KOMITMEN TUGAS KEPALA SEKOLAH SMP N PROVINSI JAMBI
SARINAH
STKIP YPM BANGKO
ABSTRAK
Tujuan penelitian menganalisa komitmen tugas kepala sekolah SMP N Provinsi Jambi. Unit analisis para kepala sekolah SMP N Provinsi Jambi, populasi 564 orang kepala sekolah dan sampel menggunakan total sampling. Metode analisis kuantitatif dengan alat yaitu analisis jalur (path analysis), dilanjutkan dengan analisis determinasi (R Square), Pengujian hipotesis secara parsial (uji t) dan simultan (uji F) dengan alpha 5 persen (0,05). Sebelum di analisis terlebih dahulu di uji instrumen (kuesioner) dengan uji validitas dan realibilitas serta asumsi klasik. Alat bantu analisis SPSS versi 22.0. Hasil analisis determinasi sebesar 0,32,11 bahwa variabel komitmen tugas kepala sekolah sebesar 32,11%, sedangkan sisanya sebesar 68,9 persen dipengaruhi oleh variabel lain. Komitmen tugas berpengaruh signifikan baik secara parsial. Semakin baik komitmen tugas, maka kepala sekolah SMP N Provinsi Jambi akan akan meningkat kualitas kepala SMP N Provinsi Jambi..
Key word: Komitmen Tugas
INTODUCTION
Kualitas dari sumber daya manusia yang ada dan tersedia disuatu daerah sangat menentukan keberhasilan dari daerah tersebut, semakin baik dan tinggi kualitas sumber daya manusia disuatu daerah akan semakin meningkatkan efektifitas kerjanya semakin mudah untuk dikembang dan berkompetisi seiring kemajuan ilmu dan teknologi madern di era globalisasi. Kunci utama adalah human capital (modal sumber daya manusia) sebagai suatu aset atau modal peningkatan dalam suatu daerah, sehingga otomatis peningkatan kualitas dan pengolaan modal manusia (human capital) ini menjadi hal yang harus diprioritaskan.
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU No. 20 Th. 2003 pasal 1). Dengan demikian penyelenggaraan pendidikan merupakan pemberian bekal kemampuan dasar kepada siswa dalam mengembangkan kehidupan sebagai, anggota masyarakat, warga Negara, sehingga lebih siap mengikuti pendidikan-pendidikan selanjutnya. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang jenjangnya terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
dalam memenuhi kebutuhannya, kata budaya (culture) mempunyai banyak arti, budaya setiap orang berada dengan orang lain dan budaya akan sulit dijelaskan secara konseptual dan defenitif apa bila diterapkan dalam organisasi. Dengan demikian organisasi mencakup juga aspek-aspek budaya yang terwujud dalam bentuk cita-cita, legenda bisnis yang berhasil, nilai simbol-simbol yang bermakna bagi setiap insan yang berada dalam setiap organisasi itu.
Karena Begitu pentingnya langkah pengorganisasian, Allah Swt sendiri di dalam Al-Qurân telah memberikan contoh kepada manusia (baca: manajer) bagaimana Allah Swt. melakukan langkah pengorganisasian setelah Dia melakukan perencanaan yang matang dalam proses penciptaan langit dan bumi. Dalam surat As-Sajdah ayat 4-5, Allah Swt. berfirman:
Artinya: Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari padaNya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?. (kemudian) Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (as-Sajdah: 4-5).
