• Tidak ada hasil yang ditemukan

APLIKASI PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM PEMILIHAN SOFTWARE ERP BERBASIS ISO/IEC 9126

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "APLIKASI PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM PEMILIHAN SOFTWARE ERP BERBASIS ISO/IEC 9126"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

APLIKASI PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM PEMILIHAN

SOFTWARE ERP BERBASIS ISO/IEC 9126

Andharini Dwi Cahyani

Program Studi Teknik Informatika, Universitas Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang Kamal, Bangkalan, 61256, Indonesia

e-mail: [email protected]

ABSTRAK

Proses pengambilan keputusan pada permasalahan multi-kriteria merupakan masalah yang kompleks. Banyak kriteria yang bertentangan harus dipertimbangkan ketika membandingkan alternatif untuk memilih di antara beberapa alternatif. Pada penelitian ini, dilakukan pemilihan software ERP yang melibatkan beberapa pengambil keputusan. Model pengambilan keputusan menggunakan metode pembobotan entropi. Kriteria yang digunakan untuk pemilihan software ERP adalah kriteria evaluasi kualitas perangkat lunak mengadopsi norma internasional ISO / IEC 9126-1: 2001. Pada standar tersebut, terdapat enam kriteria yang terdiri dari dari 27 subkriteria. Dari hasil uji coba, diperoleh bahwa software ERP dari vendor 3 adalah sistem terbaik.

Kata kunci: Sistem Pendukung Keputusan, ERP, ISO-9126, Entropy.

PENDAHULUAN

Pertumbuhan teknologi Sistem Informasi (IS) memiliki peran penting dalam meningkatkan operasi pada perusahaan manufaktur. Dalam hal ini, sistem ERP (Enterprise Resource Planning) merupakan suatu sistem yang terintegrasi untuk mengontrol fungsi bisnis dalam suatu organisasi. Banyak studi tentang penggunaan sistem ERP di domain yang berbeda tetap bisa memberikan informasi yang berharga dalam pengambilan keputusan dan strategi bisnis maupun pengembangan organisasi (Madapusi 2008, Holsapple dan Sena, 2005 dan Bendoly, 2003). Dengan menerapkan sistem tersebut, maka perusahaan manufaktur sebagai tempat studi kasus pada penelitian ini berharap untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas operasi bisnis. Dengan demikian, lembaga telah pindah ke menggunakan sistem ERP untuk kualitas yang lebih baik.

Namun demikian, banyak penelitian telah menunjukkan tingkat kegagalan yang cukup tinggi dalam pelaksanaan sistem ERP (Zornada dan Velkavrh 2005, Amid 2012). Oleh karena itu, kualitas sistem ERP adalah sebuah konsep yang kompleks, karena kurangnya penelitian di bidang ini. Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk mengembangkan model penilaian kualitas kualitas sistem ERP pada perusahaan manufaktur.

Proses pendukung pengambilan keputusan secara berkelompok (Group Decision Support System - GDSS) merupakan sistem berbasis komputer interaktif sebagai solusi dari masalah semiterstruktur atau tidak terstruktur oleh sekelompok pengambil keputusan (Turban 2011).

(2)

GDSS memiliki beberapa karakteristik utama, yaitu:

− GDSS memiliki tujuan untuk mendukung proses kelompok pengambil keputusan dengan menyediakan otomatisasi subproses, menggunakan tools teknologi informasi.

− GDSS merupakan sistem informasi yang dirancang khusus, bukan berupa konfigurasi komponen sistem semata.

− GDSS mendorong organisasi generasi ide, penyelesaian konflik, dan kebebasan berekspresi.

Pada permasalahan dunia nyata, seringkali proses pengambilan keputusan besar melibatkan lebih dari 1 orang. Sehingga dalam penelitian ini kami menggunakan metode entropi untuk pemilihan software ERP pada sebuah perusahaan manufaktur.

METODE

Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan software ERP terbaik yang sesuai dengan keinginan perusahaan berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh perusahaan. Bobot tiap kriteria tidak langsung diberikan oleh stakeholder, melainkan diperoleh dengan perhitungan entropi dari nilai kriteria yang dimiliki vendor ERP. Hasilnya, bobot yang dihasilkan bersifat objektif. Pengumpulan data diperoleh melalui kuesioner terhadap beberapa stakeholder. Nilai tiap kriteria berkisar antara 1 (sangat buruk) sampai 5 (sangat baik).

