• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR PENELITIAN LEKTOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN AKHIR PENELITIAN LEKTOR"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

1 LAPORAN AKHIR

PENELITIAN LEKTOR

IDENTIFIKASI EKSPRESI GEN SEL TULANG HASIL DIFERENSIASI MESENCHYMAL STEM CELL

(MSCs)

MENCIT YANG DIINDUKSI

EKSTRAK

BUNGA Delonix regia

Dr. Kartini Eriani, M.Si 197004211999032001 dr. Ichsan, M.Sc 197710062003121001 Dr. Silmi Mariya 197002121994032001

Dibiayai oleh:

Universitas Syiah Kuala,

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Sesuai dengan Surat Perjanjian Penugasan Pelaksanaan Penelitian Lektor Tahun Anggaran 2019 Nomor: 522/UN11/SPK/PNBP/2019 tanggal 08 Februari 2019

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SYIAH KUALA OKTOBER, 2019

(2)
(3)

ii RINGKASAN

Teknologi sel punca (stem cell) memiliki potensi dalam upaya penyembuhan penyakit degeneratif. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi gen yang diekspresikan oleh sel tulang hasil diferensiasi sel punca mesenkimal sumsum tulang mencit (Mus musculus) yang diinduksi ekstrak etanol bunga flamboyan Delonix regia (Boj. ex Hook.) Raf menggunakan Real Time PCR. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Riset Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan Laboratorium Riset Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala dari bulan Febuari 2019 sampai Oktober 2019. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan berupa penambahan ekstrak etanol bunga flamboyan (D. regia) yang terdiri dari dosis 0,0 mg/ml sebagai kontrol (tanpa penambahan ekstrak), 0,6 mg/ml, 0,7 mg/ml, 0,8 mg/ml, dan 0,9 mg/ml. Media kultur yang digunakan adalah modified Dulbecco’s Modified Eagle’s Medium (mDMEM). Sel sumsum tulang mencit yang diperoleh secara aspirasi dikultur selama 7 hari dalam inkubator CO2 5% pada suhu 37 °C. Parameter penelitian ini yaitu hasil kurva amplifikasi yang ditampilkan pada software CFX-96 Biorad yang menunjukkan kesesuaian antara gen sel target dan primer sel tulang yang digunakan.

Primer yang digunakan adalah alkaline-phosphatase (ALP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol bunga flamboyan dengan dosis yang digunakan mampu menginduksi diferensiasi sel punca menjadi sel tulang berupa osteoblas.

(4)

iii PRAKATA

Syukur alhamdulillah peneliti ucapkan kepada Allah swt. sehingga kami dapat menyelesaikan laporan kemajuan penelitian lektor yang berjudul ”Identifikasi Ekspresi Gen Sel Tulang Hasil Diferensiasi Mesenchymal Stem Cell

(MSCs)

Mencit yang Diinduksi Ekstrak Bunga Delonix regia. Shalawat dan salam kami sanjungkan kepada Nabi Besar Muhammad saw., beserta sahabat dan sanak keluarganya.

Laporan kemajuan penelitian tahap satu guna memenuhi salah satu persyaratan dalam pelaksanaan penelitian yang didanai oleh PNBP melalui Lembaga Penelitian Universitas Syiah Kuala. Laporan kemajuan penelitian ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan di Laboratorium Riset Biologi FMIPA, Laboratorium Riset FKH Unsyiah dan Laboratorium Kultur PSSP IPB.

Penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak selama pelaksanaan penelitian yang masih terus berlangsung sampai saat ini. Oleh karenanya penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dr. Taufik Fuadi Abidin, S.Si., M.Tech, selaku Ketua Lembaga Penelitian Universitas Syiah Kuala.

2. Prof. Dr. drh. Darmawi, M.Si, selaku kepala Laboratorium Riset FKH Unsyiah.

3. Dr. Silmi Mariya, M.Si, selaku Kepala Laboratorium Kultur PSSP IPB yang telah mengizinkan penulis untuk penelitian di BIB Saree dengan segala fasilitas yang ada 4. Dr. Drh. Huda S Darusman, M.Si, selaku Kepala Pusat Studi Satwa Primata IPB

yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini

5. Serta seluruh teknisi lapangan dan Laboratorium PSSP yang tidak mungkin disebut satu persatu.

Harapan penulis semoga penelitian ini dapat kami selesaikan sesuai proposal yang kami ajukan dan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, masyarakat dan pemerintah.

Banda Aceh, 30 Agustus 2019

Penulis

(5)

iv DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ... i

DAFTAR ISI ... ii

RINGKASAN ... iii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 4

BAB 3. TUJUAN DAN MANFAAT ... 5

BAB 4. METODE PENELITIAN ... 6

4.1. Pemeliharaan hewan coba ... 6

4.2. Pengambilan sampel Delonix regia. ... 6

4.3. Ekstraksi ... 6

4.4. Pembuatan medium kultur mDMEM dan phosphate buffer saline (PBS) ... 6

4.5. Persiapan kultur Mesenchymal Stem Cell (MSC) sumsum tulang ... 7

4.6. Isolasi dan kultur primer Mesenchymal Stem cell (MSC) sumsum tulang .... 7

4.7. Evaluasi hasil kultur Mesenchymal Stem Cell (MSC) sumsum tulang ... 7

4.8. Parameter Penelitian... 9

4.9. Analisis Data Penelitian ... 10

BAB 5. HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI ... 11

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 22

DAFTAR PUSTAKA ... 23

LAMPIRAN ... 27

1. Biodata Peneliti ... 28

2. Artikel immiah ... 41

3. Foto dan Gambar Aktifitas ... 47

(6)

1 BAB 1. PENDAHULUAN

Status degeneratif merupakan salah-satu penyakit dengan tingkat kematian yang cukup tinggi. Penyakit kronis ini berhubungan pada proses degenerasi atau ketuaan sehingga penyakit ini banyak ditemukan pada usia lanjut (Handajani et al, 2010).

Kondisi yang terjadi adalah sulitnya pengobatan dan layanan kesehatan mengakibatkan pasien degeneratif tidak mendapatkan terapi secara maksimal.

Kebanyakan pasien ini lebih memilih berdiam diri dan tidak terlalu mementingkan kesehatannya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pada tahun 2012 sedikitnya ada 839 juta kasus degenerative dan diperkirakan menjadi 1,15 milyar pada tahun 2025 atau sekitar 29% dari total penduduk dunia, dimana penderitanya lebih banyak pada wanita (30%) dibanding pria (29%). WHO juga menambahkan bahwa South East Asia pada tahun 2008 dilaporkan bahwa terdapat sebanyak 55% kematian disebabkan oleh penyakit degenerative.

Prevalensi penyakit degeneratif di Indonesia sendiri juga semakin meningkat.

Terdapat faktor pemicu utama terhadap kasus ini yaitu meliputi status gaya hidup dan sosial ekonomi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dilaporkan bahwa terdapat kasus penyakit degeneratif di masyarakat belum terdiagnosis dengan baik. Sebagai contoh yaitu pada kasus hipertensi diketahui terdapat angka sebesar 31.7%, dimana hanya 7.2% penduduk yang sudah mengetahui memiliki penyakit degeneratif berupa hipertensi dan hanya 0.4% kasus yang minum obat hipertensi.

Potensi stem cell dalam menyembuhkan berbagai penyakit degeneratif telah menjadi harapan baru bagi masyarakat (Wobus dan Boheler, 2006). Namun, biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali terapi stem cell mencapai ratusan juta rupiah.

Mengingat biaya terapi yang cukup besar, maka terapi ini hanya dapat dirasakan oleh masyarakat tingkat ekonomi menengah keatas sedangkan masyarakat dibawahnya tidak. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial dan kesenjangan hak sehat bagi masyarakat. Besarnya biaya terapi stem cell tidak terlepas dari mahalnya biaya operasional produksi stem cell di laboratorium dan biaya aplikasi bagi pasien. Salah satu usaha yang telah dilakukan untuk menekan biaya produksi stem cell adalah mencari senyawa kimia dari alam sebagai penginduksi diferensiasi stem cell menjadi sel spesifik sebagai media kultur.

Tumbuhan flamboyan Delonix regia (Boj. ex Hook.) Raf. mengandung beberapa senyawa seperti terpenoid, tannin, cardiac glycosides dan anthroquuinoes yang

(7)

2 berpotensi sebagai antioksidan (Singh dan Kumar, 2014), saponin, alkaloid, hidrokarbon fitotoksin dan karoten (Shanmukha et al., 2011). Bagian bunga D. regia mengandung karotenoid, galaktomannon (Jungalwala dan Cama, 1962), tannin, saponin, flavonoid, steroid (Shanmukha et al., 2011) dan alkaloid (Pharekh dan Chanda, 2007). Menurut (Jungalwala dan Chama, 1962) kandungan karotenoid pada bunga D. regia berperan untuk mengatur komunikasi antar sel, memberikan respon imun, transformasi neoplastik, pengontrol pertumbuhan dan sebagai regulator enzim yang bekerja sebagai detoksifikasi karsinogen (Pryor et al., 2000).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Eriani et al. (2018) menggunakan ekstrak etanol bunga flamboyan (D. regia) secara in vitro, mendapatkan hasil diferensiasi sel punca mesenkimal sumsum tulang mencit (Mus musculus) berupa nerve-like cell dan fibroblast-like cell dengan pewarnaan HE. Selain itu, ditemukan sel yang memiliki karakteristik berbentuk bulat, letak inti sel berada di samping dan berwarna gelap yang menyerupai karakteristik osteoblast. Namun, penentuan jenis sel ini tidak dapat dilakukan secara visual, melainkan dengan menggunakan teknik identifikasi berdasarkan ekspresi gen dari setiap sel untuk mendapatkan hasil yang akurat. Salah satu teknik yang digunakan adalah Polymerase Chain Reaction (PCR).

