• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI LAHAN DAERAH TANGKAPAN HUJAN DA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EVALUASI LAHAN DAERAH TANGKAPAN HUJAN DA"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

EVALUASI LAHAN DAERAH TANGKAPAN HUJAN DANAU TOBA SEBAGAI DASAR PERENCANAAN TATA GUNA LAHAN

UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

M A K A L A H

INGRID OVIE YOSEPHINE 12/342332/PPN/03771

ILMU TANAH

SEKOLAH PASCASARJANA PROGRAM STUDI ILMU TANAH

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GAJAH MADA

YOGYAKARTA 2014

EVALUASI LAHAN DAERAH TANGKAPAN HUJAN DANAU TOBA SEBAGAI DASAR PERENCANAAN TATA GUNA LAHAN

(2)

PENDAHULUAN

Danau Toba dengan luas permukaan 800 kilometer persegi merupakan danau terluas di Asia. Dengan cepatnya pembukaan lahan untuk pertanian dan hutan tanaman industri, berpotensi untuk terjadinya konflik penggunaan lahan. Oleh sebab itu diperlukan evaluasi lahan agar pengembangan lahan dan manajemen hutan dapat berjalan dengan baik

Pengembangan lahan merupakan proses penting dalam perubahan suatu penggunaan lahan ke penggunaan lainnya. Batasan pengembangan lahan sangat luas karena termasuk di dalamnya beberapa kegiatan seperti konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian intensif dan pemukiman. Dewberry (1996) menyatakan bahwa desain pengembangan lahan merupakan proses sistematik dari pengumpulan data, studi, ekstrapolasi data dan analisis agar didapatkan hasil yang lebih baik.

Evaluasi lahan merupakan suatu proses analisis untuk mengetahui potensi lahan untuk penggunaan tertentu yang berguna untuk membantu perencanaan penggunaan dan pengelolaan lahan. Evaluasi lahan meliputi interpretasi data fisik kimia tanah, potensi penggunaan lahan sekarang dan sebelumnya (Jones et al., 1990), yang bertujuan untuk memecahkan masalah jangka panjang terhadap penurunan kualitas lahan yang disebabkan oleh pengunaannya saat ini, memperhitungkan dampak penggunaan lahan, merumuskan alternatif penggunaan lahan dan mendapatkan cara pengelolaan yang lebih baik (Sys, 1985; Rossiter, 1994).

(3)

biologi sosial dan ekonomi yang mempengaruhi kepututusan perencanaan penggunaan lahan dengan mempertimbangkan kerusakan lingkungan dan konservasi lahan.

Konservasi lahan tidaklah bermaksud untuk tidak menggunakan lahan tetapi memanfaatkan lahan sebaik mungkin sehingga resiko terhadap kerusakan lahan seminimal mungkin (Margules and Pressey, 2000). Penggunaan lahan tanpa memperhatikan faktor kerusakan lingkungan akan menyebabkan kehilangan hutan, pertukaran iklim, erosi tanah dan banjir (Pearce, 2000).

Saat ini pembangunan berkelanjutan sudah menjadi konsep dasar untuk pengelolaan lahan baik lahan pertanian, kehutanan dan pemukiman agar diperoleh kualitas hidup yang lebih baik (TAG, 1988), walaupun metoda tentang pembangunan berkelanjutan tersebut belum sepenuhnya difahami (Fresco et al., 1994).

Menurut Tzschupke (1998), kata berkelanjutan (Sustainability) pertama sekali ditulis oleh seorang Jerman Hanns von Carlowiz dalam “Sylvicultura oeconomica” pada tahun 1713 yang beberapa dekade kemudian menjadi dasar manajemen sumberdaya alam. Sekarang ini pengertian berkelanjutan mengikuti batasan yang dibuat oleh Bruntland Commission dalam laporannya kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yaitu Pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kebutuhan generasi yang akan datang.

(4)

Konsep lahan haruslah tidak disamakan dengan tanah. Dalam pengertian lahan sudah termasuk tanah dengan segala sifat-sifatnya serta keadaan lingkungan sekitarnya. Jika sifat-sifat tersebut sama dalam segala aspek dikatakan unitlahan(Drissen and Koninj, 1992). Unit lahan ini biasanya dipetakan dengan karakteristik yang spesifik dan merupakan dasar untuk mengevaluasi lahan (FAO, 1976; 1983).

