Pengaruh Pasta Tomat (Solanum Lycopersicum) Terhadap Kecepatan Gerak, Jumlah, dan Viabilitas Spermatozoa Pada Mencit Galur Balb/c Yang Mengalami Spermiotoksisitas Akibat Induksi Sisplatin.

36 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

iv ABSTRAK

PENGARUH PASTA TOMAT (Solanum lycopersicum) TERHADAP KECEPATAN GERAK, JUMLAH, DAN VIABILITAS SPERMATOZOA

PADA MENCIT GALUR BALB/c YANG MENGALAMI SPERMIOTOKSISITAS AKIBAT INDUKSI SISPLATIN

Susan, 2007, Pembimbing I : Sylvia Soeng, dr., M.Kes. Pembimbing II : Sri Utami S., Dra., M.Kes.

Salah satu faktor yang signifikan dalam etiologi infertilitas pria adalah stres oksidatif karena dapat memperburuk fungsi sperma. Konsumsi antioksidan mungkin dapat memberi perlindungan melawan stres oksidatif. Likopen adalah suatu antioksidan kuat dengan konsentrasi tertinggi dalam produk-produk tomat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pasta tomat (Solanum lycopersicum) terhadap kecepatan gerak, jumlah dan viabilitas spermatozoa pada mencit galur BALB/c yang mengalami spermiotoksisitas akibat induksi sisplatin. Penelitian ini menggunakan metode prospektif eksperimental laboratorium sungguhan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang komparatif. Dua puluh empat ekor mencit jantan galur BALB/c dibagi secara acak dalam 4 kelompok perlakuan (n=6). Pada hari pertama semua kelompok perlakuan diinjeksi dengan sisplatin dosis tunggal secara intraperitonial. Pada hari kedua sampai hari keenam, kelompok kontrol diberi akuades peroral. Kelompok lain diberi pasta tomat dengan dosis 0,269 g, 0,538 g, dan 1,076 g secara peroral. Pada hari ketujuh semua mencit dikorbankan dan dibuat suspensi spermatozoa dari kauda epididimisnya. Kecepatan gerak, jumlah, dan viabilitas spermatozoa dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji ANAVA satu arah, dilanjutkan dengan uji beda rata-rata Tukey HSD dengan =0,05. Hasil penelitian menunjukkan kecepatan gerak spermatozoa berbeda sangat signifikan dengan kelompok kontrol hanya pada pasta tomat dengan dosis 1,076 g (p=0,000). Jumlah spermatozoa pada pasta tomat dosis 0,269 g dan 0,538 g berbeda signifikan dengan kelompok kontrol (p=0,024 dan p=0,017), sedangkan jumlah spermatozoa pada dosis 1,076 g berbeda sangat signifikan (p=0,000). Viabilitas spermatozoa berbeda sangat signifikan dengan kelompok kontrol hanya pada pasta tomat dosis 1,076 g (p=0,000). Kesimpulan penelitian adalah pasta tomat meningkatkan kecepatan gerak, jumlah, dan viabilitas spermatozoa mencit yang spermiotoksisitas akibat induksi oleh sisplatin.

(2)

ABSTRACT

THE EFFECT OF TOMATO PASTE (Solanum lycopersicum) ON SISPLATIN-INDUCED SPERMIOTOXICITY IN SPERM MOTILITY,

SPERM COUNT, AND SPERM VIABILITY OF BALB/c MICE

Susan, 2007, 1st Tutor : Sylvia Soeng, dr., M.Kes. 2nd Tutor : Sri Utami S., Dra., M.Kes.

One of a significant factor in the etiology of male infertility is oxidative stress which is detrimental to sperm function. Intake of antioxidant may have protective effect against oxidative stress. Lycopene is a potent antioxidant found in its highest concentration in tomato products. The objective of this study is to investigate the effect of tomato paste (Solanum lycopersicum) on cisplatin-induced spermiotoxicity in sperm motility, sperm count, and sperm viability of BALB/c mice. This experiment is based on the real experimental perspective method using Random Complete Design with comparative characteristic. Twenty four male mice of BALB/c strain were randomly divided into four groups (n=6). On the first day, all groups were injected intraperitoneally with cisplatin as a single dose. On the second to sixth day, the control group was administered with aquadest by oral gavage. The other groups were administered with 0.269 g, 0.538 g, and 1.076 g of tomato paste by oral gavage. On the seventh day the mice were sacrificed and sperm suspension was made from the cauda epididymis. Sperm motility, sperm count, and sperm viability were analyzed using oneway ANOVA, followed by Tukey HSD test with = 0.05. The results shows that sperm motility is very significantly different with the control group only at 1.076 g of tomato paste (p=0.000). Sperm count at 0.269 g and 0.538 g of tomato paste are significantly different with the control group (p=0.024 and p=0.017), whereas sperm count at 1.076 g is very significantly different (p=0.000). Sperm viability is very significantly different with the control group only at 1.076 g of tomato paste (p=0.000). It could be concluded that tomato paste may increase the sperm motility, sperm count, and sperm viability against cisplatin-induced spermiotoxicity.