PCR merupakan teknik biologi molekuler untuk mengamplifikasi sekuen DNA spesifik menjadi ribuan sampai jutaan kopi sekuen DNA dan memberikan informasi mengenai urutan basa nukleotida dari sampel yang digunakan (Hewajuli dan Dharmayanti, 2014). Dengan demikian gen yang diekpresikan dapat diketahui dan membuktikan jenis sel yang diperoleh. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui dan membuktikan bahwa hasil diferensiasi dan proliferasi sel punca mesenkimal berupa sel tulang menggunakan RT-PCR.

Tabel 1. Rencana Target Capaian Tahunan

No. Jenis Luaran Indikator Capaian

TS TS+1 TS+2

1 Publikasi Ilmiah Internasional Ada

Nasional Terakreditasi

2 Pemakalah dalam temu ilmiah Internasional Ada

Nasional 3 Invited speaker dalam temu

ilmiah

Internasional Nasional

4 Visiting Lecturer Internasional

5 Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Paten

Paten Sederhana Hak Cipta Merek Dagang Rahasia Dagang

(8)

3

Desain Produk Industri Ada

Indikasi Geografis

Perlindungan Varietas Tanaman Perlindungan Topograri Sirkuit Terpadu

6 Teknologi Tepat Guna

7 Model/Purwarupa/Desain/Karya Seni/Rekayasa Sosial

8 Buku Ajar (ISBN) Ada

(9)

4 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Bunga D. regia mengandung senyawa fitokimia yang bersifat sebagai antioksidan. Antioksidan merupakan substansi yang dapat menetralkan aksi radikal bebas. Radikal bebas merupakan molekul yang dapat memicu kerusakan sel, meningkatkan risiko kanker dan penyakit jantung. Asupan tinggi antioksidan seperti vitamin C, vitamin E, selenium, β-carotene, dan carotenoid lain dianjurkan pada penderita diabetes melitus (Franz, 2012). β-carotene dapat memperbaiki metabolisme lipid pada penderita diabetes dengan menurunkan sintesis total kolesterol, LDL (Low Density Lipoprotein) dan VLDL (Very Low Density Lipoprotein) (Mooradian et al., 1994).

Bunga D. regia mengandung senyawa fitokimia kelompok flavonoid yang cukup tinggi. Flavonoid merupakan senyawa fenolik alam (seringkali dalam formasi polifenol) yang memiliki sifat antioksidan (Zhai et al., 1998). Senyawa-senyawa ini bertanggung jawab terhadap zat warna merah, ungu, biru, dan sebagian zat warna kuning dalam tumbuhan. Semua flavonoid menurut strukturnya merupakan turunan senyawa induk “flavon“ yakni nama sejenis flavonoid yang terbesar jumlahnya dan juga lazim ditemukan. Sebagian besar flavonoid yang terdapat pada tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glikosida, dan dalam bentuk campuran, jarang sekali dijumpai berupa senyawa tunggal. Flavonoid dapat digunakan sebagai obat karena mempunyai bermacam macam bioaktifitas seperti antiinflamasi, antikanker, antifertilitas, antiviral, antidiabetes, antidepresant, diuretik (Tarmizi, 2008).

Kandungan senyawa kimia pada bunga D. regia adalah flavonoid, tannin, alkaloid, saponin, steroid, karotenoid dan turunannya yaitu lycopene, phytoene, β- karoten, prolycopene, neolycopene, δ-lycopene dan γ-lycopene. Selain itu juga terkandung senyawa kimia berupa phenolic acid dan turunannya yaitu gallic acid, protocatehuic acid, salisylic acid, trans-cinnamic acid dan clhrogenic acid. Senyawa lainnya adalah anthocyanins dan turunannya yaitu cyanidin-3-glucoside, cyanidin-3- gentiobioside dan β-sitosterol (Singh dan Kumar, 2014).

Penelitian ini adalah kelanjutan dari beberapa penelitian sebelumnya. Penelitian tentang potensi ekstrak Delonix regia terhadap peningkatan imunostimulan dan uji toksisitas secara in vivo pada hewan model telah dilaporkan oleh Eriani et al. (2018), terhadap peningkatan dan kapasitas makrofag (Rosnizar et al. (2017) Berdasarkan hasil penelitian Eriani et al. (2018) senyawa fitokimia dalam bunga flamboyan (D.

regia) mampu menginduksi diferensiasi mesenchymal stem cell sumsum tulang mencit

(10)

5 menjadi nerve-like cell, fibroblast-like cell dan diduga osteoblast-like cell yang diidentifikasi dengan pewarnaan HE. Hasil tersebut menjadi informasi penting dalam kajian perbanyakan (kultur) stem cell sehingga perlu dikembangkan guna peningkatan kesehatan masyarakat. Untuk itu, setiap hasil diferensiasi stem cell perlu diuji kembali dan dikonfirmasi melalui analisis molekuler. Produk sel yang teramplifikasi merupakan hasil terjemahan secara signifikan yang mendeskripsikan fungsi senyawa ekstrak D. regia. sebagai media alternatif media kultur sel terbaru.

Ekstrak D. regia. terbukti dapat meningkatkan proliferasi dan diferensiasi mesenchymal stem cell secara in vitro, namun penelitian tersebut masih perlu dilanjutkan mengingat parameter yang digunakan masih berupa parameter morfologi.

Pendeteksian akan keberadaan osteoblas dan osteosit hasil proliferasi dan diferensiasi sel MSC perlu dilakukan secara molekuler agar hasil yang didapat lebih akurat.

BAB 3. TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh penambahan ekstrak metanol Delonik regia terhadap hasil ekspresi gen Alkaline Phosphatase dan Beta Actin sebagai indikasi keberadaan osteosit menggunakan qPCR. Sedangkan manfaat penelitian ini adalah memberikan informasi ilmiah dan bermanfaat dalam aplikasi klinis untuk membantu penyembuhan penyakit degeneratif pada tulang melalui teknologi sel punca/stem cell terutama osteoporosis.

(11)

6 BAB 4. METODE PENELITIAN

4.1. Pemeliharaan hewan coba

Hewan coba yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit jantan galur Balb-C (Mus musculus). Hewan yang digunakan berumur dua bulan dan memiliki berat badan rata-rata 30 g. Kandang mencit berukuran 48 cm x 36 cm x 13 cm yang ditutupi dengan jaring-jaring kawat pada bagian atasnya. Bagian alas dari kandang diisi dengan sekam padi setinggi 3 cm dari permukaan dasar kandang. Pemberian makan dan minum dilakukan secara ad libitum.

4.2. Pengambilan sampel bunga D. regia.

Sampel bunga D. regia yang digunakan berasal dari kawasan Banda Aceh dan sekitarnya. Kemudian petal bunga dipisahkan dengan bagian bunga lainnya. Petal dicuci dengan air mengalir hingga bersih, kemudian dipotong-potong dan dikeringkan tanpa terkena sinar matahari langsung. Petal bunga D. regia yang sudah kering kemudian dihaluskan dengan menggunakan blender sehingga menjadi bubuk homogen (Pasaribu et al., 2015).

4.3. Ekstraksi

Sebanyak 1000 g bubuk bunga D. regia disiapkan terlebih dahulu. Kemudian sampel dimaserasi dengan metanol absolut selama 3 x 24 jam. Setelah itu disaring menggunakan kertas saring untuk memisahkan filtratnya. Filtrat hasil penyaringan kemudian dipekatkan dengan menggunakan rotary evaporator pada suhu 550C sampai diperoleh ekstrak kental. Ekstrak yang diperoleh selanjutnya ditempatkan dalam botol tertutup dan disimpan di lemari pendingin pada suhu 4-80C. Ekstrak dibuat dalam bentuk suspensi berupa ekstrak cair yang dilarutkan dengan akuades untuk mempermudah pemberian kepada hewan coba (Pasaribu et al., 2015).

4.4. Pembuatan medium kultur (modified Dulbecco’s modified eagles’s medium) mDMEM dan phosphate buffer saline (PBS)

Media kultur mDMEM dibuat sebanyak 100 ml dengan cara terlebih dahulu menimbang DMEM-Powder sebanyak 1 g dan dimasukkan ke dalam gelas beker, selanjutnya ditambahkan aquadest 100 mL dan diaduk rata. Natrium hipoklorit (NaHCO3) ditimbang sebanyak 0,37 g dan dicampurkan ke dalam larutan pada gelas beker. Pekerjaan selanjutnya dilakukan di dalam LAF (Laminar Air Flow). Larutan AANE dan ITS masing-masing sebanyak 100 µL, gentamycin 125 µL, NBCS 1 mL ditambahkan ke dalam gelas beker. Kemudian larutan disterilkan menggunakan

(12)

7 mikrofilter dengan ukuran pori 0,22 µm dan dimasukkan ke dalam botol penyimpanan.

Botol diberi label dan tutup botol direkatkan dengan parafilm. Selanjutnya disimpan dalam lemari pendingin.

Larutan stok PBS terdapat dua jenis sesuai penggunaannya yaitu larutan stok PBS untuk sentrifugasi dan untuk pencucian gelatin. Larutan stok PBS yang digunakan untuk proses sentrifugasi dibuat dengan mencampurkan 0,96 g PBS-Powder dengan 100 mL aquadest dan ditambahkan NBCS sebanyak 0,1 mL. Sedangkan pembuatan larutan stok untuk pencuci gelatin hanya dengan melarutkan 0,96 g PBS-Powder dalam 100 mL aquadest. Kedua larutan stok PBS ini ditambahkan gentamycin masing- masing sebanyak 125 µL saat akan digunakan. Selanjutnya larutan stok PBS dimasukkan dalam botol, diberi label dan direkatkan tutup botol dengan parafilm, selanjutnya larutan stok PBS disimpan dalam lemari pendingin.

