian ini menuntut guru untuk mengoreksi secara cermat dan membutuhkan waktu yang lebih lama. Penilaian yang baik memerlukan proses dan kecermatan guru. Sebagian kesulitan guru dalam proses belajar mengajar adalah dalam penilaian dan evaluasi (Coskun & Alkan, 2010,p.390). Berdasarkan analisa hasil wawancara dengan guru dan siswa kelas V mengenai rendahnya kemampuan anak dalam memecahkan masalah ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:

siswa kurang mau dan belum terbiasa membuat uraian penjelasan dari soal essay, tidak terbiasa dilatihkan menyusun kalimat pemecahan masalah secara uraian panjang lebar, siswa merasakan kesulitan untuk menyusun kalimat secara panjang.

Faktor tersebut di atas menunjukkan bahwa pembelajaran selama ini banyak berpusat pada guru, kurang efektif diterapkan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Kurangnya kreativitas guru dalam mendesain pembelajaran yang kreatif, inovatif, menyenangkan, dan menantang siswa untuk melakukan sesuatu yang lebih bermakna. Dimensi pengetahuan yang disampaikan kepada para siswa masih pada tataran konseptual. Jika ingin melatih siswa mampu berfikir kritis dan memiliki kemampuan memecahkan masalah, maka dimensi pengetahuan hendaknya diberikan melalui tahapan pengenalan fakta, penemuan konsep, dan pengetahuan prosedural melalui upaya penemuan dan pemecahan masalah, bahkan sampai pada tingkatan pengetahuan metakognisi. Pengetahuan metakognisi adalah pengetahuan tentang pikiran manusia dan cara kerjanya yang telah diakumulasikan oleh anak melalui pengalaman dan disimpan di dalam memori jangka panjang (Schunk,2012,p.400).

(10)

commit to user

Rendahnya prestasi siswa dalam memecahkan masalah mengakibatkan siswa kurang kreatif dalam belajar dan kurang peduli terhadap situasi yang ada di lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh jika anak melihat masalah dengan cepat, maka dia akan peduli terhadap sampah-sampah berserakan di sekitar kelasnya.

Upaya untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah bagi siswa Sekolah Dasar dapat dilakukan dengan melakukan perubahan-perubahan pola pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan. Pembelajaran dirancang untuk membiasakan siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui pengamatan langsung, menemukan, berinteraksi dengan lingkungan, dan mengaitakan konsep- konsep yang pernah mereka miliki dengan kondisi lingkungan yang ada. Melalui model pembelajaran semacam itu diharapkan siswa mampu untuk memecahkan masalah-masalah sederhana yang dihadapi dalam kehidupannya.

Jonassen (2011,p.108) dalam hasil penelitiannya yang berjudul Supporting Problem Solving in PBL menjelaskan bahwa komponen lingkungan pembelajaran berbasis masalah dan kemampuan kognitif sangat diperlukan untuk mendukung belajar memecahkan masalah oleh siswa. Pemecahan masalah diperoleh melalui contoh kehidupan langsung, studi kasus, analog, pengalaman sebelumnya, perspektif alternatif, dan simulasi. Kemampuan kognitif untuk membantu siswa menafsirkan dan menggunakan komponen meliputi encoding analogis, hubungan kasual, argumentasi, mempertanyakan, dan modeling.

Hasil penelitian Adodo (2013,p.170) tentang dampak dari mind mapping terhadap belajar mandiri siswa menunjukkan bahwa stratgi mind mapping sangat membantu meningkatkan kinerja siswa dalam pembelajaran sains dan teknologi dasar. Selain itu mind mapping juga mampu meningkatkan prestasi siswa, meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan keterampilan kreatif, siswa juga terdorong untuk mentransfer pengetahuan dan pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran untuk mempelajari subjek sains lainnya.

Penelitian berjudul Developing a Context-Based PBL Model, adalah penelitian pengembangan yang berisi tentang pembelajaran PBL berbasis konteks.