Dalam ayat ini sangat jelas terkandung pesan, bahwa ketika Allah menciptakan langit dan bumi melalui perencanaan yang matang (selama enam hari), kemudian Allah melakukan pengaturan dan pengorganisasian (organizing), agar segala urusan yang ada di langit dan bumi dapat berjalan dengan teratur dan lancar. Ayat di atas, tentu saja tidak bertentangan dengan ayat-ayat lain yang menyatakan bahwa ketika Allah memiliki rencana untuk
menciptakan sesuatu cukup dengan mengatakan “kun fayakun” seperti yang
ada dalam QS. Yasin:
Menurut Muhammad Amin Asy-Syanqity dalam kitab “Audhâul Bayân fi Idâhil Quran bil Quran”, mengatakan bahwa ukuran waktu perencanaan yang ditentukan Allah dalam ayat di atas, sesungguhnya merupakan bentuk kekuasaan Allah yang tinggi, sebab 1 hari yang dimaksud dengan ayat di atas, sama dengan ukuran 1000 tahun dalam ukuran manusia. Dalam menerima delegasi wewenang dan tanggung jawab hendaknya dilakukan dengan optimal dan sungguh-sungguh. Janganlah anggota suatu organisasi melakukan tugas dan wewenangnya dengan asal-asalan. Dalam sebuah hadits diterangkan bahwa apabila seseorang hanya mementingkan kepentingan sepihak dan melakukan tugas serta tanggungjawabnya dengan asal-asalan. Hadits yang menerangkan tentang kekalahan umat Islam dalam perang Uhud menunjukkan bahwa apabila seseorang tidak melaksanakan anggotanya sebagai bagian dari organisasi perang, maka akibatnya adalah organisasi tersebut mengalami kekalahan. Pengorganisasian yang dianjurkan dalam Al-qur’an; surah al-Shaff ayat 4:
ٌصوُص ْرَم ٌناَيْنُب ْمُهَّنَأَك اًّفَص ِهِليِبَس يِف َنوُلِتاَقُي َنيِذَّلا ُّب ِحُي َ َّللَّا َّنِإ (
4
)
Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. Maksud dari shaff disitu menurut al-Qurtubi adalah menyuruh masuk dalam sebuah barisan (organisasi) supaya terdapat keteraturan untuk mencapai tujuan.
Berdasarkan konsep yang dikemukan di atas dapat disentesiskan budaya organisasi adalah penilaian karyawan tentang nilai-nilai, norma, filosofi dan peraturan yang ada dalam kelompok organisasi untuk melaksanakan pekerjaan yang telah ditetapkan dalam upaya mencapai keberhasilan bersama. dengan indikator; (1) pembagian tugas, (2) Penguasaan bidang kerja, (3) melaporkan tugas, (4) Pengawasan kerja, (5) peraturan dan waktu bekerja, (6) berintraksi dengan bawahan, (7) menyusun program, (8) menyesaikan tugas, (9) mengevaluasi pekerjaan, (10) berkerja sama dengan orang lain, (11) menciptakan susasana kerja, (12) pemberian hadiah, (13) Peningkatan jenjang karir (14) pengakuan pemberdayaan karyawan, dan (15) persaingan.
Berdasar pra riset peneliti menemukan bahwa budaya organisasi belum sesuai dengan yang diharapkan, hal ini nampak dari beberapa indikator yang belum terpenuhi seperti pada indikator dengan melaporkan tugas dan mengevaluasi pekerjaan, belum sesuai yang diharapkan. Dari itu peneliti mendapatkan data yang rill, hal ini dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:
Tabel 1.3 Data Budaya Organiasi Kepala sekolah yang belum optimal
No Kabupaten Melaporkan
Tugas
Mengevaluasi Pekerjaan
1 Merangin 32 25
2 Kota Jambi 17 15
3 Tanjung Jabung Timur 20 20
Tabel di atas terdapat indikator pengatahuan yang telah dirumuskan oleh peneliti belum optimal contohnya dalam pengetahuan terdapat 69 orang, dengan persentase 57,5% dari jumlah keseluruhan 120 kepala sekolah, Kemudian yang pemehaman terhadap manajemen dari setiap kebupaten sejumlah 51 orang dengan persentase 43,5%. Adapun indikator-indikator profesionalitas yang lainnya dapat dilihat dalam tabel pada bagian lampiran secara menyeluruh
A.KAJIAN TEORI
Budaya merupakan salah satu cara hidup bersama dalam menyesuaikan diri. Dengan lingkungan alam yang merupakan strategi
manusia dalam memenuhi kebutuhannya, kata budaya (culture)
mempunyai banyak arti, budaya setiap orang berbeda dengan orang lain dan budaya akan sulit dijelaskan secara konseptual dan defenitif apa beila diterapkan dalam organisasi. Dengan demikian organisasi mencakup juga aspek-aspek budaya yang terwujud dalam bentuk cita-cita, legenda bisnis yang berhasil, nilai simbol-simbol yang berm, makna bagi setiap insan yang berada dalam setiap organisasi itu.
