ABSTRACT
The aim of this research is to know the level of proportion of long term debt and equity in capital structure, Cost of Capital, company ability in yielding a Return on Assets (ROA) larger ones from Cost of Capital and find empirical evidence existence of relation between Operating Leverage and Earning Before Interest and Tax (EBIT), Earning Before Interest and Tax (EBIT) and Earning Per Share (EPS), financial leverage with EPS and DPS, and relation between EPS and DPS. This research employee 8 companies at commerce industry of retail trade in Jakarta Stock Exchange (JSX) by selected based on purposive sampling.
In this research is done by two analysis, that is descriptive analysis consisted and statistical analysis consisted of normality analysis, and correlation analysis Spearman Rho with errors standard equal to 5%.
The result of this research shows there is weak relationship between DOL and EBIT, strong relationship between EBIT and EPS, relationship is not strong concurrent between DFL and EPS, weak relationship between DFL and DPS, and between EPS and DPS. The Conclusion which can be taken based on level of significant is positive relationship between EBIT and EPS, and there are no positive relationship between DOL and EBIT, DFL and EPS, DFL and DPS, EPS and DPS. This research shows that assumption of hypothesis based on theory unmatched to condition of the companies in industry retail trade in BEJ.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya proporsi utang dan ekuitas di dalam struktur modal, Cost of Capital, kemampuan perusahaan dalam menghasilkan Return on Assets yang lebih besar dari Cost of Capital dan untuk menemukan bukti empiris adanya hubungan antara Operating Leverage dan laba usaha, laba usaha dan Earning Per Share (EPS), financial leverage dengan EPS dan DPS, serta hubungan antara EPS dan DPS. Untuk mengetahui seberapa besar hubungan variabel tersebut dan apakah memiliki hubungan yang positif antar variabel. Penelitian dilakukan terhadap 8 perusahaan pada industri perdagangan ritel yang dipilih berdasarkan purposive sampling.
Dalam penelitian ini dilakukan dua analisis, yaitu analisis deskriptif dan analisis statistik yang terdiri dari analisis normalitas dan analisis korelasi Spearman Rho dengan standar error sebesar 5%.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang lemah antara DOL dan EBIT, hubungan yang kuat antara EBIT dan EPS, hubungan tidak searah yang kuat antara DFL dan EPS, hubungan yang lemah antara DFL dan DPS, serta EPS dan DPS. Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan tingkat signifikan maka terdapat hubungan positif antara EBIT dan EPS. Serta tidak terdapat hubungan positif antara DOL dan EBIT, DFL dan EPS, DFL dan DPS, EPS dan DPS. Penelitian ini menunjukan bahwa asumsi hipotesis berdasarkan teori tidak sesuai dengan kondisi pada perusahaan di industri ritel.
DAFTAR ISI
ABSTRAK i
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xv
DAFTAR LAMPIRAN xvi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Identifikasi Masalah 4
1.3 Pembatasan Masalah 5
1.4 Tujuan Penelitian 6
1.5 Manfaat Penelitian 6
1.6 Kerangka Pemikiran 7
1.7 Lokasi Penelitian 11
1.8 Sistematika Penulisan 11
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ruang Lingkup Manajemen Keuangan 13
2.1.1 Pengertian Manajemen Keuangan 13
2.1.2 Fungsi Manajemen Keuangan 14
2.1.3.1 Pengertian Manager Keuangan 15
2.1.3.2 Tugas Manager Keuangan 16
2.2 Laporan Keuangan 17
2.2.1 Pengertian Laporan Keuangan 17
2.2.2 Komponen dan Pemakai Laporan Keuangan 17
2.2.3 Analisis Laporan Keuangan 18
2.3 Modal, Struktur Modal, dan Struktur Keuangan 19
2.3.1 Modal 19
2.3.1.1 Pengertian Modal 19
2.3.1.2 Jenis dan Sumber Modal 20
2.3.2 Struktur Modal 21
2.3.2.1 Pengertian Struktur Modal 22
2.3.2.2 Teori – Teori Kapitalisasi 22
2.3.2.3 Teori Struktur Modal Modern 25
2.3.2.4 Kebijakan Struktur Modal Optimal 29
2.3.2.5 Faktor yang Mempengaruhi Struktur
Modal 30
2.3.3 Struktur Keuangan 33
2.4 Biaya Modal 35
2.4.1 Pengertian Biaya Modal 36
2.4.2 Faktor yang Mempengaruhi Biaya Modal 36
2.5.1 Operating Leverage 40
2.5.2 Financial Leverage 42
2.5.3 Combined Leverage 44
2.6 Earning Per Share (EPS) 45
2.7 Dividen 46
2.7.1 Pengertian Dividen 46
2.7.2 Kebijakan Dividen 47
2.7.3 Teori Kebijakan Dividen 48
2.7.4 Tipe Pembayaran Dividen 50
2.7.5 Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen 51
2.7.6 Dividend Per Share (DPS) 53
2.8 Hubungan DOL dan EBIT 53
