BANGSA KETINGGALAN KERETA: SEBUAH DOKUMENTER UNTUK PEMBELAJARAN SEJARAH
FIKRUL HANIF SUFYAN*
*) Staf Dosen Tetap Prodi Pendidikan Sejarah STKIP Yayasan Abdi Pendidikan, Email: [email protected]
ABSTRAK
“Bangsa Ketinggalan Kereta” merupakan film dokumenter yang diproduksi Kompas TV pada tahun 2012. Film ini berisi tentang dekspripsi mengenai sejarah perkeretapian, dan menjadi bagian menarik dalam pembelajaran sejarah, terutama media audio visual di sekolah menengah dan Perguruan Tinggi-terutama untuk periode kolonial Belanda. Tulisan ini memakai metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Penulisan artikel ini, merupakan kombinasi dari sumber sejarah, dokumen sejarah, jurnal, buku, laporan riset, dan film dokumenter iu sediri. Satu hal terpenting, “Bangsa Ketinggalan Kereta” merupakan narasi sejarah yang berisi uraian pem-bangunan rel kereta api dari dulu sampai kini, yang makin menyusut seiring dengan pertumbuhan penduduk di Indoensia. Dalam film dokumenter tersebut, setiap orang akan diajak masuk dalam ruang waktu dan mengajarkan kepada mereka untuk senantiasa mengingat, hadirnya rel kereta api, telah memudahkan pribumi untuk memperpendek jarak tempuh, yang biasanya harus dilalui berhari-hari, kini hanya dalam hitungan menit dan jam saja.
A. Pendahuluan
No document no history, sebuah
pameo dalam dunia sejarah yang meng-gambarkan pentingnya dokumentasi dalam penelitian ataupun penulisan sejarah. Ketika dokumen dalam bentuk arsip, koran, majalah, literatur “diramu” dalam sebuah bait tulisan, jadilah ia teks sejarah. Namun dalam proses berikut-nya, sangat disayangkan jika untaian kata dalam teks sejarah terbuang percuma, ketika si pembaca kurang memahaminya, bahkan cenderung ma-las untuk membacanya, karena ia di-anggap sebagai bagian dari masa lalu.
Sebagai pengajar di sekolah, tentu-nya guru sebagai ujung tombak dalam usaha pencerdasan anak bangsa di-hadapkan dengan persoalan di atas. Ditambah, kurikulum 2013 menuntut seorang guru sejarah dituntut mahami aspek-aspek lokalitas dan me-nularkannya kepada anak didiknya. Persoalan pelik yang sering dihadapi seorang guru, ketika siswa mulai bosan dihadapkan dengan catatan angka-angka mati, bosan menghafal nama-nama orang besar, peristiwa-peristiwa besar, dan lain sebagainya. Tidak mengheran-kan, bila siswa-siswa lebih menyukai pelajaran-pelajaran di luar sejarah.
Ketika guru sejarah berhadapan de-ngan persoalan-persoalan tersebut, salah satu media yang bermanfaat untuk mengatasi kejenuhan itu adalah dengan “mengapungkan” film dokumenter seja-rah. Munculnya istilah film dokumenter
sebagai bagian integral dari media1
1Menurut Azhar Arsyad kata media berasal
dari bahasa latin, yakni medium yang secara harfiah artinya perantara atau pengantar. Maka media dapat dikatakan sebagai perantara aatau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Sedangkan NEA (National Education Association) memberi batasan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya, media mudahnya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar dan dibaca. Maka jika merujuk pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesnuatu yang digunakan
audio visual bukanlah hal yang baru. Sejak awal ditemukannya sinema, si-neas film di Amerika dan Perancis telah mencoba mendokumentasikan apa saja yang ada di sekeliling mereka dengan alat hasil temuan mereka. Seperti Lu-miere bersaudara, mereka merekam peristiwa sehari-hari yang terjadi di sekitar mereka, seperti para buruh yang meninggalkan pabrik, kereta api yang masuk stasiun, buruh bangunan yang
bekerja, dan lain sebagainya.2
Film-film berikutnya yang dihasilkan oleh sineas cukup beragam. Salah satu film dokumenter yang menarik untuk
dibahas dalam tulisan ini adalah Bangsa
Ketinggalan Kereta. Film yang
dipro-duksi KG Production pada tahun 2012 ini, menampilkan lembaran episode per-kembangan transportasi kereta api di Sumatera Barat dan di Jawa Barat. Selain itu, dalam film yang berdurasi 24 menit tersebut juga menampilkan sisi unik dari aktivitas-aktivitas yang ber-hubungan dengan perekonomian di pe-dalaman Minangkabau.
