NILAI TAMBAH UPGRADING BATUBARA UNTUK EKSPOR TERHADAP PENGUSAHAAN BATUBARA DI INDONESIA
Oleh:
TIM KEBIJAKAN MINERAL DAN BATUBARA Drs. Bambang Yunianto
Dr. Ir. Binarko Santoso Drs. Sudjarwanto Prof. Dr. Datin Fatia Umar Gandhi Kurnia Hudaya, S.T.
Ir. Darsa Permana Endang Mulyani, ST
Sahli
PUSLITBANG TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA BALITBANG ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
2011
ii
Lembar Pengesahan
Bandung, Desember 2011
Mengetahui/Menyetujui: Pengusul, Koordinator Pelaksana Litbang
Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara,
Ir. Suganal Drs. Bambang Yunianto
NIP. 19570605 198303 1 002 NIP. 19640615 199103 1 003
Mengesahkan: Mengetahui
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kepala Bidang Program, Teknologi Mineral dan Batubara
Hadi Nursarya, M.Sc. Drs. Ridwan Saleh
NIP. 19540306 197803 1 001 NIP. 19561012 198103 1 001
iii
Kata Pengantar
Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2010 mengamanatkan peningkatan nilai tambah mineral dan batubara. Dalam penetapan kebijakan nilai tambah batubara akan dikenakan pada batubara kalori rendah yang wajib lebih dulu dinaikan kalorinya untuk dijual ekspor dengan teknologi upgrading. Batubara kalori rendah banyak diusahakan untuk ekspor, karena segmen pasar batubara jenis ini di luar negeri (ekspor) cukup luas, tapi tidak ada nilai tambahnya. Sementara, secara teknologi upgrading batubara kalori rendah (seperti UBC, Geo Coal, dan lainnya) belum ada yang proven. Hal ini yang melatarbelakangi Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara melakukan Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor terhadap Pengusahaan Batubara di Indonesia.
Kajian ini mencoba mengidentifikasi dan menganalisis penetapan nilai tambah upgrading batubara untuk ekspor dan memperkirakan implikasinya/dampak terhadap pengusahaan batubara di Indonesia. Kajian ini diharapkan menghasilkan saran dan masukan bagi Kebijakan Kementerian ESDM mengenai Peningkatan Nilai Tambah Batubara yang didasarkan kepada prinsip-prinsip yang saling menguntungkan (win win solution) bagi seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) pertambangan batubara.
Atas dukungan semua pihak diucapkan terima-kasih.
Bandung, Desember 2011 Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Mineral dan Batubara
Ir. Hadi Nursarya, M.Sc.
iv
Ringkasan
Latar belakang Kegiatan ini dilakukan adalah adanya amanat UU No. 4/ 2009 dan PP No.
23/ 2010 mengenai peningkatan nilai tambah minerba (aspek kebijakan). Sementara itu, teknologi upgrading batubara kalori rendah (seperti UBC, Geo Coal, dan lainnya) belum proven (aspek teknologi). Batubara kalori rendah banyak diusahakan untuk ekspor, karena segmen pasar batubara kalori rendah di luar negeri (ekspor) cukup luas, tapi tidak ada nilai tambahnya (aspek pasar ekspor dan aspek penerimaan negara). Penetapan upgrading batubara kalori rendah untuk ekspor akan mendorong terjadi stok batubara dalam negeri yang berlebih, sebagai akibat terkena dampak pemberlakuan kebijakan nilai tambah batubara ini (aspek pasar dalam negeri). Pada tingkat produksi saat ini, tanpa ada pengendalian produksi dan konservasi sumberdaya dan cadangan batubara, maka sumberdaya dan cadangan batubara akan habis dan tidak dapat mendukung kebijakan bauran energi, yang pada tahun 2050 semakin besar perannya (aspek konservasi sumberdaya batubara). Belum adanya dukungan litbang kajian kebijakan pengusahaan upgrading batubara kalori rendah yang dapat dijadikan pedoman yang mendukung perumusan kebijakan nilai tambah batubara kalori rendah (aspek litbang kebijakan nilai tambah upgrading). Karena itu, perlu dilakukan kajian yang dapat memberi masukan terhadap akan diberlakukannya kebijaksanaan tersebut.
Maksud kegiatan ini adalah melakukan identifikasi dan analisis terhadap penetapan nilai tambah upgrading batubara untuk ekspor dan memperkirakan implikasinya/dampak terhadap pengusahaan batubara di Indonesia. Tujuannya memberikan masukan kepada Kementerian ESDM cq Ditjen Mineral dan Batubara dalam rangka menetapkan spesifikasi batubara bagi keperluan ekspor sebagai ketentuan nilai tambah batubara yang mampu diterima oleh pemangku kepentingan dan rumusan penyelesaian permasalahan pengusahaan yang akan timbul akibat ketetapan kebijakan tersebut. Sedangkan, sasaran kegiatan adalah: a) Diketahui faktor-faktor pendukung kebijakan nilai tambah upgrading batubara untuk eskpor; b) Diketahui dampak yang akan terjadi atas pemberlakuan kebijakan nilai tambah upgrading batubara kalori rendah terhadap pengusahaan batubara di Indonesia, c) Dapat dirumuskan masukan kebijakan pengusahaan upgrading batubara untuk ekspor; d) Dapat dirumuskan pemecahan masalah (problem solving) yang akan terjadi sebagai dampak pemberlakuan kebijakan nilai tambah upgrading batubara untuk ekspor terhadap pengusahaan batubara di Indonesia.
Indonesia memiliki sumberdaya batubara 104 milyar ton dengan cadangan 23,4 milyar ton, menempatkan sumberdaya batubara Indonesia pada urutan ke-14 di dunia. Dengan tingkat produksi tahun 2010 sebesar 275 juta ton dan tahun 2011 ditargetkan mencapai 325 juta ton dengan ekspor sekitar 170 juta ton menempatkan Indonesia sebagai negara produsen ke-2 setelah Australia. Sementara pemenuhan kebutuhan batubara dalam negeri tahun 2010 hanya mampu dipenuhi sebesar 72 juta ton. Karena itu, penerapan kebijakan peningkatan nilai tambah batubara dipastikan akan berdampak luas terhadap perkembangan usaha di bidang pertambangan batubara di Indonesia.
Peningkatan nilai tambah batubara selain melalui upgrading batubara, juga dapat dilakukan melalui proses pencairan batubara, gasifikasi batubara, CWM, kokas, dan karbon aktif. Disadari bahwa selain berdampak positif, penerapan kebijakan peningkatan nilai
v tambah batubara juga memunculkan implikasi/ dampak negatif yang cukup besar.
Implikasi/dampak pemberlakuan kebijakan peningkatan nilai tambah batubara terhadap pengusahaan batubara yang krusial terutama aspek teknologi upgrading batubara yang belum proven, legal perizinan yang telah disepakati, infrastruktur, dan energi, karena itu perumusannya didasarkan kepada prinsip-prinsip saling menguntungkan (win win solution) bagi seluruh pemilik kepentingan pertambangan batubara. Karena itu, pemerintah perlu melakukan perbaikan berbagai tatanan yang diperkirakan akan menghambat pelaksanaan kebijakan tersebut, mulai dari penyederhanaan prosedur, insentif, peningkatan koordinasi di antara berbagai instansi terkait, revisi peraturan perundang-undangan, dan lain-lain.
