• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFIKASI GURU SD MENERAPKAN PENDEKATAN SAINTIFIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EFIKASI GURU SD MENERAPKAN PENDEKATAN SAINTIFIK"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016

EFIKASI GURU SD MENERAPKAN PENDEKATAN SAINTIFIK

Rusdiyana

Dosen FKIP Universitas Achmad Yani Banjarmasin

Jalan A. Yani Km 5,5 Komplek Stadion Lambung Mangkurat Banjarmasin

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui level efikasi guru SD dalam menerapkan pendekatan saintifik, (2) mengetahui perbedaan level efikasi guru SD dalam menerapkan pendekatan saintifik berdasarkan jenis kelamin , dan (3) mengetahui perbedaan level efikasi guru SD dalam menerapkan pendekatan saintifik berdasarkan pengalaman mengajar.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan survei. Ukuran sampel 44 guru SD yang terdiri guru pria 17 orang dan guru wanita 27 orang. Daerah yang dipilih adalah kota Banjarbaru provinsi Kalimantan Selatan. Pengumpulan data menggunakan instrumen skala Likert (1-4) sebanyak 5 item. Responden adalah guru SD yang telah melaksanakan Kurikulum 2013. Uji validitas instrument menggunakan analisis faktor dan untuk analisis konsistensi internal instrument menggunakan Cronbach Alpha.

Analisis hasil penelitian menggunakan analisis deksriptif dan uji signifikasi perbedaan antara level efikasi guru berdasarkan level pengalaman dan jenis kelamin menggunakan ANOVA.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) sebanyak 40% guru SD ragu dengan kemampuannya (level efikasi rendah) untuk menerapkan pendekatan saintifik, (2) ada perbedaan signifikan level efikasi guru SD antara guru baru dengan guru senior (p=0.003<0.05), dan (3) ada perbedaan signifikan level efikasi guru SD antara kelompok pria dan wanita (p=0.007<0.05).

Kata kunci: Efikasi Guru SD, Pendekatan Saintifik

PENDAHULUAN

Efikasi guru mengajar adalah salah satu faktor diterminan terhadap performansi mengajar guru sehari-hari di sekolah. mendefinisikan efikasi guru mengajar sebagai keyakinan dalam menyelenggarakan pembelajaran yang efektif.

Dalam kontek kurikulum 2013, efikasi guru mengajar adalah keyakinan guru terhadap kemampuannya untuk menerapkan pendekatan saintifik. Informasi tentang level efikasi guru dalam mengajar adalah sangat berguna sebagai bahan pengembangan kurikulum pendidikan yang efektif (Weasmer dan Woods: 1998)

Namun level efikasi guru mengajar selama ini belum banyak dilakukan penelitian sebagai bahan pengembangan kurikulum pendidikan dan pelatihan guru.

Jika penelitian tentang level efikasi guru mengajar tidak dilakukan, pengembangan kurikulum pendidikan terutama pada program PGSD kurang tepat sasaran dan kurang efektif. Oleh karena itu, penelitian tentang level efikasi diri guru dalam mengajar perlu dilakukan sebagai input untuk penyempurnaan dalam pengembangan kurikulum pendidikan para program PGSD sebagai pencetak calon Guru SD yang profesional.

Penelitian tentang efikasi guru dalam mengajar ini ditekan pada penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran kurikulum 2013. Dalam Permendikbud

(2)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses disebutkan bahwa peran guru adalah mengembangkan tiga kompetensi utama peserta didik yaitu kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap secara integratip. Kompetensi pengetahuan meliputi 6 kategori: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Komptensi keterampilan meliputi 5 kategori:

mengamati, menanya, mencoba, menalar dan menyajikan. Komptensi sikap meliputi 5 kategori: menarima, menjalankan, menghargai, menghayati dan mengamalkan.

Fokus penelitian ini adalah untuk menginvestigasi efikasi guru dalam mengajarkan lima keterampilan saintifik siswa (5M) yang meliputi mengamati, menanya, mencoba, menalar dan menyajikan supaya siswa membangun sendiri pengetahuan yang diperolehnya. Disamping itu 5M siswa ini juga secara langsung berpengaruh terhadap pengembangan sikap setiap tahapan pembelajaran. Guru dalam mengembangkan 5M siswa memiliki multiplier effects (efek ganda).

Berdasarkan masalah di atas tujuan penelitian ada tiga: (1) mengetahui level efikasi guru SD dalam menerapkan pendekatan saintifik, (2) mengetahui perbedaan level efikasi guru SD dalam menerapkan pendekatan saintifik berdasarkan jenis kelamin dan (3) mengetahui perbedaan level efikasi guru SD dalam menerapkan pendekatan saintifik berdasarkan pengalaman mengajar.

Manfaat penelitian ini bagi Universitas Achmad Yani (UVAYA) adalah untuk memperbaiki kurikulum pada mata kuliah pedagogi bagi calon guru SD dalam menerapkan pendekatan saintifik kurikulum 2013. Bagi mahasiswa calon guru, hasil penelian ini bermanfaat untuk merancang pembelajaran pada praktek lapangan.

LANDASAN TEORI

A. Konsep Efikasi Guru Mengajar

Anderson et al. (1991) menemukan bahwa efikasi guru dalam mengajar memiliki hubungan yang signifikan dengan pencapaian belajar siswa. Guru yang memiliki efikasi mengajar tinggi cenderung mempengaruhi siswa berprestasi tinggi. Sebaliknya guru yang memiliki efikasi rendah cenderung memiliki siswa berprestasi rendah. Efikasi guru mengajar merupakan faktor penting yang perlu mendapat perhatian dalam program peningkatan keprofesian guru. Dalam pengembangan kurikulum Diklat, meningkatkan efikasi guru dalam mengajar perlu dimasukan salah satu tujuan program Diklat.

Pengaruh efikasi guru terhadap prestasi siswa merupakan pengaruh tidak langsung melalui performansi guru. Performansi guru meliputi kemampuan merancang melaksanakan, dan evaluasi pembelajaran. Bandura (1997) menemukan bahwa efikasi guru memiliki pengaruh signifikan terhadap kemampuan guru dalam menetapkan tujuan pembelajaran, level aspirasi, usaha yang sungguh-sungguh, adaptasi, dan kegigihan. Kompetensi dan kesungguhan guru dalam membimbing siswa berdampak langsung terhadap perfomansi guru yang pada gilirannya berpengaruh pada prestasi siswa.

Hasil penelitian Ashton & Webb (1986) menunjukkan bahwa efikasi guru dalam mengajar memiliki pengaruh positif terhadap performansi individu seperti ketekunan mengerjakan pada tugas, keberanian mengambil risiko, dan penggunaan inovasi mengajar. Efikasi guru dalam mengajar juga mempengaruhi guru dalam penetapan tujuan dan efektivitas perilaku, persepsi terhadap peluang dan hambatan,

(3)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 sikap positif terhadap kemampuan siswa. Namun bagi guru yang memiliki efikasi diri yang rendah cenderung menyerah ketika menghadapi siswa yang bermasalah, cenderung suka menghukum, pemarah dan otoriter.

Weasmer dan Woods (1998) mendefinisikan efikasi mengajar sebagai keyakinan dalam menyelenggarakan pembelajaran yang efektif. Efikasi dalam mengajar dibagi menjadi dua jenis yaitu efikasi yang terkait dengankeluaran (output) dan efikasi harapan (expectancy). Efikasi terhadapkeluaran dalam mengajar secara umum merupakan keyakinan individu untuk mampumencapai target yang diharapkan sedangan efikasi terhadap harapan dalam mengajarsecara personal merupakan efikasi mengajar yang terkait dengan situasi mengajaryang lebih spesifik.

Penelitian ini menekankan efikasi pada jenis kedua yaitu efikasi mengajar yang secara spesifik. Spesifikasi yang dilakukan pada tugas mengajar guruadalah dari perencanaan mengajar hingga evaluasi hasil belajar siswa. Penekanan ini didasarkan pada pernyataan Bandura (1997) yang mengatakan bahwa efikasi diri adalah keyakinan terhadap kapabilitas diri untuk mengorganisasi dan melaksanakan seperangkat tindakan untuk mencapai target yang ditetapkan. Efikasi dapat ditingkatkan melalui belajar dengan beberapa cara antara lain mengamati orang laing yang diyakini sebagai orang kredibel dan berpengatahuan, memperkua perilaku belajar, diberikan pengalaman baru yang langsung memiliki konsekuensi.

