KONSEP CAU DALAM MASYARAKAT SUNDA: kajian antropolinguistik di desa gunung masigit,kecamatan cipatat, kabupaten bandung barat.

33  25  Download (2)

Full text

(1)

KONSEP CAU DALAM MASYARAKAT SUNDA

(Kajian Antropolinguistik di Desa Gunung Masigit,

Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat)

SKRIPSI

diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra

oleh

GINA GIFTIA FADILAH NURSANI

NIM 100059

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)

LEMBAR HAK CIPTA

KONSEP CAU DALAM MASYARAKAT SUNDA

(Kajian Antropolinguistik di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat,

Kabupaten Bandung Barat)

Oleh

GINA GIFTIA FADILAH NURSANI

NIM 1000592

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi syarat memeroleh gelar

Sarjana Sastra pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra

© GinaGiftiaFadilahNursani

Universitas Pendidikan Indonesia

Juni 2015

Hak cipta dilindungi undang-undang.

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian,

(3)

GINA GIFTIA FADILAH NURSANI

NIM 1000592

SKRIPSI

KONSEP CAU DALAM MASYARAKAT SUNDA

(Kajian Antropolinguistik di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat,

Kabupaten Bandung Barat)

disetujui dan disahkan oleh:

Pembimbing I,

Dr. Hj. Nuny Sulistiany Idris, M.Pd.

NIP 19670151991032001

Pembimbing II,

Mahmud Fasya, S.Pd., M.A.

NIP 197712092005011001

Diketahui oleh,

Ketua Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,

(4)

KONSEP CAU DALAM MASYARAKAT SUNDA

(Kajian Antropolinguistik di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat,

Kabupaten Bandung Barat)

Gina Giftia Fadilah Nursani

NIM 1000592

ABSTRAK

Penelitian yang berjudul

Konsep

Cau

dalam Masyarakat Sunda (Kajian

Antropolinguistik di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten

Bandung

Barat)

merupakan

suatu

penelitian

pada

tataran

kajian

antropolinguistik. Penelitian ini sangat relevan dilakukan di Desa Gunung

Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, karena masyarakat di

desa tersebut masih memegang konsep harmoni dengan alam yakni dengan

mempertahankan

leksikon-leksikon

yang

berkaitan

dengan

cau

dan

pemanfaatannya. Dalam penelitian ini dirumuskan beberapa masalah yang

meliputi (1) klasifikasi dan deskripsi leksikon tentang

cau

, (2) fungsi leksikon

tentang

cau

, (3) konsep

cau

yang terkandung dalam leksikon tentang

cau

, dan (4)

kesepadanan antara leksikon varian

cau

dalam bahasa Sunda dengan leksikon

varian pisang dalam bahasa Indonesia. Untuk menjawab semua permasalahan

tersebut, digunakan model penelitian etnografi komunikasi yang melibatkan

metode deskriptif-kualitatif. Dalam pengumpulan data digunakan teknik observasi

partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Berikut hasil penelitian

yang dijelaskan secara singkat. Data leksikon tentang

cau

berjumlah 100 leksikon.

Pertama

, klasifikasi secara formal berdasarkan satuan lingual yang terdiri atas (1)

kata dan (2) frasa. Selain itu, klasifikasi secara fungsional terdiri atas (1)

bagian-bagian

cau

, (2) varian

cau

, (3) hasil olahan

cau,

dan (4) cara pengolahan

cau

.

(5)

CAU CONCEPT IN SUNDANESE PEOPLE

(Antropolinguistik Study at Gunung Masigit Village, Cipatat Sub-district,

Bandung Barat regency)

Gina Giftia Fadilah Nursani

NIM 1000592

ABSTRACT

(6)

DAFTAR ISI

BAB II PENELITIAN TERDAHULU, IHWAL ANTROPOLINGUISTIK,

DAN SATUAN LINGUAL DALAM KAJIAN LINGUISTIK ... 10

A.

Penelitian Terdahulu ... 10

a.

Pandangan Hidup Sebagai Manusia Secara Pribadi... 21

b.

Pandangan Hidup tentang Hubungan Manusia

dengan Masyarakat... 22

c.

Pandangan Hidup tentang Hubungan Manusia dengan Alam... 23

d.

Pandangan Hidup tentang Hubungan Manusia dengan Tuhan ... 23

e.

Pandangan Hidup tentang Manusia dalam Mengejar

Kemajuan Lahiriah dan Kepuasan Batiniah ... 24

7.

Leksikalisasi Lintas Bahasa ... 24

C.

Satuan Lingual dalam Kajian Linguistik... 26

1.

Morfem ... 26

2.

Kata ... 28

(7)

1)

Frasa Endosentris ... 29

1.

Contoh Analisis Klasifikasi Leksikon tentang

Cau

Berdasarkan Satuan Lingual ... 41

a.

Contoh Analisis Klasifikasi Leksikon tentang

Cau

Berupa Kata .... 42

b.

Contoh Analisis Klasifikasi Leksikon tentang

Cau

Berupa Frasa ... 43

2.

Contoh Analisis Klasifikasi Fungsional Leksikon tentang

Cau

... 44

3.

Contoh Analisis Fungsi leksikon tentang

Cau

...

44

4.

Contoh Analisis Leksikalisasi Varian

Cau

dalam Bahasa Sunda

dengan Varian Pisang dalam Bahasa Indonesia ... 46

BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 48

A.

Klasifikasi dan Deskripsi Leksikon tentang

Cau

di Desa Gunung Masigit,

Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat ... 48

1.

Klasifikasi dan Deskripsi Leksikon tentang

Cau

Secara Formal

di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat,

Kabupaten Bandung Barat, Berdasarkan Satuan Lingual ... 48

a.

Leksikon Tentang

Cau

yang Berupa Kata ... 53

1)

Klasifikasi Leksikon tentang

Cau

Berdasarkan Struktur Morfem ... 53

a)

Kata Dasar (Monomorfemis) ... 55

b)

Kata Berimbuhan (Polimorfemis) ... 56

(1)

Prefiks ... 57

(2)

Ambifiks ... 58

2)

Klasifikasi Leksikon tentang

Cau

Berdasarkan Kategori Kata ... 59

(8)

xi

1)

Klasifikasi Leksikon tentang

Cau

Berdasarkan Pembentukan Frasa ... 64

a)

Frasa yang Unsurnya Berupa Kata + Kata ... 64

b)

Frasa yang Unsurnya Berupa Kata + Frasa

atau Frasa + Kata ... 74

2)

Klasifikasi Leksikon tentang

Cau

Berdasarkan Persamaan Distribusi Frasa ... 77

3)

Klasifikasi Leksikon tentang

Cau

Berdasarkan Kategori Frasa ... 78

(1)

Nomina + Nomina ... 78

(2)

Nomina + Adjektiva ... 79

(9)
(10)

xiii

B.

