EVALUASI KINERJA DPR MASA SIDANG IV TS 2020-2021 (8 Maret – 9 April 2021)
“DPR, KAPAN MAJUNYA SIH?”
Jakarta, 5 Mei 2021
FORUM MASYARAKAT PEDULI PARLEMEN INDONESIA FORMAPPI
JL. Matraman Raya No. 32 B, Jakarta Timur 13150, Indonesia.
T: 021-8193324; F; 021-85912938; E: [email protected];
W : www.parlemenindonesia.org.
Rekening Giro Bank BRI KCP Menteng No. 0502-01-000229-30-7 a/n YAYASAN FORMAPPI INDONESIA.
NPWP: 72.066.244.7.001.000
i
DAFTAR ISI
RINGKASAN EKSEKUTIF/RELEASE ... 1
A. Pengantar ... 1
B. EVALUASI KINERJA DPR DALAM PELAKSANAAN FUNGSI-FUNGSI POKOK ... 1
1. Evaluasi Kinerja DPR dalam Pelaksanaan Fungsi Legislasi ... 1
2. Evaluasi Pelaksanaan Fungsi Anggaran (Budgeting) ... 2
3. Evaluasi Pelaksanaan Fungsi Pengawasan ... 3
C. Evaluasi Kelembagaan ... 6
D. Kesimpulan ... 7
NASKAH LENGKAP ... 9
I. PENGANTAR ... 9
II. FUNGSI LEGISLASI ... 11
A. Pengantar ... 11
B. Target Pelaksanaan Fungsi Legislasi MS IV... 11
C. Catatan atas Kinerja Legislasi MS IV ... 11
D. Kesimpulan ... 13
III. FUNGSI ANGGARAN: “Kualitas Kinerja Menurun” ... 14
A. Pengantar ... 14
B. Evaluasi Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2020 ... 15
C. Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2021 ... 17
D. Kewenangan Badan Anggaran (Banggar) Diamputasi ... 22
E. Anggaran DPR 2021 dan Rencana Kerja Anggaran (RKA) DPR 2022... 23
F. Kesimpulan dan Saran ... 24
IV. FUNGSI PENGAWASAN: “MENCARI-CARI DAN INGKAR JANJI” ... 25
A. Pengantar ... 25
B. Realisasi Pengawasan... 26
C. Kesimpulan ... 40
V. BIDANG KELEMBAGAAN ... 43
A. Pengantar ... 43
B. Pimpinan ... 43
C. Komisi ... 46
D. Badan ... 48
ii
E. Rapat Paripurna ... 49
F. Kesimpulan dan Saran ... 49
VI. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 50
LAMPIRAN: ... 51
Tabel 4: Rekap Lapsing Rapat-rapat Pengawasan Pada MS IV TS 2020-202 oleh Komisi-komisi ... 51
Tabel 4: Pelaksanaan Pengawasan oleh Komisi terhadap Tindak Lanjut Temuan BPK Pada MS IV TS 2020-2021 ... 51
Tabel 4: Pelaksanaan Pengawasan oleh Komisi terhadap Kebijakan Pemerintah Selama MS IV TS 2020- 2021 ... 53
Tabel 5: Pelaksanaan Pengawasan oleh Komisi terhadap UU dan Aturaan Turunannya... 169
Tabel 6: Pelaksanaan Pengawasan oleh Komisi terhadap APBN MS IV TS 2020-2021 ... 194
LIPUTAN MEDIA ... 200
1 RINGKASAN EKSEKUTIF/RELEASE
EVALUASI KINERJA DPR MASA SIDANG IV TAHUN SIDANG 2020-2021
DPR, KAPAN MAJUNYA SIH?
A. Pengantar
Evaluasi kinerja DPR merupakan salah satu kegiatan rutin FORMAPPI selama ini. Evaluasi tersebut dimaksudkan sebagai salah satu bentuk kontrol publik terhadap DPR. Sebagai lembaga publik dengan kekuasaan yang besar, kontrol publik menjadi sebuah keniscayaan agar DPR tidak sewenang-wenang.
Oleh karena itu FORMAPPI sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil berikhtiar untuk secara konsisten menghadirkan evaluasi atas kinerja DPR. Dengan menghadirkan evaluasi secara konsisten, DPR diharapkan menyadari bahwa apapun yang mereka kerjakan selalu ada di bawah pengawasan publik.
Evaluasi Kinerja DPR Masa Sidang (MS) IV Tahun Sidang (TS) 2020-2021 mencakup rencana dan pelaksanaan atas rencana-rencana pelaksanaan fungsi pokok DPR dalam kurun waktu sejak 8 Maret s/d 9 April 2021 (33 hari kalender atau 23 hari kerja) dan masa reses dari 10 April s/d 5 Mei 2021 (26 hari kalender atau 18 hari kerja). Alokasi waktu yang disediakan untuk Fungsi Legislasi (L) 30%, Fungsi Anggaran (A) 40%, dan Fungsi Pengawasan (P) 30% dari waktu yang tersedia. Pelaksanaan setiap fungsi tersebut akan disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan 3 (tiga) fungsi Dewan.
Evaluasi kinerja ini akan mencakup 4 bagian penting: pertama, terkait pelaksanaan fungsi legislasi.
Kedua, terkait pelaksanaan fungsi anggaran. Ketiga, fungsi pengawasan. Keempat, evaluasi kelembagaan.
B. EVALUASI KINERJA DPR DALAM PELAKSANAAN FUNGSI-FUNGSI POKOK 1. Evaluasi Kinerja DPR dalam Pelaksanaan Fungsi Legislasi
Kinerja pelaksanaan fungsi legislasi DPR selama MS IV belum mengalami kemajuan signifikan dibandingkan dengan MS sebelumnya. Jika di masa sidang terdahulu (MS III) tak satu pun hasil kerja legislasi yang bisa ditorehkan DPR, maka pada MS IV situasinya nyaris tak berubah. Sedikit perbedaan hanya ditunjukkan melalui pengesahan Daftar RUU Prioritas Prolegnas 2021 dan 1 RUU Kumulatif Terbuka yakni Rancangan Undang-Undang tentang Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dengan Negara-negara EFTA (RUU IE-CEPA), yang dibahas oleh Komisi VI.
Penetapan Prolegnas Prioritas 2021 tak bisa dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa karena momentumnya sudah terlambat. Sebagai sebuah perencanaan, Daftar RUU Prioritas mestinya harus sudah ditetapkan sebelum tahun pelaksanaannya. Jika Prolegnas Prioritas 2021 dimaksudkan sebagai rujukan pelaksanaan fungsi legislasi sepanjang tahun 2021, maka penetapan Prolegnas Prioritas mestinya harus sudah dilakukan di akhir tahun 2020. Penetapan di MS IV hanya akan berakibat pada minimnya hasil legislasi karena waktu pembahasan yang kian tipis sebagai efek keterlambatan penetapan Prolegnas Prioritas. Keterbatasan waktu yang tersisa
2
sebagai akibat molornya pengesahan Prolegnas Prioritas 2021 diperparah dengan kegagalan DPR untuk mengesampingkan RUU-RUU Kontroversial dari daftar RUU Prioritas tersebut. Keputusan untuk tetap mempertahankan RUU Kontroversial hanya akan memberatkan DPR dalam upaya menghasilkan lebih banyak RUU Prioritas. RUU Kontroversial seperti RUU Minol, RUU Perlindungan Tokoh dan Simbol Agama, RUU Pemindahan Ibukota merupakan beberapa RUU yang potensi menimbulkan kontroversi itu.
Pengesahan 1 RUU Kumulatif Terbuka pada MS IV juga bukan sebuah prestasi luar biasa. RUU Kumulatif Terbuka itu bukan menjadi bagian dari politik legislasi yang direncanakan sesuai dengan visi dan misi DPR periode 2019-2024. RUU Kumulatif Terbuka merupakan hasil ratifikasi perjanjian RI dengan negara tertentu. Karenanya, pengesahan satu RUU Kumulatif Terbuka di MS IV sesungguhnya menjadi pelipur lara di tengah mandulnya DPR menghasilkan RUU Prolegnas Prioritas.
2. Evaluasi Pelaksanaan Fungsi Anggaran (Budgeting)
Sama seperti kinerja pelaksanaan fungsi legislasi, kinerja pelaksanaan fungsi anggaran DPR pada MS IV juga terlihat sangat rendah atau buruk. Rendah atau buruknya kinerja fungsi anggaran sudah bisa dijelaskan mulai dari penetapan target atau rencana pelaksanaan fungsi anggaran pada MS IV. Tidak sinkronnya rencana yang ditetapkan oleh Badan Musyawarah dan Ketua DPR di dalam Pidato Pembukaan MS IV memperlihatkan tata kelola pelaksanaan fungsi anggaran yang tidak fokus dan tidak terarah. Menurut Keputusan Rapat Pengganti Bamus, pelaksanaan fungsi anggaran pada MS IV adalah melakukan Evaluasi pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2020.
Sedangkan Puan Maharani dalam pidatonya memberitahukan bahwa dalam pelaksanaan fungsi anggaran DPR mendorong pemerintah agar dapat merealisasikan program dan anggaran secara tepat waktu dan tepat sasaran. Realisasi program dan anggaran tersebut harus disesuaikan dengan upaya penyesuaian fiskal terkait situasi Covid-19 dengan mengupayakan refocussing anggaran dan program. Dua sumber utama informasi mengenai perencanaan pelaksanaan fungsi anggaran sudah menunjukkan ketidakjelasan soal apa yang menjadi fokus utama DPR dalam melaksanakan fungsi anggaran selama MS IV.
