HUBUNGAN CITRA TUBUH DENGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA DI SMKN 1 LANGSA

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Oleh

Zahrul Husna NIM. 150901089

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY BANDA ACEH

1441 H / 2020 M

(2)
(3)
(4)
(5)

ii

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT Yang tidak akan pernah habis kasih sayang Allah dengan memberikan hidayah, nikmat, kesempatan dan mengizinkan bagi peneliti untuk belajar dan menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang berjudul “Hubungan Citra Tubuh dengan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja Di SMKN 1 Langsa” yang disusun untuk memenuhi syarat guna memperoleh Gelar Strata 1 (S-1) Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Dalam penyusunan skripsi ini peneliti banyak mendapatkan masukan, pelajaran, serta bimbingan. Untuk itu peneliti ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada:

1. Kedua orang tua peneliti yaitu Ayahanda dan Ibunda tersayang yang senantiasa mendoakan dan mendukung dengan segenap cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya skripsi ini menjadi tanda bakti kecil peneliti. Dan kepada seluruh kakak dan adik yaitu Aufa Silmi, Nurul Aflah, dan Muhammad Nur Akhyar yang selalu memberikan bantuan, dorongan dan semangat kepada peneliti sehingga peneliti mampu menyelesaikan skripsi ini. Dan juga peneliti sampaikan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua saudara yang berada di Banda Aceh Wak Nah, Cek Ti, Cek Jek, Abua Din, Kak Rahmah, Bang Ubai dan lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

2. Ibu Dr. Salami, MA sebagai Dekan Fakultas Psikologi yang memberikan dukungan dan motivasi terhadap mahasiswanya.

3. Bapak Jasmadi, S.Psi, MA, selaku Wakil Dekan I bidang Akademik dan Kelembagaan, yang selalu memberikan bantuan dan dorongan-dorongan positif kapada mahasiswanya.

(6)

iii

5. Bapak Barmawi, S.Ag.,M.Si., sebagai sekretaris Prodi Psikologi UIN Ar- Raniry yang selalu membantu dan memberikan dorongan pada mahasiswanya.

6. Bapak Safrilsyah selaku Pembimbing I yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan fikirannya untuk memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.

7. Ibu Ida Fitria, S.Psi., M.Sc. selaku Pembimbing II yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan fikiran untuk memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.

8. Bapak Tubin dan Bu Fauziah selaku staf Akademik Psikologi UIN Ar- Raniry, yang senantiasa membantu dan memudahkan segala urusan peneliti dalam menyelesaikan skripsi

9. Bapak/Ibu Dosen Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh atas segala kesabaran dan keikhlasannya untuk memberikan ilmu-ilmu kepada peneliti, dan kepada seluruh karyawan Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang selalu membantu peneliti.

10. Sekolah Menengah Kejuruan 1 Langsa, yang telah mengizinkan, membantu, dan melancarkan peneliti selama masa penelitian.

11. Bapak Kepala Sekolah, seluruh Guru, seluruh karyawan sekolah dan seluruh siswa di SMKN 1 Langsa yang telah banyak membantu dan melancarkan peneliti selama masa penelitian.

12. Kepada Cut Putri Nahdia, Rouzhatun Nisa, dan Yunita Amaiza yang telah meluangkan waktu, tenaga dan fikiran untuk mengajari, memotivasi dan membantu peneliti dengan tulus dalam proses penelitian ini.

13. Teman-teman angkatan 2015 Program Studi Psikologi Novi Ariski, Salfina Dewi, Tulus Masrita, Naviatun Nufus, Ulfa Muliana, Cut Sintia Khania, Khairani, Nur Amalia, Fathiana Putri, Mutia, Nur Laila, Sri Utami, Elviani, Nur Asni, Nurul Meina, dan lainnya yang tidak dapat

(7)

iv

14. Seluruh sahabat ciwi-ciwi Asrama Depag Putri yaitu Ina, Linia, Cindy, Irma, Ratri, Fitri, Fifi, Tian, Ulfa, Meina yang selalu memberikan motivasi, dukungan, semangat, dan masukan yang sangat berguna untuk peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

15. Kepada seluruh Squad Paleuh Blang yang telah memberikan semangat dan dorongan kepada peneliti, dan juga kepada Vira Yusniar, Putri Deliana, Riza, dan Yuswatul Ulfa yang selalu memberikan semangat dan dorongan kepada peneliti.

16. Semua Pihak yang telah membantu berjalannya penelitian ini, semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda kepada semuanya.

Peneliti juga menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan baik dari segi susunan kalimat, maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka peneliti menerima segala kritik dan saran yang dapat dijadikan masukan agar dapat memperbaiki kesalahan yang ada dalam skripsi ini. Akhir kata peneliti berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi banyak orang.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Banda Aceh, 31 Oktober 2019 Peneliti,

Zahrul Husna

(8)

v

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

ABSTRAK ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian... 6

E. Keaslian Penelitian ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 11

A. Citra Tubuh ... 11

1. Pengertian Citra Tubuh ... 11

2. Aspek-Aspek Citra Tubuh ... 12

3. Faktor yang Membentuk Citra Tubuh ... 13

B. Komunikasi Interpersonal ... 14

1. Pengertian Komunikasi Interpersonal ... 14

2 Aspek-Aspek Komunikasi Interpersonal ... 16

3. Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Interpersonal ... 18

4. Remaja ... 19

C. Kerangka Konseptual ... 21

D. Hipotesis ... 22

BAB III METODE PENELITIAN ... 23

A. Pendekatan dan Metode Penelitian ... 23

B. Variabel Penelitian ... 23

C. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 23

D. Subjek Penelitian ... 24

E. Teknik Pengumpulan Data ... 26

1. Prosedur Penelitian ... 26

a. Skala Citra Tubuh ... 27

b. Skala Komunikasi Interpersonal ... 28

c. Pelaksanaan Uji Coba (Try Out) Alat Ukur ... 29

d. Proses Pelaksanaan Penelitian... 31

F. Validitas dan Reabilitas Alat Ukur ... 31

1. Validitas ... 31

2. Uji Daya Beda Aitem & Reabilitas ... 33

(9)

vi

2. Analisa Data ... 39

a. Uji Prasyarat ... 39

b. Uji Hipotesis ... 40

BAB IV HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN ... 41

A. Deskripsi Subjek Penelitian ... 41

1. Demografi Sampel Penelitian ... 41

B. Hasil Penelitian ... 42

1. Kategorisasi Data Penelitian ... 42

2. Uji Prasyarat ... 46

3. Uji Hipotesis... 47

C. Pembahasan ... 48

BAB V PENUTUP ... 51

A. Kesimpulan... 51

B. Saran ... 51

DAFTAR PUSTAKA ... 53 DAFTAR RIWAYAT HIDUP

LAMPIRAN

(10)

vii

Tabel 3.2 Jawaban Skala Likert ... 29

Tabel 3.3 Aspek & Indikator Skala Citra Tubuh ... 26

Tabel 3.4 Blue Print Skala Citra Tubuh ... 30

Tabel 3.5 Aspek & Indikator Skala Komunikasi ... 31

Tabel 3.6 Blue Print Skala Komunikasi Interpersonal ... 32

Tabel 3.7 Koefisien CVR Skala Citra Tubuh ... 36

Tabel 3.8 Koefisien CVR Skala Komunikasi Interpersonal ... 37

Tabel 3.9 Koefisien Daya Beda Aitem Skala Citra Tubuh ... 38

Tabel 3.10 Blue Print Awal Skala Citra Tubuh ... 39

Tabel 3.11 Koefisien Daya Beda Aitem Komunikasi Interpersonal ... 40

Tabel 3.12 Blue Print Awal Skala Komunikasi Interpersonal ... 40

Tabel 4.1 Data Demografi Sampel Penelitian ... 46

Tabel 4.2 Deskripsi Data Penelitian Skala Citra Tubuh ... 48

Tabel 4.3 kategorisasi Skor Penyebaran Skala Citra Tubuh ... 49

Tabel 4.4 Deskripsi Data Penelitian Skala Komunikasi Interpersonal ... 50

Tabel 4.5 Kategorisasi Penyebaran Skala Komunikasi Interpersonal ... 51

Tabel 4.6 Uji Normalitas Data Penelitian ... 52

Tabel 4.7 Uji Linearitas Hubungan Data Penelitian ... 53

Tabel 4.8 Uji Hipotesis Data Penelitian ... 54

(11)

viii

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Citra Tubuh ... 24

(12)

ix

Lampiran 1. Skala Citra Tubuh dan Komunikasi Interpersonal pada Remaja di SMKN 1 Langsa