(3)
(4)
(5)

viii

1.2Identifikasi Masalah ... 3

1.3Maksud dan Tujuan ... 3

1.4Manfaat Karya Tulis Ilmiah ... 3

1.5Kerangka Pemikiran dan Hipotesis Penelitian ... 4

1.5.1 Kerangka Pemikiran ... 4

1.5.2Hipotesis Penelitian ... 5

1.6Metodologi Penelitian ... 5

1.7Lokasi dan Waktu Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1Sistem Reproduksi Pria ... 7

2.1.1 Anatomi ... 7

(6)

2.1.2.1 Tahap-tahap Spermatogenesis ... 10

2.1.2.2 Morfologi Spermatozoa ... 13

2.1.2.3 Sel Sertoli ... 15

2.1.2.4Sel Leydig ... 16

2.1.3Mekanisme Hormonal dalam Reproduksi ... 16

2.1.3.1Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) ... 17

2.1.3.2 Hormon Gonadotropin ... 18

2.1.3.3 Hormon Testosteron ... 19

2.2 Analisis Semen pada Manusia ... 20

2.3 Infertilitas pada Pria ... 22

2.3.1 Stres Oksidatif ... 23

2.3.2 Peranan ROS dalam Sistem Reproduksi Pria ... 25

2.3.3 Peranan Antioksidan ... 27

2.4 Tomat ... 29

2.4.1 Taksonomi ... 30

2.4.2 Karakteristik Tanaman ... 30

2.4.3 Komposisi ... 31

2.4.4 Mekanisme Kerja ... 32

2.5 Pengaruh Obat-obatan terhadap Fungsi Reproduksi Pria ... 34

2.5.1 Sisplatin ... 34

2.5.1.1 Mekanisme Kerja Sisplatin ... 35

2.5.1.2 Efek Samping ... 36

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Alat dan Bahan ... 39

3.1.1 Alat ... 39

3.1.2 Bahan ... 39

3.2 Persiapan Penelitian ... 40

3.2.1 Hewan Coba ... 40

3.2.2 Bahan Uji ... 40

(7)

x

3.3.1 Metode Penarikan Sampel ... 40

3.3.2 Variabel Penelitian ... 41

3.3.3 Prosedur Penelitian ... 41

3.3.3.1 Prosedur Pemeriksaan Kecepatan Spermatozoa ... 42

3.3.3.2 Prosedur Penghitungan Jumlah Spermatozoa ... 43

3.3.2.3Prosedur Penghitungan Viabilitas Spermatozoa ... 43

3.4Analisis Data ... 44

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil ... 45

4.1.1 Kecepatan Gerak Spermatozoa ... 45

4.1.2 Jumlah Spermatozoa ... 48

4.1.3 Viabilitas Spermatozoa ... 52

4.2 Pengujian Hipotesis Penelitian ... 55

4.3 Pembahasan ... 57

BAB V KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan ... 60

5.2 Saran ... 60

DAFTAR PUSTAKA ... 61

LAMPIRAN ... 67

(8)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Kontribusi Sistem Ekskretori dan Organ

Aksesoris dalam Produksi Sperma... 9

Tabel 2.2 Kriteria Semen Normal ... 21

Tabel 2.3 Nomenklatur untuk Variabel Semen ... 21

Tabel 2.4 Komposisi Nutrien Tomat dan Produk-Produk Tomat ... 31

Tabel 2.5 Kandungan Karotenoid Tomat dan Produk Tomat ... 32

Tabel 4.1 Kecepatan Gerak Spermatozoa Mencit (mm/detik) ... 45

Tabel 4.2 ANAVA Satu Arah Kecepatan Gerak Spermatozoa ... 46

Tabel 4.3 Uji Beda Rata-rata Tukey HSD Kecepatan Gerak Spermatozoa ... 47

Tabel 4.4 Jumlah Spermatozoa Mencit (ekor/mm3) ... 48

Tabel 4.5 ANAVA Satu Arah Jumlah Spermatozoa ... 49

Tabel 4.6 Uji Beda Rata-rata Tukey HSD Jumlah Spermatozoa ... 50

Tabel 4.7 Viabilitas Spermatozoa Mencit (%) ... 52

Tabel 4.8 ANAVA Satu Arah Viabilitas Spermatozoa ... 53

(9)

xii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Sistem Reproduksi Pria ... 10

