Seni Budaya Seni Rupa SMP KK I Prof

189  14 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Mata Pelajaran Seni Budaya/Seni Rupa

Sekolah Menengah Pertama (SMP)

GURU PEMBELAJAR

MODUL PELATIHAN GURU

KELOMPOK KOMPETENSI I

Profesional :

Seni Lukis Realis dan Dekoratif

Pedagogik :

Pemanfaatan Informasi Hasil Penilaian

dan Evaluasi Pembelajaran

DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

U PEMBELAJ

AR

MA

TA PELAJ

ARAN SENI R

UP

A SMP

KEL

OMPOK K

(2)

SENI LUKIS

REALIS DAN DEKORATIF

Drs. Suwarna, M. Pd.

KOMPETENSI PROFESIONAL

KELOMPOK KOMPETENSI I

MATA PELAJARAN SENI RUPA

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

(3)
(4)

Copyright 2016

Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan

Pendidik dan Tenaga Kependidikan Seni dan Budaya,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

c

Penulis : Drs. Suwarna, M. Pd

Editor Substansi : I Gusti Ngurah S, M.Ds Editor Bahasa : Sigit Purnomo, M.Pd.

SENI LUKIS

REALIS DAN DEKORATIF

KOMPETENSI PROFESIONAL

KELOMPOK KOMPETENSI I

MATA PELAJARAN SENI RUPA

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)

Halaman

HALAMAN FRANCHISE ……… ii

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ………. iii

KATA PENGANTAR ……… v

DAFTAR ISI ……….. vii

DAFTAR GAMBAR ………. ix

PENDAHULUAN ……….. 1

A. Latar Belakang ……….  1

B. Tujuan ………...  4

C. Peta Kompetensi ……….  9

D. Ruang Lingkup ……….  11

E. Cara Penggunaan Modul ………...  11

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1. LUKISAN BERCORAK REALIS ………. 13

A. Tujuan ………...  13

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ………  13

C. Uraian Materi ………  14

D. Aktivitas Pembelajaran ………...  67

E. Latihan/ Kasus/Tugas ……….  73

F. Rangkuman ………..  85

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ………  87

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2. BEREKSPRESI SENI LUKIS BERCORAK DEKORATIF ………. 89

A. Tujuan ………...  89

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ………  89

(11)

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ………  107

PENUTUP ……….  109

EVALUASI ………...  111

GLOSARIUM ………  119

DAFTAR PUSTAKA ………  121

LAMPIRAN A. Kunci Jawaban Evaluasi ……… 127

B. Kunci jawaban Kegiatan Pembelajaran 1: (Seni Lukis Bercorak Realis) ……….. 128

(12)

Halaman

Gambar 1 Peta kompetensi seni lukis 9

Gambar 2 S. Soedjojono “ Di depan kelambu terbuka” 14 Gambar 3 Basoeki Abdulah “Pertempuran antara Gatotkaca dengan

Antaseno” 15

Gambar 4 R. Bonnet “Memotong padi di Bali” 16

Gambar 5 Melukis “Outdoor” 17

Gambar 6 Lukisan dengan konsep seni untuk ibadah 19 Gambar 7 “Berqurban”, Lukisan dengan konsep seni untuk ibadah  21 Gambar 8 Lukisan babi hutan di gua Leang-Leang Sulawesi Selatan  23 Gambar 9 I Ketut Marra “A Nice Morning in Bangil” 24

Gambar 10 Basoeki Abdullah “Diponegoro memimpin perang”  25 Gambar 11 Suwarna “Kelinci menimbang kura-kura” 26

Gambar 12 Affandi “Potret diri” 26

Gambar 13 Oesman Effendi “The composition” 27

Gambar 14 Lukisan Jaques Louis David ”Sumpah Horati” 29 Gambar 15 Contoh lukisan Leonardo da Vinci 29 Gambar 16 Lukisan Romantisme Eugene Delacroix 30 Gambar 17 Lukisan Romantisme “Penangkapan P. Diponegoro”   31

Gambar 18 Lukisan Realisme “Djalan Raja” 31

Gambar 19 S. Soedjojono “Seko (Perintis gerilya)” 32 Gambar 20 Lukisan realisme “Rini”, Soekarno 33 Gambar 21 Lukisan realism karya Udin Antara 33 Gambar 22 Vincent Van Gogh “ The starty nigh” 34

Gambar 23 Lukisan Realis Eksprsionisme, Affandi 35 Gambar 24 Lukisan Naturalisme Gustave Courbet 35 Gambar 25 Lukisan Naturalisme “Pronocitro-Roro Mendut”,

Gambiranom  36

(13)

Berkah”   38 Gambar 30 Lukisan dekoratif batik “Bakul-bakul”, Ida Hajar 39 Gambar 31 Lukisan kaca dekoratif Cirebon “Kereta Paksi Naga Liman”  40 Gambar 32 Lukisan dekoratif wayang Beber “ Main dadu” 40 Gambar 33 Lukisan impresionisme karya Claude Monet 41 Gambar 34 Lukisan Pablo Picasso “ Guirnica” 42 Gambar 35 Lukisan Surealisme Hening Purnamawati “ What

happened Mom”  43

Gambar 36 Lukisan Dadaisme karya Marcel Duchamp 44 Gambar 37 Lukisan Abstrak Ekspresionisme “ Gejolak” 44 Gambar 38 Lukisan Yon Indra, menghasilkan ilusi ruang 45 Gambar 39 AD. Pirous, kaligrafi huruf Arab 46 Gambar 40 Heri Dono “Dua perempuan dan satu bunga” 47 Gambar 41 Lukisan teknik usap-abur/dusel pastel “Terkejut” 49 Gambar 42 Lukisan teknik aquarel “Makam pahlawan tak dikenal”   50 Gambar 43 Lukisan teknik poster “ Memulkul bedhug” 51

Gambar 44 Lukisan dengan cat minyak “Rakit Medusa” 52 Gambar 45 Lukisan Finger painting “Berjajar” 53

Gambar 46 Lukisan teknik gesek benang “Pepohonan” 54 Gambar 47 Lukisan teknik folder print “Kala” 55

Gambar 48 Cat minyak duabelas warna 56

Gambar 49 Lukisan pemandangan dengan cat minyak 56

Gambar 50 Cat air   58

Gambar 51 Cat poster 58

Gambar 52 Lukisan teknik aquarel cat air 59 Gambar 53 Cat air bentuk bidang-bidang/batangan 60

Gambar 54 Cat acrylic duabelas warna 60

Gambar 55 Lukisan teknik basah acrylic 61

Gambar 56 Pastel minyak 62

(14)

Gambar 61 Kuas cat minyak kecil dan besar 67

Gambar 62 Pallet cat minyak dan kuas 68

Gambar 63 Pisau pallet dari bahan plastik 70

Gambar 64 Paspartu, “Mengungsi” 72

Gambar 65 Pemandangan gunung Sumbing 74

Gambar 66 Keseimbangan simetris 80

Gambar 67 Keseimbangan asimetris 81

Gambar 68  Irama lengkung gemulai 81

Gambar 69  Center of interest tulisan Allah 82

Gambar 70  Struktur keseimbangan asimetris 85 Gambar 71  Lukisan bercorak realis “Menanti” 87 Gambar 72  Kunci jawaban lukisan bercorak realis 95 Gambar 73  Wayang Beber bercorak dekoratif 98 Gambar 74  H. Widayat “ Seruling perindu” 100

Gambar 75  H. widayat “ Ayam alas II” 101

Gambar 76  Lukisan dekoratif ornamentik 102

Gambar 77  Lukisan dekoratif “Adam Eva dan binatang-binatang”   106

Gambar 78  H. Widayat “Ke pasar” 107

Gambar 79  Kuswadji Kawindrasusanta “Lampor” batik 108

Gambar 80  TD Sudjana “Babad Agung” 108

Gambar 81  G. Nj. Lempad Rama dan Shinta berjumpa Sarpakenaka   109

Gambar 82  Suwarna “Pengamalan” 109

(15)
(16)

A. Latar Belakang

Modul diklat guru Seni Budaya KK I Seni Lukis corak realis dan dekoratif ini berdasarkan pada latar belakang sebagai berikut:

1. Para guru Seni Budaya sekolah menengah pertama sangat memerlukan penguasaan kompetensi dalam aspek pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) dan sikap (afektif). Hal ini merupakan bekal utama yang akan dipakai sebagai acuan di dalam pembelajaran di sekolah. Di dalam pembelajarannya para guru berorientasi saintifik, karena seni budaya sangat berkaitan erat dengan berbagai disiplin ilmu yang lain, misalnya ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam, ilmu kebahasaan. Sebagai contoh adalah karya lukisan dipakai sebagai ilustrasi yang terdapat pada berbagai disiplin ilmu tadi, mengandung pesan menjelaskan suatu problem, cerita atau masalah, sehingga pengguna akan lebih jelas pesan apa yang dikandung di dalamnya.

2. Seni Budaya, dengan sub-sub Seni Lukis merupakan salah satu pembelajaran berbasis kompetensi yang berkaitan dengan kreativitas, sensitivitas, fantasi, dan ekspresi, sehingga akan membentuk kepribadian yang harmonis lahir dan batin.

3. Seni Lukis di sekolah menengah pertama, mempunyai kompetensi utama pedagogik, estetis, artistik, dan humanis, hal ini sangat berguna untuk mencapai kecerdasan emosional, intelektual, kemampuan berfikir, dan sangat membantu perkembangan motorik halus maupun motorik kasar. Hal ini mempunyai indikator esensial, menganalisis hasil penilaian pembelajaran.

(17)

4. Kompetensi guru mata pelajaran Seni Budaya adalah menggunakan informasi hasil penilaian dan evaluasi untuk menentukan ketuntasan belajar, dan terkait dengan kompetensi inti: memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.

5. Kompetensi guru mata pelajaran Seni Budaya menggunakan informasi hasil penilaian dan evaluasi untuk merancang program remedial dan pengayaan.

6. Kompetensi guru mata pelajaran Seni Budaya yang lain adalah menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan materi seni rupa pada pembelajaran seni budaya sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

7. Kompetensi guru mata pelajaran Seni Budaya yang beraspek psikomotor adalah mampu membuat karya seni lukis bercorak realis dan dekoratif.