4.5. Persiapan kultur Mesenchymal Stem Cell (MSC) sumsum tulang

Kaca penutup diletakkan dalam cawan petri dan dilapisi gelatin 0,1% sebanyak 1 mL selama satu jam pada suhu kamar. Cawan petri dibersihkan dari gelatin dengan cara dibilas dengan menggunakan larutan modified phosphate buffer saline (mPBS) dan dibiarkan selama 5 menit. Selanjutnya cawan petri diisi dengan modified Dulbecco’s modified eagles’s medium (mDMEM) sebanyak 2 mL dan diinkubasi dalam inkubator CO2 5% selama satu jam pada suhu 37°C.

4.6. Isolasi dan kultur primer Mesenchymal Stem cell (MSC) sumsum tulang

Mencit dikorbankan dengan metode dislokasi servikalis. Selanjutnya dilakukan pengambilan tulang femur dan tibia. Tulang dibersihkan dari jaringan otot dan lemak yang dilakukan dalam larutan mPBS. Setelah bersih, tulang dimasukkan dalam cawan petri yang berisi larutan mPBS steril. Kemudian kedua bagian ujung tulang femur dan tibia dipotong dengan gunting.

Sumsum tulang dibilas dengan mPBS menggunakan spuid. Sumsum tulang dikeluarkan dengan cara memasukkan kanul spuid yang berisi mPBS ke dalam rongga tulang. Setelah kanul spuid masuk pada rongga tulang, mPBS dikeluarkan sehingga sumsum tulang terdorong untuk keluar. Suspensi sumsum tulang ditampung dalam cawan petri. Pemipetan dilakukan secara berulang dan disentrifugasi selama 10 menit pada kecepatan 3000 rpm. Hasil sentrifugasi dicuci dengan mPBS sebanyak empat kali dan satu kali dicuci dengan mDMEM. Sebelum diinkubasi, jumlah sel dihitung menggunakan hemositometer dengan rumus perhitungan total sel (sel/ml) (Djuwita et al., 2010):

(13)

8 Total sel (sel/ml) = rata-rata jumlah sel pada 5 kotak x faktor pengencer x 104

Selanjutnya suspensi sumsum tulang dengan konsentrasi 1 x 106 dimasukkan ke dalam cawan petri yang telah berisi medium mDMEM sebanyak 1 mL. Kemudian diinkubasi dalam inkubator CO2 5% pada suhu 37°C (Kang et al., 2005). Kemudian dilakukan evaluasi setelah satu hari inkubasi dan dilakukan pergantian medium serta penambahan ekstrak C. quadrangula sesuai dengan dosis perlakuan yang digunakan sebanyak 10 µL. Medium kultur diganti setiap dua hari sekali dan kultur dilakukan sampai hari ketujuh (Djuwita et al., 2012).

4.7. Evaluasi hasil kultur Mesenchymal Stem Cell (MSC) sumsum tulang 1. Isolasi total RNA

Isolasi total RNA menggunakan ReliaPrepTM RNA Cell Miniprep System (Promega, Z6011). Sel kultur yang telah diperoleh dimasukkan dalam tabung sentrifus steril dan disentrifugasi pada kecepatan 300 rpm selama 5 menit. Sel pelet hasil sentrifugasi dicuci dengan PBS dingin steril, kemudian disentrifugasi pada kecepatan 300 rpm selama 5 menit dan supernatan dipisahkan dengan hati-hati. Kemudian buffer BL dan TG ditambahkan sebanyak 250 µl dan di vortex atau pipetting selama 5 detik.

Isopropanol ditambahkan sebanyak 85 µl dan dihomogenkan menggunakan vorteks selama 5 detik. Minicolumn dimasukkan dalam tabung koleksi dan lysate dimasukkan kedalam minicolumn tersebut. Liquid didalam tabung koleksi dibuang dan minicolumn dimasukkan kembali kedalam tabung koleksi. RNA Wash Solution sebanyak 500 µl dimasukkan kedalam minicolumn dan sentrifugasi dengan kecepatan 12.000-14.000 rpm selama 30 detik.

DNase I incubation solution disiapkan dengan penambahan beberapa reagen sesuai protokol dan dicampurkan dengan pemipetan secara perlahan (tidak menggunakan vorteks). DNase I incubation solution ditambahkan sebanyak 30µl pada membran Minicolumn dan inkubasi selama 15 menit pada suhu 20°-25°C, kemudian Column Wash Solution ditambahkan sebanyak 200 µl pada minicolumn dan disentrifugasi dengan kecepatan12.000-14.000 rpm selama 15 detik, selanjutnya RNA Wash Solution ditambahkan sebanyak 500 µl dan disentrifugasi dengan kecepatan12.000-14.000 rpm selama 30 detik. Tabung koleksi dibuang beserta dengan supernatan. Minicolumn dipindahkan ke dalam tabung koleksi baru dan RNA Wash Solution ditambahkan sebanyak 300 µl dan disentrifugasi dengan kecepatan tinggi selama 2 menit. ReliaPrepTM Minicolumn yang berada pada tabung koleksi dipindahkan pada tabung elusi. Nuclease-free water ditambahkan pada membran

(14)

9 minicolumn sebanyak 30 µl. Tabung minicolumn dibuang dan tabung elusi ditutup.

Tabung elusi mengandung RNA purifikasi dan setelahnya dilakukan sintesis cDNA.

2. Sintesis cDNA

Sintesis cDNA menggunakan GoScriptTM Reverse Transcription System (Promega, A5000). RNA dan primer mix disiapkan dengan cara mencampurkan 1 µl sampel RNA, random primer sebanyak 0,1 µl dan nuclease free-water sebanyak 3,9 µl yang kemudian dipanaskan pada suhu 70°C selama 5 menit. Komponen reverse transcription reaction mix disiapkan dengan cara mencampurkan GoScriptTM5 reaction buffer sebanyak 4 µl, MgCl2 sebanyak 1,2 µl, PCR nucleotid mix sebanyak 1,0 µl, recombinan RNasin ribonuclease inhibitor sebanyak 0,5 µl, GoScriptTM reverse transcriptase sebanyak 1,0 dan nuclease free-water sebanyak 7,3 µl. Reverse transcription master mix ditambahkan sebanyak 15 µl pada setiap tabung yang berisi sampel. Selanjutnya dilakukan reaksi reverse transcription pada mesin RT-PCR dengan tahapan anneal pada suhu 25°C selama 5 menit, tahap extend pada suhu 37°C selama 1 jam dan tahap inactivated reverse transcriptase pada suhu 70°C selama 15 menit. Sampel cDNA yang telah diperoleh disimpan dalam lemari penyimpanan dengan suhu -20°C sebelum dilakukan proses reaksi amplifikasi pada PCR.

3. Analisis ekspresi gen menggunakan RT-PCR

Proses qPCR dilakukan menggunakan kit GoTaq® qPCR Master Mix (Promega, A6001). Reagen qPCR Master Mix disiapkan dengan cara mencampurkan GoTaq® qPCR Master Mix sebanyak 12,5 µl, nuclease free-water sebanyak 7,5 µl dan primer masing-masing sebanyak 2 µl. Selanjutnya dimasukkan sampel cDNA sebanyak 3 µl pada setiap tabung reaksi dan ditambahkan dengan qPCR Master Mix yang telah dibuat. Semua sampel dimasukkan kedalam mesin RT-PCR Biorad.

Tabel 2. Jenis primer yang digunakan dalam penelitian

Jenis Primer Primer Forward Primer Reverse

Beta-actin 5’ ATGAAGATCCTGACCGAGCG 3’ 5’ TACTTGCGCTCAGGAGGAGC 3’

Alkaline-

phosphatase 5’ GAGCAGGAACAGAAGTTTGC 3’ 5’ GTTGCAGGGTCTGGAGAGTA 3’

4.8. Parameter Penelitian

Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah hasil amplifikasi yang ditampilkan berdasarkan grafik pada software PCR (CFX-96 Biorad) yang

(15)

10 menunjukkan kesesuaian antara gen sel target dan primer yang digunakan. DNA yang teramplifikasi menunjukkan spesifitas hasil kultur sel dari sel tulang.

4.9. Analisis Data Penelitian

Analisis data dilakukan secara deskriptif sesuai dengan kurva amplifikasi yang diperoleh dari hasil RT-PCR. Perbedaan hasil amplifikasi dianalisis dengan menggunakan rumus Livaks R = 2ΔCt (R = 2[Ct sample – Ct control]).

(16)

11 BAB 5. HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI

5.1. Diferensiasi Sel Punca Mesenkimal

Hasil pengamatan diferensiasi MSC dalam medium kultur dengan ekstrak etanol bunga flamboyan (D.regia) diperoleh tiga jenis sel yang diduga hasil diferensiasi MSC sumsum tulang mencit (Mus musculus) yaitu menyerupai sel fibroblas, sel saraf dan sel osteoblas. Sel fibroblas ditandai dengan adanya penjuluran sitoplasma dan memiliki inti sel berbentuk lonjong. Sel fibroblas hasil diferensiasi MSC pada medium kultur dapat dilihat pada Gambar 5.1.

Gambar 5.1. Morfologi sel fibroblas dalam medium kultur (A: Inti sel, B: Penjuluran sitoplasma)

Gambar 5.1. memperlihatkan kesesuaian morfologi sel fibroblas pada medium kultur dengan pernyataan Mescher (2010) yang mengatakan bahwa morfologi fibroblas aktif ditandai dengan adanya percabangan pada sitoplasma, inti sel berbentuk lonjong, besar dan berwarna pucat serta sitoplasmanya penuh dengan retikulum endoplasma kasar. Sel fibroblas terlibat dalam proses penyembuhan luka dan proses fisologis dalam tiap jaringan dan organ dalam tubuh, selain itu sel fibroblas juga terlibat aktif dalam pembentukan serat-serat terutama serat kolagen (Kurniawati et al., 2015). Berdasarkan informasi tersebut, sel fibroblas yang diperoleh dari hasil

(17)

12 diferensiasi MSC dapat diaplikasikan dalam terapi sel punca (stem cell) pada penderita luka bakar dan penderita aging (penuaan).