Pendidikan dan pelatihan merupakan faktor utama bagi guru untuk mendapat wawasan, pengetahuan bidang pengajaran, perubahan pola pikir dan pola hati, dan keterampilan dasar yang sangat dibutuhkan dalam kegiatan keprofesian sehari-hari di sekolah. Para ahli sepakat bahwa penguasaan di bidang pengajaran atau pedagogi menjadi cirri paling penting dalam pelaksanaan kurikulum di sekolah. Pengetahuan tentang cara mengajar adalah sebagai penentu utama kualitas pembelajaran. Dengan demikian pendidikan dan pelatihan tentang cara mengajar dapat meningkatkan efikasi guru yang pada giliranya mendorong guru untuk berlatih dan mencoba sendiri strategi dan teknik baru sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.

Selain itu, pengalaman mengajar merupakan pengetahuan yang dibentuk melalui interaksi antara faktor-faktor selama kolabarasi dengan guru lain dalam kelompok atau musyawarh kerja guru. Selam interaksi dengan guru lain, guru memperoleh pengalaman melalui pengamatan terhadap praktek terbaik dari guru lain, diskusi dan mengjadi praktek terbaik, kesempatan mencoba teknik baru serta umpan balik dari sesama guru. Pola kolaborasi antar guru dalam menerapakan pendekatan saintifik kurikulum 2013 semacam ini sangat diperlukan untuk meningkatkan efikasi sebagai hasil dari pengalaman yang berhasil.

Menurut Cohen, Raudenbush dan Ball (2003), bukti-bukti statistik menunjukkan bahwa penerapan pengajaran yang disertai dengan pengetahuan dan tindakan memberi pengaruh terhadap pembelajaran peserta didik. Kolaborasi antar guru dapat mendorong guru untuk menerapkan pengetahuan tentang cara mengajar dari hasil pendidikan dan pelatihan. Kombinasi pendidikan dan pelatihan dan kolaborasi antar guru dalam kelompok atau musywarah kerja merupakan cara paling efektif dalam merapkan pendektan saintifik kurikulum 2013. Pendidikan dan pelatihan memungkin guru meperoleh pengatuan tantang pendetakan saintifik dan cara menerapkannya. Sementara kolaborasi antar guru di sekolah atau kelompok kerja guru memungkinkan guru memperoleh pengalaman praktek terbaik dalam implementasi kurikulum 2013.

(4)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 Efikasi guru merupakan keyakinan individu guru terhadap kemampuannya dalam melaksanakan tuga tertentu (Bandura, 1997). Konsep reciprocal determinism adalah hasil interkasi antara pengethuan kognitif, lingkungan dan perilaku yang memungkinkan individu mempelajari lingkungannya untuk menghasilkan perilaku yang dibutuhkan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Setiap upaya untuk mencapai keberhasilan kemungkinan besar berhasil ketika melalui upaya peningkatan efikasi diri. Peningkatan efikasi guru merupakan cara yang ampuh untuk mencapai keefektifan pelatihan dan perolehan pengalaman.

B. Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013

Perbedaan antara kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya dapat dilihat pada muatan standar kompetensi lulusan (SKL). Dalam SKL kurikulum 2013 pada domain keterampilan tidak lagi menggunakan taksonomi Bloom akan tetapi menggunakan five discovery skills Dyer at.al. (2011) yang dikenal dengan 5M. Keterampilan 5M ini meliputi mengamati, menanya, mencoba, menalar (asosiasi), dan menyajikan. Keterampilan 5M, pengetahuan dan sikap secara integratif merupakan merupakan focus hasil belajar peserta didik pada kurikulum 2013 sebagaimana ditetapkan pada Permendikbud No 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses. Keterampilan 5M adalah keterampilan belajar saintifik peserta didik yang harus selalu dikembangkan untuk menghasilkan lulusan yang kreatif, inovatif, produktif, berfikir tingkat tinggi dan berkarakter.

1. Mengamati

Mengamati fenomena atau objek dapat membangkitkan rasa ingin tahu tidak hanya bagi peserta didik akan tetapi juga bagi manusia pada umumnya. Rasa ingin tahu ini akan mendorong peserta didik untuk mencari tahu. Mengamati adalah keterampilan amat penting untuk memperoleh pengetahuan. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari hasil pengamatan. Kegiatan mengamati merupakan kegiatan vital dan harus terus menerus dikembangkan sehingga siswa mendapatkan pengetahuan tentang realita yang disebut juga pengetahuan faktual.

Menurut Anderson dan Krathwohl (2001) bahwa pengetahuan factual kurang mendalam, kurang sistemtis dan masih terpisah-pisah.

Hal ini bukan berarti pengetahuan factual tidak penting namun pengetahuan factual saja tidaklah cukup untuk mencapai berfikir tingkat tinggi yang diperlukan untuk problem solving. Cara membangun pengetahuan konseptual adalah dengan membuat asosiasi antar pengetahuan factual yang terpisah-pisah sehingga menjadi sebuah bangunan pengetahuan yang terintegrasi. Bangunan pengetahuan tersebut tidak akan terjadi jika peserta didik belum memiliki pengetahuan tentang fakta- fakta (pengetahuan factual) diperoleh dari hasil kegiatan pengamatan (observasi).

Oleh karena itu, kegiatan mengamati adalah tahap pertama dan utama yang harus dilalui peserta didik untuk mencapai berfikir tingkat tinggi.

Carin & Bass (2001) menyatakan bahwa mengamati (observasi) adalah proses mengumpulkan informasi dengan menggunakan panca indera yang cocok dan alat bantu indera. Mangamati adalah proses empiris, yakni observasi berdasarkan pengalaman langsung tanpa inferensi atau teori. Kegiatan mengamati dapat berupa mengamati fenomena alam, fenomena social, subyek, atau objek secara langsung atau tidak langsung melalui video, gambar atau teks.

Strategi guru supaya peserta didik melakukan kegiatan mengamati adalah dengan cara menunjukkan atau mendomonstrasikan fenomena alam, fenomena

(5)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 social, subyek, atau objek secara langsung atau tidak langsung melalui video, gambar atau teks. Kemudian guru meminta siswa mendeskripsikan hasil pengamatan baik secara tertulis atau lisan sebagai bukti bahwa siswa telah melakukan pengamatan dengan serius. Setelah mendiskripsikan hasil pengamatan dengan lengkap, guru mendorong peserta didik untuk mengajukan pertanyaan berdasarkan hasil pengamatan.

2. Menanya

Kegiatan menanya dalam keterampilan 5M ini adalah domain siswa dan bukan domain guru. Peran guru adalah mendorong dan memfasilitasi siswa untuk menanya. Pertanyaan yang diajukan siswa bukan sembarang pertanyaan dan bukan pertanyaan untuk mendapat penjelasan konsep dari guru akan tetapi pertanyaan dari hasil mengamati (observasi). Pertanyaan dari hasil pengamatan siswa adalah jenis pertanyaan yang mendorong kegiatan diskoveri, investigasi atau eksplorasi.

Menanya muncul setelah mengamati adalah sebagai wujud sikap rasa ingin tahu berdasarkan pengetahuan factual yang diperolehnya. Menanya sebagai rasa ingin tahu dimiliki setiap orang yang muncul sebagai akibat dari kegiatan mengamati.

Temuan di lapangan menunjukkan bahwa siswa diberi kesempatan bertanya setelah guru menjelaskan konsep. Guru mendorong siswa untuk bertanya yang berkaitan dengan penjelasan konsep guru yang belum jelas bagi siswa. Jika ada siswa bertanya, pertanyaan siswa tersebut adalah untuk meminta guru menjelaskan kembali konsep yang belum jelas. Guru kemudian menjelaskan kembali bagian konsep yang belum dipahami oleh siswa. Dalam kasus ini, jenis pertanyaan yang diajukan siswa tidak termasuk pertanyaan diskoveri. Disamping itu, dalam pembelajaran 5M tugas guru bukan menjelaskan konsep akan tetapi mendorong siswa untuk menemukan sendiri. Siswa mencari tahu bukan diberitahu.

Pertanyaan siswa tersebut di tulis di papan tulis sebagai rumusan masalah.