Schein sebagaimana yang dikutip oleh Luthans mendefinisikan budaya organisasi adalah budaya organisasi yaitu sebuah pola asumsi dasar- diciptakan, ditemukan atau dikembangkan oleh kelompok tertentu seperti belajar untuk mengatasi masalah yang adaptasi eksternal dan integrasi internal – yang telah bekerja cukuo baik untuk dipertimbangkan berharga dan karena itu diajarkan pada anggota baru sebagai cara yang benar untuk memahami, berpikir dan merasa dalam kaitannya dengan masalah tersebut
Torring dan Weighmen sebagaimana yang dikutip oleh Tony Bush menjelaskan bahwa budaya organisasi adalah suatu krakteristik semangat dan keyaknan sebauah organisasi, yang ditunjukkan, misalnya dalam norma-norma dan nilai-nilai yang secara umum berbicara tentang bagamana seharunya orang bersikap terhadap orang lain, sifat pola hubungan kerja yang harus dikembangkan dan berubah. Norma-norma ini sangat dalam, asumsi-asumsi yang tidak selalu diekspresikan, dan selalu diketahui tampa bisa dipahami.
Gaze dalam khasanah kata atau isltilah didalam administrasi dan manajemen sering dikemukakan sejumlah istilah yang mirip dengan pengertian budaya, beberapa diantaanya adalah sebagai berikut:
a. “Keteraturan prilaku yang dapat di opserfasi” (karena berulang-ulang
secara secar tetap) yaitu pada orang yang sering beritraksi, seperti halnya bahasa yang digunakan digunakan dan ritual-ritual yang mengingat prilaku manusia.
b. “Norma-norma” yang berkembang secara bertahap dalam kelompok
kerja, seperti yang telah berkembang scara khas, norma satu hari kerja satu hari bembayaran.
c. “Nilai dominan diambil” oleh suatu organisasi, misalnya kualitas
produksi.
d. “Filsafat” yang mengambil kebijaksanaan dalam organisasi untuk
mengahadapi pekerja dan layanan mereka.
e. “Aturan-aturan” permainan yang digunakan didalam organisasi sering
berfungsi sebagai “pengikat” dimana seorang permula harus belajar
dalam rangka dapat menjadikan anggota yang diterima.
“Peresaan atau Iklim” yang disampaikan didalam suatu organisasi
melalui tata ruang fisik dan cara anggota-anggota berintraksi dengan mereka atau pihak luar lainnya.
Organisasi didefenisikan secara beragam oleh berbagai ahli. Variasi defenisi didasarkan pada sudut pandang dan waktu ahli ketika mendefenisikan. perkembangan kajian organisasi melalui dari organisasi sederhana mengarah kepada organisasi yang kompleks yang dicirikan oleh koneksitas organisasi yang tidak terbatas antara unit-unit organisasi dengan lingkungan. Stephen mengemukakan Teori organisasi adalah disiplin ilmu yang menpelajari sturuktur dan desain organisasi. Teori itu menjelaskan bagaimana organissi yang sebenarnya distruktur dan menawarkan tentang bagaimana organisasi dapat dikonsruksi guna
meningkatkan keefektifan mereka. organisasi berkaitan dengan
pengembangan kerangka kerja dimana keseluruhan pekerjaan dibagi dalam komponen-komponen yang dapat dikelola dengan tujuan untuk memfasilitasi pencapaian tujuan.
Gibson, Inancevitch, dan Donnelly (dalam Tim dosen UPI)
mendefenisikan organisasi sebagai “Wadah yang memungkinkan
masyarakat dapat meraih hasil lebih jauh ketiganya menyebut bahwa organisasi adalah suatu unit terkoordinasi terdiri setidaknya dua orang berfungsi mencapai sasaran tertentu atau serangkaian sasaran. Defenisi ini menekankan dan efesien melalui koordinasi antar unit organisasi.
Kedudukan garis dan staf. organisasi garis menegaskan struktur pengambalian keputusan, jalan pamohonan dan seruluh komunikasi resmi untuk melaporkan informasi dan mengeluarkan instruksi, pemerintah, dan petunjuk pelaksanaan. (2) Organisasi Informal. Intraksi antara organisasi formal akan menghasilkan sebuah perkembangan hubungan yang tidak saja hubungan struktural, akan lebih pada organisasi persekolahan dimana kekeluargaan menjadi salah satu landasan perilakunya. Pemahaman tentang budaya organisasi merupakan cerminan prilaku dari anggota kelompok perorangan tentang kebiasaan yang dilakukan. Budaya organisasi terbentuk dari krakteristik organisasi sebagai objek dan subjeknya. Menurut Robin dan Judge dalam Tri tentang budaya organisasi:
Gambar: 2.9 Model bagaimana organisasi terbentuk.