2.9 Hubungan Leverage Terhadap EPS dan DPS 54
BAB 3 OBJEK DAN METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian 55
3.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan 56
3.2 Metode Penelitian 61
3.2.1 Jenis Penelitian 61
3.2.2 Sumber Data 61
3.2.3 Teknik Pengumpulan Data 6
3.2.4 Populasi dan Sampel Penelitian 63
3.2.5.1 Variabel 64
3.2.6 Perumusan Hipotesis 66
3.2.6.1 Hipotesis Hubungan Tingkat DOL dan
EBIT Perusahaan 66
3.2.6.2 Hipotesis Hubungan EBIT dan EPS
Perusahaan 66
3.2.6.3 Hipotesis Hubungan DFL dengan EPS
Perusahaan 67
3.2.6.4 Hipotesis Hubungan DFL dengan DPS
Perusahaan 67
3.2.6.5 Hipotesis Hubungan EPS dengan DPS
Perusahaan 68
3.2.7 Teknik Analisis Data 68
3.2.7.1 Uji Normalitas 70
3.2.7.1 Korelasi Spearman Rho 71
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Struktur Modal, Biaya Modal, dan Leverage Pada
Perusahaan Ritel 74
4.1.1 Alfa Ritailindo Tbk (ALFA) 74
4.1.2 Hero Supermarket Tbk (HERO) 79
4.1.6 Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA) 96
4.1.7 PT Metro Supermarket Reality Tbk (MTSM) 99
4.1.8 Rimo Catur Lestari Tbk 103
4.2 Uji Statistika Deskriptif 107
4.2.1 Uji Normalitas Data Perusahaan Pada
Sektor retail and trade 107
4.2.2 Korelasi Antara DOL dan EBIT Pada Sektor
Industri Retail and Trade 108
4.2.3 Korelasi Antara EBIT dan EPS Pada Sektor
Industri Retail and Trade 109
4.2.4 Korelasi Antara DFL dan EPS Pada Sektor
Industri Retail and Trade 111
4.2.5 Korelasi Antara DFL dan DPS Pada Sektor
Industri Retail and Trade 112
4.2.6 Korelasi Antara EPS dan DPS Pada Sektor
Industri Retail and Trade 114
4.2.7 Rangkuman Analisis Statistik 115
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan 116
5.2 Saran 119
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Populasi dan Sampel Penelitian Kelompok
Industri Perdagangan Eceran
Definisi Operasional Variabel
Alfa Retailindo Tbk Capital Structure 2003 –
2006 (Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali
(Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali Dinyatakan
Lain)
Hero Supermarket Tbk Capital Structure 2003
– 2006 (Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali
Dinyatakan Lain)
Hero Supermarket Tbk Cost of Capital 2003 –
Tabel Judul Halaman
Hero Supermarket Tbk Leverage 2003 – 2006
(Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali Dinyatakan
Lain)
Matahari Putra Prima Tbk Capital Structure
2003 – 2006 (Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali
Dinyatakan Lain)
Matahari Putra Prima Tbk Cost of Capital 2003
– 2006 (Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali
Dinyatakan Lain)
Matahari Putra Prima Tbk Leverage 2003 –
2006 (Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali
Dinyatakan Lain)
Ramayana Lestari Sentosa Tbk Capital Structure 2003 – 2006 (Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali Dinyatakan Lain)
Ramayana Lestari Sentosa Tbk Cost of Capital
2003 – 2006 (Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali
Dinyatakan Lain)
Ramayana Lestari Sentosa Tbk Leverage 2003
Tabel Judul Halaman
Toko Gunung Agung Tbk Capital Structure
2003 – 2006 (Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali
Dinyatakan Lain)
Toko Gunung Agung Tbk Cost of Capital 2003
– 2006 (Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali
Dinyatakan Lain)
Toko Gunung Agung Tbk Leverage 2003 –
2006 (Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali
Dinyatakan Lain)
Sona Topas Tourism Industry Tbk Capital
Structure 2003 – 2006 (Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali Dinyatakan Lain)
Sona Topas Tourism Industry Tbk Cost of
Capital 2003 – 2006 (Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali Dinyatakan Lain)
Sona Topas Tourism Industry Tbk Leverage
2003 – 2006 (Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali
Dinyatakan Lain)
PT Metro Supermarket Reality Tbk Capital
Tabel Judul Halaman
PT Metro Supermarket Reality Tbk Leverage
2003 – 2006 (Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali
Dinyatakan Lain)
Rimo Catur Lestari Tbk Capital Structure 2003
– 2006 (Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali
Dinyatakan Lain)
Rimo Catur Lestari Tbk Cost of Capital 2003 –
2006 (Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali
Dinyatakan Lain)
Rimo Catur Lestari Tbk Leverage 2003 – 2006
(Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali Dinyatakan
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