Ternyata kegiatan belajar mengajar yang berpusat pada masalah kehidupan nyata berbasis konteks dan menciptakan peluang kepada siswa untuk belajar mandiri

(11)

commit to user

dalam kelompok kecil. Pembelajaran ini dikembangkan untuk membantu siswa berfikir tingkat tinggi, berlaku disiplin berdasarkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi (Tang,C., Lai,P., Tang,W., Davies,H., Frankland,S., Oldfiel.D.K., et.al. 1997,p.590). Sementara hasil penelitian Baran,M. & Sozbilir,M (2017) yang berjudul An Application of Context and Problem-Based Learning (C-PBL) into Teaching Thermodynamics menunjukkan bahwa C-PBL secara signifikan mampu meningkatkan prestasi dalam termodinamika dan minat terhadap bidang kimia, tetapi tidak ada perbedaan signifikan pada sikap dan motivasi siswa.

Pengembangan model context-based PBL memperkenalkan inovasi yang berbeda dalam kurikulum dan rancangan pembelajaran. Penerapan PBL tidak hanya melibatkan proses belajar secara langsung namun yang terpenting adalah pemahaman secara jelas tentang konsep dengan mempertimbangkan konteks pembelajaran yang aktual.

Penelitian yang mendukung pengembangan ini adalah penelitian yang Purwadi, Suwandi,S., Budiyono, Slamet,Y. (2013,p.101).bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran kontekstual, PBL, dan Group Investigasi (GI) pada siswa kelas V Sekolah Dasar di Jawa Tengah oleh Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan apresiasi siswa dengan CTL lebih baik hasilnya daripada yang menggunakan PBL dan GI, namun hasil dengan PBL lebih tinggi dibandingkan yang menggunakan GI. Pembelajaran CTL dan GI pada siswa yang memiliki kecerdasan linguistik verbal tinggi mampu melakukan apresiasi cerita yang baik. Siswa dengan kecerdasan linguistik verbal yang tinggi lebih efektif menggunakan model CTL dibandingkan dengan PBL dan GI, tetapi PBL dan GI lebih efektif saat diterapkan pada kelompok siswa dengan kecerdasan linguistik yang rendah. Jadi model CTL, PBL, dan GI sama-sama efektif digunakan untuk meningkatkan apresiasi bercerita pada siswa kelas V Sekolah Dasar.

Secara teoritis model Contextual Problem-Based Learning (Co PBL) melalui peta konsep dapat diterapakan di tingkat Sekolah Dasar, meskipun bentuk permasalahannya masih sederhana yang dihubungkan dengan masalah-masalah terdekat dengan kehidupan siswa. Perpaduan langkah pembelajaran kontekstual

(12)

commit to user

dan PBL melalui peta konsep ini bertujuan membantu siswa dapat belajar memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran kontekstual dan PBL adalah suatu model pembelajaran yang memiliki komponen- komponen untuk melatihkan siswa mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata, menemukan permasalahan-permasalahan sederhana yang ada di lingkungan siswa sehingga masalah tersebut dapat dipecahkan oleh siswa baik secara individu maupun berkelompok.

Salah satu alasan pembelajaran ini dibantu dengan peta konsep, karena pembelajaran peta konsep memiliki beberapa manfaat antara lain: 1) membantu mengorganisir informasi dari suatu topik, 2) membantu memfasilitasi dalam mengatur dan memahami materi baru, 3) alat yang sangat bagus untuk mengidentifikasi struktur pengetahuan siswa, 4) membantu melatih otak, 5) berfungsi sebagai alat pengingat/ memori, 6) membantu untuk merevisi topik, 7) 7) sebagai rangkuman untuk menjelaskan seluruh materi (Brinkmann,A.2003,p.43).

Seperti halnya hasil penelitian Ghojazadeh,M., Aghaei,M.H., Naghavi- Behzad,M., Piri,R., Hazrati,H., Azami-Aghdash,S. (2014,p.70) dijelaskan bahwa pembelajaran dengan peta konsep memberikan dampak positif dan efektif dalam beberapa hal, seperti pemikiran kritis memudahkan mengaitkan antara teori dan prakik, peningkatan eksterior klinis, pengorganisasian konsep, dan pengaturan diri sendiri. Pembelajaran dengan peta konsep efektif dibandingkan dengan metode konvensional seperti ceramah dan metode terpadu.

