Tidak Boleh Menyerah sebelum Mencoba

Teks penuh

(1)

Tidak Boleh Menyerah sebelum Mencoba

“Ingat minum susu, pamit di bapak besar, bapak kecil sekalian bakar lilin di kubur nene,” kata ibuku sambil menyetrika baju komunitas saya.

Dengan mata yang berseri-seri saya perlahan melangkah ke rumah keluarga dan sanak saudara untuk berpamitan. Si jago suara lantang dan merdu membangunkan masyarakat di kompleks kami yang terpinggir di desa. Sudah terdengar suara lopor dari sumur, suara batu dari titian jagung yang seirama dengan suara ayam jantan bagaikan melodi yang khas di setiap subuh. Aku dengan celana bola barcelona dengan baju kebun penuh noda, tetap melangkah sembari menikmati hari-hari tersisa sebelum berpisah.

“Mai moe tega ti no hule lohe kame koi nemi?”

Engkau mau kemana, pagi-pagi sudah ke rumah ni,” tanya tanta saya yang sedang terbaring di kasur beralaskan lantai kasar. Rumah yang tidak terlalu megah ini , menjadi pelarian di saat kondisi rumah saya sedang tidak baik. Berdindingkan rotan dengan atap daun kelapa yang mulai bocor karena sudah lama tak diganti. Pintu dari seng plat menjadi pelindung meski terkadang selalu berbunyi di kala angin besar menerpa.

“Go lohe tena mio mi, go kai sekolah Maumere, kappa di pana mendadak ko go lohe di mendadak karena korona me”

“Saya datang pamit kalian, karena saya mau berangkat ke maumere.”

“Tanta mereka juga susah-susah jadi uang juga tidak ada, sekolah baik-baik jadilah anak yang berguna untuk tanah air. ” Tantaku dengan logat Melanesia mencoba berbicara walau kadang harus batuk.

“Kalau begitu saya pamit dulu tanta.”

Air mata perlahan membasahi pipi ini bagaikan sungai yang tak kunjung kering, sesekali menoleh ke belakang melihat rumah yang sudah dianggap seperti rumah sendiri. Suatu saat ketika pulang liburan saat petang aku akan lagi duduk di teras rumah disuguhkan dengan ubi dan kopi asli.

Semua keluarga tidak percaya dengan keberangkatan saya, ada yang memberikan saya uang tunai, ikan kering, jagung titi yang menjadi ciri khas kami.

Waktu sudah menunjukan pukul 07: 12 sedangkan kapal cepat dengan tujuan pelabuhan Lewoleba- Larantuka akan berangkat sekitar jam 10:00. Dengan makanan yang tak asing lagi sayur kelor, ayam lalapan, susu, dan nasi yang dicampur dengan jagung asli agar lebih kenyang. Isi meja makan tidak seperti biasanya, karena hari ini putra tunggal akan keluar daerah untuk menimbah ilmu.

(2)

“Abang sekolah baik-baik jangan urus pacaran, jangan terlalu main HP, ingat belajar supaya juara abang,” pesan si bungsu yang selama ini tidak terlalu akur dengan saya karena dia cerewet dan selalu memberitahu keburukan-keburukan saya di keluarga dan teman-teman.

Semua anggota keluarga turut memberi pesan yang membuat saya diam senyap seribu bahasa. Namun, pesan ibu saya yang menjadi pesan yang paling saya ingat dan membuat air mata saya kembali mentes.

“Tetap rendah hati, kalaupun tidak juara saat sekolah nanti intinya jujur, selalu rendah hati, berdoa jangan banyak mengeluh, ingat memberi dan selalu berterimakasih.” Saya masih saja

diam dan memendam,tersimpan di benak yang paling dalam. “Tetap pada pendirian komitmen dan konsisten,” sambung ayah.

Tak terlalu panjang namun sangat tepat karena saya sendiri adalah anak dengan jiwa petualang dan suka belajar banyak hal,sehingga terkadang bayak pekerjaan yang terbengkalai.

