8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA / KERANGKA TEORITIS A. Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian tentunya memiliki hasil yang berbeda - beda, maka dari itu dengan melihat hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat menjadi perbandingan dengan hasil yang akan dilakukan. Berdasarkan telaah pustaka yang telah ditelusuri oleh penulis di beberapa media yang berkaitan dengan pengaruh pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap ketaatan beribadah sangat minim, maka dari itu beberapa hasil penelitian terdahulu diantaranya :
Tabel 1. Penelitian Terdahulu
NO Identitas Penelitian Hasil Penelitian Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian penulis
1. a. Nama Peneliti : Reski Amalia b. Judul Penelitian :
“Pengaruh
Pendidikan Islam Terhadap Ketaatan Beribadah (Shalat) Pada Remaja (studi kasus di Desa Kadong-Kadong
Bajo Barat
Kabupaten Luwu)”
c. Tahun : 2018 Fakultas Tarbiyah
& Ilmu Keguruan di Institus Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo.
Menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan yaitu sebesar 77,9% pengaruh Pendidikan Islam dengan Ketaatan Beribadah shalat pada remaja dan 22,1%
dipengaruhi oleh faktor
lain. Dalam
penelitiannya
mengemukakan bahwa meskipun daerah penelitian cukup jauh dari perkotaan yang begitu canggih, akan tetapi masalah tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa adanya Pendidikan Agama Islam memiliki perngaruh yang cukup tinggi dengan tingkat ibadah khususnya shalat pada remaja.
a. Perbedaan :
Peneliti banyak menganalisis adanya Pendidikan Islam di suatu wilayah
Peneliti fokus pada kajian bagaimana pengaruh
pendidikan islam terhadap ketaatan beribadah (shalat) di sebuah wilayah sehingga memiliki lingkup yang cukup luas seperti keluarga, sekolah dan masyarakat.
Sementara penulis menganalisis antara pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah terhadap ketaatan beribadah.
Peneliti menfokuskan
9
variable Y pada ketaatan beribadah shalat sedangkan penulis memiliki variable Y ketaatan beribadah baik mahdhah maupun goiru mahdhah.
b. Persamaan :
Menganalisis tentang ketaatan beribadah
Metode penelitian menggunakan kuantitatif.
2. a. Nama Peneliti : Nova Mutiara Dewi
b. Judul Penelitian : Pengaruh
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Terhadap Akhlak Siswa
SMK Widya
Yahya Gading Rejo Kabupaten Pringsewu.
c. Tahun : 2018 Fakultas Tarbiyah
& Keguruan Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Menunjukkan bahwa pengaruh dari pembelajaran
Pendidikan Agama Islam terhadap akhlak siswa termasuk indikator sedang dimana 50% dari siswa tergolong memiliki pengaruh yang positif dan 50% tidak memiliki pengaruh antara kedua variabel.
Dalam penelitiannya mengemukakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pembelajaran
Pendidikan Agama Islam dengan Akhlak Siswa di SMK Widya Yahya, akan tetapi memiliki nilai korelasi yang rendah.
a. Perbedaan :
Peneliti fokus terhadap pengaruh pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap akhlak siswa sedangkan penulis
fokus pada
pengaruh Pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap ketaatan beribadah.
b. Persamaan :
Menganalisis pengaruh dari Pembelajaran Agama Islam di sekolah
Menggunakan metode penelitian kuantitatif
3. a. Nama Peneliti : Andi Abdul Razak, Fathul Jannah, dan Khairul Saleh b. Judul Penelitian :
Pengaruh Pembelajaran
Menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan yatitu 45,76% pengaruh positif pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan perilaku
a. Perbedaan :
Peneliti fokus terhadap pengaruh pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap perilaku siswa
10 Pendidikan Agama
Islam Terhadap Perilaku Siswa di SMK Kesehatan Samarinda
c. Tahun : 2019 mahasiswa IAIN Samarinda dalam Jurnal el-Buhuth Vol.1, No.2.
siswa dan 54,24%
dipengaruhi faktor lainnya. Dalam penelitiannya
mengemukakan bahwa dengan adanya pembelajaran
Pendidikan Agama Islam yang efektif dan maksimal maka akan menjadikan hasil yang sesuai seperti halnya memiliki pengaruh positif yang tinggi.