Komponen dalam Co PBL yang dapat mendukung siswa untuk memecahkan masalah adalah: adanya suatu masalah, belajar mandiri baik secara individu maupun berkelompok, terdapat proses penemuan/proses mengkonstruksi pengetahuan sendiri, proses mendemonstrasikan hasil, refleksi pembelajaran, dan terakhir adanya evaluasi untuk mengetahui apakah masalah yang ada dapat diselesaikan dan dipahami siswa. Dengan demikian pembelajaran ini diharapkan mampu melatih siswa mengaitkan konsep-konsep pengetahuan yang telah mereka miliki seperti dalam kehidupan nyata dan mampu memecahkan masalah-masalah yang ditemukan dalam kehidupan. Pembelajaran berbasis masalah tidak harus

(13)

commit to user

selalu berkaitan secara langsung dengan lingkungan fisik, namun dapat melalui pemahaman konsep-konsep yang telah dimiliki oleh siswa.

B. Identifikasi Masalah

Bertolak dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah yaitu : 1) pembelajaran IPA tidak banyak berpusat pada siswa, sehingga mengakibatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah masih rendah; 2) kurangnya pemahaman dan kemauan guru untuk menerapkan model-model pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa, khusunya model PBL; 3) soal-soal ulangan pemecahan masalah frekwensinya rendah; 4) kurangnya kemampuan siswa dalam memahami prosedur penyelesaian masalah; 5) guru masih kurang memiliki model pembelajaran yang mampu membangun kemampuan siswa dalam memecahkan masalah seperti model PBL;

6) Guru sangat minim menerapkan PBL dalam kelas; 7) kurang efektifnya model pembelajaran yang selama ini digunakan guru untuk melatih kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.

C. Pembatasan Masalah

Dikarenakan terdapat beberapa permasalahan dalam penelitian ini, maka dibatasi permasalahan yang ada menjadi tiga hal yaitu : 1) pembelajaran IPA tidak banyak berpusat pada siswa mengakibatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah masih rendah; 2) guru belum banyak memiliki model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, kreatif, berfikir kritis dan dipandang mampu membangun kemampuan siswa dalam memecahkan masalah;

3) kurang efektifnya model pembelajaran yang selama ini digunakan guru untuk melatih kemampuan siwa dalam memecahkan masalah.

(14)

commit to user D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dirumuskan di atas, maka rumusan masalah dalam desertasi adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pembelajaran IPA di SD saat ini terhadap hasil belajar siswa dalam memecahkan masalah?

2. Bagaimanakah prosedur model pembelajaran yang diasumsikan mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah?

3. Seperti apakah hasil pengembangan model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah?

E. Tujuan Pengembangan Tujuan penelitian pengembangan ini adalah :

1. Mengetahui gambaran pembelajaran IPA di SD saat ini dalam melatih kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.

2. Mengetahui prosedur model pembelajaran yang diasumsikan mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahan masalah.

3. Memperoleh model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah?

F. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan

Model Co PBL melalui peta konsep ini terdiri atas 3 buku, dengan rincian sebagai berikut:

1. Buku 1 berisi pedoman penerapan pembelajaran dengan model Co PBL melalui peta konsep. Buku ini berisi tentang teori singkat dikembangkanya model, langkah-langkah penyusunan model, dan langkah-langkah pembelajaran.

2. Buku 2 berupa pedoman Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) untuk guru dengan menggunakan model Co PBL melalui peta konsep, silabus, RPP, dan alat penilaian pembelajaran yang didalamnya dilengkapi dengan kisi-kisi, butir soal, kunci, serta petunjuk skor penilaian.

