Perkembangan
Tingkat peradaban manusiapun dapat diketahui melalui sejarah
1. Filsafat ilmu pada zaman Yunani kuno (abad ke-7 SM)
Pada masa ini bangsa Yunani tidak lagi mempercayai mitos-mitos dan mulai senang menyelidiki sesuatu dengan kritis. Sikap kritis ini
melahirkan beberapa filosof yang berjaya dan dikenal pada zamannya dan sesudahnya seperti Thales, Anaximander, Heraclitos dan lain-lain. Oleh beberapa filosof pada zaman ini filsafat diartikan sebagai bertanya secara rasional dan mencari jawaban atas prinsip-prinsip pertama atau arkhe dari realitas. Dalam hal ini, Thales beranggapan bahwa arkhe itu adalah air, Anaximandros mengemukakan bahwa arkhe itu adalah tidak terbatas (to apeiron), sedangkan Heraclitos melihat bahwa arkhe adalah api, ia juga berpendapat bahwa segala sesuatu itu terus mengalir.
• Pada tahun 470 SM lahir seorang filosof dengan metode dan sistem
pemikiran yang lebih berkembang berbanding pendahulunya, Socrates, yang bisa diketahui pemikirannya berdasarkan
naskah-naskah salah seorang muridnya, Plato yang lazimnya disebut “dialog-dialog Plato”.
• Socrates mengajarkan bahwa kebenaran dan kepastian dapat dicapai
melalui metode dialektika. Metode ini menurutnya dapat menuntun orang untuk mempersoalkan kenyataan yang ada secara terus
menerus sampai akhirnya menemukan kepastian yang kokoh.
• Berbeda dengan gurunya, Plato berkesimpulan bahwa sumber dari
segala pengetahuan adalah ide absolut. Dalam hal ini, Plato lebih
menaruh perhatian pada kualitas yang abstrak. Selain Plato, adapula Aristoteles (384-322 SM)
• Menurut Aristoteles, berdasarkan pengalaman berulah selanjutnya
subjek memberikan uraian mendasar mengenai data-data
pengetahuan itu. Ia memandang pengetahuan sebagai hubungan timbal balik antara subjek dan objek dengan berbagai implikasinya.
2. Filsafat ilmu pada zaman abad pertengahan
Perkembangan filsafat ilmu pada abad pertengahan ditandai dengan kehadiran para teolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah ‘abadi agama’. Ajaran kristen merupakan problema kefilsafatan, karena mengajarkan bahwa wahyu tuhanlah yang merupakan kebenaran sejati, sedangkan kegitan keilmuan praktis diarahkan untuk mendukung kebenaran teologi.
Menurut Aholiab, zaman ini mengalami dua periode, yakni :
1) Periode patristik, sebuah istilah yang diambil dari kata pater yang bermakna bapa perintis gereja. Periode patristik ini terdiri pula atas dua tahap, yakni permulaan agama Kristen dan Filsafat Agustinus yang melihat dogma-dogma sebagai suatu keseluruhan.
2) Periode skolastik. Periode ini berlangsung dari tahun 800-1500 M. periode ini dibagi dalam tiga tahap, yakni : (a) Periode skolastik awal ditandai dengan lahirnya metode-metode hasil dari hubungan yang rapat antara agama dan filsafat.
(b) Periode puncak perkembangan skolastik ditandai dengan keadaan yang dipengaruhi oleh Aristoteles.