BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang - Pelaku Tindak Pidana Korupsi Yang Dapat Dibebaskan Dari Sanksi Hukuman

Teks penuh

(1)

Latar Belakang

Korupsi saat ini sudah menjadi masalah global antar Negara yang tergolong kejahatan transnasional, bahkan atas implikasi buruk multidimensi kerugian ekonomi

dan keuangan Negara yang besar maka korupsi dapat digolongan sebagai extra ordinary crime sehingga harus diberantas.

Pemberantasan korupsi harus selalu dijadikan prioritas agenda pemerintahan untuk ditanggulangi secara serius dan mendesak serta sebagai bagian dari program untuk memulihkan kepercayaan rakyat dan dunia internasional dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara yang bersangkutan. Transparency International menggunakan defenisi korupsi sebagai: “menyalahgunakan kekuasaan dan kepercayaan publik untuk keuntungan pribadi”. Dalam defenisi korupsi tersebut, terdapat tiga unsur: Menyalahgunakan kekuasaan: kekuasaan yang di percayakan (baik di sektor publik maupun swasta), memiliki akses bisnis atau keuntungan materi dan keuntungan pribadi (tidak selalu berarti hanya untuk pribadi orang yang menyalahgunakan kekuasaan, tetapi juga anggota keluarganya dan teman-temannya).

Istilah korupsi berasal dari bahasa latin “coruptio” atau “corruptus” yang berarti kerusakan atau kebobrokan. Pada mulanya pemahaman masyarakat tentang korupsi mempergunakan bahan kamus, yang berasal dari bahasa Yunani Latin “corruption” yang berarti perbuatan yang tindak baik, buruk, curang, dapat disuap, tindak normal, menyimpang dari kesucian, melanggar norma-norma agama materiil, mental dan hukum.

(2)

pejabat pemerintah yang langsung melanggar batas-bats hukum atas tingkah laku tersebut, sedangkan menurut norma-norma pemerintahan dapat dianggap korupsi apabila hukum dilanggar atau tidak dalam bisnis tindakan tersebut adalah tercela”. Jadi pandangan tentang korupsi masih ambivalen hanya disebut dapat dihukum apa tindak dan sebagai perbuatan tercela.2

Masalah penanggulangan tindak pidana korupsi di indonesia sepertinya akhir-akhir ini semakin marak, bahkan dengan mencuatnya pemberitaan beberapa oknum penegak hukum yang diduga melakukan perbuatan tercela terkait dengan tugas dan wewenangnya menambah ramainya pemberitaan di media cetak maupun eletronik.

Tidak berlebihan apabila oleh sebagian kalangan dianggap tindak pidana korupsi sebagai extraordinary crime karena telah dilakukan secara sistematis dan meluas (widespread) serta telah merasuki keseluruh lini kehidupan (deep-rooted). Meningkatnya tindak pidana korupsi yang tidak terkendali akan membawa bencana bagi kehidupan perekonomian dan pembangunan nasional. Oleh karena itu pendekatan pemberantasan korupsi kedepan, jangan hanya semata-mata menerapkan instrumen hukum pidana, mengingat pemberantasan tindak pidana korupsi dengan mengandalkan instrumen hukum pidana akhir-akhir ini oleh masyarakat dipandangan masih belum memenuhi harapan karena belum menujukkan trend menurunnya perilaku yang koruptif tersebut.