Dari gambar terlihat bahwa tercapai suatu budaya organisasi yang diinginkan oleh suatu kelompok tersebut harus mengikuti beberapa
philosopy seperti yang diharapkan para pendiri kelompok tersebut. Namun tidak semua philosopy dapat digunakan, ada beberapa kriteria yang harus diseleksi, selanjutnya dicapai tujuan tersebut, maka para pemimpin (top menejer) harus mensosialisasikan budaya yang ada dalam organisasi. Dengan adanya sosialisasi yang dilaksanakan oleh pemimpim maka budaya organisasi tersebut akan terbentuk dengan sendirinya.
B.METHODS
Penelitian ini menggunakan desain penelitian analisis jalur (path analysis). Metode penelitan survey variabel yang mengkaji terdiri atas dua macam variabel, yaitu exogenous variabel memiliki pengaruh lansung terhadap variabel yang dapat mempengaruhi endogenous variabel lain Populasi penelitian 564 kepala sekolah Sugiyono menyatakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian untuk ditarik kesimpulannya. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan atas konsep area sampling, dan sample-nya dengan total sampling sebanyak 120 orang. Penentuan sampel Alat bantu analisis data program aplikasi SPSS versi 22.0. sebelum
Top management
Organizational culture
Fhilosofhy of organizationa l founder
Selection criteria
dianalisis dilakukan uji instrumen kuesioner dengan uji validitas dan rebilitas serta asumsu klasik terhadap indikotor, dimensi dann variabel penelitian.
C. RESULTS AND DISCUSSION
Uji Validitas dan reabilitas
Tabel 3. Hasil Uji Validitas Instrumen Variabel Budaya Organisasi
No Item
Korelasi Skor Item terhadap
Skor Total r Kritis Keterangan
1 2 3 4
Sumber data: Output SPSS 21.0
Berdasarkan tabel 3 tersebut dapat diketahui bahwa butur pernyataan kuesionar variabel profesionalitas seluruhnya mempunyai rhitung> rtabel, (rhitung 0.4338) dengan demikian seluruh butir pernyataan
kuesioner pada variabel budaya organisasi dinyatakan valid.
Tabel. 5. Reliabilitas Variabel Penelitan
independen memiliki nilai crombach’s alpha > 0,6 sehungga untuk
seluruh variabel tersebut reabel dan dapat digunakan untuk pengukuran dalam rangka pengumpulan data.
D.Hasil Penelitian
Budaya merupakan salah satu cara hidup bersama dalam menyesuaikan diri dalam lingkungan alam yang merupakan strategi
manusia dalam memenuhi kebutuhannya, kata budaya (culture)
mempunyai banyak arti, budaya setiap orang berbeda dengan orang lain dan budaya akan sulit dijelaskan secara konseptual dan defenitif apa bila diterapkan dalam organisasi. Dengan demikian organisasi mencakup juga aspek-aspek budaya yang terwujud dalam bentuk cita-cita, legenda bisnis yang berhasil, nilai simbol-simbol yang bermakna bagi setiap insan yang berada dalam setiap organisasi tersebut.
Hasil pengolahan data variabel budaya organisasi (X2) dari lapangan
secara statistik diperoleh nilai modus untuk variabel budaya organisasi sebesar = 123,78, median = 123,36, mean (rata-rata) = 122,84 dan standar deviasi atau simpangan baku = 9,598. Penuangan distribusi frekuensi ke dalam daftar distribusi frekuensi menghasil 8 kelas dengan skor maksimum 144 dan skor minimum 93 sehingga rentang skornya sebesar yaitu sebesar 7. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut. (Perhitungan lengkap pada lampiran 3).
Untuk mengetahui jumlah interval ini maka dapat menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menghitung Jumlah Kelas Interval K = 1 + 3,3 Log n
= 1 + 3,3 Log 109 = 1 + 3,3 . 2,04 = 7,63
Jadi Nilai K nya bisa 7 atau 8.