Rencana yang tidak jelas itu kemudian terbukti melalui hasil pelaksanaan fungsi anggaran yang menjadi lebih buruk dari masa sidang sebelumnya. Selain itu kegiatan pelaksanaan fungsi anggaran pada MS IV hanya mengulangi apa yang sudah dilakukan oleh DPR pada masa sidang terdahulu. Terkait rencana yang ditetapkan Bamus yakni mengevaluasi pelaksanaan APBN TA 2020, FORMAPPI hanya menemukan 2 Komisi yang melakukan rapat untuk mengevaluasi hal tersebut. Dua Komisi tersebut adalah Komisi III yang melakukan rapat kerja dengan satu Kementerian dan Komisi X dengan sebuah lembaga. Sedangkan komisi-komisi lain tak nampak mengevaluasi pelaksanaan APBN 2020 sebagaimana diagendakan oleh Bamus.
Sementara terkait rencana yang disampaikan Ketua DPR pada Pidato Pembukaan MS IV yakni mendorong pemerintah agar dapat melaksanakan program dan anggaran secara tepat waktu dan tepat sasaran dengan mempertimbangkan kebijakan mengenai realokasi dan refocussing anggaran untuk menangani Covid 19. Peran DPR memang sangat strategis dalam memberikan persetujuan atas usulan realokasi dan refocussing anggaran yang diajukan Pemerintah sebagaimana diatur dalam Peraturan Nomor 208/PMK.02/2020 tentang Tata Cara Revisi
3
Anggaran Tahun Anggaran 2021. Peraturan ini menegaskan bahwa refocussing dan realokasi anggaran APBN TA 2021 harus mendapat persetujuan DPR. Peran strategis ini ditunjukkan oleh DPR dengan memberikan dukungan kepada Kementerian/Lembaga yang mengusulkan realokasi dan refocussing anggaran mereka demi kepentingan menangani dampak Covid-19. Sayangnya tak semua Komisi di DPR terlihat melakukan pembahasan dengan mitra kerja mereka terkait realokasi dan refocussing anggaran tersebut. Hanya ada 5 Komisi yang melakukan Raker dan RDP, yakni Komisi IV dengan 3 Kementerian, Komisi V dengan 5 K/L, Komisi VIII dengan 1 Kementerian, Komisi IX dengan 1 Lembaga, dan Komisi X dengan 3 K/L. Peran strategis DPR dalam memberikan persetujuan atas usulan realokasi dan refocussing anggaran mestinya bisa berkontribusi signifikan dalam menanggulangi dampak pandemi jika dilakukan secara sungguh-sungguh. Pemahaman DPR sebagai wakil rakyat atas berbagai kebutuhan rakyat di tengah situasi pandemi Covid-19 menjadi modal utama DPR dalam mempertimbangkan usulan realokasi dan refocussing anggaran.
Minimnya peran DPR dalam pembahasan anggaran terkait realokasi dan refocussing anggaran di tengah pandemi juga disumbang oleh “kealpaan” Badan Anggaran dalam memfasilitasi pembahasan antara Komisi dengan mitra kerja masing-masing. Padahal sesuai dengan ketentuan Tatib DPR khususnya Pasal 172 ayat (1) Banggar mempunyai peran sentral dengan menjadi fasilitator pembahasan mengenai perubahan anggaran antara Komisi dan mitra kerja masing- masing. Peran sentral Banggar tersebut bisa dipahami karena Banggar jugalah yang melakukan pembahasan puncak RAPBN bersama dengan Pemerintah. Sayangnya peran Banggar itu seolah- olah raib di MS IV ketika komisi-komisi melakukan pembahasan mengenai realokasi dan refocussing anggaran. FORMAPPI tak menemukan adanya rapat Banggar selama MS IV. Jika pembahasan mengenai perubahan anggaran tak perlu melibatkan Banggar lagi, maka mungkin saatnya mengevaluasi keberadaan Banggar ini.
Di tengah peran minim DPR dalam melakukan pembahasan anggaran bersama dengan pemerintah terkait realokasi dan refocussing anggaran, DPR sendiri nampaknya tak merasa sebagai lembaga yang perlu memelopori refocussing anggaran demi kepentingan menangani dampak Covid-19. Usulan kenaikan anggaran DPR sebagaimana disampaikan oleh Ketua BURT pada rapat paripurna 9 April 2021 memperlihatkan keinginan DPR mengajukan kenaikan anggaran pada RAPBN 2022. Kenaikan anggaran hingga hampir 8 triliun itu artinya terjadi lonjakan sebesar 33,33% dari anggaran DPR pada APBN 2021 yang jumlahnya hampir 6 triliun. Rencana kenaikan anggaran ini tentu tidak realistis dan menunjukkan ketidakpekaan DPR di tengah bencana pandemi dan krisis ekonomi masyarakat.
3. Evaluasi Pelaksanaan Fungsi Pengawasan
Rencana pelaksanaan fungsi pengawasan DPR juga ditemukan melalui dua sumber yakni berdasarkan agenda yang ditetapkan oleh Badan Musyawarah dan dari pidato Ketua DPR pada Rapat Paripurna Pembukaan MS IV. Mengacu pada agenda yang diputuskan Bamus, pelaksanaan fungsi pengawasan DPR pada MS IV difokuskan pada beberapa kegiatan yakni: (a) Komisi membahas hal-hal yang terkait dengan Bidang Pengawasan; (b) Tindak lanjut terhadap hasil kunjungan kerja perseorangan maupun Tim pada saat Reses Masa Persidangan III Tahun Sidang
4
2020-2021. Kecuali itu juga memberikan pertimbangan untuk mengisi suatu jabatan Calon Duta Besar Negara Sahabat, Pejabat Publik dan Kewarganegaraan.1
Sementara Ketua DPR menyebutkan beberapa rencana pelaksanaan fungsi pengawasan yaitu: (1) permasalahan Asuransi Jiwasraya, Dana Investasi ASABRI; (2) kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Riau dan Kalimantan Barat serta masuknya Virus Corona B117 ke Indonesia; (3) akan terus melakukan pengawasan yang diarahkan pada penanganan Covid-19 dan upaya pemulihan sosial serta ekonomi dampak pandemi, keberlanjutan pembangunan nasional maupun penyelenggaraan pemerintahan Negara; (4) pengelolaan fiskal agar dilakukan pemerintah dengan memperhatikan risiko fiskal yang berkaitan dengan kontraksi penerimaan, meningkatnya kebutuhan belanja dan potensi pelebaran defisit. Dalam melakukan penyesuaian fiskal, Pemerintah agar mengupayakan refocussing anggaran dan program; (5) akan memberikan pertimbangan terhadap calon duta besar yang diajukan pemerintah.
Terkait pelaksanaan fungsi pengawasan selama MS IV, berikut catatan kritis FORMAPPI berdasarkan berbagai data laporan singkat rapat-rapat terkait fungsi pengawasan. Pertama, Terkait pengawasan atas pelaksanaan Undang-undang, pengawasan DPR menjangkau hingga peraturan-peraturan turunannya seperti Peraturan Menteri. Hasil pengawasan disampaikan dalam bentuk rekomendasi-rekomendasi kepada Pemerintah melalui kementerian terkait.
Rekomendasi yang disampaikan oleh DPR nampak cukup kritis. Sayangnya kekritisan DPR tak selalu ditindaklanjuti mitra kerjanya. Beberapa rekomendasi DPR terlihat diabaikan oleh mitra kerja seperti rekomendasi Komisi IV kepada Pemerintah tentang perlunya pembentukan Badan Pangan Nasional dan juga Badan POM yang menafikan rekomendasi Raker Komisi IX pada 10 Maret 2021 bersama Kemenkes, Badan POM dan Kemenristek.
Contoh-contoh di atas memperlihatkan ketidakberdayaan komisi-komisi di hadapan mitra kerja mereka. Pengabaian mitra kerja terhadap rekomendasi yang diputuskan DPR sesungguhnya melecehkan martabat parlemen. Pelecehan atas rekomendasi DPR sesungguhnya memicu DPR untuk menggunakan hak-hak istimewa mereka seperti hak interpelasi, hak angket, dan hak menyatakan pendapat. Sayangnya DPR tak merasa dilecehkan oleh mitra kerja yang cuek atas rekomendasi mereka. Ketika DPR saja diabaikan, pemerintah bisa benar-benar di atas angin untuk mengeksekusi apapun yang diinginkan tanpa perlu risau akan ditolak atau dikritik oleh DPR.
Bahkan kebijakan yang merugikan rakyat pun bisa dieksekusi karena DPR yang menjadi pengawas sudah tak dianggap lagi oleh Pemerintah. Fungsi pengawasan pun hanya menjadi formalitas belaka. Ini namanya basa-basi demokrasi atau basa-basi tata kelola pemerintahan.