Prosedur lengkap dari model pendukung keputusan untuk pemilihan software ERP digambarkan pada Gambar 1. Pada gambar tersebut ditunjukkan 2 bagian inti dari proses pengambilan keputusan yang dilakukan. Kegiatan pertama yaitu dengan melakukan pembobotan kriteria dari beberapa pengambil keputusan dengan menggunakan metode Entropi. Sedangkan kegiatan kedua adalah melakukan pemilihan software ERP dengan mengalikan nilai bobot kriteria dengan konsensus nilai tiap alternatif.

Gambar 1. Model Pengambilan Keputusan Pemilihan Software ERP Survey 1 : Menentukan hirarki kriteria pemilihan software ERP

Survey 2 : Menentukan bobot kriteria dari beberapa pengambil keputusan dan konsensus nilai tiap alternatif

Menghitung bobot tiap kriteria menggunakan metode entropi

Software ERP terpilih

Melakukan perankingan tiap alternatif dengan perkalian bobot kriteria dan nilai kriteria

(3)

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan dua kali survey. Survey pertama dilakukan untuk memperoleh bentuk hirarki kriteria berdasarkan apa saja yang dianggap penting oleh pengambil keputusan/stakeholder. Dari survey ini diketahui bahwa penilaian kualitas produk perangkat lunak ERP dilakukan berdasarkan kriteria dan subkriteria pada ISO/IEC 9126. Survey kedua dilakukan terhadap pengambil keputusan untuk mendapatkan bobot tiap kriteria penilaian. Pada penelitian ini, terdapat tiga (3) pengambil keputusan. Masing-masing pengambil keputusan memberikan bobot kriteria berdasarkan penilaian masing-masing. Untuk menyatukan bobot dari ketiga pengambil keputusan, maka digunakan metode entropi.

Kriteria Pemilihan

ISO 9126 adalah standar internasional yang digunakan untuk penilaian kualitas perangkat lunak dan merupakan pengembangan dari ISO 9001. Standar ini dibagi menjadi empat bagian yang masing-masing menjelaskan model kualitas (ISO/IEC 9126-1:2001), metrik eksternal (ISO/IEC TR 9126-2:2003), metrik internal (ISO/IEC TR 9126-3:2003), dan metrik kualitas yang digunakan – quality in use metrics (ISO/IEC TR 9126-4:200).

Standar model pengukuran software menggunakan ISO 9126 merupakan standar yang dipilih dalam menilai kualitas perangkat lunak dan menggambarkan karakteristik produk ERP. Pada model ISO 9126 terdapat 6 karakteristik kualitas perangkat lunak yang akan dijelaskan sebagai berikut (ISO/IEC JTC 1):

1. Functionality: Kemampuan fungsi produk perangkat lunak dalam hal memenuhi kebutuhan user dalam kondisi yang sudah ditentukan sebelumnya.

2. Reliability: Kehandalan produk perangkat lunak untuk bekerja pada level kinerja tertentu ketika digunakan dalam kondisi yang sudah ditentukan sebelumnya

3. Usability: Tingkat kemudahan perangkat lunak untuk dipelajari, dipahami, dan dioperasikan oleh pengguna dalam kondisi yang sudah ditentukan sebelumnya. 4. Efficiency: Tingkat penggunaan sumber daya yang diperlukan dalam menjalankan

perangkat lunak agar beroperasi secara optimal.

5. Maintainanility: Tingkat kemudahan perangkat lunak untuk diperbaiki apabila ada kesalahan maupun kebutuhan terkini.

6. Portability: Kemampuan perangkat lunak untuk digunakan pada lingkungan yang berbeda

Masing-masing kriteria penilaian perangkat lunak berdasarkan ISO 9126-1:2001 memiliki sub-kriteria sebagaimana pada Gambar 2.