Film produksi KG Production ini pada dasarnya memberi ruang informasi langsung pada penikmat film, bagai-mana seharusnya memaknai dan meng-hargai deskripsi sejarah Minangkabau
dan sejarah nasional. Bangsa
Ke-tinggalan Kereta ini tentunya memberi
untuk menyalurkan, merangsang fikiran, perasaan, minat, serta perhatian siswa sehingga proses belajar terjadi. Lebih lanjut baca Azhar Arsyad, Media Pembelajaran. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), hlm. 3. Baca juga dalam Harsya W Bachtiar, Media Pendidikan.
(Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1984), hlm. 6. 2Film yang dihasilkan Lumiere pada masa
itu masih sangat sederhana (hanya satu shot) dan durasinya pun hanya beberapa detik saja. Film-film ini lebih sering diistilahkan “actuality films”. Beberapa dekade kemudian sejalan dengan penyempurnaan teknologi kamera berkembang menjadi film dokumentasi perjalanan atau ekspedisi, seperti South (1919) yang mengisahkan kegagalan sebuah ekspedisi
ke Antartika. Lebih lanjut baca David
pemahaman lebih lanjut terhadap teks sejarah yang terkadang sulit dipahami oleh siswa. Setidaknya, film dokumen-ter ini bisa menggugah keingintahuan siswa terhadap deretan rel-rel kereta api mulai dari Padang, Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Sawahlunto, Si-junjung, dan Payakumbuh yang seakan menjadi saksi bisu dari masa keemasan transportasi pada masa kolonial Belan-da. Bagaimana perkembangan sejarah film dokumenter?, Bagaimana kisah-kisah dalam segmen film dokumenter
Bangsa Ketinggalan Kereta dan
man-faatnya terhadap pembelajaran sejarah?, akan penulis uraikan dalam tulisan yang singkat ini.
B. Kerangka Konseptual
Secara harfiah, film (sinema) adalah
cinematographie yang berasal dari kata
cinema (gerak), tho atau phytos
(cahaya), dan graphie atau grhap (tulisan, gambar, citra). Jadi penger-tiannya adalah melukis gerak dengan cahaya. Agar dapat melukis gerak dengan cahaya, harus menggunakan alat khusus, yang biasa disebut kamera. Film sebagai karya seni sering diartikan hasil cipta karya seni yang memiliki kelengkapan dari beberapa unsur seni untuk memenuhi kebutuhan yang
sifatnya spiritual.3
Sedangkan dokumenter diartikan se-lalu berubah sejalan dengan perkem-bangan film dokumenter dari masa ke masa. Sejak era film bisu, film doku-menter berkembang dari bentuk yang sederhana menjadi semakin kompleks
3Dalam hal ini unsur seni yang terdapat dan
menunjang sebuah karya film adalah: seni rupa, seni fotografi, seni arsitektur, seni tari, seni puisi sastra, seni teater, seni musik. Kemudian ditambah lagi dengan seni pantomin dan novel. Kesemuannya merupakan pemahaman dari sebuah karya film yang terpadu dan biasa kita lihat. Lebih lanjut lihat A. Baksin,Membuat Film Indie itu Gampang. (Bandung: Katarsis, 1986).
dengan jenis dan fungsi yang semakin bervariasi.
Film dokumenter tidak seperti halnya film fiksi, merupakan sebuah rekaman peristiwa yang diambil dari kejadian yang nyata atau sungguh-sungguh ter-jadi. Inovasi teknologi kamera dan suara memiliki peran penting bagi
perkem-bangan film dokumenter.4 Sejak
awal-nya film dokumenter haawal-nya mengacu pada produksi yang menggunakan format film (seluloid) namun selanjut-nya berkembang hingga kini mengguna-kan format video (digital).