Penerapan kebijakan peningkatan nilai tambah batubara merupakan bagian dari perubahan paradigma dari negara penghasil material kasar/wantah dan konsentrat (barang setengah jadi) menjadi negara penghasil barang setengah jadi dan barang jadi.
Untuk itu diperlukan upaya yang maksimal, tidak hanya harus dilakukan oleh perusahaan, tetapi juga dari pemerintah sendiri. Perlu disadari bahwa keberhasilan dalam merealisasikan program peningkatan nilai tambah batubara akan sangat menguntungkan kepada negara; bukan semata-mata pemerintah yang akan menikmatinya, tetapi juga perusahaan dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Tantangan terbesar yang kini dihadapi dalam peningkatan nilai tambah batubara adalah perlunya jaminan terhadap keberlangsungan investasi – terlebih investasi di bidang pertambangan relatif sangat besar dengan risiko tinggi, sehingga investor merasa nyaman (secure) dalam menjalankan usahanya. Dalam konteks yang sama, selama pola pikir birokrat berorientasi pada peningkatan pendapatan negara/daerah dalam jangka pendek (instan), selama itu peningkatan nilai tambah batubara sulit untuk berjalan mulus.
Kebijakan Peningkatan Nilai Tambah Batubara merupakan amanat UU No. 4/ 2009, secara legal aspek harus dilaksanakan. Dengan waktu yang sangat terbatas (2 tahun), kebijakan tersebut sangat rentan untuk dapat diterapkan, tapi jika tidak mungkin, apakah perlu diambil solusi dengan pentahapan yang berarti melanggar UU No.4/2009. Jika tidak mau dianggap melanggar, berarti UU No.4/2009 perlu direvisi.
Untuk mendukung kebijakan tersebut direkomendasikan/ disarankan untuk melakukan; a) pengendalian produksi batubara, dan produksi didorong untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri; b) perumusan kebijakan peningkatan nilai tambah batubara didasarkan prinsip- prinsip saling menguntungkan (win win solution); c) Litbang teknologi upgrading batubara, dan teknologi lainnya yang memberi nilai tambah perlu didorong ke arah tahap komersial (proven), d) Infrastruktur (transportasi dan energi) perlu didorong perkembangannya agar mendukung kebijakan peningkatan nilai tambah batubara, dan e) kebijakan peningkatan nilai tambah dilaksanakan secara bertahap, f) Penciptaan iklim investasi yang kondusif dan jaminan kepastian hukum, melalui pemberian insentif dan dukungan lembaga keuangan serta efektivitas Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria peraturan di tingkat Pusat, g) Peningkatan koordinasi dan harmonisasi kebijakan/peraturan: Lintas sektor/antarkementerian, Pemerintah Pusat dan Daerah Asosiasi Pengusaha sektor ESDM, dan Pelaku Usaha/IUP/KK/PKP2B, h) Intensifikasi kegiatan eksplorasi untuk meningkatkan sumber daya dan cadangan mineral dan batubara, i) Pemutakhiran sistem informasi pertambangan terpadu, j) Peningkatan peran lembaga litbang, meliputi: Efisiensi proses pengolahan/pemurnian mineral dan batubara, Validasi teknologi baru dan belum teruji, dan Alih teknologi fan inovasi., k) Peningkatan kerja sama bilateral dan multilateral.
vi
vii DAFTAR ISI
JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RINGKASAN ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR TABEL ... ix BAB 1.
PENDAHULUAN ... I – 1 1.1 Latar Belakang ... I – 1 1.2 Ruang Lingkup Kegiatan ... I – 1 1.2. Tujuan ... I – 2 1.3. Sasaran ... I – 2 1.4. Lokasi Kegiatan ... I – 2 BAB 2.
TINJAUAN PUSTAKA ... II – 1 2.1 Kebijakan Nilai Tambah Batubara untuk Ekspor ... II – 2 2.2 Tinjauan Teknologi Upgrading ... II – 2
2.2.1. Teknologi UBC ... II – 3 2.2.2. Teknologi Geo Coal ... II – 4 2.2.3. Teknologi Upgrading Lainnya ... II – 7 2.3 Kebijakan Bauran Energi ... II – 9 BAB 3.
METODOLOGI ... III – 1 3.1. Pendekatan Metodologi ... III – 1 3.2. Pelaksana Kegiatan ... III – 1 3.3. Anggaran Kegiatan ... III – 2 3.4. Peralatan Kegiatan ... III – 2 3.5. Pelaksanaan Kegiatan ... III – 2 3.6. Indikator Kinerja ... III – 2 BAB 4.
KONDISI PERBATUBARAAN NASIONAL ... IV – 1 4.1. Gambaran Umum ... IV – 1 4.1.1. Cadangan dan Kualitas Batubara ... IV – 2 4.1.2. Sistem Operasi dan Produksi Batubara ... IV – 3 4.1.3. Prediksi Kebutuhan Batubara Domestik dan Ekspor ... IV – 5 4.1.4. Kondisi Infrastruktur dan Pelabuhan Batubara ... IV – 6 4.2. Kondisi Pengusahaan Batubara di Provinsi Kalimantan Selatan ... IV – 7 4.2.1. PT. Arutmin Indonesia ... IV – 10 4.2.2. PT. Adaro Indonesia ... IV – 12 4.3. Kondisi Pengusahaan Batubara di Provinsi Jambi ... IV – 13 4.3.1. PT. Intirta Primasakti ... IV – 16
viii 4.3.2. PT. Karya Bumi Baratama ... IV – 17 4.3.3. PT. Nan Riang ... IV – 18 4.3.4. PT. Titan Mining Indonesia ... IV – 18 4.4. Pengusahaan Stockpile Batubara di Jawa ... IV – 20 BAB 5.
HASIL DAN PEMBAHASAN ... V – 1 5.1. Pandangan Pemilik Kepentingan ... V – 1
5.1.1. Daerah Produsen Batubara ... V – 1 5.1.2. Daerah Stockpile Batubara ... V – 2 5.1.3. Produsen Batubara di Provinsi Kalsel ... V – 3 5.1.4. Produsen Batubara di Provinsi Jambil ... V – 5 5.2. Identifikasi Permasalahan ... V – 6 5.2.1. Faktor-Faktor Pendukung Kebijakan……. ... V – 6 5.2.2. Faktor-Faktor Kendala Kebijakan ... V –11 5.2.3. Implikasi/Dampak Positif dan Negatif ... V –18 5.3. Pembahasan ... V –19 5.3.1. Nilai Tambah Batubara …….………. V –19
5.3.2. Kendala ... V –23 5.3.3. Alternatif Pemecahan dan Tindak Lanjut ... V –25
BAB 6.