(4)

Pembobotan Entropi

Bobot adalah tingkat kepentingan relatif dari beberapa kriteria yang digunakan dalam suatu penilaian. Bobot tiap kriteria dalam suatu penilaian ditentukan melalu opini pengambil keputusan. Pada suatu kasus, apabila terdapat beberapa pengambil keputusan, maka proses pembobotan kriteria menjadi lebih sulit karena setiap pengambil keputusan mempunyai preferensi yang berbeda-beda terhadap suatu kriteria. Karena itu diperlukan suatu metode pembobotan yang bisa mengakomodasi hal ini, salah satunya adalah metode pembobotan entropi.

Berikut ini adalah langkah pencarian bobot kriteria berdasarkan metode entropi. 1. Semua pengambil keputusan harus memberikan nilai yang menunjukkan kepentingan

suatu kriteria tertentu terhadap pengambilan keputusan. Tiap pengambil keputusan boleh menilai sesuai preferensinya masing-masing dengan nilai yaitu 1,3,5,7, dan 9. Keterangan skala penilaian tersebut seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Intensitas Kepentingan

Nilai Keterangan

1 Sangat tidak penting 3 Kurang penting 5 Cukup penting

7 Penting

9 Sangat penting

2. Kurangkan tiap angka tersebut dengan nilai paling ideal, hasil pengurangan tersebut dinyatakan dengan kij.

3. Bagi tiap nilai (kij) dengan jumlah total nilai dalam semua kriteria dengan persamaan

(1). 𝑎𝑎𝑖𝑖𝑖𝑖 = 𝑘𝑘𝑖𝑖𝑖𝑖 𝑛𝑛 𝑘𝑘𝑖𝑖𝑖𝑖 𝑖𝑖=1 𝑚𝑚 𝑖𝑖=1 � untuk m>1 ...(1) Dimana m = jumlah pengambil keputusan

n = jumlah kriteria

4. Menghitung nilai entropy untuk tiap kriteria dengan persamaan (2).

𝐸𝐸𝑖𝑖 = �−ln(𝑚𝑚)1 � 𝑥𝑥 ∑ 𝑎𝑎𝑖𝑖 𝑖𝑖𝑖𝑖ln (𝑎𝑎𝑖𝑖𝑖𝑖) ...(2)

Dimana : Ej = nilai bobot entropy

5. Menghitung dispersi tiap kriteria dengan persamaan (3).

𝐷𝐷𝑖𝑖= 1 − 𝐸𝐸𝑖𝑖 ...(3)

Dimana : Di = nilai dispersi entropy

6. Karena diasumsikan total bobot adalah 1, maka untuk mendapatkan bobot tiap kriteria, nilai dispersi harus dinormalisasikan dahulu dengan persamaan (4).

𝑊𝑊𝑖𝑖 = ∑ 𝐷𝐷𝑗𝑗𝐷𝐷𝑗𝑗 ...(4)

(5)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian ini dilakukan wawancara terhadap beberapa stakeholder. Bobot kriteria dan penilaian tiap alternatif vendor ERP diperoleh dari beberapa stakeholder tersebut yang kemudian dihitung menggunakan metode entropi sesuai langkah 1. Tabel hasil penilaian beberapa pengambil keputusan tentang kriteria yang digunakan adalah seperti pada Tabel 2.

Tabel 2. Penilaian Bobot Kriteria dari 3 Pengambil Keputusan

Kriteria Penilaian Pengambil

Keputusan 1 Pengambil Keputusan 2 Pengambil Keputusan 3 Functionality (C1) 9 8 9 Reliability (C2) 3 5 3 Usablity (C3) 9 7 7 Efficiency (C4) 7 7 5 Maintanability (C5) 5 7 5 Portability (C6) 5 7 3

Langkah selanjutnya adalah dengan mencari nilai yang ideal. Nilai ini diperoleh dengan mencari nilai maksimal dari semua kolom dan baris. Sesuai dengan data pada Tabel 2, maka nilai ideal adalah X. Setiap nilai pada tabel 2 kemudian dikurangi dengan nilai ideal untuk memperoleh nilai kij seperti pada Tabel 3.