1.1 Bagan Kerangka Pemikiran 10
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Judul
1 Rangkuman Laporan keuangan Alfa Retailindo Tbk periode 2001-2006
2 Neraca Alfa Retailindo Tbk periode 2003-2004
3 Catatan atas laporan keuangan Alfa Retailindo Tbk periode 2004-2003 (20. Beban Keuangan)
4 Neraca Alfa Retailindo Tbk periode 2005-2006
5 Catatan atas laporan keuangan Alfa Retailindo Tbk periode 2004-2003 (18. Beban Keuangan)
6 Rangkuman Laporan keuangan Hero Supermarket Tbk periode 2002-2007
7 Catatan atas laporan keuangan Hero Supermarket Tbk periode 2004-2003 (17. Hutang Bank dan Cerukan)
8 Catatan atas laporan keuangan Hero Supermarket Tbk periode 2005-2006 (18. Hutang Bank dan Cerukan)
9 Rangkuman Laporan keuangan Matahari Putra Prima Tbk periode 2002-2007
10 Catatan atas laporan keuangan Matahari Putra Prima Tbk periode 2003-2004 (19. Hutang Obligasi)
11 Catatan atas laporan keuangan Matahari Putra Prima Tbk periode 2005-2006 (19. Hutang Bank Jangka Panjang)
12 Rangkuman Laporan keuangan Ramayana Lestari Sentosa Tbk periode 2002-2007
13 Catatan atas laporan keuangan Ramayana Lestari Sentosa Tbk periode 2003-2004 (17. Kewajiban diestimasi atas imbalan kerja karyawan)
14 Catatan atas laporan keuangan Ramayana Lestari Sentosa Tbk periode 2005-2006 (18. Kewajiban diestimasi atas imbalan kerja karyawan)
17 Catatan atas laporan keuangan Toko Gunung Agung Tbk periode 2003-2004 (28. Beban Bunga)
18 Neraca Toko Gunung Agung Tbk periode 2005-2006
19 Catatan atas laporan keuangan Toko Gunung Agung Tbk periode 2005-2006 (26. Beban Bunga)
20 Rangkuman Laporan keuangan Sona Topas Tourism Industry Tbk periode 2002-2007
21 Neraca Sona Topas Tourism Tbk periode 2003-2004
22 Catatan atas laporan keuangan Sona Topas Tourism Tbk periode 2005-2006 (23. Beban Bunga)
23 Neraca Sona Topas Tourism Tbk periode 2005-2006
24 Catatan atas laporan keuangan Sona Topas Tourism Tbk periode 2005-2006 (23. Beban Bunga)
25 Rangkuman Laporan keuangan Metro Supermarket Reality Tbk periode 2001-2006
26 Neraca Metro Supermarket Reality Tbk 2003-2004
27 Laporan Laba Rugi Metro Supermarket Reality Tbk 2003-2004
28 Neraca Metro Supermarket Reality Tbk 2005-2006
29 Laporan Laba Rugi Metro Supermarket Reality Tbk 2005-2006
30 Rangkuman Laporan keuangan Rimo Catur Lestari Tbk periode 2002-2007
31 Catatan atas laporan keuangan Rimo Catur Lestari Tbk periode 2003-2004 (19.Imbalan Kerja)
Bab 1 Pendahuluan
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam perkembangan dunia usaha khususnya di dalam industri ritel
menunjukkan tingkat pertumbuhan yang pesat. Hal ini terlihat dari banyaknya
usaha ritel yang berkembang di kota maupun di daerah kecil di wilayah Indonesia.
Perkembangan usaha tersebut dipengaruhi oleh berbagai perubahan yang berasal
dari dalam perusahaan dan atau luar perusahaan yang akan mengakibatkan suatu
hambatan atau peluang bagi perusahaan. Setiap perusahaan harus pandai dalam
memanfaatkan peluang untuk mengatasi hambatan demi kelangsungan usaha.
Salah satu cara agar perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan
usaha dalam menghadapi segala perubahan di lingkungan bisnis yaitu dengan
melakukan kebijakan financial coorporate. Dalam kebijakan ini perusahaan
berupaya untuk memberikan nilai yang lebih bagi pemegang saham dan para
investor. Berdasarkan pandangan tersebut maka para manajer keuangan harus
memberikan fokus pada kebijakan investasi yang merupakan keputusan dalam hal
finansial yaitu keputusan penggunaan dana. Kebijakan investasi membutuhkan
struktur permodalan di mana sumber dana berasal dari modal sendiri yaitu laba
ditahan, modal perusahaan, atau pemegang saham dan sumber lainnya yaitu
modal pinjaman atau kombinasi di antaranya.
Keputusan Finansial mengacu pada pemilihan bauran finansial maka
Bab 1 Pendahuluan
dan utang di mana keduanya akan menimbulkan biaya. Selain biaya tersebut
penggunaan dana terhadap investasi asset turut menimbulkan biaya yang perlu
ditanggung oleh perusahaan. Oleh sebab itu perusahaan harus memiliki struktur
modal yang mampu memberikan pengembalian atau return yang lebih besar
dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan.
Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pengembalian yang lebih
besar dibandingkan dengan biaya modal dan biaya operasi yang bersifat tetap
berkaitan dengan konsep leverage. Leverage merupakan penggunaan aktiva dan
sumber dana oleh perusahaan dengan maksud meningkatkan keuntungan potensial
pemegang saham.