“Bro, kamu jalan jam berapa?” Tanya bartes yang datang tiba tiba dari pintu belakang “Sekitar jam 09:20 sudah berangkat ke pelabuhah to bro, su tau to kita pu jalan ni” “Cepat sekali bro, kakak-kakak GEMPAR( Gerakan Muda Peduli Alam Raya) sudah tau ka

belum kawan? Katanya gempar mau MUBES tu ko jalan sekarang, nanti rapat siap yang tulis, kamu kan sekertaris?”

Percakapan pun terhenti dengan kedatangan teman teman dari komunitas gempar dan COPA(Komunitas Anak kampong). Waktu sudah menunjukan pukul 09:14. Ayah sudan siap di depan rumah dengan sejumlah teman-teman dari komunitasyang siap untuk menggantar saya. Semua ini buah dari cerewetnya si bungsu.

“Ingat, mundur satu langkah adalah penghianatan, kita orang kampung tapi harus berpikir maju agar mempu bersaing dalam bidang prestasi dengan orang-orang kota,” pesan ketua

GEMPAR sambil menepuk bahu dan berpelukan.

“Bro tetap semangat bro, ingat kamu pernah pesan saya bahwa tidak ada kata tidak bisa sebelum mencoba bro, jadi tetap semangat ee jagan lupa kita punya kerja keras di komunitas, kalau ilmu seudah banyak jagan lupa pulang terapkan di kami. Tetap gila dalam karya, supaya belajar menjadi orang yang waras bro. Tetap berjuang untuk surat kepada bapa presiden.” pesan Bartes, sahabat yang selalu ada dalam kondisi apapun. Dia adalah saudara meski tak sedarah, rumahnya rumahku juga, selalu ciptakaan tawa meski situasi tak memungkinkan. Berjanji terus bersama di masa muda, kuliah dan nanti jika sudah berkeluarga.

(3)

Dengan jiwa yang sedikit rapuh, meningalkan tempat yang selama ini sudah menjadi dunia dan hari-hariku. Mulut tak mau berbicara, sedangkah hati dan isi kepala sudah memaksa untuk berbicara, air mata yang menjadi penengah. Suara kapal yang samar tak kuhiraukan, teriakan-teriakan kembali ku dengar.

”Jangan lupa pulang….”

Sekitar pukul 12:02 saya smpai di tempat yang betu-betul baru dengan suara sera dialeg yang asing.

“Ya Allah bimbinglah saya dalam setiap langkah hari ini dan nanti.” Kaki kanan memijak tangga bis dengan rute perjalanan Larantuka- Maumere. Kami berangkat sekitar jam 12:11 dari pelabuhan Larantuka. Kondisi hati yang sedih perlahan mulai pulih dengan pemandangan pepohonan yang hijau serta hamparan lembah hijau yangt belum tersentuh tangan serakah manusia. Hati yang tenang kembali mengingat mama di rumah karena suara lagu iksan sekuter rindu pulang, yang diputar terus di dalam perjalanan. Saya memutuskan untuk diam, memendam dan tidur. Sepanjang perjalanan degan kurun waktu 3 jam saya tertidur pulas sambil memeluk tas jahitan mama untuk membayar lelah dan rindu mama.

“Ade.. ade… bangun!” sudah sampai.

Dengan mata berseri-seri saya beranjak bangun sambil tangan mengucak mata.

“Kita sudah sampai di maumere ka om,” saya bertanya kepada om botak yang duduk di samping saya dengan gaya kekinian dan bau parfum yang menyengat.

“Belum ade, kita masih di Boru” “Om… saya tujuan Maumere .”

Dengan nafas yang terputus-putus, mulai panik karena takut salah naik bis dan ditipu karena baru pertama menginjakan kaki di daratan Sikka. Si om tak merespon, mungkin karena sudah tua dan pendengarannya mulai tergangu, sambil berjalan ke rumah makan dengan langkah kaki tak seimbangan. Saya masih saja panik dan memutuskan untuk kembali ke dalam bis, namun di dalam bis tak ada seorangpun. Airmata pun kembali menetes.