8. Derasnya pengaruh perkembangan seni lukis secara nasional dan internasional pada seniman, guru seni rupa, dan tidak mustahil pada pembelajar sekolah menengah pertama, hendaknya dapat disaring dengan filter budaya Indonesia, sehingga seni lukis tersebut tetap eksis dan bermakna ganda, baik terhadap individu maupun terhadap masyarakat akademik.

(18)

10. Karya seni lukis mengandung berbagai nilai, di antaranya adalah:

a. Artistik, mengndung nilai seni (seni murni), seni lukis merupakan hasil ekspresi pribadi, sehingga memuaskan perasaan batiniyah dan lahiriyah.

b. Bernilai estetis, mengandung keindahan.

c. Bernilai penghias, menambah indahnya suatu ruang, sebagai hiasan dinding di ruang-ruang sekolah, ruang tamu, ruang hotel, ruang pertemuan, dan ruang pribadi.

d. Bernilai kenangan, sebagai cinderamata, ketika ada perpisahan, pesta pernikahan, ulang tahun, tourisme.

e. Bernilai kepahlawanan (heroisme), misalnya lukisan S. Soedjojono di masa revolusi fisik “Seko” menggambarkan seorang tentara Indonesia membawa senapan laras panjang, dengan latar belakang, bangunan yang rusak akibat perang dan sekawan pejuang yang lain tampak di kejauhan.

f. Bernilai religius, misalnya lukisan AD. Pirous Bandung yang mengangkat tema-tema dari ayat suci Al Qur’an, begitu juga lukisan kaligrafi pelukis Amri Yahya Yogyakarta, Syaiful Adnan Yogyakarta, dan Amang Rahman Surabaya.

g. Bernilai ekonomis, lukisan yang bermutu tinggi, artistik, dari pelukis bertaraf internasional Affandi misalnya, lukisannya dilelang di balai lelang Jakarta, laku milyaran rupiah.

(19)

12. Museum H. Widayat, di Mungkid, Magelang, museum Affandi di Yogyakarta, museum Nyoman Gunarso di Papringan Yogyakarta dan Bali, museum Nasional di Jakarta, telah ada dan menunjukkan keberadaannya.

B. Tujuan

Tujuan penulisan modul ini adalah, sesuai dengan kompetensi yang terdapat pada kisi-kisi paket keahlian Seni Budaya Seni Rupa jenjang SMP yang telah ditentukan, yaitu para guru Seni Budaya di sekolah menengah pertama diharapkan menguasai:

1. Kompetensi utama yaitu kompetensi pedagogik: menganalisis hasil penilaian pembelajaran, menganalisis penilaian pembelajaran, menggunakan informasi hasil penialaian dan evaluasi untuk menentukan ketuntasan belajar, memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.

2. Kompetensi pedagogik, menganalisis hasil penilaian untuk mengidentifikasi topik/kompetensi dasar yang sulit sehingga diketahui kekuatan dan kelemahan masing-masing peserta didik untuk keperluan remedial dan pengayaan. Menggunakan informasi hasil penilaian dan evaluasi untuk merancang program remedial dan pengayaan. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.

3. Kompetensi inti guru (standar kompetensi): materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

4. Kompetensi guru mata pelajaran (kompetensi dasar): menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan materi seni rupa pada pembelajaran seni budaya sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

5. Kompetensi professional dengan Indikator esensial: a. Menguraikan konsep seni lukis.

(20)

c. Membuat karya seni lukis bercorak realis. d. Membuat karya seni lukis bercorak dekoratif.

Untuk mencapai tujuan yang pertama yaitu Kompetensi utama - kompetensi pedagogik: menganalisis hasil penilaian pembelajaran, menentukan ketuntasan belajar, untuk kepentingan pembelajaran, anda dimohon membawa daftar nilai hasil pembelajaran Seni Budaya Sekolah Menengah Pertama, baik kelas 7, 8, atau 9. Hal ini untuk mencapai kompetensi pedagogik: menganalisis hasil penilaian pembelajaran, menentukan ketuntasan belajar, untuk kepentingan pembelajaran.

Untuk mencapai tujuan yang pertama, yaitu kompetensi pedagogik dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Identifikasi nilai-nilai hasil pembelajaran Seni Budaya sub Seni Rupa tersebut dan klasifikasikan dalam kategori: nilai kurang, cukup, baik, sangat baik. Hal ini untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing peserta didik.

2. Deskripsikan rentang nilai tersebut, disesuaikan dengan ketentuan dalam Kurikulum 2013.

3. Tentukan nilai ketuntasan kompetensi minimal (KKM) atau mastery

learning, sesuai dengan ketentuan Kurikulum 2013 Sekolah Menegah Pertama.

4. Jika ada beberapa peserta didik yang belum mencapai KKM, maka perlu diadakan remedial, dan bagi para pembelajar yang telah mencapai KKM, diseyogyakan diadakan program pengayaan dengan berkarya yang sejenis tetapi dengan peningkatan kompetensi yang relevan, sehingga yang bersangkutan dapat mencapai prestasi belajar yang lebih baik.

(21)

6. Ketika kompetensi pedagogik akan dicapai secara ideal, maka setelah diklat guru Seni Budaya dilakukan, perlu diadakan sitem penilaian uji kompetensi guru sekolah menengah pertama dan apabila dana mencukupi, alangkan lebih baik jika setiap guru seni budaya, proses belajar mengajarnya dinilai oleh empat pakar (dosen yang kompeten professor yang doktor, pejabat terkait dari dinas pendidikan, PPPPTK dan dari pakar pendidikan). Hali ini dapat dilakukan melalui kerjasama dengan sekolah menengah pertama terdekat, secara teknis para pembelajar didatangkan ke PPPPTK, atau para guru didatangkan ke sekolah menengah pertama yang terdekat dan sudah diijinkan. Penilaian menggunakan format yang telah disepakati. Hasilnya, dievaluasi terbuka, diadakan diskusi, sehingga akan meningkatkan kompetensi pedagogik dari para guru seni budaya sekolah menegah pertama. Hal ini dapat dimasukkan dalam sistem penilaian angka kredit guru guna kenaikan pangkat dan jabatannnya.

7. Untuk para peserta didik yang mendapat nilai tertinggi, pilih tiga karya seni lukis bercorak realis dan dekoratif, dapat diberikan “penghargaan”. Penghargaan tersebut dapat berupa pujian verbal misalnya “karya anda sangat bagus”, dan diteruskan dengan motivasi: Giat belajar dan berkarya seni rupa agar nilai anda semakin bagus! Atau, dapat berupa sertifkat yang disahkan oleh kepala sekolah.

8. Adakan lomba seni lukis tiap tahun sekali, carilah event yang tepat,

misalnya pada HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, dengan uang pendaftaran yang layak. Bagilah dalam tiga kelompok: Kelompok A untuk kelas 7, Kelompok B untuk kelas 8, Kelompk C untuk kelas 9. Uang tersebut dilola untuk penyelenggaraan, sebagian untuk menyediakan hadiah, sertifikat, uang pembinaan, bingkai. Dengan demikian maka para pembelajar termotivasi untuk lebih giat belajar Seni Lukis.

(22)

lukisan tersebut diagenda dan diberi keterangan: Lomba Seni Lukis dalam rangka HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke..., tanggal 17 Agustus tahun..., Juara ke...,, sekolah..., nama,,, dan kelas,,,, maupun teknik. Keterangan tersebut dapat ditulis dengan komputer, ditaruh di bawah lukisan sehingga tidak menggangu keberadaan lukisan tersebut. Jika lukisan tersebut dengan bahan dasar kertas gambar, maka hendaknya dibingkai berkaca, atau mika. Carilah bingkai dari bahan

fiberglass agar lebih awet. Jika dari bahan kayu, pilihlah kayu jati yang tua

(harga mahal) agar awet tidak dimakan teter (serangga kecil pemakan

kayu).

10. Lukisan-lukisan yang termasuk kategori juara 1, 2, 3 tersebut, dapat diunggah di dalam web sekolah, agar tersosialisasi dan dapat mengangkat harkat dan martabat sekolah. Atau, foto lukisan-lukisan tersebut dapat dimuat di dalam Jurnal sekolah, dan media massa yang relevan.

11. Rintislah galeri seni rupa/ museum seni rupa anak-anak, diisi dari hasil karya anak sekolah menegah pertama yang meraih prestasi, dari hasil lomba tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten, provinsi, regional, nasional bahkan internasional, walaupun dalam bentuk karya duplikasi. Memang hal ini merupakan sesuatau yang ideal, namun mau kapan lagi jika tidak dimulai dari sekarang. Susun proposal yang baik, ajukan ke sekolah, dan teruskan ke pemerintah melalui dinas pendidikan terkait. Perlu diadakan studi banding ke Den Pasar, Bali, melihat bagaimana bentuk, isi, dan manajemen Art Centre, maupun Museum Seni Lukis di Ubud. Dapat

melihat bagaimana pengelolaan museum Affandi di Yogyakarta, museum Seni Lukis H. Widayat di Mungkid Magelang, museum Seni Lukis Nyoman Gunarsa di Papringan Yogyakarta dan Bali, museum Nasional di Jakarta. Dari hasil studi banding tersebut, dianalisa, dibahas, dipakai sebagai bahan pelengkap dalam penyusunan proposal tersebut.

(23)

maupun fisik, sebagai bukti autentik, bahwa anda telah mencapai kompetensi pedagogik. Dengan demikian anda selalu terkait langsung dengan PPPPTK Seni dan Budaya, akan terjadi jalinan mesra hubungan timbal balik yang harmonis.

Untuk mencapai tujuan kedua, kompetensi pedagogik, menganalisis hasil penilaian untuk mengidentifikasi topik/kompetensi dasar yang sulit sehingga diketahui kekuatan dan kelemahan masing-masing peserta didik untuk keperluan remedial dan pengayaan. Menggunakan informasi hasil penilaian dan evaluasi untuk merancang program remedial dan pengayaan. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.

Tujuan ini dapat dicapai dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Dari hasil penilaian karya peserta didik dapat dilihat topik/kompetensi dasar yang mana yang dirasa sangat sulit bagi peserta didik, misalnya melukis realis. Untuk melukis corak realis peserta didik harus menguasai anatomi manusia atau hewan, atau cirri-ciri tumbuh-tumbuhan, perspektif dan pewarnaan yang sesuai dengan realita.

