Saudara Dekat yang Jauh atau Saudara Jau

15 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Saudara Dekat yang Jauh, atau Saudara Jauh yang dekat? Memahami Jarak dan Space di dalam Teks-Teks Suci Samawi

Abraham Silo Wilar1

Tulisan ini dibuat secara khusus untuk memberi Penghormatan terhadap guru saya, Pdt. Dr.

Einar M. Sitompul, yang akan segera memasuki masa emeritasi. Di dalam tradisi akademik,

penghormatan kepada guru, pemikir atau orang yang disegani wawasan dan analisanya adalah

dengan melakukan pesta tulisan. Harapannya, pesta tulisan tersebut dapat menjadi tali pengikat

persekutuan para akademisi sekaligus menjadi salah satu teman perjalanan menjalani masa

emeritasi. Untuk menghemat waktu, tulisan ini saya persembahkan untuk beliau, yang

kepadanya saya banyak belajar dan ditempa. Selamat memasuki dan menghayati masa

emeritasi, Amang Pendeta Doktor Einar !

Pendahuluan

Untuk memulai pembahasan, ada baiknya dilampirkan dua kutipan Hadis yang memberi

gambaran di dalam Islam tentang Posisi nabi Muhammad di antara para nabi terdahulu. Kedua

Hadis terdapat di Hadis Sahih Bukhari dan Hadis Sahih Muslim yang mana Abu Hurairah

dilaporkan sebagai saksinya:

1. Hadis Pertama:2

The Prophet, God bless him and grant him salvation, (…) said: “Do not draw distinctions between the prophets of God. When on the day of Judgment the horn will then be blown a second time, and all in the heavens and on earth will lose their senses, apart from those He wants, and the horn will then be blown

(2)

second time, I will be the first to be awoken, while Moses will be taking the Throne, but I do not know if this will be a compensation for having lost

consciousness (…), or because he will be awoken before me. I, myself, never even say that anyone is better than Jonah.

2. Hadis Kedua:3

I have been preferred over the other prophets for six things: I have been given the ability to speak in a concise way, I have been helped by the fear my

adversaries had of me, I have been given permission to keep the booty, for me the earth has been made a purifying substance and a mosque in which to pray, I have been sent to all the people and the prophets have been sealed with me

Hadis pertama menyampaikan potret tentang relasi yang menunjukkan kesejajaran, dan

sementara hadis kedua menyampaikan potret tentang Nabi Muhammad yang memiliki suatu

spesifikasi tersendiri di antara para nabi, yaitu: privileged dan seal terhadap tradisi profetis yang

ada. Khusus tentang “Seal” ayat al-Qur’an berikut ini sering dijadikan rujukan utama:4

Transliterasi:5

maa kaana Muhammadun ’abaa ’ahadi min rijaalikum wa lakin Rasulallahi wa khatam an-nabiyyin wa kana allahu bi kuli shay-in ’Alimaa

Terjemahan:6

3 Ibid

4 http://quran.com/33 . Akses 1 Desember 2013 5 Transliterasi penulis tulisan ini.

(3)

Muhammad is not the father of any man among you, but he is the messenger of Allah and the Seal of the Prophets; and Allah is Aware of all things

Di samping pemahaman di atas, Posisi dan Pemaknaan terhadap Nabi Muhammad di

antara para nabi adalah Kedatangan Nabi Muhammad telah dinubuatkan oleh para nabi

terdahulu, misalnya nubuatan Nabi Isa tentang Nabi Muhammad. Contoh Qs.61:6:7

Terjemahan:8

And when Jesus son of Mary said: O children of Israel! Lo! I am the messenger of Allah unto you, confirming that which was (revealed) before me in the Torah, and bringing good tidings of a messenger who cometh after me, whose name is the Praised One. Yet when he hath come unto them with clear proofs, they say: This is mere magic.

Tidak hanya teks ini, teks seperti Ulangan 18:18 juga disebutkan memberitakan nubuatan

tersebut, demikian bunyinya:

I will raise them up a Prophet from among their brethren, like unto thee, and will put my words in his mouth; and he shall speak unto them all that I shall command him

Lalu, teks Yohanes 14:16 juga dijadikan dasar untuk nubuatan tersebut, demikian bunyinya:

And I will pray the Father, and he shall give you another Comforter, that he may abide with you for ever

Islam meyakini bahwa kedua teks dari Hebrew Bible dan Alkitab tersebut sejalan dengan teks

Qur’an 61:6. Dan, secara khusus, penerjemahan istilah Parakletos itu –yang diterjemahkan

7 http://quran.com/61. Akses 1 Desember 2013.