Pertunjukan film di Indonesia sudah dikenal orang pada tahun 1990, sebab pada tahun itu iklan bioskop sudah termuat di koran-koran. Sedang pem-buatan film, baru dikenal tahun 1910-an. Itu pun sebatas pada pembuatan film dokumenter, film berita atau film laporan. Pada tahun 1926, barulah dimulai pembuatan film cerita di
Bandung.5
Dua aspek penting dari awal sejarah film untuk melihat bagaimana status
dan peranan film ditumbuhkan.
Perta-ma, film dilahirkan sebagai tontonan
umum (awal 1900-an), karena semata-mata menjadi alternatif bisnis besar jasa hiburan di masa depan manusia kota.
Kedua, film dicap 'hiburan rendahan'
orang kota. namun sejarah membukti-kan bahwa film mampu melakumembukti-kan kelahiran kembali untuk kemudian mampu menembus seluruh lapisan masyarakat, juga lapisan menengah dan atas, termasuk lapisan intelektual dan budayawan. bahkan kemudian seiring dengan kuatnya dominasi sistem In-dustri Hollywood, lahir film-film per-lawanan yang ingin lepas dari wajah seragam Hollywood yang kemudian melahirkan film-film Auteur. Yakni
4Misbach Yusah Biran, Sejarah Film
1900-1950. (Jakarta: Komunitas Bambu, 2010). 5Gayus Siagian, Sejarah Film Indonesia.
film-film personal sutradara yang sering disebut sebagai film seni.
C. Metode Penelitian
Metode dalam penelitian ini adalah
metode sejarah (historis). Menurut
Kuntowijoyo6 metode historis tersebut
merupakan suatu metode dalam menye-lidiki masa lampau yang meliputi teknik
pencarian sumber atau heuristik,
pengu-jian validitas atau keaslian sumber
(kritik), serta historiografi atau
penuli-san atas data yang sudah dianalisis dan disintesis. Dengan proses metode seja-rah yang dilakukan sedemikian rupa tadi dapat diceritakan kembali kejadian di masa lampau tersebut dengan apa adanya atau obyektifitas. Menurut
Gott-chalk7, metode sejarah meliputi
pe-ngumpulan informasi yang diperlukan
dari berbagai sumber (heuristik),
Pengu-jian otentisitas dan kredibilitas (kritik sumber), analisis dan sintesis tentang interpretasi fakta sejarah dan penulisan (historiografi).
Heuristik merupakan tahap awal
da-lam metode sejarah berupa pengum-pulan sumber-sumber sejarah, baik ter-tulis maupun lisan. Dalam tahap ini penulis mencari sumber sejarah dengan mengumpulkan sumber yang relevan dengan topik yang dibahas lewat se-buah studi pustaka tentang perkem-bangan film dokumenter. Sumber-sum-ber pustaka sebagai data tertulis ini berupa buku-buku, laporan penelitian, dokumen yang menyebut perkembang-an dari film dokumenter. Mengenai dilakukannya studi perpustakaan ber-tujuan memperoleh keabsahan dari pe-nelitian.
Tahap berikutnya adalah kritik
sum-ber. Tahap ini dilakukan untuk
memba-ca sumber-sumber yang diperoleh dan
6Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah.
(Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994), hlm. 10-12.
7Louis Gottschalk, Mengerti sejarah. Terj.
Nugroho Notosusanto. Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1986) hlm. 38.
menilainya dengan kritis. Penilaian le-bih banyak dicurahkan pada beberapa teori, baik berupa pembenaran, sangga-han, sehingga dapat masuk kelangkah selanjutnya berupa sintesis dan analisis atas masa lampau. Fakta yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis prosesual dan struktural. Analisis prose-sual digunakan guna menemukan mun-culnya film dokumenter. Analisis
struk-tural8 digunakan untuk mengana-lisis
kajian film dokumenter dan hubu-ngannya dengan film Bangsa Ketingga-lan Kereta. Tahap keempat yaitu tahap laporan berbentuk kajian historiografi tradisional dengan obyek penelitian kisah tradisi lisan.
D. Pembahasan
1. Perkembangan Film Dokumenter Era 1922-1945
Tonggak awal munculnya film doku-menter secara resmi yang banyak diakui
oleh sejarawan adalah film Nanook of
the North (1922) karya Robert Flaherty.