2. Dari jumlah peserta didik misalnya terdapat sebelas anak yang belum mencapai kemampuan kompetensi minimal (KKM), dalam melukis realis, maka sebelas anak tersebut perlu diadakan remedial sehingga mereka mencapai KKM. Perlu disediakan buku anatomi manusia atau binatang, berbagai macam gambar tumbuh-umbuhan yang detail, buku perpektif praktis. Dengan disediakannnya fasilitas berbagai macam buku tersebut diharapkan peserta didik mau dan termotivasi untuk belajar dan melukis dengan corak realis dapat mendapat nilaiyangmemenuhi KKM.

(24)

4. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran,

adalah dapat disimpulkan bahwa belajar Seni Budaya itu tidak sulit, namun menyenangkan, menyegarkan, bahkan membina kreativitas peserta didik, karena segala gejolak jiwa tersublimasi oleh karenanya.

5. Manfaat yang lain adalah bagi peserta didik yang berbakat dan mendapat nilai tinggi, dapat diikut sertakan pada berbagai lomba melukis di daerahnya, tingkat nasional atau tingkat internasional.

C. Peta Kompetensi

Peta kompetensi: sesuai dengan Permendikdas Nomor 16 tahun 2007 tentang peta kompetensi Seni Budaya adalah sebagai berikut:

1. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan (mencakup materi yang bersifat konsepsi, apresiasi, dan kreasi/rekreasi) yang mendukung pelaksanaan pembelajaran seni budaya (seni rupa, musik, tari, teater) dan keterampilan. (Dalam hal ini khusus seni rupa).

2. Menganalisis materi, struktur, konsep, dan pola pikir ilmu-ilmu yang relevan dengan pembelajaran Seni Budaya.

(25)

7. Umpan Balik

Gambar 1. Peta kompetensi seni lukis

Keterangan: (1) Guru SMP harus mempunyai berbagai kompetensi; (2) kompetensi konsep seni lukis, agar seorang guru dapat melukis, mereka harus mempunyai lukisan; (3) teknik kering, basah, usap-abur/ dusel, mixed media, finger painting, montage, kolage, tarik benang, folder print.

Kompetensi penguasaan teknik akan melahirkan suatu karya seni lukis menggunakan bahan dan alat; (4) kompetensi penguasaan alat dan alat melukis: standar lukis, kuas, pallet, gelas, pisau palet, pensil, arang, pastel, cat air, cat poster, cat acrylic, kertas, karton, kanvas, cat minyak, minyak cat, terpentin, dan bingkai; (5) lukisan bercorak realis, dan; (6) lukisan bercorak dekoratif. Setelah guru SMP dapat melukis bercorak realisme dan dekoratif,

(26)

maka harus diadakan umpan balik; (7) Lukisan bercorak realis dan dekoratif, sebagai umpan balik kepada guru diperlukan adanya kritik seni lukis dari teman sejawat, apakah lukisan tersebut telah memenuhi kriteria lukisan realis dan dekoratif? Jika masih terapat beberapa kekurangan, maka umpan balik tersebut sebagai bahan untuk memperbaikinya.

D. Ruang Lingkup

Ruang lingkup modul ini adalah sebagai berikut: bagian pendahuluan modul ini berisikan tentang latar belakang, tujuan, peta kompetensi, ruang lingkup, dan saran penggunaan modul. Selanjutnya pada kegiatan pembelajaan berisikan tentang, tujuan pembelajaran seni lukis, indikator pencapaian kompetensi seni lukis, uraian materi mencakup: tentang konsep seni lukis, keteknikan, alat dan bahan dalam melukis. Berikutnya adalah aktivitas pembelajaran berupa pengerjaan soal essai, diskusi dan latihan berkarya seni lukis corak realis dan dekoratif, rangkuman, umpan balik dan tindak lanjut, serta kunci jawaban.

E. Saran Cara Penggunaan Modul

1. Baca dengan saksama seluruh isi modul, kemudian kerjakan soal latihan, dan apabila anda telah mencapai nilai 80 berarti anda telah mencapai ketuntasan kompetensi minimal (KKM) atau mastery learning. Bobot soal

teori 40%, bobot karya seni lukis corak realis 30%, karya seni lukis dekoratif 30%, total = 100%. Untuk penilaian karya seni lukis oleh widyaiswara (tutor).

2. Apabila anda belum mencapai nilai 80 maka ulangi lagi baca dengan saksama dan perbaiki lukisan anda, usahakan minimal anda mencapai nilai 80.

3. Catat kata-kata kunci (istilah-istilah) dan fahami artinya.

(27)

5. Laksanakan tugas melukis dengan corak realis dan dekoratif, adakan diskusi/kritik antar teman sejawat (dan dengan pembelajar SMP, jika saat terjadi proses belajaran mengajar di sekolah).

6. Jika anda telah kembali ke sekolah menengah pertama, dalam pembelajaran diberikan umpan balik kepada pembelajar agar mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang seni lukis corak realis dan dekoratif.

(28)

LUKISAN BERCORAK REALIS

A. Tujuan

1. Para peserta diklat, setelah mempelajari isi modul ini, dapat menguasai materi, struktur, konsep seni lukis bercorak realis dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

2. Para peserta diklat PKB, setelah mempelajari berbagai teknik melukis, alat, dan bahan dalam melukis dapat menguraikan keteknikan melukis corak realis, alat, dan bahan dalam melukis bercorak realis sesuai dengan sifat alat dan bahan untuk melukis.

3. Para peserta diklat PKB, setelah mempelajari isi modul ini, dapat membuat karya seni lukis bercorak realis, sesuai dengan Kurikulum 2013, dan konsep masing-masing.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

1. Terkuasainya materi, struktur, konsep seni lukis bercorak realis dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

2. Teruraikannya teknik melukis realis, penentuan konsep dan ide, skets global, pewarnaan, finishing. Uraian konsep seni lukis realisme,

merupakan pokok/utama yang medasari keseluruhan pemikiran, tentang lukisan yang akan diciptakan melukiskan sesuatu sesuai dengan objek realita, berkesan nyata, bisa dengan teknik kering (pastel, arang, konte, pensil), sifat pastel warna cemerlang, arang mudah rontok harus dilapis fikasatif. Sifat pensil menghasilkan goresan garis-garis, jika untuk membuat blok lama. Teknik basah (aquarel, poster, cat minyak, acrylic), sifat teknik aquarel warna tipis-tipis transparan, sifat cat poster tutup menutup kental, sifat cat minyak lama kering bisa tutup menutup, sifat cat

acrylic tutup menutup dan kental. Memperhatikan prinsip seni.

3. Teruraikannya alat dan bahan melukis, alat: kuas cat air, gelas, kuas cat minyak, pallet cat air, pallet cat minyak, standar lukis, bingkai, paspartu,

(29)

kain lap, meja alas lukis, dingklik/kursi; bahan: cat air, air, cat minyak, minyak cat, cat acrylic, terpentin, pastel, fiksatif, sesuai dengan sifatnya.

C. Uraian Materi

1. Konsep Seni Lukis Bercorak Realis

Pelopor seni lukis realis adalah Gustave Courbet (1819-1877), dengan slogannya: “tunjukkan malaikat padaku dan aku akan melukisnya”. Dalam melukis mengandalkan pencerapan panca idera dan meninggalkan fantasi. Ada dua kecenderungan lukisan realisme, yang pertama pelukis cenderung melukis objek-objek yang enak dilihat. Yang kedua adalah pelukis yang memilih objek-objek yang jelek-jelek, kotor, kumuh. Pelopor sebelumnya adalah adalah Francisco de Goya (1746-1825) dan Honore Daumier (1808- 1979). Sedangkan di Indonesia aliran realisme dipelopori oleh S. Soedjojono, Affandi, Hendra Gunawan, dan Trubus. Pada saat revolusi fisik mengembangkan seni lukis realisme dan mereka membentuk Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Contoh: Perhatikan lukisan S. Soedjojono sebagai berikut.

Gambar 2. S. Soedjojono “Di Depan Kelambu Terbuka”,

(30)

Sebagaimana dikemukakan oleh Holt (1967), bahwa lukisan ini merupakan master piece, dari S. Soedjojono. Seorang wanita yang patah

hati, rambut terurai lepas, duduk di atas kursi dengan tangan yang besar, mata hitam dan sekatup mulut, adalah penjiwaan rasa sedih, celaan, dan mungkin kebencian. Warna-warnaya kuat tetapi halus. Tentang lukisan ini, Soedarso, Sp. (2006: 56) menyatakan bahwa lukisan berjudul” Di Depan Kelambu Terbuka” ini menggambarkan S. Soedjojono ketika menyampaikan slogan: “Seni adalah jiwa ketok”. Dia menasehatkan

kepada generasi muda agar jangan terikat teknik di dalam melukis, sebab melukis adalah masalah ekspresi.

Contoh yang lain adalah lukisan Basoeki Abdullah, yang dinyatakan oleh Mikke Susanto (2014: 252) sebagai lukisan bergaya realis-fantastik.

Gambar 3. Basoeki Abdullah “Pertempuran antara Gatotkaca dengan Antasena”. 1933, 200 cm x 300 cm, koleksi Istana Presiden Jakarta.

(Sumber: Mikke Susanto, 2014: 252)

Dalam lukisan tersebut tampak suasana sangat dasyat, Gatotkaca berada di atas, sedang Antareja berada di bawah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam cerita Mahabaratha, Gatotkaca dapat terbang berkat ajian “kutang antrakusuma”, dan Antasena punya kesaktian dapat “ambles bumi”.

Keduanya adalah anak Bima.

(31)

Gambar 4. R. Bonnet “Memotong Padi di Bali”, cat minyak. (Sumber: Visual Art, 2008: 52)

Dalam lukisan R. Bonnet tersebut tampak sejumlah orang dewasa putra dan putri yang sedang asyik bergotong-royong memotong padi secara tradidional. Padipun disunggi, dipikul dibawa pulang dan kemudian akan dikeringkan, setelah kering disimpan di lumbung.

Konsep seni lukis, sebagaimana dikemukakan oleh Mikke Susanto (2011: 227), adalah sebagai berikut:

a. Merupakan pokok/utama yang medasari keseluruhan pemikiran, tentang lukisan yang akan diciptakan. Dalam pembelajaran Seni Budaya di sekolah menengah pertama mengutamakan konsep “education through art“ yaitu pendidikan lewat seni (Read, 1961).

