1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan hal yang tidak bisa hilang selama kehidupan manusia masih ada. Pendidikan pada dasarnya sudah ada sejak manusia ada di bumi ini. Pendidikan merupakan proses terus-menerus, tidak berhenti. Dengan semakin berkembangnya perbedaan manusia, maka masalah dunia pendidikan semakin kompleks, termasuk dalam masalah tujuannya pendidikan. Hal ini sesuai dengan perkembangan zaman.
Dalam perspektif teoritik, pendidikan seringkali diartikan dan dimaklumi orang secara beragam, tergantung pada sudut pandang masing- masing. Terjadinya perbedaan penafsiran pendidikan dalam konteks akademik merupakan hal yang lumrah, bahkan dapat semakin memperkaya khazanah berpikir manusia.
Tetapi untuk kepentingan kebijakan nasional, pendidikan dapat dirumuskan secara jelas dan mudah dipahami oleh semua pihak yang terkait dengan pendidikan, sehingga setiap orang dapat mengimplementasikan secara tepat dan benar dalam setiap praktik pendidikan.
Menurut Henderson dalam Uyoh Sadulloh (2012:55) pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir. GBHN dalam Uyoh
Sadulloh (2012:56) mengemukakan pengertian pendidikan bahwa, “ Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu usaha yang disadari untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia, yang dilaksanakan di dalam maupun di luar sekolah yang berlangsung seumur hidup”.
Menurut UU NO 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1 mengatakan bahwa :
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana umtuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara.
Menurut UU NO 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 1 ayat 6 mengatakan bahwa: “Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur pendidikan formal dalam setiap jenjang dan jenis pendidikan”.
Dari pengertian-pengertian pendidikan di atas ada beberapa prinsip dasar tentang pendidikan yang akan dilaksanakan: Pertama, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup. Usaha pendidikan sudah dimulai sejak manusia lahir dari kandungan ibunya sampai tutup usia. Kedua, bahwa tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama semua manusia : tanggung jawab orang tua, tanggung jawab masyarakat, dan tanggung jawab pemerintah. Ketiga, suatu keharusan karena dengan pendidikan manusia akan memiliki kemampuan dan kepribadian yang
berkembang. Karena pendidikan itu pada dasarnya membimbing generasi muda untuk mencapai generasi yang 3 lebih baik terutama dalam aspek afektif atau sikap. Oleh karena itu pendidkan berkaiatan dengan kemajuan IPTEK.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menjelang era globalisasi kian hari kian cepat. Hal ini dapat kita rasakan kemudahan – kemudahan dalam berbagai bidang terutama dalam bidang komunikasi dan transformasi. Dalam bidang komunikasi dalam waktu yang singkat dan bahkan dalam waktu yang bersamaan kita bias mengetahui atau menyaksikan peristiwa demi peristiwa yang terjadi di Negara lain yang sangat jauh letaknya. Dalam bidang transformasi dalam waktu yang relatif singkat, kita dapat berpindah pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya berjauhan letaknya.
Kemudahan tersebut akan lebih terasa lagi apabila sudah memasuki era globalisasi, karena sudah tidak ada lagi dinding yang membatasi antara masyarakat dari suatu Negara dengan masyarakat dengan Negara lain di dunia ini.
Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam era globalisasi jelas akan berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat Indonesia, bahkan bisa terjadi pula adanya pergeseran nilai – nilai yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dipersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang mampu menjawab tantangan akibat pengaruh perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta akibat era globalisasi.
Dalam mempertahankan kehidupan di tengah perubahan yang terjadi, pendidikan memainkan peranan penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia di tengah persaingan yang sangat ketat antar kelompok yang berbeda – beda. Karena itulah, proses belajar yang baik pada tiap – tiap kelompok selalu diharapkan mampu memberi hasil yang baik pula. Dalam perspektif keagamaanpun, pendidikan merupakan kewajiban bagi setiap orang beriman agar memperoleh ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan derajat kehidupan mereka.
Dalam hal ini, peran pendidikan sangatlah penting dan menentukan. Tugas pendidikan tidak hanya terbatas pada pengalihan hasil hasil Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada diri peserta didik dengan tidak mengabaikan nilai-nilai dasar yang ada pada masyarakat Indonesia.
Pendidikan merupakan hasil kebudayaan manusia. Sebagai hasil kebudayaan manusia maka pendidikan tidak dapat dipisahkan dari hidup manusia dan karenanya erat sekali hubungannya dengan segala lapangan hidup serta berperan dalam pertumbuhan bangsa dan Negara.
Sehubungan dengan itu besarnya peranan pendidikan dalam pertumbuhan bangsa dan Negara, maka pendidikan tidak dapat dilepaskan dari keadaan, kebutuhan dan potensi yang ada dalam lingkungannya.
Pendidikan harus selaras dengan kondisi umum yang ada dalam masyarakat. Bertitik pangkal dari asumsi bahwa pendidikan sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia, maka implikasinya adalah bahwa pendidikan itu tidak dapat dibatasi hanya sampai tingkat dewasa.