Berdasarkan fenomena ini, maka pemberantasan tindak pidana korupsi melalui tindakan hukum berdasarkan instrumen pidana yang merupakan bagian dari kebijakan hukum pidana (penal policy) harus dilakukan secara integral dan komprehensif, yaitu harus dipadukan dengan upaya yang “non penal”, terutama melalui instrumen pencegahan, yaitu dengan cara menyeimbangkan tindakan represif dengan tindakan yang bersifat preventif, meningkatkan keberhasilan penanggulangan

2

(3)

tindak pidana korupsi itu bukan terletak pada banyaknya perkara yang diajukan ke pengadilan, tetapi terletak pada keberhasilan menggugah kesadaran untuk tindak melakukan korupsi.3

Dalam pasal 1 Undang-Undang no. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dijelaskan tentang Pengertian korupsi, bahwa:

a. Barang siapa dengan melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu badan yang secara langsung atau tidak langsung merugikan keuangan dan atau perekonomian Negara atau diketahui atau patut disangka olehnya bahwa perbuatan tersebut merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara.

b. Barang siapa dengan tujuan yang menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu badan, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan, yang secara langsung atau tindak langsung dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara.

c. Barang siapa yang melakukan kejahatan yang tercantum dalam pasal-pasal 209, 210, 387, 388, 415, 416, 417, 418, 419, 420, 423, 435 KUHP.

d. Barang siapa memberikan hadiah atau janji kepada pegawai negeri seperti dimaksud dalam pasal 2 dengan mengingat sesuatu kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatannya atau kedudukannya atau oleh si pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan itu.

e. Barang siapa tanpa alasan yang wajar dalam waktu yang sesingkat-singkatnya setelah menerima pemberian atau janji yang diberikan kepadanya seperti yang tersebut dalam pasal-pasal 418, 419 dan 420 KUHP tidak melaporkan pemberian atau janji tersebut kepada yang berwajib

f. Barang siapa yang melakukan percobaan atau pemufakatan untuk melakukan tindak pidana-tindak pidana tersebut dalam ayat (1) a, b, c, d, e pasal ini.4

3

(4)

Kemudian pengertian korupsi dalam pasal 2 dan 3 Undang-Undang No. 31

Tahun 1991 tentang Pemberantasan Tindak Pidan Korupsi yang mencabut

Undang-Undang No. 3 Tahun 1971 di atas, disebutkan bahwa:

a. Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya

diri sendiri atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan Negara atau

perekonomian Negara (pasal 2 ayat 1).

b. Setiap orang yang dengan tujuan menguntukan diri sendiri atau orang lain atau

korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada

padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan

Negara atau perekonomian Negara (pasal 3).

Unsur korupsi menurut Kurniawan adalah: tindakan melawan hukum,

menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, kelompok dan golongan,

merugikan negara baik secara langsung maupun tidak langsung, dilakukan oleh

pejabat publik atau penyelenggaraan negara maupun masyarakat. Berdasarkan

beberapa pengertian tetang korupsi, maka dapat disimpulkan bahwa korupsi

merupakan suatu perbuatan melawan hukum baik secara langsung maupun tidak

langsung dapat merugikan perekonomian atau keuangan negara yang dari segi materil

perbuatan itu dipandang sebagai perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai

keadilan masyarakat.5

Berdasarkan dari pengertian maupun penjelasan tentang tindak pidana korupsi,

Indonesia merupakan salah satu negara terkorup di dunia. Selain itu Indonesia masih

sangat sulit mengatasi kasus tindak pidana korupsi. Dikarenakan belum berfungsi

secara efektif dan efisiensi dalam memberantas korupsi. Para penegak hukum

khususnya jaksa penuntut umum dalam menjalankan tugas dan wewenang mereka

4

IGM. Nurdjana, Drs, SH., M.Hum, Korupsi & Illegal Loging Dalam Sistem Desentralisasi, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005, hal 23

5

(5)

sesuai bunyi undang-undang No. 30 tahun 2002 tentang komisi pemberantasan tindak

pidana korupsi huruf b.6

Seperti halnya tindak pidana korupsi sekarang di Indonesia beberapa tahun

kebelakang ini sudah mengalami kerusakan atau sistem yang salah dalam penegakkan

hukumnya, dimana sekarang ini para penegak hukum di Indonesia

pencampuradukkan antara hukum dengan dengan politik, dimana sebenarnya kedua

sistem ini sangat berbeda dan tidak bisa di satukan. Apabila kedua sistem ini di

satukan maka hukum pun akhirnya dapat di goyangkan. Tetapi karena adanya para

hakim dan anggotanya maka setiap kasus yang di ajukan olek jaksa ke pengadilan

maka hakimlah yang menimbah dan mengadili seadil-adilnya setiap kasus yang di

jalankan.