Kedua; fungsi DPR dalam menindaklanjuti temuan BPK mestinya akan efektif dengan keberadaan BAKN. Sayangnya BAKN justru lebih senang mencari obyek penelaahan sendiri. Laporan BPK yang
1Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, 26 Februari 2021, Jadwal Acara Rapat DPR RI Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2020-2021 Sesuai Dengan Keputusan Rapat Konsultasi pengganti Rapat Bamus Tanggal 19 Januari 2021 dalam https://www.dpr.go.id/dokakd/dokumen/BAMUS-Jadwal-Acara-Rapat-Bamus-DPRRI-MP-IV-TS.-2020-2021- 1615862503.pdf
5
sudah disampaikan secara resmi oleh BPK kepada DPR justru diabaikan oleh BAKN, padahal BPK sudah terang benderang menyampaikan terjadinya ketidakpatuhan K/L terhadap peraturan perundang-undangan yang berakibat pada kerugian Negara serta potensi kerugian Negara hingga trilyunan Rupiah dalam IHPS I Tahun 2020. BAKN justru mencari-cari obyek sendiri, yaitu terkait program dan pelaksanaan Dana Alokasi Khusus. Selama MS IV, Komisi yang melakukan tindak lanjut temuan-temuan BPK, hanya dilakukan oleh satu Komisi, yaitu Komisi V. Sebaliknya, terhadap opini TMP 4 kali berturut-turut yang diberikan oleh BPK kepada Bakamla dan opini WDP dua kali berturut-turut kepada KPU tidak ditemukan tindak lanjutnya oleh Komisi I dan II. Kedua hal itu menunjukkan bahwa DPR tidak peduli terhadap pengelolaan keuangan Negara oleh K/L.
Laporan hasil audit BPK pun tak bermakna apa-apa, sekedar formalitas saja.
Ketiga, terkait perubahan usia penerima prioritas vaksin Covid 19 dari semula diprioritaskan bagi warga berusia 18-59 tahun menjadi usia 60 tahun ke atas, sikap DPR tak terlihat kritis. Keempat, Pelaksanaan fit and proper test masih terlihat sekedar formalitas. Dalam proses fit and proper test terhadap calon Kantor Akuntan Publik (KAP) yang akan bertugas memeriksa Laporan Keuangan BPK tahun 2020, Komisi XI DPR tak cukup serius menggali visi dan misi peserta demi memastikan kesiapan mereka untuk mengaudit BPK yang oleh Komisi XI dinilai masih kurang akuntabel dalam memberikan penilaian terhadap hasil audit yang dilakukan.
Kelima, seperti pada masa sidang sebelumnya, Badan Musyawarah selalu menyertakan keberadaan 9 Tim Pemantau dan Tim Pengawas, akan tetapi informasi mengenai bidang pekerjaan, kegiatan maupun laporan hasil kerja tim-tim itu tak pernah jelas. Kecenderungan menyepelekan peran Tim-Tim itu terlihat misalnya dalam kasus pemulihan Pilkada Aceh pada tahun 2022 sesuai dengan UU Otonomi Khusus Aceh. Hal ini bukannya dibahas dan dipantau oleh Tim Pemantau pelaksanaan Otonomi Khusus bentukan DPR, tetapi justru dibahas oleh Komisi II bersama DPR Aceh. Karena tugas-tugas pengawasan maupun pemantauan sudah dilakukan oleh AKD sesuai dengan ruang lingkup tugasnya, Tim Pemantau dan Tim Pengawas DPR tersebut seyogyanya dibubarkan saja daripada terjadi duplikasi tugas, termasuk kemungkinan duplikasi anggarannya.
Keenam, DPR mengingkari beberapa target yang ditentukan sebagai prioritas di MS IV. Hal itu terlihat melalui ketiadaan kegiatan AKD mengawasi permasalahan Asuransi Jiwasraya dan Dana Investasi ASABRI, ambivalennya sikap DPR dalam mengawasi kebijakan fiskal, tidak adanya uji kelayakan dan kepatutan terhadap calon Duta Besar. Ketujuh, Pengawasan merupakan salah satu tugas pokok dan fungsi DPR yang sangat strategis. Aspek-aspek pengawasan itu sendiri secara teroritis mencakup pencegahan, koreksi dan perbaikan atas suatu obyek yang jelas. Tujuannya adalah untuk menjamin ketepatan pelaksanaan sesuai dengan rencana, mencegah pemborosan atau penyelewengan, dan memperbaiki kesalahan atau kekurangan yang terjadi. Jika pengawasan dilakukan secara seksama/cermat dan akurat serta rekomendasinya tegas, maka tujuan nasional dalam bernegara akan tercapai. Sebaliknya jika pengawasan hanya dilakukan ala kadarnya, maka tujuan nasional akan sulit terwujud.
6
Kedelapan, menyimak pelaksanaan pengawasan DPR selama MS IV TS 2020-2021 terhadap empat aspek yang ala kadarnya, tidak sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, bahkan ada yang mangkir mengawasi, dan rekomendasinya tidak tegas. Bahkan antara Komisi IV dan Komisi VI terdapat perbedaan terkait rencana impor beras. Oleh karena itu janji Ketua DPR Puan Maharani pada Pidato Pembukaan MS IV yang akan terus melakukan pengawasan yang diarahkan pada penanganan Covid-19 dan upaya pemulihan sosial serta ekonomi dampak pandemi, keberlanjutan pembangunan nasional maupun penyelenggaraan pemerintahan Negara dapat terwujud patut diragukan.
C. Evaluasi Kelembagaan
Kinerja DPR dalam MS IV TS 2020-2021 belum juga beranjak, fungsi legislasi tanpa hasil, fungsi anggaran lumpuh, dan fungsi pengawasan tidak signifikan. Ketidakmampuan DPR dalam menjalankan fungsi-fungsinya itu, bukan saja karena semata-mata pandemi Covid-19 tetapi akibat kemampuan alat kelengkapan dewan (AKD) sangat terbatas. Faktor Pimpinan, Komisi, Badan-badan dan MKD yang menjadi kunci berjalannya roda parlemen tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Di samping itu faktor aktor dan sistem juga sangat mempengaruhi kinerja DPR. Hal-hal itulah yang akan menjadi pokok bahasan kinerja DPR secara kelembagaan.
Beberapa catatan evaluatif terkait kinerja umum kelembagaan DPR RI adalah sebagai berikut:
Pertama; Peran pimpinan DPR dalam melakukan koordinasi sangat menentukan dinamika kegiatan di DPR. Dengan banyaknya unsur seperti Komisi, Badan, bahkan Fraksi yang menjadi bagian dari DPR, peran koordinasi pimpinan dalam membangun harmonisasi antar unsur menjadi sangat penting. Agar bisa melakukan koordinasi antar unsur di DPR, Pimpinan sendiri harus bisa membangun koordinasi antar mereka sendiri. Dalam membangun koordinasi di level Pimpinan, peran Ketua DPR yang paling menentukan. Pembagian tugas di antara wakil ketua DPR akan bisa efektif jika Ketua DPR mampu mengoordinasikan pelaksanaan tugas para wakilnya. Peran koordinasi Ketua DPR ini yang terlihat gagal selama ini ketika para wakil ketua terlihat saling serobot serta mendominasi wakil pimpinan lain dalam menjadi juru bicara DPR ke publik. Azis Syamsudin dan Sufmi Dasco Ahmad terlihat mendominasi pelaksanaan tugas Pimpinan sebagai juru bicara DPR. Dominasi keduanya kerap mengabaikan lingkup bidang yang menjadi tangung jawab masing-masing. Dominasi Azis dan Dasco juga “menenggelamkan” dua wakil ketua lainnya yakni Muhaimin Iskandar dan Rachmat Gobel. Oleh karena itu, koordinasi perlu diperbaiki terutama di tingkat Pimpinan DPR dalam melaksanakan wewenangnya, sehingga lebih disiplin dalam bidang koordinasi masing-masing tanpa harus menghilangkan hakekat kolektif kolegial.
Kedua, kepercayaan publik terhadap DPR yang sudah mulai terbangun karena cukup lama tidak terdengar adanya korupsi oleh anggota DPR, kasus AS menjadikan DPR menjadi terpuruk kembali.
Wajah DPR menjadi coreng moreng dan sangat memalukan. Dugaan keterlibatan Azis dalam kasus suap Walikota Tanjungbalai kepada Penyidik KPK tak hanya menghancurkan DPR tetapi juga KPK.
Sebagai Wakil Pimpinan, kekuasaan besar yang dimilikki Azis justru dimanfaatkan untuk memengaruhi proses hukum dengan cara-cara yang menyimpang yaitu suap. Ketiga, untuk meningkatkan kinerja Komisi DPR perlu ada suatu evaluasi secara terus menerus agar semua Komisi
7
secara sungguh-sungguh melaksanakan fungsinya secara optimal, tidak lalai dan malas. Disinilah sebetulnya peran para wakil ketua DPR sebagai koordinator bidang yang membawahi Komisi-Komisi.
Keempat, sama setali tiga uang Badan-badan DPR juga harus dikontrol dan diingatkan agar tidak malas melakukan tugas-tugasnya. Para Wakil Ketua DPR yang menjadi koordinator bidang perlu memberikan supervisi agar Badan-badan DPR ini tidak gagap melaksanakan tugas. Kelima, meski kehadiran anggota DPR dalam Rapur semakin baik, tetapi masih dinodai oleh dimasukkannya anggota yang ijin sebagai kriteria anggota yang hadir. Muncullah apa yang dinamakan dengan istilah kehadiran fiktif.
D. Kesimpulan
1. Persoalan mendasar keterpurukan DPR dalam menggenjot kinerja mereka masih terkait dengan buruknya perencanaan. Tak ada rencana yang jelas dan pasti bagi DPR dalam melaksanakan fungsi-fungsi pokok mereka ketika basis perencanaan yang berbeda antara agenda yang ditetapkan oleh Bamus dengan rencana yang disampaikan oleh Ketua DPR setiapkali berpidato pada rapat paripurna pembukaan masa sidang. Rencana atau target kerja DPR setiap masa sidang menjadi semacam janji atau komitmen, maka harusnya rencana kerja masing-masing fungsi tak dianggap sekedar formalitas saja.