Jenis sel kedua yang dijumpai dalam medium kultur adalah menyerupai sel saraf. Sel saraf dalam medium kultur ditandai dengan adanya penjuluran sitoplasma ke segala arah dan memiliki inti sel yang terletak di bagian sentral. Sel saraf yang dijumpai pada medium kultur dapat dilihat pada Gambar 4.2. di bawah ini.

Gambar 5.2. Morfologi sel saraf dalam medium kultur. a. Sel saraf muda, b. Sel saraf dewasa (A: Inti sel, B: Sitoplasma, C: Akson)

Gambar 5.2. menunjukkan bahwa terjadi proses perkembangan sel saraf dalam medium kultur yang diikuti proses maturasi. Sel saraf muda memiliki volume sitoplasma lebih banyak dengan penjuluran lebih pendek (Gambar 5.2a). Sebaliknya Gambar 5.2b merupakan sel saraf dewasa dengan penjuluran sitoplasma membentuk akson lebih panjang. Berdasarkan Gambar 5.2. badan sel saraf dewasa terlihat lebih kecil dibandingkan dengan badan sel saraf muda, hal ini terjadi akibat penurunan volume sitoplasma yang diikuti pembentukan penjuluran sitoplasma menjadi akson dan dendrit.

Sel ketiga hasil diferensiasi MSC adalah sel tulang yang secara morfologi menyerupai osteoblas dengan ciri-ciri sel berbentuk bulat, letak inti sel berada di sentral dan berukuran besar sebagaimana yang terlihat pada Gambar 5.3. dibawah ini.

a b

(18)

13 Gambar 5.3. Morfologi sel osteoblast dalam medium kultur yang ditambahkan ekstrak etanol bunga flamboyan (D. regia); a. Kontrol, b. Pada dosis 0,6 mg/ml (A: Inti sel, B: Sitoplasma)

Karakteristik sel pada Gambar 5.3. sesuai dengan pernyataan (Djuwita et al., 2012) yang mengatakan bahwa osteoblas yang aktif mensintesis matriks tulang memiliki inti sel yang besar, apparatus golgi dan retikulum endoplasma yang banyak.

Akan tetapi, osteoblas akan berubah bentuk menjadi kuboid yang besar setelah proteoblas berhenti mengalami proliferasi.

Gambar 5.4. Morfologi sel tulang dalam medium kultur yang ditambahkan ekstrak etanol bunga flamboyan (D. regia); a. Pada dosis 0,7 mg/ml, b. Pada dosis 0,8 mg/ml (A: Inti sel, B: Sitoplasma, C: Penjuluran sitoplasma)

(19)

14 Sel osteoblas pada Gambar 5.4. memperlihatkan bentuk yang sedikit berbeda.

Sel tulang pada (Gambar 5.4a) memperlihatkan morfologi sel yang berbentuk bulat dan memiliki inti sel yang besar, sedangkan pada (Gambar 5.4b) memperlihatkan morfologi sel tulang yang berukuran besar, memiliki inti sel yang besar dan terdapat sedikit penjuluran pada sitoplasmanya. Hal ini disebabkan karena terjadinya transformasi osteoblas menuju osteosit yang melibatkan perubahan morfologi serta penurunan ukuran diameter sel. Osteosit adalah sel yang berasal dari osteoblas dan sel yang membentuk komponen selular utama pada tulang yang dewasa. Osteosit merupakan sel dewasa yang memiliki aparatus golgi dan retikulum endoplasma kasar yang lebih sedikit tetapi memiliki lisosom yang lebih banyak dibandingkan dengan osteoblas dan memiliki penjuluran pada sitoplasmanya (Stevenson dan Marsh, 2007).

Beberapa studi menunjukkan bahwa ukuran osteosit berbeda-beda tergantung pada tipe tulang dan aktivitas serta ukuran dari osteoblas. Bentuk dan ukuran dari osteosit yang baru tertanam pada tulang juga dapat bervariasi. Hal ini tergantung pada umur masing-masing osteosit dan tingkat kematangan osteosit (Dallas dan Bonewald, 2010).

Gambar 5.5. Morfologi sel osteoblas dalam medium kultur yang ditambahkan ekstrak etanol bunga flamboyan (D. regia) dosis 0,9 mg/ml (A. Inti sel, B.

Sitoplasma)

(20)

15 Osteoblas merupakan sel tulang yang berperan dalam menghasilkan bahan organik untuk menyusun tulang. Sel yang secara morfologi menyerupai osteoblas dalam medium kultur merupakan sel yang menjadi target identifikasi pada penelitian ini. Pengidentifikasian sel yang menyerupai osteoblas ini dilakukan secara molekular dengan mengidentifikasi gen alkaline phosphatase (ALP) sebagai penanda keberadaan dari sel tersebut. ALP merupakan gen pertama yang terdeteksi pada progenitor sel osteoblas pada proses diferensiasi osteoblas (Zur Nieden et al., 2003) dan penanda sel tulang yang paling sering digunakan (Singer dan Eyre, 2008). ALP sering digunakan untuk mengukur aktivitas osteoblas karena sebagian besar ALP yang berada dalam serum berasal dari osteoblas (Singer dan Eyre, 2008). Berdasarkan pengamatan secara visual dalam medium kultur, sel yang menyerupai osteoblas ini diperoleh pada kultur MSC kontrol dan semua sampel yang diberikan perlakuan dosis ekstrak etanol bunga D. regia dan dilanjutkan dengan identifikasi DNA sel target secara molekular berdasarkan ekspresi gen ALP menggunakan mesin RT-PCR.

5.2. Identifikasi Osteoblas Menggunakan Real Time PCR

Teknik identifikasi molekular yang sering digunakan adalah identifikasi menggunakan Real Time PCR (RT-PCR). Hasil analisis menggunakan RT-PCR diperoleh dalam bentuk kurva yang ditampilkan pada layar komputer dengan software yang ditentukan. Kurva amplifikasi (amplification curve) dan kurva puncak pelelehan (melt peak curve) merupakan dua kurva yang diperlukan dalam analisis hasil identifikasi menggunakan RT-PCR sebagaimana yang dilakukan pada penelitian ini untuk mendapatkan hasil yang akurat.

Hasil identifikasi molekular yang dinyatakan berdasarkan kurva amplifikasi menggambarkan bahwa sampel dengan primer β-aktin teramplifikasi di atas garis ambang batas (base line threshold) dengan awal siklus terampilifikasi relatif sama, dan hasil analisis menggunakan melt peak curve menggambarkan bahwa semua sampel dengan primer β-aktin memiliki titik puncak pelelehan pada suhu yang sama. Hal ini menyatakan bahwa sampel dengan primer β-aktin pada semua perlakuan adalah homogen karena tidak membentuk titik puncak pelelehan yang berbeda. Analisis kurva ampilifikasi pada sampel dengan primer ALP menggambarkan bahwa keempat sampel

(21)

16 uji (U1, U2, U3 dan U4) teramplifikasi di atas base line threshold, sedangkan pada sampel kontrol (U0) menunjukkan hasil negatif terhadap osteoblast dikarenakan grafik sigmoid berada dibawah base line threshold. Begitu juga hasil evaluasi menggunakan melt peak curve yang menggambarkan bahwa keempat sampel uji dengan primer ALP memiliki titik puncak suhu pelelehan yang sama sehingga tidak adanya hasil false positive.

Amplifikasi yang dijalankan pada mesin RT-PCR ditampilkan dalam bentuk kurva pada layar komputer dengan software Biorad CFX-96, dengan spesifikasi perlakuan sampel uji P0U0, P1U1, P2U2, P3U3 dan P4U4 ditampilkan pada Gambar 4.6.

di bawah ini.

Gambar 5.6. Kurva amplifikasi sampel uji

Keterangan :

P : Primer β-aktin U : Primer alkaline phosphatase

P0: Kontrol U0: Kontrol

P1: Dosis 0,6 mg/ml U1: Dosis 0,6 mg/ml P2: Dosis 0,7 mg/ml U2: Dosis 0,7 mg/ml P3: Dosis 0,8 mg/ml U3: Dosis 0,8 mg/ml P4: Dosis 0,9 mg/ml U3: Dosis 0,9 mg/ml

Hasil kurva amplifikasi yang diperoleh dari pengujian menggunakan mesin RT-PCR menunjukkan bahwa sampel uji memperlihatkan hasil yang positif, keculi

(22)

17 pada perlakuan kontrol dengan primer ALP dimana garis berada di bawah base line threshold. Hasil amplifikasi yang diperoleh melewati garis ambang batas (base line threshold) dimana setiap sinyal flouresen terbaca dan menunjukkan DNA yang teramplifikasi. Base line threshold merupakan garis horizontal pada sumbu x (garis lurus berwarna hijau) yang menjadi tolak ukur grafik sigmoid sampel yang teramplifikasi. Amplifikasi ditetapkan berdasarkan intensitas flouresen, semakin banyak produk amplifikasi yang dihasilkan maka akan semakin besar akumulasi flouresen yang terbaca (Nur’Utami, 2011). Kurva amplifikasi juga menunjukkan bahwa jumlah siklus teramplifikasinya setiap sampel berbeda-beda berdasarkan dengan primer yang digunakan. Sampel dengan primer β-aktin yang merupakan reference gene dari DNA sel target telah teramplifikasi pada siklus ke 26 sedangkan sampel dengan primer alkaline phosphatase (ALP) teramplifikasi pada siklus ke 32.

Perbedaan siklus teramplifikasinya setiap sampel diduga dipengaruhi oleh desain dan konsentrasi primer, banyak siklus PCR serta suhu annealing yang digunakan pada proses amplifikasi PCR. Menurut Grunenwald (2003), proses amplifikasi oleh PCR dipengaruhi oleh berbagai parameter antara lain kualitas dan konsentrasi DNA template, desain dan konsentrasi primer, konsentrasi ion magnesium, konsentrasi empat deoksinukleotida (dNTP), buffer PCR, konsentrasi Taq polymerase, siklus PCR dan penggunaan teknik hotstart. Selain itu, perbedaan ini disebabkan karena β-aktin merupakan protein yang sangat penting bagi sel eukariotik.