Tujuan utama mendefenisikan unit lahan adalah agar diperoleh hasil maksimal dalam penilaian kesesuaian lahan untuk penggunaan tertentu dan mendapatkan cara yang tepat dalam pengelolaannya (FAO, 1983). Untuk mendeskripsikan unit lahan haruslah merujuk kepada karakteristik lahan seperti kemiringan lahan, ketersediaan air dan sifat-sifat fisik dan kimia tanah (Nasution, 1989).

Menurut FAO (1985) perencanaan penggunaan lahan merupakan penilaian yang sistematik terhadap lahan untuk mendapatkan alternatif penggunaan lahan dan memperoleh opsi yang terbaik dalam memanfaatkan lahan agar terpenuhi kebutuhan manusia dengan tetap menjaga agar lahan tetap dapat digunakan pada masa yang akan datang. Sedangkan evaluasi lahan merupakan penilaian terhadap lahan untuk penggunaan tertentu.

2.1.Konsep Dasar dan Perkembangan Evaluasi Lahan

(5)

evaluasi lahan untuk pertanian memerlukan ahli dalam bidang tanah, agronomi, hidrologi, biologi dan ekologi yang dibentuk menjadi satu tim yang akan mengambil keputusan dalam menentukan kesesuaian lahan (Nasution, 2003).Hasil dari evaluasi lahan merupakan dasar bagi pengambil keputusan untuk menetapkan penggunaan lahan dan pengelolaan (management) yang dperlukan.

Kesesuaian lahan untuk penggunaan tertentu biasanya dievaluasi dengan menggunakan karakteristik lahan atau kualitas lahan. Karakteristik lahan merupakan kelengkapan lahan itu sendiri, yang dapat dihitung atau diperkirakan seperti curah hujan, tekstur tanah dan ketersediaan air, sedangkan kualitas lahan lebih merupakan sifat tanah yang lebih kompleks, seperti kesesuaian kelembaban tanah, ketahanan terhadap erosi dan bahaya banjir (FAO, 1977).

Beberapa sistem evaluasi lahan (Klingebiel and Montgomery, 1976; Chan et al., 1975) menyarankan klasifikasi berdasarkan jumlah dan tingkat keragaman dan faktor penghambat produksi. The FAO Framework for Land Evaluation tidak dimaksudkan untuk mengevaluasi lahan secara parametrik (Purnell, 1977). Hal ini disebabkan oleh kesulitan untuk mendapatkan kesepakatan terhadap kriteria yang akan digunakan dalam evaluasi, tetapi bukan berarti FAO Framework tidak dapat digunakan untuk pendekatan parametriks hanya perlu pengembangan pada parameter yang akan digunakan.

Keunggulan sistem parametriks ini tidak saja menghitung klas kesesuaian lahan berdasarkan sifat-sifat tanah saja akan tetapi memperhitungkan seluruh faktor iklim dan memetakannya dalam satu peta kesesuaian lahan.

(6)

Kelembaban udara dan 4) Sinar mata hari. Untuk menghitung indeks iklim digunakan persamaan:

dengan: CI = indeks iklim

Ri = rating ke dari karakteristik iklim k = jumlah karakteristik iklim

Π = simbol matematika untuk perkalian.

Indeks yang diperoleh dikonversikan ke dalam seluruh rating iklim dengan persamaan empiris (Nasution, 2003): CR = 13,999 + 0,897 CI r = 0,99. Nilai inilah yang digunakan untuk evaluasi lahan dengan menggabungkannya dengan indeks lahan.

Metoda yang digunakan untuk mengevaluasi lahan untuk penggunaan tertentu telah mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan keilmuandan analisis terhadap hasil dari evaluasi itu sendiri.