Gambar 2.2 Spermatogenesis ... 11

Gambar 2.3 Spermiogenesis ... 12

Gambar 2.4 Morfologi Spermatozoa ... 14

Gambar 2.5 Aksis Hipotalamus-Hipofisis-Gonad... 17

Gambar 2.6 Etiologi dan Penanggulangan Stres Oksidatif ... 25

Gambar 2.7 Tomat ... 29

Gambar 2.8 Tomat ... 29

Gambar 2.9 Struktur 3 Dimensi Lycopene ... 33

Gambar 2.10 Struktur Molekul Sisplatin ... 36

(10)

DAFTAR GRAFIK

Halaman

Grafik 4.1 Perbandingan Rata-Rata Kecepatan Gerak Spermatozoa ... 48

Grafik 4.2 Perbandingan Rata-Rata Jumlah Spermatozoa ... 51

(11)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

LAMPIRAN 1 Perhitungan Dosis ... 67 LAMPIRAN 2 Analisis Data ... 69 LAMPIRAN 3 Foto-Foto Penelitian ... 75

(12)

LAMPIRAN 1

PERHITUNGAN DOSIS

Sisplatin

Dosis sisplatin untuk tikus = 7 mg/kg

Dosis absolut pada tikut (BB ± 200 g)= 0.2 x 7

= 1.4 mg

Dosis mencit (BB ± 20 g) = 1.4 x 0.14 (faktor konversi dari tikus ke mencit) = 0.196 mg

Berat badan rata-rata mencit = 27.60 gram

Untuk mencit 27.60 g, sisplatin yang diperlukan = 27.60 0.196 0.27048

20 x = mg

Sediaan: Cisplatin DBL 25mg/50ml

Jadi, dalam 1 ml sediaan terdapat 0.5 mg sisplatin

Volume yang disuntikkan = 0.27048 1 0.541

0.5 x ml= ml

Pasta Tomat

Berdasarkan jurnal “Protective role of lycopene on cisplatin-induced changes in sperm characteristics, testicular damage and oxidative stress in rats”, disebutkan bahwa dosis 4 mg/kg likopen untuk tikus dewasa Sprague-Dawley

mampu memberi efek protektif terhadap spermitoksisitas yang diinduksi oleh sisplatin (Atessahin et al, 2006).

Dosis likopen tikus = 4 mg/kg

Dosis absolut pada tikut (BB ± 200 g)= 0.2 x 4 = 0.8 mg

Dosis mencit (BB ± 20 g) = 0.8 x 0.14 (faktor konversi dari tikus ke mencit) = 0.112 mg

(13)

68

Berat badan rata-rata mencit = 27.60 gram

Untuk mencit 27.60 g, likopen yang diperlukan = 27.60 0.112

20 x =0.155 mg

(dijadikan dosis 2).

Sediaan likopen yang digunakan berupa pasta tomat Hunt’s. Menurut data USDA tahun 2006 dalam 100 gram pasta tomat terdapat 28.8 mg likopen.

Jadi, dalam 1 gram pasta tomat terdapat 0.288 mg likopen.

Pasta Tomat Dosis 1 :

0.0775

1 0.269 gram pasta tomat

0.288 x gram=

Pasta Tomat Dosis 2 :

0.155

1 0.538 gram pasta tomat

0.288x gram=

Pasta Tomat Dosis 3 :

0.31

1 1.076 gram pasta tomat

(14)

LAMPIRAN 2

Test of Homogeneity of Variances Hasil

(15)

70 Kontrol .0121419 .0060629 .220 -.004828 .029112

PT 2 PT 1 .0028040 .0060629 .966 -.014166 .019774 PT 3 -.0179224(*) .0060629 .036 -.034892 -.000953 Kontrol .0149459 .0060629 .097 -.002024 .031915 PT 3 PT 1 .0207264(*) .0060629 .013 .003757 .037696 PT 2 .0179224(*) .0060629 .036 .000953 .034892 Kontrol .0328683(*) .0060629 .000 .015899 .049838 * The mean difference is significant at the .05 level.