Tabel 3. Nilai kij

Kriteria Penilaian Pengambil

Keputusan 1 Pengambil Keputusan 2 Pengambil Keputusan 3 Functionality (C1) 0 -1 0 Reliability (C2) -6 -4 -6 Usablity (C3) 0 -2 -2 Efficiency (C4) -2 -2 -4 Maintanability (C5) -4 -2 -4 Portability (C6) -4 -2 -6

Setelah mendapatkan nilai kij, maka nilai tersebut diabsolutkan untuk kemudian

dilakukan normalisasi dengan jumlah total nilai dalam semua kriteria dengan Persamaan (1). Hasilnya seperti pada Tabel 4.

Tabel 4. Normalisasi Nilai kij

Kriteria Penilaian Pengambil

Keputusan 1 Pengambil Keputusan 2 Pengambil Keputusan 3 Functionality (C1) 0 0,01960784 0 Reliability (C2) 0,11764706 0,07843137 0,117647059 Usablity (C3) 0 0,03921569 0,039215686 Efficiency (C4) 0,03921569 0,03921569 0,078431373 Maintanability (C5) 0,07843137 0,03921569 0,078431373 Portability (C6) 0,07843137 0,03921569 0,117647059

Dari nilai normalisasi kij, maka dapat dihitung nilai entropi (eij) dengan menggunakan

(6)

Tabel 5. Nilai Entropi (eij)

Kriteria Penilaian Pengambil

Keputusan 1

Pengambil Keputusan 2

Pengambil

Keputusan 3 Jumlah Eij

Functionality (C1) 0 -0,07709462 0 0,077095 0,070174548 Reliability (C2) -0,2517725 -0,19964951 -0,25177249 0,703194 0,64007521 Usablity (C3) 0 -0,127007 -0,127006998 0,254014 0,231213503 Efficiency (C4) -0,127007 -0,127007 -0,199649511 0,453664 0,41294232 Maintanability (C5) -0,1996495 -0,127007 -0,199649511 0,526306 0,479064386 Portability (C6) -0,1996495 -0,127007 -0,25177249 0,578429 0,526508765

Langkah terakhir dalam pembobotan ini adalah menghitung dispersi tiap nilai entropi dengan menggunakan persamaan (3) dan melakukan normalisasi terhadap nilai dispersi tersebut. Hasilnya seperti pada Tabel 6.

Tabel 6. Nilai Dispersi (Di) dan Bobot kriteria (Wi)

Kriteria Penilaian Dispersi (Di) Bobot kriteria (Wi)

Functionality (C1) 0,929825 0,255 Reliability (C2) 0,359925 0,099 Usablity (C3) 0,768786 0,211 Efficiency (C4) 0,587058 0,161 Maintanability (C5) 0,520936 0,143 Portability (C6) 0,473491 0,130

Nilai W pada Tabel 6 merupakan nilai bobot tiap kriteria yang diperoleh dengan metode entropi. Nilai ini diperoleh dari masukan tiga pengambil keputusan. Setelah mendapatkan nilai bobot tiap kriteria, maka dilakukan proses penilaian dengan menghitung perkalian bobot tiap kriteria dengan konsensus nilai tiap vendor ERP yang telah diperoleh sebelumnya. Hasil perkalian tersebut seperti pada Tabel 7.

Tabel 7. Nilai Rank Software ERP

Kriteria Penilaian Bobot Produk ERP 1 Produk ERP 2 Produk ERP 3

Functionality (C1) 0,255 5 1,277225 3 0,766335 5 1,277225 Reliability (C2) 0,099 7 0,692159 5 0,494399 7 0,692159 Usablity (C3) 0,211 9 1,900835 7 1,478427 9 1,900835 Efficiency (C4) 0,161 5 0,806393 9 1,451508 7 1,12895 Maintanability (C5) 0,143 7 1,001793 3 0,42934 7 1,001793 Portability (C6) 0,130 9 1,170713 5 0,650396 9 1,170713 Total Nilai 6,849119 5,270405 7,171676

Dari Tabel 7 dapat kita ketahui bahwa vendor produk ERP 3 memiliki nilai terbesar dibanding kompetitor lainnya. Sehingga, produk ERP 3 adalah produk yang terpilih.