Demikian pula dengan penyelenggaraannya bukan hanya di sekolah
melainkan juga berlangsung di luar sekolah. Berkaitan dengan tugas bidang pendidikan tersebut, sampai saat ini masalah kualitas dan kuantitas pendidikan masih tetap merupakan suatu masalah yang paling menonjol dalam setiap usaha pembaharuan atau inovasi sistem pendidikan nasional.
Pemerintah sudah beberapa kali melakukan pembaharuan sistem pendidikan nasional yang mencakup semua komponen pendidikan, seperti pembaharuan kurikulum, proses belajar mengajar, peningkatan kualitas pendidikan, penyempurnaan sistem penilaian, penataan organisasi dan manajemen pendidikan dan lain sebagainya. Semua perubahan dan pembaharuan yang dilaksanakan oleh pemerintah dengan biaya yang sangat besar tersebut guna mengoptimalkan kalitas pendidikan dan menjawab tantangan zaman.
Matematika sendiri merupakan mata pelajaran yang ada pada semua jenjang pendidikan di indonesia. Mata pelajaran matematika sendiri digunakan untuk menyelesaikan permasalahn kehidupan sehari-hari dalam lingkungan sekitarnya dan menjadika bekal untuk ilmu pengetahuan yang lainnya. Matemtika di dapat mulai dari tingkat SD ( Sekolah Dasar) sampai Perguruan Tinggi (Susanto,2013183). Matematika sendiri digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam bernalar melaui kegiatan penyelidikan, explorasi dan sebagai alat untuk memecahkan sebuah masalah atau experimen.
Belajar sendiri merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang dengan sengaja dan dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman, dan pengetahuan baru.(Sutanto,2013:4) Dalam kegiatan
belajar mengajar tingkatan Sekolah Dasar matematika memiliki fungsi sebagai pengembangan logika dalam kemampuan menghitung, mengukur, membandingkan dan menaksir, dan pada akhirnya akan mepengaruhi, meningkatakan kemampuan kognitif berfikir anak. (Depdiknas,2003)
Kegitan pembelajaran yang digunakan sd kelas 2 menggunakan kurikulum 2013 tidak terlepas dari berbagai kekurangan salah satunya pembelajaran masih belum berpusat pada siswa. Namun diharapkan alat praga/ media yang akan digunakan mampu memcerminkan pembelajan yang berpusat pada siswa, yang disesuaikan dengan tujuan pendidikan nasional yang menerapkan kurikulum 2013 yang terdapat pembelajaran terpadu. Pembelajaran tematik terpadu sendiri memiliki artian sebagi pembelajaran yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga mampu meberikan pengalaman yang bermakna.
(Trianto, 2011: 147) pembelajaran terpadu pembelajaran yang mengaitkan beberapa mapel sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi siswa.
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan pembelajaran tematik adalah tema pembelajaran yang didalamnya memiliki satu kesatuan dalam mengaitkan beberapa mata pelajaran yang disusun secara sistematik, strategi dalam penyampaian dan dijunjung oleh media dan sumber belajar.
Pembelajaran tematik juga memiliki kharakteristik khusus diantaranya, berpusat pada siswa, memberikan pengalaman pada siswa, memisahkan mapel yang kurang jelas, fleksibel, menggunakan prinsip belajar sambil bermain.
Bagi siswa tingkat sd perhitungan yang dirasa mulai sulit salah satunya oprasi hitung perkalian. Menurut (Soesilowati,2011:35) perkalian sendiri merupakan proses aritmatika dasar dimana suatu bilangan dilipat gandakan disesuaikan dengan bilangan pengalinya. Materi perkalian yang terdapat pertama di kelas 2 SD merupak lanjutan dari materi penjumlahan.
Perkalian sendiri merupakan bentuk dari penjumlahan yang berulang.
Menguasai perkalian bagi setiap peserta didik dapat memiliki manfaat yang dapat digunkan dalam kehidupan sehari-hari hal ini tentunya harus dipahami oleh pendidik dan orang tua. Namuan masih banyak siswa mengalami kesulitan dalam mengerjalak matematika mulai dari oprasi hitung perkalian dan penyelesaian hasil akhir.
Pembelajaran matematika yang diajarkan di sekolah dasar diantaranya. (BNSP, 2007) a) pemahaman konsep matematika meliputi keterkaitan konsep dan pengaplikasian konsep agloritma secara luwes, akurat efisien dan tepat dalam memecahkan persoalan matematika, b) melakukan penalaran pada pola dan sifat, memerlukan generalisasi dan manipulasi, menyususn bukti, menjelaskan gagasan, c) memecahkan masalah meliputi pemahaman sebuah masalah, merancang model, menyelesaikan model, dan mendapatkan solusi hasil akhir yang diperoleh, d) memiliki gagasan berupa symbol, tabel diagram dan media lain untuk menyelesaikan sebuah masalah e) meningkatkan nilai guna dalam pembelajaran matematika diantranya, meningkatkan minat dalam pembelajaran matematika, meningktkan perhatian dan keingintaunnya dan sifat ulet dalam menyelesaikan persoalan.