(32)

keseluruhan pemikiran tentang lukisan yang bercorak realis, tidak meninggalkan suasana atau peristiwa yang sesuai dengan realita.

b. Pada prinsipnya dalam karya seni lukis ada dua unsur pokok yang membentuk terwujudnya karya tersebut, yaitu unsur ideoplastis dan fisioplastis. Unsur yang menyangkut aspek bentuk, warna, komposisi, dan semua aspek yang dapat dilihat dalam suatu karya seni lukis merupakan bagian dari unsur fisioplastis. Sedangkan unsur yang menyangkut aspek ide, cerita, dan nilai yang terkandung dalam suatu karya seni lukis merupakan bagian dari unsur ideoplastis. Tentang unsur ideoplastis dan fisioplastis dapat diperhatikan pada gambar berikut.

Gambar 5. “Melukis Outdoor” Lukisan dengan konsep sesuai dengan realita

(Sumber : Foto koleksi pribadi, 2013)

(33)

yang bertengger. Hamparan tanah dengan rumput hijau dan di dukung oleh hamparan langit yang biru berawan putih.

Cerita: tentang seorang pelukis memakai topi baret orange menunjukkan kebolehannnya dengan membuat skets di atas kanvas di depan dua anak yang diajarnya. Sedangkan nilai yang terkandung di dalam lukisan adalah nilai pedagogis, yaitu mendidik dua anak untuk bisa melukis rumah dan suasana di sekitarnya.

(34)

bunga di sebelah kiri, burung bertengger di ranting, tampak pula seekor kupu yang sedang terbang dengan sayap berwarna merah. Kesemua unsur ini dipadukan dengan harmonis sehingga dapat mencapai kesatuan yang baik. Titik pusat perhatian adalah pada seorang pelukis yang sedang demonstrasi membuat skets rumah. Dengan demikian konsep seni lukis yang menyangkut unsur ideoplastis dan fisioplastis telah dikemukakan. Untuk contoh konsep seni lukis yang lain dapat dirunut pembahsan berikut ini.

Sebagai contoh yang lain, konsep seni lukis bercorak realis dapat diperhatikan pada contoh sebagai berikut: “seni untuk ibadah”. Perhatikan gambar berikut.

Gambar 6.Lukisan dengan konsep seni untuk ibadah, “Sholat”, 40 cm x 60 cm, Suwarna, 2010

(35)

alam seisinya, maka ia bersyukur dengan berkarya seni lukis dengan didasari niat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sedangkan unsur ideoplastis, tampak ide cerita, dan nilai yang terkandung di dalam lukisan tersebut. Ide: menggambarkan suasana orang yang sedang beribadah shalat di masjid, dan ada tiga orang yang terlambat. Cerita: Nabi Muhammad SAW, mengajarkan tuntunan sholat berjamaah di masjid, tampak jamaah putra di dalam liwan, dan jamaah putri di serambi masjid. Bagaimanapun usaha manusia untuk berangkat shalat berjamaah di masjid, tetap ada tiga orang yang terburu-buru karena sudah terlambat berjamaah. Nilai yang terkandung di dalamnya adalah “ibadah”, mendidik umat manusia untuk selalu beribadah shalat menyembah Tuhan, mencari bekal untuk hidup di akherat nanti. Sedangkan unsur yang lain adalah permainan sinar, gelap-terang yang datang dari arah kanan tampak titik hitam sebagai visualisasi Ka’bah. Dengan permainan sinar ini, maka tampak adanya kesan plastis pada setiap objek dan mendukung kesan realisnya.

Contoh konsep “seni untuk ibadah“ yang lain adalah lukisan berjudul “Berqurban” sebagai berikut.

Gambar 7. “Berqurban”, Lukisan dengan konsep seni untuk ibadah, cat minyak. Suwarna, 2002 

(36)

diatasi dengan bijaksana agar selalu mendapat ijin dari Tuhan. Jalan naik juga mengisyaratkan agar manusia selalu meningkatkan taqwa kepada Tuhan. Dengan konsep melukis “seni untuk ibadah”, maka segala lukisannya dapat dinikmati oleh orang lain, dan dengan ijin Tuhan, pelukis akan mendapat ganjaran.

Unsur ideoplastis: ide, cerita, nilai yang terkandung di dalam lukisan. Di dalam lukisan tersebut tampak adanya ide untuk menyatakan manusia berqurban dengan kambing atau sapi, dengan warna kambing dan sapi putih, menandakan kesucian. Sedangkan ceritanya adalah, jika manusia akan berqurban untuk menunjukkan tingkat ketaqwaannya, berqurban dengan kambing untuk seorang diri (sat keluarga), jika berqurban dengan sapi untuk tujuh orang (7 keluarga). Warna hijau mendominasi lukisan tersebut, menandakan kesejukan, kesegaran, kesuburan dan kedamaian. Kita hidup di dunia ini hendaknya penuh dengan kedamaian. Nilai yang terkandung di dalam lukisan tersebut adalah “nilai religius”, agar manusia taat berqurban guna meningkatkan taqwa kepada Tuhan.

Demikian halnya para guru sekolah menegah pertama sebagai peserta diklat ini hendaknya menerapakan konsep pendidikan lewat seni di dalam pembelajarannya.

a. Konsep seni lukis tergambarkan dalam pikiran, dan jika ditulis biasanya sangat singkat, misalnya, “pelestarian lingkungan”. Lukisannya akan mencerminkan pelestarian lingkungan misalnya reboisasi, agar hutan tidak gundul, dan tidak banjir.

b. Di dalam seni lukis, konsep dapat dirumuskan terlebih dahulu sebelum melukis, walaupun hal ini tidak mutlak, misalnya menanggapi adanya koruptor di suatu negara. Maka pelukis berkonsep “berantas korupsi”, lukisannya akan menunjukkan pemberantasan koruptor di negara tersebut, dapat juga bercorak karikatur lukisannya.

(37)

terjadi penafsiran yang mendekati sama. Misalnya konsep suatu lukisan ditulis di dalam katalog pameran “aku cinta seni-budaya Indonesia”. Visualisasi dalam lukisan menampilkan berbagai adat dan tatacara di berbagai daerah di Indonesia, misalnya ngaben, bekakak, sekaten, merti dusun, labuhan danlain-lain. Dalam hal ini

penikmat dapat mengapresiasi lukisan tersebut dengan mudah dan akan terjadi keselarasan apa yang menjadi konsep dari pelukisnya dengan penikmat tersebut. Dengan demikian antara pelukis dan penikmat dapat memiliki persepsi dan kerangka berpikir yang sejajar.

d. Untuk memperluas wawasan tentang konsep seni lukis, maka perlu dikemukakan:

1) Konsep seni lukis primitif

Manusia primitif, di Indonesia hidup dengan kepercayaan dinamisme dan animisme, serta memuja roh nenek-moyang, namun mereka juga telah menghasilkan suatu lukisan yang dilukis di dinding-dinding gua. Lukisan tersebut dianggap mempunyai “mana”, yang dapat menimbulkan kekuatan gaib.

(38)

Gambar 8. Luiksan babi hutan di gua Leang-leang Sulawesi selatan.

(Sumber:http://openmind4shared.blogspot.com/2012/09jaman -prasejarah- kehidupan-manusia-purba.html,20-2-2014 )

2. Ide

Sedangkan ide, sebagaimana dikemukakan oleh Mikke Susanto (2011: 187) adalah (1) Pokok isi yang dibicarakan oleh perupa melalui karya-karyanya. (2) Idea atau pokok isi merupakan sesuatu yang hendak diketengahkan. Banyak hal yang dapat dipakai sebagai ide di antaranya adalah:

a. Benda dan alam, dapat menjadi lukisan stillife, dan landscape art.

Keadaan alam di Indonesia memang sangat indah, dikatakan oleh orang sebagai sorga dunia, berbagai macam bunga, buah, berbagai tumbuhan ada dan sangat menawan. Perhatikan contoh lukisan

landscape art. berikut,

Gambar 9. I Ketut Marra “A Nice Morning in Bangil” oil on kanvas, 140 cm x 207 cm

(39)

b. Peristiwa atau sejarah, dapat menjadi history painting. Berbagai

peristiwa heroik di berbagai pelosok Indonesia, dapat menjadi ide penciptaan lukisan. Misalnya tokoh wanita Cut Nyak Din dari Aceh, Pangeran Diponegoro dari Yogyakarta, Boeng Tomo dari Surabaya. Perhatikan lukisan Basuki Abdullah berikut:

Gambar 10. Basoeki Abdullah,

“Diponegoro memimpin perang”, cat minyak 1949. (Sumber: Mikke Susanto, 2014: 131).

c. Proses teknis, biasanya menjadi lukisan mixed media, memadukan berbagai bahan dan teknis melukis menjadi lukisan yang artistik. Teknik melukis kolase, dengan menempelkan berbagai bahan yang cocok untuk menyatakan objek, sehingga menjadi satu kesatuan dan tidak meninggalkan kaidah seni: irama, keseimbangan, kesatuan, titik pusat perhatian, harmoni pada gambar 11 untuk membuat latar belakang, memanfaatkan teknik finger painting, menggunakan pasta

ajaib (jenang warna) perhatikan objek pelangi pada lukisan tersebut. Demikian pula teknik lipat (origami dari Jepang), dimanfaatkan untuk

(40)

Perhatikan contoh lukisan berikut.

Gambar 11. Suwarna “Kelinci menimbang kura-kura”, 2014, Mixed media.

d. Pengalaman pribadi, biasanya menjadi lukisan reflektif. Perhatikan lukisan potret diri Affandi sebagai berikut.

Gambar 12. Affandi ”Potret diri”, cat minyak di atas kanvas, teknik plototan. (Sumber: Herawayi, Iriaji 1988-1989:76).

(41)

tekstur, yang terorganisir, penuh dengan irama dinamis, harmonis, dan sangat memperhatikan keseimbangan, sehingga menampilkan suatu lukisan yang sangat mempesona. Di dalam melukis abstrak, seorang pelukis berfantasi secara bebas tidak terikat oleh bentu-bentuk di alam ini, sehingga lukisannya kadangkala menampilkan sesuatu keadaan yang di luar dugaan. Namun kadangkala, lukisannya juga masih dapat dicerna secara harfiah dan masih mudah difahami pula.

Gambar 13. Oesman Effendi “ The composition” oil on kanvas.

61 cm x 91 cm , 1975. (Sumber: Visual Art, 2008: 92)

Dari konsep dan ide tersebut maka anda dapat menciptakan suatu lukisan yang mencerminkan gejolak jiwa anda, sehingga akan merasa puas dan karya tersebut dapat dinikmati oleh penikmat, kolektor, dan atau pemesan. Ekspresi pribadi tercurah pada lukisan, dan diharapkan anda akan menemuka jati diri, sehingga orang lain dengan sekejap mata, segera dapat mengenal lukisan anda.