Kasus ini sudah banyak terjadi di Indonesia, dimana si terdakwa di politisir oleh

orang-orang yang tidak senang dengannya, dimana jaksa melakukan pentuntutan

kepada terdakwa karena menurut bukti dan kesaksiannya terdakwa telah melakukan

tindak pidana korupsi, yang pada dasarnya sebenarnya ia tidak sama sekali

melakukan tindak pidana korupsi, karena tindak terpenuhnya unsur-unsur korupsi.

Salah satu kasus yang terjadi di kota Jantho Kabupaten Aceh Besar dimana

seorang selaku Kepala Direktur Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat

Mustaqim Lhoong (PD. BPRM Loong) yang bernama Ismail AF, SE Bin Affan

berumur 41 Tahun yang bertempat tinggal di Desa Mon Mata, Kecamatan Loong,

Kabupaten Aceh Besar mengingat pasal 191 ayat (1) dan pasal 97 KUHAP serta

peraturan hukum lain yang bersangkutan mengadili:7

6

Himpunan peraturan Perundang-Undangan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Penerbit Fokus Media, tahun 2008., hal 1.

7

(6)

- Menyatakan Terdakwa ISMAIL AF, SE BIN AFFAN tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Umum.

- Membebaskan Terdakwa oleh karena itu dari dakwaan tersebut.

- Memerintahkan Jaksa Penuntut Umum segera membebaskan Terdakwa dari tahanan Kota.

- Memulihkan hak Terdakwa dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya.

- Menetapkan barang bukti berupa:

1. Perjanjian kerja sama (Memorandum Of Understanding) antara pemerintah Kabupaten Aceh dengan PD Bank Perkreditan Rakyat Mustaqim Lhoong dalam rangka penyaluran Dana Pembangunan Desa/Kelurahan (DPD/K) Kabupaten Aceh Besar tahun 2004 Nomor 412.5/415/BPM-AB/2004 tanggal 5 Mei 2004. 2. Keputusan Bupati Aceh Besar Nomor 61 Tahun 2004 Tanggal 1 april 2004

tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaa Kegiatan Dana Pembangunan Desa/Kelurahan (DPD/K) tahun 2004 dalam Kabupaten Aceh Besar.

3. Keputusan Gubernur Provinsi NAD Nomor : 50/133/2005 tanggal 31 Mei 2005 tentang pengangkatan/penunjukan Direktur Perusahaan Daerah Bank Perkreditan (PD. BPR) Mustaqim Provinsi NAD.

4. Surat bupati Aceh Besar Nomor 412.5/9502 tanggal 4 November 2004 tentang Rekomendasi Pencairan DPD/K Tahun 2004.

5. Surat Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Nomor 412.6/956 Tanggal 20 Oktober 2004 tentang Pencairan DPD/K tahun 2004.

6. Laporan Realisasi dana pembangunan Desa/Keluahan (DPD/K) Kabupaten Aceh Besar bulan September 2005 tanggal 6 Oktober 2005.

7. Tanda terima transfer dana pembangunan Desa ke rekening Nomor : 010.02.02.000785-3 pada Bank BPD atas nama ISMAIL. AF.

(7)

10. Surat Perintah membayar Nomor : 632/PK/2004 tanggal 2 September 2004.

11. Keputusan Bupati Aceh Besar Nomor : KU.920/193/2004 tentang otorisasi

anggaran belanja daerah.