2. Pengesahan RUU Kumulatif Terbuka tentu saja perlu diapresiasi sebagai bagian dari upaya DPR memenuhi kebutuhan hukum nasional. Akan tetapi pengesahan RUU Kumulatif Terbuka jangan sampai menggantikan tugas DPR menyelesaikan RUU Prioritas yang merupakan pengejawantahan politik legislasi DPR sesuai dengan visi dan misi DPR periode 2019-2024.
3. Posisi DPR dalam pembahasan hingga persetujuan anggaran khususnya terkait kebijakan realokasi dan refocussing untuk mengatasi dampak pandemi harus dibuktikan melalui peran serta mereka dalam membahas anggaran dan program mitra kerja mereka. Badan Anggaran harus mengambil peran sesuai dengan fungsi dan kewenangannya untuk memastikan perubahan anggaran yang diusulkan pemerintah tepat sasaran.
4. Fungsi Pengawasan mesti menjadi jantung pelaksanaan kewenangan DPR dalam konteks menjalankan peran checks and balances. DPR tidak terlihat berwibawa di hadapan pemerintah karena relasi yang dibangun adalah relasi patron-klien. Berbagai kebijakan pemerintah menjadi obyek pengawasan DPR. Oleh karena itu DPR tak bisa selalu mendukung pemerintah bahkan untuk kebijakan yang banyak dikritik oleh publik. Keseriusan DPR dalam melakukan peran pengawasan akan menentukan efektivitas kebijakan pemerintah.
5. Kinerja DPR secara kelembagaan banyak ditentukan oleh peran koordinasi Pimpinan DPR. Peran koordinasi diantara pimpinan terkait pelaksanaan tugas AKD juga harus menjadi perhatian terutama oleh Ketua DPR yang menjadi penanggungjawab puncak koordinasi DPR sebagai sebuah lembaga. Tumpang tindih dan saling serobot peran diantara wakil pimpinan DPR akan merusak peran koordinasi. Jika koordinasi mandeg, maka pelaksanaan tugas DPR akan ikut berantakkan.
6. Sebagai lembaga publik, kepercayaan publik menjadi sesuatu yang mendasar bagi DPR.
Kepercayaan publik akan terganggu jika DPR tak mampu mencegah perilaku yang menyimpang.
Suap dan Korupsi yang melibatkan anggota DPR menjadi tindakan yang daya rusaknya paling tinggi dalam hal kepercayaan publik.
7. Kinerja DPR periode 2019-2024 di tahun kedua masa jabatan mereka belum juga menunjukkan kemajuan berarti. Evaluasi kinerja dua masa sidang awal tahun 2021 (MS III & IV) membuktikan
8
kemandegan atau bahkan kemunduran DPR dalam menggenjot produktivitas. Kemandegan itu melawan gerak maju waktu, situasi, dan kebutuhan bangsa yang seharusnya menjadi kepedulian utama DPR sebagai wakil rakyat. Apalagi di tengah situasi pandemi Covid-19, keseriusan DPR menggunakan kekuasaan melalui fungsi-fungsi mereka tentu akan sangat berarti karena hanya respon cepat dan tepat dari lembaga seberkuasa DPR yang mampu menghadirkan optimisme rakyat melintasi tantangan saat ini. Potret kinerja DPR MS IV sebagaimana digambarkan di atas sungguh membenarkan gugatan dalam tema rilis ini: “DPR, Kapan Majunya Sih?”
Jakarta, 05 Mei 2021 FORMAPPI
Bidang Legislasi: Lucius Karus (0813 9936 7707) Bidang Anggaran: Y. Taryono (0823 1015 8289)
Bidang Pengawasan: M. Djadijono (0813 1733 4457) dan Albert Purwa (0857 1796 6766) Bidang Kelembagaan: I Made Leo Wiratma (0813 1686 0458)
9 NASKAH LENGKAP
Evaluasi Kinerja DPR MS IV TS 2020-2021
“DPR, KAPAN MAJUNYA SIH?”
I. PENGANTAR
Menurut Keputusan Rapat Konsultasi Pengganti Rapat Badan Musyawarah (Bamus) tanggal 19 Januari 2021, Masa Sidang (MS) IV Tahun Sidang (TS) 2020-2021 terdiri dari masa sidang yang direncanakan berlangsung dari 8 Maret s/d 9 April 2021 (33 hari kalender atau 23 hari kerja) dan masa reses dari 10 April s/d 5 Mei 2021 (26 hari kalender atau 18 hari kerja). Sementara itu, alokasi waktu yang disediakan untuk Fungsi Legislasi (L) 30%, Fungsi Anggaran (A) 40%, dan Fungsi Pengawasan (P) 30%
dari waktu yang tersedia. Pelaksanaan setiap fungsi tersebut akan disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan 3 (tiga) fungsi Dewan.
Keputusan Rapat Konsultasi Pengganti Rapat Bamus juga menetapkan rencana kerja Dewan sebagai berikut: pertama, Fungsi Legislasi: (a) Komisi/Pansus membahas RUU sesuai evaluasi Program Legislasi Nasional (Prolegnas) RUU Prioritas Tahun 2021; (b) Baleg melaksanakan tugas di bidang legislasi; (c) AKD yang lain melaksanakan tugas sesuai dengan bidangnya. Kedua, Fungsi Anggaran:
evaluasi pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2020. Ketiga, Fungsi Pengawasan: (a) Komisi membahas hal-hal yang terkait dengan Bidang Pengawasan; (b) tindaklanjut terhadap hasil kunjungan kerja perseorangan maupun kunjungan kerja Tim pada saat Reses MS III TS 2020-2021. Selain itu, DPR juga memberikan pertimbangan untuk mengisi suatu jabatan seperti Calon Duta Besar Negara Sahabat, pejabat publik, dan Kewarganegaraan. Demikian juga dengan Tim-Tim yang berada dibawah koordinasi Pimpinan Dewan akan melanjutkan tugasnya.
Tim-Tim tersebut adalah:
1. Tim Pemantau DPR terhadap Pelaksanaan Undang-Undang terkait Otonomi Daerah Khusus Aceh, Papua, Papua Barat, Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, dan DKI Jakarta.
2. Tim Pengawasan DPR RI tentang Pembangunan Daerah Perbatasan.
3. Tim Penguatan Diplomasi Parlemen.
4. Tim Pemantau dan Evaluasi Usulan Program Pembangunan Daerah Pemilihan (UP2DP).
5. Tim Pengawasan DPR RI terhadap Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.
6. Tim Pengawasan DPR RI terhadap Pelaksanaan Penanganan Bencana.
7. Tim Open Parliament Indonesia (OPI).
8. Tim Implementasi Reformasi DPR RI.
9. Tim Pengawas Penyelenggaraan Ibadah Haji.
Sementara itu, Ketua DPR RI Puan Maharani dalam pidato Pembukaan MS IV TS 2020-2021 tanggal 8 Maret 2021 menyampaikan bahwa agenda DPR RI pada masa sidang ini adalah sebagai berikut:2 Pertama, Fungsi Legislasi: (a) segera menetapkan program legislasi nasional (Prolegnas) prioritas Tahun 2021; (b) menindaklanjuti Surat Presiden tentang penunjukan wakil Pemerintah untuk membahas rancangan undang-undang (RUU) sesuai dengan mekanisme dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kedua, Fungsi Anggaran: DPR akan terus mengevaluasi dan memberikan dukungan melalui kewenangannya, agar pemerintah dapat memberikan pelayanan kepada rakyat, melaksanakan pembangunan, serta menjaga kesejahteraan sosial dan ekonomi rakyat Indonesia. Ketiga, Fungsi Pengawasan: (a) pengawasan reguler yang menjadi urusan setiap alat
2 Live Streaming - Rapat Paripurna DPR RI: Pembukaan Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2020 – 2021, Senin 8 Maret 2021; Lihat: https://www.youtube.com/watch?v=3BJC4OqULFU
10
kelengkapan dewan (AKD) terhadap sejumlah isu seperti pelaksanaan vaksin Covid-19, rencana Revisi UU ITE, tata kelola Lembaga Pengelola Investasi (LPI), pelaksanaan ibadah haji 2021, permasalahan Asuransi Jiwasraya dan permasalahan dana investasi Asabri, kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Riau dan Kalimantan Barat, dan masuknya virus Corona B117 ke Indonesia; (b) melakukan proses uji kelayakan dan kepatutuan terhadap usulan calon anggota dari lembaga negara yang akan berakhir masa jabatannya. Selain itu, DPR juga akan memberikan pertimbangan terhadap calon duta besar luar biasa dan berkuasa penuh dari negara-negara sahabat.
Dalam masa persidangan ini, DPR juga mengagendakan serangkaian kegiatan diplomasi Parlemen baik berupa kerjasama bilateral, regional, maupun internasional. Delegasi DPR direncanakan akan menghadiri pertemuan virtual AIPA-Parliamentary Forum of Small Arms and Light Weapons pada 16 Maret 2021, serta The 65th session of the Commission on the Status of Women (CSW), dan beberapa kegiatan diplomasi bilateral untuk meningkatkan kerja sama dengan negara-negara sahabat.