Fungsi Leksikon tentang

Cau

di Desa Gunung Masigit,

Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat ... 117

1.

Fungsi Pertanian dan Pendidikan Lingkungan Hidup ... 118

2.

Fungsi Ekonomi ... 118

3.

Fungsi Identitas Sosial ... 119

4.

Fungsi Kesehatan dan Pengobatan ... 120

5.

Fungsi Kebudayaan ... 121

C.

Konsep

Cau

yang Tercermin dalam Leksikon Tentang

Cau

di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat,

Kabupaten Bandung Barat ... 122

1.

Cerminan Kearifan Budaya Sunda Berdimensi Vertikal ... 123

2.

Cerminan Kearifan Budaya Sunda Berdimensi Horizontal ... 124

a.

Orang Sunda Bijak Memanfaatkan Alam ... 125

b.

Orang Sunda Mementingkan Kesehatan dan Pengobatan Alami .... 126

c.

Orang Sunda Menganggap Penting Makanan

dalam Setiap Acara ... .127

D.

Kesepadanan Antara Varian Leksikon

Cau

dalam Bahasa Sunda

dengan Varian Leksikon Pisang dalam Bahasa Indonesia ... 127

1.

Varian Leksikon

Cau

dalam Bahasa Sunda dan

Varian Leksikon Pisang dalam Bahasa Indonesia

Kategori Leksikalisasi Sepadan ... 130

2.

Varian Leksikon

Cau

dalam Bahasa Sunda dan

(11)

Kategori Leksikalisasi Tidak Sepadan ... 134

E.

Pembahasan Tentang Hasil Penelitian Konsep

Cau

dalam Masyarakat Sunda di Desa Gunung Masigit,

Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat ... 136

1.

Klasifikasi dan Deskripsi Leksikon tentang

Cau

di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat,

Kabupaten Bandung Barat ... 136

2.

Fungsi Leksikon tentang

Cau

bagi Masyarakat

di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat,

Kabupaten Bandung Barat ... 138

3.

Konsep

Cau

yang Tercermin dalam Leksikon Tentang

Cau

di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat,

Kabupaten Bandung Barat ... 139

4.

Kesepadanan antara Varian Leksikon

Cau

dalam Bahasa Sunda

dengan Varian Leksikon Pisang dalam Bahasa Indonesia ... 140

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN ... 142

A.

Simpulan ... 142

B.

Saran ... 144

DAFTAR PUSTAKA ... 145

LAMPIRAN ... 149

(12)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.

Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat,

Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Lokasi ini sengaja dipilih karena

Desa Gunung Masigit ini merupakan desa yang masih memegang teguh konsep

cau

dalam kehidupan masyarakatnya. Selain itu, lokasi ini dinilai relevan dengan

penelitian tentang konsep

cau

bagi masyarakat Sunda karena seluruh masyarakat

di Desa Gunung Masigit, Kecamataan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat ini

merupakan masyarakat Sunda yang sampai saat ini masih memanfaatkan

cau

sebagai hasil alam yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan.

Berdasarkan beberapa alasan yang dipaparkan di atas, peneliti memilih

Desa Gunung Masigit, Kecamataan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat sebagai

lokasi penelitian. Setelah itu, peneliti menentukan subjek penelitian yang meliputi

(1) data dan (2) sumber data. Adapun pemaparannya adalah sebagai berikut.

1.

Data

Data yang disajikan dalam penelitian ini adalah data yang sudah diolah

oleh peneliti. Data yang didapat berupa tuturan lisan yang secara langsung

dituturkan oleh informan. Dasar pertimbangannya adalah bahwa tuturan lisan

merupakan tuturan yang dominan terjadi dalam hampir semua peristiwa tutur

yang berlangsung di berbagai ranah pemilihan bahasa di masyarakat Desa Gunung

Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

Data yang didapat sebanyak 100 leksikon yang terbagi atas 20 leksikon

bagian-bagian

cau

, 35 leksikon varian

cau

, 20 leksikon hasil olahan

cau

, dan 20

leksikon cara pengolahan

cau

. Adapun contoh data yang didapat diantaranya

yaitu, leksikon bagian-bagian

cau

seperti:

gebog

cau

,

daun

cau

,

jantung

cau

,

geutah

cau

, dan sebagainya; leksikon varian

cau

seperti:

cau raja ceré

,

cau

ampyang

,

cau galék

,

cau kosta

,

cau kulutuk

,

cau lampénéng

,

cau séwu

, dan

sebagainya; leksikon hasil olahan

cau

seperti

rangsing

,

lantak

,

putri

noong

,

(13)

digoréng, diseupan, dikulub, dipais, dikolek, dipoé, dikeueum, disiksikan,

dan

sebagainya.

2.

Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini berupa data bahasa secara lisan dalam

situasi yang wajar yang didapat dari penggunaan bahasa Sunda pada

leksikon-leksikon tentang

cau

oleh masyarakat di Desa Gunung Masigit, Kecamatan

Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Masyarakat di desa ini rata-rata menggunakan

bahasa Sunda dalam berkomunikasi sehingga perolehan data pun didapat sesuai

dengan penggunaan nama dalam leksikon tentang

cau

yang ada.

Sebagian data didapatkan dari seorang informan di Desa Gunung Masigit,

Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat yaitu Abah Ajum (65 tahun).

Djajasudarma (2006, hlm. 22) mengatakan bahwa peneliti harus menentukan

informan yang terandalkan, dapat dipercaya baik secara khusus dalam

memberikan data yang akurat. Prosedur yang ditempuh dalam menentukan

kriteria informan secara tradisional (penelitian dialek) adalah kriteria NORMs

(bhs. Inggris

Nonmobile-Older-Rular

dan

Males

(laki-laki) (Djajasudarma (2006,

hlm. 22). Artinya seorang informan harus memiliki keaslian, dalam arti

N

(

onmobile

)

‘tidak berpergian’,

Older

‘usia yang cukup sebagai informan’,

R(ular)

‘tinggal dipedalaman’

menetap, dan

Males

‘jenis kelamin’

laki-laki.

