contoh penelitian psikologi kuantitatif dalam

28 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dijelaskan latar belakang dari tema yang mencangkup paparan fenomena yang terjadi serta hasil survey yang terkait dengan tema kedisiplinan kerja pada organisasi, juga perumusan dan pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.

1.1 .Latar Belakang

Organisasi dikenal sebagai tempat utuk menempa diri individu untuk meningkatkan kapasitas soft skill yang nantinya akan sangat berguna untuk kehidupan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, individu yang tergabung dalam lingkaran organisasi dituntut tidak hanya melaksanakan job-description yang diemban, namun juga dituntut untuk lebih kreatif dalam mengembangkan program yang dibuat. Sukses tidaknya seorang individu dlam sepak terjangnya dalam berorganisasi sangat dipengaruhi oleh kinerja nya yang apik atau tidak, kemauan , kedisiplinan, maupun kerjasama dengan individu lain dalam organisasi.

Kebutuhan akan kerjasama merupakan salah satu hal pokok dalam perikehidupan manusia untuk mencapai apa yang di inginkan, fitrah dari manuia sendiri yang memang makhluk sosial tidak bisa terlepas dari sesamanya. Untuk mencapai hasil yang di inginkan, dalam rangkaian kerjasama hendaknya dibarengi dengan kedisiplinan yang tinggi, kedisiplinan penting terutama untuk mempercepat pencapaian suatu target yang telah ditetapkan bersama dalam ranah organisasi.

(2)

masalah, namun jika kebanyakan anggota beranggapan seperti itu, akan menjadi masalah besar bagi perjalanan organisasi.

Apalagi ditambah tidak adanya penyaringan ketat serta bekal kepemimpinan dari anggota baru yang masuk, akan menambah beban bagi organisasi itu sendiri kedepannya, bukan tidak mungkin kedepan organisasi yang tidak melakukan perombakan terhadap sistem pemilihan dan pengkaderan yang kebanyakan berlaku seperti itu akan mengalami kemunduran, bahkan yang lebih fatal, kemandegan.

Survei yang dilakukan oleh Utami (2013) terhadap organisasi mahaisiswa pecinta alam mengungkapkan bahwa ada berbagai macam alasan yang diungkapkan atas kedisiplinan kerja, ada yang beralasan karena perintah ketua merupakan suatu beban yang memberatkan sehingga mereka tidak dapat mematuhi, ada pula yang beranggapan bahwa pemimpin dalam organisasi tersebut kurang memiliki sifat demokratis, kurang bertanggung jawab terhadap jalannya suatu kegiatan dan menyerahkan sepenuhnya semua keputusan kepada anggota-anggotanya. Hal ini berdampak kepada tidak disiplinnya anggota organisasi dalam menjalankan tugas-tugas yang di pasrahkan kepada mereka, akhirnya, alih-alih mengerjakan tugas yang menjadi tanggung jawab , mereka lebih memilih online di jejaring sosial daripada menyelesaikan tugasnya.

Untuk mengatasi probematika tersebut, salah satu cara awal yang bisa ditempuh dari sisi internal organisasi adalah mengubah pola pikir dan menggenjot kedisiplinan bagi setiap anggota yang terlibat. Anggota organisasi perlu didisiplinkan supaya mereka bisa melaksanakan tugas yang dibebankan kepada mereka secara lebih optimal.

(3)

Sedangkan menurut Asmiarsih (2006) Disiplin merupakan suatu kekuatan yang berkembang di dalam tubuh individu sendiri yang menyebabkan dia dapat menyesuaikan diri dengan sukarela kepada keputusan-keputusan, peraturan-peraturan, dan nilai-nilai tinggi dari pekerjaan dan tingkah laku.

Ketika sikap disiplin dalam organisasi telah mengakar, akan mempermudah bagi setiap anggota dalam melaksanakan tugas dan program yang telah direncanakan sebelumnya. Selain itu, akan lebih mudah bagi organisasi itu sendiri untuk berkembang karena dukungan internal yang mempunyai kedisiplinan yang tinggi.