2. Menghitung Rentang Data
Data terbesar dikurangi data terkecil kemudian ditambah 1 Data terbesar = 144, Data terkecil = 93
Jadi 144 – 93 = 51 + 1 = 52
3. Menghitung Panjang Kelas
Yakni rentang dibagi jumlah kelas = 52 : 7
= 7,43 = dibulatkan menjadi 7
Pengukuran Gejala Pusat (Central Tendency)
4. Modus (Mo)
Untuk menghitung modus (Mo) data yang telah disusun ke dalam distribusi frekuensi/data bergolong, dapat digunakan rumus sebagai berikut.
𝑀𝑜=𝑏+𝑝( 𝑏1
Kelas modus = Kelas ke lima (f-nya terbesar = 38)
b = 121 – 0,5 = 120,5
b1 = 38 – 23 = 15 (38 = f kelas modus, 23 = f kelas sebelumnya)
b2 = 38 – 21 = 17 (38 = f kelas modus, 21 = f kelas sesudahnya)
Jadi Modusnya
𝑀𝑜= 120,5 + 7 15
15 + 17 =𝟏𝟐𝟑,𝟕𝟖
5. Median (Me)
Untuk menghitung median rumus yang digunakan adalah
𝑀𝑑 =𝑏+𝑝 1 2𝑛 − 𝐹
𝑓
(1/2n) = 54,5
Jadi median akan terletak pada pada interval ke lima, karena sampai pada interval ini jumlah frekuensi sudah lebih dari 54,5, tepatnya 77.
Dengan demikian pada interval ke lima ini merupakan kelas median batas bawahnya (b) adalah 121 – 0,5 = 120,5. Panjang Kelas mediannya (p) adalah 7, dan frekuensi = 38
Adapun F nya = 2 + 4 + 10 + 23 = 39 Jadi mediannya = 120,5 + 7 54,5−39
38 = 𝟏𝟐𝟑,𝟑𝟔
6. Mean (Me)
Rumus untuk menghitung mean.
𝑀𝑒 = 𝑓𝑖𝑥𝑖
𝑓𝑖
𝑀𝑒= 𝑥 =13390
109 = 𝟏𝟐𝟐,𝟖𝟒
Jadi rata-rata mean adalah 122,84. 7. Standar Deviasi
Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung standar deviasi adalah sebagai berikut:
𝑆= 𝑓𝑖(𝑥𝑖 − 𝑥 )
2
(𝑛 −1)
𝑆= 9948,35
108 = 92,114 =𝟗,𝟓𝟗𝟖
Jadi standar deviasi nilai budaya organisasi dari 109 responden adalah 9,598.
menghasil 8 kelas dengan skor maksimum 144 dan skor minimum 93 sehingga rentang skornya sebesar yaitu sebesar 7. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut. (Perhitungan lengkap pada lampiran 3).
Tabel 4.7.Distribusi Frekuensi Skor Budaya Organisasi.
No Kelas Interval Frekuensi Frekuensi Relatif (%)
Tabel 4.2 diatas menggambarkan bahwa penyebaran frekuensi variabel budaya organisasi merupakan kurva simetris. Hal ini ditunjukan oleh skor median dan modus yang mendekati rata-rata. Tabel distribusi frekuensi budaya organisasi diatas menunjukan pula bahwa terdapat 23 (21,10%) responden dan 38 (34,86%) responden berada pada kelompok rata-rata, 21 (19,27%) responden berada di atas kelompok rata-rata dan 10 (9,17%) responden di bawah rata-rata.
Penyebaran distribusi skor variabel budaya organisasi ditampilkan pada gambar 4.2 dibawah.
Komitmen tugas kepala sekolah sangat mempengaruhi kepemimpinan suatu lembaga. Artinya pengetahuan kekuatan pengetahuan manajemen kepala sekolah menyebabkan terjadinya peningkatan profesionalitas kepala sekolah. Artinya peningkatan komitmen dapat menyebabkan terjadinya peningkatan pada pengetahuan kepala sekolah yang ada di Provinsi Jambi. Berdasarkan temuan yang peneliti temui maka dapat disimpulkan menyatakan bahwa pengetahuan manajerial berpengaruh secara lansung terhadap profesionalitas.
