FORMAPPI
9 Oktober 2011
Evaluasi tahun kedua DPR 2009 – 2014 (Oktober 2010 – September 2011)
Ada kemajuan, tetapi banyak kemunduran
DPR makin kehilangan kepercayaan masyarakat
Fungsi-fungsi DPR berjalan, tetapi tidak menghasilkan kinerja bagi terpenuhinya kepentingan publik
Perilaku anggota DPR jauh dari menunjukkan kesan mengabdi kepada kepentingan dan
aspirasi rakyat
Dugaan kuat praktek mafia dan percaloan
• 4 Aspek Kinerja:
1. Kinerja legislasi 2. Kinerja anggaran 3. Kinerja pengawasan
4. Kinerja Badan Kehormatan
• Acuan: prosedur, target resmi, batas waktu,
dan norma legal dan etik pelaksanaan fungsi,
kewajiban dan tanggungjawab DPR
• Fungsi Legislasi DPR selalu mendapat sorotan tajam dari masyarakat karena produktifitas rendah, dan
kualitas legislasi buruk.
• Target Legislasi 2011 terdiri dari 70 RUU Prolegnas, dan 23 RUU Luncuran tahun 2010. Total 93 RUU.
• Capaian legislasi: 12 UU Luncuran 2010, dan 0 (Nol) Prolegnas 2011.
• 12 UU itu bukan merupakan prioritas dalam rencana kerja pemerintah.
• Prolegnas tidak bermakna apapun bagi DPR.
• Legislasi DPR tidak memihak pada kepentingan
masyarakat.
• Prolegnas mengacu pada Rencana Kerja Pemerintah, dijabarkan dalam 11 Prioritas Nasional, dan Kepentingan Masyarakat pada umumnya.
• Maka DPR 2011 harus minimal menyelesaikan 24 RUU, yaitu: 15 RUU terkait dng 11 Prioritas Nasional, dan 9 RUU terkait dng Kepentingan Masyarakat. (Semua ada di Prolegnas 2011)
• Jika kendali legislasi ada di tangan DPR, fakta-fakta legislasi 2011 membuktikan DPR gagal dalam mengarahkan
pengembangan peraturan perundang-undangan yang berguna bagi pembangunan nasional dan pencapaian kemajuan
masyarakat.
• Selain mengingkari Prolegnas, DPR terlihat tidak mempunyai politik legislasi yang mampu menentukan arah dan prioritas legislasi untuk pembangunan nasional, dan kemajuan
masyarakat.
• Keberadaan Baleg diragukan telah memberi manfaat yang
berarti bagi politik legislasi, perencanaan program legislasi, dan
realisasi program legislasi.
• Kinerja DPR di bidang anggaran tidak signifikan dalam memperjuangkan
kepentingan publik.
• Politik anggaran yang dijalankan DPR masih berorientasi pada proyek dan kepentingan sendiri serta Pemerintah.
• Peluang penggarongan anggaran sangat terbuka di DPR (komisi dan banggar),
khsususnya dalam menentukan
pengalokasian DAK dan dana penyesuaian.
•
DPR berhasil mendorong peningkatan penerimaan negara sebanyak Rp. 18,5 trilyun mampu memaksa Pemerintah mengeluarkan dana penerimaan yang
“disembunyikan.”
•
Namun, DPR gagal menolak peningkatan pengeluaran negara sebanyak Rp. 27,5 trilyun sengaja tidak kritis terhadap efisiensi anggaran belanja negara yang diajukan pemerintah.
•
Hasilnya:
◦ Kesenjangan lebar antara penerimaan dan pengeluaran APBN. Defisit Rp. 214,6 trilyun.
◦ Pembangunan bukan prioritas. Belanja modal Rp. 121,8 trilyun, jauh di bawah Belanja Pegawai Rp. 180,6 trilyun
•
DPR gagal mencegah alokasi dana penyesuaian untuk membantu daerah yang pada dasarnya melanggar UU 33/2004 tentang PKPD. Ini yang disinyalir menjadi lahan bagi permainan Banggar.
•
DPR gagal menutup kesenjangan lebar antara Belanja Pusat dan Transfer ke Daerah Rp. 836,5 trilyun : Rp. 392,9 trilyun. Pusat mendominasi, padahal pembangunan ada di daerah; ada tumpang tindih anggaran; dan, tidak ada pengawasan untuk ini. Ini juga membuka peluang untuk manipulasi anggaran.
•
DPR meloloskan alokasi dana tambahan K/L Rp. 21,8 trilyun, padahal sudah ada pos belanja K/L. Diduga ini jadi sumber penggarongan (rayahan) mafia anggaran
•
Perlu dilakuan reformasi peran anggaran DPR.
• DPR telah melakukan serangkaian fungsi pengawasan, antara lain:
o Membentuk Tim Pengawas Penyelesaian Secara Hukum Kasus Skandal Bailout Bank Century Rp. 6,7 trilyun;
o Pengawasan pelaksanaan APBN;
o Melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) ke berbagai daerah di Indonesia;
o Mengadakan Rapat Kerja dengan institusi-institusi kenegaraan lainnya yang menjadi Pasangan Kerja Komisi-komisi Dewan.
o Menggunakan hak-hak DPR (angket Pajak)
• Sedikit kemajuan dalam fungsi pengawasan,
tetapi efektivitas hasil pengawasan tidak jelas
•
Timwas Century telah bekerja scr intens dengan hasil temuan indikasi
pelanggaran hukum pemberian FPJP, dan sinyalemen pembiaran oleh KPK terhadap pelanggaran hukum skandal Century. Tetapi pengawasan ini tidak efektif untuk mendorong percepatan pelaksanaan rekomendasi oleh instansi penegakan hukum.
•
Pengakuan sejumlah anggota DPR tentang calo dan mafia anggaran merupakan kemajuan, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong pencegahan manipulasi anggaran di DPR maupun Pemerintah.
•
Kunker Komisi telah dilakukan secara menyeluruh di daerah-daerah. Namun hanya sebagian Komisi menjangkau sampai tingkat kabupaten dan akar
rumput; sebagian Komisi lain tetap saja berkutat hanya di tingkat propinsi.
Tetapi, hasil kunker belum terlihat efektif memperbaiki pelaksanaan kebijakan.
•
Raker komisi utk pengawasan berlangsung scr intens namun terbatas pada isu-isu pelaksanaan undang-undang dan kebijakan yg kontroversial dan bermasalah. Hasilnya belum scr langsung membawa perubahan pada perbaikan kinerja pemerintah dan pelaksana kebijakan yang lain.
•