(4)

sebagai “Comforter”- memiliki arti Muhammad.9 Dengan demikian, teks-teks di atas

memberikan gambaran tentang Posisi dan Makna Nabi Muhammad di antara Para Nabi di

dalam Islam.

Presentasi Jarak dan Ruang di dalam Teks-Teks Suci

A. Teks-Teks Suci dan Pemaknaan

I. Islam bersama Yudaisme dan Kristianitas

Islam secara tegas menempatkan posisi Nabi Muhammad sebagai Nabi yang telah

dinubuatkan oleh para Nabi terdahulu, penerus dan penyempurna bagi tradisi profetis yang

telah ada sebelum Islam datang. Ini adalah bingkai yang digunakan oleh umat Muslim untuk

memberi makna tentang posisi Nabi Muhammad di dalam tradisi kenabian yang telah ada

sebelumnya. Pemaknaan semacam ini khususnya tentang agama Yahudi dan agama Kristen

telah mengalami korupsi dan karena itu kedatangan Nabi Muhammad adalah sebagai

penyempurna dan penutup tradisi kenabian- dibangun dari sejumlah ayat-ayat al-Qur’an. Di

bawah ini adalah beberapa contoh ayat-ayat yang berkaitan dengan hal tersebut:

1. Qs.2:7510

Terjemahan:11

Have ye any hope that they will be true to you when a party of them used to listen to the Word of Allah, then used to change it, after they had understood it, knowingly?

9 The Holy Qur’an with Revised Transliteration in Roman Script. Translated by Muhammed Marmaduke Pickthall. New Delhi: Idara Impex, 2012,xix.

10 http://quran.com/2. Akses 1 Desember 2013

(5)

2. Qs.4:4612

Terjemahan:13

Some of those who are Jews change words from their context and say: we hear and disobey; hear thou as one who cannot be made to hear and listen to us! Distorting with their tongues and slandering religion. If they had said: “We hear and we obey; hear thou and look at us” it had been better for them, and more upright. But Allah hath cursed them for their disbelief, so they believe not, save a few.

3. Qs.3:78:14

Terjemahan:15

And lo! There is a party of them who distort the Scripture with their tongues, that ye may think that what they say is from the Scripture, when it is not from the Scripture. And they say: it is from Allah, when it is not from Allah; and they speak a lie

concerning Allah knowingly.

II. Yudaisme bersama Islam

Denise Masson menuliskan bahwa konsepsi Tuhan di dalam Yudaisme adalah Tuhan

yang unik: Dia Sang Pencipta, dan Pemelihara Ciptaan yang menunjukan kehadirannya melalui

wahyu-wahyu yang diterima oleh Abraham, Musa, dan sosok lainnya. Gambaran Tuhan seperti

yang ada di Yudaisme juga ditemukan di dalam gambaran Tuhan di dalam Islam, demikian

12 http://quran.com/4. Akses 1 Desember 2013.

13 The Holy Qur’an with Revised Transliteration in Roman Script. Translated by Muhammed Marmaduke Pickthall. New Delhi: Idara Impex, 2012, 89-90.

14 http://quran.com/3 . Akses 1 Desember 2013.

(6)

menurut Masson.16 Di tempat lain, David Sidersky menyampaikan dua frase yang dia temukan di

al-Tabari dan Talmud Babylonia, sebagai berikut:17

Tabari : que Dieu forma le corps d’Adam avec de l’argile

Terjemahan : bahwa Tuhan yang membentuk/mencipta Adam dari tanah-liat

Talmud Babilonia : le corps d’Adam fut formé d’argile prise en Babylone Terjemahan : Tubuh Adam dibentuk/dicipta dari tanah liat di Babilonia

Lalu, Abraham Isaac Katsh secara khusus membahas ayat-ayat di Qs. 2 dan 3, dan Katsh

menemukan beberapa hal sebagai berikut :