Menurut Djajasudarma, metode pemilihan informan dengan kriteria tersebut

menjangkau penelitian terhadap keaslian (bahasa).

Dengan demikian, pemilihan informan dalam penelitian ini didasarkan

pada kriteria yang telah disebutkan. Informan tersebut berprofesi sebagai petani

kebun sekaligus pemilik kebun

cau

di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat,

Kabupaten Bandung Barat. Informan tersebut merupakan penduduk asli Desa

Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Keaslian bahasa

yang terlihat pada informan tersebut jelas mengartikan bahwa informan tersebut

asli penduduk Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung

Barat, yang berbahasa Sunda dalam berkomunikasi sehari-hari. Di samping itu,

informan tersebut merupakan tokoh yang dipercaya sebagai sesepuh desa, di lihat

(14)

35

informan yang diharapkan. Beliau pun jarang berpergian ke luar desa. Informan

tersebut berjenis kelamin laki-laki yang merupakan salah satu kriteria informan

yang penting dalam penentuan data penelitian.

B.

Metode Penelitian

Penelitian mengenai konsep

cau

bagi masyarakat Sunda di Desa Gunung

Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, ini menggunakan

pendekatan antropolinguistik, karena penelian ini bertujuan menggali kebudayaan

masyarakat Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung

Barat, melalui bahasanya yang tercermin dalam penyebutan leksikon tentang

cau

sebagai upaya menjaga kekayaan leksikon

cau

di desa tersebut. Secara

metodologis, pendekatan antropolinguistik dalam kajian ini dipusatkan pada

model etnografi komunikasi yang dikembangkan oleh Hymes (1972; 1973; 1980).

Pengembangan istilah itu dimaksudkan oleh Hymes (1980, hlm 8) untuk

memfokuskan kerangka acuan karena pemerian tempat bahasa di dalam suatu

kebudayaan bukan pada bahasa itu sendiri, melainkan pada komunikasinya.

Penelitian dengan model etnografi menempatkan nilai yang tinggi pada

kenormalan gejala yang diteliti (Duranti, 1997, hlm. 84). Penggunaan model

etnografi difungsikan untuk mengungkap konsep

cau

bagi masyarakat Sunda di

Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

Penggunaan model etnografi komunikasi dalam penelitian ini melibatkan

metode deskriptif-kualitatif. Metode penelitian deskriptif yang dilakukan dalam

penelitian ini bertujuan untuk dapat melakukan pendeskripsian secara sistematis,

faktual, dan akurat, mengenai fakta-fakta terhadap situasi-situasi atau

kejadian-kejadian di suatu daerah tertentu. Untuk mendukung metode penelitian deskriptif

ini, peneliti melakukan penelitian secara kualitatif. Penelitian kualitatif

dimaksudkan untuk memperoleh data dan mengamati orang dalam lingkungan

hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran

mereka tentang dunia sekitarnya (Idris, 2012, hlm. 20).

Jadi, metode penelitian deskriptif-kualitatif yang dilakukan dalam

penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data sebanyak-banyaknya dalam

(15)

mengklasifikasikan leksikon-leksikon tentang

cau

di Desa Gunung Masigit,

Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Pendeskripsian yang disajikan

berdasarkan bagian-bagian

cau

, varian

cau

, hasil olahan

cau

, cara pengolahan

cau

, dan fungsinya, yang juga merupakan cerminan budaya masyarakat Desa

Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

C.

Definisi Operasional

Untuk menghindari salah tafsir dalam memahami istilah, peneliti memberi

beberapa definisi dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut.

1)

Konsep

cau

adalah salah satu konsep kearifan lokal masyarakat Sunda di Desa

Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat yang memuat

persepsi, konseptualisasi, dan cara pandang masyarakat tersebut tentang

integrasi pengetahuan dan pemanfaatan

cau

dalam upaya konservasi terhadap

keanekaragaman

cau

di desa tersebut.

2)

Masyarakat Sunda di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten

Bandung Barat, adalah masyarakat penutur bahasa Sunda yang memiliki

kepercayaan dan kebiasaan yang relatif sama yang tinggal di Desa Gunung

Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

3)

Antropolinguistik adalah pendekatan yang digunakan untuk mencari

pengetahuan sebuah etnis melalui leksikon yang digunakan penuturnya dalam

menyebutkan leksikon-leksikon yang berkaitan dengan konsep

cau

.

D.

Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi instrument atau alat penelitian adalah

peneliti itu sendiri (

human instrument

). Konsep

human instrument

dipahami

sebagai alat yang dapat mengungkap fakta-fakta lapangan dan tidak alat yang

paling elastik dan tepat untuk mengungkap data kualitatif kecuali peneliti itu

sendiri. Peneliti melakukan pengamatan atau wawancara mendalam terhadap

informan. Walaupun menggunakan alat rekam atau kamera, peneliti tetap

memegang peranan sebagai instrument penelitian.

Selain itu, peneliti menggunakan pedoman observasi yang berupa format

(16)

37

digunakan telah disesuaikan dengan rumusan masalah. Berikut contoh pedoman

observasi dalam penelitian ini.

Tabel 3.1 Contoh Pedoman Observasi Bentuk Lingual

No.

Leksikon tentang

Tabel 3.1 merupakan contoh pedoman observasi bentuk lingual yang akan

mengklasifikasikan leksikon tentang

cau

ke dalam bentuk kata dan frasa.

Selanjutnya, leksikon yang berbentuk kata diobservasi kembali menggunakan

pedoman observasi berikut.

Tabel 3.2 Contoh Pedoman Observasi Bentuk Kata

No.

Leksikon tentang

Cau

dalam BS

Leksikon tentang

pisang dalam BI

Leksikon Berbentuk Kata

Struktur Kata

Kategori Kata

Tabel 3.2 merupakan contoh pedoman observasi leksikon berbentuk kata

yang akan mengklasifikasikan kata berdasarkan struktur kata dan kategori

katanya. Adapun leksikon yang berbentuk frasa akan diobservasi kembali

menggunakan pedoman observasi seperti tabel berikut.