Terdapat beberapa perbedaan antara Keputusan Rapat Bamus dan Pidato Ketua DPR RI Puan Maharani mengenai agenda kerja DPR pada MS IV ini. Dalam Fungsi Anggaran misalnya, Keputusan Rapat Bamus tidak menyebut sama sekali tentang pelaksanaan APBN 2021, sebaliknya Pidato Puan justru tidak menyinggung evaluasi pelaksanaan APBN TA 2020 sebagaimana telah ditetapkan dalam Rapat Bamus. Kemudian dalam Fungsi Pengawasan, Puan tidak menyebutkan agenda kerja Tim-Tim DPR sebagaimana dirumuskan oleh Rapat Bamus. Meski demikian, Formappi tetap mengevaluasi kinerja DPR berdasarkan keduanya, baik Keputusan Rapat Bamus maupun Pidato Ketua DPR RI dalam Pembukaan MS IV TS 2020-2021.
Setelah mengevaluasi kinerja DPR atas pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut di atas, Formappi juga akan memberikan catatan-catatan penting secara kelembagaan, seperti Pimpinan dan rapat-rapat alat kelengkapan dewan (AKD) lainnya (Komisi dan Badan-badan DPR) serta kehadiran anggota DPR pada rapat paripurna. Evaluasi ini ditutup dengan kesimpulan dan rekomendasi atau saran-saran.
11 II. FUNGSI LEGISLASI
A. Pengantar
MS IV merupakan masa siding kedua untuk tahun 2021. Idealnya di masa siding kedua tersebut, fokus pelaksanaan fungsi DPR tak lagi berpusat pada penyusunan rencana kerja tetapi sudah masuk tahap pelaksanaan atau pencapaian rencana. Akan tetapi sebagaimana diketahui, pada MS III lalu, DPR belum berhasil menetapkan Prolegnas Prioritas 2021 sebagai acuan resmi pelaksanaan fungsi legislasi dalam setahun. Kegagalan menetapkan Prolegnas Prioritas pada MS III sekaligus menjadi beban pada MS IV. Pelaksanaan fungsi legislasi yang seharusnya sudah bergerak maju ke dalam proses pembahasan RUU, nyatanya masih berkutat pada proses penetapan rencana prioritas tersebut.
B. Target Pelaksanaan Fungsi Legislasi MS IV3
Rencana kerja MS IV terlihat sederhana. Hanya ada dua rencana utama yang disebutkan oleh Ketua DPR dalam pidatonya di dalam Rapat Paripurna Pembukaan MS IV yakni: pertama;
menetapkan Prolegnas Prioritas 2021, dan kedua; menindaklanjuti surpres sejumlah RUU yang sudah diterima oleh DPR. Kesederhanaan rencana pelaksanaan Fungsi Legislasi juga terlihat dalam kebijakan umum MS IV yang disusun oleh Badan Musyawarah. Fokus pelaksanaan Fungsi Legislasi MS IV menurut Bamus adalah sebagai berikut: a) Komisi/Pansus membahas RUU sesuai hasil evaluasi Program Legislasi Nasional (Prolegnas) RUU Prioritas Tahun 2021; b) Baleg melaksanakan tugas di Bidang Legislasi; dan c) AKD yang lain melaksanakan tugas sesuai dengan bidangnya.
Dua sumber yang memberitahukan rencana pelaksanaan fungsi legislasi DPR pada MS IV sama- sama terlihat sederhana, tidak fokus, tak terarah, dan terlalu umum. Dengan perencanaan yang tak terarah itu sulit mengharapkan ada capaian terukur yang dihasilkan dalam kurun waktu satu masa sidang. Rencana yang terlalu umum sama saja dengan tanpa rencana apapun.
C. Catatan atas Kinerja Legislasi MS IV
1. DPR pantas diapresiasi karena akhirnya berhasil menetapkan Prolegnas Prioritas 2021 pada Rapat Paripurna 23 Maret 2021. Apresiasi ini tentu saja tidak mengabaikan fakta bahwa waktu penetapan Prolegnas Prioritas ini sudah sangat terlambat. Sulit memahami bagaimana sistem perencanaan DPR sebegitu buruknya sampai-sampai untuk membuat rencana saja mereka harus “membajak” waktu efektif yang seharusnya sudah dialokasikan untuk kegiatan penyusunan dan pembahasan RUU.
2. Molornya penetapan Prolegnas Prioritas 2021 terjawab pada akhirnya yakni terkait pro- kontra revisi UU Pemilu. Dengan demikian terlihat bahwa penundaan pengesahan Prolegnas Prioritas oleh DPR bukan karena kepentingan bangsa atau rakyat, tetapi karena kepentingan politik sepihak parpol-parpol.
3. Molornya waktu penetapan Prolegnas Prioritas 2021 tak diikuti oleh penyesuaian jumlah RUU yang masuk daftar Prolegnas Prioritas. DPR masih mempertahankan jumlah 33 RUU Prioritas.
Posisi RUU Pemilu yang dicoret dari daftar prioritas diganti dengan RUU tentang Perubahan Kelima atas Undang-.Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang diusulkan oleh Pemerintah. Dengan hanya menyisakan 3 kali masa siding,
3 https://youtu.be/3BJC4OqULFU
12
sulit rasanya mengharapkan ada hasil maksimal yang bisa ditorehkan DPR di penghujung tahun ini. Jumlah RUU yang cukup banyak dengan rentang waktu pembahasan yang sempit menjadi tantangan serius bagi DPR untuk menorehkan hasil signifikan di penghujung tahun nanti. Belum lagi situasi pandemi yang masih akan berlangsung ditambah berbagai bencana alam dan non alam lain yang silih berganti mendera bangsa Indonesia.
4. Keterlambatan pengesahan Prolegnas Prioritas 2021 berdampak pada minimnya kegiatan pembahasan RUU di Komisi-Komisi. Hanya Badan Legislasi yang terlihat sibuk melakukan penyusunan RUU pada MS IV ini. Beberapa RUU yang dibahas oleh Badan Legislasi antara lain:
revisi UU tentang Kejaksaan (UU Nomor 16 Tahun 2004), penyusunan RUU tentang Pembentukan Pengadilan Tinggi Riau, Sulawesi Barat, Kalimantan Utara, dan Papua Barat, Harmonisasi RUU tentang Sistem Keolahragaan Nasional, dan RUU PKS.
Dari daftar RUU yang dikerjakan oleh Badan Legislasi di atas nampak bahwa DPR belum juga fokus pada situasi pandemi dengan melakukan pembahasan sejumlah RUU yang relevan ntuk situasi bencana seperti: RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, RUU tentang Pengawasan Obat dan Makanan, serta RUU tentang Wabah (dalam Prolegnas 2020-2024 tertulis: RUU tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular).
5. Selain tidak fokus pada RUU yang relevan dengan situasi darurat bencana saat ini, Daftar Prolegnas Prioritas juga masih mempertahankan sejumlah RUU Kontroversial. RUU larangan Minuman Beralkohol yang sebelumnya menjadi tanggungjawab Komisi VIII kini dialihkan ke Badan Legislasi. Selain RUU Larangan Minuman Beralkohol RUU lain yang potensial mengundang kontroversi dalam pembahasannya adalah: RUU tentang Perlindungan Tokoh Agama dan Simbol Agama, RUU tentang Ibukota Negara (Omnibus Law), dan RUU tentang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.
Kontroversi RUU Minol dan RUU tentang Perlindungan Tokoh Agama dan SImbol Agama lebih banyak dipicu oleh keinginan membuat RUU sesuai norma agama atau kebutuhan kelompok agama tertentu. Tentu saja keinginan untuk membuat aturan agama sebagai rujukan dalam kehidupan merupakan sesuatu yang baik. Akan tetapi ikhtiar menurunkan aturan yang berlaku untuk agama tertentu menjadi aturan yang mengikat umat agama lain jelas akan memunculkan persoalan. Karena itu lebih bijak agar hukum agama menjadi aturan yang ditegakkan oleh otoritas agama saja sementara RUU yang disusun oleh DPR harus memperhatikan kebutuhan seluruh rakyat tanpa membedakannya berdasarkan agama ataupun suku tertentu.
6. Sebagai pelipur lara di tengah miskinnya kinerja legislasi DPR, pengesahan Rancangan Undang-Undang tentang Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dengan Negara-negara EFTA (RUU IE-CEPA). RUU ini bukan bagian dari RUU yang diprioritaskan pada 2021. Ia merupakan RUU Kumulatif Terbuka yang dibahas dan disahkan oleh DPR karena adanya kesepakatan antara Pemerintah Indonesia dengan negara-negara EFTA. Karena itu walaupun RUU ini punya misi strategis khususnya untuk kepentingan ekonomi Indonesia, tetap saja tak bisa dikatakan sebagai hasil dari perencanaan sistematis DPR. Oleh karena itu pas jika dianggap sebagai pelipur lara saja.
13 D. Kesimpulan
Catatan-catatan di atas akhirnya mau mengatakan bahwa ada tantangan luar biasa bagi DPR dalam menjalankan fungsi legislasi di masa sidang yang akan datang. Tantangan-tantangan itu menuntut sebuah cara kerja yang sistematis, mulai dari penentuan RUU yang sungguh prioritas untuk diselesaikan. Harapan ini tentu akan sulit terwujud jika DPR tak punya kemauan politik untuk menjadikan fungsi legislasi sebagai salah satu cara mereka menyumbangkan peran mereka dalam mengatasi situasi nyata bangsa yang tengah dilanda bencana saat ini.