b. Persamaan :
Menganalisis pengaruh dari pembelajaran Pendidikan Islam di sekolah
Menggunakan penelitian kuantitatif
B. Kerangka Teoritis Masalah Penelitian 1. Pendidikan Agama Islam
a. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Menurut Aprida dalam jurnalnya menuliskan bahwa belajar dan pembelajaran adalah dua kata yang memiliki makna yang kuat sehingga tidak dapat dipisahkan dalam suatu kegiatan edukatif, dengan adanya interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan tertentu inilah yang menjadikan pembelajaran menjadi bentuk dari suatu edukasi1. Menurut Wayan, pendidikan merupakan upaya yang dilakukan untuk membangkitkan jiwa anak baik lahir maupun batin dengan tujuan membawa anak sebagai penerus bangsa menuju peradaban yang lebih baik dan tak kenal akhir, sehinngga dapat menjadi bangsa negara yang memiliki kualitas baik dengan adanya wujud generasi dimasa depan yang berakar pada nilai-nilai budaya dan pancasila2. Maka dari itu belajar dan pembelajaran merupakan satu kalimat dengan dua kata yang saling berhubungan dan memiliki makna yang kuat dengan memainkan peran penting antara pendidik dan peserta didik yang disebut dengan pendidikan dan dilakukan secara sadar
1 Aprida Pane and Muhammad Darwis Dasopang, “BELAJAR DAN PEMBELAJARAN,” FITRAH:Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Keislaman 3, no. 2 (2017).
2 I Wayan Cong Sujana, “FUNGSI DAN TUJUAN PENDIDIKAN INDONESIA,” Adi Widya: Jurnal Pendidikan Dasar 4, no. 1 (2019).
11
dengan tujuan tertentu. Sedangkan pendidikan dapat diartikan sebagai tindakan masyarakat yang dilakukan dengan tujuan untuk mencerdaskan generasi Indonesia agar menjadi sosok yang lebih baik sesuai dengan tujuan pembelajaran masing-masing.
Menurut Hamid Darmadi yang dikutip oleh Jufri Dolong menyatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran tentunya membutuhkan persiapan secara matang yang dilakukan oleh pendidik sebagai bentuk usaha untuk memperkirakan tindakan-tindakan apa yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran berlangsung, perencanaan pembelajaran dapat berupa kompetensi yaitu Kompetensi Dasar (KD) yang berfungsi untuk mengembangkan suatu potensi peserta didik, Materi Standar berfungsi untuk membantu dalam memberi makna terhadap Kometensi Dasar, Indikator Pencapaian berfungsi sebaagai tujuan atau target keberhasilan dalam potensi peserta didik, dan Penilaian Berbasis Kelas (PBK) yang berfungsi untuk mengukur keberhasilan kompetensi dan menentukan tindakan yang harus dilakukan3. Menurut Elihami dan Abdullah pembelajaran ialah suatu kegiatan mengajar yang diajarkan oleh pendidik kepada peserta didik membelajarkan peserta didik menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar, yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid4. Dalam proses pembelajaran komponen-komponen tersebut memiliki peran yang saling berkaitan dengan tujuan yang sama yaitu mencapai tujuan dari pendidikan Agama Islam dengan mencerdaskan peserta didik dengan landasan Qur’an dan Hadist.
Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam memiliki proses pembelajaran yang mengedepankan nilai-nilai pendidikan karakter
3 Dolong Jufri, “Sudut Pandang Perencanaan Dalam Pengembangan Pendidikan,” Jurnal Inspirasi Pendidikan 1, no. 1 (2016): 65–76.
4 Elihami and Syahid, “PENERAPAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK KARAKTER PRIBADI YANG ISLAMI.”
12
religius dengan memahami ayat-ayat al-Qur’an mengenai berbagai macam tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi, taat beribadah, berdo’a dan khusyu dalam menerapkannya, terbiasa melakukan perilaku terpuji sebagai bentuk keimanan, menghindari perilaku yang tidak baik baik berupa dosa kecil maupun dosa besar, hukum mu’amalah, memahami sifat Allah, dan perkembangan pengetahuan serta teknologi5. Pendidikan Agama Islam menjadi sebuah wadah yang berperan untuk menginternalisasi dan mengembangkan ajaran Islam sehingga melahirkan seorang muslim yang taat kepada Allah dengan mengamalkan ajaran islam dengan baik agar mendapatkan kebahagiaan dunia maupun akhirat6. Dengan demikian pembelajaran Pendidikan Agama Islam dikatakan sebuah kebutuhan bagi anak maupun masyarakat agar menjadi seorang yang beriman, memiliki spiritual dan religiusitas yang baik dalam diri sehingga menjadikan kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat.
Sebagaimana yang terkandung dalam surah al asr yang artinya “Demi masa, Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal shaleh, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran”, (QS. Al-Ashr:1-3).
Dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam maupun mata pelajaran lainnya, perlu diselenggakan secara inspiratif, interaktif, memotivasi dan menyenangkan bagi peserta didik serta memberikan banyak kesempatan untuk mendorong dan melatih kemandirian dan kekreatifitas peserta didik, selain itu pentingnya memiliki kesadaran untuk selalu memotivasi peserta didik berkaitan dengan pengamalan ibadah sehari-hari.
b. Tujuan Pendidikan Agama Islam
5 Lisa’Diyah Ma’rifataini, Mengkaji Pendidikan Islam, ed. Zaenal Muttaqin, ke 1. (Jakarta: UIN jAKARTA PRESS, 2018).
6 Mutia Sari, “Pengaruh Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Terhadap Pelaksanaan Shalat Fardhu Siswa SMP Islam Al-Ma’arif Cinangka Sawangan Depok” (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011).
13
Pada undang-undang No.20 tahun 2003 yang membahas tentang sistem pendidikan nasional yaitu terdapat fungsi pendidikan dalam pasal 3 yang menyatakan bahwa pengembangan kemampuan dan membentuk watak bangsa agar dapat mencerdaskan peserta didik untuk menjadi seseorang yang memiliki akhlak mulia, berilmu, kreatif, sehat, cakap, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis juga bertanggung jawab, serta memiliki iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa merupaka sebuah fungsi dan tujuan dari pendidikan nasional. Menurut Sadam, Tujuan dari sebuah pembelajaran merupakan rencana yang harus dipahami dan dikuasai peserta didik sebagai pemahaman yang matang hingga dapat diaplikasikan berupa tingkah laku dan konsisten dalam mengamalkan ajaran islam agar tercapainya keberhasilan dalam proses pembelajaran, dengan adanya tujuan pembelajaran maka dapat menjadi sebagai tolak ukur dari keberhasilan proses pembelajaran yang memiliki harapan siswa menguasai dan memahami materi dalam proses belajar mengajar7. Tujuan pembelajaran atau rencana yang akan dilakukan dalam pembelajaran digunakan sebagai bahan acuan sehingga apabila dirasa hasil dari proses pembelajaran belum memiliki hasil yang sesuai dengan tujuan, maka diadakannya sebuah tindakan sebagai opsi lain untuk mendorong tercapainya sebuah tujuan pembelajaran.
Menurut Muhaimin dalam Su’adadah, pada umum nya tujuan dari Pendidikan Agama Islam yaitu sebagai pendidikan karakter dengan tujuan dapat menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadist serta menjaga akidah yang dimiliki peserta didik agar dapat membiasakan diri dalam iman, ilmu dan amal, menciptakan dan mengembangkan kepribadian yang shaleh dan shalehah, menjadikan Pendidikan Agama Islam sebagai landasan moral dan etika dalam kehidupan keseharian, menggali serta memberikan dan membiasakan
7 Sadam Fajar Shodiq, “Revival Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Di Era Revolusi Industri,” At Tajdid 02 (2018): 216–225.
14
hidup dalam ukhuwah islamiyah8. Oleh karena itu tujuan dari Pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk menjadikan peserta didik yang memiliki landasan moral, etika dan kepribadian yang shaleh serta shalehah maka sebagai pendidik selain memberikan sebuah materi ajar pendidik terutama dalam proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam memiliki wewenang untuk memberikan motivasi-motivasi baik berbentuk nasehat, kisah pengalaman juga teguran langsung yang bertujuan untuk mengingatkan ketaatan beribadah peserta didik agar suatu tujuan dari Pendidikan Agama Islam dapat tercapai dengan baik.
c. Pendidikan Agama Islam sebagai Mata Pelajaran Kelas X
Pembelajaran dalam Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam menjadi program yang ingin mewujudkan tujuan Pendidikan Islam yakni dengan menanamkan nilai Islami yang dilakukan melalui suatu proses pembelajaran, mata pelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran wajib yang telah dirancang secara khusus oleh kurikulum dengan menyesuaikan kondisi dan situasi serta jenjang pendidikan masing-masing9. Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam inilah sebuah usaha diterapkan dengan penyampaian selama proses pembelajaran berlangsung untuk mencapai sebuah tujuan tertentu.
Definisi Pendidikan Agama Islam sebagai mata pelajaran bertujuan untuk menghasilkan peserta didik yang memiliki jiwa keagamaan dan taat beribadah sebagaimana perintah Allah SWT dengan mengarahkan peserta didik untuk menjadi orang yang beriman serta memiliki amal shaleh10. Oleh karena itu dengan adanya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan secara maksimal maka diharapkan dapat membekali peserta didik sebagaimana tujuan dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam itu sendiri.
8 Su’dadah Su’dadah, “KEDUDUKAN DAN TUJUAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH,”
Jurnal Kependidikan 2, no. 2 (1970).
9 Hisyam Muhammad Fiqyh Aladdiin and Alaika M. Bagus Kurnia, “Peran Materi Pendidikan
Agama Islam Di Sekolah Dalam Membentuk Karakter Kebangsaan,” Penelitian Mdan Agama 10, no. 2 (2019): 153–173.