Berdasarkan pemaparan tentang permasalahan organisasi di atas, peneliti tertarik untuk melaksanakan survei terhadap organisasi, target penelitian kali ini adalah organisasi Karang Taruna yang berada di desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara dalam hal kedisiplinan anggota-anggotanya terhadap tugas dan program yang di canangkan.

1.2 Perumusan dan Pembatasan Masalah 1.2.1 Perumusan Masalah

Perumusan masalah yang akan diteliti pada penelitian ini adalah :

“Mengetahui tingkat kedisiplinan pada pelaku organisasi Karang Taruna Desa Daren, Kecamatan, Nalumsari, Kabupaten Jepara Jawa Tengah.”

Sedangkan Perumusan masalah yang akan diteliti lebih lanjut adalah :

a. Mengetahui tingkat kedisiplinan anggota organisasi Karang Taruna Desa Daren dari umur anggota

b. Mengetahui tingkat kedisiplinan anggota organisasi Karang Taruna desa Daren dari jenis kelamin anggota

(4)

1.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.2.1 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kedisiplinan anggota rganisasi Karang Taruna Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara yang di bedakan dari umur, jenis kelamin, serta tingkat pendidikan anggota.

1.2.2 Manfaat Penelitian

a. Manfaat secara teoritis

hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat terhadap ilmu dan pengembangan organisasi, khususnya mengenai tingkat kedisiplinan pada anggota organisasi Karang Taruna. Selain itu diharapkan juga dapa turut memperkaya hasil-hasil penelitian yang telah dilaksanakan sebelumnya.

b. Manfaat secara praktis

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak internal organisasi Karang Taruna atas kinerja anggotanya, sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu acuan bahan evaluasi kinerja anggota.

1.4 Sistematika Penulisan

BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini berisi urian latar belakang masaah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II : KAJIAN PUSTAKA

Pada bab ini berisi uraian teoritik variabel-variabel yang diteliti

(5)

Pada bab ini berisi uraian mengenal pendekatan dan metode penelitian, populasi dan sampel, teknik pengambilan sampel serta metode pengumpulan data.

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini berisi uraian mengenai hasil penelitian yang meliputi gambaran umum responden serta deskripsi data penelitian.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

(6)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Pada bab ini memaparkan teori yang digunakan dalam penelitian ini. Terdiri dari dua subbab yaitu teori kedisiplinan serta pengertian Karang Taruna.

2.1 Kedisiplinan

2.1.1 Pengertian kedisiplinan

Kata kedisiplinan berasal dari bahasa Latin yaitu discere, yang berarti belajar, dari kata dasar ini timbul kata disciplus yang berarti murid atau pelajar. Kata “Disciplina” merujuk kepada kegiatan belajar dan mengajar. Istilah bahasa inggrisnya yaitu Discipline. Dalam Mac Millan Dictionary diartikan :

a. tertib, taat, atau mengendalikan tingkah laku atau penguasaan diri, kendali diri;

b. latihan membentuk, meluruskan, atau menyempurnakan sesuatu sebagai kemampuan mental atau karakter moral;

c. hukuman yang diberikan untuk melatih atau memperbaiki; d. kumpulan atau sistem peraturan-peraturan bagi tingkah laku;

Sedangkan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007), menyatakan bahwa disiplin adalah:

a. Tata tertib (di tempat, di kantor, kemiliteran, dan sebagainya).

b. Ketaatan (kepatuhan) pada peraturan tata tertib.

c. Bidang studi yang memiliki objek dan sistem tertentu.

(7)

dengannya, maka sikap atau perbuatan yang dilakukan bukan lagi atau sama sekali tidak dirasakan sebagai beban, bahkan sebaliknya akan membebani dirinya bilamana ia tidak berbuat sebagaimana lazimnya (Prijodarminto, 1994).

Menurut Ekosiswoyo dan Rachman (2000), kedisiplinan hakikatnya adalah sekumpulan tingkah laku individu maupun masyarakat yang mencerminkan rasa ketaatan, kepatuhan, yang didukung oleh kesadaran untuk menunaikan tugas dan kewajiban dalam rangka pencapaian tujuan.