1. Qs.2 :1-2 (atau ayat 2 di dalam al-Qur’an terjemahan Pickthall)18

Terjemahan :19

This is the Scripture whereof there is no doubt, a guidance unto those who ward off (evil)

Ayat di atas memberi tekanan kepada pentingnya Kitab ini (zaalika al-Kitabu). Pentingnya

Kitab itu dijelaskan dengan ungkapan: “ whereof there is no doubt, a guidance unto those who

ward off (evil); la rayba fiih huda-lil-mustaqiin.” Tekanan terhadap pentingnya Kitab yang ada di

Isam, menurut Katsh, juga merupakan tekanan yang sama di dalam Yudaisme.20 Pentingnya

Kitab di dalam Yudaisme dapat dilihat dari kutipan Talmud berikut ini:21

16 D. Masson. Le Coran et la Révélation Judéo-Chrétienne : Etudes Comparées. Vol.1. Paris : Libraire D’Amerique et D’Orient Adrien-Maissonneuve, 1958, p.17.

17 David Sidersky. Les Origines des Legendes Musulmanes Dans Le Coran et Dans Les Vies Des Prophetes. Paris : Librairie Orientaliste Paul Geuthner, 1933, 10.

18 http://quran.com/2. Akses 2 Desember 2013.

19 The Holy Qur’an with Revised Transliteration in Roman Script. Translated by Muhammed Marmaduke Pickthall. New Delhi: Idara Impex, 2012, 2.

20 Abraham Isaac Katsh. Judaism and the Koran: Biblical and Talmudic Backgrounds of the Koran and Its Commentaries. New York: Perpetua Book, 1962, 3.

(7)

“when thou walkest, it shall lead thee (in this world); when thou liest down, it shall watch over thee (in the grave); and when thou wakest, it shall talk with thee (in the world to come).”

2. Qs.2:6 (atau ayat 7 di al-Qur’an terjemahan Pickthall):22

Terjemahan:23

Allah has sealed their hearts, and their hearing, and on their eyes there is a covering. Theirs will be an awful doom.

Ayat di atas, menurut Zamakhshari, memberi tekanan tentang manusia yang telah

meninggalkan kebenaran kehilangan kapasitas memahami.24 Menanggapi ayat tersebut dan

tafsiran yang diberikan oleh Zamakhshari, Katsh melihat Yesaya 6:10, yang berbunyi:25

“Make the heart of this people fat, and make their ears heavy, and shut their eyes; lest they see with their eyes, and hear with their ears, and understand with their hear, and convert, and be healed”

Kutipan Yesaya 6:10 diberikan sebagai usaha menunjukan adanya kesejajaran di antara kedua

ayat tersebut. Bahkan, menurut Katsh, tafsiran Zamakshari atas ayat Qur’an di atas dapat

disejajarkan dengan tafsiran Sa’adia Gaon (882-942 CE) tentang ayat Yesaya tersebut.26

III. Kristanitas bersama Yudaisme

22 http://quran.com/2. Akses 2 Desember 2013.

23 The Holy Qur’an with Revised Transliteration in Roman Script. Translated by Muhammed Marmaduke Pickthall. New Delhi: Idara Impex, 2012, 2.

24 Abraham Isaac Katsh. Judaism and the Koran: Biblical and Talmudic Backgrounds of the Koran and Its Commentaries. New York: Perpetua Book, 1962, 15.

25 Terjemahan yang digunakan di sini adalah King James Version versi Ipad 2.

(8)

Kristianitas mendaku bahwa Jeshua adalah mesias yang kedatangannya telah

dinubuatkan oleh para nabi di Hebrew Bible, dan Dia adalah penggenapan dari nubuatan

tersebut. Teks-teks dari Hebrew Bible dijadikan teks-teks dasar atau teks-teks persiapan oleh

sekumpulan orang Yahudi dan Yunani yang meyakini Dia adalah pengenapan tersebut. Tidak

hanya mendaku, teks-teks Kristen utamanya Perjanjian Baru memberikan beberapa gambaran

tentang posisi dan makna Jeshua di kelompok orang yang mendaku tersebut. Gambaran

tersebut menempatkan Jeshua sebagai sosok superior di antara para nabi Israel seperti Musa,

Harun dan seterusnya: Jesu est primus interpares atau Yesus adalah yang utama dari para nabi.