(15)

commit to user

3. Buku 3 berupa Lembar Kegiatan Siswa (LKS) IPA dengan menggunakan model Co PBL melalui peta konsep. LKS ini digunakan dalam pembelajaran untuk membantu siswa dalam menjalankan tugas-tugas yang harus dilakukan sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai.

G. Manfaat Pengembangan

Kontribusi terhadap pengembangan ilmu, model pembelajaran ini dipandang dapat memberikan manfaat bagi dunia pendidikan, khususnya dalam peningkatan mutu pembelajaran. Pembelajaran ini berpusat pada siswa sehingga sebagian besar waktunya untuk kegiatan siswa. Siswa dilibatkan secara penuh untuk melakukan (learning by doing), melalui kegiatan diskusi, penelitian sederhana, membuat simpulan, dan presentasi. Melalui proses belajar yang aktif dan kreatif ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menerima pengetahuan, memiliki sikap religi, dan sosial yang baik, serta keterampilan.

Kegiatan menyusun peta konsep akan menguatan kemampuan kognitif dalam menerima konsep-konsep sederhana yang diperoleh siswa selama pembelajaran. Kegiatan penelitian atau observasi akan memupuk sikap religi, mensyukuri akan kebesaran ciptaan Tuhan. Kegiatan diskusi dan presentasi melatih sikap sosial antara lain: menghargai orang lain, kerjasama, rasa percaya diri, tanggung jawab, dan disiplin. Melalui belajar mandiri, siswa mendapatkan kesempatan yang luas untuk mengembangkan potensi yang dimilik. Guru bukan satu-satunya sumber belajar, namun berperan sebagai fasilitator dan motivator bagi siswa.

Secara praktis, pengembangan model pembelajaran ini sangat diperlukan karena : 1) memberikan manfaat bagi dunia pendidikan khususnya bagi guru Sekolah Dasar untuk mempersiapkan penerapan kurikulum 2013, dimana dalam kurikulum tersebut menekankan pembelajaran tematik dengan pendekatan saintifik; 2) memperoleh suatu model pembelajaran untuk membantu guru mengajar dengan profesional sehingga mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah; 3) mendukung ketercapaian standar kelulusan siswa Sekolah Dasar.

(16)

commit to user

H. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan

1. Asumsi

a. Kemampuan pemecahan masalah merupakan hasil pendidikan yang sangat esensi dan akan diterapkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Kemampuan akhir yang diharapkan dari para lulusan tidak hanya kemampuan kognitif pada tataran pemahaman pengetahuan saja, namun harapannya adalah mampu menganalisis, menerapkan dalam kehidupan, serta mengevaluasi penerapannya sesuai dengan konteks kehidupan sehari-hari. Kemampuan memecahkan masalah yang cukup tinggi sangat membantu siswa dalam menghadapi tantangan kehidupan yang dialami dalam kehidupannya.

b. Model pembelajaran yang dikembangkan ini mampu membantu guru dalam meningkatkan kemampuan siswa untuk berfikir kreatif, kritis, dan mampu memecahkan masalah. Pembelajaran kontekstual (contextual learning) membantu guru dan siswa dalam mengaitkan antara materi ajar dengan situasi dunia nyata dan mendorong antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Riyanto, 2010,p.159).

c. Model yang dikembangkan ini dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotor.

Melalui model pembelajaran ini akan melibatkan peran peserta didik secara utuh sehingga mampu merangsang dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak.

d. Dalam rangka penerapan kurikulum 2013 di Sekolah Dasar, guru sebagian besar sudah mendapatkan pelatihan pembelajaran yang melibatkan siswa untuk berperan aktif dalam pebelajaran. Asumsinya dengan adanya pengembangan model ini akan menambah referensi guru dalam memilih model pembelajaran berbasis saintifik yang mampu melatih siswa untuk belajar lebih aktif, kreatif, dan menyenangkan.

(17)

commit to user

e. Model yang dikembangkan ini diasumsikan juga mudah diterapkan karena di sekolah-sekolah sudah banyak memiliki sarana pembelajaran.

Model ini bahkan dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dan alat-alat untuk eksperimen sederhana yang dapat disediakan oleh guru maupun siswa.