PENUTUP ... VI – 1 6.1. Kesimpulan ... VI – 1 6.2. Rekomendasi/ Saran ... VI – 1 DAFTAR PUSTAKA ... P – 1
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Bagan Alir Proses UBC ... II – 3 Gambar 2.2. Proses Produksi Geo-Coal ... II – 4 Gambar 2.3. Status dan Prediksi Bauran Energi ... II – 9 Gambar 4.1. Lokasi Tambang dan Pelabuhan Batubara Utama ... IV – 1 Gambar 4.2. Peta Kegiatan Pertambangan Batubara di Kalsel ... IV –10 Gambar 4.3. Sebaran Cadangan Tambang Asam-asam PT Arutmin Indonesia ... IV –11 Gambar 4.4. Area Kerja dan Pelabuhan Muat Tambang ... IV –12 Gambar 4.5. Lokasi Tambang PT. Adaro Indonesia. ... IV –14 Gambar 4.6. Pabrik Pengeringan Batubara PT. Titan Mining Indonesia ... IV –20 Gambar 4.7. Teknologi Proses Pengeringan Batubara PT. Titan Mining Indonesia . IV –20
x
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Ringkasan Indikator Finansial UBC ... II – 4 Tabel 3.1. Daftar Personil dan Jabatan Tim ... III – 1 Tabel 3.2. Biaya Kegiatan Tim ... III – 2 Tabel 3.3. Jadwal Kegiatan ... III – 4 Tabel 4.1. Sumberdaya dan cadangan batubara ... IV – 2 Tabel 4.2. Sumber Daya Batubara ... IV – 3 Tabel 4.3. Jumlah Produksi Batubara ... IV – 4 Tabel 4.4. Realisasi Produksi dan Penjualan Batubara ... IV – 4 Tabel 4.5. Jumlah Tambang ... IV – 5 Tabel 4.6. Kebutuhan Batubara Dalam Negeri ... IV – 5 Tabel 4.7. Realisasi Ekspor Batubara Indonesia ... IV – 6 Tabel 4.8. Prediksi Produksi, Kebutuhan Domestik,dan Ekspor ... IV – 6 Tabel 4.9. Pelabuhan-pelabuhan Batubara di Indonesia ... IV – 7 Tabel 4.10 Daftar Izin KK di Prov. Kalimantan Selatan ... IV – 8 Tabel 4.11 Daftar Izin PKPK2B di Prov. Kalimantan Selatan ... IV – 9 Tabel 4.12 Cadangan Tambang Asam-asam, PT. Arutmin Indonesia ... IV –11 Tabel 4.13 Kualitas Batubara Tambang Asam-asam, PT. Arutmin Indonesia ... IV –13 Tabel 4.14 Produksi PT. Adaro Indonesia ... IV –15 Tabel 4.15 Sebaran Cadangan Batubara di Provinsi Jambi ... IV –16 Tabel 4.16 Data Produksi/Penjualan Batubara di PRov. Jambi ... IV –17 Tabel 4.17 Biaya Coal Driyng Batubara PT, Titan Mining Batubara ... IV –19 Tabel 4.18 Daftar Usaha Briket Batubara di Kabupaten Cirebon ... IV –21 Tabel 5.1. Kebutuhan Batubara Domestik Indonesia Tahun 2011 ... V –17 Tabel 5.2. Peningkatan Nilai Tambah Batubara dari Wantah ... V –20 Tabel 5.3. Proyeksi Dampak Pembatasan Kalori ... V –20 Tabel 5.4. Perhitungan Nilai Tambah Batubara ... V –21 Tabel 5.5. Peningkatan Nilai Tambah Batubara ... V –21
xi
P
Peennddaahhuulluuaann
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. I - 1
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1) Amanat UU No. 4/ 2009 dan PP No. 23/ 2010 peningkatan nilai tambah minerba (aspek kebijakan).
2) Teknologi upgrading batubara kalori rendah (seperti UBC) belum proven (aspek teknologi).
3) Batubara kalori rendah banyak diusahakan untuk ekspor, karena segmen pasar batubara kalori rendah di luar negeri (ekspor) cukup luas, tapi tidak ada nilai tambahnya (aspek pasar ekspor dan aspek penerimaan negara).
4) Penetapan upgrading batubara kalori rendah untuk ekspor akan mendorong terjadi stok batubara dalam negeri yang berlebih, diperkirakan ada 40% yang terkena dampak pemberlakuan kebijakan nilai tambah batubara ini (aspek pasar dalam negeri).
5) Pada tingkat produksi saat ini, sumberdaya/cadangan batubara (tidak termasuk di hutan lindung), diperkirakan akan habis dalam 20 tahun, jadi tidak dapat mendukung program bauran energi sampai 2050 (aspek konservasi sumberdaya batubara).
6) Belum adanya analisis ekonomi yang bisa menjelaskan berapa keuntungan perusahaan dan berapa nilai tambah maupun penerimaan negara dalam proses upgrading batubara kalori rendah pada tiap tingkatan kenaikan kalori, formula yang tepat pengusahaan vs nilai tambah/ penerimaan Negara (aspek bisnis dan nilai tambah).
7) Belum adanya dukungan litbang kajian kebijakan pengusahaan upgrading batubara kalori rendah yang dapat dijadikan pedoman yang mendukung perumusan kebijakan nilai tambah batubara kalori rendah (aspek litbang kebijakan nilai tambah upgrading)
1.2 Ruang Lingkup Kegiatan (tidak perlu dlm satu Bab tersendiri mjd Program Keg)
1) Identifikasi dan Analisis Sumberdaya Batubara
2) Identifikasi dan Analisis Teknologi dan Pengusahaan Upgrading 3) Identifikasi dan Analisis Nilai Tambah dan Penerimaan Negara 4) Identifikasi dan Analisis Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat
P
Peennddaahhuulluuaann
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. I - 2
5) Identifikasi dan Analisis Implikasi/ Dampak Kebijakan 6) Pemecahan Masalah Pengusahaan Batubara
7) Perumusan Masukan Kebijakan
1.3 Maksud dan Tujuan Maksud:
Melakukan identifikasi dan analisis terhadap penetapan nilai tambah upgrading batubara untuk ekspor dan memperkirakan implikasinya/dampak terhadap pengusahaan batubara di Indonesia.
Tujuan:
Memberikan masukan kepada Kementerian ESDM cq Ditjen Mineral dan Batubara dalam rangka menetapkan spesifikasi batubara bagi keperluan ekspor sebagai ketentuan nilai tambah batubara yang mampu diterima oleh pemangku kepentingan dan rumusan penyelesaian permasalahan pengusahaan yang akan timbul akibat ketetapan kebijakan tersebut.
1.4 Sasaran
1) Diketahui faktor-faktor pendukung kebijakan nilai tambah upgrading batubara untuk eskpor.
2) Diketahui dampak yang akan terjadi atas pemberlakuan kebijakan nilai tambah upgrading batubara kalori rendah terhadap pengusahaan batubara di Indonesia.
3) Dapat dirumuskan masukan kebijakan pengusahaan upgrading batubara untuk ekspor.
4) Dapat dirumuskan pemecahan masalah (problem solving) yang akan terjadi sebagai dampak pemberlakuan kebijakan nilai tambah upgrading batubara untuk ekspor terhadap pengusahaan batubara di Indonesia.
1.5 Lokasi Kegiatan
Lokasi kegiatan penelitian dilakukan di Jakarta, Kabupaten Cirebon (Jawa Barat), Provinsi Banten, Kalimantan Selatan, dan Jambi.
Survei lapangan yang dilakukan di Pulau Jawa, yaitu:
P
Peennddaahhuulluuaann
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. I - 3
1) Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat untuk inventarisasi dan bahan analisis tentang perusahaan stock pile batubara serta pilot plant UBC.
2) Provinsi Banten untuk inventarisasi data dan bahan analisis tentang perusahaan stock pile batubara dan pengembangan teknologi upgrading batubara model geo coal.