Menurut Arikunto (1990), di dalam pembicaraan kedisiplinan dikenal dua istilah yang pengertiannya hampir sama tetapi pembentukannya secara berurutan. Kedua istilah itu adalah disiplin dan ketertiban, ada juga yang menggunakan istilah siasat dan ketertiban. Ketertiban menunjuk pada kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan dan tata tertib karena didorong oleh sesuatu dari luar misalnya karena ingin mendapat pujian dari atasan. Selanjutnya pengertian disiplin atau siasat menunjuk pada kepatuhan seseorang dalam mengikuti tata tertib karena didorong kesadaran yang ada pada kata hatinya (Arikunto, 1990).

Kedisiplinan dapat diartikan sebagai serangkaian aktivitas / latihan yang dirancang karena dianggap perlu dilaksanakan untuk dapat mencapai sasaran tertentu (Sukadji, 2000). Kedisiplinan merupakan sikap atau perilaku yang menggambarkan kepatuhan kepada suatu aturan atau ketentuan. Kedisiplinan juga berarti suatu tuntutan bagi berlangsungnya kehidupan yang sama, teratur dan tertib,yang dijadikan syarat mutlak bagi berlangsungnya suatu kemajuan dan perubahan- perubahan ke arah yang lebih baik (Budiono, 2006).

(8)

Berdasarkan berbagai pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kedisiplinan adalah suatu sikap dan perilaku yang mencerminkan ketaatan dan ketepatan terhadap peraturan, tata tertib,norma-norma yang berlaku,baik tertulis maupun yang tidak tertulis.

2.1.2 Tujuan kedisiplinan

Gaustad (1992) mengemukakan bahwa kedisiplinan memiliki 2 (dua) tujuan,yaitu memberi kenyamanan pada para individu serta menciptakan lingkungan yang kondusif . Subari (1994) berpendapat bahwa kedisiplinan mempunyai tujuan untuk penurutan terhadap suatu peraturan dengan kesadaran sendiri untuk terciptanya peraturan itu. Menurut Durkeim (1995), kedisiplinan mempunyai tujuan ganda yaitu mengembangkan suatu peraturan tertentu dalam tindak tanduk manusia dan memberinya suatu sasaran tertentu dan sekaligus membatasi cakrawalanya.

Yahya (1992) berpendapat, tujuan kedisiplinan adalah perkembangan dari pengembangan diri sendiri dan pengarahan diri sendiri tanpa pengaruh atau kendali dari luar. Kedisiplinan adalah suatu latihan batin yang tercermin dalam tingkah laku yang bertujuan agar orang selalu patuh pada peraturan. Dengan adanya kedisiplinan diharapkan anak didik mendisiplinkan diri dalam menaati peraturan tempat sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan lancar dan memudahkan pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu, individu perlu dibimbing atau ditunjukkan mana perbuatan yang melanggar tata tertib dan mana perbuatan yang menunjang terlaksananya proses dengan baik (Gordon, 1996).

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan kedisiplinan adalah memberi kenyamanan pada para individu serta menciptakan lingkungan yang kondusif serta mengupayakan perkembangan dari pengembangan diri sendiri dan pengarahan diri sendiri tanpa pengaruh atau kendali dari luar.

(9)

Fungsi kedisiplinan menurut Tu’u (2004) adalah:

a. Menata kehidupan bersama

Kedisiplinan tempat berguna untuk menyadarkan individu bahwa dirinya perlu menghargai orang lain dengan cara menaati dan mematuhi peraturan yang berlaku, sehingga tidak akan merugikan pihak lain dan hubungan dengan sesama menjadi baik dan lancar.

b. Membangun kepribadian

Pertumbuhan kepribadian seseorang biasanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Disiplin yang diterapkan di masing-masing lingkungan tersebut memberi dampak bagi pertumbuhan kepribadian yang baik. Oleh karena itu, dengan disiplin seseorang akan terbiasa mengikuti , mematuhi aturan yang berlaku dan kebiasaan itu lama kelamaan masuk ke dalam dirinya serta berperan dalam membangun kepribadian yang baik.

c. Melatih kepribadian

Sikap, perilaku dan pola kehidupan yang baik dan berdisiplin terbentuk melalui latihan. Demikian juga dengan kepribadian yang tertib, teratur dan patuh perlu dibiasakan dan dilatih.