Tabel 3.3 Contoh Pedoman Observasi Bentuk Frasa

(17)

Tabel 3.3 merupakan contoh pedoman observasi berbentuk frasa yang

akan mengklasifikasikan frasa berdasarkan (1) unsur pembentuk frasa yang akan

memperlihatkan unsur inti dan atribut frasa, (2) kategori frasa, serta (3) distribusi

frasa leksikon yang dimaksud.

Tabel 3.4 Contoh Pedoman Observasi Klasifikasi Leksikon tentang

Cau

No

Bagian

Varian Hasil olahan

Cara

pengolahan

Tabel 3.4 merupakan contoh pedoman observasi klasifikasi leksikon

tentang

cau

yang akan mengklasifikasikan secara fungsional seluruh leksikon

yang diperoleh ke dalam 4 kategori yang meliputi (1) bagian, (2) varian, (3) hasil

olahan, dan (4) cara pengolahan.

Tabel 3.5 Contoh Pedoman Observasi Fungsi Leksikon tentang

Cau

(18)

39

Tabel 3.6 Contoh Pedoman Observasi Leksikalisasi Leksikon Varian

Cau

No

Leksikon varian

cau

dalam B.S

Leksikon Varian

pisang dalam BI

Leksikalisasi

Sepadan

Tak

sepadan

Timpang

Tabel 3.6 merupakan contoh pedoman observasi leksikalisasi leksikon

yang akan meleksikalisasikan leksikon varian

cau

dalam bahasa Sunda dengan

leksikon varian pisang dalam Bahasa Indonesia yang terdiri atas (1) leksikalisasi

sepadan, (2) leksikalisasi tidak sepadan, dan (3) leksikalisasi timpang.

E.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi partisipatif,

wawancara mendalam, dan dokumentasi. Adapun pemaparannya adalah sebagai

berikut.

1.

Observasi Partisipatif

Peneliti menggunakan teknik observasi partisipatif yang merupakan suatu

pendekatan dengan cara terjun ke lapangan untuk menentukan tempat dan

mengamati situasi lingkungan yang hendak diteliti. Dalam melakukan observasi

partisiptif, peneliti mengamati keadaan yang wajar tanpa berusaha untuk

mempengaruhi, mengatur, atau memanipulasi data yang didapat. Teknik observasi

partisipatif yang dilakukan berarti peneliti sebagai partisipan masuk ke dalam

lingkungan yang diteliti. Dalam obeservasi partisipatif ini, peneliti terlibat secara

langsung dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang

digunakan sebagai sumber data penelitian. Dalam hal ini tentu peneliti mengamati

peristiwa tutur dalam setiap kegiatan penelitian, mendengarkan apa yang

diucapkan orang, dan berpartisipasi dalam setiap aktivitas mereka.

Observasi partisipatif ini dilakukan agar peneliti dapat memahami segala

hal yang terdapat dalam kegiatan tersebut dan mendapatkan informasi langsung

(19)

diperoleh dari hasil observasi partisipatif berupa informasi yang sesuai dengan

kenyataan. Untuk mendapatkan data penelitian, peneliti melakukan observasi

dengan turun langsung ke lapangan. Peneliti melakukan kontak langsung dengan

masyarakat Sunda di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten

Bandung Barat sehingga peneliti berhasil menggali informasi tentang segala hal

yang berkaitan dengan leksikon

cau

di desa tersebut.

2.

Wawancara Mendalam

Dalam Idris (2012, hlm. 37), wawancara atau

interview

adalah suatu

bentuk komunikasi verbal, semacam percakapan, yang bertujuan untuk

memperoleh informasi. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara mendalam

sehingga peneliti mendapatkan banyak informasi dari informan.

Wawancara mendalam (

open-ended interview

) merupakan salah satu

metode pengumpulan data yang digunakan di dalam antropolingistik (Sibarani,

2004, hlm. 51). Teknik wawancara mendalam dilakukan sebagai langkah

memperoleh keterangan atau penjelasan dari informan dalam upaya penggalian

informasi yang lebih banyak, lengkap, dan jelas.

3.

Dokumentasi

Teknik dokumentasi adalah suatu cara dalam melakukan penelitian dengan

cara pengumpulan data, pemilihan data, pengolahan data, dan penyimpanan data

sebagai bukti atau keterangan dalam sebuah penelitian, baik berupa gambar,

kutipan, bahan referensi, dan sebagainya.

F.

Teknik Analisis Data

Dalam penelitian kualitatif peneliti tidak boleh menunggu dan

membiarkan data menumpuk, untuk kemudian menganalisisnya (Alwasilah, 2002:

hlm. 158, dalam Idris). Begitu pun dengan penelitian ini, data-data yang telah

didapat dari teknik pengumpulan data dianalisis untuk menjawab

pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam rumusan masalah.

Dalam teknik pengolahan data digunakan beberapa tahapan. Analisis data

(20)

41

wawancara, catatan di lapangan, foto, rekaman, dan sebagainya. Langkah

selanjutnya adalah mengklasifikasikan data leksikon tentang

cau

ke dalam

kategori yang meliputi bagian-bagian

cau

, varian

cau

, hasil olahan

cau

, dan cara

pengolahan

cau

. Setelah itu, klasifikasi data dideskripsikan. Setelah

mengklasifikasikan dan mendeskripsikan data temuan di lapangan, peneliti mulai

menganalisis data berdasarkan pendekatan antropolinguistik.

Hasil analisis data dalam penelitian ini akan disajikan dengan

menggunakan metode penyajian formal dan informal (Sudaryanto, 1982, hlm. 16).

Metode formal digunakan pada pemaparan hasil analisis data yang berupa

kaidah-kaidah atau lambang-lambang formal dalam bidang linguistik. Lambang-lambang

formal seperti lambang dalam bidang fonologi, morfologi, dan sintaksis disajikan

dengan metode formal. Sementara itu, model informal digunakan pada pemaparan

hasil analisis data yang berupa kata-kata atau uraian biasa tanpa lambang-lambang

formal yang sifatnya teknis.

Berikut dipaparkan contoh analisis data penelitian.

1.

Contoh Analisis Klasifikasi Leksikon tentang Cau Berdasarkan Satuan

Lingual

Leksikon tentang

cau

berdasarkan satuan lingual diklasifikasikan ke dalam

bentuk kata dan frasa seperti contoh tabel analisis di bawah ini.