10 Ibid.
15
Fungsi dan tujuan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas X yaitu untuk memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan dan wawasan terkait keberagamaan peserta didik, memotivasi dan mendorong peserta didik untuk taat menjalankan perintah agamanya dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik dapat menjadikan agama sebagai landasan dalam kehidupan sehari-hari baik diri sendiri (pribadi), keluarga, masyarakat maupun bangsa dan negara, peserta didik dapat membangun mental yang kuat dalam berperilaku jujur, amanah, disiplin, mandiri, bekerja keras, percaya diri, kooperatif, kompetitif, bertanggung jawab, ikhlas dan menjadikan kerukunan antar umat beragama11. Dari penjelasan tersebut maka mata pelajaran Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu untuk mencapai tujuan dengan baik maka dari itu pelajaran Pendidikan Agama Islam bukan serta merta memberikan materi saja akan tetapi memiliki arahan tersendiri untuk mendukung berjalannya proses pembelajaran.
Dalam permendikbud tahun 2016 pasal 1 menjelaskan bahwa sebuah pendidikan terdapat acuan Standart Kompetensi Lulusan yang digunakan sebagai suatu pengembangan dari standar proses, standar isi, standar pendidik, standar penilaian, standar sarana prasarana, standar pembiayaan dan standar pengelolaan12. Dengan adanya Standar Kompetensi Lulusan inilah proses pembelajaran menjadi terkonsep dan terarah.
Telah dirumuskan dalam Standar Kompetensi Lulusan pada jenjang SMK yang terdiri dari dimensi sikap, pengetahuan dan keterampilan dengan menyesuaikan waktu pada program pendidikan, Standar Kompetensi Lulusan sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan
11 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Pendidikan Agama Islam Dan
Budi Pekerti Kelas X, Ke-3. (Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud, 2017).
12 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
REPUBLIK INDONESIA TENTANG STANDART KOMPETENSI LULUSAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH, NO 20 (2016).
16
dan Kebudayaan Nomor 34 Tahunm2018 pada tingkat SMK / MAK, yaitu13:
1) Dimensi Sikap : Keimanan dan Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki mental yang kuat dalam mengembangkan diri sendiri, kebangsaan dan cinta tanah air, memiliki karakter pribadi dan social.
2) Dimensi Pengetahuan : Memahami dan menguasai ilmu pengetahuan teknologi, seni, literasi, dan kreativitas.
3) Dimensi Keterampilan : Memiliki kemampuan yang produktif sesuai dengan keahliannya untuk bekerja maupun berwirausaha, mampu berkontribusi dalam mengembangkan industri Indonesia.
Jika dilihat dalam Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Agama Islam pada KTSP dan Kurikulum 2013, maka dapat disimpulkan bahwa pada Standar Kompetensi Lulusan yang ada di dalam KTSP bersifat berdiri sendiri yang artinya setiap mata pelajaran memiliki Standar Kompetensi Lulusan masing-masing dan lebih fokus terhadap kompetensi kognitif saja, sedangkan pada Kurikulum 2013 Standar Kompetensi Lulusan setiap mata pelajaran saling berkaitan dan fokus terhadap 3 dimensi.
d. Keshalehan Siswa di Sekolah
Keshalehan adalah suatu pengamalan dan penghayatan yang ada pada diri seseorang dikarnakan adanya ajaran agama yang baik, proses dari pencapaian keshalehan seperti halnya seorang muslim yang telah memahami dan kemudian mengamalkan ajaran agama Islam dengan baik, berperilaku yang positif dan selalu menjalankan perintah Allah14. Menurut Santrock dalam jurnal yang ditulis oleh Wibowo mengatakan bahwa masa remaja merupakan masa yang krisis karena usia remaja memiliki
13 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
REPUBLIK INDONESIA TENTANG STANDART NASIONAL PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN / MADRASAH ALIYAH KEJURUAN, NO 34 (2018).
14 Istiqomah, “VALIDITAS KONSTRUK ALAT UKUR KESALEHAN SOSIAL,” Jurnal Ilmiah Psikologi
Terapan 07, no. 01 (2019): 119–131.
17
ketidakseimbangan emosional dan kelabilan yang tinggi sehingga mudah terpengaruh oleh lingkungan dan dikhawatirkan dapat memicu perilaku yang negatif15. Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa keshalehan siswa terutama pada masa remaja tergolong masa yang perlu dikhawatirkan karena berada pada masa yang labil sehinngga mudah dipengaruhi oleh sekitar.