d. Pemaksaan

Kedisiplinan dapat terjadi karena adanya pemaksaan dan tekanan dari luar, misalnya ketika seorang individu yang kurang disiplin masuk ke satu tempat yang berdisiplin baik, terpaksa harus mematuhi tata tertib yang ada di tempat tersebut.

e. Hukuman

Tata tertib biasanya berisi hal-hal positif dan sanksi atau hukuman bagi yang melanggar tata tertib tersebut.

f. Menciptakan lingkungan yang kondusif

(10)

2.1.3 Cara terbentuknya kedisiplinan

Menurut Lembaga Ketahanan Nasional (1997), kedisiplinan dapat terjadi dengan cara:

a. Disiplin tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan harus ditumbuhkan, dikembangkan dan diterapkan dalam semua aspek menerapkan sanksi serta dengan bentuk ganjaran dan hukuman.

b. Disiplin seseorang adalah produk sosialisasi sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya, terutama lingkungan sosial. Oleh karena itu, pembentukan disiplin tunduk pada kaidah-kaidah proses belajar.

c. Dalam membentuk disiplin, ada pihak yang memiliki kekuasaan lebih besar, sehingga mampu mempengaruhi tingkah laku pihak lain ke arah tingkah laku yang diinginkannya. Sebaliknya, pihak lain memiliki ketergantungan pada pihak pertama, sehingga ia bisa menerima apa yang diajarkan kepadanya.

2.1.4 Faktor yang Mempengaruhi Kedisiplinan

Setiap perilaku selalu didasari oleh motif. Motif dapat diartikan sebagai gaya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas tertentu demi tercapainya tujuan. Dari sini muncul motivasi yang diartikan sebagai daya penggerak menjadi aktif. Motivasi untuk melakukan sesuatu terbagi menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

a. Motivasi Intrinsik

(11)

b. Motivasi Ekstrinsik

Terdapat berbagai macam pendapat mengenai motivasi ekstrinsik, salah satunya dari Eddi Kalsid (1987 :6-7) dan Mulyani S. Soemantri (1987 :2) yang mirip, yakni dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Motivasi ekstrinsik adalah motif yang dan keberfungsiannya karena adanya rangsangan dari luar. Motivasi ekstrinsik terbagi menjadi :

1. Keluarga

Keluarga sebagai tempat belajar bersosialisasi sangat berperan dalam pembentukan kepribadian individu. Manning (1978:48) menyatakan bahwa : “Keluarga mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap anak remaja untuk berperilaku agresif atau tidak.” Orang tua yang otoriter dan yang memberi kebebasan penuh akan menjadi pendorong bagi anak untuk berperilaku agresif. Orang tua yang bersikap demokratis tidak memberikan andil terhadap perilaku anak untuk agresif dan menjadi pendorong terhadap perkembangan anak ke arah yang positif.

2. Lingkungan Sekolah

Sekolah sebagai salah salah satu wahana dalam mempersiapkan generasi penerus tentunya akan berpengaruh terhadap pembentukan perilaku anak atau siswa. Tugas guru tidak hanya sebatas menyampaikan materi kepada siswa, namun juga memberi kan pembinaan kepribadian siswa melalui contoh dan teladan.

M.I Soelaeman (1985 :78 ) mengemukakan bahwa guru harus padai menegakkan ketertiban, tidak melalui kerjasama dan saling mengerti. Sedangkan alat yang tersedia untuk menegakkan ketertiban itu adalah kewibawaan yang bertopang pada saling mempercayai dan pada kasih sayang.

(12)

Masyarakat juga mempunyai peran penting dalam pembentukan disiplin individu. Lingkungan masyarakat tentunya juga memiliki peraturan tertentu yang harus di patuhi oleh semua warganya. Oleh karena itu, masyarakat memberikan pengaruh terhadap kedisiplinan seseorang. Seseorang yang sudah terbiasa menaati peraturan keluarga dan sekolah akan cenderung untuk menaati peraturan yang ada di dalam masyarakat tempat tinggal.