Filmnya menggambarkan kehidupan
seorang eskimo bernama Nanook di
wi-layah Kutub Utara. Flaherty meng-habiskan waktu hingga enam belas bu-lan lamanya untuk merekam aktifitas keseharian Nanook beserta istri dan put-ranya, seperti berburu, makan, tidur,
dan sebagainya. Sukses komersil
Na-nook membawa Flaherty melakukan
ekspedisi ke wilayah Samoa untuk memproduksi film dokumenter sejenis
berjudul Moana (1926).9
8Mengenai model analisis struktural lihat
Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah, (Jakarta: Gramedia, 1993). hlm. 100-101, dan Christhoper Lloyd,
The Structure of History, (Cambridge:
Blackwell, 1993).
9Walau tidak sesukses Nanook namun
melalui film inilah pertama kalinya dikenal istilah “documentary”, melalui ulasan John Grierson di surat kabar New York Sun. Oleh karena peran pentingnya bagi awal perkembangan film dokumenter, para sejarawan sering kali menobatkan Flaherty sebagai “Bapak
Sukses Nanook juga menginspirasi sineas-produser Merian C. Cooper dan Ernest B. Schoedsack untuk
mempro-duksi film doku-menter penting, Grass:
A Nation’s Battle for Life (1925) yang
menggambarkan sekelompok suku lokal yang tengah bermigrasi di wilayah Persia. Kemudian berlanjut dengan
Chang: A Drama of the Wilderness
(1927) sebuah film dokumenter per-jalanan yang mengambil lokasi di pe-dalaman hutan Siam (Thailand). Ekso-tisme film-film tersebut kelak sangat memengaruhi produksi film (fiksi)
fenomenal produksi Cooper, yaitu King
Kong (1933).10 Lebih lanjut David
Parkinson menulis:
Film dokumenter berkembang sema-kin kompleks di era 30-an. Munculnya teknologi suara juga semakin meman-tapkan bentuk film dokumenter dengan teknik narasi dan iringan ilustrasi musik. Pemerintah, institusi, serta peru-sahaan besar mulai mendukung pro-duksi film-film dokumenter untuk kepentingan yang beragam. Salah satu film yang paling berpengaruh adalah
Triump of the Will (1934) karya sineas
wanita Leni Riefenstahl, yang
digunak-an sebagai alat propagdigunak-anda Nazi.11
Film: Panduan untuk menjadi produser. (Jakarta: Panduan, 2002).
10Di Eropa, beberapa sineas dokumenter
berpengaruh juga bermunculan. Di Uni Soviet, Dziga Vertov memunculkan teori “kino eye”. Ia berpendapat bahwa kamera dengan semua tekniknya memiliki nilai lebih dibandingkan mata manusia. Ia mempraktekkan teorinya melalui serangkaian seri cuplikan berita pendek,
Kino Pravda (1922), serta The Man with Movie
Camera (1929) yang menggambarkan
kehidupan keseharian kota-kota besar di Soviet. Sineas-sineas Eropa lainnya yang berpengaruh adalah Walter Ruttman dengan filmnya, Berlin - Symphony of a Big City (1927) lalu Alberto
Cavalcanti dengan filmnya Rien Que les
Heures. Lebih lanjut baca David Parkinson, History of Film. (United Kingdom: Thames & Hudson, Ltd, 1995), hlm. 57.
11Untuk kepentingan yang sama, Riefenstahl
juga memproduksi film dokumenter penting lainnya, yakni Olympia (1936) yang berisi dokumentasi even Olimpiade di Berlin. Melalui
Bagaimana dengan perkembangan film Amerika pada era 1930an? Pada masa depresi besar atau dalam
isti-lahnya disebut zaman malaysie, telah
memicu pemerintah mendukung para sineas dokumenter untuk memberikan informasi seputar latar belakang penye-bab depresi. Salah satu sineas yang menonjol adalah Pare Lorentz. Ia
meng-awali dengan The Plow that Broke the
Plains (1936), dan sukses film ini
buat Lorentz kembali dipercaya mem-produksi film dokumenter ber-pengaruh
lainnya, The River (1937). Kesuksesan
film-film tersebut membuat pemerintah Amerika serta berbagai institusi makin serius mendukung proyek film-film do-kumenter. Dukungan ini semakin inten-sif pada dekade mendatang setelah perang dunia berkecamuk.