Pada saat diklat ini anda diberi kesempatan melukis bercorak realis pada kegiatan pembelajaran 1, dan kegiatan pemebelajaran 2 tentang seni lukis bercorak dekoratif. Sedangkan berbagai aliran seni lukis berguna untuk memperluas wawasan seni anda. Pada kesempatan yang lain, berbagai contoh karya aliran seni lukis akan berguna pula.

3. Pengertian Seni Lukis dan Aliran

(42)

dimensional yang memakan tempat dan tahan akan waktu (Soedarso Sp., 1987). Karya seni lukis mempunyai kelebihan daripada cabang seni yang lain karena sifat akan tahan waktu tersebut. Jika ditilik secara teoritis, seni lukis dapat dibagi menjadi dua ranah ialah seni lukis klasik dan seni lukis modern. Seni Lukis bersifat dua dimensi adalah jenis karya yang mempunyai dua ukuran, yaitu panjang dan lebar. Pelukis masa perggolakan politik menjelang kemerdekaan Indonesia, S. Soedjojono pernah mengungkapkan bahwa: “seni adalah jiwa ketok”. Jelas di sini

bahwa seni lukis merupakan hasil ekspresi isi jiwa manusia yang kelihatan wujudnya, berupa lukisan. Seni Lukis juga disebut seni representasi, artinya menghadirkan kembali objek-objek yang nyata, maupun yang tidak nyata. Setelah memahami pengertian seni lukis alangkah baiknya para peserta diklat mempelajari berbagai aliran seni lukis, agar lebih luas wawasan seninya.

Sebagaimana dikemukakan oleh Mikke Susanto di dalam Diksi Rupa (2011) pengertian berbagai aliran seni lukis adalah sebagai berikut:

a. Klasikisme, berdasarkan konsep: memandang dunia sebagai misteri yang dapat dijelajahi untuk menemukan alasan kehadiran manusia, dengan ciri idealisme, rasio menjadi titik tolak lukisannya, generalisme, dan mewah/megah. Berkembang di Perancis pada awal abadke-19, dengan tokoh: Jaques Louis David, dan Jean August Donimique Ingres.

Gambar 14. Lukisan Jaques Louis David, “Sumpah Horati” aliran klasikisme. Horatius menyumpah tiga anak, sementara anak permpuannya menagis

(43)

Neo Klasikisme, aliran ini dipengaruhi oleh seni Klasik Yunani dan Romawi kuno, dengan konsep sebagai cirinya: homosentris dan idealisme, subjektif, mendambakan keharmonisan, memikat hati, bertema sejarah dan mitoliogi. Tokoh: Girodet, Michelangelo, dan Leonardo da Vinci, Raphael.

Gambar 15. Contoh lukisan Leonardo da Vinci, Neo Klasikisme “Monalisa”, (Sumber: Herawati dan Iriaji, 1988-1989: 101)

(44)

Gambar 16. Lukisan Romantisme Eugene Delacroix, (Sumber: Yapi Tambayong, 2012: 170)

Gambar 17. Lukisan Romantisme, ” PenangkapanP. Diponegoro”, RadenSaleh SB.

(Sumber: Visual Art, Nov-Des, 2007:7)

(45)

Gambar 18. Lukisan Realisme, “Djalan Raja”, S. Soedjojono, koleksi Istana Presiden Republik Indonesia, Jakarta

(Sumber: Mikke Susanto, 2014: 119)

Objek yang dilukis enak dilihat, namun ada juga yang memilih objek yang kotor, jelek, mengerikan. Pelopor sebelunya adalah Francisco de Goya (1776- 1828), Honore Daumier (1808-1979). Di Indonesia, pada masa revolusi aliran ralisme diprakarsai oleh: S. Soedjojono, Affandi, Trbus, dan Hendra Gunawan. Berikut adalah contoh lukisan realisme S. Soedjojono.

Gambar 19. S. Soedjojono, “Seko (Printis gerilya)”, 1949, 68,5 “ x 75”, cat minyak di atas kanvas. Koleksi pribadi presiden Soekarno.

(Sumber: Herawati, 1988-1989: 72)

(46)

sebagai saksi sejarah perjuangan bangsa Indonesia, melawan penjajah Belanda.

Berikut adalah contoh lukisan realis karya Soekarno (Presiden I Republik Indonesia).

Gambar 20. Lukisan Realisme, “Rini”, Soekarno, koleksi Istana Presiden (Sumber: Visual Art, 2008: 48).

Luikisan ini tertera di dalam buku Lukisan-lukisan dan Patung-patung Koleksi Presiden Soekarno.

Berikut adalah contoh lukisan realis karya Udin Antara

(47)

d. Ekspresionisme, aliran ini lahir di Jerman pada abad ke-20 dengan konsep: berusaha melukiskan aktualitas yang sudah didistorsi ke arah suasana kesedihan, kekerasan atau tekanan batin yang berat di Eropa pelukis beraliran ekspresionisme adalah: Vincent Van Gogh, Gaugin, dan Edward Munch. Bagi Van Gogh warna-warna murni serta goresan-goresan spontan berupa garis-garis melengkung-lengkung, merupakan alat/media untuk melukiskan pandangan hidupnya di dunia yang fana ini. Di Indonesia, Affandi, para kritikus Indonesia mengkategorikan lukisan Affandi dalam aliran realis ekspresionisme. Affandi belajar ottodidak, melukis langsung di tempat objek

(onthespot) dengan spontan dan sangat cepat, mengambil objek yang

riel/nyata, namun subjektivitas tetap muncul di dalam lukisannya, sehingga Affandi menemukan corak pribadinya. Perhatikan contoh lukisan Vincent Van Gogh sebagai berikut.

Gambar 22. Vincent Van Gogh, “The Starty Night”, cat minyak di atas kanvas.

(48)

Berikut adalah lukisan Affandi

Gambar 23.Lukisan Realis Ekspresionisme, Affandi. (Sumber: Visual Art, 2007: 105).

e. Naturalisme, aliran ini merupakan anak kandung realisme, dengan konsep: memilih objek yang indah-indah saja sesuai dengan alam, lukisannya sangat mirip dengan fotografi, mengutamakan bentuk dan kesamaan objek, baik warna, proporsi, anatomi, dan perspektif. Tokoh di Eropa: Gustave Courbet, Manet, lukisannya sangat objektif tanpa pesan moral. Di Indonesia perkembangan naturalism mencapai puncaknya pada masa Mooi Indie (Indonesia Molek) dengan

(49)

Gambar 24. Lukisan Naturalisme Gustave Courbet, cat minyak (Sumber: Yapi Tambayong, 2012: 166)

Berikut adalah lukisan Gambiranom

Gambar 25. Lukisan Naturalisme “Pronocitro–Roro Mendut”, Gambiranom, 1964 (Sumber: Mikke Susanto, 2013: 380)

Berikut adalah lukisan Basoeki Abdoellah

(50)

f. Dekoratif, ini sebetulnya merupakan gaya, yang berurusan dengan fisik, atau perwujudan lukisan, dengan konsep: sebuah karya seni lukis yang memiliki daya unsur menghias yang tinggi. Jika berupa lukisan, tidak/kurang menampakkan volume keruangan, maupun perspektif, tidak menunjukkan ketiga dimensiannya/ flat/ datar.

Seni Lukis bercorak dekoratif dan bersifat tradisional, sebetulnya telah lama dibuat oleh nenek moyang kita, dengan konsep: keberadaannya secara turun temurun, terikat pada ikon/ pakem, bentuk objek distilir

sesuai dengan tujuannya, dan tampak datar/flat, tidak berkesan tiga

demensioanal.

Gambar 27. Lukisan dekoratif Bali Klasik bersifat Hinduistis. (Sumber: Sukimin dan Edy Sutandur, 2004: 5)

(51)

Gambar 28. Lukisan dekoratif Bali, ornamentik (Sumber: Ida Siti Herwati, Iriaji 1988/1989: 9)

Gambar 29. Lukisan dekoratif Bali, Ida Bagus Made Poleng: “Mohon berkah” 1956, koleksi Istana Presiden Jakarta.

(Sumber: Mikke Susanto, 2014: 389)

(52)

Gambar 31. Lukisan kaca dekoratif Cirebon: “Kereta Paksi Naga Liman” (Sumber: Suwarna dkk. 2014: 8 /babeh curly bp com)

Gambar 32. Lukisan dekoratif Wayang Beber, “Main dadu” (Sumber: Katalog Pameran Seni Lukis Wayang Beber

mahasiswa STSI Surakarta, 1995: 1)

Di dalam kisah wayang kulit Mahabharata antara Pandawa dan Kurawa main dadu, dengan taruhan Negara, tetapi Pandawa kalah dan harus dibuang di hutan selama duabelas tahun tahun. Para ksatiria Pandawa menyamar, dan akhirnya mereka dapat melalui cobaan hidup tersebut berkat pertolongan prabu Matswapati, dari Wiratha.

(53)

g. Impresionisme, aliran ini dengan konsep: melukiskan kesan cahaya matahari yang menimpa objek dan memantulkan berpengaruh pada perasaan seorang pelukis. Garis pada lukisan ini tidak tampak. Istilah impresionisme dipakai oleh kritikus Louis Leroy sebagai ejekan yang sinis berjudul “Eksposisi dari kaum Impresionis”. Kaum Impresionisme sering disebut sebagai realisme cahaya, light painting, outdoor painting.