Protein ini berperan penting untuk membentuk jaringan yang memberikan dukungan mekanik sel, menentukan bentuk sel, pergerakan sel dan pembelahan sel. Sifat dari gen aktin adalah housekeeping gene yaitu gen yang memiliki tingkat ekspresi yang stabil di berbagai jaringan pada semua tahapan perkembangan. Sifat ini menjadikan gen aktin digunakan sebagai kontrol internal (reference gene) pada analisis ekspresi gen menggunakan metode qRT-PCR (Hannum et al., 2010). Oleh karena itu, sampel dengan primer β-aktin akan lebih mudah teramplifikasi dibandingkan sampel dengan primer ALP yang merupakan primer dari DNA sel target. Berdasarkan kurva amplifikasi 5.6. sampel dengan primer β-aktin lebih cepat teramplifikasi dengan nilai Relative Fluorecent Units (RFU) yang tinggi. Nilai RFU menyatakan akumulasi flouresen yang terbaca. Semakin tinggi nilai RFU maka semakin banyak produk amplifikasi (amplikon) yang dihasilkan.

Peningkatan fluoresen ditandai dengan terbentuknya grafik sigmoid, seperti yang tergambar pada Gambar 5.6. (garis berwarna hijau) yang akan berpotongan

(23)

18 dengan base line threshold. Penelitian ini menggunakan label flouresen berupa SYBR green I. SYBR green I akan mengukur intensitas flouresen secara proporsional sesuai dengan produk PCR yang dihasilkan. Akumulasi dari amplikon PCR meningkat seiring dengan meningkatnya siklus reaksi yang menunjukkan bahwa molekul SYBR green I berikatan dengan DNA. Akan tetapi, SYBR green I merupakan label flouresen yang tidak spesifik sehingga dapat menghasilkan sinyal pengujian false-positive karena terbentuknya produk yang tidak spesifik. Sensitifitas deteksi dengan menggunakan SYBR green I dipengaruhi oleh pembentukan primer-dimer, spesifisitas primer yang rendah, konsentrasi primer dapat membatasi produk amplifikasi dan terbentuknya struktur sekunder pada produk PCR. Faktor-faktor ini dapat mengarahkan pada terbentuknya produk DNA utas ganda yang tidak diharapkan yang dapat berikatan dengan SYBR green I dan menghasilkan sinyal flouresen. Oleh karena itu perlu dilakukannya analisis formasi dari kurva pelelehan (melting curve) dan kurva puncak pelelehan (melt peak curve) (Pestana et al., 2010). Melt peak curve dapat menunjukkan ada atau tidaknya produk non-spesifik. Kurva puncak pelelehan sampel uji dilampirkan pada Gambar 5.7.

(24)

19 Gambar 5.7. Kurva puncak pelelehan (melt peak curve) sampel uji

Keterangan :

P : Primer β-aktin U : Primer alkaline phosphatase

P0: Kontrol U0: Kontrol

P1: Dosis 0,6 mg/ml U1: Dosis 0,6 mg/ml P2: Dosis 0,7 mg/ml U2: Dosis 0,7 mg/ml P3: Dosis 0,8 mg/ml U3: Dosis 0,8 mg/ml P4: Dosis 0,9 mg/ml U3: Dosis 0,9 mg/ml

Gambar 5.7. menunjukkan bahwa grafik sigmoid untuk semua sampel dengan primer β-aktin berada di atas base line threshold, akan tetapi satu sampel dengan primer ALP yaitu pada perlakuan kontrol (U0) berada dibawah base line threshold.

Hal ini menunjukkan bahwa semua sampel memiliki sel hidup yang ditunjukkan dengan adanya senyawa β-actin pada setiap sampel. Akan tetapi, hasil pengamatan morfologi sel osteoblast yang ada pada perlakuan kontrol tidak dapat di buktikan sebagai sel osteoblast, hal ini dikarenakan pada perlakuan kontrol grafik sigmoid berada dibawah base line threshold. Hasil yang diperoleh dari grafik amplikasi juga di dukung oleh analisis grafik puncak pelelehan (melt peak curve). Hasil dapat dikatakan positif apabila titik puncak pelelehan yang diperoleh juga berada di atas base line threshold dan pada satu titik yang sama, sedangkan apabila terbentuk produk non- spesifik, maka grafik akan berada di bawah base line threshold atau akan membentuk titik puncak pada suhu yang berbeda dengan amplikon dari produk spesifik atau melt

(25)

20 peak dapat pula memiliki lebih dari satu puncak suhu. Pestana et al., (2010) mengatakan bahwa semua produk PCR untuk primer set tertentu harus memiliki nilai suhu pelelehan (Tm) yang sama kecuali jika terdapat adanya mispriming, kontaminasi atau primer-dimer. Berdasarkan kurva (Gambar 5.7.) produk PCR yang dihasilkan adalah homogen dengan semua sampel uji memiliki nilai Tm yang sama.

Hasil analisis formasi melt peak curve menunjukkan bahwa pada sampel uji U1, U2, U3, dan U4 terdapat sel osteoblast dikarenakan grafik sigmoid pada melt peak curve berada di atas base line threshold. Sedangkan sel osteoblast dikatakan negatif pada sampel kontrol (U0). Selain itu, dapat dinyatakan bahwa sel yang secara morfologi menyerupai sel osteoblast pada dosis ekstrak 0,6 mg/ml, 0,7 mg/ml, 0,8 mg/ml, dan 0,9 mg/ml merupakan sel osteoblast secara ekspresi gen, sedangkan pada sampel kontrol yang secara morfologi juga menunjukkan adanya sel osteoblast dinyatakan negatif berdasarkan ekspresi gen. Hal ini menjelaskan bahwa ekstrak etanol bunga D. regia mampu menginduksi proliferasi dan diferensiasi MSC menjadi osteoblas dengan terdeteksinya gen ALP.

Kandungan kimia pada bunga D.regia yang dapat memicu diferensiasi osteoblas adalah flavonoid, seperti yang dilaporkan oleh Zhang et al., (2008), bahwa senyawa flavonoid dapat memicu diferensiasi osteoblas, sehingga dengan menggunakan dosis yang tepat MSC dapat berdiferensiasi menjadi osteoblas. Selain itu, tumbuhan flamboyan yang tergolong kelompok polong-polongan dari Familia Fabacea ini diduga memiliki kandungan fitoestrogen. Fitoestrogen merupakan senyawa yang ditemukan pada tumbuhan kacang-kacangan dan merupakan senyawa yang mirip dengan estrogen. Salah satu jenis dari fitoestrogen adalah isoflavonoid yang terdiri dari genistein dan daidzein. Genistein yang merupakan komponen dalam fitoestrogen dapat menstimulasi diferensiasi sel punca sumsum tulang menjadi osteoblas. Diferensiasi tersebut terjadi karena adanya peningkatan Cbfa-1 (Ducy, 2000) dan Transforming Growth Factor beta-1 (TGFâ-1) (Heim et al., 2004).

Senyawa Cbfa-1 adalah faktor transkripsi pada sel progenitor menjadi osteoblas dan berperan dalam mengontrol proses perkembangan, diferensiasi dan pematangan fungsi osteoblas (Ducy, 2000). Senyawa TGFâ-1 mengatur gen transkripsi pada sel melalui sinyal reseptor (Roberts et al., 1990). Ogita et al., (2008) melaporkan bahwa genistein dan daidzein juga dapat meningkatkan proliferasi osteoblas melalui proses sintesis protein dengan mengatur sintesis Cbfa-1 dan Bone Morphogenic Protein-2 (BMP-2) (Federici et al., 2004).

(26)

21 Penelitian Eriani et al. (2018), yang juga menggunakan ekstrak etanol bunga (D. regia) memperoleh hasil berdasarkan pengamatan morfologi terdapat sel yang

menyerupai osteoblas pada dosis ekstrak etanol bunga D. regia 0,8 mg/ml.

Berdasarkan hasil penelitian ini, ekstrak etanol bunga flamboyan (D. regia) dengan dosis 0,8 mg/ml dan 0,9 mg/ml terbukti dapat memicu proliferasi dan diferensiasi MSC menjadi osteoblas. Berdasarkan informasi tersebut, maka dosis ekstrak etanol bunga D. regia sebesar 0,8 mg/ml dan 0,9 mg/ml dapat dijadikan salah satu faktor yang dapat

menginduksi proliferasi dan diferensiasi MSC dalam medium kultur menjadi osteoblas. Sehingga, hasil kultur MSC berupa osteoblas ini dapat diaplikasikan pada penderita osteoporosis melalui terapi stem cell.

(27)

22 BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN

Simpulan dari penelitian ini adalah:

1. Pemberian ekstrak etanol bunga flamboyan (D. regia) memberikan pengaruh terhadap diferensiasi mesenchymal stem cell sumsum tulang mencit.

2. Deteksi dengan RT-PCR menunjukkan 4 sampel positif teramplifikasi gen alkaline phosphatase sebagai penyandi sel tulang.

3. Analisis RT-PCR menunjukkan pemberian ekstrak etanol bunga flamboyan (D.

regia) pada dosis 0,6 mg/ml, 0,7 mg/ml, 0,8 mg/ml dan 0,9 mg/ml mampu

menginduksi diferensiasi mesenchymal stem cell sumsum tulang mencit menjadi osteoblas.

Sedangkan saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah perlunya dilakukan uji toksisitas dari Delonik regia terhadap kondisi sel pada medium kultur.

Juga diharapkan di masa yang akan datang penelitian lanjutan mengenai aplikasi klinis sel punca mesenkimal terhadap penyakit degeneratif lebih banyak dilakukan demi kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia.