Sedangkan survei lapangan yang dilakukan di luar Pulau Jawa meliputi:
1) Provinsi Kalimantan Selatan, PT. Adaro Indonesia dan PT. Arutmin Indonesia untuk inventarisasi data pengusahaan batubara sebagai bahan analisis tentang implikasi kebijakan penetapan nilai tambah batubara untuk ekspor terhadap pengusahaan batubara kalori rendah.
2) Provinsi Jambi untuk inventarisasi data pengusahaan batubara sebagai bahan analisis tentang implikasi kebijakan penetapan nilai tambah batubara untuk ekspor terhadap pengusahaan batubara kalori rendah.
TTiinnjjaauuaann PPuussttaakkaa
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. II - 1
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kebijakan Nilai Tambah Batubara untuk Ekspor
Penggantian Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 (UU No.11/1967) tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan oleh UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, dipastikan dapat mengubah paradigma tentang pengusahaan minerba yang berlangsung selama ini. Selain berbagai perubahan pengelolaan dari sentralisasi menjadi desentralisasi, ada satu hal pokok yang perlu digarisbawahi, yaitu tentang peningkatan nilai tambah. Sesuai pasal 95 huruf c dan pasal 102 UU No.11/2009, setiap pemegang Izin Usaha Produksi (IUP) dan IUP Khusus (IUPK) wajib meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan/atau batubara di dalam negeri. Selanjutnya pasal 94 dan pasal 95 Peraturan Pemerintah (PP) No.23/2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, mengamanatkan bahwa pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi wajib melakukan pengolahan dan pemurnian untuk meningkatkan nilai tambah, baik secara langsung maupun kerja sama dengan perusahaan pemegang IUP dan IUPK lainnya.
Sehubungan dengan upaya peningkatan nilai tambah minerba tersebut, ada dua hal yang patut mendapat perhatian: Pertama, sesuai pasal 170 UU No.4/2009, bagi pemegang Kontrak Karya yang sekarang sedang beroperasi (existing), pemerintah memberi kesempatan untuk melakukan pemurnian selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak UU No.4/2009 disahkan; Kedua, peningkatan nilai tambah dilakukan secara bertahap, baik produk hasil tambang maupun jangka waktunya. Hal ini didasarkan kepada pertimbangan perlunya dipersiapkan prasarana dan sarana, seperti ketersediaan teknologi, permodalan, infrastruktur, keekonomian, risiko, dan payung hukum, sehingga upaya peningkatan nilai tambah dapat berhasil.
Peningkatan nilai tambah secara mendadak dan dalam jangka waktu yang cepat, dikhawatirkan dapat berdampak buruk bagi pengembangan pertambangan minerba di tanah air, karena Indonesia dianggap tidak lagi menarik bagi investor, terutama investor asing, yang notabene masih diperlukan oleh Indonesia. Untuk itu perlu disusun roadmap peningkatan nilai tambah dari masing-masing mineral atau batubara.
Menyikapi ketentuan tentang peningkatan nilai tambah minerba, paling tidak, terdapat lima alasan pentingnya dilakukan peningkatan nilai tambah, yaitu untuk:
1) Optimalisasi konservasi sumber daya mineral dan batubara;
2) Memenuhi kebutuhan bahan baku (feed) industri domestik;
3) Memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional;
TTiinnjjaauuaann PPuussttaakkaa
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. II - 2
4) Menghasilkan efek berantai yang signifikan terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik;
5) Memicu pengembangan sektor hilir (industri).
Dalam perkembangan pembahasan Rancangan Permen Kementerian ESDM, peningkatan nilai tambah batubara untuk dapat dijual ke luar negeri wajib diproses melalui upgrading dengan batasan kalori tertentu. Penetapan nilai tambah batubara yang harus wajib diolah dengan upgrading dengan batasan minimum yang masih diperdebatkan menjadi polemik yang tidak menentu, terkait beberapa persoalan, seperti; teknologi upgrading yang belum proven, sementara segmen pasar ekspor untuk batubara kalori rendah cukup luas, banyaknya izin pertambangan batubara eksisting yang mengusahakan batubara kalori rendah (sekitar 40%), implementasi kebijakan DMO batubara yang belum optimal, konservasi sumberdaya batubara untuk menopang kebijakan bauran energi sampai tahun 2050, dan lainnya. Bertolak dari berbagai persoalan tersebut maka bila kebijakan nilai tambah batubara benar-benar akan diberlakukan tentu akan menimbulkan berbagai dampak terhadap pengusahaan batubara di Indoensia, seperti:
1) dalam pengusahaan upgrading teknologinya belum proven,
2) kemungkinan produk batubara kalori rendah berlebih di dalam negeri karena ketidakmampuan/ keengganan mengusahakan upgrading,
3) kebutuhan batubara dalam negeri yang masih belum terukur (data industri pemakai),
4) berapa nilai tambah dari upgrading batubara, dan
5) tingkat produksi dan tingkat ekspor yang sesuai asas konservasi sumberdaya batuabra.
Oleh karena itu, berbagai persoalan pengusahaan batubara di Indonesia yang akan timbul sebagai implikasi atas diberlakukannya kebijakan nilai tambah melalui upgrading batubara kalori rendah untuk ekspor perlu diidentifikasi dan dicarikan solusinya.
2.2. Teknologi Upgrading
Teknologi upgrading merupakan proses peningkatan nilai kalori batubara peringkat rendah menjadi batubara dengan nilai kalor lebih tinggi melalui penurunan kadar dalam batubara tersebut. Ada tiga proses utama upgrading, yaitu evaporative drying, pyrolysis dan Non-evaporative (under pressure). Evaporative drying ditujukan untuk mengurangi kandungan air bebas pada batubara bituminus dan teknologi ini sudah komersil di beberapa negara. Pyrolysis dilakukan dengan memanaskan tanpa udara batubara kalori rendah pada temperature 430-650 ºC
TTiinnjjaauuaann PPuussttaakkaa
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. II - 3
untuk menghasilkan char, gas dan cairan (minyak berat). Sedangkan non- evaporative (under pressure)dilakukan pemanas pada temperatur 150-350oC dengan tekanan tertentu. Salah satu contohnya adalah teknologi UBC.
Secara komersial, baik di Indoensia maupun di luar negeri teknologi upgrading ini belum ada yang mengusahakan, jadi secara bisnis pertambangan teknologi ini belum proven. Oleh karena itu, dalam kajian ini akan coba dikaji juga beberapa teknologi upgrading batubara kalori rendah yang sedanga dikembangkan di Indonesia.
2.2.1. Teknologi UBC
Pada UBC prosesnya sangat sederhana, dilakukan dengan mencampurkan batubara, minyak residu dan minyak tanah, kemudian dipanaskan pada temperatur 1500C – 1600C dengan tekanan 250 kPa – 350 kPa. Penambahan minyak residu diperlukan untuk menjaga kestabilan kadar air bawaan batubara pasca proses.