Homogenous Subsets

(16)

71

Kontrol 6 1481250 654776.202 267311.26 794104.517 2168395.48 930000.0 2437500

PT 1 6 2788750 794425.500 324322.85 1955051.567 3622448.43 1702500 3840000

PT 2 6 2853750 249367.951 101804.04 2592054.385 3115445.62 2565000 3262500

PT 3 6 4030000 976114.747 398497.18 3005630.395 5054369.60 3262500 5910000

Total 24 2788437.5 1140195.162 232741.36 2306975.309 3269899.69 930000.0 5910000

(17)

72

(I) Kelompok (J) Kelompok

Mean Difference

(I-J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound

Kontrol PT 1 -1307500.0(*) 415815.2 .024 -2471340.44 -143659.5636 PT 2 -1372500.00(*) 415815.2 .017 -2536340.44 -208659.5636 PT 3 -2548750.0(*) 415815.2 .000 -3712590.44 -1384909.5636 PT 1 Kontrol 1307500.00(*) 415815.2 .024 143659.564 2471340.4364 PT 2 -65000.000 415815.2 .999 -1228840.44 1098840.4364 PT 3 -1241250.0 (*) 415815.2 .034 -2405090.44 -77409.5636 PT 2 Kontrol 1372500.00(*) 415815.2 .017 208659.5636 2536340.4364 PT 1 65000.000 415815.2 .999 -1098840.44 1228840.4364 PT 3 -1176250.00(*) 415815.2 .047 -2340090.44 -12409.5636 PT 3 Kontrol 2548750.00(*) 415815.2 .000 1384909.5636 3712590.4364 PT 1 1241250.00(*) 415815.2 .034 77409.5636 2405090.4364 PT 2 1176250.00(*) 415815.2 .047 12409.5636 2340090.4364 * The mean difference is significant at the .05 level.

Homogeneous Subsets

(18)

73

Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum

Kontrol 6 4.2500 1.86414 .76103 2.2937 6.2063 2.50 7.50 PT 1 6 7.5000 2.07364 .84656 5.3238 9.6762 4.50 10.50 PT 2 6 7.6667 2.35938 .96321 5.1907 10.1427 3.50 10.00 PT 3 6 13.3333 2.69568 1.10050 10.5044 16.1623 10.00 17.50 Total 24 8.1875 3.95302 .80691 6.5183 9.8567 2.50 17.50

(19)

74

(I) Kelompok (J) Kelompok

Mean Difference * The mean difference is significant at the .05 level.

Homogeneous Subsets

(20)

LAMPIRAN 3

FOTO-FOTO PENELITIAN

Bahan

1. Pasta Tomat 2. Cisplatin

Injeksi Cisplatin Intraperitonial pada Hewan Coba

(21)

76

Pengambilan Data

Kecepatan Gerak dan Jumlah Spermatozoa

(22)

77

Viabilitas Spermatozoa

(23)

78

RIWAYAT HIDUP

Nama : Susan

NRP : 0410100

Tempat dan Tanggal Lahir : Makassar, 29 Maret 1986

Alamat : Jln. Yos Sudarso no. 29 Sorong 98413

Riwayat Pendidikan :

TK Santa Theresia, Sorong 1992

SD Kristus Raja I, Sorong 1998

SLTP Don Bosco. Sorong 2001

SMU Santo Aloysius, Bandung 2004

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung

(24)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Studi protokol penatalaksanaan dan efektivitas pengobatan infertilitas pria di

Surabaya pada tahun 2000 menyatakan masalah infertilitas pria merupakan

masalah yang menunjukkan peningkatan dalam dekade terakhir ini. Observasi di

beberapa negara menunjukkan gejala penurunan jumlah dan kualitas sperma yang

cukup menyolok di antara pria dewasa muda (Aucky Hinting, 2000).

Penelitian yang dilakukan Arsyad terhadap 246 pasangan infertil di Palembang

menunjukkan infertilitas yang disebabkan faktor pria sebesar 48,4% (Hermawanto

H. H. dan Hadiwidjaja, 2002). Data BKKBN pada tahun 2004 menunjukkan kasus

infertilitas yang disebabkan oleh gangguan pihak pria persentasenya cukup besar,

yakni sekitar 40-50 %, bahkan mencapai 60 %.

Banyak faktor yang menyebabkan infertilitas pada pria, termasuk kelainan

hormonal dan gonad, kelainan genetik seperti cystic fibrosis dan sickle cell

anemia, kelainan urogenital seperti varikokel, kanker testis, trauma, dan atau

obstruksi saluran reproduksi. Keadaan-keadaan tersebut dapat meningkatkan

terbentuknya oksigen reaktif yang menyebabkan oxidative stress (OS) dan

mengakibatkan disfungsi spermatozoa dan infertilitas (Agarwal, Prabakaran,

Sikka, 2007).