2.1.5 Aspek- aspek Kedisiplinan

Menurut Prijodarminto (1994), disiplin memiliki 3 (tiga) aspek. Ketiga aspek tersebut adalah :

a. sikap mental (mental attitude) yang merupakan sikap taat dan tertib sebagai hasil atau pengembangan dari latihan, pengendalian pikiran dan pengendalian watak.

b. pemahaman yang baik mengenai sistem peraturan perilaku, norma, kriteria, dan standar yang sedemikan rupa, sehingga pemahaman tersebut menumbuhkan pengertian yang mendalam atau kesadaran, bahwa ketaatan akan aturan. Norma, dan standar tadi merupakan syarat mutlak untuk mencapai keberhasilan (sukses).

c. sikap kelakuan yang secara wajar menunjukkan kesungguhan hati, untuk menaati segala hal secara cermat dan tertib.

2.2 Karang Taruna

2.2.1 Pengertian Karang Taruna

(13)

masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa/kelurahan terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial.

Demikian disebutkan dalam Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri Sosial No. 77/HUK/2010 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna (“Permensos 77/2010”) Dari sini kita bisa lihat bahwa karang taruna berada di wilayah desa/kelurahan, seperti halnya Anda yang bekerja pada karang taruna di wilayah desa. Hal ini kembali ditegaskan dalam Pasal 4 Permensos 77/2010:

“Karang Taruna berkedudukan di desa/kelurahan di dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Perlu diketahui bahwa karang taruna termasuk sebagai Lembaga Kemasyarakatan. Berdasarkan Pasal 1 angka 14 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 5 Tahun 2007 tentang Pedoman Penataan Lembaga Kemasyarakatan (“Permendagri 5/2007”), karang taruna adalah Lembaga Kemasyarakatan yang merupakan wadah pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat dan terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial, yang secara fungsional dibina dan dikembangkan oleh Departemen Sosial.

2.2.2 Tujuan Karang Taruna

Tujuan Karang Taruna sesuai yang tercantum dalam Pedoman Permensos tahun 2010 adalah :

(14)

b. Terbentuknya jiwa dan semangat kejuangan generasi muda warga Karang Taruna yang Trampil dan berkepribadian serta berpengetahuan.

c. Tumbuhnya potensi dan kemampuan generasi muda dalam rangka mengembangkan keberdayaan warga Karang Taruna.

d. Termotivasinya setiap generasi muda warga Karang Taruna untuk mampu menjalin toleransi dan menjadi perekat persatuan dalam keberagaman kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

e. Terjalinnya kerjasama antara generasi muda warga Karang Taruna dalam rangka mewujudkan taraf kesejahteraan sosial bagi masyarakat.

f. Terwujudnya Kesejahteraan Sosial yang semakin meningkat bagi generasi muda di desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat yang memungkinkan pelaksanaan fungsi sosialnya sebagai manusia pembangunan yang mampu mengatasi masalah kesejahteraan sosial dilingkungannya.

g. Terwujudnya pembangunan kesejahteraan sosial generasi muda di desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat yang dilaksanakan secara komprehensif, terpadu dan terarah serta berkesinambungan oleh Karang Taruna bersama pemerintah dan komponen masyarakat lainnya.

2.2.3 Tugas dan Fungsi Pokok Karang Taruna

(15)

Untuk menjalankan tugas pokok di atas, karang taruna mempunyai fungsi (Pasal 6 Permensos 77/2010):

a. mencegah timbulnya masalah kesejahteraan sosial, khususnya generasi muda;

b. menyelenggarakan kesejahteraan sosial meliputi rehabilitasi, perlindungan sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial dan diklat setiap anggota masyarakat terutama generasi muda;

c. meningkatkan Usaha Ekonomi Produktif;

d. menumbuhkan, memperkuat dan memelihara kesadaran dan tanggung jawab sosial setiap anggota masyarakat terutama generasi muda untuk berperan secara aktif dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial;

e. menumbuhkan, memperkuat, dan memelihara kearifan lokal; dan

f. memelihara dan memperkuat semangat kebangsaan, Bhineka Tunggal Ika dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sementara berdasarkan Pasal 17 Permendagri 5/2007, ada tambahan fungsi karang taruna, yaitu:

 pengembangan kreatifitas remaja, pencegahan kenakalan, penyalahgunaan obat terlarang (narkoba) bagi remaja; dan

 penanggulangan masalah-masalah sosial, baik secara preventif, rehabilitatif dalam rangka pencegahan kenakalan remaja, penyalahgunaan obat terlarang (narkoba) bagi remaja.