Pada era tahun 1940an, Perang Dunia II telah mengubah status film dokumen-ter ke tingkat yang lebih tinggi. Peme-rintah Amerika bahkan meminta bantu-an industri film Hollywood untuk memproduksi film-film (propaganda) yang mendukung perang. Film-film dokumenter menjadi semakin populer di masyarakat. Sebelum televisi muncul, publik dapat menyaksikan kejadian dan peristiwa di medan perang melalui film dokumenter serta cuplikan berita pen-dek yang diputar secara reguler di teater-teater.
Beberapa sineas papan atas Holly-wood, seperti Frank Capra, John Ford, William Wyler, dan John Huston dimin-ta oleh pihak militer untuk memproduk-si film-film dokumenter Perang. Capra misalnya, memproduksi tujuh seri film
dokumenter panjang bertajuk, Why We
Fight (1942-1945) yang dianggap
seba-gai seri film dokumenter propaganda terbaik yang pernah ada. Capra bahkan
bekerja sama dengan studio Disney untuk membuat beberapa sekuen anim-asinya. Sementara John Ford melalui
The Battle of Midway (1942) dan
William Wyler melalui Memphis Belle
(1944) keduanya juga sukses meraih piala Oscar untuk film dokumenter ter-baik.12
Sedangkan di Indonesia, tayangan film pertama kali muncul di Batavia (Jakarta), tepatnya di Tanah Abang Kebonjae, pada 5 Desember 1900. Na-mun, kehadiran bioskop ini tidak dapat dikatakan sebagai tonggak awal sejarah film Indonesia. Alasannya, film-filmnya saat itu masih impor dari luar negeri.
Film cerita pertama yang diproduksi di Indonesia, tepatnya di Bandung, baru ada pada tahun 1926. Pada tahun 1926, NV Java Film Company, yang berdiri di Bandung, membuat film cerita rakyat Tatar Sunda “Loetoeng Kasaroeng”. Bahkan setahun kemudian, G. Krugers, pembuat “Loetoeng Kasaroeng”,
12Sineas Swedia, Arne Sucksdorff
menggu-nakan lensa telefoto dan kamera tersembunyi untuk merekam kehidupan satwa liar dalam The Great Adventure (1954); Oceanografer Jeacques Cousteau memproduksi beberapa seri film dokumenter kehidupan bawah laut, seperti The Silent World (1954); Observasi kota tampak melalui karya Frank Stauffacher, Sausalito
(1948) serta Francis Thompson, N.Y., N.Y.
(1957). Mengikuti gaya eksotis Flaherty, John Marshall memproduksi The Hunters (1956) mengambil lokasi di gurun Kalihari di Afrika. Lalu Robert Gardner memproduksi salah satu film antropologis penting, Dead Birds (1963) yang menggambarkan suku Dani di Indonesia dengan ritual perangnya. Di Perancis, beberapa sineas berpengaruh seperti Alan Resnais, Georges Franju, serta Chris Marker lebih terfokus pada masalah seni dan budaya. Resnais mencuat namanya setelah filmnya, Van Gogh
(1948) meraih penghargaan di Venice dan Academy Award. Franju memproduksi beberapa film dokumenter berpengaruh seperti
Blood of the Beast (1948) dan Hotel des invalides (1951). Sementara Marker mempro-duksi Sunday in Peking (1956) dan Letter from Siberia (1958). Lebih lanjut baca David Parkinson, History of Film. (United Kingdom: Thames & Hudson, Ltd, 1995), hlm. 102.