Lampiran 2. Tabulasi Data Uji Coba Skala Citra Tubuh dan Komunikasi Interpersonal pada Remaja di SMKN 1 Langsa

Lampiran 3. Koefisien Korelasi Aitem Total Citra Tubuh dan Komunikasi Interpersonal pada Remaja di SMKN 1 Langsa

Lampiran 4. Tabulasi Data Penelitian Skala Citra Tubuh dan Komunikasi Interpersonal pada Remaja di SMKN 1 Langsa

Lampiran 6. Analisis Penelitian (Uji Normalitas, Uji Linieritas, dan Uji Hipotesis)

Lampiran 7. Tabulasi CVR

Lampiran 8. Administrasi Penelitian

(13)

x ABSTRAK

Masa remaja merupakan masa dimana individu belajar untuk membangun hubungan sosial dengan orang lain. Hubungan sosial yang terjalin dengan baik dilakukan dengan cara komunikasi interpersonal. Biasanya remaja lebih menyukai menjalin hubungan sosial dengan orang yang berpenampilan menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan citra tubuh dengan komunikasi interpersonal pada remaja di SMKN 1 Langsa. Penelitian ini menggunkan metode kuantitatif korelasional dengan teknik sampel yaitu stratified random sampling dengan jumlah sampel 167 orang. Hasil uji korelasi product moment Pearson menunjukkan nilai r = 0,356 dengan nilai P = 0,000.

Berdasarkan hasil tersebut maka dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara citra tubuh dengan komunikasi interpersonal pada remaja di SMKN 1 Langsa. Artinya semakin positif citra tubuh maka akan semakin tinggi tingkat komunikasi interpersonal pada remaja di SMKN 1 Langsa, begitu pula sebaliknya. Semakin negatif citra tubuh seseorang maka semakin rendah tingkat komunikasi interpersonal pada remaja di SMKN 1 Langsa.

Kata kunci : Citra tubuh, Komunikasi Interpersonal, Remaja

(14)

xi ABSTRACK

Adolescence is a period where individuals learn to build social relationships with others. Well-established social relationships are carried out by means of interpersonal communication. Usually adolescents prefer to have social relationships with people who look attractive. This study aims to determine how the relationship between body image and interpersonal communication among adolescents at SMKN 1 Langsa. This study uses correlational quantitative methods with a sample technique, namely stratified random sampling with a sample size of 167 people. The results of the Pearson product moment correlation test showed the value of r = 0.356 with a value of P = 0.000. Based on these results, it can be said that there is a significant positive relationship between body image and interpersonal communication among adolescents at SMKN 1 Langsa.

This means that the more positive body image, the higher the level of interpersonal communication among adolescents at SMKN 1 Langsa, and vice versa. The more negative one's body image is, the lower the level of interpersonal communication among adolescents at SMKN 1 Langsa.

Keywords: Body image, Interpersonal Communication, Adolescents at SMKN 1 Langsa

(15)

1 A. Latar Belakang

Pada umumnya setiap individu saling memerlukan satu sama lain.

Individu tidak dapathidup sendirian karena setiap individu adalah makhluk sosial.

Untuk memenuhi kebutuhan sosial, individu perlu terhubung dengan orang lain dengan cara berinteraksi dengan orang lain, berkumpul dengan orang lain, berkomunikasi dengan orang lain, agar dapat menciptakan hubungan positif yang baik dengan orang lain (Zuhara, E, 2015, hlm. 81).

Sejak dari lahir, individu sudah memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi.

Dimulai dari kebutuhan dasar seperti makan, minum, tempat tinggal, dan kehangatan badan. Semakin lama kebutuhan individu semakin bertambah seperti keamanan, berteman dengan cara berinteraksi dan melakukan komunikasi dengan individu lain untuk memenuhi kebutuhan sosialnya (Sunarto, dkk, 2013, hlm. 4)

Komunikasi yang efektif bisa dilihat dari terjalinnya hubungan interpersonal yang baik. Hal ini dikarenakan dalam melakukan komunikasi, tidak hanya sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonal. Bukan hanya menentukan “content” tetapi juga

“relationship”(Pontoh, P,W, 2015, hlm. 4). Untuk menjaga hubungan tetap

terjalin dengan baik maka berusahalah untuk memperbaiki dan mencegah permasalahan yang terjadi, dengan cara berupa “Openess and routine talk, positivity, assurances, supportiveness, mediated communication, conflict management, humor” (Wijayanti, W, 2013, hlm..128)

(16)

Dalam melakukan komunikasi interpersonal, citra tubuh menjadi salah satu faktor penentu. Pada masa remaja, para remaja lebih memilih untuk berkomunikasi dan berteman dengan individu yang memiliki penampilan fisik yang menarik dibandingkan dengan individu dengan individu yang kurang menarik. Para remaja mempunyai kebutuhan akan adanya penyesuaian diri bagi remaja dalam kelompok teman sebaya. Dalam hubungan ini, remaja sering dihadapkan pada persoalan penerimaan atau penolakan teman sebaya terhadap kehadirannya di pergaulan. (Hidayah, 2007, hlm. 16-18).

Papalia dan Olds (2001), berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Masa remaja merupakan masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12-13 tahun dan berakhir pada akhir belasan tahun atau awal dua puluh tahun (Jahja, 2011).

Permasalahan yang sering terjadi pada remaja yaitu bagaimana remaja tersebut tidak dapat menerima keadaan jasmaniah dan menggunakannya secara efektif serta masalah lain yang ditimbulkan pada masa ini juga bagaimana remaja tidak dapat melakukan interaksi sosial serta bergaul sesuai dengan jenis kelamin masing-masing. Karena ini menjadi tugas perkembangan remaja yang pada umumnya para remaja sudah dapat memenuhi tugas perkembangannya di masa remaja (Sumanto, 2014, hlm. 73).

Banyak fenomena yang sering terjadi mengenai citra tubuh, salah satunya berdasarkan hasil dari observasi penelitian yang dilakukan oleh Muhsin di

(17)

Yogyakarta terhadap seorang remaja lelaki yang berumur 20 tahun, kenyataannya ketika wajah remaja lelaki tersebut di tumbuhi oleh banyak jerawat, remaja tersebut lebih memilih berdiam diri di rumah daripada ikut bermain bersama teman-temannya (Muhsin, 2014, hlm 3). Bukan hanya itu saja, Peneliti juga melakukan wawancara pada salah seorang remaja perempuan di tanggal 25 September 2013 itu seorang remaja perempuan yang berusia (16) mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan bahwa “Seorang wanita (remaja puteri) harus berpenampilan menarik dan sifat yang dimiliki wanita tersebut harus menarik”.