Sejak tahun 1930-an Storie telah membuat penilaian terhadap lahan untuk pengembangan pertanian (Storie, 1954). Konsep dasar dari penilaian ini didasarkan pada perkalian karakteristik lahan yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman yang dihitung dalam persen. Penilaian ini dinamakan SIR (Storie Index Rating) dengan persamaan :

SIR = A x B x C

(7)

B = tekstur permukaan tanah

C = faktor-faktor yang mempengaruhi (seperti drainase, kemiringan lahan dan kemasaman tanah

Ablaiter (1937) telah mengemukakan suatu alternatif untuk mengevaluasi lahan secara parametriks. Beliau mengelompokkan tanah menjadi 10 kelompok berdasarkan indeks tanaman. Standar penilaian diberikan nilai 100 untuk lahan-lahan yang sangat produktif untuk hasil tanaman tertentu. Kemudian lahan yang dinilai didasarkan atas hasilnya dalam persen terhadap standar hasil yang mungkin diperoleh secara maksimal.

Selanjutnya Fitzpatrick (1937) menilai tanah untuk tanaman tertentu menurut hasil (produksi). Produksi rata-rata tahunan tertinggi diberi nilai 100 dan yang gagal panen dinilai 0, dari sini persamaan linier sederhana digunakan untuk mengkonversi nilai lahan yang dievalusi.

(8)

mengembangkan Indeks Produksi berdasarkan atas formula perkalian yang sederhana dari data percobaan di lapangan. Formula ini dikembangkan atas dasar asumsi ciri sifat fisik tanah yang sangat mempengaruhi produktifitas yaitu: tekstur, ke dalam tanah dan kondisi drainase. Sedangkan Blagovidove (1960) menghasilkan tabel evalusi produksi dimana penilaian berdasarkan penjumlahan dari nilai sifat tanah.

Storie (1964) mengklasifikasikan lahan menurut kesesuaiannya untuk pertanian beririgasi ke dalam 6 tingkatan (I s/d VI) dengan menggunakan Storie Rating Index dengan menghitung 10 (sepuluh) karakteristik tanah yang terpenting yaitu: kedalaman tanah, permeabilitasprofil tanah, tekstur, kemiringan, drainase, kegaraman atau alkalinitas, pH, kondisi erosi, nutrisi tanah dan relif mikro.

Riquier et al.(1970) mengusulkan suatu indeks untuk produktifitas tanah dengan hanya mempertimbangkan 9 karakteristik tanah yaitu kedalaman efektif tanah, tekstur dan struktur tanah, kejenuhan basa, kelarutan garam-garam, kandungan bahan organik, kapasitas tukar kation mineral liat, cadangan mineral, drainase dan kelembaban tanah.

(9)

klasifikasi tanah, yang didasarkan atas diagnosa terhadap karakteristik tanah, klasifikasi tanah dan dapat digunakan untuk memprakirakan indek produksi. Kedua model ini telah menggunakan model “multiple regression” untuk memprakirakan hasil atauproduksi tanaman.

Dalam sistem parametriks, kriteria diagnosa dinilai secara numerik dan klasifikasi kesesuaian lahan didapatkan dengan perhitungan matematika (Require and Schwarz, 1972). Bertentangan dengan pendapat Purnell, pendekatan parametriks telah sukses digunakan untuk mengevaluasi lahan untuk pertanian secara umum (Requer et al., 1970) termasuk pengembangannya di daerah arid dan semi arid (Sys and Verheye, 1972) dan telah dicobakan untuk daerah tropika (Sys nad Fankart, 1972; Sys, 1978, Nasution, 1989; Nasution 2003).

2.2.Prinsip-prinsip Evaluasi Lahan

Dasar prinsip dari kerangka kerja evalusi lahan adalah : 1) Kesesuaian lahan dinilai dan diklasifikasikan sesuai dengan penggunaan lahan yang direncanakan, 2) Evaluasi memerlukan suatu perbandingan antara keuntungan yang akan diperoleh dan masukan yang diberikan terhadap lahan, 3) Pendekatan multi disiplin 4) Evalusi dilaksanakan dengan pertimbangan berbagai faktor fisik, kimia tanah, ekonomi dan sosial, 5) Kesesuaian telah memperhitungkan keberlanjutan penggunaan lahan dan 6) Evaluasi meliputi berbagai pilihan penggunaan lahan

2.3.Struktur Klasifikasi Kesesuaian Lahan

(10)

menunjukkan tingkat kesesuaian dalam ordo, 3) Sub klas kesesuaianmenunjukkan faktor pembatas yang ada pada lahan tersebut dan merupakan faktor yang harus dikelola dan 4) Unit kesesuaian lahan, menunjukkan perbedaan-perbedaan kecil dalam sub klas terutama berdasakan manajemen yang diperlukan.