Gambar 33. Lukisan impresionisme karya Claude Monet (Sumber: Yapi Tambayong, 2012: 157)

Pelopornya adalah Manet tahun 1874, Claude Monet, Aguste Renoir, Frederic Bazille, Edgar Degas, dan Mary Cassat. Kemudian didukung oleh kelompok studio Suisse: Camille Pissaro, Paul Cezanne. Perhatikan lukisan Claude Monet.

h. Kubisme, aliran ini lahir pada tahun 1907, berkembang sampai dengan tahun 1927, dalam lukisannya tampak adanya konsep: objek dideformasi, dianalisis, disusun-susun dengan bidang dan warna, hasil dari penyederhanaan alam secara geometris. Kubisme dari kata

cubic (Bahasa latin), atau kubus, atau ka’bah (Bhasa Arab). Tokoh:

(54)

Gambar 34. Lukisan Pablo Picasso, “Guirnica” (Sumber: Ida siti Herawati, Iriaji, 1988-1989: 99)

i. Futurisme, aliran ini berkembang pada tahun 1909-1914 di Italia, dengan istilah Manivesta Futurista, dengan konsep: menentang

pemikiran-pemikiaran akademis. Mereka beranggapan bahwa kehidupan harus diangkat tinggi-tinggi oleh kegiatan dan tenaga yang luas. Menyatakan gerak dan khayalan masa mendatang. Tokoh: Carlo Carra, Gino Saverini, Giacomo Balla, Umberto Bocioni.

j. Surealisme, su berarti lebih, realis berarti nyata, isme menunjukkan aliran. Lukisan Surealisme dengan konsep: melukiskan hal-hal yang melebihi dari kenyataan seperti alam mimpi, memiliki unsur kejutan, tidak terduga. Tokoh: Salvador Dali, Renne Magritte, Roberto Matta. Di Yogyakarta terdapat pelukis Hening Purnamawati, Praba, Lucia Hartini. Perhatikan contoh lukisan berikut.

(55)

k. Dadaisme, aliran ini dengan konsep: menolak adanya hubungan logis antara pikiran dan ekspresi, menolak setiap kode moral, tidak ada estetika, karena hasil dari pikiran, bersifat sinis. Misalnya Monalisa diberi kumis karya Marcel Duchamp. Dadaisme lahir sekitar bulan Februari 1916 di Cabaret Voltaire di Zurich. Tokoh: Hans Arp, penulis Hugo Ball, Richard Huelsenbeck, Marcel Janco dan Tristan Tzara.

Gambar 36. Lukisan Dadaisme karya Marcel Duchamp, Monalisa diberi kumis. (Sumber: Yapi Tambayong, 2012: 156)

l. Abstrak Ekspresionisme, aliran ini dengan konsep: melukiskan gejolak jiwa manusia secara spontan (abstrak: tidak berwujud, niskala), lahir pada athun 1940 di New York, Amerika Serikat. Tokoh: Arshile Gorky, Hans Hofman, Jacson Pollock, Willem de Kooning. Mereka juga disebut action painting. Perhatikan contoh lukisan abstrak

(56)

Gambar 37. Lukisan Abstrak Ekspresionisme, “Gejolak” cat acrylic di atas kertas, 40 cm x 60 cm, Suwarna, 1999 

m. Optical art, lukisan ini dengan konsep: sifat unsur yang dipakai bentuk

geometris yang diulang-ulang, garis diatur, emosi dan ekspresi agak dikesampingkan, permainan mata illusi gerak memperdaya optik. Tokoh: Victor Vasarely dan Bridget Riley, Jackson Pollock. Perhatikan gambar berikut. Perhatikan lukisan Yon Indra berikut.

Gambar 38. Yon Indra, menghasikan illusi ruang (Sumber: Visual art, 2007: 35)

n. Mobilisme Art atau Kinetik Art, seni lukis ini dengan konsep:

(57)

mengarah ke seni instalasi. Tokoh: Yaacov Agam (Israel), Jean Tingueley (Swis), George Rickey (Prancis).

o. Konsep seni lukis modern: mendobrak tradisi artistik pada abad ke-19 di Eropa. Dalam seni rupa tampak pada gejala seni lukis abstrak, bersamaan denga adanya revolusi industri, menghasilkan formula baru teori estetika, pengembangan teknik, material dan status seniman. Di Indonesia pengaruh seni lukis modern diawali oleh Raden Saleh SB (1807-1880). Ia dianggap sebagai perintis seni lukis modern (Mikke Susanto, 2011: 263). Dengan demikian, maka para pelukis setelahnya misalnya Abdullah Sr, Dullah, Affandi, Basoeki Abdullah, S. Soedjojono, Fadjar Sidiq, H. Widayat, Amri Yahya, AD, Piroius, Amang Rahman, Gambiranom, Sapto Hudoyo, Popo Iskandar, dan lain lain lukisannya dapat dikategorikan pada seni lukis modern. Yang membedakan diantara para pelukis tersebut adalah aliran, dan corak pribadi. Perhatikan lukisan AD. Pirous yang mengangkat ayat-ayat suci Al Qur’an, dipadukan dengan latar belakang berwujud tekstur yang sangat artistik, mendukung kehadirannya.

Gambar 39. AD. Pirous, kalligrafi huruf Arab. Latar belakang bentuk abstrak yang sangat artistik.

(58)

p. Konsep seni lukis kontemporer: Dwi Marianto (2000: 183) di dalam

outlet mengemukakan tentang istilah kontemporer, berasal dari kata contemporary. Jika di pilah-pilah menjadi con- tempor-ary, con artinya

sama-sama atau bersamaan, tempor artinya waktu, ary adalah

akhiran dalam bahasa Inggris yang menbentuk kata benda atau kata sifat. Jadi kata kontemporer berarti apa-apa atau mereka yang hidup pada masa yang bersamaan. Dan Soewarjono (kritikus seni rupa) pada tahun 1970-an telah menggunakan istilah “apresiasi seni arca kontemporer”, tulisannnya dimuat di harian Berita Yudha. Maka, istilah kontemporer sebenarnya sangat luwes dipakai untuk menyebut suatu perkembangan seni rupa oleh seniman atau kritikus, dimana saat mereka hidup bersama-sama. Tentang konsep seni lukis kontemporer tidak dapat lepas dari perkembangan seni rupa di Yogyakarta sekitar tahun 1990-an. Mereka banyak berkecimpung di Yayasan seni Cemeti Yogyakarta, Jl. Ngadisuryan 7 A, dan di antanya adalah: Nindityo Adipurnomo, Mella Jaarsma, Dadang Kristanto, Hedi Hariyanto, Anusapati, Heri Dono, Hanura Hosea, Agung Kuniawan, S. Tedy D., Samuel Indratma, berkarya tidak hanya dalam jenis seni lukis, namun mereka tampil dengan berbagai media dan teknik dalam seni rupa kontemporer. Perwujudannya adalah performance art, dan seni instalasi, namun dari mereka itu di antaranya masih tampak

(59)

Gambar 40. Heri Dono “Dua perempuan dan satu bunga”, acrylic,

collage on canvas, 77 cm x 66 cm, 1989.

(Sumber: Jim Supangkat dkk, 2000: 58).

Konsep seni lukis Heri Dono: “proses dialektika animasi dan animism”. Animasi yang dimaksud adalah ia memberi karakter, bunyi, dan gerakan yang mendukung ide yang disampaikan. Sedangkan animisme yang diamaksud adalah bahwa setiap objek punya roh dan karakter khusus untuk dihormati dan digunakan sebagaimana mestinya. Ia telah menyetilir bentuk perempuan, menjadi bentuk sedemikian rupa, namun masih tetap menunjukkan karakter kewanitaannya. Sosok perempuan di sebelah kiri seolah-olah akan jatuh karena disodori sekuntum bunga oleh sosok perempuan di sebelah kanan. Heri Dono pernah belajar membuat wayang pada Sukasman di Jl.Tamansiswa Yogyakarta, belajar bagaimana bentuk manusia distilir, namun tetap artistik. Ia belajar di STSRI “ASRI” pada tahun 1987, ia ingin jadi seniman, maka ia menolak menulis skripsi di STSRI “ASRI” Yogyakarta, dan minta ijin meninggalkannya, ingin menjadi seniman independen.

4. Teknik

a. Teknik kering

Teknik kering adalah teknik melukis dengan bahan dasar kertas/karton dan menggunakan pewarna pastel, pensil, arang, konte (dusel, goresan konte yang diusel-usel dengan gulungan kerta

(60)

komplek sekitar sekolah, jika di dalam kelas dapat dengan model seseorang, buat skets global menggunakan pensil/arang/ jika menggunakan pastel pilihlah warna muda, sesuai dengan proporsi, anatomi, arah sinar, gelap-terang, tekstur, perspektif. Kemudian pewarnaan sesuai dengan objek atau, dapat pula sesuai dengan kepribadian masing-masing. Sebab di dalam seni lukis realisme, sujektivitas juga menentukan artistik dan tidaknya suatu lukisan. Contoh lukisan teknik kering pastel dapat dilihat pada gambar berikut.

b. Teknik usap-abur/Dusel

Teknik usap-abur, menggunakan pastel termasuk teknik kering dengan cara: motif dari kertas berbentuk awan misalnya, diletakkan di atas kertas, kemudian gosok dengan pastel, berputar sesuai dengan bentuk awan tersebut, sehingga mengenai kertas di luar motif, dan di dusel dengan gulungan kertas, sehingga rata halus. Selain motif berbentuk tertentu, dapat pula motif/klise berbentuk lubang-lubang (misalnya kancil dan orang-orangan), klise yang berlubang bentuk kancil dan orang-orangan tadi dogosok dengan pastel berulang kali ke dalam lubang motif sehingga berbentuk kancil dan orang-orangan. Hal ini bisa dilakukan berulang kali sehingga membentuk gradasi yang bagus. Perhatikan contoh lukisan teknik usap-abur sebagai berikut.

(61)

c. Teknik basah

Teknik basah, adalah melukis memakai pewarna cair di atas kertas, disebut juga teknik aquarel atau transparan. Media yang lain adalah dengan tinta, pasta pelangi (pasta ajaib). Sebelum proses melukis dilakukan untuk mendapatkan ketepatan objek perlu dikaukan identifikasi objek. Objek dalam lukisan aquarel berikut adalah: batu nisan, maizan, pohon kamboja, bambu runcing dengan pita merah-putih, tanah berbukit-bukit. Langkah-langkah teknik aquarel adalah sebagai berikut: (1) siapkan cat air, kuas minimal tiga ukuran: kecil, sedang, besar, pallet, gelas isi air bersih dua buah, satu gelas air bersih untuk mencampur cat dengan diambil memakai pipet, satu gelas air bersih untuk mencuci kuas. (2) Tentukan objek yang akan dilukis, bisa di sekeliling gedung, atau di dalam kelas. (3) Mencari sudut pandang objek yang enak komposisinya. (4) Keluarkan berbagai cat yang akan digunakan ke pallet. (5) Buat skiets dengan cat air warna muda misalnya coklat muda. (6) Warnailah berbagai objek tersebut sesuai dengan karakternya. Jika ingin menyapu suatu bidang yang luas gunakan kuas besar dan spontan.