Tabel 3.7 Contoh Analisis Data Klasifikasi Leksikon tentang

Cau

Berdasarkan Satuan Lingual

No.

Leksikon

Cau

dalam BS

Leksikon tentang

pisang dalam BI

Bentuk Lingual

Kata

Frasa

1

cau ambon

pisang ambon

2

cau nangka

pisang nangka

3

digoréng

digoreng

(21)

Dalam tabel 3.7 tersebut dijelaskan contoh klasifikasi leksikon tentang

cau

berdasarkan satuan lingualnya. Leksikon

cau ambon

dan

cau nangka

termasuk

leksikon yang berbentuk frasa karena terdiri atas dua kata yang tidak bersifat

predikatif, sedangkan leksikon

digoréng

dan

dikulub

termasuk leksikon berbentuk

kata karena hanya terdiri dari satu kata. Setelah diklasifikasikan ke dalam bentuk

kata dan frasa, selanjutnya data tersebut dikaji lagi berdasarkan struktur kata dan

kategori katanya.

a.

Contoh Analisis Klasifikasi Leksikon tentang Cau Berupa Kata

Leksikon tentang

cau

yang berbentuk kata dibedah kembali untuk

mengetahui struktur kata dan karegori katanya, seperti yang dipaparkan dalam

tabel contoh di bawah ini.

Tabel 3.8 Contoh Analisis Data Klasifikasi Leksikon tentang

Cau

Berbentuk Kat

a

No.

Leksikon tentang

Cau

dalam BS

Leksikon tentang

pisang dalam BI

Leksikon Berbentuk Kata

Struktur Kata

Kategori Kata

1

sale

sale

monomorfemis nomina

2

rangsing

rangsing

monomorfemis nomina

3

digoréng

digoreng

polimorfemis

nomina

4

dikulub

direbus

polimorfemis

nomina

Dalam tabel 3.8 di atas, data leksikon yang termasuk kata diklasifikasikan

lagi berdasarkan struktur kata dan kategori katanya. Contoh analisis klasifikasi

leksikon tentang

cau

di atas menunjukkan bahwa leksikon

sale

dan

rangsing

memiliki struktur kata sebagai kata dasar atau monomorfemis karena tidak

dibubuhi imbuhan apapun, sedangkan leksikon

digoréng

dan

dikulub

, termasuk

kata berimbuhan (polimorfemis) karena disertai sufiks

di

- yang menyertai kata

dasar. Selain itu, seluruh leksikon dalam tabel contoh analisis di atas termasuk

(22)

43

b.

Contoh Analisis Klasifikasi Leksikon tentang Cau Berupa Frasa

Leksikon tentang

cau

yang berupa frasa dibedah kembali unsur pembentuk

frasa sehingga dapat diketahui kategori frasa dan distribusi frasanya seperti yang

dipaparkan dalam tabel contoh di bawah ini.

Tabel 3.9 Contoh Analisis Data Klasifikasi Leksikon tentang Cau

Berbentuk Frasa

Berdasarkan tabel di atas, leksikon yang berbentuk frasa dibedah unsur

pembentuk frasanya, sehingga kategori frasa dan distribusi frasa leksikon tentang

cau

bisa dengan mudah diketahui, misalnya leksikon

cau ustrali

dibentuk dari

kata

cau

sebagai inti yang berkategori nomina dan kata

ustrali

sebagai atribut

yang berkategori nomina, artinya frasa

cau ustrali

dibentuk dari kata yang

berkategori nomina sebagai inti dan atributnya sehingga

cau ustrali

berkategori

frasa nominal. Di samping itu, frasa

cau ustrali

memiliki inti yaitu kata

cau

yang

mewakili frasa

cau ustrali

, sehingga frasa

cau ustrali

termasuk frasa endosentrik.

Begitu pula dengan

kolek cau

dan beberapa leksikon tentang

cau

lainnya yang

berbentuk frasa akan dianalisis dengan cara yang serupa.

(23)

2.

Contoh Analisis Klasifikasi Fungsional Leksikon tentang Cau

Leksikon tentang

cau

diklasifikasikan secara fungsional ke dalam kategori

yang meliputi (1) bagian, (2) varian, (3) hasil olahan, dan (4) cara pengolahan.

Berikut dipaparkan contoh analisis klasifikasi fungsional leksikon tentang

cau

.

Tabel 3.10 Contoh Analisis Data Klasifikasi Fungsional

Leksikon tentang

Cau

Dalam tabel 3.10 tentang contoh analisis data klasifikasi fungsional

leksikon tentang

cau

dijelaskan tentang analisis leksikon tentang

cau

yang

seluruhnya akan diklasifikasikan pada 4 kategori leksikon yaitu, leksikon

bagian-bagian

cau

, varian

cau

, hasil olahan

cau

, dan cara pengolahan

cau

. Berdasarkan

contoh tabel analisis di atas, diketahui bahwa leksikon

cau tanduk

termasuk

leksikon varian

cau

, leksikon

kolek cau

termasuk leksikon hasil olahan

cau

,

leksikon

daun cau

termasuk leksikon bagian

cau

, dan leksikon

digoréng

termasuk

leksikon cara pengolahan

cau

. Dengan demikian, 100 leksikon tentang

cau

yang

menjadi korpus penelitian akan diklasifikasikan ke dalam 4 kategori yang telah

disebutkan di atas.

3.

Contoh Analisis Fungsi Leksikon tentang Cau

Leksikon tentang

cau

yang telah diklasifikasikan dan didedkripsikan,

selanjutnya dianalisis fungsi leksikonnya bagi kehidupan masyarakat sesuai

dengan pengamatan yang telah dilakukan. Seluruh leksikon dianalisis fungsinya

(24)

45

Tabel 3.11 Contoh Analisis Data Fungsi Leksikon tentang

Cau

No

kehidupan masyarakat, seluruh leksikon akan dianalisis dan diklasifikasikan pada

5 kategori fungsi yakni, fungsi pendidikan lingkungan hidup, fungsi kesehatan,

fungsi ekonomi, fungsi kebudayaan, dan fungsi identitas sosial. Seluruh kategori

itu didasarkan pada hasil pengamatan leksikon yang memiliki fungsi yang

kehidupan masyarakat.