(28)

23 DAFTAR PUSTAKA

Adje, F., Lozano, Y. F., Meudec, E., Lozano, P., Adima, A., Agbo, N’zi, G., dan Gaydou, E. M. 2008. Anthocyanin Characterization of Pilot Plant Water Extract of Delonix regia Flowers. Molecules. 13: 1238-1245.

Aryulina, D., Muslim, C., Manaf, S., dan Winarni, W.E. 2004. Biologi 2 SMA dan MA Untuk Kelas XI. Penerbit Esis Erlangga, Jakarta.

http://bibitbunga.com/tanaman-flamboyan-royal-ponciana/. Diakses pada tanggal 18 April 2016.

Azab, S. s., dan Daim, M. A. 2013. Phytochemical, Cytotoxic, Hepatoprotective, Antioxidant, Properties of Delonix regia Leaves Extract. Med Chem Res. 22:

4269-4277.

Bunga, bibit. 2015. Tanaman Flamboyan (Royal Ponciana).

Black, EM., Lowings, JP., Smith, J., Heaton, PR., dan McElhinney, LM. 2002. A rapid RT-PCR Method to Differentiate six established genotypes of Rabies and Rabies-Related Viruses Using TaqMan Technology. J Virol Methods. 105: 25- 35.

Borah, P. 2011. Primer Designing for PCR. Sci Vis. Vol. 11 (3): 134-136.

Ceriana, R., Djuwita, I., dan Wresdiyati, T. 2014. Ekstrak Batang Sipatah-Patah Meningkatkan Proliferasi san Diferensiasi Sel Punca Mesenkimal Sumsum Tulang. Jurnal Veteriner. 4 (15): 436-445.

Chamberlain, G., Fox, J., Ashton, B., dan Middleton, J. 2007. Concise Review:

Mesenchymal Stem Cell: Their Phenotype, Differentiation Capacity, Immunological Features and Potential for Homing. Tissue Specifik Stem Cells.

25: 2739-2749.

Chantratia, W., Sukasem, C., Kaewpongsri, S., Srichunrusami, C., Pairoj, W., Thitithanyanont, A., Chaichoune, K., Ratanakron, P., Songsrem, T., Damrongwatanapokin, S., dan Landt, O. 2008. Qualitative Detection of Avian Influenza A (H5N1) Viruses: a comperative evaluation of four real-time nucleic acid amplification methods. Mol Cell Probes. 22 (5-6) :287-293.

Chen, C. S. 2002. Phorbol Ester Induced Elevated Oxidative Activity and Alkalization in a Subset of Lysosome. BMC Cell. Biol. 3: 1-11.

Dallas, S. L. and Bonewald, L. F. 2010. Dynamics Of The Transition From Osteoblast to Osteocyte. NIH Public Access. 437-443.

Djuwita, I., Pratiwi. I. A., Wiranto, A., dan Sabri, M. 2012. Proliferasi dan Diferensiasi Sel Tulang Tikus Dalam Medium Kultur In Vitro yang Mengandung Ekstrak Batang Cissus quadrangular Salibs. (Sipatah-Patah). Jurnal Kedokteran Hewan. 2(6): 78.

Djuwita, I., Riyacumala, V., Mohamad, K., Prasetyaningtijas, W. E., dan Nurhidayat.

2012. Pertumbuhan dan Sekresi Protein Hasil Kultur Primer Sel-Sel Serebrum Anak Tikus. Jurnal Veteriner. 13 (2): 125-135.

Ducy, P. 2000. CBFA1: A Molecular Switch on Osteoblast Biology. Developmental Dynamics. 219(4): 461-471.

Effendi, A. 2009. Skripsi : Pengaruh Conditioned Medium RAT Embryonic Fibroblast (CM- REF) Dengan dan Tanpa Leukemia Inhibitory Factor (LIF) Dalam Medium Terhadap Tingkat Proliferasi dan Sifat Pluripotensi Mesenchyal Stem Cell Sumsum Tulang Tikus Dalam Kultur In Vitro. Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

(29)

24 Federici E, Garrett R, Quintin A. 2004. Soybean Extract and Its Isoflavones, Genistein and Daidzein, Stimulate BMP-2 Expression and Bone Formation by Inhibiting the Mevalonate Pathway in Osteoblast Cells. Bone 34: 54-54.

Grunenwald. 2003. Methods in Molecular Biology: PCR Protocols Second Edition.

Edited by John M. S. Bartlett and David Starling. Humana Press. 603-610.

Halim, D., Murti, H., Sandra, F., Boediono, A., Djuwantono, T., dan Boenjamin, S.

2010. Stem Cell : Dasar Teori dan Aplikasi Klinis. Erlangga, Jakarta.

Hannum, S., Akashi, K., Suharsono, U. W., Hartana, A., Yokota, A., dan Suharsono.

2010. Isolasi Fragmen cDNA Dari Gen Penyandi Aktin Dari Melastoma malabathricum. Makara, Sains. 2 (14): 163-167.

Heim, M., Frank, O., Kampmann, G., Sochocky, N., Pennimpede, T., Fuchs, P., Hunziker, W., Weber, P., Martin, I., dan Bendik, I. 2004. The Fhytoestrogen Genistein Enhances Osteogenesis and Repress Adipogenic Differentiation of Human Primary Bone Marrow Stromal Cells. Endocrinology. 145 (2): 848-859.

Hewajuli, D. A dan Dharmayanti. 2014. Perkembangan Teknologi Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction dalam Mengidentifikasi Genom Avian Influenza dan Newcastle Disease. Dalam Yuwono, T. 2006. Teori dan Aplikasi Polymerase Chain Reaction. Penerbit Andi, Yogyakarta.

Hoffbrand, A. V., Moss, P. A. H., dan Pettit, J. E. 2006. Essential Haematology 5th . Asia: Blackwell Publishing. 129-181.

Huldani. 2012. Referat: Biomarker Remodeling Tulang. Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Dalam Thomas, SDC. 2012.

Bone Tunovour Markers. 35. 156-158.

Jahan, I., Rahman, S. M., Rahman, S. M., Kaisar, A. M., Islam, S. M., Wahab, A., dan Rashid, A. M. 2010. Chemical and Biological Investigations of Delonix regia (Bojer ex Hook.) Raf. Acta Pharm. 60: 207-215.

Jungalwala, F. B., dan Chama, H. R. 1962. Carotenoids in Delonix regia (Gulmohar) Flower. Biochemical Journal. 85: 1-8.

Junqueira, L. C., dan Carneiro, J. 2005. Basic Histology 11th Ed. Mc Graw Hill, New York.

Kawiyana, S. K. 2009. Osteoporosis, Patogenesis Diagnosis dan Penanganan Terkini.

(2)10.

Kenneth, L.J., dan Thomas S.D. 2001. Analysis of Relative Gene Expression Data Using Real-Time Quantitative PCR and the 2-ΔΔCT Method. Applied Biosystems, Foster City, California and Department of Pharmaceutical Science, College of Pharmacy, Washington State University, Pullman, Washington. 25: 402-408.

Kuehnel, W. 2003. Color Atlas of Cytology, Histology and Microscopic Anatomy 4th Ed. Thieme Stuttgart, New York.

Kumar, A. V., Shaik, R., dan Yeshwanth, D. 2013. Phytochemical Evaluation of Delonix regia, Samanea saman, Bauhinia variegatga. International Journal of Research in Pharmacy and Chemistry. 3(4): 768-772.

Kurniawati, Y., Adi, S., Achadiyani., Suwarsa, O., Erlangga, D., dan Putri, T. 2015.

Kultur Primer Fibroblas: Penelitian Pendahuluan. Artikel Penelitian. 38(1): 34.

Kusumo, DA. 2012. Eprint.undipac.id. Tanggal akses 26 Januari 2016.

Lubis, NDA. 2011. Repository.usu.ac.id>bitstream. Tanggal akses 28 Desember 2015.

Mariajancyrani, J., Chandramohan, G., Saravanan, P., dan Savaraj, S. 2013. In-Vitro Antioxidant Potential of Delonix regia Leaves. Scholars Academic Journal of Pharmacy (SAJP). 2(6): 468-471.

(30)

25 Margono, A. 2012. Potensi Sel Punca Mesenkhim Asal Jaringan Lemak dengan Produk Plasma untuk Produk Plasma untuk Regenerasi Sel Odontoblas Jaringan Pulpa In-Vitro. Disertasi. Fakultas Kedokteran Gigi, Program Doktor, Ilmu Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta. Dalam Cherly T Gomillion KJLB. Stem Cells and Adipose Tissue Engineering. J of Biomaterials. 2006: 6052.

Mescher, A. L. 2010. Junqueira's Basic Histology Twelfth Edition. The McGraw-Hill Companies. Inc.

Masters, R. J., Palsson, O. B., dan Thomson, A. J. 2007. Human Cell Culture 6:

Embryonic Stem Cells. Spinger, Netherlands.

National Institutes of Health, U.S. 2009. The Adult Stem Cell. In Stem Cell Information. http://stemcells.nih.gov/info/scireport/pages/chapter4.aspx.

Tanggal Akses 16 Maret 2016.

Nur’utami, A. D. 2011. Metode Analisis Isolasi Identifikasi Salmonella Thyparium Pada Susu Dengan Metode Real-Time PCR (Polymerase Chain Reaction).

Skripsi. Institute Pertanian Bogor. Bogor.

Ogita, M., Rached, M. T., Dworakowski, E., Bilezikian, P., dan Kousteni, S. 2008.

Differentiation and proliferation of Periosteal Osteoblast Progenitors Are Differentially Regulated by Estrogens and Intermittent Parathyroid Hormon Adminiatration. Endocrinology. 149(11): 5713-5723.

Phareks, J., dan Chanda, S. 2007. Antibacterial and Phytochemical Studies on Twelve Species of Indian Medicinal Plants. African Journal of Biomedical Research.