1. Ibrani 3 :1-627 (Yesus lebih tinggi dari Musa)

“Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus, yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana Musa pun setia dalam segenap rumah-Nya. Sebab Ia dipandang lebih besar daripada Musa, sama seperi ahli bangunan lebih dihormati daripada rumah yang dibangunnya…. Dan Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan.., tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya…“

2. Yesaya 42 : 8-9 (Nubuat tentang Kedatangan Yesus)

Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku ; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung. Nubuat-nubuat yang dahulu

sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal yang baru hendak Kuberitahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku mengabarkannya kepadamu.

3. Mikha 5 :1 (Nubuat tentang Kedatangan Yesus)

Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehduda, daripada mu akan bangkit bagi Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala

(9)

Teks-teks Alkitab di atas dijadikan dasar bagi pemaknaan Yesus di tengah kelompok yang

meyakini Yesus adalah penggenapan dari nubuat yang telah ada sejak era Yudaisme, dan Yesus

lebih tinggi dari para nabi yang ada di dalam Yudaisme.

Masing-masing teks yang disampaikan di atas berhubungan dengan persoalan jarak dan

ruang di masing-masing komunitas terhadap komunitas yang lain. Di tahun 1833 Abraham

Geiger membahas jarak dan ruang antara Yudaisme dan Islam di dalam suatu buku yang

berjudul “Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen?,“28 suatu karya yang

menyuratkan adanya istilah “Islam meminjam dari Yudaisme.“ Memaknai jarak dan ruang

dengan menggunakan satu istilah ringkas “meminjam“ merupakan suatu cara melakukan

pemaknaan atas hal tersebut secara kontroversial, yaitu, bahwa Islam dipertanyakan oleh

Yudaisme otentisitas dan orisinalitasnya. Cara pemaknaan semacam ini memunculkan reaksi

kontra yang ditunjukkan dengan melawan secara terbuka dan reaksi mengabaikan cara tersebut

dengan jalan menjauhi mereka yang memeluk cara pemaknaan semacam tersebut.

Di pihak lainnya, Kristianitas tidak malu-malu mendaku sebagian besar Kitab Suci agama

Yahudi dan memasukannya sebagai salah satu bagian dari Kitab Suci agama Kristen. Begitulah

bentuk pemaknaan atas jarak dan ruang di dalam Kristianitas terhadap Yudaisme. Walaupun di

awal terdapat sejumlah kontroversi atas bentuk pemaknaan yang dilakukan oleh sekelompok

orang yang percaya bahwa Yesus adalah penggenapan dari nubuat yang telah disampaikan oleh

para nabi terdahulu, keyakinan tersebut berkembang dan meluas di tengah masyarakat dan

akhirnya keyakinan tersebut menjadi suatu agama resmi di dunia.

(10)

Di tempat yang berbeda, Islam juga mempresentasikan suatu bentuk pemaknaan

terhadap jarak dan ruang bersama dengan Yudaisme dan Kristianitas. Di tahap awal

perkembangan, Islam mengalami kesulitan sehingga nabi Muhammad harus hijrah ke Medinah.

Dan justru sesudah berada di Medinah, Islam menjadi berkembang dan akhirnya menjadi

agama resmi di dunia.

B. Memaknai Ulang Pemaknaan yang disampaikan Teks-Teks Suci tentang Jarak dan

Ruang

Di dalam dunia akademi eksakta, jarak dapat diamati, dan diukur. Hasilnya adalah istilah

Kilometer, Inches, meter, dan seterusnya. Bila ruang digambarkan sebagai satu segi-empat, atau

trapesium, maka jarak berarti adalah bagian dari ruang. Tentu segi-empat tersebut bisa

digantikan dengan segitiga, atau bumi, atau bahkan suatu hal yang metafisik seperti Tuhan.

Atau, kita bisa menaruh “keyakinan iman orang lain“ sebagai jarak dan ruang tersendiri untuk

keyakinan iman kita.