14 III. FUNGSI ANGGARAN: “Kualitas Kinerja Menurun”
A. Pengantar
Salah satu tugas pokok dan fungsi DPR adalah melaksanakan fungsi anggaran, yaitu membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap rancangan undang- undang tentang APBN yang diajukan oleh Presiden.4 Dalam melaksanakan fungsi anggaran itu DPR membahas bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).5 Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah wujud pengelolaan keuangan Negara yang ditetapkan setiap tahun dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.6
Tugas komisi di bidang anggaran adalah: (a) membahas dan menetapkan alokasi anggaran untuk fungsi, dan program kementerian/lembaga yang menjadi mitra kerja komisi; (b) mengadakan pembahasan laporan keuangan negara dan pelaksanaan APBN termasuk hasil pemeriksaan BPK yang berkaitan dengan ruang lingkup tugasnya; (c) membahas dan menetapkan alokasi anggaran untuk fungsi, dan program, kementerian/lembaga yang menjadi mitra kerja komisi berdasarkan hasil sinkronisasi alokasi anggaran kementerian/lembaga oleh Badan Anggaran; (d) menyerahkan kembali kepada Badan Anggaran hasil pembahasan komisi sebagaimana dimaksud dalam huruf f untuk bahan akhir penetapan APBN.7
Selain membahas dan memberi persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap RAPBN8 DPR juga menyelenggarakan kegiatan pembahasan dan penetapan rancangan undang- undang tentang perubahan atas undang-undang tentang APBN.9 Selanjutnya pembahasan terhadap perubahan atas APBN dilakukan oleh Badan Anggaran dan komisi terkait dengan Pemerintah dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan dalam masa sidang setelah rancangan Undang-Undang mengenai perubahan atas APBN diajukan oleh Pemerintah kepada DPR. Jangka waktu 1 (satu) bulan yang dimaksud adalah 30 (tiga puluh) hari kalender terhitung sejak penugasan Badan Musyawarah diumumkan dalam rapat paripurna DPR.10
Rencana Pelaksanaan Fungsi Anggaran
Menurut Keputusan Rapat Konsultasi Pengganti Rapat Badan Musyawarah (Bamus) DPR tanggal 19 Januari 2021 tentang Jadwal Acara Rapat DPR Masa Sidang (MS) IV Tahun Sidang (TS) 2020- 2021, di bidang anggaran, DPR melakukan Evaluasi pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2020 dengan alokasi waktu sekitar 40% dari waktu yang tersedia. Sedangkan menurut Pidato Pembukaan MS IV TS 2020-2021 yang disampaikan oleh Ketua DPR, Dr. (H.C) Puan Maharani,11
4 Pasal 69 ayat (1) huruf (a) dan Pasal 70 ayat (1) huruf b UU No.17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (MD3) sebagaimana telah dirubah tiga kali terakhir dengan UU No. 13 Tahun 2019 tentang Perubahan UU Nomor 17 Tahun 2014 tentang (MD3).
Pasal 70 ayat (1) huruf b UU MD3.
5 Pasal 71 huruf (e) UU No.17 Tahun 2014 tentang MD3
6 Pasal 23 ayat (1) Undang Undang Dasar Negara Indonesia Tahun 1945.
7 Pasal 98 ayat (2) UU No. 17 Tahun 2014 tentang MD3
8 Pasal 70 ayat (2) UU No.17 Tahun 2014 tentang MD3
9 Pasal 177 UU MD3.
10Pasal 172 ayat (1) Peraturan DPR RI Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Tertib.
11 Live Streaming - Rapat Paripurna DPR RI: Pembukaan Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2020 -2021. Senin, 8 Maret 2021. https://www.youtube.com/watch?v=3BJC4OqULFU
15
DPR mendorong pemerintah agar dapat merealisasikan program dan anggaran secara tepat waktu dan tepat sasaran. Pengelolaan fiskal agar dilakukan pemerintah dengan memperhatikan risiko fiskal yang berkaitan dengan kontraksi penerimaan, meningkatnya kebutuhan belanja dan potensi pelebaran defisit. Dalam UU APBN Tahun Anggaran 2021, pemerintah dibatasi dalam menerbitkan Surat Utang Negara dalam menutup defisit. Pemerintah dalam melakukan penyesuaian fiskal atas situasi penanganan Covid-19 agar mengupayakan refocussing anggaran dan program.
Terdapat perbedaan rencana kerja fungsi anggaran antara Putusan Rapat Konsultasi Pengganti Rapat Bamus dengan Pidato Pembukan MS IV yang disampaikan oleh Ketua DPR. Formappi tetap mengevaluasi dan memberikan catatan kritis atas keduanya seperti di bawah ini.
B. Evaluasi Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2020
Pada MS IV TS 2020-2021 agenda DPR sebagaimana ditetapkan oleh Bamus adalah mengevaluasi pelaksanaan APBN Tahun Anggaran (TA) 2020. Realisasi dari rencana kerja tersebut seperti berikut: Komisi membahas serap anggaran Tahun Anggaran (TA) 2020 oleh mitra kerjanya (Kementerian dan Lembaga Negara Non Kementerian/K/L). Melalui penelusuran pada laman resmi DPR www.dpr.go.id hanya ada 2 (dua) Komisi yang ditemukan melakukan rapat, yaitu Komisi III dengan 1 Kementerian dan Komisi X dengan 1 Lembaga. Kinerja DPR dalam melakukan rapat membahas serap anggaran K/L TA 2020 di MS IV ini sangat minim jika dibandingkan dengan masa sidang sebelumnya (MS III). Di MS III terdapat 8 (delapan) komisi yang melakukan rapat membahas serap anggaran APBN TA 2020 dengan mitra kerja K/L yakni, komisi I dengan 11 K/L, komisi III dengan 1 Lembaga, komisi IV dengan 3 Kementerian, komisi V dengan 5 K/L, komisi VI dengan 9 K/L, komisi VII dengan 2 Kementerian, komisi VIII dengan 4 K/L, dan komisi X dengan 4 K/L (lihat Tabel 1).
Tabel 1: Rapat-rapat Komisi yang Membahas Serap anggaran mitra kerja K/L TA 2020 MS I, II, III dan IV
Komisi Kementerian/Lembaga Negara
MS I Realisasi
(%)
MS II Realisasi
(%)
MS III Realisasi
(%)
MS IV Realisasi (%)
I
Kementerian Luar Negeri - - 95,35 -
Lembaga Ketahanan Nasional - - 93,05 -
Dewan Ketahanan Nasional - - 93,45 -
Kementerian Komunikasi dan Informatika12
- - 98,2 -
Badan Keamanan Laut RI - - 96,39 -
Lembaga Penyiaran Publik TVRI 93,52 -
Lembaga Penyiaran Publik RRI - - 87,92 -
Komisi Penyiaran Indonesia Pusat - - 96,23 -
Komisi Informasi Pusat (KIP) - - 95,40 -
Dewan Pers 95,17 -
Badan Siber dan Sandi Negara - - 96,47 -
III Kementerian Hukum dan HAM - Tertutup - 95,97
12 https://www.merdeka.com/uang/penyerapan-anggaran-2020-kominfo-982-persen-tertinggi-dalam-3-tahun-terakhir.html
16
Kejaksaan Agung RI13 - - 98,34 -
IV
Kementerian Pertanian14 60,43 - 95,61 -
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan15
47,49 - 93,94 -
Kementerian Kelautan dan Perikanan
54,44 - 91,27 -
V
Kementerian PUPR 48,13 73,05 93,97 -
Kementerian Perhubungan 45,27 70,72 95,58 -
Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi
55,55 78,23 95,57 -
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
41,52 63,10 92,60 -
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan
59,51 80,42 94,59 -
VI
Kementerian Perdagangan 53,82 - 93,31 -
Komisi Pengawas Persaingan Usaha
65,55 - 99,33 -
Badan Standarisasi Nasional 46,22 - 99,37 -
Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam
26,00 - 77,04 -
Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang
29,58 - 65,12 -
Badan Kordinasi Penanaman Modal
47,87 - 97,65 -
Kementerian Perindustrian 47,19 - 93,73 -
Kementerian Koperasi dan UMKM 46,13 - 99,23 -
Kementerian BUMN 38,18 - 97,65 -
VII Kementerian Ristek/BRIN RI16 - - 89,32 -
Kementerian ESDM RI - - 93,80 -
VIII
Badan Nasional Penanggulangan Bencana
50,62 - 92,97 -
Kementerian PPPA - - 98,03 -
Kementerian Sosial RI - - 97,11 -
Kementerian Agama RI - - 96,07 -
X
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
- 62,21 91,61 -
Perpustakaan Nasional - 83,71 96,62 95,86
Kementerian Pemuda dan Olahraga
- 73,00 95,14 -
13 https://www.merdeka.com/peristiwa/kemenkeu-alokasikan-rp350-miliar-untuk-bangun-gedung-kejagung-yang- terbakar.html
14 https://economy.okezone.com/read/2021/01/25/320/2350325/serapan-anggaran-kementan-2020-capai-95-ini-rinciannya
15 http://www.menlhk.go.id/site/single_post/3526
16 https://www.ristekbrin.go.id/komisi-vii-dpr-dukung-kemenristek-brin-dalam-penguatan-ekosistem-inovasi-dan-riset- nasional-di-tahun-2021/
17
Kemenparekraf/Baparekraf RI - 59,91 92,56 -
Sumber: data diolah dari laporan singkat kesimpulan hasil rapat pada www.dpr.go.id
Kinerja DPR MS IV sebagaimana Tabel 1 di atas menunjukkan hasil kerja yang lebih rendah jika dibandingkan dengan MS sebelumnya (MS I, II dan III). Selain kinerja yang rendah dari MS I hingga MS IV berakhir masih terdapat 3 (tiga) dari 11 (sebelas) Komisi yang belum ditemukan melakukan rapat membahas serap anggaran mitra kerja K/L TA 2020, yaitu komisi II, IX dan XI.