bali menggarap film “Eulis Acih”, dan
“Karnadi Tangkap Bangkong”.13
2. Sumbangsih Bangsa Ketinggalan
Kereta dalam Pembelajaran Sejarah
Muncul pertanyaan, apa kelebihan film dokumenter dalam pembelajaran sejarah? Tanpa harus menggurui, film
Bangsa Ketinggalan Kereta turut
mem-permudah siswa yang mulai mengantuk ketika mendengar penjelasan-penjelasan dari gurunya. Minat siswa terhadap mata pelajaran pada hari ini, menurut Gusti Asnan cenderung mengalami kemunduran karena penyaji itu sendiri
masih gagap teknologi.14
Salah satu terobosan penting yang mampu membangkitkan gairah pembe-lajaran sejarah adalah melalui penyajian media pembelajaran berbasis audio vi-sual, dan satu contoh terdepan adalah film dokumenter. Melalui film doku-menter yang bisa dijumpai diberbagai channel siaran televisi, dunia maya, se-benarnya bisa mengubah pelajaran sejarah yang dulunya dianggap monoton menjadi pelajaran yang mengasyikkan.
Selain itu, film-film dokumenter juga mendorong guru-guru sejarah untuk kreatif membuat media audio visual meskipun dalam bentuk yang sederha-na, sehingga bisa meningkatkan hasil pembelajaran secara maksimal. Menga-pa harus film dokumenter, bukan media gambar? Bukan hal yang aneh, bila siswa dan mahasiswa hari ini lebih suka menerima informasi-informasi melalui audio visual, dibandingkan dengan membaca buku secara manual.
Fenomena-fenomena di atas merupa-kan sebuah kewajaran dan tidak ter-elakkan karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menuntut
13Misbach Yusah Biran, Sejarah Film
1900-1950. (Jakarta: Komunitas Bambu, 2010). 14Gusti Asnan, “Sejarah Publik dan
setiap pengajar untuk mampu beradap-tasi di dalamnya. Seperti yang telah di-jelaskan sebelumnya, bahwa pada era 1930an, industri film di Amerika sudah menyajikan peristiwa-peristiwa dampak dari masa depresi ekonomi dan men-dapat sokongan penuh dari pemerintah Amerika Serikat.
Tidak hanya di Amerika, di Indone-sia pun melalui produksi NIFM Poly-goon-Haarlem sudah merekam jejak-jejak aktivitas pada era 1930an di Indo-nesia pada umumnya dan Sumatera Barat khususnya.
Perkembangan film dokumenter hari ini cenderung mengalami kemajuan
pe-sat. Bangsa Ketinggalan Kereta
meru-pakan salah satu film yang diproduksi KG Production pada tahun 2012. Film berdurasi 24 menit ini menampilkan suasana sejarah sosial, ekonomi, sekali-gus geografis Minangkabau pada masa Hindia Belanda hingga masa pendudu-kan Jepang. Aspek yang disoroti dalam film berdurasi menengah ini adalah ber-banding terbaliknya kesadaran pemerin-tah pada hari ini dengan pemerinpemerin-tah Hindia Belanda dalam melayani trans-portasi publik dan distribusi hasil bumi di Sumatera Barat. Pada masa kekua-saannya, pemerintah kolonial Belanda memang memiliki kesadaran lebih tinggi untuk mendokumentasikan selu-ruh aktivitas mereka di tanah jajahan, melalui dokumen arsip, surat kabar, foto-foto, dan yang paling mutakhir adalah film dokumenter. Kesadaran me-reka untuk mendokumentasikan seluruh peristiwa yang terjadi di tanah jajahan dalam bentuk audio visual, memang agak berbeda dengan kesadaran dari kita sebagai bangsa yang pernah “dijajah” dalam memaknai arti penting-nya dokumentasi sejarah. Maka, film
Bangsa Ketinggalan Kereta menarik
untuk dicermati, terutama membantu guru dan siswa dalam memahami bagian episode kecil sejarah lokal di Su-matera Barat.
Bangsa Ketinggalan Kereta
meru-pakan salah bentuk film yang mema-dukan benang merah sejarah dan masa kini. Film yang dikemas apik oleh Dandhy D Laksono ini melakukan pro-ses pengambilan gambar di beberapa lokasi. Terpilihnya kawasan Sumatera Barat sebagai salah satu lokasi shoting, karena kereta api pernah mengalami masa keemasan pada pada masa Hindia Belanda, mengalami kemunduran pada tahun 1980an. Generasi yang lahir pada akhir 1990an, hanya bisa menikmati deretan rel kereta api yang masih membentang antara Padang hingga ke Payakumbuh.