Fenomena citra tubuh yang ada di Aceh, yang dilaporkan oleh Bakrie (2011) dan Nurdin (2012) (dalam Wahyuni, 2015, hlm.7-8) sekarang media massa menjadi salah satu ajang tempat menampilkan kontes-kontes kecantikan yang digelar mulai dari tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Di Aceh sendiri banyak kontes-kontes kecantikan yang akhir-akhir ini muncul dan memamerkan kecantikan dari acara itu sendiri. Kontes-kontes kecantikan di Aceh yaitu seperti Duta Wisata Aceh (agam inong), Duta Baca Aceh, AcehFashion Week, Duta Lingkungan Aceh, dan lain sebagainya.

Melalui kontes-kontes tersebut mengisyaratkan bahwa peserta yang ingin mengikuti kontes-kontes tersebut harus memiliki tinggi badan sekitar 160 cm (perempuan) dan 165 cm (laki-laki), selain itu juga harus memiliki berat badan proporsional, dan memiliki penampilan yang menarik. dari kontes tersebut membangun pandangan bahwa penampilan fisik bukan penilaian utama namun penampilan fisik menjadi faktor penentu yang sangat penting (hlm. 7-8).

(18)

Papalia dan Olds (2001), berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Masa remaja merupakan masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12-13 tahun dan berakhir pada akhir belasan tahun atau awal dua puluh tahun (Jahja, 2011). Permasalahan yang sering terjadi pada remaja yaitu bagaimana remaja tersebut tidak dapat menerima keadaan jasmaniah dan menggunakannya secara efektif serta masalah lain yang ditimbulkan pada masa ini juga bagaimana remaja tidak dapat melakukan interaksi sosial serta bergaul sesuai dengan jenis kelamin masing-masing. Karena ini menjadi tugas perkembangan remaja yang pada umumnya para remaja sudah dapat memenuhi tugas perkembangannya di masa remaja (Sumanto, 2014, hlm. 73).

Berdasarkan wawancara awal yang dilakukan oleh peneliti kepada remaja yang bersekolah di SMKN 1 Langsa. Hasil wawancara awal yang dilakukan pada tanggal 22 desember 2018 pada 6 remaja putri dan 1 remaja putra dapat disimpulkan bahwa dari 7 remaja yang peneliti wawancara hanya 1 orang yang memiliki citra tubuh yang positif selebihnya memiliki pandangan dan persepsi negatif tentang tubuh mereka sendiri.Berikut ini adalah beberapa cuplikan wawancara dengan remaja di SMKN 1 Langsa:

“Saya merasa bahwa saya melihat diri saya di kaca merasa kegemukan atau kekurusan (sambil melihat ke arah tangan, badan, dan kakinya), terkadang saya juga melakukan olahraga agar terlihat kurus sedikit karena waktu saya ngomong sama orang lain saya sering malu kalo fisik saya jelek. Bagi saya tubuh ideal itu tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk” (DN, Wawancara personal, 22 desember 2018).

(19)

“ih, rasanya kok udah gemuk ya (memegang pipinya), malu gemuk, soalnya gadak yang mau bekawan nanti, Saya bakal diejek teman- teman kalo saya gemuk. Saya ingin menjadi lebih baik dari yang sebelumnya dengan melakukan diet dan olahraga, saya juga menjaga dan membatasi makanan. Karena menurut saya orang cantik itu kurus, hidung mancung, putih dan mempunyai etika yang sangat besar” (RA, Wawancara personal, 22 desember 2018).

“Saya merasa bahwa saat melihat diri saya dikaca merasa tubuh saya kurang berisi. Saya ingin menaikkan berat badan dengan melakukan mengonsumsi vitamin untuk menaikkan berat badan.

Saya merasa seperti orang kurang gizi, saya gak malu kalo ngomong ma orang lain kalo kurus kali, diejek tengkorak hidup sama yang lain. Tubuh ideal dimata saya adalah tubuh yang bagus, tidak gemuk, dan tidak terlalu kurus” (MRR, Wawancara personal, 22 desember 2018).

“Saya berfikir kalau tubuh saya bentuknya sudah bagus. Menurut saya, saya orangnya tidak terlalu tampan, hidung mancung, hitam manis, tidak terlalu tinggi, dan pintar. Ukuran tubuh saya tidak terlalu tinggi dan tidak gemuk, ukuran tubuh saya pas dan saya kelihatan gagah dan saya tidak peduli orang lain mengejek saya”(WBS, Wawancara personal, 22 desember 2018).

Berdasarkan wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa remaja di SMKN 1 Langsa banyak yang memiliki citra tubuh yang negatif, dan hal ini berdampak pada saat melakukan komunikasi interpersonal. Berdasarkan lokasi penelitian yang dipilih oleh peneliti, peneliti memilih lokasi yang bertempat di sekolah SMKN 1 Langsa dikarenakan lokasi ini menjadi tempat yang strategis untuk meniliti. Selain itu di sekolah itu juga keberadaannya di lingkungan kota sehingga peneliti beranggapan bahwa kehidupan dikota lebih menuntut seseorang perkembangan zaman yang memiliki tingkat Citra tubuh yang tinggi.

Berdasarkan latar belakang dan hasil wawancara awal dan hasil penelitian yang terlebih dahulu yang telah diuraikan diatas, maka peneliti tertarik

(20)

untuk meneliti tentang “hubungan citra tubuh dengan komunikasi interpersonal pada remaja di smkn 1 langsa”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas yang telah dipaparkan maka permasalahan yang dikupas dalam penelitian ini adalah “apakah terdapat hubungan dari citra tubuh dengan komunikasi interpersonal pada remaja di SMKN 1 Langsa?”

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang dikupas dalam penelitian ini, maka tujuan dari penelitian ini adalah “untuk mengetahui hubungan dari citra tubuh dengan komunikasi interpersonal pada remaja di SMKN 1 Langsa”

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi informasi dan pengetahuan yang berkaitan dengan mata kuliah Psikologi Sosial, Psikologi Pendidikan, dan Psikologi Perkembangan.

2. Manfaat praktis a. Bagi Pembaca

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan memberikan informasi mengenai hubungancitra tubuh dengan komunikasi interpersonal pada remaja di SMKN 1 Langsa

(21)

b. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat membantu peneliti dalam menambah pengalaman dalam melakukan penelitian untuk pertama kalinya. Dan menambah pengetahuan tentang hubungancitra tubuh dengan komunikasi interpersonal pada remaja di SMKN 1 Langsa.

c. Bagi Remaja

Penelitian ini dapat membantu remaja untuk memahami tentang citra tubuh dan mencoba mencintai kondisi fisiknya apa adanya.

d. Bagi Peneliti Selanjutnya

Tulisan ini dapat disajikan sebagai pedoman bagi mahasiswa lainnya untuk dijadikan referensi bagi mereka yang mengkaji tentang wacana yang sama dengan tulisan ini.

E. Keaslian Penelitian

Orisinalitas penelitian diperlukan guna sebagai bukti agar tidak adanya plagiarisme. Keaslian penelitian dibuat berdasarkan pada penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu. Dalam beberapa hal terdapat persamaan dengan penelitian sebelumnya seperti dalam bentuk penelitian dan karakteristiknya. Tetapi juga terdapat perbedaan dalam hal pengambilan sampel, jumlah sampel, variabel penelitian, analisis data dan tempat penelitian.

Adapun penelitian terdahulu yang telah menggunakan variabel Citra tubuh dengan Komunikasi Interpersonal yaitu Lailatul Hidayah (2007) melakukan penelitian tentang Korelasi antara Citra Badan dengan Komunikasi Interpersonal pada Remaja di SMUN 1 Gondangwetan Pasuruan, dimana pada penelitian ini

(22)

subjek yang digunakan adalah remaja kelas II IPA SMUN 1 Gondangwetan, Pasuruan. Populasi penelitian ini adalah remaja sejumlah 128 orang, dari populasi tersebut dijadikan sampel dengan teknik Cluster random sampling.

Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif korelasional dengan menggunakan skala likert hasil yang diperoleh yaitu terdapat hubungan antara citra badan dengan komunikasi interpersonal. Pada penelitian ini memperoleh hasil korelasi yang signifikan antara citra badan dengan komunikasi interpersonal dengan koefisien rhit = 0,332 dan rt = 0,230. Artinya antara citra badan dengan komunikasi interpersonal memiliki korelasi yang signifikan.

Kinanti Indika (2010) juga mengkaji tentang Gambaran Citra Tubuh pada Remaja yang Obesitas di Medan. dalam penelitian ini metode yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif dengan teknik incidental sampling. Populasi yang diambil yaitu seluruh remaja obesitas yang berada di Medan, pada penelitian ini jumlah sampel yang digunakan berjumlah 100 orang remaja yang obesitas di Medan. Pada penelitian ini memperoleh hasil bahwa citra tubuh pada remaja yang obesitas yang berada dalam kategori negatif sebanyak 28 orang (28%), kategori netral sebanyak 39 orang (39%), dan kategori positif sebanyak 33 orang (33%).

Pada dimensi evaluasi penampilan yang berada dalam kategori negatif sebanyak 8 orang (8%), yang berada dalam kategori netal sebanyak 85 orang (85%), yang berada dalam kategori positif sebanyak 7 orang (7%).

Dimensi orientasi penampilan dalam kategori negatif sebanyak 2 orang (2%), dalam kategori netral sebanyak 94 orang (94%), dan dalam kategori positif

(23)

sebanyak 4 orang (4%). Dimensi kepuasan terhadap bagian tubuh tidak ada subjek yang memiliki citra tubuh negatif dalam kategori netral sebanyak 94 orang (94%) dan dalam kategori positif sebanyak 6 orang (6%). Dimensi kecemasan menjadi gemuk dalam kategori negatif sebanyak 6 orang (6%), dalam kategori netral sebanyak 94 orang (94%) dan dalam kategori positif tidak terdapat subjek yang berada dalam kategori ini. Dimensi pengkategorisasian ukuran tubuh dalam kategori negatif terdapat sebanyak 4 orang (4%), dalam kategori netral sebanyak 92 orang (92%), dan dalam kategori positif sebanyak 4 orang (4%).

Kemudian Rahmi Rizky & Risana Rachmatan (2016) melakukan penelitian tentang Hubungan antara Citra Tubuh dengan Perilaku Konsumtif pada Remaja di Kota Banda Aceh. Dalam penelitian ini metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif korelasional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu kouta sampling sebanyak 300 remaja yang diambil sesuai dengan ciri-ciri tertentu sehingga mencapai jumlah yang dibutuhkan. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan yang positif antara citra tubuh dengan perilaku konsumtif pada remaja di Kota Banda Aceh.

Dewi Lianasari & Edy Purwanto (2016) juga meneliti tentang Model Bimbingan Kelompok dengan Teknik Brainstorming untuk Meningkatkan Komunikasi Interpersonal Siswa. Dalam penelitian ini metode yang digunakan yaitu kuantitatif eksperimen dengan desain research and development (R and D), dengan langkah-langkah: persiapan pengembangan model, merumuskan model hipotetik, uji kelayakan model hipotetik, perbaikan model hipotetik, uji lapangan, hasil akhir produk.

(24)

Populasi yang diambil yang diambil yaitu siswa SMA N 5 Kota Magelang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model bimbingan kelompok dengan teknik brainstorming dapat meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal siswa secara signifikan (t(244) = 5.285, p < . 01).

Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Villi Januar & Dona Eka Putri (2007) meneliti tentang tentang Citra tubuh pada Remaja Putri yang Menikah dan Memiliki Anak, dalam penelitian ini metode dan teknik penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan bentuk studi kasus. Dengan teknik pengumpulan data wawancara dan observasi. Karakteristik subjek dalam penelitian ini adalah remaja putri berusia 13-20 tahun dan telah menikah dan memiliki seorang anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran citra tubuh yang positif pada subjek berdasarkan tiga (3) komponen yang dimiliki subjek.

Secara umum subjek mempersepsikan tubuhnya dengan tepat, memiliki sikap puas dan tidak memiliki kecemasan pada tubuhnya, serta tidak menghindari aktivitas yang menunjukkan bentuk tubuhnya. Faktor pembentukan citra tubuh pada subjek adalah siklus hidup, konsep diri, sosialiasi, peran gender, dan distorsi citra tubuh

(25)

11 A. Citra Tubuh

1. Pengertian

Menurut Cash & Purzinsky (2002, hlm. 117) citra tubuh adalah suatu proses mental tentang tubuh yang meliputi persepsi, perasaan dan pemikiran tentang tubuh. informasi baru yang didapatkan secara terus-menerus dapat menghasilkan citra tubuh baru.

Menurut Moe (1999) Citra tubuh merupakan suatu gambaran yang dibentuk dalam pikiran individu tentang penampilan tubuh individu tersebut. Citra tubuh juga mencakup bagaimana individu meyakini mengenai apa yang orang lain pikirkan tentang tubuh individu tersebut. Meskipun orang mengatakan bahwa

“cermin tidak berbohong” tetapi gambaran mental tentang tubuh seringkali berbeda dari penampilan tubuh yang sebenarnya (hlm. 1-2).

Pada umumnya, citra tubuh lebih dari sekedar gambaran mental yang individu bangun tentang seperti apa tubuh individu. Bagi kebanyakan orang, citra tubuh juga mencerminkan perasaan individu tentang diri individu tersebut serta kehidupan individu tersebut. Individu dengan citra tubuh negatif percaya bahwa individu tersebut terlihat tidak benar seperti kepribadian, kecerdasan, keterampilan sosial, atau kemampuannya. Individu dengan citra tubuh negatif memiliki perspektif bahwa jika individu tersebut memperbaiki tubuhnya, maka semua masalah yang lain akan hilang (Willet, 2007, hlm. 4)

(26)

Andri Priyatna (2009, hlm. 54) mengemukakan bahwa citra tubuh itu muncul dari opini, perasaan, dugaan individu tentang penampilan fisiknya sendiri. Berdasarkan penjelasan dari beberapa tokoh diatas dapat disimpulkan bahwa definisi citra tubuh yang digunakan dalam penelitian ini yaitu citra tubuh yang merujuk pada teori Cash & Purzinsky (2002, hlm. 117) citra tubuh adalah suatu proses mental tentang tubuh yang meliputi persepsi, perasaan dan pemikiran tentang tubuh.informasi baru yang didapatkan secara terus-menerus dapat menghasilkan citra tubuh baru.

2. Aspek-aspek Citra Tubuh

Menurut Cash & Pruzinsky (2002) citra tubuh memiliki empat komponen dalam pengukuran citra tubuh yaitu:

a. Global Subjective Satisfaction (Kepuasan subjektif global)

Yaitu kepuasan keseluruhan dan kepuasan dengan penampilan individu.

Dalam hal ini, ukuran dari kepuasan subjektif global dapat diperoleh dengan berbagai cara. Untuk mencerminkan kepuasan, dapat didefinisikan dalam bagian- bagian seperti kepuasan berat, kepuasan bentuk, dan kepuasan fitur.

b. Affective Distress Regarding Appearance (Afektif mengenai penampilan) Yaitu suatu emosi atau perasaan yang muncul pada individu tentang penampilannya. Hal-hal yang berkaitan dengan perasaan mengenai penampilan termasuk tekanan tentang penampilan, kecemasan, serta disforia.