Guru kemudian menggiring siswa untuk mencoba menjawab sendiri pertanyaannya. Teknik guru supaya siswa menjawab sendiri pertanyaan dengan pertanyaan: “adakah di antara kalian yang ingin mencoba menjawab pertanyaan yang kalian buat sendiri sebelum diuji?” Teknik guru biasanya berhasil jika banyak siswa mencoba menjawabnya: ”jumlah ayunan akan berkurang jika panjang tali ditambah.”

Strategi guru mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan diskoveri berdasarkan hasil pengamatan antara lain mendorong siswa bertanya berdasarkan hasil pengamatan, memberikan waktu yang cukup bagi siswa untuk bertanya, Menilai/memberikan punjian bagi siswa yang bertanya berdasarkan frekuensi dan kualitas pertanyaan, menuliskan pertanyaan siswa yang relevan dengan tujuan pembelajaran di papan tulis sebagai rumusan masalah yang akan dipecahkan, Memperjelas/memberikan penguatan pertanyaan siswa

3. Mencoba

Mencoba merupakan kegiatan mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan pembelajaran dan pertanyaan investigasi. Mengumpulkan informasi dapat berupa kegiatan mendengarkan dan menyaksikan, menirukan dan mengidentifikasi banyak contoh interkasi secara langung maupun tak langsung melalui video, gambar atau teks. Kegiatan mencoba dapat dilakukan dengan simulasi, bermain peran atau kegiatan lain yang terstruktur.

Mengumpulkan informasi dapat juga berupa kegiatan memanipulasi sesuatu dan mengamati efek dari manipulasi. Memanipulasi sesuatu dimaksud adalah

(6)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 mengubah-ubah variable independen (variable bebas). Mengamati efek dari manipulasi adalah mengamati perubahan (efek) pada variable dependen (variabel terikat). Hal yang lebih penting dalam kegiatan percobaan adalah mengontrol variable-varibel lain yang ikut berpengaruh terhadap varibel dependen namun bukan variable-variabel yang sedang diteliti.

Strategi guru mendorong siswa untuk mencoba berdasarkan berdasarkan pertanyaan yang diajukan siswa antara lain menunjukkan kepada siswa cara mencoba/mendemontrasikan/mensimulasilan alat/bahan/objek, memfasilitasi alat/

bahan/objek bagi siswa untuk mencoba/ mendemontrasikan/ memanupulasi/

mensimulasi, memfasilitasi siswa mengamati hasil coba/demontrasi/

manipulasi/simulasi, memfasilitasi siswa untuk merekam data, memfaslitasi siswa untuk mengolah data menjadi informasi

4. Menalar

Kegiatan menalar merupakan kegiatan membangun pengetahuan yang dilakukan oleh peserta didik sendiri. Menalar adalah kegiatan yang berkaitan dengan kerja memori di dalam diri siswa. Sementara mengamati, menanya dan mencoba menghasilkan pengetahuan factual yang dapat dijelaskan dengan teori beviorisme. Menalar adalah kegiatan mengolah informasi yang terkumpul sampai pada ditemukan makna dan pola asosiasi antar informasi. Informasi yang berupa pengetahuan factual yang terpisah dibangun oleh peserta didik untuk menghasilkan pengetahuan konseptual. Menalar merupakan kerja memori yang ada pada diri peserta didik.

Hubungan antar variable dapat berupa hubungan antara variable laten dengan variable teramati. Disamping itu, hubungan antar variable dapat juga berupa hubungan antara varibel laten dengan variable laten. Hubungan antara variable laten dengan variable teramati dapat disebut juga faktorisasi, klasifikasi, kategorisasi atau pengelompokkan. Kumpulan varibel teramati pengetahuan factual diklasifikasi atau dikelompokkan berdasarkan kesamaan ciri-ciri tertentu sebagai proses abstraksi dari pengetahuan dari pengalaman konkrit. Strategi dan teknik guru mendorong siswa untuk melakukan kegiatan menalar antar lain membimbing siswa membuat kategorisasi dan membimbing siswa membuat asosiasi/ hubungan sebab akibat.

5. Menyajikan

Kata “Networking” (jejaring) dalam standar proses diterjemahkan menjadi kata “Menyajikan”. Meskipun kedua kata berbeda namun memiliki makna dan fungsi yang sama, yakni kolaborasi. Kegiatan menyajikan dilakukan setelah kegiatan mengamati, menanya, mencoba dan menalar telah dilakukan. Pada tahap menyajikan, siswa dilatih untuk mampu menjelaskan hubungan antara kesimpulan dan fakta-fata yang menjadi dasar penyusunan kesimpulan. Redaksi kalimat kesimpulan asosiasi adalah buatan siswa sendiri dan bukan dari buku.

Kemungkinan besar redaksi kesimpulan antar siswa berbeda-bebeda akan tetapi memiliki makna yang sama.

Strategi guru mendorong siswa untuk menyajikan berdasarkan hasil percobaan dan menalar antara lain mendorong siswa untuk menyajikan data hasil ujicoba/ dimontrasi/simulasi secara tertulis, memfasilitasi media bagi siswa untuk presentasi, mendorong siswa untuk menjelaskan secara lisan asosiasi/hubungan kausal/makna /manfaat dari data hasil ujicoba.

(7)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode survei.

Desain Penelitian adalah deskriptif yaitu deskripsi tentang efikasi guru SD dalam menerapkan pendekatan saintifik. Tempat penelitian di lakukan di Kota Banjarbaru Provinsi Kalsel selama 3 bulan. Sampel penelitian 44 guru negeri sebagai waki seluruh guru SD Kota Banjarbaru.

Variabel dalam penelitian ini adalah Efekasi Guru SD dalam menerapkan saintifik kurikulum 2013, jenis kelamin dan umur. Efikasi Guru dimaksud adalah keyakinan guru akan mampu menerapkan pendekatan saintifik kurikulum 2013 yang meliputi mengembangkan keterampilan 5M siswa: mengamati, menanya, mencoba, menalar dan menyajikan. Teknik pengumpuan data menggunakan angket. Instrumen angket awal meliputi 8 item untuk mengukur efikasi guru dalam menggunakan pendekatan sintifik kurikulum 2013. Uji validitas instrumen menggunakan analisis faktor eksploratori dan konfirmatori.

Hasil uji validitas menunjukkan bahwa dari 8 item pada instrument, hanya 5 item yang valid (nilai t>1.96) sehingga hanya 5 item tersebut yang menjadi alat ukur efikasi guru. Kelima item tersebut adalah item-item yang berkaitan strategi guru untuk mengembangkan keterampilan 5M siswa dan hal sesuai dengan hasil penelitian Dyer (2011). Kalimat kelima item tersebut selalu didahuli dengan kata

“Saya yakin mampu mendorong siswa untuk (1) mengamati, (2) menanya, (3) mencoba, (4) menalar, dan (5) menyajikan,” Hasil analisis reliabilitas juga menunjukkan instrumen 5M tersebut memenuhi syarat reliabilitas dengan nilai Cronbach Alpha=0.723>0.7 dan semua item layak sebagai alat ukur efikasi guru (>0.3).

HASIL PENELITIAN

Rerata level efikasi guru dalam menerapkan pendekatan saintifik adalah 2.634 yang artinya pada level antara kurang yakin dan yakin mampu melakukannya.

Diharapkan rerata efikasi guru minimal 3.00 sehingga guru memiliki optimisme dan harapan yang kuat untuk mencapai kemampuan dalam menerapkan pendekatan saintifik. Hal ini juga ditunjukkan jumlah guru yang ragu dengan kemampuannya mencapai 40%, angka yang cukup besar. Jika level efikasi rendah, guru kurang memiliki harapan untuk mampu mencapai kemampuan yang diharapakan.

Penyumbang terbesar rendahnya rerata efikasi guru berasal dari rendahnya tiga keterampilan diskoveri yaitu keterampilan menanya (2.64), menalar (2.41), dan menyajikan (2.57). Efikasi guru pada keterampilan menalar menunjukkan rerata paling rendah. Disamping itu deviasi standar menalar cukup kecil (0.497). Ini berarti sebagian besar guru hampir memiliki kesamaan rendahnya keyakinan untuk mampu menerapkan kegiatan menalar siswa. Konsekuensinya, program pengembangan guru perlu difokuskan pada menalar, menanya, dan menyajikan.