Ordo kesesuaian tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu Sesuai (S) dan Tidak sesuai (N). Walaupun tidak ada pembatasan terhadap jumlah klas dalam satu ordo, telah direkomendasikan hanya menggunakan tiga klas untuk “S” dan dua klas untuk “N” (FAO, 1976; Mc Rae and Burnham, 1981; Drissen and Koninj, 1992). Struktur klasifikasi ini seperti tertera pada Tabel 1.

S1 S2m S2e-1 S (Sesuai) S2 S2e S2e-2

S3 S2me Etc Etc

N1m N (Tidak Sesuai) N1 N1e

dll N2

(11)

sesuai): adalah satuan lahan dengan tanpa, atau hanya tiga sampai empat faktor pembatas ”ringan”, Indeks lahan biasanya > 75. S2 (Kesesuaian sedang): satuan lahan dengan lebih dari empat faktor pembatas ”ringan”; dan atau lebih dari saru sampai tiga faktor pembatas ”sedang”; Nilai Indeks lahan antara 50 dan 75. S3 (Kesesuaian marginal): Satuanlahan dengan lebih dari dua sampai tiga faktor pembatas ”sedang” dan/atau tidak terdapat faktor pembatas ”berat” sehingga lahan masih dapat digunakan. Nilai Indeks lahan antara 25 dan 50.

Ordo N (tidak sesuai): satuan lahan dengan beberapa faktor pembatas ”berat” dan/atau mempunyai satu faktor pembatas ”sangat berat” sehingga lahan tidak dapat dimanfaatkan. Nilai Indeks lahan < 25. Satuan lahan ini mempunyai dua Klas yaitu N1: satuan lahan yang masih dapat digunakan setelah perbaikan (diberikan beberapa Input) dan N2: satuan lahan yang tidak dapat dimanfaatkan lagi walaupun telah dilakukan perbaikan.

Tabel 2 menunjukkan Ordo, Sub Ordo dan Klas kesesuaian lahan berdasarkan jumah dan tingkat faktor pembatas.

(12)

Untuk evaluasi karakteristik lahan pada pendekatan parametrik, perhitungan indeks lahan dari maksimum (100) ke minimum (0). Indeks lahan ini dihitung dari setiap parameter kualitas/karakteristik lahan yang menjadi parameter evaluasi. Idealnya penilaian harus menunjukkan keadaan optimal dalam persen. Hubungan antara faktor pembatas dan nilai lahan seperti tertera pada Tabel 3. Tabel 3. Tingkat Faktor Pembatas dan Nilai Lahan

Simbol Intensitas Pembatas Nilai

Nilai ini diinterpolasi dari suatu skala yang dibuat dari tabel kebutuhan tanaman atau suatu hal yang akan dievaluasi. Interpolasi linier sederhana digunakan untuk menghitung nilai karakteristik/kualitas lahan berdasarkan Tabel kebutuhan tersebut. Indeks lahan dihitung dari setiap parameter. Nilai iklim yang telah dihitung sebelumnya dimasukkan ke dalam sistem perhitungan. Indeks lahan dihitung sesuai persamaan (Nasution, 1989):

dengan:

(13)

Rmin = Nilai minimal karakteristik lahan (termasuk nilai iklim secara keseluruhan).

Ri = rating ke i selain rating minimal Π = simbol matematik untuk perkalian.

Perkalian 0,01 untuk menjadikan keseluruhan nilai dalam persen.

Evaluasi lahan dengan pendekatan parametrik dilaksanakan dengan asumsi-asumsi sebagai berikut: 1) Jumlah karakteristik/kualitas lahan harus dibuat seminimum mungkin untuk menghindari pengulangan dari karakteristik yang ada kaitannya, sehingga menurunkan nilai indeks lahan. 2) Karakteristik/ kualitas lahan yang penting dinilai dalam rentang yang luas (misalnya 100 sampai 20), yang kurang penting lebih sempit (misalnya 100 sampai 60). 3) Nilai 100 dipakai untuk karakteristik yang terbaik. 4) Harus dipertimbangkan nilai horizon tanah dengan memberi nilai lebih besar terhadap horizon yang dekat ke permukaan

Kedalaman tanah harus dipertimbangkan sesuai dengan kedalaman perakaran yang normal. Untuk Pinus merkusiidan Eucalyptus misalnya 4 bagian ke dalam tanah untuk setiap 20 cm dengan koreksi indeks 1,75 – 1,25 – 0,75 – 0,25. Untuk padi, jagung dan bawang merah koreksi terhadap kedalaman tanah memakai indeks 1,2 dan 0,8. Gambar 1 menunjukkan Bagan alir dari metodologi evaluasi lahan.