Sumber utama reactive oxygen species (ROS) dalam cairan semen yaitu

leukosit dan spermatozoa imatur (Garrido et al., 2004). Peningkatan pembentukan

ROS dapat disebabkan karena polusi, misalnya polusi lingkungan atau kebiasaan

merokok. Selain itu infeksi dan kerusakan iatrogenik juga dapat meningkatkan

ROS (Agarwal, Prabakaran, Said, 2005). Gupta dan Kumar pada tahun 2002

menyatakan bahwa pembentukan berlebih ROS yang mengandung oksigen radikal

(25)

2

Universitas Kristen Maranatha

Testis manusia dikenal sebagai organ target kerusakan akibat pemajanan agen

terapeutik dan agen toksik dari lingkungan. Terdapat banyak kemungkinan

mekanisme dan manifestasi kerusakan akibat bahan toksik pada spermatogenesis

(misalnya defek spermatogenesis, retained spermatid, mengelupasnya epitel

seminiferus), salah satu konsekuensi awal pajanan toksik, yaitu induksi apoptosis

sel germinativum. Efek jangka panjang yang ditakutkan dari pajanan toksik adalah

timbulnya atropi testis persisten, yang dalam keadaan berat, dapat mengakibatkan

azoospermia berkepanjangan dan infertilitas (Boekelheide, 2005).

Sisplatin (cis-diamminedichloroplatinum-II) adalah obat anti kanker yang

digunakan secara luas. Pasien pria yang menerima kemoterapi menggunakan

sisplatin untuk kanker testis dan tumor padat lainnya mengalami kerusakan

tubulus seminiferus yang berat dan kadang ireversibel. Karena kebanyakan pasien

ini diterapi dengan obat kemoterapi sebelum dan selama masa reproduktif mereka,

dan angka kesembuhan beberapa jenis kanker tinggi, maka sterilitas yang

disebabkan oleh terapi sangat memrihatinkan(Sawhney et al., 2005).

Pemberian antioksidan seperti vitamin E, selenium, vitamin C, karotenoid dan

lain-lain dapat memberikan proteksi terhadap kerusakan akibat induksi xenobiotic.

Likopen (lycopene), suatu hidrokarbon alifatik, adalah satu dari 600 karotenoid

alamiah. Belakangan ini likopen dalam tomat menarik perhatian karena komponen

antioksidannya yang efisien dalam menghancurkan radikal bebas (Atessahin et al.,

2006).

Tomat adalah salah satu sumber terbaik likopen (Agarwal and Rao, 2000).

Likopen merupakan pigmen karotenoid yang membawa warna merah. Pigmen ini

termasuk ke dalam golongan senyawa fitokimia yang mudah ditemui pada tomat

dan buah-buahan lain yang berwarna merah. Selain itu, pigmen ini juga terdapat

di dalam darah manusia, yaitu 0,5 mol per liter darah. Nama likopen diambil dari

nama spesies tomat, yaitu Solanum lycopersicum (http://portal.cbn.net.id, 2007).

Tomat dapat dengan mudah ditemukan pada berbagai menu makanan yang

ditawarkan di berbagai restoran, yaitu dalam bentuk jus, sup, lalap, sambal, pasta

(26)

3

Riset yang dilakukan oleh Stahl dan Sies pada tahun 2003 menunjukkan bahwa

likopen dalam jus tomat yang telah melalui proses pemanasan lebih banyak

diserap dibandingkan dengan jus tomat yang tidak diolah. Narmada Gupta, kepala

Departemen Urology di All India Institute of Medical Science New Delhi, India

mengemukakan bahwa diet tinggi likopen dapat meningkatkan fertilitas pada pria

infertil.

Likopen berperan dalam meningkatkan fertilitas seorang pria. Kadar likopen

yang tinggi dalam tomat, mudahnya mendapatkan buah tomat, harganya yang

murah, membuat penulis tertarik untuk mengetahui efek protektif tomat pada

karakteristik sperma mencit jantan yang diinduksi dengan sisplatin.

1.2 Identifikasi Masalah

Apakah pemberian pasta tomat meningkatkan kecepatan gerak, jumlah, dan

viabilitas spermatozoa pada mencit galur BALB/c yang diinduksi dengan

sisplatin.

1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud dari penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini adalah untuk mengetahui

pengaruh tomat terhadap infertilitas.

Tujuan dari penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini adalah untuk mengetahui efek

pasta tomat (Solanum lycopersicum) terhadap kecepatan gerak, jumlah, dan

viabilitas spermatozoa pada mencit galur BALB/c yang mengalami

spermiotoksisitas akibat induksi sisplatin.