Sedangkan minyak tanah diperlukan sebagai media dalam proses. Produk UBC, berupa serbuk dan briket adalah sangat baik dan tidak menyerap air kembali setelah mencapai kondisi stabil.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (Puslitbang tekMIRA), Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral - Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral bekerjasama dengan Japan Energy Coal Centre/JCOAL, Kobe Steel Ltd., dan Sojitz Corporation (Jepang) serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah berhasil membangun, mengoperasikan dan mengembangkan pilot plant UBC di Palimanan, Cirebon. Pilot plant UBC di Palimanan ini merupakan pilot plant pertama di dunia, sehingga keberadaannya menjadi sangat penting dan strategis.
Pilot plant UBC Palimanan dengan kapasitas 5 ton perhari terdiri dari 3 (tiga) bagian utama yaitu proses, peralatan pendukung dan sistem kontrol. Peralatan pada bagian proses UBC dibagi menjadi 5 seksi (section) utama, yaitu seksi 100 – penggerusan/ penyiapan batubara (coal preparation), seksi 200 – penghilangan air (slurry dewatering), seksi 300 – pemisahan batubara dengan minyak (coal-oil separation), seksi 400 – pengeringan batubara (oil recovery/rotary steam tube dryer) dan seksi 500 - pembriketan (briquetting), seperti terlihat pada Gambar 2.1.
Sedangkan fasilitas yang terdapat pada bagian pendukung terdiri dari boiler, generator nitrogen, kompresor udara, suplai air dingin dan generator listrik untuk keperluan darurat. Semua kegiatan proses pengujian dan peralatan pendukung dipandu dari sistem kontrol.
TTiinnjjaauuaann PPuussttaakkaa
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. II - 4 Gambar 2.1. Bagan alir proses UBC
Berdasarkan analisa kelayakan usaha yang memperhitungkan aspek finansial berdasarkan studi pustaka, yang dilakukan Puslitbang tekMIRA, pembangunan pabrik komersial UBC termasuk dengan pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batubara berkapasitas 14,6 MW dengan menggunakan batubara Mulia sebagai batubara wantah menghasilkan discount factor 6%, NPV US$ 2,37 juta, IRR 6,5 %, ROI 10, 58 % dan Payback period 9,45 tahun. Keseluruhan indikator financial menunjukkan bahwa proyek ini layak secara finansial. Mengeai ringkasan seluruh perhitungan indikator finansial serta kesimpulan layak-tidaknya proyek pembangunan pabrik UBC dengan menggunakan batubara Mulia sebagai batubara wantah dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Ringkasan Indikator Finansial UBC
No Parameter Hasil Perhitungan Kriteria Layak Keputusan
1 NPV US$ 2,37 juta NPV > 0 Layak
2 IRR 6,5 % IRR > 6 % Layak
3 ROI 10,58 % ROI > 10,5 % Layak
4 PBP 9,45 tahun PBP < 15 tahun Layak
Sumber: Puslitbang tekMIRA, 2011
2.2.2. Teknologi Geo Coal
Geo-Coal (akronim dari Genetically Engineering Organic) adalah teknologi yang diciptakan oleh Ir. Harsudi Supandi dan saat ini telah dimiliki bersama-sama dengan PT Total Sinergy International (TSI). TSI adalah perusahaan kerjasama antara Agritrade International Pte Ltd, WSJ International Shd Bhd dan PT. Nusa Galih Nusantara. Mengenai proses produksi geo coal dapat dilihat pada Gambar 2.2.
Keunggulan teknologi Geo-Coal : 1) Manfaat :
a) Meningkatkan nilai kalori tanpa dibriket b) Mengurangi moisture
c) Dapat mengontrol HGI hingga menjadi lebih keras, di atas 80
TTiinnjjaauuaann PPuussttaakkaa
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. II - 5
d) Mengurangi Volatile Matter
e) Meningkatkan Ash Fusion Temperatures 2) Produk yang dihasilkan
a) TM : <10%
b) Nilai kalori : 5,300 – 7,900 kcal/kg
3) Kapasitas produksi : satu modul unit adalah 500.000 ton/tahun.
4) Batubara masukan adalah batubara gerus dengan ukuran +5 – 50mm untuk semua jenis batubara.
5) Waktu Proses Upgrading : < 30 menit.
Gambar 2.2. Proses Produksi Geo-Coal
Data Keekonomian :
PENGGERUSAN Batubara digerus hingga
ukuran +5 – 50 mm
PENGERINGAN
Udara panas dari burner gasifikasi menghilangkan uap air pada batubara
PROSES SETTING
Modifikasi nilai HGI (Hardgrove Grindability Indeks), suhu ash fusion dan mengurangi zat terbang pada
batubara.
PENDINGINAN
Mendinginkan produk hasil upgrading.
BATUBARA ROM DARI TAMBANG
PRODUK GEO COAL:
Geo-Lite, Geo-Hi, Geo-Met
TTiinnjjaauuaann PPuussttaakkaa
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. II - 6
1) Biaya Investasi : US$ 10-12 juta untuk kapasitas produksi 1 juta ton/tahun tergantung lokasinya dekat dengan infrastuktur atau tidak.
2) Biaya operasional upgrading : US$ 5/ton 3) Waktu pembuatan pabrik : sekitar 6 bulan 4) Pay back Period : < 1 tahun
Produk Geo Coal dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu : 1) Geo-Lite : Nilai kalori 4,800 – 5,700 kcal/kg
2) Geo-Hi : nilai kalori 5,700- 6,800 kcal/kg 3) Geo-Met : nilai kalori > 6,800 kcal/kg Proyek yang dilakukan oleh PT. TSI :
1) Memasang Geo Coal Technology di Tamiang (PT. Rimau Indonesia) dengan kapasitas 500 ribu ton.
2) TSI dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah bekerja sama untuk menggunakan teknologi Geo-Coal pada salah satu pembangkit listrik tenaga batubara di Indonesia yaitu di PLTU 2x300 MW di Labuan, Banten. Unit itu memiliki kapasitas 1,5 juta ton/tahun dan ditargetkan dapat dikomisioning mulai Agustus 2011.
Teknologi Geo-Coal dinilai dapat meningkatkan (upgarding) kalori batubara rendah menjadi batubara dengan kadar kalori lebih tinggi 50%-100%. Harsudi Supandi, Direktur Utama Total Sinergy International, pemilik hak paten Teknologi Geo-Coal, mengatakan teknologi ini telah diujicobakan pada proyek pembangkit listrik di Labuan, Banten. Di pembangkit listrik berkapasitas 2X300 megawatt itu, Total Sinergy melakukan konstruksi teknologi Geo-Coal sejak November 2010 dan ditargetkan selesai Agustus. Setelah melakukan commissioning selama satu bulan, selanjutnya akan diuji untuk mendapatkan sertifikasi yang sudah didaftarkan oleh Drew & Napier. Investasi tahap awal untuk proyek tersebut sebesar Rp 20 miliar.
Total kapasitas untuk pengeringan (drying) mencapai 1,2 juta ton per tahun, sedangkan untuk peningkatan kualitas batubara hanya 250 ribu ton per tahun.
Pihak PLN, saat dikonfirmasi membenarkan pihaknya menggunakan teknologi tersebut untuk pembangkit berbahan bakar batubara di Labuan. Namun, dia belum mengetahui efektifitas teknologi tersebut terhadap kalori batubara yang digunakan untuk pembangkit Labuan. Pembangkit tersebut mendapat pasokan batubara antara lain dari PT. Arutmin Indonesia, anak usaha PT Bumi Resources Tbk dan PT Kideco Jaya Agung, anak usaha PT Indika Energi Tbk.