2. Keterbatasan Pengembangan

a. Model Co PBL melalui peta konsep ini akan lebih mudah diberikan minimal kepada siswa kelas 4, 5, dan 6.

b. Produk dari pengembangan model ini terbatas pada pedoman pembelajaran, buku IPA panduan untuk guru, dan lembar kegiatan siswa yang akan digunakan untuk penelitian.

c. Bahan ajar yang digunakan untuk penelitian terbatas pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Semester 2 untuk kelas 5 Sekolah Dasar.

I. Definisi Istilah 1. Model Pembelajaran

Model pembelajaran merupakan suatu kerangka konseptual yang digunakan dalam pembelajaran mulai dari desain perencanaan, pelaksanaan, sampai pada tahap evaluasi pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2. Contextual Teaching and Learning (CTL)

Contextual Teaching and Learning atau pembelajaran kontekstual adalah model pembelajaran yang melibatkan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari atau konsep materi ajar dengan menghubungkan materi tersebut dengan situasi kehidupan nyata sehingga mampu mendorong siswa untuk mengaplikasikan konsep yang diperolehnya dalam pembelajaran ke dalam kehidupan sehari-hari.

3. Problem-Based Learning (PBL)

Problem-Based Learning (PBL) atau dikenal dengan pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran dengan menghadapkan siswa pada permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan di

(18)

commit to user

lingkungan siswa sebagai pijakan dalam belajar. Pembelajaran ini bertitik tolak dari suatu masalah untuk dipecahkan dalam kegiatan belajar mengajar yang disesuaikan dengan tema atau materi yang sedang dibahas

4. Co PBL

Co PBL adalah singkatan dari Contextual Problem-Based Learning merupakan pengintegrasian antara pembelajaran kontekstual dan pemecahan masalah. Maksud dalam pengembangan model ini adalah mengintegrasikan unsur-unsur dalam pembelajaran kontekstual dan PBL yang dikemas menjadi satu model sehingga dapat dilaksanakan dalam satu kegiatan pembelajaran.

5. Peta Konsep

Peta konsep adalah hubungan-hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Peta konsep yang digunakan dalam penelitian ini untuk melatih menemukan konsep tetapi sifat konsepnya masih sangat sederhana sesuai dengan bahasa dan pemahaman siswa usia Sekolah Dasar.

6. Kemampuan Memecahkan Masalah

Kemampuan memecahkan masalah adalah hasil nyata yang diharapkan setelah melakukan pembelajaran sehingga siswa mampu memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah-masalah nyata yang dihadapi oleh siswa baik secara teoritis maupun praktis.

7. Sekolah Dasar

Sekolah Dasar adalah jenjang pendidikan formal yang paling awal ditempuh oleh siswa setelah atau tidak mengalami pendidikan pra sekolah (TK). Pendidikan Sekolah Dasar berlangsung selama 6 tahun. Usia anak- anak yang duduk di Sekolah Dasar berkisar antara 7 sampai 12 tahun. Pada usia ini menurut teori Piaget adalah masa operasional konkret.

Referensi

Dokumen terkait

Mengumumkan Rencana Umum Pengadaan Barang/ Jasa untuk pelaksanaan kegiatan tahun anggaran 2013, seperti tersebut di bawah ini

Diisi dengan bidang ilmu yang ditekuni dosen yang bersangkutan pada

SEGMEN BERITA REPORTER A Kreasi 1000 Jilbab Pecahkan Muri Rina & Deska. CAREER DAY AMIKOM Adib & Imam Wisuda smik amikom Adib

 Biaya produksi menjadi lebih efisien jika hanya ada satu produsen tunggal yang membuat produk itu dari pada banyak perusahaan.. Barrier

[r]

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK & MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

Emisi surat utang korporasi di pasar domestik selama Januari 2018 mencapai Rp7,67 triliun atau naik 2,84 kali dibandingkan dengan Januari 2018, berdasarkan data oleh

12 Saya selalu pergi kepusat perbelanjaan ketika tidak. ada