Di atas sudah disampaikan suatu bentuk pemahaman tentang hal tersebut menurut versi

masing-masing teks dan komunitas yang menganut pemahaman tersebut. Secara garis besar,

presentasi dari masing-masing teks tentang jarak dan ruang dapat dirangkum di dalam kalimat

ini: “Brothers who are relatives, and relatives who are brothers“. Artinya, walaupun ketiga teks

berada di dalam satu ruang keluarga, laksana saudara/saudari kandung (dipresentasikan

dengan istilah Brothers), masing-masing menempatkan yang lain pada jarak tertentu

(dipresentasikan dengan istilah relatives). Menempatkan seorang anggota keluarga kandung

(11)

sesuatu yang terlihat ironis. Namun demikian, hal semacam ini sangat jamak terjadi di saat

masing-masing komunitas bertemu dengan “Yang Lain”. Dan perjumpaan tersebut menyuratkan

adanya “Polydoxy” dan “interkoneksitas” sebagai ruang/space yang lain untuk memaknai teks.

Di dalam bingkai inilah, istilah Space/ruang bukan suatu ruang yang mati, pasif dan

container melainkan suatu pabrik eksistensi sosial.29 Dan, di sini, teks-teks suci –yang selalu

dijadikan titik pijak untuk beriman bagi masing-masing komunitas tersebut- akan mengalami

pembacaan ulang, termasuk pemaknaan terhadap statemen teologis seperti otentisitas dan

orisinalitas pewahyuan.

1. Otentisitas atau Orisinalitas di tengah Polydoxy dan Interkoneksitas teks suci

Masing-masing agama ingin dipandang sebagai agama otentik dan orisinal. Namun

demikian, bagaimana memahami otentisitas dan orisinalitas di saat kajian keagamaan

berkembang dan kajian tersebut memberi presentasi yang terlihat bertolak belakang dengan

harapan untuk dipandang otentik dan orisinal? Oleh karena itu, menyadari adanya polydoxy dan

interkoneksitas sebagai ruang/space memahami agama otentik dan orisinal merupakan hal yang

penting. Ini adalah langkah awal untuk mencari memaknai ulang pemaknaan atas jarak dan

waktu yang dipresentasikan oleh teks-teks di atas.

Hal otentisitas dan orisinalitas menjadi hal yang penting di tengah interkoneksitas dan

polydoxy dari teks-teks di atas. Reaksi marah dari komunitas Muslim terhadap karya-karya para

sarjana Islamic Studies yang berpendapat bahwa “Islam meminjam dari Yudaisme“ dapat

dipahami. Di tempat lain, umat Muslim juga marah terhadap kelompok seperti Ahmadiyyah

(12)

yang menafsir istilah “Seal“ (Arab : Khatam) tidak sama persis seperti tafsiran umat Muslim.30

Tidak hanya itu, umat Kristen yang meyakini Yesus adalah Mesias yang dinubuatkan oleh para

nabi terdahulu mungkin juga akan bereaksi sama dengan umat Muslim di saat mengetahui

bahwa Ahmadiyyah meyakini bahwa Sang Mesias yang dinantikan bukanlah Isa al-Masih,

melainkan pendiri dan pemimpin penerus Ahmadiyyah.31

Dengan menyadari konteks polydoxy dan intekoneksitas, maka otentisitas dan

orisinalitas harus bergeser asumsi dasarnya. Konsepsi otentik dan orisinal yang dibangun

selama ini berada di bawah pengaruh “creatio ex nihilo”, sehingga otentik dan orisinal itu

diartikan sebagai berasal dari ketiadaan dan itu berarti polydoxy dan interkoneksitas bukan

menjadi ruangnya. Dengan kata lain, mengakui ruang menjadi sangat penting untuk memaknai

ulang persoalan jarak dan ruang yang dipresentasikan oleh teks-teks di atas. Oleh karena itu,

ungkapan brothers are relatives who present and live as family mewakili situasi jarak antara satu

komunitas dengan yang lain tetapi jarak tersebut berada di dalam space (dipresentasikan

sebagai family) yang mengakui interkoneksitas dan polydoxy.