“Ade.. kenapa menangis? Ade lapar, turun makan dulu, atau ade ada bekal?” Tanya supir bis yang kembali ke bis sambil merokok dan memastikan penumpang.

“Saya tersesat om, saya takut,” dengan mulut yang bergemetar dan suara yang terputus-putus menjawab si om supir.

“Ade tujuan mana sebenarnya? “

“Maumere om tapi kita sekarang di Boru ni saya tersesat om, saya masih anak kecil dan baru pertama ke tanah Sikka om.” Om supir diam dan menarik saya keluar.

(4)

“Makan dulu supaya ade tenang” kata om sopir yang ikut masuk ke dalam rumah makan yang sangat ramai dipenuhi manusia seperti kemacetan di Jakarta yang setiap hari saya lihat lewat siaran tv kesukaan bapak.

Saya putus asa dan masuk mencari om supir.

“Kemari duduk disini” Mata masih mencari sumber suara yang samar-samar. Suara yang sama kembali terdengar dengan lambayaan tangan di pojok ruangan sebelah kiri dekat kasir dengan kipas angina yang suaranya cukup keras di telinga. Saya dengan kepala yang ditundukan perlahan berjalan mendapati supir bis. Saya duduk di sebelah kanan supir sambil melihat HP, untuk mengurangi kecemasan.

“Tidak makan? Tanya om sopir yang bernama sius yang saya kenal dari tato di lengan kanan dekat sikunya.

“Saya punya uang hanya cukup untuk bayar bis om, tapi saya juga masih binggung karena tersesat”

“Mau makan apa, nasih ayam, atau nasi rendang?” “Saya tidak ada uang om!”

“Ia, pesan saja. Om yang bayar .“ Dengan muka yangt sedikit lesu supir bis menawarkan makianan dan menenangkan saya.

Dengan rasa takut dan sedikit lapar saya dengan lahap menyantap sampai habis hanya menyisakan tulang ayam, senduk, dan piring. Kami pun kembali ke bis namun saya masih dengan ketakutan karena takut tersesat. Perjalanan dengan rute berikutnya dimulai, saya masih saja terpaku tanpa suara di kursi yang sunyi. Mata perlahan menemukan ilusi, saya tertidur di dalam perjalanan dan bermimpi.

“ Selamat sore teman-teman terimakasih untuk partisipasi kita semua dalam agenda kegiatan kita pada hari ini yang sudah kita jalankan dengan penuh tanggung jawab. Semoga segala sesuatu yang kita lakukan ini mampu diterima dengan baik oleh para korban banjir bandang dan semoga apa yang kita beri itu tulus dari hati. Demikian evaluasi kegiatan kita pada hari ini, sedikit pemberitahuan dan ada permintaan dari posko utama bahwa posko kita akan membantu posko-posko lain membersihkan sepanjang jalan trans Ile Ape menyakut pada tanggal 09 April 2021 nanti bapak presiden kita akian melakukan kunjungan ke lokasi bencana tepatnya di desa Lewotolok. Terimakasi untuk hari ini dan maaf apabila dalam kegiatan kita terjadi kesalapahaman antar anggota disini saya meminta maaf yang sebesarbesarnya, salam gempar.”

Terlihat semua anggota lesu namun kembali tersenyum ketika mendengar kabar bapak nomor satu di Indonesia akan datang ke Lembata.