Gambar 42. Teknik aquarel, “Makam pahlawan tak dikenal”, 55 cm x 75 cm, Suwarna, 1991

(62)

global, namun langsung membentuk berbagai objek yang dilukis dengan komposisi yang seimbang, maka juga akan menghasilkan lukisan yang estetis dan artistik. Goresan spontan dan percampuran warna yang matang akan menghasilkan lukisan yang indah dan menarik. Jika anda melukis pemandangan alam, hendaknya langsung menghadapi objeknya. Kegiatan melukis yang kurang bermakna bagi peserta didik adalah melukis pemandangan alam berdasarkan imajinasi. Sebelum proses melukis dilakukan, untuk mendapatkan ketepatan objek perlu dilakukan identifikasi objek. Agar hasil lukisan kita tidak terlihat seperti potret kamera, maka yang perlu dipertimbangkan adalah menyatukan seluruh unsure warna. Banyak manfaat dari sketsa sebelum seseorang memproduksi sebuah lukisan. Manfaat yang paling utama adalah meminimalisir kesalahan dalam menggambar. Kelebihan dari media cat air untuk melukis adalah mudah mendapatkan bentuk transparans.

Teknik plakat/poster, melukis dengan cat plakat/poster/opaque, sifat

tutup menutup. Jika ada bagian objek yang dirasa kurang tepat, maka dapat ditutup dengan cat yang lain sehingga objek tersebut segera dapat diatasi. Pengolahan warna dengan mencampur-campur warna sehingga menemukan warna yang tepat dan matang, sesuai dengan kehendak pelukisnya atau sesuai dengan keadaan alam/objek yang dilukisnya. Langkah-langkah melukis mirip dengan teknik aquarel di depan.

(63)

Melukis dengan cat minyak juga termasuk teknik basah, pencairnya menggunakan minyak cat. Alat yang lain adalah: kuas, pallet, dan pisau pallet, kanvas sebagai media dasarnya. Adapun langkah-langkah melukis dengan cat minyak sebagai berikut: penentuan konsep dan ide, skets secara global dan sekaligus menentukan komposisi agar seimbang, menentukan arah sinar dan sekaligus gelap terang agar lukisan bisa berkesan plastis. Berilah kesan pantulan sinar yang terkuat pada objek tertentu (high light), agar

lukisan lebih berkesan lebih plastis.

Gambar 44. Lukisan cat minyak “Rakit Medusa”, Theodore Gericault 1818-1819. Dalam kisahnya, perahu tenggelam

karena para awak perahu tidak bertanggungjawab, melarikan diri. (Sumber: Soedarso, Sp. 2006: 103 dari Edmund Burke Feldman)

Pengolahan warna sangat menentukan suasana dalam lukisan. Jika ingin cepat kering lukisannya, maka saat melukis pencairnya dapat menggunakan tinner. Melukis menggunakan cat minyak, setelah kering cat dapat tutup menutup, disesuaikan dengan objek dan tema. Perhatikan contoh lukisan cat minyak “Rakit Medusa”.

d. Teknik finger painting

(64)

A3, pasta pelangi minimal tiga warna pokok, tentukan konsep dan ide, mulailah melukis dengan mencototkan pasta pelangi di permukaan kertas secara bebas sesuai dengan objek yang telah dipilihnya. Warna–warna yang bersinggungan atau bertabrakan akan terpadu menjadi warna baru yang menarik. Pelukis hendaknya dapat berekspresi secara spontan dan cepat dengan berbagai variasi goresan jari-jemari dan telapak tangan dan akan menghasikan lukisan yang ekspresif. Tentang corak lukisan, dapat disesuaikan dengan kehendah pelukisnya, misalnya realisme, realis ekspresionisme, dan abstrakpun jadilah. Salah satu ciri finger painting adalah bekas

goresan jari-jemari akan tampak keputihan. Karya finger painting

karena menggunakan bahan kertas, maka untuk finishing dapat

dibingkai dengan kaca / mika, agar terbebas dari debu. Perhatikan contoh berikut.

Gambar 45. Lukisan teknik finger painting,

“Berjajar”,20 cm x 30 cm, pasta ajaib di atas kertas, Suwarna, 2011.

e. Teknik gesek benang

(65)

kuning dan biru, maka sangat besar kemungkinan terjadi adanya percampuran warna biru dan kuning menjadi hijau, merah dan kuning menjadi orange, merah dan biru menjadi ungu. Teknik gesek benang dapat dipadukan dengan teknik yang lain, misalnya pointilis, pastel, spidol sehingga dapat menjadi lukisan yang artistik.

Gambar 46. Lukisan teknik gesek benang, “Pepohonan”, 2005. (Sumber: Foto koleksi pribadi).

f. Teknik folder print

Teknik folder print, cototkan minimal tiga warna pasta ajaib, yang

berdekatan posisinya, lipat dan gosok dari sebelah luar dengan jari tangan, buka pelan-pelan, hasil: lukisan simeteris, terjadi perpaduan warna yang menarik. Lukisan dapat menyerupai kupu-kupu, dan binatang lain yang simetris bentuknya. Biasanya menjadi lukisan abstrak simetris.

Gambar 47. Lukisan teknik folder print,

(66)

5. Bahan dan Alat Melukis a. Bahan

1) Cat minyak

Cat minyak merupakan bahan melukis buatan pabrik dan ditempatkan pada tube yang tertutup rapat. Sifat kental, bau menyengat, tutup-menutup dan mudah dicampur, kering relatif lama. Jika melukis menggunakan cat minyak sebaiknya perupa menggunakan masker, guna mengurangi gas yang dikeluarkan oleh cat minyak. Daya tahan lukisan dengan cat minyak warna akan tahan lama. Jika terpaksa menghendaki lukisan cepat kering karena dikejar order, maka gunakan tinner untuk mencairkan cat minyak tersebut. Cat minyak untuk melukis, langsung digunakan tanpa dicampur dengan minyak cat. Dengan demikian hasil pewarnaannya tidak mengkilat. Hal ini sangat menguntungkan karena lukisan tidak menyilaukan. Jika anda terpaksa melukis dengan cat minyak dan dicampur dengan minyak cat, maka diperhitungkan jangan terlalu banyak minyak catnya agar goresan kuas lebih lancar, tidak seret. Jika melukis menggunakan minyak

cat terlalu banyak, maka lukisan akan mengkilat dan kurang menguntungkan, karena jika lukisan difoto, maka akan terjadi pantulan sinar di beberapa tempat objek sehingga mengurangi keindahan dan kurang artistik. Perhatikan contoh cat minyak sebagai berikiut.

Gambar 48. Cat minyak dua belas warna.

(67)

Berikut adalah contoh lukisan menggunakan cat minyak.

Gambar 49. Lukisan pemandangan dengan cat minyak, koleksi Istana Presiden Republik Indonesia, Jakarta.

(Sumber: Visual Art, 2008:59)

2) Kanvas

Kanvas dibuat dari kain terpal, kain katun, atau blaco yang bertekstur agak kasar dan dilapis dengan cat dasar yang tidak mengkilat. Sifat lain adalah liat dan kuat. Di Eropa kanvas dibuat dari kain lena, roman linen, sail cloth (kain layar). Banyak hal yang

perlu diperhatikan dalam proses pembuatan kanvas, agar kanvas tidak mudah tembus sebaiknya diberi lapisan tepung dan lem pada permukaan kain kanvas. Kanvas direntangkan dalam spanram dan siap untuk melukis (Mikke Susanto, 211: 213). Cara memasang kanvas pada spanram berbentuk empat persegi panjang, agar tegangannya kuat, maka paku kecil/staplesgun,

dimulai dari tengah-tengah sisi-sisinya menuju ke empat sudut spanram. Jika spanram berbentuk lingkaran atau segi N, caranya sama. Kanvas dapat dites dengan cara dipukul pelan-pelan menggunakan jari-jari, jika berbunyi “theng- theng”, maka

tegangan kanvas cukup bagus.

3) Cat air dan cat poster

(68)

dicampur-campur di dalam pallet, setelah warna sesuai dengan keinginan perupa, maka sapukan dengan kuas sesuai dengan objeknya. Jika membeli cat air, hati-hati jangan memilih cat air yang murah harganya, karena kualitasnya kurang baik, warna pucat, kurang rekat. Cat air yang baik warna cemerlang, daya rekat tinggi. Sedangkan cat poster sangat cocok untuk melukis teknik plakat, bisa tutup-menutup. Kemasan cat poster dalam botol-botol yang tertutup rapat. Untuk menjaga agar cat air atau cat poster tetap baik, cucilah tutup cat air atau tutup cat poster setelah selesai digunakan dan keringkan dengan tissu, kemudian baru ditutupkan sesuai dengan tingkat pegasnya.

Gambar 50. Cat air.

Kualitas at air yang baik pada dus tutup di tengah bawah tertera tulisan MADE IN JAPAN

Berikut contoh cat poster

(69)

Berikut contoh lukisan menggunakan cat air

Gambar 52. Lukisan teknik aquarel cat air, “Serumpun” ,

Farid Abdullah, 29,7 cm x 42 cm, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung (Sumber: Katalog Pameran Pendidikan Seni Rupa Asean 2015 di Malaysia)

(70)

Gambar 53. Cat air bentuk bidang-bidang/batangan dan kuas cat air. (Sumber: Suwarna, dkk. 2014: 4)

4) Cat acrylic

Cat acrylic bersifat tutup menutup, tidak beracun, dapat dicairkan dengan air, dan jika sudah kering cat acrylic tidak luntur kena air. Lukisan dengan cat acrylic relatif lebih cepat kering bila dibanding dengan lukisan cat minyak. Penggunaan cat acrylic untuk melukis aliran realisme dan dekotratif juga bisa, tergantung niat, ide dan konsep darinya.

(71)

Gambar 55. Lukisan teknik basah acrylic di atas kanvas, “Menunggu kepulanganmu”, Nur Amanina Binti Ahmad Shukri,

Universiti Teknologi Mara, 2014. 15 inch x 25 inch.

(Sumber: Kaltalog Pameran Pendidikan Seni Rupa Asean, 2015, di Malaysia)

5) Kertas gambar dan karton

Kertas gambar yang baik untuk melukis adalah tebal dan tidak mengkilat, berwarna putih, sangat cocok untuk melukis dengan cat air atau cat poster. Ada pula kertas untuk cat air yang bertekstur, tebal dan berwarna putih. Sedangkan karton sangat cocok untuk melukis dengan pastel. Untuk mengamankan kertas gambar yang akan dipakai melukis gulung dan masukkan ke dalam tabung PVC yang kuat, agar kertas tetap baik tidak terlipat. Dengan demikian maka kertas akan aman, siap untuk melukis. Jika lukisan menggunakan kertas atau karton, akan lebih baik dan aman, maka lukisan dijaga jangan sampai digulung, yaitu digapit dengan dua bidang tripleks, atau karton tebal agar lukisan tidak rusak.