1.4 Manfaat Karya Tulis Ilmiah

Manfaat akademis penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini adalah memberikan

informasi farmakologi tentang buah tomat (Solanum lycopersicum), terutama

(27)

4

Universitas Kristen Maranatha

Manfaat praktis penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat memberi

masukan mengenai terapi adjuvan guna meningkatkan fertilitas kaum pria akibat

kemoterapi.

1.5 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis Penelitian

1.5.1 Kerangka Pemikiran

Reactive oxygen species (ROS) mempunyai peranan penting dalam sistem

reproduksi pria. Secara fisiologis, ROS diperlukan oleh spermatozoa untuk

mencapai maturasi fungsional. SenyawaROS dalam kadar rendah esensial untuk

fertilisasi normal, kapasitasi, hiperaktivasi, motilitas, dan reaksi akrosom (de

Lamirande et al., 1998; Aitken et al., 2004; Allamaneni et al., 2004). Sedangkan

dari segi patologis, terbukti bahwa ROS dalam kadar tinggi memediasi kerusakan

pada banyak elemen seluler pada testis termasuk DNA dari spermatozoa matur.

Ketidakseimbangan antara pembentukan ROS dan kapasitas antioksidan

menyebabkan stres oksidatif dan mengakibatkan disfungsi spermatozoa.

Senyawa ROS dan kerusakan oksidatif pada biomolekul sebagai mekanisme

sitotoksisitas obat dapat menyebabkan infertilitas pria dengan mengurangi fungsi

sperma. Sisplatin menyebabkan peroksidasi lipid dan penurunan aktivitas enzim

proteksi terhadap kerusakan oksidatif. Sisplatin juga mempunyai efek toksik

langsung terhadap sel Sertoli, sel Leydig, dan sel germinativum (Atessahin et al.,

2006). Mekanisme kerja sisplatin mirip dengan alkilator, yaitu membentuk ikatan

kovalen melalui alkilasi gugus nukleofilik seperti gugus fosfat, amino, sulfhidril,

hidroksil, karboksil, dan imidazole. Efek kemoterapeutik dan sitotoksiknya

berkaitan dengan alkilasi DNA (Goodman & Gilman, 2001). Tempat ikatan utama

adalah N7 guanin, tetapi interaksi kovalen dengan adenin dan sitosin juga terjadi

(Katzung, 1998).

Antioksidan adalah mekanisme pertahanan utama terhadap stres oksidatif yang

diinduksi oleh radikal bebas. Antioksidan dapat diklasifikasikan menjadi

(28)

5

Beberapa sumber antioksidan pada produk makanan yang sangat baik yaitu

likopen (pada produk-produk tomat), vitamin C (pada buah-buahan sitrus dan

sayuran hijau) dan vitamin E (pada minyak nabati, kacang-kacangan dan

biji-bijian) (Agarwal, Prabakaran, Sikka, 2007). Likopen ditemukan dalam konsentrasi

tinggi pada testis dan plasma seminal, sedangkan pada pria infertil, kadar

antioksidan ini menurun (Gupta and Kumar, 2003). Likopen yang banyak

ditemukan pada tomat dapat menghancurkan ROS yang terbentuk dan mencegah

reaksi berantai peroksidasi lipid. Penelitian yang dilakukan oleh Atessahin et al.

membuktikan adanya efek protektif likopen terhadap kerusakan oksidatif yang

diinduksi oleh sisplatin (Atessahin et al., 2006).

1.5.2 Hipotesis Penelitian

1. Pasta tomat meningkatkan kecepatan gerak spermatozoa mencit galur

BALB/c yang diinduksi dengan sisplatin.

2. Pasta tomat meningkatkan jumlah spermatozoa mencit galur BALB/c yang

diinduksi dengan sisplatin.

3. Pasta tomat meningkatkan viabilitas spermatozoa mencit galur BALB/c

yang diinduksi dengan sisplatin.

1.5 Metodologi Penelitian

Penelitian ini bersifat prospektif eksperimental laboratorium sungguhan

dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang bersifat komparatif. Data yang

diamati adalah kecepatan gerak (mm/detik), jumlah spermatozoa (ekor/mm3), dan

viabilitas spermatozoa (%).

Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan metode uji

Analisis Varian (ANAVA) satu arah dengan =0,05 dan dilanjutkan dengan uji

(29)

6

Universitas Kristen Maranatha 1.6Lokasi dan Waktu

Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran

Universitas Kristen Maranatha Bandung, dilaksanakan dari bulan Maret 2007

(30)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Pasta tomat meningkatkan kecepatan gerak spermatozoa mencit galur

BALB/c yang diinduksi dengan sisplatin.