Selain menurunnya kinerja komisi, terdapat pengulangan pembahasan yang dilakukan oleh Komisi X dengan Perpusnas RI dengan hasil yang berbeda pada serap anggaran TA 2020. Hal ini terlihat pada hasil kesimpulan rapat tanggal 25 Januari 2021 (MS III) Komisi X DPR RI mengapresiasi daya serap anggaran Perpusnas RI pada TA 2020 mencapai 96,62%. Sementara pada kesimpulan rapat 29 Maret 2021 (MS IV) Komisi X DPR RI mengapresiasi capaian kinerja Anggaran K/L TA 2020 dengan perolehan nilai kinerja anggaran sebesar 95,86%. Namun Komisi X tetap konsisten memberikan apresiasi ketimbang mempertanyakan penyebab perbedaan tersebut. Jika yang digambarkan itu benar, maka realisasi serap anggaran yang disampaikan oleh Perpusnas RI pada MS III tidak lengkap atau kemungkinan Komisi X kurang teliti.
Selain minimnya kinerja yang dihasilkan DPR dalam membahas serap anggaran TA 2020, kinerja DPR juga relatif lamban. Kelambanan itu dikarenakan masih terdapat serap anggaran K/L yang belum dibahas oleh komisi, sehingga masih menyisakan tugas. Hal ini dipengaruhi oleh leluasanya waktu yang dimiliki oleh DPR. Yaitu, belum dimulainya pembahasan RUU Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN TA 2020 oleh DPR, yang saat ini masih tahap pembahasan pemerintah dengan BPK. Sehingga DPR masih menunggu proses pembahasan diselesaikan.17
Keinginan DPR merampungkan pembahasan serap anggaran TA 2020 di masa sidang berikutnya, beban tugas DPR akan menjadi berat. Sebab sebagaimana siklus penganggaran, di masa sidang berikutnya DPR sudah memasuki pembahasan pembicaraan pendahuluan RAPBN 2022 (RKP dan KEM PPKF) yang diserahkan oleh pemerintah paling lambat tanggal 20 Mei 2021.
Kecuali itu, DPR juga harus membahas realisasi pelaksanaan APBN 2021. Kecenderungan DPR menunda-nunda pembahasan serap anggaran K/L berdampak pada tidak optimalnya kinerja yang dihasilkan.
C. Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2021
Pada pidato Pembukaan Masa Sidang, Ketua DPR Puan Maharani menyampaikan bahwa, dalam melakukan penyesuaian fiskal atas situasi penanganan Covid-19 Pemerintah agar mengupayakan refocussing anggaran dan program APBN Tahun Anggaran 2021. Dalam pelaksanaannya, rencana kerja fungsi anggaran sebagaimana disampaikan oleh Ketua DPR sejatinya hanya mengulang dari rencana kerja MS III sebelumnya, yakni sebagai respon dari
1731 Maret 2021 Menteri Keuangan menyerahkan LKPP kepada BPK. Penyerahan LKPP merupakan bentuk pertanggungjawaban pemerintah atas seluruh kegiatan pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran (APBN TA) 2020 termasuk pelaksanaan Program Penanganan Pandemi Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (Program PC-PEN) dalam TA 2020. Setelah LKPP dilakukan pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), pemerintah akan menyampaikan LKPP kepada DPR dalam bentuk RUU Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan APBN TA 2020 paling lambat 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir atau 30 Juni 2021. Pasal 183 UU MD3.
18
diterbitkannya Surat Edaran Menteri Keuangan No.S-30/MK.02/2021 tentang Refocusing dan Realokasi Belanja K/L Tahun Anggaran (TA) 2021 yang diterbitkan pada 12 Januari 2021.
Sebagai dasar Refocusing dan Realokasi Belanja K/L TA 2021, sebelumnya pada 18 Desember 2020 Menteri Keuangan telah mengeluarkan Peraturan Nomor 208/PMK.02/2020 tentang Tata Cara Revisi Anggaran Tahun Anggaran 2021. Dalam beleid tersebut dijelaskan refocusing dan realokasi anggaran APBN TA 2021 harus mendapat persetujuan DPR, diantaranya sebagai berikut: Revisi Anggaran berupa pergeseran anggaran antar-Program untuk: (a) penanggulangan bencana; (b) pergeseran anggaran belanja yang dibiayai dari PNBP sepanjang dalam 1 (satu) bagian anggaran yang sama; (c) memenuhi kebutuhan Belanja Operasional sepanjang dalam bagian anggaran yang sama; (d) memenuhi kebutuhan Pengeluaran yang tidak diperkenankan (Ineligible Expenditure) atas kegiatan/proyek yang dibiayai dari pinjaman dan/atau hibah luar negeri sepanjang dalam 1 (satu) bagian anggaran yang sama; (e) penyelesaian restrukturisasi Kementerian/Lembaga dalam hal pergeseran anggaran antar-Program dan/atau antarbagian anggaran sebagai akibat dari perubahan kabinet;
dan/atau (f) pergeseran anggaran antar-Program dalam unit eselon I yang sama, disampaikan ke Direktorat Jenderal Anggaran tanpa memerlukan dokumen persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat;18 Revisi pergeseran substansi selain anggaran antar-Program disampaikan ke Direktorat Jenderal Anggaran setelah mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.19
Kementerian/Lembaga dapat menyampaikan usul revisi perubahan/pergeseran anggaran sesuai dengan konsep Redesain Sistem Perencanaan dan Penganggaran ke Kementerian Keuangan.20 Dalam hal terdapat usul revisi pergeseran anggaran dalam Program yang sama antar-Kementerian/Lembaga, usul Revisi Anggaran disampaikan ke Direktorat Jenderal Anggaran disertai dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.21
Oleh karena itu sebagai pelaksanaan dari rencana kerja DPR MS IV dan PMK Nomor 208/PMK.02/2020 di atas, Komisi DPR telah melakukan rapat kerja (Raker) dan rapat dengar pendapat (RDP) dengan mitra kerja K/L terkait. Berdasar penelusuran Formappi pada laman resmi DPR www.dpr.go.id ditemukan adanya 5 Komisi yang melakukan Raker dan RDP, yakni Komisi IV dengan 3 Kementerian, Komisi V dengan 5 K/L, Komisi VIII dengan 1 Kementerian, Komisi IX dengan 1 Lembaga, dan Komisi X dengan 3 K/L selengkapnya (lihat Tabel 2).
Tabel 2: Pembahasan Komisi DPR terkait Refocusing dan Realokasi Belanja K/L APBN TA 2021 berdasarkan Surat Menteri Keuangan RI No.S-30/MK/02/2021 tanggal 12 Januari 2021
Dalam Miliar Rupiah
Komisi K/L Pagu APBN TA 2021 Naik/
Turun
Sikap Komisi Semula Menjadi
Kementerian Pertanian 15.517,99 19.710,68 Naik Menerima penjelasan Menteri Pertanian terkait Perubahan Anggaran Kementerian Tahun 2021
18 Pasal 10 Ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 208/PMK.02/2020 tentang Tata Cara Revisi Anggaran Tahun Anggaran 2021
19 Pasal 10 Ayat (3) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 208/PMK.02/2020 tentang Tata Cara Revisi Anggaran Tahun Anggaran 2021
20 Pasal 12: Ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 208/PMK.02/2020 tentang Tata Cara Revisi Anggaran Tahun Anggaran 2021
21 Pasal 12 Ayat (7) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 208/PMK.02/2020 tentang Tata Cara Revisi Anggaran Tahun Anggaran 2021
19 IV
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
7.437,74 9.134,33 Naik Menerima Penjelasan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait Perubahan Anggaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2021
Kementerian Kelautan dan Perikanan
6.494,47 6.537,81 Naik Menerima penjelasan dan meminta Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam menjalankan program Rehabilitasi Kawasan Mangrove yang berasal dari alokasi Anggaran Belanja Tambahan (ABT) tahun 2021 serta wajib melibatkan masyarakat di masing-masing daerah/ wilayah, dalam rangka pemulihan ekonomi, perbaikan kualitas lingkungan, dan antisipasi perubahan iklim global
V
Kementerian Desa, PDTT
3.689,81 3.558,98 Turun Memahami penjelasan dan mendorong Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi untuk mengintegrasikan dan mensinkronisasikan roadmap pembangunan Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dengan
program/kegiatan antar
Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah (Provinsi, Kabupaten/ Kota, dan Desa) sehingga sasaran percepatan pembangunan daerah tertinggal dan kawasan transmigrasi dapat tercapai
Kementerian Perhubungan
45.664,04 33.221,42 Turun Memahami penjelasan atas Refocusing dan Realokasi anggaran TA. 2021 Kementerian PUPR 149.811,14 134.895,99 Turun Memahami penjelasan atas refocusing
dan realokasi anggaran TA. 2021 BMKG 3.274,24 3.092,56 Turun Memahami penjelasan Kepala BMKG
dan BNPP/Basarnas mengenai refocusing dan realokasi anggaran TA.