10: 175-181.

Ponnusami, V., Aravindhan, R., Karthik, N. R., Ramadoss, G., dan Srivastava, S. N.

2009. Adsorpsion of Methylen Blue Onto Gilmohar Plant Leaf Powder:

Equilibrium, Kinetic, and Thermodinamic Analysis. Journal of Evironmental Protection Science. 3: 1-10.

Prayoga, W dan Wardani, A. K. 2015. Polymerase Chain Reaction Untuk Deteksi Salmoella sp.: Kajian Pustaka. Jurnal Pangan dan Agroindustri. 3(2).

Price, S. A dan Wilson, L. M. 1995. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. EGC, Jakarta.

Pryor, W. A., Stahl, W., dan Rock, C. L. 2000. Beta Carotene : from Biochemistry to Clinical Trials. Nutrition Reviews. 58 : 39-53.

Roberts, A. B., Flanders, K. C., Heine, U. I., Jakoule, S. Kondaiah, P., Kim, S. J., dan Sporn, M. B. 1990. Transforming Growth Factor-â: Multifunctional Regulator Differentiation and Development. Philosiphical Transaction of the Royal Society of London. 327: 145-154.

Sandhaanam, S. D., Pathalam, G., Dorairaj, S., Savariar, V & Research Departement of Advanced Zoology and Biotecnology. 2013. Mesenchymal Stem Cell (MSC) : Identification, Proliferation and Diferentiation. A Review Article.

Sardjono, T., Caroline., Setiawan, M., Friska., Saputra, V., dan Aniko, A. 2009.

Application of a Modified Methode For Stem Cell Isolation from Lipoaspirates in a Basic Lab. Stem Cell Isolation From Lipoaspirates. 18 (2).

Stevenson, J. S. and Mars, M. S. 2007. An Atlas of Osteoporosis Thrid Edition. Informa Healtcare. London, UK.

Shabir, G., Anwar, F., Sultan, B., Khalid, Z. M., Afzal, M., Khan, Q. M., dan Ashrafuzzaman, M. 2011. Antioxidant and Antimicrobial Attributes and Phenolic of Different Solvent Extracts From Leaves, Flowers, and Bark of Gold Mohar [Delonix regia (Bojer ex Hook) Raf]. Molecules. 16 (9) :7302- 7319.

(31)

26 Shanmukha, I., Patel, H. P., Patel, J., dan Riyazunnisa. 2011. Quantification of Total Phenol and Flavonoid Content of Delonix regia Flowers. International Journal of ChemTech Research. 3 (1): 280-283.

Singer, FR dan Eyre, D. R. 2008. Using Biochemical Markers of Bone Turnover in Clinical Practice. Cleveland Clinic Journal. 75(10): 739-750.

Singh, S., dan Kumar N. S. 2014. A Review : Introduction to Genus Delonix. World Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. 3(6): 2042-2055.

Steenis, C. G. G. J., Bloembergen, S., dan Eyma. P. J. 2013. Flora: untuk Sekolah di Indonesia. Moeso, S., Soenarto, H., Soerjo, SA., Wibisono., Margono, P., dan Soemantr, W., Editor. Cetakan VI. Pradnya Paramita, Jakarta: halaman 35-49, 169-172.

Suryani, I. 2015. Pengujian Ekstrak Etanol Bunga Flamboyan Delonix regia (Boj. ex Hook.) Raf. Terhadap Proliferasi dan Diferensiasi Sel Punca Mesenkimal Sumsum Tulang Mencit (Mus musculus). Skripsi . Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Tortora, G. J dan Derrickson, B. H. 2009. Vision. Principle of Anatomy and Physiology 12th Ed. Philadephia: Jhon Wiley and Sons Publisher. 8: 604.

USDA (Uniteed States Departement of Agriculture). 2015. Delonix regia (Bojer. Ex Hook.)Raf.RoyalPoinciana.

http://plants.usda.gov/core/profile?symbol=DERE. Tanggal akses 14 Januari 2016.

Wardhana, W. 2012. Faktor-Faktor Risiko Osteoporosis Pada Pasien Dengan Usia Di Atas 50 Tahun. Skripsi. Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Semarang.

Widjiati, Madyawati, Sri, P., Rimayanti, A., dan Budiayanto, A. 2015. Terapi Sel Punca Mesenkimal Sumsum Tulang Tikus dalam Meregenerasi Sel Sitotrofoblas Nekrosis yang Dipapar Carbon Black. Jurnal Veteriner. 16 (2):

265-273.

Wislow, T. 2001. http://stemcells.nih.gov/StatisticResources/info/scireport/image/21.

Jpg. Tanggal akses 25 Januari 2016.

Wobus, A. M dan Boheler, K. R. 2006. Stem Cells. Springer, Germany.

Yusuf, H. 2011. Delonix regia (Boj. Ex Hook.) Raf. Badan Perbenihan Tanaman Hutan, Sulawesi.

Yusuf, Z. K. 2010. Polymerase Chain Reaction (PCR). Jurnal Saintek. Staf Pengajar Jurusan Kesehatan Masyarakat FIKK Universitas Negeri Gorontalo, Gorontalo. 5 (6).

Zhang, D.W., Cheng, Y., Wang, N.L., Zhang, J. C., Yang, M. S., dan Yao, X. S. 2008.

Effect of Total Flavonoids and Plavonol Glycosides from Epimedium Koreanum Nakai on The Proliferation and Differentiation of Primary Osteoblast. Phytomedicine. 15(2): 55-61.

Zur Nieden,N.I., Kempka,G., Ahr,H.J. 2003. In Vitro Differentiation of Embryonic Stem Cells Into Mineralized Osteoblasts. Differentiation. 71: 18–27.

(32)

28

Lampiran 1. Format Biodata Ketua/Anggota Tim Peneliti BIODATA KETUA PENGUSUL

A. Identitas Diri

1 Nama Lengkap (dengan gelar) Dr. Kartini Eriani. M.Si

2 Jenis Kelamin P

3 2

Jabatan Fungsional Lektor

4 NIP 197004211999032001

5 NIDN 0021047001

6 Tempat dan Tanggal Lahir Banda Aceh, 21 April 1970

7 Alamat Rumah Jl. Purnawirawan No 11 Geuceu Komplek 8

9 9

Nomor HP 085277060751

9 Alamat Kantor Jl. Syeh Abdurrauf No 3 Darussalam

SSyiah Kuala Darussalam Banda Aceh 23111 10 Nomor Telepon/Fax 065141793

11 Alamat e-mail [email protected]

12 Lulusan yg telah dihasilkan S1 = 19 orang, S2 =1 orang., S3 = ...

13 Mata Kuliah yg diampu 1. Struktur Hewan 2. Perkembangan Hewan 3. Pengantar Bioteknologi 4. Reproduksi Hewan 5. Endokrinologi 6. Bioteknologi Hewan 7. Imunologi (S2) 8. Kriopreservasi (S2) 9. Manipulasi Embrio (S2) 10. Sitogenetika (S2) B. Riwayat Pendidikan

S-1 S-2 S-3

Nama Perguruan Tinggi Universitas Syiah Kuala

Institut Pertanian Bogor

Institut Pertanian Bogor

Bidang Ilmu Biologi Biologi Biologi

Tahun Masuk- Lulus 1989-1994 1995-1998 2000 – 2005 Judul

Skripsi/Thesis/Disertasi

Pengamatan Siklus Estrus Melalui Preparat Ulas Vagina Mencit (Mus musculus albinus)

Pengaruh Penambahan Asam Amino Dalam Medium Kultur Bebas Serum Terhadap Perkembangan

Preimplantasi Embrio Mencit In Vitro

Viabilitas Gamet Setelah Preservasi Ovarium dan Epididimis Serta Pemanfaatannya Untuk Produksi Embrio Kucing Secara In Vitro Nama

Pembimbing/Promotor

Dra. Sunarti, MS

Prof. Dr. drh. Yuhara Sukra.

Dr. drh. Hasim, DEA.

Prof. Dr. drh.

Yuhara Sukra.

Prof. Dr. drh. Arief Boediono.

(33)

29 Drs. Abdul Hadi mahmud, MS

Dr. drh. Ita Djuwita, M.Phil

Dr. drh. Ita Djuwita, M.Phil

Dr. Sony Heru Sumarsono, M.Sc C. Pengalaman Penelitian Dalam 5 Tahun Terakhir

No. Tahun Judul Penelitian Pendanaan

Sumber Jml (Juta Rp) 1 2009 Pengaruh Asap Rokok terhadap Infertilitas

(Kualitas Spermatozoa, Defek Makroskopis dan Mikroskopis Testis) pada Mencit Jantan (Mus musculus albinus)

Risbin Iptekdok Litbangkes

125

2 2015 Optimalisasi Potensi Kerbau dalam Usaha Meningkatkan Ketahanan Pangan di Aceh dengan metode Pembekuan Spermatozoa

Project 7in1 70

3 2015 Analisis Genomik dan proteomik

Plasmodium berghe sebagai Model Kajian terhadap Infeksi Malaria pada Manusia

DIKTI 65

4 2016 Optimalisasi Potensi Kerbau dalam Usaha Meningkatkan Ketahanan Pangan di Aceh dengan metode Pembekuan Spermatozoa

Project 7in1 130

5 2016 Analisis Genomik dan proteomik

Plasmodium berghe sebagai Model Kajian terhadap Infeksi Malaria pada Manusia

DIKTI 60

6 2018 Kripreservasi Sperma Ikan Depik (Rasbora tawarensis) Spesies Endemik dan Terancam Punah di Danau Laut Tawar, Provinsi Aceh

DRPM/

DIKTI 7 2018 Kriopreservasi Sperma Ikan Kawan

(Propuntius tawarensis) Pengujian Jenis Ikan dan Konsentrasi Antioksidan

PNBP 86

D. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir

No Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat Pendanaan

Sumber Jml (Juta Rp) 1 2014 IbM Pemanfaatan Sampah Plastik di

Perkampungan Tsunami Indonesia- Tiongkok, Desa Neuhen, Aceh Besar

Dikti 32

2 2015 Pemanfaatan Produk Ekstrak Daun

Kedondong Pagar (Lannea coromandelica) untuk Meningkatkan Kesehatan dan Daya Tahan Tubuh Unggas

BOPTN 30

(34)

30 3 2015

Aplikasi Inseminasi Buatan Menggunakan Semen Beku Aceh dalam Meningkatkan Perekonomian Peternak di Aceh besar

BOPTN 20

E. Publikasi Artikel Ilmiah Dalam Jurnal Alam 5 Tahun Terakhir

No Judul Artikel Ilmiah Nama Jurnal Volume/

Nomor/Tah un 1 Development of Domestic Cat

Embryo Produced by Preserved sperm.