Menurut Dyer (2011), keterampilan menalar merupakan aktifitas yang tidak dapat diamati secara langsung karena terjadi pada aktifitas memori dan termasuk kegiatan berfikir tingkat tinggi. Oleh karena itu wajar jika sebagian besar guru memiliki efikasi paling rendah pada keterampilan menalar. Efektif tidaknya kegiatan menalar tergantung pada efektif tidaknya keempat keterampilan diskoveri sebagai yaitu mengamati, menanya, mencoba dan menyajikan. Semakin efektif

(8)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 penerapan keempat keterampilan diskoveri terebut semakin sukses siswa mengembangkan keterampilan menalar.

Level efikasi guru berdasarkan pengamalan terjadi perbedaa yang signifikan (p=0.003<0.05). Guru baru memiliki level efikasi paling rendah 2.53 disusul guru sangat senior 2.78 dan guru senior 2.83. Pengalaman mempengaruhi level efikasi guru dalam menerapan pendekatan saintifik. Hasil uji scheffe menunjukkan bahwa perbedaan level efikasi guru antara baru dengan guru senior dan sangat senir adalah signifikan (p=0.006<0.05 dan p=0.029<0.05). Namun level efikasi antara guru senior dengan guru sangat senior tidak signifikan (p=0.803>0.05). Nilai deviasi standar terbesar pada guru baru 0.28 disusul guru senior 0.24 dan guru sangat senior 0.21.

Hal ini dapat ditafsirkan bahwa semakin senior guru semakin memiliki kesamaan level efikasi atau cenderung homogen. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa guru baru masih sedang mencari model yang cocok untuk keberhasilan karir dirinya dan belum banyak beriteraksi untuk melakukan praktek terbaik. Pengalaman yang kurang menyebabkan keyakinan guru muda belum tumbuh. Solusi yang terbaik bagi guru muda adalah untuk meningkatkan pengalaman praktek terbaik melalui interaksi lebih banyak dengan guru-guru senior. Sementara guru senior secara bertahap telah menemukan strategi yang tepat untuk masa depan dirinya.

Hasil analisis level efikasi guru berdarakan jenis kelamin menunjukkan bahwa ada perbedaan efikasi guru secara signifikan antara pria dan wanita (p=0.007<0.05). Rerata efikasi guru pria lebih rendah dibandingkan dengan level efikasi guru wanita. Efikasi atau keyakinan guru pria lebih bervariasi dibandingkan dengan guru wanita. Efikasi guru pria cenderung semakin senior semakin tinggi.

Sementara efikasi guru wanita terjadi peningkatan hanya dari guru muda ke guru senior. Namun efikasi guru wanita terjadi penurunan dari guru senior ke guru sangat senior. Guru wanita dengan umur antara 31 s.d 40 belum memiliki banyak beban akan tetapi umur 41 ke atas beban rumah tangga mulai bertambah. Solusi dari kondisi demikian salah satunya pengalaman-pengamalan praktek terbaik guru direkam dengan video sehingga guru-guru yang lebih banyak memperoleh pengalaman melalui video tersebut.

Menurut Dyer (2011), lima keterampilan diskoveri (five discovery skills) merupakan keterampilan yang menjadi satu dengan kebiasaan hidup bagi para innovator. Lima keterampilan diskoveri inilah yang membedakan antara innovator dan non innovator. Para innovator memiliki kebiasaan yang sama yakni selalu menggunakan lima keterampilan diskoveri sebagai sumber ide dan inovasinya.

Sementara para entreupreneur yang kurang innovator, kurang menggunakan lima keterampilan diskoveri sebagai cara untuk mengembangkan ide-idenya. Kebiasaan menalar atau asosiasi dan menanya merupakan keterampilan yang memberikan sumbangan terbesar bagi pengembangan ide-ide kreatif dan inovatif.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarakan hasil analisis data dan pembahasan, penelitian ini dapat disimpulkan: (1) sebanyak 40% guru SD masih ragu dengan kemampuannya untuk menerapkan pendekatan saintifik kurikulum 2013, (2) ada perbedaan signifikan level efikasi guru SD antara guru baru dengan guru senior, dan (3) ada perbedaan signifikan level efikasi guru SD antara kelompok pria dan wanita. Terjadi kenaikan

(9)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 efikasi guru wanita dari guru muda ke guru senior dengan umur atara 31 s.d 40 tahun. Namun efikasi terjadi penurunan setelah umur 40 tahun ke atas.

Berdasarakan kesimpulan di atas, peneliti memberikan saran kepada: (1) Universitas Achmad Yani (UVAYA) untuk memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai bahan untuk menyempurnakan kurikulum pendidikan terutama pada program PGSD, (2) kepala sekolah untuk memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai bahan untuk perbaikan program supervisi dan program pengembangan keprofesian guru secara berkenjutan, dan (4) pengawas untuk memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai bahan untuk meyempurnaan intrumen penilaian dan program pembinaan guru yang lebih efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, L. W. & Krathwhol, D. R. (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives.

Addison Wesley Longman, Inc.

Anderson, L.M., Raphael, T.E, Englert, C.S. & Stevens, D.D. (1991). Teaching Writing with a New Instructional Model. Variations in Teachers’ Beliefs, Instructional Practice, and Their Students’ Performance. Paper Presented at the Annual Meeting of the American Educational Research Association, in Chicago, April 1991.

Ashton, P. T., & Webb, R. B. (1986). Making a difference: Teachers sense ofefficacy and student achievement. New York: Longman.

Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. New York: Freeman andCompany.

Carin, Arthur A. and Bass, Joel E. (2001). Teaching Science As Inquiry, New Jersey: Merril Prentice Hall

Cohen, D., Raudenbush, S. & Ball, D. 2003. Resources, instruction, and research.

Educational Evaluation and Policy Analysis 25(2): 119-142.

Dyer, J., Gregersen, H. & Christensen, C.M (2011). The Innovator’s DNA:

Mastering The Skills of Disruptive Innovators. Boston, Havard Bussiness School Publising.

Kemendikbud. (2013). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses. Jakarta.

Weasmer, J., & Woods, A. M. (1998). Facilitating success for new teachers.Principal, 78(2), 40-42.

(10)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016

STUDI TENTANG KORELASI DAYA INGAT DAN PENALARAN VERBAL DENGAN INDEKS PRESTASI CALON KARYAWAN BERBAGAI PERUSAHAAN DAN

INSTANSI DI BANJARMASIN

Nadya Huda dan Makmun Khairani Dosen FKIP Universitas Achmad Yani Banjarmasin

Jalan A. Yani Km.5,5 Kompleks Stadion Lambung Mangkurat Banjarmasin

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif, dan bersifat deskriptif dengan metode pengumpulan data menggunakan alat test psikologi dan dokumentasi. Permasalahan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah: 1) Apakah ada Korelasi antara daya ingat dengan indeks prestasi calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin 2) Apakah ada Korelasi antara Penalaran Verbal dengan indeks prestasi calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin, dan 3). Apakah ada Korelasi antara daya ingat dan Penalaran verbal, secara bersama-sama dengan indeks prestasi calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin, 4). Apakah ada Korelasi antara daya ingat dengan indeks prestasi calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin, dalam perspektif tingkat pendidikan D-3, S-1, dan S-2.

Populasi dalam penelitian ini adalah semua peserta psikotes yang melamar ke berbagai perusahaan melalui yayasan psikologi Banjarmasin, yang berlangsung antara bulan April 2014 sampai dengan Pebruari 2015, yang berjumlah 544 orang.

Dari jumlah tersebut diambil sampel dengan cara random sampling, dan setelah diedit data yang memenuhi syarat untuk sampel sebanyak 123 orang yang terdiri dari pendidikan D-3 = 27 orang, pendidikan S-1 = 57 orang dan pendidikan S-2

= 39 orang.

Untuk menganalisis data digunakan rumus Korelasi Product Moment dan Korelasi Ganda, dan penghitungannya menggunakan program SPSS versi 17.

Hasil penelitian menemukan bahwa :1) Tidak ada korelasi antara daya ingat dengan indeks prestasi calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin. 2) Ada Korelasi antara Penalaran dengan indeks prestasi calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin. dan 3). Ada Korelasi antara daya ingat dan penalaran verbal, secara bersama-sama dengan indeks prestasi calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin, 4). Ada Korelasi antara daya ingat dengan indeks prestasi calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin, dalam perspektif tingkat pendidikan D-3, S-1, dan S-. Oleh karena itu dapat disarankan kepada guru dan dosen, sebaiknya memberikan fasilitasi kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya dalam mengingat dan kemampuan penalaran verbal, dalam berbagai kegiatan pembelajaran yang bersifat melatih kemapuan tersebut, seperti berdiskusi dan menganalisis suatu masalah dan melatih menyampaikan suatu masalah tanpa teks, bertutur tanpa membaca, disamping memberikan sugesti untuk memperhatikan makanan yang bergizi yang menanjang kemampuan mengingat, dan kecerdasan atau penalaran verbal tersebut.