(27)

c. Cognitive Aspect Of Body Image (Aspek kognitif citra tubuh)

Yaitu suatu aspek yang mengacu pada investasi dalam penampilan individu, aspek ini dimunculkan melalui pemikiran atau kepercayaan yang salah tentang tubuh individu dan skema citra tubuh.

d. Behavioral Aspect Of Body Image (Aspek perilaku citra tubuh)

Yaitu perilaku yang muncul pada individu mengenai penampilannya, perilaku yang ditampilkan berbagai macam. penilaian umum dari perspektif sikap mencakup metode penilaian seperti menghindari penimbangan atau aktivitas sosial, atau mengenakan jenis pakaian tertentu.

3. Faktor-faktor yang Membentuk Citra Tubuh

Menurut Cash & Purzinsky (2002) beberapa faktor yang mempengaruhi citra tubuh, yaitu:

a. Media Massa

Media merupakan masalah yang sangat kompleks yang memberi pengaruh pada citra tubuh individu. Isi tayangan media sangat mempengaruhi bagaimana individu berfikir tentang suatu hal terutama tentang standar kecantikan. Media sering kali memaparkan model yang memiliki tubuh ideal (bertubuh kurus ataupun berotot). Hal ini membuat individu merasa insecure dan ingin menurunkan berat badan. Media dan model fashion menjadi pemicu sebagai sumber tekanan yang paling kuat disertai dengan frustasi, kemarahan, dan luka yang luar biasa untuk memiliki tubuh yang kurus. Efek negatif yang ditimbulkan dari citra tubuh sendiri yaitu gangguan makan seperti bulimia nervosa, anoreksia nervosa, dan lain sebagainya.

(28)

b. Keluarga

Keluarga menjadi hal pertama yang dapat mempengaruhi perkembangan citra tubuh individu. Keluarga memiliki peran dalam memilih dan mengomentari pakaian serta penampilan individu. Kemudian mengharuskan individu untuk melihat cara-cara tertentu atau menghindari makanan tertentu. pada umumnya keluarga senang dengan penampilan individu tersebut tetapi tetap saja mengomentari berat badan individu tersebut. Komentar langsung yang didapatkan individu dapat menimbulkan masalah pada bagaimana cara pandang individu tersebut tentang dirinya sendiri terutama tubuhnya sendiri.

c. Hubungan Interpersonal

Dalam hubungan interpersonal yang terjalin. Pengaruh teman sebaya dilingkungan sosial dapat memberikan kontribusi pada pembentukan citra tubuh individu. Komentar yang dilontarkan tentang masalah berat badan dapat mempengaruhi cara pandang, pemikiran dan perasaan individu tersebut.

B. Komunikasi Interpersonal 1. Pengertian

Menurut Joseph A. Devito (dalam Suranto, 2011, hlm. 4) komunikasi interpersonal merupakan caraindividu menyampaikan pesan kepada individu lain atau sekelompok kecil orang dengan memberikan umpan balik. Trenholm dan Jensen (dalam Suranto, 2011, hlm. 3) juga menjelaskan bahwa Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang berlangsung antara dua individu yang berlangsung secara tatap muka (komunikasi diadik). Diadik memiliki sifat spontan dan informal, saling menerima feedback secara maksimal, dan individu

(29)

yang terlibat komunikasi berperan secara fleksibel. Deddy Mulyana (dalam Suranto, 2011, hlm. 3) mengemukakan bahwa komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi yang terjadi dengan individu lain secara tatap muka, dimana individu yang melakukan komunikasi dapat menangkap reaksi individu lain baik secara verbal maupun non verbal secara langsung.

Agus M. Hardjana (Suranto, 2011, hlm. 3) berpendapat bahwa komunikasi interpersonal adalah suatu interaksi langsung yang terjadi antar dua individu atau beberapa individu, dimana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung dan penerima pesan dapat menerima dan menanggapi secara langsung pula.

Arni Muhammad (Suranto, 2011, hlm. 4) mengemukakan bahwa komunikasi interpersonal merupakan suatu proses dimana dua individu atau beberapa individu melakukan pertukaran informasi dengan mendapatkan feedback secara langsung.

Berdasarkan penjelasan dari beberapa tokoh diatas dapat disimpulkan bahwa definisi komunikasi interpersonal yang digunakan dalam penelitian ini yaitu komunikasi interpersonal yang merujuk pada teori Joseph A. Devito (dalam Suranto, 2011, hlm. 4) komunikasi interpersonal merupakan caraindividu menyampaikan pesan kepada individu lain atau sekelompok kecil orang dengan memberikan umpan balik.

(30)

2. Aspek-aspek Komunikasi Interpersonal

Menurut Devito (dalam Suranto, 2011, hlm. 82) mengemukakan bahwa terdapat beberapa aspek-aspek dalam melakukan komunikasi interpersonal yaitu sebagai berikut:

a. Keterbukaan (Openess)

Yaitu kemauan dalam menerima informasi dan masukan dari individu lain, serta berkenan memberikan informasi penting kepada individu lain. Sikap keterbukaan ditandai dengan adanya kejujuran saat merespon segala stimuli komunikasi, dan tidak menyembunyikan informasi yang sebenarnya. Keterbukaan menjadi salah satu sikap yang positif dalam proses komunikasi interpersonal. Hal ini dikarenakan, saat proses terjadinya komunikasi antar individu maka proses komunikasi akan berlangsung secara dua arah dan dapat diterima oleh semua pihak yang berkomunikasi.

b. Empati (Empathy)

Yaitu suatu kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain, dapat memahami sesuatu yang sedang terjadi pada individu lain, serta memahami sesuatu permasalahan dari sudut pandang orang lain, melalui kacamata orang lain.

Dengan empati individu tidak akan mudah menyalahkan orang lain. Namun individu dibiasakan untuk memahami sesuatu permasalahan tidak hanya dari sudut pandang sendiri. Rasa empati juga dapat membantu dalam meningkatkan kemampuan untuk dapat menyampaikan pesan dengan cara dan sikap yang akan memudahkan individu yang berkomunikasi dalam menerimanya.

(31)

c. Dukungan (Supportiveness)

Yaitu suatu situasi dengan memberikan persetujuan atau dukungan yang terbuka dalam komunikasi yang berlangsung. Dukungan merupakan pemberian sokongan atau dorongan moril maupun materil dalam hal untuk mewujudkan suatu rencana. Karena itu, dengan adanya dukungan, komunikasi interpersonal akan bertahan lama karena tercipta suasana yang mendukung.

d. Bersifat Positif (Positiveness)

Sifat positif yaitu suatu sifat yang dimunculkan dalam bentuk sikap dan perilaku. Dalam komunikasi interpersonal, pihak-pihak yang terlibat komunikasi harus memiliki perasaan dan pikiran positif, bukan prasangka dan curiga. Sifat positif adalah adanya kecenderungan bertindak pada diri komunikator untuk memberikan penilaian yang positif pada diri komunikan.

e. Kesamaan atau kesetaraan (Equality)

Kesamaan atau kesetaraan yaitu penerimaan yang ada pada kedua belah pihak bahwa kedua belah pihak memiliki kepentingan, kedua belah pihak memiliki rasa bernilai dan berharga, serta saling memerlukan. Kesetaraan berupa bentuk pengakuan atau kesadaran, serta kerelaan dalam menempatkan diri individu secara setara (tidak ada yang superior maupun inferior) dengan partner komunikasi.