6) Pastel

(72)

menggunakan lilin), maka lukisan mudah rontok. Pastel yang baik mempunyai sifat dapat dicampur dan dapat tumpang tindih. Misalnya goresan warna pertama kuning, kemudian ditumpang hitam, dan digores-gores dengan penggores runcing, maka akan terkelupaslah warna hitam dan muncullah warna kunig yang menarik. Lukisan menggunakan bahan pewarna pastel untuk

finishing dibingkai dengan kaca/mika guna melindungi agar debu

tidak melekat pada lukisan. Gunakan kaca yang tidak mengkilat. Pastel, merupakan bahan dan sekaligus sebagai alat untuk melukis. Pastel yang berisi 55 batang warna, dilengkapi dengan alat penggores untuk membuat tekstur, berbentuk seperti burung, pipih dan di ujungnya terdapat bentuk bergerigi. Terdapat pula pensil EEB (lunak) dengan isi hitam pekat, berfungsi untuk membuat garis kontur lukisan pastel. Pastel yang tidak berminyak (Dorco), bila untuk melukis, setelah selesai bisa dilapis fiksatif agar tidak mudah rontok, atau cukup dibingkai dengan kaca.

Gambar 56. Pastel minyak. Pastel minyak terbuat dari pigmen warna, kapur dan pengikat zat cair yang transparan. Lukisan pastel

(73)

7) Pasta pelangi

Pasta pelangi sering disebut pasta ajaib, atau super tempera, sebetulnya merupakan jenang warna-warni yang diberi pengawet dan dikemas dengan botol plastik dan dipasarkan. Pasta pelangi banyak digunakan di PAUD untuk finger painting. Namun

digunakan untuk perupa maupun pembelajar sekolah menengahpun pertama tidak ada salahnya. Hal ini berguna untuk membuat variasi dan pengenalan media melukis. Cara penggunaannya, cat dikeluarkan di pallet, atau langsung dikertas dan objek dibentuk dengan jari-jemari sehingga membentuk lukisan realisme, dekoratif dan jika menghendaki bisa abstrak. Untuk percampuran warna sangat mudah dengan mendempetkan dua warna dan digores berputar-putarmaka warna akan berampur dengan sendirinya. Penggunaan pasta pelangi hendaknya secara spontan dan ekspresif, tanpa ragu-ragu dalam menggoreskannya. Pasta pelangi berujud seperti jenang warna, maka lukisan menggunakan cat ini agak lama keringnya. Ciri: bekas goresan jari-jemari tampak keputihan, karena cat tersisih kena goresan jari tangan. Perhatikan kemasan cat super tempera sebagai berikut.

Figur

Gambar 15. Contoh lukisan Leonardo da Vinci, Neo Klasikisme “Monalisa”,       (Sumber:  Herawati dan Iriaji, 1988-1989: 101)
Gambar 15 Contoh lukisan Leonardo da Vinci Neo Klasikisme Monalisa Sumber Herawati dan Iriaji 1988 1989 101 . View in document p.43
Gambar 21. Lukisan Realisme, karya Udin Antara (Sumber: Visual Art, 2007).
Gambar 21 Lukisan Realisme karya Udin Antara Sumber Visual Art 2007 . View in document p.46
Gambar 23.Lukisan Realis Ekspresionisme, Affandi.
Gambar 23 Lukisan Realis Ekspresionisme Affandi . View in document p.48
Gambar 27. Lukisan dekoratif Bali Klasik bersifat Hinduistis.           (Sumber: Sukimin dan Edy Sutandur, 2004: 5)
Gambar 27 Lukisan dekoratif Bali Klasik bersifat Hinduistis Sumber Sukimin dan Edy Sutandur 2004 5 . View in document p.50
Gambar 29. Lukisan dekoratif Bali, Ida Bagus Made Poleng: “Mohon berkah” 1956, koleksi Istana Presiden Jakarta
Gambar 29 Lukisan dekoratif Bali Ida Bagus Made Poleng Mohon berkah 1956 koleksi Istana Presiden Jakarta. View in document p.51
Gambar 36. Lukisan Dadaisme karya Marcel Duchamp, Monalisa diberi kumis. (Sumber: Yapi Tambayong, 2012: 156)
Gambar 36 Lukisan Dadaisme karya Marcel Duchamp Monalisa diberi kumis Sumber Yapi Tambayong 2012 156 . View in document p.55
gambar berikut. Perhatikan lukisan Yon Indra berikut.
Perhatikan lukisan Yon Indra berikut . View in document p.56
Gambar 43. Lukisan teknik poster, “Memukul bedhug”, Suwarna, 30 cm x 40, 2012
Gambar 43 Lukisan teknik poster Memukul bedhug Suwarna 30 cm x 40 2012 . View in document p.62
Gambar 47.  Lukisan teknik folder print, “Kala”, Suwarna, 30 cm x 40 cm, pasta ajaib di atas kertas, 2014
Gambar 47 Lukisan teknik folder print Kala Suwarna 30 cm x 40 cm pasta ajaib di atas kertas 2014. View in document p.65
Gambar 48. Cat minyak dua belas warna.
Gambar 48 Cat minyak dua belas warna . View in document p.66
Gambar 54. Cat acrylic dua belas warna
Gambar 54 Cat acrylic dua belas warna . View in document p.70
Gambar 55. Lukisan teknik basah acrylic di atas kanvas,
Gambar 55 Lukisan teknik basah acrylic di atas kanvas . View in document p.71
Gambar 56. Pastel minyak. Pastel minyak terbuat dari pigmen warna, kapur dan pengikat zat cair yang transparan
Gambar 56 Pastel minyak Pastel minyak terbuat dari pigmen warna kapur dan pengikat zat cair yang transparan. View in document p.72
Gambar 57. Kemasan cat super tempera (Sumber: Foto pribadi, 2016)
Gambar 57 Kemasan cat super tempera Sumber Foto pribadi 2016 . View in document p.73
Gambar 58. Lukisan teknik basah super tempera, “Mawar”, (Sumber:  Foto koleksi pribadi, 2005)
Gambar 58 Lukisan teknik basah super tempera Mawar Sumber Foto koleksi pribadi 2005 . View in document p.74
Gambar 59. Lukisan  teknik kering  pensil  warna, “The Heritage”, Nik Mohamad Rahimi Bin Nik Hasan, 60 cm x 90 cm, 2015, Universiti Teknologi Mara (Sumber: katalog Pameran Pendidikan Seni Rupa Asean 10–30 Desember 2015)
Gambar 59 Lukisan teknik kering pensil warna The Heritage Nik Mohamad Rahimi Bin Nik Hasan 60 cm x 90 cm 2015 Universiti Teknologi Mara Sumber katalog Pameran Pendidikan Seni Rupa Asean 10 30 Desember 2015 . View in document p.75
Gambar 60. Botol tinta China
Gambar 60 Botol tinta China . View in document p.76
Gambar 61. Kuas cat minyak kecil dan besar
Gambar 61 Kuas cat minyak kecil dan besar . View in document p.77
Gambar 62. Pallet cat minyak dan kuas
Gambar 62 Pallet cat minyak dan kuas . View in document p.78
Gambar 63. Pisau pallet dari bahan plastik
Gambar 63 Pisau pallet dari bahan plastik. View in document p.79
Gambar 65. “Pemandangan gunung Sumbing”, Baharrizki, cat minyak di atas kanvas. Koleksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Istana Negara Jakarta (Sumber:  Visual Art, 2008: 58)
Gambar 65 Pemandangan gunung Sumbing Baharrizki cat minyak di atas kanvas Koleksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Istana Negara Jakarta Sumber Visual Art 2008 58 . View in document p.83
Gambar 71. Lukisan bercorak realis,”Menanti”, Suwarna, cat minyak di atas kanvas, 60 cm x 90 cm, 2007
Gambar 71 Lukisan bercorak realis Menanti Suwarna cat minyak di atas kanvas 60 cm x 90 cm 2007. View in document p.96
Gambar 73. Wayang Beber bercorak dekoratif, dari Pacitan Jawa Timur (Sumber: Holt, C. 1967: 127)
Gambar 73 Wayang Beber bercorak dekoratif dari Pacitan Jawa Timur Sumber Holt C 1967 127 . View in document p.105
Gambar 76. Lukisan dekoratif ornamentik, cat minyak, “Tanggungjawab”, Suwarna, 80 cm x 80 cm, 1986
Gambar 76 Lukisan dekoratif ornamentik cat minyak Tanggungjawab Suwarna 80 cm x 80 cm 1986 . View in document p.108
Gambar 75. H. Widayat, “Ayam Alas II”, 1988, bagor,  100 cm x 61 cm, koleksi pribadi, tekstur cat   tebal (Sumber: Saptoto, dkk: 1988) 
Gambar 75 H Widayat Ayam Alas II 1988 bagor 100 cm x 61 cm koleksi pribadi tekstur cat tebal Sumber Saptoto dkk 1988 . View in document p.108
Gambar 78. H. Widayat “Ke Pasar”, 1984.
Gambar 78 H Widayat Ke Pasar 1984 . View in document p.113
Gambar 80. TD. Sudjana “ Babad Agung”, kaca-cat  Cirebon, 105 cm x 35 cm, Koleksi Museum Bayat Al Qur’an
Gambar 80 TD Sudjana Babad Agung kaca cat Cirebon 105 cm x 35 cm Koleksi Museum Bayat Al Qur an. View in document p.114
Gambar 79. Kuswadji Kawindra Susanta “Lampor”, batik, 1980. Teknik pewarnaan: colet.
Gambar 79 Kuswadji Kawindra Susanta Lampor batik 1980 Teknik pewarnaan colet . View in document p.114
Gambar 82. Suwarna, “Pengamalan”,
Gambar 82 Suwarna Pengamalan . View in document p.115
Gambar 81. G. Nj. Lempad, “Rama dan Shinta berjumpa
Gambar 81 G Nj Lempad Rama dan Shinta berjumpa . View in document p.115

Referensi

Memperbarui...