(11)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 Kata Kunci : Daya Ingat, Penalaran Verbal, Indeks Prestasi

PENDAHULUAN

Tidak bisa dipungkiri bahwa, daya ingat dan penalaran verbal, yang berwujud kreatifitas verbal , merupakan sebagian dari sekian banyak faktor penentu dalam proses pembelajaran, juga dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini diisyaratkan oleh beberapa metode pembelajaran yang lebih menekankan penting mengingat sesuatu atau hapalan, dan juga diisyaratkan pemerintah bahwa bahasa menjadi pelajaran wajib di sekolah, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Bahasa sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari, dan sesungguhnya factor penting dalam kecerdasan, yang banyak mewarnai pola perilaku seseorang, baik dalam belajar maupun dalam menghadapi kehidupan ini, adalah kemampuan mengingat dan kemampuan verbal.

Dalam pembelajaran, pendidik menyadari bahwa penguasaan dan pemahaman terhadap materi yang telah diterima akan menjadi bekal dan pengalaman yang ikut menentukan keberhasilan belajar siswa pada materi berikutnya yang berhubungan (Dirjen Dikti:1990). Dalam mengajar guru harus memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi kelancaran proses penemuan suatu konsep bagi siswa. Salah satunya adalah karakter kognitif siswa yang meliputi (1) persepsi, (2) perhatian, (3) mendengarkan, (4) ingatan, (5) readiness (kesiapan) dan transfer (6) intelegensi, (7) struktur kognitif (penalaran), (8) kreativitas, dan (9) gaya kognitif. Dua hal masalah pokok yang sering diabaikan oleh guru adalah faktor nomor 4, yaitu ingtan, dan factor ke 7, penalaran, khususnya penalaran verbal peserta didik, yang pada gilirannya, kedua factor tersebut, terwujud sebagai penentu kemampuan peserta didik dalam belajar dan kesiapan nya untuk memberi respons (jawaban) di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi.

Kesulitan yang dialami oleh peserta didik sebagaimana yang teramati di lapangan disebabkan antara lain oleh readiness (kesiapan) penalaran peserta didik serta tingkat daya ingat peserta didik yang menjadi sorotan pokok dalam penelitian ini.

Sarjana, baik tingkat D-3, S-1, maupun S-2, yang saat ini menjadi subyek penelitian ini, merupakan output dari pembelajaran yang diberikan selama mereka mengikuti pendidikan sejak tingkat paling dasar hingga perguruan tinggi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar, sebagian di antaranya adalah factorkemampuan mengingat dan kemampuan menalar secara verbal apa yang diterimanya dari guru dalam pembelajaran.

(12)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 LANDASAN TEORI

A. Daya Ingat atau Memory 1. Pengertian

Definisi dari daya ingat yang sebenarnya yaitu : Merupakan kemampuan mengingat kembali pengalaman yang telah berlalu atau terlewati. Pengalaman- pengalaman tersebut biasanya menyangkut pada peristiwa yang mempunyai arti sendiri dalam menjalani kehidupan. Bila kekuatan daya ingat tinggi, maka akan mempermudah langkah dalam mengambil suatu tindakan yang objektif, sehingga bisa dikatakan bahwa pemikirannya sangat cemerlang. Tetapi lain halnya bila kekuatan daya ingat Anda melemah, maka tidak menutup kemungkinan Anda akan melakukan tindakan-tindakan yang dapat merugikan kehidupan.

Dalam buku Menjadi Pendidik Profesional , Team Trainer K-100 (2002 : 98) menjelaskan ingatan adalah kemampuan rohaniah untuk mencamkan, menyimpan dan mereproduksi kesan-kesan. Dengan demikian ada 3 aspek dalam berfungsinya ingatan, yaitu : 1) mencamkan, 2) menyimpan dan mereproduksi.

Menurut Woodwort (Team Trainer K-100, 2002 : 98) Mencamkan adalah aktivitas dalam belajar (learning) dimana subyek menerima kesan-kesan yang kemudian disertai kegiatan lain yaitu penyimpanan, dimana subyek menyimpan hal-hal yang telah dipelajari (retention) dan kemudian diikuti dengan kegiatan mereproduksi atau menimbulkan kembali kesan-kesan yang pernah dimiliki (remembering).

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa ada beberapa pengertian mengenai memory, diantaranya tiga pengertian memory, yaitu:

a. Kemampuan untuk menyimpan informasi sehingga dapat digunakan dimasa yang akan datang. Kemampuan ini secara lebih luas dapat juga dipahami sebagai kemampuan untuk mengubah informasi menjadi simbol-simbol untuk disimpan yang pada suatu saat akan dipanggil kembali untuk digunakan. Jika ini pengertian yang digunakan, memory dipahami dalam konteks fungsi.

b. Memory dapat juga dipahami dalam kaitannya dengan isi memory. Ini berarti kita membayangkan secara metaforik seperti kotak pos yang tersimpan dikantor pos besar yang memiliki kotak-kotak penyimpanan dengan cara mengenali registernya. Hal ini juga berarti kita memahami sebagai sebuah tempat penyimpanan memory.

c. Pemahaman ketiga bagi memory adalah sebagai proses pengenalan dan pemahaman satu informasi yang dimulai dari penerimaan input dan diikuti oleh pemberian arti penyimpanannya dalam kotak-kotak memori untuk digunakan dan dipanggil pada saat dibutuhkan.

Dengan demikian pengertian dari memori adalah kemampuan untuk mengenal objek rangsang (input, stimulus) dan mengambil alih informasi tersebut ke dalam sensory register (acquisition) untuk kemudian disimpan dalam proses pengundangan (stogare), dan dipanggil kembali pada saat dibutuhkan (retieval, recall).

Sesuai dengan kemampuan masing-masing individu dalam menerima pesan ada orang yang menyimpan kesan dengan setia atau dapat menahan dalam waktu lama dan ada orang yang hanya sebentar. Demikian juga dalam mereproduksi

(13)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 kesan, ada orang yang dapat melakukan dengan mudah dan cepat, dan ada yang sulit dan lambat, Dakir (1986:65).

Dalam buku Psikologi Belajar karangan Muhibin syah (1999:67) istilah ingatan disebut juga memori yang artinya proses mental yang meliputi pengkodean, penyimpanan, dan pemanggilan kembali informasi dan pengetahuan yang semuanya terpusat dalam otak. Sedangkan menurut Best (Muhibin Syah, 1999:68) setiap informasi yang kita terima sebelum masuk dan diproses oleh subsistem akal pendek (short term memory) terlebih dahulu disimpan sesaat atau tepatnya lewat (karena hanya dalam waktu sepersekian detik) dalam tempat penyimpanan sementara yang disebut sensori memori alias sensori register yakni subsistem penyimpanan pada saraf indra penerima informasi. Dalam dunia kedokteran subsistem ini lazin disebut saraf sensori yang berfungsi mengirimkan impuls- impuls ke otak..

Berdasarkan uraian ringkas di atas amat sulit diragukan bahwa dalam otak itulah sistem memori manusia tersimpan. Selanjutnya, dengan sistem memori yang dimiliknya manusia dapat belajar dengan cara menyerap, mengolah, menyimpan dan mereproduksi pengetahuan dan keterampilan untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupannya di muka bumi ini.