12. Surat perintah Pembayaran Pengisian Kas tahun anggaran 2004 bulan Mei

2004 tanggal 29 September 2006.

13. Daftar nasabah kredit PD BPR Lhoong Realisasi Bulan September 2004

tanggal 29 September 2006.

Dan seluruh bukti-bukti tambahan,berupa :

1. Surat Pernyataan dari Terdakwa Ismail AF, SE. Tanggal 15 Januari 2006.

2. Surat Camat Kecamatan Lhoong tanggal 31 Mei 2005 tentang pencairan dana

pembangunan Desa tahun 2004.

3. List saldo tabungan di PD BPRM Lhoong, per tanggal 31 Mei 2008.

4. Foto copy buku rekening 28 Kades dan 28 Ketua Tim Penggerak PKK

Desa-desa di Kecamatan Lhoong,per tanggal 31 Mei 2008.

5. Daftar rekap rekening Kades dan PKK Kecamatan Lhoong di PD BPRM Suka

Makmur Cabang Lhoong per 31 Juni 2008.

Tetap terlampir dalam berkas perkara ini.

- Membebankan biaya perkara kepada Negara.

Dengan adanya kasus di atas telah ada bukti bahwasannya kinerja Kejaksaan

masi belum bisa di percayai sepenuhnya, walaupun tetap ada beberapa kasus tindak

pidana korupsi yang belum terungkap. Masih banyak lagi kasus korupsi yang akan

dibahas. Yang khususnya akan di bahas yang terjadi di kota Jantho Kecamatan

Lhoong Aceh Besar. Alasan mengapa saya membahas masalah tindak pidana korupsi

di Kota Jantho adalah ingin memberikan sedikit atau banyaknya gambaran

bahwasannya di Kota Jantho banyak sekali kasus korupsi yang terjadi. Dimana

(8)

Kasus tindak pidana korupsi yang ada saat ini di kota Jantho sudah di

campuradukkan dengan politik, tetapi dengan ada pertimbangan hakim maka si

terdakwa bebas dari tuntutan jaksa penutut umum di kota Jantho. Salah satunya

contoh kasus korupsi yang dapat dibebaskan dari tindak pidana korupsi yang di

lakukan oleh seorang Direktur Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat

Mustaqim Lhoong di kota Jantho. Dimana ia sudah dapat di bebsakan dari tuntutan

hukum atau pun jaksa penuntut umum. Oleh karena itu penulis tertarik untuk

meninjau serta membahas lebih luas lagi mengenai masalah kasus korupsi yang dapat

di bebaskan dari sanksi hukum dalam skripsi yang berjudul “PELAKU TINDAK

PIDANA YANG DAPAT DI BEBASKAN DARI SANKSI HUKUM.”

B. RUMUSAN MASALAH

Dari uraian latar belakanag diatas Penulisan mengangkat beberapa pokok

permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini antara lain:

1. Bagaimana pengaturan hukum tentang tindak pidana korupsi

2. Bagaimana pelaku tindak pidana korupsi yang dapat dibebaskan dari ancaman

pidana

C. TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN

1. Tujuan penulisan

Berdasarkan membahasan permasalahan diatas, maka penulis memiliki tujuan

yang antara lain bertujuan untuk:

1. Untuk mengetahui pengaturan hukum tindak pidana korupsi yang berlaku di

Negara Indonesia.

2. Untuk mengetahui bagimana seorang pelaku yang di dakwa melakukan tindak

(9)

2. Manfaat

Penulisan skripsi ini diharapkan dapat dapat memberikan manfaat berupa

gambaran atau bahan pemikiran yang berguna untuk semua pihak.

1. Diharapkan agar skripsi ini mampu menjadi bahan informasi dan pemikiran

bagi perkembangan ilmu hukum di Indonesia. Dan penulis juga dapat menjadi

bahan bacaan dan menambah ilmu pengetahuan tentang hukum khususnya

hukum pidana tentang tindak pidana korupsi.