Leverage terdiri dari operating leverage dan financial leverage. Operating leverage diharapkan perusahaan dapat menganalisis perubahan penjualan yang mengakibatkan pada perubahan EBIT yang lebih besar. Sehingga dapat
mengetahui operasional perusahaan yang optimal di mana peralatan yang bersifat
otomatis cenderung menghasilkan biaya tetap yang lebih tinggi dibandingkan
biaya variabelnya. Biaya tetap yang ditimbulkan diharapkan dapat ditutupi dengan
tingkat pendapatan yang lebih besar.
Financial leverage terkait dengan aktivitas keuangan di mana peningkatan dana menghasilkan beban yang harus ditanggung. Sumber dana yang berasal dari
saham preferen melibatkan dividen yang harus ditanggung, untuk dana yang
berasal dari utang jangka panjang terikat secara kontraktual dalam pembayaran
Bab 1 Pendahuluan
Berdasarkan risiko yang ada, tidak banyak perusahaan dapat mengoptimalkan
keuntungan di atas biaya tetap.
Perusahaan yang telah berhasil menjalankan konsep leverage maka akan
mendapatkan sumber dana yang lebih besar dari beban yang ditanggung. Sumber
dana yang dihasilkan oleh perusahaan harus dapat dialokasikan terhadap
penggunaan asset secara optimal sehingga kegiatan operasional perusahaan dapat
berjalan dengan baik. Peningkatan tersebut merupakan suatu jalan untuk mencapai
tujuan perusahaan yaitu menciptakan kemakmuran bagi pemegang saham dan
karyawan.
Pada studi kasus terdahulu yang diteliti oleh Santimoy Patra dengan judul
“Financial leverage, earnings and dividend- A case Study” menunjukkan suatu perbedaan antara pendekatan teori dan pendekatan praktik dari financial leverage.
Hasil penelitian bahwa financial leverage memiliki hubungan negatif dengan EPS
dan memiiliki hubungan positif dengan DPS. Studi kasus tersebut dijalankan pada
perusahaan Bharat Heavy Electricals Limited (BHEL) di India.
Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian sebelumnya
dengan adanya penambahan variabel. Pada penelitian sebelumnya variabel yang
diteliti adalah DFL, EPS, DPS. Maka untuk melengkapi unsur Leverage maka
adanya penambahan variabel yang akan diteliti yaitu DOL. Penambahan tersebut
untuk menunjukkan penggunaan leverage perusahaan tidak hanya terbatas pada
Financial Leverage tetapi Operational leverage yang dapat mengukur perubahan pendapatan atau penjualan terhadap keuntungan operasi perusahaan. Penelitian ini
Bab 1 Pendahuluan
diteliti dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang sesuai teori Leverage atau
bertolak belakang. Sehingga dapat menambah pengetahuan baru mengenai
leverage perusahaan dan EPS.
Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini mencoba untuk
menganalisis leverage yang dapat mempengaruhi EPS perusahaan, dengan judul :
“Analisis Hubungan antara Leverage, EPS dan DPS Pada Sektor Retail Trade
yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta Selama Periode 2003 – 2006 ”
1.2 Identifikasi Masalah
Dalam penyusunan penelitian ini, penulis merumuskan masalah yang akan
diteliti sehingga pihak yang membaca dapat memahami permasalahan yang
menjadi fokus utama yang dibahas dalam penelitian ini. Permasalahan yang
diangkat merupakan jenis permasalahan yang bersifat asosiatif kausal. Menurut
Sugiyono (2007: 29-30) Asosiatif Kausal adalah permasalahan yang merupakan
suatu pertanyaan penelitian yang bersifat hubungan antara dua variabel atau lebih
yang bersifat sebab akibat.
Untuk memahami lebih lanjut mengenai hubungan leverage, EPS dan DPS
di sektor Retail Trade, maka permasalahan diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Bagaimana proporsi utang dan saham pada struktur modal perusahaan
ritel ?
2. Apakah dalam perusahaan ritel penggunaan utang merupakan sumber
Bab 1 Pendahuluan
3. Apakah perusahaan ritel mampu menghasilkan tingkat Return on
Assets lebih besar dibandingkan Cost of financing investment ? 4. Apakah DOL memiliki korelasi positif dengan EBIT?
5. Apakah EBIT memiliki korelasi positif dengan EPS?
6. Apakah DFL memiliki korelasi positif dengan EPS ?
7. Apakah DFL memiliki korelasi positif dengan DPS?
8. Apakah EPS memiliki korelasi positif dengan DPS?
1.3 Pembatasan Masalah
Dalam penelitian dilakukan pembatasan pada lingkup permasalahan agar
tujuan dan kegunaan dapat tercapai sesuai target dan kemampuan penulis karena
terdapat keterbatasan data yang akan diolah. Berikut pembatasan masalah pada
pembahasan :
1. Penelitian ini terbatas pada keadaan 4 tahun terakhir di dalam perusahaan
pada sektor Retail Trade yaitu periode 2003-2006.
2. Penelitian ini terbatas pada perusahaan yang terdaftar di BEJ dan tergolong
pada sektor Retail Trade pada periode 2003- 2006 serta memiliki kelengkapan data.