2. Unsur-unsur Memori

Menurut ahli psikologi, dalam sistem ingatan memerlukan tiga hal, yakni:

memberi kode (encoding), menyimpan (storage), dan mengeluarkan atau mengingat kembali (retrieval) (Azhari, Akyas. 2004). Istilah yang lain yang sering digunakan yaitu: memasukkan (learning), menyimpan (retention), dan menimbulkan kembali (remembering) (Dakir. 1970 ).

a. Penyusunan kode (encoding)

Di dalam tahap ini pesan yang diperoleh dari gejala fisik mengalami transformasi menjadi semacam kode yang dapat diterima ingatan. Dalam ingatan yang yang disimpan ialah hal-hal yang pernah dialami seseorang. Seseorang memperoleh pengalaman dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: 1) dengan cara sengaja, dan 2) dengan cara tidak sengaja.

b. Penyimpanan (storage)

Pada tahap ini informasi yang telah diterima dan diseleksi untuk disimpan ke dalam daftar (sensory register) dan jejak memori (memory traches) agar dapat dipanggil kembali apabila diperlukan. Dalam tahap ini terjadi proses pemeliharaan stimulus/imput di dalam sistem memori otak.

c. Mengingat kembali (retieval)

Tahap ini merupakan tahap dimana diharapkan informasi yang telah disimpan dapat dipanggil kembaliuntuk digunakan pada saat seseorang membutuhkan benrukan dan hasil pemprosesan informasi dan penyimpanan dalam sistem memori otak. Jika terjadi kegagalan dalam proses pemanggilan ini, maka terjadi proses yang disebut dengan “lupa”.

B. Penalaran dan Kreatifitas Verbal 1. Penalaran

Penalaran dan kreatifitas verbal, dua hal yang sulit dipisahkan, karena keduanya berproses dalam suatu kegiatan yang sama. Penalaran adalah suatu proses berpikir manusia yang menghubungkan data atau fakta yang ada sehingga memperoleh suatu simpulan. Fakta atau data yang akan digunakan dalam penalaran itu boleh

(14)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 benar atau tidak. Dari Penalaran ini menghasilkan kreatifitas verbal. Kalimat pernyataan yang dapat dipergunakan sebagai data itu disebut proposisi. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi- proposisi yang sejenis. Berdasarkan sejumlah proposisi yang sudah diketahui, orang lain akan menyimpulkan sebuah proposisi baru yang belum diketahui sebelumnya. Proses inilah yang disebut menalar. Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau tidak ilmiah. Dari proses penalaran itu dapat dibedakan sebagai penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalaran ilmiah mencakup kedua proses penalaran itu..Dalam penalaran proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut premis (antesedence) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi. Melalui proses penalaran, kita memperoleh kesimpulan yang berupa asumsi, hipotesis atau teori. Penalaran disini adalah proses pemikiran untuk memperoleh kesimpulan yang logis berdasarkan fakta yang relevan.

Ciri-ciri Penalaran :

a. Adanya suatu pola berpikir yang luas dapat disebut sebagai logika (penalaran merupakan suatu pola berpikir logis).

b. Sifat analitik dari proses berpikir. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu. Perasaan intuisi merupakan cara berpikir secara analitik.

Menurut tim balai pustaka istilah penalaran mengandung tiga pengerian diantaranya :

a. Cara menggunakan nalar, pemikiran atau cara berfikir logis.

b. Hal dalam mengembangkan atau mengendalikan pikiran dari beberapa peruasaan atau pengalaman.

c. Proses mental dalam mengembangkan dan mengendalikan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip.

Dari proses penalaran dapat dibedakan sebagai penalaran induktif dan deduktif : Pengetian Penalaran Deduktif. Penalaran Deduktif sebagai suatu istilah dalam penalaran, deduktif atau deduksi adalah suatu proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari sesuatu proposisi yang sudah ada, menuju kepada suatu proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan. Dalam penalaran deduktif, penulis tidak perlu mengumpulkan fakta-fakta, yang perlu baginya adalah suatu proposisi umum dan suatu proposisi yang mengidentifikasi suatu peristiwa khusus yang bertalian dengan proposisi umum tadi. Bila identifikasi dan proposisinya sudah benar, maka dapat diharapkan suatu kesimpulan yang benar. Penalaran Induktif adalah proses penalaran untuk mencari kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan fakta-fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut induksi.

2. Kreatifitas Verbal

Perwujudan dari adanya penalaran verbal adalah kreativitas verbal.

Pengertian dari kreativitas verbal menurut para ahli :

a. Thrustone, menyatakan bahwa kreativitas verbal adalah pemahaman akan hubungan kata, kosakata, dan penguasaan komunikasi.

b. Sinolungan (2001) menyatakan bahwa kreativitas verbal adalah kemampuan berkomunikasi yang diawali dengan pembentukan ide melalui kata-kata, serta

(15)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 mengarahkan fokus permasalahan pada penguasaan bahasa atau kata-kata, yang akan menentukan jelas tidaknya pengertian mengenai ide yang disampaikan.

c. Torrance (Munandar, 1999b) mengungkapkan kreativitas verbal sebagai kemampuan berpikir kreatif yang terutama mengukur kelancaran, kelenturan, dan orisinalitas dalam bentuk verbal. Bentuk verbal dalam tes Torrance berhubungan dengan kata dan kalimat.

d. Mednick & Mednick (dalam Sinolungan, 2001) menambahkan bahwa kreativitas verbal adalah kemampuan melihat hubungan antar ide yang berbeda satu sama lain dan kemampuan untuk mengkombinasikan ide-ide tersebut ke dalam asosiasi baru. Anak-anak yang mempunyai kemampuan tersebut mampu membuat pola-pola baru berdasarkan prakarsanya sendiri menurut ide-ide yang terbentuk dalam kognitif mereka.

e. Guilford (1967) menambahkan bahwa kreativitas verbal adalah kemampuan berfikir divergen, yaitu pemikiran yang menjajagi bermacam-macam alternatif jawaban terhadap suatu persoalan yang sama besarnya.

Dapat disimpulkan bahwa kreativitas verbal adalah kemampuan membentuk ide-ide atau gagasan baru, serta mengkombinasikan ide-ide tersebut kedalam sesuatu yang baru berdasarkan informasi atau unsur-unsur yang sudah ada, yang mencerminkan kelancaran, kelenturan, orisinalitas dalam berpikir divergen yang terungkap secara verbal.

METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel Penelitian

Subyek yang termasuk dalam populasi penelitian ini berjumlah 544 orang calon karyawan dari berbagai perusahan yang dilakukan psikotes oleh Yayasan Psikologi Banjarmasin, yang berpendidikan D-3, S-1, dan S-2. Dari jumlah tersebut diambil sampel dengan cara random sampling, dan setelah diedit data yang memenuhi syarat untuk sampel maka diperoleh sebanyak 54 orang yang terdiri dari pendidikan D-3 = 27 orang, pendidikan S-1 = 57 orang dan pendidikan S-2 = 39 orang.

B. Alat dan Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka digunakan dua alat penggali data yaitu alat tes psikologi dan dokumentasi. Tes psikologi digunakan untuk mendapatkan data Daya Ingat, dan kemampuan Kreatifitas Verbal. Alat tes yang digunakan adalah alat tes yang sudah diadaptasi dan distandarisasi, yaitu tes : “Intellegenz Structur Test” disingkat “IST” yang diciptakan oleh Dr. Rudolf Amthaur. Tes ini terdiri dari 9 aitem tes. Dalam penelitian ini, hasil test tersebut, totalnya digunakan untuk mencari IQ setiap subyek, sedangkan untuk kemampuan kreatifitas verbalnya di diambil dari aitem no. 2, yaitu WA (Wortauswahl), berisi memilih salah satu kata yang tidak termasuk di dalam kesamaan yang dipertunjukkan 4 kata lainnya. Jadi dari lima kata yang disediakan, testee harus memilih salah satu kata yang tidak termasuk 4 kata lainnya.

Untuk mendapatkan data tentang daya ingat di ambil dari test no. 9, yaitu persoalan

(16)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 mengingat atau ME ( Merk Aufgaben) . Sedangkan dokumentasi digunakan untuk memperoleh data indeks prestasi dan tingkat pendidikan anggota sampel.