Dalam tabel di atas, dijelaskan bahwa leksikon geutah

cau

termasuk ke

dalam fungsi pertanian dan lingkungan hidup serta fungsi kesehatan dan

pengobatan. Fungsi pertanian dan lingkungan hidup menekankan pengetahuan

dan pemahaman masyarakat tentang lingkungan hidup disekitarnya, khususnya

pengetahuan dan pemahaman tentang lingkungan alam dan tumbuhan. Leksikon

geutah cau

termasuk ke dalam kategori fungsi pertanian dan lingkungan hidup

serta fungsi kesehatan dan pengobatan, karena dengan adanya leksikon

geutah

cau

yang merujuk pada cairan yang ada pada

tangkal cau

yang bermanfaat

sebagai obat luka, masyarakat dituntut untuk mengetahui dan memahami lebih

jauh seluk-beluk

geutah cau

yang memiliki manfaat bagi kesehatan sehingga

dapat lebih dijaga dan dilestarikan keberadaan

tangkal cau

yang bermanfaat bagi

lingkungan hidup masyarakat tersebut.

Selain itu, dalam tabel 3.11 diatas juga diungkap bahwa leksikon

kolek cau

(25)

dikenal masyarakat dalam penyebutan makanan yang berasal dari

cau

yang

dikolek dan biasanya dijadikan hidangan berbuka puasa pada bulan Ramadhan.

Hal tersebut jelas membuktikan bahwa leksikon

kolek cau

termasuk ke dalam

kategori fungsi kebudayaan karena leksikon

kolek cau

sangat dikenal masyarakat

sebagai leksikon pada hidangan rutin yang khas dan selalu ada pada bulan

Ramadhan. Di samping itu, leksikon

kolek cau

digunakan untuk penyebutan tajil

yang dibuat dari

cau

dan biasa dijual masyarakat di sepanjang jalan raya selama

bulan Ramadhan, sehingga hasil penjualannya dapat meningkatkan kondisi

perekonomian masyarakat.

Seluruh leksikon tentang

cau

akan dianalisis seperti penjabaran fungsi

leksikon

geutah cau

dan leksikon

kolek cau

di atas, sehingga seluruh leksikon

tentang

cau

dapat diketahui fungsi-fungsinya bagi kehidupan masyarakat.

4.

Contoh Analisis Leksikalisasi Varian Cau dalam Bahasa Sunda dengan

Varian Pisang dalam Bahasa Indonesia

Dibawah ini dipaparkan contoh analisis leksikalisasi data leksikon varian

cau

dalam bahasa Sunda dengan leksikon varian pisang dalam bahasa Indonesia.

T

abel 3.12 Contoh Analisis Leksikalisasi Data Varian

Cau

dalam Bahasa Sunda

dan Varian Pisang dalam Bahasa

Indonesia

No

Leksikon varian

cau

dalam BS

Leksikon varian

pisang dalam BI

Leksikalisasi

Sepadan

Tak

sepadan

Timpang

1

cau hurang

pisang udang

2

cau kidang

pisang udang

3

cau gembor

pisang udang

4

cau geulis tiis

pisang udang

5

cau nangka

pisang nangka

Dalam tabel 3.12 tentang contoh analisis data leksikalisasi varian

cau

dalam bahasa Sunda dengan varian pisang dalam bahasa Indonesia, diketahui

(26)

47

sepadan dalam bahasa Indonesia yakni, leksikon

pisang udang

, sedangkan untuk

leksikon

cau kidang

,

cau gembor

, dan

cau geulis tiis

dalam bahasa Sunda ternyata

dikenal dengan leksikon pisang udang dalam bahasa Indonesia, sehingga padanan

leksikon untuk leksikon

cau kidang

,

cau gembor

, dan

cau geulis tiis

dalam bahasa

Sunda termasuk ke dalam kategori leksikalisasi tidak sepadan dengan pisang

udang dalam bahasa Indonesia.

Pada tabel tersebut juga dijelaskan bahwa leksikon

cau nangka

dalam

bahasa Sunda memiliki padanan leksikon dalam bahasa Indonesia, yakni pisang

nangka, sehingga leksikon

cau nangka

dengan leksikon pisang nangka termasuk

kategori leksikalisaasi sepadan. Leksikon-leksikon varian

cau

berjumlah 35

leksikon dan seluruhnya akan dianalisis seperti analisis di atas sehingga akan

(27)

SIMPULAN DAN SARAN

A.

Simpulan

Leksikon tentang

cau

ditemukan sebanyak 100 leksikon dan

diklasifikasikan secara formal berdasarkan satuan lingual yang terdiri atas 37

leksikon berupa kata dan 63 leksikon berupa frasa. Leksikon yang berupa frasa

lebih dominan karena mencapai 63%, sedangkan leksikon yang berupa kata hanya

mencapai 37%. Hal tersebut timbul karena masyarakat Sunda dalam menyebut

leksikon tentang

cau

khususnya leksikon varian

cau

selalu menyertakan kata

cau

di depan leksikon varian

cau-

nya. Misalnya, orang Sunda dalam menyebut

leksikon varian

cau

, tidak menggunakan leksikon

muli

,

ampyang

,

emas

, dll.,

melainkan menggunakan leksikon

cau muli

,

cau ampyang

,

cau emas

, dll.,

sehingga leksikon yang berbentuk frasa lebih dominan.

Leksikon tentang

cau

yang berupa kata berjumlah 37 leksikon: 12 leksikon

monomorfemis dan 25 leksikon polimorfemis. Leksikon yang berbentuk

polimorfemis terbagi menjadi dua kategori, yaitu prefiks dengan jumlah 18

leksikon dan ambifiks dengan jumlah 7 leksikon. Adapun leksikon yang

berbentuk frasa berjumlah 63 leksikon yang seluruhnya termasuk ke dalam

kategori frasa nominal karena terbentuk dari unsur inti yang berupa kata atau frasa

nominal dan terbagi atas 52 leksikon frasa yang terbentuk dari unsur kata + kata,

serta 11 leksikon frasa yang terbentuk dari unsur kata + frasa atau frasa + kata.

Seluruh leksikon tentang

cau

yang berbentuk frasa tersebut termasuk frasa

endosentrik karena terdapat unsur inti yang mewakili frasa tersebut.