3. Penelitian ini tidak mengikutsertakan Degree Total Leverage (DTL) sebagai
Bab 1 Pendahuluan
1.4 Tujuan Penelitian
1 Untuk mengetahui proporsi utang dan saham pada struktur modal.
2 Untuk mengetahui proporsi sumber dana apakah penggunaan utang
menimbulkan biaya termurah dibandingkan ekuitas.
3 Untuk mengidentifikasi kemampuan perusahaan ritel dalam menghasilkan
tingkat Return on Assets yang lebih besar atau lebih kecil dibandingkan Cost
of financing investment.
4 Untuk mengetahui apakah DOL dan EBIT memiliki hubungan positif.
5 Untuk mengetahui apakah EBIT dan EPS memiliki hubungan positif.
6 Untuk mengetahui apakah DFL dan EPS memiliki hubungan positif.
7 Untuk mengetahui apakah DFL dan DPS memiliki hubungan positif.
8 Untuk mengetahui apakah EPS dan DPS memiliki hubungan positif.
1.5 Manfaat Penelitian
o Implikasi Teoritis
Bagi akademisi, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan
bagi penelitian berikutnya yang berkaitan dengan pendeteksian faktor leverage
perusahaan yang mempengaruhi EPS dan DPS.
o Implikasi Praktis
1. Bagi investor, dapat digunakan sebagai salah satu masukan pada saat
pengambilan keputusan investasi saham, terutama dalam menilai struktur modal
Bab 1 Pendahuluan
2. Bagi manajemen perusahaan, hasil penelitian ini akan dapat dijadikan
pertimbangan dalam merancang struktur modal dan penggunaan leverage di
perusahaan ritel.
1.6 Kerangka Pemikiran
Perusahaan memiliki berbagai tujuan, salah satunya yaitu menciptakan
laba dan memaksimalkan nilai perusahaan. Untuk perusahaan yang telah go
public umumnya memfokuskan tujuan pada kesejahteraan pemegang saham. Untuk itu perusahaan go public diharapkan memiliki kinerja yang baik sehingga
kesejahteraan dari pemegang saham dapat terpenuhi dan akan menghasilkan nilai
perusahaan yang maksimal.
Kinerja Perusahaan go public tidak mudah di analisis dan dikontrol seperti
Usaha Kecil Menengah, di mana pemilik usaha dapat langsung terlibat dalam
pengawasan operasi dan keuangan. Perusahaan go public mendelegasikan kontrol
keuangan pada Manager keuangan. Manager keuangan terlibat dalam keputusan
investasi, keputusan pendanaan dan keputusan manajemen aktiva.
Keputusan investasi berkaitan dengan penggunaan dana yang
dialokasikan penetapan jumlah aktiva yang harus dimiliki perusahaan.
Penggunaan aktiva di dalam perusahaan akan menimbulkan biaya operasional.
(biaya gaji staf, biaya penyusutan, biaya sewa gedung, dsb). Untuk dapat
memenuhi jumlah aktiva yang dibutuhkan perusahaan maka manager keuangan
Bab 1 Pendahuluan
Keputusan pendanaan berkaitan dengan perbaikan sisi kanan pada neraca
perusahaan. Sumber dana terdiri dari utang, saham preferen, saham biasa, retained
earning. Sumber dana yang dimiliki perusahaan akan menimbulkan biaya modal yang harus ditanggung perusahaan yaitu (dividen, bunga obligasi, dsb).
Perusahaan yang memiliki biaya operasi dan biaya modal yang bersifat tetap
dengan tujuan untuk meningkatkan keuntungan perusahaan maka perusahaan
tersebut dapat menggunakan leverage dalam menganalisis, merencanakan dan
mengendalikan keuangan.
Leverage berasal dari kata lever yaitu pengungkit. Pengungkit adalah suatu alat yang sederhana di mana suatu bobot yang besar dapat dipindahkan dengan
suatu kekuatan yang kecil. Berdasarkan konsep tersebut leverage merupakan
penggunaan assets dan sumber dana oleh perusahaan yang memiliki biaya tetap
dengan maksud meningkatkan keuntungan potensial pemegang saham.
Leverage terdiri dari operating leverage dan finansial leverage. Operating leverage bisa diartikan sebagai seberapa besar perusahaan menggunakan beban tetap operasional. Beban tetap operasional berasal dari biaya depresiasi, biaya
produksi dan pemasaran yang bersifat tetap (misal gaji bulanan karyawan).
Financial leverage diartikan sebagai pembiayaan sebagian dari aktiva perusahaan dengan sekuritas yang membayar bunga tetap (hutang bank, obligasi, saham
preferen).
Perusahaan yang menggunakan biaya tetap dalam proporsi yang tinggi
Bab 1 Pendahuluan
tersebut tinggi. Jika perusahaan mempunyai DOL yang tinggi, tingkat penjualan
yang tinggi akan menghasilkan pendapatan yang tinggi. Tetapi sebaliknya, jika
tingkat penjualan turun secara signifikan, perusahaan tersebut akan mengalami
kerugian.
Derajat leverage operasi bisa diartikan sebagai efek perubahan penjualan
terhadap keuntungan operasi atau Earning Before Interest and Tax (EBIT). EBIT
merupakan hasil penjualan perusahaan setelah dikurangi oleh biaya operasi.