Berdasarkan temuan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang menyatakan komitmen tugas dan profesionalitas secara simultan terhadap profesionalitas. Sehingga idealnya, pimpinan terus menjalankan tugas kepala sekolah yang ada di provinsi Jambi.
Komitmen tugas terhadap pengetahuan manajemen. Dengan kata lain tinggi rendahnya komitmen tugas terhadap pengetahuan manajerial mampu mempengaruhi oleh pengetahuan manajerial Artinya pengetahuan
merupakan kekuatan pengetahuan manajemen kepala sekolah
menyebabkan terjadinya peningkatan profesionalitas kepala sekolah. Dengan peningkatan kekuatan komitmen tugas yang tinggi menyebabkan terjadinya peningkatan kepada pengetahuan manajemen. Berdasarkan temuan ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan
RECOMMENDATIONS
Pertama, hendaknya para kepala sekolah SMP Negeri di Provinsi jambi memperbaiki masalah pengetahuan manajemen, budaya organisasi dan komitmen tugas kepala sekolah dalam rangka peningktakan profesionalitas kepala sekolah. Tiga hal ini secara sendiri-sendiri dan simultan memberikan pengaruh lansung positif terhadap profesionalitas kepala sekolah. Upaya peningkatan profesionalitas kepala sekolag banyak memperngaruhi secara lansung oleh pengetahuan. Hal ini menunjukkan bahwa kepala sekolah memiliki tanggung jawab bagi pengembangan kemampuan kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalitas kepala sekolah.
Diharapkan kepala sekolah SMP Negeri di provinsi Jambi menwujudkan komitmen tugas untuk semua kegiatan di sekolah dan luar sekolah. Kepala sekolah berwenang dalam menumbuhkembangkan budaya sekolah yang positif serta membangun pengetahuan manajemen guru dan staf administrasi. Dukungan kepala sekolah sangat penting sebagai wujudnyata pelaksanaan tugas profesional dan menjadikan organisasi sekolah sebabagai agen perubahan yang mampu mendorong dan memotivasi terjadinya perubahan dalam semua aspek organisasi sekolah. Ini juga dapat menjadi pemacu terjadinya peningkatan pelayanan disekolah. Kepala sekolah dapat membantu guru-guru dalam peningkatan profesional melalui: (1) dengan meningkatkan keahlian, indikator: kulifikasi pendidikan, berkerja
kepakaran dalam bidangnya, mengarahkan SDM, (2) tanggung jawab indikator: tanggung jawab terhadap karir, tanggung jawab terhadap diri sendiri, bertanggung jawab pada kepuasan pelanggan, mematuhi kedo etik. (3) Legalitas, indikator: mempunyai sertifikat yang diakui, mendapat pengakuan dari masyarak. Bangga dengan kerjanya.
Literature
K Robert, Cooper dan Angelo Kinicki. Organizational Behavior (New York: Mc Graw-Hill,Book Co., 2004
Luthans Firet. Organazational Behavior Newyor: McGraw Hill Inc, 2008 Luthans, Fred. Organizational Behavior: An Evidence-baed Approach (New
York: McGraw-Hill Irwin, 2011).
M Jennifer. George dan Gareth R. Jones, Understanding and Managing Organizational Behavior New Jersey: Perarson Education Inc., 2005. M Jennifer. George dan Gareth R. Jones, Understanding and Managing
Organizational Behavior New Jersey: Perarson Education Inc., 2005.
Ma’mur Asmani Jamal. Tips Menjadi Kepala Sekolah Profesional Jokjakarta:
DIVA Press 2012.
Magginson Leon C. Donald C. Mosley and Paul H, Peitri Jr, Management Concept and Applications New York: Harper Collins Pulisher Inc, 2005
Makoto, Wilensky2 & David. Doing Business with Theory: Communities of Practice in Knowledge Management, Computer Supported Cooperative Work © Springer 2011 DOI 10.1007/s10606-011-9139-x
Margaret A. Aberneti-Iy. The Role Of Professional Control In The Management OfComplex Organizations 2007.
BIODATA
SARINAH, S.Ag, M.Pd.I Lahir di Rantau Limau Kapas, 10 Maret 1978,
Suami ANWAR EFENDI mempunyai dua Putri (NAZIFA RIAN PUTRI, FAIZA