Teknologi Geo Coal yang dikembangkan Harsudi pada dasarnya merupakan proses meningkatkan kalori batubara peringkat rendah. Proses peningkatan tersebut dilakukan melalui beberapa tahap, meliputi persiapan, penghancuran batubara, pengeringan, setting, dan berakhir dengan pendinginan. Dalam proses
TTiinnjjaauuaann PPuussttaakkaa
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. II - 7
penghancuran, batubara diubah menjadi ukuran lebih kecil, antara 5 cm-50 cm.
Sementara pada proses pengeringan, kadar air dalam batubara peringat rendah dikurangi dengan menggunakan gassification burner. Setelah proses ini, kadar air dinilai bisa berkurang 60-80%. Pengurangan kadar kelembaban pada batubara dapat menghemat biaya transportasi karena volume air pada batubara tidak perlu diangkut karena kadar airnya berkurang secara signifikan. Proses selanjutnya adalah setting yang menjadi inti dari proses upgrading. Dalam proses ini, dilakukan modifikasi gabungan dari Hardgrove Grindability Index, konten materi yang mudah terbakar dan debu atau ash dari batubara. Proses peningkatan batubara yang dilakukan lewat teknologi Geo-Coal bisa mempertahankan kadar sulfur dan ash tetap rendah sehingga batubara yang dihasilkan nantinya lebih ramah lingkungan. Batubara yang kualitasnya sudah ditingkatkan memiliki harga jual lebih tinggi, sehingga dapat memberikan kenaikan keuntungan bagi produsen batubara. Teknologi Geo-Coal juga menjaga tingkat kandungan tebu dan sulfur rendah dari batubara kualitas rendah. Pemanfaatan batubara jenis ini lebih ramah lingkungan.
Teknologi Geo-Coal yang dikembangkan berbeda dengan proses upgrading lain, seperti Upgrade Brown Coal (UBC). Proses upgrading UBC intinya pada pengeringan dan briket. Dengan Geo Coal, upgrading batubara dinilai lebih efisien.
Ongkosnya hanya US$ 10 juta per ton produk. Rational cost-nya US$ 4-US$5 per ton produk dalam skala besar.
2.2.3. Teknologi Upgrading lain
Pada saat ini upgrading batubara peringkat rendah lebih ditujukan untuk menurunkan kadar air untuk dimanfaatkan secara langsung sebagai bahan bakar boiler pada pembangkit listrik, agar nilai kalori batubara tersebut meningkat.
Dalam perkembangannya teknologi upgrading melalui penurunan kadar air juga dimaksudkan untuk mengatasi masalah transportasi.
Air yang terkandung dalam batubara terdiri atas air bebas (free moisture) dan air bawaan (inherent moisture), sedangkan air total (total moisture) adalah seluruh air yang terkandung dalam batubara (as received = AR) atau jumlah air bebas dan air bawaan. Kandungan air dalam batubara, baik air bebas maupun air bawaan merupakan faktor yang merugikan karena memberikan pengaruh yang negatif terhadap biaya transportasi dan proses pembakarannya. Batubara dengan kadar air yang tinggi, akan mempunyai nilai kalori yang rendah. Apabila batubara tersebut digunakan sebagai bahan bakar, untuk mendapatkan jumlah kalori tertentu diperlukan jumlah batubara yang lebih besar dibandingkan dengan batubara yang berkalori tinggi. Penurunan kadar air dalam batubara dapat dilakukan dengan cara mekanik atau perlakuan panas. Kadar air bebas dapat dikurangi secara efektif dengan cara mekanik, sedangkan penurunan kadar air bawaan harus dilakukan dengan cara pemanasan (proses pengeringan). Secara umum teknologi pengeringan terdiri atas:
TTiinnjjaauuaann PPuussttaakkaa
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. II - 8
1) Proses pengeringan dengan penguapan;
2) Proses pirolisis; dan
3) Proses pengeringan tanpa penguapan (dengan tekanan).
Proses pengeringan dengan penguapan, batubara dipanaskan baik secara langsung maupun tidak langsung (dengan menggunakan uap panas). Beberapa teknologi dengan cara ini seperti flash drying, rotary drum drying, steam tube drying, fluidized bed drying, swirl tube drying, solar drying, dan lain-lain telah diterapkan pada skala komersial dan terbukti efektif untuk menurunkan kadar air bebas batubara bituminus untuk meningkatkan nilai kalor (Couch, 1990). Dengan cara ini, air bawaan mempunyai kecenderungan untuk kembali terserap oleh batubara. Contoh teknologi ini yang sedang berkembang di Indonesia di antaranya adalah binderless coal briquetting (BCB) yang dikembangkan White Energy, Australia di Tabang, Kalimantan Timur, coal upgrading technology (CUT) yang dikembangkan oleh Alstom, USA di Kalimantan Timur, coal upgrading and briquetting (CUB), yang dikembangkan oleh PT Astra dan ITB di Rengat, Kalimantan Selatan, coal drying and briquetting (CDB) yang juga dikembangkan oleh tekMIRA sebagai teknologi upgrading alternatif selain UBC. Teknologi-teknologi tersebut terbukti efektif untuk menurunkan kadar air bebas dalam batubara.
Proses pirolisis merupakan alternatif lain untuk meningkatkan kualitas batubara peringkat rendah termasuk penurunan kadar air bawaan. Dalam pirolisis atau karbonisasi, batubara (relatif) halus dipanaskan tanpa bantuan oksigen (suasana reduksi) pada suhu 430º C sampai 650º C. Sebagian besar air bawaan dan sebagian atau seluruh zat terbang dikeluarkan tergantung pada temperatur dan waktu tinggal. Produk pirolisis adalah char (semi kokas) berupa PDF (process derived fuel) dan CDL (coal derived liquid) yang berupa cairan. Char yang terbentuk mempunyai nilai kalor yang tinggi dan tidak akan menyerap kembali air yang telah dikeluarkan dan tidak mempunyai kecenderungan terhadap terjadinya pembakaran spontan.
Proses pengeringan tanpa penguapan dengan tekanan, di antaranya adalah Koppelman, hydro thermal drying (HTD) dan steam drying (SD). Proses Koppelman dilakukan pada suhu lebih dari 400°C, sedangkan hydro thermal /steam drying pada suhu antara 230 dan 350°C dan tekanan antara 6-12 MPa (60-120 atm).
Temperatur dan tekanan yang tinggi, menyebabkan terjadinya penguapan air bebas, air bawaan, tar, hidrogen, CO2, CO dan hidrokarbon. Tar yang keluar dari batubara akan menutupi pori-pori permukaan batubara yang terbuka karena proses pemanasan, sehingga air yang telah dikeluarkan tidak dapat terserap kembali oleh batubara tersebut. Proses ini mampu menurunkan kadar air dalam batubara sekitar 50 - 87% dari kadar air awal (batubara wantah) dan meningkatkan nilai kalor sekitar 15 sampai 24% (Couch, 1990).