EBIT memiliki hubungan dengan Earning Per Share (EPS) yang merupakan
suatu penghargaan bagi investor untuk melakukan investasi.
Sedangkan Financial leverage Menurut Hanafi (2004:329) leverage
keuangan bisa diartikan sebagai besarnya beban tetap keuangan yang digunakan
oleh perusahaan. Beban tetap keuangan tersebut biasanya berasal dari pembayaran
bunga untuk utang yang digunakan oleh perusahaan. Karena itu financial leverage
berkaitan dengan struktur modal perusahaan.
Perusahaan yang menggunakan beban tetap (bunga) yang tinggi berarti
menggunakan utang yang tinggi. Perusahaan dikatakan mempunyai leverage
keuangan yang tinggi, yang berarti Degree of Financial Leverage (DFL) untuk
perusahaan tersebut juga tinggi.
DFL mempunyai implikasi terhadap Earning Per Share perusahaan.
Untuk perusahaan yang mempunyai DFL yang tinggi, perubahan EBIT akan
menyebabkan perubahan EPS yang tinggi. Jika EBIT meningkat maka EPS akan
meningkat secara signifikan dan sebaliknya jika EBIT turun maka EPS juga akan
Bab 1 Pendahuluan
Apabila EPS berubah maka akan memberikan dampak pada Dividen Per
Share (DPS) karena pendapatan yang tinggi akan menghasilkan dividen yang tinggi. Pembahasan di atas akan diuji dalam penerapan secara praktik di
perusahaan dalam sektor Retail Trade. Hasil dari penelitian ini akan mengukur
hubungan penggunaan leverage terhadap EPS dan DPS.
Pembahasan di atas dapat disimpulkan pada kerangka pemikiran sebagai
berikut:
Bab 1 Pendahuluan
1.7 Lokasi Penelitian
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis melakukan penelitian pada
perusahaan yang tercatat di BEJ sebagai bagian dari sektor Retail Trade. Data
kuantitatif bersumber dari situs resmi BEJ di www.jsx.co.id. Namun, pada awal
Desember 2007 BEJ telah bergabung dengan Bursa Efek Surabaya (BES) dengan
nama Bursa Efek Indonesia.
1.8 Sistematika Penelitian
Sistematika penelitian merupakan pokok-pokok uraian dari isi penulisan
skripsi yang di dalamnya menjelaskan tentang materi dan pembahasan tentang
skripsi secara menyeluruh yang diterapkan secara garis besarnya saja. Adapun
garis besar dari sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
I. PENDAHULUAN
Bab ini memberikan penjelasan yang bersifat umum yang terdiri dari latar
belakang, identifikasi masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, kerangka pemikiran, dan sistematika penelitian.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini mengemukakan tentang kajian unsur-unsur teori, konsep, proposisi
dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan dan tujuan
penelitian secara sistematis dan analitik. Bab ini juga menerangkan kerangka pikir
konseptual, yang merupakan ringkasan tinjauan pustaka di sekitar permasalahan
Bab 1 Pendahuluan
III. OBJEK DAN METODE PENELITIAN
Objek penelitian dilakukan pada Industri Ritel yang terdiri dari 8
perusahaan yang terdaftar di BEJ. Sedangkan di dalam metode penelitian akan
dijelaskan dan diuraikan tentang jenis penelitian, sumber data, pengumpulan data,
hipotesis, dan analisis statistik.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian serta pembahasan
secara mendalam hasil temuan dan menjelaskan implikasinya.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini terdiri dari sub bab yaitu kesimpulan dari hasil analisis dan
Bab 5 Kesimpulan dan Saran
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan terhadap laporan keuangan
8 perusahaan pada industri perdagangan ritel, maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Kondisi struktur modal pada perusahaan di industri ritel yang diteliti
cenderung memiliki komponen ekuitas yang lebih besar dibandingkan utang
jangka panjang. Rata-rata proporsi utang jangka panjang yang dimiliki
perusahaan ritel sebesar 30% dan 70% sisanya adalah ekuitas.
2. Biaya ekuitas atau cost of equity (COE) yang ditanggung cenderung lebih
murah dibandingkan biaya utang atau cost of debt (COD). Rata-rata biaya
utang yang ditanggung adalah 7% dengan biaya tertinggi sebesar 11% dan
biaya terendah sebesar 0.4% pada perusahaan Metro Supermarket Reality
Tbk (MTSM) tahun 2003. MTSM pada tahun 2005 dan 2006 tidak memiliki
beban bunga sehingga COD sebesar 0% hal tersebut dikarenakan komponen
utang jangka panjang yang dimiliki adalah utang hubungan istimewa atau
komponen lainnya yang mungkin menanggung bunga yang dibayar dimuka
atau bahkan komponen yang tidak menimbulkan bunga.