(14)

Gambar 1. Diagram Alir Metode Evaluasi Lahan

2.5.Klas Kesesuaian Lahan

Klas kesesuaian lahan diklasifikasikan berdasarkan indeks lahan dengan mempertimbangkan produksi yang umum didapatkan pada jenis tanah yang sama. Hasil optimal merupakan produksi yang diperoleh pada lahan yang baik dengan manajemen yang memadai seperti pusat-pusat penelitian. Untuk padi misalnya produksi optimum pada 7 ton/ha, sedangkan marginal produksi diperoleh dari nilai produksi yang biaya produksinya sama dengan hasil yang diperoleh atau hanya untung sedikit saja.

3. Kesesuaian Iklim dan Lahan untuk Beberapa Tanaman Utama di Daerah Tangkapan Hujan Danau Toba

Karakteristik / Kualitas Lahan

Kebutuhan tanaman (tanah dan landskap)

Nilai

Indeks Lahan

Agro-Klimatik

Indeks iklim

Nilai suatu faktor iklim

Tingkat pembatas

(15)

Tanaman yang dihitung kesesuaiannya di daerah tangkapan hujan Danau Toba terdiri dari tanaman padi dan jagung untuk pewakil tanaman pangan, bawang merah untuk tanaman hortikultura, pinus dan eukaliptus untuk tanaman kehutanan. Pemilihan pewakil ini didasarkan kepada tanaman utama dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi di daerah tersebut.

3.1. Daerah Iklim dan Kesesuaian Iklim

Daerah tangkapan hujan Danau Toba jika dihitung berdasarkan metoda Thiessen, dapat dilihat pada Tabel 4 dan Gambar 2. Pembagian ini berdasarkan atas curah hujan.

Tabel 4. Rerata Curah Hujan dan Luas Daerah Hujan Daerah Tangkapan Hujan Danau Toba Berdasarkan Metode Thiessen

2 Dolok Sanggul 1,807.20 14.5 125 24.785

3 Balige 934,44 10.2 92 27.064

10 Aek Nauli 2,341.2 15.7 149 2,728

11 Situnggaling 1.908 13.9 137 19.764

Total 259,594

(16)

Gambar 2. Daerah Curah Hujan Berdasarkan Metode Thiessen

Tabel 5 menunjukkan kesesuaian iklim untuk pertumbuhan padi, jagung, bawang merah, pinus dan eukaliptus.

Pangururan S3 S3 N1 S1 S2 S1

Mogang S3 S3 S3 N1 S2 S1

Ambarita S3 S3 S3 S1 S2 S1

Parapat S3 S3 S3 S1 S2 S1

Sidamanik S3 S3 S3 S1 S1 S1

Aek Nauli S3 S3 N1 S1 S3 S2

Situnggaling S3 S3 S3 N1 S2 S1

Mt1 : Musim tanam pertama Mt2 : Musim tanam kedua

(17)

Dari hasil perhitungan ini dapat dilihat bahwa iklim di Daerah Tangkap Air (DTA), Danau Toba hanya marginal untuk pertanaman padi. Jagung baik dikembangkan di Siborong-borong dan Dolok Sanggul, sedangkan untuk bawang merah baik dikembangkan di Pangururan, Ambarita dan Parapat, sedangkan untuk pinus dan eukaliptus dapat dikembangkan di seluruh areal DTA Danau Toba.

3 .2. Tanah, Kesesuaian Lahan dan Pengelolaan yang diperlukan.

Taksonomi tanah di daerah DTA Danau Toba terdiri dari dari 14 (empat belas)Great Group yang terletak pada 33 satuan lahan seperti tertera pada Gambar 3 dan Tabel 6.