C. Hipotesis dan Analisis Data

Untuk menguji hipotesis null yang berbunyi:

1. Tidak ada ada Korelasi antara Daya ingat dengan Indeks Prestasi

2. Tidak ada ada Korelasi antara Kreatifitas Verbal dengan Indeks Prestasi

3. Tidak ada ada Korelasi antara Daya ingat dan Kreatifitas Verbal, secara bersama-sama dengan Indeks Prestasi

Maka dilakukan analisis data dengan menggunakan rumus Korelasi Product Moment dan Korelasi Ganda dan dihitung dengan menggunakan program SPSS 17.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisis statistik tersebut, diperoleh hasil sebagai berikut :

HASIL ANALISIS KORELASI

ANTARA KREATIVITAS VERBAL DENGAN INDEKS PRESTASI

Correlations

kreativitas verbal

indeks prestasi kreativitas

verbal

Pearson Correlation 1 .249**

Sig. (2-tailed) .005

N 123 123

indeks prestasi Pearson Correlation .249** 1

Sig. (2-tailed) .005

N 123 123

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

HASIL ANALISIS KORELASI

ANTARA DAYA INGAT DENGAN INDEKS PRESTASI Correlations

daya ingat

indeks prestasi daya ingat Pearson Correlation 1 .161

Sig. (2-tailed) .075

N 123 123

indeks prestasi Pearson Correlation .161 1 Sig. (2-tailed) .075

N 123 123

(17)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 KORELASI ANTARA DAYA INGAT, DAN INDEKS PRESTASI

UNTUK TINGKAT PENDIDIKAN D3 Correlations

daya ingat

indeks prestasi daya ingat Pearson Correlation 1 .514**

Sig. (2-tailed) .006

N 27 27

indeks prestasi Pearson Correlation .514** 1 Sig. (2-tailed) .006

N 27 27

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

HASIL ANALISIS KORELASI

ANTARA KREATIVITAS VERBAL DENGAN DAYA INGAT Correlations

daya ingat

kreativitas verbal daya ingat Pearson Correlation 1 .405**

Sig. (2-tailed) .000

N 123 123

kreativitas verbal

Pearson Correlation .405** 1 Sig. (2-tailed) .000

N 123 123

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

(18)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 Correlations

daya ingat

kreativitas verbal

indeks prestasi

daya ingat Pearson Correlation 1 .405** .161

Sig. (2-tailed) .000 .075

N 123 123 123

kreativitas verbal

Pearson Correlation .405** 1 .249**

Sig. (2-tailed) .000 .005

N 123 123 123

indeks prestasi Pearson Correlation .161 .249** 1

Sig. (2-tailed) .075 .005

N 123 123 123

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Berdasarkan analisis korelasi di atas dapat di interprestasikan bahwa:

1. Kreativitas verbal mempunyai korelasi yang sangat signifikan dengan indeks prestasi, dengan koefisien r = 0,249. Hal ini membuktikan bahwa untuk bisa berprestasi dengan baik, memerlukan kemampuan kreatifitas verbal baik pula.

2. Kemampuan mengingat, ternyata tidak berkorelasi dengan indeks prestasi

Ini juga membuktikan bahwa untuk mendapatkan indeks prestasi yang baik tidak memerlukan daya ingat yang baik, karena ada kecenderungan bentuk ujian yang diberikan para dosen bersifat open book atau lebih mentoleransi mahasiswa untuk membuka catatan atau buku, terutama untuk tirngkat pendidikan S-1 dan S- 2, karena ketika korelasi itu diuji pada tingkat pendidikan D-3, daya ingat berkorelasi dengan indeks prestasi secara signifikan. Juga ketika dikorelasikan secara bersama-sama, kreativitas verbal dan daya ingat berkorelasi secara signifikan dengan indeks prestasi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa :

1. Faktor penalaran atau kreativitas verbal, dan daya ingat merupakan factor yang dapat dijadikan predictor perolehan indeks prestasi mahasiswa dalam pembelajaran

2. Adanya pembelajaran yang kurang memberikan kesempatan kepada mahsiswa untuk menalar berdampak kepada kemampuan mengingat dan kreativitas verbal mahasiswa.

Saran ini terutama ditujukan kepada para pengajar, bahwa berdasarkan penelitian ini terbukti kemampuan mahasiswa dalam bernalar dan berkreasi secara verbal perlu diberikan kesempatan berkembang seluas-luasnya dengan

(19)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 cara merekayasa model pembelajaran yang menstimulus kemampuan tersebut, seperti pembelajaran studi kasus, diskusi, mengolah pendapat secara lisan.

DAFTAR PUSTAKA

Aiman, Ismi Rafidah. 2012, Perancangan Game Edukatif Bertema Farming Dengan Tokoh Strawberry Shortcake, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Azhari, Akyas. 2004. Psikologi Umum Dan Perkembangan. Bandung: Mizan Media Utama.

Crow, Lester D. Dan Alice Crow. 1984. Psikologi Pendidikan . Terj.

Kasijan.Surabaya :Bina Ilmu

Dakir. 1970. Psychologi Umum. Yogjakarta: FIK-IKIP Yogjakarta.

Hadi, Amirul dan Haryono. 1998, Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung:

Pustaka Setia

Khairani, Makmun. 2014. Psikologi Belajar. Yogyakarta: CV. Aswaja Pressindo.

Riduwan dan Akdon. 2007, Rumus dan Data dalam Analisis Statistika . Bandung:

Alfabeta

Saleh, Abdul. 2008. Psikologi Suatu Pengantar: Dalam Perspektif Islam. Jakarta:

Kencana Pernada Media Group.

Sarwono, Sarwito Wirawan. 1976. Pengantar Umum Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang.

Soeito, Samuel. 1982. Psikologi Pendidikan Untuk Para Pendidik dan Calon Pendidik. Jakarta : LP Fakultas Ekonomi UI

Sudrajat, Akhmad. 2008. Teori-Teori Belajar. (online) Tersedia :

http//akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/02/teori-teori-belajar/. Diakses 17 Juli 2013

Sujanto, Agus. 2001. Psikologi Umum. Jakarta: Bumi Aksara.

Sumanto, Wasty . 1984. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pimpinan Pendidik Pendidikan). Bina Aksara.

Uno, Hamzah B. 2008. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta.

PT. Bumi Aksara.

Walgito, Bimo. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Yogjakarta: ANDI.

(20)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 STUDI TENTANG HUBUNGAN HASIL TEST KEMAMPUAN PENALARAN ANGKA DAN HASIL TEST KEMAMPUAN ANALISA

DENGAN INDEKS PRESTASI CALON KARYAWAN BERBAGAI PERUSAHAAN DAN INSTANSI DI BANJARMASIN

Makmun Khairani

Dosen FKIP Universitas Achmad Yani Banjarmasin

Jalan A. Yani Km.5,5 Kompleks Stadion Lambung Mangkurat Banjarmasin

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif, dan bersifat deskriptif dengan metode pengumpulan data menggunakan alat test psikologi dan dokumentasi. Permasalahan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah: 1) Apakah ada Hubungan antara hasil test kemampuan Penalaran angka dengan indeks prestasi calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin 2). Apakah ada Hubungan antara hasil test Kemampuan Analisa dengan indeks prestasi calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin, dan 3). Apakah ada Hubungan antara hasil test kemampuan Penalaran angka dan hasil test Kemampuan Analisa ,secara bersama-sama dengan indeks prestasi calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin, 4). Apakah ada Hubungan antara hasil test kemampuan Penalaran angka dan hasil test Kemampuan Analisa ,secara bersama-sama dengan indeks prestasi calon karyawan, dalam perspektif jenjang pendidikan D-3, S-1, dan S-2, calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin.

Populasi dalam penelitian ini adalah semua peserta psikotes yang melamar ke berbagai perusahaan melalui yayasan psikologi Banjarmasin, yang berlangsung antara bulan April 2015 sampai dengan Pebruari 2016, yang berjumlah 544 orang.

Dari jumlah tersebut diambil sampel dengan cara random sampling, dan setelah diedit data yang memenuhi syarat untuk sampel sebanyak 123 orang yang terdiri dari pendidikan D-3 = 27 orang, pendidikan S-1 = 57 orang dan pendidikan S-2

= 39 orang.

Untuk menganalisis data digunakan rumus Korelasi Product Moment dan Korelasi Ganda, dan penghitungannya menggunakan program SPSS versi 17.

Hasil penelitian menemukan bahwa :1) Tidak ada korelasi antara hasil test penalaran angka dengan indeks prestasi calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin. 2) Ada Korelasi antara hasil test kemampuan analisis dengan indeks prestasi calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin. dan 3). Ada Korelasi antara penalaran angka dan kemampuan analisis, secara bersama-sama dengan indeks prestasi calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin, 4). Ada Korelasi antara hasil test kemampuan analisis dengan indeks prestasi calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin, dalam perspektif tingkat pendidikan S-2. Sedangkan pada jengjang D-3 dan S-1, hasil test kemampuan penalaran angka maupun hasil test kemampuan analisis, tidak berhubungan dengan indeks prestasi calon karyawan berbagai perusahaan dan instansi di Banjarmasin, Oleh karena itu dapat disarankan kepada guru dan dosen, sebaiknya memberikan fasilitasi kepada

(21)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya dalam kemampuan analisisl, dalam berbagai kegiatan pembelajaran yang bersifat melatih kemapuan tersebut, seperti berdiskusi dan menganalisis suatu masalah dan melatih menyampaikan suatu masalah tanpa teks, bertutur tanpa membaca, disamping memberikan sugesti untuk memperhatikan makanan yang bergizi yang menanjang kemampuan berpikir analisis tersebut.