KESIMPULAN DAN SARAN

Penelitian ini mengusulkan sebuah model sistematis dengan beberapa tahap bagi untuk pendukung keputusan dengan beberapa pengambil keputusan/GDSS dalam memilih sistem ERP yang tepat secara efektif dan efisien. Model ini juga menggunakan ISO 9126 model kualitas perangkat lunak untuk menafsirkan karakteristik produk sistem ERP. Metode entropy digunakan untuk mengevaluasi alternatif sistem ERP pada masalah multi-kriteria dunia nyata.

(7)

Dengan menghitung nilai entropi (ej), maka bisa menyatukan hasli penilaian

bobot kriteria sesuai dengan preferensi tiap pengambil keputusan. Dari nilai entropi yang diperoleh, kemudian dihitung nilai dispersi (Dj) untuk kemudian dinormalisasi dan

menjadi bobot tiap kriteria. Dari hasil uji coba menunjukkan bahwa vendor sistem ERP 1, vendor sistem ERP 2, dan vendor sistem ERP 3 memiliki nilai masing-masing sebesar 6,85 ; 5,27 ; dan 7,17. Sehingga dengan demikian software ERP 3 yang terpilih.

DAFTAR PUSTAKA

Amid, A., Moalagh, M., & Zare Ravasan, A. (2012). Identification and classification of ERP critical failure factors in Iranian industries. Information Systems, 37(3), pp. 227-237.

Bendoly, E. (2003). Theory and Support for Process Frameworks of Knowledge Discovery and Data Mining from ERP Systems. Information & Management, 40(7), pp. 639-647.

Hawari, A. A., & Heeks, R. (2010). Explaining ERP failure in a developing country: a Jordanian case study. Journal of Enterprise Information Management, 23(2), pp. 135-160.

Holsapple, C.W. and Sena, M.P. (2005). ERP plans and decision-support benefits. Decision Support Systems, 38, pp. 575-590.

ISO. (2001). ISO/IEC 9126-1: Software Engineering - Product Quality - Part 1: Quality Model. International Organization for Standardization, Geneva, Switzerland.

Madapusi, A. (2008). ERP Information Quality and Information Presentation Effects on Decision Making. SWDSI 2008 Proceedings, pp. 628-633

Turban, E., Sharda, R., Delen, D., & Efraim, T. (2007). Decision support and business intelligence systems. Pearson Education India.

Zeithaml, V. A dan Berry, L. L. (1995). A Conceptual Model of Service Quality and Its Implication for Future Research, Journal of Marketing. 49, pp. 41-50.

Gambar

Gambar 1. Model Pengambilan Keputusan Pemilihan Software ERP
Gambar 2. Karakteristik Kualitas Perangkat Lunak ISO 9126 (ISO 2001)
Tabel 2. Penilaian Bobot Kriteria dari 3 Pengambil Keputusan
Tabel 6. Nilai Dispersi (Di) dan Bobot kriteria (Wi)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil pengolahan di atas, secara umum bauran pemasaran jasa non convensional mempengaruhi kepuasan pelanggan, hal ini sesuai dengan pernyataan Haksever,

Atresia ani adalah malformasi congenital dimana rectum tidak mempunyai lubang keluar ($alley,1--.#& Ada juga yang menyebutkan bahwa atresia ani adalah tidak

Hasil pengujian secara normalitas dimana ternyata data yang digunakan terdistribusi normal maka hipotesi untuk menguji ada tidaknya perbedaan risiko dan return

Permasalahan utama dalam penyeimbangan lintasan produksi adalah mengusahakan agar beban kerja tiap stasiun kerja seimbang dengan cara menentukan jumlah tenaga kerja

Penelitian ini merancang dan mengimplementasikan aplikasi pengolah bahasa alami untuk query basis data akademik dengan format data XML yang dapat digunakan sebagai

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Pencabutan Peraturan Daerah

Berdasarkan gambar 4.5 menunjukkan pertumbuhan beban puncak sektor rumah tangga pada setiap Kecamatan dengan hasil prakiraan pertumbuhan beban puncak pada tahun

Penelitian yang dilakukan Yousef (2002) menyebutkan peran kepuasan kerja sebagai mediator dari pengaruh konflik peran dan ambiguitas terhadap komitmen organisasi,