Hayati Journal of Biosciences ISSN 1978-3019 Scopus

15/4/2008

2 Viabilas Spermatozoa yang Dikoleksi dari Ejakulat, Duktus Deferens dan Epididimis Kambing Kacang (Capra capri) setelah Kriopreservasi

Natural

ISSN 1141-8513

9/1/2009

3 The effect of cigarettes smoke exposured cause fertility of male mice (Mus musculus).

Natural

ISSN 1141-8513

10/2/ 2010

4 Pengaruh pemberian ekstrak etanol akar anting-anting (Acalypha indica L) terhadap kualitas spermatozoa mencit.

Jurnal Kedokteran Yarsi ISSN 0854-1159

18/1/2010

5 Potency of java gingseng (Talinum paniculatum Gaertn.) root exttract on quality and viability of mice sperm

Natural

ISSN 1141-8513

11/1/2011

6 The potential of jarak cina (Jatropha multifida L.) secretion in healing new- wounded mice.

Natural

ISSN 1141-8513

11/1/2011

7. Produksi embrio kucing secara in vitro dari spermatozoa hasil preservasi melalui fertilisasi mikro.

Jurnal Kedokteran Hewan ISSN 0854-1159

7/1/2013

8. Efek ekstrak etanol akar anting-anting (Acalypha indica L) terhadap Libido mencit

Jurnal Kedokteran Yarsi ISSN 0854-1159

21/1/2013

9. A preliminary observation on the effect of sperm extenders on the fertilization and hatching rates of seurukan fish (Osteochilus vittatus) eggs

ACCL Bioflux

ISSN 1844-9166 (online) ISSN 1844-8143 (print) Scopus

9/2/2016

10 The effect of equilibration time on semen freezing of local swamp buffalo (Bubalus bubalis) with

combination extender of lactose and glycerol

Nusantara Bioscience ISSN: 2087-3948 E ISSN: 2087-3956

DOI:

10.13057/nusbiosci/n090113

9/1/2017

11 Fertilization and development of mice (Mus musculus) embryo in vitro after

Nusantara Bioscience ISSN: 2087-3948 E ISSN: 2087-3956

9/2/2017

(35)

31

supplementing the extract of Pandanus conoideus

DOI:

10.13057/nusbiosci/n090216 12 Effect of Temperature Shock on the

Triploidization Success of Seurukan Fish (Osteochilus vittatus)

Biosaintifika p-ISSN 2085-191X e-ISSN 2338-76109

Acredited

9/2/2017

13 Cryopreservation Of Acehnese Swamp Buffalo (Bubalus bubalis) Semen With Combination of Glycerol and Lactose

Biosaintifika p-ISSN 2085-191X e-ISSN 2338-76109

Acredited

9/3/2017

14 Utilization of Oocytes Collected From Preserved Ovarian for In Vitro Production of Cat Embryos

Biosaintifika p-ISSN 2085-191X e-ISSN 2338-76109

Acredited

10/1/2018

15 Quality Enhancement of Aceh Swamp Buffalo (Bubalus bubalis) Frozen Semen by Supplementing β-Carotene

Tropical Animals Science Journal

2615-790X (Online) 2615-787X (Print)

scopus

41/1/2018

16 Potensi Ekstrak Daun Flamboyan [Delonix regia (Boj. Ex Hook.) Raf]

terhadap Peningkatan Aktivitas dan Kapasitas Makrofag

Jurnal BioLeuser 2597-6753

1/3/2017

17 Immunostimulatory Effect of Methanol Extract of Flamboyant Leaf [Delonix regia (Boj. ex Hook.) Raf.] in Mice

Jurnal Natural 1411-8513 (Print) 2541-4062 (Online)

18/1/2018

18 Neurogenic Differentiation of Bone Marrow Mesenchymal-Like Stem Cell Induced by Delonix regia Flowers Extract

Biosaintifika p-ISSN 2085-191X e-ISSN 2338-76109

Acredited

10/2/2018

19 Effect of glutathione on sperm quality after shor-term cryopreservation in seurukan fish Osteochilus vittatus (Ciprinidae)

Theriogenology ISSN: 0093-691X Jurnal Internasional

122/2018

F. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir No

.

Nama Pertemuan Ilmiah/Seminar

Judul Artikel Ilmiah Waktu dan Tempat

1

Seminar Nasional XXI Perhimpunan Biologi Indonesia

Perkembangan Preimplantasi Embrio mencit dalam Kultur Bebas Serum

5 Maret 2012, Banda Aceh, Indonesia

(36)

32 2 Aceh veterinary

International

Adaptation Process of Simeulue Wild Buffalo to Spermatozoa Freezing as Aplication of Artificial Insemination

12-13 Oktober 2015, Banda Aceh

Indonesia

3

Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia

Fertilisasi dan perkembangan embrio preimplantasi mencit (Mus musculus) secara in vitro setelah pemberian ekstrak buah merah (Pandanus conoideus)

17 September 2016 Bogor

Indonesia

4

The 6th Annual International Conference

Study of adaptation of simeuleu wild buffallo behavior for semen collection

4-6 Oktober 2016 Banda Aceh Indonesia 5

The 6th Annual International Conference

Detection of erythrocyte membrane protein of mice infected plasmodium berghei by using western blot analysis

4-6 Oktober 2016 Banda Aceh Indonesia

6

Seminar Nasional Biologi ke-5 Universitas Negeri Semarang

Effect of temperature shock on the successful of triploidization of the Seurukan fish Osteochilus vittatus

29 Oktober 2016 Semarang Indonesia

7

International Conference on Biodiversity

The induction of flamboyant flowers Delonic regia (Boj. Ex Hook) Raf. Extract on

differentiation of bone marrow mesenchymal stem cell

proliferation

4-6 November 2016 Surakarta

Indonesia

8

SYMPOSIUM &

WORKSHOP STEM CELL FOR THE FUTURE

MEDICINE, FROM BASIC TO CLINIC 2017

Alkaline Phosphatase Expression Obtained with Mesenchymal Stem Cells Induced by Flamboyant Flower Extract Delonix regia (Boj. Ex Hook) Raf.

13-14 Agustur 2017 Surabaya Indonesia

G. Karya Buku dalam 5 Tahun Terakhir

No. Judul Buku Tahun Jumlah

Halaman Penerbit

- - - - -

H. Perolehan HKI dalam 5-10 Tahun Terakhir

No. Judul/Tema HKI Tahun Jenis Nomor P/ID

- - - - -

I. Pengalaman Merumuskan Kebijakan Publik/Rekayasa Sosial Lainnya dalam 5 Tahun Terakhir

(37)

33 No. Judul/Tema/rekayasa sosial

lainnya yang telah diterapkan Tahun Tempat penerapan

Respon masyarakat

- - - - -

J. Penghargaan dalam 10 Tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi, atau institusi lainnya)

No

. Jenis Penghargaan Institusi Pemberi Penghargaan

Tahun

Darussalam, 06 Juni 2018 Pengusul,

Dr. Kartini Eriani, M.Si NIP. 19700421 1999032001

[email protected]>

Gambar

Tabel 1. Rencana Target Capaian Tahunan
Tabel 2. Jenis primer yang digunakan dalam penelitian
Gambar 5.1. Morfologi sel fibroblas dalam medium kultur  (A: Inti sel, B: Penjuluran sitoplasma)
Gambar 5.2. Morfologi sel saraf dalam medium kultur. a. Sel saraf muda, b. Sel saraf  dewasa (A: Inti sel, B: Sitoplasma, C: Akson)
+7

Referensi

Dokumen terkait

DAFTAR RIWAYAT HIDUP.. Ilham Muchtar dan Abbas Baco Miro). Penelitian ini mengkaji tentang pandangan Islam terhadap Adat Mappacing di Desa Bonto Mate’ne Kecamatan Mandai

Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU), Pendapatan Asli Daerah (PAD), Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA), dan Luas Wilayah Terhadap Belanja Modal Pada Kabupaten dan Kota

 Jumlah keberangkatan (embarkasi) penumpang angkutan laut dalam negeri melalui pelabuhan laut Tanjung Emas Semarang pada bulan Agustus 2017 sebanyak 12.931 orang,

Bahwa Ketua Pengadilan Negeri Tasikmalaya dalam menentukan limit telah menggunakan jasa penilai yang independen yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor :

Dari kenyataan diatas penulis memandang penelitian ini sangat perlu dilakukan dengan beberapa pertimbangan: Pertama, pendidikan karakter di sekolah atau madrasah

Penetasan adalah perubahan intracapsular (tempat yang terbatas) ke fase kehidupan (tempat luas), hal.. ini penting dalam perubahan- perubahan morfologi hewan. Penetasan

Masalah yang dibahas dalam penulisan ini adalah cara memberikan warna kepada semua simpul-simpul yang ada, sedemikian rupa sehingga 2 simpul yang berdampingan

Komposisi vegetasi gulma yang ditemukan pada 3 lokasi penelitian yaitu 39 jenis termasuk dalam 15 famili. Keragaman gulma didominasi oleh famili Poaceae dan