Kata Kunci : Penalaran Angka, Kemampuan Analisa, Indeks Prestasi

PENDAHULUAN

Tidak bisa dipungkiri bahwa kemampuan penalaran angka, yang berwujud kemampuan berhitung dan memanipulasi angka serta kemampuan analisa, dua hal yang secara teoritis, sulit terpisahkan, merupakan sebagian dari sekian banyak faktor penentu dalam proses pembelajaran, juga dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini diisyaratkan oleh beberapa metode pembelajaran yang lebih menekankan penting menghitung, dan juga diisyaratkan pentingnya berpikir analisa, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Hitungan sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari, dan sesungguhnya factor penting dalam kecerdasan, yang banyak mewarnai pola perilaku seseorang, baik dalam belajar maupun dalam menghadapi kehidupan ini, adalah kemampuan penalaran angka dan kemampuan analisa.

Dalam pembelajaran, pendidik menyadari bahwa penguasaan dan pemahaman terhadap materi yang telah diterima akan menjadi bekal dan pengalaman yang ikut menentukan keberhasilan belajar siswa pada materi berikutnya yang berhubungan (Dirjen Dikti:1990). Dalam mengajar guru harus memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi kelancaran proses penemuan suatu konsep bagi siswa. Salah satunya adalah karakter kognitif siswa yang meliputi (1) persepsi, (2) perhatian, (3) mendengarkan, (4) ingatan, (5) readiness (kesiapan) dan transfer (6) intelegensi, (7) struktur kognitif (penalaran), (8) kreativitas, dan (9) gaya kognitif. Dua hal masalah pokok yang sering diabaikan oleh guru adalah faktor nomor 7, penalaran, khususnya penalaran angka dan kemampuan analisa peserta didik, yang pada gilirannya, kedua factor tersebut, terwujud sebagai penentu kemampuan peserta didik dalam belajar dan kesiapannya untuk memberi respons (jawaban) di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi.

Kesulitan yang dialami oleh peserta didik sebagaimana yang teramati di lapangan disebabkan antara lain oleh penalaran peserta didik serta kemampuan analisa peserta didik yang menjadi sorotan pokok dalam penelitian ini.

Sarjana, baik tingkat D-3, S-1, maupun S-2, yang saat ini menjadi subyek penelitian ini, merupakan output dari pembelajaran yang diberikan selama mereka mengikuti pendidikan sejak tingkat paling dasar hingga perguruan tinggi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar, sebagian di antaranya adalah factor kemampuan analisa dan kemampuan menalar secara angka apa yang diterimanya dari guru dalam pembelajaran. Adapun faktor yang mempengaruhi ini akan dikupas dalam penelitian ini yang ke depannya diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam proses pembelajaran.

(22)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 LANDASAN TEORI

A. Penalaran

1. Pengertian dan Macam-macam Penalaran

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.

Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui.

Proses inilah yang disebut menalar. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.

Penalaran ada dua jenis yaitu : a. Penalaran Induktif

Penalaran induktif adalah penalaran yang memberlakukan atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum (Smart,1972:64). Penalaran ini lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau empiri. Dengan kata lain penalaran induktif adalah proses penarikan kesimpulan dari kasus-kasus yang bersifat individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum.(Suriasumantri, 1985:46). Inilah alasan eratnya kaitan antara logika induktif dengan istilah generalisasi.

b. Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif dibidani oleh filosof Yunani Aristoteles merupakan penalaran yang beralur dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum menuju pada penyimpulan yang bersifat khusus. Sang Bagawan Aristoteles (Van Dalen:6) menyatakan bahwa penalaran deduktif adalah, ”A discourse in wich certain things being posited, something else than what is posited necessarily follows from them”.

pola penalaran ini dikenal dengan pola silogisme. Pada penalaran deduktif menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Corak berpikir deduktif adalah silogisme kategorial, silogisme hipotesis, silogisme alternatif. Dalam penalaran ini tedapat premis, yaitu proposisi tempat menarik kesimpulan. Untuk penarikan kesimpulannya dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Penarikan kesimpulan secara langsung diambil dari satu premis,sedangkan untuk penarikan kesimpulan tidak langsung dari dua premis

B. Test Penalaran Angka

1. Pengertian

Pertanyaan penalaran angka akan sering menggunakan serangkaian pertanyaan angka yang mewakili jenis pertanyaan penalaran angka yang sangat umum digunakan dalam seleksi lulusan baru dan manajerial.

Penalaran angka adalah cara yang semakin sering dilakukan menilai kandidat selama proses seleksi pekerjaan. Banyak orang yang telah keluar dari sistem pendidikan untuk waktu yang cukup lama atau yang tidak menggunakan matematika cukup lama kemudian merasa terintimidasi oleh jenis tes ini. Yang

(23)

Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Budaya, Vol. 06, Nomor 02, Oktober 2016 penting untuk diingat adalah bahwa Anda tidak perlu mempelajari matematika tingkat tinggi harus untuk mengerjakan tes ini. Tes ini terutama mencakup kemampuan dan penalaran matematika mutlak diperlukan. Meskipun Anda mungkin perlu untuk dukungan kecepatan untuk perhitungan persentase, perbandingan, proporsi, pecahan dan desimal.

Teste biasanya mungkin akan diperbolehkan untuk menggunakan kalkulator untuk jenis pertanyaan dan dapat menangani pecahan dan persentase adalah perlu.

Teste juga harus mencoba untuk bekerja melalui beberapa latihan perhitungan angka untuk mendapatkan kembali pola pengerjaan untuk jenis perhitungan tersebut.

2. Pengertian Kemampuan Analisa

Kemampuan menganalisis dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar- bagian tersebut, melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumen-argumen yang menyokong suatu pernyataan.

Kemampuan menganalisis merupakan salah satu kemampuan kognitif tingkat tinggi yang penting untuk dikuasai siswa dalam pembelajaran. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga jenis kemampuan analisis, yaitu :

1. Menganalisis unsur:

Kemampuan melihat asumsi-asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan

Kemampuan untuk membedakan fakta dengan hipotesa.

Kemampuan untuk membedakan pernyataan faktual dengan pernyataan normatif.

Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif dan membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok.

Kemampuan untuk memisahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya.

2. Menganalisis hubungan:

Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide dengan ide.

Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pernyataan.

Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya.

Kemampuan untuk memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada.

Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna membedakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak.

Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen.

Kemampuan untuk mengenal hubungan kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitungan historis.

3. Menganalisis prinsip-prinsip organisasi:

Kemampuan untuk menguraikan antara bahan dan alat

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan analisa data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pem- belajaran dengan metode murder di- peroleh hasil observasi aktivitas siswa tes akhir adalah 96,25%

Setelah dilakukan identifikasi dan analisis terhadap sumber daya sistem informasi dan kualtas informasi yang dihasilkan Sistem Informasi Akuntansi (SIA) Ditjen Perbendaharaan,

Jika memiliki pengetahuan yang baik, orangtua diharapkan dapat memiliki sikap dan tindakan dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi kepada anaknya, sehingga

siswa penyandang tunarungu sama dengan siswa yang normal dalam. mencari

Oleh karena itu proses reproduksi dengan pematangan gonad melalui pemberian vitamin E, omega 3 dan omega 6 yang berasal dari minyak jagung pada pakan perlu

Memiliki NPWP dan BpJS Kesehatan aktif (tidak terhutang ¡uran) atau bersedia menjadi anggota BPJS serta membayar iuran jika diterimaa. Tenaga Pendukung Teknis

yang berjudul “Pengembangan Sistem Informasi Absensi Pegawai Pada Perguruan Tinggi Raharja” ini, diusulkan untuk memperbaiki kekurangan yang ada pada sistem yang

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menguji persepsi pengaruh pengetahuan keuangan, sikap keuangan, sosial demografi (tingkat pendidikan, pengalaman kerja,