Karang Taruna Desa Daren

Karang Taruna desa Daren merupakan salah satu organisasi pemuda yang aktif dalam menghidupkan kegiatan kepemudaan di desa Daren. Kegiatan rutin yang diadakan oleh organisasi ini antara lain membantu pelaksanaan takbir keliling setiap malam lebaran Idul Fitri, penyelenggara upacara malam satu suro yang berada di sendang bidadari desa Daren, dan membantu penyelenggaraan haul Mbah Kyai Daren, sesepuh desa.

(16)

seperti kegiatan kerja bakti yang rutin dilakukan setiap akan memperingati hari besar nasional maupun islam.

Dalam menjalankan program kerja, organisasi Karang Taruna bekerja dengan ditopang oleh pemerintah desa, mulai dari penyediaan fasilitas acara, hingga bantuan dana dasar penyelenggaraan acara.

BAB III

METODE PENELITIAN

Bab ini menjelaskan tentang Metode Penelitian yang terdiri dari subbab populasi dan sampel, variabel, metode pengambilan data, dan desain penelitian.

3.1 Populasi dan Sampel 3.1.1 Populasi

(17)

dijadikan populasi adalah anggota aktif organisasi Karang Taruna Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

3.1.2 Sampel

Sampel adalah beberapa bagian kecil atau cuplikan yang ditarik dari populasi (Ferguson, dalam Sevilla dkk, 2006). Dalam penelitian ini akan menggunakan anggota aktif organisasi Karang Taruna Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

3.1.3 Teknik pengambilan sampel

Pengambilan sampel dalam penelitian kali ini dilakukan secara studi populasi dimana pemilihan sampel dari populasi berdasarkan pada bidang kepengurusan dalam organisasi Karang Taruna. Setiap subjek yang menjadi sampel adalah subjek yang memenuhi karakteristik sampel penelitian.

3.2 Variabel Penelitian 3.2.1 Identifikasi variabel

Sevilla (2006) menyebutkan variabel adalah suatu karakteristik yang memiliki dua atau lebih nilai atau sifat yang berdiri sendiri. Variabel dalam penelitian ini adalah Variabel Bebas tentang Kedisiplinan.

3.3.2 Definisi variabel operasional

Kedisiplinan

Skor yang diperoleh individu atau responden penelitian melalui respon individu terhadap angket kedisiplinan yang disusun berdasarkan teori kedisiplinan yang meliputi aspek sikap mental, pemahaman yang baik mengenai sistem peraturan perilaku, norma, kriteria, dan standar, dan sikap kelakuan yang secara wajar serta menunjukkan kesungguhan hati.

3.3 Pengumpulan Data

(18)

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian kali ini adalah dengan menyebarkan kuesioner penelitian tentang Kedisiplinan, untuk mengukur tingkat kedisiplinan pada anggota organisasi Karang Taruna.

3.3.2 Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini akan digunakan data angket dan wawancara. Angket dibuat berdasarkan kebutuhan data yang akan dieksplorasi dalam penelitian. Angket bersifat terbuka dan tertutup, sedangkan wawancara digunakan untuk melengkapi data apabiila responden kurang lengkap dalam mengisi angket.

3.4 Pendekatan Penelitian

Penelitian survei ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Secara umum tujuan penelitian deskriptif adalah untuk membuat penyandaran atau deskripsi secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat populasi atau daerah tertentu (Suryabrata, 1995). Untuk itu, penelitian ini berupaya untuk memberikan deskripsi secara sistematis, faktual dan akurat mengenai kedisiplinan anggota Karang Taruna.

3.5 Metode Analisis Data

(19)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dijelaskan rekap hasil dari angket yang telah disebar serta pembahasannya.

4.1 Hasil

a. Ketepatan waktu dalam menghadiri forum

(20)

pada saat forum sudah berlangsung, 10% memilih tidak datang dan 10% memilih mencari info hasil dari forum dari teman sesama Karang Taruna.