Selain itu, 100 leksikon tentang

cau

diklasifikasikan secara fungsional ke

dalam 4 kategori: (1) leksikon bagian-bagian

cau

berjumlah 20 leksikon; (2)

leksikon varian

cau

berjumlah 35 leksikon; (3) leksikon hasil olahan

cau

berjumlah 20 leksikon; (4) leksikon cara pengolahan

cau

berjumlah 25 leksikon.

Seluruh leksikon tentang

cau

diklasifikasikan ke dalam 5 kategori fungsi yang

meliputi (1) fungsi pertanian dan lingkungan hidup, (2) fungsi ekonomi, (3) fungsi

(28)

143

Adapun konsep kearifan budaya lokal yang terkandung dalam leksikon

tentang

cau

meliputi cerminan budaya masyarakat Sunda berdimensi vertikal dan

horizontal. Cerminan budaya masyarakat Sunda yang berdimensi vertikal

menjelaskan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sedangkan cerminan

budaya Sunda berdimensi horizontal menjelaskan hubungan manusia dengan alam

dan manusia dengan sesama manusia lainnya. Dalam cerminan budaya Sunda

yang berdimensi horizontal dapat dilihat bahwa orang Sunda di Desa Gunung

Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat dapat menjaga hubungan

baik dengan alam karena masih mempertahankan leksikon-leksikon tentang cau

sebagai upaya konservasi keanekaragaman leksikon

cau

di alam. Konsep budaya

Sunda yang tercermin dalam leksikon tentang

cau

menjelaskan bahwa (1) orang

Sunda bijak memanfaatkan alam, (2) orang Sunda mementingkan kesehatan dan

pengobatan alami, dan (3) orang Sunda menganggap penting makanan dalam

setiap acara.

Orang Sunda banyak mengenal leksikon tentang cau khususnya leksikon

varian

cau

. Leksikon varian

cau

dalam bahasa Sunda bisa dicari padanan katanya

dalam bahasa Indonesia melalui proses leksikalisasi. Lesikon varian

cau

dalam

bahasa Sunda berjumlah 35 leksikon dan terbagi atas (1) 23 leksikon yang

sepadan dan (2) 12 leksikon yang tidak sepadan dalam leksikon pisang dalam

bahasa Indonesia. Leksikon yang sepadan lebih banyak karena mencapai 66%,

sedangkan leksikon yang tidak sepadan hanya mencapai 34%. Hal tersebut terjadi

karena bahasa Sunda merupakan bagian dari bahasa daerah di Indonesia sehingga

dalam setiap leksikon

cau

dalam bahasa Sunda memiliki padanan kata pada

bahasa Indonesia walaupun terdapat beberapa yang termasuk tidak sepadan.

Leksikon tentang

cau

dalam bahasa Sunda yang tidak sepadan dengan leksikon

pisang dalam bahasa Indonesia dapat menjadi tambahan bagi kekayaan

perkamusan bahasa Indonesia sehingga leksikon pisang dalam bahasa Indonesia

(29)

B.

Saran

Peneliti menyadari bahwa dalam penelitian ini masih terdapat kekurangan.

Atas dasar itulah peneliti menyarankan beberapa hal untuk perbaikan

penelitian-penelitian selanjutnya yang sejenis. Berikut pemaparannya.

1.

Penelitian tentang leksikon-leksikon yang ada pada bahasa daerah atau pun

bahasa lain di luar bahasa Indonesia hendaknya diperdalam dari segi

leksikalisasi, gramatikalisasi, dan verbalisasi bahasa, sehingga lebih

memunculkan peluang bagi penyerapan leksikon ke dalam bahasa Indonesia,

sehingga pembendaharaan kata dalam bahasa Indonesia akan semakin kaya.

2.

Penelitian tentang leksikon-leksikon yang ada di Kabupaten Bandung Barat

tidak terbatas pada leksikon tentang

cau

. Masih banyak leksikon-leksikon

yang merupakaan ciri kebudayaan masyarakat di Kabupaten tersebut yang

tercermin dari leksikon-leksikon yang digunakan masyarakatnya. Oleh karena

itu, penelitian yang sejenis diharapkan dilakukan kembali tetapi dalam objek

kajian yang berbeda, sehingga penggalian bahasa-bahasa daerah di Indonesia,

khususnya di Kabupaten Bandung Barat, akan semakin memperkaya

(30)

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, B. (2007).

Pisang: Budidaya dan Analisis Usaha Tani

. Yogyakarta:

Kanisius.

Chaer, A. (2007).

Leksikologi dan Leksikografi Indonesia

. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A. (2008).

Morfologi Bahasa Indonesia

. Jakarta: Rineka Cipta.

Chambers, S.M, et al. (1979).

Reading: Skilled Reading

. Melbourne: Deaking

University.

Damaianti, V.S. dan Sitaresmi, N. (2005).

Sintaksis Bahasa Indonesia

. Bandung:

Pusat Studi Literasi.

Darhaeni, N. (2010)

. “Leksikon Aktivitas Mata dalam Toponim di Jaw

a Barat:

Kajian Etnosemantik” dalam Jurnal Linguistik Indonesia, Tahun ke

-28, No.

1, Februari 2010, hal. 55-67.

Djajasudarma, T.F.(2006).

Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan

Kajian

. Bandung: Refika Aditama.

Duranti, A. (1997).

Linguistic Anthropology

. Cambridge: Cambridge University

Press.

Foley, W.A. (2001).

Anthropological Linguistics

. Massachusetts: Blackwell

Publisher Inc.

Garna, J.K. (2008).

Budaya Sunda: Melintasi Waktu Menantang Masa Depan

.

Bandung: Lembaga Penelitian Unpad dan Judistira Garna Foundation.

Hidayatullah, R dan Fasya, M. (2012)

. “Konsep Nasi dalam Bahasa Sunda: Studi

Antropolinguistik di Kampung Naga, Kecamatan Salawu, Kabupaten

Tasikmalaya” dalam Jurnal Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya.

Tahun ke-10, hal 73-77.

http:/sastra.um.ac.id/wp.content/uploads/2009/11/001-Relativitas-Bahasa-dan-Budaya.dc1.pdf.

(31)

Hymes, D. (1980).

Foundations in Sosiolinguistics: An ethnographics Approach

.

Philadelpia: University of Pennsylvania Press.