Menurut Soedjadi (1999:3) mengemukakan bahwa matematika di sekolah dasar tidak sesuai dengan matematika sebagai ilmu dalam penyajian. Untuk memudahkan penyampaian pembelajaran matematika harus disesuaikan dengan pola pikir peserta didik, hal inibisa menurunkan tingkat keabtrakkan bagi siswa dan akan membuat siswa lebih mudah memahami, karena telah disesuaikan. Mengingat peserta didik kelas rendah belum mampu memahami keabstrakkan dalam mengunakan pola pikir yang deduktif.
Perlunya pembelajaran matematika di ajarkan dalam jenjang pendidikan di indonesia, Abdurrahman (2010; 253) a) meningkatkan berfikir logis dan jelas b) memecahkan masalah dalam kehidupan sehari- hari c) mengenal pola-pola dalam hubungan yang digeneralisasikan d) sarana pengembangan kreatifitas siswa e) sarana untuk meningkatakan penguasaan pembelajaran matematika sejak dini dalam menciptakan perkembangan pendidikan di masa yang akan datang.
Analisis keseulitan dalam pembelaran peserta didik sangat dipengaruhi oleh kondisi peserta didik, kebiasaan dalam belajar, konsentrasi siswa, keadaan lingkungan sekolah dan lingkungan sekitar siswa. Hal ini didukung dengan tidak adanya konsep dasar pada pembelajaran matematika sehingga siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran matematika seperti contoh materi perkalian yang berulang.
Sudah disadari pendidik bahwa pembelajarn matematika merupakan pelajaran yang dibenci siswa bahkan tidak disenangi. Sehingga berdampak pada hasil belajanya. Hal ini terjadi karena kurangnya variasi guru dalam
menggunakan metode pembelajaran. Dalam matematika sendiri memiliki karakteristik yang abstrak, dan kemampuan abstrak siswa masih rendah.
Dari hal di atas bisa kita simpulkan bahwa pembelajaran matematika sulit mencapai tujuan pembelajaran karena proses pembelajaran matematika kurang tepat dan jarang disesuaikan dengan kemampuan yang di miliki oleh siswa.
Pembelajaran matematika sendiri bertujuan untuk a)mencapai pembelajaran yang bersifat utuh, sehingga dapat membekali siswa untuk bisa menerapkan dalam kehidupan disekitarnya, b) mencapai tujuan pendidikan bersifat formal diartikan matematika dapat menata nalar dan juga kepribadian siswa.
Menurut peneliti kesulitan belajar siswa dapat dipengaruhi oleh dari diri peserta didik dan dari luar. Dengan mengetahui kesulita pembelajaran matematika maka pendidik mampu mengatasi masalah yang dialami siswa.
B. Rumusan Masalah
1. Penyebab apa saja yang mempengaruhi kesulitan belajar matematika materi perkalian peserta didik?
2. Bagaimana kendala dan upaya yang diambil untuk mengatasi kesulitan pembelajaran matematika bagi peserta didik?
C. Tujuan Penelitian Analisis
1. Mengetahui dan mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran matematika. Dan umpaya untuk meningkatakan pembelajaran matematika bagi peserta didik.
D. Manfaat Penelitian Analisisi 1) Manfaat Bagi Guru
a) Memberikan informasi penyebab kesulitan belajar matematika yang sering kali terjadi, dan dialamai siswa, sehingga pendidik mampu mengurangi kesulitan pembelajaran bagi peserta didik.
b) Meningkatakan dan memotifasi guru untuk senantiasa meningkatakan pemahaman siswa yang disesuaikan dengan
karakternya sehingga pembelajaran matematika dapat dikuasai oleh siswa.
2) Manfaat Bagi Peneliti
a) Peneliti dapat mengetahui tentang faktor apa saja yang
mempengaruhi kesulitan siswa dan bagaimana cara mengatasi kesulitan siswa.
3) Manfaat bagi orang tua
a) Peneliti berharap bagi orang tua mampu memberikan perhatian terhadap kesulitan belajar matematika yang siswa alami, dan menanamkan bagi siswa bahwa pembelajaran matematika adalah pembelajaran yang menyenangkan dan menarik sehingga mampu mengurangi permasalahan dalam pembelajaran matematika.
E. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahan dalam penelitian berikut ini adalah definisi operasional:
1. Kesulitan belajar adalah suatu kekurangan dalam bidang pembelajaran atau akademik dalam mata pelajaran yang spesifik, meliputi membaca, menulis, mengeja dan matematika.
2. Kesulitan belajar matematika ditandai dengan kesulitan dalam berhitung dan memahami konsep, dan kesulitan dalam memecahkan masalah.
3. Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang berorientasi pada tema yang dikaitkan/ diintegrasikan dengan beberapa mata pelajaran.
4. Karakteristik siswa kelas 2 Sekolah dasar memiliki bermacam-macam karakteristik yang majemuk dan aktif. Siswa aktif dalam pembelajaran jika guru menggunakan media yang menarik dan inofatif namun siswa akan bosan apabila pembelajaran bersifat monoton dan membosankan.