40.00%

40.00% 10.00%

10.00%

Ketepatan Waktu datang dalam forum

b. Tercapainya tujuan dan Fungsi serta Manfaat Karang Taruna

Respon yang didapat setelah angket disebar menunjukkan bahwa 70% responden menyatakan bahwa tujuan dan fungsi karang taruna mereka rasakan telah tercapai, mereka (responden) menyatakan berbagai alasan sebagai indikasi tujuan dan fungsikarang taruna yang disebutkan, di antaranya adalah selalu dilibatkannya karang taruna dalam berbagai kegiatan desa oleh pemerintah desa, ada pula yang menyatakan bahwa fungsi yang disebutkan dalam angket telah tercapai.

(21)

70.00% 30.00%

Tercapainya Fungsi dan Tujuan Karang Taruna

Tercapai Tidak Tercapai

c. Kesukarelaan dalam membantu

sub point ini menunjukkan bahwa 50% dari responden akan langsung membantu tatkala ada kawan lain yang membutuhkan bantuan, 30% dari mereka melihat dulu jenis bantuan yang dibutuhkan, apakah bisa membantu atau tidak, dan 20% memilih bergeming atau memilih untuk tidak membantu karena semua tugas sudah ada bagian masing-masing.

50.00%

30.00% 20.00%

Kesukarelaan Membantu

Langsung membantu Melihat dulu bantuan yang dibutuhkan Bergeming karena su-dah ada tugas masing-masing

d. Kepatuhan terhadap tata tertib saat bertugas

(22)

acuh terhadap peraturan asalkan tugas mereka selesai, 40% juga memilih untuk melanjutkan selama tidak ada teguran ataupun yang mengingatkan, sedangkan 20% memilih untuk meninggalkan hal tersebut.

40.00%

20.00% 40.00%

Kepatuhan terhadap tata tertib

Tetap diteruskan meninggalkan

tetap diteruskan selama tidak ada teguran

e. Mengingatkan teman yang lain ketika melakukan kesalahan

30% dari responden memilih mengingatkan temannya jika melakukan kesalahan ataupun pelanggaran tata tertib saat bertugas, 20% memilih take action atau langsung turun untuk membantu membenahi kesalahan yang diperbuat, sedangkan 50% memilih untuk membiarkan saja kesalahan yang diperbuat.

30.00%

20.00% 50.00%

Mengingatkan teman yang lain ketika melakukan kesalahan

Mengingatkan Membantu Membiarkan

(23)

30% dari responden memilih untuk langsung menyudahi tugasnya dengan segera, 20% memilih untuk membuat evaluasi kerja untuk pribadi, 30% lagi memilih untuk membuat daftar checklist tugas untuk dilaporkan kepada pimpinan, sedangkan 10% memilih untuk langsung melapor kepada pimpinan bahwa tugasnya telah selesai.

30.00%

30.00% 30.00%

10.00%

Tanggung jawab tugas selesai

langsung menyudahi melakukan evaluasi pribadi

membuat checklist untuk pimpinan langsung lapor pimp-inan

g. Kesiapan mengemban tugas

(24)

70.00% 20.00%

10.00%

Respon setelah pembagian tugas

Langsung mengerjakan Menunggu anggota lain mulai Meminta tugas yang lebih ringan

h. Respon terhadap hasil yang kurang maksimal

50% memilih untuk pasrah pada hasil kerja yang dilakukan karena memang itu batas kemampuan mereka, 30% memilih untuk mengerjakan dengan lebih giat, dan 20% akan memeriksa kembali letak kesalahan yang mereka lakukan untuk kemudian diperbaiki.

20.00%

30.00% 50.00%

Respon terhadap hasil kerja yang kurang maksimal

Memeriksa kesalahan Mengerjakan lebih giat Pasrah

4.2 Pembahasan

(25)

cukup tinggi, ini ditunjukkan dengan dengan prosentase yang tinggi (mencapai 80% untuk kehadiran dengan detail 40% datang tepat waktu dan 40% datang setelah forum berlangsung) dalam kesediaan untuk datang dalam forum ataupun rapat untuk sebuah program daripada yang tidak datang.