Bangsa Ketinggalan Kereta memulai
pe-nyajiannya dengan informasi, pada tahun 1939 Nederalands Indie memiliki panjang rel 6000 kilometer. Puluhan tahun kemudian, atau tepatnya tahun 2004 panjang rel kereta api ini
menyu-sut menjadi 4337 kilometer.15 Tentu
kondisi ini sangat ironis mengenai perkembangan rel kereta api yang terus mengalami penurunan karena tergilas oleh perkembangan sarana transportasi. Pada tahun 1930 jumlah penduduk Hindia Belanda mencapai 39 juta jiwa dan dilayani oleh rel kereta api sepanjang 4.000 kilometer (1 kilometer
rel tersedia untuk 9800 penduduk).16
Pada tahun 2004, jumlah penduduk Indonesia mencapai 220 juta jiwa dan panjang rel kereta api menyusut menjadi 4337 kilometer. Artinya, satu kilometer rel kereta api dipaksa untuk melayani 55.000 penduduk. Kondisi riil ini merupakan gambaran bertolak belakangnya pemahaman pemerintah hari ini dengan pemerintah Hindia Belanda mengenai model transportasi massal di Indonesia.
15Bangsa Ketinggalan Kereta dalam
produksi KG Production 2012.
16Lebih lanjut baca Gedenkboek der
Kecenderungan pada masa pemerin-tah Hindia Belanda selama ada rute yang mampu dilayani kereta api tidak akan dikeluarkan izin angkutan umum lainnya. Pada hari ini, pemerintah justru melakukan kebijakan yang kontra pro-duktif. Pemerintah lebih merestui mem-banjirnya mobil dan kendaraan bermo-tor, dibanding memikirkan upaya untuk mengatasi kemacetan.
Pertanyaan yang cukup menggelitik, apakah benar pemerintah Hindia Belan-da membuat rel kereta api untuk men-sejahterakan masyarakat jajahannya? Bisa iya, bisa juga tidak. Pada dasarnya pemerintah Hindia Belanda membangun rel kereta api untuk mempermudah dis-tribusi hasil tambang, perkebunan, dan mobilitas militer di negeri jajahan-nya.
Sebagai pembanding dari film Bangsa
Ketinggalan Kereta adalah Door de
Padangsche Bovenlanden (1930)
pro-duksi NIFM Polygoon Harleem. Film dokumenter ini menyajikan perjalanan kereta api yang dimulai dari Simpang-haru Padang menuju kawasan Fort de Kock. Jika dilihat dari sisi pengambilan gambar, si kameramen berada di lokomotif tempat si masinis bekerja. Dalam perjalanan kereta api menuju Fort de Kock, narator mengisahkan bahwa jalur perjalanan yang mengh-ubungkan beberapa daerah strategis, yakni Padang, Padang Panjang, Fort de Kock, Payakumbuh, Sawahlunto, dan lainnya.
Door tunnels en over bruggen, langs woeste bergstroomen en water-valle-en.... we snellen door het
verbijste-rend schoone landschap.17
Terjemahan:
Melalui terowongan dan jembatan, menyisiri air sungai (gunung) dan air terjun.... Kami terburu-buru melihat pemandangan indah yang menak-jubkan.
17Lebih lanjut lihat film Door de
Padangsche Bovenlanden produksi NIFM
Polygoon-Haarlem tahun 1940.
Kondisi pemandangan alam di sepan-jang lembah Anai memang tidak jauh berbeda dengan kondisi pada hari ini. Hanya saja, yang membedakannya ada-lah kondisi jalan darat yang ada di sisi rel kereta api pada tahun 1940, tentu sa-ja belum beraspal hotmix. Menurut
Gedenkboek der Staatspoor en Tram-vegen in Nederlandsch Indie 1875-1925
terbitan tahun 1925, mengisahkan bah-wa keberadaan kereta api di Sumatera Barat tidak lepas dari kebijakan ekono-mi regional pemerintah Kolonial Belan-da paBelan-da abad ke-19. Untuk membangun proyek tiga serangkai ini (Tambang Batu bara Ombilin, Jalur Kereta Api dan pelabuhan Emmahaven) sampai tahun 1899 Pemerintah Kolonial Belan-da telah mengeluarkan investasi yang mencapai 35.034.000 Gulden.