(32)

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Interpersonal

Menurut Jalaluddin Rakhmat (2008, hlm. 80-119) Ada beberapa faktor yang sangat menentukan keberhasilan komunikasi interpersonal:

a. Persepsi Interpersonal

Persepsi interpersonal yaitu suatu proses dimana individu mempersepsikan suatu objek ataupun peristiwa sosial. Perbedaan antara persepsi objek dengan persepsi interpersonal yang pertama adalah dilihat dari stimulusnya, stimulus yang terjadi pada persepsi objek di sebabkan oleh alat indera melalui benda, cahaya, temperatur, gelombang, dan lain-lain. Sedangkan persepsi interpersonal stimulus yang didapat melalui lambang verbal atau grafis yang disampaikan oleh pihak ketiga.

b. Konsep Diri

Konsep diri yaitu suatu perasaan dan pandangan individu tentang dirinya sendiri. dalam konsep diri terdapat dua komponen yaitu komponen kognitif dan komponen afektif. Dalam psikologi sosial, komponen kognitif disebut citra diri (self image) dan komponen afektif disebut juga harga diri (self esteem).

c. Atraksi Interpersonal

Atraksi dapat dimaknai dengan kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik individu. Komunikasi antar pribadi bisa dipengaruhi oleh atraksi interpersonal, karena penafsiran pesan dan penilaian. Penilaian dan pendapat individu tentang individu lain tidak semata-mata berdasarkan hasil pertimbangan yang rasional. Dalam diri individu terdapat emosi karena setiap individu adalah makhluk emosional. Karena itu, ketika kita menyenangi individu lain, individu

(33)

tersebut cenderung melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan individu lain tersebut secara positif, sebaliknya jika individu tersebut membencinya, individu tersebut cenderung melihat karakteristiknya secara negatif.

d. Hubungan Interpersonal

Komunikasi yang terjalin dapat dikatakan efektif jika ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Beberapa individu mengalami kegagalan dalam berkomunikasi, hal ini terjadi karena saat melakukan komunikasi isi pesan yang disampaikan komunikator sampai pada komunikan namun hubungan interpersonal antara komunikator dan komunikan menjadi rusak. Ternyata komunikasi interpersonal sangat berpengaruh pada hubungan interpersonal, hal ini dikarenakan setiap kali individu melakukan komunikasi, bukan hanya sekedar menyampaikan isi pesan tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonal.

Bukan hanya menentukan “content” tetapi juga “relationship”.

4. Remaja

Papalia dan Olds (2001), berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Masa remaja merupakan masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12-13 tahun dan berakhir pada akhir belasan tahun atau awal dua puluh tahun (Jahja, 2011). Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa.

Menurut Hall (dalam Sunarto, 2013) memandang pada masa remaja ini sebagai masa “Storm and stress” yang menyatakan bahwa selama remaja banyak masalah yang dihadapi karena remaja itu berupaya menemukan jati dirinya

(34)

(idetintasnya). Usaha penemuan jati diri remaja dilakukan dengan berbagai pendekatan, agar ia dapat mengaktualisasikan diri secara baik.

Remaja harus melewati beberapa tugas perkembangan, salah satu tugas perkembangan remaja yang harus dilakukan yaitu “menerima keadaan jasmaniah dan menggunakannya secara efektif”. Remaja yang dapat memenuhi tugas perkembangannya akan bahagia dan menjadi dasar bagi keberhasilan tugas-tugas selanjutnya. Sebaliknya, remaja yang gagal dalam memenuhi tugas perkembangannya akan sulit bahagia dan memenuhi tugas perkembangan pada masa selanjutnya, berikut ini tugas perkembangan remaja menurut Havighurst (Dalam Sumanto, 2014), yaitu:

1. Menerima keadaan jasmaniah dan menggunakannya secara efektif.

2. Menerima peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin masing-masing.

3. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial.

4. Mencapai kemandirian emosional dari orang tuadan orang dewasa lainnya.

5. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara.

6. Belajar bergaul dengan kelompok sesuai dengan jenis kelamin masing- masing.

7. Secara sadar mengembangkan gambaran dunia yang lebih memadai 8. Memilih dan mempersiapkan karier.

9. Belajar menggunakan jaminan ekonomi secara mandiri.

10. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.

(35)

11. Mengembangkan sistem nilai dan etika sebagai petunjuk dalam berperilaku

C. Hubungan Citra Tubuh dengan Komunikasi Interpersonal

Citra tubuh adalah persepsi individu pada tubuh yang dimiliki. citra tubuh merupakan salah satu konsep diri yang dibentuk individu sehingga mempengaruhi perilakunya. Individu yang memiliki konsep diri yang negatif, maka perilaku yang muncul juga akan negatif, hal ini disebabkan karena di saat individu merasa tubuhnya memiliki banyak kekurangan atau merasa berbeda dari teman-temannya, individu tersebut akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Sedangkan individu yang merasa puas dengan tubuhnya akan lebih mudah melakukan komunikasi dengan orang lain (Hidayah, 2007). Biasanya setiap orang menginginkan penampilan fisik yang menarik terutama remaja putri maupun remaja putra. Tapi kebanyakan remaja sulit untuk menerima kondisi fisiknya yang kurang ideal. terkadang remaja tersebut merasa minder dengan pertumbuhan fisik yang tidak sesuai dengan keinginan remaja tersebut dan bahkan mengasingkan diri dari lingkungan sosialnya. (Indika, 2010).

Remaja harus melewati beberapa tugas perkembangan, salah satu tugas perkembangan remaja yang harus dilakukan yaitu “menerima keadaan jasmaniah dan menggunakannya secara efektif”. Remaja yang dapat memenuhi tugas perkembangannya akan bahagia dan menjadi dasar bagi keberhasilan tugas-tugas selanjutnya. Sebaliknya, remaja yang gagal dalam memenuhi tugas perkembangannya akan sulit bahagia dan memenuhi tugas perkembangan pada masa selanjutnya (Sumanto, 2014). Meriyanto, dkk (Dalam Centi, 1993)

(36)

Citra Tubuh

berpendapat bahwa fisik menjadi salah satu hal yang sangat di perhatikan oleh remaja. bagi remaja, fisik menjadi penentu dalam suksesnya pergaulan. Sehingga banyak remaja sangat sensitif terhadap keadaan tubuhnya. Jika keadaan tubuh yang dimiliki para remaja tidak sesuai dengan pandangan masyarakat tentang gambaran idealyang dibangun di masyarakat maka remaja tersebut merasa gagal menjadi model yang diinginkan masyarakat (Meriyanto, dkk, 2017).

Untuk lebih jelas, hubungan antara Citra Tubuh dengan Komunikasi Interpersonal dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut.

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

D. Hipotesis

Dari uraian dalam konsep teoritis di atas, maka peneliti mengemukakan hipotesis dalam penelitian ini yang berbunyi terdapat hubungan positif pada citra tubuh dengan komunikasi interpersonal pada remaja di SMKN 1 Langsa, yang menunjukkan bahwa semakin positif citra tubuh maka semakin efektif komunikasi interpersonal.

Komunikasi Interpersonal

Y

(37)

23 A. Pendekatan Dan Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Menurut Arikunto (2010, hlm. 4) Penelitian korelasional yaitu penelitian dengan tujuan untuk mengetahui tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Korelasi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan korelasi dengan bentuk bivariat Menurut Arikunto (2010, hlm. 314) Bivariat yaitu hubungan yang melibatkan satu variabel bebas dengan satu variabel terikat.

B. Variabel Penelitian

Terdapat dua variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel citra tubuh dan variabel komunikasi interpersonal. Adapun penjabaran variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel bebas (X) : Citra Tubuh

2. Variabel terikat (Y) : Komunikasi Interpersonal C. Definisi Operasional

1. Citra Tubuh

Menurut Cash & Purzinsky (2002, hlm. 117) citra tubuh adalah suatu proses mental tentang tubuh yang meliputi persepsi, perasaan dan pemikiran tentang tubuh. informasi baru yang didapatkan secara terus-menerus dapat menghasilkan citra tubuh baru. Aspek yang ingin diukur melalui skor-skor yang dihasilkan berdasarkan dari aspekglobal subjective satisfaction (kepuasan

(38)

subjektif global), affective distress regarding appearance (afektif mengenai penampilan), cognitive aspect of body image (aspek kognitif citra tubuh), behavioral aspect of body image (aspek perilaku citra tubuh) yang dibuat oleh peneliti.