Hal ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Ekosiswoyo dan Rachman (2000) bahwa kedisiplinan hakikatnya adalah sekumpulan tingkah laku individu maupun masyarakat yang mencerminkan rasa ketaatan, kepatuhan, yang didukung oleh kesadaran untuk menunaikan tugas dan kewajiban dalam rangka pencapaian tujuan. Para anggota merasa perlu untuk mendatangi forum yang diadakan untuk membuat, menjalankan, maupun mengevaluasi program kerja yang dilaksanakan.

Poin lain yang juga sejalan dengan yang disampaikan oleh Ekosiswoyo dan Rachman (2000) adalah kesadaran untuk memberikan bantuan antara anggota karang taruna yang membutuhkan bantuan pada saat menjalankan sebuah program yang juga tinggi (70% dengan rincian 50% responden akan langsung membantu dan 20% melihat dulu bantuan yang dibutuhkan sebelum ikut membantu). Sedangkan 30% lainnya memilih untuk bergeming karena masing-masing sudah mempunyai tugas sendiri.

(26)

Yang patut diperhatikan dalam penelitian kedisiplinan kali ini adalah rendahnya kesadaran anggota Karang Taruna terhadap peraturan yang melandasi jalannya program dari karang taruna sendiri, hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa 80% (dengan rincian 40% memilih untuk meneruskan sampai target terpenuhi dan 40% memilih untuk meneruskan selama tidak ada teguran dari pimpinan atau atasan) dari responden memilih untuk meneruskan cara yang mereka tempuh meskipun cara tersebut melanggar peraturan dan tata tertib dari karang taruna sendiri dan hanya 20% responden yang memilih untuk meninggalkan cara yang salah tersebut.

Prosentase kesadaran untuk mengingatkan dan membantu anggota yang lain ketika melakukan kesalahan juga menunjukkan hasil yang negatif dimana 50% dari responden memilih untuk acuh terhadap kesalahan yang dibuat oleh anggota lain, 30% dari mereka memilih hanya mengingatkan sedangkan yang langsung membantu hanya 20% dari mereka.

Untuk persepsi tentang tercapainya fungsi dan tujuan karang taruna dari responden memperlihatkan hasil yang positif dimana 70% dari mereka berpendapat bahwa tujuan dan fungsi karang taruna telah tercapai dan hanya 30% saja yang menyatakan bahwa tujuan dan fungsi dari karang taruna desa Daren belum tercapai.

(27)

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Kata kedisiplinan berasal dari bahasa Latin yaitu discere, yang berarti belajar, dari kata dasar ini timbul kata disciplus yang berarti murid atau pelajar. Kata “Disciplina” merujuk kepada kegiatan belajar dan mengajar. Semua aspek, fungsi, dan tujuan kedisiplinan merujuk kepada pembelajaran diri sendiri untuk berkembang terstrukstur dan lebih baik.

Prosentase dari angket yang disebar terkait dengan tema Kedisiplinan Organisasi Karang Taruna menunjukkan bahwa kedisiplinan anggota Karang Taruna dalam melaksanakan tugas terhitung tinggi meskipun kesadaran terhadap peraturan dan tata tertib organisasi masih terhitung rendah.

5.2 Saran

Untuk kedepannya akan lebih baik jika seluruh anggota diberikan pengertian lebih lanjut pentingnya peraturan dan tata tertib serta fungsi dan tujuannya, supaya dalam melaksanakan program dapat berjalan pada jalur yang semestinya.

(28)

Asmiarsih, T. 2006. Pengaruh Pengawasan Terhadap Kedisiplinan Kerja Pegawai Kantor Badan Kepegawaian Daerah Brebes. Skripsi. Semarang .Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang

Fathoni, Abdurrahmat. 2006. Organisasi dan Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Rineka Cipta

http://bahasa.Kemdiknas.go.id/kbbi/

Lembaga Ketahanan Nasional (1997), Disiplin Nasional. Jakarta ; Lemhanas

Prijodarminto. 1994. Disiplin kiat menuju sukses, Jakarta: abadi

Sukadji, S. 2000. Psikologi Pendidikan dan Psikologi Sekolah. Depok : Lembaga Pengembangan sarana Pengukuran dan Pendidikan. UI-Press.

Tu’u, Tulus. 2004. Peran Disiplin Pada Perilaku Dan Prestasi Siswa. Jakarta : Gramedia

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...