Proses UBC merupakan salah satu teknologi pengeringan melalui proses pengeringan tanpa penguapan dengan tekanan. Dibandingkan dengan teknologi
TTiinnjjaauuaann PPuussttaakkaa
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. II - 9
upgrading lainnya yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu menurunkan kadar air bawaan dalam batubara, seperti Koppelman, HTD atau SD yang dilakukan pada temperatur di atas 275C dan tekanan yang cukup tinggi >5,5 MPa (Baker, et al, 1986), proses UBC sangat sederhana karena temperatur dan tekanan yang digunakan lebih rendah. Teknologi ini dikembangkan oleh Kobe Steel Ltd. Jepang sebagai pengembangan dari pengolahan/persiapan batubara peringkat rendah untuk proses pencairan batubara dengan teknologi brown coal liquefaction (Deguchi, 2002). Proses UBC ditujukan untuk menurunkan kadar air dalam batubara, baik air bawaan maupun air bebas. Oleh karena itu, penambahan residu pada saat proses sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan kadar air, terutama air bawaan. Batubara hasil proses UBC mempunyai kualitas yang prima dan segmen pasar yang berbeda dengan teknologi-teknologi BCB, CUT, CUB, CDB dan lain-lain yang telah disebutkan sebelumnya yang hanya menurunkan kadar air bebas. Batubara hasil proses UBC lebih ditujukan untuk kepentingan ekspor.
Pada proses CDB, batubara raw digerus menjadi ukuran dibawah 8 mm kemudian dikeringkan (dalam rotary dryer) sehingga kandungan air dalam batubara akan turun yang secara otomatis akan menaikkan nilai kalor batubara tersebut menjadi seperti batubara peringkat tinggi. Batubara kering dibriket tanpa menggunakan bahan perekat dengan memakai double roll briquette machine tekanan tinggi, berkisar 15 – 19 MPa, sehingga berbentuk kompak dan memudahkan dalam penanganan transportasinya.
2.3. Kebijakan Bauran Energi
Kebutuhan energi dunia sampai saat ini masih didominasi oleh bahan bakar fosil.
Kondisi ini akan terjadi diperkirakan hingga beberapa dekade ke depan. Menurut IEA’s World Energy Outlook tahun 2007, prediksi penggunaan bahan bakar fosil mencapai 88% atau sekitar 13,700 Mtoe dari total kebutuhan energi dunia pada tahun 2030. Hal yang sama terjadi pula di Indonesia. Kondisi ini terlihat dari penggunaan bahan bakar fosil (minyak, gas bumi dan batubara) yang cenderung menunjukkan peningkatan. Berdasarkan data tahun 2005, sekitar 95% bauran energi (energy mix) nasional masih didominasi oleh bahan bakar fosil, sedangkan sisanya (5%) berasal dari Energi Baru Terbarukan (EBT), lihat Gambar 2.3.
TTiinnjjaauuaann PPuussttaakkaa
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. II - 10 Sumber: DESDM, 2009
Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, berisi antara lain pengurangan peran bahan bakar fosil dari 95% menjadi 83% sejak 2005 hingga 2025 yang berarti peningkatan peran EBT dari 5% menjadi 17%. Dalam hal pengurangan bahan bakar fosil, peran minyak bumi diharapkan turun dari 54%
menjadi 26%, sedangkan peran gas bumi dan batubara diharapkan meningkat masing-masing dari 27% menjadi 31% dan 14% menjadi 33%. Peningkatan pemanfaatan batubara ini terutama untuk menggantikan pembangkitan energi yang pada mulanya masih banyak tergantung pada bahan bakar minyak.
Optimasi management
energi
2025
Batubara, 33%
Gas , 30%
Minyak,
20 % Biofuels, 5%
Geothermal, 5%
Biomassa, Nuklir, Angin,air,
matahari, CBM, 5%
Pencairan Batubara, 2%
EBT, 17%
Dasar Hukum
Peraturan Presiden No. 5/ 2006 Instruksi Presiden No. 2/2006
Gas , 28.57%
Minyak, 51.66%
Geothermal, 1.32%
Tenaga Air 3.11%
2005
Batubara, 15.34%
Gambar 2.3. Status dan Prediksi Bauran Energi
M
Meettooddoollooggii
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. III - 1
BAB 3 METODOLOGI
3.1. Pendekatan Metodologi
Untuk dapat mengkaji ruang lingkup masalah digunakan pendekatan metodologis multidisiplin ilmu. Pengumpulan data menggunakan beberapa teknik, antara lain:
observasi, wawancara berpanduan (interview guide), dan dokumentasi.
Inventarisasi data dilakukan melalui koordinasi dengan stakeholder di Jakarta maupun di daerah melalui survai ke lapangan untuk mendapatkan data yang akurat dan se-obyektif mungkin. Pengolahan data menggunakan skoring, tabulasi, dan kompilasi data yang dilakukan berdasarkan bidang kajian seperti yang telah ditentukan. Sedangkan dalam analisis data menggunakan teknik kompilasi, elaborasi dan deskriptif analitis.
3.2. Pelaksana Kegiatan
Tenaga pelaksana meliputi tenaga ahli berbagai ilmu sesuai lingkup kajian, antara lain; ahli kebijakan, ahli sosial politik, ahli ekonomi, ahli hukum, ahli kewilayahan, ahli sistem informasi, ahli Geologi, ahli pertambangan, ahli upgrading batubara, dan ahli lingkungan. Mengenai daftar tenaga ahli dan jabatan dalam tim lihat Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Daftar Personil dan Jabatan dalam Tim
No Personil Tim Jabatan Dalam Tim
1 Ir. Hadi Nursarya, M.Sc. Penanggung jawab 2 Ir. Edwin Akhdiat Daranin,
M.Sc.
Koordinator Peneliti
3 Drs. Bambang Yunianto Ketua Tim, Peneliti Madya (Sosiolog)
4 Dr. Binarko Santoso Anggota Tim, Peneliti Madya (Ahli Geologi Batubara) 6 Endang Mulyani, ST Anggota Tim, Peneliti Muda (Ahli Tambang)
7 Sahli Anggota Tim, Pembantu Peneliti (Surveyor) 8 Heru Riyanto E.C., ST Anggota Tim, Pembantu Peneliti (Surveyor) 9 Drs. Sudjarwanto Anggota Tim, Peneliti Madya (Ahli Ekonomi) 10 Rochman Saefudin, ST Anggota Tim, Penelitti Muda (Ahli Ekonomi) 11 Umar Dani, ST Anggota Tim, Peneliti Madya (Ahli Kewilayahan)
12 Dr. Ir. Datin Fatia Umar, M.T. Anggota Tim, Penelitii Utama (Ahli UBC/ Upgrading Brown Coal)
13 Dr. Bukin Daulay, MSc Anggota Tim, Penelitii Utama (Ahli UBC/ Upgrading Brown Coal)
14 Gandhi K. Hudaya, ST Anggota Tim, Peneliti Muda (Ahli Teknik Industri) 15 Ir. Darsa Permana Anggota Tim, Peneliti Madya (Ahli Kebijakan) 16 Ir. Suganal Anggota Tim, Peneliti Madya (Ahli Batubara) 17 Tendi Rustendi, S.Si. M.Si. Anggota Tim, Peneliti (Ahli Sistem Informasi)
M
Meettooddoollooggii
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. III - 2
3.3. Anggaran Kegiatan
Untuk melakukan kegiatan tersebut diperlukan anggaran sebesar Rp. 289.570.000,- yang dialokasikan untuk kegiatan dari tahap persiapan sampai tahap pelaporan.