3. Sedangkan untuk komponen ekuitas cenderung tidak menimbulkan biaya.
Ukuran biaya ekuitas adalah besarnya dividen yang dibagikan dibandingkan
Bab 5 Kesimpulan dan Saran
berbeda tergantung pada kondisi perusahaan. Namun setelah menganalisis
berdasarkan laporan keuangan maka dapat diketahui bahwa hanya 3
perusahaan yang membagikan dividen yaitu Matahari Putra Prima Tbk
(MPPA), Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), dan Sona Topas Tourism
Industry Tbk (SONA). Rata-rata COD sebesar 4% dengan biaya terendah
0.64% pada perusahaan SONA tahun 2006 dan biaya tertinggi 11% pada
perusahaan RALS tahun 2003 yang melebihi biaya utang.
4. Setelah meninjau biaya modal dan Return of Assets (ROA) pada perusahaan
yang diteliti maka dapat disimpulkan bahwa ROA yang dihasilkan oleh
perusahaan yang diteliti belum mampu melebihi biaya modal khususnya
biaya utang jangka panjang. Artinya perusahaan belum cukup baik
mengelola sumber dana untuk investasi asset yang mendukung operasional
sehingga tingkat pengembalian lebih rendah dari biaya yang ditanggung.
5. Rata-rata Operating Leverage pada industri ritel sebesar 12.44, rata-rata ini
menunjukkan bahwa pada umumnya perusahaan pada industri ritel memiliki
perubahan laba usaha yang lebih tinggi dibandingkan dengan perubahan
penjualan. Pada periode yang diteliti Operating Leverage minimum
dihasilkan oleh Rimo Catur Lestari Tbk yaitu sebesar -101.64 dan nilai
maksimum yang dihasilkan adalah 108.4 yaitu pada Toko Gunung Agung
Tbk. Leverage Operasi yang bernilai negatif menunjukan bahwa perusahaan
sedang mengalami kesulitan keuangan yang disebabkan penurunan laba atau
Bab 5 Kesimpulan dan Saran
6. Rata-rata Financial Leverage pada industri ritel sebesar 5.17, rata-rata ini
menunjukan bahwa pada umumnya perusahaan pada industri ritel memiliki
perubahan Earning Per Share (EPS) yang lebih tinggi dibandingkan dengan
perubahan laba usaha. Pada periode yang diteliti Financial Leverage
minimum dihasilkan oleh Alfa Retailindo Tbk yaitu sebesar -137.43 dan
nilai maksimum dihasilkan oleh Hero Supermarket Tbk yaitu sebesar 165.4.
Leverage Financial yang bernilai negatif menunjukan bahwa perusahaan sedang mengalami kesulitan keuangan yang disebabkan penurunan laba
usaha atau EPS selama periode yang dibandingkan.
7. Setelah melakukan pengujian korelasi maka kesimpulan untuk hipotesis
pertama yaitu hubungan antara DOL dan EBIT pada industri ritel adalah
tidak terdapat hubungan yang positif antara DOL dan EBIT. Berdasarkan
hasil tersebut maka asumsi hipotesis yang didasarkan pada teori tidak sesuai
dengan kondisi perusahaan pada industri ritel.
8. Berdasarkan nilai signifikan yang dihasilkan pada hipotesis kedua yaitu
korelasi antara EBIT dan EPS maka hipotesis diterima, artinya terdapat
hubungan positif antara EBIT dan EPS.
9. Hipotesis ketiga yaitu korelasi antara DFL dan EPS menunjukkan hasil
koefisien korelasi sebesar -0.062 yang artinya terdapat hubungan yang
lemah antara DFL dan EPS. Nilai negatif menunjukkan bahwa semakin
tinggi DFL maka akan menurunkan EPS yang dihasilkan. Serta nilai
signifikan yang lebih besar dari standar error 5% maka hipotesis ditolak
Bab 5 Kesimpulan dan Saran
10. Berdasarkan angka signifikan pada hasil analisis maka hipotesis keempat
yaitu korelasi antara DFL dan EPS adalah penolakan hipotesis yang artinya
tidak terdapat hubungan positif antara DFL dan DPS pada perusahaan Ritel
yang terdaftar di BEJ selama periode 2003-2006
11. Berdasarkan angka signifikan 0.080 pada hasil analisis maka hipotesis
ditolak, artinya tidak terdapat hubungan positif antara EPS dan DPS pada
perusahaan Ritel yang terdaftar di BEJ selama periode 2003-2006.
Koefisien korelasi yang dihasilkan sebesar 0.297 menunjukan korelasi yang
lemah. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya perusahaan berhak untuk
menentukan kebijakan dividen yang sesuai dengan kondisi perusahaan dan
pemegang saham. Sehingga EPS tidak mutlak mempengaruhi keputusan
kebijakan dividen.