Peserta diidk pada tingkat SMK termasuk dalam kelompok remaja yang sedang berada pada proses kemandirian sehingga sangat perlu diperhatikan oleh masyarakat, sedangkan konsep dimensi keagamaan menurut Glock dan Stark terdapat 5 macam yaitu keyakinan atau kepercayaan, praktik ibadah, pengetahuan dan pengalaman, maka dari itu Pendidikan Agama di sekolah menjadi salah satu solusi yang dianggap tepat untuk remaja terkait keshalehan yang dimiliki, sebagaimana pendidikan agama disekolah yang memiliki tujuan untuk mengembangkan, mengarahkan, membentuk dan membiasakan kepribadian keagamaan peserta didik menjadi perilaku yang berlandaskan iman berupa ibadah16. Adanya pendidikan agama disekolah merupakan bentuk kesadaran masyarakat untuk mengarahkan anak terutama remaja seperti tingkat SMK, karena faktor keberagamaan anak salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan sekolah.
e. Indikator Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Indikator dalam kegiatan Pembelajaran yaitu17:
1) Pendidik dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan cara menyesuaikan dengan rancangan yang telah disusun.
2) Dengan adanya proses pembelajaran maka dapat membantu pemahaman peserta didik.
15 A.M Wibowo, “KESHALEHAN RITUAL KESHALEHAN SOSIAL SISWA MUSLIM SMA DI EKS
KARESIDENAN SURAKARTA,” Studi Masyarakat, Religi dan Traidsi 05, no. 01 (2019): 29–43.
16 Ibid.
17 Sitti Masturiiwaty Huntojungo, “Standar Penilaian Kompetensi Pedagoogik Guru Pendidikan Agama Islam Di SMA Negeri 1 Tapa,” Jurnal Studi Islam dan Interdisipliner 5, no. 1 (2020): 23–46.
18
3) Pendidik dapat memberikan informasi baru dengan disesuaikan pada usia maupun tingkat kemampuan peserta didik.
4) Pendidik dapat menanggapi kesalahan pada peserta didik sebagaimana proses dalam pembelajaran.
5) Pendidik dapat melakukan proses pembelajaran dengan maksimal sesuai rancangan pada kurikulum dan dapat menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
6) Pendidik dapat melakukan proses pembelajaran yang bervariasi guna mempertahankan perhatian peserta didik.
7) Pendidik mampu mengelola kodisi kelas secara efektif.
8) Pendidik memberikan waktu atau kesempatan untuk peserta didik berinteraksi pada peserta didik lain dan bertanya kepada pendidik.
9) Pendidik mampu menggunakan alat bantu seperti media pembelajaran sebagai bentuk untuk meningkatkan minat dan motivasi belajar peserta didik.
Dari penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa indikator pembelajaran Pendidikan Agama Islam yaitu kesiapan guru dalam melakukan pembelajaran sehingga menjadikan proses pembelajaran yang maksimal dan bervariasi seperti pendidik dapat mendorong tujuan dari pembelajaran, pendidik memberi evaluasi, memberikan motivasi kepada peserta didik, memberikan materi berdasarkan ketentuan, memberikan informasi baru, menggunakan metode pembelajaran dengan baik serta menggunakan media pembelajaran sebagai alat bantu sehingga membangun motivasi belajar pada peserta didik.
2. Ketaatan Beribadah a. Taat Beribadah
Menurut Syeikh Muhammad Abduh dalam buku Tafsir Al- Mishbah Ibadah merupakan suatu ketundukan dan ketaatan yang diakibatkan oleh perasaan yang terdapat dalam jiwa seseorang akan tanggung jawab sebagai manusia di muka bumi untuk mengabdi kepada
19
Allah Swt18. Menurut Muhammad Alim secara umum ibadah mencangkup seluruh aspek kehidupan, maka dari itu manusia sebagai maakhluk dalam kehidupan memiliki kewajiban dan tugas untuk menjalankan ibadah, sedangkan secara khusus ibadah merupakan perilaku dan tingkah laku yang dilakukan manusia atas perintah Allah dan sebagaimana Rasulullah telah memberikan contoh terhadap umatnya. ang sesuai dengan perintah Allah yang telah dicontohkan Rasulullah ibadah secara umum mencangkup aspek kehidupan sesuai dengan ketentuan Allah SWT19. Sedangkan menurut Ibadah merupakan kegiatan atau aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari berupa perbuatan yang didorong oleh rasa kepercayaan terhadap Allah SWT serta menjalankannya dalam bentuk ketaatan agar dapat mencapai ridha Allah20. Maka ibadah merupakan kegiatan yang bersifat wajib bagi manusia dengan nilai religius dalam bentuk perilaku yang diterapkan dalam keseharian dan mencerminkan suatu ketaatan untuk mendapatkan ridha Allah.