Anggaran berasal dari DIPA Puslitbang tekMIRA Tahun 2011 (Tabel 3.2).
3.4. Peralatan Kegiatan
Peralatan yang digunakan berupa: scanner, komputer, Alat Tulis, perlengkapan lapangan, seperti laptop, alat dokumentasi (kamera), perekam dan lainnya.
3.5. Pelaksanaan dan Jadwal Waktu Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui koordinasi dengan stakeholder di Jakarta maupun di daerah melalui survei lapangan sesuai ruang lingkup kegiatan yang sudah direncanakan. Pelaksanaan kegiatan akan diuraikan pada tiap tahapan, sedangkan mengenai jadwal secara detil dapat dilihat pada Tabel 3.3.
3.5.1. Persiapan
Tahap persiapan meliputi kegiatan studi literatur, koordinasi tim, penyiapan peralatan, dan penyelesaian administrasi.
3.5.2. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan berdasarkan data primer dan sekunder hasil studi literatur maupun survei lapangan. Pengolahan data menggunakan teknik tabelisasi, klasifikasi, elaborasi dan analisis deskriptif.
3.5.3. Penulisan Laporan
Penulisan laporan didasarkan kepada analisis beberapa ahli sesuai tugas masing- masing.
3.5.4. Pencetakan
Pencetakan laporan dilakukan terpusat oleh Bidang Program Puslitbang tekMIRA.
3.6. Indikator Kinerja 3.6.1. Masukan (Input)
M
Meettooddoollooggii
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. III - 3
Mengenai input kegiatan meliputi personil, anggaran, peralatan dan metode.
Tenaga ahli yang melakukan kegiatan ini meliputi tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu yang terkait, seperti: ahli kebijakan, ahli sosiologi, ahli ekonomi, ahli kewilayahan, ahli geologi, ahli pertambangan, ahli batubara, dan surveyor.
Tabel 3.2 Anggaran
M
Meettooddoollooggii
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. III - 4
Lanjutan tabel 3.2
M
Meettooddoollooggii
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. III - 5
Tabel 3.3 Jadwal Kegiatan
M
Meettooddoollooggii
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. III - 6
Anggaran yang diperlukan sebesar Rp. 289.570.000 yang dialokasikan untuk seluruh kegiatan dari persiapan, survei lapangan sampai pelaporan, antara lain:
koordinasi Jakarta, survei lapangan, honor tidak tetap tenaga ahli, pengadaan bahan dan barang operasional lainnya. Peralatan yang digunakan meliputi scanner, komputer, dan perlengkapan lapangan, seperti laptok, alat dokumentasi, perekam dan lainnya. Metode penelitian yang digunakan menggabungkan penelitian kuantitatif dan kualitatif untuk agar permasalahan teknis dan non teknis dapat dianalisis sebagai bagian yang utuh.
3.6.2. Keluaran (Output)
Keluaran kegiatan ini berupa laporan utama:
a) Laporan Utama Kajian Kebijakan Implikasi Pemberlakuan Peningkatan Nilai Tambah Batubara Kalori Rendah dengan Upgrading untuk Ekspor terhadap Pengusahaan Batubara di Indoensia.
b) Ringkasan Eksekutif Kajian Kebijakan Implikasi Pemberlakuan Peningkatan Nilai Tambah Batubara Kalori Rendah dengan Upgrading untuk Ekspor terhadap Pengusahaan Batubara di Indoensia.
c) Karya Ilmiah Kajian Kebijakan Implikasi Pemberlakuan Peningkatan Nilai Tambah Batubara Kalori Rendah dengan Upgrading untuk Ekspor terhadap Pengusahaan Batubara di Indoensia.
3.6.3. Hasil (Outcome) Hasil kegiatan ini adalah:
a) Diketahuinya kondisi sumberdaya batubara dan pemanfaatannya saat ini.
b) Diketahuinya teknologi upgrading dan aspek bisnis yang layak secara komersial (proven) untuk diimplementasikan mendukung kebijakan nilai tambah batubara.
c) Diketahuinya nilai tambah dan penerimaan negara dari upgrading batubara kalori rendah pada tiap tingkatan peningkatan kalori.
d) Diketahuinya faktor-faktor yang mendukung pemberlakuan kebijakan nilai tambah batubara.
e) Diketahuinya dampak pemberlakuan kebijakan nilai tambah batubara terhadap pengusahaan batubara di Indonesia.
f) Dapat dirumuskan masukan faktor-faktor pendukung pemberlakuan kebijakan nilai tambah batubara.’
g) Dapat dirumuskannya masukan kebijakan mengenai penyelesaian permasalahan pengusahaan batubara sebagai dampak/ implikasi pemberlakuan kebijakan nilai tambah batubara.
M
Meettooddoollooggii
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. III - 7
3.6.4. Manfaat (Benefit)
Dapat diformulasikan teknologi upgrading yang layak secara komersial (proven), sehingga kebijakan nilai tambah batubara melalui upgrading batubara kalori rendah dapat diimplementasikan.
3.6.5. Dampak (Impact)
Timbulnya motivasi dan keinginan untuk membangunn pabrik-pabrik upgrading batubara dan pemanfaatan batubara dalam negeri sehingga batubara kalori rendah memberi nilai tambah langsung maupun tidak langsung (multiplier effect), dan meningkatkan penerimaan negara.
Kondisi Perbatubaraan Nasional
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. IV - 1
BAB 4
KONDISI PERBATUBARAAN NASIONAL
4.1. Gambaran Umum Pertambangan Batubara Indonesia
Batubara Indonesia terutama dihasilkan dari Kalimantan dan Sumatera, serta sejumlah kecil dari Jawa, Sulawesi, dan tempat lain. Tambang-tambang dan pelabuhan batubara utama di Indonesia ditampilkan pada Gambar 4.1 di bawah ini.
Gambar 4.1. Lokasi Tambang dan Pelabuhan Batubara Utama
Pertambangan batubara Indonesia berkembang pesat ditopang oleh kebijakan batubara pemerintah yang memperkenalkan investasi asing secara agresif. Dari segi jumlah produksi, terdapat kenaikan yang sangat signifikan dimana angka produksi 15 tahun lalu yang hanya sebesar 31 juta ton meningkat hingga 8 kali lipat pada tahun 2010 menjadi 256 juta ton. Dan dalam 5 tahun terakhir ini terlihat kenaikan produksi sebanyak 20 juta ~ 40 juta ton per tahun. Demikian pula dengan volume ekspor yang terus meningkat, dimana ekspor pada tahun 2010 telah mencapai angka 198 juta ton sehingga menempatkan Indonesia menjadi salah satu eksportir batubara terbesar di dunia. Dari yang sebelumnya eksportir minyak, Indonesia sekarang ini adalah negara importir minyak, yang menyebabkan batubara semakin menempati posisi yang penting menggantikan minyak dalam komposisi penggunaan energi di Indonesia. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan pemerintah juga dihadapkan pada berbagai tantangan permasalahan, diantaranya semakin menjauhnya lokasi penambangan ke pedalaman, meningkatnya rasio pengupasan (stripping ratio), serta kekhawatiran tentang masalah lingkungan seperti kerusakan hutan.
Batubara Indonesia memiliki kadar abu dan sulfur yang rendah sehingga dikenal ramah lingkungan. Hal ini menyebabkan batubara Indonesia semakin kompetitif di