2. Diharapkan agar skripsi ini dapat menjadi sumber informasi dan referensi bagi

semua pihak, khususnya bagi para penegak hukum yang memiliki cita-cita

luhur dalam memajukan perkembangan hukum di Indonesia.

D. KEASLIAN PENULISAN

Dalam penulisan skripsi yang berjudul “Pelaku Tindak Pidana Korupsi Yang

Dapat Dibebaskan Dari Sanksi Hukum” ini adalah merupakan penulisan yang

berdasarkan pada fakta dan sumber yang bersifat otentik. Judul skripsi ini diambil

atas tinjauan putusan Nomor : 82/PID. B/2008/PN.JTH. ini di susun dengan cara

membaca, mempelajari, mengaji data-data yang ada. Penelitian judul ini juga

berdasarkan pada surat pengesahkan dari perpustakaan Hukum Universitas Sumatra

Utara sama sekali belum ada mengangkat judul ini. Dengan kata lain penulisan ini

merupakan hasil karya penulisan sendiri.

E. TINJAUAN PUSTAKA

1. Pelaku Tindak Pidana

Sebelum menguraikan mengenai pengertian korupsi, terlebih dahulu akan

diuraikan pengertian tentang tindak pidana. Pembentuk undang-undang kita memang

menggunakan istilah straafbaarfeit untuk menyebutkan nama tindak pidana, tetapi

(10)

Dalam bahasa Belanda straafbaarfeit terdapat dua unsur pembentukan kata,

yaitu straafbaar dan feit. Perkara feitdalam bahasa Belanda diartikan “sebagain dari

kenyataan”, sedang straafbaar berarti “dapat hukum”, sehingga secara harifah

perkataan straafbaarfeit berarti “sebagian dari kenyataan yang dapat dihukum” yang

sudah tentu tidak dapat. Oleh karena itu, kelak akan kita ketahui bahwa yang dapat

dihukum adalah manusia sebagian pribadi bukan kenyataan, perbuatan, atau tindakan.

Pengertian dari perkataan straafbaarfeit.

1. Simons

Dalam rumusannya straafbaarfeit itu adalah “ tindakan melawam hukum

yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tindakan dengan sengaja oleh

seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakkannya dan oleh

undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum”.

Alasan dari Simon mengapa straafbaarfeit harus dirumuskan seperti di atas

karena :

a. Untuk adanya suatu straafbaarfeitdisyaratkan bahwa disitu terdapat suatu

tindakan yang dilarang ataupun yang diwajibkan dengan undang-undang

dimana pelanggaran terhadap larangan atau kewajiban seperti itu telah

dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum;

b. Agar suatu tindakan seperti itu dapat dihukum maka tindakan itu harus

memenuhi semua unsur dari delik seperti yang dirumuskan dengan

undang-undang;

c. Setiap straafbaarfeit sebagian pelanggaran terhadap suatu larangan atau

kewajiban menurut undang-undang itu, pada hakikatnya merupakan

tindakan melawan hukum atau suatu onrechtmatige handeling.8

Jadi, setiap melawan hukum timbul dari suatu kenyataan bahwa tindakan

manusia bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, sehingga pada

8

(11)

dasarnya sifat tersebut bukan suatu unsur dari delik yang mempunyai arti tersendiri

seperti halnya dengan unsur lain.