Menurut Ramayulis dalam Dawam Mahfud dijelaskan bahwa seorang dikatakan taat beribadah apabila dapat mengaplikasikan kegiatan keseharian sebagai orang yang beriman kepada Allah dengan memiliki kesadaran individu yang tinggi akan tugas dan kewajiban sebagai mukmin sehingga dapat mewujudkan dalam bentuk konsisten beribadah semata- mata karena Allah, karena itu ibadah menjadi suatu pengembangan iman dalam bentuk tingkah laku sehingga ibadah menjadi sebuah bingkai kehidupan, disamping itu selain ibadah sebagai wujud dari iman yang nyata ibadah juga memiliki manfaat sebagai upaya seseorang dalam memelihara iman dan menumbuh kembangkan iman yang terdapat pada
18 M. Quraisy Shihab, Tafsir Al-Mishbah, ke 3. (Tangerang: Lentera Hati, 2005).
19 Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam : Upaya Pembentukan Pemikiran Dan Kepribadian Muslim, ke 2. (Bandung: Remaja Rasdakarya, 2006).
20 Khairunnas Rajab, Psikologi Ibadah, ed. Achmad Zirzis and Siti Farida Nurlaili, Ke 1. (Jakarta:
Imprint Bumi Aksara, 2011).
20
setiap individu.21. Dalam mengembangkan dan menjaga spiritualitas dalam diri maka seseorang wajib menjaga ibadah dalam kehidupan sehari- hari seperti shalat yang merupakan sarana komunikasi antara hubungan manusia dengan Allah SWT. Selain keyakinan yang terdapat dalam jiwa manusia, shalat juga memiliki kedudukan yang paling dasar dalam islam yang tidak dapat disamakan dengan ibadah-ibadah yang lain. Ketaatan beribadah merupakan tingkat tingginya keyakinan dan kepercayaan seseorang dalam kepada Allah sehingga mendorong diri untuk berbakti dan membangkitkan nilai-nilai tauhid dalam diri yang tentunya perbuatan yang diridhoi dan dicintai oleh Allah. Manusia sebagai hamba Allah memiliki kewajiban untuk menghormati dan menghargai Allah dengan melaksanakan ibadah dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh.
Dengan demikian maka ketaatan beribadah merupakan ukuran dalam hal konsisten atau terbiasa melakukan ibadah dengan baik dalam bentuk perilaku dan tingkah laku dengan tujuan mensucikan dan mendapat ridha Allah, sedangkan ibadah terbagi menjadi dua yaitu ibadah mahdhah dan ibadah goiru mahdhah.
b. Indikator Ketaatan Beribadah
Menurut M.Q.Shihab terdapat 2 indikator Ibadah yakni Ibadah mahdhah yang sifatnya murni dengan segala ibadah yang sesuai dengan ketentuan yang telah dientukan dan Ibadah ghoiru mahdhah yang sifatnya tidak murni dengan mencangkup segala aktivitas dan segala kegiatan baik lahir maupun batin setiap manusia yang ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt22.
1) Ibadah Mahdhah
Menurut Muhammad Idris ibadah mahdhah merupakan ibadah khusus yang telah ditetapkan oleh Allah dan diperintahkan kepada
21 Dawam Mahfud, Mahmudah, “Pengaruh Ketaatan Beribadah Terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa Uin Walisongo Semarang.”
22 Shihab, Tafsir Al-Mishbah.
21
seluruh manusia sesuai dengan tata cara dan perinciannya23. contoh dari ibadah mahdhah yaitu shalat, zakat, puasa dan haji24. berdasarkan permasalahan yang ada dengan beberapa contoh tersebut maka dalam penelitian ini mengambil 2 contoh yaitu :
a) Shalat
Shalat merupakan salah satu aspek dari ibadah yang bersifat wajib bagi seluruh kaum muslimin meskipun dalam perjalanan shalat tidak dapat diwakilkan, seperti yang terdapat pada rukun Islam yang kedua yaitu shalat maka shalat memiliki peran yang amat penting dalam islam, sebagaimana islam didirikan atas 5 tiang yang salah satunya yaitu shalat, oleh karena itu shalat adalah ibadah perkataan dan perbuatan dengan hukum wajib dilakukan baik dalam keadaan sehat maupun sakit ddaan barangsiapa meninggalkan shalat maka sungguh ia merupakan seorang yang merugi karena telah meruntuhkan agama dalam dirinya, dalam shalat terdapat dua macam yaitu shalat wajib dan shalat sunnah25. Dari definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa shalat merupakan ibadah yang paling utama dan salah satu dari rukun Islam yang hukumnya wajib bagi hamba Allah. Selain shalat wajib adapun shalat sunnah yang memiliki tingkat pahala atau amal baik yang berbeda-beda tergantung jenisnya.