2021 BNPP/Basarnas 2.267,46 2.165,17 Turun
VIII Kementerian Agama 66.961,39 66.766,56 Turun Memahami dan meminta agar dalam pelaksanaan program dan anggaran tahun 2021 memperhatikan dan menindaklanjuti saran dan pendapat pimpinan dan anggota Komisi VIII DPR RI. Komisi VIII DPR RI mendukung usulan tambahan anggaran Kementerian Agama RI Tahun 2021 sebesar Rp.1.332.645.447.000 yang akan digunakan untuk memberikan kuota internet selama 3 bulan untuk mendukung pembelajaran jarak jauh (PJJ) di sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi di lingkungan Kementerian Agama RI.
20
IX BP2MI 381,75 365,97 Turun Memahami Refocusing dan Realokasi anggaran TA 2021 BP2MI terutama dalam upaya pemulangan Pekerja Migran Indonesia di masa pandemi Covid-19 baik PMI Prosedural maupun Non Prosedural.
Komisi IX DPR RI menilai anggaran BP2MI tahun 2021 sangat rendah dibandingkan dengan Tugas, Pokok dan Fungsi yang melekat di BP2MI untuk melindungi dan memperdayakan BP2MI. BP2MI diminta untuk melakukan berbagai upaya dalam rangka peningkatan anggaran TA 2021 baik yang bersumber dari APBN maupun non APBN.
Komisi IX DPR RI mendorong Kepala BP2MI untuk bertemu Presiden RI dalam rangka membicarakan kebutuhan penambahan anggaran BP2MI TA 2021, sehingga penempatan, pelindungan dan pemberdayaan PMI dapat dimaksimalkan terutama di masa Pandemi Covid-19
X
Kementerian Pemuda dan Olahraga
2.322,77 2.000,27 Turun Terkait Refocusing dan Realokasi anggaran penyelenggaraan PON dan Peparnas 2021, Komisi X DPR RI mendesak Kemenpora RI untuk mengantisipasi pelaksanaan dan tetap memaksimalkan penyelenggaraan PON dan Peparnas Tahun 2021 di Papua Kemenparekraf/Bapar
ekraf RI
4.907,1 4.565,0 Turun Komisi X DPR RI mendorong Kemenparekraf/ Baparekraf RI agar penghematan Anggaran APBN TA 2021 sebesar Rp342.145.794.000,- tidak mempengaruhi target prioritas nasional dan program prioritas Kemenparekraf/ Baparekraf RI.
Komisi X DPR RI mendesak Kemenparekraf/ Baparekraf RI untuk memastikan alokasi dukungan K/L dalam pembangunan pariwisata sebagaimana yang dirilis oleh Kemenkeu RI sebesar 14,2T.
Komisi X DPR RI mendesak Kemenparekraf/ Baparekraf RI, agar alokasi dukungan K/L terkait untuk pembangunan pariwisata pada tahun 2021 sebesar Rp9.991.659.700.000,- dikoordinasikan dan dikonsolidasikan kepastian penggunaan anggarannya untuk pengembangan pariwisata,
21
termasuk dalam upaya mengurangi kesenjangan dan menjamin pemerataan disekitar daerah destinasi wisata prioritas, superprioritas dan destinasi unggulan di setiap daerah Perpusnas RI 675,5 668,2 Turun Komisi X DPR RI menekankan Perpusnas
RI agar penghematan belanja Perpustakaan Nasional RI sebesar Rp7.316.287.000,-tidak mempengaruhi target prioritas nasional dan program prioritas Perpusnas RI
Sumber: Data diolah dari laporan singkat kesimpulan hasil rapat DPR RI www.dpr.go.id Keterangan:
Berdasarkan data-data pada Tabel 2 di atas diketahui hal-hal berikut:
a. Dari 11 Komisi, hanya 5 Komisi (45,45%) yang melakukan pembahasan atas refocusing dan realokasi anggaran TA 2021 dengan K/L mitra kerjanya, sisanya sebanyak 6 Komisi (54,55%) tidak membahas refocusing dan realokasi anggaran K/L mitra kerjanya.
b. Mitra kerja Komisi yang mengalami kenaikan anggaran hanyalah mitra kerja Komisi IV, yaitu Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Kelautan dan Perikanan.
c. Sedangkan anggaran mitra kerja Komisi V, VIII, IX dan X anggaranya pada TA 2021 mengalami pengurangan.
d. Terdapat dua Komisi (VIII dan IX) yang mendukung agar penambahan anggaran kepada mitra kerjanya dinaikkan, yaitu, Komisi VIII kepada Kementerian Agama dan Komisi IX kepada Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI).
e. Menyikapi pengurangan anggaran mitra kerjanya, Komisi V menerima pengurangan anggaran Kementerian Perhubungan, Kementerian PUPR, BMKG, dan BNPP/Basarnas.
f. Sekalipun anggaran Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi pada TA 2021 mengalami penurunan, Komisi V dapat memahami. Sikap dapat memahami penurunan anggaran diberikan pula oleh Komisi VIII kepada Kementerian Agama tetapi mendukung usulan tambahan anggaran Kementerian Agama Tahun 2021 sebesar Rp.1.332.645.447.000 yang akan digunakan untuk memberikan kuota internet selama 3 bulan untuk mendukung pembelajaran jarak jauh (PJJ) di sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi di lingkungan Kementerian Agama.
g. Terhadap pengurangan anggaran pada Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) memahami dan menilai anggaran BP2MI sangat rendah jika dibandingkan dengan tugas dan fungsinya. Karena itu Komisi IX meminta kepada BP2MI untuk melakukan berbagai upaya dalam rangka peningkatan anggaran TA 2021 baik yang bersumber dari APBN maupun non APBN. Dan mendorong Kepala BP2MI untuk bertemu Presiden RI dalam rangka membicarakan kebutuhan penambahan anggaran BP2MI TA 2021, sehingga penempatan, pelindungan dan pemberdayaan PMI dapat dimaksimalkan terutama di masa Pandemi Covid-19.
Catatan:
Refocusing dan realokasi anggaran belanja K/L yang dibahas Komisi selama dua masa sidang terakhir hanya bergantung kepada pemerintah karena kewenangan mengurangi maupun menaikkan anggaran K/L ada pada Menteri Keuangan RI. Karena itu Komisi tidak dapat menolak meskipun anggaran mitra kerjanya dikurangi.
22
Sikap Komisi IX yang meminta BP2MI menghadap Presiden untuk membicarakan tambahan anggaran menunjukkan DPR tak lagi bertaji dalam membahas anggaran K/L. Hal itu nampak pada permintaan Komisi kepada K/L mitra kerjanya agar dengan kemampuanya sendiri memperjuangkan kenaikan anggarannya. Selain tak bertaji, permintaan kepada BP2MI untuk menemui Presiden juga tidak sesuai dengan tata cara revisi anggaran yang semestinya disampaikan dan dilakukan oleh Direktorat Jendral Anggaran Kemenkeu RI.22
D. Kewenangan Badan Anggaran (Banggar) Diamputasi
Badan Anggaran (Banggar) antara lain bertugas: (1) membahas rancangan undang-undang tentang APBN bersama Presiden yang dapat diwakili oleh menteri mengenai alokasi anggaran untuk fungsi dan program Pemerintah dan dana alokasi transfer daerah dengan mengacu pada keputusan rapat kerja komisi dan Pemerintah; (2) melakukan sinkronisasi hasil pembahasan di komisi dan alat kelengkapan DPR lainnya mengenai rencana kerja dan anggaran kementerian/lembaga; (3) melakukan sinkronisasi terhadap usulan program pembangunan daerah pemilihan yang diusulkan komisi; (4) membahas laporan realisasi dan perkiraan realisasi yang berkaitan dengan APBN; dan (5) membahas pokok-pokok penjelasan atas rancangan undang-undang tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBN.23 Badan Anggaran hanya membahas alokasi anggaran yang sudah diputuskan oleh komisi.24 Anggota komisi dalam Badan Anggaran harus mengupayakan alokasi anggaran yang diputuskan komisi dan menyampaikan hasil pelaksanaan tugas kepada komisi melalui rapat komisi.25
Selanjutnya Pasal 30 Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 208/PMK. 02/2020 tertanggal 21 Desember 2020 Tentang Tata Cara Revisi Anggaran Tahun Anggaran 2021 diatur seperti berikut:
(1) Kementerian/Lembaga dapat menyampaikan revisi pergeseran anggaran antar-Program selain yang disebutkan dalam Pasal 10 ayat (2) ke Direktorat Jenderal Anggaran setelah mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.”
(2) Revisi Anggaran yang memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat diajukan oleh Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris Kementerian/Lembaga kepada Ketua Komisi mitra Kementerian/Lembaga atau Ketua Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat untuk mendapat persetujuan;
(3) Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/Pejabat Eselon I Kementerian/Lembaga mengajukan usulan Revisi Anggaran kepada Direktur Jenderal Anggaran berdasarkan persetujuan dari Ketua Komisi mitra Kementerian/Lembaga atau Ketua Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
Catatan:
Dari regulasi diatas tampak jelas peran DPR dalam membahas APBN, baik melalui Badan Anggaran maupun Komisi. Namun demikian, peran DPR yang dalam hal ini dilakukan oleh
22 Pasal 12 Ayat (1) dan (7) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 208/PMK.02/2020 tentang Tata Cara Revisi Anggaran Tahun Anggaran 2021
23 Pasal 110 ayat (1) huruf c,d,e,f, dan g UU MD3 dan Pasal 71 Peraturan DPR Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Tertib.
24 Pasal 110 ayat (2) UU MD3
25 Pasal 110 ayat (3) UU MD3