Menurut E.utrecht menerjemahkan straafbaarfeit dengan istilah peristiwa

pidana yang seiring juga ia sebut delik, karena peristiwa itu suatu perbuatan handelen

atau doen-positif atau suatu melalaikan nalaten-negatif, maupun akibatnya (keadaan

yang di timbulkan karena perbuatan atau melalaiktan itu). Peristiwa pidana

merupakan suatu peristiwa hukum (rechtsfeit), yaitu peristiwa kemasyarakatan yang

membawa akibat yang diatur hukum. Tindakan semua unsur yang disinggung oleh

suatu ketentuan pidana dijadikan unsur yang mutlak dari peristiwa pidana. Hanya

sebagian yang dapat dijadikan unsur-unsur mutlak suatu tindak pidana. Yaitu perilaku

manusia yang bertentangan dengan hukum dan adanya seorang pembuat dalam arti

kata bertanggung jawab.9

Tindak pidana adalah merupakan suatu dasar yang pokok dalam menjatuhi

pidana pada orang yang telah melakukan perbuatan pidana atas dasar pertanggung

jawaban seseorang atas perbuatan yang telah dilakukannya, tapi sebelum itu

mengenai dilarang dan diancamnya suatu perbuatan yaitu mengenai perbuatan

pidananya sendiri, yaitu berdasarkan azas legalitas (Principle of legality) asas yang

menentukan bahwa tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana

jika tidak ditentukan terlebih dahulu dalam perundang-undangan, biasanya ini lebih

dikenal dalam bahasa latin sebagai Nullum delictum nulla poena sine praevia lege

(tidak ada delik, tidak ada pidana tanpa peraturan lebih dahulu), ucapan ini berasal

dari von feurbach, sarjana hukum pidana Jerman. Asas legalitas ini dimaksud

mengandung tiga pengertian yaitu:

a. Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu

terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang.

b. Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi.

9

(12)

c. Aturan-aturan hukum pidana tidak boleh berlaku surut.10

2. Korupsi

Dalam Ensiklopedia Indonesia disebut “korupsi” (dari bahasa Latin:

corruptio= penyuapan; corruptore= merusak) gejala dimana para pejabat,

badan-badan negara menyalahgunakan wewenang dengan terjadinya penyuapan, pemalsuan

serta ketidakberesan lainnya. Adapun arti harfah dari korupsi dapat berupa:

a) Kejahatan, kebusukan, dapat disuap, tidak bermoral, kebejatan, dan

ketidakjujuran (S. Wojowasito-W.J.S. Poerwadarminta, kamus lengkap

Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, Penerbit: Hasta, Bandung).

b) Perbuatan buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok, dan

sebagainya. (W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia,

Penerbit: Balai Pustaka, 1976).

c) 1. Korup (busuk; suka menerima uang suap/sogok; memakai kekuasaan untuk

kepeningan sendiri dan sebagainya);

a. Korupsi (perbuatan busuk perti penggelapan uang, penerimaan uang sogok,

dan sebagainya);

b. Koruptor (prang yang korupsi).11

Secara harfiah korupsi merupakan suatu yang busuk, jahat, dan merusak. Jika

membicarakan tentang korupsi memang akan menemukan kenyataan semacam itu

karena korupsi menyangkut segi-segi moral, sifat dan keadaan yang busuk, jabatan

dalam instansi atau aparatur pemerintahan, sifat dan keadaan yang busuk, jabatan

karena pemberian, faktor ekonomi dan politik, serta penempatan keluarga atau

golongan ke dalam kedinasan di bawah kekuasaan jabatannya. Dengan demikian,

10

www.sarjanaku.com/2012/12/pengertian-tindak-pidana-dan-unsur.html diakses tanggal 5 mei 2013

11

(13)

secara harfiah dapat ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya istilah korupsi memiliki

arti yang sangat luas.

1. Korupsi, penyelewengan atau penggelapan (uang Negara atau perusahaan dan

sebagainya) untuk kepentingan pribadi dan orang lain.

2. Korupsi: busuk, rusak. Suka memakai uang yang di percayakan kepadanya,

dapat disogok (melalui kekuasaanya untuk kepentingan pribadi).