Terdapat empat syarat sah shalat yaitu26 : (1) Sudah masuk shalat
Dalam QS. Hud ayat 114 memiliki arti bahwa ketika sudah memasuki waktu shalat (pada kedua ujung siang dan petang) dan juga pada permulaan malam, maka disaat
23 Muhammad Idris Maas Zaid and Fajar Dwi Mukti, “Pendidikan Ketaatan Beribadah Dan Aktualisasinya Di Sd Al-Islam Yogyakarta,” Abdau: Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah 2, no. 1 (2019): 76–100.
24 Shihab, Tafsir Al-Mishbah.
25 kosim and hadi, “Implementasi Gerakan Shalat Fardlu Sebagai Motivasi Aspek Kesehatan,”
jurnal Mu’allim 1, no. 1 (2019): 143–159.
26 Syakir Jamaluddin, Shalat Sesuai Tuntunan Nabi SAW : Mengupas Kontrovensi Hadis Sekitar Shalat, ke 12. (Yogyakarta: LPPI UMY, 2014).
22
itulah terlihat orang-orang yang selalu mengingat Allah, dan perbuatan baik itu akan menghapus kesalahan-kesalahan yang ada di dalam diri manusia.
(2) Suci dari najis, hadast kecil dan hadast besar
Dalam QS. Al-Maidah ayat 6 memiliki arti bahwa diwajibkanlah sebagai orang yang beriman apabila akan melaksanakan shalat maka hendaknya membersihkan wajah, tangan hingga siku, usaplah kepalamu dan basuhlah kedua kaki hingga mata kaki.
(3) Menutup Aurat
Dalam QS. Al-A’raf ayat 31 memiliki arti bahwa sebagai seorang muslim hendaknya memakai pakaian yang bagus ketika memasuki masjid, selain itu jangan berlebihan apabila sedang makan dan minum, karena Allah sungguh tidak menyuai seorang yang berlebih-lebihan.
(4) Menghadap kearah kiblat (Masjidil Haram)
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 144 memiliki arti bahwa seringkali Allah melihat Nabi Muhammad mengadahkan wajahnya ke langit, maka dari itu Allah hadapkan dari Nabi Muhammad ke arah Masjidil haram.
b) Puasa
Dalam Islam puasa lahiriyah dan puasa batiniyah, puasa lahiriyah artinya menahan diri dari makan, dan minum, serta melakukan hubungan suami-istri sejak diwaktu shubuh saat terbitnya matahari dan hingga waktu maghrib sisaat akan tenggelamnya matahari, sedangkan puasa batiniyah adalah menahan diri dari hawa nafsu dan berbagai macam pikiran, perkataan dan perbuatan yang negative27. Oleh karena itu puasa bukan hanya tentang menahan makan dan minum saja, akan tetapi
27 Pipih Muhopilah, Witrin Gamayanti, and Elisa Kurniadewi, “Hubungan Kualitas Puasa Dan Kebahagiaan Santri Pondok Pesantren Al-Ihsan,” Jurnal Psikologi Islam dan Budaya 1, no. 1 (2018).
23
juga menahan diri dari segala perbuatan tidak baik yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam puasa terbagi juga menjadi dua yaitu puasa wajib yang tepatnya pada bulan ramadhan selama satu bulan dan puasa sunnah yang dilakukan pada hari atau tanggal tertentu dengan tingkatan amal yang berbeda-beda.
2) Ibadah Ghairu Mahdhah
Menurut Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dalam jurnal Abdul Kahar, ibadah ghoiru mahdhah adalah ibadah yang berbentuk amalan-amalan yang telah diizinkan Allah Swt, Contoh dari ibadah mahdhah yaitu menutut ilmu dan tolong menolong28.
a) Menuntut Ilmu
Menurut al-Ghazali dalam saihu, menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim dan muslimah baik baik tua maupun muda, baik laki-laki maupun perempuan, baik anak-anak maupun dewasa dengan cara yang sesuai dengan suatu keadaan dan tidak dibatasi maupun tidak memandang kemampuan dan bakat seseorang, dasar menuntut ilmu terdapat di dalam al Qur’an dan Hadist29. Menuntut ilmu merupakan usaha seseorang untuk memperoleh suatu ilmu pengetahuan yang dilakukan secara sadar dengan tujuan untuk mengubah dirinya dari yang tidak tahu menjadi tahu serta dapat mengubah perilaku seseorang menjadi lebih baik atau terdapat suatu proses yang mengakibatkan suatu perubahan yang positif pada seseorang.
b) Tolong Menolong
Tolong menolong merupakan Sunatullah yang berupa kebaikan sebagai bentuk hidup bermasyarakat dengan memiliki solidaritas antar manusia, sikap tolong menolong sama halnya kita
28 Abdul Kahar, “Pendidikan Ibadah Muhammad Hasbi Ash- Shiddieqy,” Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam 12, no. 1 (2019): 20.