2. Kesamaan dan Perbedaan

Teks-teks di atas memberikan petunjuk kepada kita sebagai pembaca bahwa ada yang

sama dan yang berbeda di antara masing-masing teks. Persamaan terlihat pada persepsi teks

suci sebagai “subyek yang mendefinisi”. Di sini, teks tidak hanya memberitahukan definisinya

tentang kenabian, kepercayaan yang lain, dan seterusnya, tetapi juga mendefinisikan bentuk

30 Saleh A. Nahdi. Masalah Khataman-Nabiyyin (Soal-Jawab). Jakarta: PT Arista Brahmatyasa, 1991, 16.

(13)

relijiusitas yang berbasis kepada teks (budaya teks; misalnya, budaya Quranik, budaya

Alkitabiah, dan seterusnya). Budaya teks ini secara koheren bisa membentuk suatu ruang baru

di dalam relijiusitas masing-masing komunitas di saat jarak antara teks dengan pembaca terlalu

berjarak, yaitu, penghambaan diri kepada teks (bibliotary). Penghambaan kepada teks sangat

mungkin terjadi karena space menghadirkan koherensi dan pemaknaan. Perhatikan contoh di

bawah ini:32

Contoh 1: Hilangnya Space dan Tidak adanya Koherensi “Withoutspacenocoherentsentencewouldexist”

Contoh 2: Space dan Koherensi

“Without space no coherence sentence would exist”

Contoh pertama tidak memiliki space dan koherensi dank arena itu tidak ada pemaknaan. Sementara itu, contoh kedua memiliki space dan koherensi sehingga pemaknaan dapat terjadi.

Oleh karena itu, space dan jarak sangat penting di dalam menentukan kesamaan dan

sekaligus perbedaan. Masing-masing teks dan komunitas dapat mengarahkan kepada kesamaan

dan sekaligus perbedaan; sehingga, masing-masing komunitas dapat melihat kesamaan di

antara mereka dan tidak mengabaikan perbedaan yang terhampar. Dengan kata lain, teks-teks

suci mampu membawa masing-masing komunitas ke penghambaan teks, kritisisme teks, dan

ketaatan terhadap teks sekaligus kritis terhadap teks.

Penutup

Reaksi marah terhadap presentasi satu komunitas yang berkaitan dengan komunitas lain

sangat berkaitan erat dengan hal-hal berikut ini: 1. Menjaga keberlangsungan pemahaman

tentang otentisitas dan orisinalitas yang berbasis “creatio ex nihilo”; 2. Berada di dalam ruang

(14)

penghambaan teks (bibliotary); dan 3. Eksplorasi terhadap jarak dan ruang belum maksimal.

Oleh karena itu, sangat penting untuk dicatat bahwa pendalaman spiritualitas itu adalah proses

pendewasaan dan pengembangan wawasan teologis. Semakin dalam spritualitas seseorang di

dalam iman yang dianut, semakin luas dan dewasa wawasan teologis. Hasilnya adalah sikap

keterbukaan menyambut berbagai kajian teks, dan mampu merespon secara kritis hasil kajian

tersebut dengan menggunakan basis kajian yang lain; bukan merespon dengan reaksi dan

kemarahan.

Daftar Rujukan

Alkitab. 2012. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

Geiger, Abraham. 1833. Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen? Bonn.

Katsh, Abraham Isaac. 1962. Judaism and the Koran: Biblical and Talmudic Backgrounds of the Koran and Its Commentaries. New York: Perpetua Book.

Masson, Denise. 1958. Le Coran et la Révélation Judéo-Chrétienne : Etudes Comparées. Vol.1. Paris : Libraire D’Amerique et D’Orient Adrien-Maissonneuve.

Muzayin, Libanun. 1999. Pandangan Syiah dan Ahmadiyah tentang al-Mahdi. Skripsi. Yogyakarta: 1999.

Nahdi, Saleh A. 1991. Masalah Khataman-Nabiyyin (Soal-Jawab). Jakarta: PT Arista Brahmatyasa.

Sidersky, David. 1933. Les Origines des Legendes Musulmanes Dans Le Coran et Dans Les Vies Des Prophetes. Paris : Librairie Orientaliste Paul Geuthner, 1933

The Holy Qur’an with Revised Transliteration in Roman Script. 2012. Translated by Muhammed Marmaduke Pickthall. New Delhi: Idara Impex.

Tottoli, Robert. 2002. Biblical Prophets in the Qur’an and Muslim Literature. Translated from I profeti biblici nella tradizione islamica. Richmond, Surrey: Curzon Press.

West-Pavlov, Russell. 2009. Space in Theory – Kristeva, Foucault, Deleuze. Amsterdam & New York.

Websites

(15)

http://quran.com/3 . Akses 1 Desember 2013.

http://quran.com/4. Akses 1 Desember 2013.

http://quran.com/33 . Akses 1 Desember 2013.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...