Adapun menurut Subekti dan Tjitrosoedibio dalam kamus Hukum, yang

dimaksud curruple adalah korupsi; perbuatan curang; tindak pidana yang merugikan

keuangan Negara.12

3. Sanksi Hukum

Berdasarkan ketentuan undang nomor 31 Tahun 1999 jo

undang-undang nomor 20 tahun 2001, jenis penjatuhan pidana yang dapat dilakukan hakim

terhadap terdakwa tindak pidana korupsi adalah sebagai berikut.

Terhadap Orang yang melakukan Tindak Pidana Korupsi

1. Pidana Penjara

1. Pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat)

tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp.

200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.

1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) bagi setiap orang yang secara melawan

hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau

suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan Negara atau perkonomian

Negara. (Pasal 2 ayat 1)

12

(14)

2. Pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun

dan/atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan

paling banyak satu Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) bagi setiap

orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau

suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana

yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan

keuangan Negara atau perekonomian Negara (Pasal 3)

3. Pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas)

tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.150.000.000,00 (seratus lima puluh

juta rupiah) dan paling banyak Rp. 600.000.000,00 (enam ratus juta) bagi

setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi atau menggagalkan

secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan

di siding pengadilan terhadap tersangka atau terdakwa ataupun para saksi

dalam perkara korupsi. (Pasal 21)

4. Pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas)

tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh

juta rupiah) dan paling banyak Rp. 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah)

bagi setiap orang sebagaimana dimaksud dalam pasal 28, pasal 29, pasal 35,

dan pasal 36 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 yang dengan sengaja

tidak memberikan keterangan yang tidak benar.(pasal 22)

2. Pidana Mati

Dapat dipidana mati karena kepada setiap orang yang secara melawan hukum

melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi

yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara sebagaimana

ditentukan dalam Pasal 2 ayat (2) Undang-undang nomor 31 tahun 1999 yang

dilakukan dalam keadaan tertentu. Adapun yang dimaksud dengan keadaan tertentu

(15)

dilakukan pada waktu Negara dalam keadaan bahaya sesuai dengan Undang-Undang

yang berlaku, pada waktu terjadi bencana alam nasional, sebagai pengulangan tindak

pidana korupsi, atau pada saat Negara dalam keadaan krisis ekonomi (moneter).

3. Pidana Tambahan

1. Perampasan barang bergerak yang berwujud atau yang tidak berwujud atau

barang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak

pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana dimana tindak pidana

korupsi dilakukan, begitu pula dari barang yang menggantikan barang-barang

tersebut.

2. Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama

dengan harta yang diperoleh dari tindak pidana korupsi.

3. Penutupan seluruh atau sebagian perusahaan untuk waktu paling lama 1 (satu)

tahun.

4. Pencabutan seluruh atau sebagian hak-hak tertentu atau penghapusan seluruh

atau sebagian keuntungan tertentu yang telah atau dapat diberikan oleh

pemerintah kepada terpidana.

5. Jika terpidana tidak membayar uang pengganti paling lama dalam waktu 1

(satu) bulan sesudah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan

hukum tetap maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk

menutupi uang pengganti tersebut.

6. Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk

membayar uang pengganti maka terpidana dengan pidana penjara yang

lamanya tidak memenuhi ancaman maksimum dari pidana pokoknya sesuai

(16)

tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dan lamanya pidana

tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan.13

4. Terhadap Tindak Pidana yang dilakukan oleh atau atas nama suatu Korporasi

Pidana pokok yang dapat dijatuhkan adalah pidana denda dengan ketentuan

maksimal ditambah 1/3 (sepertiga). Penjatuhan pidana ini melalui procedural

ketentuan pasal 20 ayat (1)-(5) undang-undang 31 tahun 1999 tentang pemberantasan

tindak pidana korupsi adalah sebagai berikut:

1. Dalam hal tindak pidana korupsi dilakukan oleh atau atas nama suatu

korporasi, maka tuntutan dan penjatuhan pidana dapat dilakukan terhadap

korporasi dan/atau pengurusnya.

2. Tindak pidana korupsi dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut

dilakukan oleh orang baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasarkan

hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri

maupun bersama-sama.