2. Pasta tomat meningkatkan jumlah spermatozoa mencit galur BALB/c yang

diinduksi dengan sisplatin.

3. Pasta tomat meningkatkan viabilitas spermatozoa mencit galur BALB/c

yang diinduksi dengan sisplatin.

5.2 Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efek sisplatin terhadap

fertilitas pada dosis jangka panjang sesuai pemakaiannya dalam terapi

kanker dan efek proteksi likopen terhadap kerusakan yang terjadi.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efek protektif likopen

terhadap infertilitas yang diakibatkan oleh faktor-faktor lain.

3. Perlu dilakukan percobaan dengan produk tomat lainnya dan

membandingkan efektivitas masing-masing produk terhadap infertilitas.

4. Diharapkan antioksidan, terutama likopen dalam tomat dapat

dikembangkan menjadi terapi adjuvan untuk mengatasi infertilitas pria

akibat efek samping obat kemoterapi.

5. Sampel yang digunakan harus lebih banyak untuk menghindari

kemungkinan kurangnya sampel karena kematian sampel akibat toksisitas

(31)

61 Universitas Kristen Maranatha DAFTAR PUSTAKA

Agarwal A. and Prabakaran S. A. 2005. Oxidative Stress and Antioxidants in Male Infertility: a Difficult Balance. Iranian Journal of Reproductive Medicine, 1(3): 1-8

______. 2005. Mechanism, Measurement, and Prevention of Oxidative Stress in Male Reproductive Physiology. Indian Journal of Experimental Biology, (43): 963-74

Agarwal A., Prabakaran S. A., Said T. M. 2005. Prevention of Oxidative Stress Minireview: Injury to Sperm. Journal of Andrology, 6(26): 654-60

Agarwal A., Prabakaran S. A., Sikka S. C. 2007. Clinical Relevance of Oxidative Stress in Patients with Male Factor Infertility: Evidence-Based Analysis. AUA Update Series. 1(26): 1-11

Agarwal S., Rao A. V. 2000. Tomato Lycopene and Its Role in Human Health and Chronic Diseases. Can Med Assoc J., 163:739–44

Aitken R. J., Ryan A. L., Baker M. A., McLaughlin E. A. 2004. Redox Activity Associated with the Maturation and Capacitation of Mammalian Spermatozoa.

Free Radic Biol Med., 36:994–1010

Allamaneni S. S., Naughton C. K., Sharma R. K., Thomas A. J. Jr., Agarwal A. 2004. Increased Seminal Reactive Oxygen Species Levels in Patients with Varicoceles Correlate with Varicocele Grade but Not with Testis Size. Fertil Steril,82: 1684–6

Alvarez J. G. 2003. Nurture vs Nature: How Can We Optimize Sperm Quality?

Journal of Andrology, 5(24): 640

Anonymous. 2001. Spermatogenesis.

www.faculty.sunydutchess.edu/scala/Bio102/pdf/Spermatogenesis.jpg, 20 Oktober 2007

Anonymous. 2003. Radikal Bebas, Penyebab Infertilitas Pria.

(32)

62

Anonymous. 2004. Male Reproductive System.

http://anatomy.iupui.edu/courses/histo.D502-D502f04-Protective Role of Lycopene on Cisplatin-induced Changes in Sperm Characteristics, Testicular Damage and Oxidative Stress. Reprod Toxicol., 21(1): 42-7

Aucky Hinting. 2001. Studi Protokol Penatalaksanaan dan Efektivitas

Pengobatan Infertilitas Pria.

http://www.pusdiknakes.or.id/news/iptek.php3?id=5, 2 Mei 2007

BKKBN. 2004. Berbagai Upaya Mengatasi Infertilitas Kaum Pria.

http://www.bkkbn.go.id, 19 April 2007

Boekelheide K. 2005. Mechanisms of Toxic Damage to Spermatogenesis. JNCI

Monograph, (34): 6-8

Canene-Adams K., Campbell J. K., Zaripheh S., Jeffery E. H., Erdman J. W. Jr. 2005. The Tomato As a Functional Food. J. Nutr. 135: 1226–1230

Carlsen E., Giwercman A., Keiding N et al. 1992. Evidence for Decreasing Quality of Semen During Past 50 Years. Bmj, 305: 609

(33)

63

Universitas Kristen Maranatha

Embryology.ch. 2007. Spermatogenesis.