2. Komunikasi Interpersonal

Menurut Joseph A. Devito (dalam Suranto, 2011) komunikasi interpersonal merupakan penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera Aspek yang ingin diukur melalui skor-skor yang dihasilkan berdasarkan dari aspek keterbukaan (openess), empaty (empathy), dukungan (supportiveness), bersifat positif (positiveness), kesamaan/ kesetaraan (equality)yang dibuat oleh peneliti sendiri.

D. Subjek Penelitian

Populasi adalah seluruh individu yang dimaksudkan untuk diteliti, dan nantinya akan dikenai generalisasi. Generalisasi adalah suatu cara pengambilan kesimpulan terhadap kelompok indvidu yang lebih luas (Winarsunu, 2002, hlm 12). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja di SMKN 1 Langsa.

Jumlah keseluruhan remaja di SMKN 1 Langsa adalah sebanyak 678 orang.

Sampel adalah sebagian kecil individu yang dijadikan wakil dalam penelitian. Sampel yang baik (Yang biasanya disebut sampel yang mewakili atau refresentatif) adalah sampel yang anggota-anggotanya mencerminkan sifat dan ciri-cirinya yang terdapat pada populasi (Winarsunu, 2002, hlm 12). Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik probability sampling yaitu

(39)

stratified random sampling. merupakan teknik pengambilan sampel berdasarkan strata yang ada (Azwar, 2015). Apabila populasi memiliki tingkatan-tingkatan atau strata maka pengambilan sampel harus menggunakan sampel berstrata.

Digunakannya sampel berstrata dikarenakan bahwa ada perbedaan ciri, atau karakteristik-karakteristik antara strata yang ada, hal ini dilihat berdasarkan bahwa setiap strata harus dapat mewakili sebagai sampel (Arikunto, 2010, hlm. 181).

Dalam penelitian ini, penentuan jumlah sampel ditentukan dengan rumus Issac & Michael dengan tingkat kesalahan 0,05 (5%) yaitu sebanyak 227 sampel yang diambil. Keseluruhan sampel dalam penelitian ini berjumlah 227 remaja di SMKN 1. Dalam menentukan pengambilan sampel pada tiap kelas dilakukan dengan cara dibawah ini:

Sampel 1 =

x jumlah tiap kelas Keterangan :

Sampel1: utuk mencari jumlah sampel setiap kelas Populasi setiap kelas : jumlah siswa keseluruhan Total populsi : jumlah keseluruhan populasi

Total sampel : jumlah total sampel dalam penelitian

Tabel 3.1 Perhitungan Jumlah Sampel

No. Kelas Jumlah Siswa Jumlah sampel

1 X 218 54

XI 227 56

3 XII 233 57

Jumlah keseluruhan

678 167

(40)

E. Teknik Pengumpulan Data 1. Prosedur Penelitian

Dalam penelitian ini, tahap pertama yang dilakukan peneliti yaitu membuat alat ukur untuk mengumpulkan data penelitian. Alat ukur yang digunakan yaitu dua skala psikologi yaitu skala citra tubuh berdasarkan aspek- aspek menurut Cash & Purzinsky (2002) dan skala komunikasi interpersonal yang dikembangkan oleh Devito (dalam Suranto, 2011).

Pernyataan yang dibuat muncul dari indikator yang telah ditentukan.

Aspek yang diukur dari variabel yang diukur menjadi indikator dan dari indikator tersebut maka diturunkan untuk membuat item instrumen berupa pertanyaan dalam bentuk favorable dan unfavorable.

Pertanyaan favorable menurut Azwar (2016) yaitu pertanyaan yang mendukung atau memihak pada objek variabel yang diteliti, sedangkan pertanyaan unfavorable merupakan pertanyaan yang tidak mendukung atau memihak terhadap objek vaiabel yang diteliti (hal. 41-42).

Adapun nilai-nilai tersebut dapat dilihat pada tabel 3.2 sebagai berikut:

Tabel 3.2

Jawaban dengan Skala Likert

Pernyataan Favorable Unfavorable

Sangat Setuju (SS) 4 1

Setuju (S) 3 2

Tidak Setuju (TS) 2 3

Sangat Tidak Setuju (STS) 1 4

(41)

a. Aspek dan Indikator Citra Tubuh

Skala citra tubuh yang digunakan peneliti mengacu pada teori Cash &

Purzinsky (2002) yang terdiri dari 4 aspek yaitu global subjective satisfaction (kepuasan subjektif global), affective distress regarding appearance (afektif mengenai penampilan), cognitive aspect of body image (aspek kognitif citra tubuh), behavioral aspect of body image (aspek perilaku citra tubuh).

Adapun jumlah keseluruhan pengukuran skala citra tubuh terdiri dari 40 aitem pernyataan yang dibagi ke dalam 20 aitem favorable dan 20 aitem unfavorable. Berikut ini aspek dan indikator tergambar dalam tabel 3.3:

Tabel 3.3

Aspek dan indikator awal skala citra tubuh

No Aspek Indikator

1. Global Subjective Satisfaction (Kepuasan subjektif global)

- Kepuasan berat badan - Kepuasan bentuk badan - Kepuasan fitur

2. Affective Distress Regarding Appearance (Afektif mengenai penampilan)

- Kecemasan - Disforia 3. Cognitive Aspect Of Body Image

(Aspek kognitif citra tubuh)

- Pemikiran yang salah tentang tubuh

- Kepercayaan yang salah tentang tubuh

4. Behavioral Aspect Of Body Image (Aspek perilaku citra tubuh)

- Menghindari aktivitas sosial - Menimbang berat badan - Mengenakan jenis pakaian

tertentu

(42)

Berdasarkan aspek diatas menghasilkan blue print sebagai berikut:

Tabel 3.4

Blue print awal skala citra tubuh

No Aspek Indikator Item Jumlah

Aitem Favorable Unfavorable

1. Global Subjective Satisfaction (Kepuasan subjektif global)

1. Kepuasan berat badan

23, 24 35, 36 4

2. Kepuasan bentuk badan

1,2 11, 12 4

3. Kepuasan fitur 15, 16 25, 26 4 2. Affective

Distress Regarding Appearance (Afektif mengenai penampilan)

1. Kecemasan 27, 28 3,4 4

2. Disforia 13, 14 39,40 4

3. Cognitive Aspect Of Body Image (Aspek kognitif citra tubuh)

1. Pemikiran yang salah tentang tubuh

31,32 17,18 4

2. Kepercayaan yang salah tentang tubuh

7, 8 33, 34 4

4. Behavioral Aspect Of Body Image (Aspek perilaku citra tubuh)

1. Menghindari aktivitas sosial

19,20 9,10 4

2. Menimbang berat badan

37,38 21,22 4

3. Mengenakan jenis pakaian tertentu

5,6 29,30 4

b. Aspek dan indikator komunikasi interpersonal

Pada penelitian ini skala komunikasi interpersonal mengacu pada teori Devito (dalam Hidayah, 2012) yang terdiri dari 5 aspek yaitu keterbukaan (openess), empati (empathy), dukungan (supportiveness), bersifat positif (positiveness), kesamaan atau kesetaraan (equality). Adapun jumlah keseluruhan pengukuran skala komunikasi interpersonal terdiri dari 42 aitem pernyataan yang

(43)

dibagi ke dalam 21 aitem favorable dan 21 aitem unfavorable.Adapun aspek dan indikator tergambar pada tabel 3.5:

Tabel 3.5

Aspek dan indikator awal komunikasi interpersonal

No Aspek Indikator

1. Keterbukaan (Openess) - Kemauan dalam menerima informasi

- Kemauan dalam memberikan informasi

2. Empati (Empathy) - Merasakan apa yang dirasakan

orang lain

- Memahami suatu

permasalahan dari sudut pandang orang lain

3. Dukungan (Supportiveness) - Pemberian dorongan secara moril

- Pemberian dorongan secara materil

4. Bersifat Positif (Positiveness) - Memiliki perasaan positif - Memiliki pikiran positif 5. Kesamaan atau kesetaraan

(Equality)

- Rasa bernilai karena saling memerlukan

- Kesadaran dalam orang lain secara setara

- Pihak yang memiliki kepentingan

c. Pelaksanaan Uji Coba (Try Out) Alat Ukur

Seusai peneliti melakukan penyusunan skala tentang aspek-aspek yang diukur dengan berdasarkan teori citra tubuh dan komunikasi interpersonal, maka tahap selanjutnya yaitu melakukan expert judgement adalah melakukan uji coba (try out) alat ukur. Dalam penelitian ini, try out dilakukan pada tanggal 9 Juli 2020 dengan menyebarkan skala penelitian secara online kepada 50 subjek dari sekolah yang berbeda. Adapun alasannya menggunakan skala penelitian secara online adalah keterbatasan waktu dan adanya wabah corona.