29 Saihu, “Etika Menuntut Ilmu Menurut Kitab Ta’lim Muta’alim,” Al Amin: Jurnal Kajian Ilmu dan Budaya Islam 3, no. 1 (2020).
24
menolong diri sendiri dan sikap tersebut sangat dianjurkan bagi seluruh umat Islam30. Dengan adanya tolong menolong tanpa membedakan ras suku maupun lainnya maka sama halnya menolong diri sendiri, oleh karena itu tolong menolong menjadi sebuah keharusan terutama baik umat muslim.
c. Faktor yang mempengaruhi Ketaatan Beribadah
Sikap keeagamaan terbentuk oleh dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Berikut penjelasan mengenai kedua faktor tersebut31: a) Faktor Intern
(1) Faktor Hereditas
Faktor hereditas merupakan faktor turun-tenurun dari suatu keluarga, jiwa keagamaan anak tidak secara langsung disebabkan oleh faktor ini, akan tetapi hubungan dengan adanya faktor hereditas dan jiwa keagamaan memiliki pengaruh seperti bentuk emosional.
(2) Tingkat Usia
Konflik kejiwaan seringkali dialami oleh para pemaja dan dikaitkan dengan psikologi perkembangan anak sesuai tingkat usia yang mempengaruhi konversi agama pada remaja, maka dari itu tingkat usia dengan jiwa keagamaan memiliki hubungan yang saling berkaitan.
(3) Kepribadian
Kepribadian yang juga dikenal sebagai identitas diri seseorang yang dimiliki setiap individu akan tetapi antara individu satu dengan yang lain memiliki perbedaan dari kepribadian masing-masing, maka dengan adanya perbedaan tersebut diperkiraan kepribadian memberi pengaruh jiwa keagamaan.
(4) Kondisi Kejiwaan
30 Sugesti Delvia, “Mengulas Tolong Menolong Dalam Perspektif Islam,” PPKn dan Hukum 14, no.
2 (2019).
31 Jalaluddin, Psikologi Agama.
25
Permasalahan kejiwaan seperti gangguan jiwa yang disebabkan oleh masalah individu sehingga menjadi ketidaksadaran manusia akan pribadinya, maka dari itu kondisi kejiwaan berkaitan dengan kepribadian tentunya memiliki pengaruh kerhadap jiwa keagamaan individu.
b) Faktor Ekstern
(1) Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dalam kehidupan manusia, bagi anak keluarga memiliki makna yang penting karena lmenjadi fase sosialisasi awal dalam pembentukan dan penanaman karakter juga jiwa keagamaan anak.
(2) Lingkungan Institusional
Lingkungan institusi memiliki peran yang penting bagi suatu proses tumbuh kembangnya jiwa keagamaan anak, lingkungan institusi berupa lembaga institusi formal seperti sekolah sebagai institusi pendidikan formal yang memiliki kewajiban dalam membantu kepribadian, moral dan jiwa keagamaan anak, seperti kurikulum yang terdapat dalam setiap mata pelajaran dan institusi nonformal seperti organisasi yang terdapat diluar sekolah dengan tujuan tertentu.
(3) Lingkungan Masyarakat
Kehidupan masyarakat pada umumnya dibatasi oleh nilai- nilai baik sosial maupun keagamaan yang didukung oleh warganya. Sebagaimana tradisi keagamaan di lingkungan masyarakat yang kuat dapat mempengaruhi perkembangan dari jiwa keagamaan setiap individu.
C. Kerangka Berfikir
Kerangka berfikir dalam penelitian ini dapat dilihat berdasarkan landasan teori dan telaah pustaka, yaitu :
Variabel Independen (X) Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
26
Variabel Dependen (Y) Ketaatan Beribadah
Jika diketahui Pembelajaran Pendidikan Agama Islam baik, maka ketaatan beribadah siswa juga baik.
D. Hipotesis
Hipotesis merupakan perkiraan sementara mengenai suatu hubungan antar variabel yang dipertanyakan dalam penelitian32. Pada penelitian ini juga terdapat 2 hipotesis yang telaah ditetapkan, yaitu :
Ho: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan variabel Ketaatan Beribadah siswa kelas X SMK Diponegoro Tumpang.
Ha : Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan variabel Ketaatan Beribadah siswa kelas X SMK Diponegoro Tumpang.
32 Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial Kuantitatif, ed. Nurul Falah, ke 4. (Bandung: PT Refika Aditama, 2015).
Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam
Ketaatan Beribadah Mempengaruhi