Idris, N.S. (2012)

. “Handout Perkuliahan Metode Penelitian Linguistik”.

Bandung: tidak diterbitkan.

Jaenudin, dkk. (2011)

. “Konsep Padi dalam bahasa Sunda (Kajian

Antropolinguistik)”. Jurnal Kelas Linguistik, Vol. 2, No. 2, pp. 1

-17.

Keraf, G. (1984).

Tata Bahasa Indonesia

. Ende-Flores: Nusa Indah

Koentjaraningrat. (1990).

Pengantar Ilmu Antropologi

. Jakarta: Rineka Cipta.

Koentjaraningrat. (2002).

Manusia dan Kebudayaan di Indonesia

. Jakarta:

Djambatan.

Koentjaraningrat. (2008).

Pengantar Ilmu Antropologi

. Jakarta: Rineka Cipta.

Koentjaraningrat.(1967).

Pengantar Teori Antropologi

. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, H. (2001).

Kamus Linguistik

. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Kridalaksana, H. (2007).

Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia

. Jakarta: Gramedia

Pustaka Utama.

Kridalaksana, H. (1983).

Kamus Linguistik

. Jakarta: Gramedia

Kuswarno, E. (2008).

Etnografi Komunikasi: Suatu Pengantar dan Contoh

Penelitiannya

. Bandung: Widya Padjajaran.

Mahsun. (2012).

Metode Penelitian Bahasa

. Jakarta: Rajawali Press.

Muriel, S. (1986).

The Ethnograpy of Communication: An Introduction

.

Southampton: The Camelot Press.

Parera, J.D. (1992).

Teori Semantik

. Jakarta: Erlangga

Pateda, M. (1990).

Linguistik (Sebuah Pengantar).

Bandung: Angkasa.

Patimah, R.S. (2012)

. “Nama Jajanan Tradisional

Khas Sunda (Suatu Kajian

Etnosemantik)”. Skripsi pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni

Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung: tidak diterbitkan.

(32)

147

Ramlan, M. (1983).

Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif

. Yogyakarta: UP

Karyono

Ramlan, M. (2001).

Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis

. Yogyakarta: CV Karyono.

Retno, dkk. (2011)

. “Leksikon Makanan Tradisional (Kajian Etnolinguistik)”.

Jurnal elas Linguistik, Vol. 2, No. 2, pp. 97-115.

Rohaedi, A, (1986).

Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius)

. Jakarta: Dunia

Pustaka Jaya.

Rosidi, A. (2010).

Mencari Sosok Manusia Sunda

. Jakarta: Pustaka Jaya.

Rosidi, A. (2011).

Kearifan Lokal dalam Perspektif Budaya Sunda

. Bandung:

Kiblat.

Rukamana, R. (2006).

Usaha Tani Pisang

. Yogyakarta: Kanisius

Sapir, E. (1921).

Language

. NewYork: Harcourt, Brace & World, Inc.

Sari, D.P, dkk. (2011),

Ensiklopedia Jawa Barat 2

. Jakarta: Lentera Abadi

Sibarani, R. (2004).

Antropolinguistik: Antropologi Linguistik, Linguistik

Antropologi

. Medan: Poda.

Sitaresmi, N. dan Fasya, M. (2011).

Pengantar Semantik Bahasa Indonesia

.

Bandung: UPI Press.

Sudana, D. dkk. (2012).

Eksplorasi Nilai Pendidikan Lingkungan Hidup dalam

Leksikon Etnobotani: Kajian Etnopedagogi di Kampung Naga, Kabupaten

Tasikmalaya. (Proposal Penelitian). Universitas Pendidikan Indonesia,

Bandung.

Sudaryanto. (1993).

Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar

Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis

. Yogyakarta: Duta

Wacana University Press.

Sudaryat, Y, dkk. (2003).

Tata Bahasa Kiwari

. Bandung: Penerbit Yrama Widya.

(33)

Widiatmoko, S. (2011)

. “Leksikon Kemaritiman di Tanjung Pakis Kabupaten

Karawang.” Skripsi pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Figure

Tabel 3.1 Contoh Pedoman Observasi Bentuk Lingual

Tabel 3.1

Contoh Pedoman Observasi Bentuk Lingual p.16
Tabel 3.3  Contoh Pedoman Observasi Bentuk Frasa

Tabel 3.3

Contoh Pedoman Observasi Bentuk Frasa p.16
Tabel 3.2  Contoh Pedoman Observasi Bentuk Kata

Tabel 3.2

Contoh Pedoman Observasi Bentuk Kata p.16
Tabel 3.5 Contoh Pedoman Observasi Fungsi Leksikon tentang Cau

Tabel 3.5

Contoh Pedoman Observasi Fungsi Leksikon tentang Cau p.17
Tabel 3.4 Contoh Pedoman Observasi Klasifikasi Leksikon tentang Cau

Tabel 3.4

Contoh Pedoman Observasi Klasifikasi Leksikon tentang Cau p.17
Tabel 3.6 Contoh Pedoman Observasi Leksikalisasi Leksikon Varian Cau

Tabel 3.6

Contoh Pedoman Observasi Leksikalisasi Leksikon Varian Cau p.18
Tabel  3.7 Contoh Analisis Data Klasifikasi Leksikon tentang  Cau

Tabel 3.7

Contoh Analisis Data Klasifikasi Leksikon tentang Cau p.20
Tabel 3.8 Contoh Analisis Data Klasifikasi Leksikon tentang Cau

Tabel 3.8

Contoh Analisis Data Klasifikasi Leksikon tentang Cau p.21
Tabel 3.9 Contoh Analisis Data Klasifikasi Leksikon tentang Cau

Tabel 3.9

Contoh Analisis Data Klasifikasi Leksikon tentang Cau p.22
Tabel 3.10 Contoh Analisis Data Klasifikasi Fungsional

Tabel 3.10

Contoh Analisis Data Klasifikasi Fungsional p.23
Tabel 3.11 Contoh Analisis Data Fungsi Leksikon tentang Cau

Tabel 3.11

Contoh Analisis Data Fungsi Leksikon tentang Cau p.24
Tabel 3.12 Contoh Analisis Leksikalisasi Data Varian Cau dalam Bahasa Sunda

Tabel 3.12

Contoh Analisis Leksikalisasi Data Varian Cau dalam Bahasa Sunda p.25

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in