5.2 SARAN
1. Struktur modal yang digunakan oleh perusahaan banyak dipengaruhi oleh
faktor-faktor yang sudah dibahas sebelumnya. Melihat kondisi struktur
modal yang dimiliki perusahaan pada industri ritel yang cenderung lebih
banyak menggunakan ekuitas dan sedikit utang, namun belum berhasil
menciptakan ROA lebih besar dari COD. Untuk itu sebaiknya perusahaan
yang memiliki tingkat pajak yang tinggi sebaiknya menambah utang
karena bunga dapat mengurangi tingkat pajak sehingga EAT akan
Bab 5 Kesimpulan dan Saran
2. Tidak ada patokan yang pasti untuk mengambil kebijakan dividen untuk
itu perusahaan akan menyesuaikan teori yang ada terhadap kondisi
perusahaan. Kebijakan dividen the tax preference theory secara
keseluruhan sesuai dengan kondisi perusahaan pada industri ritel karena
teori ini menyarankan agar tingkat DPR yang dibagikan tidak terlalu tinggi
atau sama sekali tidak membagikan dividen agar meminimumkan biaya
modal.
3. Nilai operating leverage pada perusahaan di industri ritel cenderung tidak
terlalu tinggi. Maka perusahaan sebaiknya lebih mengoptimalkan
penggunaan aktiva tetap seperti mesin karena akan mengurangi biaya
variabel sehingga peningkatan penjualan tidak akan banyak dipengaruhi
peningkatan biaya.
4. Perusahaan yang menggunakan beban tetap (bunga) yang tinggi berarti
menggunakan utang yang tinggi. Perusahaan dikatakan mempunyai
leverage keuangan yang tinggi, yang berarti DFL untuk perusahaan tersebut juga tinggi. Sehingga sedikit perubahan EBIT akan
mengakibatkan lebih banyak perubahaan EPS. Untuk itu sebaiknya
perusahaan dapat mengambil keuntungan dari penggunaan utang dan
dividen dan mampu menggunakan aktiva secara optimal sehingga
penjualan meningkat dan EBIT meningkat sehingga EPS akan meningkat
DAFTAR PUSTAKA
Brigham, Eugene F dan Joel F Houston. 2001. Manajemen Keuangan edisi
delapan buku dua. Jakarta: Erlangga.
Cooper, D.R., dan P.S. Schindler.2006. Business Research Method. 9th Edition.
New York : McGraw-Hill
Gitman, J Lawrence. 2006. Principles of managerial finance eleventh edition.
United States: Addison Wesley.
Harahap, Sofyan S. 2006. Analisis Kritis atas Laporan Keuangan. Jakarta : PT
RajaGrafindo Persada.
Irawati, Susan. 2006. Manajemen Keuangan. Bandung : Pustaka
Keown, J Arthur Dkk. 2000. Dasar-dasar Manajemen Keuangan buku dua.
Jakarta : Salemba Empat.
Kerlinger, F.N. 1990. Asas-asas Penelitian Behavioral. Jogjakarta: Gadjah Mada
University Press
Hadiwidjaya.1989. Dasar- Dasar Pembelanjaan. Bandung : Pionir Jaya
Hanafi, Mamduh M. 2004. Manajemen Keuangan. Yogyakarta : BPFE.
Manson, Robert D dan Douglas A Lind, Widyono Soetjipto (Ed). 1999. Teknik
Statistik untuk bisnis dan ekonomi edisi 9 jilid dua. Jakarta: Erlangga
Margaretha, Farah. 2004. Teori dan aplikasi manajemen keuangan investasi
dan sumber dana jangka panjang. Jakarta : Grasindo
Patra, Santimoy. Financial leverage, earning and dividend- a case study. India:
Garhabeta College, Vidyasagar University.
Riyanto, Bambang. 2001. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan edisi empat.
Yogyakarta: BPFE
Ross, Westerfield and Jaffe. 2006. Coorporate Finance International edition.
New york: MC Graw-Hill.
Sabardi, Agus. 1994. Manajemen Keuangan. Yogyakarta: UPP AMP YKPN
Sartono, Agus. 2001. Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta:
BPFE
Siegel, Sidney. 1997. Statistik Non Parametrik : Untuk Ilmu-Ilmu Sosial.
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Soehardi, Sigit. 2001 Pengantar Metode Penelitian Sosial Bisnis Manajemen.
Yogyakarta: BPFE
Sudjiman, Panuti dan Dendy Sugono. 1998. Petunjuk penulisan karya ilmiah.
Jakarta: Kelompok 24 Pengajar Bahasa Indonesia.
Sugiyarso dan F Winarni. 2005. Manajemen Keuangan. Yogyakarta : Media
Pressindo.
Sundjaja, Ridwan S dan Inge Barlian. 2003. Manajemen keuangan buku satu
edisi ke-lima. Jakarta: Literata Lintas Media.
Sundjaja, Ridwan S dan Inge Barlian. 2003. Manajemen keuangan buku dua
edisi ke-empat. Jakarta: Literata Lintas Media.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Bisnis, Cetakan Kesepuluh. Bandung :
Sunaryah. 2004. Pengetahuan Pasar Modal. Yogyakarta: UPP AMP YKPN
Syamsuddin, Lukman. 2004. Manajemen Keuangan Perusahaan edisi baru.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Van Horne, James C. 2002. Financial Management Policy twelfth edition. New
Jersey : Prantice Hall
Van Horne and Wachowicz. 2005. Fundamental of Financial Management
twelfth edition. New Jersey : Prantice Hall
Weston, J Fred dan Thomas E Copeland. 1996. Manajemen Keuangan edisi ke