(18)

No Great Group Tanah Luas

Pada Tabel 6 dapat diketahui bahwa di DTA Danau Toba terdapat tanah yang sangat subur yaitu tanah Hapludalf (Alfisols), namun hanya seluas 1 persen dan itupun terhampar pada daerah dengan kemiringan 30–75 persen.

Kesesuaian lahan untuk masing-masing unit lahan seperti tertera pada tabel 7. Dari tabel 7 tersebut dapat dilihat di DTA Danau Toba perlu diterapkan teknologi pertanian modern untuk meningkatkan produksi. Teknologi minimal yang harus dilaksanakan termasuk pemupukan yang berimbang, pemberantasan hama dan penyakit dan konservasi lahan.

(19)

Tabel 7. Ringkasan Kesesuaian Lahan untuk Padi, Jagung, Bawang Merah, Pinus, dan Eukalyptus Di Daerah Tangkapan Air Danau Toba.

(20)

Tabel 8. Pengelolaan Lahan yang diperlukan untuk Padi, Jagung, Bawang Merah, Pinus, dan Eukalyptus

(21)

DAFTAR PUSTAKA

Ableaiter, J.K. (1937). Productivity ratings in the soil survey report. Proc.Soil Sci. Am.2, 415-422.

Allgood, F.P. & F. Gray. (1978). Utilization of soil characteristics in computing productivity ratings of Oklahoma soil. J. Soil Sci.123,359-366.

Bacon Francis (1620).Novum Organum Chicago: Open Court, 1994 dalam Donald B Calne : Batas Nalar. Rasionalitas dan Prilaku Manusia. Kepustakaan Populer Gramedia, 2004.

Blagovidove, N.L. (1960). Principles of soil and land evaluation. Trans. 7th Int. Cong. Soil Sci.vol. 4, 457-464.

Dewbery, S.O. (1996). Introduction. In Land development Handbook. Planning, Engineering, and Surveying.(Dewberry, O.S, 1996., ed). New York. Mc Graw-Hill. 1013p.

Driessen, P.M. & Konijn, N.T. (1992). Land-use Sysytems Analysis. The Netherland. Wageningen Agricultural University. 230 p. Clarke, G.R. (1950). Productivity ratings. Trans.4thInt. Cong.Soil Sci. vol. 1,345-348. FAO. ( 1976). A Framework for land evaluation. FAO Soil Bulletin, 32. Rome.

FAO 79 p.

FAO. (1977). Guidelines for soil profile description (2nd edition). Soil Resources Development and Conservation Service. Rome. Land and Water Devlopment Division. FAO of the United Nations. 66 p.

FAO. (1983). Guidelines:Land evaluation for Rainfed Agriculture. FAO Soil Bull. No 52.Food and Aagric. Rome. Organization of the United Nation. 273 p. FAO. (1985 ) Guidelines: Land evaluation for irrigated agriculture. FAO Soils

Bulletin 55. Rome. FAO of the United Nations. 231 p.

Fitzpatrick, E.G. (1937). Land utilization in relation to soil rating. Soil. Sci. Proc. Am., 483-487.

Fresco, O.L., Herman, G.J.H. Van kenlen, H. Henk, A.L & Robert, A.S. (1994). Land evaluation and farming systems analysis for land use planning. Rome. FAO Working Document. 209 p.

(22)

Leuschner, W.A. (1984). Introduction to forest resource management. New York, Chichester, Brisbane, Toronto, Singapore. John Willey & Sons.

Margules. C.R. & Pressey, R.L (2000). Systematic conservation planning. Nature. Vol 405. p 243-253.

Mitchell, J. (1950). Productivity ratings and their importance in the soil survey report. Trans. 4th Int. Cong. Soil Sci. vol. 1 356-360. 25

Nasution, Zulkifli (1989). Evaluatie van Enkele Typische Bodems van de Aceh Provincie voor Rijst. Rijsuniversiteit Gent. Belgie.

Nasution, Zulkifli (2003). Land and Forest Management in the Lake Toba Catchment Area.Universiti Sains Malaysia.

Pearce, F. (2000). Poverty and corruption are rapidly destroying the great tropical forests. Setting up reserves will only rescue a few fragments. Could farming and mining prove the real saviour. New Scientist No. 2242 p 16-17.