Investasi besar yang dikeluarkan pemerintah kolonial Belanda pada abad ke-19 itu, tentunya berhubungan erat dengan kebijakan ekonomi dan persiap-an mereka menghadapi perlawpersiap-an kaum Padri. Namun, ada hal menarik dari per-jalanan kereta api sepanjang lembah Anai. Berapa banyak tenaga manusia yang dieksploitasi dalam membangun rel, jembatan kereta api yang tentunya tidak dibantu dengan peralatan berat?. Jalur kereta api di sepanjang lembah Anai, melalui kawasan perbukitan, terowongan bawah tanah, dan jembatan yang terletak di atas arus sungai yang deras tentu menjadi pekerjaan yang sangat berat dan membahayakan
keselamatan si pekerja.18
18Pada masa itu pemerintah kolonial Belanda
menyusun sebuah proyek pembangunan ekonomi yang lebih dikenal dengan proyek tiga serangkai, yaitu: (1) Pembangunan Tambang Batu Bara Ombilin (TBO), (2) Pembangunan Jaringan Kereta Api dan (3) Pembangunan Pelabuhan Teluk Bayur. Kebijakan ekonomi
tersebut merupakan Pilot Project Sistemic
Namun, satu hal yang konkrit, bahwa pembangunan rel kereta api membawa dampak politis terhadap pemerintah Hindia Belanda. Kereta api sebagai pro-yek nasional untuk menaklukkan daerah jajahannya. Menurut Gusti Asnan, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke 20 sebagian besar wilayah Sumatera sudah dikuasai oleh pemerintah Hindia
Belan-da.19 Salah satu ambisi mereka adalah
menyatukan seluruh daerah jajahan dari utara ke selatan, dan salah satu sarana yang paling efektif untuk mencapai daerah-daerah jajahan itu adalah kereta api.
D. Simpulan
Kejenuhan terhadap sumber-sumber bacaan pada dasarnya bisa diatasi, apa-bila penikmat sejarah, guru sejarah, dosen sejarah mau meluangkan waktu untuk menonton film-film dokumenter sejarah yang sudah beredar luas, atau-pun khusus disimpan di lembaga-lembaga arsip maupun perpustakaan. Film dokumenter pada dasarnya meru-pakan saksi hidup yang menegaskan, bahwa ia merupakan produk masa lampau dan menjadi bagian dari realitas
yang pernah terjadi.
Film dokumenter tentunya juga ba-gian dari sumber sejarah yang tidak akan lekang oleh perjalanan waktu. Melalui aksi lensa, kameramen berupa-ya menyuguhkan aktivitas orang per-orangan, keluarga, kelompok, masyara-kat, tanpa sedikitpun ia setting pasca produksi film.
Gedenkboek der Staatsspoor en Tramvegen in Nederlandsch Indie 1875-1925 terbitan tahun 1925.
19Bangsa Ketinggalan Kereta dalam
produksi KG Production 2012.
DAFTAR RUJUKAN
Arsip
Bangsa Ketinggalan Kereta dalam
produksi KG Production 2012.
Door de Padangsche Bovenlanden
produksi NIFM Polygoon-Haarlem tahun 1940
Gedenkboek der Staatsspoor en Tramvegen in Nederlandsch Indie 1875-1925.
Gedenkboek der Staatsspoor en Tramvegen in Nederlandsch Indie
1875-1940.
Buku
Arsyad, Azhar. 1997. Media
Pembelajaran. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Bachtiar, Harsya W. 1984. Media
Pendidikan. Jakarta: Rajagrafindo
Persada.
Biran,Misbach Yusah. 2010. Sejarah
Film 1900-1950. Jakarta: Komunitas
Bambu.
Effendy, 2002. Mari Membuat Film:
Panduan untuk menjadi produser.
(Jakarta: Panduan.
Parkinson, David. 1995. History of Film. United Kingdom: Thames & Hudson, Ltd.
Siagian,Gayus. 2011. Sejarah Film
Indonesia. Masa
Kelahiran-Pertum-buhan. Yogyakarta: Laksana.
Power Point
Gusti Asnan, “Sejarah Publik dan
Pembelajaran Sejarah”, Power Point.