(44)

Berdasarkan aspek dan indikator awal komunikasi interpersonal maka menghasilkan blue print sebagai berikut:

Tabel 3.6

Blue print skala awal komunikasi interpersonal

No Aspek Indikator Item Jumlah

Aitem Favorable Unfavorable

1. Keterbukaan (Openess)

- Kemauan dalam menerima informasi

9, 10 5,6 4

- Kemauan dalam memberikan

informasi

1,2 13,14 4

2. Empati (Empathy)

- Merasakan apa yang dirasakan orang lain

7,8 19,20 4

- Memahami suatu permasalahan dari sudut pandang orang lain

15,16 27,28 4

3. Dukungan (Supportivene ss)

- Pemberian dorongan secara moril

11,12 3,4 4

- Pemberian dorongan secara materil

21,22 25,26 4

4. Bersifat Positif (Positiveness)

- Memiliki perasaan positif

29,30 17,18 4

- Memiliki pikiran positif

33,34 37,38 4

5. Kesamaan atau kesetaraan (Equality)

- Rasa bernilai karena saling memerlukan

41,42 35,36 4

- Kesadaran dalam orang lain secara setara

39,40 31,32 4

- Pihak yang memiliki kepentingan

23 24 2

Uji coba dalam penelitian ini, siswa diberikan 82 butir pernyataan yang terdiri dari 40 butir skala citra tubuh dan 42 skala komunikasi interpersonal.

Setelah itu peneliti melakukan tabulasi data dan melakukan uji instrumen untuk melihat aitem-aitem yang layak dipakai agar kuesioner layak dipakai saat penelitian.

(45)

d. Proses Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dilakukan di SMKN 1 Langsa pada tanggal 5 Agustus 2020 dengan menyebarkan skala psikologi online pada 167 remaja yang bersekolah di SMKN 1 Langsa. Proses pengumpulan data penelitian berlangsung selama kurang lebih dua minggu mulai dari tgl 5-16 agustus 2020. Penelitian ini dilakukan pada remaja yang berada dikelas X, XI, XII siswa diberikan 67 butir pernyataan dari dua buah skala, masing-masing skala terdiri dari 30 butir skala citra tubuh dan 37 butir skala komunikasi interpersonal.

F. Validitas, Daya Beda Aitem dan Reliabilitas Alat ukur 1. Validitas

Definisi validitas menurut Azwar (2016) yaitu sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsinya. Suatu alat dapat dikatakan valid jika memberikan hasil ukur yang tepat dan akurat sesuai dengan maksud yang digunakan alat tersebut (hlm. 131). Dalam penelitian ini, pengujian validitas yang digunakan peneliti yaitu validitas isi (content validity). Validitas isi menurut Azwar (2016) merupakan validitas yang diestimasi dan dikuantifikasi lewat pengujian terhadap skala melalui expert judgement (para ahli) dengan tujuan untuk melihat apakah masing-masing item mencermin ciri perilaku yang ingin diukur.

Jika sebagian besar expert judgement (para ahli) sepakat bahwa suatu item adalah relevan, maka item tersebut dinyatakan sebagai item yang layak mendukung validitas isi skala (hlm. 132). Menurut Azwar (1996) Validitas isi dirumuskan sebagai Content Validity Ratio (CVR) yang dipakai untuk mengukur

(46)

validitas isi item-item berdasakan data empirik yang didapatkan dari hasil penilaian para ahli yang disebut Subject MatterExperts (SME) menilai apakah suatu item esensial dan relevan ataupun tidak relevan dengan tujuan pengukuran skala (hlm, 135). Adapun Content Validity Ratio (CVR) dirumuskan sebagai berikut:

Rumus:

CVR = - 1

Keterangan:

ne = banyaknya SME yang menilai suatu item esensial n = banyaknya SME yang melakukan penilaian

Adapun hasil expert judgement tersebut dapat dilihat pada tabel 3.7 dan 3.8 Tabel 3.7

Koefisien CVR skala citra tubuh

No Koefisien CVR No Koefisien CVR No Koefisien CVR

1. 1 16. 0,3 31. 0,3

2. 1 17. 0,3 32. 1

3. 0,3 18. 0,3 33. 1

4. 0,3 19. 1 34. 1

5. 1 20. 1 35. 1

6. 0,3 21. 0,3 36. 1

7. 0,3 22. 0,3 37. 1

8. 1 23. 0,3 38. 1

9. 0,3 24. 1 39. 0,3

10. 1 25. 1 40. 1

11. 1 26. 1 41. 0,3

12. 1 27. 1 42. 1

13. 1 28. 1 43. 1

14. 1 29. 1 44. 1

15. 0,3 30. 0,3

(47)

Tabel 3.8

Koefisien CVR skala komunikasi interpersonal

No Koefisien CVR No Koefisien CVR No Koefisien CVR

1. 1 18. 0,3 35. 0,3

2. 1 19. 0,3 36. 0,3

3. 1 20. 1 37. 1

4. 1 21. 0,3 38. 0,3

5. 0,3 22. 0,3 39. 1

6. 1 23. 1 40. 0,3

7. 0,3 24. 1 41. 0,3

8. 0,3 25. 0,3 42. 1

9. 0,3 26. 1 43. 0,3

10. 1 27. 1 44. 1

11. 0,3 28. 1 45. 1

12. 0,3 29. 1 46. 1

13. 1 30. 1 47 1

14. 1 31. 1 48. 1

15. 1 32. 1

16. 1 33. 0,3

17. 1 34. 0,3

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari peniliaian SME menunjukkan bahwa koefisien CVR diatas nol (0), maka aitem-aitem pada tabel diatas dinyatakan valid.

2. Uji Daya Beda Aitem dan Reliabilitas a. Uji Daya Beda Aitem

Sebelum melakukan analisis reliabilitas, maka peneliti melakukan analisis daya beda item terlebih dahulu. Analisis beda daya item yaitu mengkorelasi masing-masing item dengan nilai total item. Menurut Azwar (1999) dalam pemilihan aitem berdasarkan korelasi aitem total, adanya batasan dalam pemilihan aitem, batasan yang digunakan yaitu rix ≥ 0,30.

Aitem-aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0,30 dianggap memiliki daya beda yang tinggi, sedangkan aitem yang memiliki daya beda di bawah 0,30 maka dianggap memiliki daya beda aitem yang rendah.

Figur

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Citra Tubuh  ..........................................

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual Citra Tubuh .......................................... p.11
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual p.36
Tabel  3.1 Perhitungan Jumlah Sampel

Tabel 3.1

Perhitungan Jumlah Sampel p.39

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :
Outline : Hasil Penelitian