Purnell, M. F. (1977). Introduction to the framework for land evaluation. Proc. CLAMATROPS Conf. Kuala Lumpur. Mal. Soc. Soil. Sci., pp. 585-593. Riquier, J., Bramo D. L & Cornet, J. P. (1970). A new system of soil appraisal in

terms of actual and potential productivity.Rome, Italy. FAO. AGL. TESR/70/6.

Riquier, J. & Schwaar, D. C. (1972). Parametric approach to evaluation of soil productivity. The 2ndASEAN Soil Conf. Proceedings. Bogor. Vol 1 The Soil Res. Inst. p. 317-328.

Riquier, J. (1974). A summary of parametric methods of soil and land evaluation. FAO Sumatra and Bali. Arch. Hydrobiol. Suppl. 8: 197-454.

Rossiter, D.G. (1994). Land evaluation lecture notes. Adapted from: Lecture Notes: “Land Evaluation”. College of Agriculture & Life Sciences. Department of Soil. Crop,& Atmospheric sciences.

http://wwwscas.cit.cornell.edu/landeval/le_notes/ lecnot.htm p. 14. Storie, R. E & Wieslander, A.E. (1948). Rating soils for timber siter. Proc. Soil

Sci. Soc. Am. 13. 499-509.

Stroe, R. E. (1954). Land classification as used in California for the appraisal of land for taxation purposes. Trans. 5thInt. Cong. Soil. Sci. Vol. III, 407-12. Storie, R. E & Harradine, F. (1950). Soil survey data as a basis for the assessment

of irrigation district lands. Proc. Soil Sei. Soc. Am. 14, 327-329. Storie, R. E. (1964). Soil and land classification for irrigation development.

(23)

Sys, C. (1978b). The outlook for the practical application of land evaluation in developed countries. In Land evaluation standards for rainfed agriculture. FAO Rome. World Soil Resource Report 49, 97-111.

Sys, C. (1985). Land Evaluation. Part I to III. Intern. Train. Centre for Post-Graduate Soil Scientist. State University of Ghent, Belgium. 334 p.

Sys, C & Frankart, R. (1972). Land capability classification in humic tropics. Afr. Soils,XVI (3), 153-175.

TAG. (1988). Sustainable agriculture production for international agricultural research. Rome. TAG.

Gambar

Tabel 2 menunjukkan Ordo, Sub Ordo dan Klas kesesuaian lahan berdasarkan
Tabel 3. Tingkat Faktor Pembatas dan Nilai Lahan
Gambar 1. Diagram Alir Metode Evaluasi Lahan
Tabel 4. Rerata Curah Hujan dan Luas Daerah Hujan Daerah Tangkapan HujanDanau Toba Berdasarkan Metode Thiessen
+6

Referensi

Dokumen terkait

Menceritakan kepada kami, Abū al- Yamān, memberitakan kepada kami Syu’aeb dari al-Zuhrī, dia berkata: Muhammad bin Zubair bin Muţ’im menceritakan bahwa Mu’āwiyah

Pengobatan kanker payudara dengan metode pembedahan mempunyai kelemahan yaitu digunakan hanya sebatas pada kanker bersifat local, sementara efek radiasi dapat mampu merusak sel

Isolat dengan warna tersebut kemungkinan merupakan strain yang hipovirulen atau strain non patogenik karena daya virulensinya lebih rendah dari rata-rata virulensi

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa perlakuan level suhu pengovenan menunjukkan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap nilai

Djaelani (2016) melaporkan telur puyuh yang disimpan selama 17 hari pada suhu ruang maka kandungan lemak dan indeks kuning telur semakin menurun.. Belum ada informasi mengenai

〔最高裁民訴事例研究二九七〕 一、商法二〇三条二項所定の指定及

Khuluk dalam bahasa Arab ialah menanggalkan pakaian, dalam peristiwa ini artinya melepaskan kekuasaannya sebagai suami dan memberikan kepada isterinya dalam bentuk

Dengan adanya dukungan program dari pemerintah, kontribusi komoditas kelapa sawit di Indonesia serta dalam rangka pengembangan komoditas tersebut, maka penelitian diarahkan