3. Dalam hal ini tuntutan pidana dilakukan terhadap suatu korporasi maka

korporasi tersebut diwakili oleh pengurus, kemudian pengurus tersebut dapat

diwakilkan kepada orang lain.

4. Hakim dapat memerintahkan supaya pengurus korporasi menghadap sendiri di

pengadilan dan dapat pula memerintahkan supaya penguruh tersebut dibawa

ke siding pengadilan.

5. Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap korporasi, maka panggilan

untuk menghadap dan menyerahkan surat panggilan tersebut disampaikan

kepada pengurus di tempat tinggal pengurus atau ditempat pengurus

berkantor.14

13

Ibid, hal 12-14 14

(17)

F. METODE PENULISAN

Untuk melengkapi penulisan skripsi ini agar tujuannya dapat

dipertanggungjawabkan maka digunakan metode penulisan, lalu melakukan

penelitian dengan cara-cara yang telah di tentukan.

1. Jenis Penulisan

Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metode penelitian yuridis

normative yaitu metode penelitian hukum yang melihat tentang isi dan dan peraturan

atau undang-undang yang ada di lengkapi dengan studi putusan. Dimana metode ini

penulis memokuskan kepada penelitian studi kepustakaan. Dimana penulis

memokuskan kepada undang-undang tindak pidana korupsi.

2 . Sumber Dan Teknik Pengumpulan Data

a. Sumber

Sumber penelitian ini diambil penulis skripsi melalui data sekunder. Data

sekunder ini adalah bahan-bahan kepustakaan hukum dan dokumen-dokumen yang

berkaitan dengan permasalahan yang dikemukakan. Terutama dari buku-buku dan

literature yang sudah ada yang terdiri dari:

1. Bahan hukum primer, yaitu peraturan hukum yang mengikat dan mengatur

berdasarkan peraturan perundangan-undangan.

2. Bahan hukum sekunder, yaitu buku-buku dan literature lainnya yang berkaitan

dengan pokok permasalahan dalam skripsi ini.

3. Bahan hukum tertier, yaitu berupa bahan hukum primer dan bahan hukum

(18)

b. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang di lakukan oleh penulis ini adalah dengan

pengumpulan data melalui studi pustaka, dimana penulis memperoleh data atau

bahan-bahan yang ada dengan cara mengumpulkan dan membahasnya melalui bahan

hukum primer, sekunder dan tersier.

G. SISTEMATIKA PENULISAN

Dalam suatu karya ilmiah atau pun penulisan skripsi sistematika penulisan

sangat di perlukan. Ini bertujuan untuk mempermudah para membaca dan memahami

isi dari dalam karya ilmiah. Sistematika ini sendiri memberikan gambaran singkat

mengenai karya ilmiah. Dalam penulisan skripsi ini akan di bagi menjadi 4 (Empat)

(19)

BAB I

Bab 1 berisi tentang pendahuluan dan latar belakang bagaimana penulis mengambil

topik atau judul yang akan dibahas di bab berikutnya oleh penulis. Bab ini terdiri dari

rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, keaslian penelitian, tinjauan

pustaka, metode penulisan dan sistematika penulisan.

BAB II

Dalam bab ini menguraikan tentang pengaturan hukum bagi tindak pidana korupsi

baik dilihat dari segi pasif maupun aktif, rumusan delik dan pertanggungjawaban

tindak pidana korupsi dan bentuk-bentuk tindak pidana korupsi tersebut.

BAB III

Dalam bab ini membahas tentang bagaimana pelaku tindak pidana korupsi dapat di

bebaskan dari ancaman pidana dalam putusan Nomor : 82/PID. B/2008/PN.JTH.

BAB IV

Ini merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran atas permasalahan yang

telah dikemukakan. Dalam hal ini penulis skripsi memberikan jawaban terhadap

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...