http://www.embryology.ch/anglais/cgametogen/spermato03.html, 20 oktober 2007

Fritzgerald P. A. 2002. Hormon-hormon Hipotalamus dan Pituitari. Dalam B. G. Katzung ed.: Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi 1. Jilid 2. Jakarta : Fertility. Asian J Androl, 6:59–65

Giwercman A. Carlsen E, Keiding N et al. 1993. Evidence for Increasing

Gupta N. P. and Kumar R. 2002. Lycopene Therapy in Idiopathic Male Infertility-a PreliminInfertility-ary Report. Int Urol Nephrol, 34(3): 369-72

Guyton A. C. and Hall J. E. 1997. Fisiologi Reproduksi dan Hormonal Pria (dan Kelenjar Pineal). Dalam A. C. Guyton and J. E. Hall eds.: Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC. Hal 1265-8, 1274-5

Hermawanto H. H., Hadiwidjaja D. B. 2002. Analisis sperma pada infertilitas pria. http://www.medika.co.id/arsip/102002/pus-3.htm, 9 Mei 2007.

IPTEKnet. 2005. Tomat.

(34)

64

Katzung B. G. 1998. Kemoterapi Kanker. Dalam: Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi 4. Hal 864-865

Martini F. H. 2004. The Reproductive System. In Martini F. H. Ed. :

Fundamentals of Anatomy & Physiology. 6th edition. San Fransisco: Pearson Education International. P. 1048-63

MDidea. 2007. Lycopene.

http://www.mdidea.com/products/herbextract/lycopene/data.html, 29 April 2007

Nurwitri. 2007. Kemandulan Belum Tentu Disebabkan oleh Isteri. http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/pria/artikel03-4I.html, 2 Mei 2007

Paget G. E. and Barnes J. M. 1964. Toxicity Test in Evaluation of Drug Activities Pharmacometrics. 1st ed. London and New York: Academic Press. P. 161-162

Rubenstein J. And Brannigan R. E. 2005. Male Infertility.

www.emedicine.com/male_ infertility, 23 Oktober 2007

Sawhney P., Giammona C. J., Meistrich M. L., Richburg J. H. 2005. Cisplatin-Induced Long-term Failure of Spermatogenesis in Adult C57/Bl/6J Mice.

Journal of Andrology, 1(26)

http://www.andrologyjournal.org/cgi/content/full/26/1/136

Shi J., Kakuda Y., Yeung D. 2004. Antioxidative Properties of Lycopene and Other Carotenoids from Tomatoes: Synergistic Effects. IOS Press. 1-4(21): 203-210

The Free Dictionary. 2007. Spermatozoon.

(35)

65

Universitas Kristen Maranatha

The George Mateljan Foundation. 2007. Tomatoes.

http://www.whfoods.com/genpage.php?tname=foodspice&dbid=44, 1 Mei 2007

Tonucci L., Holden J., Beecher G., Khackik F., Davis C. Mulokozi G. 1995. Carotenoid Content of Thermally Processed Tomato-based Food Products. J. Agric. Food Chem. 43: 579–586

USDA National Nutrient Database for Standard Reference. 2005. Tomato. http://www.nal.usda.gov, 1 Mei 2007

______. 2006. Tomato. http://www.nal.usda.gov, 1 Mei 2007

USDA Nutrient Data Bank. 2004. Tomato. http://www.nal.usda.gov, 1 Mei 2007

Vander A. J., Sherman J. H., Luciano D. S. 1990. Section A-Male Reproductive Physiology. In: Human Physiology. 5th ed. Caledonia: York Graphic Services Inc. P. 604-14

Wagner E. 2005. LE Magazine: What’s Missing from Multi-Vitamin

Supplements?.

http://www.lef.org/magazine/mag2005/jan2005_report_multi_03.htm, 1 Mei 2007

Weisburger J. H. 2002. Lycopene and Tomato Products in Health Promotion. Exp Biol Med., 227: 924-27

WHO. 1988. Penuntun Laboratorium WHO untuk Pemeriksaan Semen Manusia dan Interaksi Sperma-Getah Serviks. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal. 3-17, 32, 36

______. 1992. WHO Laboratory Manual for the Examination of Human Semen

and Semen-Cervical Mucus Interaction. 3rd ed. Cambridge: Cambridge

University Press. P. 1-20

Wikipedia. 2007. Cisplatin. http://en.wikipedia.org/wiki/Cisplatin, 1 Mei 2007

______. 2007. Tomato. http://en.wikipedia.org/wiki/tomato, 29 April 2007

(36)

66

Wildan Yatim. 1994. Reproduksi & Embriologi untuk Mahasiswa Biologi & Kedokteran. Edisi 3. Bandung: Penerbit Tarsito. Hal. 28-43

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...