(5)

Saya pun ikut bahagia dan terpikirkan satu ide agar tidak meyiayiakan kesempat ini. Sepulangnya saya dari posko, saya mandi ngopi dan berangkat ke kebun untuk memberi makan ternak. Dengan suara kicauan burung yang khas ketika senja, saya menemukan inspirasui untuk menuliskan surat untuk bapak presiden Joko widodo. Langkah kaki saya semakin lambat ketika hampir sampai di kampung demi mengumpulkan imaji karena situasi di rumah tidak mendukung. Saya suka berpergian dan belajar di luar rumah dan sering mendapat keluh kesah dari warga masyarakat lembata soal keadilan yang belum menyeluruh. Baik soal BBM, jalan yang hanya dibuat menuju kampung-kampung para pejabat, pengerusakan hutan mangrove dan kasus korupsi Awulolong yang sudah menjadi isu familiar di kampung kami dan sampai sekarang para tersangka tak pernah ditahan malahan diangkat menjadi staf di kantor bupati. Matahari pun pamit dengan diiringgi suara ayam jantan dan suara anak-anak yang berlarian karena ketakutan dimarah ibunya. Warna jingga dan merah merona di langit menjadi penenang jiwa. Namun seketika hilang karena kaki sudah samapai di rumah dan suara pertengkaran kedua adik saya sudah biasa di telinga. Saya minum kopi dan membaca di tingkat rumah untuk mengisi kekosongan dan menambah pengetahuan. Setelah membaca saya pun menggambil kertas bekas hasil ujian di meja dan mulai menulis tanpa struktur yang jelas. Isi tulisan itu refleksi saya tentang rakyat Lembata belum bisa sejahtera dan merasakan merdeka.

Saya tertidur karena kecapaian dari aktivitas yang cukup sibuk di hari ini. Di atas meja tempat saya tertidur terdapat segelas kopi, pulpen, lembaran tulisan tanggan tadi, buku-buku bacaan dan sepiring pisang rebus. Tangan saya menyentuh gelas, kopi tumpah dan membasahi seisi meja bahkan dengan buraman tulisan saya kepada bapak jokowi . Saya terbagun sekitar pukul 22:15 dan mendapati tulisan yang sudah basah. Di malam itu saya bersimpuh meminta doa kepada yang kuasa, berteman dengan sunyi agar imaji bisa terkendali. Malam mencekam saya tenggelam dalam sepi, merenungi mimpi untuk membantu masayarakat menyuarakan keluhan mereka. Saya bermeditasi seditas 40 menit u9ntuk menemukan ketenangan dan kosentrasi agar isi tulisan mampu di terima bapak presiden. Setelah meditasi, saya kembali menulis di buku tugas agama dan tulisan pun mulai terarah meski huruf saya susah dibaca. Tulisan saya meminta bapak Jokowi menindak lanjutui aspirasi rakyat Lembata yang sudah lama belum sejaterah. Saya mengangkat poin poin penting seperti antri BBM yang bisa mencapai 300 meter dan butuh waktu 1 hari untuk bisa mendapat minyak itupun dibatasi.

(6)

Suara tokek pun kembali berbunyi pertanda malam semakin larut dan aku masih terus menulis. Tulisan sebayak 3 lembar buku saya rampungkan. Saya membereskan tulisan itu karena takut sobek meski kopi sudah habis saya teguk.

“Vidi…. Bangun sudah bro kita mau ke Lewotolok untuk membersihkan jalan bro.”

Saya mandi, dan melangkahkan kaki ke posko untuk dimobilisasikan ke tempat pembersihan yang juga adalah lokasi bencana. Semua anggota mengenakan baju gempar menjadi kebanggaan tersendiri dan identitas yang abadi.

Sepanjang jalan trans Ile Ape sudah dipenuhi poster-poster, baliho, bendera merah putih dan gantungan ketupat yang sering ditemui ketika perayaan besar. Masyarakat begitu antusias demi meyukseskan kedatangan perdana Republik Indonesia. Kami sampai di lokasi pembersihan dan mengawali kegiatan dengan berdoa dan ketua kami memberikan penguatan dan semangat agar kami semua bisa bekerja dengan baik tanpa terluka dan terhindar dari bahaya. Panasnya matahari tak membuat semangat berjuang kami pudar, batu-batu yang memenuhi seisi jalan juga tak menjadi problem kami karena kami saling bekerja sama dalam hal apapun.

Batuan dari berbagai ukuran, kayu-kayu dengan akar menjadi pemandangan miris dan lumpur begittu bayak dan sudah sedikit mengeras. Bau bangkai hewan ternak yang sudah membusuk menusuk indra penciumaan. Peralatan rumah tangga berserakan dimana mana. Rumah-rumah dari tembok sampai kayu rata dengan tanah, sekolah dan kendaraan hancur berantakan. Semua anggota begitu optimis dan komitmen dengan ekspektasi tinggi.

Jalan sudah bisa dilewati dan kami beristirahat karena sudah sangat lelah. Kami bercanda, melepas lelah. Teman saya Hali dengan ciri khasnya mencoba menirukan gaya pidato bapak presiden, dan lelucon itu diterima baik dan mencairkan suasana yang lelah. Kegiatan berakhir dengan evaluasi di posko. Saya kembali ke rumah untuk mempersiapkan baju seragam nasional SMP untuk digunakan besok pagi ketika memberikan surat kepada bapak presiden Jokowi. Huruf saya yang kurang bagus, dan takut bapak presiden tak bisa membaca, saya meminta adik saya untuk menyalin karena hurufnya lebih bagus dan indah. Saya berdoa dan meminta restu mama dengan cara tidur malam dengan mama. Hal ini pun membuat mama merasa aneh dan bertanya-tanya namun saya hanya diam dan nmeminta doa. Keesokan paginya saya bangun lebih awal dan meyiapkan kacu pramuka denganpertimbangan ketika saya memberikan surat kepada presiden, taka da petugas yang akan menghalangi saya. Rencananya saya memberikan surat itu di depan umum, namun karena kondisi tempat dipenuhi lautan manusia saya mengurungkan niat itu dan memanfaatkan jalan yang berlubang untuk memberikan surat. Saya juga meminta kakak

(7)

bendahara dari komuntas untuk menjaga saya dari ancaman bahaya dan merekam saya demi menjadi arsip saya untuk membuktikan bahwa saya pernah bertemu orang nomor satu di Indonesia.

Perhitungan saya tepat dan kebetulan bapak Jokowi duduk di sebelah kiri dan saya memanfaatkan peluang dengan baik. Para paspampres juga tidak terlalu ketat dalam pengawalannya karena kondisi jalan yang buruk hasil kerja kepemimpinan bupati yang mementingkan pembangunan ke kampung halamanya. Semua masyarakat se kabupaten memenuhi sepanjang jalan dari bandara sampai ke lokasi bencana.

Pemandangan yang betul-betul baru di kehidupan saya. Berbagai suara kerap terdengar di sepanjang jalan, muka muka yang baru, dialek yang asing sering terdengar. Setelah berkunjung bapak Jokowi juga membagikan baju bergambarkan wajah beliau, saya salah satu orang yang beruntung dari sekian ribu orang yang berebutan. Walau harus mengejar dan berebutan, alhasil kaki saya terluka.

Selang berberapa jam video saya pun viral di media sosial dan mendapat banyak kecaman. Ada yang pro da nada yang kontra. Saya sempat di wawancara oleh media local untuk menceritakan secara garis besar tentang isi surat cinta saya kepada presiden. Saya mendapat intimidasi, bulian. Tentunya tindakahn gila saya ini membahayakan ayah saya yang adalah seorang ASN. Ayah saya dipanggil karena kecurigaan bahwa otak di balik surat itu adalah adalah beliau. Semua ASN yang saya kenal ikut terancam jabatanya meski tak keluarga dengan saya. Saya dikuatkan oleh keluarga, teman-teman, sahabat dan komunitas. Saya taki bisa keluar rumah karena ibu saya sangat mengkhawatirkan saya karena putra tunggal. Padahal masalah yang saya singgung adalah hal yang menjadi konsumsi media di kalangan masyarakat baik anak anak dan orang dewasa. Saya betul-betul di kurung tanpa keluar, bahkan hanya ke kamar kecilpun di jaga. Padahal saya adalah orang yang tidak suka berdiam diri. Dari situlauh saya kepikirkahn untuk membuat video klarivikasi di youtube pribadi saya dimana disitu saya menjelaskan secara terperinci dan ditonton sekitar 5 ribu orang, https://youtu.be/Q2tFhfIVgBs

Namun hal ini tetap tidak dipercaya oleh semua orang yang beranggapan bahwa anak SMP bisa berpikir secara kritis seperti ini.

“Bangun no bangun kita sudah di maumere ni, ” panggil supir bis yang membuat saya terkrjut dari mimpi masas lalu saya.

“Ade mau turun dimana?” “Di SMA Bhaktyarsa maumere om”

(8)

Boru adalah tempat persinggahan makan yang berada di antara Larantuka dan Maumere. Saya sangat bahagia karena bisa sampai di maumere dengan perjalanan yang sempat membuat saya menangsis karena takut tersesat.

“Ok ini kalian punya sekolah”

Terimakasih banyak om. Saya pun melangkah ke luar bis dengan pasti dan harapan semoga hari-hari saya di kota ini bisa berguna. Sambil memandang jauh, saya perlahan mengambil uang dari dalam tas dan membayar bis. Saya membawa barang memasuki gedung yang dikelilingi pagar biru tinggi sekitar 2 meter yang dipenuhi pecahan beling diatasnya. Hp bergetar ada yang menelfon, dan itu adalah mama suster asrama.

“Halo vidi selamat siang sudah dimana?”

“Selamat siang mama suster, sudah di depan gerbang tapi masih bingung karena tidak tau mau jalan ke mana”

“Ok anak tunggu di situ mama suster ke sana.”

Saya menyandarkan bahu di pohon asam asam yang rindang sambil melihat-lihat pemandangan yang baru dalam hidup saya.

“Vidi selamat datang.”

Saya dihampiri mama suster kepala asrama, dan saya bercerita tentang pengelaman saya pertama kalinya di daratan Flores dan tersesat. Maklum saya anak kepulauan yang jauh dari

pulau Flores.

“Vidi bagaimana dengan surat cinta kepada presidenya. Mama suster dengar Mata Najwa ada undang jadi tidak?”

“Semua itu hanya berita hoax saja . Saya hanya bisa diam menunggu waktu balasan dari bapak presiden. Namun sampai sekarang tak pernah ada balasan, padahal hampir 80% warga lembata mendukung saya karena niat dan tujuan saya baik demi kesejahtraan semua orang dan membongkar kebusukan-kebusukan para pemimpin mama suster!”

“Mama suster pikir Vidi sempat diundang ke istana Negara seperti pemanjat tiang bendera, terus Vidi punya keseharian aman?”

“Secara perlahan kegiatan saya kembali seperti biasanya dan aktivitas berinteraksi pun kembali normal mama suster. Sampai sekarang juga saya masih menunggu.”

Sambil berbincang, kami pun sampai di pintu asrama dan saya disambut baik oleh teman teman baru yang membantu saya membawakan barang barang dan mengantar saya ke lemari dan tempat tidur.

“Vidi pasti capai jadi Vidi istirahat dulu di teman punya tempat tidur di sudut sana, kebetulan dia juga belum datang, ” kata mama suster dengan gaya bahasa yang khas sambil tersenyum.

(9)

“Pesan dari cerpen ini adalah, umur bukan menjadi tolak ukur kemampuan sesorang, tergantung pribadi dan cara dia belajar. Di masa sekarang ini jagan menilai seseorang dari luar saja. Tetap berpikir optimis, jangan pesimis, komitmen dan kosisten. Jagan meyerah sebelum mencoba, terkadang harus terluka agar belajar untuk bisa sembuh. Bahwa belajar bukan hanya di sekolah melainkan dimana saja, siapa saja bisa menjadi sekolah dan semua orang adalah guru, apalagi di masa pendemi tentunya kita harus aktif di segala macam kegiatan, produktif demi menambah wawasan dan merealisasikanya dalam kehidupan sehari-hari.”

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :